Tag Archives: Sukabumi

Ketupat Merang Sukabumi.

Standard

Ketupat! Secara umum identik dengan hari raya Idul Fitri. Walaupun di beberapa daerah di Indonesia, ketupat memiliki makna adat yang lain.

Kali ini saya cuma ingin menuliskan bagaimana orang di Sukabumi menyiapkan ketupatnya untuk hari raya Lebaran. Sedikit berbeda dengan kebiasaan membuat ketupat di kampung halaman saya di Bali. Karena itu saya ingin menuliskannya.

1. Pembuatan Kulit Ketupat (Cangkang)

Ini bisa dilakukan sendiri dari janur. Tapi jaman sekarang, hanya sedikit orang yang bisa dan punya waktu untuk membuat sendiri. Kebanyakan membeli kulit ketupat yang sudah jadi di pasar.

2. Menyiapkan Beras.

Beras dicuci bersih, ditiriskan lalu dicampur dengan sedikit garam dan air kapur sirih. Garam ditambahkan agar ada rasa dan berfungsi sebagai pengawet. Kapur berfungsi agar textur ketupat menjadi kenyal.

3. Memasukkan beras ke dalam kulit ketupat.

Kulit ketupat diisi dengan beras bersih yang sudah dicampur dengan garam dan air kapur. Setiap kulit ketupat diisi setengah lebih sedikit ( sekitar 60%) dari ruang ketupatvyang tersedia, untyk memastikan agar ketupat memiliki kepadatan yang tepat dan tidak mudah basi. Jika kurang dari 60% umumnya ketupat akan terlalu lembek dan mudah rusak. Sebaliknya jika lebih dari 60% ketupat akan menjadi terlalu padat dan keras texturnya sehingga kenikmatannya berkurang.

4. Merang.

Untuk mendapatkan ketupat dengan warna coklat yang menarik, maka ketupat direbus dengan air merang padi. Selain itu air merang padi juga memberikan aroma wangi khas pada ketupat.

Cara menyiapkannya, merang padi dibakar . Setelah dibungkus dengan kain kasa, lalu dimadukkan ke dalam air untuk merebus ketupat.

5. Merebus Ketupat.

Ketupat direbus sekitar 8 jam lamanya dengan api sedang. Baru diangkat dan digantung gantung agar airnya tiris dan ketupat kering.

Selamat menyambut hari raya Idul Fitri teman teman!. Mohon maaf lahir dan bathin.

Advertisements

Oncom Hitam Sukabumi.

Standard

image

Oncom!. Pertama kali tahu makanan bernama oncom ini di rumah seorang sahabat di Singaraja yang kebetulan papanya orang Sunda. Saat itu saya disuguhi keripik oncom. Sungguh mati saya tidak menyukai tampang dan juga rasanya. Gimana ya…rasanya rada rada ajaib dan nggak menarik begitu menurut saya, tapi karena tidak enak hati kepada tuan rumah saya berusaha menghabiskannya juga sepotong.

Namun dengan berjalannya waktu dan semakin seringnya saya bergaul dengan oncom, lama lama saya suka juga sama si oncom. Dan sekarang malah termasuk salah seorang penggemarnya. Mungkin itu apa yang disebut orang sebagai “witing tresno jalaran soko kulino”. Ketagihan oncom!.

Kalau di Jakarta sehari harinya yang kita temukan adalah oncom berwarna orange. Tapi jika di Sukabumi, yang umum saya temukan di jual di pasar dan tukang sayur adalah oncom hitam.

Bedanya apa ya? Menurut keterangan yang saya dapat, oncom orange dibuat dari ampas kedelai saat orang mau bikin tahu dan difermentasi dengan kapang Neurospora intermedia yang berwarna merah jingga. 

Sedangkan oncom hitam dibuat bukan dari ampas tahu, tapi dari kacang tanah segar dan difermentasi dengan jamur Rhyzopus oligosporus, kapang yang sama yang juga dipakai untuk memfermentasi tempe. Kalau begitu, ya menurut saya secara teknis, oncom hitam itu sama dengan tempe hanya saja beda di bahan baku. Tempe menggunakan kacang kedelai, sedangkan oncom hitam menggunakan kacang tanah. Jadi sebenarnya oncom hitam = tempe kacang tanah.

Bagaimana mengolahnya? Serupa dengan oncom orange, oncom hitam umumnya dimasak dengan cara ditumis, dipepes atau dibikin keripik. Rasanya? Ya seperti yang saya ceritakan tadi… ngangenin!. Kalau saya ditanya sekarang, jawaban saya pasti enak walaupun dulu saat awal awal rada bingung juga soal rasa oncom ini. Apalagi jika ditumis pedas…. wah.. mantap deh. Sekarang, setiap kali jika saya dari Sukabumi pasti saya membawa oncom hitam ini ke Jakarta.

Yuk kenali dan cintai makanan traditional kita!

Traditional Crackers Dari Pedesaan Sukabumi.

Standard

Paling senang jika bermain ke daerah. Melihat hal hal menarik yang mungkin berbeda dari tempat tinggal kita sehari-hari. Entah itu floranya, faunanya, budayanya, makanannya dan sebagainya.

Hari ini saya bermain ke daerah pedesaan Cipetir di wilayah Sukabumi, Jawa Barat.  Pemilik rumah menyajikan teh manis dan penganan berupa traditional crackers.

Ada 2 yang menarik hati saya karena saya pikir tadinya saya tahu namanya, ternyata saya keliru. Crackers traditional itu adalah Enyek dan Rangining.

1/. Enyek/Kicimpring.

image

Awalnya saya pikir ini namanya Opak. Alias Keripik Singkong alias Keripik Sela Sawi kalau di kampung saya. Yang biasanya dimakan dengan tape atau gula merah cair.

Tapi setelah saya amati, ternyata ini bukan Opak. Saya diberitahu namanya Enyek atau sering juga disebut Kicimpring. Bahan bakunya sih sama juga yaitu Singkong alias Ketela Pohon. Bedanya kalau Opak itu permukaannya halus dan lebih padat, kalau Enyek ini permukaannya lebih kasar dan gembos. Lebih mirip kerupuk ketimbang keripik.

Rasanya? Karena bahan dasarnya Singkong, rasanya sih mirip kaya Opak juga ya. Enak. Singkongnya sangat terasa. Enyek – Cassava crackers.

2/. Rangining.

image

Ini ada satu lagi traditional crackers yang menarik. Namanya Rangining. Awalnya saya pikir itu Rangginang. Tapi salah. Rangining!.Bukan Rangginang. Saya tertawa mendengar namanya. Kedengeran di telinga saya seperti Rangginang KW 2.

Ya…mereka itu bersepupu. Kalau Rangginang terbuat dari ketan dan kita masih bisa melihat textur butiran ketannya dengan baik, sedangkan Rangining dari tepung beras. Karena terbuat dari tepung tentu tidak ada butiran beras/ketannya. Agar kelihatan seperti bertextur, tepung beras diolah sedemikian rupa lalu dicetak panjang seperti mie dan ditata bentuknya mirip Rangginang.  Jadi sepintas lalu tampangnya memang mirip Rangginang. Rangining – Rice crackers.

Dari Cipetir saya lalu melanjutkan perjalanan saya ke desa Cikidang. Masih di wilayah Kabupaten Sukabumi. Di tempat ini saya menemukan 2 jenis traditional crackers lagi, yaitu Rangginang dan Besot.

3/. Rangginang.

image

Saya pikir Rangginang alias Rengginang itu adalah makanan rakyat Indonesia Raya dari Sabang  sampai Merauke. Bukan semata ada di daerah Jawa Barat saja.  Saya menemukannya ada di mana-mana. Bahkan di negara negara tetanggapun Rangginang juga dianggap makanan traditional mereka. Kalau di Bali Rangginang disebut dengan nama Jaja Begina atau Jaja Gina. Waktu kecil malah saya sangka Rangginang itu hanya ada di desa-desa di Bali.

Rangginang seperti yang sudah saya ceritakan di atas terbuat dari ketan. Kalau di Bali saya hanya tahu umumnya Rangginang ada rasa yang asin dan manis, uniknya kalau di Sukabumi ada juga rasa gurih dan bahkan ada yang rasa terasi. Enak dan renyah. Rangginang – Glutinous Rice Crackers.

4/. Besot atau Ros.

image

Crackers ini sangat unik bentuknya. Cantik.  Karena berbentuk bunga mawar. Tidak heran, crackers yang secara traditional disebut dengan Besot ini juga disebut dengan nama lain Ros (asal katanya dari Rose =mawar).

Terbuat dari tepung beras. Oleh karenanya, rasanyapun juga seperti crackers beras pada umumnya. Besot -Rice Crackers.

Sukabumi: Mengenal Iket Sunda.

Standard

Iket SundaMasih bagian dari obrolan saya dengan Andri dan Fonna Meilana dari Lokatmala.

Ketika awalnya saya masuk ke rumah pasangan ini karena melihat tulisan “Komunitas Iket Sunda” di dekat pintu depan rumahnya. Seketika saya ingat akan Ikat kepala Sunda yang pernah dikenakan oleh beberapa orang teman saya, antara lain Miming Jumiarto dalam profile picture-nya di Facebook.  Dan juga sahabat blogger saya yang asal Sukabumi, Kang Titik Asa. Sayapun bertanya, komunitas apakah gerangan itu? Apakah benar ada kaitannya dengan ikat kepala traditional Sunda ? Dan apakah mereka juga yang mendirikannya?

Andri menjelaskan bahwa itu adalah komunitas non kemersial dari orang-orang yang cinta  dan ingin memperkenalkan kembali serta mengembangkan iket kepala traditional Sunda. Didirikan di Bandung dan Andri mengatakan bahwa ia bukan pendirinya namun saat ini merupakan bagian dari Komunitas Iket Sunda itu juga. Dan ia lebih fokus dengan Iket Sunda yang umum digunakan di Sukabumi saja. Setiap wilayah memiliki gaya ikatnya masing-masing, yang bisa saja berbeda satu sama lain. Ya..saya teringat saat bermain ke gunung Padang, saya juga melihat para guide di situ mengenakan iket dengan gaya yang berbeda dari yang pernah saya lihat di tempat lain. Saya sangat tertarik untuk mengenalnya.

Iket Sunda Sukabumi biasanya berupa kain persegi dengan empat sudut. Dimana motifnya biasanya memiliki motif tepi yang disebut pagar dan motif di tengah-tengah yang disebut dengan modang.  Secara umum, cara/gaya mengikat iket itu bisa dibedakan menjadi Iket Buhun dan Iket Kiwari. Iket Buhun adalah Iket dengan style yang sudah  digunakan sejak jaman dulu hingga kini. Warisan leluhur.  Sedangkan Iket kiwari adalah iket yang diciptakan dan banyak digunakan di masa sekarang ini.

Menurut Andri, di Sukabumi ada 5 jenis Iket Buhun  dasar yang biasa digunakan yakni; Parekos Jengkol, Parekos Gedang, Julang Ngapak, Parekos Nangka dan Barangbang Seumplak  Sisanya yang lain adalah hasil pengembangan dari 5 jenis Iket ini. Atau jika tidak, merupakan kreasi generasi belakangan.

1/. Parekos Jengkol.

Parekos JengkolParekos dalam Bahasa Sunda artinya adalah lipatan yang dilakukan sambil memutar. Parekos Jengkol = Lipatan Jengkol.

Parekos Jengkol dipakai dengan cara melipat Iket segi empat menjadi segi tiga terlebih dahulu, kemudian melipat kembali dasar segitiga sebanyak 2 lipat, lalu memasangkannya dengan cara melilit pada kepala.  Cara memasangnya adalah dengan memastikan bagian atas kepala tertutup kain, ujung salah satu kain ditarik ke depan dan diselipkan di bawah lilitan, sehingga terlihat muncul tepat di tengah-tengah dahi . Ikatan dilakukan di bagian belakang dengan ujung ikatan dibiarkan lepas menggelantung.

Gaya Iket Parekos Jengkol ini sering kita lihat dipakai  oleh beberapa tokoh Sunda,  misalnya tokoh Cepot dalam Wayang Sunda.

 

2/. Parekos Gedang.

Parekos Gedang.Gedang dalam Bahasa Sunda berarti Pepaya. Jadi Parekos Gedang = Lipatan Pepaya. Mungkin disebut demikian karena setelah jadi, ikatan ini bentuknya mirip pepaya.

Menurut saya, Parekos Gedang ini sangat mirip cara pemakaiannya dengan Parekos Jengkol. Mulai dengan melipat kain segi empat menjadi segi tiga lalu melilitkannya di kepala dengan cara yang sama dengan Parekos Jengkol. Hanya saja ujung ikat kepala tidak ditarik sebanyak di Parekos Jengkol. Ujung kain di dahi itu cukup ditiban di bawah lilitan kain, sehingga tidak ada ujung kain ikat yang muncul di tengah dahi.

Juga di bagian belakang, ikatannya dirapikan dan dimasukkan ke dalam lilitan belakang, sehingga tidak ada sisa ujung ikatan yang terlihat lepas.

3/. Julang Ngapak.

Julang Ngapak.Julang berasal dari kata Manuk Julang, nama dalam Bahasa Sunda untuk Burung Enggang.  Sedangkan Ngapak artinya membentangkan sayapnya lebar-lebar. Jadi Julang Ngapak = Burung Enggang yang merentangkan sayapnya. Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya bahwa burung Julang dikagumi  karena konon memiliki ethos kerja yang sangat baik.

Iket Julang Ngapak ini terlihat cukup unik, karena memiliki dua ujung yang diatrik ke samping mirip jambul burung hantu.

Iket Julang Ngapak ini sebenarnya agak mirip dengan Parekos Jengkol, tetapi pada bagian kain yang menutup kepala bagian atas, ditarik ke samping kiri dan kanan, hingga menyerupai sayap burung Julang.

4/. Parekos Nangka.

Parekos NangkaDari namanya, Iket ini mudah dimengerti maksudnya. parekos = lipatan. Sedangkan nangka artinya sama dengan nangka dalam bahasa Indonesia.

Parekos Nangka memiliki tampilan unik, karena penutup kepala bagian atas yang pada Parekos Jengkol dan parekos Gedang berada di bawah lilitan kain di bagian dahi, namun pada Parekos nangka ini, ujung kain tidak ditiban. Alih alih ditiban, ujung kain di bagian depan malah dilepas dan dibiarkan mengantung ke di depan dahi.

 

5/ Barangbang Seumplak.

Barangbang Semplak.Barangbang adalah kata dalam Bahasa Sunda untuk Pelepah Daun Aren atau juga pelepah kelapa. Kita tahu bahwa di daerah pasundan sangat banyak tumbuh pohon aren.  Sedangkan Seumplak artinya adalah nyaris jatuh (tapi masih menempel di batangnya), misalnya akibat sudah layu  atau patah tertiup angin. Jadi Barangbang Seumplak artinya Pelepah Daun Aren yang nyaris jatuh/patah.

Iket Barangbang Seumplak ini tidak menutupi kepala bagian atas.  Sehingga kalau udara sedang panas lembab, kelihatannya tidak membuat kepala berkeringat. Iket dilakukan dengan cara melipat kain segi empat menjadi segitiga, lalu dililitkan di kepala dengan meletakkan bagian ujung segitiga kain di bagian belakang. Ikatan dilakukan pada bagian belakang.

Di luar 5 Iket dasar Buhun ini, masih banyak lagi jenis Iket yang lain yang diciptakan belakangan. Andri sendiri juga sempat menciptakan beberapa jenis Iket masa kini. Rupanya setiap wilayah memiliki gaya mengikat yang tidak selalu persis sama. Sehingga jika dihitung di seluruh tanah Pasundan, banyak sekali jenis Iket yang ada.  Sayang sekali jika Iket ini sampai hilang karena tidak banyak lagi orang menggunakannya dalam aktifitasnya sehari-hari.

Saya salut kepada orang-orang di Komunitas Iket Sunda yang dengan sabar dan tekun terus menerus berusaha mengenalkan kembali Iket Sunda, tata cara berbusana ala Sunda sesuai dengan warisan leluhur.

 

 

Batik Sukabumi, Motif, Filosofi Dan Pewarna Alam.

Standard

Batik SukabumiKetika mendengar nama Batik Sukabumi disebut, tentu penasaran dong. Apa itu Batik Sukabumi? Apa bedanya dengan batik-batik yang lain, misalnya batik Cirebon, atau batik Pekalongan atau batik Jogja dan sebagainya? Apakah ada motif tertentu atau pakem-pakem tertentu  yang menjadi ciri khasnya? Pertanyaan itu mendapat respon yang baik ketika saya berkesempatan ngobrol dengan pasangan pencinta budaya Sunda,  Fonna Melania dan Andri dari komunitas Lokatmala  -yang kebetulan juga pengrajin batik.

Menurutnya, yang dimaksudkan dengan Batik Sukabumi bisa dikategorikan menjadi dua kelompok, yakni:1/. Batik yang menggunakan motif-motif khas Sukabumi, diciptakan dan dikerjakan  di Sukabumi. 2/. Batik yang dibuat dengan motif-motif khas Sukabumi tapi dikerjakan di luar daerah Sukabumi, misalnya Cirebon, Pekalongan dll.

Lalu apa motif khas batik Sukabumi yang membuatnya berbeda dengan batik daerah lain? Dari sana saya mendapat penjelasan bahwa motif batik yang diakui secara resmi sebagai motif khas Sukabumi sebenarnya ada 4 yaitu Pala, Paku Jajar, Pisang Kole dan Bunga Lily.  Mengapa motif-motif itu dianggap motif khas? Alasannya sangat simple, karena tanaman-tanaman itu sangat melimpah keberadaannya di Sukabumi.  Apakah alasan itu cukup unik untuk membuat sebuah batik bisa diklaim sebagai Batik khas Sukabumi? Bukannya tanaman itu juga ada banyak di tempat lain di Indonesia? Jika orang di daerah lain juga membatik dengan menggunakan motif itu, tentu ke-khasan Batik Sukabumi akan berkurang. Karena tidak unik lagi.

MembatikJauh sebelum pertanyaan ini muncul di benak saya, rupanya Fonna sudah memikirkannya. Dibutuhkan alasan yang jauh lebih mendasar jika ingin menggunakan element sebagai motif khas. Untuk itulah ia berusaha menggali hal-hal yang lebih mendasar dan spesifik kaitannya dengan budaya lokal Sukabumi ataupun hal-hal yang berkaitan dengan sejarah Sukabumi, untuk diangkat ke dalam design batiknya guna meningkatkan ke”genuin’an dan kekhasannya.

Salah satunya ia bercerita tentang keberadaan dua buah Kendi di depan Masjid Agung yang menjadi salah satu landmark kota Sukabumi. Kendi itu memiliki kaitan sejarah dengan peristiwa heroik Bojong Kokosan. Sat itu sebelum para pejuang berangkat ke medan perang guna mempertahankan wilayahnya dari serbuan Belanda, mereka dimandikan terlebih dahulu dengan air dari 2 kendi itu yang sebelumnya sudah didoakan oleh ulama. Dan diciprat dengan menggunakan bunga wijaya kusuma. Sehingga ia terpikir untuk mengangkat element Kendi, Bunga Wijaya Kusuma dan Air dalam design batiknya. Karena element-element ini lebih spesifik dan  bisa dikaitkan dengan sejarah Sukabumi.

Kendi, bisa dikaitkan dengan kendi di depan Masjid Agung dan kisah Bojong. Demikian juga dengan Bunga Wijaya Kusuma. Selain itu Bunga Wijaya Kusuma juga menjadi symbol bagi sesuatu yang mekar,wangi dan cemerlang menerangi kegelapan. Dan Air, sangatlah erat dengan Sukabumi dan sejarahnya.  Secara umum Sukabumi memang memiliki sangat banyak air, sawah dan sungai sungai yang jernih. Kita tahu bahkan Balai Besar Pengembangan Budidaya Ikan Air Tawar berada di kota ini. Bahkan kalau diperhatikan ada jalan di Sukabumi yang bernama Ciwangi alias Air Harum  (Ci=Air, Wangi = harum). Mereka yakin akan keberadaan mata air wangi ini di sekitar hulu jalan Ciwangi sekarang. Itulah sebabnya mengapa ada gang yang diberi nama Gang Tirtha.

Manuk JulangHal lain yang ia sempat gali lagi adalah cerita-cerita rakyat dan legenda lama yang menyebar di kalangan masyarakat Sukabumi. Contohnya adalah Manuk Julang. Manuk Julang adalah kata dalam bahasa Sunda untuk Burung Enggang. Manuk Julang ini diyakini sebagi burung yang memiliki ethos kerja yang sangat tinggi. Konon burung ini akan berusaha terus mencari makanan/air dan tidak akan berhenti sampai ia dapat. Ia bahkan bersedia mati terbang dalam usahanya mencari sesuatu, ketimbang harus istirahat saat ia belum menemukan apa yang ia cari. Symbol Julang Ngapak (burung Julang yang sedang merentangkan sayapnya) misalnya bisa kita temukan digunakan dalam salah satu Iket Sunda ataupun diterapkan pada atap rumah Sunda traditional jaman dulu.

Nah, Manuk Julang inipun ia masukkan ke dalam element designnya. Sama halnya dengan design kucing Candramawat yang ia ambil dari cerita Nini Anteh dan   Ikan Leungli dari cerita Puteri Rangrang. Wah..kaya dan kreatif sekali idenya ya? Saya pikir apa yang ia lakukan sangat masuk akal. Mengaitkan sejarah, cerita rakyat dan filosofinya ke dalam element design untuk meng’enhance’ kekhasannya dan keterhubungannya dengan Sukabumi.

pala DesignLalu apa yang ia lakukan dengan motif-motif yang sudah dipatentkan sebagai motif khas Sukabumi? Ia tidak kehabisan akal. Melihat bagaimana buah pala utuh bulat lengkap dengan daunnya tidak selalu compatible dengan setiap design,maka ia membery style pada buah pala itu. “Bagaimana coba jika ujug-ujug ada buah pala pada design yang bercerita tentang air dan ikan? Buah pala lengkap pula dengan daunnya? Nggak nyambung kan?” katanya. Oleh karena itu ia membuat versi stylirasi yang lebih masuk akal dan lebih nyambung. Ketimbang buah pala utuh, ia mengambil biji dan selaput bijinya (fuli) yang memang terlihat jauh lebih cantik dan lebih nyambung kemana-mana. Bahkan kalau diletakkan berdekatan dengan motif airpun sekarang terasa tetap nyambung saja.

Pewarna alam.

Pewarna alamBudaya membatik sudah sangat tua di daerah Priangan. Bedanya, jika di Jawa menggunakan wax alias lilin untuk membantu proses penghambatan warna, di Sunda digunakan ketan.  Sedangkan pewarna jaman dulu tentunya diambil dari alam sekitarnya. Fonna berusaha melakukan proses membatik sedekat mungkin dengan apa yang dilakukan nenek moyang jaman dulu. Untuk beberapa batik tulisnya, Fonna juga menggunakan bahan-bahan pewarna alam yang dibuat dari daun pala, daun melinjo, daun alpukat, jengkol dan sebagainya. ternyata banyak juga ya bahan pewarna alam ini. Dan hasilnya ternyata sangat cantik.Warnanya kelihatan kalm dan teduh. Dan tentunya pewarna alam ini jauh lebih aman dan sebenarnya lebih mudah dicari dari lingkungan di sekitar kita. Back to Nature!.

Ia sangat menyukai batik dan menikmati pekerjaannya. Menurutnya nilai batik itu ada pada prosesnya. “Membatik adalah sebuah proses. Kalau kita tidak bisa menghargai prosesnya, ya gunakan saja kain printing” .

Lokatmala, Komunitas Budaya Dan Batik Sukabumi.

Standard

Fonna Melania & AndriHari itu saya sungguh mujur. Gara-gara mampir ke sebuah rumah tetangga yang sedang panen buah pala di halamannya, mata saya tertarik pada sebuah spanduk kecil bertuliskan “Komunitas Iket Sunda”. Sejenak saya berpikir tentang ikat kepala yang dipakai secara traditional di wilayah priangan. Selain itu saya juga membaca kata “Lokatmala” di depan rumah ini tadi. Aha! Naluri saya mengatakan ada banyak hal yang akan menarik perhatian saya di rumah itu.

Sang tuan rumah yang baru saya kenal saat itu juga mempersilakan saya masuk dengan sangat ramah. Sayapun masuk dan clangak clinguk melihat baju-baju batik di pajang di ruang depannya. Lalu ada seperangkat gamelan Sunda dan kain -kain batik yang baru jadi ataupun setengah jadi. Mencoba menebak tempat apakah gerangan ini? Mirip studio. Saya diajak ke ruang tengah. Rupanya ada orang yang sedang membatik. Terus terang saya baru tahu kalau di Sukabumi ada orang yang membuat  batik. Saya pikir orang membatik hanya di Pekalongan dan Cirebon.

Candramawat, Kucing Keren Milik Nini Anteh.

CandramawatDi ruang tengah itu dibentang sebuah batik tulis yang sangat menarik sekali. Berwarna hitam dengan motif berwarna krem dan kekuningan. Terlihat sangat elegant.”Motif apa ini?” tanya saya. Sang Tuan dan Nyonya rumah yang memperkenalkan namanya sebagai Andri dan Fonna Melania bercerita kepada saya bahwa batik itu mengangkat cerita tentang Candramawat, kucing kesayangan Nini Anteh.

Bagi yang belum tahu cerita rakyat Sunda yang popular di Sukabumi ini, bisa saya ringkas sedikit, bahwa Nyi Anteh adalah seorang dayang-dayang kerajaan yang memiliki kecantikan luarbiasa. Ia mengabdi kepada puteri raja yang sangat disayangi dan dihormatinya. Namun karena kecantikannya itu, Sang Pangeran lebih tertarik dan jatuh cinta kepada Nyi Anteh ketimbang kepada Sang Puteri. Untuk menghindari masalah dan agar tidak menyakiti hati Sang Puteri, akhirnya Nyi Anteh berdoa agar bisa ke bulan. Doanya didengar, akhirnya Nyi Anteh tinggal di bulan bersama kucing kesayangannya yang bernama Candramawat. Menurut dongeng ini, itulah sebabnya mengapa di saat-saat tertentu jika kita melihat bulan, kita bisa melihat bayangan Nini Anteh dan kucingnya di permukaan bulan.  Hmm..cerita yang sangat menarik.

Sang senimanpun menciptakan motif kucing Candramawat ini dari cerita rakyat itu.

Leungli, Sahabat Si Puteri Rangrang.

LeungliSaya melihat-lihat lagi karya batik yang lain. Ada batik tulis dengan motif ikan yang sangat indah dan menarik. Saya lalu bertanya apakah ini ada ceritanya juga? Ya. Fonna mengangguk dan menjelaskan bahwa batik itupun diangkat dari cerita rakyat, yakni tentang seekor ikan yang bernama Leungli. Juga cerita rakyat Sunda yang sangat populer di Sukabumi. Tentu saja saya tertarik untuk mendengar.

Ringkas ceritanya begini; pada jaman dulu ada 7 orang bersaudara. Yang bungsu bernama Puteri Rangrang. Puteri bungsu ini sangat diirikan dan dimusuhi oleh kakak-kakaknya. Satu-satunya sahabatnya adalah seekor ikan mas bernama Leungli. Ikan ini diselamatkan olehnya dan dipeliharanya sejak kecil hingga besar. Sedemikian indahnya persahabatan antara Leungli dengan Puteri Rangrang, bahkan jika ingin memanggilnya, Puteri Rangrang selalu melantunkan lagu khusus.

Suatu hari ketika Puteri Rangrang sedang pergi, kakak-kakaknya yang jahat mengambil ikan itu dan sengaja memasaknya untuk menyakiti hati Puteri Rangrang. Merekapun berpestapora dan membuang tulang-tulang ikan itu. Puteri Rangrang mencari-cari Leungli dan tak berhasil menemukannya. Lalu sadar kalau Leungli sudah dimakan oleh kakak-kakaknya. Akhirnya dengan sangat sedih ia mengumpulkan tulang-tulang ikan itu dan menguburnya baik-baik. Dari kuburan ikan itu, tumbuhlah sebatang pohon yang berbuah emas permata dan berlian. Hal ini terdengar oleh Pangeran kerajaan yang kemudian menemui Puteri Rangrang. Akhirnya mereka menikah dan hidup bahagia selamanya.

Leungli  dan air adalah dua element yang terexpressi di batik itu. Sungguh indah. Saya terpesona oleh kepiawaian Fonna dan Andri dalam mengangkat elemen-elemen sastra Sunda ke dalam design batiknya.

Melihat-lihat motif batik itu, dan mendengarkan apa yang dituturkan oleh pasangan seniman itu, barulah saya sadar. Bahwa pasangan ini bukan hanya sekedar menambah penghasilan dengan menciptakan kreasi batik, namun jauh di atas itu mereka adalah seniman-seniman yang bangga akan budaya daerahnya sendiri dan bekerja keras berupaya mengangkat dan menghidupkan kembali budayanya yang makin lama makin hilang tergerus perkembangan jaman.

GamelanBersama-sama teman seniman yang lain mereka mendirikan komunitas “Lokatmala” yang memiliki arti bunga Edelweiss, bunga abadi dari  Gunung Gede-Pangrango. Selain itu Lokatmala bisa juga diartikan sebagai tasbih penyucian. Di komunitas ini mereka tidak hanya mengerjakan batik dengan motif khas Sukabumi, namun juga menghidupkan kembali budaya Sunda Sukabumi  jaman dulu melalui kesenian tari dan musik traditional. Mereka juga membuka pintu rumahnya lebar-lebar untuk seniman lain atau siapa saja yang ingin bersama-sama mengajar atau berlatih menari Sunda. Ooh..pantes saja saya melihat perangkat gamelan di sana.

Mereka membatik dengan tujuan untuk mengangkat budaya daerah dan juga sekaligus untuk membantu menghidupi kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam rangka menumbuhkan kembali rasa cinta kepada kebudayaan traditional yang menjadi warisan leluhur. Selain itu mereka juga tergabung dalam Komunitas Iket Sunda yang peduli dan berusaha melestarikan pemakaian iket kepala warisan leluhur itu.

Budaya dan Kesenian daerah adalah hal yang memiliki peranan penting dalam mempertahankan sebuah masyarakat bahkan negara” pendapat pasangan itu. Saya tercenung mendengarnya. Tapi kemudian saya paham maksudnya. Kecintaan dan rasa kepemilikan masyarakat akan budaya dan kesenian daerahnya sendiri, akan membantu meningkatkan rasa kebanggaan sebagai bangsa. Masyarakat yang paham, cinta dan menjalankan budaya dan kesenian daerahnya sendiri adalah masyarakat yang sangat teguh dan tidak mudah diombang-ambingkan ataupun digerus oleh gelombang kebudayaan bangsa lain dan perkembangan jaman.

Lihatlah Jepang atau Korea! bagaimana mereka bisa beradaptasi atau bahkan memimpin perkembangan namun tetap membawa kebudayaannya sendiri. tetap cinta akan keseniannya sendiri. Mereka tidak tergoyahkan”. Ia memberi contoh. Saya mengangguk setuju. “Jangan sampai saking sibuknya dengan budaya Korea, kita sendiri lupa dengan budaya Sunda. Boleh belajar dan mengenal budaya lain. Itu perlu. Tapi pada akhirnya kita harus kembali kepada budaya kita sendiri. Hal ini hanya mungkin terjadi jika kita kenal, paham dan cinta terhadap budaya kita sendiri terlebih dahulu. Ibaratnya rumah – jika kita tidak tahu di mana rumah kita, kemana kita akan pulang?”. 

Leluhur kita mewariskan sedemikian banyaknya kearifan-kearifan dan kebiasaan yang baik. Sebaiknya kita kenali, kita ambil dan teruskan segala yang baik-baik milik kita sendiri itu sebelum kita mengenali dan memahami kearifan bangsa lain.

Wah..luarbiasa. Saya sangat salut pada mereka berdua.

Berbincang dengan pasangan yang terlihat sangat kompak ini sungguh sangat menyenangkan. Saya sangat beruntung bisa berkenalan dengan mereka.  Dua orang seniman yang mengabdikan dirinya untuk mengangkat budaya Sunda khususnya Sukabumi.

 

Cekakak Jawa, Bertandang Ke Ladang Kacang.

Standard

Cekakak Jawa 8Orang bilang, mujur terkadang datang tanpa diundang. Nah, sungguh beruntung, mujur itu datang kembali pada saya. Ini masih di Sukabumi di rumah ibu mertua saya. Masih di belakang rumahnya. Masih dalam rangka saya  menunggu jemuran pakaian mengering.

Saya memandang lepas ke belakang. Berjarak sekitar 400 meter dari tempat saya berdiri, di sana ada sebidang lahan yang ditanami kacang. Tumbuhnya sangat subur. Daunnya rimbun, hijau royo-royo. Batangnya membelit tiang-tiang bambu yang dipancangkan. Sungguh damai hati ini memandangnya. Indonesia tanah airku yang memang benar-benar subur!.

Sedang berpikir-pikir tentang betapa suburnya tanah di sini, seekor burung berwarna biru  tampak datang  terbang dari kejauhan dan siuuuuuuut…ia menclok di salah satu tiang penyangga pohon kacang itu. Pas di sisi yang kelihatan dari arah saya berdiri. Walaupun jaraknya jauh. Tapi mata saya masih lumayan bisa menangkap gerak-geriknya. Darah saya benar-benar terasa tersirap. Sungguh tak pernah saya duga, ternyata saya masih bisa melihatnya di sini.

Itu burung Cekakak Jawa!. Sangat jelas kelihatan paruhnya yang besar berwarna merah menyala. Demikian juga dengan kakinya. Merah terang sangat jelas dari kejauhan. Lalu tubuhnya, dada dan perut serta punggungnya berwarna biru terang metalik. Sayapnya berwarna biru muda yang sangat cerah. Lehernya merah kecoklatan dan kepalanya berwarna coklat.

Benar-benar seperti mimpi. Saya mengucek-ucek mata saya. Sulit mempercayai apa yang saya lihat. Tapi saya memang masih melihatnya terbang dan hidup di alam bebas. Sebelumnya saya ingin sekali bertemu burung ini di alam bebas setelah barangkali 35 tahun saya tak pernah melihatnya sedang terbang mengejar mangsa. Terakhir kali saya melihatnya terbang bebas ketika saya masih kanak-kanak.  Berikutnya hanya melihatnya di Kebun Binatang atau di Taman Burung.

Burung itu tampak terdiam lama tidak melakukan apa-apa. Hanya sekali-sekali menengokkan kepalanya, lalu pandangannya lurus kembali ke depan. Diam mematung seolah sedang berpikir. Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Saya mengambil kamera dan memotretnya. Sayang karena jaraknya sangat jauh, foto yang saya dapatkan tidak sejelas foto Burung Raja Udang Meninting yang sudah sempat saya ceritakan sebelumnya.

Cekakak Jawa 3Burung Cekakak Jawa alias Javan Kingfisher (Halcyon cyanoventris), masih sekeluarga dengan jenis burung Raja Udang /Kingfisher yang lain. Hanya saja, burung Cekakak Jawa ini  lebih suka berburu serangga seperti belalang dan capung, sedangkan saudaranya Raja Udang lebih suka berburu ikan dan udang. sehingga para ilmuwan mengelompokkan Cekakak Jawa ini dalam group Halcyonidae (Tree Kingfishers), sementara Raja Udang Meninting ke dalam group Alcedinidae (River Kingfishers).

Burung ini termasuk berukuran sedang, sekitar 25cm- lebih besar dari burung Raja Udang Meninting. Jika terbang, kita bisa melihat ujung sayapnya yang putih bersih indah sekali.

Namun sayang sekali, burung berbulu indah  ini populasinya juga semakin menurun dari tahun ke tahun.

Anggrek Liar Di Batang Bunga Soka.

Standard

Anggrek liar 1Saya menemukan anggrek baru! Species baru! Setidaknya bagi saya. Karena sebelumnya saya tidak pernah melihat jenis anggrek ini dimanapun dalam hidup saya.

Itu terjadi pada suatu pagi, ketika saya memergoki anak saya yang kecil sedang mencoba mengait-ngait batang bunga Soka di halaman rumah ibu mertua saya di Sukabumi dengan sebilah bambu agar batangnya merunduk. “Pengen melihat sarang burung, Ma. Ada telornya nggak?” katanya ketika saya menegur mengapa ia melakukan itu. Tentu saja saya melarang ia melakukannya. “Jangan dikait-kait begitu. Nanti sarangnya jatuh. Kan  kasian anak-anak burung itu”  kata saya.

Di pohon bunga Soka itu memang ada dua buah sarang burung pipit. Setahu saya induk burung itu sudah mengeram di sarang itu sejak dua bulan yang lalu. Karena waktu itu saya sempat memotretnya di tengah hujan.  “Pengen lihat. Sebentar saja” bujuk anak saya. Saya lalu mendekati pohon Bunga Soka yang ada sarang burungnya  itu sambil berpikir, apakah jika saya letakkan kursi di bawah pohon itu anak saya akan bisa mengintip ke dalam sarang burung atau tidak.

Sedang menimbang-nimbang begitu, tiba-tiba pandangan saya terhenti di batang utama  bunga Soka itu. Sebatang anggrek tampak sedang berbunga. Cantik sekali. Warna mahkota bunganya putih seputih anggrek bulan dengan sapuan warna kuning tipis di pangkal mahkotanya. Tapi bentuknya panjang-panjang dan langsing berjumlah 5 buah.  Lidah dan putiknya berwarna merah tua bintik-bintik di atas putih.  Ukuran bunganya sangat mini.  Jika saya ukur,  paling banter  hanya sekitar 3 cm. Hampir seukuran anggrek merpati. Saya tidak tahu anggrek apa itu. Bunganya lumayan banyak juga.

Mencoba menebak-nebak sendiri. Kalau saya lihat pohon dan daunnya, kelihatan bahwa anggrek ini mestinya dari keluarga Phalaenopsis. Karena daunnya lebar dan tebal. Tumbuh dari pangkalnya. Persis seperti daun dan pohon anggrek bulan. Setidaknya sekeluarga dengan anggrek bulan. Tapi bunganya sangat jauh berbeda.

Saya lalu memperhatikan tangkai bunganya. Tidak sama dengan Anggrek Bulan. Bentuknya berbeda. Pendek dan kompak. Kadang malah terlihat seperti sisik binatang melata.  Setiap tangkai bunga hanya mengeluarkan sebuah bunga. rasanya saya pernah melihat anggrek dengan cara perbungaan seperti ini.Entah anggrek apa.Saya tak berhasil mengingatnya. Akhirnya saya coba-coba googling.  Sampai sekarang masih buntu!.

Kemungkinan saudaranya yang terdekat adalah Phalaenopsis cornu-cervi. Cuma semua jenis Phalaenopsis cornu-cervi yang saya lihat warnanya coklat, kuning atau belang (saya belum pernah melihat ada yang berwarna putih), dan bentuk mahkotanya juga relatif lebih lebar, bukan langsing dan panjang seperti ini.

Tentunya ini jenis baru. Saya tunjukkan ke ibu mertua saya barangkali beliau pernah melihat anggrek liar ini sebelumnya? Beliau hanya menggeleng dan mengatakan bahwa baru pertama kalinya melihat anggrek itu tumbuh di sana. Begitu juga suami saya dan kakak-kakak ipar saya. Tak ada yang tahu. Anak saya yang tadinya tertarik pada sarang burung,sekarang ikutan penasaran.

Bunga Anggrek  apa itu? New species?” tanyanya. Saya mengiyakan “Penemuan baru.  New Species” kata saya.  Lalu ia bertanya lagi., darimana asalnya mengapa ia ada di pohon bunga Soka di halaman rumah kita?. Saya menjawab “Barangkali di bawa burung. Bijinya ditengah hutan menempel di kaki burung. Lalu burung itu terbang dan menclok di pohon ini. Akhirnya jatuhlah biji anggrek itu dan menempel di batang pohon bunga Soka” kata saya mengira-ngira.  “Lah..kalau dibawa burung dari hutan ke sini, berarti bukan New Species dong!  Berarti anggrek ini sebenarnya sudah pernah ada sebelumnya di hutan” protes anak saya. ya ya..bener juga sih. Barangkali memang bukan new species dalam artian sebenarnya.  Mungkin hanya New Species to me! – saja. Karena saya belum pernah  tahu dan belum pernah melihat  sebelumnya.

Kalau saya memberi nama,  barangkali namanya akan menjadi Phalaenopsis cornu-cervi albus, karena warnanya putih.  Atau barangkali Phalaenopsis cornu-cervi stellata, karena bentuknya seperti bintang. Weleh! Ini sifat sok tahu saya mulai kambuh!.

Apakah diantara sahabat pembaca ada yang tahu apa nama anggrek liar ini? Mohon bantuannya untuk mengidentifikasi. Terimakasih sebelumnya.

 

Burung Raja Udang Meninting.

Standard

Raja Udang MenintingSaya pikir ini sebuah mujizat yang datang untuk saya! Ketika saya berdiri di bagian belakang rumah  untuk memeriksa jemuran pakaian, saya melihat sebuah benda biru bergerak melesat terbang dan hinggap di kawat tembok tetangga saya diSukabumi. Sayapun memasang kacamata saya baik-baik untuk melihat benda apakah gerangan itu.

Astaga! Seekor burung Raja Udang yang sangat elok rupanya. Warna kepalanya biru terang metalik, bergaris-garis. Demikian juga dengan sayap dan ekornya.  Di sayapnya yang  berwarna biru terang ada binting-bintik biru yang lebih muda. Punggungnya berwarna biru muda. Pipi, kerongkongan, dada dan perutnya berwarna jingga kemerahan. Ada sedikit sapuan warna putih di belakang lehernya.   Paruhnya berwarna merah jingga. Kakinya yang pendek juga berwarna merah. Sementara matanya hitam. Yang lucu adalah bentuk kepalanya menonjol ke  belakang  mirip jambul burung pelatuk.

Raja Udang Meninting atau disebut juga dengan Blue Eared Kingfisher (Alcedo meninting), adalah burung pemakan ikan berukuran kecil, sekitar 15-16 cm yang merupakan anggota dari keluarga Alcedinidae, yakni burung Raja Udang Sungai. Sangat suka tinggal di daerah persawahan atau dekat sungai guna berburu ikan. Terbangnya sangat cepat.Demikian juga jika sedang menyambar ikan atau udang dari sungai.

Bagimana burung ini bisaberada sangat dekat dengan tempat saya berdiri? Di belakang rumah, terdapat sawah dan sebuah kolam ikan yang airnya sudah sangat susut karena lahan itu mau dikeringkan untuk perumahan. Jadi rupanya burung ini datang untuk mencari makan di sana.

Saya merasa terpesona, karena bisa melihat burung ini ternyata masih ada. Dulu waktu kecil, beberapa kali saya pernah melihatnya terbang di sawah dekat rumah saya di Bali.  Belakangan ini sudah sangat jarang melihatnya.  Saya pikir, tentu burung ini sekarang statusnya sudah termasuk  burung yang jarang untuk bisa dijumpai.

Kalau tidak salah saya melihat dalam buku Birds of Indonesia yang ditulis oleh Morten Strange, bahwa burung ini memiliki 20% kemungkinan akan punah dalam kurun waktu 20 tahun kedepan, jika kita tidak melakukan tindakan penyelamatan apa-apa.  Saya merasa sangat beruntung bisa melihatnya kali ini dan menuliskannya di sini. Senang bisa memberikan konfirmasi, bahwa saya telah melihatnya masih ada berkeliaranan di wilayah Sukabumi.

Situ Gunung: Lutung Dan Binatang Lainnya.

Standard

Menikmati hutan, tidak akan lengkap jika tidak melihat binatang yang hidup di dalamnya.  Seperti saya ceritakan sebelumnya, tujuan awal saya sebenarnya datang ke Situ Gunung yang berada di kawasan taman Nasional Gunung Gede Pangrango ini adalah untuk mengamati burung.  Namun karena burung-burung itu sulit dilihat, yang berhasil saya temukan hanya suaranya yang riuh. Perhatian sayapun jadi beralih kepada mahluk-mahluk lainnya.

Lutung (Trachypithecus auratus).

LutungPertama kali tahu mengenai keberadaan Lutung di hutan ini dari ibu tukang warung yang berada di pelataran parkir II. Ibu itu mengabarkan kepada saya bahwa sulit untuk menemui burung di sana, karena pepohonan sangat tinggi. “Tapi lutung biasanya suka turun” katanya.  Saya merasa sangat tertarik untuk melihat.  Namun si ibu tidak bisa memastikan jam berapa kedatangannya. “Biasanya sih sebentar lagi, sekitar jam delapan”  jelas si Ibu.

Kamipun turun ke danau.Benar saja, ketika sibuk mencari-cari sumber suara burung di pepohonan, suami saya memberi tahu ada sesuatu yang bergerak di kejauhan sana. Saya pun membidikkan kamera saya ke arah pohon yang ditunjuk. Ada sebuah benda berwarna hitam bergerak-gerak di pohon palm. SeekorLutung!  Bergelayutan dari satu daun ke daun yang lainnya. Di pohon yang jaraknya sekitar  100 meter dari kami. Lalu saya perhatikan ada seekor bayi lutung yang menempel di dahan pohon palem. Lalu ada lagi seekor lutung yang lain.  Wow! Bukan seekor. Tapi sekelompok Lutung!. Barangkali sekitar 15 ekor, agak sulit menghitungnya karena ia bergelayutan dan melompat ke sana ke mari.  Rupanya Lutung-Lutung ini suka hidup berkelompok.

Lutung 1Lutung (Trachypithecus auratus)  sering juga disebut dengan monyet hitam, karena mamalia ini memang berwarna hitam. Kalau kita perhatikan, sebenarnya wajahnya sedikit agak kelabu. rambut di sekitar wajahnya dan di kepalanya berdiri mirip rambut manusia. Selain warnanya yang hitam, Lutung juga mudah dikenali dari ekornya yang panjang, yang melebihi panjang tubuhnya sendiri.  Badan dan lengannya langsing, barangkali karena hobinya bergelayutan dari pohon ke pohon.  Tukang perahu mengatakan bahwa Lutung ini sangat jarang turun ke tanah. Hidupnya praktis hanya di pohon-pohon yang tinggi saja.

Makanan utamanya adalah dedaunan, buah-buahan serta bunga-bungaan. Saya memperhatikan bagaimana mereka memetik pucuk-pucuk daun damar, memegangnya dengan tangannya dan memakannya. Sangat mirip dengan cara manusia memegang makanan. beberapa lembar daun berjatuhan ke tanah. Saya berpikir daun-daun damar ini sebenarnya agak keras. Namun Lutung memiliki lambung khusus  serta gigi pengunyah yang baik, untuk membantunya mengunyah selulosa dari dedaunan.

Tingkah lakunya mirip manusia. Seperti yang tadi saya ceritakan di atas, Lutung  senang hidup berkelompok dan membentuk masyarakat. Satu kelompok terdiri atas sekitar 10-20 ekor.  Lutung-lutung ini bergelayutan, berpindah dari satu dahan ke dahan yang lain. Kadang duduk bersama dan berdekatan di cabang yang sama sambil memandang ke arah saya. Barangkali sedang mengobrol tentang manusia. . ha ha.

Induk Lutung sangat perhatian pada anaknya. Kelihatan ia menggendong anaknya dengan erat sambil duduk di cabang pohon.  Namun tidak jarang juga induk lain ikut menggendongnya bergantian, sehingga saya tidak jelas yang mana sebenarnya induk aslinya.

Bajing Kelapa (Callosciurus notatus)

Tupai KekesBinatang lain yang cukup mudah di temui adalah Bajing Kelapa.  Saya menemukan beberapa ekor bajing ini sedang bermain-main di ranting pohon yang rendah.  Berlarian ke sana dan kemari dengan lucunya. Tingkah lakunya mirip di film-film kanak-kanak.

Saya tidak ada melihat pohon kelapa di sekitar situ. Namun rupanya sang bajing tidak mau berputus asa. Ibarat kata, tak ada rotan akarpun berguna, maka iapun sibuk meloncat dan menggerogoti buah palma yang merah ranum. Tidak ada kelapa, palma pun jadi.

Bajing Kelapa (Callosciurus notatus), walaupun namanya bajing kelapa dan makanan utamanya buah kelapa, namun sebenarnya binatang ini juga menyukai buah-buah lainnya, pucuk pohon bahkan serangga yang melintas di dekatnya.

Bajing kelapa bisa dikenali dari bulunya  yang  berwarna coklat hijau zaitun dengan campuran warna hitam.  Kepalanya agak gemuk membulat dan moncongnya agak pendek.

Tawon (Vespa sp)

tawonBinatang lain yang menarik perhatian anak saya adalah Tawon (Vespa sp). Saat melintasi sebatang pohon, anak saya yang kecil menunjuk  “Lihat, Ma! Itu ada sarang lebah” katanya.  Sayapun mendekat. Ikut mendongak ke arah ujung telunjuknya menunjuk.

Sebuah sarang tawon kertas tampak menggantung di batang pohon. Belum seberapa besar. Beberapa ekor tawon dewas tampak sedang  hinggap di sana “Ooh, itu bukan lebah. Itu namanya tawon!” kata saya.

Saya lalu memberi isyarat agar anak saya berhati-hati, sambil menjelaskan perbedaan antara lebah dengan tawon. Sama-sama menyukai madu, tapi tawon bukanlah lebah, kata saya memulai. Pinggangnya ramping dan tidak berbulu seperti lebah. Kalau menyengat malah lebih sakit daripada lebah.

Jumlah koloninya lebih sedikit dan ia tidak mengumpulkan madu di sarangnya. Rumahnya terbuat dari kertas hasil kunyahannya sendiri.