Tag Archives: Rumah Tangga

Kisah Selembar Kain Songket Dan Pelajarannya.

Standard

Saya sedang merapikan isi lemari dan menemukan selembar kain songket lama yang kusam dan mbleber warnanya. Melihat kain itu, Songket Yang Lunturkenangan lama seketika muncul ke permukaan kepala saya.

Beberapa tahun yang lalu, ketika saya pulang kampung ke Bali, kakak perempuan saya menghadiahkan selembar kain songket. Kain songket berwarna ungu buah manggis dengan tenunan benang emas yang cemerlang bervariasi benang katun berwarna yang cukup renyep. Walaupun sangat jarang berpakaian adat, namun saya menyukainya. Buat jaga-jaga siapa tahu ada undangan, rasanya perlu juga mempunyai selembar kain adat itu. Setelah berterimakasih atas kebaikan hati kakak saya, maka songket itu pun saya bawa ke Jakarta.

Suatu kali saya benar-benar punya kesempatan untuk menggunakan kain itu. Seorang teman menikah. Sepulangnya dari kondangan, maka saya berganti pakain. Saya ingat ajaran ibu saya bahwa kain songket tidak boleh dicuci. Hanya boleh dijemur atau diangin-angin saja. Biar tidak lembab dan tiddak meninggalkan sisa keringat. Mengingat pesan itu dan mempertimbangkan hari yang sudah malam, maka sayapun hanya membentangkan kain songket itu di tempat jemuran. Besok saya tidak akan sempat melakukannya karena harus ke kantor pagi-pagi. Kebetulan Si Mbak yang membantu pekerjaan rumah tangga juga tidak menginap di rumah saya. Ia hanya datang pagi (kadang agak siang) dan pulang kembali di sore hari. Setidaknya jika saya bentangkan di tempat jemuran, Si Mbak besok tinggal mengeluarkan jemuran itu ke halaman belakang dan mengangkatnya lagi jika sudah benar-benar kering. 

Esok malamnya sepulang dari kantor, saya melihat kain songket itu sudah terlipat dengan baik di atas kursi. Tapi alangkah terkejutnya saya, ketika saya mendekat. Kain songket itu ternyata luntur!. Benar-benar luntur habis. Warna merah keunguan mbleber kemana-mana membuat keseluruhan tampilan kain songket itu kusam dan tidak kinclong lagi. Seketika saya merasa lemas tak berdaya. Ya ampuuun..apa yang harus saya katakan kepada kakak saya jika ia tahu bahwa saya tidak menjaga dengan baik kain pemberiannya? Tentulah ia akan merasa sedih. Mungkinkah ia menyangka bahwa saya tidak menghargai pemberiannya? Memikirkan itu, hati saya rasanya sedih sekali dan sangat tidak enak.

Aduuuh..bagaimana sih Si Mbak ini. Saya ngga habis pikir padahal itu kan kain songket. Semua orang juga tahu bahwa kain songket tidak boleh dicuci. Kok bisa sih dia mencuci kain itu, padahal saya tidak pernah menyuruh begitu. Aduuuuh…

Namun saya ingat, akhirnya saya menyadari bahwa itu bukan kesalahan siMbak. Dan setidaknya ada 5 butir pelajaran yang bisa saya temukan dari kesalahan itu.

Pertama, hal itu sudah kepalang terjadi. Dan kita tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya. Dalam kejadian seperti ini, hanya ada dua pilihan yang harus dilakukan. Berusaha keras mencari tahu bagaimana cara memperbaikinya, lalu perbaiki hingga bisa pulih kembali seperti semula. Jika pilihan pertama itu tidak bisa kita lakukan, pilihan satunya lagi adalah  menerimanya dengan ikhlas. Apa adanya. Rusak tidak rusak.  Yang penting diingat hanyalah kenangannya.

Kedua, bahwa itu hanyalah selembar kain. Materi!. Harta! Mengikatkan diri pada selembar kain, dan merasa sedih karenanya tidak akan pernah membantu saya untuk membebaskan diri dari keinginan duniawi. Harta alias Materi-lah yang banyak men’drive’ orang untuk bertindak berlebihan dan tidak pada tempatnya. Banyak penipuan, kecurangan, pelacuran, kejahatan dilakukan orang dipicu oleh kegilaan pada harta benda duniawi. Dan  kesenangan duniawi ini membelit dan mengganduli jiwa manusia sedemikian beratnya laksana bola besi yang diikatkan pada kaki tawanan,  sehingga jiwanya sulit terbebas dan bersih untuk kembali menyatu denganNYA.

Ketiga,  barang pemberian, biasanya tidak akan ditanyakan juga oleh pemberinya. Kalaupun nanti ditanyakan, katakan saja apa adanya. Toh saya tidak bermaksud untuk merusaknya dengan sengaja. Itu terjadi begitu saja. Niatnya adalah cuma menjemur saja, bukan mencuci. Pelajarannya adalah bahwa segala sesuatu yang kita lakukan sebaiknya selalu dengan niat baik. Sehingga kalaupun terjadi hasil yang kurang memuaskan ataupun kekeliruan dalam mengeksekusi, orang lain akan lebih mudah menerima dan memaafkan. Selain itu, pemberinya adalah kakak kandung sendiri – yang sudah pasti bisa memaklumi keteledoran yang terjadi.

Keempat,  kesalahan yang pasti adalah di tangan saya. Bukan pada Si Mbak. Jadi saya harus mengakui kesalahan dan belajar dari kesalahan itu untuk memperbaiki diri ke depannya. Saya tidak memberi instruksi dengan baik kepada Si Mbak sebelum berangkat kerja “Jangan di cuci ya!”. Instruksi yang jelas sangat penting diberikan di awal sebuah pekerjaan, jika kita memang benar-benar menginginkan sebuah kesuksesan dalam mengeksekusi. Tanpa instruksi yang jelas, akan selalu membuka peluang bagi bawahan kita untuk membuat interpretasi sendiri yang belum tentu sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Kelima, jangan berasumsi dan memandang setiap hal dari hanya sudut pandang kita sendiri. Walaupun kain Songket adalah kain yang umum digunakan oleh beberapa suku, jangan berasumsi bahwa semua suku mengenal kain Songket dengan baik. Dan selanjutnya, tidak semua orang dalam suku pengguna kain Songket itu, juga menggunakan atau mengenal Songket. Entah dengan alasan apa.  Dengan demikian, tidak semua orang mengetahui cara memelihara kain songket dengan baik, karena tidak ada di dalam kebiasaannya dia. Berasumsi bahwa semua orang memiliki kesamaan pengetahuan atau kebiasaan dengan diri kita, tentulah sebuah kesalahan besar. Karena walaupun saya dan Si Mbak misalnya sama-sama memiliki 10 pengetahuan dan kebiasaan, barangkali saya mengetahui  A, B,C, D, E, F, G, H, I, J…. Si Mbak mungkin pengetahuannya G,H, I, J, K, L, M,N,O,P. Sehingga ada beberapa pengetahuan yang saya tahu, Si Mbak tidak tahu. Dan sebaliknya ada pengetahuan yang Si Mbak tahu yang saya tidak tahu.  

Esok paginya, SI Mbak datang tergopoh-gopoh lebih pagi daripada biasanya. Wajahnya tegang  “Bu! Ibuuuu! Maaf ya Bu, kainnya kemarin saya cuci kok luntur ya Bu. Saya bingung itu mesti diapain…” katanya.

Sayapun hanya tersenyum dan berkata “Ya sudah… Saya juga lupa memberi tahu kalau kain itu tidak boleh dicuci…”kata saya yang membuat wajahnya tenang kembali.

Kain itu masih terlipat dengan rapi. Mengingatkan saya pada Si Mbak, pembantu rumah tangga yang sangat baik dan rajin, yang kini sudah tidak bekerja di rumah saya lagi, karena sudah terlalu sibuk melayani pelanggan di warungnya.

Video Camera.

Standard

Sementara masih perlu membeli sesuatu di lorong snack, saya melihat antrian di kasir hypemarket tempat kami berbelanja sangat membludak. Pasti bakalan lama menunggu giliran membayar. Akhirnya kami sepakat, suami dan anak-anak  yang akan mengantri di kasir. Saya menyusul. Suami saya berkata ia akan mengantri  di kasir yang paling  sepi. Biasanya yang letaknya paling jauh dari area makanan segar. Antrian di kasir yang dekat makanan segar sangat panjang. Karena orang justru membeli lebih banyak bahan makanan di bulan puasa ini.

Saya setuju, lalu mengambil snack secepatnya, dan terburu-buru berjalan ke kasir yang paling ujung. Suami dan anak-anak saya ternyata tidak kelihatan ada di situ.”Oh, rupanya belum sampai” pikir saya. Saya menunggu sambil menengok ke kiri-kanan berharap mereka segera muncul. Sepuluh menit lewat  belum juga muncul.  Akhirnya saya memutuskan untuk mencarinya ke area di mana tadi kami terpisah. Mereka juga tidak ada di tempat itu. Sayapun segera balik kembali ke antrian kasir yang di ujung. Menunggu lagi dengan harap-harap cemas. Namun suami dan anak-anak  tetap tidak kelihatan. Saya mencoba menelpon. Tidak diangkat. Lalu saya tinggalkan pesan di blackberrynya. Juga tidak dibalas. Read the rest of this entry

Kunci Pintu Yang Sesuai.

Standard

Saya sedang  ngobrol dengan teman-teman saya pada suatu siang. Mulai urusan tanaman, kerjaan, makanan hingga ke obrolan rumah tangga. Agak seru juga. Bermula dari seorang teman yang bercerita tentang suaminya yang sangat baik dan penuh perhatian.  Kami mendengarkan dengan seksama. Suaminya selalu menempatkan istrinya di posisi pertama di atas dirinya sendiri. Menyerahkan penghasilannya sepenuhnya kepada dirinya. Dan istrinya hanya memberi jatah uang saku harian ke suaminya. Suaminya pun selalu memenuhi segala permintaannya. Kalaupun tidak, maka ia akan segera mengeluarkan senjata airmata. Nah, jika ia menangis, maka suaminya tidak akan tahan lagi. Suaminyapun segera membujuk dan memenuhi permintaannya. Dengan demikian ia merasa bahwa ia telah memilih suami yang sangat tepat. Read the rest of this entry