Tag Archives: Tangerang

Bermain Di Danau Cipondoh.

Standard

Memancing.Kemarin saya mengajak anak saya yang kecil bermain ke Danau Cipondoh. Tujuan awalnya sih hanya ingin mengamat-amati kehidupan burung-burung liar di sekitar danau itu, namun ujung-ujungnya malah jadi memancing. Itu terjadi karena pas kami ke sana, ternyata danau itu ramai sekali dikunjungi orang. Ada yang sekedar bermain bersama keluarga atau bersama pasangannya dan banyak juga yang memancingdan sekedar melihat-lihat saja.

Melihat orang-orang asyik memancing, anak saya jadi ingin ikut memancing juga. Tentu saja saya tidak membawa persiapan apapun untuk memancing. Untung saja di dekat situ ada kios yang menjual aneka peralatan memancing dan menangkap ikan.  Akhirnya kami membeli dua batang pancingan. Satu yang murah, dan satunya lagi yang agak mahal. Yang murah terdiri  dari joran (tangkai pancing), senar, pelampung dan saya harus membeli sendiri kailnya.  Yang lebih mahal, alat pancingnya terlihat agak sedikit lebih modern, lengkap dengan katrol penarik dan pengulur senar.  Sekalian  saya membeli juga pelet dan cacing tanah untuk umpan. Tadinya saya berharap bisa mendapatkan lumut, namun sayang sudah habis keduluan orang lain.

Memancing di Danau CipondohWalaupun setiap hari lewat di danau Cipondoh, namun terus terang ini baru pertamakali saya berada di tempat itu untuk menikmatinya. Rupanya ada jalan yang membentang di tengah danau itu. Juga ada beberapa pulau-pulau kecil dan super kecil di situ. Saking kecilnya, kadang-kadang pulau itu hanya terdiri atas seonggok tanah dan sebatang atau dua batang pohon saja.  Namun ada juga yang agak besar dan muat diisi oleh beberapa puluh orang.

Saya masuk ke dalam pulau kecil yang ada di dekat daratan dengan membayar Rp 3 000 per orang ( anak saya tidak dihitung karena dianggap masih kecil). Tempatnya cukup cantik. Dan danau  di wilayah Tangerang itu ternyata lebih luas dari apa yang bisa saya lihat dari pinggir jalan. Beberapa orang terlihat naik perahu bebek dan menikmati angin danau. Asyik juga kelihatannya.

Burung-burung.

Burung KutilangTidak banyak burung yang bisa saya lihat di sana sambil memancing.  Walaupun suara burung sangat ramai, riuh rendah berkicau, namun pohon-pohon yang ada sangat tinggi dan  rindang. Mengakibatkan kesulitan bagi saya untuk melihat burung. Apalagi untuk memotretnya.

Tapi beberapa kali saya lihat juga berseliweran di antara daun-daun adalah Burung Cabe/burung Kemlade, Burung Madu Sriganti, Burung Pipit, Burung Gereja dan Burung Kutilang. Tak ada jenis baru yang saya lihat. Burung Cabe dan burung Madu jumlahnya cukup banyak , bercerecet dengan sangat cerewetnya dan berkejar-kejaran dengan temannya dari satu pohon ke pohon yang lain.

Lalu saya juga ada mendengar suara -suara burung lain  yang mirip dengan suara burung Prenjak dan juga ada suara burung Pleci walaupun saya tak berhasil melihatnya.

Sisa – sisa banjir. 

CipondohYang menarik dari pulau kecil itu adalah tanah sisa genangan air yang mengering.  Barangkali karena curah hujan yang sangat tinggi dan barangkali aliran air ke danau itu juga  banyak, mungkin beberapa hari yang lalu air danau ini sempat meluap dan menggenangi pulau kecil ini.

Saya melihat banyak sekali sisa-sisa  lumpur. Banyak keong dan kerang air tawar yang terdampar mengering di situ.  saya mengamat-amati cangkang beberapa kerang air tawar itu. Mirip dengan cangkang kerang hijau yang sering kita makan. Ukurannya pun kurang lebih sama. Namun warnanya bukan hijau tapi coklat.

Diantara lumpur yang mengering itu, saya juga melihat ada beberapa ekor ikan sapu-sapu yang sekarat. Menggelepar-gelepar. Rupanya  sekarat kekurangan air. Awalnya saya tidak mengerti jika ikan-ikan itu terjebak di sana. Saya pikir itu hasil pancingan salah satu pemancing di situ yang diletakkan begitu saja di atas tanah.  Setelah saya melihat ada lagi beberapa bangkai ikan sapu-sapu di bagian lain dari pulau kecil itu barulah saya sadar bahwa ikan itu ternyata terjebak di sana dan tak bisa kembali ke danau karena air keburu menyusut.

Memancing Sampah.

Memancing sampahWalaupun memancing tentunya sangat menyenangkan. Namun sayang sekali saya dan anak saya harus kembali pulang dengan tangan hampa. Pasalnya adalah ketika  kail bergerak dan disambar ikan, kail itu dibawa masuk agak dalam ke air dan menyangkut pada sebuah benda. Ketika ditarik, rupanya…. sampah plastik.  Dan itu kejadiannya bukan cuma sekali. Tapi beberapa kali.  Sayang sekali, danau itu memiliki banyak sekali sampah plastik. Anak saya berkomentar, megapa tidak ada orang yang ditugaskan untuk membersihkan danau? Setahu saya, danau sudah cukup sering dibersihkan oleh dinas PU – walaupun biasanya lebih banyak membersihkan eceng gondok . Namun jumlah sampah yang dibuang orang ke danau itu rupanya lebih banyak daripada apa yang bisa dibersihkan petugas PU. Wah..kasihan petugas PU-nya…

Nah kalau sudah begini,seharusnya kita sebagai warga mesti semakin menggalakkan kepedulian kita terhadap lingkungan danau dan badan-badan air kita. Mengharapkan  hanya pemerintah saja yang perduli, tentu tidak cukup.

kapu-kapuVegetasi yang umum menghuni perairan danau itu adalah eceng gondok yang sangat subur dengan bunga berwarna ungu.  Vegetasi lain adalah sejenis Kapu-kapu yang mengapung namun memiliki bentuk agak berbeda dengan Kapu-kapu yang biasa saya lihat. Hampir setiap bulan saya melihat ribuan atau bahkan jutaan tanaman ini (Eceng gondok & Kapu-kapu) diangkat dengan truk sampah keluar dari danau.Namun tumbuh lagi dan tumbuh lagi. Kadang saya berpikir, mengapa tidak ada orang yang mengeringkannya dan memanfaatkannya untuk bahan lain? Misalnya diolah menjadi kompos atau tas atau jenis kerajinan tangan lain ya? Daripada dibuang tanpa guna atau dialirkan ke sungai yang justru malah ikut  membuat sungai menjadi mampet dan meluap.

Namun apapun itu, dengan segala kekurangan dan kelebihannya, Danau Cipondoh selalu menarik untuk dilihat. Saya senang karena telah membuat anak saya senang pagi itu.

Siang hari, setelah puas bermain di danau, sayapun mengajak anak saya makan di rumah makan di tepi danau itu.  Makan nasi bersama tahu, tempe dan ikan. Sungguh hari  yang sangat menyenangkan.

Semoga Danau Cipondoh tetap lestari ..

Grafiti, Expresi Seni Jalanan.

Standard

Grafiti Tepi Rel Poris 8Berada di kemacetan kota sering membuat kita tak mampu melakukan apa-apa, selain menghibur diri dengan menikmati apa yang ada. Salah satu yang cukup sering saya lakukan adalah melempar pemandangan keluar jendela kendaraan. Terkadang beruntung melihat lukisan atau gambar di tembok-tembok beton tol, pagar jalanan maupun pagar gedung atau rumah orang. Banyak yang cukup menarik, dengan ide-ide yang cukup brilliant, tarikan grafis yang bagus dan komposisi warna yang sangat menghibur. Namun sering juga kita hanya melihat gambar corat coret ala kadarnya, dengan maksud entah apa dan komposisi warna yang amburadul. Atau bahkan terkadang hanya coretan, expresi cinta si anu kepada si ani, slogan atau bahkan jeritan kepedihan hidup dan protes atas keadilan sosial yang tak kunjung datang. Tentu saja karya Grafiti ini masih belum bisa dikategorikan sebagai Mural, karena masih  terlihat sangat sederhana baik dari sisi pengembangan grafis, tata warna, komposisi bentuk dan sebagainya. Read the rest of this entry

Engkong Setion: Pedagang Kacang Rebus Di Tepi Danau Cipondoh.

Standard

Saya diajak teman-teman saya makan siang di sebuah rumah makan di tepi danau Cipondoh. Sebenarnya agak  ragu, khawatir terburu-buru karena akan ada meeting. Namun di sisi lain sebenarnya sudah lama saya ingin melihat dari dekat tepian danau yang tiap pagi saya lintasi dalam perjalanan ke kantor itu. Kebetulan juga saya sedang membawa kamera.Jadilah saya ikut sambil memastikan kepada teman-teman saya bahwa makan siang harus cepat dan jangan banyak ngobrol. Dengan demikian, saya mungkin masih bisa balik ke kantor on time. Read the rest of this entry