Tag Archives: Social

Tante Nenek. Derita Si Anak Bungsu.

Standard

Seorang teman kantor dijemput oleh anak-anaknya yang masih kecil pada suatu sore. Seperti biasa, setiap kali bertemu anak-anak itu, saya bercanda sebentar dengan mereka.Seorang teman yang lain lalu bertanya penuh ingin tahu, “Gimana anakanak ini memanggil Bu Dani?” . 
TANTE NENEK!” Jawab saya. Teman saya tertawa berderai keheranan. Lho? Kok bisa “tante nenek?. Gimana ceritanya?”.  Ha ha. Panjang ceritanya. 

Saya menikah dengan seorang pria yang menawan hati saya dan kebetulan merupakan anak bungsu dari 6 orang bersaudara. Karena jarak umur dengan kakak-kakaknya sangat besar, maka pada saat kami menikah suami saya telah memiliki keponakan-keponakan  yang sudah besar dan remaja, yang karenanya automatis memanggil saya dengan sebutan “Tante”.  Jadi saya terbawa-bawa oleh status “kebungsuan”suami saya. 

Namun beberapa tahunnya kemudian, para keponakan inipun menikah dan memiliki anak-anak. Nah sebagai akibatnya saya pun jadi menyandang gelar “nenek” di usia muda. Sungguh sebuah musibah bagi saya ūüė≠ūüė≠ūüė≠. Aduuh…siapakah yang mau dipanggil nenek ketika umur masih muda? 

Untungnya para keponakan suami saya inipun pada penuh pengertian akan perasaan saya. Mereka paham banget, kalau tantenya ini pengen terlihat muda terus ūüėéūüėéūüėé. Jadi dengan kreatifnya mereka menambahkan kata “tante” di depan kata “nenek” sebagai gelar saya. Maka jadilah mereka mengajarkan anak-anaknya untuk memanggil saya dengan “Tante nenek….tante nenek”. Sampai kini. Awalnya terdengar sangat konyol. Tapi lama lama saya terbiasa. Dan saya merasa nyaman dengan panggilan itu ūüėÉūüėÉūüėÉ.

Begitulah sejarahnya, ketika teman kantor yang usianya jauh dibawah saya memiliki anak-anak. Sayapun jadi ikut memperkenalkan panggilan “tante nenek”. Habisnya gimana ya? Kalau dipanggil “Tante” kok ya terlalu ketuaan, karea nereka lebih muda bahkan dari “cucu-cucu” saya di rumah. Kalau dipanggil “Nenek” juga kok rasanya nggak ikhlas ya..secara saya masih muda begini ūüėé. Jadi baiklah…Tante Nenek saja ūüėÄ.

Dan ternyata… rupanya yang mengalami dilema Tante atau Nenek bukan hanya saya saja. Kemarin seorang teman yang kebetulan anak bungsu  dari 9 bersaudara dengan  gap usia yg juga sangat besar dengan kakak sulungnya mengalami hal serupa dengan saya. Ia bahkan merasa lebih nyaman jika dipanggil “Kakak” oleh keponakan -keponakannya.

Adakah diantara teman-teman pembaca juga memiliki cerita yang serupa?

Ceritaku Di Kereta Api.

Standard

Kereta ApiSelama ini Kereta Api, adalah alat transportasi yang paling kurang familiar buat saya. Masalah utamanya adalah karena tidak ada kereta api di kampung saya di Bali sana. Jadi saya tidak pernah naik kereta api semasa kecil. Pertama kali naik kereta terjadi saat saya SMA. Waktu itu saya mau ikut perkemahan Pramuka di Cibubur. Dari Bali kami menumpang bis. Lalu menyebrangi Selat Bali dengan kapal laut ke Banyuwangi. Kemudian kembali naik bis sampai ke Surabaya. Barulah dari Surabaya saya naik kereta api. Saya ingat kala itu naiknya dari Stasiun Gubeng.

Setelah itu saya memang pernah naik kereta api keluar kota beberapa kali lagi. Tapi sangat jarang. Belum pernah menggunakannya sebagai alat angkut ke kantor. Barangkali karena ada alat angkutan alternatif yang bisa saya pakai sehari-hari. Selain itu jalur lintasan Kereta api yg ada tidak praktis juga ke arah kantor saya. Nah bagaimana kalau sekarang saya mencoba menjadikan kereta api sebagai alat transportasi alternatif?

Gara-garanya, saya tertarik mendengar cerita teman saya yang pulang kerja naik kereta api. Kedengarannya seru. Saya memutuskan untuk ikut mencoba. ¬†Ternyata memang sebuah pengalaman yang sangat menarik buat saya. Teman-teman saya langsung menebak..”Pasti ntar ditulis¬† di blog...” kata mereka. “Pasti ntar blognya penuh dengan tulisan tentang Kereta Api” kata yang lain. ¬†Hi hi…Ya iyalah. Kan setiap pengalaman yang menarik perlu ditulis. Termasukperjalanandengan kereta api ini. Biar nanti bisa saya kenang atau ambil intisari pelajarannya.

Transportasi Super Duper Murah.

Hari pertama saya naik Kereta Api, saya ikut teman-teman. Naik dari Stasiun Sudirman (Duku Atas), lalu mengganti kereta di Stasiun Duri dan turun di Stasiun Poris. Kurang lebih sejam lamanya perjalanan. Dari Stasiun Sudirman, kereta yang saya tumpangi sangat bagus dan bersih. Dinginnya AC terasa. ¬†Penumpangnya kebanyakan para karyawati kantor yang masih bersih dan cukup wangi. Jumlahnya juga tidak terlalu banyak. Jadi saya bisa duduk. Tapi begitu bertukar kereta di Stasiun Duri, bedanya jauuuh banget. Empet-empetan berdiri sampai sulit mencari ruang untuk berpegangan. ¬†Tapi saya tak perlu khawatir akan jatuh jika tak berpegangan. Karena saking padatnya penumpang, jika misalnya pun keretanya ngerem mendadak, saya yakin saya tidak akan jatuh tapi tetap berdiri. ¬†Mengapa?Ya… karena badan saya sudah terjepit dengan pas dari depan, dari belakang, dari samping kiri, samping kanan. Seperrti di-press begitu. Bagaimana mungkin jatuh ya?

Ya okelah soal berdiri himpit-himpitan. Tapi yang benar-benar menakjubkan adalah ongkosnya!. Saya membeli karcis di Stasiun Sudirman seharga Rp 12 000. Setelah keluar dari Stasiun Poris, ternyata karcis saya itu bisa dire-fund Rp 10 000.  Lah?! Jadi ongkosnya cuma Rp 2 000? Sejauh itu? Melintas berapa stasiun itu ya?. Nggak salah inih? Serius, hitungannya saya cuma bayar Rp 2 000. Padahal jarak tempuhnya sejauh itu ya? Coba bandingkan dengan naik taxi yang mungkin jika perjalanannya panjang begini bisa habis beberapa ratus ribu rupiah sekali naik. Top banget deh.  Sebaiknya jumlah Kereta Api ditambah dong, biar lebih memadai dan tak perlu berhimpit-himpitan.

The Beauty of Being…Gendut.

Kemaren adalah hari ke dua.  Pulang melakukan urusan kerjaan di daerah Jatinegara, saya naik kereta lagi. Berangkat dari Stasiun Manggarai, ganti kereta di Stasiun Tanah Abang lalu turun di Stasiun JurangMangu. Dari Stasiun Manggarai saya berangkat dengan seorang teman saya. Tapi saya turun untuk mengganti kereta di Stasiun Tanah Abang, sementara teman saya meneruskan perjalanannya hingga ke Stasiun Duri. Jadi yang ini lebih keren ya. Pertama kali lewat jalur ini dan seorang diri!.

Karena ini pengalaman pertama, saya memutuskan untuk ikut arus saja sambil bertanya ke petugas yang ada, bagaimanakah caranya jika saya ingin pergi ke Bintaro.? Ternyata saya disarankan mengambil platform no 5 atau 6 dan berhenti di Stasiun Jurang Mangu yang lokasinya berdekatan dengan Bintaro X-Change.

Kereta Api di plaform no 6 ternyata sangat penuh sekali. Saya memutuskan untuk mengambil yang di platform 5 saja. Kereta baru saja berhenti menurunkan sebagian penumpang. Saya menunggu di depan pintu Gerbong pertama.  Sangat sesak. Orang-orang pada berebut dan berdesakan. Baik yang mau naik maupun yang mau turun sama aggresif-nya. Pria dan wanita sama gagahnya kalau sudah memperjuangkan posisi berdiri di kereta.

Seorang wanita muda yang berbadan kekar mendorong orang-orang di sekitarnya dengan menggunakan sikunya. Sangat percaya diri, berani dan terkesan galak. Saya hanya bisa melihatnya dengan takjub. Orang-orang yang lainpun ikut mendorong-dorong juga. Nggak mau kalah.  Tiba-tiba siku anak perempuan itu mengenai perut saya tanpa sengaja. Refleks saya melindungi diri dengan melintangkan tangan di depan perut dan dada saya. Ia melihat saya dan tiba-tiba mukanya yang tadinya sangar berubah menjadi pucat pasi seketika.

Aduuuuh.. maaf ya Bu..maaf ya Bu…. Nggak sengaja.” katanya dengan gugup. Hmmm??##!?# Saya sendiri bingung. Mengapa tiba-tiba ia sepucat dan sugugup itu?. Mengapa ia meminta maaf kepada saya? Bukankah ia menyikut semua orang lain juga? Kenapa meminta maafnya hanya kepada saya?. Dan lebih aneh lagi, kerumunanpun tiba-tiba terasa agak mengendor. Saya bengong.

Mudah-mudahan nggak apa-apa perutnya, Bu?” tanya seorang Ibu lain di sebelah saya. “Hati-hati, Bu” nasihat yang lainnya. Saya kaget. ¬†Lalu tertawa sendiri di dalam hati. Huaa ha ha..sekarang saya mengerti. Rupanya orang itu menyangka saya sedang hamil muda. Ya ampuuun..rupanyanya saya segendut itu sampai orang-orang menyangka saya sedang hamil. Dan kombinasi tubuh yang gendut dan sikap refleks melindungi perut ketika didesak, semakin memperkuat dugaan bahwa saya memang sedang hamil.¬† Hualaa….

Ibu-ibu di sebelah kiri dan kanan memberikan saya ¬†jalan dan ikut membantu saya naik ke kereta duluan. Saya tidak apa-apa mengantri. Saya ngaku aja kepada mereka jika saya tidak sedang hamil kok. Cuma memang gendut saja.. Sebenarnya agak malu juga sih mengaku begitu. Tapi ya..mau bagaimana lagi ya….Memang begitu sih keadaannya.¬† Dan kembali lagi kalau lihat dari sisi positive-nya saja…. ya.. justru itulah the beauty of being gendut. Disangka hamil dan diberikan prioritas oleh penumpang lain.. Ha ha…!.

Tapi saya senang dampaknya. Orang-orang sekarang lebih tenang dan tertib mengantri. Tidak seperti di awal tadi.

Penemuan saya dari kejadian kecil itu adalah, bahwa ternyata masih banyak warga Jakarta yang peduli terhadap sesama. Dan terutama peduli terhadap wanita hamil yang dianggap lemah dan tak berdaya.

 

Siapakah Saya ? I Am…

Standard

I am Happy

Saya menerima sebuah pesan lewat ‘message box’-nya face book. Saya tidak mengenal namanya. Tapi karena informasi pekerjaan dan lokasinya sangat familiar dengan saya maka sayapun membrowsing timeline-nya juga. Kelihatan informasinya cukup dapat dipercaya. Agar lebih aman, saya juga menanyakan ke beberapa orang teman dan saudara, barangkali ia juga mengenal orang itu . Respon teman dan saudara saya cukup baik. Maka sayapun menjawab message-nya. Saya menanyakan tentang dirinya, ia menjelaskan nama aslinya (tidak sama dengan namanya di facebook), dan ia ada menyebut bahwa ia kenal beberapa orang teman saya juga. Singkat kata bertemanlah kami.

Karena merasa sudah berteman, sekarang saya jadi sedikit lebih berani kaypo dong ya….

Saya bertanya,mengapa ia menggunakan nama samaran di media sosial, dan bukan namanya sendiri. Bukankah jika memakai nama sendiri, teman-teman akan lebih mudah mengenali diri kita?. ¬†Ia menjawab, bahwa alasannya adalah agar lebih trendy. Ya ya.. alasan yang cukup bagus. Saya lihat nama online-nya cukup keren juga. Saya mengerti dari foto-foto yang diuploadnya rupanya yang bersangkutan punya hobby menyanyi. Ooh..mungkin itulah sebabnya mengapa namanya diganti dengan nama lain, lalu ditambahkan kata “Star” di belakangnya. Boleh juga idenya. Cukup aspiratif.

Rasanya sih nggak ada salahnya juga, kalau membuat akun dengan nama aspiratif begitu. Tetapi karena peristiwa itu, saya jadi tertarik memperhatikan beberapa orang yang mengganti atau menambah nama on-linenya dengan sesuatu  yang aspiratif. Misalnya nih,  Ranii Shiii Cuantieq, ZhieManiez, Wawan Okeh, Ria The Star, Ariez KeRen, Yudi Cool, GunkAyu ZiCuaem, IfanWongKEraton dan sebagainya yang keren-keren.

Ada juga sih yang menyebut dirinya dengan pengakuan yang netral – misalnya nih…. I am Chepy, Meera ituuwww Mira, Lily Luph Iwan Celalu, Maria Sukhahejo, DeeChayanknaAguz dan sebagainya. Ya..oke. Lumayan kreatif dan mungkin apa adanya.

Nah..tapi ada juga nama-nama yang saya nggak habis pikir  membacanya. Misalnya ada yang membuat namanya kaya begini : Heri Susakaya, Oki Siplagiatz, DaniarStrez, BayuSiZeleks, YoyokStupidz, GagalManing, SiCebongsLinglung, Aldea Error, AgungCulun, Crazy Sensitive, DexWatiBodoh, Mizkin Tapi Norak, dan sebagainya.

Note: Semua nama-nama diatas saya plintir sedikit, bukan nama sebenarnya Рsemoga tidak  menyinggung Рsaya hanya menyebut contoh untuk memperjelas point saya. Minta maaf jika ada yang kurang berkenan.

Nah… kembali lagi ke point saya tadi adalah, mengapa ya mengganti nama di dunia maya dengan nama yang kurang aspiratif begitu? Saya pikir mau di dunia nyata maupun di dunia maya, nama itu hakikatnya sama saja. Yaitu jati diri kita. Siapa diri kita? Nama merefleksikan banyak hal,termasuk pikiran,perasaan kita juga.

Buat saya,  jika saya menggunakan nama di dunia digital, pilihan pertama saya adalah menggunakan nama asli sendiri. Atau minimal menggunakan nama panggilan. Atau mungkin nama kecil atau nama kesayangan kita yang juga umum dikenal orang lain. Mengapa? Karena nama yang diberikan oleh orangtua biasanya bermakna bagus. Dan pasti sudah penuh dengan doa-doa baik orangtua kita agar kita sehat walafiat, selamat, sentosa dan sebagainya yang bagus-bagus.  Saya yakin sangat sangat jarang sekali (atau jangan-jangan tidak ada) ada orang tua yang memberikan anaknya nama yang buruk atau yang bermakna buruk.

Jika kita merasa tak perlu menggunakan nama kita sendiri, pilihan keduanya adalah mengganti nama dengan sesuatu yang baik atau aspiratif. Misalnya ya seperti nama-nama di kelompok pertama yang saya sebut itulah.. seperti dengan tambahan the Star-lah, atau Si Cuantikz, atau Si Guanteng, ZiiBaekhati dan lain sebagainya yang berkonotasi positive dan baik baik begitu (soal gaya menulis ya terserahlah ya..suka-suka sendiri sepanjang tidak melanggar hukum). ¬†Atau minimal seperti gaya yang di kelompok ke dua yang mengatakan dirinya apa adanya I am…

Khusus yang kelompok ke tiga… walaupun ya memang sih, itu kan suka-suka yang punya nama- *kok repot sih?…¬† terus terang sangat bingung. Misalnya nih… memberi sebutan kepada diri sendiri sebagai si Susakaya alias Susah kaya..kok di telinga saya rasanya seperti mendoakan diri sendiri agar tetap miskin. Atau menyebut diri sendiri dengan nama ZiiGagalManing… sami mawon itu buat saya.. Kok seperti mendoakan diri menjadi gagal terus menerus. Lah kapan suksesnya kalau seperti ini? Demikian juga dengan kata Stress, Pandir, Bego, Error dan sebagainya yang tidak berkonotasi positive. ¬†Orang bilang nama itu adalah doa ya..Semakin sering kita sebut, semakin cepat ia datang ke diri kita. Semakin sering kita menyebut diri kita sendiri Bodoh, Bodoh, Bodoh…ya semakin kejadian deh itu, kita jadi beneran Bodoh. Karena kata bodoh itu sekarang menancap ke dalam diri kita dan bekerja dengan sangat cepat membuat keseluruhan diri kita menjadi Bodoh.

Saya pikir ¬†cara kita menyebut diri, ¬†memberi dampak terhadap diri kita sendiri. Coba saja perhatikan apa jawaban kita – misalnya ketika menjawab pertanyaan “Siapakah kamu?”alias “Who Are You?“. Misalnya kita menjawab dengan kata “I am (a) very happy (person)” atau ¬†“Saya bahagia banget ” atawa “Saya orang yang bahagia banget“. Pikirkanlah sejenak kata bahagia itu, lalu rasakan apa yang ada di hati kita? Bahagia!.¬† Beneran, bahagia. Atau misalnya yang terlintas di kepala kita adalah jawaban “I am (a) lucky (person)” alias “Saya beruntung” atawa “Saya orang yang beruntung“. Lalu pikirkan dan rasakan apa yang ada di hati saat kita mengucapkan kata itu. Saya yakin perasaan kita juga bahagia dan senang, karena kita merasakan keberuntungan yang kita miliki.

Sebaliknya jika kita menjawab dengan kata yang berkonotasi buruk seperti tadi “I am StupiDz“, nah..saya rasa diri kita langsung merasa StupiDz dan diri kita juga langsung memberikan konfirmasi bahwa kita memang StupiDz. Atau kalaupun¬† belum bisa memberi konfirmasi segera,¬† maka ia akan mencari-cari sampai benar-benar ketemu bahwa kita memang StupiDz.

Begitulah saya rasa.  Karena nama adalah doa, yuk kita doakan diri kita agar selalu baik-baik. Stop menyebut diri kita dengan nama buruk dan stop mendoakan diri kita dengan hal-hal yang kurang positive.

 

 

Hubungan Manusia.

Standard

Hubungan ManusiaSeorang keponakan suami berkunjung ke rumah setelah agak lama kami tidak bertemu. Selama ini ia selalu mengikuti suaminya berpindah-pindah tugas dari satu kota ke kota lain, maka kami menjadi sangat jarang bertemu. Sebulan ini suaminya kembali lagi bertugas di Jakarta. Jadi sempatlah ia ‘pulang’ kembali ke rumah.

Walaupun jarang pulang, tapi ia mengatakan sangat senang dengan kehidupannya. Berpindah-pindah kota bukanlah hal yang baru dan sulit buatnya. Karena bahkan sebelum menikahpun ia juga sudah sering dibawa berpindah-pindah megikuti papanya yang juga kebetulan tugas berpindah-pindah kota. Dengan begitu ia ikut menjalani kehidupan di berbagai tempat ¬†di tanah air, mulai dari Sabang sampai Merauke. “Tapi seneng juga kok bisa pernah tinggal di berbagai kota, Tante” katanya.

“Jadi aku bisa melihat orang yang berbeda-beda. Bahasanya, adatnya, agamanya. Aku jadi lebih bisa mengerti dan menghargai perbedaan. Kita jadi mudah mengerti ¬†orang lain dengan lebih baik. Kita jadi lebih toleran dan tidak berpikiran sempit. Tidak lagi mengira kebiasaan, adat istiadat, agama dan budaya kita yang paling baik sementara orang lain jelek semua. Nggak seperti katak dalam tempurung” lanjutnya menarik kesimpulan dari pengalaman hidupnya.

Saya sangat setuju dengan apa yang ia katakan. Mengenal dan mengerti orang lain yang berbeda membuat kesenjangan sosial kita berkurang ada bahkan hilang sama sekali.

Jika hanya mengenal attribut (adat, kebiasaan, budaya,agama, bahasa, bangsa) kita sendiri saja, kita cenderung akan merasa sangat asing dengan attribut orang lain. Pandangan dan pikiran kita menjadi terbatas dan sempit, sebatas apa yang kita lihat di permukaan saja. Kita tidak memahami alasan dan filosofi di belakang atribut orang lain, sehingga kita mungkin bisa salah tafsir atau salah mengerti tentang orang lain. Pada pikiran yang sempit, ada 2 kemungkinan yang terjadi:

Pertama, merasa SUPER- kita pikir adat kebiasaan, budaya, agama kita lebih baik dari orang lain.  Yang baik hanya kita, yang lain kurang baik. Yang benar hanya kita, yang lain kurang benar. Kalau sudah begini kita akan mudah menjadi bersikap sok. Sengak. Dan mengecilkan orang lain.

Kemungkinan kedua yang terjadi adalah merasa MINDER, karena menyangka apa yang orang lain miliki itu semua lebih baik dari kita. Kita jadi khawatir, ragu dan tidak percaya diri. Kita takut menyatakan pendapat. Takut mengatakan tidak suka atau tidak setuju, karena  tidak pede.  Boro-boro bersahabat dekat. Mau ngomong aja rasanya sudah gugup. Nggak nyaman. Semuanya terasa asing dan aneh.

Tapi coba kita buka diri. Dengarkan orang lain. Pelajari attribut yang orang lain miliki. Buka mata hati kita lebar-lebar untuk melihat semuanya dengan lebih jelas. Kita akan mulai tahu dan mengerti adat,  kebiasaan, bahasa, agama dan budaya orang lain dengan lebih baik dan proporsional. Pemahaman kita membaik. Cara pandang kita  akan menjadi berbeda. Lebih luas dan tidak lagi sesempit sebelumnya. Kita bisa melihat banyak kelebihan dan kekurangan dimiliki oleh setiap orang, setiap suku, setiap agama, setiap bahasa, setiap bangsa  dan sebagainya.

Pemahaman ini membuat kita jadi lebih bisa menerima segala kelebihan dan kekurangan orang lain. Kita tidak lagi merasa asing.  Sehingga membuat kita jadi  jauh lebih mudah berbaur. Karena sekarang kita akan fokus melihat kebaikan-kebaikan orang lain dibanding kekurangannya. Apapun suku atau bangsa kita, akan mudah bergaul dengan suku manapun yang ada di Indonesia atau bahkan dengan bangsa manapun di dunia ini,  karena kini kita bisa mengerti adat kebiasannya. Apapun agama kita, kita akan bisa mengerti dan menghormati agama orang lain karena kita mengerti banyak kebaikan dalam ajaran-ajarannya. Kita juga akan lebih tertarik dan menemukan jika bahasa daerah teman kita menjadi lebih menarik karena memperkaya khasanah pengetahuan kita.

Sangat jelas dengan membuka hati seperti ini, kita akan menjadi lebih toleran terhadap orang lain. Kita tidak akan pernah lagi berpikir bahwa perbedaan attribut adat kebiasaan, bahasa, agama, suku bangsa  menjadi penghalang kita untuk berhubungan lebih dekat dengan orang lain yang attributnya berbeda. Karena sekarang kita tidak lagi mengedepankan perbedaan itu.

Semakin kita mengenal adat kebiasaan, suku, budaya, bangsa dan agama orang lain, maka semakin kita mengerti dan merasakan kalau gap perbedaan kita menjadi semakin kecil. Sebaliknya, kita akan merasakan kedekatan dan rasa persaudaraan yang semakin membesar. Kita merasa sejajar. Tidak lagi merasa minder ataupun merasa super terhadap orang lain yang suku,agama atau bangsanya berbeda dengan kita.

Kwalitas hubungan manusia itu tidak ditentukan oleh apa suku bangsanya atau apa bahasa yang diucapkannya. Juga tidak ditentukan oleh apa agama yang dianutnya, tetapi lebih banyak ditentukan pada bagaimana sikap dan tingkah lakunya terhadap orang lain, terhadap sesama.

Ya…. pada akhirnya, orang akan ditentukan oleh tingkah laku dan perbuatannya masing-masing dalam berinteraksi dengan orang lain. Bukan ditentukan oleh adatnya, agamanya, sukunya , bangsanya ataupun bahasanya.

 

 

Serunya “Menyama Braya” Bersama Sahabat Bloggers.

Standard

kpdaran bloggerDiantara para blogger di tanah air, barangkali saya adalah salah seorang yang paling kurang gaul. Setiap kali melihat foto atau membaca cerita teman-teman blogger yang entah kopdaran atau mengadakan pertemuan, saya hanya bisa ngiler. “Aduuh..kapan ya saya bisa bertemu dengan mereka” bathin saya. Saya belum pernah ketemu blogger lain selain Bu Prih, blogger Salatiga yang selalu saya kagumi pemahamannya tentang budaya Jawa, selain tentunya tentang urusan kebun. Saya ingat betapa menyenangkannya bertemu dan jalan-jalan dengan beliau ke Keraton Solo saat itu.

Berikutnya saya sempat bertemu Pak Krishna, blogger yang tulisan dan foto-foto perjalanannya selalu menyedot perhatian saya. Pertemuan dengan beliau juga penuh dengan obrolan yang sangat seru dan  menyenangkan.  Terinspirasi oleh kedua pertemuan itu, jadi saya ingin sekali mendapatkan kesempatan bertemu dengan teman-teman blogger lainnya lagi.

Keinginan itu akhirnya sedikit bisa tercapai ketika Budi Arnaya, blogger Jembrana  menghubungi saya  dan memberi kabar bahwa dirinya sedang ada di daerah Serpong untuk masa kurang lebih sebulan.

Sebagai bagian dari kebiasaan “Menyama Braya” di Bali, ¬†Budi mengkonfirmasi kunjungannya ke rumah.¬† “Pang maan masih nengokin nyama (maksudnya: agar dapat juga menengok saudara)” itu istilahnya. ¬†Saya sangat senang.

(Note: “Menyama braya” adalah terminologi ¬†dalam bahasa Bali untuk sikap memupuk rasa persaudaraan dengan cara saling menyapa, saling menengok, saling menolong dan memperdulikan keadaan masing-masing, sesama saudara, kerabat atau sahabat. ¬†

Dari sana akhirnya saya pikir kayanya lebih enak  jika sambil ngobrol kita bakar-bakar ikan rame-rame. Pasti seru! Barangkali Budi mau. Dan barangkali ada blogger lain seputaran Tangsel yang  juga bisa datang.   Siapa saja ya? Saya ingat Pak Krishna dan Mbak Evi. Terus saya ingat  sama Dani Kurniawan (sayang saat saya hubungi Dani sedang ada di Bandung. Jadi ngga bisa ikut dehh).  Sayang saya  tidak tahu siapa lagi lainnya yang  tinggal di seputaran Tangsel.

Karena malamnya saya bekerja hingga larut, hari Sabtu pagi, saya bangun kesiangan. Waduuh..janji ngajak bakar-bakar ikan, tapi belum punya arang buat membakar he he. Akhirnya ke pasar dulu mencari arang batubara (briket) dan bahan-bahan lainnya. Jadilah saya terlambat menjemput Budi di flat-nya. Janji jam sembilan, tapi akhirnya jadi molor ke jam sebelas. Untungnya Budi baik hati dan nggak pake ngambek. Pertama kali bertemu Budi, rasanya seperti menjemput adik sendiri. Sudah nggak ada basa basi lagi. Nggak pake sungkan-sungkan, langsung ngasih tugas, “ntar bantuin bakar ikannya, ya!” kata saya yang disetujui Budi. Bahkan anak saya yang kecil begitu bertemu¬† juga langsung ngajak Budi main bola di halaman. “Ayo,Om. jadi keepernya” . Ha ha ha.. ia idak tahu kalau Omnya lagi sakit perut.

Mbak Evi datang sekitar jam 4.   Pak Krishna menyusul tak lama kemudian. Saya senang sekali. Setelah bertahun-tahun bersahabat akrab di dunia digital (mbak Evi adalah blogger pertama yang saya kenal di dunia maya), kami baru bertemu fisik hari itu, padahal rumah kami sangat dekat satu sama lain. Rupanya hanya sekilo dua  kilo meter barangkali jaraknya. Kok belum pernah bertemu ya? Akhirnya kami ngobrol seru dan tertawa cekakak cekikik mentertawakan kebodohan kami.  Saya sangat heran. Padahal kami baru pertama kali bertemu, tapi kok rasanya mirip dengan reunian dengan teman-teman lama yang  sudah lama tak bertemu.

Yang namanya temu blogger, pasti yang dibrolin adalah seputaran dunia per’blog’an, tulis-menulis, perjalanan, pengalaman dan foto-foto.Lalu serunya apa ketemuan begini, selain ngobrol-ngobrol? Banyak kocaknya juga sih.¬† Nah begini ceritanya…

Sekitar pukul setengah empat, Budi nanya “Apa mau mulai bakar ikan sekarang saja?“.¬† Ya ya. Masuk akal juga, biar ntar kalau mereka datang, ikan sudah ada yang matang. Saya menyiapkan pembakaran¬† dan menuang briket batu bara. Pas nuang briket..ehhh… saya baru nyadar kalau saya belum pernah menyalakan briket batu bara. Selama ini yang menyalakan briket adalah keponakan suami yang sekarang sudah pindah tinggal di luar kota. Biasanya saya hanya tukang nyiapin bumbunya saja.. he he. Pantesan saya tidak bisa membakar briket sendiri*ah..neplok jidat!*

Coba pakai koran dibakar dulu buat mancing nyala briket. Tapi kobaran api di koran tak bertahan lama, dan briket tak kunjung menyala juga. Saya dikasih tahu, harusnya pakai minyak tanah sedikit. Waduw? Jaman begini dimana nyari minyak tanah ya? ¬†Untungnya si Mbak yang bantuin di rumah, berinisiatif mengambilkan minyak tanah dari rumahnya sendiri. ¬†Belakangan saya dikasih tahu, harusnya pake spiritus. Spiritus lebih mudah dicari. ooh gitu ya? He he….. tapi akhirnya ikanpun matang juga.

Lepas dari masalah pertama, lalu datang masalah yang ke dua. Lalat tiba-tiba datang entah darimana karena mencium aroma ikan. Banyak pula.¬† Waduuuh.. bagaimana ini? Karena nggak nyaman, akhirnya sementara saya simpan dulu ikan-ikan yang baru matang itu di dalam ruangan tertutup biar nggak dihinggapi lalat. Saat mau makan baru dikeluarin. ¬†Anak-anak nanya, “Lah..ikannya mana?” bingung nyariin ikannya. Disimpan di ruangan! Akhirnya anak-anak membantu menyalakan lilin dan mengibas-ngibaskan kipas dan koran buat mengusir lalat. Seru!

Senengnya rame-rame di rumah ini, ya begini inilah. Mbak Evi juga bantuin ngangkatin mangkok buat dibawa ke Jineng. Menjelang makan, baru nyadar ternyata sendok garpu belum disiapkan. “Sendok mana? Sendoknya belum ada” tanya Mbak Evi. Buru-buru saya ngambil sendok nasi.’Bukan sendok nasi. Sendok makan!” Oooo ala. Sendok makan ya. Ha ha ha.. masih ketinggalan di dapur. Kelihatannya nyonya rumah kurang profesional ini. Masa sendok garpu belum disiapin. Belum siap kalau suatu saat buka resto…he he.

Walaupun penuh dengan kekurangan, tapi suasana sore itu menurut saya sungguh sangat menyenangkan dan penuh kekeluargaan. Apa adanya, seperti keluarga sendiri.

Yang saya catat dari pertemuan ini adalah keakrabannya.  Saya sangat senang dikunjungi sahabat-sahabat saya ini. Bagi saya kedatangan mereka ke rumah adalah kesediaan mereka menerima saya sebagaimana adanya. Lengkap dengan segala kekurangan saya.  Walaupun  gelas minum belang belontang, tinggi, rendah bercampur cangkir seadanya, yang penting minum. Walaupun membakar briketnya kurang profesional, yang penting ikannya matang. Walaupun lalat berdatangan dan mengganggu, terus dikipas-kipas, yang penting seru! Walaupun pada berdiri atau duduk di halaman, yang penting bisa ngobrol dan tertawa riang.   Ah! Sangat membahagiakan!

Orang tua  bilang,  ketika seorang teman menerima kamu apa adanya, lengkap dengan segala kelebihan dan kekuranganmu, maka ia adalah saudaramu.

Terimakasih banyak Budi Arnaya, Mbak Evi dan Pak Krishna, semoga kita bisa bertemu lagi dalam kesempatan lainnya. Dan semoga  saya bisa bertemu dengan blogger-blogger lainnya lagi.

 

Pak Ogah Jalanan. Membantu atau Menyusahkan?

Standard

jalananSaya dalam perjalanan balik ke kantor dari makan siang. Beramai-ramai , nebeng teman yang membawa kendaraan. Cuaca sangat panas di luar. Debu dan uap jalanan bertebaran di udara. Lalu lintas tidak terlalu padat.Karenanya kendaraan melaju cukup cepat, akhirnya tibalah kami di putaran jalan. Seorang Pak Ogah berdiri di putaran itu, mengangkat ke dua tangannya, memanggil-manggil pengemudi untuk melaju dengan gerakan tangannya, lalu merapat ke pintu pengemudi. Teman saya  terlihat agak kikuk, lalu membuka kaca jendela mobil, memberikan uang kepada Pak Ogah itu lalu menutup kacanya kembali. Kendaraanpun melaju ke arah yang berlawanan dengan arah darimana kami datang sebelumnya.

Bagi yang dikotanya tidak mengenal istilah Pak Ogah jalanan, saya jelaskan sedikit bahwa ¬†“Pak Ogah” yang saya maksudkan¬† ini adalah orang-orang (biasanya laki-laki, umur bervariasi- dari belasan tahun hingga setengah baya) yang berada di putaran jalan membantu memuluskan jalan bagi pengemudi yang ingin memutar haluan, dengan cara memberhentikan atau memperlambat arus lalu lintas yang sedang melaju. Dengan demikian, pengemudi yang ¬†sedang memutar haluan kendaraannya bisa melakukannya dengan baik tanpa mengalami kesulitan lalu lintas yang berarti .¬†

Untuk jasanya ini, biasanya mereka meminta imbalan dari para pengemudi yang bersangkutan, ¬†oleh sebab itulah mereka dinamakan dengan Pak Ogah. Diambil dari nama salah satu tokoh pengangguran di film Si Unyil yang terkenal dengan ¬†kalimatnya “Cepek dulu dong ¬†!” setiap kali membantu orang lain. Kadang Pak Ogah jalanan ini juga disebut ¬†dengan istilah “Polisi Cepek”.

“Lah, ¬†orang itu kan tidak menolong kita. Sebenarnya tidak perlu diberi uang” Celetuk seorang teman. Rupanya ia memikirkan hal yang nyaris sama dengan yang saya pikirkan. Sebenarnya Pak Ogah yang ini¬† memang tidak menolong sama sekali. Malah membuat ribet dan kagok teman saya yang mengemudi.

Pertama, karena kenyataannya lalu lintas relatif sepi. Tidak ada kepadatan yang berarti. Sebenarnya pengemudi bisa lewat di putaran itu dengan normal. Tanpa perlu bantuan siapapun, termasuk dari Pak Ogah.

Kedua, Pak Ogah itu berdiri di depan sisi kanan, dekat pintu supir. Ia tidak membantu mengentikan laju lalu lintas yang berada di sisi kiri. Mengapa ia berdiri di situ dan malah menghalangi lajunya kendaraan? Bukankah jika ia mau menolong seharusnya ia berdiri di pintu kiri? Agar bisa memberhentikan laju lalulintas dari arah kiri? “Karena kalau berdiri di kanan, ia takut tidak kebagian uang dari supir“kata teman saya yang lain. Hmm.. mungkin saja sih. Masuk akal juga.

Teman -teman yang lain ramai-ramai bercerita tentang pengalamannya dengan Pak Ogah yang rata-rata menurutnya tidak membantu, malah membikin ribet. ¬†Ada yang bercerita bahwa seorang teman kami yang lain ¬†bahkan pernah berani membentak Pak Ogah di tikungan ” Pergi kamu! Kamu tidak berguna berdiri di situ!. Bikin saya susah saja!” cerita teman saya ketika ¬†teman kami itu nyaris menabrak orang lain gara-gara seorang Pak Ogah sibuk meminta imbalan di sisi kanan tanpa sedikitpun membantunya ¬†mengatur kepadatan lalu lintas di sisi kiri. Saya tertawa mendengar ceritanya. Karena setahu saya rata-rata pengemudi wanita umumnya memberi uang kepada Pak Ogah, terlepas apakah sebenarnya ia dibantu atau tidak. Entah karena takut, merasa nggak enak,segan, malu , dsb jika tidak memberi uang. Kalau ada yang berani sampai membentak Pak Ogah, tentu itu sebuah prestasi.

Kesimpulannya beramai-ramai, Pak Ogah yang berdiri di sisi pintu supir memang tidak membantu. Mereka hanya mengutamakan imbalan dari pengemudi.

Lalu apakah  Pak Ogah itu sebenarnya diperlukan atau tidak? Apakah ada Pak Ogah yang memang benar-benar membantu dan berguna? Ramai-ramai teman saya menjawab bahwa Pak Ogah itu kadang dibutuhkan juga keberadaannya. Tidak semuanya menyusahkan!. Terutama pada saat tidak ada petugas polisi lalu lintas yang mengatur kepadatan (barangkali karena jumlah polisi lalu lintas terbatas, atau mereka sedang istirahat,dll). Pak Ogah sangat dibutuhkan dan bisa jadi sangat berguna.

Pak Ogah yang berdiri di sebelah pintu kiri supir, yang benar-benar bekerja memberhentikan atau memperlambat laju kendaraan yang lewat itulah yang memang benar-benar membantu. Itulah yang sebenarnya layak diberi imbalan.  Tapi masalahnya ia berdiri di pintu jauh? Lalu bagaimana pengemudi bisa memberikannya imbalan? Kecuali ia mendekat dengan cepat. Jika tidak tentu ia ditinggal oleh pengemudi yang harus bergegas memutar stir kendaraannya.  Kasihan Pak Ogahnya.

Jadi menurut teman-teman saya, yang ideal itu, di setiap tikungan yang padat dan berpotensi membuat kemacetan sebaiknya ada polisi. Atau jika tidak, dibutuhkan dua orang Pak Ogah. Pak Ogah1 fokus tugasnya adalah  membantu mengatur lalu lintas, harus berdiri di sisi jauh dari pengemudi dan tidak perlu memikirkan uang. Dan pak Ogah2 berdiri di sisi dekat pengemudi tugasnya menampung uang dari pengemudi atas  kerja yang dilakukan oleh pak Ogah1. Pada  akhir kegiatan, uang itu harus dibagi berdua sesuai dengan kesepakatan (sebaiknya Pak Ogah1 yang menerima bagian yang lebih banyak dong ya.., karena kan resikonya lebih tinggi dan pekerjaannya lebih sulit, dibanding dengan yang hanya berdiri , mengangkat tangan dan meminta uang).

Saya mengingat-ingat, di beberapa putaran jalan rasanya cukup sering juga saya melihat Pak Ogah beraksi dengan temannya. Berdua atau bertiga. Barangkali mereka telah memikirkansebelumnya  hal-hal yang dipikirkan oleh para pengemudi.

 

 

Tulis Gidat.

Standard

Andani 1Ini cerita yang tercecer ketika beberapa minggu yang lalu saya sempat bermain ke Museum Geologi Bandung. Ketika melihat-lihat di ruangan fosil Phitecantrophus erectus dan teman-temannya itu, saya sempat berdiri cukup lama memperhatikan bagian dahi dari tengkorak-tengkorak yang ada di situ. Anak saya bertanya,¬† ” Sedang melihat apa, Ma?” saya hanya menunjuk ke fosil fosil itu tanpa memberi penjelasan apa-apa. Soalnya ceritanya panjang, jadi agak repot menjelaskannya saat itu.

Anak saya tampak  merasa tidak nyaman melihat tengkorak-tengkorak itu, lalu pergimeninggalkan saya yang masih memandangi tengkorak  Homo erectus itu. Karena ada banyak juga pengunjung lain di ruangan itu, saya tidak terlalu merasa takut. Anggap saja sedang praktikum di Lab Anatomi (sebenarnya sempat juga sih menengok kiri kanan, dan siap siap kabur jika tak ada pengunjung lain.. he.. he..).

Sebenarnya saat melihat-lihat fosil itu, saya sedang teringat akan ungkapan ” TULIS GIDAT” – sebuah istilah dalam Bahasa Bali yang ¬†jika diterjemahkan langsung alias letterlijk ke dalam Bahasa Indonesia menjadi ” TULISAN DI DAHI”. ¬†Tetapi arti sebenarnya dari ungkapan itu sebenarnya adalah “Takdir ¬†kehidupan yang harus dijalani”. kalau kita hendak mengatakan “suratan takdir’ dalam bahasa Bali biasanya kita mengatakan “tulis gidat”.

Contoh pemakaiannya misalnya dalam kalimat ” Ooh..I Ketut¬† nak mula pantes dadi Bupati. Nak suba tulis gidatne buka keketo“. terjemahan :¬† Ooh..Si Ketut memang sudah sepantasnya menjadi Bupati. Karena ¬†takdirnya memang sudah begitu“. Atau misalnya dalam kalimat lain “Jeg buung ¬†tiyang nganten ngajak ia. Enggalan ia nganten jak nak len. Miribang suba tulis gidat tiyange buka kene“. terjemahannya”Saya batal menikah dengannya. Ia keburu menikah dengan orang lain.Mungkin memang sudah takdir saya begini“. sangat jelas bahwa Tulis Gidat orang pertama yang dibicarakan adalah baik.Sementara Tulis Gidat orang yang ke dua kelihatannya kurang baik.

TULIS GIDAT! Darimana asal usul ungkapan ini ? Saya diceritakan oleh para tetua jaman dulu, bahwa konon di setiap tulang dahi manusia, selalu ada script atau¬† tulisan (entah dalam huruf apa – yang jelas kita tidak bisa membacanya) yang konon bercerita tentang nasib yang akan kita jalani selagi hidup di dunia. Tentang bagaimana kita lahir, tentang siapa saja saudara kita , teman-teman kita, siapa pasangan hidup kita, bagaimana kita bertemu, bagaimana kita sukses dan sebagainya dan sebagainya. Nah..dari cerita itulah ungkapan “TULIS GIDAT” bermuasal.¬† Jadi karena semua takdir kita sudah tertulis di tulang dahi kita, apapun yang kita alami di dunia ini ya kita harus terima dan jalani dengan tabah dan tawakal. Tulis Gidat bisa mencakup sesuatu ¬†takdir yang bagus, bisa juga kurang bagus.

Dan orangtua juga selalu mengingatkan kepada anak-anak, bahwa tujuan kita hidup di dunia ini adalah untuk melakukan perbuatan baik dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan di masa lampau. Jadi hanya jalani saja hidup ini dengan sebaik baik yang bisa kita lakukan. Walaupun kita kurang beruntung ataupun nasib buruk menimpa kita, tetap harus kita jalani dengan baik. Jika kita jatuh, maka jatuhlah dengan baik, lalu bangkit lagi dengan cara yang baik. Jika kita kalah, kalahlah dengan baik. Akui kemenangan orang lain dengan ksatria. Tak ada yang harus disesali atau dijadikan beban pikiran, jika semuanya telah kita lakukan dengan cara yang baik dan benar.   Karena semua apa yang menimpa kita itu sudah takdir yang tertulis di gidat alias dahi kita. (Sekali lagi, bahwa semuanya itu konon lho ya).

Gara-gara teringat ungkapan TULIS GIDAT itulah saya jadi memperhatikan tulang dahi dari tengkorak fosil-fosil itu. Saya pengen melihat langsung, apakah benar ada semacam tanda-tanda  mirip tulisan begitu pada tulang dahi manusia yang disebut dengan istilah TULIS GIDAT. Sayangnya kebanyakan tulang fosil itu sudah hancur. Atau kalau tidak,  fosil itupun hanya merupakan replika saja yang tentu kehilangan detailnya. Jadi saya tidak bisa melihat adanya tulisan di sana. Ada juga retakan yang mirip script asing pada sebuah kepala Homo erectus, tapi itu bukan pada bagian gidat-nya, tapi justru pada bagian tempurung kepalanya.  Apakah barangkali nenek moyang kita dulunya terinspirasi oleh alur retakan pada tengkorak itu yang memang mirip aksara antah berantah itu,sehingga keluarlah istilah Tulis Gidat itu.

Lalu,apakah saya orang yang percaya pada Tulis Gidat? . Bisa saya bilang kalau saya ada percaya juga pada yang namanya suratan takdir (takdir dalam pehamanan yang lebih luas daripada hanya sekedar tulisan fisik pada tulang dahi). Walaupun saya lebih percaya bahwa hingga level tertentu, usaha dan upaya kita untuk menentukan nasib juga sangat besar peranannya. Jika kita memang sudah habis-habisan berusaha, bekerja dengan baik dan benar, dengan keras dan smart…nah sisanya itulah baru takdir yang memegang peranan.

 

 

Cerita Si Tukang Bubur Ayam.

Standard

Bubur ayamPagi ini, karena sisa nasi semalam yang dijadikan Nasi Goreng jumlahnya tidak memadai untuk dikonsumsi olehseluruh keluarga, maka saya memutuskan untuk sarapan bubur ayam saja.  Belinya tentu di tukang bubur ayam yang lewat di depan rumah. Sebenarnya di sekitar tempat tinggal saya, ada 2 orang tukang bubur ayam. Yang pertama adalah yang manteng di depan ruko. Yang satunya lagi adalah yang berkeliling dengan sepeda motor.

Tukang bubur yang pertama,  sudah manteng  di perumahan ini barangkali sejak 5 tahun terakhir ini. Model buburnya mirip dengan bubur ayam Cirebon. Terdiri atas Bubur, kuah, kacang kedelai goreng, suwir ayam, irisan daun bawang -seledri, kecap, kerupuk dan sambal. Terus ada sate hati-rempela- usus- telor puyuh. Saya tidak terlalu nge-fans dengan bubur ini. Terutama pada kuah dan sambelnya. Menurut saya banyak Bubur Cirebon lain yang jauh lebih enak dari bubur ini. Walaupun harus saya akui, bahwa pelanggan tukang bubur ini sebenarnya lumayan banyak juga.  Berarti sebenarnya enak kan?

Lalu tukang bubur yang ke dua. Yang berputar-putar setiap pagi dari satu blok ke blok yang lain di perumahan, adalah tukang bubur yang sudah berjualan di sini sejak lebih dari  15 tahun. Mungkin mendekati 20 tahun.  Buburnya berbeda. Komposisinya kurang lebih begini: bubur,ayam suwir, tongcai, irisan cakwe, irisan daun seledri, sambal dan kerupuk. Sambelnya adalah sambel kacang yang enak yang membuat keseluruhan rasa bubur ini menjadi lebih enak dari bubur yang pertama Рtentu saja ini menurut saya lho ya. Belum tentu menurut orang lain.

Sambil menunggu ia menyiapkan, saya bertanya kepadanya,dimanakah ia tinggal? “Di Bekasi, Bu” jawabnya. Hah??!!. Alangkah terkejutnya saya. Wow! Bekasi! Jauh banget ya? ¬†Pantesan ia selalu mengenakan bandana batik segitiga yang dikalungkan di lehernya. Rupanya itu dipakai untuk menutup hidungnya agar tidak terlalu banyak menghirup polusi udara saat berkendara melintasi¬† Jakarta dari arah Bekasi ke Tangerang.

Ada semacam perasaan tidak enak di hati saya. Mengapa setelah nyaris dua puluh tahun mengenalnya, saya baru bertanya. Kelihatan betapa cuek dan tidak perdulinya saya terhadap lingkungan sekitar saya.¬† Tapi entah kenapa saya merasa pernah tahu bahwa tukang bubur ini tinggalnya tak jauh-jauh dari perumahan ini juga. Lalu pelan-pelan saya bertanya ¬†“Dulu bukannya tinggal di dekat sini ya? Atau dari dulu memang tinggal di Bekasi?” tanya saya. “Ya, Bu. Dulu waktu belum berkeluarga saya ngontrak di dekat sini. Tapi setelah berkeluarga, saya ¬†pindah ke Bekasi ke rumah istri saya” katanya. Oooh. Saya merasa sedikit lebih lega. Setidaknya saya tidak secuek bebek.

Nah, pertanyaan berikutnya, mengapa ia tidak mencari pelanggan baru saja di daerah Bekasi sana saja? Ngapain jauh-jauh dari Bekasi ke TangSel sini  hanya untuk berjualan bubur?

Ia lalu bercerita bahwa jumlah pelanggannya sudah terlalu banyak di wilayah Bintaro dan sekitarnya sini dan ia tidak mau meninggalkan pelanggannya begitu saja. “Mereka sudah cocok dengan rasa bubur ayam saya. Dan saya juga sudah hapal selera mereka.¬† ¬†Ada yang suka banyak sambal, ada yang tidak suka pedas, ada yang mau cakwenya yang banyak, ada juga yang mau buburnya yang banyak. Beda-bedalah Bu. Jumlahnya juga sudah sangat banyak. Tidak mungkin saya menghilang begitu saja dari Bintaro. Soalnya kalau tidak jualan sehari saja, banyak yang menanyakan.” katanya sambil menambahkan sambel ke bubur pesanan saya. Ooh..rupanya ada semacam ikatan emosi antara pelanggan dan tukang bubur ini. Ikatan yang tidak mau saling kehilangan.

“Mencari pembeli baru di Bekasi mungkin sebenarnya tidak telalu sulit, Bu. ¬†Tapi perlu waktu lama untuk membuat pembeli di Bekasi mau berlangganan kepada saya. ¬†Jadi, di Bekasi saya punya pembeli, tapi kalau di Bintaro saya punya pelanggan. Kalau saya muter-muter di Bintaro sini, sudah pasti dagangan saya akan habis sebelum tengah hari. Kalau di bekasi belum tentu. ¬†Makanya¬†demi pelanggan, lebih baik saya berangkat ke sini setiap pagi . Buat saya melayani pelanggan yang sudah lebih pasti membeli lebih penting daripada mencari pembeli baru” tambahnya.

Lebih lanjutnya si Tukang Bubur bercerita kepada saya bahwa setiap hari ia bangun pukul dua dinihari untuk mempersiapkan dagangan sehingga bisa berangkat jam 4 subuh-subuh dari Bekasi agar bisa sampai di Bintaro sekitar jam setengah enam atau jam enam pagi. Itu dilakoninya setiap hari. Wow!  Setelah saya membayar, tukang bubur itupun pergi dengan motor bebeknya.

Sambil memandangi punggungnya dari kejauhan, saya jadi memikirkan kata-katanya itu. Sangat jelas terlihat bahwa ia memang sangat memahami pelanggannya. Dan sangat mengutamakan pelanggannya.

Pembeli memang beda dengan Pelanggan. Mencari pembeli bisa saja mudah, namun mengubahnya menjadi pelanggan belum tentu pekerjaan mudah. Oleh karena itu, mempertahankan pembeli yang sudah menjadi pelanggan setia kita jauh lebih penting daripada mencari pembeli baru dan membuatnya menjadi pelangggan kita.

Sekarang saya baru tahu, mengapa tukang bubur ini selalu membunyikan klakson setiap kali ia lewat di depan rumah saya. Ia selalu tersenyum ramah, tak perduli saya membeli ataupun tidak. Dan jika saya membeli, tanpa perlu saya sebutkan lagi, ia selalu hapal bahwa saya memerlukan sambal lebih banyak. Demikianlah caranya ia membuat saya senang dan suka membeli bubur ayamnya. Barangkali saya adalah salah satu orang yang dihitungnya sebagai salah satu pelanggannya.

 

 

Titi Ugal Agil Dalam Kehidupan.

Standard

meniti jembatan bambuSeekor burung Terkuak tampak berjalan berjingkat-jingkat di lumpur tepi sungai. Saya memperhatikannya dari jarak jauh. Burung itu tidak melihat saya. Sibuk mengais sesuatu di lumpur. Setelah selesai dengan kesibukannya, lalu ia memandang ke samping.Kelihatan seakan ingin menyeberang ke gundukan tanah yang lain di pinggir kali. Tampak ia berhenti sesaat, seolah sedang memikirkan sesuatu. Sebenarnya  kalau mau ia tinggal nyebur ke air dan kemudian berenang saja. Namun rupanya burung itu berpikir lain.

Ia menengok ke kiri dan ke kanan, lalu mulai melangkahkan kakinya di atas tumpukan sampah plastik yang mengumpul di situ, kemudian melompat ke sebatang bambu yang melintang memanjang di situ ¬†ke arah gundukan tanah di seberang. Oooh..rupanya ia ingin memanfaatkan bambu itu menjadi jembatan. Saya melihat ia berjalan perlahan, berusaha menyeimbangkan badannya dengan baik agar tidak tercebur ke kali. Saya agak tegang menyaksikan burung itu menyeberang. Takut ia terpeleset dan tercebur. Namun kelihatannya ia cukup tenang. Selangkah…dua langkah..tiga langkah..empat langka…lima langkah.. eh.. ujung bambu itu menurun ke air. Burung itu tetap berjalan di atas bambu, walaupun bambu itu sekarang berada di bawah permukaan air. Langkahnya mantap dan tetap di atas bambu. ¬†Hingga akhirnya ujung bambu itu habis, maka ia berjalan cepat dengan lurus ke atas gundukan tanah. Horee! Ia berhasil menyeberang, tanpa harus berenang. Cukup dengan berjalan saja.

Sampai akhirnya burung itu berhasil menclok di seberang, saya tetap tidak mengerti mengapa burung itu memilih meniti bambu untuk menyeberang ketimbang berenang atau terbang.  Padahal ia memiliki kemampuan yang baik untuk terbang maupun berenang.

Melihat burung itu meniti bambu tiba-tiba saya teringat akan cerita tentang Titi Ugal Agil yang  sangat populer di kalangan masyarakat Bali.   Waku kecil, saya diceritakan oleh tetua saya bahwa jika suatu saat nanti kita meninggal, maka pada suatu kesempatan roh kita akan berkumpul di sebuah padang rumput yang disebut Tegal Penangsaran. Mulai dari sana kita akan mengalami berbagai macam ujian dan persidangan sesuai dengan karma yang kita lakukan selama menjalani kehidupan di dunia fana ini. Salah satunya, kita akan berjalan di atas sebuah jembatan tipis yang sangat rapuh bernama Titi Ugal Agil.  Jembatan itu adalah jembatan pengujian bagi para roh.

Jika kita tidak berhasil menyeberang,  maka roh kita akan jatuh ke jurang di bawah Titi (jembatan) itu. Jurang itu  penuh api dan pedang tajam serta berbagai ragam peyiksaan yang disebut Neraka.  Jika kita pernah mencuri dan mengambil sesuatu yang bukan hak kita maka tangan kita akan dipotong. Jika kita pernah  berzinah, maka area kemaluan kita akan dibelah. Jika kita peernah  memfitnah, nyinyir, membicarakan keburukan orang lain maka mulut kita akan disobek, jika kita pernah membunuh maka seluruh tubuh kita akan disiksa berat dan dilempar ke Neraka yang lebih di bawahnya lagi sehingga lebih sulit lagi bagi keluarga kita  untuk mendoakan agar  bisa lepas dari genggaman para penghuni Neraka. Semua kesalahan dan kejahatan akan ada hukumannya yang setimpal.

Sedangkan jika kita berhasil menyeberang,  maka roh kita akan menyeberang ke suatu tempat penantian terakhir yang akan menetapkan apakah roh kita akan masuk ke Sorga, jika roh kita benar-benar bersih dari kesalahan dan perbuatan buruk selama di dunia fana. Atau  jika kita ada melakukan beberapa kesalahan dan perbuatan buruk yang ringan dan jumlahnya jauh lebih sedikit dari perbuatan baik kita yang jumlah dan skalanya jauh lebih banyak dan besar, maka kita  masih diberi kesempatan untuk lahir kembali ke dunia guna memperbaiki kesalahan-kesalahan kita di masa lalu, sehingga pada suatu saat kita bisa benar-benar masuk Sorga dan tak perlu lahir kembali.

Sebagai orang yang lahir dan besar di Bali, tentu saja saya percaya dengan konsep Titi Ugal Agil itu. Namun saya rasa perjalanan kita di atas Titi Ugal Agil itu sebenarnya sudah  bisa kita tebak sejak kita masih hidup di dunia ini.  Karena sebenarnya jembatan ujian yang disebut Titi Ugal Agil itu, sebenarnya telah diletakkan di hati kita.

Contohnya saja jika kita sedang terburu-buru pergi ke suatu tempat. Tiba-tiba ada Polisi lalu lintas sedang melakukan razia dadakan. Pas diperiksa, eh… SIM ketinggalan. Nah sekarang kita masuk ke dalam jembatan pengujian Titi Ugal Agil. Menyogok agar tidak ditilang? Atau pasrah ditegur polisi dan ¬†ikuti aturan, jika harus ditilang ya biar ditilang saja? Hati nurani kita yang memutuskan apakah kita ingin lolos kelak di Titi Ugal Agil atau tidak.

Atau menjelang pemilu, seseorang datang ke rumah membawakan beras dan uang meminta kita untuk mencoblos nomor kandidat yang sebenarnya tidak kita kenal latar belakangnya pun dengan baik. Kita sedang masuk Titi Ugal Agil. Terima beras dan uangnya dan penuhi permintaannya mencoblos kandidat yang dimaksudkan? Atau menolak pemberian itu dan memilih sesuai dengan hati nurani kita?

Atau jika kita memegang jabatan tertentu,  ketika sampai di rumah ternyata kita menerima parcel hari raya dari seorang agency yang bekerjasama dengan kantor tempat kita bekerja. Kita juga sedang masuk ke dalam Titi Ugal Agil. Kita terima,buka dan manfaatkan parcel itu untuk diri kita dan keluarga kita?Atau sebaiknya pulangkan saja ke kantor dan informasikan kepada agency itu bahwa kita tidak bersedia menerima parcel  itu secara pribadi?

Banyak lagi hal-hal kecil lainnya yang harus kita waspadai dalam tingkah laku kita yang jika tidak waspada akan mengarahkan kita pada korupsi kecil-kecilan, pencurian, kolusi, penyogokan dan sebagainya. Hal-hal kecil yang sebenarnya merupakan ujian bagi kita untuk melewati jembatan rapuh yang bernama Titi Ugal Agil itu.

Silakan Mampir, Tante!

Standard

pedagangSeorang pedagang tempe lewat di depan rumah. Membawa motornya melaju sambil berteriak “Tempe! Tempe!Tahu! Tahu!“. Lalu berhenti di depan rumah tetangga. Saya mendekat berniat belanja. Tempe yang harum dan kwalitasnya bagus. Bentuknya segitiga kecil-kecil dibungkus daun pisang. Saya membeli 20 buah. Namun Si Bapak Tukang Tempe memberi saya tambahan 3 buah. “Empat belas ribu. Ini saya tambahkan 3 lagi,boss!” katanya sambil memasukkan tambahan tempe ke dalam kantong plastik. ¬†Saya berterimakasih.

Lalu ia mempromosikan ¬†tahu baru yang bernama Tahu Susu. ¬†“Coba ya, boss? Saya juga baru bawa tahu ini, karena waktu saya coba ternyata empuk dan lembut sekali” Katanya berpromosi. ¬†Saya menyentuh tahu itu dari plastik pembungkusnya. Memang sangat lembut. Saya setuju untuk membeli sebungkus. “Dua belas ribu ya, boss. Isinya sepuluh” katanya memberi informasi. Saya mengangguk. ¬†Lalu saya membeli 4 bungkus susu kacang kedelai lagi untuk anak saya yang kecil. Ia sangat suka susu kedelai. “Delapan ribu” katanya. saya mengangguk lagi. Setelah selesai berbelanja, Si Tukang Tempe pun menghitung kembali total belanjaan. Saya membayar. Lalu Si Tukang Tempe menutup pembicaraan dengan memberikan uang kembalian kepada saya.”Terimakasih ya, boss. Ini saya kasih lagi tambahannya ” katanya sambil meraih sebungkus susu kacang lagi dan 3 buah tempe segitiga lagi untuk diberikan gratis kepada saya. Saya terkejut. “Ah, nggak usah!.Ini saja sudah cukup. Nanti rugi. Kok dikasih gratis banyak sekali” kata saya khawatir. ¬†Tapi si Tukang Tempe dengan santai menjawab “Ah! Buat boss nggak apa-apa saya kasih lebih. Kan penting itu menyenangkan pelanggan. Saya tidak rugi, karena tempe dan susu kacang saya bikin sendiri” katanya sambil menghidupkan mesin motornya dan berlalu.

Saya membawa bungkusan itu ke dapur . Tentu saja saya suka dikasih gratisan. Tapi walaupun dikasih gratisan, sebenarnya saya amat tidak suka dipanggil boss.  Saking tidak sukanya saya sampai berpikir kayanya tukang tempe itu tidak tahu tata krama. Barangkali ia pikir semua orang senang dipanggil boss. Dia tidak sadar kalau ada orang yang tak suka dipanggil begitu.  Menurut saya, Boss itu tepatnya panggilan untuk orang yang benar-benar kaya secara finansial dan mampu mensuport finansial orang lain. Jelaslah saya sangat tidak tepat disebut boss. Saya bukan boss. Saya ibu rumah tangga biasa yang membeli tempe, tentunya lebih senang dipanggil dengan Ibu saja. Atau kalau mau berbaik hati, panggil saja Mbak * terasa lebih muda seketika he he*.

Selain itu, panggilan boss lebih umum  saya dengar pada komunitas pria. Cukup sering panggilan boss saya dengar diucapkan oleh/kepada teman-teman saya yang laki, adik laki-laki ataupun kakak-kakak  sepupu saya yang laki.  Jadi benar-benar tidak cocok deh buat saya. Tapi salah saya sendiri juga  sih. Mengapa pula tidak protes saat dipanggil boss. Ah! Sudahlah!. Mungkin lain kali saya perlu kasih tahu si Tukang Tempe itu kalau saya tidak suka.

Ada lagi panggilan yang lebih tidak saya sukai lagi. Tante!. Beberapa kali saya merasa kesal jika lewat di sebuah pertokoan, lalu dipanggil panggil oleh SPG penjaga baju ¬†“Mampir, Tan!” atau “Boleh. Lihat-lihat dulu, Tante!” atau “Coba dulu, Tante!”¬† Atau disapa mas-mas penjaga lapak sayur di pasar modern”Ayo Tante,mampir. Brokoli nya segar-segar. Untuk Tante nggak dimahalin“. ¬† ?????????. . Menurut saya Tante itu benar-benar panggilan yang sangat menyebalkan. ¬† Saya sangat tidak senang dipanggil Tante. Kecuali oleh keponakan saya sendiri atau anak-anak teman kita yang memang sudah sepantasnya memanggil Tante atau Bulik atau Bude, atau Wak. ¬†Karena jika dipanggil Tante oleh orang yang tidak da hubungan kekerabatan dengan kita, kesannya jadi seperti mengarah kepada Tante – Tante yang bagaimana gitu (i.e tante girang).

Saya sempat bercerita soal ini kepada beberapa orang teman saya, dan tenyata mereka juga tidak suka dipangggil Tante. Alasannya sama dengan apa yang saya paparkan di atas.  Syukurlah bukan saya sendiri yang berpikir begitu*mencari teman*.Ujung-ujungnya, gara-gara dipanggil Tante, yang tadinya saya niat mau beli, akhirnya saya jadi tidak mau membeli. Kehilangan selera.  Nah, kalau banyak orang yang tidak suka dipangil Tante sembarangan, dan orang akhirnya tidak mau membeli gara-gara tidak suka dipanggil Tante,  tentu pedagang itu akan rugi. Mengapa ya para pemilik toko tidak mentraining karyawannya agar menyapa pembeli dengan sapaan yang lebih baik dari Tante.

Tapi saya tidak tahu juga, barangkali banyak juga wanita yang justru lebih senang dipanggil Tante. Setidaknya Tante kan lebih muda dari Ibu. Entahlah.  Itu soal selera.

Panggilan lain, ¬†secara umum sih saya masih OK. Langsung memanggil nama, Ibu atau Mbak saya lebih suka. Kadang-kadang ada juga yang memanggil saya dengan Bunda. ¬†Saya tahu banyak orang lebih suka dipanggil Bunda. Dan tentunya itu baik dan juga lagi trend ya. ¬†Namun sayangnya saya agak kurang familiar dengan sebutan Bun, Bunda, walaupun sangat positive kesannya. Pasalnya sederhana, hanya karena sebutan Ayah-Bunda tidak umum di lingkungan saya yang biasa membahasakan orang tua dengan kata Bapak -Ibu. ¬† Jadi tentunya saya lebih menyukai kata Ibu, ketimbang Bunda. Rasanya kurang ‘saya’. Tapi ¬†tentunya saya tidak menolak panggilan Bunda.

Demikianlah soal panggilan-panggilan yang saya sukai dan tidak sukai. Bagaimana dengan teman-teman? Panggilan apa yang teman-teman sukai dan panggilan apa yang teman-teman tidak sukai?