Tag Archives: puisi

Dari Bedah Buku “Gajah Mina” Di Kafe Sastra Balai Pustaka, Jakarta.

Standard
Bedah Buku “Gajah Mina”, Kafe Sastra, Balai Pustaka, Jakarta 4 April 2021

Saya mendapat kesempatan untuk mengikuti acara bedah buku ” Gajah Mina” dan bertemu dengan penulisnya Dr Dewa Putu Sahadewa secara langsung. Walaupun sayang Made Gunawan pelukis yang karya-karyanya menjadi inspirasi Dokter Sahadewa dalam menulis puisi-puisi di buku ini berhalangan hadir. Tetap saja saya beruntung, karena dalam masa pandemik ini, mengikuti prokes, yang diperkenankan hadir hanya maksimal 20 orang. Sisanya lewat Zoom.

Acara berlangsung di Kafe Sastra Balai Pustaka, dihadiri dan dibuka oleh Dirut Utama Balai Pustaka, Bapak Achmad Fachrodji, dimoderatori oleh Mbak Fanny J. Poyk. Selain Dokter Sahadewa, acara bedah buku ini juga menampilkan pembicara Narudin Pituin, seorang sastrawan, penerjemah dan kritikus sastra Indonesia.

Saat memberikan sambutannya, Pak Fachrodji sempat menceritakan bagaimana upaya-upaya yg telah beliau lakukan untuk membuat Balai Pustaka hidup dan berjaya kembali, serta akan membuat kegiatan Lomba Berpantun National untuk menghidupkan kembali kejayaan kesusastraan Indonesia. Upaya yang menarik.

Selain itu, saya juga melihat beliau sangat mengapresiasi penerbitan buku Gajah Mina ini yang dianggapnya sangat menarik dengan meng-kolaborasikan puisi dengan lukisan dan sketsa.

Dokter Sahadewa sendiri lebih banyak mengupas tentang bagaimana cerita awalnya hingga buku Gajah Mina ini bisa terbit. Bermula dari melihat sendiri lukisan Made Gunawan yang berjudul “Pohon Kehidupan”. Beliau sangat terkesan dengan lukisan ini, walaupun pada saat itu belum kenal secara langsung dengan pelukisnya. Ia menilai Made Gunawan sebagai seorang pelukis yang sangat handal, memadukan unsur-unsur traditional dengan unsur modern. Dan dari lukisan Pohon Kehidupan itu, ia menilai bahwa lukisan itu sangat puitis. Tidak ada unsur-unsur negative ataupun kesedihan di dalamnya. Yang ada hanya unsur-unsur yang positive, riang gembira, anak-anak bermain, bergelayutan. Intinya menebarkan energy positive.

Demikianlah Dokter Sahadewa merasa berada di frequency yang sama dan sangat tertarik untuk bersama-sama menebarkan energy positive, karena prinsip hidupnya memang sama. Menebarkan energy positive.

Setelah bertemu dengan Made Gunawan dengan difasilitasi oleh Mas Hartanto, dimana niat awalnya ingin belajar melukis, akhirnya Dokter Sahadewa malah jadi semangat menulis dan berkolaborasi sangat intens dengan Made Gunawan, lalu terbitlah buku Gajah Mina ini.

Dalam mengekspresikan fantasynya setelah melihat-lihat lukisan dan sketsa Made Gunawan, Dokter Sahadewa mengaku tidak mendiskusikan ataupun menanyakan arti dari sketsa-sketsa itu pada Made Gunawan. Dan Made Gunawan pun tidak ada berkomentar negative tantang puisi-puisinya. Malah saling berinteraksi positive.

Dan interaksi dan kolaborasi alias Pasatmian ini sungguh merupakan hal yang sangat bagus. Karena sekarang, penggemar puisi jadi ikut menikmati karya lukisan dan sketsa. Dan sebaliknya, penggemar lukisan jadi ikut menikmati puisi. Yah. Luarbiasa memang kolaborasi ini.

Setelah itu, dengan spontan kami beramai-ramai ikut membaca puisi. O ya.. saya lupa bercerita, jika di awal tadi, sebelum acara Bedah Buku dimulai, sebenarnya ada Pak Branjangan menyanyikan puisi “Ikan Menari”. Beneran. Saya takjub, gimana beliau cuma dalam waktu singkat, nggak ada lima menit melihat-lihat puisi, tiba- tiba bilang ke saya “saya mau menyanyikan puisi ini” sambil nunjuk puisi “Ikan Menari” dan beneran beliau nyanyi deh. Dan bagus banget.

Saya sendiri memilih puisi “Sop Kepala Ikan” untuk saya bacakan, karena menurut saya puisi itu sangat unik. Saya sangat suka. Mbak Fanny, Mbak Jeny dan teman- teman yang lain juga pada ikut membaca puisi dengan spontan. Sementara Pak Branjangan mengiringi dengan petikan gitarnya. Wow…romantis banget rasanya.

Saya juga sempat menyimak komentar- komentar positive dari teman- teman yang mengikuti acara Bedah Buku ini lewat Zoom, seperti dari Warih Wisatsana dan Pak Nono. Ya, mengkolaborasikan dua jenis Art yang berbeda bukanlah pekerjaan mudah. Tetapi Dokter Sahadewa dan Made Gunawan telah melakukannya dengan sukses.

Terakhir Pak Narudin, Sang ahli Semiotika dan Kritikus Sastra Indonesia pun mengajak audience untuk ikut jalan pikirannya dalam membedah puisi-puisi dan lukisan serta sketsa, dengan menganalisa dari sudut Icon-icon dan symbol-symbol yang tertangkap dari baik tulisan maupun lukisan serta index yang menghubungkan keduanya. Analysa yang menarik juga ya. Saya jadi ikut belajar banyak.

Pemaparannya kedengaran sangat akademik yang membuat saya yang tidak memiliki latar belakang sastra menjadi terpesona. Mengambil contoh beberapa lukisan-puisi yang dominan seperti misalnya Ikan Menari, Gajah Mina, semua Bunga Akan Layu Pohon Kehidupan, Anakku Berlari, Pandemi, Sop Kepala Ikan, Pohon Tua Memanggil Rohnya dan Kayonan. Semuanya dibahas dari sudut ikonisitas, symbolitas dan indeksikalitas yang ujungnya menghasilkan kesimpulan bahwa, pada dasarnya puisi-puisi Dokter Sahadewa dan lukisan Made Gunawan dapat dinikmati secara terpisah berdasarkan ikon-ikon yang ditangkap penikmatnya. Tetapi dalam buku ini keduanya saling berinteraksi. Yup!.Analisa yang keren!.

Tentang komentar ada nafas spiritual pada puisi-puisinya Dokter Sahadewa, Narudin Pituin juga mengungkapkan bahwa tiap sastrawan tentu memaparkan gagasannya sesuai dengan latang belakang adat, budaya, agamanya masing-masing. Sehingga ada puisi yang bernafaskan Hindu, bernafaskan Islam ataupun Kristiani sesuai latar belakang penulisnya.

Ya, saya setuju dengan pendapat Narudin dalam hal ini. Namun tak cuma latar belakang penulisnya, saya pikir, itu juga tergantung dari latar belakang pembacanya.

Salah satu contoh, ketika Dokter Sahadewa menjelaskan bahwa di Bali, pohon-pohon sangat dihormati dan dihargai sama dengan mahkuk hidup lain yang juga punya nyawa. Selain itu, pohon juga dipercaya menjadi tempat tinggal makhluk-makhluk lain yang tak kasat mata. Ketika latar belakang ini diimplementasikan pada karya “POHON TUA MEMANGGIL ROHNYA PULANG” reaksi beragam pun terjadi.

Narudin Pituin dengan latar belakangnya, memberi interpretasi kata “Roh” = mahluk halus penunggu pohon. Jadi pohon memanggil mahluk halus, jin, dedemit, kuntilanak untuk pulang. Ini membuat sebagian puisi berkesan mistik.

Sementara saya yang dilahirkan dan dibesarkan dalam adat istiadat, budaya dan agama Hindu di Bali menginterpretasikannya berbeda.

Bagi kami, Roh pohon, ya Roh pohon itu sendiri. Bukan jin atau kuntilanak. Karena kami di Bali percaya, bahwa setiap mahluk hidup termasuk Manysia Binatang dan Tumbuhan memiliki Roh, walaupun secara kasat mata terlihat berbeda akibat perbedaan fisik yang menghasilkan kemampuan berbeda yang disebut dengan Pramana.

Manusia diyakini memiliki Tri Pramana yakni Bayu (kemampuan gerak, tumbuh dan tenaga), Sabda (kemampuan berbicara) dan Idep (kemampuan memahami). Binatang memiliki Dwi Pramana yakni Bayu dan Sabda. Dan tumbuhan memiliki hanya satu Pramana yakni Bayu.

Dengan latar belakang ini, ketika saya menginterpretasikan puisi yang sama, “POHON TUA MEMANGGIL ROHNYA PULANG”, yang saya tangkap adalah memang yang dimaksud oleh Dokter Sahadewa adalah bahwa Pohon tua itu memang memanggil Roh nya sendiri untuk pulang. Bukan memanggil jin dan kuntilanak. Jadi di telinga saya ini bukanlah mistis. Nah, sekali lagi itu adalah interpretasi yang berbeda yang ditangkap oleh dua orang dengan latar belakang berbeda.

Saya merasa, pada akhirnya, sebuah karya seni, entah itu lukisan, puisi, tarian, musik dan sebagainya adalah sebuah interpretasi. Yang ditangkap oleh penikmatnya dari signal-signal yang tersajikan, sesuai dengan latar belakang baik penciptanya maupun penikmatnya.

Selamat dan Sukses untuk Dokter Sahadewa dan Made Gunawan. Gelombang besar energy positive yang diakibatkan kibasan sirip Gajah Mina sungguh terjadi. Salut!.

SORE DALAM GERIMIS.

Standard

Kebunku sore ini dalam gerimis.
Entah apa yg menyebabkanku tidak produktif akhir pekan ini. Hanya memandangi tanaman dan tidak berbuat apapun. Ada sedikit menyemprot bibit Ketumbar agar daunnya tumbuh segar. Setelah itu rasa lelah dan kantuk mengganggu.
Akupun berbaring dengan lesu.
Lalu kubuka mataku.
Kupikir harusnya aku melakukan sesuatu.

Barangkali menyiangi daun daun yg kuning melayu. Atau menakar pupuk dan mencampurnya dalam larutan yang benar. Ya sesungguhnya tanamanku butuh nutrisi. Tapi entah kenapa tak beranjak juga aku dari tempat dudukku.

Barangkali aku bisa mencincang jamur merang yang kubeli tadi pagi. Lalu mencampurnya di atas wajan dengan merica, garam, kecap dan sedikit minyak wijen. Lalu kugulung dalam kulit lumpia. Ya, sesungguhnya anakku butuh cemilan iseng iseng sambil menanti gerimis. Tapi entah kenapa, aku hanya berpangku tangan.

Barangkali aku bisa mengambil kain, benang dan jarum. Lalu memotongnya menjadi beberapa pola. Entah untuk masker, tas, maupun bantal kursi. Eh, sesungguhnya pembungkus bantal kursiku sudah lama tak diganti.Tapi entah kenapa aku hanya membiarkan pikiranku sendiri yang melayang.

Barangkali aku bisa membuka kotak cat warna, membentangkan kanvas kosong dan mulai menarikan kuasku di sana. Ya, dinding kamarku yang putih rasanya butuh lukisan penuh warna untuk menghangatkannya. Tapi entah kenapa aku hanya bisa memandangi kotak itu dan rasa berat tanganku untuk membukanya.

Barangkali aku….. bisa apa saja. Tapi masalahnya bukan soal bisanya.
Tapi kapan aku memulainya….

Bertemu Sang Penulis: Satria Mahardika.

Standard

Di hari ketibaan saya di Bali liburan kemarin, sahabat saya mengabarkan bahwa ada kemungkinan sastrawan Umbu Landu Paranggi akan ada di Puri Kilian, Bangli besok. Dan menyarankan saya juga datang ke Puri Kilian agar bisa bertemu, mengingat beberapa minggu sebelumnya Umbu ada menanyakan kabar saya. Saat itu saya sedang berada di Singapore dan untungnya dengan bantuan skype, saya dan Umbu sempat ngobrol juga. Nah sekarang, menurut sahabat saya, ada kesempatan bagi saya untuk benar-benar bisa bertemu langsung dengan beliau lagi di Puri Kilian. Tentu dengan senang hati saya akan datang.

Lalu teman saya juga mengabarkan bahwa jika mau, hari ini saya juga bisa bertemu dengan Satria Mahardika , sang penulis buku Merdeka Seratus Persen-Kapten TNI AAG Anom Muditha yang bukunya saya simak dan tulis di sini https://nimadesriandani.wordpress.com/2018/01/04/menyimak-buku-merdeka-100/

karena hari ini pun beliau ada di Puri Kilian. Wah…sungguh kabar yang baik. Saya mau ke Kilian sekarang kalau begitu. Selain tentunya karena saya juga sudah kangen dengan sahabat saya dan keluarga Puri Kilian.

Dengan senang hati sayapun ke Kilian membawa anak-anak dan keponakan. Sesampai di Kilian, saya disambut oleh Agung Karmadanarta, sahabat yang bagi saya sudah serupa dengan saudara sendiri. Agung Karmadanarta adalah salah seorang keponakan dari pahlawan AAG Anom Muditha. Sahabat saya ini adalah seorang pemusik yang pastinya sebuah kebetulan banget bagi anak-anak saya yang juga lagi getol banget belajar musik. Jadilah kesempatan ini digunakan oleh anak saya buat berguru. Mereka pun bermain gitar dan keyboard bergantian. Bahagia melihatnya.

Tak lama kemudian, seorang pria bertubuh kurus dengan rambut panjang yang digelung ke atas datang. Duduk dan menyalami saya. Ooh…rupanya beliau inilah sang penulis buku Merdeka Seratus Persen. Kami berbincang sesaat. Berkenalan dan menceritakan sedikit tentang diri kami. Penulis Satria Mahardika alias Saiful Anam ini adalah kelahiran Kroya ( Cilacap). Lalu ngobrol tentang buku. Rupanya buku Merdeka Seratus Persen adalah buku ketiga yang ditulis oleh Satria. Buku pertamanya adalah kumpulan puisi yang cukup tebal berjudul Suluk Mahardika. Wah… produjtif juga ya. Agak sulit untuk mengobrol panjang karenasambil ngobrol kami juga mendengarkan permainan musik Gung Karma dan anak saya. Sayang jika dilewatkan. Tiba tiba Satria Mahardika melemparkan ide. Bagaimana jika kita mengkolaborasikan puisi dengan musik?. Whua…. ide yang sangat bagus!. Satria Mahardika meminta saya membuka “any” halaman di buku Suluk Mahardika itu dan membacakan apapun puisi yang terpampang di halaman yang saya buka.

Sayapun membuka acak halaman buku yang tertutup itu dan mata saya tertumbuk pada puisi ” Satria Mahardika”. Saat itu saya belum ngeh kalau nama Sang Penulis adalah Satria Mahardika. Jadi sayapun membaca puisi itu tanpa ada link di pikiran saya kepada nama Sang Penulis. Belakangan; setelah pulang dari Puri Kilian saya baru terpikir akan hal itu 😀.

Membacakan puisi dadakan dan berkolaborasi dengan pemusik seperti itu rasanya beda banget. Semua terasa indah. Katrena sekarang, keindahan menjadi terasa berlipat ganda menembus dimensi lain dari panca indera kita.

Setelah itu giliran Satria Mahardika membacakan puisinya yang berjudul Aira. Tentu beda lah ya, jika sang penulis yang sekaligus membacakan sendiri karyanya. Bagai menyusur sebuah fragment perjalanan yang ia hapal betul kontur jalannya. Ia tahu di mana dan kapan harus menurun dan mendaki. Di mana harus berhenti sejenak untuk menarik nafas dan melihat view di sekitarnya untuk menikmati keseluruhan perjalanan dengan holistic. Tepuk tangan untuk Satria Mahardika. Keren ya!.

Di sini saya berhenti sejenak. Memandang anak anak dan para sahabat yang sedang menikmati keindahan yang sedang bergaung dalam jiwanya. Sebagaimana seorang mathematician menghayati keindahan angka-angka dan sang pelukis menghayati bias warna warna, demikianlah sang pemusik menghayati setiap tangga nada dan sang penyair menghayati keindahan setiap kata. Setiap element di alam semesta ini memiliki keindahan tersendiri bagi setiap orang yang mau dan berhasil menangkap esensinya dan menghayatinya.

Ah!. Bali memang tempat di mana seni tak pernah ada matinya. Terimakasih Satria Mahardika, Agung Karmadanarta, Agung Kartika Dewi, Agung Chocho dan anak anak keponakan yang mewujudkan keindahan kolaborasi ini. Liburan mendatang kita bertemu lagi yah..

Loksado Writers & Adventure 2017: Paparan & Pengalaman Sastra Bagi Remaja.

Standard
Loksado Writers & Adventure 2017: Paparan & Pengalaman Sastra Bagi Remaja.

Membaca puisi di Minggu Raya Banjarbaru.

Saya penyuka karya sastra. Dan puisi termasuk di dalamnya. Atas kesukaan saya itu, ketika remaja, saya rajin mengikuti forum dan panggung lomba-lomba baca puisi yang diselenggarakan di kota saya. Saya akui bahwa forum dan panggung-panggung sastra seperti itu sangat mendongkrak kemajuan sastra di Bali. Karena minat remaja akan sastra menjadi sangat tinggi. Sayang sekali, aktifitas seperti itu, belakangan saya dengar tidak banyak lagi dilakukan pada saat ini. 
Dengan latar belakang seperti itu, saya tiba tiba terpikir untuk mengajak anak saya yang remaja untuk ikut ke Loksado Writers & Adventure 2017. Tentu dengan catatan jika panitya mengijinkan. Dan ternyata syukurnya memang diijinkan!. Saya senang sekali. Tujuan saya adalah untuk memperkenalkan anak saya dunia sastra dengan cara yang lebih baik lagi *menurut saya* ketimbang hanya dari apa yang ia dapat dari sekolahnya. 

Saya tahu, anak saya tentu mendapat pelajaran sastra dengan cukup baik dari sekolahnya. Tetapi akan sangat berbeda jika ia mendapatkan kesempatan terekspose langsung dengan forum sastra dan bertemu dengan para sastrawan senior di komunitasnya yang tepat. 

Demikianlah ceritanya saya membawa anak saya ikut ke Loksado. Ia sendiri setuju, walaupun ketika diawal ia mau karena tertarik melihat foto orang bermain rakit di sungai Amandit. 

1. Paparan Sastra

Sejak tiba di Bandara Sorkarno-Hatta di Jakarta, anak saya mulai berkenalan dan diterima dengan baik oleh para sastrawan senior yang kebetulan berangkat satu pesawat dengan kami subuh itu. Gap usia yang cukup jauh syukurnya tidak membuat anak saya terasing. Ia kelihatan biasa saja. Bahkan terlihat berusaha ngobrol dan bergaul. Saya cukup lega. Setidaknya ia bisa membawa diri. 

Antologi puisi. Dari Loksado Untuk Indonesia.

Berikutnya, ketika panitya membagikan buku Antologi puisi. Ia melihat sepintas lalu mulai membaca puisi puisi yang ada di dalamnya. Bahkan ketika ditanya cukup satu buku baca gantian dengan mama, anak saya ingin memiliki buku Antologi puisi itu sendiri. Dan.. ia serius membacanya. Nah..kini saya tahu minimal ia suka. 

Yang lebih penting adalah, karena ini adalah sebuah forum sastra, tentu banyak sekali diskusi dan pembahasan tentang puisi dan karya sastra lain sepanjang acara itu, baik yang formal maupun yang tidak formal. Ia juga mendengar tentang Haiku. Tentang Senryu . Dan tentang format format karya sastra yang lain.  Hal ini tentu menambah khasanah, wawasan dan cara pandang anak saya terhadap karya karya sastra. 

Baca puisi di Loksado Writers & Adventure 2017.

Di forum itu, anak saya juga terekspose dengan pembacaan puisi dengan berbagai gaya yang dilakukan oleh para sastrawan yang hadir di sana. Bisa saya pastikan ini sangat menginspirasi anak saya. Bagaimana membacakan puisi dengan baik, bagaimana berdeklamasi dan bahkan belajar memahami bahwa karya sastra pun bisa berfusi dengan karya seni lain seperti vokal, seni gerak tubuh dan sebagainya. Anak saya terlihat sangat terkesan misalnya saat seniman Isuur Loeweng berkolaborasi dengan Bagan Topenk Dayak membawakan sebuah puisi dengan luar biasa mengesankannya. Tak habis habisnya kami membicarajan dan memujinya. 

Hal lain yang ia pelajari adalah, bahwa puisi tidak hanya bisa menjalankan tugasnya sebagai sekedar karya sastra yang indah saja, tapi sangat mungkin menjadi media penyalur pesan sosial dan aspirasi masyarakat yang selama ini mungkin buntu atau terpinggirkan. Terlebih ketika ia juga ikut diajak berkunjung dan berbaur dengan masyarakat setempat, dengan sendirinya ia pun belajar. Melihat, mendengar dan menangkap fakta untuk kemudian ia proses dalam alam pikir dan jiwanya untuk kemudian ia sambungkan sendiri dengan puisi. 

2. Pengalaman Sastra

Pak HE Benyamin, sang motivator.

Adalah HE Benyamin, sastrawan Kalimantan Selatan yang berhasil menyentil keberanian anak saya untuk tampil membaca puisi di panggung forum itu. Awalnya saya bujuk -bujuk tidak mau. Tetapi berkat kalimat-kalimat motivasi Pak HE Benyamin yang menyihir, eeh….. anak saya nekat maju ke panggung. Sayapun kaget dan terharu. Luar biasa!. Bayangkan! Di hadapan sekian banyak sastrawan dan seniman sastra baik dari Kal Sel maupun dari berbagai daerah Indonesia itu, anak saya berdiri. Membacakan puisi untuk pertama kalinya. Puisi yang juga baru pertama kali ia lihat dan baca.  Judulnya ” Perempuan Dan Kopi Hutan”. Karya Cornelia Endah Wulandari. 

Membacakan puisi Perempuan & Kopi Hutan. Karya Cornelia Endah Wulandari.

Hasilnya?. Saya harus mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada Pak HE Benyamin untuk proses pergulatan keyakinan diri yang dialami anak saya hingga akhirnya berani maju dan bergata di depan panggung. 

Perempuan & Kopi Hutan. Cornelia Endah Wulandari. Foto milik Agustina Thamrin.

Dan tentu saja pastinya buat Mbak Cornelia Endah Wulandari yang puisinya menjadi batu loncatan pertama bagi anak saya untuk menyebur ke dunia sastra. 

3. Tantangan Dan Ujian Sastra

Berhasil membacakan puisi karya HE Benyamin di Minggu Raya Banjar baru. Bersama Pak HE Benyamin.

Tak selesai sampai di sana, bahwa Loksado telah memberikan kesempatan kepada anak saya untuk terekspose dengan dunia sastra dan sekaligus memberi ‘new experience’ baginya. Menjelang kepulangan kami ke daerah mading-masing, teman teman Kalimantan mengajak kami mampir di Minggu Raya. 
Awalnya saya tak mengerti. Karena tempat itu kelihatannya hanya tempat nongkrong-nongkrong saja di tepi jalan dengan suara deru motor yang meraung raung. Ternyata kembali Pak HE Benyamin memberi tantangan kepada kami semua (termasuk anak saya), untuk menguji nyali. Beranikah dan mampukah membaca puisi di tepi jalan? Di tonton orang yang berlalu lalang? Dan diantara suara kendaraan yang menggelegar?. 

Syukurlah, anak saya pun mau mengambil tantangan itu. Mau, bisa dan berani!. Horeeee!. Akhirnya luluslah ia di forum sastra Kalimantan Selatan yang unik itu. Sesuatu hal yang membanggakan tentunya. Bagi dirinya sendiri dan saya sebagai orangtuanya. 

Aku sudah membaca puisi. Minggu raya Banjar baru.

Anak saya mendapatkan pin tanda kelulusan.  Saya juga ikut membaca dan mendapat pin yang sama. 

Buku Antologi Puisi HE Benyamin. Pohon Tanpa Hutan.

Dan juga hadiah buku Antologi Puisi “Pohon Tanpa Hutan” langsung dari Pak HE Benyamin – penulisnya. Aduuuh…senang & bangganya. 
Nah! Untuk segala apa paparan, pengalaman, tantangan dan ujian sastra yang diterima anak saya yang remaja ini, tentunya saya sebagai orangtua sangat berterimakasih kepada semua rekan rekan sastrawan yang hadir baik dari Kalimantan Selatan maupun dari daerah lain, kepada Pak Budhi dan Mbak Agustine serta masyarakat Loksado. 

Sudah menjadi cita cita kita bersama agar Sastra dan penulisan terus berjaya di negeri kita, dan tentunya sudah menjadi tugas dan tanggung jawab kita sebagai orangtua untuk memupuk minat dan kecintaan  anak anak dan remaja kita terhadap sastra sejak dini.  Seperti kata pepatah, jika tak kenal maka tak sayang. Oleh karenanya kita perlu meperkenalkannya dengan baik. 

Besar harapan saya, kecintaan anak saya terhadap sastra dan penulisan, kelak semakin meningkat. Jikapun tidak, maka sebagai ibu saya sudah berusaha meletakkan dasar yang sebaik-baiknya yang bisa saya lakukan. 

Salam Sastra.