Tag Archives: Renungan

SEGELAS AIR PUTIH.

Standard

Belakangan ini, matahari bersinar sangat terik setiap hari di Jabodetabek. Membuat jadi malas keluar rumah.

Ingin membersihkan daun-daun teratai yang menguning di halaman depan, rasanya kok malas sekali. Pipi rasanya gosong. Demikian juga saat ingin membereskan tanaman kailan yang menua di instalasi hidroponik, rasanya juga malas banget. Mau masak malas, mau cuci piring apalagi.

Seandainya saja ada Kompetisi Kemalasan Nasional dan misalnya saya jadi pemenangnya, barangkali untuk mengambil pialanya saja pun saya enggan, saking malasnya 😀. Sungguh. Malas rasanya mau ngapa-ngapain. Sungguh sinar matahari ini sangat terik dan membuat lelah.

Terlebih ketika saya merasa kurang enak badan, kepala belakang sedikit nyeri dan nggak nyaman. Kebetulan libur, jadi saya hanya berbaring saja di tempat tidur. Leyeh-leyeh saja. Sambil lihat-lihat Sosmed dan chat di WA.

Pas lagi bermalas-malasan begitu, seorang teman melemparkan ide di chat, untuk menggunakan hiasan topi papua – ikat kepala cantik yg dibuat dari bulu-bulu unggas saat besoknya mau ikut lomba 17 Agustusan. Wah… saya pikir idenya boleh juga ini.

Seketika saya melakukan searching topi papua dan menemukan sebuah toko yang menjual dan bisa mendeliver dengan cepat. Okay, saya setuju untuk membayar lebih agar bisa terdeliver hari ini. Lokasinya di Bekasi. Saya menyelesaikan pembayaran dengan cepat dan yes!. Tinggal tunggu barangnya datang.

Beberapa jam kemudian, seseorang mengetok pintu depan. Saya mengintip dari jendela. Rupanya seorang pria dari bagian pengiriman mengantarkan topi bulu yang saya order.

Buru-buru saya mengenakan masker, lalu keluar dan meminta pria itu meletakkan barang orderan saya itu di salah satu kursi di teras depan. Saya berusaha menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengannya. Buat jaga-jaga saja, mengingat saya ini penyandang co-morbid dan belum divaksin pula. Tak pernah ada yang tahu, secepat apa penularan bisa terjadi dan bisa saja dari orang-orang yang tak menunjukkan gejala yang sempat kontak dengan kita.

Pria itupun meletakkan barang itu seperti permintaan saya. Maksud saya, nanti setelah ia pergi, pembungkus barangnya akan saya semprot dulu dengan Maxkleen disinfectant spray, barulah akan saya buka.

Saya mengucapkan terimakasih. Tetapi pria itu tampak terdiam di dekat pagar.
Saya menunggunya pergi. Beberapa saat ia hanya terdiam. Sayapun ikut terdiam.

Tetapi saya memperhatikan wajahnya. Tampak pucat. Keringat bercucuran di dahi dan lehernya. Kelihatannya ia kurang sehat. Tangannya agak gemetar.

“Ibu, boleh saya minta air putih” katanya agak tersendat.

Ooh… orang ini kayaknya mengalami dehidrasi. Mengapa saya tidak sensitive dari tadi ya. Bukannya menawarkan minum, malah menunggu sampai orang itu meminta. Betapa tidak pekanya saya ini.

Seperti diingatkan, saya buru-buru masuk ke dalam untuk mengambil air putih. Lalu menyodorkan kepadanya. Ia meminumnya dengan gemetar. Saya merasa trenyuh melihatnya.

Ia pun bercerita tentang perjalanannya dari Bekasi di ujung timur ke Tangerang Selatan yang letaknya di wilayah barat dibawah terik matahari. Kepanasan dan kehausan, dan ia belum sempat makan, hingga merasa sakit kepala dan limbung.

Sebenarnya ingin hati saya menyuruhnya masuk ke dalam, mengingat halaman depan saya cukup panas. Mungkin jika ia saya suruh istirahat di dalam setidaknya udara ruangan yang sejuk karena AC akan membantunya lebih cepat pulih kembali.

Tetapi kali ini saya agak ragu. Pertama karena musim pandemi begini, saya harus sangat berhati-hati jika kontak dengan orang lain. Siapakah yang tahu orang ini bebas dari virus atau tidak. Sementara saya beresiko tinggi jika sampai tertular.

Selain itu saya hanya sendirian di rumah. Apakah cukup aman jika saya membiarkan orang lain masuk ke dalam rumah saat tidak ada satupun orang lain di rumah. Siapa yang tahu orang ini berniat baik atau bisa saja punya niat tersembunyi.

Tapi orang ini terlihat sangat kelelahan dan menderita. Sejenak saya bimbang. Bathin saya bertengkar. Saya merasa sangat iba, tapi di sisi lain, saya juga harus waspada. Saya ingat pesan Bapak saya untuk selalu berhati-hati, di manapun berada. Karena hanya kewaspadaanmu sendirilah yang akan berhasil menyelamatkan dirimu sendiri.

Akhirnya saya sarankan agar ia istirahat di teras depan saja. Toh angin juga mulai bertiup dan membawa udara segar melintas.

Ia menjawab, “Terimakasih Ibu. Tidak usah. Ijinkan saya berteduh di bawah pohon ini saja sebentar dulu” katanya, sambil menepi di bawah pohon kersen.

Ooh…dia malah bilang tidak usah di teras pun. Mungkin orang baik-baik.

Lalu saya ingat, jika tadi ia ada bilang belum sempat makan. Saya mengambilkan beberapa buah pear dari atas meja makan , mencucinya dan memberikan untuknya, agar bisa langsung dimakan. Sayang saya sedang tidak punya makanan lain. Gara-gara tadi tidak memasak. Mudah-mudahan bisa membantunya.

Sesaat kemudian orang itu pamit. “Terimakasih ya Ibu. Gelasnya saya taruh di atas pagar” katanya sambil melambaikan tangannya. Sayapun membalas lambaian tangannya.

Saya mengambil gelas air putih di atas pagar di bawah pohon kersen itu.

Angin menggerakkan dahan-dahan pohon kersen. Udara mengalir dengan sangat baik. Sesungguhnya udara di halaman saya ini tidak terlalu panas ketimbang di udara jalanan.

Namun anehnya, segitu aja saya tadi sempat mengeluh, tidak melakukan apa-apa dan bermalas-malasan. Padahal ini sungguh tidak ada apa-apanya ketimbang keadaan Bapak pengantar barang tadi itu yang harus berjuang di bawah terik matahari, menahan lapar dan haus demi bisa mengantarkan “topi papua” itu ke rumah.

Sementara udara sesungguhnya tidak terlalu panas di halaman karena ada pohon penaung. Saya masih bisa beristirahat di ruangan yang ber-AC. Masih bisa makan dan minum dan bersantai.

Dimanakah rasa syukur saya, atas segala kemudahan dan kenikmatan hidup yang saya miliki.

Segelas Air Putih ini, seolah mengingatkan.

SEPATU BOOTS UNTUK TUKANG SAYUR.

Standard

Penampilan diri di depan publik adalah suatu hal yang penting bagi setiap orang. Ya, setidaknya kita perlu tampil rapi, bersih dan terawat, agar kita merasa nyaman dan orang lain yang bertemu kitapun ikut nyaman.

Berangkat dari sini, banyak orang kemudian melakukan usaha lebih untuk mengoptimalkan penampilannya seperti memakai make up, hair do, menggunakan parfum dan sebagainya. Lebih jauh lagi, menyesuaikan pakaian, tas dan sepatu sesuai dengan kondisi, trend masa kini dan menggunakan merk-merk terkenal untuk meningkatkan image dan prestise-nya.

Secara umum, saya sendiri tentunya serupa. Berupaya agar bisa tampil dengan baik di depan umum. Bersih dan terawat. Tetapi saya kadang rapi, kadang kurang rapi. Dibanding wanita lain, secara relatif saya memiliki ketertarikan yang kurang terhadap pakaian.

Saya jarang membeli pakaian. Apalagi tas dan sepatu. Kalaupun lemari pakaian saya kelihatan penuh, tetapi sebagian sudah tak bisa dipakai dan usang, karena semua itu adalah koleksi sejak puluhan tahun lalu. Saya jarang membuang atau menghibahkan pakaian saya. Karena setiap pakaian memiliki kenangan.

Daster atau pakaian lainnya jika robek, biasanya saya jahit dan pergunakan lagi. Demikian juga sepatu. Saya biasanya menggunakan sepatu untuk jangka waktu yang panjang. Hanya setelah benar-benar sobek atau butut, barulah saya membeli yang baru.

Suami saya menganggap saya bukanlah wanita yang modis atau berpenampilan keren. Karena itu kadang-kadang ia membantu saya membelikan baju-baju, tas dan sepatu. Tentu dengan maksud agar penampilan istrinya bisa lebih keren dan kece. Atau mengikhlaskan baju-baju kemejanya saya pakai jika perlu.

Bekakangan ini entah kenapa dia hobby banget membelikan saya barang-barang yang menurut dia adalah kebutuhan saya. Mungkin karena kemudahan memilih dengan belanja online.

Tiba-tiba saja dia membelikan saya dompet baru dan mengatakan dompet yang saya pakai sudah tua dan layak diganti. Emang sih umurnya sudah lebih dari sepuluh tahun. Lalu ia membelikan saya tas, karena dilihatnya saya sering menggunakan ransel anak saya yang tidak terpakai untuk ke kantor. Terakhir ia merasa sepatu saya sudah usang dan itu-itu saja.

Ya sih. Saya suka menggunakan boots yang ringkas dan nyaman di kaki. Sudah saya pakai sejak 5 tahun yang lalu dan tak pernah saya ganti. Saya pakai ke kantor, ke mall, ke pasar, ke mana saja. Kecuali jika perlu banget berpakaian resmi, misalnya pakai kain kebaya, barulah saya ganti dengan high-heels.


Sesekali saya lap, bersihkan dan saya semir. Menurut saya sih masih layak banget dipakai. Karena bahannya kulit dan tidak ada kerusakan sama sekali. Jadi saya tidak merasakan urgensi dalam membeli sepatu baru.

Suami saya menunjukkan beberapa model sepatu boots yang dijual di toko-toko online. Barangkali ada yang saya sukai. Hm.. sebenarnya tidak ada yang cocok banget. Saya menggeleng.

Beberapa bulannya kemudian, dia menunjukkan kembali katalog sepatu boots di toko online. Kali ini modelnya cukup mirip dengan sepatu usang saya, tetapi kelihatannya agak ribet. Ada strap, tali dan restleting. Sedangkan sepatu usang saya cukup hanya restleting samping saja. Walaupun harganya cukup mahal, tapi ini lagi ada promo. Jadinya harganya miring. Setengah harga. Okey. Jadi saya setuju dengan pilihannya.

Akhirnya sepatu boots baru itupun datang. Saya mencobanya. Ya seperti diduga, modelnya mirip dengan sepatu yang sekarang tapi agak lebih ribet aja. Tapi saya pakai juga buat ke kantor.
Nggak ada teman saya yang ngeh jika sepatu saya baru 😂😂😂 . Sehari dua hari saya pakai, lama-lama saya jadi ingin memakai sepatu yang lama lagi. Apa pasal?


Saya punya kebiasaan buruk, jika duduk mengeluarkan kaki saya dari sepatu. Lalu memasukkannya lagi jika mau berjalan. Karena kaki saya mudah merasa kepanasan di dalam sepatu. Jadi perlu sepatu yang simple agar mudah memasukkan dan mengeluarkan kaki saya.


Nah…sepatu yang ini ribet banget. Sudah ada restletingnya, ada talinya juga dan ada strapnya lagi. Untuk mengeluarkan kaki, minimal saya harus membuka restleiting dan strapnya.


Lalu untuk memasukkannya pun sama. Minimal harus menutup restleting dan strap. Untung talinya tidak harus selalu dibuka dan diikat ulang.


Diam-diam sayapun mengganti sepatu itu dengan sepatu saya yang usang. Yang lebih nyaman di kaki saya.

Suami saya rupanya mengetahui ini dan kadang-kadang menanyakannya kepada saya. Sayapun kadang-kadang memakainya lagi jika ditegur suami saya. Tetapi berikutnya kembali lagi saya gunakan sepatu butut kesayangan saya itu.

Semalam, suami saya bertanya lagi. Mengapa sepatu pemberiannya tidak pernah saya pakai. Sayapun menjawab jika sepatunya sebenarnya kurang praktis. Kaki saya suka kepanasan dan ribet mengeluarkan-memasukkannya kembali.

Suami saya tersenyum mendengar alasan saya. Lalu ia berkata,

“Baiklah. Kalau begitu besok sepatunya kita kasih ke tukang sayur saja ya. Barangkali ia lebih memerlukannya”.

Saya tertawa dengan gurauan suami saya. Lalu saya menjawab,

“Sepatu Boots Untuk Tukang Sayur. Besok saya tulis di blog. Kelihatannya menarik ini” kata saya.
Sebenarnya ada rasa nggak enak.

Lalu suami saya menjawab dengan tersenyum,


” Tulislah! Agar kamu bisa menyadari dan menghargai pemberian orang lain. Betapa orang yang memberikan sesuatu kepada orang yang disayanginya itu dengan tulus, sesungguhnya ingin agar pemberiannya itu dipakai”.

Saya terdiam. Lalu diam-diam ke kamar mandi. Air mata saya bercucuran. Ooh.. alangkah jahatnya saya pada suami saya selama ini. Ia telah bersusah payah mengumpulkan setiap rupiah penghasilannya agar ada yg bisa dihadiahkannya kepada saya dan anak-anaknya dengan tulus. Tetapi saya kurang menghargai pemberian dan usahanya selama ini.

Semoga Tuhan mengampuni.

GPS & Otak Yang Tak Terlatih Lagi.

Standard

Saat ini GPS alias Global Positioning System sudah sangat umum digunakan untuk membantu kita menentukan arah ke tujuan ataupun memahami di mana posisi kita berada.  System ini sangat mudah kita temukan di telpon genggam yang kita pakai, di pesawat, dan bahkan banyak kendaraan generasi baru juga sudah memiliki GPS yang terpasang di dalamnya. Ini tentu sangat memudahkan kita, terutama saat sedang dalam perjalanan.

Kapan hari saya juga menggunakan GPS ini untuk mencari lokasi Agen pengiriman barang terdekat. Saat itu sedang bepergian ke Denpasar bersama adik saya yang nomer tiga. Kami berada di area Renon. Di sekitar jalan Badak Agung. Di tengah jalan saya keingetan jika perlu mengirim  paket. Jadi saya bilang ke adik, untuk mencari agen pengiriman terdekat , entah itu JNE, JNT, Sicepat dan sejenisnya.
“Coba search saja” kata adik saya. Sayapun melakukan searching dan dengan cepat bisa menemukan lokasi Agen perjalanan yang saya cari.
Saya langsung memberi tahu adik saya alamat Agen itu.

“Coba bantu dengan GPS,” kata adik saya. Oh.. padahal dekat. Kenapa harus pakai GPS, pikir saya. Selain itu juga ia tumbuh dan besar di Denpasar. Harusnya sangat mudah baginya untuk mencari lokasinya.

Demikian juga setelah selesai dengan urusan pengiriman barang dan kami bermaksud pulang ke Bangli. Lagi-lagi kami mengandalkan GPS.

Adik saya lalu bercerita, jika ia sudah terlalu sering menggunakan GPS belakangan ini, sehingga jadi terbiasa dan males juga mikir jika harus mencari sebuah lokasi. Kalau dulu sebelum ada GPS ia hapal dan tahu persis peta area Renon, Denpasar dan sekitarnya. Karena tak punya pilihan, harus menghapal dan mengingat setiap jalan yang dilalui. Sejak ada GPS, ia tak perlu banyak berpikir lagi, karena GPS yang sudah memikirkan, dimana lokasi yang mau dituju dan bagaimana cara terdekat menuju ke sana.

GPS di satu sisi sangat membantunya menjadi cepat dalam mencari sebuah lokasi, tapi di sisi lain juga membuatnya malas berpikir, manja dan bisa dibilang… menjadi bodoh akan peta area, karena kemampuan alias Orientation skill-nya tidak lagi terasah dengan baik.

Bener juga ya. Saya jadi ikut merenungkan cerita adik saya itu.

Teori evolusi mengatakan, mahluk hidup cenderung akan menghilangkan organ-organ dan kemampuannya yang tidak dipergunakan lagi.

Contohnya nih, jaman dahulu manusia dikatakan memiliki ekor. Tetapi karena manusia sudah berhasil berdiri dengan seimbang dan bahkan berjalan dan berlari stabil dengan dua kaki , maka ia tidak lagi membutuhkan ekor sebagai organ penyeimbang. Demikian juga fungsi ekor sebagai alat komunikasi. Tidak lagi dibutuhkan, karena kemampuan manusia berkomunikasi dg organ lain sudah sangat berkembang. Akibatnya , lama kelamaan ekornya  menghilang. Karena tak berguna. Tinggal sisa-sisa tulang ekor yang mengalami rudimenter.

Demikian juga Ular memiliki kaki jaman dulu. Tapi gara-gara keseringan ngesot, kakinya tidak dibutuhkan lagi akhirnya mengalami rudimenter dan menghilang. Sesekali kita masih menemukan sisa-sisa tulang kaki pada ular tertentu.

Pada kenyataannya kemampuan lain manusia juga mengalami hal yang sama.  Saya ingat jaman dulu belum ada kalkulator. Menghitung tambah, kurang, kali, bagi, kwadrat, rasanya bisa kita lakukan dalam hitungan detik saat SD dan SMP. Begitu guru menyelesaikan kalimat pertanyaannya, secepat itu juga kita bisa mengangkat jari telunjuk ke atas agar bisa ditunjuk Guru untuk menjawab. Tapi sekarang ?

Bahkan hitungan yg mudahpun terkadang saya butuh waktu panjang untuk menjawab. Kenapa?. Ya itu. Karena saya sudah menggantungkan diri pada kalkulator atau Excel. Tidak pernah lagi mengasah otak saya untuk berhitung. Dan ibaratnya pisau, jika tak diasah ya lama -lama tentu semakin tumpul. Kemampuan berhitung saya mengalami rudimenter wk wk wk .

Nah sekarang datang lagi GPS. Jika suatu saat kita menjadi sangat tergantung padanya, maka kemampuan kita memetakan area di sekitar akan menjadi semakin kurang dan kurang.

Pada suatu ketika nanti, manusia akan menjadi terlalu manja, terlalu bergantung atau bahkan mungkin akan disetir oleh benda ciptaannya sendiri.

Kisah Si Belalang. Dikasih Hati Minta Jantung.

Standard

Kapan hari saya ada bercerita tentang 2 ekor belalang di halaman rumah saya. Saya membiarkannya tinggal di halaman, karena saya pikir ia cuma mengambil sebagian kecil saja dari tanaman sayuran saya. Memberikan sedikit bagian dari yang saya miliki, toh tidak akan membuat saya jatuh miskin juga.

Dan sayapun bukan termasuk ke dalam golongan mahluk yang merasa berderajat tinggi yang tidak mau memakan sisa mahluk lain. Saya tidaklah keberatan untuk memakan sayuran sisa hasil gerogotannya. Yang penting nanti dicuci bersih dan bebas kuman.

Jadi santai-santai saja ya. Relax.

Tapi siang ini, lagi iseng-iseng lihat tanaman sayuran yang hampir habis masanya, tiba-tiba saya melihat puluhan anak belalang menclok di pucuk-pucuk pohon bayam dan kangkung. Astaga!!!. Mereka asyik menggerogoti daun-daun sayuran. Jadi pada bolong dan rusak. Ada beberapa puluh ekor. Sehingga kerusakan tanaman sayuran itu pun mulai terasa. Karena ada 7 ekor merusak di sini, 5 ekor merusak di sana dan di sana, 3 ekor di sana, di sana dan di sini, ada juga yg cuma 2 ekor tapi di mana-mana. Banyaaak sekali.

Saya membayangkan beberapa hari ke depan, setelah puluhan anak-anak belalang ini membesar. Apa yg akan terjadi ?. Mungkin tak cukup sayuran tersedia dari tanaman yang saya tanam di pekarangan yang sempit ini.

Belalang yang tadinya cuma dua ekor, dikasih tinggal di kebun dan disediakan sumber makanan yang cukup, sekarang malah beranak pinak sedemikian banyak dan meninggalkan tanda-tanda kerusakan kebun yang semakin nyata. Belalang ini namanya “dikasih hati malah minta jantung”. Tak sanggup saya menanggung hidup puluhan belalang di kebun halaman saya yang sempit ini.

Kadang jika terlalu baik sama orang lain, bisa jadi masalah “dikasih hati minta jantung” seperti ini menimpa kita juga.

Misalnya nih ya, melihat orang lain kesusahan atau kesulitan keuangan, kita berusaha menyisihkan uang dengan mengirit-irit pengeluaran dan mengorbankan keperluan kita demi bisa membantunya. Sekali kita kasih. Dua kali kita kasih lagi. Lama-lama dia menyangka kita ini banyak duit dan dengan entengnya minta uang lagi untuk ini dan itu dan memberikan list keperluannya pada kita. Lah ?!

Padahal waktu kemarin anak kita minta dibelikan sepatu baru gara-gara jempolnya sudah mentok dan membuat lubang di ujung sepatunya masih kita suruh sabar dulu. Atau saat adik kita minta bantuan kekurangan buat bayar SPP anaknya, kita malah nyuruh sabar nunggu waktu gajian dulu.

Saya jadi merenung. Kembali melihat ke anak-anak belalang yang jumlahnya sangat banyak ini. Mungkin satu-satunya cara adalah memindahkan anak-anak belalang ini ke tanah kosong di belakang rumah. Di mana di sana ada banyak rumput liar yang tumbuh. Biarlah anak-anak belalang ini berusaha mencari penghidupannya sendiri.

Dengan cara ini, tidak saja saya membantu membuat kebun kecil saya tetap sehat, tetapi juga membuat anak-anak belalang itu terlatih mencari rejekinya sendiri.

Seperti orang tua jaman dulu bilang, “Merthane nak mesambeh, Ning.” , artinya sesungguhnya rejeki itu tersebar di mana-mana. Yang dibutuhkan hanya usaha dan kerja keras kita untuk mendapatkannya.

VASUDHAIVA KUTUMBAKAM.

Standard

Seekor Capung datang ke halaman. Terbangnya sempoyongan mencari tempat istirahat. Mungkin ia terlalu lelah dan mengantuk. Hinggaplah ia di daun pohon pinus yang tinggi dan segera memejamkan matanya.

Sesaat kemudian angin bertiup kencang dan ranting serta daun pinus itu bergoyang hebat. Si Capung terbangun dengan kepala pusing “Hush!. Pergilahlah. Tempat ini terlalu tinggi untukmu” Usir si Pohon pinus.

Dengan sempoyongan Si Capung mencari tempat istirahat yang lebih rendah. Kali ini ia hinggap di bawah daun rumput teki. Begitu hinggap, daun yang lemah itu pun melengkung dan patah. Si Rumput Teki pun menangis “Tubuhmu terlalu berat bagi daunku untuk menyanggamu”.

Si Capungpun pergi dengan merasa bersalah. Terbangnya makin zig zag dan sempoyongan. Sungguh tak mampu lagi ia menahan kantuknya.


Melihat itu, Si Pohon Cabe memanggil “Wahai saudaraku, hinggaplah di rantingku. Beristirahatlah dengan baik”. Si Capungpun segera hinggap dan menggelayutkan tangannya di ranting pohon Cabe dan tidur dengan lelap. Si Pohon Cabe mengawasi dan menjaganya dengan penuh perhatian.


Setelah beristirahat dengan cukup, Si Capung pun bangun. Ia melihat ke sekeliling. Dan baru menyadari jika ia hinggap di ranting mati sebuah pohon Cabe yang sedang sekarat hampir mati karena kekeringan. Kemarau panjang membuatnya kekurangan air. Sebagian dari ranting pohon cabe itu sudah kering dan mati, termasuk ranting yang dihinggapinya.

Lalu bertanyalah ia kepada Pohon Cabe.
“Wahai pohon Cabe, mengapa engkau menawarkan bantuan untukku padahal dirimu sendiri sedang sekarat?”.


Pohon Cabe menjawab, ” Betul aku sedang sekarat, tetapi rantingku yg matipun masih cukup kuat menjadi tempatmu bergantung saat kelelahan. Dan memberikanmu ijin bergantung di rantingku tidak membuatku semakin sekarat. Karena engkau tidak mengambil apapun dari diriku”.


Si Capung merasa takjub dan sangat kagum akan kemurahan hati si Pohon Cabe.

Lalu ia bertanya lagi, “Tapi aku bukan siapa siapamu. Bukan sanak, bukan pula saudaramu. Bagaimana engkau mau begitu saja memberi pertolongan pada mahluk asing yang tidak engkau kenal sebelumnya?”.


“Secara fisik aku memang bukan siapa siapamu. Tetapi semua mahluk yang lahir, hidup dan mati di bumi yang sama ini adalah bersaudara. Kita makan dari tanah yang sama, kita minum dari air yang sama, kita bernafas dari udara yang sama, kita beraktifitas di bawah sinar matahari yang sama. Vasudhaiva Kutumbakam. Semua mahluk adalah bersaudara. Marilah saling menolong. Saling membantu dan saling mendoakan” kata Pohon Cabe. Si Capungpun berterimakasih lalu pamit terbang membubung ke udara.

Saya mengenang kalimat itu. VASUDHAIVA KUTUMBAKAM.
Lalu mengambil bekas air minum saya yang belum habis, dan menyiramkannya ke pohon Cabe.


Pohon Cabe ini telah memberi saya banyak buah dan pelajaran. Saya berterimakasih padanya.

TAT TWAM ASI.

Standard

Seekor ngengat hinggap di tangkai bunga rumput. Bunga yang terdiri atas kelopak, mahkota dan benang sari yang kuning indah serta tangkai yang kuat.

Ia mengambil unsur kehidupan dari dalam tanah dan menyerapnya serta memprosesnya dalam tubuhnya. Dan setiap unsur ini terdiri atas atom yang super kecil , dan setiap atompun masih terdiri dari proton, elektron dan neutron, dan merekapun masih dipecah lagi menjadi partikel quark yg jika dilihat lebih jauh terdiri hanya atas energi yang bergetar terus menerus.

Si Ngengat berpikir, lalu apa bedanya dengan aku? Tubuhkupun terdiri atas sel yang tersusun dari unsur yang sama, atom yang sama, elektron, proton dan neutron yang sama, quark yang sama dan juga getaran energy yang sama.


“Tidak ada bedanya aku dengan dirimu wahai rumput yang berbunga”. Lalu dipeluklah tangkai bunga itu oleh Si Ngengat. Jika engkau bahagia, akupun ikut bahagia. Jika engkau sedih, akupun ikut sedih. Demikian juga jika engkau sehat dan sakit. Aku merasakan yang sama. Begitulah Si Ngengat merasa terhubung dengan Si Rumput.


Saya yang memandangi Si Ngengat dan Rerumputan, ikut merasa terhubung. Terhubung dengan segala mahluk yang hidup di padang rumput itu. Dengan burung burung, pepohonan, dan dengan orang orang yang berlalu lalang. Terhubung dengan seluruh isi kota ini, seluruh penghuni bumi dan alam semesta ini.

Apa bedanya diriku dengan dirimu?. Tidak ada.


Tat Twam Asi.
Aku adalah kamu. 🙏🙏🙏

Kwalitas Karbitan.

Standard

Saya membeli 2 sisir pisang Raja Sereh di pasar. Tampak sudah kuning. Harganya 15 ribu per sisir. Lebih murah dari biasanya. Karena situasi sedang wabah virus Corona, sayapun cepat cepat membayar tanpa menawar lagi dan langsung pergi.

Sampai di rumah, saya makan pisang itu. Ternyata isi pisang sangat kecil dan kurus. Rasanya agak sepet. Ooh.. sekarang saya sadar kemungkinan ini adalah pisang matang karbitan. Pisang yang masih muda, kecil dan hijau, sudah dipetik lalu diperam dengan menggunakan karbit (Calcium Carbida – CaC2) agar cepat matang.

Buah yang dikarbit, kehilangan kesempatan untuk tumbuh dengan optimal. Begitu dipotong, ukurannya tidak bertambah lagi. Ia tetap kecil. Rasanya masih bisa sedikit bertambah manis, namun sisa sisa rasa sepat terkadang belum hilang semua.

Beda dengan buah yang asli mateng bukan karbitan. Pisang ini akan tumbuh denganukuran dan rasa manis yang optimal. Namun sayang, matangnya biasanya tidak bersamaan. Tapi bertahap.

Sebaiknya jika membeli pisang, perhatikan keseluruhan pisang-pisang yang dipajang. Jika pisang dari satu tandan memiliki warna buah yang beragam, bagian atas kuning dan bagian bawah masih ijo, kemungkinan besar pisang itu matang alami.

Tapi jika keseluruhan buah di tandan itu kuning semua, ada dua kemungkinan. 1/.Buah memang matang alami, jika ukuran buahnya normal, seukuran dengan jenisnya. Misalnya jika pisang Raja Sereh, normal ukurannya memang besar. Tapi jika itu pisang Mas, ukurannya kecil.

2/. Bisa juga karena karbitan. Jika semua kuning tapi kecil kecil dibanding jenisnya, sudah tentu itu matang karbitan. Rasa manisnya juga tidak optimal.

Demikianlah adanya pisang kwalitas karbitan. Tampangnya matang tapi ukuran dan rasanya tidak optimal.

Dan kwalitas karbitan ini sesungguhnya tidak terjadi hanya pada pisang, tetapi juga pada jenis buah- buahan lainnya, termasuk kwalitas manusia. Tentu ada juga manusia yang memiliki kwalitas matang alami dan ada juga yang memiliki kwalitas karbitan. Jabatan tinggi, tetapi kwalitas pemikiran kurang strategis dan mengeksekusi pun kurang proffesional.

Mari berenung diri dan seemoga kita tidak termasuk dalam sumber daya manusia yang berkwalitas karbitan.

Tetangga Sebelah Rumah.

Standard

Tetangga sebelahku merenovasi rumahnya. Dia hancur-hancurin itu tembok lamanya, termasuk tembok pemisah dengan rumahku. Akibatnya, rumahku jadi bocor-bocor”. Saya tercengang mendengar cerita teman saya itu. Sangat bisa membayangkan, karena tembok rumah di perumahan biasa, memang terkadang berbagi dengan tetangga. Jadi kalau tetangga mengetok – ngetok tembok kamarnya yang bersebelahan dengan kamar kita hingga hancur, bisa jadi tembok kamar kitapun ikut bolong 😀.

Memang agak pelik ini kalau menyangkut soal TMB (Tembok Milik Bersama 😀) dengan tetangga. Tetapi pengalaman saya dengan tetangga sebelah saya, biasanya kami saling memberi tahu (sekalian minta ijin) jika salah satu melakukan pekerjaan ketok-ketok. Bukan hanya karena harus berhati hati dengan TMB itu, juga karena suara ketak ketok dan gergaji bisa jadi mengganggu ketenteraman telinga tetangga. Belum lagi bahan bangunan yang mungkin malang melintang di jalanan depan rumah.

Emang tetangganya nggak bilang dulu?” Tanya saya. “Nggak. Dia juga ngerjainnya saat saya sedang di kantor. Pagi dan malamnya ia tidak di situ. Jadi saya tidak bisa complaint juga, karena orangnya tidak ada”, katanya.

Saya mengangguk-angguk, kasihan pada teman saya. Kok ada ya orang yang seperti itu?. Tetapi saya tidak bisa berbuat apa apa untuk menolong dia.

Itu adalah salah satu cerita tentang tetangga sebelah rumah yang pernah saya dengar.

Cerita lain, “Tetangga sebelah rumahku sangat sering meninggalkan anaknya di halaman rumahku dan ia langsung pergi begitu saja, dengan harapan Baby Sitter-nya anak aku yang mengurusnya sekalian dengan gratis. Kan ngeselin ya?. Mana perhatian Baby Sitter jadi nggak bisa full ke anakku. Selain itu nanti kalau terjadi apa apa dengan anaknya gimana? Siapa yang mau tanggung jawab?”.

Waduuuuh. Kok ada ya tetangga yang seperti itu? Saya sungguh heran.

Cerita lain lagi; Aku heran dengan tetangga saya. Dia punya garasi luas yang muat dua mobil, tapi anehnya setiap hari kedua mobilnya diparkir di punggir jalan depan rumah. Padahal jalannya sangat sempit. Dan garasinya yang luas itu dikosongin. Jadi aku kan sulit banget ya kalau mau masukin dan keluarin mobil dari garaseku, karena jalanan jadi makin sempit”.

Saya tertawa mendengar curhat teman saya ini. Antara kasihan, heran dan geli mengapa ya kok ada orang yang seperti itu?.

Mendengar cerita-cerita tentang tetangga sebelah rumah ini, saya jadi ikut ikutan latah. Berusaha mengingat-ingat bagaimana kelakuan tetangga sebelah rumah saya sendiri yang bisa saya jadikan bahan obrolan juga. Agak lama saya mikir, karena kelihatannya tidak ada kejadian-kejadian spektakuler yang cukup menarik untuk diceritakan. Saya terus mikir dan mengingat ingat. Tapi tetap tidak ketemu kejadian yang menarik untuk diceritakan tentang tetangga kiri kanan saya. Tidak ada tetangga yang berbakat jadi biang kerok.

Tetapi tiba tiba saya teringat sebuah kejadian….

Suatu hari pembantu rumah tangga saya melapor “Bu, tadi pagi saya ditegur oleh Ibu A (tetangga sebelah kiri rumah saya), itu pohon markisa kita terlalu rimbun menjalar hingga ke dinding dan atap rumah ibu A. Takutnya ular Bu”. Oooh… Iya. Bener juga. Saya terlalu sibuk belakangan ini hingga lupa berbersih dan memangkas tanaman. “Baiklah. Besok Minggu kita bersihkan dan pangkas pohonnya”. Kata saya.

Bulan berikutnya, lagi-lagi si Mbak melapor “Bu, tadi pagi saya ngobrol dengan Ibu B (tetangga sebelah kanan rumah saya), itu pohon timun padangnya menjalar ke rumah sebelah. Buahnya yang sudah tua banyak betjatuhan ke halaman rumah ibu B. Jadi capek katanya membersihkan setiap hari. Boleh dipotongin nggak Bu?” Tanyanya. Waduuuuh… Jadi nggak enak sama tetanggga ini. Sudah lama saya tak sempat mengurus tanaman ini hingga mengganggu tetangga.

Mengingat dua kejadian itu, saya merasa perut saya agak mual. Hulu hati saya enek.

Jadi, jika teman saya bercerita tentang kelakuan tetangganya yang aneh aneh dan mengganggu ketertiban, maka di perumahan saya ini justru sayalah yang menjadi biang kerok pengganggu ketertiban kehidupan bertetangga.

Whuaaa 😢😢😭.

Saya membayangkan jika dua orang tetangga kiri kanan saya ini bercerita ke teman temannya, kemungkinan bunyinya akan begini “Saya heran deh dengan tetangga sebelah saya. Dia hobby banget sama tanaman, hingga tanamannya merambat ke tembok dan genteng rumah saya, bikin kotor dan capek membersihkannya. Belum lagi takut ular. Anehnya dia kok seperti tak peduli dan tidak mau memangkasnya secara berkala. Heran saya kok ada orang yang seperti itu ya?“.

Astaga!!!. Ternyata tetangga pembuat masalah itu adalah saya sendiri 😫.

Ada gunanya juga teman saya curcol tentang kelakuan tetangganya, sehingga saya bisa interospeksi diri saya sendiri.

Ketika Pedas Ketemu Air Hangat.

Standard

Saya sedang makan dengan lauk Telur Ceplok🍳 dan kecap beserta potongan cabe rawit 🌶🌶🌶. Entah karena jenis cabenya yang memang pedas atau jumlah cabenya yang banyak, tumben saya merasa sangat kepedesan sampai merasa perlu segera minum air untuk mengatasinya. Kebetulan sudah ada teh hangat di atas meja. Saya teguk, seketika rasa pedasnya berkurang banyak. Bahkan nyaris hilang sama sekali. Ajaib ya.

Saya jadi memikirkan kejadian ini. Pedas dikasih hangat, membuat pedas menghilang. Sebaliknya dulu saya pernah mencoba, pedas seperti ini dikasih minuman dingin.Teman-teman pembaca pernah mencoba nggak?. Apa yang terjadi ? .

Rasa pedas bukannya hilang, malah semakin menjadi jadi. Pedasnya makin kuat dan makin lama. Bener kan ?.

Jadi kesimpulannya jika kita merasa kepedasan dan ingin menguranginya atau menghilangkannya, jangan minum air dingin. Tapi minum air hangat!.

Saya menggenggam gelas berisi teh hangat dengan kedua belah telapak tangan saya. Merasakan kehangatannya. Dan takjub akan efeknya dalam menghilangkan kepedasan di mulut saya.

Saya membayangkan, rasa Hangat itu ibarat hawa yang ditimbulkan saat orang berkumpul dengan saudaranya, keluarganya , teman-teman ataupun sahabatnya, berbincang dan bersenda-gurau. Hangat dan nyaman.

Sebaliknya rasa Dingin itu, serupa dengan rasa sepi, seorang diri, sunyi, sepi, tiada teman atau saudara yang diajak berbicara maupun bercengkerama.

Membayangkan itu, tiba tiba saya berpikir bahw Fenomena Rasa Pedas bertemu Suhu Hangat dan Dingin ini sesungguhnya adalah salah satu cara Alam mengajarkan kita manusia bagaimana caranya memecahkan masalah dalam kehidupan kita. Lho! Kok bisa?.

Ya. Bisa!.

Coba kita bayangkan seperti ini. Kepedasan adalah sebuah masalah. Oleh karenanya kita mencari pemecahannya dengan minum minuman hangat biar hilang pedasnya. Bukan dengan minum minuman dingin.

Sama halnya dengan masalah (kepedasan) yang kita hadapi dalam kehidupan sehari hari. Jika kita mencari pemecahannya dengan menyendiri, merenungi nasib dan tidak berbuat apa apa, maka masalah hidup kita tidak akan bisa kita pecahkan begitu saja. Bahkan kita akan semakin terpuruk dan semakin dalam terpuruk lagi. Ibaratnya orang yang kepedasan diberi minum air es. Tambah pedas.

Sebaliknya jika kita mencari pemecahan masalah kita itu dengan mencoba sharing dengan sahabat, teman dan keluarga yang kita percayai, kita akan merasa lebih tenang, lebih nyaman dan mendapatkan bantuan pemikiran dan ide ide baru dari orang orang di sekeliling kita yang sangat mungkin membuat kita lebih mudah mendapatkan pemecahan masalahnya. Ibaratnya kita kepedasan diberi minum air hangat.

Tapi jangan terlalu lebay juga ceritakan masalah kita kepada semua orang yg kita kenal dan berharap semua orang membantu memecahkan masalah kita itu.

Pertama karena tidak semua punya keinginan, kemauan dan kemampuan untuk membantu kita.

Berikutnya tidak semua orang juga bersimpati terhadap masalah yang kita hadapi.

Jika ini yg kita lakukan, ibaratnya kita kepedasan lalu dikasih minum air panas mendidih. Bukannya sembuh, malah lidah kita yang terbakar 😊.

Ketika kita nerasakan “kepedasan” dalam hidup kita, carilah kehangatan dari para sahabat, keluarga dan orang orang yang kita percayai. Niscaya kepedasan hidup itu segera teratasi.

Di Batas Rasa Iba Dan Kebodohan.

Standard

Satu hari, saya mengajak anak-anak untuk berjalan-jalan di sekitar area Pasar Seni, Kuala Lumpur. Ada banyak hal yang bisa dilihat dan dipelajari di daerah sana dan sekitarnya. Mulai dari Pasar Kasturi – Central Market, Museum Textil, Taman Burung, Taman Kupu- Kupu, Masjid Negara, Islamic Art Center dan sebagainya.

Anak-anak memutuskan untuk menggunakan MRT saja. “Lebih murah, Ma. Kita bisa saving-saving duit cash kita“. Saran anak saya. Saya setuju. Terlebih karena stock ringgit di dompet saya juga sudah mulai menipis. Kamipun melangkah keluar hotel dan menuju stasiun.

Di stasiun kami menuju auto ticket counter guna membeli coin. Memilih milih Line kereta yang ada di menu, tiba tiba seorang pria yang berdiri di mesin ticket di sebelah saya bertanya dengan ramah. “Hai!. Kalian mau ke mana?” tanyanya. Saya menjawab, mau ke Pasar Seni.

Begitu mendengar jawaban saya, dengan sigap ia membantu anak saya. Ceklak ceklik… kami bayar dan coin ticket kereta pun keluar. Sangat cepat kejadiannya. Ooh tentu saja. Karena ia seorang pria lokal yang pastinya sudah hapal dengan jalur-jalur MRT maupun kereta lain di kota ini.

Saya berterimakasih. Orang itu mengangguk dengan sangat ramah. Lalu ia bertanya, apakah saya bersedia memberinya beberapa butir uang receh. Ia sedang kesulitan dan kehabisan uang. Oooh!. Saya memandang wajahnya dan merasa iba. Membayangkan jika saya berada di posisi dia.

Tentu saja saya tidak keberatan. Saya pun mengeluarkan semua uang logam yang ada di dompet saya. Dan memberikannya kepadanya. Ia mengucapkan terimakasih.

Lalu ia bercerita kalau sesungguhnya ia sedang bermasalah dengan kakinya. Ia menyingsingkan sedikit celana panjangnya dan saya melihat luka yang sangat serius. Oooh. Sungguh terkejut melihatnya. Luka yang besar yang tidak cukup hanya jika diobati dengan obat merah saja. Harus dibawa ke rumah sakit dan ditangani dengan serius. Bahkan mungkin perlu beberapa jahitan untuk menutup luka terbuka itu.

Saya pikir uang logam yang tadi saya berikan kepadanya tidak akan cukup. Lalu sayapun memberikan beberapa lembar uang kertas lagi agar bisa ia gunakan untuk mendapatkan perawatan yang baik dari rumah sakit. Saya menyerahkannya sembari berdoa dalam hati saya, semoga orang ini mendapatkan perawatan yang baik dan sembuh dari lukanya.

Tanpa saya duga, orang itu merunduk di hadapan saya, menyentuh kaki saya dengan tangan kanannya lalu mengusapkan tangannya itu di keningnya, sebanyak tiga kali. Saya terkesima dengan kelakuannya dan mencoba melarang ia berbuat begitu kepada saya. Tetapi ia keburu selesai. Setelah itu ia mengucapkan terimakasih dan saya melihat airmatanya mengambang sebelum ia melangkah pergi.

Mama apain orang itu?” anak saya yang rupanya melihat bagian akhir kejadian itu terheran -heran. Mengapa orang itu menunduk di depan saya dan menyentuh kaki saya, lalu menempelkannya ke keningnya. Saya bilang “Nggak Mama apain. Mama cuma kasih uang“, kata saya.

Anak saya terkejut. Rupanya ia tidak melihat kejadian saat saya memberikan uang pada orang itu. “Astaga, Mama!!!. Mengapa Mama berikan dia uang?. Itu sejenis…. scamming, Mama!!!“. Tegur anak saya yang sulung dengan suara tinggi. Saya terkejut akan reaksi anak saya yang tak terduga itu.

Mama ditipu!!!“. Lanjut anak saya yang bungsu lagi. Mereka seperti bersekutu mengkritik saya.

Saya membantah kalimat anak-anak saya itu. Saya bukan tertipu. Saya kasihan padanya dan memang ingin memberinya bantuan uang. Saya sadar. Dan bahkan sangat sadar melakukannya karena rasa kasihan. Karena rasa iba. Bagainana mungkin kedua anak saya bisa mengatakan jika saya tertipu.

Berapa banyak uang yang Mama berikan kepadanya?” tanya anak saya yang sulung.

Saya tidak menjawab dengan tepat. Jawaban yang tidak menipu, tapi tidak bisa dibilang jujur juga. “Hanya beberapa ringgit” jawab saya. Jawaban yang mengambang. Siapakah yang tahu, berapa batas kata “beberapa” itu?. Banyakkah? Sedikitkah?.

Saya lalu memberikan pengertian kepada anak saya. Itu bukan penipuan. Tapi masalah rasa iba kepada orang lain yang sedang kesulitan. Sebagai sesama manusia, kita wajib membantu orang yang sedang kesulitan, jika posisi kita memungkinkan untuk membantu.

Tapi ke dua anak saya tetap tidak yakin bahwa orang itu tidak menipu saya. Saya lalu mengingatkan, bahwa kaki orang itu luka parah. Dan kami semua melihatnya. Bukankah itu bukti yang cukup bahwa orang itu tidak menipu?.

Anak anak saya tetap tidak setuju. Belum tentu itu luka beneran. Kesan luka bisa dibuat buat. Banyak seniman bisa membuat karya tiruan luka. Ooh…ya. Bisa juga sih jika diambil dari sudut pandang itu. Anak anak lalu memberi contoh fakta beberapa kejadian pengemis dengan luka palsu yang memang kami pernah lihat sendiri, saat anak anak masih kecil.

Sampai akhir hari, saya masih sulit untuk setuju dengan pendapat anak-anak saya bahwa orang itu telah menipu saya. Karena saya yakin telah melihat luka beneran dan saya melihat airmatanya mengambang saat mengucapkan terimakasih kepada saya sebelum pergi.

Sementara anak-anak saya tetap berpikir bahwa saya sudah melakukan kebodohan karena begitu mudah ditipu oleh orang itu. Masalah air mata mengambang itu kan bisa juga soal keahlian seseorang ber-acting yang sangat bisa dilatih. Yaaa…. bisa juga sih jika kita hubung-hubungkan ke situ.

Sungguh saya tidak tahu yang mana yang benar dan yang mana yang salah. Karena semuanya memberi kemungkinan yang sama untuk menjadi benar ataupun salah. Hanya Tuhan yang tahu kebenaran yang sesungguhnya. Hanya Tuhan pula yang tahu di mana batas antara rasa iba dan kebodohan manusia.

Saya tercenung. Aaah…. tidak usah saya pusingkan apa yang telah terjadi. Ibarat sedang menonton sebuah potret. Kita tak pernah tahu kejadian apa saja yang terjadi sebelum kamera menjepret kejadian di foto itu, dan juga kejadian apa saja yang terjadi setelah potret itu dibuat. Tak usah kita pusingkan dan pertanyakan. Cukup nikmati saja satu single moment saat potret itu dibuat.

Tidaklah begitu penting, apakah orang itu memberi keterangan benar atau menipu. Yang lebih penting adalah keikhlasan hati kita. Sehingga membuat apapun dan seberapapun yang kita keluarkan menjadi berharga. Setidaknya di hati kita.

Saya pun melenggang pergi dengan hati riang.