Tag Archives: Wanita

Wanita Dan Tas Tangannya.

Standard

Isi Tas Wanita

Seorang teman bercerita tentang betapa herannya ia akan kelakuan istrinya yang menyimpan segala macam barang di dalam tas. “Segala macem barang deh dimasukin. Kalu dompet dan peralatan kosmetik, saya bisa mengertilah. Tapi ini? Segala macam.Masa sak bon-bon, struk belanja segala disimpan sih? Kan itu sampah? Pantes saja berat ” Katanya. Lalu sambil tertawa ia melanjutkan “Sungguh! Wanita itu memang sulit dimengerti, ha ha ha..” . katanya tertawa terbahak-bahak.

Oops!. Seorang teman wanita yang kebetulan ada di sana  berkata,“Di dalam tasku juga banyak bon-bon yang seperti itu, Pak. Disimpan aja dulu, siapa tahu nanti diperlukan. Tapi nanti kan sekali waktu dibersihkan dan dibuang juga kalau memang sudah pasti tidak ada gunanya” jelas teman saya membela diri.Seolah dia yang dituduh. Padahal kan teman saya itu sedang membicarakan istrinya. Read the rest of this entry

International Working Women’s Day.

Standard

Rangkaian BungaKemarin tanggal saya sedang  sangat sibuk, ketika seseorang berkata ”Bu Dani, diminta naik ke aula untuk perayaan International Women’s Day.  Oh?! Tanggal 8 Maret.Saya tidak ngeh kalau hari itu adalah Women’s Day.Soalnya hapalnya cuma Hari Kartini  tanggal 21 April dan paling banter Hari Ibu tanggal 22 Desember. Setelah menyelesaikan sebuah pengggalan presentasi,sayapun akhirnya tergopoh-gopoh naik ke Aula gedung. Dan mudah ditebak, pastilah akan disuruh memberikan Opening Speech dan memotong kue. Memotong kuenya sih nggak apa-apa. Tapi membuat Speech dadakan begini dalam hitungan menit, pasti merupakan tantangan tersendiri bagi saya. Read the rest of this entry

Pouch Renda: Selalu Romantis, Selalu Feminine.

Standard

Andani- Crochet PouchMelakukan pekerjaan rutin dari waktu ke waktu tanpa variasi tentu sangat membosankan, bukan? Untuk menghilangkannya saya suka melakukan hal-hal yang menyenangkan hati saya. Apasaja. Dan tak jarang adalah kegiatan  yang sudah lama tak pernah saya lakukan lagi. Misalnya kali ini, sambil menunggu hujan reda, saya teringat akan sisa-sisa benang lama saya yang masih bisa saya manfaatkan. Saya akan membuat renda dari benang nylon (karena benang sudah lama – saya sudah tidak melihat lagi entah apa merknya – tapi yang jelas warnanya coklat muda/krem yang terlihat sangat manis). Saya sangat menyukai renda atau crochet dalam bahasa internationalnya, karena menurut saya renda selalu terlihat feminine dan romantis. Apapun warnanya. Read the rest of this entry

Women Talk More Than Men?

Standard

BBM

Saya sering mendengar bahwa wanita berbicara lebih banyak daripada pria.  Saya tidak terlalu yakin dengan pendapat itu. Barangkali karena saat jaman kuliah 85% teman saya adalah anak laki-laki. Teman wanita termasuk mahluk langka di fakultas Kedokteran Hewan yang didominasi oleh para pria itu. Bergaul dengan mereka, berdiskusi dengan mereka, berbagi pekerjaan, tugas,kesulitan, makanan  dan sebagainya. Bahkan menggelandang ke berbagai tempatpun dengan mereka. Jadi walaupun ada sedikit perbedaan, saya pikir dunia saya sangat serupa dengan dunia para teman-teman pria saya. Teman-teman pria saya berbicara sama banyaknya dengan saya.  Beberapa diantaranya bahkan berbicara lebih banyak daripada saya. Namun tentu saja saya tidak pernah melakukan pencatatan ilmiah tentang ini. Namun setidaknya itulah yang menyebabkan saya tak begitu yakin dengan pendapat umum bahwa wanita berbicara jauh lebih banyak daripada pria.Hingga beberapa hari yang lalu.

Saat itu saya sedang melihat kembali percakapan saya dengan suami di message sebuah telpon genggam. Barulah saya sadari bahwa ternyata suami saya sangat sedikit berbicara. Saya menulis, bercerita tentang kelakuan anak saya yang lucu “ Bla bla bla…dst (14 kata)”. Suami saya membalas dengan satu emoticon tertawa.

Lalu saya menulis lagi “Bla bla bla bla…dst (19 kata)” Suami saya membalas dengan dua emoticon tertawa (satu tertawa datar, satunya lagi tertawa miring).

Lalu saya menulis lagi. Kali ini dua  point – satu kesimpulan tentang anak saya dan satunya lagi informasi mengenai jam ketibaan saya di bandara.”Bla bla bla…dan bla bla..(total 21 kata) “ suami saya menjawab “Oke, Ma”.

Wah, betapa iritnya ia dengan kata-kata. Saya belum pernah menyadari sebelumnya.

Karena penasaran, lalu sayapun memeriksa kembali percakapan-percakapan sebelumnya yang belum sempat saya hapus. Ternyata memang selalu serupa itu. Saya bercerita banyak tentang apa saja kepadanya. Sementara  suami saya menanggapinya hanya dengan satu-dua kata. Maksimal 30% dari jumlah kata –kata yang saya keluarkan. Dan anehnya sayapun tidak pernah terganggu dengan kebiasaan irit kata-katanya itu. Barangkali karena saya tidak menyadarinya.Atau barangkali karena terkadang ia melemparkan emoticon senyum, tertawa, jempol, kiss, hug dan sebagainya sebagai representasi emosinya. Sehingga saya cukup terhibur juga.

Gara-gara melihat itu, akhirnya saya memeriksa kembali semua percakapan-percakapan saya dengan para pria di daftar kontak saya – anak saya, saudara, sepupu, sahabat dan teman-teman pria saya. Walaupun score-nya tidak separah suami saya, ternyata mereka serupa juga. Rata-rata hanya menulis kata sebanyak 30-50% saja dari jumlah kata yang saya tulis. Hanya ada satu-dua saja yang  kadang menulis agak panjang. Ada yang memang kebetulan suka ngobrol dan ada juga karena memberikan penjelasan teknis kepada saya. Waduuuh!!.

Sekarang sangat sulit bagi saya untuk tidak mempercayai apa kata orang bahwa wanita berbicara lebih banyak dari pria.

Catatan Dari Bandara Ke Bandara: TKI Oh TKI…

Standard

Setelah menempuh penerbangan selama dua jam  dari Kuala Lumpur, sampailah saya di  Jakarta. Pesawat merapat ke terminal. Saya berkemas turun dan berdiri di alley pesawat. “Adik ke Jakarta, kan?” tanya seorang Ibu di belakang saya..”Ya, Bu. Saya ke Jakarta.  Ibu juga dari Kuala Lumpur?”. Jawab saya. Ibu itu mengiyakan. “Dik, nanti saya tolong dikasih tahu caranya  ya. Saya bingung caranya pulang. Belum pernah sebelumnya”.  Ia mau ke Pamulang, tapi saudaranya yang awalnya mau jemput ternyata memberi kabar tidak bisa menjemput.  Ok. Saya lalu menawarkan, bahwa Ibu itu boleh ikut saya sampai di Cileduk atau Bintaro. Dari sana bisa mengambil taxi sendiri ke Pamulang. Sudah dekat dan lumayan bisa irit ongkos.

Lalu ia bercerita banyak. Bahwa ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Majikannya cukup baik. Namun menurutnya pekerjaannya sangat melelahkan. Ia jarang sekali mendapat istirahat.  Kerja terus dari pagi sampai larut malam. Istirahat sebentar. Subuh harus bangun lagi utuk  bekerja. Mulai mengurus anak,  membersihkan dan merapikan rumah, mencuci gosok, memasak di dapur dan sebagainya. Semua ia kerjakan sendiri. Tidak ada pembantu lain. Ooh! Kasihan sekali. Berat juga ya?

“Tapi, dik.  Agent saya jahat sekali” Katanya mengeluh kepada saya. “Saya dipindahkan terus dari  satu agent ke agent yang lain. Dijanjikan pulang setelah dua tahun. Tapi sampai lima tahun saya ditahan terus. Dan inipun setelah saya  nekat mau melapor, barulah saya diperbolehkan pulang.” katanya. Perasaan saya tidak enak mendengarkan itu. Bagaimana bisa seorang manusia ditransaksikan sedemikian rupa dari satu agent ke agent yang lain dan dicabut haknya untuk pulang dan bertemu keluarganya begitu saja.

Kami melewati gerbang imigrasi. Saya lihat pasport ibu itu warnanya hijau muda, sedikit berbeda dengan warna kulit pasport saya.  Saya tidak tahu,apakah  itu cuma variasi warna hijau saja  atau memang semua pasport TKI warnanya hijau muda ? Petugas itu bertanya “Lho? Ibu belum pernah pulang dalam 5 tahun terakhir ini ya?” yang dijawab oleh ibu itu ”Ya Pak. Soalnya agent saya menahan saya terus” Petugas itupun bertanya lagi “ Oh, jadi ibu bekerja di sana?”  “ Iya, Pak” Petugas lalu memberikan  passport ibu itu kembali.

Saya mengajak ibu itu  ke rest room, lalu  menemani saya mengambil bagasi terlebih dahulu. Ia bercerita bahwa ia terpaksa menjadi TKI, karena mantan suaminya (almarhum) penjudi dan meninggalkan sisa utang sebesar 10 juta rupiah  yang harus ia bayar.  Jika tidak, maka rumah satu-satunya yang mereka miliki akan disita. “Kalau tidak begitu, bagaimana nasib kedua anak saya dan ibu mertua saya? Tidak bisa  makan. Tidak punya tempat tinggal. Saya kangen sekali anak saya. Sudah  lima tahun saya ditahan terus di Malaysia. Tidak diperbolehkan ke Indonesia.” Katanya dengan airmata mengambang. Saya jadi ikut terbawa oleh kesedihannya. Saya melihat kemuliaan hati seorang ibu di hadapan saya. Pengorbanan demi anak-anaknya. Betapa menyedihkannya.

Ia juga menyebutkan kepada saya, mengenai besaran penghasilannya dalam ringgit. Ketika saya kurs 1 ringgit = Rp 3 000,- saya agak terkejut. Ternyata hanya sekitar 25% lebih tinggi dari rata-rata gaji pembantu di Jakarta.  Sebenarnya banyak juga rumah tangga yang membayar lebih tinggi atau sama dengan itu. Pekerjaannya pun lebih santai dan tidak capek, karena banyak yang membayar 2 atau 3 orang pembantu rumah tangga sekaligus.  Bervariasi sih. Dan sayang, ibu itu ternyata tidak tahu berapa kurs ringgit. Sehingga tidak tahu, berapa jumlah gajinya dalam rupiah. Weleh! Pahit bener!. Dan lebih pahit lagi mendengarnya,  ternyata ibu itu pulang tanpa membawa uang. Uangnya masih disimpan majikannya. Katanya nanti akan ditransfer. Ya..ampuuun!.

Menjelang pintu keluar, dua orang petugas menghampiri kami.  Seorang wanita muda yang sangat cantik dalam pakaian dinasnya ditemani oleh seorang pria.  Ia minta agar ibu itu menunjukkan pasportnya.  Saya menghentikan langkah saya. Petugas mempersilakan saya keluar. Saya tidak bergerak, karena saya sudah berjanji kepada ibu itu untuk menolongnya pulang.  Wanita cantik itu berkata, bahwa ibu itu seharusnya melewati jalur khusus TKI.  Ooh, OK. Saya tidak ngeh sebelumnya. Salah ya?

Lalu saya bertanya, proses apa yang harus dijalani oleh ibu itu dan berapa lama?  Saya akan menunggunya sampai selesai. Wanita itu menolak menjelaskan kepada saya prosesnya dan menyuruh saya meninggalkan saja ibu itu, karena nanti akan ada yang mengantarkannya pulang. Ibu itu merengek, minta tolong  jangan ditahan. Ia ingin dilepaskan karena  ingin ikut saya, cepat pulang dan cepat bertemu anaknya. Tapi petugas tetap menyuruhnya  lewat jalur itu.  Karena begitu peraturannya. Oke, kalau begitu aturannya, saya membujuk ibu itu untuk mengikuti prosedur yang benar. Sebagai warga negara yang baik, sebaiknya kita mentaati aturan dengan baik.

Ibu itu merengek lagi, “Ibu ini saudara saya. Saya ingin ikut dengannya”  katanya menunjuk saya.  Saya pikir ibu itu sekarang mulai ngacau untuk menyelamatkan dirinya. Saya tidak mau dilibatkan dalam sebuah kebohongan.  Akhirnya saya jelaskan apa adanya kepada petugas “ Saya bukan saudaranya. Saya hanya penumpang biasa yang kebetulan bertemu dengannya di pesawat. Merasa kasihan dan bersedia membantunya. Saya akan menunggu di luar. Silakan di proses”.

Saya tidak mau melakukan sebuah pelanggaran apapun. Saya hanya mau menolong orang yang kesusahan.  Tapi tidak mau menolong orang melakukan pelanggaran hukum.  Saya lalu bertanya kepada petugas, apa yang akan dilakukan oleh petugas terhadap ibu itu? Petugas tidak mau menjelaskan kepada saya. “Nanti  ibu akan tahu di sana saja” kata wanita cantik itu kepada ibu TKI itu tanpa menjawab kepada saya. Aneh juga!. Berala lama? Sejam? Dua jam? Sehari? Dua hari? Seminggu?  Aneh!. Petugas tetap menyuruh saya pulang saja dan jangan menunggu. Meyakinkan saya,bahwa ibu itu pasti akan diantarkan pulang.

Karena saya tahu ibu itu tidak membawa uang, lalu saya bertanya lagi kepada petugas, apakah Ibu itu nantinya perlu melakukan suatu pembayaran kepada petugas? Ibu itu  mengatakan bahwa ia  tidak punya uang jika harus membayar sesuatu kepada petugas. Mendadak saya lihat wajah wanita cantik itu berubah ketus dan suaranya kedengeran seperti membentak di telinga saya “ Nah itulah masalahnya, kenapa ibu tidak mebawa uang? Sudah berapa lama ibu bekerja ?” .  Ibu itu menjawab setengah menangis” Lima tahun”. Wanita itu bertanya lagi.  ” Mengapa lima tahun bekerja , tidak membawa uang?”. Gila!! Aneh banget sih menurut saya pertanyaannya.  Apa memang  harus begitu ya?  Saya bingung deh melihat pemandangan itu.

Ini baru pertamakalinya saya melihat adegan seperti ini. Saya melihat ke wajah ibu itu. Matanya mulai berkaca-kaca. Sinar matanya penuh permintaan pertolongan kepada saya. Namun saya tidak bisa menolongnya. Karena saya juga tidak mengerti bagaimana aturan kepulangan TKI di negara kita.  Dan saya pikir, sebaiknya setiap warga negara harus  mengikuti peraturan yang berlaku. Saya urungkan niat saya untuk memberinya uang ala kadarnya untuk sekedar bekal. Karena saya takut nanti malah mempersulit keadaannya. Tapi saya merobek secarik kertas dan meninggalkan nomor telpon saya, seandainya ia masih ingin berteman dengan saya suatu saat nanti. Lalu saya mengucapkan selamat tinggal dan berdoa semoga semuanya berjalan baik-baik saja. Semoga negara memelihara dan melindunginya dengan baik.

Sayapun keluar.  Masih sempat saya mendengar suara petugas itu yang memerintahkan ibu itu untuk berjalan lurus terus sampai ke gerbang di mana ada tulisan “ Selamat Datang Pahlawan Devisa”. Saya mendengarnya dengan getir. Mengapa pahlawan devisa diketusin ya?  Hati saya rasanya seperti teriris. Pilu.

Di perjalanan pulang, tatapan mata ibu itu terbayang terus di mata saya.  Saya baru saja menyaksikan sepenggal drama  kehidupan seorang Ibu yang berusaha membantu memecahkan kesulitan keluarganya dengan segala kepahitan dan kegetiran yang harus dijalaninya.  Seorang wanita yang mulia.

Tak terasa air mata saya meleleh …

Sang Byang Areni : Kreatifitas, Kemandirian Dan Kesederhanaan Seorang Wanita Bali.

Standard

Ketika saya diajak bermain ke banjar Tegal Asah, di desa Tembuku, kecamatan Tembuku di Bangli, saya sangat terrtarik akan berbagai  jenis  dulang dan berjenis-jenis  Sokasi atau keben ( besek – box yang terbuat dari anyaman bamboo)  yang  diproduksi maupun dihias  di banjar itu.  Rupanya rata-rata mata pencaharian penduduk banjar Tegal Asah  itu adalah memperoduksi benda-benda itu. Read the rest of this entry

Hari Kartini: Setelah Kesetaraan Gender Itu Diperoleh…

Standard

Melihat  anak-anak sekolah berpakaian adat,  saya baru teringat bahwa hari ini adalah tanggal 21 April.  Hari Kartini. Hari yang ditetapkan untuk mengenang jasa Raden Ajeng Kartini dari sebuah kota kecil di Jawa Tengah dalam usahanya untuk meningkatkan emansipasi wanita. Karena kita lahir belakangan, tentu hanya bisa membayangkan betapa sulitnya keadaan wanita pada jaman itu.  Saat ini, jejak-jejak keterkungkungan wanita sudah sulit ditemukan di negeri ini. Mungkin masih ada satu dua. Namun secara umum, wanita Indonesia sekarang sudah sangat maju.  Menikmati pendidikan yang sangat baik dan bahkan menempati posisi yang setara dengan pria. Read the rest of this entry

White Lace Crochet…Renda Putih Yang Romantis.

Standard
White Lace Crochet…Renda Putih Yang Romantis.

Renda Putih! Entah kenapa saya sangat menyukainya. Di mata saya renda ini sangat cantik, feminine dan romantis. Saya suka membuatnya dan melihat ruangan yang perabotannya dilapis dengan renda putih. Namun sayang, dengan kesibukan dan banyaknya waktu dihabiskan untuk hobby yang lain, belakangan ini saya sudah semakin jarang membuat renda. Read the rest of this entry

Jika Harus Melakukan Perjalanan Seorang Diri.

Standard

Saya sedang di bandara International Soekarno-Hatta ketika melihat seorang wanita yang sedang kesakitan tidak jauh dari tempat saya berdiri. Wajahnya terlihat sangat pucat, berkeringat dan tampak sedang mual-mual. Karena terlihat sendirian & tak ada seorangpun yang menolong, akhirnya saya menghampiri dan menyapa. Read the rest of this entry

Sirih, Tanaman Apotik Hidup Yang Merawat Kewanitaan.

Standard

Beberapa waktu yang lalu saya pernah menulis artikel tentang “Dapur Hidup”.  Tulisan itu rupanya menarik  cukup banyak minat pembaca yang mencari informasi seputar tanaman-tanaman keperluan dapur yang bisa ditanam sendiri di halaman.  Namun diluar info tentang  “Dapur Hidup”, rupanya banyak juga rekan-rekan yang  mencari info tentang  tanaman “Apotik Hidup”. Seketika saya teringat, memang pada jaman pemerintahan Pak Harto dulu, selain proggram penyuluhan kepada Ibu-Ibu tentang pentingnya menanam tanaman Dapur Hidup, pada saat yang sama juga dibarengi dengan Apotik Hidup. Read the rest of this entry