Tag Archives: sikh

Upacara Pernikahan Adat India di Sikh Temple.

Standard
Upacara Pernikahan Adat India di Sikh Temple.

Ini adalah saat yang ditunggu -tunggu. Pernikahan sahabat saya Karanjit Singh dengan Shela. Mengambil tempat di sebuah Sikh Temple yang berlokasi di kota kecil Pathankot, tidak jauh dari Amritsar di wilayah Punjab. Pasti pada penasaran dong ya, seperti apa upacara pernikahan adat India di Sikh Temple?.

Bentuk bangunan Temple ini sekilas tampak serupa dengan bangunan masjid. Terutama karena kubah dan lengkung pintu masuknya. Tak heran karena kota Pathankot ini tidak jauh letaknya dengan perbatasan Pakistan, negara yang kebetulan memang kebanyakan penduduknya memeluk agama Islam. Padahal jika kita dalami lebih jauh ternyata arsitektur seperti ini bukanlah berkaitan dengan agana tertentu, tetapi lebih berkaitan dengan wilayah tertentu.

Walaupun tampak kecil dari luar, tetapi di dalamnya ternyata cukup lebar juga.

Saya masuk ke Temple ini sebelum pengantin datang. Mencuci tangan, melepas sepatu dan memastikan kepala dan rambut saya tertutup dengan baik. Tentunya untuk menghargai umat Sikh yang bersembahyang di tempat itu. Pasalnya semua Sikh Temple menetapkan peraturan bagi setiap orang yang memasuki wilayah Temple diwajibkan untuk menutup kepala dan rambutnya, terlepas dari apakah ia pria ataupun wanita. Pokoknya sama sama harus menutup kepalanya.

Saya memasuki ruang utama Temple itu dan mengikuti tata cara yang seharusnya. Memberi penghormatan dengan mencakupkan ke dua belah tangan, lalu sujud dan mengakhirinya dengan nencakupkan kedua belah tangan lagi.

Sayapun menepi dan mengambil posisi duduk di sayap sebelah kanan bersama para wanita dari keluarga Karan. Sementara rombongan pria duduk berkumpul di sayap bangunan sebelah kiri.

Dua pemain musik tradisional tabla masuk. Mereka mengambil posisi di depan saya. Merapikan duduknya dan mulai bernyanyi dengan diiringi alunan musik yang ceria.

Lalu kedua pengantin memasuki ruangan. Melakukan upacara penghormatan yang sama lalu bersimpuh di depan altar yang isinya kitab suci.

Pemuka agama melantunkan doa doa yang panjang dengan irama dan suara yang sangat merdu. Tak sepotongpun saya mengerti artinya. Tetapi saya pikir pastinya berisi tentang permohonan agar kedua mempelai diberkahi dengan kebahagiaan yang langgeng sampai akhir hayat.

Saya disarankan duduk di belakang pengantin. Sayapun bergeser posisi. Pendeta kembali melantunkan doa doa yang panjang dan merdu. Saya ikut mendoakan kebahagiaan buat kedua pengantin. Semoga langgeng seterusnya.

Setelah beberapa saat, pemuka agama memberikan aba-aba kepada pengantin untuk berkeliling altar yang isinya kitab suci.

Kedua pengantin pun bangkit dari duduknya dan berjalan berkeliling. Lalu menghadap kembali ke altar dan duduk serta memberikan penghormatan kembali.

Pendeta melantunkan doa doa. Lalu menyuruh pengantin untuk bangun dan berjalan mengelilingi kitab suci lagi.

Demikian seterusnya hingga empat kali berkeliling.

Pemuka agama kembali dengan doa dan wejangan yang saya pikir isinya adalah nasihat- nasihat tentang bagaimana berumah tangga yang baik. Dan pernikahanpun disyahkan.

Upacara lalu ditutup dengan pembagian sejenis penganan yang manis mirip dodol kepada hadirin semua sebagai tanda kehidupan yang manis.

Hadirin berdiri dan memberi selamat kepada pengantin dan keluarganya.

Selamat nenempuh hidup baru ya Karan dan Shela!. Semoga langgeng dan bahagia sampai seterusnya 😘😘😘

Advertisements

Melepas Pengantin Pria.

Standard
Melepas Pengantin Pria.

Seusai acara mendoakan kemakmuran bagi pengantin pria dan berfoto bersama, kini saatnya keluarga mengiringi pengantin pria keluar rumah untuk berangkat ke Temple.

Saya mendapat informasi, biasanya pengantin pria akan berangkat untuk menjemput pengantin wanita di kediamannya, lalu mereka berangkat bersana ke Temple.

Nah…karena kali ini sang pengantin wanita berasal dari Indonesia, tentu rombongan tak bisa menjemput pengantin wanita ke Indonesia karena jarak yang sangat jauh kan…jadi upacara cukup dilakukan di depan rumah sang pengantin pria dan nanti pengantin pria akan bertemu dengan pengantin wanita di Temple saja.

Begitu keluar dari rumah, dengan wajah yang ditutup tirai mutiara dari turbannya, sang pengantin pria langsung ditunggu seekor kuda putih yang sangat gagah.

Sebagai catatan, upacara ini merupakan ritual adat sejak jaman dulu dimana kuda merupakan akat transportasi utama pada jaman itu. Dan tentunya, hanya kaum bangsawan dan kaya raya saja yang mampu memiliki kuda tunggangan pada janan itu.

Dengan diiringi musik yang gegap gempita, mempelai pria pun naik ke punggung kuda putih itu.

Selagi pasukan musik mendendangkan lagu lagu bahagia, satu persatu keluarga memberikan restunya kepada sang pengantin pria dengan cara membuka tirai mutiara yang menutup wajahnya dan menyampirkannya di atas turban. Mulai dari sang ayah, om, kakak dan kakak ipar.

Sementara anggota keluarga yang lain pun ikut bergembira dan menari nari bersama.

Dan tentunya sayapun ikut menari nari juga sebagai bagian dari keluarga Karan.

Rombongan pengantin pria yang diiringi musik dan tarian para anggota keluarga yang bergembira berjalan kira kira beberapa puluh meter ke depan. Samgat seru. Karena di luar video dan tivi baru kali ini saya melihat langsung para wanita India, tua dan muda menari-nari di jalan.

Kemudian mempelai pria turun dan melambaikan tangannya kepada semua hadirin. Rombongan lalu berangkat ke Temple Sikh ysng letaknya tak terlalu jauh dari rumah sang pengantin pria.

Turban.

Standard
Turban.

Bangun di pagi hari di kota kecil Pathankot sungguh menyegarkan. Udara di sini sangat sejuk dan saya sangat bersemangat karena siang ini kami akan pergi ke Temple untuk menyaksikan upacara pernikahan Karan dengan Shela. Bergegas mandi dan berdandan yang pantas untuk pergi ke tempat suci.

Sebelum pergi, kami berkumpul dulu di rumah Karan untuk sarapan bersama dan menyaksikan persiapan yang dilakukan oleh pengantin pria.

Karan memilih untuk menggunakan pakaian berwarna krem dengan turban dan selendang berwarna merah. Sungguh pantas dan menawan. Baru pertama kali saya melihat Karan dalam busana adat seperti itu.

Diantara busananya itu yang paling menarik untuk dibicarakan adalah tentang Turban. Karena Turban yang digunakan oleh pria Sikh ini sangat menarik dan unik bentuknya.

Secara adat, pria Sikh umumnya tidak memotong rambut, jenggot maupun cambangnya. Rambut yang panjang ini kemudian digelung ke atas dan ditutup dengan kain yang disebut dengan Turban. Saya lihat, di daerah Punjab ini bahkan anak-anakpun sudah menggunakan penutup kepala yang berupa sapu tangan atau ikat kepala yang dicepol di ubun ubun.

Selain mempunyai fungsi sebagai penutup kepala, Turban juga berkaitan dengan keyakinan. Jika kita bayangkan, mungkin fungsinya sama dengan “Blangkon” dalam adat Jawa atau “Iket” dalam adat Sunda atau “Udeng” dalam adat Bali.

Turban bisa berwarna macam macam. Ada yang hitam, merah, hijau, kuning dan sebagainya tergantung selera sang pemakai. Walaupun saya pernah dengar kalau jaman dulu warna turban juga dihubungkan dengan kelompok masyarakat tertentu. Saya tidak tahu apakah hal itu masih berlaku sekarang, yang jelas saya tahunya Turban sangat penting artinya dalam kehidupan orang Sikh.

Berbincang dengan Ravindra, salah seorang kakak Karan, Turban merupakan salah satu busana yang khas untuk pria Sikh guna menutupi rambut yang merupakan salah satu dari 5 hal penting dalam keyakinan orang Sikh yakni:

1. Kesh = Rambut (yang biasanya tidak dipotong).

2. Kaccha = Pakaian Dalam khusus yang terbuat dari bahan katun.

3. Kara = Gelang (biasanya terbuat dari baja).

4. Kanga = Pedang (yang biasanya panjang dan terbuat dari baja).

5. Kirpan = Sisir (yang biasanya terbuat dari kayu).

Saya sangat beruntung karena saat pemakaian turban di kepala pengantin pria, saya ada di tempat itu dan ikut menyaksikan.

Sebenarnya agak rumit bagi saya, tetapi bagi mereka yang sudah terbiasa memakai atau memakaikan tentu saja ini sangat mudah.

Pemasangan turban di kepala Karan berlangsung cepat dan lancar. Tahu tahu sudah jadi saja.

Busana pengantin pria Sikh

Sekarang dengan ditambahkan dengan untaian mutiara sebagai penutup wajah dan kalung serta pedang panjang, pakaian pengantin pria terasa semakin lengkap dan mantap.

Pagi itu acara di dalam rumah ditutup dengan upacara memutar – mutarkan uang di atas kepala pengantin pria oleh papa, mama, om, tante, saudara dan keluarga serta sahabat Karan (termasuk saya) dengan harapan kelak rejeki sang pengantin pria terus berlimpah. Semoga.

Lalu kami berfoto bersama. Sungguh keluarga yang bahagia.