Tag Archives: Trowulan

Menelusuri Sejarah Majapahit: Pendopo Agung II.

Standard

Selain relief yang menggambarkan Sumpah Amukti Palapa, di dinding belakang Pendopo Agung Trowulan juga terdapat daftar Raja-Raja Majapahit. Saya mencoba membaca daftar itu walaupun agak susah, karena jenis font yang dipakai agak keriting selain juga karena hari mulai gelap.

Raja-Raja MajapahitMelihat daftar para raja beserta tahun pemerintahannya, kita jadi tahu bahwa Kerajaan Majapahit berdiri selama nyaris 200 tahun. Tepatnya 193 tahun, sejak pertama kali didirikan oleh Raden Wijaya (1294), hingga runtuhnya di tangan Prabhu Girinderawardhana (1487). Lama juga ya umur negara itu. Indonesia sendiri baru berumur 70 pada tahun ini. Masih dibutuhkan 123 tahun lagi agar minimal bisa meyamai panjangnya umur negara Majapahit. Dan tentunya kita semua berharap agar Negara Kesatuan Republik Indonesia bahkan bisa melebihi Majapahit. Lalu mengapa negara yang sedemikian besar dan sedemikian lama eksistensinya di Nusantara ini akhirnya bisa runtuh?

Penobatan Raden Wijaya menjadi Raja I Majapahit pada tahun 1294.

Penobatan Raden Wijaya menjadi Raja I Majapahit pada tahun 1294.

Di daftar ini, sepintas lalu semua kelihatan sangat rapi. Namun jika kita tilik lebih jauh, dan pelajari kembali sejarah, di balik kejayaannya, pemerintahan kerajaan Majapahit ini sebenarnya juga tidak mulus-mulus amat.  Dihiasi dengan banyak pemberontakan, mulai dari Ra Kuti, Semi, hingga Ronggolawe. Juga dipenuhi dengan intrik-intrik politik dalam keluarga. Memperebutkan tahta dan kekuasaan, terutama sepeninggal Hayam Wuruk. Bahkan antara tahun 1453-1456, sempat terjadi kekosongan dalam pemerintahan Majapahit. Nah apa sebenarnya pelajaran yang bisa kita petik dari sini?

Ketika Ego dan Keserakahan mengalahkan rasa Persaudaraan dan Kepedulian pada orang lain, maka ketika itu juga kemampuan manusia untuk berjalan ke arah kejayaan akan memudar. Penguasa sibuk mempertahankan kekuasaannya. Para pendongkel sibuk berusaha merebut kekuasaan. Mereka saling menjatuhkan. Lupa bagaimana cara mengelola negara dengan baik. Lupa memikirkan kesejahteraan rakyat. Perang dan pemberontakan tak terhindarkan. Negara menjadi lemah. Rakyat menderita. Negara yang lemah, dengan sendirinya sangat mudah diguncang dan runtuh.

Hari semakin gelap. Saya tidak mampu lagi membaca. Penjaga pendopo mengajak kami ke bagian belakang Pendopo.

Batu tambatan gajah yang sangat kuat tertancap di tanah.

Batu tambatan gajah yang sangat kuat tertancap di tanah.

Di sana ada sebuah batu tempat menambatkan gajah tunggangan kerajaan. Konon batu itu sangat kuat tertancap ke tanah, sehingga bahkan tenaga gajahpun tak mampu menariknya.

Petilasan Raden Wijaya.

Di balik tembok belakang Pendopo Agung itu ada sebuah pintu. Saya melongokkan kepala saya ingin tahu. Oops! Alangkah terkejutnya saya. Waduuuh! Kuburan!. Rupanya itu tempat pemakaman. Sebuah pohon besar tampak menaungi. Ada jalan kecil membelah tempat pemakaman itu menuju sebuah bangunan kecil mirip rumah penjaga kuburan. Saya tertegun dan menghentikan langkah saya seketika.

Di belakang Pendopo Agung Trowulan.Terus terang saya merasa gentar juga. Demikian juga kelihatannya ke dua teman saya. Mana malam sudah mulai turun pula. Suasana gelap remang-remang. Sekarang saya mulai meratapi keingin-tahuan saya yang terlalu besar, yang mengantarkan saya nyasar ke tempat seperti ini. Tapi sebagai orang yang tertua diantara mereka, dan yang juga memberi ide untuk bermain ke Trowulan adalah saya sendiri, mau tidak mau terpaksa saya menggagah-gagahkan diri saya agar tidak kelihatan takut di depan mereka. Jika saya menunjukkan rasa takut, pasti mereka berdua akan segera lari terbirit-birit. Jadi saya harus kelihatan setenang mungkin.

Tempat apa ini?” tanya saya kepada penjaga Pendopo. “Petilasan Raden Wijaya. Silakan ke sana” jawab bapak penjaga. Entah kenapa saya merasa kalau orang yang ada di dalam bangunan kecil itu sudah tahu, melihat dan menunggu kedatangan saya. Tentu tidak sopan jika saya menolak masuk dan kabur begitu saja. Sekarang saya tidak punya pilihan selain harus lanjut berjalan dan melawan rasa takut saya. Sayapun berjingkat di jalan kecil di bawah pohon yang kelihatan angker dengan makam di kiri-kanannya itu. Kedua teman saya mengikuti dari belakang dengan ragu.

Panggung.

Di depan gerbangnya ada tulisan.”Panggung. Tempat pertapaan Eyang Raden Wijaya. Tempat Pembacaan Sumpah Amukti Palapa Eyang Patih Gajah Mada“. Saya berhenti sejenak. Dari sana saya lalu mengucapkan salam kepada orang yang ada di dalam yang mempersilakan saya masuk. Saya dan teman-teman sayapun masuk.

Petilasan Raden Wijaya dan tempat Gajah Mada mengucapkan Sumpah Amukti Palapa.

Petilasan Raden Wijaya dan tempat Gajah Mada mengucapkan Sumpah Amukti Palapa.

Di dalam ada seorang pria yang kelihatan masih muda duduk di lantai dan menyapa kami. Wajahnya kelihatan tenang dan tampan di bawah sinar lampu kecil.  Beliau memperkenalkan diri sebagai pemelihara tempat itu. Sayangnya saya tidak mampu mengingat nama beliau. Saya menjelaskan perihal diri saya apa adanya. Bahwa beberapa tahun yang lalu saya membaca artikel di Kompas tentang situs Kerajaan Majapahit dan sangat tertarik ingin tahu dan melihat sendiri situs-situs itu, tapi baru bisa datang berkunjung hari ini. Pria itu berkata bahwa tidak ada orang yang datang ke tempat itu jika tidak ada yang menuntunnya ke sana. Jika niat itu sudah lama dan ternyata baru bisa datang hari ini, ya itu artinya bahwa jodohnya memang hari ini. Semuanya sudah atas petunjukNya. Entah karena ucapannya itu atau karena suaranya yang rendah dan lambat, saya menjadi semakin ngeper.

Tapi beberapa saat kemudian saya mulai berhasil menguasai ketakutan saya. Saya lalu diberi penjelasan bahwa tempat ini adalah petilasan dari Raden Wijaya. Petilasan adalah tempat dimana Raden Wijaya melakukan tapa semadhi dan mendapatkan inspirasinya untuk membangun Kerajaan Majapahit. Bukan makam Raden Wijaya. Raden Wijaya tidak dimakamkan, karena beliau adalah penganut agama Hindu Ciwa-Budha yang tentu jasadnya dibakar (diaben/diperabukan) dengan maksud mengembalikan Atma (rohnya) kepada Sang Pencipta, sementara unsur-unsur pembentuk badan kasarnya dikembalikan ke alam (Panca Maha Butha – kembali ke air, ke tanah, ke api, ke udara dan ke cahaya). Jadi tidak ada makamnya. Saya sependapat dengannya.

Namun karena keturunan beliau sangat banyak dan saat ini tidak semuanya menganut agama Hindu-Ciwa, karena sebagian diantaranya ada yang kemudian memeluk agama lain dan ingin melakukan ziarah ke leluhurnya, sementara beliau sendiri tidak punya makam. Maka dibuatkanlah maqom (bukan makam) di tempat itu, sebagai tempat berziarah.

Sedangkan makam-makam yang banyak bertebaran di sekitar tempat itu adalah makam-makam penduduk dari generasi belakangan. Paling banter baru sekitar seratusan tahun umurnya.  Bukan dari generasi Majapahit – demikian penjelasannya.

Selain itu saya juga dijelaskan bahwa di tempat ini dahulunya juga merupakan panggung tempat di mana Maha  Patih Gajah Mada mengucapkan Sumpah Amukti Palapa-nya yang sangat terkenal itu.

Ponco Waliko

Pria itu bercerita panjang dan lebar tentang Raden Wijaya , Gajah Mada dan hal-hal yang berkaitan dengan sejarah Majapahit. Saya mendengarkan dengan takzim. Saya juga dijelaskan tentang tuntunan hidup dari jaman Majapahit yang disebut dengan PONCO WALIKO seperti yang tertera di dinding itu  yang isinya:

1/. Kudu trisno marang sepadaning urip (Harus mencintai sesama mahluk hidup)

2/.Ora pareng nerak wewalering negara (Tidak boleh melanggar hukum negara)

3/. Ora pareng milik sing dudu semestine (Tidak boleh menguasai yang bukan hak miliknya).

4/.Ora pareng sepata nyepatani (Tidak boleh saling menghujat)

5/. Ora pareng cidra hing ubaya ( Tidak boleh melanggar janji).

Petuah hidup yang sangat baik. Jika semua orang di dunia ini berlaku seperti apa yang diajarkan Ponco Waliko itu, tentu dunia akan jauh lebih tenteram dan damai. Semoga kita semua bisa menjalankannya dengan sebaik-baiknya.

Teman saya memberi saya kode kalau kami harus segera ke Surabaya agar tidak ketinggalan pesawat. Saya mencari celah agar bisa memohon pamit dengan sopan  tanpa harus memotong pembicaraan pria itu.  Saya mengucapkan terimakasih atas obrolan dan kesediaannya menerima kedatangan kami.

Sebenarnya, masih banyak  yang ingin saya lihat, dengar dan ketahui tentang Kerajaan Majapahit. Banyak yang belum saya lihat. Namun sayang saya datang sudah terlalu sore. Sudah gelap. Sehingga membuat kunjungan sangat terburu-buru . Baru sempat mengunjungi Pendopo Agung Trowulan itu saja. Suatu saat jika saya memiliki kesempatan, saya ingin datang berkunjung kembali untuk melihat situs-situs Majapahit yang lain.

 

 

Menelusuri Sejarah Majapahit: Pendopo Agung – I.

Standard

Pendopo Agung

Beberapa tahun  yang lalu sebuah artikel di harian Kompas menceritakan tentang penggalian situs yang diduga bekas istana Majapahit di Trowulan. Saya sangat tertarik dengan tulisan itu. Dan memendam keinginan untuk bisa bermain ke sana dan melihat sendiri situs-situs peninggalan kerajaan terbesar di Nusantara itu. Sayang hingga berapa tahun berlalu, niat saya belum juga kesampaian.

Sekembalinya dari Gunung Bromo, saya punya sedikit waktu untuk bermain ke Trowulan di Mojokerto. Jalanan agak macet. Perjalanan dari Probolinggo ke Mojokerto memakan waktu lebih lama daris eharusnya. Sehingga kami baru bisa mencapai Trowulan pukul lima sore. Museum Majapahit sudah tutup. Mencoba mencari tahu di mana persisnya lokasi penggalian situs yang diduga istana itu, sayangnya bolak balik nanya ke penduduk setempat tidak ada yang tahu persis. Pak sopir jadi muter-muter karena informasi berbeda-beda yang kami terima. Sementara hari semakin sore dan saya khawatir gelap malam akan segera tiba. Akhirnya seseorang memberi tahu kami sebaiknya kami berkunjung ke Pendopo Agung saja. Daripada tidak ada situs yang berhasil kami kunjungi hari itu, akhirnya kami pun ke sana.

Petugas yang berjaga di pintu depan Pendopo Agung menemani kami masuk. Pendopo itu adalah bangunan terbuka tanpa dinding. Mirip bangunan bale banjar kalau di Bali. Saya mencoba menerka-nerka, bangunan apakah sebenarnya ini? Terlihat sangat modern dan jauuuuuuuh  sekali dari kesan bahwa itu adalah salah satu situs peninggalan Majapahit. Tidak terlihat bangunan batu bata merah khas Majapahit seperti yang terlihat di photo-photo. Saya dijelaskan bahwa areal itu sekarang merupakan property yang dibangun dan dikelola oleh TNI. Itulah sebabnya mengapa terlihat baru dan modern.

 

Maha Patih Gajah MadaMaha Patih Gajah Mada.

Begitu memasuki halaman depan, kita akan melihat sebuah arca Maha Patih Gajah Mada yang  juga terlihat sangat baru,  dipersembahkan oleh Corps Polisi Militer tahun 1986. Walaupun hati saya  agak kecewa melihat tingkat ke’baru’annya, namun sedikitnya saya terhibur bisa diajak mengenang kembali kebesaran cita-cita dan upaya sang Maha Patih Kerajaan Majapahit yang terkenal dengan Sumpah Palapa-nya itu dalam menyatukan Nusantara. Sebuah cita-cita yang memang selayaknya tetap kita junjung sebagai bagsa Indonesia.

Raden Wijaya

Raden Wijaya Dan Resiliensi Manusia.

Di depan pendopo tampak berdiri sebuah arca baru perwujudan dari Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit. Terus terang, melihat arca itu membuat pikiran saya berlari pesat ke pelajaran sejarah yang dijelaskan oleh Pak Wayan Suta , guru saya saat kelas IV SD.  Apa yang berkecamuk dalam pikiran Raden Wijaya sebagai sang menantu Prabu Kerthanegara – raja Singasari terakhir ketika kerajaan Singasari diserang dan dihancurkan habis oleh Jayakatwang, bupati Gelang-Gelang? Walaupun pasukannya sendiri menang di utara, tetapi sang prabu dan istananya telah hancur diserang dari arah selatan. Tentu beliau sangat kecewa, lelah dan sedih. Namun apakah beliau berputus asa? Tidak! sama sekali tidak!. Yang jelas beliau tetap semangat. Tetap mencari jalan keluar. Dengan bantuan sahabatnya Arya Wiraraja, sang Bupati Sumenep, beliau kembali menyusun strategy-nya dengan baik. Mencari jalan keluar yang lebih baik dan bahkan berhasil membangun  kerajaan baru, yakni Kerajaan Majapahit yang justru jauh lebih besar dan jauh lebih kuat dari kerajaan Singasari sebelumnya.

Guru saya satu itu memang sangat jago bercerita sejarah. Sehingga ketika beliau mengajar, rasanya saya seperti ikut berada di sana. Ikut saat Raden Wijaya terlunta-lunta di dalam hutan, mencari bantuan Arya Wiraraja lalu masuk dan membangun wilayah hutan Tarik.

Saya menundukkan kepala saya. Memberikan penghormatan saya yang tertinggi terhadap Resiliensi yang beliau miliki. Kemampuan yang sangat sangat tinggi dari seorang anak manusia untuk keluar dari permasalahan yang terjadi, menata dirinya kembali, jalan pikirannya, kata-kata serta langkah-langkah yang beliau ambil  untuk akhirnya memenangkan pertarungan dalam kehidupan. Keluar dari kekisruhan Singasari dan membangun kejayaan Majapahit!.

Patih Amangkubhumi Majapahit, Gajah  Mada menyatakan sumpahnya

Sumpah Amukti Palapa.

Di bagian belakang pendopo terdapat dinding dengan relief yang menggambarkan peristiwa pengambilan “Sumpah Amukti Palapa” yang sangat terkenal itu diucapkan oleh Gajah Mada pada saat beliau diangkat sebagai Maha Patih Kerajaan Majapahit. Saya melihat ke relief itu dan membaca kalimat sumpah itu dalam keremangan senja.

Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, ring Tanjung Pura,  ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa.

Artinya kira-kira begini:  Jika Nusantara masih kalah, saya akan amukti palapa. Jika kalah di Gurun, di Seran, di Tanjung Pura, di Haru, di Pahang, Dompo, di Bali, Sunda,Palembang, Tumasik, selamanya saya akan amukti palapa.

Saya tidak tahu persis apa artinya “Amukti Palapa” karena sebagian orang menterjemahkannya sebagai “puasa memakan buah palapa”, sebagian lagi mengatakan “puasa istirahat & tidak mengambil cuti kerja”. Sementara guru saya waktu kelas IV SD  menjelaskan bahwa palapa = rebung bambu muda, yang konon merupakan makanan enak pada jaman dulu.  Sehingga Amukti Palapa arti literalnya adalah “puasa memakan rebung bambu” namun makna sesungguhnya adalah “Puasa dalam menikmati kenikmatan duniawi (tidak makan enak/tidak bersenang-senang/tidak berplesir- ria/tidak berhura-hura, dsb)”. Saya sendiri cenderung mengikuti penjelasan dari bapak Guru saya itu.

Namun demikian, sedikit perbedaan pemahaman buat saya tidak jadi masalah, karena pada prinisipnya semua kita paham bahwa Maha patih dari kerajaan majapahit ini telah bersumpah tidak akan bersenang-senang sebelum Nusantara dapat dipersatukan. Membaca Sumpah yang tertera di dinding itu membuat saya merinding. Darah terasa mengalir sangat cepat. Gajah Mada telah menunjukkan kepada kita bahwa sebuah tekad dalam menentukan cita-cita yang tinggi dan dengan penuh ketekunan melaksanakn apa yang seharusnya dilakukan akan membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Tidak terbayang betapa besar kerja keras yang harus dilakukan untuk menyatukan Nusantara pada jaman itu, namun Maha Patih Gajah Mada  menunjukkan bahwa hal itu sangat mungkin dilakukan dengan keteguhan hati. Dan beliau berhasil!.

Rasanya saya sangat kagum dan terharu memikirkan ini. Gajah Mada dan kebulatan tekadnya. Majapahit yang jaya. Nusantara yang bersatu dan kuat. Semoga Indonesia tetap bersatu dan semakin jaya.

Adakah yang lebih baik dilakukan oleh seorang anak bangsa daripada mempelajari sejarah leluhurnya dan mengambil intisari pelajaran darinya dan berusaha menggunakannya dalam menjalani kehidupannya sehari-hari?

Yuk kita pelajari sejarah kita dan cintai tanah air dan bangsa kita!.