Tag Archives: Renungan

Tetangga Sebelah Rumah.

Standard

Tetangga sebelahku merenovasi rumahnya. Dia hancur-hancurin itu tembok lamanya, termasuk tembok pemisah dengan rumahku. Akibatnya, rumahku jadi bocor-bocor”. Saya tercengang mendengar cerita teman saya itu. Sangat bisa membayangkan, karena tembok rumah di perumahan biasa, memang terkadang berbagi dengan tetangga. Jadi kalau tetangga mengetok – ngetok tembok kamarnya yang bersebelahan dengan kamar kita hingga hancur, bisa jadi tembok kamar kitapun ikut bolong πŸ˜€.

Memang agak pelik ini kalau menyangkut soal TMB (Tembok Milik Bersama πŸ˜€) dengan tetangga. Tetapi pengalaman saya dengan tetangga sebelah saya, biasanya kami saling memberi tahu (sekalian minta ijin) jika salah satu melakukan pekerjaan ketok-ketok. Bukan hanya karena harus berhati hati dengan TMB itu, juga karena suara ketak ketok dan gergaji bisa jadi mengganggu ketenteraman telinga tetangga. Belum lagi bahan bangunan yang mungkin malang melintang di jalanan depan rumah.

Emang tetangganya nggak bilang dulu?” Tanya saya. “Nggak. Dia juga ngerjainnya saat saya sedang di kantor. Pagi dan malamnya ia tidak di situ. Jadi saya tidak bisa complaint juga, karena orangnya tidak ada”, katanya.

Saya mengangguk-angguk, kasihan pada teman saya. Kok ada ya orang yang seperti itu?. Tetapi saya tidak bisa berbuat apa apa untuk menolong dia.

Itu adalah salah satu cerita tentang tetangga sebelah rumah yang pernah saya dengar.

Cerita lain, “Tetangga sebelah rumahku sangat sering meninggalkan anaknya di halaman rumahku dan ia langsung pergi begitu saja, dengan harapan Baby Sitter-nya anak aku yang mengurusnya sekalian dengan gratis. Kan ngeselin ya?. Mana perhatian Baby Sitter jadi nggak bisa full ke anakku. Selain itu nanti kalau terjadi apa apa dengan anaknya gimana? Siapa yang mau tanggung jawab?”.

Waduuuuh. Kok ada ya tetangga yang seperti itu? Saya sungguh heran.

Cerita lain lagi; Aku heran dengan tetangga saya. Dia punya garasi luas yang muat dua mobil, tapi anehnya setiap hari kedua mobilnya diparkir di punggir jalan depan rumah. Padahal jalannya sangat sempit. Dan garasinya yang luas itu dikosongin. Jadi aku kan sulit banget ya kalau mau masukin dan keluarin mobil dari garaseku, karena jalanan jadi makin sempit”.

Saya tertawa mendengar curhat teman saya ini. Antara kasihan, heran dan geli mengapa ya kok ada orang yang seperti itu?.

Mendengar cerita-cerita tentang tetangga sebelah rumah ini, saya jadi ikut ikutan latah. Berusaha mengingat-ingat bagaimana kelakuan tetangga sebelah rumah saya sendiri yang bisa saya jadikan bahan obrolan juga. Agak lama saya mikir, karena kelihatannya tidak ada kejadian-kejadian spektakuler yang cukup menarik untuk diceritakan. Saya terus mikir dan mengingat ingat. Tapi tetap tidak ketemu kejadian yang menarik untuk diceritakan tentang tetangga kiri kanan saya. Tidak ada tetangga yang berbakat jadi biang kerok.

Tetapi tiba tiba saya teringat sebuah kejadian….

Suatu hari pembantu rumah tangga saya melapor “Bu, tadi pagi saya ditegur oleh Ibu A (tetangga sebelah kiri rumah saya), itu pohon markisa kita terlalu rimbun menjalar hingga ke dinding dan atap rumah ibu A. Takutnya ular Bu”. Oooh… Iya. Bener juga. Saya terlalu sibuk belakangan ini hingga lupa berbersih dan memangkas tanaman. “Baiklah. Besok Minggu kita bersihkan dan pangkas pohonnya”. Kata saya.

Bulan berikutnya, lagi-lagi si Mbak melapor “Bu, tadi pagi saya ngobrol dengan Ibu B (tetangga sebelah kanan rumah saya), itu pohon timun padangnya menjalar ke rumah sebelah. Buahnya yang sudah tua banyak betjatuhan ke halaman rumah ibu B. Jadi capek katanya membersihkan setiap hari. Boleh dipotongin nggak Bu?” Tanyanya. Waduuuuh… Jadi nggak enak sama tetanggga ini. Sudah lama saya tak sempat mengurus tanaman ini hingga mengganggu tetangga.

Mengingat dua kejadian itu, saya merasa perut saya agak mual. Hulu hati saya enek.

Jadi, jika teman saya bercerita tentang kelakuan tetangganya yang aneh aneh dan mengganggu ketertiban, maka di perumahan saya ini justru sayalah yang menjadi biang kerok pengganggu ketertiban kehidupan bertetangga.

Whuaaa 😒😒😭.

Saya membayangkan jika dua orang tetangga kiri kanan saya ini bercerita ke teman temannya, kemungkinan bunyinya akan begini “Saya heran deh dengan tetangga sebelah saya. Dia hobby banget sama tanaman, hingga tanamannya merambat ke tembok dan genteng rumah saya, bikin kotor dan capek membersihkannya. Belum lagi takut ular. Anehnya dia kok seperti tak peduli dan tidak mau memangkasnya secara berkala. Heran saya kok ada orang yang seperti itu ya?“.

Astaga!!!. Ternyata tetangga pembuat masalah itu adalah saya sendiri 😫.

Ada gunanya juga teman saya curcol tentang kelakuan tetangganya, sehingga saya bisa interospeksi diri saya sendiri.

Advertisements

Ketika Pedas Ketemu Air Hangat.

Standard

Saya sedang makan dengan lauk Telur Ceplok🍳 dan kecap beserta potongan cabe rawit 🌢🌢🌢. Entah karena jenis cabenya yang memang pedas atau jumlah cabenya yang banyak, tumben saya merasa sangat kepedesan sampai merasa perlu segera minum air untuk mengatasinya. Kebetulan sudah ada teh hangat di atas meja. Saya teguk, seketika rasa pedasnya berkurang banyak. Bahkan nyaris hilang sama sekali. Ajaib ya.

Saya jadi memikirkan kejadian ini. Pedas dikasih hangat, membuat pedas menghilang. Sebaliknya dulu saya pernah mencoba, pedas seperti ini dikasih minuman dingin.Teman-teman pembaca pernah mencoba nggak?. Apa yang terjadi ? .

Rasa pedas bukannya hilang, malah semakin menjadi jadi. Pedasnya makin kuat dan makin lama. Bener kan ?.

Jadi kesimpulannya jika kita merasa kepedasan dan ingin menguranginya atau menghilangkannya, jangan minum air dingin. Tapi minum air hangat!.

Saya menggenggam gelas berisi teh hangat dengan kedua belah telapak tangan saya. Merasakan kehangatannya. Dan takjub akan efeknya dalam menghilangkan kepedasan di mulut saya.

Saya membayangkan, rasa Hangat itu ibarat hawa yang ditimbulkan saat orang berkumpul dengan saudaranya, keluarganya , teman-teman ataupun sahabatnya, berbincang dan bersenda-gurau. Hangat dan nyaman.

Sebaliknya rasa Dingin itu, serupa dengan rasa sepi, seorang diri, sunyi, sepi, tiada teman atau saudara yang diajak berbicara maupun bercengkerama.

Membayangkan itu, tiba tiba saya berpikir bahw Fenomena Rasa Pedas bertemu Suhu Hangat dan Dingin ini sesungguhnya adalah salah satu cara Alam mengajarkan kita manusia bagaimana caranya memecahkan masalah dalam kehidupan kita. Lho! Kok bisa?.

Ya. Bisa!.

Coba kita bayangkan seperti ini. Kepedasan adalah sebuah masalah. Oleh karenanya kita mencari pemecahannya dengan minum minuman hangat biar hilang pedasnya. Bukan dengan minum minuman dingin.

Sama halnya dengan masalah (kepedasan) yang kita hadapi dalam kehidupan sehari hari. Jika kita mencari pemecahannya dengan menyendiri, merenungi nasib dan tidak berbuat apa apa, maka masalah hidup kita tidak akan bisa kita pecahkan begitu saja. Bahkan kita akan semakin terpuruk dan semakin dalam terpuruk lagi. Ibaratnya orang yang kepedasan diberi minum air es. Tambah pedas.

Sebaliknya jika kita mencari pemecahan masalah kita itu dengan mencoba sharing dengan sahabat, teman dan keluarga yang kita percayai, kita akan merasa lebih tenang, lebih nyaman dan mendapatkan bantuan pemikiran dan ide ide baru dari orang orang di sekeliling kita yang sangat mungkin membuat kita lebih mudah mendapatkan pemecahan masalahnya. Ibaratnya kita kepedasan diberi minum air hangat.

Tapi jangan terlalu lebay juga ceritakan masalah kita kepada semua orang yg kita kenal dan berharap semua orang membantu memecahkan masalah kita itu.

Pertama karena tidak semua punya keinginan, kemauan dan kemampuan untuk membantu kita.

Berikutnya tidak semua orang juga bersimpati terhadap masalah yang kita hadapi.

Jika ini yg kita lakukan, ibaratnya kita kepedasan lalu dikasih minum air panas mendidih. Bukannya sembuh, malah lidah kita yang terbakar 😊.

Ketika kita nerasakan “kepedasan” dalam hidup kita, carilah kehangatan dari para sahabat, keluarga dan orang orang yang kita percayai. Niscaya kepedasan hidup itu segera teratasi.

Di Batas Rasa Iba Dan Kebodohan.

Standard

Satu hari, saya mengajak anak-anak untuk berjalan-jalan di sekitar area Pasar Seni, Kuala Lumpur. Ada banyak hal yang bisa dilihat dan dipelajari di daerah sana dan sekitarnya. Mulai dari Pasar Kasturi – Central Market, Museum Textil, Taman Burung, Taman Kupu- Kupu, Masjid Negara, Islamic Art Center dan sebagainya.

Anak-anak memutuskan untuk menggunakan MRT saja. “Lebih murah, Ma. Kita bisa saving-saving duit cash kita“. Saran anak saya. Saya setuju. Terlebih karena stock ringgit di dompet saya juga sudah mulai menipis. Kamipun melangkah keluar hotel dan menuju stasiun.

Di stasiun kami menuju auto ticket counter guna membeli coin. Memilih milih Line kereta yang ada di menu, tiba tiba seorang pria yang berdiri di mesin ticket di sebelah saya bertanya dengan ramah. “Hai!. Kalian mau ke mana?” tanyanya. Saya menjawab, mau ke Pasar Seni.

Begitu mendengar jawaban saya, dengan sigap ia membantu anak saya. Ceklak ceklik… kami bayar dan coin ticket kereta pun keluar. Sangat cepat kejadiannya. Ooh tentu saja. Karena ia seorang pria lokal yang pastinya sudah hapal dengan jalur-jalur MRT maupun kereta lain di kota ini.

Saya berterimakasih. Orang itu mengangguk dengan sangat ramah. Lalu ia bertanya, apakah saya bersedia memberinya beberapa butir uang receh. Ia sedang kesulitan dan kehabisan uang. Oooh!. Saya memandang wajahnya dan merasa iba. Membayangkan jika saya berada di posisi dia.

Tentu saja saya tidak keberatan. Saya pun mengeluarkan semua uang logam yang ada di dompet saya. Dan memberikannya kepadanya. Ia mengucapkan terimakasih.

Lalu ia bercerita kalau sesungguhnya ia sedang bermasalah dengan kakinya. Ia menyingsingkan sedikit celana panjangnya dan saya melihat luka yang sangat serius. Oooh. Sungguh terkejut melihatnya. Luka yang besar yang tidak cukup hanya jika diobati dengan obat merah saja. Harus dibawa ke rumah sakit dan ditangani dengan serius. Bahkan mungkin perlu beberapa jahitan untuk menutup luka terbuka itu.

Saya pikir uang logam yang tadi saya berikan kepadanya tidak akan cukup. Lalu sayapun memberikan beberapa lembar uang kertas lagi agar bisa ia gunakan untuk mendapatkan perawatan yang baik dari rumah sakit. Saya menyerahkannya sembari berdoa dalam hati saya, semoga orang ini mendapatkan perawatan yang baik dan sembuh dari lukanya.

Tanpa saya duga, orang itu merunduk di hadapan saya, menyentuh kaki saya dengan tangan kanannya lalu mengusapkan tangannya itu di keningnya, sebanyak tiga kali. Saya terkesima dengan kelakuannya dan mencoba melarang ia berbuat begitu kepada saya. Tetapi ia keburu selesai. Setelah itu ia mengucapkan terimakasih dan saya melihat airmatanya mengambang sebelum ia melangkah pergi.

Mama apain orang itu?” anak saya yang rupanya melihat bagian akhir kejadian itu terheran -heran. Mengapa orang itu menunduk di depan saya dan menyentuh kaki saya, lalu menempelkannya ke keningnya. Saya bilang “Nggak Mama apain. Mama cuma kasih uang“, kata saya.

Anak saya terkejut. Rupanya ia tidak melihat kejadian saat saya memberikan uang pada orang itu. “Astaga, Mama!!!. Mengapa Mama berikan dia uang?. Itu sejenis…. scamming, Mama!!!“. Tegur anak saya yang sulung dengan suara tinggi. Saya terkejut akan reaksi anak saya yang tak terduga itu.

Mama ditipu!!!“. Lanjut anak saya yang bungsu lagi. Mereka seperti bersekutu mengkritik saya.

Saya membantah kalimat anak-anak saya itu. Saya bukan tertipu. Saya kasihan padanya dan memang ingin memberinya bantuan uang. Saya sadar. Dan bahkan sangat sadar melakukannya karena rasa kasihan. Karena rasa iba. Bagainana mungkin kedua anak saya bisa mengatakan jika saya tertipu.

Berapa banyak uang yang Mama berikan kepadanya?” tanya anak saya yang sulung.

Saya tidak menjawab dengan tepat. Jawaban yang tidak menipu, tapi tidak bisa dibilang jujur juga. “Hanya beberapa ringgit” jawab saya. Jawaban yang mengambang. Siapakah yang tahu, berapa batas kata “beberapa” itu?. Banyakkah? Sedikitkah?.

Saya lalu memberikan pengertian kepada anak saya. Itu bukan penipuan. Tapi masalah rasa iba kepada orang lain yang sedang kesulitan. Sebagai sesama manusia, kita wajib membantu orang yang sedang kesulitan, jika posisi kita memungkinkan untuk membantu.

Tapi ke dua anak saya tetap tidak yakin bahwa orang itu tidak menipu saya. Saya lalu mengingatkan, bahwa kaki orang itu luka parah. Dan kami semua melihatnya. Bukankah itu bukti yang cukup bahwa orang itu tidak menipu?.

Anak anak saya tetap tidak setuju. Belum tentu itu luka beneran. Kesan luka bisa dibuat buat. Banyak seniman bisa membuat karya tiruan luka. Ooh…ya. Bisa juga sih jika diambil dari sudut pandang itu. Anak anak lalu memberi contoh fakta beberapa kejadian pengemis dengan luka palsu yang memang kami pernah lihat sendiri, saat anak anak masih kecil.

Sampai akhir hari, saya masih sulit untuk setuju dengan pendapat anak-anak saya bahwa orang itu telah menipu saya. Karena saya yakin telah melihat luka beneran dan saya melihat airmatanya mengambang saat mengucapkan terimakasih kepada saya sebelum pergi.

Sementara anak-anak saya tetap berpikir bahwa saya sudah melakukan kebodohan karena begitu mudah ditipu oleh orang itu. Masalah air mata mengambang itu kan bisa juga soal keahlian seseorang ber-acting yang sangat bisa dilatih. Yaaa…. bisa juga sih jika kita hubung-hubungkan ke situ.

Sungguh saya tidak tahu yang mana yang benar dan yang mana yang salah. Karena semuanya memberi kemungkinan yang sama untuk menjadi benar ataupun salah. Hanya Tuhan yang tahu kebenaran yang sesungguhnya. Hanya Tuhan pula yang tahu di mana batas antara rasa iba dan kebodohan manusia.

Saya tercenung. Aaah…. tidak usah saya pusingkan apa yang telah terjadi. Ibarat sedang menonton sebuah potret. Kita tak pernah tahu kejadian apa saja yang terjadi sebelum kamera menjepret kejadian di foto itu, dan juga kejadian apa saja yang terjadi setelah potret itu dibuat. Tak usah kita pusingkan dan pertanyakan. Cukup nikmati saja satu single moment saat potret itu dibuat.

Tidaklah begitu penting, apakah orang itu memberi keterangan benar atau menipu. Yang lebih penting adalah keikhlasan hati kita. Sehingga membuat apapun dan seberapapun yang kita keluarkan menjadi berharga. Setidaknya di hati kita.

Saya pun melenggang pergi dengan hati riang.

Kisah Koloni Lebah Madu Yang Mampir 3 Jam di Halaman.

Standard

Akhir pekan, saya dan anak saya dibantu orang rumah membersihkan halaman. Menggemburkan tanah lalu menabur pupuk NPK secukupnya pada tanaman bunga agar rajin tumbuh kuncup dan makin sering berbunga.

Saat menyiangi tanaman di bawah pohon Spruce yang ditanam anak saya sekitar 10 tahun yang lalu, tak sengaja saya mendongak ke atas. Terlihat ada benda yang menggelantung di sana. Di salah satu cabang dan daunnya. Apa itu ya?. Sayapun berdiri dan mendekat agar bisa melihat dengan lebih seksama.

Wow!. Sebuah koloni Lebah Madu!. Saya sungguh sangat girang melihat pemandangan itu. Ribuan lebah kelihatan berkumpul di titik itu. Berkumpul membangun sarang baru. Dengan sangat kegirangan sayapun berteriak memanggil anak saya untuk menyaksikan kejadian langka ini.

Tapi anak saya kelihatan malah agak khawatir jika Lebah Madu itu membuat sarang di sana. “Takutnya ntar malah menyengat kita. Mendingan diusir sebelum mereka menetap di situ” kata anak saya. “Tidak!. Lebah tidak akan menyengat jika kita tidak mengganggunya” kata saya. Jadi biarkan saja di situ.

Saya lalu memberi pengertian pada anak saya bahwa kita harus membantu membiarkan lebah berkembang untuk menjaga keutuhan ekosistem. Lebah membantu penyerbukan tanaman kita. Biarkan lebah itu bersarang di tempat yang disukainya.

Halaman rumah kita adalah tempat yang nyaman buat Lebah Madu untuk bersarang, karena kita menyediakan makanan yang berlimpah untuk mereka, berupa bunga bunga yang mekar di halaman.

Anak saya merasa masih belum nyaman. Ia masih khawatir jika lebah- lebih ini mengamuk dan menyerang. Tapi saya tidak memperpanjang lagi kalimat saya. Terlalu malas berdebat. Sayapun melanjutkan pekerjaan saya memberi pupuk pada tanaman. Demikian juga anak saya kembali sibuk mencongkel umbi umbi bunga Lily Hujan / Zepyranthes yang bertebaran tak beraturan di halaman.

Beberapa saat kemudian, kembali saya menengok koloni Lebah Madu di pohon Ciprus itu. Astaga!!!. Ternyata koloni Lebah Madu itu telah menghilang begitu saja. Batang itu sekarang kosong dan bersih. Tak ada lagi ribuan lebah yang bergantung. Jangankan ribuan atau ratusan, ini seekorpun tidak tersisa. Sungguh saya heran dengan kejadian ini. Kemanakah gerangan mereka pergi?. Saya mencoba melihat lihat di pohon lain. Tidak ada. Tidak ada diantara kami yang mengetahuinya.

Pasti ada sesuatu yang tidak tepat, mengapa koloni Lebah Madu itu mengurungkan niat membuat sarang di halaman.

Entah kenapa saya merasa sangat sedih dan menyesal dengan kejadian ini. Saya pikir kami tidak menyambut kedatangan lebah lebah itu di halaman rumah kami dengan cukup baik.

Dan percaya atau tidak… alam sekitar mungkin mampu membaca hati kita. Membaca pikiran kita, lewat gelombang otak yang kita pancarkan. Walaupun lebah lebah itu tidak bisa berbicara dengan kita, tetapi sesungguhnya mungkin mereka bisa berkomunikasi dengan kita. Mungkin mereka bisa menangkap energy dan gelombang yang kita pancarkan. Mereka membaca kekhawatiran anak saya dan bisa merasakan jika mereka tidak diterima dengan mulus untuk bersarang di halaman rumah ini. Mungkin saja itu penyebab mengapa koloni lebah itu pergi entah kemana. Saya sangat menyesal, tidak menutup percakapan saya dengan anak saya sebelumnya dengan baik. Harusnya saya tegaskan kepada anak saya bahwa koloni lebah ini akan kita terima dengan baik di sini.

Nah…itulah pentingnya berpikir dan berkata serta bertindak yang selalu positive terhadap mahluk lain. Saya harus minta maaf pada koloni lebah ini.

Anak saya mencoba mencari penyebab lain dengan mengatakan bahwa koloni Lebah Madu itu mulai bergerak pergi sedikit demi sedikit sejak ia menyalakan mesin kendaraan yang di parkirnya di bawah pohon Ciprus itu. Bisa jadi. Mungkin karena bising. Sehingga Lebah pun tidak merasa nyaman.

Whua ha ha… mungkin saya terlalu melankolis. Mungkin anak saya benar, bahwa suara mesin kendaraanlah yang membuat Lebah Madu itu merasa kurang nyaman. Kelihatannya ini yang lebih logis dan masuk di akal.

Lupa.

Standard

Sebulan ini kesibukan saya agak meningkat. Pasalnya ada meeting penting yang harus kami jalani berturut turut selama 3 hari. Sementara minggu sebelumnya juga sangat banyak agenda, sehingga saya agak keteteran. Beberapa presentasi yg disiapkan team saya last minute belum sempat saya periksa.

Di tengah serunya meeting, seorang teman yg duduk di sebelah saya berkata” Bu, jangan lupa nanti kalau ibu sudah sempat, tolong periksain presentasi saya ya Bu. Mohon masukan kali-kali ada yang perlu direvisi, ditambahkan atau dikurangi”. Teman saya ini akan presentasi esok hari pukul 9 pagi.

Ya. Nanti malam ya. Setelah pulang kerja” jawab saya. Teman saya mengangguk setuju. Ya lah. Nanti saja. Sekarang kan lagi di tengah meeting. Tentu tak sopan jika saya mengoprek material lain di luar yang dididkusikan di meeting.

Sepulang kerja, saya makan, beresin sedikit urusan anak, rumah dan dapur, lalu mandi. Setelah itu barulah saya membuka laptop. Membuka email. Saya mau memeriksa presentasi teman saya. Tapi oh….ternyata belum masuk. “Mungkin dia sedang makan malam, jadi belum sempat ngirim ” pikir saya. Sementara menunggu email masuk, sayapun mengerjakan hal lain.

Beberapa saat kemudian saya check email lagi. Belum masuk juga. “Ooh…mungkin masih dikerjakan“, pikir saya. Saya menunggu dengan sabar.

Setelah 3 – 4 kali melihat dan tetap belum ada email yang masuk, lalu saya mengirim pesan kepada teman saya melalui Whatsap. Menanyakan kepadanya mengapa presentasinya belum dikirim?. Kalau belum dikirim bagaimana saya bisa menerima?πŸ˜€ Dan jika belum saya terima bagaimana cara daya mereview?.πŸ˜€πŸ˜€

Teman saya tidak membalas WA saya. Saya tunggu beberapa saat, ternyata belum dibaca juga pesan saya. Waduuuh…jangan jangan dia sudah tidur. Saya baru nyadar ternyata ini sudah tengah malam. Lewat jam 12 malam.

Ah…mungkin saja ia masih memperbaiki presentasinya. Jadi belum sempat membaca pesan saya. Saya mencoba berpikir positive.

Beberapa saat kemudian, jarum jam di dinding melewati angka satu. Saya memeriksa email dan WA. Tak ada tanda tanda kalau teman saya itu masih terjaga, mengerjakan dan akan segera mengirimkan presentasinya ke saya. Ingin menelpon, tapi rasanya nggak sopan banget ya nelpon malam malam begini. Lagipula seandainya dia sudah tidur kan kasian juga dibangunin. Ah.. biarlah. Besok pagi tentu dia sudah membuka pesan di WA dan pasti akan mengirimkan filenya ke saya. Dua anak tang baik dan biasanya rajin.

Mendekati pukul setengah dua malam, akhirnya saya tinggal tidur.

Tapi saya percaya teman saya itu sudah mempersiapkan presentasinya dengan kualitas content yang baik. Dan ia juga sangat percaya diri membawakannya.

Esok paginya, usai mempersiapkan bekal makanan untuk anak saya, mandi dan sarapan saya membuka laptop saya lagi. Ngecheck barangkali email teman saya sudah masuk. Eh.. ternyata belum juga!. Waduuuh…bagaimana ini???.

Sambil mengunyah sarapan tiba tiba saya teringat….

Oooh, bukankah teman saya sudah memberikan file presentasinya kepada saya lewat flash disc? Dan saya sudah mengcopy-nya ke laptop saya? .

Astaga!!!!. Pantesan emailnya saya tunggu berjam-jam sampai begadang tiada kunjung tiba πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€.

Di mana kesalahannya ini???. Waduuuh… faktor U!!!.

**************

Faktor U alias faktor umur yang makin meningkat seringkali dijadikan kambing hitam atas berbagai kejadian yang berkaitan dengan lupa atau pikun.

Tapi sebenarnya jika mau mengakui, bahwa sebenarnya di luar faktor U juga ada masalah lain yang menjadi penyebabnya yang perlu diberikan perhatian dan diperbaiki ke depannya.

Seringkali itu berurusan dengan cara kita memberi perhatian terhadap apa yang kita lakukan setiap saat. Lupa disebabkan karena kita tidak meletakkan perhatian yang penuh terhadap apa yang kita kerjakan. Hanya sepintas lalu. Tidak sepenuh pikiran. Sehingga ingatan kitapun tak mampu menahan kejadian itu. Ia menguap dan berlalu begitu saja dengan cepat.

Itulah lupa. Saat memory tak bertahan lagi di sel-sel ingatan kita.

Saya tidak menaruh perhatian pada saat teman saya memberikan flash disc-nya ke saya, karena perhatian saya sedang tertuju penuh ke layar saat itu. Dan saat mengcopy filenya pun saya lakukan sambil pikiran saya sibuk dengan presentasi yang sedang berlangsung. Sehingga kejadian itu tidak terekam dengan baik dalam ingatan saya.

Itulah barangkali sebabnya, mengapa kita diminta agar selalu tetap fokus fokus dan fokus akan apapun yang sedang kita kerjakan. Sehingga kita selalu menyadari dengan baik apapun yang kita lakukan. Dan seterusnya memory kita bisa menyimpannya dengan baik.

Selamat pagi teman teman pembaca!.

Kutinggalkan Anakku Di Gerbang Ini.

Standard

Kutinggalkan anakku di gerbang ini. Ketika angin dingin mulai menyapa. Dan musim gugur baru saja tiba.

Kutitipkan anakku pada pohon pohon pinus. Juga pada pohon apel dan kastanye serta hawtorn yang berbuah merah.

Kumintakan pada burung -burung agar bernyanyi saat anakku kesedihan. Dan pada tupai untuk membawa biji bijian saat anakku kelaparan.

Kutinggalkan anakku di sini. Di dalam keranjang yang kusertai surat cinta merah jambu.

Bangunlah anakku. Rasakan angin yang berhembus dari segala penjuru. Lalu angkat telunjukmu tinggi tinggi untuk memahami mata angin. Nikmati sengat matahari dan sambutlah gigil musim dingin.

Tengadahkan wajahmu ke langit. Tatap pada bintang-bintang, pada planet-planat dan galaxy. Agar pandanganmu jelas seluas semesta.

Hirup segala aroma yang bertebar di udara. Agar kau bisa membedakan wangi tavuk yang dimasak garam masala. Juga aroma portakal suyu dan wangi gaharu yang dikemas dalam sebotol parfum.

Sesaplah sari kehidupan sebanyak banyak yang engkau bisa. Letakkan semangatmu di atasnya. Sebagaimana dulu engkau menyesap air susu ibumu.

Sekali waktu. Berjalanlah tanpa sepatumu. Agar kau bisa merasakan halusnya pasir dan tajamnya kerikil. Itu bagus untuk mengasah kepekaanmu dan kepedulianmu pada orang lain.

Kulepas engkau di rimba raya anakku. Karena aku tahu naluri berburumu setajam macan. Kau akan menaklukannya.

Kulepas engkau di gunung tinggi anakku. Karena aku tahu ketajaman pemikiranmu bagaikan mata elang. Kau akan menaklukannya.

Kulepas engkau di lautan lepas anakku. Karena aku tahu daya jelajahmu sejauh jelajah ikan paus. Kau akan menaklukannya.

Aku tahu kau bisa. Dan aku selalu bangga padamu.

Sekarang berdirilah di sini. Tengadahlah selalu ke langit, untuk mengingat Sang Penciptamu. Itulah tujuan hidupmu pada akhirnya. Tujuan atas segala hal yang kau cari di dunia ini. Tujuan atas segala penjelajahanmu.

Dengan penuh cinta. Untuk anakku, Andri Titan Yade.

Ankara, 16 September 2018.

Ketika Berada Di Ketinggian.

Standard

Malam merayap. Saya menyelesaikan doa syukur saya dan bermaksud untuk istirahat. Sebelum tidur saya memeriksa anak saya dulu. Ia tertidur dengan buku bukuπŸ“š, laptop πŸ–²dan gitar🎸 di sebelahnya.

Sayapun memindahkan barang barangnya itu dari tempat tidur. Buku dan laptop ke atas meja belajarnya. Lalu gitar mau ditaruh di mana ya?

Pertama di atas kursi belajarnya. Tapi ketika saya lewat, tanpa sengaja saya menyenggol lengan kursi itu. Begitu kursi bergerak , gitarpun ikut bergerak. Melorot. Oops!!!. Untung saya bisa menangkap gitar itu dengan cepat sebelum ia bergedubrak jatuh ke lantai. Saya pun berpikir lagi….hmm…taruh di mana ya? πŸ™„πŸ™„πŸ™„

Ah…akhirnya saya menemukan tempat di atas cajon drumbox-nya. Sayangnya baru beberapa detik saya letakkan, gitar itu tiba tiba melorot dengan cepat. Gedubraaaaxxxx!!!. Waduuuh!. Jatuh lagi. Ribut banget suaranya. Anak saya terbangun. Kaget. Untunglah ia tertidur lagi setelah melihat saya.

Malas lagi berpikir mau simpan gitar ini di mana?. Akhirnya saya memutuskan untuk meletakkannya di lantai sajalah. Kalau di lantai kan tidak mungkin jatuh. Emang mau jatuh ke mana lagi kalau sudah di bawah????.

Berpikir begitu saya jadi teringat pembicaraan dengan sahabat saya beberapa waktu yang silam. Saat itu kami sedang berjalan-jalan di pantai Sanur. Setelah beberapa saat rasanya saya ingin duduk. Mau duduk di mana ya? Ada tiang melintang di pinggir anjungan yang menjorok ke laut. Sayangnya ada orang lain yang sudah duduk di situ. Lalu saya ingin duduk di cabang rendah pohon waru laut yang tumbuh di pantai, tapi takut cabangnya patah πŸ˜ƒ. Kalau jatuh bagaimana?

Akhirnya kami memutuskan untuk duduk nggelosor di pasir pantai di bawah pohon waru laut.

“Nah…di sini lebih nyaman” kata sahabat saya. Saya mengangguk. Dari sini kami bebas memandangi ombak yang berlarian datang dan pergi menyentuh bibir pantai. Suasana yang sangat indah.

Ketika kita berada di ketinggian, selalu ada kemungkinan untuk terjatuh. Tetapi jika kita berada di kerendahan, maka tak ada lagi tempat untuk jatuh. Karena tempat terendah itu adalah tempat di mana kita sudah berada. Demikian sahabat saya mulai pembicaraan.

Saya tertarik mendengarkan pembicaraannya. “Tapi kalau diinjak orang?😁” tanya saya. Sahabat saya tertawa. “Sebelum diinjak orang, tentu kita sudah bangun berdiri dan menghindar” jawabnya. Ya siih…

Tapi saya tetap tertarik memikirkan kalimatnya itu. Karena nengandung kebenaran dan kearifan. Itu berlaku juga dalam kehidupan kita sehari -hari. Jika kita meninggikan diri, selalu ada kemungkinan kita terjatuh akibat perkataan atau perbuatan kita sendiri. Jika kita menganggap diri lebih tinggi dan selalu memandang rendah orang lain, akan selalu ada orang lain yang tidak senang dan ingin menjatuhkan kita.

Sebaliknya jika kita bersikap rendah hati, sulit bagi kita untuk jatuh ataupun dijatuhkan orang lain. Karena kita sudah di posisi terendah dan tak ada tempat yang lebih rendah lagi. Jadi mau jatuh ke mana????. Tak mungkin jatuh ke atas kan ya??πŸ˜€.

Saya melirik gitar anak saya yang tergeletak di lantai. Dan sekarang semakin paham saya, bahwa kejadian -kejadian ini memberi pesan agar saya selalu menempatkan hati saya di kerendahan dalam menjalani kehidupan saya sehari-hari. Karena semakin tinggi saya menempatkan hati saya maka kemungkinan untuk terjatuhnya pun makin tinggi dan makin sakit juga. Lagian, apa pula yang bisa saya sombongkan dan tinggikan? Tidak ada pula. Jadi sebaiknya memang merndah hati lah. Stay humble!.

Malam telah semakin larut. Saya memejamkan mata saya dan segera tidur.

Tangkai Kedondong Yang Patah.

Standard
Tangkai Kedondong Yang Patah.

Saya memindahkan pohon kedondong yang potnya telah kekecilan dan tak layak. Pohon ini sangat rajin berbuah dan banyak-banyak. Akarnya menembus block bata di halaman.

Sebenarnya agak nervous juga saya mrncabutnya, takut akar utamanya putus. Tapi saya tak punya pilihan lain. Pohon kedondong ini butuh pot yang lebih besar.

Rupanya saat saya menarik batangnya dengan sekuat tenaga, ternyata salah satu cabang yang buahnya lebat, patah tangkainya. O o!!!. Beberapa buah kedondong bahkan jatuh menggelinding di bawah. Saya sangat terkejut dan sedih dengan apa yang telah terjadi. Apa yang harus saya lakukan sekarang?

Memanen buah kedondong yang tangkainya patah itu? Semuanya ada 14 buah. Rontok empat dan sisa 10 buah. Masih muda semuanya. Nanti saya jadikan jus kedondong saja. Seger!!!.

Atau apa coba saya biarkan saja ya?. Walaupun tangkainya patah, siapa tahu pohonnya masih bisa memberi nutrisi kepada buah-buah kedondong itu hingga tetap membesar dan matang. Nah..nanti setelah matanv barulah saya panen.

Akhirnya saya memilih option yang ke dua. Saya biarkan buah kedondong itu masih menggantung di tangkainya yang patah.

Beberapa hari kemudian, saya mendapatkan buah kedondong itu pada layu dan kisut. Buahnya lembek. Saya tidak melihat kemajuan dari pertumbuhan buahnya. Yang terjadi malah kemunduran. Saya tahu buah kedondong ini tak akan pernah mencapai masa matangnya dengan baik. Mengapa? Karena tangkai yang patah tak mampu mengangkut nutrisi yang cukup lewat jaringannya untuk disupply ke buah muda yang masih butuh berkembang. Sehingga buah tak bisa berkembang dengan baik. Selain itu akar kedondong ini setidaknya juga agak terputus, sehingga ia harus berusaha mengais nutrisi dari lingkungannya yang baru dengan ujung akar yang sedikit berkurang jumlahnya. Untuk tetap segar, buah harus tetap terhubung dengan batang dan akarnya, dan akarnya tetap membumi. Jadi “koneksi” alias “keterhubungan” itulah jawabannya!. Dalam hal ini tangkai berfungsi sebagai conector.

Yah… saya pikir memang begitulah pada kenyataannya. Dan hal yang serupa juga terjadi dengan diri kita. Kita membutuhkan “keterhubungan” untuk menjaga diri kita tetap hidup dengan baik. Keterhubungan dengan pekerjaan sebagai sumber rejeki, keterhubungan dengan keluarga, sahabat dan orang orang yang kita cintai sebagai sumber kasih sayang, dan sebagainya hingga keterhubungan diri kita dengan Sang Parama Atma Tuhan Yang Maha Esa sebagai sumber dari sang diri alias Atma atau roh kita. Kita perlu menjaga keterhubungan ini dengan baik. Karena jika tidak, maka hidup kita tak ubahnya dengan buah buah kedondong yang patah tangkainya itu.

Saya tercenung sejenak mendapati pikiran saya menjalar ke mana mana.

Renungan di kebun.

Biji Duku Yang Tumbuh Di Dalam Perutku.

Standard

Flasback ke masa kecil : “Wah.gawat!!!. Kalau tertelan, biji duku ini nanti akan tumbuh di dalam tubuhmu” kata kakak sepupu saya. Astaga!!!!!🀀🀀🀀

Semalaman saya tak bisa tidur memikirkan kalimat itu setelah tanpa sengaja saya menelan biji duku. Saya menyangka, besok paginya biji duku itu akan keluar akar yang menjalar dan mungkin menembus perut saya. Tumbuh batang dan ranting yang mungkin menembus tenggorokan mulut, mata, hidung dan telinga saya. Whua…betapa mengerikannya 🀀😲😒😭

======================================

Kejadian masa kecil itu melintas kembali di ingatan saya pada suatu siang, ketika saya berada di sebuah studio foto dan tuan rumah menghidangkan buah duku.

Buat anak kecil, memakan buah duku bukanlah perkara yang mudah. Karena untuk membukanya saja, kulit buah ini terkadang bergetah dan pahit. Terutama jika buahnya kurang tua. Jadi harus pintar pintar memilih yang kulitnya empuk dan tua biar nggak bergetah.

Lalu setelah memilih buah yang tua dan manis, kita dihadapkan pada masalah biji duku. Tidak semua juring buah duku bebas biji. Beberapa bahkan ada yang bijinya besar. Dan jika tergigit rasanya sungguh pahit. Nah kita harus pelan pelan dan hati hati memakannya. Jika bijinya kecil, memang lebih praktis langsung telan saja πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€.

Dari kesulitan itulah akhirnya banyak anak menelan biji duku baik sengaja maupun tak sengaja. Dan rupanya, banyak anak juga yang mengalami dibohongin kakaknya bahwa “nanti biji duku yang tertelan ini akan tumbuh di perut ” . Bukan saya saja. Ha ha

Sambil mengunyah buah duku, saya mikir mikir lagi. Mungkin sebagian ada benarnya juga, pernyataan bahwa biji duku itu nanti akan tumbuh dalam tubuh kita itu.

Teringat obrolan dengan seorang sahabat saya. Sebenarnya, apapun yang kita makan, termasuk buah duku dan bijinya, masuk ke dalam perut kita, pada akhirnya akan dicerna juga dan dimanfaatkan untuk membangun tubuh kita sendiri. Walaupun tentu ampasnya dibuang oleh tubuh. Sari sari buah duku ini akhirnya menjadi tubuh saya. Betul bahwa ia ikut tumbuh dalam tubuh saya.

Buah duku ini telah mengorbankan dirinya dan jiwanya untuk menjadi bagian dari tubuh, tempat di mana jiwa saya bersemayam. Ia berkorban untuk saya. Ia berjasa bagi saya.

Oh…tapi mengapa saya tidak mengucapkan terimakasih saya kepada buah duku ini?. Dan faktanya sata tidak hanya makan buah duku saja selama hidup saya. Ups!!!!.

Saya juga makan beras/padi, makan kangkung, makan ayam, ikan, talas, singkong, dan sebagainya. Whuaaa…banyak sekali mahluk hidup yang saya makan. Ribuan, mungkin jutaan nyawa telah berkorban hanya untuk kepentingan satu nyawa. Yaitu nyawa saya sendiri. Mengapa saya tidak pernah ingat untuk berterimakasih pada semua mahluk hidup itu?????. Padahal mereka sudah sangat berjasa mengorbankan nyawanya untuk membangun tubuh saya.

Kalau sedang ingat, sebenarnya saya juga berdoa sebelum makan sih. Berdoa kepada Tuhan, berterimakasih sudah diberikan rejeki sehingga saya masih bisa makan hari itu. Berdoa agar makanan yang saya makan memberikan kesehatan yang baik untuk saya dan bukan membuat saya sakit. Kedengerannya cukup religius juga ya saya (kalau sedang ingat πŸ˜€) ha ha… Semua doa doa itu tentu sudah baik.

Akan tetapi, saya pikir sebenarnya berdoa seperti itu saja belum cukup. Akan lebih baik lagi jika saya juga selalu berterimakasih dan mengenang pengorbanan diri hewan-hewan dan para tanaman yang saya makan ini yang telah nengorbankan kelangsungan hidupnya, demi untuk mendukung kelangsungan hidup saya.

Sekarang jika ada orang yang bertanya kepada saya, siapakah saya?. Jawabannya, saya adalah kumpulan mahluk mahluk yang telah mengorbankan nyawanya dan kehidupannya untuk sebuah kehidupan lain.

You’ve Broken My Heart…

Standard

​​​Orang bilang ada dua sisi dari cinta. Sisi yang membahagiakan dan sisi yang menyakitkan. Keduanya, mau tidak mau pasti akan kita alami ibarat dalam satu paket. Mengapa? Karena pada prinsipnya setiap individu dan juga hubungannya dengan individu lain selalu memiliki kelebihan dan kekurangan.Dan ketika itu melibatkan cinta, tentunya kelebihan dan kekurangan inilah yang menjadi penyebab dari timbulnya rasa sakit dan bahagia itu. 

Menyukai kelebihannya secara umum adalah perkara yang mudah. Dan juga menyenangkan. Tetapi saat harus menerima kekurangannya, biasanya hati kita mulai goyah. Dan mulai bertanya, “Apakah aku masih mencintainya?”. Lalu kita pun menjawab sendiri: “Masih!”. 

Ah!. Masak sih? Yakin?. Yakinkah kamu bahwa masih mencintainya dengan segenap perasaanmu? Setelah apa yang ia lakukan telah menghancurkan hatimu?. Remuk redam?. Entahlah. Hanya waktu yang tahu akan jawabannya…

Ini cerita tentang cintaku pada kucing. Tiga ekor kucing di rumah saya. Sungguh mati saya cinta pada kucing, dan kecintaan ini menurun ke anak-anak saya. Suami saya, yang awalnya pembenci kucing akhirnya luluh hatinya dan terpaksa menerina kenyataan jika kami harus tinggal bersama dengan beberapa ekor kucing liar yang diadopsi oleh anak saya. Eh…lama-lama dia juga ikut-ikutan sayang dan peduli pada kucing. Mungkin itulah yang disebut oleh orang Jawa sebagai “Witing tresno jalaran soko kulino”. 
Kucing-kucing itu sangat baik.Lucu dan menggemaskan. Juga sangat manja. Suka duduk di pangkuan. Kalau pagi suka memberikan salam dengan mengusap-usapkan pipinya ke kaki saya.  Tidak heran saya semakin sayang padanya. 

Tapi belakangan mereka melakukan beberapa perbuatan yang mengganggu. 

​​Ia menabrak pot bibit sayuran saya hingga terguling-guling hancur. β€‹Terseret hingga lebih dari 3 meter. Tentu saja tanahnya berserakan kemana-mana dan bibit sayuran itu sebagian besar rusak seketika. Aduuh…. hati saya berdarah-darah. 

​

Berikutnya ia meloncat dan menimpa box  tanaman bayam merah yang baru berumur satu hari. Pecahlah styrofoam penyangganya. Beberapa tanaman yang masih kecil itupun jadi nyemplung ke dalam air. Sangat mengenaskan.

​

Lalu ia bermain-main, kejar-kejaran dengan saudaranya. Dan ujung-ujungnya menginjak dan menghancurkan styrofoam box hidroponik tanaman kangkung saya. 

​Dan setelahnya ia masih  menghancurkan 6 buah lagi styrofoam  penutup boxes hidroponik saya yang berisi tanaman. 

You’ve broken my heart…

​Tapi bagaimana caranya mau marah?. Jika beberapa menit kemudian ia tidur terlelap sambil meringkuk memeluki ekornya seperti ini di dalam bak yang akan saya gunakan untuk hidroponik. 

​Aduuh kasihannya. Lelap seperti bayi kecil yang tak berdosa. Saya melihatnya dengan iba. Nafasnya mendengkur halus. Dadanya naik turun. Mahluk tak berdaya.Sayapun cuma bisa mengelus-elus kepalanya dengan sepenuh kasih sayang yang ada di hati saya.

Seketika rasa sedih akan hancurnya tanaman sayapun hilang menguap ke udara . “Ya sudahlah…” gumam saya dalam hati. 

Dimanakah batas antara benci dan cinta? 

Itulah yang ingin saya katakan. Bahwa cinta itu adalah satu paket kebahagiaan dan kenyataan pahit yang harus kita terima dengan ikhlas.  Ketika kita mencintai dengan tulus,  maka sebenarnya pada saat yang bersamaan kita telah berdamai dengan diri kita sendiri untuk menyukai kelebihannya,  sekaligus menerima dan memaafkan kekurangannya serta mengikhlaskan segala derita, rasa pedih dan kerugian yang kita alami akibat perbuatannya itu.