Tag Archives: Sawi Pagoda

Sapo Tahu Dengan Sawi Pagoda.

Standard

Hari ini saya bangun lebih siang. Badan saya terasa agak lebih sehat dibanding kemarin pagi. “Siang ini mau masak apa Bu?” tanya si Mbak. Rasanya kok sangat malas berpikir ya. “Yang ada di tukang sayur sajalah” kata saya. Tapi lalu saya keingetan tanaman sayuran di halaman.🌱🌱🌱 Beberapa mungkin harus dipetik segera biar tak ketuaan atau kepalang tumbuh bunga. 

Sayapun ke halaman melihat-lihat sayuran🍀. Kebanyakan masih kecil kecil. Tapi ada juga beberapa sisa sisa yang masih bisa dipanen. Ada Kailan dan Daun Pepaya Jepang. Ada juga sisa-sisa Sawi Pagoda yang penghabisan. Dipanen ah!.

Dimasak apa ya? Buka kulkas. Kebetulan masih punya sisa  tofu dan cumi. Ah!. Cukuplah. Mau dimasak Sapo Tahu Sayuran saja. 

Masaknya sederhana saja. 

1/ Sawi Pagoda dibersihkan dan daunnya dipetik satu per satu. Cuci bersih lalu tiriskan. 

2/. Potong-potong  tofu, goreng hingga matang. 

3/. Cumi dibersihkan, dipotong potong dan dicuci lalu digoreng. 

4/. Parut bawang putih, ditumis dengan irisan bawang bombay dan jahe hingga harum. Masukan irisan paprika (kebetulan ada di kulkas). 

5/. Masukkan tepung maizena yang sudah dilarutkan dengan air. Tambahkan sedikit garam dan gula. 

6/. Masukkan cumi dan tofu goreng.  Dimasak kembali dengan api sedang.  Tambahkan sedikit minyak wijen dan kecap inggris. 

7/. Terakhir masukkan Sawi Pagoda kesayangan. Masak dengan api besar lalu angkat. 

8/. Hidangkan panas-panas. 🍜🍜🍜

Sawi Pagodanya sangat enak dan empuk. 

Advertisements

Dapur Hidup: Menanam Sendiri Sayuran Sawi Pagoda.

Standard

Salah satu tanaman sayuran  yang cukup menarik untuk dimasukkan dalam daftar tanaman Dapur Hidup adalah Tatsai. Tukang sayur menyebutnya dengan nama Sawi Pagoda atau terkadang Wuta.

image

Disebut begitu barangkali karena bentuknya memang lucu mirip pagoda terbalik.  Daun-daunnya melingkar tersusun rapi dari tengah makin ke pinggir makin tinggi.

image

Jenis sawi ini jika dimasak terasa lebih enak dibandingkan dengan sawi lain. Selain itu harganya juga mahal. Saya pernah membeli 1/2 kg diberikan harga Rp 20 000. Mahal kan?  Jadi saya memutuskan untuk mencoba menanamnya. Kebetulan sekali saat bermain ke sebuah kebun hidroponik di seputaran Bintaro, saya ada melihat biji sawi pagoda dijual juga. Jadi saya belilah bijinya.

image

Setelah bijinya tumbuh, sebagian ada yang saya tanam di polybag dan sebagian ada yang ditanam hydroponik. Sayangnya ketika saya teelalu sibuk, beberapa tanaman ini agak terganggu pertumbuhannya. Entah karena gangguan ulat, kekurangan nutrisi ataupun rusak dikoyak hujan yang terlalu deras. Tapi beberapa masih ada yang cukup sehat untuk meneridkan hidipnya hingga saat panen tiba.

 

 

 

 

 

 

Selagi sempat, kemarin saya membersihkan akar tanaman ini dari lumut, menambahkan pipik cair dan memberi tambahan rockwool di pangkalnya agar lebih kokoh dan tidak goyang saat diterpa hujan yang sering turun deras belakangan ini.
Saya senang menanam sayuran seperti ini. Selain sangat terkontrol, tentunya bebas pestisida.Lebih aman untuk dikonsumsi keluarga. Selain itu, lumayan banget buat mengurangi belanja dapur.
Kita tanam yuk!.

Sayuran Yang Relatif Agak Baru Di Dapurku.

Standard

Setiap kali berada di pasar saya selalu memanfaatkan kesempatan untuk melihat-lihat jenis sayuran yang jarang dibawa tukang sayur. Kadang-kadang malah menemukan jenis sayuran yang sebelumnya tidak pernah ada. lalu biasanya saya coba untuk memasaknya di rumah.  Ada beberapa jenis sayuran yang bagi saya tergolong baru,karena baru muncul di pasaran (setidaknya di pasar tempat saya berbelanja) paling banter 2-max 5  tahun belakangan ini.

1. Sawi Pagoda alias Wuta.

Sawi PagodaSaya tidakingat kapan pertama kali saya melihat sayuran ini. Tapi saya yakin belum terlalu lama. Barangkali setahun dua tahun yang lalu.Sawi Pagoda atau sering juga disebut dengan nama lain Wuta, kelihatannya adalah jenis sawi yang benihnya berasal dari Thailand.

Saya tertarik melihatnya karena bentuk daunnya yang indah,tertata rapi melingkar,makin lama makin tinggi, membentuk kerucut terbalik. Bentuknya itulah yang menyebabkan mengapa ia disebut dengan nama Sawi Pagoda.  Warna  daunnya hijau gelap,  sangat kontras dengan  tangkai daunnya yang berwarna putih bersih. Sungguh menawan sekali penampilannya.Saking cantiknya, rasanya sayang untuk memetiki daunnya. Saya pikir tnaman ini sangat cocok untuk hiasan meja daripada dimasak.

Tapi ketikadimasak,rupanya rasanya juga enak. Saya pikir lebih enak dari jenis sawi biasa.Lalu bagaimana cara memasaknya? Karena saya tidak tahu,ya..saya masak Ca saja. Bisa juga dimasak tumis dengan Seafood, atau buat accesories mie.

2. Daun Pepaya Jepang.

Daun Pepaya JepangNah kalau yang ini saya tahunya baru beberapa bulan terakhir saja. Gara-garanya lagi pengen masak sayuran yang jadul jadul, eh..tiba-tiba melihat daun pepaya kecil-kecil dipajang di lapak tukang sayur di Pasar  Modern Bintaro. Tukang sayurnya mengatakan bahwa itu adalah Daun Pepaya Jepang. Ohh..saya baru pertamakali melihatnya. Warna daunnya juga lucu. Rasanya warna hijau hijaunya lebih gelap dari daun pepaya biasa.

Nte pait, Teh.Tinggal ditumis ajah” katanya. Saya dipanggil “teteh’ karena tukang sayur di pasar itu kebanyakan anak-anak muda Sunda dari Leuwiliang, Bogor. hah?nggak pahit ya? Awalnya saya tidak percaya. Masak sih ada daun pepaya yang tidak pahit? Mana mungkin.

Karena penasaran, maka sayapun membelinya. Saya bersihkan, potong lebih kecil, dan tumis..memang benar tidak pahit sama sekali. Rasanya jadi mirip daun singkong,karena pahitnya hilang. Enak. Sekarang saya malah ketagihan.

3. Sawi Keriting

Sawi KeritingSawi keriting saya kenal sudah sedikit agak lebih lama dibanding 2 sayuran di atas.  Lagi lagi saya memilihnya karena tampilannya yang lucu keriwil keriwil.

Secara struktur, sawi keriting mirip dengan Sawi putih (pitcai/pitsai).  Tidak berbatang (jenis batang yg tipis hanya dibagian pangkal tangkai daun). Tangkai daunnya yang lebar dan pipih mengelompok ditengah sehingga  daunnya yang keriwil praktis lebih banyak di ujung. Hanya saja ukuran sawi keriting ini biasanya jauh lebih kecil dari sawi putih yang biasanya besar, tebal dan padat.   Warna daunnya bervariasi dari hijau pucat  kekuningan hingga hijau tua. Secara keseluruhan tampilannya sangat menarik dan menggiurkan.

Rasanya, kalau menurut saya sih lebih enak dari sai putih ya.  lebih gurih dan sedikit lebih licin. Kalua ditanya enaknya dibuat apa, saya pikir bisa untuk apa saja ya. Direbus dan dijadikan lalap terus dicocol sambel terasi  enak. Ditumis enak, buat campuran cap cay enak. begitu juga buat nemenin mie.  Cocok lah menurut saya.

4. Sawi Manis.

Sawi ManisKalau menurut saya sayuran Sawi Manis ini kelihatannya masih saudara dengan Sawi Hijau (Cai sim).  Rupanya serupa. Agak berbatang, walaupun batangnya tidak berkayu. Tangkai daunnya panjang, demikian juga daunnya.  Warna daunnya hijau standard. Ukurannya lebih kecil dari sawi hijau.

Nah apa yang membedakannya dengan Sawi Hijau? Kalau menurut saya rasanya lebih renyah dan lebih manis. Barangkali itulah mengapa ia disebut dengan nama Sawi manis.

Enaknya dimasak apa?  Sama denga jenis sawi hijau, sawi ini paling enak dipakai untuk teman makan mie.  Atau yang suka makan bakso,mungkin cocok menggunakan jenis sawi ini.