Tag Archives: Sambal

Sambel Pangi.

Standard

Ketika kita ingat akan “sesuatu”, eh… ternyata sesuatu itu tiba tiba muncul di depan kita. Pernahkah teman teman mengalami kejadian seperti itu?. Saya pernah.

Barusan saja seorang sahabat saya mengirimkan sebuah artikel tentang Kluwek dan bertanya bagaimana rasanya, apakah benar beracun dan sebagainya -karena rupanya ia belum pernah mencicipi Kluwek. Eh…pas habis itu tiba tiba saya melihat buah Kluwek di tukang sayur. Kebetulan atau bagaimana ini ya? Jadilah akhirnya saya membelinya.

Kluwek atau Kepayang, dalam bahasa Bali disebut dengan Pangi. Salah satu yang saya ingat pernah dibuat di dapur ibu saya adalah Sambel Pangi. Sangat jarang sih… tapi ngangenin juga. Buat yuk!

Selagi nemu buahnya ūüėÄ

Cara membuatnya sangat mudah.

1/. Pecahkan cangkang buah Pangi. Ambil isinya yang berwarna hitam.

2/. Ambil bawang merah, bawang putih dan cabe. Ulek bersama isi buah Pangi.

3/. Tumis dengan sedikit minyak. Tambahkan garam dan sedikit gula jika suka.

Jadi deh…

Sambel Pangi siap disantap untuk menemani lauk yang lain.

Advertisements

Ada Sambal Di Telpon Genggamku.

Standard

SambalDalam satu kesempatan saya mengajak anak saya menonton acara musik diluar. Sesudahnya, saya mengajak mereka makan di sebuah restaurant yang letaknya tak jauh dari acara itu berlangsung. Ketika sedang makan, tangan anak saya yang besar menyenggol botol sambal tanpa sengaja. Oipss! Tumpah! Nyaris saja menumpahi telpon genggam saya yang tergeletak di atas meja. Cepat-cepat saya menyelamatkan hape itu dan mengelap meja dengan tissue yang tersedia. Anak saya yang kecil tertawa melihat kejadian itu. “Waduh! Apa yang terjadi jika hape ini kena tumpahan sambal?“.

*************

Beberapa tahun yang lalu saya pernah mengalami kejadian serupa. Saat itu sedang jam istirahat makan siang. Bersama seorang rekan kerja saya makan di warung makan tak jauh dari kantor. Teman saya memesan bebek goreng dengan sambal super pedas, sedangkan saya memesan ayam goreng dengan sambal yang sama. Tepat ketika saya akan mulai makan, hape saya berdering. Saya mengangkatnya dengan segera. Entah karena tergesa atau karena kurang konsentrasi, tiba-tiba hape itu jatuh terjerembab persis ke dalam mangkuk sambal. Waduh!. Saya terkejut. Buru -buru mengangkatnya dan melapnya dengan tissue. “Jangan-jangan mati” pikir saya was-was. Setahu saya alat elektronik yang sempat kerendam benda cair saat dalam keadaan menyala biasanya akan mati, rusak dan tak berfungsi lagi. Oleh karenanya setelah saya bersihkan semuanya dengan tissue, buru-buru saya test saja dengan memencet nomor teman saya. Oh..masih hidup! Yess!. Syukurlah hape saya baik-baik saja. Nggak apa-apa tuh, walaupun sempat kerendam sambel. Jadi sambel sebenarnya tidak berpengaruh apa-apa terhadap telpon genggam saya itu. ¬†Saya sangat senang. Karena tak perlu membeli hape baru lagi.

Beberapa bulan kemudian, hape saya yang itu mendapatkan masalah lain lagi. Suaranya kecil. Makin lama kok makin kecil. Saya pikir barangkali ada setting yang salah. Saya coba cari-cari dan atur kembali volume suaranya. Lumayan, agak membaik sih, walaupun volume suara telpon yang masuk masih belum memuaskan hati saya. Saya masih harus mengerahkan pendengaran agar bisa menangkap pesan yang disampaikan orang di seberang dengan jelas. Saya masih bertahan dengan hape itu selama beberapa bulannya kemudian. Tidak bermaksud menggantinya dengan yang baru lagi. Soalnya sayang duitnya. “Masa harus buang-buang duit membeli hape baru. Toh masih bisa dipakai” pikir saya.

Namun makin lama kok suara yang masuk makin kecil. Akhirnya saya mulai bimbang dan berpikir untuk membeli lagi yang baru. Sekalian ganti model, karena hape saya itu juga sudah mulai ketinggalan mode alias jadul. Walaupun sayang juga sih. Akhirnya saya lihat kembali hape itu. *Waktu itu tepon genggam yang saya gunakan adalah Nokia E90 Communicator*.

Saat melihat-lihat begitu, tiba-tiba pandangan mata saya tertuju pada lubang suara hape yang berada di bagian depan atas. Berlapis kawat saringan metal mirip saringan teh. Keren banget warnanya. Merah tembaga!. Saya suka warnanya. Selama ini saya tidak pernah memperhatikannya. Saya melihat lagi di bagian belakang hape itu. Ooh.. rupanya ada lagi lubang suara seperti yang di bagian depan. Sama! Berlapis kawat juga seperti yang di depan. Cuma yang di belakang ini ukurannya lebih besar. Dan warna kawat saringannya hitam! Oh..beda ya? “Kenapa bukan merah tembaga juga?” pikir saya heran.

Tiba-tiba saya teringat sesuatu. Lalu cepat-cepat saya mencari jarum dan mencoba mengorek kawat saringan suara itu. Rupanya warna merah tembaga itu bisa lepas. Semakin saya korek, semakin hilang warnanya dan kini berganti menjadi hitam. Sama seperti warna saringan kawat yang di bagian belakang. Astaga!!!! Ternyata warna merah tembaga itu adalah sambel yang mengering! Mengering dan makin menempel pada kawat saringan suara. Pantes saja suara hape saya makin lama makin kecil.

Setelah selesai membersihkan sisa sisa sambel yang mengering itu, cepat-cepat saya test. Minta tolong seorang teman agar menelpon saya. Benar saja! Ternyata sekarang volume suaranya besar dan normal kembali.

*************

Kedua anak saya tertawa terbahak-bahak mendengar kisah hape saya dan sambel itu. “Aduuuuh…Mama…Mama!Kocak banget sih…” katanya. Jelas sekali jika saya memang teledor dan tak pernah menaruh perhatian pada hal-hal kecil, seperti sambel yang masuk ke dalam lubang suara hape yang mengakibatkan makin kecilnya volume suara hape saya. Terutama karena gangguan itu tidak terjadi secara instant. Maka saya tak pernah menyangka jika gangguan itu ada kaitannya dengan sambel.

Sesuatu kadang terjadi, akibat dari keteledoran kita di masa lalu. Tanpa kita sadari, ternyata ada hal -hal kecil yang jika luput dari perhatian kita sehingga tidak kita tangani dengan baik, menyebabkan masalah besar di kemudian hari.

Analogi yang sangat dekat misalnya masalah kesehatan. Kebiasaan kita mengemil, memakan yang manis-manis atau terlalu asin, merokok,  menahan pipis, begadang dan sebagainya, merupakan kebiasaan-kebiasaan kecil yang lambat laun mengakibatkan gangguan kesehatan serius pada diri kita.

Begitu  juga dengan kemalasan dalam bekerja. Tidak memberi perhatian pada e-mail yang masuk dan hanya membaca sepintas lalu, tidak memfollow-up pekerjaan yang kita pikir masih bisa besok-besok, atau melewatkan detail angka-angka, dan sebagainya, hal-hal yang kita anggap enteng,  tanpa kita sadari merusak kwalitas diri kita dan di kemudian hari bisa  merusak kepercayaan yang diberikan atasan kepada kita.

Tempe Penyet – Sambal Bawang Putih.

Standard

Tempe PenyetMasak apa lagi?  Hi hi. Beginilah kalau lagi di rumah. Mesti kreatif biar anak-anak dan suami senang. Sebelumnya saya sudah memposting  Sup Jagung dan Tofu Cabe Garem buat anak-anak. Nah, apa dong kesukaan suami? Suami saya suka tempe. Tapi bosen ya kalau tempe goreng- tempe goreng lagi? Yang bosen sih  sebenarnya tukang masaknya. Yang makannya senang-senang saja, wong memang doyannya tempe goreng panas-panas dimakan dengan nasi panas.

Nah untuk menghindari kebosanan tukang masaknya, sekarang saya  mau membuat variasi. Tempe Penyet!. Yang ini dijamin suami pasti suka. Judulnya masih tetap tempe. Cuma yang ini diketok sampai penyet bersama dengan sambal, alias dipenyet. Mantap deh.

Menurut saya, sebenarnya kunci Tempe Penyet ini ada di sambalnya.  Sambalnya bisa dibuat macam-macam tergantung dari pilihan kita.  Tempe bisa dipenyet dengan Sambal Terasi, bisa juga dipenyet  dengan Sambal Tomat ataupun SambL Bawang Putih. Caranya adalah dengan mengenali jenis sambal yang disukai oleh orang yang akan kita masakin (suami). Jika suami sukanya Sambal Terasi, ya penyet saja dengan Sambal Terasi. Demikian juga jika sukanya sambal lain. Kebetulan suami saya suka hampir semua jensi sambal. Jadi suka-suka sayalah mau memenyet tempenya dengan sambal apa. Karena sudah pasti ia akan suka.

Sekarang saya mau menuliskan resep Tempe Penyet  Sambal Bawang Putih. Mengapa kok Sambal Bawang Putih?  Karena selain rasanya enak dan suami saya suka, sekalian buat menjaga tekanan darah agar tidak melonjak. Bawang putih mentah kan sangat dikenal bisa membantu menurunkan tekanan darah yang naik.

Bahan-bahan:

1/ Tempe

2/. Cabe keriting merah – boleh campur dengan rawit hijau/merah.

3/.Bawang Perah

4/ Bawang Putih.

5/ Garam secukupnya.

6/. Minyak Goreng.

7/Accesories : daun kemangi/ daun bawang -kalau ada.

Cara Membuat:

1/. Potong-potong tempe agak tebal. Lalu rendam dalam air garam/air kaldu.

2/ Goreng tempe hingga kekuningan. Angkat dan tiriskan.

3/. Goreng cabai, bawang merah dan bawang putih hingga matang. Angkat dan tiriskan.

4/ Ulek cabai, bawang merah dan bawang putih matang. Tambahkan dua atau tiga siung bawang putih mentah.Ulek kasar.

5/. Bubuhkan  garam secukupnya. Campur hingga rata.

6/ Masukkan tempe goreng ke dalam cobek  satu per satu. Ketok dengan anak cobek  hingga penyet. Tambahkan daun kemangi atau dan bawang jika suka.

7/. Boleh dihidangkan langsung dengan cobek-cobeknya. Atau bisa juga dipindahkan ke piring saji.

Hidangkan untuk teman nasi panas.

Sambalku Di Mana Ya?

Standard

Kisah Lain Tentang Service Excellence.

Jumat itu  banyak sekali yang harus saya kerjakan, sehingga tidak sempat keluar untuk istirahat  makan siang.  Sibuk untuk menyelesaikan tugas bersama seorang teman saya di ruang meeting di lantai empat . Untuk menghemat waktu, maka saya meminta tolong kepada Office Boy agar memesankan makan siang.  Office Boy menawarkan  menu Ayam Bakar plus Tempe, Sambal dan Lalapan untuk saya dan teman saya. Saya setuju. Lalu kembali tenggelam dalam laptop kami masing-masing di ruang meeting yang sunyi  itu. Read the rest of this entry

Sambal Gandaria Ala Jineng…si pedas asem buat teman lalapan.

Standard

Mungkin sebagian dari kita ada yang bertanya.. ‚ÄúSambal gandaria? Apa sih itu?‚ÄĚ. Ya, bagi sebagian orang, terutama yang tidak tinggal di Jawa khususnya Jawa bagian barat, mungkin ada yang bingung. Sering mendengar nama gandaria, namun tidak tahu apa yang dimaksudkan dengan Gandaria.

Saya sendiri sebelumnya tidak mengenal arti gandaria itu. Lebih bingung lagi, saat ibu mertua saya yang berasal dari tanah Pasundan meminta tolong saya mengambilkan kebaya yang berwarna gandaria dari lemarinya. Saya sempat terlongong longong. Warna apa itu gandaria? Ternyata yang dimaksud adalah warna ungu.  Jadi ungu itu dalam bahasa Sundanya adalah Gandaria. Rupanya itu diambil dari warna biji buah gandaria yang memang ungu. Nah, bagi yang belum tahu gandaria, disini akan saya ceritakan sekilas mengenai buah gandaria itu.
Buah Gandaria (saya lihat di beberapa referensi, buah ini bernama latin Bouea macrophila, adalah buah kecil bulat sebesar kelereng sampai sebesar bola bekel, yang mirip dengan mangga mini yang bulat. Seperti halnya mangga, kulit gandaria berwarna hijau dan menguning bila masak. Rasanya juga sangat mirip dengan buah mangga kecut. Bijinya seperti telah saya ceritakan tadi, juga sangat mirip biji mangga kecil, tapi berwarna ungu. Buah ini bisa ditemukan di pasar-pasar traditional di daerah Jawa Barat, namun umumnya hanya pada musim berbuahnya saja (sekitar Desember ‚Äď Januari). Masyarakat banyak menggunakannya sebagai campuran sambal terasi dan kemudian menamakannya dengan Sambal Gandaria.
Pertama kali saya mencoba sambal ini  juga di rumah ibu mertua saya. Menurut saya sangat cocok dipakai untuk menemani lalapan, ayam, ikan, tahu atau tempe goreng, maupun ikan asin. Sejak saat itu, setiap kali saya jalan ke pasar tradisional dan bila menemukan buah ini, saya selalu berusaha membelinya dan menjadikannya sambal untuk menemani makan siang keluarga.
Cara membuat sambal gandaria cukup mudah. Yang dibutuhkan sama dengan bahan-bahan untuk membuat sambal terasi biasa yakni, cabe (merah keriting, campur cabe rawit merah/hijau), terasi (jenis apa saja, tapi saya paling suka terasi Bangka, atau kalau tidak terasi dari Jawa Timur), tomat, garam & gula merah. Cabai dan tomat kita rebus sebentar agar lunak, lalu diulek hingga halus bersama terasi matang (boleh dibakar atau digoreng), garam dan gula merah. Setelah halus, lalu masukkan daging buah gandaria dan ulek kasar. Hidangkan bersama lalapan yang segar.

Sambel Matah & Sambel Cicang ala Jineng… ada yang mau resepnya?

Gallery