Tag Archives: Sungai

Menyetrum Ikan.

Standard

Menyetrum Ikan 2Seorang laki-laki berjalan di bantaran kali belakang rumah sambil menyandang  dua buah alat panjang mirip pancing. Saya melihatnya dari jarak agak jauh. Berbaju biru dan bercelana hitam, lengkap dengan sepatu boot berwarna hijau. Ia mengenakan topi berwarna jingga. Lelaki itu terus berjalan menyusuri kali sambil sesekali melihat ke kiri ke kanan dengan pandangan awas. Saya agak menaruh curiga.  Apa yang dicari oleh lelaki itu? Mengapa ia lewat di bantaran kali itu?

Saya tahu sih, bantaran kali ini adalah tanah negara. Siapapun warga negara berhak untuk lewat di situ. Namun jika bukan warga yang tinggal sekitar situ atau jika tidak ada tujuannya,  tentu orang malas lewat di sana. Apa yang akan dilakukannya? Terus terang  kecurigaan saya itu bukan tanpa alasan.

Saya tahu ada beberapa orang penduduk asli yang suka memanfaatkan bantaran kali untuk  mengatasi kesulitan hidupnya, misalnya dengan menanam sedikit sayuran spt kangkung, bayam, singkong,  atau menyabit rerumputan untuk makanan kambing, mengambil kayu mati untuk kayu bakar, dsb.

Namun ada juga yang berusaha mengambil  sesuatu dengan merusak keseimbangan alam. Saya pernah menemukan ada lelaki tak dikenal yang agak mencurigakan. Ketika saya tanyakan maksudnya,  ternyata ia sedang berusaha memasang jaring dan  menangkap burung-burung liar yang ada di situ. Akhirnya saya tegur dan lelaki itupun pergi, tapi saya tidak tahu apakah hari berikutnya ia datang lagi atau tidak.  Saya juga pernah mendengar ada orang yang berusaha menangkap biawak yang hidup di kali itu untuk dijadikan…sate!. Menyedihkan, bukan? Masalahnya adalah… biawak itu jumlahnya semakin sedikit dari waktu ke waktu. Apakah sedemikian pentingnya ya untuk memakan sate daging biawak sehingga tega memburunya?

Menyetrum Ikan 1

Karena hal-hal di atas itulah, maka saya menjadi seorang pencuriga jika ada orang tak dikenal terpergok oleh saya berada di sana. Lalu saya melihat punggungnya. Astaga!.  Ia membawa kotak mirip ransel. Di dalamnya ada benda persegi  mirip accu atau sumber listrik dan ada kawat-kawatnya.Waduuuh! Apa yang akan dilakukannya?. Karena penasaran saya mendekat dan menyapa lelaki itu.

Menyetrum Ikan 3

Wah…alat apa itu, Mas?” tanya saya menunjuk benda di punggungnya. Semoga ia tidak menjawab bahwa benda itu adalah bom. Lelaki itu menghentikan langkahnya dan melihat ke arah saya. Dan ke kamera yang saya bawa.  Pandangannya agak gugup  -mungkin wajah saya kelihatan lebih galak dari apa yang saya maksudkan. Atau jangan-jangan ia menyangka saya seorang wartawan yang akan meliput kegiatannya? Entahlah.

Lelaki itupun menjelaskan bahwa itu adalah alat untuk menangkap ikan dengan setrum. Sayapun mulai menginterview, mengapa dan bagaimana caranya ia akan menggunakan alat itu, ikan apa yang didapat dan apakah tidak akan membunuh semua ikan di sungai itu *.. anyway, saya tahu kebanyakan isinya hanya ikan sapu-sapu. Tapi ikan sapu-sapu kan tetap mahluk hidup juga*, dan apakah itu tidak membahayakan dirinya ya? Kesalahan kecil jika bermain dengan listrik bertegangan tinggi di air tentu bisa berakibat fatal bukan?

Menyetrum IkanAkhirnya ia menjelaskan kepada saya, bahwa ia akan terjun ke sungai dengan alat itu karena menurutnya arus listrik yang digunakannya tidak terlalu tinggi dan aman untuk dirinya. Alat panjang berbentuk pancing itu nantinya berguna untuk menyetrum ikan yang menurutnya hanya pingsan saja, sehingga mudah diambil. Dan menurutnya tidak semua ikan akan tersetrum, hanya yang di daerah sasaran saja.

Saya tidak bisa memahami penjelasannya dengan baik. Menurut saya jika ada arus listrik di air, bukannya akan dirasakan oleh mahluk hidup di sekitarnya juga ya? Bukankah air adalah pengantar listrik yang sangat baik?  Terus jika ikan dewasa yang bisa disetrum, bagaimana dengan ikan-ikan kecilnya? Tentu akan mengalami dampak setrum yang lebih buruk lagi bukan? Pada mati dong? bagaimana dengan masa depan ikan -ikan itu? Menurut saya kegiatan menyetrum ikan ini bisa jadi sangat mengganggu ekosistem dan keberlangsungan para ikan di sungai kecil ini.  Ia mengatakan hanya menyetrum dan mengambil ikan besarnya saja.  itupun hanya pingsan sebentar saja, lalu sadar kembali.

Akhirnya lelaki itu menunjukkan ke saya ikan-ikan yang telah berhasil ditangkapnya dan dimasukkan ke dalam dungki (tempat penyimpanan ikan).  Saya melongokkan kepala saya ke dalam. Isinya tidak banyak,  kebanyakan ikan gabus. Memang kelihatannya ia tidak menangkap ikan sembarangan sih, hanya yang dewasa saja. Padahal  menurutnya ia sudah bekerja sejak jam enam pagi menyusuri sungai dari arah Sektor IX Bintaro Jaya.  Kalau melihat ikan dan jumlahnya, kelihatannya sih ia tidak melakukan sesuatu yang aneh ya. Sayang saya tidak bisa memotret ikan-ikan itu dalam jarak seperti itu, karena lensa yang saya bawa saat itu kebetulan lensa tele.

Menyetrum Ikan 4Saya tidak punya pemahamam  tentang peraturan pemerintah tentang penangkapan ikan dengan cara setrum ini.  Terus terang saya ingin tahu, apakah ada peraturannya, penjelasan serta pasal-pasalnya. Dan hari ini ketika saya coba Googling, ternyata malah ada beberapa berita kecelakaan gara-gara menyetrum ikan  yang saya baca, yang  menyebabkan tewasnya tukang setrum itu sendiri.  Kasusnya bukan satu,malah ada beberapa. Saya jadi semakin prihatin.

Kalau begini sih, sudah jelas. Mau ada peraturan atau tidak, sebaiknya memang jangan menggunakan alat setrum untuk menangkap ikan.

Menemani Anak Bermain Di Sungai.

Standard

Bermain di Sungai _ Liburan!  Yiiiiiihaaaah!!!!. Mau ngapain ya, biar seru?   Kali ini saya mengajak anak-anak dan keponakan saya mengisinya dengan bermain-main di sungai. Tentu saja yang airnya masih bersih dan jernih.   Kebetulan saya sedang berada di kota Sukabumi.  Saya ingat ada sebuah tempat bersungai yang menarik untuk dikunjungi.  Letaknya tidak jauh dari tempat saya tinggal di Sukabumi. Namanya Pondok Halimun.   Halimun, seperti kita tahu artinya adalah Kabut.  Jadi Pondok Halimun maksudnya adalah Rumah Kabut. Dinamakan demikian,karena tempat itu letaknya di kaki Gunung Gede – Gunung Pangrango yang seringkali diselimuti kabut.  Terutama pada sore hari yang dingin menggigil.

Untuk mencapai Pondok Halimun, dari tempat tinggal saya di kota Sukabumi kita perlu  melewati Jalan  Bhayangkara, lalu berbelok masuk ke  Jalan Sela Bintana. Menjelang tempat wisata Sela Bintana, kita berbelok ke kiri, masuk ke daerah perkebunan. Lurus terus sampai  sampai ke Perkebunan Teh Goal Para (PT Perkebunan Nusantara VIII).  Di sana ada pos penjagaan  – kita berbelok ke kanan lalu ke kiri melintas di depan Rumah Kabayan (apakah ada yang masih ingat serial TV  Si Kabayan pada jaman dahulu? – rumah ini adalah tempat shooting Si Kabayan ), kita  terus mengikuti jalan dan tibalah di Pondok Halimun.

Sesungguhnya 2.5 km (kira-kira 1-1.5 jam berjalan kaki menanjak)  dari sana terdapat Air Terjun Cibeureum yang menjadi tujuan wisata banyak orang. Tapi saya dan anak-anak hanya bermaksud bermain di sungai saja.  Sungai yang dangkal berbatu-batu, dengan air jernih pegunungan  yang bebas polusi.  Saya pikir, di daerah-daerah lain tentunya juga banyak yang memiliki berbagai sungai jernih seperti ini.  Nah, mengapa ke sungai? Mengajak anak bermain ke sungai pegunungan menurut saya memberi banyak sisi pembelajaran non formal dan tak langsung yang bisa dipahami anak dengan cepat tanpa harus  merasa terbebani dengan kata ‘belajar’.  Karena ia bisa mendapatkannya sambil bermain-main.

1. Belajar bentang alam. Ketika pada mata pelajaran  science di sekolah anak-anak diajarkan oleh gurunya mengenai berbagai jenis bentang alam dengan melihat pada gambar-gambar yang ada. Di alam, anak anak secara mudah akan bisa memahami bentang alam sungai – mana yang disebut dengan sungai, jurang ataupun lembah sungai. Di sini anak-anak  juga sekaligus  bisa memahami dengan cepat mengenai bentang alam pegunungan- mana yang disebut dengan gunung, bukit ataupun lembah.

2.  Memahami perbedaan suhu udara akibat perbedaan ketinggian dari permukaan laut.  Menurut informasi, Pondok Halimun memiliki ketinggian sekitar  1050 meter di atas permukaan laut – memiliki suhu yang berkisar antara 16 – 20 derajat Celcius. Sangat berbeda dengan Jakarta yang berada rata-rata 7 meter di atas permukaan laut dengan suhu udara berkisar antara 27-29 derajat C.  Anak-anak tentu dengan cepat bisa menghubungkannya saat merasakan udara dingin menyergap kulitnya.

3. Memahami biodiversity sungai dan lingkungannya. Sambil mencelupkan kaki di air sungai yang dingin anak-anak bisa diajak untuk melihat-lihat binatang apa saja yang hidup di sungai dan sekitarnya.  Ikan-ikan kecil yang mudah terlihat, tentu saja.  Lalu anak-anak juga mengamati udang sungai dan gerakannya yang  menurut mereka sangat aneh dan menakjubkan. Anak-anak juga bisa kita ajak untuk mengamat-amati kumbang air yang bergerak berulang-ulang di atas permukaan air. Di pinggir sungai, tentu saja dengan mudah kita bisa menemukan berbagai jenis burung dan kupu-kupu indah warna warni yang beterbangan.

Selain fauna, juga banyak bisa kita temukan berbagai macam tanaman yang jarang dilihatnya di perkotaan. Keluarga pohon pakis tinggi  yang liar adalah tanaman pertama yang menarik perhatian anak saya. “Seperti di Jurasic Park!” kata anak saya. Seorang saudara dari Singaraja yang ikut berjalan bersama kami dan kebetulan banyak bergaul dengan tanaman hias menceritakan kepada anak saya bahwa itu adalah tanaman Pakis Monyet (Cybotium sp) dan harga per batangnya mencapai 2- 3 juta rupiah. “Wow!” anak saya yang kecil lalu mulai berhitung kira-kira berapa duit yang akan dihasilkan jika seluruh tanaman Pakis Monyet di sana dijual semua ke kota.  Lalu ada juga banyak pohon damar (Agathis dammara), lalu pohon honje hutan (Etlingera hemisphaerica) , pohon pucuk merah (Syzygium sp), pohon pinus (Pinus merkusii) dan masih banyak lagi tentunya. Hey! Ada yang ingat pelajaran Biology tentang Lumut Hati, tidak? Anak saya yang besar mengangguk. Lalu sayapun menunjukkan  contoh tanamannya yang tumbuh di dinding tebing. Lumut Hati (Marchantia polymorpha) memang sungguh jenis tanaman yang sangat menarik untuk dilihat.

4. Memperhatikan  batu-batu kali yang berserakan besar-besar, halus dan licin , anak-anak bisa memahami bahwa air yang mengalir secara terus menerus, memberikan dampak pengikisan dan membuat permukaan batu kalipun  menjadi halus dan membulat.

5. Bermain di kali Juga sekaligus memberikan kekuatan  pada anak untuk mengembangkan syaraf-syaraf motoriknya dengan cara naik, turun dan meloncat di atas batu. Beberapa kali jatuh terpeleset tidak apa-apa. Anak akan cepat bangun dan naik kembali.  Kita orangtua, hanya perlu mengawasinya saja dari dekat, untuk memberi pertolongan jika terjadi sesuatu yang membahayakan. Namun secara umum, bermain di sungai yang dangkal, bukanlah sesuatu yang berbahaya.

Masih banyak lagi hal-hal lain yang bisa dipelajari oleh anak-anak sambil bermain. Dan lebih dari semuanya itu, bermain di sungai memberi anak kegembiraan yang tiada tara, yang tidak bisa ia dapatkan dari permainan games-nya di Laptop maupun di kartu Vanguard.

Jika kita menyadarinya, alam memberikan kebahaigiaan yang tak bisa dibeli dengan uang ke dalam hati manusia.

Ikan Sapu-Sapu Yang Meloncat Di Permukaan Air Kali.

Standard

Ikan Sapu-Sapu Meloncat Di Permukaan Sungai.Ketika mengamat-amati tingkah laku burung-burung liar di pinggir kali di belakang rumah, pandangan saya terpaku pada ikan-ikan  yang naik dan turun di permukaan air sungai. Saya pikir itu ikan lele, karena warnanya hitam dan saya tidak bisa melihat bentuknya dengan lebih jelas. Gerakannya sangat lincah dan berulang-ulang kali,sehingga menimbulkan percikan, juga riak dan gelombang kecil pada permukaan sungai yang mengalir.  Jumlahnya sangat banyak. Silih berganti. Mirip pertunjukan akrobat. Saya lalu memberi tahu anak saya yang kecil akan kejadian itu. “Itu ikan sapu-sapu, Ma.” Kata anak saya dengan yakin. “Tahu dari mana? “ tanya saya. “Pernah lihat ada orang yang menangkap ikan yang meloncat-loncat  itu di sungai dekat lapangan basket. Kelihatan jelas bentuknya”. Jawab anak saya. Ooh.. bisa jadi sih. Read the rest of this entry

Saya Menyukai Senja Di Atas Kali Ini.

Standard

Tidak jauh dari kantor saya, mengalir sebuah sungai besar. Dimana sebuah jembatan berwarna hijau yang kokoh membentang diatasnya. Setiap hari saya melewatinya dengan hati riang. Saya pikir, sungai itu adalah salah satu anak sungai Cisadane yang mengalir sepanjang jalan Daan Mogot yang panjang. Sebagian airnya saya tahu merupakan kiriman dari Danau Cipondoh, namun sebagian besar lainnya barangkali datang dari Bogor sana melewati jalur anak sungai yang lain.

Di pagi hari,  ketika matahari  membagikan sinarnya yang kuning cerah keemasan, biasanya saya melemparkan pandangan saya ke tepian sungai yang sangat subur dipenuhi dengan tanaman Petai Cina. Dimana kupu-kupu warna-warni beterbangan baik di ketinggian dedaunannya maupun di atas rerumputan. Demikian juga capung berbagai warna sibuk beterbangan di atas sungai mencari mangsa. Juga  saat kendaraan beristirahat sebentar disela kemacetan, terkadang saya membuka jendela dan terpaku mendengarkan nyanyian burung-burung kecil yang bercericit riang. Demikianlah saya selalu memiliki pagi saya yang indah di atas jembatan itu.

Sore kemarin, saya melintas  kembali di atasnya. Pulang lebih cepat dari biasanya dan menikmati siraman cahaya matahari senja yang teduh, hangat kemerahan.Saya memandang bola api yang tampak lebih besar dari biasanya di ufuk barat. Melontarkan lidah cahayanya keluar. Dan akhirnya mulai membenamkan dirinya diantara bayangan pepohonan yang teduh. Biasanya saya melihat banyak karyawan pabrik pada bubaran. Melintas di antara bola api dan pepohonan. Atau berdiri menunggu angkutan di pojok jembatan. Untuk pulang kembali kepada keluarganya.  Betapa indahnya senja yang rupawan. Dan langit yang berwarna tembaga. Mengingatkan saya akan sebuah senja di Pantai Kuta. Demikianlah saya ingin selalu menikmati  senja indah saya di atas jembatan ini.

Dunia Di Pinggiran Kali.

Standard

Akhir pekan tiba. Alangkah menyenangkannya. Karena saya bisa bermain seharian dengan anak-anak saya. Menemani mereka bermain, atau pun mengajak mereka melakukan hal-hal yang sangat menyenangkan seperti yang biasa saya lakukan semasa kecil.  Bebas merdeka, bisa bersandal jepit dan berpakaian sesukanya. Serta membebaskan diri dari penggunaan bedak dan lipstick. Menjadi diri sendiri apa adanya.

Kali ini saya mengajak anak saya untuk melakukan petualangan di pinggir kali. Kebetulan di belakang rumah saya, mengalir sebuah sungai yang kecil ukurannya di musim kemarau, namun bisa meluap di saat hujan sangat deras. Karena akses ke pinggir kali tertutup, maka saya mengajarkan anak saya untuk meloncat tembok pagar perumahan. Read the rest of this entry