Tag Archives: Wisata

Bangli: Menikmati Sensasi Ketinggian Di Anjungan Tukad Melangit.

Standard

​​​​Seorang teman memasang status lokasi di facebook “Hi Bu! Saya sedang di kampung ibu ini di Bangli” tulisnya. Rupanya teman saya itu sedang berlibur dengan keluarganya di Bali. Dan dari foto foto yang diunggsh ke media sosial, salah satu acaranya adalah berkunjung ke desa traditional Penglipuran di Bangli. Wah… mendadak saya jadi kangen pengen pulang ke Bangli. 

Selain Desa Penglipuran, objek wisata di Bangli sebenarnya sangat banyak. Ada Penelokan, Museum Geology, Gunung Batur dan Danau Batur, desa Trunyan, pura Puncak Penulisan yang merupakan pura tertinggi di Bali, Tirta Sudamala, Cekeng, pura Kehen, dan masih banyak lagi yang lainnya. Saat pulang terakhir beberapa waktu yang lalu saya sempat bermain ke Anjungan Tukad Melangit di Banjar Antugan di desa Jehem. Juga letaknya di Kabupaten Bangli. 

Tempat ini lagi happening banget. Banyak orang ke sini untuk melihat betapa dalamnya lembah yang terbentuk oleh aliran Tukad (sungai) Melangit ini dan betapa kerennya jika bisa menunjukkan keberanian berdiri di anjungan yang menjorok ke lembah itu dan berselfie di sana. Kelihatannya mudah, tetapi sebenarnya tidak sesimple yang kita pikir. Karena bagi mereka yang tidak terbiasa, hanya untuk naik ke anjungan yang strukturnya terbuat dari bilah kayu dan ditopang oleh bambu itu saja sudah membutuhkan keberanian tersendiri. Belum lagi saat melihat ke bawah ke jurang di mana sungai Melangit mengalir di dasarnya. Bagi yang memiliki penyakit takut ketinggian tentu akan menjadi masalah besar.

Namun tidak demikian halnya dengan anak-anak muda yang suka akan tantangan dan haus akan experience. Mampu berdiri di situ rasanya sesuatu banget. Seakan terasa betapa tabahnya kita mampu mengatasi rasa takut. Sensasinya sungguh berbeda!.Maka beramai-ramailah mereka berselfie ria dan menguploadnya ke media sosial untuk menunjukkan pada dunia bahwa mereka sangat percaya diri dan tak takut pada ketinggian. Jadi berwisata ke tempat ini adalah tentang ‘experiencing’ dan ‘enjoying’ sensasi saat berani mengambil keputusan untuk berdiri di sana dan menikmati keindahan alam yang ada.  

Saya sendiri juga mencoba naik. Tapi rasanya kok gamang sekali ya. Serasa ragu akankah bilah bilah kayu itu cukup aman menopang berat tubuh saya? Akankah kaki saya menginjak dengan tepat dan masih di dalam kontrol saya sendiri?  ha ha. 

Selain anjungan  yang menjorok ke lembah, di sana ada juga bangunan balai kayu yang dibuat tinggi agar pengunjung yang datang bisa memandang  ke sekeliling lembah dari atas. Semacam balai pandang begitu. Nah di sini saya sedikit agak lebih berani. 

​ Saya mencoba naik ke atas. Mencoba berselfie ria. Ha ha… ternyata sama gemetarnya. Rasanya kok mau jatuh ya. Harus berpegangan erat-erat nih.Takut terbang ditiup angin * hya ha ha.. tidak tahu dirimerasa ringan saja padahal berat badan jika tidak direm segera bisa mendekati sekarung beras ini.  Tapi serius, kalau di sini saya merasa agak sedikit lebih tenang, setidaknya saya masih melihat tanah. 

Beberapa saat kami bermain di sana. Dan sungguh kebetulan saya bertemu dengan Bapak Wayan Lendra sang penggagas yang akhirnya mengelola tempat wisata ini. Tentu saja saya manfaatkan kesempatan ini untuk ngobrol dengan beliau.

​Anjungan Tukad Melangit atau yang sering disingkat dengan nama ATM ini, berada di banjar Antugan di desa Jehem Kecamatan Tembuku kabupaten Bangli. Menurut Pak Wayan Lendra, tempat ini mulai ramai dikunjungi para wisatawan sejak setahun belakangan ini. 

Bagaimana asal muasalnya, mengapa tempat ini tiba-tiba menjadi hits ? Ternyata ada cerita menarik di baliknya. 
Pak Wayan bercerita, bahwa asal mulanya adalah sekumpulan anak muda yang senang duduk-duduk, berkumpul,  ngobrol ngalur ngidul sambil minum-minum di pinggir jalan. Kegiatan ini dilakukan karena minimnya hiburan di desa. Lama kelamaan, mungkin karena tidak enak hati mengingat ada banyak orang berlalu lalang melihat mereka minum-minum, tua muda, laki perempuan, anak-anak dan orang dewasa, maka mereka nemutuskan untuk membuat tempat kecil di tengah ladang di tepi jurang yang terbebas dari pandangan orang yang berlalu lalang.  Di sana mereka bisa bebas ngobrol, merokok, berkumpul dan minum-minum sepuasnya. 

Barangkali karena tempatnya nyaman, sepi dan pemandangannya indah,  lama lama semakin banyak anak-anak muda teman-teman mereka yang ikut juga suka  berkumpul ke sana. Beberapa orang lalu ada yang mengambil foto -foto selfie di sana dan menguploadnya ke media sosial yang kemudian memicu pembicaraan di Sosial Media. 

Menanggapi itu, Pak Wayan Lendra dan kawan kawan lalu berinisiatif mendirikan anjungan  sehingga pengunjung lebih mudah mengamati dan menikmati keindahan alam sekitar Tukad Melangit dari atas. Anak-anak muda banjar Antugan itupun memutuskan untuk berubah ke arah yang lebih positive.  Mereka berhenti minum minum dan berniat membangun tempat itu dan menjadikannya sebagai Object berwisata dan latar belakang untuk  berselfie ria. Gagasan ini berkembang dan didukung oleh berbagai pihak. 

Semakin lama semakin banyak orang datang berkunjung. Semakin banyak orang-orang berselfie di anjungan kayu itu  dan semakin banyak yang mengupload foto-fotonya di media sosial. Demikianlah pesona Anjungan Tukad Melangit ini akhirnya menjadi viral di dunia maya. Semakin lama semakin banyak orang yang berdatangan karena penasaran. 

Hmmm… cerita yang sangat menarik sekali. Dan sangat positive.  Saya sangat bersyukur bisa mendapatkan cerita ini langsung dari Bapak Wayan Lendra.Salut pada para pemuda di Banjar Antugan yang layak dikasih jempol untuk keputusan dan semangatnya menjadikan tempat ini sebagai objek wisata. 

Saat di sana saya disuguhi minuman traditional Air Kelapa Muda Jeruk Nipis. Whuaa… minuman alami yang sangat segar, mengingatkan saya pada waktu kecil. Selain minuman traditional ini, di tempat itu juga ada dagang Tipat Santok -sejenis gado-gado traditional Bali yang rasanya selalu ngangenin. Mantap banget deh. 

Nah teman teman, barangkali ada yang punya rencana ke Bali dalam waktu dekat ini, ada baiknya mampir ke Anjungan Tukad Melangit untuk merasakan sensasi ketinggian alami yang disajikan oleh sebuah bentang alam yang indah. 

Yuk, kita berkunjung ke Bangli!

Advertisements

Menelusuri Jalan Ke Situs Megalitik Gunung Padang.

Standard

 

Situs Gunung Padang = AltarPertama kali tahu tentang situs Megalitik Gunung Padang ini, adalah ketika tanpa sengaja menemukan sebuah tulisan  berkaitan dengan situs ini di internet. Saya tertarik membacanya, karena tulisan ini menyingkap keberadaan situs purbakala ini dengan pendekatan yang sangat ilmiah. Setelah itu saya menelusuri berbagai tulisan lain di internet mengenai situs ini. Dan kebetulan karena ke dua orang anak saya sedang tertarik belajar tentang peradaban kuno, maka saya berpikir untuk mengajak mereka untuk belajar dan melihat dari dekat situs purbakala yang berada di wilayah Kabupaten Cianjur ini. Tepatnya di desa Karyamukti, kecamatan Campaka.

 

Mengetahui rencana ini, anak-anak pun sangat bersemangat untuk pergi. Nah, tinggal sekarang membujuk suami untuk mengantar. Dan kebetulan suami saya juga setuju. Walaupun di depan ia mewanti-wanti, apakah saya akan sanggup untuk naik atau tidak, karena setelah membrowsing di internet ada yang menginfokan bahwa jalan ke situs itu  sangat curam dan terjal. Tapi saya dan anak-anak tetap bertekad mau ke sana.

 

Maka kemarin, setelah melewati Puncak Bogor, kamipun turun ke Cipanas dan memasuki wilayah Cianjur. Sesuai dengan petunjuk dari karyawan hotel di Puncak, pertama kami harus mencari wilayah Warung Kondang terlebih dahulu. Karena di tempat itulah letaknya jalan desa untuk masuk ke Gunung Padang. Papan petunjuk mengatakan bahwa jarak ke Gunung Padang adalah 20km dari sana. Kami menelusuri jalan desa.  Lumayan bisa papasan untuk 2 kendaraan. Sebenarnya jalannya sudah beraspal, namun beberapa ruas jalan sudah ada yang terkelupas.

Pemandangan Sawah ke Gunung PadangPemandangan di kiri kanan jalan sangat menarik. Sawah dan ladang serta perkampungan penduduk.  Saya jadi teringat pada lukisan-lukisan pemandangan alam pada jaman dahulu. Bukit-bukit yang hijau,pohon kelapa dan sawah luas yang membentang.  Indah sekali. Kami hanya menelusuri jalan desa yang ada dan mengikuti dua buah kendaraan yang melaju di depan kami. Beberapa kali sempat juga  turun untuk mendapatkan kepastian dari penduduk setempat apakah jalur yang kami tempuh sudah benar. Dan jawabannya selalu benar. 

Setelah menempuh jalan sekitar 10km, kami diberitahu, agar terus saja berjalan dan kelak jika bertemu dengan rel kereta api agar berbelok ke kiri.  Kamipun berjalan lagi. Matahari bersinar sangat cerah, walaupun langit agak berawan. Kami sempat melihat papan petunjuk berwarna biru di pinggir jalan yang menginformasikan bahwa Situs Gunung Padang  jaraknya 8km  dari sana. Tambah yakin bahwa jalan yang kami tempuh adalah benar.  

jalan berliku ke Gunung PadangKami berjalan terus  hingga akhirnya tiba di sebuah rel kereta api.  Di sana ada papan petunjuk lagi. Situs Gunung Padang tinggal 6km lagi. Berbelok kekiri, ternyata kami memasuki wilayah perkebunan yang kelihatannya sudah tua. Ada banyak pohon karet di kiri kanan jalan. jalan agak berbelok-belok.  

Setelah itu kami memasuki wilayah Perkebunan Teh Lampegan.  Udara sangat sejuk dan pemandangan luar biasa indahnya. Sekarang kami sudah semakin yakin.Tapi  yang namanya juga jalanan di perkebunan, tentu jalanannya tidak begitu lebar. Kita perlu memperlambat jalan jika hendak berpapasan dengan kendaraan lain.  Di sana ada petunjuk lagi. Situs Gunung Padang tinggal 3km. Ada petunjuk untuk masuk ke kiri.  Sekarang kami berada di jalan di dalam perkebunan teh itu. Cihuyyy! Rasanya seperti menjadi pramuka penggalang yang sedang mencari jejak. 

 

Petunjuk ke Gunung PadangTak lama kemudian ada petunjuk papan biru lagi. Situs Gunung Padang 2km lagi.  Didekatnya berdiri sebuah warung sederhana beratapkan plastik terpal biru. Barangkali menjual kopi, teh atau mi instan kepada para pelalu lalang atau para karyawan perkebunan teh.  

Mata saya tertuju lagi ke papan petunjuk yang berwarna biru itu. Terus terang keberadaan papan -papan petunjuk seperti ini sangat membantu kami para petualang untuk bisa mencapai tempat tujuan dengan baik. Kami berbelok ke kanan dan hanya mengikuti jalan-jalan perkebunan teh di lereng bukit itu. 

Pemandangan kebun teh  itu sangat menawan. Rasanya tenang dan damai berada di sana. Saya membayangkan berdiri di sana menikmati desau angin pegunungan yang sejuk. Beberapa orang ibu-ibu mungkin habis memetik daun teh tampak lewat berjalan di sana.

kebun tehAwan gelap menggantung di langit. Makin lama makin mendekat. Kemungkinan awan cumulonimbus itu akan segara pecah menjadi hujan begitu kami tiba di Gunung Padang. Saya sedikit merasa khawatir. Wah..apa jadinya jika hujan turun deras? Akankah kami bisa mendaki?.  

Namun demikian,kami terus berjalan. Menelusuri jalan berkelok-kelok di punggung bukit itu. Setelah sempat ragu sejenak di sebuah persimpangan jalan karena tak ada papan petunjuk, saya meminta suami saya untuk mengambil jalan lurus saja yang menanjak dan berbatu mengikuti feeling saja. Saya rasa, jika tidak dipasang papan petunjuk, tentu maksudnya ya kita berjalan lurus saja. Tidakusah berbelok. 

Benar saja, tak lama kemudian saya melihat dari kejauhan sebuah papan petunjuk berwarna biru yang sama dengan papan papan petunjuk sebelumnya. Dengan girang kamipun menghampiri papan itu. Kami diarahkan untuk berbelok ke kiri, masuk ke jalan kecil yang ada. Situs Gunung Padang tinggal 1 km lagi. Kamipun berjalan. Keluar dari areal perkebunan,lalu masuk ke perkampungan dan jalan terus akhirnya tampaklah oleh kami sebuah gapura kecil yang tampaknya baru dibangun.

 

“ Situs Megalitik Gunung Padang”.

Rasanya lega sekali. 20km dari Warung Kondang. Jarak yang lumayan juga.

 

Ada sebuah lapangan parkir dan toilet umum yang kelihatannya baru dibangun. Namun sepi. Tak sebuah kendaraan pun yang tampak parkir di sana.  Wah jangan-jangan pengunjungnya cuma kami berempat. Seorang penduduk menjelaskan bahwa kami masih bisa membawa kendaraan sekitar 500 meter ke atas lagi. Pakir di atas saja – katanya. Kamipun naik. Jalanannya agak berbatu.  Tibalah kami dipelataran parkir di kaki situs Gunung Padang itu. Memang benar, di sana ada juga tempat parkir. Sekarang kami melihat ada juga beberapa pengunjung lain yang hendak naik ke atas. 

 

Gunung Padang

Kami mencari tahu apakah ada yang bisa mengantarkan ke atas dan membantu memberi penjelasan tentang situs itu kepada kami. Saya membutuhkan bantuan, terutama mengingat bahwa anak-anak saya tentu akan mengeluarkan banyak pertanyaan yang belum tentu akan mampu saya jawab sendiri, walaupun saya telah membaca referensi tentang situs ini sebelumnya.

Hujan mulai turun bergerimis.  Kami membersihkan diri, lalu melihat-lihat foto-foto serta beberapa keterangan mengani situs itu di kantor Pusat Informasi Wisata yang ada.

 

 

 

Taman Ujung Karangasem: Tempat Wisatanya Orang Bali.

Standard

Taman Ujung Karangasem Bali15

Saya tertawa geli mendengar pertanyaan seorang teman kepada saya, “Jika orang  Bali berwisata di Bali, mereka pergi ke mana?. Apakah sama dengan tourist-tourist yang lain?”. Teman saya itu ingin mengunjungi tempat wisata yang memang dijadikan tempat wisata bagi orang Bali sendiri. Lucu juga! Pertanyaan yang tidak umum, namun menggelitik. Kelihatannya memang tidak sama persis. Misalnya ketika pelancong Jakarta menyebut Kuta sebagai tempat tujuan teratas di Bali, belum tentu orang Bali akan menempatkan Kuta di posisi teratas. Ada lebih banyak lagi tempat-tempat lain di Bali yang umumnya mereka kunjungi dan anggap lebih menarik. Orang Bali pergi ke Kuta untuk bekerja. Bukan untuk berwisata. Kalaupun bisa disebut sebagai berwisata, paling banter ke sana hanya untuk melihat sunset. Read the rest of this entry