Tag Archives: Renungan

Lupa.

Standard

Sebulan ini kesibukan saya agak meningkat. Pasalnya ada meeting penting yang harus kami jalani berturut turut selama 3 hari. Sementara minggu sebelumnya juga sangat banyak agenda, sehingga saya agak keteteran. Beberapa presentasi yg disiapkan team saya last minute belum sempat saya periksa.

Di tengah serunya meeting, seorang teman yg duduk di sebelah saya berkata” Bu, jangan lupa nanti kalau ibu sudah sempat, tolong periksain presentasi saya ya Bu. Mohon masukan kali-kali ada yang perlu direvisi, ditambahkan atau dikurangi”. Teman saya ini akan presentasi esok hari pukul 9 pagi.

Ya. Nanti malam ya. Setelah pulang kerja” jawab saya. Teman saya mengangguk setuju. Ya lah. Nanti saja. Sekarang kan lagi di tengah meeting. Tentu tak sopan jika saya mengoprek material lain di luar yang dididkusikan di meeting.

Sepulang kerja, saya makan, beresin sedikit urusan anak, rumah dan dapur, lalu mandi. Setelah itu barulah saya membuka laptop. Membuka email. Saya mau memeriksa presentasi teman saya. Tapi oh….ternyata belum masuk. “Mungkin dia sedang makan malam, jadi belum sempat ngirim ” pikir saya. Sementara menunggu email masuk, sayapun mengerjakan hal lain.

Beberapa saat kemudian saya check email lagi. Belum masuk juga. “Ooh…mungkin masih dikerjakan“, pikir saya. Saya menunggu dengan sabar.

Setelah 3 – 4 kali melihat dan tetap belum ada email yang masuk, lalu saya mengirim pesan kepada teman saya melalui Whatsap. Menanyakan kepadanya mengapa presentasinya belum dikirim?. Kalau belum dikirim bagaimana saya bisa menerima?😀 Dan jika belum saya terima bagaimana cara daya mereview?.😀😀

Teman saya tidak membalas WA saya. Saya tunggu beberapa saat, ternyata belum dibaca juga pesan saya. Waduuuh…jangan jangan dia sudah tidur. Saya baru nyadar ternyata ini sudah tengah malam. Lewat jam 12 malam.

Ah…mungkin saja ia masih memperbaiki presentasinya. Jadi belum sempat membaca pesan saya. Saya mencoba berpikir positive.

Beberapa saat kemudian, jarum jam di dinding melewati angka satu. Saya memeriksa email dan WA. Tak ada tanda tanda kalau teman saya itu masih terjaga, mengerjakan dan akan segera mengirimkan presentasinya ke saya. Ingin menelpon, tapi rasanya nggak sopan banget ya nelpon malam malam begini. Lagipula seandainya dia sudah tidur kan kasian juga dibangunin. Ah.. biarlah. Besok pagi tentu dia sudah membuka pesan di WA dan pasti akan mengirimkan filenya ke saya. Dua anak tang baik dan biasanya rajin.

Mendekati pukul setengah dua malam, akhirnya saya tinggal tidur.

Tapi saya percaya teman saya itu sudah mempersiapkan presentasinya dengan kualitas content yang baik. Dan ia juga sangat percaya diri membawakannya.

Esok paginya, usai mempersiapkan bekal makanan untuk anak saya, mandi dan sarapan saya membuka laptop saya lagi. Ngecheck barangkali email teman saya sudah masuk. Eh.. ternyata belum juga!. Waduuuh…bagaimana ini???.

Sambil mengunyah sarapan tiba tiba saya teringat….

Oooh, bukankah teman saya sudah memberikan file presentasinya kepada saya lewat flash disc? Dan saya sudah mengcopy-nya ke laptop saya? .

Astaga!!!!. Pantesan emailnya saya tunggu berjam-jam sampai begadang tiada kunjung tiba 😀😀😀.

Di mana kesalahannya ini???. Waduuuh… faktor U!!!.

**************

Faktor U alias faktor umur yang makin meningkat seringkali dijadikan kambing hitam atas berbagai kejadian yang berkaitan dengan lupa atau pikun.

Tapi sebenarnya jika mau mengakui, bahwa sebenarnya di luar faktor U juga ada masalah lain yang menjadi penyebabnya yang perlu diberikan perhatian dan diperbaiki ke depannya.

Seringkali itu berurusan dengan cara kita memberi perhatian terhadap apa yang kita lakukan setiap saat. Lupa disebabkan karena kita tidak meletakkan perhatian yang penuh terhadap apa yang kita kerjakan. Hanya sepintas lalu. Tidak sepenuh pikiran. Sehingga ingatan kitapun tak mampu menahan kejadian itu. Ia menguap dan berlalu begitu saja dengan cepat.

Itulah lupa. Saat memory tak bertahan lagi di sel-sel ingatan kita.

Saya tidak menaruh perhatian pada saat teman saya memberikan flash disc-nya ke saya, karena perhatian saya sedang tertuju penuh ke layar saat itu. Dan saat mengcopy filenya pun saya lakukan sambil pikiran saya sibuk dengan presentasi yang sedang berlangsung. Sehingga kejadian itu tidak terekam dengan baik dalam ingatan saya.

Itulah barangkali sebabnya, mengapa kita diminta agar selalu tetap fokus fokus dan fokus akan apapun yang sedang kita kerjakan. Sehingga kita selalu menyadari dengan baik apapun yang kita lakukan. Dan seterusnya memory kita bisa menyimpannya dengan baik.

Selamat pagi teman teman pembaca!.

Advertisements

Kutinggalkan Anakku Di Gerbang Ini.

Standard

Kutinggalkan anakku di gerbang ini. Ketika angin dingin mulai menyapa. Dan musim gugur baru saja tiba.

Kutitipkan anakku pada pohon pohon pinus. Juga pada pohon apel dan kastanye serta hawtorn yang berbuah merah.

Kumintakan pada burung -burung agar bernyanyi saat anakku kesedihan. Dan pada tupai untuk membawa biji bijian saat anakku kelaparan.

Kutinggalkan anakku di sini. Di dalam keranjang yang kusertai surat cinta merah jambu.

Bangunlah anakku. Rasakan angin yang berhembus dari segala penjuru. Lalu angkat telunjukmu tinggi tinggi untuk memahami mata angin. Nikmati sengat matahari dan sambutlah gigil musim dingin.

Tengadahkan wajahmu ke langit. Tatap pada bintang-bintang, pada planet-planat dan galaxy. Agar pandanganmu jelas seluas semesta.

Hirup segala aroma yang bertebar di udara. Agar kau bisa membedakan wangi tavuk yang dimasak garam masala. Juga aroma portakal suyu dan wangi gaharu yang dikemas dalam sebotol parfum.

Sesaplah sari kehidupan sebanyak banyak yang engkau bisa. Letakkan semangatmu di atasnya. Sebagaimana dulu engkau menyesap air susu ibumu.

Sekali waktu. Berjalanlah tanpa sepatumu. Agar kau bisa merasakan halusnya pasir dan tajamnya kerikil. Itu bagus untuk mengasah kepekaanmu dan kepedulianmu pada orang lain.

Kulepas engkau di rimba raya anakku. Karena aku tahu naluri berburumu setajam macan. Kau akan menaklukannya.

Kulepas engkau di gunung tinggi anakku. Karena aku tahu ketajaman pemikiranmu bagaikan mata elang. Kau akan menaklukannya.

Kulepas engkau di lautan lepas anakku. Karena aku tahu daya jelajahmu sejauh jelajah ikan paus. Kau akan menaklukannya.

Aku tahu kau bisa. Dan aku selalu bangga padamu.

Sekarang berdirilah di sini. Tengadahlah selalu ke langit, untuk mengingat Sang Penciptamu. Itulah tujuan hidupmu pada akhirnya. Tujuan atas segala hal yang kau cari di dunia ini. Tujuan atas segala penjelajahanmu.

Dengan penuh cinta. Untuk anakku, Andri Titan Yade.

Ankara, 16 September 2018.

Ketika Berada Di Ketinggian.

Standard

Malam merayap. Saya menyelesaikan doa syukur saya dan bermaksud untuk istirahat. Sebelum tidur saya memeriksa anak saya dulu. Ia tertidur dengan buku buku📚, laptop 🖲dan gitar🎸 di sebelahnya.

Sayapun memindahkan barang barangnya itu dari tempat tidur. Buku dan laptop ke atas meja belajarnya. Lalu gitar mau ditaruh di mana ya?

Pertama di atas kursi belajarnya. Tapi ketika saya lewat, tanpa sengaja saya menyenggol lengan kursi itu. Begitu kursi bergerak , gitarpun ikut bergerak. Melorot. Oops!!!. Untung saya bisa menangkap gitar itu dengan cepat sebelum ia bergedubrak jatuh ke lantai. Saya pun berpikir lagi….hmm…taruh di mana ya? 🙄🙄🙄

Ah…akhirnya saya menemukan tempat di atas cajon drumbox-nya. Sayangnya baru beberapa detik saya letakkan, gitar itu tiba tiba melorot dengan cepat. Gedubraaaaxxxx!!!. Waduuuh!. Jatuh lagi. Ribut banget suaranya. Anak saya terbangun. Kaget. Untunglah ia tertidur lagi setelah melihat saya.

Malas lagi berpikir mau simpan gitar ini di mana?. Akhirnya saya memutuskan untuk meletakkannya di lantai sajalah. Kalau di lantai kan tidak mungkin jatuh. Emang mau jatuh ke mana lagi kalau sudah di bawah????.

Berpikir begitu saya jadi teringat pembicaraan dengan sahabat saya beberapa waktu yang silam. Saat itu kami sedang berjalan-jalan di pantai Sanur. Setelah beberapa saat rasanya saya ingin duduk. Mau duduk di mana ya? Ada tiang melintang di pinggir anjungan yang menjorok ke laut. Sayangnya ada orang lain yang sudah duduk di situ. Lalu saya ingin duduk di cabang rendah pohon waru laut yang tumbuh di pantai, tapi takut cabangnya patah 😃. Kalau jatuh bagaimana?

Akhirnya kami memutuskan untuk duduk nggelosor di pasir pantai di bawah pohon waru laut.

“Nah…di sini lebih nyaman” kata sahabat saya. Saya mengangguk. Dari sini kami bebas memandangi ombak yang berlarian datang dan pergi menyentuh bibir pantai. Suasana yang sangat indah.

Ketika kita berada di ketinggian, selalu ada kemungkinan untuk terjatuh. Tetapi jika kita berada di kerendahan, maka tak ada lagi tempat untuk jatuh. Karena tempat terendah itu adalah tempat di mana kita sudah berada. Demikian sahabat saya mulai pembicaraan.

Saya tertarik mendengarkan pembicaraannya. “Tapi kalau diinjak orang?😁” tanya saya. Sahabat saya tertawa. “Sebelum diinjak orang, tentu kita sudah bangun berdiri dan menghindar” jawabnya. Ya siih…

Tapi saya tetap tertarik memikirkan kalimatnya itu. Karena nengandung kebenaran dan kearifan. Itu berlaku juga dalam kehidupan kita sehari -hari. Jika kita meninggikan diri, selalu ada kemungkinan kita terjatuh akibat perkataan atau perbuatan kita sendiri. Jika kita menganggap diri lebih tinggi dan selalu memandang rendah orang lain, akan selalu ada orang lain yang tidak senang dan ingin menjatuhkan kita.

Sebaliknya jika kita bersikap rendah hati, sulit bagi kita untuk jatuh ataupun dijatuhkan orang lain. Karena kita sudah di posisi terendah dan tak ada tempat yang lebih rendah lagi. Jadi mau jatuh ke mana????. Tak mungkin jatuh ke atas kan ya??😀.

Saya melirik gitar anak saya yang tergeletak di lantai. Dan sekarang semakin paham saya, bahwa kejadian -kejadian ini memberi pesan agar saya selalu menempatkan hati saya di kerendahan dalam menjalani kehidupan saya sehari-hari. Karena semakin tinggi saya menempatkan hati saya maka kemungkinan untuk terjatuhnya pun makin tinggi dan makin sakit juga. Lagian, apa pula yang bisa saya sombongkan dan tinggikan? Tidak ada pula. Jadi sebaiknya memang merndah hati lah. Stay humble!.

Malam telah semakin larut. Saya memejamkan mata saya dan segera tidur.

Tangkai Kedondong Yang Patah.

Standard
Tangkai Kedondong Yang Patah.

Saya memindahkan pohon kedondong yang potnya telah kekecilan dan tak layak. Pohon ini sangat rajin berbuah dan banyak-banyak. Akarnya menembus block bata di halaman.

Sebenarnya agak nervous juga saya mrncabutnya, takut akar utamanya putus. Tapi saya tak punya pilihan lain. Pohon kedondong ini butuh pot yang lebih besar.

Rupanya saat saya menarik batangnya dengan sekuat tenaga, ternyata salah satu cabang yang buahnya lebat, patah tangkainya. O o!!!. Beberapa buah kedondong bahkan jatuh menggelinding di bawah. Saya sangat terkejut dan sedih dengan apa yang telah terjadi. Apa yang harus saya lakukan sekarang?

Memanen buah kedondong yang tangkainya patah itu? Semuanya ada 14 buah. Rontok empat dan sisa 10 buah. Masih muda semuanya. Nanti saya jadikan jus kedondong saja. Seger!!!.

Atau apa coba saya biarkan saja ya?. Walaupun tangkainya patah, siapa tahu pohonnya masih bisa memberi nutrisi kepada buah-buah kedondong itu hingga tetap membesar dan matang. Nah..nanti setelah matanv barulah saya panen.

Akhirnya saya memilih option yang ke dua. Saya biarkan buah kedondong itu masih menggantung di tangkainya yang patah.

Beberapa hari kemudian, saya mendapatkan buah kedondong itu pada layu dan kisut. Buahnya lembek. Saya tidak melihat kemajuan dari pertumbuhan buahnya. Yang terjadi malah kemunduran. Saya tahu buah kedondong ini tak akan pernah mencapai masa matangnya dengan baik. Mengapa? Karena tangkai yang patah tak mampu mengangkut nutrisi yang cukup lewat jaringannya untuk disupply ke buah muda yang masih butuh berkembang. Sehingga buah tak bisa berkembang dengan baik. Selain itu akar kedondong ini setidaknya juga agak terputus, sehingga ia harus berusaha mengais nutrisi dari lingkungannya yang baru dengan ujung akar yang sedikit berkurang jumlahnya. Untuk tetap segar, buah harus tetap terhubung dengan batang dan akarnya, dan akarnya tetap membumi. Jadi “koneksi” alias “keterhubungan” itulah jawabannya!. Dalam hal ini tangkai berfungsi sebagai conector.

Yah… saya pikir memang begitulah pada kenyataannya. Dan hal yang serupa juga terjadi dengan diri kita. Kita membutuhkan “keterhubungan” untuk menjaga diri kita tetap hidup dengan baik. Keterhubungan dengan pekerjaan sebagai sumber rejeki, keterhubungan dengan keluarga, sahabat dan orang orang yang kita cintai sebagai sumber kasih sayang, dan sebagainya hingga keterhubungan diri kita dengan Sang Parama Atma Tuhan Yang Maha Esa sebagai sumber dari sang diri alias Atma atau roh kita. Kita perlu menjaga keterhubungan ini dengan baik. Karena jika tidak, maka hidup kita tak ubahnya dengan buah buah kedondong yang patah tangkainya itu.

Saya tercenung sejenak mendapati pikiran saya menjalar ke mana mana.

Renungan di kebun.

Biji Duku Yang Tumbuh Di Dalam Perutku.

Standard

Flasback ke masa kecil : “Wah.gawat!!!. Kalau tertelan, biji duku ini nanti akan tumbuh di dalam tubuhmu” kata kakak sepupu saya. Astaga!!!!!🤤🤤🤤

Semalaman saya tak bisa tidur memikirkan kalimat itu setelah tanpa sengaja saya menelan biji duku. Saya menyangka, besok paginya biji duku itu akan keluar akar yang menjalar dan mungkin menembus perut saya. Tumbuh batang dan ranting yang mungkin menembus tenggorokan mulut, mata, hidung dan telinga saya. Whua…betapa mengerikannya 🤤😲😢😭

======================================

Kejadian masa kecil itu melintas kembali di ingatan saya pada suatu siang, ketika saya berada di sebuah studio foto dan tuan rumah menghidangkan buah duku.

Buat anak kecil, memakan buah duku bukanlah perkara yang mudah. Karena untuk membukanya saja, kulit buah ini terkadang bergetah dan pahit. Terutama jika buahnya kurang tua. Jadi harus pintar pintar memilih yang kulitnya empuk dan tua biar nggak bergetah.

Lalu setelah memilih buah yang tua dan manis, kita dihadapkan pada masalah biji duku. Tidak semua juring buah duku bebas biji. Beberapa bahkan ada yang bijinya besar. Dan jika tergigit rasanya sungguh pahit. Nah kita harus pelan pelan dan hati hati memakannya. Jika bijinya kecil, memang lebih praktis langsung telan saja 😀😀😀.

Dari kesulitan itulah akhirnya banyak anak menelan biji duku baik sengaja maupun tak sengaja. Dan rupanya, banyak anak juga yang mengalami dibohongin kakaknya bahwa “nanti biji duku yang tertelan ini akan tumbuh di perut ” . Bukan saya saja. Ha ha

Sambil mengunyah buah duku, saya mikir mikir lagi. Mungkin sebagian ada benarnya juga, pernyataan bahwa biji duku itu nanti akan tumbuh dalam tubuh kita itu.

Teringat obrolan dengan seorang sahabat saya. Sebenarnya, apapun yang kita makan, termasuk buah duku dan bijinya, masuk ke dalam perut kita, pada akhirnya akan dicerna juga dan dimanfaatkan untuk membangun tubuh kita sendiri. Walaupun tentu ampasnya dibuang oleh tubuh. Sari sari buah duku ini akhirnya menjadi tubuh saya. Betul bahwa ia ikut tumbuh dalam tubuh saya.

Buah duku ini telah mengorbankan dirinya dan jiwanya untuk menjadi bagian dari tubuh, tempat di mana jiwa saya bersemayam. Ia berkorban untuk saya. Ia berjasa bagi saya.

Oh…tapi mengapa saya tidak mengucapkan terimakasih saya kepada buah duku ini?. Dan faktanya sata tidak hanya makan buah duku saja selama hidup saya. Ups!!!!.

Saya juga makan beras/padi, makan kangkung, makan ayam, ikan, talas, singkong, dan sebagainya. Whuaaa…banyak sekali mahluk hidup yang saya makan. Ribuan, mungkin jutaan nyawa telah berkorban hanya untuk kepentingan satu nyawa. Yaitu nyawa saya sendiri. Mengapa saya tidak pernah ingat untuk berterimakasih pada semua mahluk hidup itu?????. Padahal mereka sudah sangat berjasa mengorbankan nyawanya untuk membangun tubuh saya.

Kalau sedang ingat, sebenarnya saya juga berdoa sebelum makan sih. Berdoa kepada Tuhan, berterimakasih sudah diberikan rejeki sehingga saya masih bisa makan hari itu. Berdoa agar makanan yang saya makan memberikan kesehatan yang baik untuk saya dan bukan membuat saya sakit. Kedengerannya cukup religius juga ya saya (kalau sedang ingat 😀) ha ha… Semua doa doa itu tentu sudah baik.

Akan tetapi, saya pikir sebenarnya berdoa seperti itu saja belum cukup. Akan lebih baik lagi jika saya juga selalu berterimakasih dan mengenang pengorbanan diri hewan-hewan dan para tanaman yang saya makan ini yang telah nengorbankan kelangsungan hidupnya, demi untuk mendukung kelangsungan hidup saya.

Sekarang jika ada orang yang bertanya kepada saya, siapakah saya?. Jawabannya, saya adalah kumpulan mahluk mahluk yang telah mengorbankan nyawanya dan kehidupannya untuk sebuah kehidupan lain.

You’ve Broken My Heart…

Standard

​​​Orang bilang ada dua sisi dari cinta. Sisi yang membahagiakan dan sisi yang menyakitkan. Keduanya, mau tidak mau pasti akan kita alami ibarat dalam satu paket. Mengapa? Karena pada prinsipnya setiap individu dan juga hubungannya dengan individu lain selalu memiliki kelebihan dan kekurangan.Dan ketika itu melibatkan cinta, tentunya kelebihan dan kekurangan inilah yang menjadi penyebab dari timbulnya rasa sakit dan bahagia itu. 

Menyukai kelebihannya secara umum adalah perkara yang mudah. Dan juga menyenangkan. Tetapi saat harus menerima kekurangannya, biasanya hati kita mulai goyah. Dan mulai bertanya, “Apakah aku masih mencintainya?”. Lalu kita pun menjawab sendiri: “Masih!”. 

Ah!. Masak sih? Yakin?. Yakinkah kamu bahwa masih mencintainya dengan segenap perasaanmu? Setelah apa yang ia lakukan telah menghancurkan hatimu?. Remuk redam?. Entahlah. Hanya waktu yang tahu akan jawabannya…

Ini cerita tentang cintaku pada kucing. Tiga ekor kucing di rumah saya. Sungguh mati saya cinta pada kucing, dan kecintaan ini menurun ke anak-anak saya. Suami saya, yang awalnya pembenci kucing akhirnya luluh hatinya dan terpaksa menerina kenyataan jika kami harus tinggal bersama dengan beberapa ekor kucing liar yang diadopsi oleh anak saya. Eh…lama-lama dia juga ikut-ikutan sayang dan peduli pada kucing. Mungkin itulah yang disebut oleh orang Jawa sebagai “Witing tresno jalaran soko kulino”. 
Kucing-kucing itu sangat baik.Lucu dan menggemaskan. Juga sangat manja. Suka duduk di pangkuan. Kalau pagi suka memberikan salam dengan mengusap-usapkan pipinya ke kaki saya.  Tidak heran saya semakin sayang padanya. 

Tapi belakangan mereka melakukan beberapa perbuatan yang mengganggu. 

​​Ia menabrak pot bibit sayuran saya hingga terguling-guling hancur. ​Terseret hingga lebih dari 3 meter. Tentu saja tanahnya berserakan kemana-mana dan bibit sayuran itu sebagian besar rusak seketika. Aduuh…. hati saya berdarah-darah. 

Berikutnya ia meloncat dan menimpa box  tanaman bayam merah yang baru berumur satu hari. Pecahlah styrofoam penyangganya. Beberapa tanaman yang masih kecil itupun jadi nyemplung ke dalam air. Sangat mengenaskan.

Lalu ia bermain-main, kejar-kejaran dengan saudaranya. Dan ujung-ujungnya menginjak dan menghancurkan styrofoam box hidroponik tanaman kangkung saya. 

​Dan setelahnya ia masih  menghancurkan 6 buah lagi styrofoam  penutup boxes hidroponik saya yang berisi tanaman. 

You’ve broken my heart…

​Tapi bagaimana caranya mau marah?. Jika beberapa menit kemudian ia tidur terlelap sambil meringkuk memeluki ekornya seperti ini di dalam bak yang akan saya gunakan untuk hidroponik. 

​Aduuh kasihannya. Lelap seperti bayi kecil yang tak berdosa. Saya melihatnya dengan iba. Nafasnya mendengkur halus. Dadanya naik turun. Mahluk tak berdaya.Sayapun cuma bisa mengelus-elus kepalanya dengan sepenuh kasih sayang yang ada di hati saya.

Seketika rasa sedih akan hancurnya tanaman sayapun hilang menguap ke udara . “Ya sudahlah…” gumam saya dalam hati. 

Dimanakah batas antara benci dan cinta? 

Itulah yang ingin saya katakan. Bahwa cinta itu adalah satu paket kebahagiaan dan kenyataan pahit yang harus kita terima dengan ikhlas.  Ketika kita mencintai dengan tulus,  maka sebenarnya pada saat yang bersamaan kita telah berdamai dengan diri kita sendiri untuk menyukai kelebihannya,  sekaligus menerima dan memaafkan kekurangannya serta mengikhlaskan segala derita, rasa pedih dan kerugian yang kita alami akibat perbuatannya itu. 

Aduuuh! Saya Kejeblos.

Standard

​​Malam hari sepulang dari kantor saya diantar suami pergi ke apotik di depan perumahan untuk membeli obat demam.Anak saya juga mau ikut. Kami parkir di tepi jalan dekat gerbang perumahan dan bukan di halaman apotik. Karena menurut suami saya, nanti ribet lagi kalau harus muter kendaraan masuk ke perumahan. Mendingan parkir saja di sini dan saya disuruh jalan kaki saja sedikit ke apotik. Toh hujan juga sudah reda. Ya sih. Suami saya ada benarnya juga. Jadi saya patuhlah ya  sama apa kata suami dan lalu segera membuka pintu kendaraan. 

Begitu turun,  saya melihat ternyata ada genangan lumpur di depan saya. Bekas galian kabel listrik PLN. Waduuh… panjang juga ya. Rasanya sulit deh lewat sini untuk beejalanke depan.   Saya bermaksud melompat, tapi takut terpeleset karena licin bekas hujan selain lubangnya cukup panjang juga. Pilihannya ya muter lewat belakang kendaraan. Tapi rasanya kok males ya berkeliling. 

Saya berbalik melihat lubang galian itu sejenak sambil mikir-mikir barangkali  saya bisa melompat saja agar lebih cepat sampai di apotik ketimbang harus muter ke belakang.

Dalam kegelapan malam saya melihat samar-samar ada bagian yang padat di tengah lubang itu yg dikelilingi genangan air dan lumpur. Saya pikir mungkin itu batu, dan jika saya coba meloncat dengan menginjakkan satu kaki saya pada benda padat itu, mungkin saja saya bisa lewat di sana dengan cukup mudah.  Lalu sayapun berjingkat. Hap!. JEBBBB! Aduuuh! Saya kejeblos!.Kaki kiri saya masuk jauh ke dalam lumpur. 

Tak terkira kagetnya. Kejeblos hampir selutut dalamnya.Tak saya sangka. Aduuh. Dan lebih apesnya lagi, saya tak mampu menarik kaki saya dengan mudah dari lumpur itu. Timbunan lumpur di atas kaki saya terasa sangat berat dan lengket. Saya mencoba menarik kaki saya. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Berkali kali. Tidak berhasil. 

Anak saya berusaha nembantu menarik tangan saya. Tapi masalah saya bukan di tangan. Tapi di kaki. Kemudian saya sadari kalau saya sulit mengangkat kaki saya karena saya berusaha mengangkat kaki beserta sandal jepit yang saya pakai. Jadi yang susah ditarik itu rupanya si sandal jepit. 

Akhirnya saya memutuskan untuk menarik kaki saya dan meninggalkan sebelah sandal jepit itu terkubur di dalam lubang galian itu.  Nah!Ternyata memang lebih mudah. Sekarang kaki kiri saya bisa keluar.Tapi tentu saja penuh lumpur hingga ke lutut. 

Esok paginya saya berangkat ke kantor dan melihat jejak kaki saya di dalam lumpur. Ha ha…lucu juga cetakannta. Saya geli atas kebodohan saya sendiri.Apa yang saya pikir batu itu ternyata hanya gundukan tanah gembur, yang akan sangat lembek saat digenangi air hujan. Menjadikannya sebagai tumpuan kaki tentu saja bukan ide yang baik. Tapi itulah yang telah terjadi. 

Saya bertumpu pada benda yang salah. Saya tak mampu melihat perbedaan batu yang memang asli padat dengan tanah yang terlihat padat. Semua terjadi karena saya memaksakan diri untuk melihat dalam kegelapan dan sebenarnya saya tidak sungguh-sungguh memastikan bahwa itu memang batu sebelum saya meloncat.

Lalu saya mencoba untuk bangkit dan menarik kaki saya yang kejeblos (masih untung saya punya semangat). Berusaha menarik kaki beserta sandalnya sekaligus, tanpa berpikir sandal jepit itu justru menjadi beban tambahan yang menyulitkan bagi kaki saya untuk  bergerak naik. 

Hmmm…..sound familiar ya? 

Memang demikianlah adanya perkara kejeblos itu. Kejeblos apapun juga dan di manapun juga. Mau kejeblos dalam lumpur, kejeblos urusan keuangan, kejeblos urusan karir hingga kejeblos urusan asmara dan sebagainya. Urusannya sama saja. Penyebabnya pasti tidak jauh dari hal-hal ini :  Kurang Hati-Hati, Mengikuti Emosi, Kurang Perhitungan, Kurang Waspada, Mata Gelap. 

Lalu jika kita ingin bangkit kembali dari keterpurukan, masalah yang membuat beban berat bagi kita untuk bangkit lagi juga biasanya adalah hal-hal kecil yang sesungguhnya tidak super penting amat untuk dipertahankan. Mungkin sebaiknya kita cut, buang dan ikhlaskan saja, agar tidak mengganduli langkah kita ke depan yang lebih baik. 

Antara Telor Dan Ayam…

Standard

image

Karena pekerjaan yang menumpuk, suatu kali saya tidak sempat memasak buat makan malam keluarga. Selain itu kulkas di rumah juga sedang kosong. Ngga ada bahan yang bisa dimasak. Jadi saya mau order makanan jadi saja. Buka hape. Lihat-lihat  nomer contact  rumah makan dan restaurant dekat rumah.

Ah!. Ini dia!!. Ketemu nomor sebuah restaurant yang masakannya cocok di lidah saya dan keluarga. Saya lalu menelpon bermaksud menanyakan jam tutup restaurant. Seorang pria mengangkat telpon saya “Maaf ibu, saya sedang libur. Kalau mau order, silakan ibu langsung ke restaurant saja” sarannya. Ooh..rupanya itu nomer pribadi dari salah seorang karyawannya. Bukan nomer restaurant. Lho? Tapi mengapa sebelumnya mereka menggunakan nomer pribadi itu  di brosurnya ya? Kenapa bukan nomer resmi restaurantnya saja ?. Aneh!. Tapi tak apa apalah. Saya menanyakan jam tutup restaurant sekalian meminta nomer telpon resmi restaurant. Saya mendapatkan restaurant tutup jam 8.30. Lebih cepat dibanding restaurant-restaurant lain di Bintaro yang rata-rata tutup pukul 10 malam.

Saat itu pukul 7.25 malam. Saya sedang di jalan dan memasuki area Tanah Kusir. Jika jalanan lancar, saya akan tiba sekitar pukul 8.15. Terlalu mepet ya. Tapi jika saya order lewat telpon dan meminta mereka menyiapkan pesanan saya terlebih dahulu, tentu masih keburu. Nanti saya tinggal bayar saja.

“Selamat malam Mbak. Saya mau memesan”.
“Tapi kita tutupnya jam 8.30, ibu” kata suara di seberang.
“Ya Mbak. Saya tahu kalau restaurantnya tutup pukul 8.30. Masih sejam lagi.Jadi saya pesan dulu, biar Mbaknya bisa menyiapkan masakan untuk saya. Nanti saya ambil dan tinggal bayar saja. Sekarang saya masih di jalan” kata saya menjelaskan.
“Tapi ibu, biasanya jam 8.30 kita sudah tutup lho Bu. Kadang malah jam 8 saja kita sudah tutup dan pada pulang. Soalnya sepi” nada suara di seberang terdengar sangat enggan meladeni.
Saya sedang tidak dalam mood ingin berpanjang lebar, “Jadi, masih mau terima order atau tidak?”tanya saya to the point saja. “Ooh…masih sih Bu” katanya. “Ya udah kalau gitu saya mau pesan ini dan ini”. Saya menyebutkan pesanan saya dan porsinya. Si Mbak mencatat. Lalu menyelak karena salah satu pesanan saya tidak ada. “Sudah lama tidak bikin” katanya. Oke deh. Kalau gitu saya ganti dengan yang ada saja. Si Mbak mencatat lagi.

Setelah itu tibalah pada bagian menghitung. “Jadi total berapa harganya?” Tanya saya. “Mmmm…berapa ya?” Si Mbak kelihatan tidak menguasai harga, lalu terdengar bertanya kepada temannya dan menggantung telponnya. Agak lama. Saya pikir dia dan temannya sedang melakukan kalkulasi. Saya menunggu dengan sabar. Setelah beberapa menit, barulah ia  balik kembali ke telpon lagi. Tapi ia tidak langsung memberi saya informasi berapa total harganya. Ia hanya bergumam seperti sedang berhitung. “Jadi berapa Mbak?”tanya saya. “Mmm…untuk sate kan 3 porsi kali 40 000. Jadi…….” suaranya menggumam lagi. Saya nendengarkan. Lalu ia mengulang “Satenya aja 40 000 kan kali 3 porsi…jadi…”. Suaranya jeda lagi “120 000!” Jawab saya dengan tidak sabar. Lah… ngitung 3 x 40 000 kok lama banget sih?
“Jadi berapa harga totalnya, Mbak? “ tanya saya. “Harga satenya aja kan 40 000 x 3… ” katanya mengulang lagi “Terus pepesnya kan 2 porsi kali…aduuuh berapa ya ini harga pepesnya? “ Si Mbak terdengar sangat bingung. “Aduuhh.. ibu datang ke sini segera deh. Nanti dihitung di sini saja” katanya. Baiklah. Saya tertawa geli dalam hati. Tapi dari sana saya paham rupanya kemampuan berhitung si Mbak ini rada kurang. Atau barangkali ia karyawan baru yang panik ya? Tak ada gunanya saya nemaksa minta dihitungkan.
Sekitar 25 nenit sebelum jam yang disebutkan sebagai jam tutup toko, akhirnya saya sampai.
Si Mbak yang tadi ditelpon menyambut saya. “Ibu Andani ya?” Tanyanya. Saya mengiyakan. Restaurant itu memang sangat sepi. Tak ada satupun pembelinya. Saya hanya melihat dua orang Mbak penjaga di sana, termasuk yang menyambut saya dan segera ke kasir.  Sepi banget. Padahal masakannya enak. Ada sesuatu yang salah dengan cara memanage restaurant ini.
Lihatlah restaurant-restaurant di sekeliling. Halamannya pada penuh dg kendaraan parkir. Rata rata penuh hingga pukul 10 malam.
Mengapa restaurant  yang ini tutup cepat?
Sebelumnya si Mbak ada menjelaskan kalau mereka pengen cepat pulang karena restaurant sangat sepi pengunjung. Tapi mengapa restaurant ini sepi pengunjung? Salah satunya mungkin karena tutup sangat cepat.  Wah…bolak balik ya? Seperti telor dengan ayam. Yang mana duluan?

Saya pikir, jika restaurant ini ingin maju… pihak management restaurant perlu memecah siklus antara telor dan ayam ini terlebih dahulu.
Dengan asumsi bahwa positioning dan Marketing Mix yang lain (rasa, harga, lokasi) sudah benar, maka restaurant ini perlu mereview kembali:
1/. Jam buka.
Dengan lokasi di Bintaro, di mana kebanyakan penduduknya adalah karyawan swasta yang berangkat pagi dan pulang malam –  rata-rata pukul 7 dan 8 malam, maka jam tutup restaurant pada pukul 8.30 sangatlah tidak nyaman bagi pengunjung. 
Karena di hari kerja pada siang hari mereka ada di kantor dan tidak mungkin balik ke area Bintaro hanya untuk makan siang. Jadi lupakan peluang untuk rame pada jam makan siang (kenyataannya saya beberapa kali ke restaurant ini pada siang hari, terutama Sabtu/Minggu juga tidak terlalu rame).  Mari kita fokus pada jam makan malam saja.  Bilanglah konsumen baru bisa datang ke restaurant pukul 8.00 malam. Melakukan pesanan, menunggu dihidangkan saja itu barangkali sudah memakan waktu 15 -30 menit tersendiri. Tentunya tidak nyaman sekali jika baru saja mulai suapan pertamanya, pengunjung sudah diberi woro-woro bahwa restaurant akan segera tutup.
2/. Ketersediaan menu sesuai dengan daftar menu.
Sungguh sangat mengganggu bagi konsumen jika mendapatkan kenyataan bahwa pesanan makanan kesukaannya ternyata tidak ada padahal di daftar menu ada.  Restaurant perlu mereview kembali secara berkala daftar menunya. Keluarkanlah masakan yang sudah tidak disediakan lagi dari daftar menu untuk menghindari kekecewaan publik.
3/. Pelayanan
Cara kita menerima konsumen, baik secara langsung maupun  lewat telephone sangatlah penting dalam membangun loyalitas terhadap restaurant yang dikelola, selain faktor lain seperti rasa masakan dan kebersihan. Kesan malas dan ogah -ogahan seolah tidak butuh pembeli sangatlah mengganggu  kesetiaan konsumen. Kecuali konsumen yang sangat militan, fanatik terhadap rasa masakan restaurant itu. Tapi berapa banyakkah jumlah pelanggan yang militan seperti itu? Sangat sedikit bukan?
4/. Skill
Berhitung dengan cepat, adalah salah satu skill yang sangat diperlukan ada pada setiap pramusaji restaurant. Dulu saya sering terkesan dengan kemampuan berhitung cepat pramusaji restaurant Bakmi GM. Begitu kita selesai menuliskan order hanya dalam hitungan kurang dari semenit kita sudah diberitahu berapa total harga yang harus kita bayarkan atas keseluruhan orderan kita. Sekarang mungkin tidak secepat jaman dulu, tetapi menurut saya tetap masih lebih cepat dibanding restaurant lain.

Saya pikir, minimal 4 hal itu yang perlu diperbaiki oleh pemilik restaurant ini jika ingin usahanya lebih maju. Karena jika mengandalkan cara beroperasi seperti sekarang ini, akan sangat sulit baginya untuk bersaing dengan restaurant -restaurant lain yang pengelolaannya jauh lebih professional.

Mengambil pelajaran atas pengalaman saya dengan restaurant itu, maka saya berpikir untuk diri saya sendiri;  Jika kita berada di lingkaran masalah  “telor, ayam mana duluan?”  seperti ini, maka sebaiknya posisikanlah diri sebagai telor saja.  Pro-activelah dengan cara memecahkan masalah dan perbaiki kekurangan diri sendiri terlebih dahulu. Jika semua masalah sudah  tuntas, barulah kita berharap timbal balik yang baik dari pihak lain.
Kita diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengalami berbagai hal dan kejadian, agar kita tak jemu jemu memetik pelajaran dan memperbaiki kwalitas diri.

Maksud Hati Hendak Membantu…

Image

imageIni kisah yang saya alami beberapa waktu yang lalu. Saya dan seorang teman baru kembali dari sebuah perjalanan dinas di negeri tetangga. Pesawat mendarat dengan mulus di bandara Soekarno -Hatta. Senang dan amat bersyukurlah hati saya. Karena penumpang penuh, saya tidak buru-buru bangkit setelah pesawat berhenti. Tapi teman saya yang berdiri mengambil tas-tas kami dari kabin sambil menunggu pintu pesawat dibuka.

Seorang bapak tua berdiri di sebelah teman saya mencoba menggapai sebuah tas dari kabin. Karena tubuhnya agak pendek, beliau mengalami kesulitan. Menyadari itu teman saya yang kebetulan posturnya tinggi menawarkan bantuan kepada Bapak tua itu untuk mengambilkan tasnya.

Yang mana punya bapak? Yang ini bukan?” tanya teman saya dalam Bahasa Inggris (teman saya bukan WNI). Bapak itu menggeleng. “Bukan!“katanya.Teman saya memperlihatkan tas lain di sebelahnya. “Ini bukan?” tanyanya. Bapak itu masih menggeleng.”Bukan!” katanya. Bapak tua itu mengatakan kalau tasnya adalah ransel (backpack). Lalu teman saya mencari-cari di kabin dan menunjukkan sebuah ransel. “Ini bukan?” tanyanya  Bapak tua itu mengiyakan. Teman saya lalu mengangkat dan memberikan tas ransel itu kepada si Bapak Tua. Penumpang mulai bergerak meninggalkan pesawat satu per satu. Saya pun berdiri, menggendong ransel saya sendiri dan keluar dari pesawat. Dalam hati diam-diam saya mengagumi kebaikan sederhana yang dilakukan teman saya itu. Membantu orang tua yang mengalami kesulitan mengambil tasnya dari dalam kabin. Saya pikir sebenarnya setiap hari selalu ada kesempatan untuk berbuat baik, tapi tidak semua dari kita memanfaatkan setiap kesempatan untuk melakukan kebaikan-kebaikan kecil guna membantu orang-orang lain di sekitar kita.

Turun dari pesawat, kami naik bis yang disediakan untuk mengantar ke terminal. Saya memilih duduk di dekat pak Supir. Sementara teman saya memilih berdiri di dekat pintu masuk. Setelah penumpang penuh, pak supir bersiap-siap mau berangkat.

Tiba-tiba seorang pria dengan postur tubuh tinggi dan kekar, berlari masuk ke dalam bis. Berteriak-teriak sambil memaki kepada semua orang yang ada di dalam bis. Wajahnya sangar penuh amarah. Membuat saya khawatir.  Jantung saya berdebar kencang.Saya tidak tahu apa yang membuat orang itu marah. Kicauannya sangat mengganggu, cepat dan tak jelas. Disela-sela umpatan kemarahannya saya ada mendengar kata-kata “Mana dia? Mana orangnya?”  Ada apa ya? Di tengah ketidakmenentuan, semua orang yang berada di dalam bis terdiam dan menahan nafas. Tidak ada seorangpun yang berani bergerak. Pria itu terus marah marah sambil matanya liar mencari-cari. Dan akhirnya berteriak “Ini diaa!!!” katanya menunjuk  dan menarik sebuah tas ransel yang tergeletak di lantai bis. Saya terkejut. Itu kan tas ransel yang dibawa oleh Bapak tua yang sebelumnya ditolong oleh teman saya tadi.

Ini dia orangnya!” teriak pria itu lagi sambil menuding Bapak tua yang kelihatan polos itu sebagai pencuri. Bapak tua itu hanya diam saja.Tidak membela diri. Sulit menebak, apakah Bapak itu memang bersalah atau tidak. Pria itu terus mengumpat-umpat dan memaki. Diantaranya  ia ada mengatakan bahwa usia tua dan wajah yang pura-pura polos, tidak menjadi jaminan bahwa orang itu hatinya baik.

Saya melihat ke teman saya yang juga melihat ke arah saya dengan pandangan penuh tanda tanya. Gagal paham. Saya sendiri juga bingung. Jika Bapak itu memang benar pencuri, apakah teman saya jadi ikut bersalah?  Saya tahu ia hanya bermaksud menolong orang tua itu semata. Perbuatan yang sangat baik dan mulia. Tentu ia tak pernah menyangka akan begini jadinya. Atau  ia salah ambil?.  Tidak! Bukan salah ambil.Saya ingat betul, teman saya selalu bertanya setiap kali akan menurunkan tas yang di kabin “Ini bukan?“. Dan ia hanya mengambilkan tas ketika Bapak tua itu mengkonfirmasi bahwa tas yang dimaksudkan adalah  memang miliknya.

Saya melihat ke teman saya. Mencoba menenangkannya dan memberi kode bahwa ia tidak bersalah. Saya akan berada di sisinya dan pasang badan jika terjadi sesuatu.Bapak tua itu masih tetap berdiri di sana seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Tidak kelihtan bersalah. Tapi tidak melakukan pembelaan diri juga. Sementara pria kekar itu masih terus berkata kasar, sinis, dan mengumpat-umpat. Seluruh penumpang masih terdiam. Pak Supir kemudian menutup pintu bis dan bersiap-siap berangkat.

Tepat sebelum bis berangkat, ada lagi orang datang berteriak-teriak. Berlari dan mengacungkan tangannya ke bis. Pintu bis pun dibuka kembali. Orang itu terengah-engah menunjukkan sebuah ransel yang kelihatan tipis dan ringan sambil menjelaskan, bahwa ada ransel yang ketinggalan dipesawat.”Ini milik siapa?” tanyanya. Orang-orang mulai pada berbisik dan berbicara dengan teman di sebelahnya. Dan ternyata tas ransel yang baru ketemu itu memang milik Bapak Tua itu. Ya ampuuun.. rupanya memang salah ambil. Kedua tas ransel itu memang sangat mirip bentuk dan warnanya. Hanya saja yang satu kempes dan yang satu gendut karena isinya penuh.

Bapak itu kelihatan sangat senang dan lega menerima tasnya kembali.Wajahnya penuh syukur. Diusap-usapnya tas  itu lalu dicangklongkan ke bahunya. Ia seperti tidak peduli dengan sekian pasang mata yang menatapnya dengan heran. Pria yang tadi marah-marah itupun melihat kejadian itu dan langsung menghentikan omelannya. Saya melihat kelegaan di wajah setiap orang. Senang dan bersyukur rasanya akhirnya semua berjalan dengan damai.  Bis pun berangkat dari areal landasan terbang ke terminal.

Di terminal saya turun dan berjalan di sebelah teman saya yang kelihatan masih kaget dengan kejadian yang baru saja kami lewati. Sehari-harinya ia tidak berbahasa Indonesia, barangkali ia tidak menangkap 100% arti umpatan-umpatan pria itu, tapi saya rasa ia memahami garis besar kejadian itu.

Tetaplah berbuat baik, walaupun tidak ada jaminan, bahwa perbuatan baik kita akan selalu langsung instant jelas kelihatan hasilnya.

 

 

 

Gangsaran Tindak, Kuangan Daya.

Standard

“Gangsaran tindak, kuangan daya”  sebuah ungkapan dalam Bahasa Bali yang   jika 20160115_133502.jpgditerjemahkan bebas artinya “Sigap dalam bertindak, tetapi lemah dalam strategi”. Tangan bergerak lebih cepat dibanding otak -begitulah kira-kira. Sering digunakan oleh para orang tua untuk menasihati anaknya, agar jangan terburu-buru mengambil tindakan, tanpa memahami duduk permasalahan dan memikirkan pemecahannya terlebih dahulu.

Ungkapan tua itu mendadak muncul di kepala lagi, ketika makan siang dengan seorang teman di sebuah pusat jajanan rakyat yang letaknya tak jauh dari lokasi kantor. Di sana ada berbagai macam pilihan untuk makan siang. Ada ketoprak, nasi goreng, empek-empek, nasi padang, mie ayam, ayam goreng lalapan, pecel lele dan sebagainya.

Kami sepakat ke tukang lalapan. Saya memesan nasi dengan hati ampela ayam +lalapan+sambal. Sedangkan teman saya memilih nasi + pecel lele +lalapan. Tukang lalapan mempersiapkan pesanan kami. Saya memesan minuman dari pedagang lain. Berikutnya saya mencari meja kosong. Tak lama kemudian tukang lalapan mengantarkan pesanan kami. Tanpa banyak ngobrol kami menghabiskan makanan masing masing. Dan setelah selesai kami kembali ke tukang lalapan untuk membayar.

Si bapak tukang lalapan tersenyum kepada kami sambil tangannya sibuk memilah-milah lele yang siap goreng. “Makan apa, Mbak?” Tanya si bapak. Pertanyaan yang umum ditanyakan pada saat kita membayar makanan di warung yang sistemnya makan dulu, bayar belakangan. Gunanya ya untuk membantu si kasir menghitung harga makanan yang harus kita bayar. Proses pembayarannya biasanya berdasarkan azas kepercayaan saja. Pembelipun biasanya jujur mengatakan apa saja yang dimakannya. Tetapi seandainya ada yang tidak jujur, apakah si pedagang akan tahu? Entahlah. Saya tidak tahu persis.Bisa jadi juga ada yang kelewatan.

Selain itu, saya pikir Bapak ini sebenarnya tidak tahu persis apa yang telah kami order dari sini dan telah kami makan.  Karena yang tadi menerima order dan menyiapkan makanan buat kami adalah tukang lalapan yang lebih muda (mungkin anaknya). Bapak ini tadi tidak di tempat, barangkali sedang mengantarkan makanan ke pengunjung  yang lain.
” Saya tadi makan nasi, lele dan sambel plus lalapan”. Jelas teman saya. Bapak itu masih sibuk. Ia memasukkan seekor lele ke penggorengan. Syooorrr…bunyi lele kena minyak panas. Barangkali ada pengunjung lain yang memesan pecel lele juga, pikir saya.

Kalau saya, tadi makan nasi dengan hati rempela, lalapan dan sambel” kata saya menyambung penjelasan teman saya. Bapak itu tetap sibuk juga. Tidak menoleh ke kami sama sekali. Kami menunggu beliau menghitung harga makanan kami. Sekarang beliau sibuk menyiapkan nasi di piring. Saya dan teman saya tetap berusaha sabar menunggu, walaupun sebenarnya kami harus buru-buru ke kantor karena ada meeting.

Setelah beberapa saat, bapak itu belum juga memberikan kami indikasi, berapa kami harus membayar harga makanan yang sudah kami santap tadi. Akhirnya saya berinisiatif  “Jadi berapa harganya, Pak?” Tanya saya karena si bapak masih tetap asyik dengan pekerjaannya. “Nanti saja, Mbak” kata si bapak yang membuat saya jadi curiga.

“Lho, Pak??!!. Kami ini mau bayar. Bukan mau makan. Makannya kan sudah” jelas saya kepada si Bapak. Beliau kaget. Lalu buru buru menghentikan pekerjaannya. “Oooh…saya kira belum makan” kata si Bapak. Lah? Jadi lele yang baru masuk penggorengan itu dimaksudkan untuk kami ya? Waduuh. Kasihan dong si bapak rugi.

Si bapak ini rupanya kecepatan bertindak sebelum paham betul permasalahannya  bahwa kami mau membayar setelah makan. Bukan memesan. Menyadari itu si bapak lalu tertawa terbahak bahak. Saya yang berada di dekat kompor mencoba membantu untuk mematikan kompor. “Nggak usah, Mbak!. Nggak apa apa. Nanti lelenya bisa buat saya makan sendiri saja” katanya. Lalu cepat cepat mengambil kalkulator. Kamipun membayar.  Ya ampuuuuun!.

Gara gara kejadian itulah saya jadi teringat ungkapan tua dalam Bahasa Bali itu. “Gangsaran tindak, kuangan daya”. Hal seperti ini kadang terjadi bukan hanya pada si bapak tukang pecel lele itu saja, tetapi juga pada diri saya sendiri. Saya ingat kejadian seperti itu pernah terjadi beberapa kali pada diri saya sendiri juga.

Keadaan Gangsaran tindak kuangan daya, terjadi terutama pada saat kita berada dalam situasi terburu-buru. Ingin cepat merespon sesuatu. Sehingga tidak sempat memahami situasinya dengan cukup baik. Sebagai akibatnya, terjadilah “gagal paham” yang berikutnya men-‘trigger’ terjadinya response yang keliru.

Kemungkinan lain adalah saat kita terbawa emosi. Pemahaman kita terpaku hanya pada pemikiran kita sendiri saja dan tidak terbuka untuk fakta lain atau pemikiran lain yang terbuka luas. Sehingga dalam keadaan ini kita akan cenderung merespon dengan cara yang sempit yang mungkin berbeda dan kurang sesuai dengan permasalahan yang ada yang konteksnya lebih luas dari sekedar pemikiran kita yang sempit.

Kemungkinan yang lain lagi adalah pada saat  kita berada di dalam suasana hati yang kurang sabar. Pengen cepat cepat selesai. Terlalu malas untuk memahami konteks permasalahannya dengan lebih baik. Baru mendengar sepotong langsung bereaksi.

Seandainya kita punya sedikit lebih banyak waktu; seandainya kita bisa sedikit lebih sabar serta tidak terbawa emosi, sebenarnya kita bisa luangkan sedikit waktu untuk mempelajari permasalahannya secara lebih holistik. Jika permasalahannya lebih kompleks lagi, ada gunanya kita manfaatkan kesempatan untuk mencari informasi lebih dan bahkan menggali pendapat dan masukan dari orang lain. Sehingga pemahaman kita bisa lebih baik dan komprehensif. Setelah itu, barulah sebaiknya kita memberikan respon yang tepat.

Nah…jadi pelajaran yang saya petik kali ini dari tukang pecel lele adalah sebuah pengingat bagi diri saya sendiri. Bahwa jika kita ingin merespon sesuatu, sebaiknya kita memahami permasalahannya dengan baik terlebih dahulu, barulah memberikan jawaban maupun tanggapan. Jika tidak, maka kita akan cenderung memberikan jawaban yang kurang tepat dan tidak sesuai dengan konteksnya.