Tag Archives: Renungan

You’ve Broken My Heart…

Standard

​​​Orang bilang ada dua sisi dari cinta. Sisi yang membahagiakan dan sisi yang menyakitkan. Keduanya, mau tidak mau pasti akan kita alami ibarat dalam satu paket. Mengapa? Karena pada prinsipnya setiap individu dan juga hubungannya dengan individu lain selalu memiliki kelebihan dan kekurangan.Dan ketika itu melibatkan cinta, tentunya kelebihan dan kekurangan inilah yang menjadi penyebab dari timbulnya rasa sakit dan bahagia itu. 

Menyukai kelebihannya secara umum adalah perkara yang mudah. Dan juga menyenangkan. Tetapi saat harus menerima kekurangannya, biasanya hati kita mulai goyah. Dan mulai bertanya, “Apakah aku masih mencintainya?”. Lalu kita pun menjawab sendiri: “Masih!”. 

Ah!. Masak sih? Yakin?. Yakinkah kamu bahwa masih mencintainya dengan segenap perasaanmu? Setelah apa yang ia lakukan telah menghancurkan hatimu?. Remuk redam?. Entahlah. Hanya waktu yang tahu akan jawabannya…

Ini cerita tentang cintaku pada kucing. Tiga ekor kucing di rumah saya. Sungguh mati saya cinta pada kucing, dan kecintaan ini menurun ke anak-anak saya. Suami saya, yang awalnya pembenci kucing akhirnya luluh hatinya dan terpaksa menerina kenyataan jika kami harus tinggal bersama dengan beberapa ekor kucing liar yang diadopsi oleh anak saya. Eh…lama-lama dia juga ikut-ikutan sayang dan peduli pada kucing. Mungkin itulah yang disebut oleh orang Jawa sebagai “Witing tresno jalaran soko kulino”. 
Kucing-kucing itu sangat baik.Lucu dan menggemaskan. Juga sangat manja. Suka duduk di pangkuan. Kalau pagi suka memberikan salam dengan mengusap-usapkan pipinya ke kaki saya.  Tidak heran saya semakin sayang padanya. 

Tapi belakangan mereka melakukan beberapa perbuatan yang mengganggu. 

​​Ia menabrak pot bibit sayuran saya hingga terguling-guling hancur. ​Terseret hingga lebih dari 3 meter. Tentu saja tanahnya berserakan kemana-mana dan bibit sayuran itu sebagian besar rusak seketika. Aduuh…. hati saya berdarah-darah. 

Berikutnya ia meloncat dan menimpa box  tanaman bayam merah yang baru berumur satu hari. Pecahlah styrofoam penyangganya. Beberapa tanaman yang masih kecil itupun jadi nyemplung ke dalam air. Sangat mengenaskan.

Lalu ia bermain-main, kejar-kejaran dengan saudaranya. Dan ujung-ujungnya menginjak dan menghancurkan styrofoam box hidroponik tanaman kangkung saya. 

​Dan setelahnya ia masih  menghancurkan 6 buah lagi styrofoam  penutup boxes hidroponik saya yang berisi tanaman. 

You’ve broken my heart…

​Tapi bagaimana caranya mau marah?. Jika beberapa menit kemudian ia tidur terlelap sambil meringkuk memeluki ekornya seperti ini di dalam bak yang akan saya gunakan untuk hidroponik. 

​Aduuh kasihannya. Lelap seperti bayi kecil yang tak berdosa. Saya melihatnya dengan iba. Nafasnya mendengkur halus. Dadanya naik turun. Mahluk tak berdaya.Sayapun cuma bisa mengelus-elus kepalanya dengan sepenuh kasih sayang yang ada di hati saya.

Seketika rasa sedih akan hancurnya tanaman sayapun hilang menguap ke udara . “Ya sudahlah…” gumam saya dalam hati. 

Dimanakah batas antara benci dan cinta? 

Itulah yang ingin saya katakan. Bahwa cinta itu adalah satu paket kebahagiaan dan kenyataan pahit yang harus kita terima dengan ikhlas.  Ketika kita mencintai dengan tulus,  maka sebenarnya pada saat yang bersamaan kita telah berdamai dengan diri kita sendiri untuk menyukai kelebihannya,  sekaligus menerima dan memaafkan kekurangannya serta mengikhlaskan segala derita, rasa pedih dan kerugian yang kita alami akibat perbuatannya itu. 

Advertisements

Aduuuh! Saya Kejeblos.

Standard

​​Malam hari sepulang dari kantor saya diantar suami pergi ke apotik di depan perumahan untuk membeli obat demam.Anak saya juga mau ikut. Kami parkir di tepi jalan dekat gerbang perumahan dan bukan di halaman apotik. Karena menurut suami saya, nanti ribet lagi kalau harus muter kendaraan masuk ke perumahan. Mendingan parkir saja di sini dan saya disuruh jalan kaki saja sedikit ke apotik. Toh hujan juga sudah reda. Ya sih. Suami saya ada benarnya juga. Jadi saya patuhlah ya  sama apa kata suami dan lalu segera membuka pintu kendaraan. 

Begitu turun,  saya melihat ternyata ada genangan lumpur di depan saya. Bekas galian kabel listrik PLN. Waduuh… panjang juga ya. Rasanya sulit deh lewat sini untuk beejalanke depan.   Saya bermaksud melompat, tapi takut terpeleset karena licin bekas hujan selain lubangnya cukup panjang juga. Pilihannya ya muter lewat belakang kendaraan. Tapi rasanya kok males ya berkeliling. 

Saya berbalik melihat lubang galian itu sejenak sambil mikir-mikir barangkali  saya bisa melompat saja agar lebih cepat sampai di apotik ketimbang harus muter ke belakang.

Dalam kegelapan malam saya melihat samar-samar ada bagian yang padat di tengah lubang itu yg dikelilingi genangan air dan lumpur. Saya pikir mungkin itu batu, dan jika saya coba meloncat dengan menginjakkan satu kaki saya pada benda padat itu, mungkin saja saya bisa lewat di sana dengan cukup mudah.  Lalu sayapun berjingkat. Hap!. JEBBBB! Aduuuh! Saya kejeblos!.Kaki kiri saya masuk jauh ke dalam lumpur. 

Tak terkira kagetnya. Kejeblos hampir selutut dalamnya.Tak saya sangka. Aduuh. Dan lebih apesnya lagi, saya tak mampu menarik kaki saya dengan mudah dari lumpur itu. Timbunan lumpur di atas kaki saya terasa sangat berat dan lengket. Saya mencoba menarik kaki saya. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Berkali kali. Tidak berhasil. 

Anak saya berusaha nembantu menarik tangan saya. Tapi masalah saya bukan di tangan. Tapi di kaki. Kemudian saya sadari kalau saya sulit mengangkat kaki saya karena saya berusaha mengangkat kaki beserta sandal jepit yang saya pakai. Jadi yang susah ditarik itu rupanya si sandal jepit. 

Akhirnya saya memutuskan untuk menarik kaki saya dan meninggalkan sebelah sandal jepit itu terkubur di dalam lubang galian itu.  Nah!Ternyata memang lebih mudah. Sekarang kaki kiri saya bisa keluar.Tapi tentu saja penuh lumpur hingga ke lutut. 

Esok paginya saya berangkat ke kantor dan melihat jejak kaki saya di dalam lumpur. Ha ha…lucu juga cetakannta. Saya geli atas kebodohan saya sendiri.Apa yang saya pikir batu itu ternyata hanya gundukan tanah gembur, yang akan sangat lembek saat digenangi air hujan. Menjadikannya sebagai tumpuan kaki tentu saja bukan ide yang baik. Tapi itulah yang telah terjadi. 

Saya bertumpu pada benda yang salah. Saya tak mampu melihat perbedaan batu yang memang asli padat dengan tanah yang terlihat padat. Semua terjadi karena saya memaksakan diri untuk melihat dalam kegelapan dan sebenarnya saya tidak sungguh-sungguh memastikan bahwa itu memang batu sebelum saya meloncat.

Lalu saya mencoba untuk bangkit dan menarik kaki saya yang kejeblos (masih untung saya punya semangat). Berusaha menarik kaki beserta sandalnya sekaligus, tanpa berpikir sandal jepit itu justru menjadi beban tambahan yang menyulitkan bagi kaki saya untuk  bergerak naik. 

Hmmm…..sound familiar ya? 

Memang demikianlah adanya perkara kejeblos itu. Kejeblos apapun juga dan di manapun juga. Mau kejeblos dalam lumpur, kejeblos urusan keuangan, kejeblos urusan karir hingga kejeblos urusan asmara dan sebagainya. Urusannya sama saja. Penyebabnya pasti tidak jauh dari hal-hal ini :  Kurang Hati-Hati, Mengikuti Emosi, Kurang Perhitungan, Kurang Waspada, Mata Gelap. 

Lalu jika kita ingin bangkit kembali dari keterpurukan, masalah yang membuat beban berat bagi kita untuk bangkit lagi juga biasanya adalah hal-hal kecil yang sesungguhnya tidak super penting amat untuk dipertahankan. Mungkin sebaiknya kita cut, buang dan ikhlaskan saja, agar tidak mengganduli langkah kita ke depan yang lebih baik. 

Antara Telor Dan Ayam…

Standard

image

Karena pekerjaan yang menumpuk, suatu kali saya tidak sempat memasak buat makan malam keluarga. Selain itu kulkas di rumah juga sedang kosong. Ngga ada bahan yang bisa dimasak. Jadi saya mau order makanan jadi saja. Buka hape. Lihat-lihat  nomer contact  rumah makan dan restaurant dekat rumah.

Ah!. Ini dia!!. Ketemu nomor sebuah restaurant yang masakannya cocok di lidah saya dan keluarga. Saya lalu menelpon bermaksud menanyakan jam tutup restaurant. Seorang pria mengangkat telpon saya “Maaf ibu, saya sedang libur. Kalau mau order, silakan ibu langsung ke restaurant saja” sarannya. Ooh..rupanya itu nomer pribadi dari salah seorang karyawannya. Bukan nomer restaurant. Lho? Tapi mengapa sebelumnya mereka menggunakan nomer pribadi itu  di brosurnya ya? Kenapa bukan nomer resmi restaurantnya saja ?. Aneh!. Tapi tak apa apalah. Saya menanyakan jam tutup restaurant sekalian meminta nomer telpon resmi restaurant. Saya mendapatkan restaurant tutup jam 8.30. Lebih cepat dibanding restaurant-restaurant lain di Bintaro yang rata-rata tutup pukul 10 malam.

Saat itu pukul 7.25 malam. Saya sedang di jalan dan memasuki area Tanah Kusir. Jika jalanan lancar, saya akan tiba sekitar pukul 8.15. Terlalu mepet ya. Tapi jika saya order lewat telpon dan meminta mereka menyiapkan pesanan saya terlebih dahulu, tentu masih keburu. Nanti saya tinggal bayar saja.

“Selamat malam Mbak. Saya mau memesan”.
“Tapi kita tutupnya jam 8.30, ibu” kata suara di seberang.
“Ya Mbak. Saya tahu kalau restaurantnya tutup pukul 8.30. Masih sejam lagi.Jadi saya pesan dulu, biar Mbaknya bisa menyiapkan masakan untuk saya. Nanti saya ambil dan tinggal bayar saja. Sekarang saya masih di jalan” kata saya menjelaskan.
“Tapi ibu, biasanya jam 8.30 kita sudah tutup lho Bu. Kadang malah jam 8 saja kita sudah tutup dan pada pulang. Soalnya sepi” nada suara di seberang terdengar sangat enggan meladeni.
Saya sedang tidak dalam mood ingin berpanjang lebar, “Jadi, masih mau terima order atau tidak?”tanya saya to the point saja. “Ooh…masih sih Bu” katanya. “Ya udah kalau gitu saya mau pesan ini dan ini”. Saya menyebutkan pesanan saya dan porsinya. Si Mbak mencatat. Lalu menyelak karena salah satu pesanan saya tidak ada. “Sudah lama tidak bikin” katanya. Oke deh. Kalau gitu saya ganti dengan yang ada saja. Si Mbak mencatat lagi.

Setelah itu tibalah pada bagian menghitung. “Jadi total berapa harganya?” Tanya saya. “Mmmm…berapa ya?” Si Mbak kelihatan tidak menguasai harga, lalu terdengar bertanya kepada temannya dan menggantung telponnya. Agak lama. Saya pikir dia dan temannya sedang melakukan kalkulasi. Saya menunggu dengan sabar. Setelah beberapa menit, barulah ia  balik kembali ke telpon lagi. Tapi ia tidak langsung memberi saya informasi berapa total harganya. Ia hanya bergumam seperti sedang berhitung. “Jadi berapa Mbak?”tanya saya. “Mmm…untuk sate kan 3 porsi kali 40 000. Jadi…….” suaranya menggumam lagi. Saya nendengarkan. Lalu ia mengulang “Satenya aja 40 000 kan kali 3 porsi…jadi…”. Suaranya jeda lagi “120 000!” Jawab saya dengan tidak sabar. Lah… ngitung 3 x 40 000 kok lama banget sih?
“Jadi berapa harga totalnya, Mbak? “ tanya saya. “Harga satenya aja kan 40 000 x 3… ” katanya mengulang lagi “Terus pepesnya kan 2 porsi kali…aduuuh berapa ya ini harga pepesnya? “ Si Mbak terdengar sangat bingung. “Aduuhh.. ibu datang ke sini segera deh. Nanti dihitung di sini saja” katanya. Baiklah. Saya tertawa geli dalam hati. Tapi dari sana saya paham rupanya kemampuan berhitung si Mbak ini rada kurang. Atau barangkali ia karyawan baru yang panik ya? Tak ada gunanya saya nemaksa minta dihitungkan.
Sekitar 25 nenit sebelum jam yang disebutkan sebagai jam tutup toko, akhirnya saya sampai.
Si Mbak yang tadi ditelpon menyambut saya. “Ibu Andani ya?” Tanyanya. Saya mengiyakan. Restaurant itu memang sangat sepi. Tak ada satupun pembelinya. Saya hanya melihat dua orang Mbak penjaga di sana, termasuk yang menyambut saya dan segera ke kasir.  Sepi banget. Padahal masakannya enak. Ada sesuatu yang salah dengan cara memanage restaurant ini.
Lihatlah restaurant-restaurant di sekeliling. Halamannya pada penuh dg kendaraan parkir. Rata rata penuh hingga pukul 10 malam.
Mengapa restaurant  yang ini tutup cepat?
Sebelumnya si Mbak ada menjelaskan kalau mereka pengen cepat pulang karena restaurant sangat sepi pengunjung. Tapi mengapa restaurant ini sepi pengunjung? Salah satunya mungkin karena tutup sangat cepat.  Wah…bolak balik ya? Seperti telor dengan ayam. Yang mana duluan?

Saya pikir, jika restaurant ini ingin maju… pihak management restaurant perlu memecah siklus antara telor dan ayam ini terlebih dahulu.
Dengan asumsi bahwa positioning dan Marketing Mix yang lain (rasa, harga, lokasi) sudah benar, maka restaurant ini perlu mereview kembali:
1/. Jam buka.
Dengan lokasi di Bintaro, di mana kebanyakan penduduknya adalah karyawan swasta yang berangkat pagi dan pulang malam –  rata-rata pukul 7 dan 8 malam, maka jam tutup restaurant pada pukul 8.30 sangatlah tidak nyaman bagi pengunjung. 
Karena di hari kerja pada siang hari mereka ada di kantor dan tidak mungkin balik ke area Bintaro hanya untuk makan siang. Jadi lupakan peluang untuk rame pada jam makan siang (kenyataannya saya beberapa kali ke restaurant ini pada siang hari, terutama Sabtu/Minggu juga tidak terlalu rame).  Mari kita fokus pada jam makan malam saja.  Bilanglah konsumen baru bisa datang ke restaurant pukul 8.00 malam. Melakukan pesanan, menunggu dihidangkan saja itu barangkali sudah memakan waktu 15 -30 menit tersendiri. Tentunya tidak nyaman sekali jika baru saja mulai suapan pertamanya, pengunjung sudah diberi woro-woro bahwa restaurant akan segera tutup.
2/. Ketersediaan menu sesuai dengan daftar menu.
Sungguh sangat mengganggu bagi konsumen jika mendapatkan kenyataan bahwa pesanan makanan kesukaannya ternyata tidak ada padahal di daftar menu ada.  Restaurant perlu mereview kembali secara berkala daftar menunya. Keluarkanlah masakan yang sudah tidak disediakan lagi dari daftar menu untuk menghindari kekecewaan publik.
3/. Pelayanan
Cara kita menerima konsumen, baik secara langsung maupun  lewat telephone sangatlah penting dalam membangun loyalitas terhadap restaurant yang dikelola, selain faktor lain seperti rasa masakan dan kebersihan. Kesan malas dan ogah -ogahan seolah tidak butuh pembeli sangatlah mengganggu  kesetiaan konsumen. Kecuali konsumen yang sangat militan, fanatik terhadap rasa masakan restaurant itu. Tapi berapa banyakkah jumlah pelanggan yang militan seperti itu? Sangat sedikit bukan?
4/. Skill
Berhitung dengan cepat, adalah salah satu skill yang sangat diperlukan ada pada setiap pramusaji restaurant. Dulu saya sering terkesan dengan kemampuan berhitung cepat pramusaji restaurant Bakmi GM. Begitu kita selesai menuliskan order hanya dalam hitungan kurang dari semenit kita sudah diberitahu berapa total harga yang harus kita bayarkan atas keseluruhan orderan kita. Sekarang mungkin tidak secepat jaman dulu, tetapi menurut saya tetap masih lebih cepat dibanding restaurant lain.

Saya pikir, minimal 4 hal itu yang perlu diperbaiki oleh pemilik restaurant ini jika ingin usahanya lebih maju. Karena jika mengandalkan cara beroperasi seperti sekarang ini, akan sangat sulit baginya untuk bersaing dengan restaurant -restaurant lain yang pengelolaannya jauh lebih professional.

Mengambil pelajaran atas pengalaman saya dengan restaurant itu, maka saya berpikir untuk diri saya sendiri;  Jika kita berada di lingkaran masalah  “telor, ayam mana duluan?”  seperti ini, maka sebaiknya posisikanlah diri sebagai telor saja.  Pro-activelah dengan cara memecahkan masalah dan perbaiki kekurangan diri sendiri terlebih dahulu. Jika semua masalah sudah  tuntas, barulah kita berharap timbal balik yang baik dari pihak lain.
Kita diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengalami berbagai hal dan kejadian, agar kita tak jemu jemu memetik pelajaran dan memperbaiki kwalitas diri.

Maksud Hati Hendak Membantu…

Image

imageIni kisah yang saya alami beberapa waktu yang lalu. Saya dan seorang teman baru kembali dari sebuah perjalanan dinas di negeri tetangga. Pesawat mendarat dengan mulus di bandara Soekarno -Hatta. Senang dan amat bersyukurlah hati saya. Karena penumpang penuh, saya tidak buru-buru bangkit setelah pesawat berhenti. Tapi teman saya yang berdiri mengambil tas-tas kami dari kabin sambil menunggu pintu pesawat dibuka.

Seorang bapak tua berdiri di sebelah teman saya mencoba menggapai sebuah tas dari kabin. Karena tubuhnya agak pendek, beliau mengalami kesulitan. Menyadari itu teman saya yang kebetulan posturnya tinggi menawarkan bantuan kepada Bapak tua itu untuk mengambilkan tasnya.

Yang mana punya bapak? Yang ini bukan?” tanya teman saya dalam Bahasa Inggris (teman saya bukan WNI). Bapak itu menggeleng. “Bukan!“katanya.Teman saya memperlihatkan tas lain di sebelahnya. “Ini bukan?” tanyanya. Bapak itu masih menggeleng.”Bukan!” katanya. Bapak tua itu mengatakan kalau tasnya adalah ransel (backpack). Lalu teman saya mencari-cari di kabin dan menunjukkan sebuah ransel. “Ini bukan?” tanyanya  Bapak tua itu mengiyakan. Teman saya lalu mengangkat dan memberikan tas ransel itu kepada si Bapak Tua. Penumpang mulai bergerak meninggalkan pesawat satu per satu. Saya pun berdiri, menggendong ransel saya sendiri dan keluar dari pesawat. Dalam hati diam-diam saya mengagumi kebaikan sederhana yang dilakukan teman saya itu. Membantu orang tua yang mengalami kesulitan mengambil tasnya dari dalam kabin. Saya pikir sebenarnya setiap hari selalu ada kesempatan untuk berbuat baik, tapi tidak semua dari kita memanfaatkan setiap kesempatan untuk melakukan kebaikan-kebaikan kecil guna membantu orang-orang lain di sekitar kita.

Turun dari pesawat, kami naik bis yang disediakan untuk mengantar ke terminal. Saya memilih duduk di dekat pak Supir. Sementara teman saya memilih berdiri di dekat pintu masuk. Setelah penumpang penuh, pak supir bersiap-siap mau berangkat.

Tiba-tiba seorang pria dengan postur tubuh tinggi dan kekar, berlari masuk ke dalam bis. Berteriak-teriak sambil memaki kepada semua orang yang ada di dalam bis. Wajahnya sangar penuh amarah. Membuat saya khawatir.  Jantung saya berdebar kencang.Saya tidak tahu apa yang membuat orang itu marah. Kicauannya sangat mengganggu, cepat dan tak jelas. Disela-sela umpatan kemarahannya saya ada mendengar kata-kata “Mana dia? Mana orangnya?”  Ada apa ya? Di tengah ketidakmenentuan, semua orang yang berada di dalam bis terdiam dan menahan nafas. Tidak ada seorangpun yang berani bergerak. Pria itu terus marah marah sambil matanya liar mencari-cari. Dan akhirnya berteriak “Ini diaa!!!” katanya menunjuk  dan menarik sebuah tas ransel yang tergeletak di lantai bis. Saya terkejut. Itu kan tas ransel yang dibawa oleh Bapak tua yang sebelumnya ditolong oleh teman saya tadi.

Ini dia orangnya!” teriak pria itu lagi sambil menuding Bapak tua yang kelihatan polos itu sebagai pencuri. Bapak tua itu hanya diam saja.Tidak membela diri. Sulit menebak, apakah Bapak itu memang bersalah atau tidak. Pria itu terus mengumpat-umpat dan memaki. Diantaranya  ia ada mengatakan bahwa usia tua dan wajah yang pura-pura polos, tidak menjadi jaminan bahwa orang itu hatinya baik.

Saya melihat ke teman saya yang juga melihat ke arah saya dengan pandangan penuh tanda tanya. Gagal paham. Saya sendiri juga bingung. Jika Bapak itu memang benar pencuri, apakah teman saya jadi ikut bersalah?  Saya tahu ia hanya bermaksud menolong orang tua itu semata. Perbuatan yang sangat baik dan mulia. Tentu ia tak pernah menyangka akan begini jadinya. Atau  ia salah ambil?.  Tidak! Bukan salah ambil.Saya ingat betul, teman saya selalu bertanya setiap kali akan menurunkan tas yang di kabin “Ini bukan?“. Dan ia hanya mengambilkan tas ketika Bapak tua itu mengkonfirmasi bahwa tas yang dimaksudkan adalah  memang miliknya.

Saya melihat ke teman saya. Mencoba menenangkannya dan memberi kode bahwa ia tidak bersalah. Saya akan berada di sisinya dan pasang badan jika terjadi sesuatu.Bapak tua itu masih tetap berdiri di sana seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Tidak kelihtan bersalah. Tapi tidak melakukan pembelaan diri juga. Sementara pria kekar itu masih terus berkata kasar, sinis, dan mengumpat-umpat. Seluruh penumpang masih terdiam. Pak Supir kemudian menutup pintu bis dan bersiap-siap berangkat.

Tepat sebelum bis berangkat, ada lagi orang datang berteriak-teriak. Berlari dan mengacungkan tangannya ke bis. Pintu bis pun dibuka kembali. Orang itu terengah-engah menunjukkan sebuah ransel yang kelihatan tipis dan ringan sambil menjelaskan, bahwa ada ransel yang ketinggalan dipesawat.”Ini milik siapa?” tanyanya. Orang-orang mulai pada berbisik dan berbicara dengan teman di sebelahnya. Dan ternyata tas ransel yang baru ketemu itu memang milik Bapak Tua itu. Ya ampuuun.. rupanya memang salah ambil. Kedua tas ransel itu memang sangat mirip bentuk dan warnanya. Hanya saja yang satu kempes dan yang satu gendut karena isinya penuh.

Bapak itu kelihatan sangat senang dan lega menerima tasnya kembali.Wajahnya penuh syukur. Diusap-usapnya tas  itu lalu dicangklongkan ke bahunya. Ia seperti tidak peduli dengan sekian pasang mata yang menatapnya dengan heran. Pria yang tadi marah-marah itupun melihat kejadian itu dan langsung menghentikan omelannya. Saya melihat kelegaan di wajah setiap orang. Senang dan bersyukur rasanya akhirnya semua berjalan dengan damai.  Bis pun berangkat dari areal landasan terbang ke terminal.

Di terminal saya turun dan berjalan di sebelah teman saya yang kelihatan masih kaget dengan kejadian yang baru saja kami lewati. Sehari-harinya ia tidak berbahasa Indonesia, barangkali ia tidak menangkap 100% arti umpatan-umpatan pria itu, tapi saya rasa ia memahami garis besar kejadian itu.

Tetaplah berbuat baik, walaupun tidak ada jaminan, bahwa perbuatan baik kita akan selalu langsung instant jelas kelihatan hasilnya.

 

 

 

Gangsaran Tindak, Kuangan Daya.

Standard

“Gangsaran tindak, kuangan daya”  sebuah ungkapan dalam Bahasa Bali yang   jika 20160115_133502.jpgditerjemahkan bebas artinya “Sigap dalam bertindak, tetapi lemah dalam strategi”. Tangan bergerak lebih cepat dibanding otak -begitulah kira-kira. Sering digunakan oleh para orang tua untuk menasihati anaknya, agar jangan terburu-buru mengambil tindakan, tanpa memahami duduk permasalahan dan memikirkan pemecahannya terlebih dahulu.

Ungkapan tua itu mendadak muncul di kepala lagi, ketika makan siang dengan seorang teman di sebuah pusat jajanan rakyat yang letaknya tak jauh dari lokasi kantor. Di sana ada berbagai macam pilihan untuk makan siang. Ada ketoprak, nasi goreng, empek-empek, nasi padang, mie ayam, ayam goreng lalapan, pecel lele dan sebagainya.

Kami sepakat ke tukang lalapan. Saya memesan nasi dengan hati ampela ayam +lalapan+sambal. Sedangkan teman saya memilih nasi + pecel lele +lalapan. Tukang lalapan mempersiapkan pesanan kami. Saya memesan minuman dari pedagang lain. Berikutnya saya mencari meja kosong. Tak lama kemudian tukang lalapan mengantarkan pesanan kami. Tanpa banyak ngobrol kami menghabiskan makanan masing masing. Dan setelah selesai kami kembali ke tukang lalapan untuk membayar.

Si bapak tukang lalapan tersenyum kepada kami sambil tangannya sibuk memilah-milah lele yang siap goreng. “Makan apa, Mbak?” Tanya si bapak. Pertanyaan yang umum ditanyakan pada saat kita membayar makanan di warung yang sistemnya makan dulu, bayar belakangan. Gunanya ya untuk membantu si kasir menghitung harga makanan yang harus kita bayar. Proses pembayarannya biasanya berdasarkan azas kepercayaan saja. Pembelipun biasanya jujur mengatakan apa saja yang dimakannya. Tetapi seandainya ada yang tidak jujur, apakah si pedagang akan tahu? Entahlah. Saya tidak tahu persis.Bisa jadi juga ada yang kelewatan.

Selain itu, saya pikir Bapak ini sebenarnya tidak tahu persis apa yang telah kami order dari sini dan telah kami makan.  Karena yang tadi menerima order dan menyiapkan makanan buat kami adalah tukang lalapan yang lebih muda (mungkin anaknya). Bapak ini tadi tidak di tempat, barangkali sedang mengantarkan makanan ke pengunjung  yang lain.
” Saya tadi makan nasi, lele dan sambel plus lalapan”. Jelas teman saya. Bapak itu masih sibuk. Ia memasukkan seekor lele ke penggorengan. Syooorrr…bunyi lele kena minyak panas. Barangkali ada pengunjung lain yang memesan pecel lele juga, pikir saya.

Kalau saya, tadi makan nasi dengan hati rempela, lalapan dan sambel” kata saya menyambung penjelasan teman saya. Bapak itu tetap sibuk juga. Tidak menoleh ke kami sama sekali. Kami menunggu beliau menghitung harga makanan kami. Sekarang beliau sibuk menyiapkan nasi di piring. Saya dan teman saya tetap berusaha sabar menunggu, walaupun sebenarnya kami harus buru-buru ke kantor karena ada meeting.

Setelah beberapa saat, bapak itu belum juga memberikan kami indikasi, berapa kami harus membayar harga makanan yang sudah kami santap tadi. Akhirnya saya berinisiatif  “Jadi berapa harganya, Pak?” Tanya saya karena si bapak masih tetap asyik dengan pekerjaannya. “Nanti saja, Mbak” kata si bapak yang membuat saya jadi curiga.

“Lho, Pak??!!. Kami ini mau bayar. Bukan mau makan. Makannya kan sudah” jelas saya kepada si Bapak. Beliau kaget. Lalu buru buru menghentikan pekerjaannya. “Oooh…saya kira belum makan” kata si Bapak. Lah? Jadi lele yang baru masuk penggorengan itu dimaksudkan untuk kami ya? Waduuh. Kasihan dong si bapak rugi.

Si bapak ini rupanya kecepatan bertindak sebelum paham betul permasalahannya  bahwa kami mau membayar setelah makan. Bukan memesan. Menyadari itu si bapak lalu tertawa terbahak bahak. Saya yang berada di dekat kompor mencoba membantu untuk mematikan kompor. “Nggak usah, Mbak!. Nggak apa apa. Nanti lelenya bisa buat saya makan sendiri saja” katanya. Lalu cepat cepat mengambil kalkulator. Kamipun membayar.  Ya ampuuuuun!.

Gara gara kejadian itulah saya jadi teringat ungkapan tua dalam Bahasa Bali itu. “Gangsaran tindak, kuangan daya”. Hal seperti ini kadang terjadi bukan hanya pada si bapak tukang pecel lele itu saja, tetapi juga pada diri saya sendiri. Saya ingat kejadian seperti itu pernah terjadi beberapa kali pada diri saya sendiri juga.

Keadaan Gangsaran tindak kuangan daya, terjadi terutama pada saat kita berada dalam situasi terburu-buru. Ingin cepat merespon sesuatu. Sehingga tidak sempat memahami situasinya dengan cukup baik. Sebagai akibatnya, terjadilah “gagal paham” yang berikutnya men-‘trigger’ terjadinya response yang keliru.

Kemungkinan lain adalah saat kita terbawa emosi. Pemahaman kita terpaku hanya pada pemikiran kita sendiri saja dan tidak terbuka untuk fakta lain atau pemikiran lain yang terbuka luas. Sehingga dalam keadaan ini kita akan cenderung merespon dengan cara yang sempit yang mungkin berbeda dan kurang sesuai dengan permasalahan yang ada yang konteksnya lebih luas dari sekedar pemikiran kita yang sempit.

Kemungkinan yang lain lagi adalah pada saat  kita berada di dalam suasana hati yang kurang sabar. Pengen cepat cepat selesai. Terlalu malas untuk memahami konteks permasalahannya dengan lebih baik. Baru mendengar sepotong langsung bereaksi.

Seandainya kita punya sedikit lebih banyak waktu; seandainya kita bisa sedikit lebih sabar serta tidak terbawa emosi, sebenarnya kita bisa luangkan sedikit waktu untuk mempelajari permasalahannya secara lebih holistik. Jika permasalahannya lebih kompleks lagi, ada gunanya kita manfaatkan kesempatan untuk mencari informasi lebih dan bahkan menggali pendapat dan masukan dari orang lain. Sehingga pemahaman kita bisa lebih baik dan komprehensif. Setelah itu, barulah sebaiknya kita memberikan respon yang tepat.

Nah…jadi pelajaran yang saya petik kali ini dari tukang pecel lele adalah sebuah pengingat bagi diri saya sendiri. Bahwa jika kita ingin merespon sesuatu, sebaiknya kita memahami permasalahannya dengan baik terlebih dahulu, barulah memberikan jawaban maupun tanggapan. Jika tidak, maka kita akan cenderung memberikan jawaban yang kurang tepat dan tidak sesuai dengan konteksnya.

Buah Pare Yang Terlambat Dipanen.

Standard

Ditinggal kesibukan pekerjaan yang menumpuk selama beberapa hari, banyak yang terjadi pada Dapur Hidup saya. Pucuk pucuk selada yang memanjang, daunnya tidak sempat dipanen. Tanaman pakchoi yang juga segera perlu dipanen agar tak ketuaan.  Anakan pohon kemangi sudah bertumbuh dan sudah waktunya di re-potting. Demikian juga anakan pohon tomat cherry. Sudah mulai besar dan sebentar lagi butuh sandaran. Nah…yang paling menarik adalah buah-buah pare yang tidak sempat saya panen. Sudah terlalu tua, kuning dan beberapa diantaranya meledak. Memperlihatkan biji-bijinya yang merah merona.

Ah!. Sayang sekali tidak sempat dimanfaatkan untuk sayur. Padahal sebelumnya saya sempat berjanji kepada seorang teman akan membawakan hasil panen buah pare ini.
Sudah dua kali saya gagal membawakan buah pare buat teman saya itu.

Pertama, saat buah pare sedang banyak-banyaknya.Tapi sayang sekali ketika saya ingat akan memetik, rupanya buah pare sudah dipetik duluan oleh orang rumah dan dibagikan kepada tetangga yang mau. Keduluan deh.

Berikutnya, ya kali ini. Eh…karena tak sempat memetik, buah buah pare ini keburu matang di pohonnya dan meledak. Batal lagi deh saya membawakan buat teman saya.
Saya agak kecewa memikirkannya.Tapi kemudian saya nenghibur diri saya sendiri. Buah yang kematangan ini tetap bisa saya manfaatkan, saya ambil bijinya untuk bibit saja. Selain itu warna warni kuning, jingga dan merah ini juga cukup cantik menghiasi kebun. Kurang optimal memang, tetapi tidak apa apalah. Toh masih ada gunanya juga.

20160120_070458.jpgTapi pelajaran penting yang bisa saya tarik dari sini adalah bahwa segala sesuatu itu butuh “timing” yang tepat untuk mengeksekusi. Waktu yang tepat. Waktu yang pas. Seperti halnya dengan buah pare ini. Jika dipetik terlalu cepat, ukuran dan tekstur serta tingkat kerenyahan buah pare ini tentu belum optimal. Tapi jika kelewatan, dan terlambat memetiknya, bisa jadi sudah keburu dimanfaatkan oleh orang lain, atau mungkin juga sudah menjadi terlalu tua, meledak dan tidak bisa dimasak lagi. Nah… seperti halnya dalam memetik buah pare, dalam kehidupan sehari-hari juga berlaku hal yang sama. Ketepatan mengeksekusi sesuai dengan waktu, sangat dibutuhkan oleh setiap orang yang menginginkan hasil yang optimal.

Ingat akan waktu, saya jadi teringat akan konsep Desa-Kala-Patra (Tempat-Waktu-Situasi) yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Bali. Dimana “waktu” merupakan salah satu element penyusun konsep Desa-Kala-Patra ini yang sangat penting untuk dijadikan acuan dalam bertindak dan mengeksekusi sebuah rencana, selain juga elemen ruang dan situasi.

Untuk melakukan tindakan tertentu, setiap orang umumnya menggunakan patokan ini. Menyesuaikan dengan Desa (tempat dimana tindakan itu akan dilakukan), Kala (kapan tindakan itu akan dilakukan) dan Patra (bagaimana situasi/pattern /pola keadaan yang terjadi pada saat dan tempat itu), dengan harapan segala sesuatu prosesnya berjalan dengan baik dan mulus tanpa halangan yang berarti dan akhirnya berhasil dengan baik. Jika salah satu element dari Desa-Kala- Patra ini tidak dipertimbangkan, peluang untuk terjadinya masalah dan ketidaksuksesan tentu akan membesar. Bertindak tanpa memahami kondisi tempat kita berada, hasilnya akan tidak optimal. Bertindak tanpa memahami situasi yang terjadi juga sama. Demikisn juga jika kita tidak memahami waktu.

Salah satu contoh sederhana dalam kehidupan sehari hari, ya seperti apa yang ditunjukkan oleh pohon pare ini kepada saya. Saya tidak memetiknya pada waktu yang tepat. Sehingga buah pare ini keburu masak dan meledak.

Sebuah pengingat bagi diri saya sendiri untuk mengingat kembali Desa- Kala-Patra dalam setiap tindakan dan perbuatan saya.

Mengejar Ekor Sendiri.

Standard

 

20151213_160205.jpgSaya sedang bekerja di halaman belakang. Menggunting dan mencabut tanaman tomat yang sudah tua dan meranggas, serta bermaksud menggantinya dengan bibit tanaman pakchoi. Tiga ekor anak kucing ikut bermain-main petak umpet di sekitar saya. Di tumpukan sampah pohon-pohon tomat tua itu. Kelihatan sangat riang gembira.

Tak berapa lama saya selesai dengan pekerjaan gunting menggunting saya. Lumayan juga keringetan. Anggap saja berolahraga ya. Saya mengambil minum dan istirahat sejenak. Anak -anak kucing itu pun ikut bubar.  Dua ekor, yang hitam dan yang coklat sekarang sibuk menyusu pada ibunya. Tetapi yang seekor berwarna putih tidak kelihatan bersama. Kemana ya? Saya mencari.

Ooh..rupanya ia masih bermain sendiri di dekat pojok halaman. Sibuk bergerak-gerak sendiri.  Meloncat-loncat dan berputar-putar sendiri. Sedang ngapain sih?  Saya jadi penasaran. Apakah ada anak kelelawar, anak tikus atau mahluk hidup lain yang tertangkap olehnya dan dijadikan mainan kali ini?. Anak kucing ini pernah saya lihat membawa anak kelelawar sebelumnya. Saya lalu mendekat untuk mengamati kelakuan anak kucing itu. Tidak ada anak kelelawar. Tidak ada anak tikus. Tidak ada apa apa. Lalu mengapa ia meloncat loncat dan berputar putar? Ooh rupanya ia mengejar ekornya sendiri.

Anak kucing kecil yang ini ekornya memang agak panjang. Ketika ia menengok ke belakang , barangkali ia melihat ekornya sendiri bergerak-gerak dan menyangka jika itu adalah binatang kecil. Ia tertarik untuk menangkapnya. Bergeraklah ia mengejar ekornya ke belakang. Tetapi karena ia bergerak, maka ekornya mengikuti gerakan tubuhnya ke depan. Anak kucing itu berusaha menangkap lagi. Dan lagi. Berulang- ulang. Tapi tidak pernah tertangkap olehnya sekalipun. Karena si ekor yang menjadi targetnya, bergerak sama gesitnya dengan badan beserta cakar di kaki depannya. Itulah sebabnya mengapa ia berloncat-loncatan dan berputar-putar mirip kucing gila. Ha ha ha… geli juga saya melihat kelakuan anak kucing ini.

Beberapa saat kemudian, akhirnya anak kucing itu menyerah juga. Mungkin ia kelelahan mengejar ekornya sendiri tanpa hasil. Ia terduduk dengan nafas terengah-engah. Saya merasa kasihan padanya. Akhirnya saya usap-usap kepalanya dan saya ambilkan air bersih untuk diminumnya. Cukuplah exercise ini.

Mengejar target itu harusnya memang jelas. Apa yang kita kejar dan mengapa kita mengejarnya.

Sangat penting bagi si kucing untuk mengetahui dengan jelas, apakah benda yang menarik perhatiannya itu kadal, kelelawar, kodok, tikus ataukah ekornya sendiri. Dengan memahami secara jelas apa yang dijadikan targetnya, sekaligus ia akan mengetahui juga kelemahan dan kekuatan targetnya itu. Serta bagaimana cara memenangkan pertarungannya dengan baik. Misalnya jika itu kodok, setidaknya ia akan tahu bahwa kodok itu jago melompat, bisa sembunyi di celah yang sempit  yang mungkin tidak terjangkau cakar. Dan beberapa jenis tertentu mungkin berbisa juga jika diterkam. Akan tetapi, secara umum kodok adalah target yang sangat mungkin dikejar. Bukan target yang susah. Karena jangkauan dari lompatan kucing lebih jauh dari lompatan kodok. Selain itu kucing juga bisa bergerak lebih cepat dan lebih gesit. Selain itu tubuh kucing sudah pasti lebih besar dari tubuh kodok lah ya.

Tetapi kucing juga perlu memahami di depan untuk apa ia mengejar kodok? Untuk dimakan? Untuk mainan? Atau hanya sekedar menjajal kemampuan dan menjawab tantangan saja? Kalau untuk dimakan kodok beracun jelaslah bikan target yang tepat untuk dikejar.

Jika kita tidak jelas akan apa yang kita kejar dan mengapa kita mengejarnya, tidaklah heran jika kitapun mirip kucing yang mengejar ekornya sendiri. Berputar -putar tidak jelas. Dan meloncat-loncat ke sana kemari. Mundur maju. Ke depan ke belakang. Menghabiskan waktu dan tenaga dengan sia -sia. Tanpa hasil.

Sekarang saya jadi mulai mengingat-ingat kembali di kepala saya. Apa-apa saja target yang ingin saya capai dalam hidup saya. Rasanya perlu meneliti ulang apakah saya cukup jelas dengan apa-apa yang ingin saya capai dan mengapa saya menginginkannya.

Cerita Si Ulat Kupu-Kupu Jeruk.

Standard
Ulat Kupu-Kupu Jeruk

Ulat Kupu-Kupu Jeruk

Pagi hari ketika hendak berangkat kerja, sambil melintas saya melirik ke pohon jeruk purut yang saya letakkan di halaman depan. Ups! Kok daunnya pada habis ya? Padahal baru saja bersemi mengikuti musim hujan. Sayapun berbalik. Ingin tahu mengapa.

Oh rupanya ada ulat jeruk berwarna hijau di sana. Ukurannya sejari tengah saya. Waduww!. Lumayan gede juga ya. Saya mengamati ulat itu dari dekat. Warnanya hijau dengan sedikit motif berwarna coklat membuat ia sangat tersamar dengan daun jeruk di sekitarnya. Kamuflase yang baik. Ia diam saja. Tidak bergerak. Barangkali sudah kekenyangan setelah dengan rakusnya ia melahap daun jeruk saya.

Daun muda jeruk purut

Daun muda jeruk purut

Sekarang saya menyadari ternyata semua daun daun muda jeruk itu sudah dilahapnya habis. Hati saya menjadi sedih dan kesal sekali terhadap perbuatan ulat itu. Bagaimana tidak kesal, pohon Jeruk Purut adalah salah satu tanaman kesayangan saya.  Masih terbayang pucuk daun mudanya yang segar dan hijau kemerahan saat baru bersemi. Cantik dan membahagiakan hati setiap kali melihatnya. Kini tak ada bekasnya lagi. Ooh..sedihnya. Saya menarik nafas panjang dan dalam’dalam. Lalu menghembuskan kekecewaan saya ke udara. Bagaimana saya harus mengikhlaskannya?.

Kembali saya mengamati ulat berwarna hijau itu. Ia masih diam di tempatnya. Barangkali ia tidur. Saya menggumam dalam hati. Sebesar itu. Barangkali sebentar lagi ia akan mencapai pertumbuhan optimalnya. Setelah itu menggantung diri dan membungkus badannya dengan serat-serat dari liurnya, lalu menjadi kepompong. Ia akan memilih dahan yang kuat dan terlindung dari hujan dan angin serta aman dari gangguan mahluk hidup di sekitarnya.

Apa yang ia lakukan dalam selimut kepompongnya? Barangkali ia bersemadi. Melakukan refleksi dan penghayatan diri. Mendapatkan pencerahan dan kesadaran diri bahwa ia adalah bagian dari semesta yang maha besar dan maha luas. Ia memasrahkan dirinya pada mekanisme semesta dan mengikuti perubahan sesuai denyut dan hukum semesta. Jika harus berubah maka berubahlah ia. Laksana janin dalam kandungan ibu, yang memasrahkan diri pada proses ‘moulding’ kehidupan.  Tanpa pernah mempertanyakan bagaimanakah design cetakannya. Serta bagaimanakah kelak wujud, bentuk dan rupanya. Ulat itu hanya memasrahkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Sang Maha Pencipta.  Setiap sel dalam tubuhnya bergerak dan menyusun formasi baru. Bertumbuh dan berkembanglah sayapnya. Dan iapun lahir kembali menghirup udara dunia menjadi mahluk baru yang disebut dengan Kupu kupu.

fb_img_1449823140234.jpgUlat ini akan menjadi Kupu kupu Jeruk (Papilio demoleus) yang sangat indah. Kupu-kupu berwarna krem dengan bercak bercak hitam dan sedikit usapan kuning dan jingga dengan bentuk serta kombinasi warna sayap yang luar biasa indah. Saya sangat menyukai Kupu kupu ini dan selalu senang setiap kali ia mampir dan menghiasi halaman rumah saya. Selain indah, kupu-kupu ini juga membantu saya melakukan penyerbukan bunga-bunga jeruk dan  tanaman lain milik saya. Sungguh saya sangat menyukai kupu-kupu.

Tiba-tiba masuk ke dalam pikiran saya. Mengapa saya menyukai kupu-kupunya tetapi tidak mau menyukai ulatnya? Bukankah ulat dan kupu-kupu itu satu paket?. Kupu kupu ada karena ada ulat sebelumnya. Ia adalah mahluk yang sama dengan sebelumnya yang bermetamorfosis. Ia merugikan saat menjadi ulat. Namun membayarkan kembali keuntungan berganda bagi pohon jeruk itu di kemudian hari ketika ia menjadi kupu kupu. Pertanyaan itu membuat jeda lalu lintas pikiran di kepala saya sejenak. Kosong dan hening.

Kekosongan yang jernih, yang memberi saya kesadaran bahwa segala sesuatu di alam ini memang sudah tersedia dalam satu paket yang meminta kita untuk menjalaninya dengan penuh totalitas. Jika kita menyukai kupu-kupu, tidaklah adil jika kita hanya menyukai keindahan kupu-kupunya tetapi membenci ulatnya. Karena kupu-kupu tak akan pernah ada jika tidak ada ulat. Demikian juga halnya dengan yang lain dalam kehidupan.

Tak bisa kita hanya menginginkan seuah kesuksesan jika kita tidak mau dan tidak suka berusaha keras.  Karena sukses tidak pernah datang jika kita tidak berusaha keras. Karena sukses dan usaha disediakan oleh kehidupan dalam satu paket.

Demikian juga ketika kita menginginkan kebahagiaan dan keharmonisan dalam sebuah hubungan. Nyaris tidak mungkin akan kita bisa dapatkan jika kita sendiri hanya ingin dimengerti namun tidak mau mengerti keadaan orang lain. Karena hubungan manusia sesungguhnya merupakan sebuah paket totalitas dalam memberi dan menerima.

Bahkan ketika engkau mencintai mahluk lain dalam hidupmu, cintailah ia dengan penuh totalitas. Bukan hanya ketika ia indah dan cemerlang laksana kupu-kupu engkau mencintainya. Tetapi juga ketika ia terlihat buruk rupa dan tak berdaya bagaikan ulat. Alam menyediakannya sebagai sebuah paket.

Ulat itu masih terdiam.  Saya menyentuhnya dengan ujung jari telunjuk saya. Rupanya ia terbangun dari tidurnya dan mulai bergerak perlahan. Saya senang melihatnya. Hati saya bahagia.

Semoga damai di hati, damai di bumi dan damai bagi seluruh alam semesta beserta sekalian mahluk hidup di dalamnya.

Mangga Yang Terakhir.

Standard

Musim mangga sebentar lagi akan habis. Biasanya digantikan dengan musim rambutan. Saya melihat masih ada dua buah mangga bergelantungan di pohon milik tetangga. Jadi teringat akan dua buah mangga yang saya dapatkan dari kantor beberapa waktu yang lalu.

Di halaman kantor tempat saya bekerja ada sebatang pohon mangga gedong. Suatu kali saya mendongakkan kepala ke pohon mangga ini karena saya mendengar suara burung berkicau. Saya pikir ada burung yang sedang menclok di dahannya. Burungnya tidak kelihatan oleh saya. Tapi saya melihat ada dua buah mangga bergelantungan.

“Ibu belum pernah kebagian mangga ya ?Saya petikin ya buat ibu?” tanya Pak Satpam.  “Ada buahnya rupanya?” kata saya. Rasanya saya baru memperhatikan ya. “Wah..banyak Bu.  Sudah pada dipetikin anak-anak. Ini sih buah yang terakhir. Tinggal cuma 2 biji. Buat ibu saja. Kali pengen rujakan” katanya. Oo begitu ya. Saya mendongak. Sebenarnya mau juga sih. Kayanya seger juga buahnya.Tapi pohon mangga itu tinggi. Dan tempat 2 buahnya bergantungan itu juga lumayan tinggi. Bagaimana cara memetiknya ya. Tidak ada tangga. Juga tidak ada galah saya lihat. Masak Pak Satpam harus memanjat-manjat ?. Intinya tidak bisalah!. Karena tidak ingin merepotkan, saya pun bilang tidak usah dan terimakasih atas tawaran Pak Satpam yang baik hati. Lagipula saya buru-buru harus pergi. Jadi saya bersiap masuk ke kendaraan.

Tapi entah bagaimana mulainya, tiba-tiba Pak Satpam memanggil Pak Supir yang tubuhnya kurus kecil dan ringan untuk naik ke bahunya. Hap!. Iapun melompat ke bahu Pak Satpam. Lalu Pak Satpam berdiri. Hoiii jadi kaya pemain akrobat. Sungguh saya kaget. Pak Satpam lalu berjalan mendekat sehingga posisinya berdiri tepat di bawah buah mangga itu. Pak Supir pun mengambil buah mangga terakhir dari pohon itu dengan mudah. Tanpa memanjat. Tanpa memakai tangga. Tanpa menggunakan galah. Mangga itu lalu diberikan kepada saya. Cepat dan praktis.Keren!. ha hah. Jadi bisa ya sebenarnya?

Saya pikir ini adalah salah satu contoh bagus yang disodorkan di depan mata saya secara langsung. Bahwa sebenarnya apa yang awalnya saya pikir tidak bisa dilakukan ternyata bisa dilakukan dengan mudah,  jika kita mau memikirkan cara alternatif yang kreatif  dan beda dari cara yang biasa.

Dalam menjalani hidup dan melakukan pekerjaan kita sering dihadapkan pada kebuntuan. Segala jalan alternatif yang ada sudah kita coba, tapi hasilnya tidak memuaskan. Buntu, seolah tak ada jalan keluar lagi. Kita pun berputus asa dan cenderung menarik diri. Ah, sudahlah!. Nggak usahlah dilanjutkan!. Susah soalnya.

Tapi ketika kita berusaha sabar sedikit, ambil waktu dan mulai memikirkan hal-hal lain dan berbeda dari biasanya, apa yang tadinya kita pikir sebagai jalan buntu itu sebenarnya tidak selalu benar-benar buntu. Bisa jadi sebenarnya masih ada jalan alternatif yang tidak biasa yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Jika memang ada jalan keluar ,mengapa kita tidak melihat sebelumnya? Itu pertanyaan berikutnya.

Saya pikir kita tidak mampu melihatnya karena kita membatasi pikiran kita pada jenis jalan keluar yang biasa-biasa saja. Kita tidak pernah berpikir akan ada jenis jalan keluar yang sangat berbeda dari apa yang ada di dalam pikiran kita.  Itu sama dengan saya ketika Pak Satpam menawarkan untuk memetik mangga untuk saya. Yang ada di dalam pikiran saya saat itu, hanyalah cara-cara umum orang bisa memetik mangga, yakni  dengan cara memanjat pohonnya (saya pikir Pak Satpam akan repot banget jika memanjat),lalu dengan  menggunakan tangga atau menggunakan galah yang panjang (yang mana saya tidak melihat dua benda itu ada di sana). Jadi kesimpulan saya sebelumnya, mangga itu tidak bisa dipetik.

Tidak ada dalam pikiran instant saya bahwa buah mangga yang tinggi bisa dipetik dengan membopong orang lain yang lebih ringan dari kita untuk mengambil buahnya langsung. Walaupun saya tahu itu bisa, tetapi pada saat itu hanya tidak terpikirkan saja oleh saya. Hanya karena saya tidak memikirkan cara itu,bukan berarti cara alternatif itu tidak ada bukan?

Wah… dari kejadian ini, bukan hanya buah mangga saja yang bisa dipetik, tetapi  saya sekaligus juga bisa memetik pelajaran berharga dari Pak Satpam dan Pak Sopir. Seolah-olah memberi tahu saya: Ayo tetap semangat! Jangan pernah mandek!. Cari jalan alternatif yang lebih kreatif dan inovatif!.

Pelajaran yang sangat penting. Terimakasih Pak!.

Doa Orang Yang Teraniaya.

Standard

wpid-img_20151021_075015.jpgRasa kesal, marah dan benci terkadang muncul di hati kita manusia. Banyak yang mungkin menjadi pemicunya. Bisa jadi berasal dari diri orang yang membuat kita marah itu. Bisa juga berasal dari diri kita sendiri.

Yang berasal dari kesalahan yang dilakukan oleh orang lain terhadap kita, misalnya  jika orang itu berkata ketus pada kita. Atau menggossipkan kita di belakang. Melecehkan kita. Selalu kepo dan mencari gara-gara dengan kita. Mengkhianati kita. Bersikap sombong. Memfitnah kita. Mengambil hak kita tanpa ijin. Melakukan kekerasan fisik pada kita. Dan sebagainya. Rasa tidak suka kita terhadap orang itupun  muncul. Tentu dengan level ketidaksukaan yang bergradasi. Mulai dari level agak tidak suka-tidak suka-sangat tidak suka-amat sangat tidak suka dan seterusnya berkembang menjadi rasa benci.

Rasa benci kadang dipicu oleh hal lain yang sebenarnya bukan karena ia berbuat sesuatu yang salah atau jahat terhadap kita, tapi justru berasal dari diri kita sendiri. Misalnya karena melihat orang lain sukses kita iri.  Melihat orang lain yang sangat kolokan diladeni, kita juga ingin diperhatikan lebih. Atau karena melihat gaya bicara, tingkah laku orang itu kita tidak suka. Atau gara-gara mengetahui kejumawaan seseorang yang sebenarnya tidak merugikan kita juga. kita tidak senang. Dan lain sebagainya.

Banyak ya faktor faktor pemicu  yang menyebabkan rasa benci bisa bersemai di hati kita manusia. Tidak usah jauh-jauh. Jika kita tengok di dunia maya, sering sekali kita mendengar kata ‘Haters’ alias para pembenci. Ada hatersnya Pak Jokowi, hatersnya Pak Prabowo, hatersnya Haji Lulung,  hatersnya Pak Ahok, hatersnya Agnes Monica, hatersnya Ahmad Dani dan banyak lagi haters lain. Haters partai politik tertentu. Haters club olah raga tertentu. Haters agama tertentu, bahkan haters bangsa tertentu. Kalau kita iseng iseng menscroll-down komentar-komentar haters ini, sungguh membuat kita geleng-geleng kepala akan level kebencian yang mungkin menghuni diri seseorang. Sangat memprihatinkan.

Sekarang  pemerintah mulai menggulirkan Undang-undang yang akan menjerat jika kita suka menebar kebencian. Saya rasa itu akan sedikit membantu mengurangi ekspresi kebencian, walaupun saya juga tidak begitu tahu bagaimana akan peliknya dalam mengeksekusi.

Namun terlepas dari Undang-Undang itu, barangkali yang lebih penting bagi diri kita adalah bagaimana kita sendiri berusaha meredam atau setidaknya mengurangi rasa kesal, rasa marah dan benci di dalam hati kita masing-masing. karena sebenarnya, apapun penyebabnya kita tidak pernah diuntungkan jika rasa kesal,marah dan benci ini ada di hati kita.

Ketika kita marah pada seseorang, seketika itu fisiologi tubuh kita terganggu.Seringkali kita merasakan aliran darah makin deras ke jantung. Makin deras ke kepala. Jika diukur, tekanan darah kita juga meningkat. Kepala kita pusing. Tidak enak makan. Susah tidur.  Akibatnya kesehatan kitapun berada dalam resiko. Lah.. terus yang rugi diri kita sendiri dong? Sementara orang yang kita benci mungkin saat ini sedang menikmati hidupnya dengan jauh lebih sehat dari kita.

Kadang-kadang ketika marah, kita langsung mengomel. Sebenarnya ini juga kurang menguntungkan. Karena ketika kita mengomel-ngomel, sungguh wajah kita tidak ada menariknya sama sekali. Kecantikan kita pergi saat kita mengomel. Jadi bukan pilihan juga ya.  Selain itu orang lain yang melihat kita mengomel dan tidak tahu duduk permasalahannya bisa jadi akan memiliki image buruk di kepalanya tentang diri kita.

Yang lebih parah lagi, jika saking marahnya merasa teraniaya, lalu kita menyumpahin orang itu. Kita berlindung pada kalimat bijak yang mengatakan bahwa ‘Doa yang keluar dari orang-orang yang teraniaya pasti akan dikabulkan’. Contohnya adalah doa ibu Malin Kundang. Waktu kecil kita membaca tentang dongeng ini. Bahwa ibu Malin yang teraniaya oleh kesombongan dan  kedurhakaan anaknya tak mampu lagi membendung kepedihan hatinya. Akhirnya ibu Malin Kundang berdoa agar anaknya yang durhaka itu dihukum dan dijadikan batu. Walhasil,.. badai petir dan gelombang yang dahsyat menghantam kapal si Malin yang durhaka. Kapalnya pecah dan kandas. Si Malin akhirnya menjadi batu.

Terlepas benar tidaknya kisah ini (namanya juga dongeng), cerita ini memang berhasil mengajarkan jutaan anak-anak Indonesia agar tidak berbuat durhaka terhadap orang tuanya. Tetapi saya yakin dongeng ini tidak bermaksud mengajarkan kita “Jika kamu teraniaya doakanlah orang yang menganiayamu agar sesuatu yang buruk terjadi padanya“.

Ketika orang lain berbuat buruk,berbuat jahat terhadap kita, tentu Tuhan akan melindungi kita dan mengabulkan doa kita karena kita berada di posisi sebagai orang baik. Kita tidak berpikiran buruk, tidak berkata buruk dan tidak berbuat buruk terhadap orang lain. Namun begitu kita mulai mengucapkan sumpah dan doa agar orang lain mengalami sesuatu yang buruk, maka timbangannya sekarang berbalik. Mendoakan orang lain mengalami hal buruk adalah sesuatu yang jahat. Kalau begitu, sekarang penjahatnya pindah dong? Bukan lagi orang yang membuat kita sengsara dan teraniaya, tetapi  penjahatnya sekarang justru diri kita sendiri.

Dalam sekejap, kita yang tadinya baik langsung menjadi jahat. Dan tentu saja Tuhan tidak mengabulkan doa orang jahat.

Poin saya di sini, adalah bahwa jarak kebaikan dengan kejahatan itu sangat dekat letaknya. Orang tua di Bali mengatakan “Ragadi musuh meparo. Ring ati tonggwanya tan madoh ring awak” – yah.. terjemahan cepat dan bebasnya adalah musuh terbesar itu ada di dalam hati kita sendiri.

Semuanya ada di dalam hati kita. Dan dengan mudah ia bisa bertukar rupa. Jika kita ingin tetap baik, dibutuhkan hati  yang kuat agar kebaikan kita tidak cepat berubah menjadi kejahatan.

Jika mau berdoa, doakanlah sesuatu yang baik, untuk diri kita sendiri dan juga untuk orang yang telah mendzolimi kita. Misalnya doakan agar hatinya senang sehingga ia sibuk dengan dirinya dan tidak ingat untuk menjahati kita. Atau misalnya jika ada yang berbuat jahat terhadap kita di kantor dan kita sudah tidak tahan lagi berada di dekatnya, doakan agar ia mendapat promosi jabatan di perusahaan lain sehingga tidak menjahati kita lagi. Atau jika hati kita tidak ikhlas ya…tidak usah didoakan apa apalah.
Memelihara rasa kesal, marah dan benci rupanya lebih banyak memberikan kerugian bagi diri kita sendiri. RUGI!. Mungkin cara terbaik adalah dengan berusaha keras menyelesaikan masalahnya. Jika pun kita tak mampu menyelesaikannya dengan baik, mungkin kita harus memaksa diri kita agar segera melupakannya. Agar kita bisa melangkah ke depan dengan riang kembali.

Rasanya memang lebih mudah ngomong daripada mempraktekannya ya… Tapi mari kita sama-sama mencoba. Karena kalau kita tidak mulai mencoba lalu bagaimana kita akan berhasil?

Ayo kita move on!.