Tag Archives: Sastra

Loksado Writers & Adventure 2017: Paparan & Pengalaman Sastra Bagi Remaja.

Standard
Loksado Writers & Adventure 2017: Paparan & Pengalaman Sastra Bagi Remaja.

Membaca puisi di Minggu Raya Banjarbaru.

Saya penyuka karya sastra. Dan puisi termasuk di dalamnya. Atas kesukaan saya itu, ketika remaja, saya rajin mengikuti forum dan panggung lomba-lomba baca puisi yang diselenggarakan di kota saya. Saya akui bahwa forum dan panggung-panggung sastra seperti itu sangat mendongkrak kemajuan sastra di Bali. Karena minat remaja akan sastra menjadi sangat tinggi. Sayang sekali, aktifitas seperti itu, belakangan saya dengar tidak banyak lagi dilakukan pada saat ini. 
Dengan latar belakang seperti itu, saya tiba tiba terpikir untuk mengajak anak saya yang remaja untuk ikut ke Loksado Writers & Adventure 2017. Tentu dengan catatan jika panitya mengijinkan. Dan ternyata syukurnya memang diijinkan!. Saya senang sekali. Tujuan saya adalah untuk memperkenalkan anak saya dunia sastra dengan cara yang lebih baik lagi *menurut saya* ketimbang hanya dari apa yang ia dapat dari sekolahnya. 

Saya tahu, anak saya tentu mendapat pelajaran sastra dengan cukup baik dari sekolahnya. Tetapi akan sangat berbeda jika ia mendapatkan kesempatan terekspose langsung dengan forum sastra dan bertemu dengan para sastrawan senior di komunitasnya yang tepat. 

Demikianlah ceritanya saya membawa anak saya ikut ke Loksado. Ia sendiri setuju, walaupun ketika diawal ia mau karena tertarik melihat foto orang bermain rakit di sungai Amandit. 

1. Paparan Sastra

Sejak tiba di Bandara Sorkarno-Hatta di Jakarta, anak saya mulai berkenalan dan diterima dengan baik oleh para sastrawan senior yang kebetulan berangkat satu pesawat dengan kami subuh itu. Gap usia yang cukup jauh syukurnya tidak membuat anak saya terasing. Ia kelihatan biasa saja. Bahkan terlihat berusaha ngobrol dan bergaul. Saya cukup lega. Setidaknya ia bisa membawa diri. 

Antologi puisi. Dari Loksado Untuk Indonesia.

Berikutnya, ketika panitya membagikan buku Antologi puisi. Ia melihat sepintas lalu mulai membaca puisi puisi yang ada di dalamnya. Bahkan ketika ditanya cukup satu buku baca gantian dengan mama, anak saya ingin memiliki buku Antologi puisi itu sendiri. Dan.. ia serius membacanya. Nah..kini saya tahu minimal ia suka. 

Yang lebih penting adalah, karena ini adalah sebuah forum sastra, tentu banyak sekali diskusi dan pembahasan tentang puisi dan karya sastra lain sepanjang acara itu, baik yang formal maupun yang tidak formal. Ia juga mendengar tentang Haiku. Tentang Senryu . Dan tentang format format karya sastra yang lain.  Hal ini tentu menambah khasanah, wawasan dan cara pandang anak saya terhadap karya karya sastra. 

Baca puisi di Loksado Writers & Adventure 2017.

Di forum itu, anak saya juga terekspose dengan pembacaan puisi dengan berbagai gaya yang dilakukan oleh para sastrawan yang hadir di sana. Bisa saya pastikan ini sangat menginspirasi anak saya. Bagaimana membacakan puisi dengan baik, bagaimana berdeklamasi dan bahkan belajar memahami bahwa karya sastra pun bisa berfusi dengan karya seni lain seperti vokal, seni gerak tubuh dan sebagainya. Anak saya terlihat sangat terkesan misalnya saat seniman Isuur Loeweng berkolaborasi dengan Bagan Topenk Dayak membawakan sebuah puisi dengan luar biasa mengesankannya. Tak habis habisnya kami membicarajan dan memujinya. 

Hal lain yang ia pelajari adalah, bahwa puisi tidak hanya bisa menjalankan tugasnya sebagai sekedar karya sastra yang indah saja, tapi sangat mungkin menjadi media penyalur pesan sosial dan aspirasi masyarakat yang selama ini mungkin buntu atau terpinggirkan. Terlebih ketika ia juga ikut diajak berkunjung dan berbaur dengan masyarakat setempat, dengan sendirinya ia pun belajar. Melihat, mendengar dan menangkap fakta untuk kemudian ia proses dalam alam pikir dan jiwanya untuk kemudian ia sambungkan sendiri dengan puisi. 

2. Pengalaman Sastra

Pak HE Benyamin, sang motivator.

Adalah HE Benyamin, sastrawan Kalimantan Selatan yang berhasil menyentil keberanian anak saya untuk tampil membaca puisi di panggung forum itu. Awalnya saya bujuk -bujuk tidak mau. Tetapi berkat kalimat-kalimat motivasi Pak HE Benyamin yang menyihir, eeh….. anak saya nekat maju ke panggung. Sayapun kaget dan terharu. Luar biasa!. Bayangkan! Di hadapan sekian banyak sastrawan dan seniman sastra baik dari Kal Sel maupun dari berbagai daerah Indonesia itu, anak saya berdiri. Membacakan puisi untuk pertama kalinya. Puisi yang juga baru pertama kali ia lihat dan baca.  Judulnya ” Perempuan Dan Kopi Hutan”. Karya Cornelia Endah Wulandari. 

Membacakan puisi Perempuan & Kopi Hutan. Karya Cornelia Endah Wulandari.

Hasilnya?. Saya harus mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada Pak HE Benyamin untuk proses pergulatan keyakinan diri yang dialami anak saya hingga akhirnya berani maju dan bergata di depan panggung. 

Perempuan & Kopi Hutan. Cornelia Endah Wulandari. Foto milik Agustina Thamrin.

Dan tentu saja pastinya buat Mbak Cornelia Endah Wulandari yang puisinya menjadi batu loncatan pertama bagi anak saya untuk menyebur ke dunia sastra. 

3. Tantangan Dan Ujian Sastra

Berhasil membacakan puisi karya HE Benyamin di Minggu Raya Banjar baru. Bersama Pak HE Benyamin.

Tak selesai sampai di sana, bahwa Loksado telah memberikan kesempatan kepada anak saya untuk terekspose dengan dunia sastra dan sekaligus memberi ‘new experience’ baginya. Menjelang kepulangan kami ke daerah mading-masing, teman teman Kalimantan mengajak kami mampir di Minggu Raya. 
Awalnya saya tak mengerti. Karena tempat itu kelihatannya hanya tempat nongkrong-nongkrong saja di tepi jalan dengan suara deru motor yang meraung raung. Ternyata kembali Pak HE Benyamin memberi tantangan kepada kami semua (termasuk anak saya), untuk menguji nyali. Beranikah dan mampukah membaca puisi di tepi jalan? Di tonton orang yang berlalu lalang? Dan diantara suara kendaraan yang menggelegar?. 

Syukurlah, anak saya pun mau mengambil tantangan itu. Mau, bisa dan berani!. Horeeee!. Akhirnya luluslah ia di forum sastra Kalimantan Selatan yang unik itu. Sesuatu hal yang membanggakan tentunya. Bagi dirinya sendiri dan saya sebagai orangtuanya. 

Aku sudah membaca puisi. Minggu raya Banjar baru.

Anak saya mendapatkan pin tanda kelulusan.  Saya juga ikut membaca dan mendapat pin yang sama. 

Buku Antologi Puisi HE Benyamin. Pohon Tanpa Hutan.

Dan juga hadiah buku Antologi Puisi “Pohon Tanpa Hutan” langsung dari Pak HE Benyamin – penulisnya. Aduuuh…senang & bangganya. 
Nah! Untuk segala apa paparan, pengalaman, tantangan dan ujian sastra yang diterima anak saya yang remaja ini, tentunya saya sebagai orangtua sangat berterimakasih kepada semua rekan rekan sastrawan yang hadir baik dari Kalimantan Selatan maupun dari daerah lain, kepada Pak Budhi dan Mbak Agustine serta masyarakat Loksado. 

Sudah menjadi cita cita kita bersama agar Sastra dan penulisan terus berjaya di negeri kita, dan tentunya sudah menjadi tugas dan tanggung jawab kita sebagai orangtua untuk memupuk minat dan kecintaan  anak anak dan remaja kita terhadap sastra sejak dini.  Seperti kata pepatah, jika tak kenal maka tak sayang. Oleh karenanya kita perlu meperkenalkannya dengan baik. 

Besar harapan saya, kecintaan anak saya terhadap sastra dan penulisan, kelak semakin meningkat. Jikapun tidak, maka sebagai ibu saya sudah berusaha meletakkan dasar yang sebaik-baiknya yang bisa saya lakukan. 

Salam Sastra. 

Advertisements

Loksado Writers & Adventure 2017. Pertemuan Sastrawan, Gagasan & Pesonanya.

Standard

Loksado!Nama itu telah memikat hati saya bahkan sebelum saya mengenal tempat sejuk yang sangat indah di lereng Pegunungan Meratus itu. Entah kenapa terdengar sangat menarik bak nama sebuah negeri di atas awan. Sungguh sangat beruntung, suatu hari penyair Agustina Thamrin mengajak saya untuk mengikuti acara “Loksado Writers & Adventure 2017” di Loksado. Tanpa ba bi bu saya langsung “Yes” saja, walaupun awalnya agak kurang yakin akan bisa cuti, mengingat banyaknya urusan kantor yang mengambil waktu di bulan Mei ini. Tapi seperti kata pepatah, “Di mana ada kemauan, di sana ada jalan”, maka berhasillah saya tiba di Loksado. 

Bertemu Dengan Para Penulis Kondang.

Sebagian peserta Loksado Writers & Adventure baru mendarat di bandara Banjarmasin – photo oleh Agustine Thamrin)

Loksado Writers & Adventure 2017, sungguh sangat luar biasa bagi saya. Pertama karena ajang sastra nasional yang diselenggarakan di tempat ini memungkinkan saya bertemu langsung dengan para sastrawan senior yang selama ini cuma saya kenal lewat koran, majalah, tv ataupun wikipedia. Nah..tiba tiba saya bisa mengenalnya langsung di sini. Misalnya saja Dr Handrawan Nadesul. Siapa tak kenal beliau? Beliau adalah seorang dokter yang sering menjadi nara sumber berbagai acara kesehatan populer yang  juga mendedikasikan dirinya pada dunia sastra dan penulisan. Persis 2 hari sebelum saya berangkat, kakak saya kebetulan menshare tulisan dr Handrawan di group WA keluarga. Dengan bangga saya langsung bilang, saya dong lusa mau ketemu langsung dengan dr Handrawan he he. Dan benar saja, saya memang harus bangga karena sepanjang perjalanan dari Banjarmasin ke Loksado saya banyak menimba ilmu dari pengalaman beliau yang dituturkan kepada kami (kebetulan saya satu kendaraan dengan beliau). 
Selain itu ada Pak Adri Darmadji Woko. Siapa pula tak kenal penyair senior seangkatan Putu Wijaya, Sutardji K. B dsb ini?. Sudah lama saya ingin bertatap muka langsung dengan beliau. 

Saya juga bertemu dengan Pak Prasetyohadi. Siapakah beliau? Ternyata orang yang berada di balik Majalah Kicau Bintaro!. Majalahnya selalu saya baca, tetapi orangnya baru saya kenal hari itu. 

Lalu ada Abah Arsyad, penyair Kalimantan yang fenomenal. Ada Pak Rachmat Ali beserta Ibu Kartini, Pak Salimi Ahmad beserta ibu Gantina dari Jakarta, Ibu Sulis dari Semarang, Pak Trip Umiuki dari Tangerang, Bang Yahya dari Betawi,  Pak Hengki, Ibu Lena dari Yogyakarta, Pak Roymon Lemosol dari Ambon, Pak Kutniawan Junaedhi, Mbak Evi Manalu. Yang semuanya adalah pelaku sastra dan pencinta sastra yang baik. 

Lebih penting lagi, saya akhirnya bisa kopdar dengan Agustina Thamrin, penyair yang sebelumnya sudah saya kenal di facebook lewat Pak Ersa Sasmita yang buku kumpulan puisinya pernah saya tulis di sini. Juga dengan Pak Setia Budhi (Budhi Borneo), mereka berdua adalah penggagas dan penyelenggara kegiatan ini. Juga saya bertemu dengan sastrawan dan seniman beserta semua crew Banjar seperti Mbak Cornelia Wulandari, Pak He Benyamin, Isuur, Bagan, Yulian Manan, Mbak Widya, Salleh, Nopri dan Mbak Dewi.

Bagi saya ini adalah pertemuan yang sangat luar biasa. Bukan saja karena saya bisa bertemu dan berkenalan dengan mereka, tetapi juga karena banyaknya ilmu dan pengetahuan baru yang bisa saya timba dari mereka. Juga nilai-nilai persahabatan dan persaudaraan yang mereka tawarkan kepada saya dan peserta lainnya. 

Kedua, ajang sastra ini ternyata juga bukan hanya sekedar indoor forum, tetapi juga dilengkapi dengan kegiatan outdoor yang memberi saya pengalaman baru dan tentunya inspirasi baru yang sangat kaya baik karena pesona alam Loksado dengan pegunungan Meratusnya itu sendiri, maupun karena adat istiadat dan budaya penduduk setempat, yakni suku Dayak Meratus.

Gagasan Loksado Writers & Adventure.

Pak Budhi & Agustina Thamrin penggagas Loksado Writers & Adventure 2017 bersama Bang Salimi . Photo Yulian Manan.

Dalam perjalanan dari Banjarmasin ke Loksado saya sempat bertanya ke Pak Setia Budhi tentang bagaimana Loksado Writers ini diadakan. Pak Budhi bercerita bahwa awalnya Pak Budhi dan mahasiswanya banyak melakukan penelitian di Loksado dan seputar pegunungan Meratus. Mereka bolak balik ke sana dan berinteraksi dengan alam Meratus dan penduduknya yakni suku Dayak Meratus. Banyak hal menarik di sana yang mungkin menjadi sumber inspirasi tulisan bagi siapapun yang suka menulis. 
Selain itu, Pak Budhi juga terkesan dengan ide dari Ubud Writers yang secara teratur diselenggarakan di Ubud, Bali. Forum ini skalanya International, dan tentunya agak mahal serta berbahasa asing. Saat ini belum ada yang berskala National Indonesia.

Dari sini kemudian muncul gagasan mengapa tidak diselenggarakan saja forum serupa yang berskala nasional dan bertempat di Kalimantan Selatan. Untuk itu Pak Budhi lalu menghubungi Agustina Thamrin yang segera menyambut ide ini dan berdua mereka menggodoknya serta mendiskusikannya dengan sastrawan senior lain yaitu Pak Adri Darmadji Woko dan Bang Salimi Achmad, maka lahirlah “Loksado Writers & Adventure 2017“. 

Saya terkesan akan cerita Pak Budhi ini. Acara yang hebat selalu dimulai dari gagasan yang hebat dan eksekusi yang hebat dan penuh semangat. Dan sungguh, acara ini memang meninggalkan kesan yang luarbiasa di hati pedertanya. Ibaratnya jika saja jempol saya ada 20, maka keduapuluhnya akan saya berikan untuk kesuksesan acara ini.  Lebih kerennya lagi, acara Loksado Writers ini rencananya akan berlangsung setiap tahun. 

Penasaran dong ya, kegiatan apa saja yang kami lakukan selama di Loksado Writers & Adventure 2017? 

Sesuai judulnya acara ini merupakan gabungan forum sastra dan petualangan. Lho kok pakai petualangan segala? Lha iya dong. Tujuannya adalah untuk memberi experience baru bagi para peserta sehingga bisa merekam alam sekitarnya dengan segenap panca indra dan perasaannya dan mengolahnya menjadi inspirasi inspirasi baru bagi kelahiran puisi, prosa, artikel dan bentuk bentuk tulisan lain. Yahuuud banget kan?

Ini kurang lebih rundown acaranya.

Hari 1 Loksado Writers & Adventure 2017. Photo mix Yulian Manan

Hari pertama. Saya berangkat dari Jakarta pukul 5.45 pagi dan tiba di Banjarmasin pukul 8 pagi. Kami diajak mampir sarapan Soto Banjar lalu melanjutkan perjalanan ke Loksado. Istirahat sebentar untuk makan siang di kota Kandangan, sampailah kami di Amandit River Log di Loksado pada pukul 4 sore. Istirahat sebentar lalu makan malam dan acara penyambutan yang dihadiri juga oleh para pemuka adat Dayak Meratus. Acara juga diisi dengan pembacaan puisi. 

Mengunjungi balai adat Haruyan, malam acara Loksado Writers 2027

Hari kedua, kami mengunjungi perkampungan Dayak Meratus di pagi hari. Sebagian ada yang ke balai adat Malaris dan sebagian ada yang mengunjungi balai adat Haruyan. Sepulang dari sana kami kembali ke penginapan. Lanjut dengan acara Loksado Writers yang dihadiri pejabat Kabupaten setempat, pertunjukan kesenian tari kreasi Dayak dan tari Kurung-kurung. Malam hari dilanjutkan lagi dengan suguhan tari Kanjar dan pembacaan puisi. Acara dihadiri oleh Kepala Dinas Kebudayaan & Pariwisata provinsi mewakili Bapak Gubernur Kalimantan Selatan yang kebetulan berhalangan hadir.

Hari ketiga Loksado Writers & Adventure Bamboo Rafting dan Aku Telah Baca Puisi

Hari ketiga kami menikmati bamboo rafting alias naik rakit menyusuri Sungai Amandit, makan siang di kota Kandangan, lalu mampir di pasar Martapura untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Banjarmasin. Sore hari kami melanjutkan acara “Aku Telah Membaca Puisi” di Mingguraya Banjarmasin yang digelar teman teman sastrawan Banjar. Malam terakhir kami menginap di Banjarmasin.

Pasar Terapung Lok Baintan.

Hari keempat, acara dimulai dini hari untuk menikmati perjalanan sungai Martapura menuju pasar terapung Lok Baintan. Setelah puas di sana barulah kami kembali ke hotel, bersiap untuk pulang kembali ke Jakarta. 
Banyak sekali yang kami lihat, dengar dan alami. Semuanya mengisi relung relung hati dan jiwa kami. Menenuhinya dengan segala kenangan indah yang menjelma menjadi puisi dan mimpi. 

Loksado, rasanya pengen kembali lagi ke sana!. Terimakasih Mbak Agustina Thamrin dan Pak Budhi dan teman teman semua di Banjarmasin. 

Menyimak “Senggeger”, Menjenguk Dunia Imaginasi DG Kumarsana.

Standard

???????????????????????????????Ketika sibuk mencari buku kecil tentang Management di rak buku, saya  melihat sebuah buku tipis dengan cover merah hitam terhempas melintang di salah satu kotak rak itu. Judulnya “Senggeger” – sebuah kumpulan cerpen karya DG Kumarsana. O ya, sudah lama juga saya tidak melihat buku itu lagi.  Maka sayapun meraihnya dan berpikir, jika kesibukan pekerjaan saya ini agak berkurang saya akan membacanya kembali.

Buku yang diterbitkan oleh Pustaka Ekspresi pada bulan Desember 2010  ini  tediri atas 15 buah cerpen yang tentunya tidak ada hubungannya satu sama lain. Namun jika kita membaca semuanya, kita bisa menangkap beberapa benang merah yang cukup jelas tentang apa yang menjadi perhatian penulisnya. Yakni seputar kehidupan sehari-hari masyarakat, tentang mitos, tentang wanita (kekasih, ibu) dan sedikit kritik akan kehidupan lembaga pemerintah  yang  disampaikannya dengan cara yang jenaka.

Sangat menarik untuk dibaca, dan  saya menyukainya. Setiap cerpen yang ada memiliki alasannya masing-masing untuk saya sukai.  Contohnya adalah cerpen ke-empat belas yang berjudul “Kambing”.  Sebuah flashback masa silam tentang seseorang yang demi usahanya memajukan pendidikan di desanya memutar otak menyikapi sikap korup yang dilakukan oleh pejabat-pejabat terkait. Alih-alih menghentikan upaya pejabat itu dalam memerasnya dengan meminta disediakan 2 ekor kambing tiap kali proposalnya disetujui, ia mengikuti saja apa permintaan sang pejabat. Lalu mendokumentasikan setiap kambing itu dalam album-albumnya. Pada akhir masa tugasnya, tak terbayang jumlah kambing yang menghiasi album itu. Albumnya ternyata penuh dengan foto kambing!. Ha ha . Kocak juga. Saya tersenyum geli membaca tulisan jenaka ini.

DG Kumarsana juga banyak berkisah tentang wanita. Wanita yang menduduki posisi sebagai kekasih, pacar, istri, teman dengan beragam tingkah lakunya yang sangat perempuan. Bagaimana tingkah laku wanita mempengaruhi pikiran pria, tergambar jelas dalam  cerpen “Istriku dan Senggeger”, “Wah”, “Suatu Ketika, Ayu”, “Ibu”, “Ibu Kapan Pulang?” ataupun pada cerpen “Rumah”.

Pada cepen “Rumah” misalnya , DG Kumarsana menulis bagaimana lamunan seorang pria bisa berjalan sedemikian jauh, tentang wanita pasanganya yang menuntut dibelikan rumah, sementara ia merasa galau dengan penghasilannya yang hanya pas-pasan untuk mengisi perut saja. Di sini saya merasakan sebuah kesenjangan yang tercipta akibat dua hal yang kurang menguntungkan: lelaki dengan penghasilan pas-pasan  versus wanita yang menuntut kesejahteraan.  Tapi apakah kebanyakan wanita memang seperti itu?Hmm..mungkin saja. Setidaknya itu adalah citra yang umum melekat pada kaum perempuan.

Dalam cerpen “Istriku Dan Senggeger”, DG Kumarsana menceritakan kekuatan magis yang disebut dengan Senggeger yang telah merenggut cinta istrinya tanpa belas kasihan dan membuatnya ketakutan tak berdaya. Saya membaca apa yang ada dalam pikiran pria ketika mendapati kenyataan bahwa istrinya berselingkuh dengan pria lain. Kegalauan, kekhawatiran dan rasa memiliki yang tinggi sebagai seorang lelaki dan akhirya lemah tak berdaya  oleh kekuatan lain yang tak mampu dikuasainya. Secara kreatif penulis memanfaatkan mitos tentang ilmu guna-guna  yang dilatar belakangi kepercayaan setempat dalam karya sastranya. Hal yang serupa juga kita lihat pada cerpen “Ayah” dan “Boneka Berdarah”. Terasa agak magis dan mistis. Walaupun sebagian tentu mengeryitkan dahi  membaca tulisan ini, namun  mitos-mitos seperti ini mungkin saja memang masih banyak beredar di masyarakat.

Cerita yang menarik lagi adalah tentang kematian. Saya melihat bagaimana DG Kumarsana  mengemasnya dengan sangat imajinatif. Kita jadi ikut membayangkan perjalanan sang mati  dalam menemukan kenyataan dirinya dalam kematian. Dan terus terang pada akhir cerita saya merasa agak berdegup juga membaca cerita tentang  Mati ini.  semua yang saya ceritakan di atas tentunya belum semua. Masih banyak lagi tulisan-tulisan DG Kumarsana lain yang tak kalah menariknya untuk dibaca.

Secara umum pendapat saya tentang tulisan-tulisan di buku ini adalah :Kreatif dan Imaginatif! Disinilah letak kekuatan DG Kumarsana sebagai seorang sastrawan. Ia memiliki kemampuan mengangkat hal-hal yang absurd dan kurang jelas dimasyarakat menjadi sesuatu yang lebih nampak.

Membaca karya tulis seseorang, membuat saya membayangkan diri memasuki dunia imajinasi penulisnya.  Dunia pikir yang yang teratur, tertata rapi, berantakan atau tunggang langgang. Dunia damai yang teduh, atau dunia yang dinamis dan berapi-api. Juga membuat kita membayangkan imajinasi liar penulisnya.  Sejauh mana imajinasi telah ter’stretch’ ke ujung semesta.Sejauh mana impian membawanya melambung ke angkasa . Juga sejauh mana sang penulis memberika segala kebermungkinan untuk tumbuh equal dalam pemikirannya dan atau sejenis campuran antara cara berpikir seseorang plus nilai-nilai yang dianut dalam hidupya. Demikian juga ketika saya membaca buku Senggeger ini. Saya merasa seakan-akan  saya ikut memasuki alam pikir DG Kumarsana yang sangat imajinatif. Sangat mungkin terjadi karena kepiawaian Kumarsana dalam pemilihan dan pengolahan kata-kata menjadi sebuah fiksi yang kaya fenomena termasuk realitas kehidupan sosial – seperti yang dikomentari oleh I Gusti Putu Bawa Samar Gantang, seorang Penyair yang tinggal di Tabanan, Bali.

Lalu siapakah DG Kumarsana? Pada bagian ulasan tentang sang pengarang, saya melihat tertulis di sana bahwa Dewa Gede Kumarsana adalah seorang  penulis yang lahir di Denpasar  pada 13 April 1965 dan kini berdomisili di Labuanapi, Lombok Barat. Tidak mengherankan karya-karya sastranya banyak mengambil latar belakang budaya masayarakat Lombok dengan sedikit sentuhan akar budaya Bali sebagai tanah kelahiran sang sastrawan.  Setahu saya DG Kumarsana memang  seorang penulis yang cukup produktif.  Cerpen-cerpennya banyak dimuat di harian BaliPost, Nusa Tenggara, Karya Bakti, Majalah Ceria Remaja dan majalah bulanan Gema Karya.  Selain cerpen, DG Kumarsana juga menulis sajak, esai,prosa dan seputar catatan budaya. Pernah bergabung di Sanggar Persada Bali,Sanggar Minum Kopi bersama dr  Sthiraprana Duarsa. Juga pernah ikut meramaikan lalulitas sastra bersama Dige Amerta, Boping Suryadi, Reina Caesilia, K Landras, dll – juga mengisi lintas Gradag Grudug Bali Post Mingguan yang digerakkan oleh penyair Umbu Landu Paranggi (Motivator Presiden Malioboro). Ah… saya kenal baik dengan beberapa kawan yang namanya disebutkan di buku ini.

Saya sendiri mengenal Dewa Kumarsana dan keluarganya sebagai tetangga pada tahun  delapan puluhan saat saya nge-kos di daerah Gang Keris tak jauh dari kampus Kedokteran Hewan Udayana di Sudirman, Denpasar. Seingat saya pada tahun-tahun itu Dewa Kumarsana  bekerja di apotik Kimia Farma. Di mata saya ia adalah seorang pekerja keras yang tak segan-segan berangkat pagi dan pulang malam untuk menyelesaikan pekerjaannya,  saat saya dan orang-orang lain  seumurnya  masih bermaja-manja, hanya tahunya kuliah dan  meminta uang pada orang tua saja. Semetara ia sendiri sudah bisa mandiri di umur itu.