Tag Archives: Waktu

Siang dan Malam Dalam Bahasa Bali.

Standard

“Apa Bahasa Balinya Siang?” Pertanyaan ini cukup sering ditanyakan kepada saya oleh beberapa orang teman. Ini membuat saya jadi tergelitik untuk menulis.

Bali mengenal beberapa istilah yang berkaitan dengan waktu. Saya mencoba menceritakannya mulai dari yang paling umum dulu ya.

DINA & WAI.

Hari dalam Bahasa Bali umum disebut dengan kata Dina. Jadi satu hari disebut dengan A Dina. A = satu. A dina, duang dina, telung dina, pitung dina dst (1 hari, 2 hari, 3 hari, 7 hari dst). Kata Dina juga umum disebutkan di depan nama-nama hari. Misalnya Dina Redite (hari Minggu), Dina Wraspati (hari Kamis), dsb.

Nama lain dari Dina adalah Rai. Atau umum diucapkan sebagai Wai. Kata Rai ini sesungguhnya berasal dari kata Rawi yang artinya Matahari. Dimana yang dimaksud dengan kata A Rai atau 1 Rai adalah waktu yang ditempuh sejak matahari (sang Rawi) pertama kali terbit di ufuk timur, hingga kembali terbit lagi di ufuk timur. Jadi jika menyebut satuan hari, yaitu A Wai, duang wai, tigang wai.

KEMARIN DAN BESOK.

Bagaimana mengatakan kemarin dan besok dalam Bahasa Bali?.

Ibi adalah kata yang umum digunakan untuk mengatakan kemarin. Kata lain dari Ibi adalah Dibi yang asal katanya dari Di + Ibi = Dibi (saat kemarin).

Sedangkan untuk mengatakan besok , orang umum mengatakan “Buin Mani”. Dua hari lagi / lusa = Buin Puan. Tiga hari lagi = Buin Telung Dina. Empat Hari lagi = Buin Petang Dini. Dan seterusnya.

Jika ingin menyampaikan dalam Bahasa halus, maka Besok = Benjang. Lusa = Malih Kalih Raina. Tiga hari lagi = Malih Tigang Raina.

LEMAH PETENG.

Siang – Malam di dalam Bahasa Bali disebut dengan Lemah – Peteng.

Lemah itu mengacu pada saat hari terang, sejak matahari terbit hingga terbenam. Sekitar jam 6 pagi hingga jam 6 sore.

Sedangkan Peteng itu mengacu pada saat hari gelap. Sejak matahari terbenam hingga terbit lagi. Sekitar jam 6 sore hingga jam 6 pagi esoknya. Disebut Peteng karena saat itu gelap. Peteng Dedet = Gelap Gulita.

Peteng sering juga disebut Lemeng. Sehingga jika menyebutkan satu malam, menjadi a lemeng. Kata a lemeng lebih umum ketimbang a peteng.

Kata halus dari Peteng adalah Ratri.

PAGI SORE

Di dalam satu hari kita tentunya mengenal pagi, siang, sore dan malam. Bagaimana mengatakannya dalam Bahasa Bali?.

Pagi disebut dengan Semeng dalam Bahasa Bali. Dan sering diimbuhi dengan -an untuk mengatakan keadaan, sehingga menjadi Semengan. Kata Semengan itu kira-kira mengacu dari sekitar jam 5 pagi hingga sekitar jam 9 pagi. Rahajeng Semeng adalah ucapN yang umum digunakan yang setara dengan Selamat Pagi.

Siang disebut dengan Tengai. Berasal dari kata Tengah Ai yang artinya Tengah Hari ( Ai/Rahi = Hari). Kata Tengai mengacu dari sekitar 10 pagi hingga pkl 3 sore. Tepat jam 12.00 siang disebut dengan Tengai Tepet.

Sore disebut dengan Sanja. Mengacu dari sekitar 4 sore hingga pukul 6 sore. Antara pukul 5-6 sore disebut dengan Sandya Kala yang artinya “persendian waktu) yakni pertemuan antara siang dan malam. Atau kadang juga disebut dengan “Saru Mua”, yang artinya saat dimana kita sulit mengenali wajah seseorang jika tanpa bantuan cahaya yang baik.

Malam disebut dengan Peteng, Lemeng atau Wengi. Mengacu mulai saat matahari terbenam atau pukul 7 malam – 4 pagi. Tepat pukul 12 00 disebut dengan Tengah Lemeng.

Dini Hari disebut dengan Das Lemah, mengacu sekitar pukul 4 -5 pagi saat binatang binatang terbangun dan memberi penanda pagi seperti misalnya Ayam Berkokok.

Sinkronisasi Waktu.

Standard

HidanganSedang berada di rumah. Cuti. Gara gara  si Mbak pulang kampung dan anak-anak liburan di rumah. Apalagi yang saya lakukan selain berberes dan masak buat anak anak dan keluarga.  Malam kemarin rencananya saya memasak  sup cream jagung, rolade saus barbeque, goreng tofu dan bikin ca pakchoy. Saya pikir anak-anak akan senang. Karena semua masakan yang saya buat itu kesukaan mereka – kecuali sayuran. Itu mah kesukaan emaknya. Aneh juga! Sulit untuk membujuk anak-anak agar menyukai sayuran.

Pertama yang saya lakukan adalah memasak nasi dulu. Mencuci beras, lalu menyalakan rice cooker. Saya pikir  sementara saya memasak makanan-makanan ini, tentu setelah semua matang, nasi di rice cookerpun sudah matang. Demikianlah saya memasak makanan itu satu per satu. Setengah jam kemudian. Selesailah sudah semuanya!. Saya melirik ke rice cooker. Posisi indikator panas ada di “Warm” bukan di “Cook”. Berarti sudah matang. Wah…cepat sekali matang ya. Pikir saya dalam hati. Mungkin karena masaknya tidak banyak. Nah sekarang tinggal menghidangkan di meja makan dan manggil anak-anak dan suami untuk makan. “Ayo sayaaaang! Kita makan!” teriak saya dari dapur. Anak-anakpun bermunculan di dapur. Saya meminta tolong yang besar untuk membantu menyiapkan piring sendok dan garpu serta gelas untuk diletakkan di meja makan. “Oke Ma!” jawabnya dengan manis seperti biasanya. Lalu mengerjakan apa yang saya perintahkan. “Apa lagi Ma?” tanyanya. Nggak ada lagi. Semuanya sudah di meja makan.O ya..kecuali Nasi. Masih di rice cooker. “Panas! Biarlah mama saja yang ngangkat” kata saya kepada anak-anak. Merekapun menurut dan duduk manis di dekat meja makan.

Saya membuka tutup rice cooker. Astaga!!! Alangkah terkejutnya saya. Ternyata nasi sama sekali belum matang! Malah masih mentah. Masih beras!. Rupanya setelah mencolokkan kabel Rice Cooker ke listrik, saya lupa memencet tombol “Cook” untuk memberi perintah agar Rice Cooker memasak. Pantas saja status indikatornya di “Warm”. Aduuuh…bagaimana sih saya ini. Kok bisa sepikun ini. Ada dua kesalahan yang saya lakukan, pertama adalah kurang teliti alias lupa menekan tombol “Cook”, dan yang ke dua adalah tidak memfollow up kecurigaan saya, padahal saya sudah heran sendiri mengapa nasi terasa lebih cepat matang dari biasanya. Alih-alih memeriksa kondisi Rice Cooker, saya malah memanggil anak-anak untuk makan. Saya kurang men’challenge’ apa yang saya lihat dan pikirkan.

Akhirnya saya meminta maaf pada anak-anak dan meminta mereka untuk sabar menunggu selama kurang lebih setengah jam lagi. “Aduuh Mamaaa! Mamaa!” Anak-anak tertawa dan kembali ke gadgetnya masing-masing lagi. Suami saya hanya senyum-senyum saja  dari balik laptopnya  mengetahui kehebohan itu . Huaaa…malunya saya!.

Setengah jam kemudian barulah nasi siap. Walaupun cuma selisih setengah jam, namun semuanya jadi berantakan juga. Karena  sekarang jadi kurang sinkron lagi. Saat nasi matang dan masih panas, semua hidangan yang lain sudah menjadi dingin. Berkuranglah kenikmatannya!. Idealnya sih, begitu hidangan yang lain siap, nasi juga tepat pas sudah matang. Nah..itu baru mantap!.

Awalnya ide saya juga begitu sih…makanya saat diawal yang saya lakukan adalah mencuci beras terlebih dahulu, karena memasak nasi membutuhkan waktu yang lebih lama. Tapi apa daya..faktor U juga rupanya sudah mulai ambil bagian… sehingga saya lupa he he.

Ingat kejadian itu, saya jadi memikirkan betapa pentingnya sinkronisasi waktu dalam setiap hal yang kita lakukan dalam hidup. Sinkronisasi waktu membantu kita mengoptimalkan segala sesuatunya sehingga kita mendapatkan nilai terbaik dari apa yang seharusnya kita dapatkan.

Contoh lain dari sinkronisasi waktu yang saya tahu banyak dilakukan oleh penduduk Betawi di lingkungan saya tinggal adalah menanam bibit timun suri pas 3 bulan menjelang bulan Ramadhan. Dengan harapan, saat timun suri ini berbuah dan matang, itu sudah pas sedang memasuki bulan Ramadhan dimana orang-orang berpuasa dan timun suri tentu banyak dibutuhkan untuk membuat campuran minuman dan es buat buka puasa. Jika menjual buah timun suri pas di bulan ini, tentu saja petani bisa menjual dalam jumlah sangat banyak dan dengan harga yang sedang pas tinggi-tingginya karena tingginya jumlah permintaan.

Tentunya masih banyak lagi contoh-contoh lain dari aplikasi Sinkronisasi Waktu dalam kehidupan kita sehari-hari. Merapikan genteng atau membersihkan saluran got saat musim kemarau, dengan harapan nanti pas musim hujan tidak ada lagi genteng yang bocor atau kebanjiran gara-gara saluran air tidak lancar, selain ongkos merapikan genteng saat musim kemarau tentu tidak semahal saat musim hujan. Dan sebagainya.

Jika kita mampu mengingat-ingatnya kembali dan menerapkan sinkronisasi waktu ini dengan baik dalam setiap hal yang kita lakukan, tentu akan sangat membantu.

24 Jam Untuk Setiap Orang.

Standard

WaktuTuhan itu Maha Adil. Setidaknya itulah yang diajarkan oleh ibu saya. Sebagai kanak-kanak, tentunya saya pernah mempertanyakan kebenaran pernyataan itu, ketika tanpa sengaja  melihat banyak juga kenyataan yang tidak adil di sekitar. Namun jawaban Ibu saya selalu sama. Bahwa, “Tuhan itu tetap Maha Adil. Jikalaupun kita belum mampu melihat keadilan terjadi pada saat ini,  bukan berarti bahwa Tuhan itu tidak adil. Barangkali hanya karena kita belum mampu melihat skenario besarnya dengan lengkap saja. Barangkali yang kita lihat hanya fragment-fragment kecil kehidupan saja. Pecahan-pecahan yang mirip puzzle yang belum mampu kita rangkai dengan akal pikiran kita. Seperti halnya bahwa bukan berarti bumi itu datar, hanya karena kita tak mampu melihatnya dari posisi yang memungkinkannya terlihat utuh dan bulat.

Ya..okelah. Sayapun menurut apa kata Ibu saya saja. Tuhan itu memang Maha Adil.

*****

Sebenarnya saya bukan mau membahas  masalah  Ketuhanan sih. Tapi sedang teringat akan banyaknya aktifitas yang ingin dilakukan  setiap hari namun rasanya kekurangan waktu. Duuuuh! Pengen nonton theater lagi, belum kesempatan. Terus ada kerabat yang ngajakin ketemuan, sudah janji akan segera melaksanakannya.. namun belum kesempatan juga. Pengen kopdaran sama teman blogger yang dekat-dekat  aja..belum kejadian juga. Apalagi melihat begitu banyaknya photo-photo teman-teman yang lagi kopdaran.. duuh jadi pengen banget. Janji sama anak-anak mau ngajak pulang kampung..beluman juga. Duuuhhh…enak banget ya yang bisa pulang kampung sering-sering. Kadang-kadang terasa banget “Duuuh..rasanya nggak adil banget, di saat orang lain sudah bersantai-santai menikmati hidup..kenapa aku sendiri yang harus bekerja keras sampai malam hanya untuk menyelesaikan pekerjaan…hua auww….

Bukan saja gara-gara pekerjaan yang numpuk semata. Weekend saja saya masih tetap bingung bagaimana membagi waktu dengan baik. ” Ada 2 jam yang saya miliki sebelum kita pergi , mana mendingan;  saya menggambar? ngeblog? motret-motret burung di pinggir kali? atau menari?” tanya saya kepada suami pada sebuah akhir pekan. Semua ingin saya kerjakan. Semua saya sukai. Namun saya tidak punya cukup waktu untuk mengerjakan semua itu sekaligus. Minta pendapat. “Menari” jawab suami saya dengan tegas dan jelas dari balik koran paginya.  Yap..terimakasih atas jawabannya, Ok lah saya menari. Tapi masalahnya saya masih tetap juga ingin menggambar. Dan juga ingin memotret. Dan juga ingin ngeblog. Belum lagi keinginan-keinginan lain yang ada di balik permukaan. Seperti pengen masak ini, pengen beli pupuk, pengen nanem bibit tomat yang dua minggu lalu habis disemai.

Akhirnya saya menyadari, bahwa sebenarnya pertanyaan saya  itu hanya sebuah retorika. Kalimat tanya yang sebenarnya tidak perlu dijawab oleh suami saya. Karena toh jika dijawabpun saya tetap tidak  mampu memecahkan masalah saya.  Jadi saya yang harus memutuskan sendiri, apa yang mau saya lakukan untuk mengisi waktu saya yang terbatas ini.

Nah sebenarnya di sinilah letak permasalahannya. Setiap orang memiliki sederet keinginan untuk melakukan ini dan itu. Yang berbeda-beda.  Namun pada kenyataannya kita semua diberi waktu 24 jam sehari. Tidak ada yang mendapat lebih dan tidak ada yang mendapat kurang. Itu adil namanya. Masalahnya bagaimana sekarang kita masing-masing memanfaatkan waktu yang jumlahnya 24 jam per hari itu setiap hari.

Bagi sebagian orang, waktu yang adil ini *24jam per hari* , barangkali terasa kelamaan. Misalnya bagi mereka yang sedang menunggu, sedang merindu,  yang sedang dalam penantian, yang sedang bosan, yang sedang kesakitan dan menderita  dan sebagainya. Waktu yang sebenarnya 24 jam per hari tidak lebih dan tidak kurang ini, jadi terasa sangat panjang.  Mengapa? Karena di saat-saat seperti itu, kita tidak memiliki kemampuan optimal untuk menikmati waktu kita. Kita ingin waktu cepat berlalu.

Sebaliknya jika kita menikmati hidup kita dan berencana ini dan itu, waktu berjalan terasa terlalu sangat cepat. Waduuuh..sudah hari Minggu siang saja ya? Besok masuk dong! Padahal masih pengen main bersama anak-anak. Padahal masih pengen ngeblog lebih banyak. Padahal masih pengen menggambar.Padahal masih pengen bereksperimen di dapur. Dan seterusnya, dan seterusnya keinginan diri.  Waktu yang sebenarnya sama 24 jam sehari tidak lebih dan tidak kurang ini terasa sangat pendek. Mengapa? ya..karena di saat-saat seperti itu, kita sedang sangat-sangat menikmati apa yang kita lakukan di dalam waktu itu. Kita ingin waktu jangan berlalu.

24 jam yang sama, bisa terasa berbeda tergantung bagaimana suasana hati kita dan bagaimana kita menikmatinya.