Tag Archives: Tante

Tante Nenek. Derita Si Anak Bungsu.

Standard

Seorang teman kantor dijemput oleh anak-anaknya yang masih kecil pada suatu sore. Seperti biasa, setiap kali bertemu anak-anak itu, saya bercanda sebentar dengan mereka.Seorang teman yang lain lalu bertanya penuh ingin tahu, “Gimana anakanak ini memanggil Bu Dani?” . 
TANTE NENEK!” Jawab saya. Teman saya tertawa berderai keheranan. Lho? Kok bisa “tante nenek?. Gimana ceritanya?”.  Ha ha. Panjang ceritanya. 

Saya menikah dengan seorang pria yang menawan hati saya dan kebetulan merupakan anak bungsu dari 6 orang bersaudara. Karena jarak umur dengan kakak-kakaknya sangat besar, maka pada saat kami menikah suami saya telah memiliki keponakan-keponakan  yang sudah besar dan remaja, yang karenanya automatis memanggil saya dengan sebutan “Tante”.  Jadi saya terbawa-bawa oleh status “kebungsuan”suami saya. 

Namun beberapa tahunnya kemudian, para keponakan inipun menikah dan memiliki anak-anak. Nah sebagai akibatnya saya pun jadi menyandang gelar “nenek” di usia muda. Sungguh sebuah musibah bagi saya 😭😭😭. Aduuh…siapakah yang mau dipanggil nenek ketika umur masih muda? 

Untungnya para keponakan suami saya inipun pada penuh pengertian akan perasaan saya. Mereka paham banget, kalau tantenya ini pengen terlihat muda terus 😎😎😎. Jadi dengan kreatifnya mereka menambahkan kata “tante” di depan kata “nenek” sebagai gelar saya. Maka jadilah mereka mengajarkan anak-anaknya untuk memanggil saya dengan “Tante nenek….tante nenek”. Sampai kini. Awalnya terdengar sangat konyol. Tapi lama lama saya terbiasa. Dan saya merasa nyaman dengan panggilan itu 😃😃😃.

Begitulah sejarahnya, ketika teman kantor yang usianya jauh dibawah saya memiliki anak-anak. Sayapun jadi ikut memperkenalkan panggilan “tante nenek”. Habisnya gimana ya? Kalau dipanggil “Tante” kok ya terlalu ketuaan, karea nereka lebih muda bahkan dari “cucu-cucu” saya di rumah. Kalau dipanggil “Nenek” juga kok rasanya nggak ikhlas ya..secara saya masih muda begini 😎. Jadi baiklah…Tante Nenek saja 😀.

Dan ternyata… rupanya yang mengalami dilema Tante atau Nenek bukan hanya saya saja. Kemarin seorang teman yang kebetulan anak bungsu  dari 9 bersaudara dengan  gap usia yg juga sangat besar dengan kakak sulungnya mengalami hal serupa dengan saya. Ia bahkan merasa lebih nyaman jika dipanggil “Kakak” oleh keponakan -keponakannya.

Adakah diantara teman-teman pembaca juga memiliki cerita yang serupa?

Silakan Mampir, Tante!

Standard

pedagangSeorang pedagang tempe lewat di depan rumah. Membawa motornya melaju sambil berteriak “Tempe! Tempe!Tahu! Tahu!“. Lalu berhenti di depan rumah tetangga. Saya mendekat berniat belanja. Tempe yang harum dan kwalitasnya bagus. Bentuknya segitiga kecil-kecil dibungkus daun pisang. Saya membeli 20 buah. Namun Si Bapak Tukang Tempe memberi saya tambahan 3 buah. “Empat belas ribu. Ini saya tambahkan 3 lagi,boss!” katanya sambil memasukkan tambahan tempe ke dalam kantong plastik.  Saya berterimakasih.

Lalu ia mempromosikan  tahu baru yang bernama Tahu Susu.  “Coba ya, boss? Saya juga baru bawa tahu ini, karena waktu saya coba ternyata empuk dan lembut sekali” Katanya berpromosi.  Saya menyentuh tahu itu dari plastik pembungkusnya. Memang sangat lembut. Saya setuju untuk membeli sebungkus. “Dua belas ribu ya, boss. Isinya sepuluh” katanya memberi informasi. Saya mengangguk.  Lalu saya membeli 4 bungkus susu kacang kedelai lagi untuk anak saya yang kecil. Ia sangat suka susu kedelai. “Delapan ribu” katanya. saya mengangguk lagi. Setelah selesai berbelanja, Si Tukang Tempe pun menghitung kembali total belanjaan. Saya membayar. Lalu Si Tukang Tempe menutup pembicaraan dengan memberikan uang kembalian kepada saya.”Terimakasih ya, boss. Ini saya kasih lagi tambahannya ” katanya sambil meraih sebungkus susu kacang lagi dan 3 buah tempe segitiga lagi untuk diberikan gratis kepada saya. Saya terkejut. “Ah, nggak usah!.Ini saja sudah cukup. Nanti rugi. Kok dikasih gratis banyak sekali” kata saya khawatir.  Tapi si Tukang Tempe dengan santai menjawab “Ah! Buat boss nggak apa-apa saya kasih lebih. Kan penting itu menyenangkan pelanggan. Saya tidak rugi, karena tempe dan susu kacang saya bikin sendiri” katanya sambil menghidupkan mesin motornya dan berlalu.

Saya membawa bungkusan itu ke dapur . Tentu saja saya suka dikasih gratisan. Tapi walaupun dikasih gratisan, sebenarnya saya amat tidak suka dipanggil boss.  Saking tidak sukanya saya sampai berpikir kayanya tukang tempe itu tidak tahu tata krama. Barangkali ia pikir semua orang senang dipanggil boss. Dia tidak sadar kalau ada orang yang tak suka dipanggil begitu.  Menurut saya, Boss itu tepatnya panggilan untuk orang yang benar-benar kaya secara finansial dan mampu mensuport finansial orang lain. Jelaslah saya sangat tidak tepat disebut boss. Saya bukan boss. Saya ibu rumah tangga biasa yang membeli tempe, tentunya lebih senang dipanggil dengan Ibu saja. Atau kalau mau berbaik hati, panggil saja Mbak * terasa lebih muda seketika he he*.

Selain itu, panggilan boss lebih umum  saya dengar pada komunitas pria. Cukup sering panggilan boss saya dengar diucapkan oleh/kepada teman-teman saya yang laki, adik laki-laki ataupun kakak-kakak  sepupu saya yang laki.  Jadi benar-benar tidak cocok deh buat saya. Tapi salah saya sendiri juga  sih. Mengapa pula tidak protes saat dipanggil boss. Ah! Sudahlah!. Mungkin lain kali saya perlu kasih tahu si Tukang Tempe itu kalau saya tidak suka.

Ada lagi panggilan yang lebih tidak saya sukai lagi. Tante!. Beberapa kali saya merasa kesal jika lewat di sebuah pertokoan, lalu dipanggil panggil oleh SPG penjaga baju  “Mampir, Tan!” atau “Boleh. Lihat-lihat dulu, Tante!” atau “Coba dulu, Tante!”  Atau disapa mas-mas penjaga lapak sayur di pasar modern”Ayo Tante,mampir. Brokoli nya segar-segar. Untuk Tante nggak dimahalin“.   ?????????. . Menurut saya Tante itu benar-benar panggilan yang sangat menyebalkan.   Saya sangat tidak senang dipanggil Tante. Kecuali oleh keponakan saya sendiri atau anak-anak teman kita yang memang sudah sepantasnya memanggil Tante atau Bulik atau Bude, atau Wak.  Karena jika dipanggil Tante oleh orang yang tidak da hubungan kekerabatan dengan kita, kesannya jadi seperti mengarah kepada Tante – Tante yang bagaimana gitu (i.e tante girang).

Saya sempat bercerita soal ini kepada beberapa orang teman saya, dan tenyata mereka juga tidak suka dipangggil Tante. Alasannya sama dengan apa yang saya paparkan di atas.  Syukurlah bukan saya sendiri yang berpikir begitu*mencari teman*.Ujung-ujungnya, gara-gara dipanggil Tante, yang tadinya saya niat mau beli, akhirnya saya jadi tidak mau membeli. Kehilangan selera.  Nah, kalau banyak orang yang tidak suka dipangil Tante sembarangan, dan orang akhirnya tidak mau membeli gara-gara tidak suka dipanggil Tante,  tentu pedagang itu akan rugi. Mengapa ya para pemilik toko tidak mentraining karyawannya agar menyapa pembeli dengan sapaan yang lebih baik dari Tante.

Tapi saya tidak tahu juga, barangkali banyak juga wanita yang justru lebih senang dipanggil Tante. Setidaknya Tante kan lebih muda dari Ibu. Entahlah.  Itu soal selera.

Panggilan lain,  secara umum sih saya masih OK. Langsung memanggil nama, Ibu atau Mbak saya lebih suka. Kadang-kadang ada juga yang memanggil saya dengan Bunda.  Saya tahu banyak orang lebih suka dipanggil Bunda. Dan tentunya itu baik dan juga lagi trend ya.  Namun sayangnya saya agak kurang familiar dengan sebutan Bun, Bunda, walaupun sangat positive kesannya. Pasalnya sederhana, hanya karena sebutan Ayah-Bunda tidak umum di lingkungan saya yang biasa membahasakan orang tua dengan kata Bapak -Ibu.   Jadi tentunya saya lebih menyukai kata Ibu, ketimbang Bunda. Rasanya kurang ‘saya’. Tapi  tentunya saya tidak menolak panggilan Bunda.

Demikianlah soal panggilan-panggilan yang saya sukai dan tidak sukai. Bagaimana dengan teman-teman? Panggilan apa yang teman-teman sukai dan panggilan apa yang teman-teman tidak sukai?