Tag Archives: Veterinary

Selamat Datang Kehidupan Baru.

Standard

Selamat DatangTangal 5 Maret kemarin merupakan hari yang sangat bersejarah bagi Cudly. Siapa Cudly? O ya, saya belum pernah bercerita. Setelah kematian Persia, anak saya mengadopsi kembali seekor anak kucing liar betina yang ia beri nama Cudly. Anak kucing itu ia pelihatra dengan baik dan Cudly sekarang sudah dewasa dan hamil semenjak 2 bulan lalu. Memang sudah waktunya buat Cudly melahirkan. Sebelumnya saya sudah menyuruh anak saya menyiapkan box bekas dan kain/handuk/baju bekas untuk dijadikan sarang saat kucing itu beranak.

Malam itu saya bekerja sampai agak larut di kantor. Anak saya menelpon “Ma, cepat pulang. Cudly melahirkan. Bayi kucingnya ada satu. Lucu sekali“. Saya girang bukan main dan bergegas pulang. Ini pengalaman melahirkan pertama kali bagi Cudly. Pasti sangat menyakitkan dan melelahkan. Saya harus menemaninya.

Ketika sampai di rumah, saya melihat Cudly terbaring lemah. Seekor bayi kucing berwarna belang tampak di sebelahnya. Saya pun menunggu kelahiran bayi-bayi berikutnya. Ia mungkin akan melahirkan 1-2 ekor anak lagi. Untungnya Cudly cukup pintar memilih tempat untuk melahirkan. Ia memilih kandang yang biasa ia gunakan jika saya bawa ia bepergian. Anak saya meletakkan handuk dan baju bekasnya sendiri di dekat kucing itu. Begitulah malam itu saya menemaninya berjuang menahan kesakitan saat melahirkan bayi-bayinya. Ia sangat kelelahan. Saya mengusap-usap kepalanya untuk memberinya support.  Akhirnya dekat tengah malam selesailah semuanya. Semuanya ada 3 ekor anak kucing.

Barangsiapa yang mengamati sebuah proses melahirkan, maka ia akan menyadari betapa besarnya pengorbanan seorang Ibu demi kehidupan anak-anaknya. Kesakitan, kecemasan, kelelahan, ketakutan, bahkan kesulitan yang tidak mustahil mengancam nyawa semuanya bercampur aduk. Dan seorang Ibu harus tetap menghadapinya dengan berani. Berani demi keberlangsungan hidup spesiesnya.

Selamat datang bayi kucing! Selamat datang kehidupan baru…

 

 

Mengamati Burung Perkutut Di Alam Bebas.

Standard

PerkututSalah satu burung yang paling banyak diburu manusia di Indonesia khususnya di Pulau Jawa adalah Burung Perkutut.  Karena Burung ini dianggap sebagai penentu ‘status’  dar pemiliknya dan juga dipercaya membawa nasib baik kepada pemiliknya. Entahlah kebenarannya.  Bisa dibilang saya sangat jarang sekali bisa menemukannya di alam liar. Saya sempat menemukannya terbang bebas di Bali, walaupun tidak semudah menemukan Tekukur. Namun selama saya tinggal di Jabodetabek, saya belum pernah melihatnya barang seekorpun terbang bebas. Semuanya hanya di dalam sangkar.  Terbayanglah bagaimana kagetnya saya ketika tiba-tiba melihat seekor burung Perkutut menclok di batang pohon Keluwih di tepi sungai di belakang rumah saya?

Awalnya saya menyangka itu anak Burung Tekukur. Karena ukuran tubuhnya yang kecil. Dan saya hanya melihatnya dari kejauhan. Sementara mata saya minus agak berat.  Tapi lama-lama saya curiga. Itu bukan anak Tekukur, karena tingkah laku hinggapnya agak berbeda. Saya segera mengambil kamera dan men-zoom hasil jepretan saya. Wah.. Perkutut!.  Perkutut dewasa. Alangkah girangnya hati saya. Perkutut di alam bebas. Baru pertama kali ini saya melihatnya di Jabodetabek. Barangkali  ia lepas dari kandang pemiliknya.Sepasang Perkutut

Lama saya menonton Burung itu yang hanya diam duduk di cabang pohon itu. hanya bergeser sedikit atau memutar posisi bertenggernya. Kelihatan seperti tak punya selera untuk terbang atau berpindah. Agak lama kemudian, seekor burung Perkutut lain muncul dan hinggap di sebelahnya. Kini saya melihat mereka sepasang. Nah..kalau sepasang begini,saya menjadi tidak yakin apakah burung ini memang burung peliharaan yang berhasil kabur ?Apakah mungkin lepas berpasangan?  Atau memang burung asli yang bebas di alam?

Keluarga Perkutut

Berikutnya hinggap dua ekor Burung Perkutut lain.  Waduuh sekarang ada empat ekor.  Tapi  yang dua ini kelihatannya adalah anak-anak burung Perkutut, karena warnanya agak lebih coklat dan sayap serta ekornya juga masih pendek. Saya rasa umur mereka baru sekitar dua tiga minggu.  Sedang diajarkan terbang oleh induknya. Sangat senang menonton tingkah laku keluarga perkutut ini.

Induk Perkutut dan anaknya

Burung Perkutut, alias Zebra Dove (Geopelia striata),sebenarnya merupakan burung yang umum di Indonesia.Namun saya pikir, kebanyakan burung yang diperjualbelikan di tukang burung adalah hasil penangkaran. Burung Perkutut termasuk burung yang lumayan jinak. Umumnya tidak terlalu merasa terganggu akan kehadiran manusia. Jika sudah menclok di sebuah cabang, ia akan cenderung berdiam diri di sana. Agak berbeda dengan kebiasaan Burung Tekukur yang biasanya lebih curigaan dan cepat terbang jika di sekitarnya ada manusia.  Di alam liar biasanya membuat sarangnya tidak terlalu tinggi. Telurnya umumnya dua butir. Anaknya berwarna sedikit kecoklatan, kepalanya berwarna putih dengan garis kecoklatan. Sedangkan yang dewasa umumnya memiliki warna kepala abu-abu kebiruan. Dada burung Perkutut berwarna coklat namun dari leher hingga ke bagian badan lainnya bergaris-garis hitam putih mirip kudan zebra. Burung perkutut memiliki ukuran tubuh yang kecil.  Makanannya adalh biji-bijian.

Saya menonton tingkah laku anak-anak dan induk burung ini hingga senja berubah menjadi gelap. Dimanakah mereka tidur? semoga tidak ada manusia jahil yang menangkapnya.

Burung Raja Udang Meninting.

Standard

Raja Udang MenintingSaya pikir ini sebuah mujizat yang datang untuk saya! Ketika saya berdiri di bagian belakang rumah  untuk memeriksa jemuran pakaian, saya melihat sebuah benda biru bergerak melesat terbang dan hinggap di kawat tembok tetangga saya diSukabumi. Sayapun memasang kacamata saya baik-baik untuk melihat benda apakah gerangan itu.

Astaga! Seekor burung Raja Udang yang sangat elok rupanya. Warna kepalanya biru terang metalik, bergaris-garis. Demikian juga dengan sayap dan ekornya.  Di sayapnya yang  berwarna biru terang ada binting-bintik biru yang lebih muda. Punggungnya berwarna biru muda. Pipi, kerongkongan, dada dan perutnya berwarna jingga kemerahan. Ada sedikit sapuan warna putih di belakang lehernya.   Paruhnya berwarna merah jingga. Kakinya yang pendek juga berwarna merah. Sementara matanya hitam. Yang lucu adalah bentuk kepalanya menonjol ke  belakang  mirip jambul burung pelatuk.

Raja Udang Meninting atau disebut juga dengan Blue Eared Kingfisher (Alcedo meninting), adalah burung pemakan ikan berukuran kecil, sekitar 15-16 cm yang merupakan anggota dari keluarga Alcedinidae, yakni burung Raja Udang Sungai. Sangat suka tinggal di daerah persawahan atau dekat sungai guna berburu ikan. Terbangnya sangat cepat.Demikian juga jika sedang menyambar ikan atau udang dari sungai.

Bagimana burung ini bisaberada sangat dekat dengan tempat saya berdiri? Di belakang rumah, terdapat sawah dan sebuah kolam ikan yang airnya sudah sangat susut karena lahan itu mau dikeringkan untuk perumahan. Jadi rupanya burung ini datang untuk mencari makan di sana.

Saya merasa terpesona, karena bisa melihat burung ini ternyata masih ada. Dulu waktu kecil, beberapa kali saya pernah melihatnya terbang di sawah dekat rumah saya di Bali.  Belakangan ini sudah sangat jarang melihatnya.  Saya pikir, tentu burung ini sekarang statusnya sudah termasuk  burung yang jarang untuk bisa dijumpai.

Kalau tidak salah saya melihat dalam buku Birds of Indonesia yang ditulis oleh Morten Strange, bahwa burung ini memiliki 20% kemungkinan akan punah dalam kurun waktu 20 tahun kedepan, jika kita tidak melakukan tindakan penyelamatan apa-apa.  Saya merasa sangat beruntung bisa melihatnya kali ini dan menuliskannya di sini. Senang bisa memberikan konfirmasi, bahwa saya telah melihatnya masih ada berkeliaranan di wilayah Sukabumi.

Garangan, Kehidupan Liar Di Belakang Rumah.

Standard

MusangAkhir pekan ini, saya sedang menengok mertua di Sukabumi. Rumah kami sebenarnya bisa dibilang terletak di kota, karena lokasinya tak begitu jauh dari lapangan kotamadya maupun kantor pusat pemerintahan.

Di belakang rumah terdapat tanah  yang kosong yang lumayan luas. Bekas sawah yang dikeringkan yang akan dijadikan perumahan. Sayang sekali. Biasanya saya suka duduk-duduk di lantai atas sambil melepaskan pandangan saya ke sawah-sawah itu. Atau kadang-kadang saya bermain-main dengan anak saya ke sana. Melihat ikan, kodok, belalang, burung dan sebagainya. Dan jika kelak sawah itu telah menjadi perumahan, tak ada ada lagi yang bisa saya pandang kecuali atap dan tembok-tembok bangunan. Apa boleh buat. Saya tidak bisa menghentikan lajunya perkembangan kota.

Sekitar pukul sembilan pagi, saya melihat ada sesuatu yang bergerak-gerak di tengah gulma yang sekarang menyemak di tengah sawah yang tak berpadi itu.Jaraknya sekitar 10 meter dari tempat saya berdiri. Seekor binatang seukuran kucing namun lebih panjang dan langsing tampak menyeberang cepat. Ekornya tampak panjang berwarna kemerahan. Ia lalu bersembunyi di dalam sebuah lubang di semak gulma itu. Rupanya di sana rumahnya. Saya melihat sebenarnya  tanah sawah itu basah, karena air dari got sawah tetap mengalir ke sana, walaupun sawah itu tidak lagi ditanami padi.

Saya melihat ke arah lubang tempatnya bersembuyi. Kelihatan ia mengintip saya dari balik rerumputan yang menutupi lubang itu. Mimik mukanya sangat lucu. Matanya bulat tak berkedip. Seolah-olah ingin tahu tindak tanduk saya. Lama ia berbuat begitu. Karena saya tidak melakukan apa-apa, iapun sesekali menoleh ke arah lain, barangkali untuk memastikan bahwa tidak ada manusia lain yang melihatnya selain saya sendiri. Laalu ia menoleh lagi ke saya dengan tatapan bola matanya yang bulat dan berwarna coklat terang. Ha ha..Saya jadi ingin tertawa dibuatnya.

Walaupun saya juga ingin tahu, tapi saya  memang tidak berniat mengganggunya. Jadi saya biarkan saja ia mengintip saya, sebelum akhirnya ia bosan lalu masuk jauh ke dalam lubangnya. Sayang saya tak punya kesempatan memotretnya full seluruh tubuhnya.  Karena pada saat ia terlihat penuh badannya, saya sedang tidak membawa kamera.

Itulah Musang Garangan atau sering juga disebut dengan Garangan Jawa atau Javan Mongoose (Herpertes javanicus). Binatang berukuran kecil ini merupakan salah satu keluarga Herpestideae,binatang pemangsa yang suka berburu tikus di sawah. Saya pikir, jika  misalnya binatang ini ditimbang paling banter beratnya cuma 1 kg.  Saya sangat terkesan akan warnanya yang sangat merah. Terutama ekornya yang berbulu tebal.

Sebenarnya Pak Tani diuntungkan juga dengan adanya Garangan ini. Selain makan tikus, Garangan juga suka memakan kodok, ular, burung, dan sebagainya. Giginya tajam memang didesain untuk memangsa binatang-binatang itu. Binatang ini sangat tangkas dan pemberani. Saking tangkasnya, ia bahkan diinformasikan sangat ahli dan beani melawan ular kobra hidup-hidup.

Menurut beberapa orang, garangan ini memang kerapkali berkeliaran terutama pada malam hari. Dan bahkan suka mengganggu ayam orang di kandangnya.

Kehidupan liar!

Siapa yang bilang bahwa kita harus pergi ke dalam hutan atau ke Kebun Binatang agar bisa melihat kehidupan liar? Ternyata tidak juga. Sebenarnya kita bisa melihat kehidupan liar tak jauh dari tempat kita berada.

Bali: Mengunjungi Lagoon BTDC, Nusa Dua.

Standard

Lagoon BTDCCuti dan pulang kampung! Adalah hal yang paling menyenangkan buat siapa saja. Termasuk saya.  Banyak acara yang ingin dilakukan. Mulai dari bertemu keluarga, teman-teman, upacara, hingga urusan hobby. Namun kali ini saya ingin memfokuskan diri dalam melihat-lihat burung-burung yang ada di alam. Jadi jauh-jauh hari sebelumnya saya sudah membuat rencana dengan adik bungsu saya untuk mengunjungi beberapa tempat yang menurut kami mudah melihat burung, antara lain  Hutan Mangrove Ngurah Rai, Pelabuhan Benoa, Dam Estuary Tukad Badung, Petulu, Pulau Serangan, Nusa Penida dan sekitar area Tanah Lot. Namun dalam perjalanannya, tidak semua tempat di dalam list itu bisa kami kunjungi. Dan bahkan, ada sebuah tempat yang tiba-tiba diusulkan oleh adik saya yang tidak ada di dalam list sebelumnya yakni: Lagoon BTDC, Nusa Dua Bali.

Lagoon BTDC (Bali Tourism Development Corporation), atau Laguna BTDC  adalah tempat pengolahan limbah cair (toilet, kamar mandi, kolam renang, pendingin ruangan, laundry, cuci piring, dapur, dan sebagainya) dari hotel-hotel di areal BTDC Nusa Dua. Limbah cair ini disalurkan menuju Lagoon dan diolah dengan menggunakan Waste Stabilization Pond – pengendapam, oksidasi dan filtering – yang kemudian menghasilkan air re-cycle (daur ulang)  yang siap digunakan untuk  menyiram tanam-tanaman dan rumput di taman-taman di sekitar hotel maupun lapangan golf. Karena di kolam ini banyak ditabur ikan-ikan mujair yang dimanfaatkan sebagai indikator biologis utuk mengetahui perubahan kualitas air, maka ribuan burung-burungpun berdatangan untuk berburu ikan-ikan yang banyak berkerimit di kolam itu.

Mengetahui bahwa burung-burung adalah mahluk yang aktif di pagi hari, maka pagi-pagi sekali saya dan adik saya pun berangkat ke sana. Sungguh sangat takjub melihat ribuan burung-burung beterbangan di atas kolam. Ada yang hinggap di ranting-ranting pohon yang bayak tumbuh di pulau-pulau kecil di dalam lagoon, ada yang terbang melayang-layang, ada yang terbang  menyeberangi kolam, ada yang menyambar ikan, ada yang berenang dan ada yang menyelam. Waduuuh banyaknya. Ini benar-benar surga burung. Ada berbagai jenis burung air di situ, mulai dari bangau putih kecil dan besar, kuntul kerbau, pecuk sawah belang, pecuk sawah hitam, pecuk ular, itik liar, trinil, dan sebagainya. Bahkan di sore hari sayapun masih bisa melihat burung kowak juga di sana.

Burung Kuntul Putih Besar (Egretta alba).

Burung Kuntul KerbauBurung Kuntul Putih Besar alias  Great White Heron  (Egretta alba), atau disebut juga dengan nama Burung  Bangau Putih, saya lihat mendominasi permukaan lagoon pagi ini.  Ukurannya agak sedikit lebih besar dibandingkan dengan burung-burung bangau yang lain. Tak terhitung  jumlahnya. Kebanyakan berdiri di pinggir lagoon sambil menunggu ikan mendekat. Sebagian ada juga yang sibuk terbang mengejar ikan yang moncongnya muncul di permukaan. Sambil terbang ia meluruskan kakinya dan menekuk lehernya.  Sangat senang melihat kesibukannya. Warnanya yang putih bersih tampak berkilau di udara pagi.

Burung ini memang memiliki warna bulu tubuh yang putih dari ujung kepala, leher, badan, sayap hingga ekornya. Jika musim kawin, ada bulu panjang hias muncul di tengkuknya yang membuat burung ini menjadi tampak sangat artistik. Lehernya jenjang,kakinya panjang berwarna hitam kelabu.  Kakinya sedikit berselaput.Paruhnya berwarna kuning yang membedakannya dari jenis burung bangau yang lain.

Burung Kuntul Kecil(Egretta garzeta)

Burung-Burung Air di Lagoon 2Burung ini sepintas lalu terlihat sama dengan burung Kuntul Besar. Namun jika kita perhatikan, sebenarnya ukurannya sedikit lebih kecil dan paruhnya juga berwarna hitam. Bukan kuning.

Bulunya sama dengan burung Kuntul Besar,dimana dari ujung kepala,leher, tubuh, sayap dan ekornya berwarna putih bersih. Namun kaki dan paruhnya berwarna hitam kelabu.

Burung bangau kecil ini juga tampak sangat sibuk di pagi  hari. Beterbangan ke sana kemari, sibuk menyambar-nyambar di atas permukaan air lagoon. Beberapa ekor tampak sukses. Berhasil menyambar ikan yang ukurannya ternyata cukup besar juga. Sisanya saya lihat sedang berdiri sabar menunggu ikan lewat di pinggir Lagooon atau menclok di batang pohon. Jumlahnya tidak kalah dengan Burung Bangau besar.

Burung Pecuk Sawah (Phalacrocorax).

Pecuk Padi BelangSelain jenis burung-burung bangau, saya juga melihat banyak jenis burung Pecuk di sana. Yang paling dominant adalah Burung Pecuk Sawah Belang atau disebut juga dengan Burung Pecuk Padi Belang atau Cormorant belang (Phalacrocorax melanoleucos),  yang jumlahnya  sangat banyak memenuhi lagoon ini.

Paling mudah melihatnya ketika mereka bertengger di pucuk-pucuk pohon dan bergerombol. Saking banyaknya bertengger di cabang pohon, saya malah berpikir bahwa pohon-pohon di tengah lagoon itu terlihat seperti sedang berbuah burung.

Burung Pecuk Padi Belang ini, memiliki mahkota, leher bagian atas, punggung, sayap dan ekor yang berwarna hitam. Namun bagian depannya,mulai dari wajah, leher depan,dada dan perut berwarna putih.

Selain yang belang, ada juga beberapa burung pecuk sawah biasa yang berwarna hitam (Phalacrocorax sulcirostris). Jumlahnya tidak sebanyak yang belang. Tampak beristirahat bersama-sama dengan jenis Pecuk Belang.

Burung Cangak Merah (Ardea purpurea).

Cangak MerahCangak ini berukuran sangat besar dan panjang. Hanya terlihat beberapa ekor. Namun karena ukurannya yang besar dan tampilannya yang berbeda, membuatnya menjadi  cukup menarik perhatian saya juga.

Burung ini tampak beberapa kali melintas terbang di sisi lagoon yang agak jauh dari posisi saya berdiri, sehingga  agak sulit memotretnya dengan jelas. Ada juga yang saya lihat sedang berdiri di pucuk pohon kersen menghadap ke timur, seolah sedang menyongsong matahari pagi.

Burung Cangak Merah,alias Purple Heron (Ardea purpurea), sebenarnya warna keseluruhannya adalah abu-abu kemerahan. Iris matanya berwarna kuning. Pada lehernya terdapat garis merah yang khas,  yang membuat kita mudah mengenalinya sebagai Cangak Merah. Paruhnya berwarna coklat kekuningan. Kakinya berwarna coklat kemerahan.

 Burung Raja Udang Biru Putih (Halcyon diops)

Raja Udang BiruBurung pemangsa ikan, udang dan katak  lainnya yang menarik perhatian saya lagi adalah jenis Burung Raja Udang alias  Cekakak.  Menurut keterangan salah seorang karyawan Lagoon yang sedang bertugas di sana, sebenarnya ada sekitar 5 jenis burung raja udang yang berhabitat di lagoon itu. Namun yang sempat saya lihat pagi itu adalah jenis Burung Raja Udang Biru Putih (Halcyon diops).

Awalnya agak sulit terlihat, namun karena suara kencangnya yang mirip orang tertawa ngakak (mungkin itulah sebabnya mengapa jenis burung ini disebut juga  dengan Cekakak), sayapun mendongakkan kepala ke arah pohon kayu pinis darimana suaraitu berasal. Lalu dengan cepat adik saya mengidentifikasi 2 ekor burung cekakak yang baru saja bertengger di sana. Sayang sekali yang seekor terbang masuk ke dalam belukar  mangrove yang ada di dekat lagoon itu.

Burung itu sangat menarik. Memiliki bulu tubuh bagian depan (pipi, leher, dada, peraut berwarna putih bersih. mahkota kepala dan punggung serta sayapnya berwarna biru terang. Ekornya berwarna biru gelap. Sangat kontras warna biru-putihnya di terpa sinar matahari pagi.

Cek kaaak kaaak kaaak kaaak kak…

Burung Kowak Malam (Nycticorax nytcicorax)

Burung KowakMenjawab rasa penasaran Mbak Monda, maka saya coba memasukkan di sini photo Burung Kowak malam yang juga banyak ada di lagoon dan aktif pada malam hari. Namun karena saya tidak menguasai  teknik  memotret yang baik, maka  gambar Burung Kowak ini jadi kabur dan tidak jelas.

Burung-burung Kowak ini saya temukan dalam jumlah yang sangat banyak pada saat saya datang kembali berkunjung ke Lagoon pada sore hari. Mereka terbang di permukaan Lagoon. dan sebagian lagi beristirahat di cabang-cabang pohon yang mana di pagi harinya, cabang-cabang pohon itu dikuasai oleh burung bangau.  Di sana bergabung antara Kowak  Malam muda yang berwarna coklat lurik, Kowak  Malam dewasa yang berwarna putih kelabu  dan bahkan juga Kowak Merah yang berwarna putih kemerah-merahan.

 

 

 

 

Drh. Paulus Mbolo Maranata: Veterinary Surgery & His Passion.

Standard

Dr Paulus M Maranatha 1Pernahkah membayangkan sesuatu yang buruk terjadi pada hewan kesayangan anda? Misalnya penyakit yang berbahaya atau luka serius yang membutuhkan bantuan dan penanganan yang lebih mendalam lagi? Atau bahkan terpaksa harus mengalami tindakan bedah?

Beberapa orang, mungkin akan sedikit mengernyitkan alis ketika mendengar operasi bedah dilakukan pada hewan. Sebagian mungkin tidak bisa membayangkan betapa mewahnya? Mengapa hewan perlu diperlakukan sama dengan manusia? Pakai operasi bedah segala? Wong duit  untuk biaya rumah sakit manusia saja nggak punya, boro-boro buat ngurusin hewan?  Atau sebagian lagi barangkali teringat praktikum Biology waktu di bangku sekolah, dimana kita  diajarkan membedah katak untuk mempelajari otot-otot dan organ tubuhnya.

Bedah pada hewan! Alias Veterinary Surgery telah dilakukan sejak jaman dulu kala. Baik dengan tujuan untuk kepentingan penyelamatan hewan itu sendiri maupun untuk kepentingan manusia.

Untuk kepentingan dan kesejahteraan hewan itu, misalnya bedah yang dilakukan untuk membantu hewan dari penyakit yang berbahaya (tumor, cancer, pengangkatan batu ginjal, jantung dsb) atau kecelakaan yang mengakibatkan patah/rusaknya organ tubuh hewan sehingga membutuhkan operasi pemotongan/amputasi, penyambungan tulang dan sebagainya. Tentu semua tindakan itu dilakukan demi kesehatan dan kesejahteraan hewan itu sendiri.

Selain itu, bedah pada hewan juga dilakukan demi kesejahteraan manusia. Misalnya adalah bedah Kastrasi/Kebiri yang banyak dilakukan pada hewan ternak dengan tujuan untuk meningkatkan berat badan ternak dengan cepat,  operasi pengangkatan rahim /indung telur & uterus (Ovario-Hysterectomy) tanpa indikasi medis yang dilakukan karena pemilik hewan tidak ingin hewannya beranak pinak banyak di rumahnya, dan sebagainya hingga operasi kosmetik untuk kecantikan hewan itu sendiri ataupun demi keamanan pemiliknya, seperti misalnya Tail docking, Ear trimming, Livestock Dehorning/pemotongan tanduk pada ternak dsb.

Dr Paulus M Maranatha 2Memang untuk yang saya sebutkan terakhir itu masih terjadi kontroversi – bahkan di kalangan dunia Veterinary sendiri – apakah itu against terhadap Animal Welfare atau tidak, karena pada kenyataannya hewan tak mampu mengatakan kepada manusia apakah ia senang dan setuju untuk dioperasi atau tidak. Masih terjadi perbedaan pandangan dari satu negara ke negara lainnya.

Namun apapun  pandangannya, kenyataannya kedua jenis operasi bedah pada hewan itu baik dengan indikasi medis maupun tidak, baik untuk kesejahteraan hewan maupun kepentingan manusia memang banyak dilakukan. Pada akhirnya memang tergantung daripada individu masing-masing. Dan tentunya bagi Dokter Hewan,  yang paling penting adalah bagaimana melakukan semua proses surgery itu sesuai dengan standard procedure Kedokteran dan peraturan yang berlaku.

Membicarakan masalah Bedah pada hewan, saya jadi teringat kepada Drh Paulus Mbolo Maranata, seorang dokter hewan yang jam  terbangnya dalam melakukan pembedahan hewan  cukup panjang.  Dokter Hewan jebolan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana di Denpasar ini, bersama keluarganya pada saat ini berdomisili di Batam.  Dokter inilah yang juga sempat meng’initiate’ diskusi yang cukup ‘hot’ di grup bb kami tentang pro-cons Cosmetic Surgery on Pets & Livestocks.

Nah, sangat kebetulan, ketika beberapa saat yang lalu saya ada urusan pekerjaan di Batam, saya berkesempatan bertemu dengan dokter yang sangat humoris dan penuh tawa ini, beserta keluarganya.

Sebenarnya saya ingin sekali melihat aktifitas bedah pada pasien yang ia tangani di kliniknya. Namun sayang sekali waktu kunjungan yang sangat pendek (dan juga dikurangi lagi dengan acara makan malam di luar+ ngobrol panjang), tidak membuat saya berhasil melakukannya. Akhirnya di sisa waktu yang ada itu,  hanya ada 2 ekor pasien yang sempat ditangani. Yakni seekor kucing dengan gangguan gastroenteritis dan seekor anjing pemburu yang terlihat lemas dan kurang bersemangat setelah kelelahan berburu.

Saya sangat tertarik melihat anjing pemburu itu dan banyak bertanya kepada pemiliknya. Barangkali karena baru pertama kali ini saya melihat seekor anjing pemburu.   Ada tanda bintang di tubuhnya. Pemiliknya sengaja memberi tanda untuk memudahkan pengenalan saat dibawa berburu. Rupanya cukup banyak juga jenis anjing pemburu dipelihara di sekitar area itu. Anjing itu mendapatkan pemeriksaan dan penanganan awal yang simple. Cukup untuk indikasi awal.Kelihatan ada parasit yang menginvasi area telinganya. Jika tidak membaik mungkin masih membutuhkan pemeriksaan lanjutan untuk memahami apakah ada keterlibatan microfilaria dari Dirofilaria imitis dalam menyebabkan kelemahan gerakan anjing pemburu ini, mengingat kasus cacing jantung ini menurutnya juga pernah ditemukan di Batam.

Kasus-kasus Bedah Yang Banyak Ditangani.

Dokter hewan Paulus bercerita tentang cukup banyaknya kasus-kasus bedah yang ia tangani, baik bedah minor maupun bedah mayor,  termasuk di dalamnya penangan tumor, kastrasi, cherry eye, tail docking dan sebagainya. Menurutnya kasus bedah yang paling banyak di Batam adalah Kebiri/kastrasi dan Ovario- Hysterectomy.

Cherry eyes in dog. Pre surgery

Anjing di atas mengalami kasus yang disebut dengan  “Cherry Eye” . Cherry Eye adalah istilah untuk menyebutkan kondisi mata, dimana terdapat benjolan daging berwarna merah pada sudutnya. Apa yang terlihat sebagai benjolan daging berwarna merah ini sesungguhnya adalah glandula/kelenjar air mata ketiga yang bertugas untuk membersihkan kotoran yang masuk ke dalam mata anjing. Oleh karena suatu sebab, misalnya infeksi bakteri, parasit dsb, jaringan di sekitar kelenjar itu melemah dan posisinya pun bergeser dan mendesak ke arah bola mata sehingga mata anjing mengalami gangguan. Penanganan umumnya adalah melalui tindakan bedah untuk mendorong kelenjar airmata ketiga itu ke posisinya semula atau memotongnya.

post surgery cherry eyes in dog(1)

Ini adalah gambar  anjing yang sama setelah operasi yang dilakukan oleh dokter Paul di Kliniknya. Anjing kelihatan lebih sehat, lebih senang  dan lebih cantik, tentunya.

tumor testicle pra surgery dogo argentino dog(1)

Sebagaimana halnya manusia, hewan pelihataan juga tidak terlepas dari kemungkinan mengalami gangguan tumor ataupun kanker yang tentunya mengganggu kesehatannya. Dan sama menderitanya. Oleh sebab itu membutuhkan pertolongan dari tenaga medis yang handal. Gambar diatas menunjukkan salah satu  bentuk tumor testicle yang menyerang anjing dogo argentino  yang dishare oleh dr Paul.

3 days post surgery.....slightly blue the colour cause spraying gusanex for avoiding flies coming(1)

Dan berikutnya adalah gambar anjing yang sama 3 hari pasca operasi. Warna biru gelap diakibatkan oleh penyemprotan cairan pelindung agar lalat tidak datang mengerumuni.

IMG_20140419_170328

Dan yang di atas ini adalah foto area operasi dogo argentino setelah sembuh total.

hysterectomy anjing...(1)

Selain itu dokter Paul juga banyak melakukan  Hysterectomy, yakni operasi bedah untuk mengangkat uterus seperti dalam foto di atas.

post surgery tail docking in mini poodle

Masih ada beberapa gambar yang dishare oleh dokter Paul.  Semuanya menunjukkan kepada saya bukti-bukti kesetiaannya pada profesi sebagai Dokter Hewan dan “passion’ tinggi yang dimiliki oleh dokter Paul terhadap dunia Veterinary Surgery. Ia tidak pernah mengclaim tentang passion-nya ini, namun foto-foto itu berbicara sendiri.

Social Services

Rupanya dokter kita yang satu ini juga tidak semata menjalani profesinya demi mengejar uang. “Nggaklah. Biasanya lihat-lihat juga sih. Kalau pemiliknya kira-kira kurang mampu ya paling bayarnya sedikit saja atau kadang malah pernah juga gratis” katanya. Begitu juga jika ia kenal cukup baik, atau tetangga. Anggap saja sebagai suatu bentuk pelayanan terhadap masyarakat dalam hal kesehatan hewan. Dengan begitu, masayarakat sekitar juga sangat baik kepada mereka sekeluarga . “Kalau lewat suka disapa dan dipanggil-panggil. Pak dokter! Pak dokter!” cerita istrinya kepada saya. Tak jarang juga dibawakan oleh-oleh, kue atau dibayar dengan buah-buahan. Ia merasa sangat senang dan tidak pernah merasa rugi karenanya.

Namun kadang-kadang ia juga mengenakan “charge” dengan harga ‘professional’ sesuai dengan seharusnya kepada pemilik hewan yang ia anggap  mampu secara finansial,  yang datang ke kliniknya.   Dengan demikian, secara umum iapun tidak mengalami kerugian untuk menutup biaya operasional.

Mengobrol dengan dokter Paul sangat menyenangkan. Banyak tawa dan canda diseling dengan pembicaraan yang sedikit lebih serius. Pendapatnya banyak yang menarik dan inspiratif.  Sehingga tak terasa malam sudah terlalu larut. Sayapun pamit untuk kembali ke hotel tempat saya menginap dan diantarkan oleh drh Paul dan istrinya.

Continuous Education.

Di perjalanan, saya mengenang kembali sejarah persahabatan kami sejak sama-sama di kampus Kedokteran Hewan Universitas Udayana, di Denpasar – BALI.  Selepas dari sana, kami menjalani hidup masing-masing, mengikuti panggilan hati dan nasib yang harus dihadapi, lalu tiba pada hari ini dengan membawa hasil campuran dari pendidikan yang kami terima di bangku sekolah dan kuliah serta ketekunan dan  passion kami sendiri-sendiri selama menjalani kehidupan. Ia telah berkembang dan terasah oleh pengalamannya yang sangat kaya di jalur ‘bedah hewan’ alias Veterinary Surgery, yang disebutnya dengan sangat tepat sebagai ‘Continuos Education“. Setiap hari adalah belajar. Setiap pengalaman baru memberikan pelajaran baru. Setiap penanganan kasus baru, juga memberikan pelajaran baru.

Senang bertemu dengan sahabat lama. Setiap orang menjadi unik dan memiliki kisahnya masing-masing untuk diceritakan kembali.

 

“Cahari olehmu akan sahabat, yang boleh dijadikan obat…” 

= Gurindam VI dari Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji=

 

 

Burung Bondol Yang Kembali Ke Alam Bebas.

Standard

Burung Pipit merahSabtu siang saya sedang mengamati kupu-kupu bersama anak saya yang kecil. Suami saya menyusul dan ikut sibuk membidikkan kameranya ke arah pohon keluwih yang tumbuh di seberang. “Wah..burung apa itu? Merah!” serunya. Saya pun  melihat ke arah yang ditunjuk suami saya.

Benar seekor burung kecil sebesar pipit tampak hinggap di dahan pohon itu. Tampangnya mirip pipit. Tapi berwarna merah. Sayang posisinya agak jauh dan sulit dilihat dengan mata minus saya. Sehingga yang saya lihat hanya warna merah kecil nongkrong di sana.

Wow! Amandava amandava!” teriak saya sok tahu. Seketika bersemangat. Saya benar-benar ingin melihat burung Amandava ini dari dekat.  Amandava amandava, adalah burung pipit berwarna merah padam dengan bintik-bintik putih serta sayap dan ekor kehitaman. Nama lainnya adalah Burung Pipit Benggala. Walaupun banyak sumber mengatakan bahwa Burung Pipit Benggala ini ditemukan juga di tanah air, namun terus terang saya belum pernah melihatnya. Terakhir saya melihatnya di ladang-ladang di daerah pedesaan di Bangalore, tak jauh dari wilayah Andra Pradesh India ketika tahun yang lalu saya berkesempatan berkunjung ke sana. Terbang berduyun-duyun di semak-semak di tepi ladang di sore hari menjelang malam.

Burung Bondol merah 1Burung yang jarang terlihat!”. kata saya.

Melihat wajah saya yang sangat meyakinkan, suami sayapun dengan sangat semangat memotret burung pipit berwarna merah itu. Ada sekitar 250 photo shoot dari burung pipit merah ini diambilnya dengan kecepatan tinggi dalam waktu kurang dari 6 menit. Sebelum akhirnya burung itu terbang lagi. Wah..hebat sekali suami saya!.

Amandava amandava!

Pasti ia menyangka apa yang saya katakan tentang binatang selalu benar. Ia tentu berpikir bahwa dokter hewan selalu tahu segala hal  tentang binatang. Padahal kenyataannya tidak selalu begitu. Inilah salah satu contohnya.

Ketika saya men’zoom’ foto hasil jepretan suami, saya mulai meragukan penglihatan saya.  Amandava amandava  yang saya tahu dan lihat di India  bukan begini. Warna merahnya berbeda. Sangat kurang kuat. Setahu saya Amandava amandava berwarna merah padam yang bercahaya.  Yang ini kok warna merahnya terasa mendem ya.. Hmmm..

Burung Bondol merah 2Lalu biasanya Amandava amandava juga berbintik-bintik putih. Ini tidak ada bintik-bintiknya. Malah sayap dan ekornya berwarna coklat pudar. Kok begini ya? Rasanya ada yang salah ini.  Ini kelihatannya bukan Amandava.  Tapi burung apa ya? Saya mencoba mengingat-ingat burung apa yang kira-kira berwarna merah pudar begini. Namun tidak berhasil.

Melihat keraguan saya, anak saya ikut mendekat dan melihat. “wah! Itu sih kayanya burung pipit yang dikasih warna, Ma! yang suka dijual di depan sekolah sekolah” komentar anak saya. O ya.. benar juga! Sekarang saya ingat. Di Bintaro ini beberapa kali saya pernah melihat pedagang burung menjajakan anak-anak burung pipit yang dikasih warna warni untuk menarik perhatian anak-anak kecil. Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Pink dan sebagainya. Mungkin burung ini sempat tersekap dalam kandang buatan manusia, lalu entah dengan cara apa berhasil meloloskan diri dan terbang kembali ke alam bebas.

Tak lama kemudian burung itu kembali datang mengunjungi rumput gelagah tak jauh dari tempat kami berdiri. Datang bersama dengan rombongannya, para burung Bondol Haji. Ohh..kemungkinan besar, burung pipit merah itu sebenarnya adalah Burung Bondol Haji yang dicat.

BondolHajiItulah sebabnya, ketika ia di alam bebas,  ia pulang kembali ke keluarga atau kelompoknya yakni Burung Bondol Haji.  Bukan pulang ke kelompok Burung Pipit ataupun Burung Peking yang juga ada banyak di situ. Naluri membawanya kembali pulang ke keluarganya.

Kini saya mengerti, mengapa ekor dan sayap burung ini berwarna coklat kemerahan. Karena warna coklat kemerahan itu memang warna yang dimiliki oleh burung Bondol Haji (Lonchura maja).  Hanya saja leher,dada dan kepala burung ini berwarna putih, sehingga memudahkan bagi pedagang burung untuk memberinya warna merah, pink, jingga, hijau,kuning dan sebagainya sesuka hatinya.

Bagi yang ingin tahu bagaimana wajah burung Bondol haji yang sesungguhnya,   bisa melihat gambar burung-burung di atas  ini. Beginilah tampang burung ini jika tidak dicat. Lebih cantik apa adanya, bukan?

Wah…mengidentifikasi burung, ternyata bisa juga dilakukan dengan melihat kelompok burung yang hidup bersamanya.

 

 

 

 

Cerita Tentang Kura-Kura Kami.

Standard

Kura Kura kamiSudah lama saya tidak bercerita tentang Kura-Kura di kolam saya yang kecil. Dua tahun yang lalu saya sempat bercerita bahwa keluarga saya memelihara 3 ekor kura-kura Telinga merah (Red Eared Terrapin) yang bernama Galapago, Cicilia dan Newbie di sini dan di sini. Galapago dan Cicilia adalah dua ekor betina penghuni kolam  sejak lama.  Sementara Newbie adalah kura-kura jantan yang pada saat itu merupakan pendatang baru. Anak saya mendapatkannya dari tukang sayur yang lewat.  Katanya ia tidak mempunyai kolam. Akhirnya anak saya setuju untuk menerima kura-kura itu. Sayangnya sekitar tahun yang lalu  si Newbie hilang entah kemana. Kami coba menelusuri got di perumahan namun tak berhasil kami temukan. Barangkali ia berjalan sudah terlalu jauh. Saya tidak tahu apakah ia bisa survive di alam? Atau ia di sungai yang airnya kelam oleh polusi? Seekor anjing atau musang telah memangsanya? Atau seseorang sudah menangkapnya? Saya tak bisa melanjutkan pikiran buruk saya. Tapi kenyataannya Newbie memang telah hilang.

Tak berapa lama, seorang penduduk sekitar menawarkan seekor kura-kura lagi. Badannya tidak jauh ukurannya dengan Newbie, tapi ini kura-kura betina. Alasannya kurang lebih sama. Tak sanggup memelihara dan merawatnya. Serta tidak mempunyai kolam. Memelihara kura-kura bukan saja perlu memiliki waktu luang dan uang untuk membiayai makanannya, namun juga perlu effort dan kesabaran yang tinggi.Menyikat kolam untuk memastikan air kolam selalu dalam keadaan bersih dan mengalir serta tidak tercemar kuman yang membahayakan.  Akhirnya anak saya menerimanya. Pada kenyataannya walaupun yang menerima kura-kura itu anak saya, namun yang sebenarnya merawat para Kura-kura itu adalah suami saya. Atau kadang kadang meminta tolong orang lain untuk membantu membersihkan kolam.

Begitulah akhirnya si Kura-kura baru ini menjadi anggota keluarga sejak sekitar tahun yang lalu. Kami tak mempunyai nama khusus untuknya. Oleh karena itu sebut saja si Newbie B, untuk meneruskan nama si Newbie yang sebelumnya. Suami saya adalah orang yang paling telaten dalam mengurus Kura-Kura ini. Walaupun demikian, tentu saja ada saat-saat kami terlalu sibuk dan tak mempunyai cukup waktu untuk merawat Kura-kura dengan baik. Lalu musibah datang tanpa bisa ditolak.

Mata Kura-Kura yang sakit

Mata Kura-Kura yang sakit

Pada suatu malam,sepulang kerja suami saya bercerita kepada saya bahwa ia menemukan si Newbie B sakit. Lemas tak bisa makan dan matanya bengkak dan buta. Saya lalu melihat kura-kura itu sebentar dan berkata kepada suami saya bahwa kemungkinan matanya bengkak karena  ada infeksi bakteri. Karena penglihatannya terganggu, tentunya tidak bisa melihat makanannya dengan jelas. Karena tidak bisa melihat makanan dengan jelas, tentu ia tidak makan. Karena tidak makan, ya tentu saja tubuhnya lemas.  Penanganan pertama tentu harus membersihkan,menyikat dan mengganti air kolam dan memastikan alirannya dengan baik. Jika diperlukan diobati dengan antibiotik.Mata Kura-Kura yang sehat

Mata kura-kura yang sehat

Eok harinya, suami saya dengan semangat membersihkan kolam dan mengganti airnya dengan yang baru. Lalu ia membantu mengangkat si Newbie B dan meletakkannya di atas dinding kolam serta menjemurnya di bawah matahari. Ia membantu kura-kura itu  makan dengan cara menyuapkan makanannya yang kecil-kecil (pelet ikan)  ke mulutnya. Iapun bercerita bahwa setelah mendapat perlakuan itu si Newbie B kelihatan sedikit membaik. Tidak selemas hari kemarinnya. Esok harinya suami saya melakukan hal yang sama. Membantu kura-kura itu makan dengan menyuapkan makanannya satu per satu.  Demikian terus selama beberapa hari. Setelah tubuh si Newbie B semakin menguat, maka ia hanya membantu mengarahkan  si Newbie B agar bergerak mendekati makanannya.  Makin lama makin terlatih hingga suatu saat kura-kura itupun bisa mencari makan sendiri tanpa dibantu lagi.

Sekarang saya berpikir, suami saya lebih berbakat menjadi dokter hewan ketimbang saya…

Kisah Pagi Dan Dua Ekor Bayi Bajing Kelapa.

Standard

Bayi Bajing Kelapa 1Hari libur! Pagi-pagi enaknya berjalan-jalan di sekitar perumahan. Menggerakkan kaki yang berhari hari terpaku di bawah kursi tanpa gerakan yang berarti. Ketika  melintas di gerbang depan, Satpam pintu gerbang menyapa saya dengan semangat. “Bu! Ibu!. Lihat nih Bu . Kami mendapat anak tupai” katanya. Sayapun mendekat untuk melihat. Dua ekor bayi bajing kelapa yang masih kecil tampak meringkuk di dalam sarang burung yang terbuat dari serat-serat tanaman.  Aiiiiih…. lucunya  Rasanya pengen menjawil.  Ukurannya segede bola pingpong. Warnanya coklat hijau zaitun Matanya merem tertutup, seolah-olah tak mau melihat manusia.Ia membenamkan wajahya ke dalams arang burung. Aduuh kasihanya.Tentulah  ia sangat ketakutan. Kemana ibunya ya…

Dapat darimana?” tanya saya kepada Pak Satpam.  “Jatoh, Bu. Dari pohon palem” Jelas satpam. “Itu noh, tempat ibu tadi berdiri” katanya dengan logat Betawi yang sangat kental sambil menunjuk pohon palem tinggi tak jauh dari posisi saya berdiri sekarang. Sayapun menengok. Tinggi juga jatuhnya. Untungnya kedua bayi kecil itu jatuh berikut sarangnya yang empuk, sehingga tidak cedera. “Kenapa tidak dikembalikan saja ke tempatnya?” tanya saya. Satpam menggeleng karena pohon palem itu memang terlalu tinggi untuk dipanjat. Sayapun berpikir. Lagipula jikapun berhasil diletakkan kembali  di sana setelah jatuh dan agak lama di bawah, belum tentu induknya tahu juga kalau anaknya sudah kembali ke atas.  Jika induknya tidak datang, tentu kedua bayi bajing itu bisa bertahan juga jika tidak ada yang memberi makan. Saya tidak bisa mematahkan teori itu. Bisa jadi benar.  Mereka menemukan bayi bajing itu saat pergantian jaga dengan Satpam sebelumnya. Jadi mungkin sebenarnya sudah jatuh sejak kemarin atau semalam, namun tak ada yang melihat.  Hm.. tak mungkin juga saya meminta Satpam untuk memajat pohon itu berkali-kali untuk memeriksa apakah  induknya datang atau tidak, atau untuk memberinya makanan. “Jadi?” Tanya saya.

Daripada mati, seorang dari Satpam itu akan memeliharanya. Memberinya susu dan merawat kesehatannya. Ia bercerita bahwa sebelumnya ia juga pernah memelihara Bajing sejak bayi hingga besar. Demikian juga dengan anak burung Belekok. Dan binatang-binatang itu sangat jinak . “Kalaupun dilepas, akhirnya ia pulang lagi ke rumah” katanya.  Saya mengangguk-angguk dan  tak berkomentar lagi. Memang ada orang-orang yang puya kesabaran dalam memelihara binatang yang tertimpa kemalangan.

Akhirnya pagi itu diakhiri dengan ngobrol ke kiri dan ke kanan tentang Burung-Burung yang banyak berkeliaran di sekitar perumahan. Satpam mendemonstrasikan kepada saya, bagaimana cara memanggil burung agar berdatangan dengan rekaman suara burung tertentu. Benar saja. Tiba-tiba entah datang darimana belasan burung berdatangan dengan cepat dan bertengger di pohon di dekat tempat kami berdiri. Ada burung Kutilang, Cerukcuk, burung Cabe, burung Prenjak dan burung Madu. Sayapun memotret burung-burung itu.  Sangat menakjubkan! Bagaimana ya sebenarnya cara kerja suara burung itu? Apakah sebenarnya yang dikatakan oleh burung di rekaman itu yang membuat burung-burung lain tiba-tiba berlomba-lomba datang mendekat? Seandainya saya mengerti bahasa burung.

Matahari merangkak naik. Sambil berjalan pulang saya  memikirkan betapa banyak hal yang tidak kita kuasai sebagai manusia. Yang masih tetap menjadi rahasia alam..

Persia, The Cutest Morning Alarm.

Standard

Animal behaviour.

Andani- Persia

Beberapa bulan yang lalu, saya pernah bercerita tentang Persia, anak kucing liar yang membuntuti anak saya terus. Karena setelah melapor ke Satpam dan minta cross-ceck, ternyata tetap tidak ada seorangpun yang memilikinya, maka anak kucing liar  itu akhirnya menjadi anggota keluarga kami. Sekarang sudah lebih dari 3 bulan ia bersama kami. Anak saya memelihara dan merawatnya dengan sangat baik. Memberinya makan dan memandikannya dengan telaten.Juga menemaninya bermain di saat-saat senggang. Sebagai akibatnya kucing kecil ini menjadi sangat manja dan selalu menyenangkan. Wajahnya sangat lucu, cantik dan menggemaskan. Read the rest of this entry