Tag Archives: Tembuku

Menguji Nyali di De Brokong: Ziplines Di Atas Hamparan Sawah Hijau.

Standard
Menguji Nyali di De Brokong: Ziplines Di Atas Hamparan Sawah Hijau.

Berada di rumah untuk urusan adat dan upacara yang super padat, membuat anak saya bertanya. “Kapan kita main, Ma?. Kan sudah di Bali???”. Whuala anakku……, pikirannya kalau ke Bali cuma liburan. Kita ini pulang kampung. Untuk menghadiri upacara adat keluarga. Bukan liburan.

Anak saya tampak kecewa. Untunglah seorang teman akrab mengajak bermain ke DeBrokong. Tempat wisata baru di Bangli. Seketika wajahnya tampak bersemangat lagi.

Seusai upacara berangkatlah kami ke sana. Lokasinya ada di desa Bangbang, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli. Gampang sih mencarinya. Dari rumah saya sebenarnya sangat dekat. Cuma 15 menit.

Waaah…ternyata tempatnya asyik banget. Berada di kebun belakang dengan pemandangan sawah yang sangat indah. Hijau royo-royo. Di sana terbentang 5 Zip lines melintasi sawah kurang lebih berjarak 100 meter di atas ketinggian 7.5 meter hingga 9.5 meter.

Wahana Flying Fox tetapi dengan standard keamanan international. Waah…keren banget.

Terlihat ada sebuah anjungan di sana. Kelihatannya enak nih duduk-duduk di sini sambil ngopi.

Sementara saya memandang hamparan sawah sambil memperhatikan burung burung bangau yang terbang dan hinggap mencari makan di sawah, teman saya memesankan kopi dan Jaja Laklak (sejenis kue serabi dari tepung beras dengan topping kelapa parut dan disiram dengan gula merah cair yang rasanya sangat mantap). Jaja Laklak-nya sangat istimewa dan baru dibuat langsung. Jadi baru matang dan masih hangat. Enak banget. Sungguh. Selain itu teman saya juga memesankan kami Kacang Rebus. Whuesss… mantap banget buat teman nyantai dan nongkrong -nongkrong di sini.

Anak saya tidak sabaran untuk bermain di Zip lines yang kelihatan sangat menantang itu.

Melihat antusiasnya, I Dewa Gede Ngurah Widnyana, sang pengelola De Brokong pun tidak segan untuk turun tangan memberikan Safety Brief dan Teknik bermain yang benar pada anak saya. Saya ikut mendengarkan. Sangat detail dan hati hati di setiap tindakan yang diambil. Berkali-kali ia mengingatkan kepada anak saya agar selalu Focus dan Disiplin. Seketika saya paham.

Bedanya De Brokong dengan wisata outbond lokal yang punya flying fox lain adalah dari International Safety procedurenya yang diimplementasikan dengan sangat baik. Itu yang membuat saya sebagai orang tua merasa tenang akan keselamatan anak saya jika bermain di situ.

Menggelayut di Ziplines.

Ini adalah wahana yang paling menarik perhatian anak saya sejak pertama. Sekarang ia mulai memasang perangkat keamanannya. Dengan instruksi yang sangat jelas dari Dewa Gede.

Tapi ini di ketinggian dan anak saya akan meluncur di tali itu. Saya merasa sangat deg-degan. Nyaris nggak berani melihat. Hanya bisa berdoa untuk keselamatan anak saya. Melihat perangkat keamanan dan prosedurnya, akhirnya hati saya tenang kembali. Saya mulai bisa mengambil posisi untuk memotret anak saya.

Ia kelihatan tenang memindahkan cangklingannya dan menggenggam puley lalu…. zwiiiiiing…..ia pun meluncur di udara bebas. Oooh….. Tampak ia sangat menikmati perjalanan udaranya menuju tower di seberang dengan mulus. Ia pun mendarat dengan sukses di tower berbendera merah putih itu.

Setelah menikmati pemandangan sejenak dari tower di seberang, berikutnya anak saya kembali ke pangkalan dengan zipline yang berbeda.

Menurut teman saya, semua zipline akan landing dengan sempurna karena semua konstruksi dan pemasangan sudah menggunakan perhitungan fisika yakni derajat kemiringan dan mengandalkan grafitasi. Dengan demikian zipline sangat ramah lingkungan tanpa perlu bantuan daya listrik dan mesin penggerak. He he…benar juga ya.

Lalu bagaimana jika ternyata, entah karena gerakan kita yang salah ataupun penyebab lain kita nyangkut di tengah- tengah?. Tidak maju dan tidak mundur pula?. Jangan khawatir. Nanti akan ada petugas yang akan menjemput. Waah… keren ya.

Saya melanjutkan minum kopi, sementara anak saya masih terus ingin bermain…

Bangli: Mahapraja Peninjoan, Tempat Keren Untuk Melarikan Diri dari Kepenatan Kota.

Standard
Bangli: Mahapraja Peninjoan, Tempat Keren Untuk Melarikan Diri dari Kepenatan Kota.

Awal tahun ini saya ada di rumah ortu di Bangli. Mengetahui saya libur, kakak saya mengajak bermain ke Mahapraja, sebuah tempat wisata baru yang sedang naik daun di Bangli. Wow! Penasaran dong saya ya… apa itu Mahapraja dan di mana pula letaknya?. Ikuuuut…

Mahapraja, letaknya di Banjar Puraja, desa Peninjoan, kecamatan Tembuku – Bangli. Di Bali. Jadi kalau dari Bangli, kita mengarah ke timur menuju kecamatan Tembuku. Di Tembuku kita menuju arah timur laut dengan mengikuti jalan raya Besakih hingga ke desa Undisan. Nah dari desa Undisan lalu kita mengarah ke utara. Ketemulah desa Peninjoan, dan selanjutnya dari sana kita mencari Banjar Puraja dimana tempat wisata Mahapraja ini berlokasi.

Kami memarkir kendaraan tak jauh dari jalan raya, lalu menuju gerbang Mahapraja yang di kiri kanannya adalah kebun jeruk 🍊🍊🍊 yang sedang berbuah lebat. Jadi ngiler melihat buah buah segar bergelantungan di pohonnya yang rendah. Belakangan saya dengar, ternyata kita juga bisa berwisata memetik buah-buahan di kebun sekeliling Mahapraja. Bahkan buksn hanya jeruk lho… ada pepaya, manggis, salak, duren…Waah…tau gitu tentu saya sangat bersemangat ikut memetik-metik 😀.

Sebuah pintu gerbang dengan aling aling Ganesha menyambut kami di Mahapraja.

Mahapraja Br Puraja desa Peninjoan, Tembuku Bangli.

Ganesha sering ditempatkan sebagai aling aling dalam pekarangan rumah di Bali sebagai permohonan masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam fungsinya sebagai pelindung dari kesulitan dan masalah (Ganesha). Demikian juga di dekat pintu masuk Mahapraja. Sehingga dengan memasang Ganesha di pintu masuk, pemilik rumah mendoakan keselamatan bagi semua orang yang berkunjung ke tempat itu.

Dari Ganesha ini kita bisa langsung ke hamparan tanah luas berumput hijau segar yang tepinya menurun dibatasi oleh pohon pohon kayu 🌳🌳🌳 yang rindang dan sungai Puraja. Ada balai balai bambu tempat duduk dan bercengkrama dengan teman atau keluarga.

Di seberangnya tampak hamparan rumput hijau yang cukup luas juga. Wow!. Tiba tiba seluruh tubuh, mata dan kepala terasa sangat segar. Sebuah tempat untuk me-recharge energy yang sangat menawan. Hijau royo royo🍃🍃🍃 dengan udara sejuk yang menyegarkan. Sangat tenang dan damai. Jauh dari keriuhan dan kepengapan kota. Beda banget dengan Jakarta.

Saya lihat ada 4 bungalow bambu sederhana beratap ilalang berjejer di sebelah kiri. Kayaknya asyik juga jika bisa menginap di sini menikmati suasana alam yang benar benar alami. Nanti deh…kalau dapat libur lagi saya pengen juga nginep di sini.

Mari kita lupakan sejenak kesibukan kota yang berbulan bulan menguras energy kita. Lupakan sejenak polusi dan kebisingannya. Duduklah di sini. Lepaskan kepenatan. Lupakan meeting dan target penjualan sejenak 😀. Dengarkan hanya suara angin dan nyanyian burung🐦🕊. Dan wangi rerumputan. Tidak ada TV dan kalau perlu nggak ada jaringan internet. Hanya ada kita dan alam. Sehingga kita benar-benar tahu yang artinya menyepi dan mengisi energy kembali dari kekosongan.

Melamun begitu sambil menyeruput es kelapa muda dengan jeruk nipis, saya pikir, cocoknya tempat ini bernama Mahapraja Hide Away saja he he 😊. Tempat melarikan diri dari kepenatan kota.

Ternyata selain untuk menyepi dan menikmati suasana alam, tempat ini adalah sebuah Camping Ground yang lumayan juga. Bisa digunakan untuk acara outing dengan daya tampung +/- 600 orang pengunjung. Kalau gitu bisa dipakai untuk perusahaan kelas menengah dengan jumlah karyawan 400 – 600 orang ya…

Saya diberi informasi jika ingin menginap, Mahapraja memiliki 58 tenda camping 🏕 dengan daya tampung max 4 orang/ tenda. Nanti kalau saya balik ke Jakarta, saya info deh perusahaan tempat saya bekerja, kali kali aja mau mengadakan acara outing di tempat ini *muka penuh harap 😀.

Fungsi lain lagi… ternyata di tepi sungai di bawah tempat ini juga digunakan untuk mereka yang senang bermeditasi. Saya nggak sempat turun ke sungai , mengingat gerimis turun dan saya lupa bawa payung. Jadi saya hanya sempat melongok tangga turunnya doang.

Hari itu saya melihat cukup banyak juga orang yang berkunjung. Rata rata membawa keluarganya. Suatu saat saya pengen juga mengajak anak saya ke sini.

Nah…. siapa yang mau ikuttt???.

Perhiasan Lapis Emas Dari Undisan, Tembuku di Bangli II.

Standard

Perhiasan tradisional Bali pada umumnya didesign dan dibuat oleh para Pande, yakni salah satu marga dalam masyarakat Bali yang secara turun temurun berprofesi sebagai perajin logam (emas perak, tembaga, kuningan, besi , baja – hasilnya berupa perhiasan, senjata tajam seperti pisau, keris, mata tombak dsb). Saya sangat senang memperhatikan proses pembuatannya. Barangkali semuanya itu terjadi mengikuti naluri alami saya, karena kebetulan ibu saya berasal dari marga Pande ini. Oleh karena itu,ketika berkunjung ke desa Undisan, di kecamatan Tembuku di Bangli,  maka sayapun tertarik dengan obrolan berkenaan proses pembuatan perhiasan lapis emas yang diproduksi di sana, serta design dan motif-motif ukir yang digunakannya. Read the rest of this entry

Sang Byang Areni : Kreatifitas, Kemandirian Dan Kesederhanaan Seorang Wanita Bali.

Standard

Ketika saya diajak bermain ke banjar Tegal Asah, di desa Tembuku, kecamatan Tembuku di Bangli, saya sangat terrtarik akan berbagai  jenis  dulang dan berjenis-jenis  Sokasi atau keben ( besek – box yang terbuat dari anyaman bamboo)  yang  diproduksi maupun dihias  di banjar itu.  Rupanya rata-rata mata pencaharian penduduk banjar Tegal Asah  itu adalah memperoduksi benda-benda itu. Read the rest of this entry

Bangli Tanah Kelahiranku: Sokasi Bangli III.

Standard

Seni adalah perjalanan yang tak pernah berhenti. Ketika sebuah seni mencapai  sebuah ‘milestone’nya, maka milestone yang berikutnya telah menunggu. Milestone yang baru bisa jadi berada di jalur perjalann yang sama. Atau bisa juga di persimpangan jalan yang lainnya. Demikian juga ketika kita memperhatikan perjalanan seni yang dipalikasikan pada Sokasi Bangli. Ragam hias yang diaplikasikan pada  box anyaman bambu ini seolah  tiada mengenal kata berhenti. Read the rest of this entry