Tag Archives: Urban Farming

Benih Sayuran & Produsennya – Bagian I

Standard

Salah satu pertanyaan yang paling sering disampaikan oleh pembaca blog ke email saya adalah “Bagaimana caranya mendapatkan benih sayuran yang bagus Bu? “. Atau “Di mana ibu membeli benih sayuran?”. Ya jawaban saya biasanya adalah membeli dari toko Trubus, toko Ace Hardware dekat rumah saya atau beli online. Tapi malam ini saya lagi bongkar-bongkar box bibit, saya tertarik untuk mengelompokkan brand-brand dan produsen benih sayuran yang pernah saya beli. 

1. CAP PANAH MERAH.

Benih Sayuran Cap Panah Merah. 

Kelihatannya ini adalah merk bibit sayuran yang paling banyak saya beli. Setidaknya ada 15 sisa benih dan kemasan merk yang diproduksi oleh PT East West Seed Indonesia di Purwakarta  ini. Diantaranya yang pernah saya tanam adalah Pare Hijau, Terong Ungu Hybrida, Timun Putih, Bayam Hijau, Kembang Kol, Melon, Kangkung, Wortel, Tomat, Sawi Putih, Selada Hijau, Pakchoy Hijau, dan sisanya benih bunga / tanamam hias. 

Saya cukup happy menggunakan merk ini selama dua tahun terakhir. Daya tumbuhnya rata rata sangat bagus antara 85-95%. Keterangan pada kemasannya juga cukup jelas. Merk ini bisa saya dapatkan dari Toko Trubus atau Ace Hardware.

Belakangan ini Panah Merah memberi fokus pada kegiatan berkebun di perkotaan /urban farming dan keluar dengan kemasan Jumbo Pack untuk yang ingin menanam dalam jumlah besar dan Starter Pack untuk pemula. Harga per packnya cukup terjangkau walaupun jika dibandingkan dengan merk lokal lain terasa sedikit lebih mahal. Mungkin karena diproduksi di tanah air dengan menargetkan ke petani perkotaan. Sayurannya juga tentu sayuran lokal. 

Ada headline pada kemasannya yang saya suka banget bunyinya “Every one/where, can be a farmer”.  Ya..tentu saja. Asal mau. 

2. MR.FOTHERGILLS.

Benih Sayuran Mr. Fothergill’s

Merk ini menyediakan benih sayuran ‘londo’ karena memang benih import. Diproduksi oleh Mr. Fothergill’s Seds Kentford, Newmarket, UK. Sisa benih/kemasan yang ada di saya itu antara lain Sweet Pepper/Papprika, Cabbage/Kol, Leek/Daun Bawang, Pak Choi Red, Wortel, Chives dan Sweet  Pepper Mini. 

Saya suka dengan merk ini karena menyediakan benih sayuran yang jarang ada di Indonesia.  Terutama dulu saat saya masih rajin menanam bunga bungaan. Nge-fans banget deh. Menurut saya, merk ini yang memberi penjelasan tata cara menanam yang sangat detail. Mungkin keterangan sedetail itu memang diperlukan untuk negara yang memiliki 4 musim. Kadang untuk negara kita yang cuma mengenal musim hujan dan kemarau, keterangan detail itu menjadi agak kurang relevant. 

Walaupun menurut saya ini adalah merk benih yang paling keren, tapi juga memiliki kelemahan. Yaitu daya tumbuhnya tidak sebagus merk lokal -barangkali karena perbedaan cuaca dan temperatur (kecuali Chives-daya tumbuhnya cukup bagus).  Dan tentunya … harganya sangat mahal. Menguras kantong. 

Sama dengan Cap Panah Merah, merk Mr Fothergill’s juga bisa kita dapatkan di toko Trubus dan Ace Hardware.

3. DIOBA SEED

Benih Sayuran Dioba Seed.

Merk ini saya dapatkan dari Toko Trubus. Diproduksi lokal oleh Pt.Griya Tanindo Jaya yang belakangan menjadi PT Dioba Griya Huma Tani untuk PT Trubus Mitra Swadaya.

Benih yang pernah saya beli/ tanam adalah Pakcoy Hijau, Terong Hijau Bulat, Seledri dan Selada Daun. Daya tumbuhnya cukup baik sekitar 80-90%. Penjelasan pada kemasan tentang cara tanamnya sangat kurang. Belakangan saya tak pernah membeli merk ini lagi karena rasanya memang sudah tidak kelihatan lagi. Lot terakhir yang saya miliki yang expiry datenya tahun 2015 -2016. Tetapi saat itu saya cukup happy dengan merk ini. 

4. JAWARA.

Benih Sayuran Jawara.

Ini adalah merk yang paling sering saya pakai setelah Panah Merah. Diproduksi lokal oleh CV ENNO & CO SEED di Jember.Merk ini dangat cocok untuk petani lokal.Untuk skala pertanian yang cukup besar untuk industri.  Karena selalu memberikan quantity yang banyak dengan harga yang bagus dan quality juga baik. 
Daya tumbuhnya selama ini cukup bagus sekitar 85% kecuali jika sudah lama tersimpan. Dari merk ini saya pernah menanam Pare Hijau, Kemangi, Kangkung, Caisim Manis, Tomat, Bayam Merah, Bayam Hijau, Cabe Rawit Putih. Kelihatannya memang fokus pada sayuran yang umum diperdagangkan di pasar lokal. 

Sekian dulu cerita saya tentang benih sayuran kali ini. Nanti akan saya lanjutkan lagi dengan cerita Bagian II.

Dapur Hidup: Tiga Jenis Tomat Yang Saya Tanam Di Halaman.

Standard

Salah satu tanaman Dapur Hidup yang sangat penting bagi saya adalah tomat. Karena tomat digunakan setiap hari dan pada banyak jenis masakan yang terhidang di meja makan saya. Dan terutamanya..sambal tomat. Setiap orang di keluarga saya menyukai sambal tomat. 

Ini adalah beberapa jenis tomat yang pernah /sedang saya tanam sebagai koleksi Dapur Hidup di halaman rumah saya.

1.Tomat Cherry Kampung.


Tomat Cherry Kampung

Tomat ini ukurannya sangat kecil-kecil. Kira-kira seukuran kelereng. Rasanya agak asam segar. Tetap sangat menarik untuk dimakan mentah ataupun dibuat sambal. Saya senang mencampurkannya dengan salad. 

Tomat Cherry Kampung

Mengapa namanya saya kasih embel-embel “kampung”?. Karena tomat ini banyak saya temukan di kampung saya di Bali dengan nama Tomat Gerongseng atau “Gereng-Gereng”. Dan karena kampung saya adalah penghasil tomat berkwalitas super dengan ukuran super besar,  tomat ini sering dipandang sebelah mata dan tidak dimanfaatkan. Dibiarkan saja liar dipinggiran tegalan tanpa ada yang peduli. 
Untuk tanaman yang di halaman ini pun saya mendapatkan bibitnya pertama kali dari kampung di Sukabumi.

Jadi baik dari segi ukuran, rasa dan bentuknya memang berbeda dengan tomat cherry yang sering kita beli dari Supermarket yang mana umumnya bijinya import. 

2. Tomat Mutiara

Tomat Mutiara

Tomat Mutiara adalah tomat berukuran sedang dengan bentuk bulat mulus berkilau bak mutiara. Nggak heran diberi nama Tomat Mutiara.

Tomat Mutiara

Benih tomat ini saya dapatkan dari toko Trubus.Dan ini adalah jenis tomat yang benihnya paling banyak saya lihat dijual. Juga paling banyak dijual di tukang sayur.
Rasanya lebih manis dibanding tomat cherry kampung. 

3. Tomat Beefsteak

Tomat Beefsteak.

Ini adalah tomat ukuran sedang yang belakangan ini paling sering saya upload di sosial media, baik di Facebook maupun di Instagram. 
Alasannya karena bentuk tomat ini mengingatkan saya akan jenis tomat jaman dulu yang ada di tanah air sebelum jenis tomat yang halus mulus seperti mutiara datang dan membuat tomat jadul itu kehilangan perhatian dan akhirnya lenyap dari pasar. Bentuknya berlobus lobus. Rasanya menurut saya malah lebih manis. 

Tomat Beefsteak hasil panen dari halaman.

Saya mendapatkan benihnya secara online. Menanamnya di dalam pot. Dan lumayan juga hasilnya. 
#tomat

Biji Kangkung Dan Persemaiannya.

Standard

​​Saya punya sebungkus biji kangkung. Saya beli sekitar tahun lalu. Isinya banyak. Tapi karena lahan saya untuk menanam sangat terbatas hanya di halaman, biji kangkung ini pun belum habis juga. Belakangan saya perhatikan kok yang tumbuh tidak sebanyak dulu ya?.Padahal dulu -dulu rasanya berapapun biji kangkung  yang saya tabur, ya sebanyak itulah yang tumbuh. Jika tidak bisa dibilang semuanya, ya paling tidak sebagian besar pastilah tumbuh.  Apa jangan- jangan sudah kelamaan? Sudah expired?. Buru-buru saya memeriksa kemasannya. Oh!. Ternyata bukan!. Masa expiry datenya masih jauh. March 2017. Jadi apa permasalahannya?. 

Saya mencoba memikirkan segala kemungkinan yang terjadi. Apa yang berbeda?.Apa karena cara saya menyemaikan kini berbeda dengan sebelum-sebelumnyanya? Dulu saya menaburkan biji biji di tanah dan memindahkannya ke polybag jika sudah tumbuh. Sekarang saya lebih banyak menanam dengan cara hidroponik. Jadi saya menyemainya di atas rockwool yang basah. Apa barangkali cara menanam saya yang berubah ini yang menyebabkan terjadinya penurunan tingkat persemaian biji kangkung ini ya? 

Daripada penasaran, saya pun melakukan percobaan sederhana dan melakukan pengamatan setiap hari terhadap biji biji kangkung yang saya semai dengan 3 macam perlakuan yang berbeda:

1/. Biji langsung ditabur di tanah dalam pot.

2/.Biji diletakkan di atas rockwool basah.

3/. Biji direndam semalam dalam air lalu ditiriskan di atas wadah saringan. 

Saya nenempatkan ketiga perlakuan ini pada tempat yang sama, bersebelahan satu sama lain untuk meminimalisir pengaruh cahaya dan lingkungan. 

​Biji biji kangkung inipun mulai tumbuh. Saya melakukan penghitungan. Hasilnya:
1/. Tingkat keberhasilan persemaian pada perlakuan 1 (langsung di tanah dalam.pot) =27.5%.

2/. Tingkat keberhasilan persemaian pada perlakuan 2 (rockwool) = 25%.

3/. Tingkat keberhasilan persemaian pada perlakuan 3 (rendam dan semai di atas saringan) = 13.3%. 

Hasilnya tidak terlalu jauh berbeda antara perlakuan 1 &2. Hanya pada perlakuan 3 yang cukup besar perbedaannya. Tapi hasilnya buruk semua. Karena tingkat persemaian sangat rendah di ketiga perlakuan ini.  semuanya jauh di bawah 95%. Belum mampu menjawab rasa penasaran saya dengan baik. 

Saya masih curiga jika bibit ini sedungguhnya sudah mulai kadaluwarsa.Walaupun jemasannya mengatakan tidak. 

 Akhirnya saya pergi ke toko Trubus untuk membeli biji biji baru. Sambil membayar sayapun ngobrol dengan petugasnya. Menceritakan tentang biji kangkung saya yang tingkat persemaiannya menurun. Saya mendapat masukan jika sebaiknya saya menyimpan biji biji sayuran dalam kondisi yang di”seal” rapat rapat kembali. Jangan dibiarkan terlalu lama kontak dengan udara luar. Saya mendengarkan masukan ini untuk pembelajaran saya dalam menanam sayuran. 

Saya mencoba mengingat-ingat. Dari sekian kali membuka dan menabur biji biji kangkung ini, rasanya saya memang tidak selalu disiplin  menyimpannya dengan baik. 

Biji kangkung yang baru saya beli segera saya semaikan di atas rockwool yang basah. Dan tingkat persemaiannya mencapai 99%. 

Jadi pelajarannya dalam mengelola biji biji sayuran buat saya adalah memastikan masa kadaluwarsa adalah satu hal penting.Namun lebih penting lagi adalah bagaimana menangani dan menyimpan benih yang tersisa agar bisa digunakan dengan optimal di kemudian hari. Intisarinya, benih baik yang belum sempat disemai perlu disimpan dengan baik agar tidak kekeringan dan terkontaminasi. 

Dan jika dinalogikan ke dalan kehidupan kita, ini serupa dengan pelajaran bahwa jika kita memiliki benih-benih pemikiran maupun ide ide yang baik yang belum sempat kita utarakan, alangkah baiknya jika kita simpan di tempat yang baik dan rapat kemurniannya agar tidak keburu hilang, menguap ataupun terkontaminasi pemikiran lain yang lebih buruk. Harapannya, suatu saat jika ada kesempatan untuk membukanya, maka ide ide dan pemikiran baik ini akan berguna bukan hanya untuk diri kita sendiri tetapi juga bagi orang orang di sekeliling kita. 

Hydroponik Tanpa Listrik.

Standard

image

Saat ini hydroponik merupakan instalasi andalan saya dalam berkebun karena sangat praktis dan tak menguras tenaga. Sayangnya karena menggunakan listrik untuk menyalakan pompa airnya (walaupun kecil karena pompanya hanya pompa aquarium 35  watt) saya sering was-was jika rumah harus saya tinggalkan kosong dengan listrik tetap menyala.

Karenanya saya mulai memikirkan alternatif lain dalam berkebun hydroponik. Ada nggak ya cara berhydroponik tanpa listrik?.

Teringat jaman dulu di sekolah saya waktu SD, dinding sekolah dihiasi dengan tanaman sirih yang ditanam dalam media air dalam bola lampu yang sudah tidak dipakai. Barangkali cara menanam seperti itu bisa saya jadikan alternatif.

Sangat beruntung, saya melihat sebuah contoh hydroponik dengan menggunakan sumbu dari kain flanel untuk menaikkan air agar selalu basah. Mirip cara kerja lampu teplok. Sangat sederhana.  Peralatan yang dipakai hanyalah baskom untuk menampung air. Styrofoam untuk menutup wadah air dan menjadi tandalan tanaman. Lalu kain flanel bertindak sebagai pipa kapiler untuk mengangkat air dari baskonm ke akar tanaman. Dan tentunya mangkok hydroponik beserta rockwool sebagai media tanam.

image

Sayapun mulai mencoba membeli contoh dan peralatannya. Styrofoam dan alat pemotongnya. Pekerjaan memotong saya lakukan sendiri.  Juga membuat lubang tanam. Tidak sulit mengerjakannya. Di bagian pinggir styrofoam saya kikis sedemikian rupa agar tutup styrofoam tepat bisa nenutup baskom air dan tak mudah digeser. Untuk sumbu saya menggunakan flanel bekas prakarya anak-anak.

Bibit yang saya coba pakai adalah Sam Hong, sejenis sawi yang berdaun lebar berpelepah putih. Saya ambil sebutir biji lalu saya semai di dalam rockwool. Demikian seterusnya hingga saya dapat beberapa. Saya memajai wadah apa saja yang tersedia di rumah dan nganggur. Untuk penampung air, selain wadah air persegi, saya juga memanfaatkan baskom plastik bulat yang bibirnya sumbing dan tak terpakai lagi. Juga ember yang tak terpakai.

image

Seminggu kemudian biji tumbuh. Saya diamkan beberapa hari untuk memastikan daunnya telah tumbuh 3-4 lembar, lalu saya pindahkan ke wadah hydroponik tanpa listrik.

image

Hasilnya? Tidak kalah dengan yang di instalasi hydroponik berlistrik.

image

Daun daun Sam Hong satu per satu tumbuh membesar. Saya menambahkan pupuk cair organik seminggu sekali. Tanaman makin subur.

image

Dan saya tidak was- was lagi meninggalkan tanaman ini, entah karena urusan personal atau urusan kerja ke Bali, ke Jogja ataupun ke negeri tetangga selama beberapa hari, karena saya tidak menggunakan listrik. Yang perlu saya pastikan hanya level airnya saja harus penuh sebelum saya tinggalkan. System kapilaritas yang dilakukan oleh flanel sebagai sumbu akan tetap menjaga ketersediaan air bagi tanaman.

Demikian cerita Dapur Hidup saya kali ini. Yuk kita semangat berkebun hydroponik.  Tak usah khawatir jika tidak ada listrik. Bisa kok!.

Dapur Hidup: Lengkio, Si Bawang Mini.

Standard

image

Suatu kali saya berbelanja di pasar traditional di daerah Ciledug. Saat membeli kebutuhan dapur saya melihat ada seikat tanaman kering tergantung. Mirip bawang merah.Tapi kok sangat kecil?. Dan warnanya juga bukan merah.

Mirip kucai, tapi ini kok dijual dengan umbi-umbinya?. Lagipula daunnya kelihatan berbeda juga dengan Kucai, walaupun sepintas kelihatan agak mirip juga. Sudah terlalu kering dan menghitam. Jadi saya sulit mencari perbedaannya. Tapi saya  yakin tanaman itu bukan Kucai.

Saya belum pernah melihat tanaman itu sebelumnya. “Apa itu?”tanya saya keheranan. “Ohhh… itu Lengkio, Bu” kata pedagang itu. Saya semakin heran. Karena belum pernah mendengar nama tanaman itu.

“Untuk apa?” tanya saya lagi. Ibu pedagang itu menjelaskan bahwa Lengkio bisa digunakan untuk campuran berbagai masakan. Misalnya buat asinan, mie goreng, nasi goreng dan sebagainya bahkan umum juga ditumis. Oooh…begitu ya. Saya belum pernah tahu sebelumnya.

Karena penasaran, saya menyatakan  keinginan  saya untuk membeli. Saya lihat masih ada sisa sisa kehidupan di tanaman kering itu. Saya pikir jika saya tanam lagi mungkin bisa. Buat nambah koleksi Dapur Hidup saya. Akhirnya tanaman yang sudah sangat sekarat itupun saya bersihkan dan tanam kembali di rumah.

Demikianlah ceritanya, bagaimana saya mendapatkan bibit Lengkio saya yang pertama. Sekarang saya memiliki beberapa rumpun tanaman Lengkio yang bisa saya ambil setiap saat saya membutuhkannya.

Lengkio atau  Lo kio, atau Chives (Allium Schoenoprasum) adalah keluarga bawang-bawangan yang berukuran mini. Memiliki umbi lapis yang serupa dengan bawang merah. Bedanya, bawang kecil ini berwarna putih kehijauan, sedangkan bawang merah jika kering lapis umbi terluarnya berwarna merah.

Daunnya panjang, sekitar 10-15 cm. Baru saya perhatikan, bentuk daunnya cylinder seperti daun bawang merah. Bukan pipih seperti jenis daun bawang putih. Nah jadi di sana letak bedanya dengan daun kucai. Daun kucai berbentuk panjang gepeng dan baunya juga lebih mirip bawang putih. Sedangkan Lengkio lebih dekat ke bawang merah.

Saya sudah pernah mencoba menumis. Rasanya lumayan juga sih. Enak.

Satu lagi dari Dapur Hidupku.

Seusai Panen.

Standard

Panen! Semua orang sangat senang dengan musim ini. Musim dimana jerih payah kita menanam mulai terlihat dan menghasilkan untuk memenuhi kebutuhan hidup kita. Tomat dan cabe memerah, buah pare, terong dan timun membesar, daun daun bayam, kangkung, pakcoi, caisim, pagoda, kailan dan sebagainya tumbuh subur dan lebar lebar menghijau. Semua senang.  Segar dan cerah sepanjang mata memandang. Bahkan yang tidak menanampun ikut senang jika melihat hasil panen.

Tapi adakah yang teringat bagaimana pemandangan setelah musim panen?  Tidak ada lagi hijau, merah , kuning ataupun ungu cemerlang. Yang ada hanya warna kuning, coklat melayu. Kering dan kusam. Saya rasa pemandangan ini lebih banyak menjadi keseharian para penanam ketimbang penikmat.

Saya membicarakan ini karena kebetulan saat ini instalasi hydroponik di halaman saya sudah melewati masa panen. Tampak kotor dengan sisa sisa batang yang habis dipetik, bekas-bekas akar, daun kering, bekas rockwool yang berlumut dan hydroponik cup yang kotor. Apa yang harus dilakukan?
Ya… saya harus membersihkan instalasi serta mendaur ulang penggunaan mangkok tanaman. Wah.. ini bagian “dirty job”nya yang saya pikir mungkin kebanyakan orang malas melakukannya. Semua pengen saat bagian panennya saja. Tapi karena saya masih pengen menanam sayur lagi, baiklah saya harus tekun  juga membersihkannya biar bisa dipakai lagi dengan baik.
Inilah biasanya yang saya lakukan seusai panen…

1/ Membersihkan instalasi hidroponik.

image

Instalasi ini perlu dibersihkan dan diperiksa secara berkala untuk memastikan semua aliran air berjalan lancar. Terutama jika kita menggunakan sekam sebagai media tanam dan untuk memegang system perakarannya, endapan sekam bisa jadi menyumbat aliran air.
Pertama angkat semua mangkok bekas tanaman. Bersihkan bagian dalam pipa dan angkat semua sisa sekam, sisa akar maupun lumut yang menempel. Semprot bagian dalam dengan selang dan buang airnya.
Sikat bagian luar dan bersihkan sisa sisa daun kering yang menempel di dinding pipa.Bilas dengan air bersih.

2/. Membersihkan mangkok tanaman. 

image

Mangkok tanaman hidroponik sangat penting peranannya dalam menunjang tanaman. Karena nenempel dengan rockwool dan akar tanaman, mangkok akan penuh dengan sisa-sisa akar, bekas potongan batang, daun kering dan bahkan lumut, rockwool ataupun sekam jika kita menggunakan sekam.
Keluarkan semua residu tanaman dan media dari dalam mangkok. Cuci di bawah air nengalir. Sikat kotoran dan lumut dengan sikat gigi bekas. Untuk membantu memastikan mangkok bersih dari bakteri dan jamur, setelah disikat bersih mangkok -mangkok hidroponik ini saya letakkan di ember lalu seduh dengan air panas. Saya rendam beberapa menit barulah kemudian saya angkat dan tiriskan hingga mangkok-mangkok itu kering. Nah sekarang mangkok-mangkok itu bersih deh dan siap digunakan untuk menanam lagi.

3/. Polybag.

image

Jika kita bertanam dalam polybag atau botol bekas dan sebagainya yang terbuat dari plastik, sebenarnya kita bisa melakukan hal yang sama jika kita mau.
Tergantung jenis tanamannya, menurut pengalaman saya rata-rata polybag masih bisa kita pakai berulang 3-4 x siklus tanam sebelum akhirnya getas, sobek dan menjadi sampah.
Cara yang saya lakukan sama saja. Saya keluarkan tanah dan bekas tanamannya. Lalu saya lipat rapi lagi atau kadang-kadang jika lagi rajin dan punya waktu saya cuci di air mengalir lalu keringkan. Lalu saya pakai untuk tanaman baru saat bibit sayuran baru sudah tersedia. Atau jika bibit sudah ada, saya langsung isi lagi dengan media baru dan bibit sayuran baru.

Saat ini saya masih belum bisa lepas dari penggunaan barang-barang berbahan dasar plastik. Tentu banyak alasannya. Mulai dari ketersediaan barang pengganti berbahan baku lain yang lebih ramah lingkungan yang  belum tentu ada hingga masalah biaya serta efisiensi. Tapi saya pikir, walaupun begitu saya masih bisa peduli terhadap lingkungan dengan cara lain.

Kita bisa membantu mengurangi sampah plastik tidak saja dengan mengurangi penggunaan plastik, tetapi juga dengan menggunakan benda benda plastik itu di sekitar kita itu berkali-kali.

Yuk kita cintai lingkungan hidup kita. Ciptakan lebih banyak ruang hijau. Lepaskan lebih banyak oksigen di halaman rumah dan recycle benda-benda berbahan dasar plastik.

Urban Farming: Daun Pepaya Jepang.

Standard

Sekitar satu setengah tahun yang lalu saya pernah menulis tentang beberapa jenis sayuran yang relatif baru di dapur saya. Nah diantara sayuran yang belum lama saya kenal itu, saya ada menulis Daun Pepaya Jepang. Saya membayangkan pohonnya  tentu seperti pohon pepaya namun kecil-kecil. Saya tak pernah melihat sebelumnya.

Tak disangka, rupanya setahun setelah itu saya mulai menanam pohon Pepaya Jepang ini di halaman rumah saya dalam rangka menopang program ‘Dapur Hidup’ saya. Walaupun tinggal di daerah perkotaan dengan halaman sempit, saya tetap berusaha mengurangi ketergantungan akan kebutuhan dapur, jika tidak bisa disebut sebagai berupaya melakukan swa sembada kebutuhan dapur dari halaman sendiri.

Bagaimana asal muasalnya, mengapa saya bisa memilih tanaman ini sebagai salah satu penghuni Dapur Hidup saya?. Nah.. ini sebenarnya bermula dari sebuah ketidak sengajaan.

Pak Sopir yang mengantarkan saya tiba-tiba bertanya saat kami sedang di jalan “Ibu! Tahu nggak Ibu sayuran Daun Pepaya Jepang?” tanyanya. Ia memang suka mengajak saya ngobrol atau menanyakan pendapat saya tentang berbagai hal yang menarik perhatiannya. Tentang apa saja.

Oh? Saya yang sedang asyik bermain games di jok belakang langsung menutup hape saya. Tentu saja saya tahu. Saya adalah salah seorang ibu rumah tangga yang sangat terkesan akan sayuran itu. Bentuknya mirip daun pepaya tetapi kecil-kecil, sedangkan rasanya seperti daun singkong dan tidak pahit sama sekali. Jadi lumayan membantu banget kalau lagi pengen masak daun pepaya tapi nggak mau pahit.

Pak Supir lalu bercerita, bahwa neneknya yang tinggal seorang diri dulunya sering berjualan daun pepaya jepang untuk menyambung hidupnya. “Ooh? Sekarang masih?” tanya saya. “Sekarang sudah tidak lagi, Bu. Tapi pohonnya masih ada. Ibu mau? Nanti saya bawain” katanya menawarkan. Tentu saja saya langsung mengiyakan dengan senang hati. saya memang sudah lama penasaran akan wujud pohon pepaya Jepag ini.Karena yang saya tahu hanya daunnya dari tukang sayur.

Akhirnya esok harinya Pak Supir membawakanlah saya batang tanaman pepaya jepang ini ke rumah utnuksaya jadikan bibit.  Oooh..jadi begini bentuknya!. Saya mengamat-amati batang tanaman itu.

Bentuknya rupanya mirip dengan batang Ubi Kayu alias singkong. Tapi menurut Pak Supir tanaman ini tidak berumbi. Jadi tidak dibudidayakan orang untuk umbinya. Tidak pula berbuah seperti pepaya.  Hanya berbunga saja kecil-kecil mirip bunga tanaman Jarak mini (Jatropha) bentuknya. Tanaman yang aneh. Berdaun seperti pepaya (Carica) berbatang seperti singkong (Manihot) dan berbunga seperti jarak (Jatropha). Saya terheran-heran, bagaimana dua tanaman yang berada dalam 2 family yang berbeda bisa memiliki kesamaan daun seperti ini. Tapi setelah melihat batang dan bunganya, saya cenderung berkesimpulan bahwa tanaman ini lebih dekat ke  family Euphorbiaceae ketimbang ke family Caricaceae (pepaya).

Ada beberapa batang. Ada yang saya tanam di pot, dan ada juga yang saya tanam di polybag. Tidak ada perbedaan perlakuan ekstreem antara yang di pot dengan yang di polybag. Sama saja suburnya. Tetapi ternyata ada perbedaan kecepatan pertumbuhan antara yang diletakkan di halaman belakang  dengan yang diletakkan di halaman depan di dekat kolam. Yang di dekat kolam dan kecipratan air, ternyata lebih hijau dan subur,

Dalam beberapa minggu ternyata daun pepaya jepang ini sudah bisa dipanen. Lumayan kan buat nambah variasi masakan di dapur? Daunnya bisa ditumis, dimasak kuah santan, atau mau dijadikan botok, diurap, dikasih teri, atau direbus dijadikan lalap dan dicocol sambel terasi juga enak sekali. Tinggal petik segar-segar dari halaman. Diolah. Segar dan manis.

Itulah tanaman pepaya Jepang. Salah satu tanaman sayuran yang layak sekali masuk ke dalam daftar “Dapur Hidup”kita. Menanamnya mudah dan pemeliharaannya juga mudah.

Lumayan banget buat irit-irit belanja dapur.

 

Dapur Hidup: Seledri Sayuran Multi Fungsi.

Standard

 

2015-12-24-18.19.08.jpg.jpegSeorang saudara saya (kakak) saya bertanya, “Hai gimana kabar tomat-tomatmu?“. Rupanya saudara saya itu ikut-ikutan semangat berkebun sayur. Ia mengatakan kalau ia juga terinspirasi oleh tulisan saya tentang Dapur Hidup dan mulai menanami areal-areal kosong di sekitarnya dengan cabe dan tomat. Bahkan berencana akan segera menanam kol juga. Ha ha..yes!. Saya senang.  Jadi lumayan dong ya..saya bisa mengajak-ajak untuk giat berDapur Hidup.

Menjawab soal tomat, saat ini di lahan sempit pekarangan saya sedang tidak ada tomat. Sudah habis. Karena setelah 7x panen pohonnya sudah menua dan meranggas. Saya memutuskan untuk mencabutnya saja. Dan baru mulai membibit lagi.  Tanaman sayuran hijau seperti pakchoi dan selada serta kangkung juga masih kecil-kecil dan belum siap panen. Lalu apa yang ada di halaman rumah kali ini?

Setidaknya hari ini  saya masih punya pare dan timun untuk dipanen  Juga masih ada banyak tanaman bumbu dapur. Apa saja sih?. Salah satunya adalah Seledri (Apium graveolens).

Di Bali orang cenderung menyebut Seledri dengan nama Suladri. Karena awalan kata Su berarti bagus/baik,maka mendengar nama Suladri terasa sangat nyaman di telinga. Kesannya seperti sesuatu yang mengakibatkan hal baik.

Pada kenyataannya, tanaman ini memang memegang peranan penting di dapur. Walaupun fungsinya sebagai pelengkap rasa, seledri dibutuhkan di banyak masakan. Bikin soto enak ditaburi  seledri. Bikin bubur ayam juga enak ditaburin seledri. Bikin perkedel kentang juga pakai seledri. Bikin bakwan jagung, bakwan sayur pakai seledri. Bikin sup pakai seledri. Dan masih banyak lagi jenis masakan, hingga ke kripik kripik pun ada yang pakai seledri.  Seledri dengan rasanya yang khas, memberikan sentuhan tersendiri pada masakan yang kita sajikan.

Selain buat masakan seledri secara traditional juga banyak dimanfaatkan untuk kesehatan dan perawatan. Sejak kecil kita sering mendengar jika air remasan daun seledri digunakan untuk keramas, dengan maksud untuk membantu menyuburkan rambut. Tak heran jika ada beberapa shampoo juga menggunakan extract seledri di dalamnya. Ada juga wanita yang memanfaatkan tumbukan daun seledri untuk memasker wajahnya agar halus dan cerah.

Seledri juga sangat disarankan untuk dikonsumsi untuk memperkuat penglihatan, karena kandungan Vitamin A-nya yang tinggi.  Lalu kita juga mendengar jika banyak orang memanfaatkan daun seledri untuk menurunkan tekanan darah tinggi, penurun kolesterol, sebagai diuretika dan sebagainya. Karena manfaatnya yang banyak, tentu akan sangat menguntungkan jika selalu kita siagakan di halaman rumah ya. Saya memasukkan seledri sebagai salah satu tanaman Dapur Hidup saya.

20151224_165551.jpgBenih berupa biji bisa kita dapatkan dari Toko Trubus. Biji seledri berukuran sangat kecil-kecil dan ringan. Dan mudah beterbangan jika kita tidak hati-hati  membukanya. Teksturnya mirip biji ketumbar. Tetapi jika biji ketumbar bentuknya bulat-bulat, biji seledri bentuknya lucu, melengkung lengkung.

Biji-biji ini saya taburkan di dalam pot tanaman hias Lidah Mertua yang tetap saya jaga kelembabannya. Masa tumbuhnya sangat lama. Kalau tidak salah saya harus menunggu selama 3-4  minggu. Tiada kunjung kelihatan gejala-gejala kehidupan sedikipun. Hingga nyaris saya pikir tidak berhasil hidup. Setelah kurang lebih sebulan barulah saya lihat ada titik-titik hijau muncul dipermukaan tanah.  Dan pertumbuhannya pun lambat juga. Sangat berbeda dengan biji tanaman lain seperti Caisim atau Pakchoy yang hanya dalam hitungan  1-2 hari atau maximum 3 hari sudah ada muncul putiknya.

 

 

20150907_073823.jpgSeledri membutuhkan air yang banyak. Jadi kita harus rajin-rajin menyiramnya dan menempatkannya di tempat yang teduh. Jangan dipanggang di bawah terik matahari.

Seledri ini menurut saya adalah tanaman yang sejak benih sudah indah. Saya sangat menyukai bentuk daun seledri. Berbentuk trisula tumpul dan bergerigi. Dan keindahannya ini sudah tampak bahkan sejak tanaman ini masih bayi.

Setelah daunnya minimal 4 buah, saya mulai memindahkannya satu per satu. Sebagian saya tanam di polybag dan sebagian lagi ada juga yang saya tanam dengan system Hydroponik.

SeledriUntuk yang di polybag membutuhkan perhatian khusus, karena harus rajin disiram. Pupuk humus atau pupuk kandang tentu sangat baik. Bisa juga kita menyiramnya dengan air  bekas cucian beras. Untuk hydroponik saya hanya memberikannya pupuk organik cair.

Beberapa minggu setelah itu, tanaman seledri saya sudah mulai bisa dipetik jika dibutuhkan untuk masak. Nggak perlu lagi membeli daun seledri dari tukang sayur. Karena kini saya sudah bisa memetik yang lebih segar dari halaman.

Nah.. membuat Dapur Hidup nggak pernah rugi kan!. Yuk kita semangat membuat Dapur Hidup sekaligus menghijaukan halaman rumah kita.

Go green yuk! Go green!.

Dapur Hidup: Timun, Panen Yang Ke Dua.

Standard

 

20151212_125656.jpgTimun di halaman rumah sungguh pandai membuat kejutan. Setelah minggu yang lalu saya panen – lumayan dapat 6 buah – hari Minggu pagi  saya melihat ada lagi buahnya yang bergelantungan. Tiba tiba kok sudah besar-besar. Cepat sekali.  Wah…terlambat manen lagi nih.

Sebenarnya suami saya sangat suka mentimun yang kecil-kecil dan muda untuk lalap. Kalau sudah sebongsor ini ya.. mulai kelihatan kurang appealing untuknya.

Tapi tidak apa apalah. Jika tidak dipetik sekarang ia akan menjadi semakin tua lagi dalam beberapa hari. Saya petik lagi buahnya satu persatu dengan menggunakan galah yang diujungnya disambung dengan jaring untuk memastikan buah tidak jatuh saat ditarik. Lumayan dapat 7 buah. Sayangnya yang satu keburu dimakan sehingga tak sempat difoto deh.

Kalau dipikir -pikir punya Dapur Hidup itu enak juga. Ada beberapa tanaman dapur hidup yang bisa dipanen berulang. Contohnya  tomat – saya sempat memanen buahnya dalam jumlah yang lumayan banyak (minmal 1/2 kg) sebanyak 7x  sebelum pohonnya tua dan meranggas dan akhirnya saya cabut. Demikian juga pare, terong, bayan, kangkung dan sebagainya. Saya bisa panen beberapakali.  Termasuk timun ini. Kita hanya perlu sekali menanam. Tetapi setelahnya kita bisa memanen beberapa kali.

Nah..yang mau saya tunjukkan di sini adalah bahwa bercocok tanam itu sebenarnya tidak terlalu repot. Hanya sekali saja kok. Dan jika kita sibuk bekerja, kita bisa melakukannya di akhir pekan. Ya…sisanya paling nyiram saja. Jika musim kemarau. Jika musim hujan, alampun ikut membantu kita menyiram.

Jika kita rajin menanam, maka kita bisa rajin memanen juga. Dan apa yang kita tanam, itu juga yang kita hasilkan.Jika kita menanam tomat, tentu kta akan memanen tomat yang berlimpah.Jika yang kita tanam adalah terung,  kelak yang akan kita panen adalah terong. Sangat mirip dengan perbuatan kita sehari-hari ya. Jika kita banyak tersenyum kepada orang lain, maka akan banyak pula senyum yang kita dapatkan kembali.  Jika kita ramah terhadap orang lain, niscaya keramahan juga yang akan banyak kita terima. Menanam perbuatan baik, akan menghasilkan kebaikan. Sebaliknya jikakeburukan yang kita tanam,makayang kita dapat adalah keburukan juga.

Yuk kita menanam hal-halyang baik!.

Dapur Hidup: Kejutan Dari Si Timun Putih.

Standard

Hai! Saya memanen timun dari halaman. Memanennya tanpa rencana. Gara gara saya baru ngeh kalau ada buah timun yang sudah cukup besar ternyata bergelantungan di tembok bagian atas ketutupan daun yang rimbun. Anak saya yang kecil yang pertama kali melihat dan memberi tahu saya.

Buah timun baru petik dari pohon. Lengkap dengan getah dan duri-durinya. Rasanya jauh lebih segar dari buah timun yang dibeli dari pasar maupun supermarket.

20151206_094050.jpg

Bagaimana ceritanya kok bisa nanem timun di halaman rumah?.  Terus terang sjak awal saya sangat tertarik pada tanaman cucurbitaceae. Timun, pare, oyong, melon, semangka, belewah, beligo, timun suri, labu siam, labu parang dan sebagainya.Saya suka melihat lihat dan  membaca-baca artikel tentang keluarga tanaman ini. Sayang sekali saya tidak punya lahan yang cukul luas agar bisa menanamnya. Tanaman ini butuh area yang luas karena merambat kemana mana. Sementara halaman rumah saya terbatas. Dan sudah penuh pila saya tanami dengan cabe, tomat, terong, pare, kemangi, bawang daun, jahe, kunyit, seledri dan lain lain kebutuhan dapur sehari-hari.

Tapi saya tidak mau menyerah. Jadi dimana akan  saya tanam biji timun ini?  Di pot yang akan saya letakkan di pinggir tembok. Dan saya rambatkan batangnya ke tembok. Mulailah saya membuat rambatan kawat ke tembok.
Tanam biji timun putih. Dua biji, dua biji di setiap lubang dekat kawat. Untuk antisipasi jika ternyata ada yang mati.
Hanya dalam beberapa hari sidah tumbuh. Dan tumbuh terus dengan cepat merambat di tembok. Hanya sayangnya setelah berbunga kok  pada rontok. Tak ada satupun yang saya lihat menjadi buah. Setiap hari saya periksa tapi kok pada rontok semua.

Rupanya buah yang di batang bagian atas tidak kelihatan oleh saya, karena tertutup daunnya yang rimbun. Hari ini tiba tiba anak saya melihat ada buahnya. Benar-benar sebuah kejutan yang menyenangkan di hari Minggu.

Dengan semangat kamipun menyibak nyibak daun tanamam itu. Eh..ternyata ada lebih dari satu. Sebenarnya agak ketuaan sedikit kelihatannya. Kami lebih suka mengkonsumsi timun muda. Sayang waktu ukuran dan umurnya tepat untuk dipanen kami tidak melihatnya. Nggak apa apalah. Nggak terlalu tua juga kok.

Bagaimana cara memetiknya? Tinggi begitu. Anak saya mencoba memetik sebuah dengan galah. Tapi …prakkk! Timunnya retak karena jatuh ke halaman yang ditutup cone block. Yaaah…. sayang ya.
Oke. Anak saya tidak kehilangan akal. Pakai galah disambung serokan ikan yang sudah dicuci terlebih dahulu. Asyiiiik!.

Sekarang buah timun bisa dipetik tanpa pakai acara jatuh. Tapi ada juga sih yang karena ditarik, batangnya ikut tertarik ke bawah dan anak saya bisa menggapai dan memetiknya langsung dengan tangan.
Lumayan dapat 6 buah. Seneng banget hati saya.

Timun (Cucurbitae sp) adalah salah satu tanaman dari keluarga timun-timunan yang umum dikonsumsi manusia. Tanaman merambat ini memiliki daun yang lebar seukuran daun pohon labu siam. Batangnya merambat dengan bantuan sulur sulur. Bunganya kecil-kecil berwarna kuning. Yang sejak awal sudah terpisah mana yang jantan dan mana yang betina.

Buah timun paling enak dimakan mentah mentah. Buat lalapan, teman nasi goreng atau buat acar. Kalau siang hari dan panas panas begini enak juga diserut dibikin minuman. Tambah syrop gula sedikit. Jadilah es mentimun!. Hmmm….segarnya.

Manfaat lain dari timun…bisa juga digunakan untuk mengompres mata yang lelah. Atau digunakan untuk menyegarkan kulit wajah biar segar dan kinclong.

Selain itu mentimun juga berfungsi untuk kesehatan. Banyak orang menganjurkan penderita hypertensi untuk mengkonsumsi mentimun karena khasiatnya yang sangat baik untuk menurunkan tekanan darah.

Intinya, nggak rugilah menanam timun di pagar ataupun dirambatkan di tembok rumah. Banyak untungnya. Minimal mengurangi sedikit belanja dapur, menghijaukan halaman rumah dan sekaligus membantu meningkatkan kwalitas udara di lingkungan tempat tinggal kita. Go green.

Yuk kita tanam mentimun. Kita bikin Dapur Hidup!.