Tag Archives: Vegetable Gardening

Garden Art – Koleksi Kebun Dapur Hidup Saya.

Standard

Koleksi Dapur Hidupku.

Berkebun sayuran 🌱🌱🌱menjadi kegiatan favorit saya setahun dua tahun ini. Ya..  membuat Dapur Hidup! Saking senangnya, saya sampai jarang punya waktu untuk melakukan kegiatan favorit lain di luar jam kantor seperti menulis, menggambar, jahit menjahit ataupun mencoba coba resep cemilan untuk anak-anak. Blog sayapun mulai setengah terlantar. Ya..okelah. setiap orang memang cuma diberi jatah waktu 24 jam, nggak kurang dan nggak lebih. Jadi memang harus memilih, bagaimana caranya menghabiskan waktu yang 24 jam itu dengan cara terbaik menurut kita masing-masing. 

Tapi beberapa hari belakangan ini, tiba-tiba saya mendapat ide untuk membuat kumpulan sketsa hitam putih tanaman sayuran  yang ada atau pernah saya tanam di kebun Dapur Hidup saya. Selain menyenangkan hati, juga untuk mengingatkan saya kelak,  eeh…sayuran ini pernah saya tanam lho di kebun saya. Ada di album “My Garden Collection”. Siapa tahu kehabisan ide untuk menanam apa lagi. Karena lahan pekarangan rumah saya sempit, tanaman sayuran itu kebanyakan memang saya tanam silih berganti. 

Alasan lain adalah, saya lihat kebanyakan orang membuat lukisan , gambar ataupun sketsa bunga atau tanaman hias. Lebih jarang orang membuat gsmbar atau sketsa sayuran. Jadi saya pilih untuk menggambar isi kebun sayuran🌱🌱🌱 saja lah kalau begitu. Biar beda 😃😃😃.

Untuk koleksi Dapur Hidup ini, saya memilih menggambar dengan pensil di atas kertas gambar warna putih. Hitam putih saja. Kelihatannya lebih menarik dan klasik. Nah.. ini adalah 6 gambar pertama yang saya buat untuk koleksi Dapur Hidup saya. 

1/. Artemisinin

Artemisinin, alias Kenikir obat  adalah tanaman Dapur Hidup yang sekaligus Apotik Hidup. Karena daun tanaman ini basa digunakan orang untuk pecel, tetapi juga memiliki benefit pengobatan.  Daunnya sangat indah dan keriwil. Sangat menarik untuk digambar. Ukurannya yang kecil memberi tantangan tersendiri saat menggambar, tetapi saya mengakalinya dengan membuatnya menjadi lebih besar.
2/. Sawi Pagoda alias Tatsoi.

Tatsoi adalah ratunya Dapur Hidup di halaman rumah saya. Tampilannya yang cantik dan anggun selalu mendapat komentar dari teman teman yang melihat fotonya ataupun melihat langsung saat berkunjung ke rumah saya “waah.. kalau cantik begini sayang dimasaknya. Jadikan pajangan saja” begitu rata rata komentar teman. Jadi layak banget diabadikan dengan pensil ya. Challengenya adalah bagaimana caranya menggambar  tumpukan daun daunnya yang melingkar membentuk pagoda itu dengan rapi dan tidak tumpang tindih dengan amburadul satu sama lain. 

3/. Sawi Putih alias Pitchay

Pitchay atau Pitsai atau Sawi Putih, tananan sawi jenis lain yang juga sering saya tanam di halaman. Tanaman ini daunnya mengenbang seperti rosette pada awalnya, kemudian menekuk ke dalam dan memadat di tengah pada akhirnya. Terlihat gendut dan lucu. Menarik juga untuk digambar. Challengenya adalah, bagaimana membuat daun-daunnya kelihatan menggelung ke dalam dan terlihat padat.  Yang saya gambar ini adalah tanaman yang masih muda  yang berada di stage baru mulai menggelung daun -daun tengahnya. 

4/. Pare.

Pare adalah tanaman yang dari sononya sudah artistik. Batangnya merambat dengan daun keriting dan sulur sulur yang banyak membuatnya terlihat sangat cantik tanpa diapa-apain. Challengenya seupa dengan menggambar Artemisinin. Bagaimana caranya menggambar bagian kecil kecil kemriwil itu dengan tetap halus. 

5/. Rosemary.

Sekalian keblenger dengan menggambae element tanaman yang kecil kecil, sekalianlah saya menggambar Rosemary. Daunnya kecil kecil banget. Aah…perbesar saja dikit.  Rosemary adalah tanaman bumbu yang baru saya pelihara kurang dari setahun.  Saya sangat suka dengan wangi daunnya. Enak untuk ditabur di atas kentang goreng. 

6/. Sawi Sendok alias Pakchoy

Tanaman ini juga sangat menarik karena pangkal tangkai daunnya yang cekung dan gendut mirip sendok bebek. Juga merupakan tanaman yang paling sering saya tanam di halaman. Karena enak 😃. Challengenya adalah bagaimana membuat pangkal tangkai daunnya ini benar benar terlihat cekung di dalam dan cembung keluar. 

Tapi apapun challenge-nya, menggambar sayuran selalu menarik dan menyenangkan. 

Dapur Hidup: Cerita Saya Tentang Lobak Lalap.

Standard

Lobak Lalap

Tentunya semua tahu yang namanya Lobak kan? Itu lho sayuran umbi yang mirip wortel tapi warnanya putih. Masih sekeluarga sama beet. Biasanya saya lihat dijadikan campuran soto.  

Saya sendiri sebenarnya kurang menyukai rasa umbi lobak. Tapi begitu mendengar daun lobak untuk lalap, saya mendadak menjadi suka. Nah saya mau cerita tentang tanaman lobak saya. 

Benih lobak saya lupa dapat dari mana. Rasanya sih beli online. Makanya saya hanya punya beberapa biji saja. 

Biji lobak ukurannya agak besar ketimbang rata rata biji sesawi. Tumbuh cukup mudah juga, walaupun saya tidak punya banyak. Paling banter ada 8 pohon yang saya punya. Saya tanam di polybag.

Tumbuh dengan subur. Daunnya banyak dan hijau royo royo. Senang melihatnya. 

Pangkal akar Lobak sudah mulai terlihat menggembung.

Saya melihat pangkal akarnya juga mulai menggembung. Terlihat putih membenam di tanah.  Wah.. tak sabar rasanya menunggu. Pengen tahu.  

Tanaman Lobak sedang berbunga.

Saya membiarkan tanaman ini tumbuh. Tak berapa lama mulailah bunganya bermunculan. 

Bunga Lobak.

Cantik. Kecil kecil berwarna ungu. Mahkota bunganya ada 4. Mirip bunga sawi sih. Tapi kalau sawi biasanya bunganya kuning. Lobak ini bunganya ungu pucat. Saya senang sekali. Dan berniat membiarkannya hingga menjadi buah.

Buah Lobak.

Sebenarnya proses menjadi buahnya cepat. Tapi saya ingin menunggu buahnya menjadi tua dan kering. 

Nah kemarin saat hujan deras, tiba tiba saya keingetan akan tanaman lobak saya. Sayapun menengoknya. Rupanya sudah layu. Sebelum membusuk segera saya cabut tanamannya dan penasaran melihat umbinya.

Lobak

Tada!!. Beginilah umbinya. Kok kecil banget ya?  Hi hi… ternyata hasilnya jauh dari bayangan saya. Mungkin ada yang salah dari cara saya merawatnya. Atau jangan jangan jenis yang saya tanam itu memang yang jenis berumbi kecil?. Saya menghibur diri.

Tapi nggak apa apa. Saya tetap semangat. Saya petik buahnya.

Buah Lobak

Saya ingin mengambil biji bijinya untuk saya semai kembali. 

Biji Lobak

Saya akan coba tabur lagi di halaman. Siapa tahu bisa tumbuh kembali. 
Selalu semangat untuk berdapur hidup. 

Kali Ini Bukan Tomat Lagi. Tapi Bayam. 

Standard

Ah, jangan minta angpao dari Bu Dani. Ntar dikasihnya tomat“. Gurau seorang teman saat beberapa waktu yang lalu saya mengucapkan Gong Xi Fa Chai. Ha ha ha. Saya tertawa geli mendengarnya yang disusul oleh derai tawa teman teman saya yang lain. Tentu tahu dari mana datangnya, mengapa teman saya itu berkomentar seperti itu. Pasti karena belakamgan ini saya sering memposting status atau photo photo tomat. Jadi tomat seolah sudah menjadi symbol perwakilan diri saya. Ha ha.

Nah biar lebih beragam dan tidal melulu tentang tomat, kali ini saya memposting tentang sayuran lain saja. Bayam. Mengapa bayam? Begini ceritanya nih…

Saat ini saya di sebagian instalasi hidroponik saya sedang ditanami bayam. Sebenarnya sudah sempat dipanen sekali. Tapi karena memanennya dengan dipotong dan bukan dicabut, cabang cabang kecil yang tertinggalnyapun akhirnya tumbuh lagi dan 2 minggu kemudian menjadi bayam seukuran yang layak di panen. 

Entah karena kesibukan atau apa, lha saya lupa memanen bayam bayam baru itu. Ada 2 box yang sudah kepalang menjadi berbunga. Tentu nggak mantap lagi jika dipanen dan dijadikan sayur. 

Bayam Dapur Hidup.

Untungnya masih ada sebagian yang masih sangat layak panen.
Ini dia hasil panen bayam saya pagi ini. Lumayan ya. Seger seger. Setidaknya lebih seger dari yang di tukang sayur. 

Bayam Dapur Hidup

Memang punya Dapur Hidup itu nggak pernah ada ruginya. 

Tomat Beefsteak: Dari Halaman Ke Atas Meja Makan. 

Standard

“Manen tomat banyak-banyak buat apa sih?” Seorang teman bertanya.Ya… buat dipakai di dapur lah ya.Buat dimakan. Bisa buat sambel. Buat Jus tomat. Buat sayur. Bisa juga buat salad. 

Tomat Beefsteak

Tanaman tomat saya kali ini memang berbuah cukup banyak. 

Tomat Beefsteak

Kebetulan banyak yang matang saat bersamaan. Kalau saya biarkan di pohonnya khawatir nantinya saya lupa metik dan malah busuk sendiri. Jadi selagi ingat, saya petiklah tomat-tomat itu. 

Tomat Beefsteak

Sebenarnya apapun jenis sayuran yang kita panen dari halaman, selalu bermanfaat buat di dapur. Itulah sebabnya mengapa disebut Dapur Hidup.Bagaimana kita memanfaatkannya, sangat banyak pilihannya. Bisa dimasak khusus, bisa juga dicampur bahan lain. 

Salad

Malam ini saya memanfaatkan sayuran dari halaman dicampur dengan bahan-bahan lain yang saya beli dari tukang sayur untuk makan malam. 

Broccoli Tomato Shrimp.

Dapur Hidup: Tiga Jenis Tomat Yang Saya Tanam Di Halaman.

Standard

Salah satu tanaman Dapur Hidup yang sangat penting bagi saya adalah tomat. Karena tomat digunakan setiap hari dan pada banyak jenis masakan yang terhidang di meja makan saya. Dan terutamanya..sambal tomat. Setiap orang di keluarga saya menyukai sambal tomat. 

Ini adalah beberapa jenis tomat yang pernah /sedang saya tanam sebagai koleksi Dapur Hidup di halaman rumah saya.

1.Tomat Cherry Kampung.


Tomat Cherry Kampung

Tomat ini ukurannya sangat kecil-kecil. Kira-kira seukuran kelereng. Rasanya agak asam segar. Tetap sangat menarik untuk dimakan mentah ataupun dibuat sambal. Saya senang mencampurkannya dengan salad. 

Tomat Cherry Kampung

Mengapa namanya saya kasih embel-embel “kampung”?. Karena tomat ini banyak saya temukan di kampung saya di Bali dengan nama Tomat Gerongseng atau “Gereng-Gereng”. Dan karena kampung saya adalah penghasil tomat berkwalitas super dengan ukuran super besar,  tomat ini sering dipandang sebelah mata dan tidak dimanfaatkan. Dibiarkan saja liar dipinggiran tegalan tanpa ada yang peduli. 
Untuk tanaman yang di halaman ini pun saya mendapatkan bibitnya pertama kali dari kampung di Sukabumi.

Jadi baik dari segi ukuran, rasa dan bentuknya memang berbeda dengan tomat cherry yang sering kita beli dari Supermarket yang mana umumnya bijinya import. 

2. Tomat Mutiara

Tomat Mutiara

Tomat Mutiara adalah tomat berukuran sedang dengan bentuk bulat mulus berkilau bak mutiara. Nggak heran diberi nama Tomat Mutiara.

Tomat Mutiara

Benih tomat ini saya dapatkan dari toko Trubus.Dan ini adalah jenis tomat yang benihnya paling banyak saya lihat dijual. Juga paling banyak dijual di tukang sayur.
Rasanya lebih manis dibanding tomat cherry kampung. 

3. Tomat Beefsteak

Tomat Beefsteak.

Ini adalah tomat ukuran sedang yang belakangan ini paling sering saya upload di sosial media, baik di Facebook maupun di Instagram. 
Alasannya karena bentuk tomat ini mengingatkan saya akan jenis tomat jaman dulu yang ada di tanah air sebelum jenis tomat yang halus mulus seperti mutiara datang dan membuat tomat jadul itu kehilangan perhatian dan akhirnya lenyap dari pasar. Bentuknya berlobus lobus. Rasanya menurut saya malah lebih manis. 

Tomat Beefsteak hasil panen dari halaman.

Saya mendapatkan benihnya secara online. Menanamnya di dalam pot. Dan lumayan juga hasilnya. 
#tomat

Dapur Hidup: Seledri Sayuran Multi Fungsi.

Standard

 

2015-12-24-18.19.08.jpg.jpegSeorang saudara saya (kakak) saya bertanya, “Hai gimana kabar tomat-tomatmu?“. Rupanya saudara saya itu ikut-ikutan semangat berkebun sayur. Ia mengatakan kalau ia juga terinspirasi oleh tulisan saya tentang Dapur Hidup dan mulai menanami areal-areal kosong di sekitarnya dengan cabe dan tomat. Bahkan berencana akan segera menanam kol juga. Ha ha..yes!. Saya senang.  Jadi lumayan dong ya..saya bisa mengajak-ajak untuk giat berDapur Hidup.

Menjawab soal tomat, saat ini di lahan sempit pekarangan saya sedang tidak ada tomat. Sudah habis. Karena setelah 7x panen pohonnya sudah menua dan meranggas. Saya memutuskan untuk mencabutnya saja. Dan baru mulai membibit lagi.  Tanaman sayuran hijau seperti pakchoi dan selada serta kangkung juga masih kecil-kecil dan belum siap panen. Lalu apa yang ada di halaman rumah kali ini?

Setidaknya hari ini  saya masih punya pare dan timun untuk dipanen  Juga masih ada banyak tanaman bumbu dapur. Apa saja sih?. Salah satunya adalah Seledri (Apium graveolens).

Di Bali orang cenderung menyebut Seledri dengan nama Suladri. Karena awalan kata Su berarti bagus/baik,maka mendengar nama Suladri terasa sangat nyaman di telinga. Kesannya seperti sesuatu yang mengakibatkan hal baik.

Pada kenyataannya, tanaman ini memang memegang peranan penting di dapur. Walaupun fungsinya sebagai pelengkap rasa, seledri dibutuhkan di banyak masakan. Bikin soto enak ditaburi  seledri. Bikin bubur ayam juga enak ditaburin seledri. Bikin perkedel kentang juga pakai seledri. Bikin bakwan jagung, bakwan sayur pakai seledri. Bikin sup pakai seledri. Dan masih banyak lagi jenis masakan, hingga ke kripik kripik pun ada yang pakai seledri.  Seledri dengan rasanya yang khas, memberikan sentuhan tersendiri pada masakan yang kita sajikan.

Selain buat masakan seledri secara traditional juga banyak dimanfaatkan untuk kesehatan dan perawatan. Sejak kecil kita sering mendengar jika air remasan daun seledri digunakan untuk keramas, dengan maksud untuk membantu menyuburkan rambut. Tak heran jika ada beberapa shampoo juga menggunakan extract seledri di dalamnya. Ada juga wanita yang memanfaatkan tumbukan daun seledri untuk memasker wajahnya agar halus dan cerah.

Seledri juga sangat disarankan untuk dikonsumsi untuk memperkuat penglihatan, karena kandungan Vitamin A-nya yang tinggi.  Lalu kita juga mendengar jika banyak orang memanfaatkan daun seledri untuk menurunkan tekanan darah tinggi, penurun kolesterol, sebagai diuretika dan sebagainya. Karena manfaatnya yang banyak, tentu akan sangat menguntungkan jika selalu kita siagakan di halaman rumah ya. Saya memasukkan seledri sebagai salah satu tanaman Dapur Hidup saya.

20151224_165551.jpgBenih berupa biji bisa kita dapatkan dari Toko Trubus. Biji seledri berukuran sangat kecil-kecil dan ringan. Dan mudah beterbangan jika kita tidak hati-hati  membukanya. Teksturnya mirip biji ketumbar. Tetapi jika biji ketumbar bentuknya bulat-bulat, biji seledri bentuknya lucu, melengkung lengkung.

Biji-biji ini saya taburkan di dalam pot tanaman hias Lidah Mertua yang tetap saya jaga kelembabannya. Masa tumbuhnya sangat lama. Kalau tidak salah saya harus menunggu selama 3-4  minggu. Tiada kunjung kelihatan gejala-gejala kehidupan sedikipun. Hingga nyaris saya pikir tidak berhasil hidup. Setelah kurang lebih sebulan barulah saya lihat ada titik-titik hijau muncul dipermukaan tanah.  Dan pertumbuhannya pun lambat juga. Sangat berbeda dengan biji tanaman lain seperti Caisim atau Pakchoy yang hanya dalam hitungan  1-2 hari atau maximum 3 hari sudah ada muncul putiknya.

 

 

20150907_073823.jpgSeledri membutuhkan air yang banyak. Jadi kita harus rajin-rajin menyiramnya dan menempatkannya di tempat yang teduh. Jangan dipanggang di bawah terik matahari.

Seledri ini menurut saya adalah tanaman yang sejak benih sudah indah. Saya sangat menyukai bentuk daun seledri. Berbentuk trisula tumpul dan bergerigi. Dan keindahannya ini sudah tampak bahkan sejak tanaman ini masih bayi.

Setelah daunnya minimal 4 buah, saya mulai memindahkannya satu per satu. Sebagian saya tanam di polybag dan sebagian lagi ada juga yang saya tanam dengan system Hydroponik.

SeledriUntuk yang di polybag membutuhkan perhatian khusus, karena harus rajin disiram. Pupuk humus atau pupuk kandang tentu sangat baik. Bisa juga kita menyiramnya dengan air  bekas cucian beras. Untuk hydroponik saya hanya memberikannya pupuk organik cair.

Beberapa minggu setelah itu, tanaman seledri saya sudah mulai bisa dipetik jika dibutuhkan untuk masak. Nggak perlu lagi membeli daun seledri dari tukang sayur. Karena kini saya sudah bisa memetik yang lebih segar dari halaman.

Nah.. membuat Dapur Hidup nggak pernah rugi kan!. Yuk kita semangat membuat Dapur Hidup sekaligus menghijaukan halaman rumah kita.

Go green yuk! Go green!.

Dapur Hidup: Kejutan Dari Si Timun Putih.

Standard

Hai! Saya memanen timun dari halaman. Memanennya tanpa rencana. Gara gara saya baru ngeh kalau ada buah timun yang sudah cukup besar ternyata bergelantungan di tembok bagian atas ketutupan daun yang rimbun. Anak saya yang kecil yang pertama kali melihat dan memberi tahu saya.

Buah timun baru petik dari pohon. Lengkap dengan getah dan duri-durinya. Rasanya jauh lebih segar dari buah timun yang dibeli dari pasar maupun supermarket.

20151206_094050.jpg

Bagaimana ceritanya kok bisa nanem timun di halaman rumah?.  Terus terang sjak awal saya sangat tertarik pada tanaman cucurbitaceae. Timun, pare, oyong, melon, semangka, belewah, beligo, timun suri, labu siam, labu parang dan sebagainya.Saya suka melihat lihat dan  membaca-baca artikel tentang keluarga tanaman ini. Sayang sekali saya tidak punya lahan yang cukul luas agar bisa menanamnya. Tanaman ini butuh area yang luas karena merambat kemana mana. Sementara halaman rumah saya terbatas. Dan sudah penuh pila saya tanami dengan cabe, tomat, terong, pare, kemangi, bawang daun, jahe, kunyit, seledri dan lain lain kebutuhan dapur sehari-hari.

Tapi saya tidak mau menyerah. Jadi dimana akan  saya tanam biji timun ini?  Di pot yang akan saya letakkan di pinggir tembok. Dan saya rambatkan batangnya ke tembok. Mulailah saya membuat rambatan kawat ke tembok.
Tanam biji timun putih. Dua biji, dua biji di setiap lubang dekat kawat. Untuk antisipasi jika ternyata ada yang mati.
Hanya dalam beberapa hari sidah tumbuh. Dan tumbuh terus dengan cepat merambat di tembok. Hanya sayangnya setelah berbunga kok  pada rontok. Tak ada satupun yang saya lihat menjadi buah. Setiap hari saya periksa tapi kok pada rontok semua.

Rupanya buah yang di batang bagian atas tidak kelihatan oleh saya, karena tertutup daunnya yang rimbun. Hari ini tiba tiba anak saya melihat ada buahnya. Benar-benar sebuah kejutan yang menyenangkan di hari Minggu.

Dengan semangat kamipun menyibak nyibak daun tanamam itu. Eh..ternyata ada lebih dari satu. Sebenarnya agak ketuaan sedikit kelihatannya. Kami lebih suka mengkonsumsi timun muda. Sayang waktu ukuran dan umurnya tepat untuk dipanen kami tidak melihatnya. Nggak apa apalah. Nggak terlalu tua juga kok.

Bagaimana cara memetiknya? Tinggi begitu. Anak saya mencoba memetik sebuah dengan galah. Tapi …prakkk! Timunnya retak karena jatuh ke halaman yang ditutup cone block. Yaaah…. sayang ya.
Oke. Anak saya tidak kehilangan akal. Pakai galah disambung serokan ikan yang sudah dicuci terlebih dahulu. Asyiiiik!.

Sekarang buah timun bisa dipetik tanpa pakai acara jatuh. Tapi ada juga sih yang karena ditarik, batangnya ikut tertarik ke bawah dan anak saya bisa menggapai dan memetiknya langsung dengan tangan.
Lumayan dapat 6 buah. Seneng banget hati saya.

Timun (Cucurbitae sp) adalah salah satu tanaman dari keluarga timun-timunan yang umum dikonsumsi manusia. Tanaman merambat ini memiliki daun yang lebar seukuran daun pohon labu siam. Batangnya merambat dengan bantuan sulur sulur. Bunganya kecil-kecil berwarna kuning. Yang sejak awal sudah terpisah mana yang jantan dan mana yang betina.

Buah timun paling enak dimakan mentah mentah. Buat lalapan, teman nasi goreng atau buat acar. Kalau siang hari dan panas panas begini enak juga diserut dibikin minuman. Tambah syrop gula sedikit. Jadilah es mentimun!. Hmmm….segarnya.

Manfaat lain dari timun…bisa juga digunakan untuk mengompres mata yang lelah. Atau digunakan untuk menyegarkan kulit wajah biar segar dan kinclong.

Selain itu mentimun juga berfungsi untuk kesehatan. Banyak orang menganjurkan penderita hypertensi untuk mengkonsumsi mentimun karena khasiatnya yang sangat baik untuk menurunkan tekanan darah.

Intinya, nggak rugilah menanam timun di pagar ataupun dirambatkan di tembok rumah. Banyak untungnya. Minimal mengurangi sedikit belanja dapur, menghijaukan halaman rumah dan sekaligus membantu meningkatkan kwalitas udara di lingkungan tempat tinggal kita. Go green.

Yuk kita tanam mentimun. Kita bikin Dapur Hidup!.

Dapur Hidup: Cukupkah Untuk Kebutuhan Setiap Hari?

Standard

 

20151116_071839.jpgGara gara belakangan ini saya sering mem-post tulisan dan foto-foto tentang Dapur Hidup, seorang teman rupanya penasaran. “Memang halaman rumahmu luas amat ya? Kok bisa nanem berbagai macam sayuran sih?“. Tentu saja tidak. Namanya juga tinggal di perumahan kecil, sudah pasti halaman rumah sayapun sempit. Tapi nyaris semuanya saya manfaatkan untuk berkebun sayur. Nah, kalau halamannya sempit, “Memang cukup ya hasilnya untuk keperluan dapur sehari-hari?“. Begitu pertanyaan berikutnya.

Sebenarnya agak sulit menjawab pertanyaannya. Cukup dan nggak cukup itu sangat relatif ukurannya. Karena ukuran “cukup” bagi si A, belum tentu sama banyaknya dengan ukuran “cukup” bagi si B. Selain itu tergantung juga dari seberapa banyak dan efektif serta efisien kita bisa memanfaatkan lahan sempit yang kita miliki.

Contohnya lahan pekarangan ukuran 3×2.5 meter, kalau kita mau manfaatkan,  akan muat untuk menampung sekitar 60 polybag. Jika ke 60 polybag itu kita tanami tomat semua, setelah 3 bulan tomat -tomat itu akan menghasilkan buah yang meranum untuk bisa kita petik bergantian setiap hari. Jadi jawabannya cukup. Cukup tomat untuk keperluan dapur kita sehari hari. Tapi keperluan dapur yang lain tetap masih perlu dibeli.

Pilihan lain bisa juga kita tanami dengan berbagai macam tanaman lain keperluan dapur. Campur-campur. Misalnya cabe, terong, pare, tomat, kencur, seledri, kunyit, lengkuas, sereh, kemangi dan sebagainya. kalau dicampur begini,tentu  tidak setiap  hari kita bisa memetik buah tomat matang. Tapi sebagai penggantinya kita mungkin bisa memetik terong atau daun kemangi.  Cukupkah itu? Cukup sih nggak ya. Tetapi lumayan membantu mengurangi pengeluaran uang belanja dapur.

Sebagai gambaran saja, dari lahan halaman belakang yang berukuran sekitar 3x 2.5 meter itu yang saya tanami tomat, saya sempat memanen dalam jumlah yang lumayan sebanyak 3 x.

 

20151116_071115.jpgPertama tidak sempat saya timbang. Tapi saya pikir beratnya lebih dari 1 kg.

 

20151121_175345.jpgYang kedua jumlahnya lebih sedikit dan sempat saya timbang. Beratnya 700g.

20151127_091118.jpgPanen ke tiga kalinya  saya juga lupa menimbang. Dan lupa memotret semuanya. Tapi lumayan juga. Barangkali sekitar 700 -750g juga. Sebagian bahkan masih sempat saya bawa ke kantor. Nah..yang saya bawa ke kantor ini kebetulan sempat saya foto.

Itu diluar yang kadang-kadang saya petik tersendiri. Saat ini, pohon-pohon tomat saya masih berbuah cukup banyak, walaupun batangnya mulai menua dan meranggas. Tapi  buahnya masih banyak. Ada yang merah,ada yang sudah orange,kuning dan amsih banyak juga yang hijau. Saya sendiri sudah tidak betah ingin menggantinya dengan tanaman baru. Tapi sayang juga buahnya. Akhirnya saya akan tunggu untuk bisa saya panen sekali lagi.

20151116_073255.jpgJadi buat dapur saya, jumlah buah tomat yang bisa saya petik dari halaman itu cukuplah.

Kalau seandainya lahan yang kita manfaatkan hanya sedikit. Misalnya 3 meter x 20 cm dan mepet ke tembok, kita bisa menanam kurang lebih 15 pohon. Setelah berbuah dan matang,  barangkali kita bisa memetik 1-3 buah seminggu sekali. Cukup juga kan? Apalagi jika masak makanan yang berbasis tomat tidak setiap hari.

Dapur hidup berguna untuk menutupi keperluan dapur kita sehari-hari.  Jika kebutuhan dapur kita ingin tetap terjaga, semai kembali bibit tomat dari buah yang benar benar sudah matang sehingga menjadi tanaman yang siap berbuah 3 bulan ke depannya.  Dengan demikian keberlangsungan dapur hidup tetap terjaga.

 

20151116_072432.jpgDemikian juga jika halaman ukuran 3m x 2.5 meter itu kita tanami terong, cabe atau pun pare. Ceritanya mirip. Apapun yang kita tanam, ya itulah yang akan kita hasilkan kelak. Jika tomat yang kita tanam, ya tomatlah yang kita petik. Demikian juga jika terong yang kita tanam ya teronglah yang kita tuai. Dan sebagainya. Apa yang kita tuai adalah apa yang sebelumnya kita tanam.

Pertanyaan lagi, jika lahan kita terbatas, apakah lebih baik kita hanya menanam satu jenis tanaman sayur saja tapi banyak, atau berbagai jenis tapi sebatang-sebatang? Saya pikir itu sih terserah yang punya pekarangan. Tapi kalau saya yang punya halamannya, saya pikir halaman rumah sebaiknya ditanami dengan beragam tanaman sayur. Mixed Vegetable Gardening. Sehingga yang kita panen setiap hari berbeda. Selain itu kita juga jadi lebih semangat mengurusnya. Karena yang kita lihat selalu berbeda dan tidak membosankan.

Yuk kita galakkan kegiatan Dapur Hidup! Berdayakan dapur sekaligus menciptakan oksigen untuk kesegaran dan kesehatan lingkungan kita.
Hasilnya cukup kok!

Dapur Hidup: Pare, Si Pahit Yang Ngangenin.

Standard

 

wpid-20151115_095608.jpgDi seberang jalan dekat Pasar Sapi di Sanglah, dulunya ada sebuah tempat makan yang sering saya kunjungi semasa nge-kost di Denpasar. Menu yang paling sering saya order adalah Nasi Campur. Lauknya saya masih ingat terdiri dari  Ayam suwir, Orak-arik Pare dan Telor Menyar (telor rebus dalam bumbu traditional Bali) serta sesendok sambel terasi. Saya sangat terkesan karena masakan Parenya sama sekali tidak pahit.
Terinspirasi oleh masakan di rumah makan itu lalu saya belajar mengolah pare agar tidak pahit. Ternyata caranya sangat sederhana yaitu meremasnya berkali-kali dengan sedikit garam hingga semua cairannya keluar. Pare menjadi  kering barulah di masak. Tentu saja tak perlu ditambahin garam lagi.
Masih terinspirasi oleh masakan di rumah makan yang sama, saya akhirnya mencoba menanam pare di pekarangan rumah saya. Masih dalam semangat membuat Dapur Hidup.
Pare atau Paya atau Bitter Gourd adalah salah satu tanaman sayuran merambat keluarga Cucurbitaceae (keluarga timun timunan) ysng buahnya umum dimasak di dapur Indonesia.

 

Saya membeli biji tanaman ini di Toko Trubus. Kalau tidak salah ingat harganya Rp 15 000 satu pack isinya 22 biji. Saya semaikan mati satu tinggal 21 batang yang tumbuh. Dari 21 pohon itu hanya 19 yang tumbuh dengan baik. Yang dua kurang bagus pertumbuhannya karena kurang mendapatkan sinar matahari.
Tukang Trubus mengatakan bahwa saya akan sudah bisa melihat pohon pare saya berbuah dalam waktu 3 bulan. Hmm…cepat juga ya.
Biji pare yang saya beli rupanya di-coating. Menurut keterangan tukang toko itu agar menjaga biji dari serangan jamur.

Biji pare pertama saya tabur di dalam pot. Dalam waktu 3 hari sudah berkecambah dan akhirnya tumbuh menjadi anakan pohon pare.
Dari sini lalu saya pindahkan ke pot-pot panjang terbuat dari semen  yang sudah saya pasangi kawat agar kelak ia bisa merambat ke pilar rumah.
Tanaman tumbuh subur. Merambat ke atas dengan kecepatan yang berbeda beda. Bahkan cukup signifikan perbedaannya. Walaupun mendapat perlakuan sama, tetapi ada yang tingginya  sudah mencapai 50 cm saat temannya yang lain masih 10 cm atau 15cm. Mengapa?

Apakah karena faktor genetika? Bisa jadi. Walaupun biji biji itu berasal dari bungkus yang sama dan logikanya berasal dari buah yang sama, tetapi variasi genetika dari individu yg sama tetap bisa terjadi. Selain itu tidak menutup kemungkinan jika biji biji ini berasal dari buah atau bahkan pohon yang berbeda. Atau mungkin saja disebabkan oleh fsktor lain di luar genetika.
Salah satunya barangkali karena faktor lokasi penempatan pot. Mendapat intensitas cahaya matahari yang bervariasi. Ada yang terlalu banyak, cukup atau barangkali ada yang kurang juga. Selain itu media yang saya gunakan juga berasal dari karung yang berbeda-beda. Bisa jadi kandungan hara dalam tanah itu berbeda-beda pula. Hmmm…sebenarnya sesuatu yang menarik juga untuk diteliti lebih lanjut.

 

Setelah beberapa minggu pohon pare saya mulai belajar berbunga. Pohon pare ini memiliki dua jenis bunga. Bunga jantan dan bunga betina. Sayangnya yang muncul duluan dan jauh lebih banyak jumlahnya adalah bunga jantan. Jadi begitu mekar lalu gugur. Sedangkan bunga betina baru muncul belakangan dan jumlahnya sangat sedikit.
Walaupun begitu saya tetap senang. Karena pilar-pilar kayu di halaman rumah saya menghijau oleh dedaunan dan penuh bunga kecil-kecil berwarna kuning.  Bunga terdiri atas 5 lembar mahkota dengan benang sari yang kelihatan membulat di tengahnya. Setiap pagi saya memandangi keindahannya dengan takjub. Tawon dan lebah juga mulsi datang berkunjung.

 

Bunga betina bentuknya berbeda dengan yang jantan. Ada bakal buah yang menggelembung di bawah mahkotanya. Bunga betina yang jumlahnya sedikit inu rupanya juga tidak selalu beruntung didatangi lebah pembantu penyerbukan. Jadi diantaranya cukup banyak juga yang gagal menjadi buah. Dan hanya segelintir yang sukses. Melihat fakta ini saya semakin mengerti kesulitan-kesulitan yang dihadapi para petani yang menggantungkan hidupnya pada hasil panen.
Dapur hidup ini menjadi mirip laboratorium percobaan dimana anak anak bisa saya ajak belajar bersama untuk memahami lebih riil kehidupan tanaman dalam skala kecil dan membayangkannya jika kita menjalani kehidupan sebagai petan

i.

 

 

 

Sekarang mulai ada buah pare yang ukurannya cukup besar untuk bisa saya petik. Buahnya bergerigi berwarna hijau.
Benar kata tukang Trubus bahwa tanaman pare akan mulai bisa kita panen di umur sekitar 3 bulan.

Urban Farming: Hijaunya Selada.

Standard

 

Saya pernah heran mengapa tidak umum orang menumis selada? Padahal sawi jenis lain biasa ditumis orang. Ada yang memberi komentar karena harga selada relatif lebih mahal dibanding sawi jenis lain. Oh ya? Saya baru ngeh. Dan  setelah saya doule check memang benar sih lebih mahal. Tapi mengapa ia harus lebih mahal?  Nah…sekarang saya sedikit agak tahu jawabannya.

Rupanya harga biji selada (Lactuca sativa) jauh lebih mahal dibandingkan harga bibit sawi lain misalnya Caisim. Saya membeli sebungkus biji selada di Trubus harganya sama dengan harga sebungkus biji sawi Caisim. Tapi setelah dibuka,  ternyata jumlah biji selada di dalamnya cuma 1/4 atau bahkan 1/5 jumlah biji Caisim. jadi memang mahal.

Lalu setelah ditabur, hampir semua biji Caisim tumbuh. Tapi hanya sangat sedikit dari biji selada yang tumbuh.
Wah…kalau begini panteslah selada mahal. Terus berikutnya, pertumbuhan Caisim alangkah cepatnya. Sementara Selada lebih lambat.

Walau demikian, selada tetapbermanfaat ditanam.Dan saya tetap semangat mencoba menanamnya dengan system hidroponik. Satu dua mulai ada yang bisa dipanen. Daunnya hijau royo royo nenggiurkan. Terutama yang muda, sangat segar dan renyah. Bagus untuk lalap ataupun untuk bahan salad. siapa yang tidak mau menikmati sayuran  hijau segar langsung dari halaman?
Bertanam sayuran di halaman memang tak pernah ada ruginya.
Yuk kita bikin Dapur Hidup!.