Tag Archives: Sayuran

Tidak Sabar Menunggu Selada Red Ava. 

Standard

Karena sudah beberapa kali menanam selada hijau, saya penasaran ingin mencoba menanam selada berwarna merah. Selada yang sering saya temukan dihidangkan sebagai campuran salad di hotel-hotel berbintang. Nah…saya pikir keren juga nih jika dapur saya juga bisa menghidangkan salad dengan campuran sayuran ala hotel berbintang gitu. Produksi sendiri pula. 

Bibitnya dari mana? Saya coba cari di toko Trubus dan toko hidroponik seputaran Bintaro, lagi kosong. Ah, tapi saya tak mau kehabisan akal. Toko hidroponik online!. 

Selada Red Ava, reference gambar dari hidroponikshop.com

Singkat cerita dapatlah saya biji selada merah Red Ava yang re-packing. Isinya 40 butir harganya Rp 7 000 kalau saya tak salah ingat. Saya coba menyemaikan 5 butir di aras rockwool.. Lumayan, dari 5 yang hidup 4. Not bad lah ya. 

Ketika sudah mulai membesar dengan jumlah daun 4 lembar, saya memindahkannya ke dalam box hidroponik dengan system sumbu. Kemudian saya letakkan di teras belakang. Selanjutnya saya hanya melihatnya setiap pagi sebelum berangkat ke kantor dan memberinya pupuk saat weekend saja. 

Tanaman selada ini tumbuh makin besar. Ada warna merah bersawang-sawang di ujung daunnya. Saya berharap warna merahnya semakin tampak seperti foto referens. Sekarang selada ini sudah berumur kira kira 15 hari. Tapi kok warna merahnya belum keluar banyak juga ya? Malah lebih dominan warna hijaunya. Ada yang salahkah? 

​​Selada merah Red Ava ini meninggalkan penasaran di hati saya. Tapi saya akan tetap menunggu perkembangannya seminggu dua minggu ke depan ini, berharap semburat pigmen merahnya keluar lebih banyak. 

Bertanam rupanya membutuhkan kesabaran untuk melihat hasil. Karena alam membutuhkan proses dan tidak menyediakan hasil instant. 

Kisah Kol Yang Tidak Membulat.

Standard

image

Dalam setahun terakhir ini saya sudah berhasil menanam berbagai macam sayuran kebutuhan dapur seperti tomat, cabe, sawi hijau, pakchoi, timun, dan sebagainya di halaman rumah saya yang sempit. Lumayan.

Tapi ada juga sayuran yang belum pernah saya coba tanam di Jakarta sebelumnya. Yaitu kol. Karena setahu saya agar tumbuh optimal kol butuh temperatur yang dingin. Sedang Jakarta kita tahu lah ya, temperaturnya lumayan tinggi karena berada di dataran rendah dekat laut. Jadi pertumbuhan sayuran daerah dingin mungkin tak akan optimal di Jakarta.

Tapi tak apa apalah, saya tetap ingin coba.

image

Sayapun membeli bibit kol di toko Trubus. Nah… dapat nih. Cabbage. Brassica oleracea capitata.  Offenham 2. For spring greens or hearted cabbages. Dari Mr. Fothergill’s.

Sampai di rumah, mulai dong saya menyemai ya. Saya tebarkan biji biji kol ini dalam pot semai kecil. Seminggu kemudian ia tumbuh. Dan seminggunya kemudian lagi saya pindahkan ke polybag. Saya tidak menanamnya di instalasi hydroponik karena saya pikir yang namanya kol pasti nantinya akan membulat dan berat. Bisa limbung dan menggelundung jika saya paksakan di tanam di sana.

Tanaman kol ini bertumbuh dengan baik. Saya melihatnya setiap pagi. Daunnya yang tadinya cuma 4 lembar bertambah satu per satu. Mulai banyak dan membesar. Hijau royo royo. Tapi masalah saya cuma satu…

Setelah sebulan dua bulan berjalan, mengapa kol ini tidak membulat? Batangnya meninggi tapi tetap tidak mau membulat. Walaupun bentuknya indah seperti bunga besar berwarna hijau. Menggiurkan juga.

Akhirnya karena saya pikir kol ini tidak akan membulat dan saya sudah gagal, akhirnya di akhir bulan ke dua, satu per satu sayuran itu saya panen untuk ditumis, dilalap atau sekedar dicampur dengan mie goreng.

image

Belakangan saya baru ingat untuk mencari informasi mengenai “mengapa kol saya tidak membulat?”. Saya baru ngeh jika ternyata tanaman kol sebaiknya dipanen pada umur 4-5 bulan. Bukan umur 1-2 bulan. Hadeeehhhh!!. Kolnya sudah kepalang dipanen dan dimasak semua deh…

Jadi,  sebenarnya kol itu tidak membentuk bulatan/crops belum tentu karena ia tidak membentuk, tapi karena belum membentuk. Bisa jadi jika saya tunggu dulu dan tidak tergesa-gesa dipanen kol itu ada peluang untuk membentuk bulatan.
Dan kalau begitu, sebenarnya saya gagal karena saya pikir saya gagal. Bukan karena saya benar-benar gagal.

Nah itulah bahayanya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kadang hal seperti itu terjadi juga pada diri kita.  Terkadang kita menyangka diri gagal. Pikiran mengatakan kita gagal, lalu seluruh anggota tubuh dan perasaan kita ikut mengkonfirmasi kegagalan itu. Rasa putus asa datang. Kita merasa tidak ada gunanya lagi meneruskan upaya yang telah kita lakukan sebelumnya. Karena toh gagal juga. Lalu kita berhenti berusaha. Dan mulai mempreteli satu per satu element element pendukungnya hingga rusak dan akhirnya memang benar benar  gagal.

Mengapa hal itu bisa terjadi?

Pertama karena kita tidak cukup sabar mengikuti proses yang terjadi. Kita ingin instant sukses. Padahal kita tahu semua butuh proses. Tidak ada shortcut for succes.

Kedua, kita tidak memiliki pemahaman yang memadai tentang hal yang sedang kita lakukan. Kita pikir apa yang kita lakukan sudah cukup, namun ternyata di luar itu masih ada hal-hal penting lain yang juga harus dilakukan.

Ketika kita menyangka semuanya telah berakhir dan gagal, ternyata ada jalan kesuksesan yang tak terlihat oleh kita, hanya karena kita kurang sabar dan kurang membekali diri dengan pemahaman yang memadai.

Dapur Hidup: Menanam Sendiri Sayuran Sawi Pagoda.

Standard

Salah satu tanaman sayuran  yang cukup menarik untuk dimasukkan dalam daftar tanaman Dapur Hidup adalah Tatsai. Tukang sayur menyebutnya dengan nama Sawi Pagoda atau terkadang Wuta.

image

Disebut begitu barangkali karena bentuknya memang lucu mirip pagoda terbalik.  Daun-daunnya melingkar tersusun rapi dari tengah makin ke pinggir makin tinggi.

image

Jenis sawi ini jika dimasak terasa lebih enak dibandingkan dengan sawi lain. Selain itu harganya juga mahal. Saya pernah membeli 1/2 kg diberikan harga Rp 20 000. Mahal kan?  Jadi saya memutuskan untuk mencoba menanamnya. Kebetulan sekali saat bermain ke sebuah kebun hidroponik di seputaran Bintaro, saya ada melihat biji sawi pagoda dijual juga. Jadi saya belilah bijinya.

image

Setelah bijinya tumbuh, sebagian ada yang saya tanam di polybag dan sebagian ada yang ditanam hydroponik. Sayangnya ketika saya teelalu sibuk, beberapa tanaman ini agak terganggu pertumbuhannya. Entah karena gangguan ulat, kekurangan nutrisi ataupun rusak dikoyak hujan yang terlalu deras. Tapi beberapa masih ada yang cukup sehat untuk meneridkan hidipnya hingga saat panen tiba.

 

 

 

 

 

 

Selagi sempat, kemarin saya membersihkan akar tanaman ini dari lumut, menambahkan pipik cair dan memberi tambahan rockwool di pangkalnya agar lebih kokoh dan tidak goyang saat diterpa hujan yang sering turun deras belakangan ini.
Saya senang menanam sayuran seperti ini. Selain sangat terkontrol, tentunya bebas pestisida.Lebih aman untuk dikonsumsi keluarga. Selain itu, lumayan banget buat mengurangi belanja dapur.
Kita tanam yuk!.

Bangli: Jukut Tongkol, Sayuran Gurih Dan Unik.

Standard

imageKalau ada masakan yang paling saya kangeni saat ini adalah Jukut Tongkol alias Sayur Kecambah Kacang Kara dari Bangli, Bali – kampung halaman saya tercinta. Dan sekarangpun setahu saya pedagangnya tinggal 1 orang saja. Dan jika pedagang ini tidak membuat Jukut Tongkol lagi, saya khawatir makanan ini hilang dari peredaran pasar, walau barangkali di dapur-dapur penduduk masih ada masyarakat yang membuatnya sendiri.

Nah, pertanyaannya adalah mengapa sayur ini jarang ada yang menjual, padahal rasanya sangat enak dan gurih serta banyak orang yang menjadikannya sayur favorit?.
Saya pikir masalahnya adalah di bahan baku. Yaitu Tongkol itu sendiri. Jika kita mudah membeli Kecambah kacang hijau atau kecambah kacang kedelai di pasar, tidak demikian halnya dengan Tongkol. Tongkol atau Kecambah Kacang Kara, tidak umum diperdagangkan di pasar. Jadi, jika seseorang ingin membuat Jukut Tongkol, maka ia sendiri harus membuat kecambah tongkolnya sendiri terlebih dahulu.

Bagaimana proses memasak Jukut Tongkol agar didapatkan cita rasa yang unik, gurih dan sedap?

2016-02-02-23.36.17.png.pngMenurut keterangan begini nih cara memasaknya:
1/. Tongkol dibersihkan dengan baik. Dipotong ujung akarnya.
2/. Tongkol direbus dengan air kunyit untuk memberi warna kuning dan menjamin bebas dari penyakit. Setelah matang, tongkol ditiriskan.
3/. Bumbu yang terdiri atas Bawang Putih, Kencur dan Bawang Merah plus sedikit cabe dan garam diulek lalu digoreng. Ditambahkan santan dan sedikit tepung beras jika ingin kental. Dimasak hingga matang.
4/. Tongkol  diurap dan diaduk rata dengan bumbu.
5/. Dihidangkan dengan ditaburi bawang goreng, cabai dan kelapa goreng.

Nah…begitu kurang lebihnya.  Lebih mantap lagi kalau dimakan dengan nasi panas -panas. Mantap deh.

Untuk yang penasaran, yukkita berkunjung ke Bangli. Di Pasar Kidul, kita masih bisa menemukan dagangnya pada saat ini. Kita nikmati kuliner Bangli yang unik dan langka ini.

Catatan: Gambar adalah milik Putu Suiraoka Gaing

Dapur Hidup: Seledri Sayuran Multi Fungsi.

Standard

 

2015-12-24-18.19.08.jpg.jpegSeorang saudara saya (kakak) saya bertanya, “Hai gimana kabar tomat-tomatmu?“. Rupanya saudara saya itu ikut-ikutan semangat berkebun sayur. Ia mengatakan kalau ia juga terinspirasi oleh tulisan saya tentang Dapur Hidup dan mulai menanami areal-areal kosong di sekitarnya dengan cabe dan tomat. Bahkan berencana akan segera menanam kol juga. Ha ha..yes!. Saya senang.  Jadi lumayan dong ya..saya bisa mengajak-ajak untuk giat berDapur Hidup.

Menjawab soal tomat, saat ini di lahan sempit pekarangan saya sedang tidak ada tomat. Sudah habis. Karena setelah 7x panen pohonnya sudah menua dan meranggas. Saya memutuskan untuk mencabutnya saja. Dan baru mulai membibit lagi.  Tanaman sayuran hijau seperti pakchoi dan selada serta kangkung juga masih kecil-kecil dan belum siap panen. Lalu apa yang ada di halaman rumah kali ini?

Setidaknya hari ini  saya masih punya pare dan timun untuk dipanen  Juga masih ada banyak tanaman bumbu dapur. Apa saja sih?. Salah satunya adalah Seledri (Apium graveolens).

Di Bali orang cenderung menyebut Seledri dengan nama Suladri. Karena awalan kata Su berarti bagus/baik,maka mendengar nama Suladri terasa sangat nyaman di telinga. Kesannya seperti sesuatu yang mengakibatkan hal baik.

Pada kenyataannya, tanaman ini memang memegang peranan penting di dapur. Walaupun fungsinya sebagai pelengkap rasa, seledri dibutuhkan di banyak masakan. Bikin soto enak ditaburi  seledri. Bikin bubur ayam juga enak ditaburin seledri. Bikin perkedel kentang juga pakai seledri. Bikin bakwan jagung, bakwan sayur pakai seledri. Bikin sup pakai seledri. Dan masih banyak lagi jenis masakan, hingga ke kripik kripik pun ada yang pakai seledri.  Seledri dengan rasanya yang khas, memberikan sentuhan tersendiri pada masakan yang kita sajikan.

Selain buat masakan seledri secara traditional juga banyak dimanfaatkan untuk kesehatan dan perawatan. Sejak kecil kita sering mendengar jika air remasan daun seledri digunakan untuk keramas, dengan maksud untuk membantu menyuburkan rambut. Tak heran jika ada beberapa shampoo juga menggunakan extract seledri di dalamnya. Ada juga wanita yang memanfaatkan tumbukan daun seledri untuk memasker wajahnya agar halus dan cerah.

Seledri juga sangat disarankan untuk dikonsumsi untuk memperkuat penglihatan, karena kandungan Vitamin A-nya yang tinggi.  Lalu kita juga mendengar jika banyak orang memanfaatkan daun seledri untuk menurunkan tekanan darah tinggi, penurun kolesterol, sebagai diuretika dan sebagainya. Karena manfaatnya yang banyak, tentu akan sangat menguntungkan jika selalu kita siagakan di halaman rumah ya. Saya memasukkan seledri sebagai salah satu tanaman Dapur Hidup saya.

20151224_165551.jpgBenih berupa biji bisa kita dapatkan dari Toko Trubus. Biji seledri berukuran sangat kecil-kecil dan ringan. Dan mudah beterbangan jika kita tidak hati-hati  membukanya. Teksturnya mirip biji ketumbar. Tetapi jika biji ketumbar bentuknya bulat-bulat, biji seledri bentuknya lucu, melengkung lengkung.

Biji-biji ini saya taburkan di dalam pot tanaman hias Lidah Mertua yang tetap saya jaga kelembabannya. Masa tumbuhnya sangat lama. Kalau tidak salah saya harus menunggu selama 3-4  minggu. Tiada kunjung kelihatan gejala-gejala kehidupan sedikipun. Hingga nyaris saya pikir tidak berhasil hidup. Setelah kurang lebih sebulan barulah saya lihat ada titik-titik hijau muncul dipermukaan tanah.  Dan pertumbuhannya pun lambat juga. Sangat berbeda dengan biji tanaman lain seperti Caisim atau Pakchoy yang hanya dalam hitungan  1-2 hari atau maximum 3 hari sudah ada muncul putiknya.

 

 

20150907_073823.jpgSeledri membutuhkan air yang banyak. Jadi kita harus rajin-rajin menyiramnya dan menempatkannya di tempat yang teduh. Jangan dipanggang di bawah terik matahari.

Seledri ini menurut saya adalah tanaman yang sejak benih sudah indah. Saya sangat menyukai bentuk daun seledri. Berbentuk trisula tumpul dan bergerigi. Dan keindahannya ini sudah tampak bahkan sejak tanaman ini masih bayi.

Setelah daunnya minimal 4 buah, saya mulai memindahkannya satu per satu. Sebagian saya tanam di polybag dan sebagian lagi ada juga yang saya tanam dengan system Hydroponik.

SeledriUntuk yang di polybag membutuhkan perhatian khusus, karena harus rajin disiram. Pupuk humus atau pupuk kandang tentu sangat baik. Bisa juga kita menyiramnya dengan air  bekas cucian beras. Untuk hydroponik saya hanya memberikannya pupuk organik cair.

Beberapa minggu setelah itu, tanaman seledri saya sudah mulai bisa dipetik jika dibutuhkan untuk masak. Nggak perlu lagi membeli daun seledri dari tukang sayur. Karena kini saya sudah bisa memetik yang lebih segar dari halaman.

Nah.. membuat Dapur Hidup nggak pernah rugi kan!. Yuk kita semangat membuat Dapur Hidup sekaligus menghijaukan halaman rumah kita.

Go green yuk! Go green!.

Dunia Pinggir Kali: Bayam Liar Yang Segar.

Standard

 

2015-12-13-22.15.52.jpg.jpegSudah lama saya tidak bermain ke tepi kali belakang rumah. Kesibukan pekerjaanlah yang membuat begitu. Nah..mumpung agak senggang, saya memanfaatkan kesempatan.

Rupanya tetangga saya sudah selesai merenovasi rumahnya. Dan juga sekaligus memperbaiki pagar tepi kali yang mulai doyong. Temboknya tinggi juga. Untungnya masih dibuatkan pintu sehingga saya bisa nerobos keluar pagar jika ingin mengamati kehidupan burung-burung liar. Whuiii!!. Bantaran kali sekaligus juga sudah dibersihkan. Terimakasih tetangga!.

Rumput-rumput liar dicabutin dan sampah dibakar. Tanah di bantaran kali jadi lumayan terang. Rumput Benggala sudah tidak ada. Pohon jarak, pohon lamtoro dan pohon pisang ditebang. Tanaman oyong yang sebelumnya merambat di sana juga sudah tidak ada. Terang benderang!. Sebagian tanah masih kelihatan gundul tanpa penutup. Tanah di sekitar sini warnanya agak merah.

Karena hujan turun, rupanya biji-biji rerumputan dan tanaman mulai berkecambah. Ada banyak anak-anak tanaman baru. Senang melihat bantaran kali seperti ini. Sebentar lagi,  anak-anak tanaman dan rumput ini tentu akan tinggi lagi. Musim hujan membuatnya menjadi sangat subur. Selain di bantaran kali ini sangat jarang orang lewat. Tanaman-tanaman ini akan liar dan merajalela tanpa seorangpun yang peduli, hingga populasinya dibatasi oleh pertumbuhan mereka sendiri.

Agak ke sana saya melihat banyak rerumputan mulai tumbuh dan ada banyak sekali anakan bayam liar di sela-selanya. Puluhan jumlahnya. Daunnya besar besar, lebar dan subur. Wah…sebentar lagi tentu banyak ulat yang akan datang tergiur oleh kegendutan pohon-pohon bayam ini. Bayam-bayam itu menyebar di area sekitar 2 meter persegi.  Ya…saya ingat sebelumnya di sana ada pohon bayam liar yang besar dan berbunga banyak. Rupanya saat dibersihkan biji-bijinya yang halus sempat menyebar di situ. Sekarang tumbuh dan mulai besar. Sebentar lagi tentu akan tumbuh bunga.

Selain daunnya yang lebih lebar-lebar, bayam jenis ini rasanya jauh lebih enak dari jenis bayam cabut. Jaman dulu, sebelum jenis bayam cabut diperkenalkan di pasar,saya selalu menanam jenis bayam ini yang sekarang menjadi liar karena tidak umum dibudidayakan lagi.

Sebelum keduluan ulat, maka bayam itu saya petik sebagian. Saya ambil daunnya yang lebar-lebar saja.Lumayan saya mendapat sekeranjang penuh daun bayam liar segar. Bisa buat masak 2-3 kali.

Rejeki dari pinggir kali.

Urban Farming: Hijaunya Selada.

Standard

 

Saya pernah heran mengapa tidak umum orang menumis selada? Padahal sawi jenis lain biasa ditumis orang. Ada yang memberi komentar karena harga selada relatif lebih mahal dibanding sawi jenis lain. Oh ya? Saya baru ngeh. Dan  setelah saya doule check memang benar sih lebih mahal. Tapi mengapa ia harus lebih mahal?  Nah…sekarang saya sedikit agak tahu jawabannya.

Rupanya harga biji selada (Lactuca sativa) jauh lebih mahal dibandingkan harga bibit sawi lain misalnya Caisim. Saya membeli sebungkus biji selada di Trubus harganya sama dengan harga sebungkus biji sawi Caisim. Tapi setelah dibuka,  ternyata jumlah biji selada di dalamnya cuma 1/4 atau bahkan 1/5 jumlah biji Caisim. jadi memang mahal.

Lalu setelah ditabur, hampir semua biji Caisim tumbuh. Tapi hanya sangat sedikit dari biji selada yang tumbuh.
Wah…kalau begini panteslah selada mahal. Terus berikutnya, pertumbuhan Caisim alangkah cepatnya. Sementara Selada lebih lambat.

Walau demikian, selada tetapbermanfaat ditanam.Dan saya tetap semangat mencoba menanamnya dengan system hidroponik. Satu dua mulai ada yang bisa dipanen. Daunnya hijau royo royo nenggiurkan. Terutama yang muda, sangat segar dan renyah. Bagus untuk lalap ataupun untuk bahan salad. siapa yang tidak mau menikmati sayuran  hijau segar langsung dari halaman?
Bertanam sayuran di halaman memang tak pernah ada ruginya.
Yuk kita bikin Dapur Hidup!.

Ide Dapur: Kepompong Sayur Orak -Arik Telor

Standard

image

Memandangi sayuran rebus yang sama nyaris setiap hari kadang membosankan juga. Muter-muter aja mulai dari sawi putih rebus, caisim rebus, tauge rebus,  kol rebus dan sebagainya. Biasanya saya cocol dengan sambal tomat atau sambal terasi. Sebenarnya rasanya enak sih. Tapi karena saking seringnya, lama- lama bosan juga ya.

image

Nah satu kali nih, saat mau mempersiapkan bekal makan siang buat ke kantor, tiba-tiba saja saya keingetan beberapa jenis masakan berbalut sayuran yang pernah saya cicipi di negeri seberang. Aha!
Jadi nemu ide baru nih untuk membuat bekal makan siang yang lebih menarik dan variatif.

image

Saat itu saya punya sedikit orak-arik telor dan rebusan sawi putih. Juga sedikit rebusan sawi hijau (caisim).
Saya bentangkan daun sawi putih yang sudah dipotong dan direbus. Diatasnya saya isi dengan sedikit orak-arik telor, lalu saya gulung perlahan. Wah…mirip kepompong.  Kepompong sayuran isi orak-arik telor.

image

Lalu saya susun satu per satu di box makanan. Sungguh kelihatan menarik dan segar.
Rasanya juga so pasti enak ya.

Urban Farming: Tomat Cherry Kampung Yang Terabaikan.

Standard

 

wpid-20151031_091514.jpgSalah satu tanaman yang menarik hati untuk saya tanam di halaman rumah saya yang sempit adalah Tomat Cherry. Tomat Cherry yang saya maksudkan ini bukan yang biasa kita temui di Supermarket ataupun di toko toko buah lho. Tapi Tomat Cherry yang biasa kita temukan liar dan terbuang di kampung. Mengapa terbuang? Karena dengan diameter 2-3mm, tomat ini terlalu kecil dan dianggap tidak punya nilai ekonomi. Jadi biasanya diabaikan saja oleh para petani yang biasanya menanam tomat dengan ukuran minimal segede telor ayam atau bahkan lebih besar dari telapak tangan.

Nah tomat jenis ini kalau di kampung saya di Bali disebut dengan Tomat Grongseng. Dan kalau di kampung saya di tepi danau Batur, tomat imut-imut ini disebut dengan Gereng-Gerengan. Di masa kecil saya sering menjadikannya mainan karena mirip kelereng.
Selain  itu rasa tomat ini juga agak lebih asam dibanding tomat buah. Jadi mungkin lebih cocok jika dibuat sambal. Tapi buat saya tanaman yang buahnya bulat ini sangat menarik tampilannya. Dan tentunya menarik untuk di tanam di halaman. Saya pikir masih cukup enak juga dijadikan salad.

Saya mendapatkan bibit tanaman ini dari desa Cikidang di Sukabumi, berupa buah matang dari sebuah tanaman terlantar di bawah pohon pisang yang tak seorangpun perduli. Saya ambil buahnya yang tua dan saya jadikan bibit. Ada banyak sekali bibit tanaman yang tumbuh tapi sayangnya halaman saya yang sempit tidak cukup untuk menampung semuanya. Akhirnya hanya beberapa saja yang saja tanam.  Ada yang di pot dekat tembok pagar ada juga yang hanya saya tanam di polybag. Senang rasanya melihat tanaman ini tumbuh, lalu berbunga dan berbuah. Mulai dari butir kecil berwarna hijau, lalu membesar dan kemudian memiliki semburat pigment kuning, jingga lalu merah ranum. Tidak terlalu banyak masalah saat nenumbuhkannya. Walaupun ada sedikit gangguan serangan kutu putih, tapi saya atasi secara manual. Karena saya berkomitment  tidak menggunakan pestisida untuk semua tanaman di pekarangan rumah saya.

 

Hampir tiga bulan kemudian, pohon Tomat Cherry di halaman saya sudah berbuah dan mulai ranum satu per satu. Hati saya sangat senang. Saya pikir mulai hari ini dan berikutnya saya mulai bisa memanfaatkan buah tanaman ini untuk keperluan dapur. Ini termasuk salah satu upaya saya melanjutkan proggram “Dapur Hidup”.

Yuk kita bertanam sayuran di halaman!

Urban Farming: Belajar Bertanam Hidroponik.

Standard

Trial & Error. Percobaan Yang Belum Sukses  Juga.

Hydroponik 1Di toko Trubus saya melihat ada instalasi Hidroponik ditawarkan. Ukurannya 1 x 1 meter. Dilengkapi dengan bibit tanaman dan pupuk. Harganya 3.5 juta. Mahal tidak ya? Saya sangat tertarik. Suami saya mengatakan  gampang dan murah jika membuat sendiri instalasi itu. “Paralon murah. Yang mahal paling hanya pompa airnya saja” katanya. Dan ia berjanji akhir pekan akan membuatkannya untuk saya.

Akhir pekan berlalu, suami saya rupanya terlalu sibuk  dan benar-benar tak sempat memenuhi janjinya.  Apa boleh buat. Akhirnya saya memanggil tukang bangunan yang biasa memperbaiki atap bocor atau masalah lain di rumah untuk membuatkan instalasi hidroponik. Saya mengajaknya pergi ke Toko Bahan Bangunan * Semangat baja*. Ngapain? Ya membeli paralon dan perlengkapan lain yang dibutuhkan untuk membuat instalasi air itu. Ya… kelihatannya memang jauh lebih murah kalau buat sendiri.  Pak Tukangpun mulai mengukur-ukur dan memotong.

Sementara tukang mulai bekerja, saya pergi ke Toko Aquarium membeli pompa air.  Pemilik toko Aquarium memberi saya informasi, pompa yang paling banyak digunakan orang untuk Hidroponik adalah yang 38 watt. Kalau 25 watt terlalu kecil. Banyak yang sudah membeli, tidak puas dan ingin mengembalikan -tapi tentunya pihak toko tidak mau terima kembali. Karena takut salah, akhirnya saya membeli yang sesuai dengan advise tukang Aquarium sajalah. Harganya tidak sampai Rp 300 ribu. Setelah itu berikutnya lalu membeli ember besar buat wadah air.  Nah..sekarang tinggal menunggu tukang selesai bekerja.

Keberatan beban.

Pak tukang membuat instalasi berukuran 1meter x 1.5 meter. Tidak bertingkat. Flat. Satu lantai saja. Karena ini baru belajar, saya tidak ingin membuatnya complicated dulu.

Terdiri atas 11 batang paralon 1 meter masing-masing dilengkapi dengan 6 buah lubang tanam. Jadi totalnya ada 66 buah lubang tanam. Pipa-pipa paralon disambungkan. Diletakkan di atas tiang penyangga yang terbuat dari paralon berdiameter lebih kecil.  System pemasukan air dengan slang dan pembuangan kembali ke ember pun diatur. Pompa sudah dipasang. Sempat terjadi kebocoran di selang-selang kecil di tiap batang paralon tapi kemudian bisa diatasi denga lem. Sekarang instalasi Hydroponik siap digunakan.

Saya membeli media tanam dan pupuk khusus Hidroponik.  Karena rockwool mahal dan stocknya sedang tidak ada, saya disarankan menggunakan Sekam Bakar saja untuk media tanam.  Saya punya bibit Caisim manis dan Pakcoy yang saya tempatkan di wadah gelas plastik air mineral yang dilubangi agar air dan pupuk bisa keluar masuk. Begitu semua tanaman diletakkan di lubang tanam, pompa air dinyalakan. Tak berapa lama tiba-tiba paralon penyangga  agak meleot pada bagian tengahnya. Bocor dan banjir lagi. Hyaaa!!!!.

Rupanya keberatan beban air. 50 liter air dipompakan ke atas, plus sekam. Tidak mampu disangga dengan baik. Hitungan matematikanya dapat score 0 besar. Untung tidak sedang Ujian Nasional. Ha ha ha.  Terpaksalah masing-masing diberi tambahan paralon lagi untuk menyangga agar lebih kuat.

Daun Yang Kuning Muda.

Hari-hari berlalu. Saya menambahkan pupuk Hidroponik A+B ke dalam ember. Tanaman tumbuh dengan cukup baik.  Tapi lama-lama kok daunnya menjadi pucat kuning muda warnanya. Klorofilnya mana? Whuaaaa…! Saya salah meletakkan instalasi hidroponik itu. Di tempat yang kurang sinar matahari. Mana bagian atasnya tertutup pula. Padahal harusnya kena paparan sinar matahari minimal 4 jam sehari ya?. Mengapa kebodohan seperti ini bisa saya lakukan ya? (*garuk-garuk kepala).

Sudahlah. Tak usah meratapi nasib. Segera perbaiki kesalahan. Akhirnya dengan meminta tolong orang-orang di rumah, saya menggotong instalasi air itu  ke tempat yang memungkinkan buat tanaman ini bisa terpapar sinar matahari pagi. Beberapa hari kemudian sebagian daun-daun tanaman sayuran itu mulai ada yang membaik. Level klorofilnya meningkat. Sekarang mulai sedikit menghijau. Walaupun belum royo-royo.

Aliran Air Mampet.

Ujian rupanya tidak cukup sampai di sini. Sekarang saya menghadapi masalah baru.  Aliran air kurang lancar. Penyebabnya Sekam Bakar yang dijadikan sebagai media tanam, keluar dari gelas plastik. Barangkali karena lubangnya kebesaran. Sekam lalu dihanyutkan air dan membuat pompa macet. Pompa harus dibersihkan berkali-kali. Bukan saja merepotkan tetapi juga membuat pertumbuhan tanaman terganggu. Waduuh!. Mungkin saya harus mengganti gelas-gelas plastik ini dengan yang baru, dengan lubang-lubang yang lebih kecil.

Hydroponik 13Pilihan lainnya adalah mencari pengganti media tanam. Kembali saya berkonsultasi ke Trubus. Jika tidak ada rockwool, apalagi media alternatif yang bisa saya pakai?  Sesuatu yang berserat dan porous. Yang penting bisa menyimpan air lebih banyak dan memungkinkan akar bisa tembus. Barangkali serabut kelapa. Tapi di mana saya mencari serabut kelapa?  Aha! Akhirnya saya terpikir akan Dacron.

Bagaimana dengan Dacron? Bukankah Dacron juga porous dan bisa menyimpan banyak air?. Dacron adalah sejenis bahan sintetis mirip kapas yang biasanya digunakan untuk mengisi  bantal, guling, boneka, bed cover atau kerajinan quilting. Saya ada menyimpan sedikit Dacron juga di rumah.  “Coba aja Bu” kata orang Trubus.

Dacron ini tidak akan terbawa arus air. Harapan saya dengan mengganti sekam bakar dengan dacron, air akan menjadi lebih bersih tanpa residu.

Kemarin saya coba mengganti media sebagian dari tanaman itu dengan Dacron. Untuk percobaan saja dulu. Jika tanaman tidak layu dan bisa survive, akan saya lanjutkan kemudian pada tanaman berikutnya. Dalam sehari masih belum kelihatan hasilnya. Tanaman kelihatan kurang segar, tapi tidak layu.

Belum sukses -sukses juga. Banyak kekurangan. Trial & error.

Saya melirik tanaman yang di polybag. Kelihatan jauh lebih segar dan lebih cepat tumbuh. Tapi saya tidak menyerah. Pantang berputus asa.  Tetap semangat dan berusaha terus memperbaikinya.  Semoga kali ini saya berhasil dengan lebih baik.