Tag Archives: Sekolah

Menonton Drama Musikal “Kita Indonesia Milenial”.

Standard

Sabtu kemarin, saya berkesempatan hadir dalam pagelaran drama musik yang diselenggarakan sekolah Pembangunan Jaya. Mengambil tempat di Gedung Teater Global Jaya, pagelaran kolosal yang melibatkan siswa siswi Pembangunan Jaya dari tingkat TK, SD, SMP hingga SMA ini terlihat cukup grande.

Menurut pihak penyelenggara, ide datang dari fakta bahwa saat ini sekolah TK, SD, SMP dan SMA Pembangunan Jaya letaknya di lokasi yang terpisah pisah. Masing masing melakukan aktifitas sendiri sendiri. Bagaimana kalau sekali- sekali diadakan pentas gabungan ?. Hmm… ide yang menarik juga. Dan thema milenial yang diambil juga sangat menarik dan berlatar situasi yang dihadapi bangsa kita saat ini, yakni tentang ke-Bhineka Tunggal Ika -an. Rupanya Pembangunan Jaya ingin memperlihatkan peran dan partisipasi dalam memperat persatuan dan kesatuan bangsa lewat drama musikal ini.

Alur cerita.

Drama bercerita tentang anak perempuan yatim piatu bernama Putu Dini, berasal dari desa Penglipuran di Bali. Karena kedua orang tuanya sudah tiada, Putu lalu berangkat ke Jakarta untuk tinggal bersama Om dan Tantenya dan pindah belajar ke sekolah di SMA Pembangunan Jaya.

Di masa awal masuk sekolah, Putu mengalami beberapa masalah karena dibully oleh Gangs sekolah yang bandel dan suka bolos pelajaran. Ketika ibu guru memperkenalkannya sebagai anak baru, Putu diminta menari. Putupun menari Bali. Tetapi Gangs sekolah yang merasa lebih jago nge-dance mengatakan tari traditional seperti itu sudah tidak jaman lagi. Merekapun menunjukkan dance yang lebih modern yang lebih kekinian. Putu diejek sebagai kampungan.

Juga preman yang banyak berkeliaran suka memalak dan merampas hape yang baru saja diberikan oleh tantenya.

Hal ini membuat Putu merasa sangat sedih. Ia merasa ibu kota sangat jahat padanya. Dan ia rindu ingin pulang ke kampung halamannya yang tentram dan damai. Di sini kedamaian kampung Indonesia digambarkan apik dengan berbagai tarian daerah.

Tapi dengan berjalannya waktu, Putu akhirnya bertemu dengan teman teman yang mau menerimanya dengan baik dan mengajaknya ikut aktif dalam kegiatan ekskul nge-dance. Saat itu kebetulan sedang ada Pembangunan Jaya Dance Battle.

Beberapa group dance tampil. Termasuk gangs yang membully Putu sebelumnya.

Mereka semua bagus -bagus.

Nah…terakhir tampillah Putu dan groupnya. Mereka datang dengan Dance baru yang merupakan kombinasi Traditional Bali dance dengan tarian modern.

Ternyata tari baru ini bukan saja bagus dan penuh energi, tetapi juga mampu menunjukkan bahwa tarian Traditional pun bisa menjadi sangat bagus dan harmonis disandingkan dengan tarian modern. Team Putu menang.

Semuanya memberikan applaus dan selamat. Termasuk teman-teman yang sebelumnya membully Putu. Semuanya menerima Putu dengan baik.

Di akhir cerita, Putu dan teman-temannya saling berbagi pendapat bahwa kita semua adalah Bangsa Indonesia yang satu, tanpa harus membesar-besarkan perbedaan ras, suku ataupun agama yang dianut. Bhineka Tunggal Ika.

Overall alur cerita sangat menarik. Masing -masing anak juga menjalankan peranannya dengan baik. Dan pesan moral yang disampaikan untuk lebih mencintai budaya kita sendiri tersampaikan dengan sangat baik.

Musik dan Lagu.

Yang membuat drama ini menjadi semakin menarik adalah musik dan lagu yang digarap dengan serius. Tidak tanggung tanggung, minimal ada 3 group yang mensupport drama musikal ini.

Pertama adalah group musik traditional Bali yang berlokasi di sudut kanan penonton. Walaupun hanya terdiri atas beberapa gangsa, tapi musik ini diperlukan untuk mendukung adegan terutama saat pembukaan.

Kedua , di sebelah kiri penonton adalah Pembangunan Jaya music assembly yang mendukung banyak adegan dari drama musik itu.

Dan ke tiga, berdiri berjajar di kiri depan panggung adalah group paduan suara yang menghasilkan kwalitas lagu ysng baik dan indah.

Di luar itu drama music ini masih dilengkapi dengan permainan drum dan alat music bambu yang dimainkan anak anak.

Kombinasi permainan music dan lagu lagu ini membuat keseluruhan drama musikal ini menjadi lebih terlihat keren.

Tata gerak dan koreografi.

Gerak dan koregrafi drama musik ini juga terlihat cukup apik. Walaupun di sana sini juga sedikit berantakan, tapi saya tetap ingin ngasih jempol. Mengingat bahwa sangatlah tidak mudah mengelola ruang dan tata gerak para pemain yang jumlahnya sangat banyak, apalagi sebagian darinya adalah anak-anak TK dan SD yang tentunya sulit diatur. Tapi justru di situ letak kelucuannya yang alami, yang mengundang tawa dan senyum penonton. Yang penting di sini adalah bagaimana membuat anak-anak berani tampil di panggung.

Di luar itu masih ada lagi tata cahaya, permainan laser dan backstage display yang merupakan elemen penting untuk membuat keseluruhan pagelaran menjadi semakin hidup dan wah.

Begitulah pengamatan saya terhadap pagelaran kolosal ini. Semuanya berjalan dengan sangat bagus. Anak anak sangat percaya diri dan bangga dengan apa yang mereka lakukan.

Walaupun ada beberapa kekurangan kecil, tetapi tidaklah banyak. Seperti misalnya jika dilihat dari aspek Marketing, (Brand Imagery Building) – saya pikir jika dalam drama ditunjukkan figur ibu guru yang lebih serius dan tidak terkesan sangat sering meninggalkan kelas gara gara rapat (sampai murid sangat hapal alasannya: Raaapaaaat!!!), tentu citra sekolah Pembangunan Jaya akan berhasil dibangun dengan lebih baik.

Juga saat ketua murid membacakan pengumuman, mengapa semua murid harus membolos?. Karena adegan ini justru membuat kening penonton (orang tua murid) jadi berkerut. Saya pikir dengan adegan membully anak baru oleh beberapa anak nakal saat guru tidak ada, sebenarnya sudah cukup untuk membangun konteks. Nggak usah ditambahin.

Juga ada adegan saat menjelang battle dance tiba tiba serombongan ibu ibu ke sekolah, sehingga memicu keributan kecil yang memaksa sang pembawa acara harus meminta maaf kepada ibu ibu itu. Mungkin adegan ini sengaja diselipkan sebagai twist, untuk membangun kejenakaan tetapi treatment nya agak kurang pas. Sehingga dari unsur pendidikan terasa agak mengganggu.

Tapi …terlepas dari sedikit area yang sebetulnya masih bisa dibangun dengan lebih baik itu, secara keseluruhan pagelaran ini layak diacungi jempol yang banyak. Salut pada Pembangunan Jaya yang telah berusaha membangun kesadaran tentang kebhinekaan bangsa kita lewat drama musikal.

Salam sukses dari saya, untuk perguruan Pembangunan Jaya!.

Advertisements

Mengenang Sekolahku Tercinta, SD II Kawan Bangli Yang Terbakar. Part 2.

Standard

image

Karena sebelumnya saya bercerita tentang betapa bagusnya kualitas ‘non akademis” di SD II Kawan Bangli yg pada jaman dulu bernama SD III Bangli, lalu ada yang bertanya bagaimana dengan kualitas akademisnya? Ada juga adik kelas yang meminta saya menceritakan tentang guru guru kami pada saat itu.

Inilah pengalaman yang saya alami selama bersekolah di sana.

Menurut saya, sekolah ini memiliki kwalitas akademis yang lumayan bagus jika dibandingkan dengan sekolah dasar yang lain pada saat itu. Sekolah kami juga aktif mengirimkan wakilnya di ajang kompetisi Siswa Teladan, ajang Cerdas Cermat dan ajang kompetisi lainnya bagi anak SD dengan menuai cukup banyak kesuksesan dari tahun ke tahun.

Pun berhasil mencetak alumni dengan kwalitas yang unggul. Tidak sedikit kakak kelas maupun  adik kelas saya yang memiliki prestasi bagus yang diakui di tingkat kabupaten, provinsi bahkan di tingkat nasional. Dan tentunya prestasi itu tidak mungkin tercapai jika tidak didukung oleh kwalitas guru yang handal.

Untuk itu saya ingin mengucapkan terimakasih saya yang amat besar kepada para Ibu dan Bapak Guru yang telah mendidik kami dengan susah payah. Dengan sangat sabar dan tulus. Saya ingin mengenang mereka di sini satu persatu.

Guru saya di kelas 1 dan kelas 2, bernama Ibu Rai. Beliau mengajarkan saya dasar-dasar budi pekerti yang baik. Disiplin yang baik dan taat pada tata tertib yang berlaku. Tubuh dan pakaian yang bersih, rambut yang rapi, kuku yang terpotong pendek dan bersih, masuk dan keluar kelas dengan tertib dan tepat waktu. Beliau juga yang memperkenalkan alphabet latin kepada saya sehingga saya bisa nembaca dan menulis. Dan juga sekaligus mengajarkan saya dasar- dasar aksara Bali ha na ca ra ka. Juga mengajarkan saya dasar-dasar ilmu berhitung, tambah, kurang, kali dan bagi. Beliau adalah seorang guru yang sangat sabar, baik, penuh perhatian namun juga sekaligus tegas dan disiplin.
Pada saat kelas satu saya hanya belajar 2 jam per hari. Mulai belajar pukul 7.00 pagi dan pulang pukul 9.00. Sedangkan saat kelas dua, kami masuk mulai jam 9.00 pagi dan pulang pukul 12.00.
Yang menarik untuk saya ceritakan di sini adalah bahwa pada jaman itu buku tulis/buku kertas belum ada. Jadi kami belajar dan latihan menggunakan batu tulis atau Lai. Sedangkan alat untuk menulisnya adalah Grip. Setiap kali latihan , ibu guru akan mengumpulkan Lai kita. Memberi nilai dengan kapur. Saya sangat senang, karena jika saya betul semua atau nilainya 100, saya akan tempelkan ke pipi saya. Angka 100 atau tanda betul semua itupun menempel di pipi. Lalu saya tunjukkan ke Bapak saya dengan bangga. Bapak saya tentu senang melihat saya selalu mendapat score 100 setiap saat. Setelah akhir kelas 2 atau awal kelas 3 barulah muncul buku kertas dan saya termasuk orang yang beruntung bisa mempelopori penggunaan buku kertas dan pensil di sekolah.

Sekarang kalau dipikir-pikir, belajar dengan lai itu sebenarnya sulit juga. Karena kita hanya punya satu  lai. Apa yang kita catat selalu kita hapus lagi. Tulis- hapus- tulis – hapus. Dibutuhkan otak yang sangat kuat untuk memahami dan menghapalnya – karena catatan itu sudah terhapus. Salut juga sama orang-orang jaman dulu yang sepanjang sekolahnya memakai batu tulis. Daya ingatnya tentu luar biasa.

Jaman itu juga belum banyak murid yang punya sepatu. Ke sekolah kami ya nyeker saja atau paling banter menggunakan sandal jepit. Saya juga punya sepatu. Tapi apa daya, karena sepatu pada jaman dulu adalah barang mewah, saya  hanya menggunakan sepatu saat berada di dalam kelas saja. Saat jam istirahat saya melepas sepatu. Demikian juga jika pulang. Sepatunya saya lepas, saya tenteng atau panggul di punggung saya, sementara saya nyeker ke rumah. Sayang sepatu. ..ha ha.

Suatu kali di hari kenaikan kelas, tidak ada pelajaran hari itu. Jadi saya hanya bermain di halaman sekolah bersama teman-teman. Tentunya dengan melepas sepatu. Tiba-tiba saya dipanggil Ibu Rai. Ooh.. dengan terburu-buru saya masuk ke dalam kelas. Sepatu saya ketinggalan di halaman. Ternyata saya mendapat ranking 3. Ranking pertama diduduki oleh teman saya  Komang Suarsana dan ranking ke dua oleh Putri Paramitha.  Sayapun dipotret dan tentunya…..tanpa sepatu!.

Saya sangat senang. Demikian juga Bapak Ibu saya. Itulah saat  pertama kalinya saya tahu ternyata di kelas itu ada ranking- rankingan. Kalau kita pandai, kita dapat juara. Saya ingin mendapat ranking satu. Tidak mau ranking 3!. Bapak saya tertawa. Kata bapak saya, “Kalau begitu  kamu harus berusaha!”.  Dan sayapun berusaha. Demikianlah di tahun berikutnya ranking saya naik bertahap hingga di kelas 4 akhirnya saya berhasil menduduki ranking pertama. Dan seterusnya hingga saya lulus. Selain itu saya juga senang karena berhasil membawa nama baik sekolah saat harus berkompetisi di ajang Siswa Teladan tingkat SD pada tahun 1976.

Guru kelas III saya bernama Ibu Puji. Ibu Puji adalah ibunda dari teman saya Putri Paramitha. Selain mengajar di kelas, Ibu Puji juga sangat terampil menjahit. Kelas 3 kami mulai belajar full. Dari pukul 7.00 -12.00. Di sini kami mulai belajar ilmu hitung yang lebih rumit. Juga berbahasa Indonesia dengan semakin rapi. Rasanya bangga juga bisa fasih berbahasa Indonesia. Karena jaman itu belum 100% orang di daerah saya bisa menggunakan Bahasa Indonesia dengan fasih. Namun demikian pelajaran Bahasa Bali juga semakin tinggi levelnya.
Seingat saya, saat di kelas 3 ini pada tahun 1974, dinding sekolah yang tadinya berbahan bedeg mulai diganti dengan dinding tembok secara bertahap.

Guru saya di kelas IV bernama Pak Suta. Beliau merupakan guru favorit saya. Sangat pintar mengajar. Karena beliau, saya bercita-cita ingin menjadi guru. Setiap kali bermain sekolah -sekolahan, saya sering berpura-pura menjadi guru. Membayangkan diri saya menjadi sosok sepintar Pak Suta guru saya.
Saya ingat bagaimana beliau menceritakan sejarah dengan cara yang sangat menarik. Kisah Mpu Gandring, Ken Arok, Tunggul Ametung dan Ken Dedes menjadi sangat menarik dan mudah diingat. Demikian juga kisah Raden Wijaya dan hutan tariknya. Juga semua mata pelajaran yang lain. Agama, Ilmu Bumi, ilmu alam, bahasa dan sebagainya dijelaskan dengan cara yang sangat menarik. Karena menceritakannya sangat menarik, membuat mudah bagi kami untuk mengingat dan menjawab.

Saat di kelas V, metode pembelajaran mulai sedikit berubah. Kami memiliki Guru wali kelas dan juga guru-guru mata pelajaran yang berbeda. Guru wali kelas saya di kelas V adalah seorang jago Matematika. Namanya Pak Banjar. Karena beliau jago, maka kamipun terbawa ikut-ikutan menjadikan matematika sebagai mata pelajaran yang paling menyenangkan.

Dan di kelas 6, kelas terakhir di sekolah itu, guru saya bernama pak Sutapa. Guru yang menurut saya sangat pintar dalam segala bidang,  walaupun terkenal keras dalam menerapkan disiplin kepada muridnya.

Guru guru lain yang juga mengajar pada saat itu tetapi tidak pernah menjadi wali kelas saya adalah Ibu Nengah Cenik, Pak Pegol dan Pak Sudena. Dan tentunya ibu Runih yang merupakan Kepala Sekolah kami.
Doa terbaik untuk para guru saya yang sangat mulia.

Sekarang, jika saya pikir balik, sungguh predikat Teladan sangat layak diberikan kepada sekolah saya itu.  System pendidikannya sangat baik. Menggabungkan materi akademis formal dengan muatan lokal dan nilai nilai kemandirian dan kewirausahaan.
Dengan kondisi perekonomian masyarakat yang tidak begitu baik pada jaman itu, setiap anak telah dibekali dengan ketrampilan yang mudah dilakukan dan mudah dijadikan uang. Sehingga separah-parahnya, jika ada murid yang tidak mampu melanjutkan sekolahnya karena alasan ekonomi, terpaksa drop out, si anak sudah siap mencari nafkah dengan ketrampilan yang dimilikinya. Mulai dari mengelola kebun sayur, sawah, beternak kambing, membuat arang, sapu lidi, kemoceng dari bulu ayam, kesetan kaki, taplak meja, sarung bantal dan sebagainya.
Dengan bekal pendidikan mental dan budi pekerti yang sangat kuat, kami yakin kami mampu menghadapi setiap masalah dalam kehidupan yang harus kami jalani. Kami bisa. Kami siap menghadapi hidup dan tidak takut menggadapi kemiskinan. Kami bisa. Dan semua itu karena kwalitas pendidikan dasar yang sangat baik yang kami terima darimu.

Terimakasih guruku. Terimakasih sekolahku. Tak terhingga besarnya jasamu dalam kehidupanku.
Sekolah Dasar adalah tempat dimana seorang anak mendapatkan dasar-dasar pengetahuan dan dasar-dasar nilai kehidupan. Ibarat bangunan, jika fondasinya kuat akan menghasilkan bangunan yang sangat kokoh dan tetap kokoh bahkan pada saat bangunan itu harus menjulang tinggi.

Harapan saya semoga sekolah ini bisa dibangun kembali dengan lebih baik secepatnya, agar anak-anak bisa belajar kembali seperti sedia kala. Sementara waktu barangkali pemerintah membantu mencarikan tempat darurat untuk kegiatan sekolah. Tetap semangat dan jangan patah arang.

Bravo SD II Kawan Bangli!

School Art: Membangun Kepekaan Rasa, Pikiran Dan Imaginasi.

Standard

Minggu yang lalu, saya berkunjung ke sekolah Ricci II untuk mengurus buku-buku dan seragam anak. Rasanya sudah cukup lama saya tidak ke sekolah. Senang sekali melihat lapangan basket, melintasi kelas demi kelas dan berbincang dengan Ibu dan Bapak Guru. Sambil menunggu, saya sempat juga melihat-lihat ke dinding sekolah.  Ada banyak sekali gambar-gambar yang dipajang di majalah dinding. Gambar anak-anak yang indah-indah dan berwarna warni. Dinding sekolahpun terlihat cantik dari kejauhan.

Saya mendekat dan mengamat-amati gambar-gambar itu satu per satu. Rupanya ada berbagai macam thema yang dipajang . Secara umum berkelompok, tetapi kelihatannya tidak terlalu homogen juga. Sehingga dari kejauhan tampak seperti mozaik. Tak tahan rasanya untuk tidak mengabadikannya.

Kehidupan Bawah Air.

Ada thema tentang  kehidupan dalam air. Sebuah thema yang menurut saya selalu indah. Anak-anak menggambarkannya dengan sangat baik.  Ada banyak sekali gambar yang bercerita tentang kehidupan bawah air ini. Sayang saya tidak bisa memuat gambarnya semua.

Yang paling banyak digambar anak-anak tentunya adalah ikan. Berbagai jenis ikan terlihat di sana. Mulai dari arwana, plati pedang, ikan mas, ikan nemo, tuna, dan sebagainya hingga ke jenis ikan laut dalam seperti ikan lentera pun ada yang menggambar. Lalu ada paus dan juga ada lumba-lumba. Selain itu, banyak juga anak-anak yang menggambar bintang laut, cumi-cumi, gurita, kuda laut, penyu, kepiting dan tentunya ganggang laut dan terumbu karang. Malah ada juga yang menggambar lengkap dengan dua orang penyelam yang berenang dikelilingi ikan dan ubur-ubur. Rupanya masing-masing menggambar sesuai dengan imaginasinya sendiri. Menarik sekali. Saya pikir guru memberikan thema dan membebaskan murid untuk berimaginasi dan menggambarkannya.

Alam dan Lingkungan.

Thema lain yang kelihatannya juga muncul di dinding adalah tentang alam dan lingkungan. Lagi-lagi saya menduga,bahwa guru hanya memberikan thema dan mempersilakan murid untuk menangkap rasa dari alam sekitarnya dan membangun imaginasinya sendiri serta menuangkannya dalam kertas gambar. Terlihat dari beragamnya lukisan yang dibuat. Kreatif sekali murd-murid ini.

Jaman dulu kalau saya melukis pemandangan biasanya standard banget. Ada gunung, ada matahari, ada sawah di lembah dan ada pohon kelapa. Belakangan setelah ngobrol dengan beberapa teman seumuran dari berbagai daerah, ternyata saya baru tahu kalau lukisan begitu rupanya digambar oleh sejuta murid Indonesia dari Sabang sampai Merauke di jaman itu. Seragam semua idenya begitu. Lah?!.

Nah..murid-murid sekarang ternyata jauh lebih kreatif dari murid-murid jaman dulu. Ketika diminta menggambar dengan thema alam, mereka mengeksplorasi  segala kemungkinan concept yang cocok dengan thema alam. Lalu keluarlah berbagai bentuk gambaran alam yang sangat variatif. Tidak lagi terbatas hanya pada gunung, matahari, sawah dan pohon kelapa seperti jaman dulu.  Ada danau yang biru, ada sungai dan tebing, ada yang menggambar hutan rimbun dengan berbagai jenis tanaman,  ada alam yang terkesan gersang dengan pohon coklat entah mau mati atau kebakar, ada kebun bunga dengan unggas, ada lukisan sungai dengan jembatan di atasnya,  ada kebun dengan ayam jago, lalu ada juga halaman rumah yang asri penuh dengan bunga dan pohon rindang dan sebagainya. Banyak variasinya. Hingga gambar alam dengan kincir angin dan bunga-bunga tulip Belandapun ada.

Dan yang sangat menarik buat saya, ternyata aliran lukisnya pun beragam. Bahkan ada yang menggambarkan alam pepohonan dengan gaya lukis bak emroidery dari Skandinavia.  Menarik! menarik banget!.

Unggas & Pottery.

Ada juga gambar-gambar berbagai macam unggas dan pottery yang juga menarik untuk disimak. Disinipun saya melihat keberagaman ekspresi rasa dan imaginary. Walaupun secara umum yang digambar adalah sama dan serupa, ayam (ada yang jantan ada yang betina) dan burung (umumnya adalah burung-burung berparuh bengkok), namun goresan pensil, sapuan warna serta penempatan obyek lukisan membuat setiap lukisan memancarkan jiwanya sendiri yang berbeda. Demikian juga yang terjadi pada pottery. Pot gerabah dan keramik yang digambarkan pun terasa beda jiwanya satu sama lain.

Sebenarnya masih ada banyak lagi gambar-gambar yang dipajang. Saya salut akan apa yang dilakukan sekolah ini, memajang karya gambar murid-muridnya. Bukan saja memperindah dinding sekolah, tetapi sekaligus juga membuat anak-anak bangga akan hasil karya mereka.  Hal ini tentunya akan semakin menambah semangat para murid untuk terus berkreasi. Dan ini penting, karena menurut saya ada banyak manfaat yang didapatkan jika anak-anak dilatih terus untuk berkesian dan berkreasi.

Seni membuat anak mampu melakukan eksplorasi jauh ke alam pikirnya, bahkan hingga ke sudut sudut dan pelosoknya. Hal ini  akan membuatnya penuh dengan ide-ide yang cemerlang dan kreatif  dalam membuat concept, thema, tata ruang, tata gaya, tata warna dan sebagainya yang ingin ia ekspresikan ke dunia luar.

Mengenal seni, akan membuat anak-anak  bisa menerima realitas dan sekaligus menerima keabsurd-an pada saat yang bersamaan. Langit itu biru. Tapi siapa bilang bahwa langit harus selalu biru? Terkadang langit bisa juga merah, pink,  kuning, hitam atau bahkan hijau dan berwarna warni saat pelangi mengembang. Anak-anak akan lebih mudah menerima dan terbuka atas pemikiran dan ide-ide baru dan berbeda.

Tanpa disadari, sebenarnya melakukan pekerjaan seni, juga melatih perhatian dan meningkatkan fokus anak akan sesuatu.  Juga melatih koordinasi antara pikiran, perasaan dan gerakan mata serta tangannya.

Saya pikir masih banyak lagi manfaat lainnya yang pada intinya membangkitkan rasa, pikiran dan imaginasi anak-anak.

Aku, Anakku Dan Pentas Seni Sekolah.

Standard
Undangan untuk menghadiri Pentas Seni dari sekolah anak saya.

Undangan untuk menghadiri Pentas Seni dari sekolah anak saya.

Kalau ada hari tersedih yang pernah saya alami dalam hidup saya, salah satunya itu adalah hari kemarin.

Ceritanya dimulai sejak beberapa bulan yang lalu. Anak saya yang kecil memberi informasi bahwa sekolahnya akan menyelenggarakan sebuah Pentas Seni tahunan. Tapi kali ini akan sangat kolosal dan diadakan di Taman Mini Indonesia Indah. Bukan di sekolah. Mereka akan mementaskan Pinocchio!. Karena selama ini saya jarang bisa  menghadiri acara Pentas Seni sekolahnya dan jarang menontonnya beraksi di panggung, ia memohon kepada saya  agar kali ini saya mengambil cuti. Tentu maksudnya agar saya bisa menyaksikannya bermain di panggung. “Sekali ini saja, MaMama tidak boleh kerja di luar kota atau di luar negeri pas tanggal itu. Kalau disuruh kantornya, bilang nggak mau!“. Kata anak saya wanti-wanti.

Mendengar permintaannya itu saya merasa sangat trenyuh. Benar apa yang ia katakan. Selama ini saya terlalu sibuk. Sehingga jarang bisa menyaksikannya tampil di panggung. Aneh juga. Selalu ada saja kesibukan di kantor yang membuat saya tidak bisa hadir di sekolah setiap kali anak saya pentas. Sehingga kadang-kadang anak saya membanding-bandingkan saya dengan mama teman-temannya. “Mamanya orang-orang, selalu datang ke sekolah. Tapi mamaku sangat jarang”.  Katanya sedih. Memikirkan itu sayapun membulatkan tekad untuk mengambil cuti tanggal 28 Mei, kemarin. Boss saya sudah setuju dan sudah menandatangai ijin cuti saya. Itu beberapa bulan yang lalu.

*****

Ini cerita kemarin…

Minggu yang lalu boss saya mengatakan bahwa ia akan cuti dan pulang ke negaranya. Dan  tentunya meminta saya stand by di tempat selama beliau tidak ngantor. Dan seperti biasanya untuk urusan yang urgent dan butuh decision yang cepat saya harus konsultasi dengan bossnya boss saya yang berkedudukan di negara tetangga.  Oke. Tidak ada masalah.

Namun kemarin, saya diingatkan kembali akan janji menonton PenSi sekolah anak saya. Saya harus mengambil cuti hari ini. Toh juga ijin cuti saya sudah ditandatangani jauh hari sebelumnya. Jadi apa masalahnya? Saya berhak dong untuk tidak datang ke kantor?.

Tapi masalahnya ada banyak pekerjaan yang harus saya bereskan hari ini. Ada beberapa issue yang harus saya close case-nya hari ini.  Belum lagi ada beberapa brief dan proposal yang kena deadline hari ini.Waduuh! Sebenarnya urusannya jadi agak ribet ini.

Akhirnya setelah cross check kembali,  ternyata di undangan ada informasi bahwa PenSi akan berlangsung dari jam 5 sore hingga jam 8 malam. Ooh.. walaupun anak saya berangkat ke TMII pukul 9 pagi untuk gladi resik dulu, berarti  sebenarnya saya bisa berangkat sekitar jam 2-3 siang, agar bisa mencapai TMII sebelum jam 5 sore. Sebenarnya saya masih bisa ngantor dulu paginya, lalu nanti menyusul ke TMII langsung dari kantor. Rasanya tidak enak kalau saya memaksakan diri  mengambil cuti, sementara pekerjaan banyak  dan semuanya urgent. Dan boss lagi nggak ada pula.  Saya tidak mau juga memanfaatkan kesempatan tidak bekerja saat si boss tidak ada. Mungkin cutinya bisa saya switch ke hari lain.

Akhirnya aya memutuskan untuk ke kantor saja dulu paginya. Saya akan mengambil cuti setengah hari saja. Lalu saya akan pulang  selepas makan siang – kurang lebih jam 1 siang. Jadi masih keburu bagi saya untuk berangkat ke TMII dan menyaksikan anak saya manggung. Sayapun bekerja dengan anteng hingga pukul 12 siang, membereskan apa yang perlu saya bereskan.

Menjelang makan siang, saya teringat  bahwa hari ini anak-anak Management Trainee berada terakhir department saya dan saya terpikir mengajak mereka untuk makan siang terakhir bersama saya.  Kalau begitu, mungkin saya pulang agak  mundur sedikitlah. Pukul 2 siang masih terkejar.

Pukul 2 siang saya mau pergi, satu dua orang masuk ke ruangan saya “Bu, sebentar saja Bu. Ini saya perlu keputusan ibu..bla bla bla..” Mau tidak mau saya harus meladeninya. Okelah, saya mundur lagi pulangnya ke pukul 3 sore. Mungkin masih terkejar. Walaupun mepet.

Bersiap berangkat, lalu tiba-tiba bossnya boss saya yang berada di negara tetangga  meninggalkan pesan untuk mengajak skype call jam 4 sore. Penting dan urgent!.  Saya tidak bisa menolak. Karena memang itu urgent dan important dan merupakan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab utama saya.   Lah ?! Akhirnya bubarlah semuanya!.

Suami saya mengatakan bahwa ia akan berangkat duluan saja kalau begitu. Ia tidak bisa menunggu saya lebih lama lagi.  Dan ia meninggalkan surat undangan dari sekolah untuk saya di atas meja piano.   Saya berusaha menghibur diri saya. Skype call barangkali hanya setengah – satu jam. Bilanglah saya berangkat dari kantor jam 5 sore. Perjalanan 1 jam ke sana, karena melawan arus. Mungkin saya bisa tiba di TMII pukul 6 sore. Telat se-jam mungkin nggak apa-apa.Anak saya memegang 2 peranan. Satu di depan dan satu di bagian akhir. Se-apes-apesnya tentu saya masih bisa melihat bagian belakangnya.

Perasaan saya menjadi galau. Karena ternyata, saya baru bisa keluar ruang meeting pukul setengah enam sore. Sedih!

Bergegas pergi, saya lalu mampir ke rumah dulu untuk mengambil undangan. Jika tidak tentu saya tidak akan diijinkan masuk ke Sasono Langen Budoyo. Jalanan ternyata sangat macet, tiba di rumah sudah pukul 7 malam.

Sopir bertanya apakah saya masih akan tetap mencoba ke Taman Mini?.  Ya!.  Saya kepalang janji kepada anak saya. Jadi saya harus pergi, walaupun kesempatan melihatnya di panggung sangatlah kecil. Saya masih berkeras  datang. Tol Bintaro kelihatan lancar, namun selepas tol Pondok Indah tiba-tiba semuanya mandek  dan merayap. Akhirnya ketika saya sampai di wilayah Pasar Minggu, suami saya mengirim pesan bahwa pementasan telah usai.

Saya tak mampu menahan kesedihan hati saya. Airmata saya mengalir. Sejenak rasa kesal, marah,sedih, nggak enak semuanya berkecamuk di kepala saya.  Apa yang harus saya katakan kepada anak saya? Ini benar-benar sebuah ketololan dan keteledoran fatal yang saya lakukan sehingga merusak janji penting pada anak saya.  Saya sangat menyesal. Mengapa saya tidak berusaha memaksakan diri tadi pagi untuk tetap mengambil cuti saja? Bukankah tidak setiap hari saya minta cuti?  Selain itu toh ijin cuti sebenarnya sudah saya kantongi? Dan toh juga kantor tidak pernah memaksa saya harus bekerja dan tidak mengambil cuti?  Mengapa saya sok merasa memiliki tanggungjawab tinggi terhadap pekerjaan jika pada akhirnya hanya menghancurkan harapan anak saya yang sudah ia kumpulkan sejak bertahun-tahun agar suatu kali bisa pentas di atas panggung ditonton oleh ibunya? Aduuh..saya sudah menghancurkan semuanya. Kebahagiaan saya dan kebahagiaan anak saya.

Saya tidak bisa berhenti meneteskan air mata saya. Dalam pikiran yang kusut masai, saya tidak bisa memfokuskan perhatian di jalan raya. Karena tidak fokus, salahlah saya memberikan arahan pada sopir dalam mengambil belokan dari tol menuju ke TMII. Harusnya masuk ke Taman Mini melalui belokan ke 3, persis setelah jembatan, sopir malah mengambil belokan ke dua yang mengarah ke Tol Jagorawi. Hadeh! Akhirnya terpaksa saya harus menyusuri jalan tol ke Bogor itu hingga ke Cibubur dan berusaha mencari pintu keluar agar bisa balik ke Jakarta. Hari sudah gelap. Saya tersesat di Cibubur!.

*****

Anak saya mengirim pesan. Mencoba menghibur saya.  Dia benar-benar seseorang yang memiliki big heart. Airmata saya mengambang membacanya. Membuat tulisan di BB menjadi kabur. Rasanya nyesel dan nyesek!.

Saya tahu bahwa saya harus mengulang kembali pelajaran saya tentang bagaimana menyeimbangkan kehidupan pekerjaan dan kehidupan keluarga dengan lebih baik.

Back to square one!.

 

 

Uang Jajan Anak Di Sekolah.

Standard

???????????????????????????????Ketika saya melintas di kantin Sekolah Pembangunan Jaya, saya melihat seorang murid (tebakan saya sekitar kelas 2 atau kelas 3 SD sedang memesan nasi goreng kepada ibu kantin.  “Bu, nasi gorengnya satu, ya. Nggak pake bawang, nggak pake bumbu, nggak pake sayur, nggak pake saos,  nggak pake sambel”. Lho??#*?.  Nasi goreng apa jadinya itu? Saya tertawa geli mendengarnya. Read the rest of this entry