Tag Archives: Yogyakarta

Catatan Dari Malioboro: Dika dan Gitar Tuanya.

Standard

Malam itu saya menyelusuri jalanan di Malioboro. Ikut arus orang banyak, lalu mampir di sebuah angkringan. Memesan sebungkus Nasi Sambal Teri beserta lauknya dan segelas es teh. Saya mencari tempat yang nyaman untuk ‘ndeprok’ di pinggir trotoar. Lalu mulai makan.

Sembari makan saya ngobrol dengan teman teman saya. Seorang seniman menawarkan kepada kami jasanya membuat silhouette. Lalu seorang lain juga menawarkan jasa penyewaan motor atau mobil yang barangkali kami butuh.

Kota ini memang tidak ada duanya. Kehidupan berdegup di sini dalam kebersahajaan. Penuh pengunjung tanpa harus menjunjung hedonism. Tetap bergeliat dalam kerendah-hatian. Saya sangat menyukainya.

Seorang anak kecil mendekat. Duduk berjongkok di dekat saya dan langsung bernyanyi tanpa diminta. Jemari mungilnya memetik senar gitar kecil bersnar tiga dengan penuh semangat. Suaranya seperti menguap di udara. Di tingkah suara group pengamen dewasa yang menyanyi di dekat angkringan sebelah dengan lebih keras dan lebih profesional. Saya tertawa melihat semangatnya.

Dika namanya. Ia mengaku kelas 4 SD dan setiap malam mengamen di situ hingga pukul 10 malam. Jika malam akhir pekan atau menjelang libur lainnya ia pulang pukul 12 malam. Tak ada kekhawatiran sedikitpun di wajahnya.

Menurutnya, sebagai pengamen jalanan penghasilannya tidak menentu. Tetapi paling seringnya sekitar Rp 50 000 setiap malamnya. Uangnya ia kumpulkan. Sebagian untuk jajan. Sebagian untuk membayar uang sekolah.

Dika belajar menyanyi dan bermain gitar sendiri tanpa ada yang mengajari, ceritanya sambil wajanya memandang gitar kecil itu tetapi kelihatannya matanya menerawang jauh. Seolah ada yang ia kenang. Saya pikir ia sedang mengingat seseorang atau sebuah kenangan yang cukup berarti dalam hidupnya.

Sayapun bertanya siapa pemilik gitar itu?. “Orang yang sudah meninggal”. Katanya dengan ekspressi datar. Oooh. Tentu seseorang yang berperanan penting dalam hidupnya. Saya mulai berhati-hati dengan pertanyaan saya. Takutnya menyinggung hal-hal yang sensitif bagi perasaannya yang masih muda belia. Akhirnya saya hanya menunggu ia bercerita tentang siapa pemilik gitar tua itu tanpa melontarkan pertanyaan baru.

“Mertuaku” katanya tiba-tiba . Hah???!!!. Saya kaget. Masa mertua sih? Kok kecil-kecil sudah punya mertua?. Lalu ia tertawa berderai. Merasa salah nyebut. “Eh salah!. Salah!. Maksudnya.. Mbahku. Mbahku” katanya. Sayapun ikut tertawa. Anak ini lucu sekali.

Dika bercerita bahwa pemilik gitar itu adalah Mbahnya yang sudah meninggal. Mbahnya sebetulnya ada banyak sih. Ia menyebut beberapa tempay di Yogya dan juga di Wonogiri. Tapi yang punya gitar ini adalah Mbahnya yang dulu tinggal bersamanya. Mbahnya dulu juga pengamen. Ibunya juga pengamen. Dan semua keluarganya mengamen secara turun temurun.

Saya mendengarkan dengan baik. Ia punya seorang bapak dan seorang ayah. Ooh.. saya bisa memahami maksudnya. Maksudnya adalah bahwa kedua orangtuanya bercerai, lalu masing-masing menikah lagi. Bapaknya seorang tukang becak yang juga sesekali mengamen. Dan ia ikut ibunya yang menikah lagi dengan seorang satpam. Mereka tinggal di rumah kontrakan tak jauh dari situ.

Kamipun bercakap cakap lebih jauh. Tentang sekolahnya, mata pelajarannya, hobby dan cita-citanya menjadi pemain sepakbola. Saya senang melihat cahaya matanya yang berpendar-pendar ketika ia menceritakan permainan sepakbola dengan teman-teman sepermainannya. Dan menurutnya ia adalah yang paling jago mencetak goal. Ceritanya dengan bangga. Saya jadi ikut membayangkan kebahagiaan hatinya itu. Menjadi yang terbaik di kelasnya adalah impian setiap orang.

Saya memandang ke mata kanak-kanaknya yang bening. Ia tersenyum. Lalu menari-nari kecil ketika musik dari angkringan sebelah terdengar lagi. “Kamu bisa menari ya, Dika?” Tanya saya. Ia menggeleng. “Tidak bisa!. Joget baru bisa” katanya penuh senyum. Lalu ia menggerak-gerakkan tangannya kembali mengikuti irama musik.

Lalu ia bilang ” Saya mau menyanyi lagi” katanya. Kembali memetik gitarnya dan menyanyi kencang kencang. Tanpa beban. Tanpa peduli suaranya bagus atau tidak. Ia melakukannya saja. Saya tersenyum dibuatnya. Seusai menyanyi, ia berkata bahwa kali ini ia ingin membeli layangan dari kelebihan hasil ngamennya. Ia ingin bermain. Seperti anak kecil lainnya.

Ia pun pamit sambil menggendong gitar tuanya itu.

Saya menyukai anak itu. Semangatnya yang tinggi. Ketenangannya dalam mengatasi beratnya beban kehidupan. Ia jalani kehidupan apa adanya. Tetap berusaha tanpa menyerah. Ia reguk kebahagiaan di mana ia bisa dapatkan tanpa harus menjadi larut dalam kesulitan. Seolah -olah ia berkata “Seberat apapun itu beban, jika kita tak memandangnya sebagai beban, tentu tak akan pernah terasa berat”.

Advertisements

Yogyakarta: Keraton Ratu Boko.

Standard

Gapura Keraton Ratu BokoSelagi di Yogyakarta, saya berusaha  mengoptimalkan hari Sabtu saya dengan mengujungi situs-situs purbakala yang ada di sekitar daerah itu. Saya menjelaskan kepada Mas Tara, sopir yang mengantarkan saya bahwa saya ingin mengunjungi candi-candi kecil di luar Prambanan dan Borobudur. Karena saya sudah pernah beberapa kali berkunjung ke dua candi besar itu sebelumnya.  Jadi saya ingin tahu yang lain.  Mas Tara menyarankan, sebaiknya saya tetap mengambil Candi Prambanan, atau Borobudur (salah satu)  karena di sekitar candi itu masih banyak ada candi-candi bertebaran. Saya setuju. Akhirnya memilih jalur Candi Prambanan.

Keraton Ratu BokoKami berangkat pagi-pagi dan disarankan menuju Prambanan pertama untuk menghindari panas matahari yang menyengat. Alasan Mas Tara adalah karena Candi Prambanan sangat luas dan tidak ada pohon di dekat-dekat candi.Sedangkan candi lain yang lebih kecil ada banyak pohon di sekitarnya.Jadi kalau kepanasan, kita bisa cepat-cepat bernaung. Sekali lagi saya menurut. Karena jarak dari hotel tempat saya menginap tidak seberapa, sebentar kemudian sampailah kami di Candi Prambanan. Ketika mengantri untuk membeli ticket, saya diinformasikan bahwa ada ticket terusan ke Istana Ratu Boko. Dan disediakan shuttle bus pulang pergi ke sana. Dengan senang hati saya memilih membeli ticket terusan itu.

Gapura Keraton Ratu Boko

Gapura Keraton Ratu Boko

Istana atau Keraton Ratu Boko berada di sebuah perbukitan di bagian selatan Candi Prambanan. Merupakan sebuah kompleks bangunan peninggalan purbakala yang luasnya sekitar 25 hektar. Benar-benar berada di puncak sebuah bukit. Dari tempat pemberhentian shuttle bus, saya masih harus menempuh jalan menanjak berjalan kaki. Untungnya jalannya sudah rapi. Sesekali saya berhenti untuk menenangkan nafas sambil melihat-lihat pemandangan kemarau yang gersang di sekitarnya.

Berita tentang keberadaan Keraton ini agak simpang siur adanya.Tetapi saya lebih mempercayai catatan sejarah yang ada buktinya. Bahwa tempat ini dulunya adalah sebuah Wihara seperti yang disebutkan dalam prasasti Abhaya Giri tahun 792 yang dikeluarkan oleh Rakai Panangkaran dari kerajaan Medang (Mataram Hindu).  Berikutnya seorang raja bawahan yang bernama Rakai Walaing Pu Kumbayoni mengubahnya menjadi istana.

Di kompleks ini dtemukan sisa-sisa gapura, sebuah candi putih, candi pembakaran, pendopo, keputren, dua buah gua pertapaan. Disebutkan juga bahwa di tempat ini ditemukan artefak Hindu (Durga, Ganesha, Garuda, Lingga, Yoni) dan juga artefak Budha (Stupa, Budha Dyani). Selain itu, menurut keterangan  juga ditemukan pecahan keramik, plakat emas bertuliskan “Om  Rudra ya namah swaha“. Jelas sekali pada jaman itu kehidupan toleransi beragama dikalangan leluhur kita tentulah sangat tinggi. Ajaran Hindu -Budha masih sangat menyatu. Saya sendiri tidak heran mendengar keberadaan artefak itu, karena  bahkan hingga saat inipun doa seperti Om Nama Ciwa ya, Om Nama Budha ya – masih diucapkan di kalangan penganut Hindu. Apalagi di masa itu, para leluhur kita menganut Ciwa Budha.

Batu-batu kuno penyusun jalan ke gapura Ratu BokoSaat saya berkunjung, masih sedang dilakukan penggalian situs. Yang menarik perhatian saya  adalah kenyataan bahwa pada jaman itu leluhur kita sudah memiliki kebudayaan dan pengetahuan teknik dan arsitek yang sangat tinggi. Terlihat ketika lapisan tanah dikelupas, batu-batuan yang datar disusun sedemikian rupa membentuk jalan lebar menuju pintu gapura.

Gapura sendiri dibangun dalam dua lapis berbentuk paduraksa yang terbuat dari batu andesit. Pagar dibuat dari batu putih.  Saya memperhatikan sisa-sisa ukiran yang sudah aus di beberapa bagian gapura. Tidak jauh dari style ukiran yang biasa saya temukan di Bali. Tapi kelihatan memang sudah sangat tua sekali.

Tidak jauh dari gapura saya melihat bekas parit yang kering.Wah jaman itu saja parit sudah ada ya. *Saya jadi teringat dengan Jabodetabek yang parit alias selokannya kadang ada kadang tidak*.   Nah, di sini malah ditemukan bukan saja parit yang bagus, tapi juga  sumur suci yang disebut Amerta Mantana. Juga kolam pemandian. Saya melihat banyak orang sedang bekerja menggali kolam yang baru ditemukan itu. Tak ada lelahnya di bawah sinar matahari pagi namun sudah sangat terik itu. O ya, di sana saya mendapatkan keterangan bahwa biasanya penganut Hindu mengambil air sumur itu terutama menjelang hari raya Nyepi. Mereka mengambilnya dengan kendi lalu dibawa ke halaman Candi Prambanan tempat dilaksanakannya upacara Tawur Agung.

Candi Putih di Keraton Ratu Boko

Candi Putih di Keraton Ratu Boko

Di sebelah gapura ada Candi yang disebut dengan candi Putih.  Disebut demikian karena terbuat dari batu putih. Saya tidak tahu persis digunakan untuk apa Candi Putih itu.

Candi pembakaran di Keraton Ratu BokoSaya tertarik akan candi pembakaran yang posisinya berada di atas Candi Putih. Saya naik ke atas untuk melihat ada apa  dan bagaimana rasanya berada di atas.  Tidak ada apa-apa. Hanya sebuah lubang persegi di tengahnya. Saya tidak tahu persis gunanya untuk apa. Dinamai candi Pembakaran rupanya karena ditemukan abu bekas pembakaran di tempat itu. Hal ini mengakibatkan terjadi simpang siur dugaan apakah Candi ini sebenarnya tempat kremasi atau penyimpanan abu jenasah raja. Tetapi setelah diteliti kembali, ternyata abu yang ditemukan itu hanyalah abu kayu. Tidak ditemukan indikasi abu dari pembakaran tulang.  Jadi masih terbuka kemungkinan jika di candi itu juga dilaksanakan upacara api yang lain.

Karena kompleks itu sangat luas, dan kaki saya yang pernah keseleo mulai kambuh, maka untuk memudahkan bagi saya memahami lay out istana itu, maka saya memaksakan diri naik ke punggung bukit yang tak jauh dari Candi Pembakaran. Dari sini kelihatan lebih jelas, seberapa luas Keraton itu dan ada sisa bangunan apa saja yang tertinggal.

Bagus sekali pemandangannya dari sini. Walaupun sedih juga tidak bisa melihat dari dekat, setidaknya saya bisa melihat dari kejauhan reruntuhan Pendopo seperti yang ada di keterangan.

Yuk kita berkunjung ke Yogyakarta!. Cintai tanah air kita

Yogyakarta: Menikmati Body Rafting Sungai Oyo.

Standard

Ini masih lanjutan cerita ber Cave Tubing di Gua Pindul. Keluar dari gua, kami melanjutkan perjalanan ke Sungai Oyo dengan menumpangi  kendaraan bak terbuka. Wah…mirip ternak sapi yang mau diangkut ke balai karantina ha ha ha. Kami berkendara bersama dengan para ban dalam yang akan kami gunakan untuk menelusuri Sungai Oyo. Jalanan menuju ke sungai itu sungguh bergelombang. Gujrak-gujruk. Tapi pemandangan di kiri kanan jalan tampak indah juga. Sawah-sawah yang luas membentang. Kami juga melewati perkebunan  Kayu Putih yang daunnya sangat segar mewangi.

234Beberapa menit kemudian tibalah kami di tepi Sungai Oyo.Kami mengangkut band dalam kami masing-masing di atas kepala. Kami harus turun ke sungai. Agak kering karena kemarau yang panjang. Saya menyeberang menuju aliran yang debit airnya cukup untuk kami melakukan rafting.

Tidak ada yang perlu saya khawatirkan. Karena saat melakukan rafting ini pun kami diminta untuk berpegangan pada ban di depan dan belakang kami masing-masing agar tidak terlepas sendiri-sendiri. Minimal  4-6 orang lah. Agar tangan saya bisa leluasa, saya mengakalinya dengan mengikatkan tali ban saya ke tali teman yang ada di depan dan di belakang saya. Nah! Sekarang aman. Tangan saya bebas untuk melakukan apa saja.

279Matahari mulai meninggi.  Ban berjalan mengikuti arus yang perlahan. Awalnya saya tidak tahu apa yang bisa saya nikmati sepanjang aliran sungai ini. Tapi kemudian saya menyadari bahwa ini adalah pengalaman baru bagi saya.

Biasanya saya adalah seseorang yang melihat sungai dari tepi. Nah sekarang saya bisa merasakan bagaimana melihat tepian dari dalam sungai.  Bagaimana rasanya kehidupan berjalan di tengah sungai. Saya mendengarkan kicauan burung pagi yang sangat riang. Mereka sibuk mencari makan di pohon-pohon bambu di pinggir sungai. Ada banyak jenis suara burung. Ada yang bisa saya kenali, namun ada juga jenis yang tidak mampu saya kenali. Semuanya memberi sensasi tersendiri bagi saya. Tiba-tiba saya merasa sangat menyukai tempat ini. Sungai Oyo.

20151010_082432Di tepi sungai bebatuan karst menjadi dinding. Berceruk-ceruk karena rongrongan arus air sungai. Ukiran alam di tebing ini  terlihat begitu indah serasa mengajak lamunan kita pergi ke alam purba.  Jika kita perhatikan dengan seksama, di dasar tebing, dekat dengan permukaan air, beberapa ekor ikan gelodok kecil-kecil atau disebut juga dengan nama Tembakul alias Mudskipper (Periophthalmus sp) tampak mendarat di cekungan batu-batu tebing itu. Ada yang meloncat ada juga yang berdiam diri. Ini membuat saya sangat terkejut. Sungguh tidak menyangka keberadaannya ditempat seperti ini. Karena biasanya ikan ini berada di tempat yang berlumpur.

Meloncat di Sungai Oyo

Meloncat di Sungai Oyo

 

Ban bergerak terus mengikuti arus sungai. Saya menikmati arus yang bergerak di bawah saya. Rasanya tenang dan damai. Tak lama kemudian tibalah kami di air terjun.  Debit air terjun ini tak berapa besar. Barangkali karena musim kemarau.  Kami turun dan mendarat untuk beristirahat sejenak di situ. Teman-teman saya ada yang meneruskan berenang, bermain air, memesan mie instan yang kebetulan dagangnya ada di situ. Bahkan ada juga yang menguji nyali dengan melakukan loncatan dari ketinggian ke dalam air.  Wah…luar biasa.

Saya sendiri hanya menonton sambil memperhatikan tumbuh-tumbuhan yang hidup di sekita tempat itu.  Seekor kepik berwarna merah tampak menclok di sehelai daun tanaman perdu.  Saya mengamatinya sebentar. Indah sekali warna kumbang merah ini.  Mirip Lady Bug yang kita kenal di film-film kartun. Tapi badannya sedikit lebih besar dan pola bintik hitam merahnya juga agak berbeda. Warnanay juga tidak murni merah tapi bersemu hijau. Sayapnya berkilau metalik. Saya terus mengamati gerak-geriknya, hingga kepik itu terbang karena daun tempatnya menclok bergoyang-goyang keras di tiup angin.

Setelah puas bermain-main di tepi sungai itu, kami pun diajak pulang. Kembali menelusuri sungai. Kembali berayun-ayun di atas ban dalam mengikuti arus Sungai Oyo. Pulangnya kembali kami naik kendaraan bak terbuka. Menikmati segarnya angin pedesaan sambil  memandangi sawah yang luas terhampar.

Ke Sungai OyoPengalaman yang sangat menyenangkan. Saya berpikir suatu hari ingin mengajak anak-anak saya berkunjung ke sini untuk menikmati Body Rafting di sungai ini. Semoga kesampaian.

Yuk teman-teman, kita berkunjung ke Yogyakarta!. Cintai tanah air kita.

 

 

Yogyakarta : Bermain Ke Gua Pindul Di Gunung Kidul.

Standard

Ceritanya sudah beberapa minggu yang lalu. Ada acara Cave Tubing ke Gua Pindul di Gunung Kidul, Yogyakarta.  Karena tidak jago berenang,  awalnya saya tidak berminat ikut. Saya hanya ingin melihat-lihat area sekitar. Sekedar mengamati flora fauna, terutama burung-burung dan kupu-kupu di bukit berkapur yang bisa jadi berbeda dengan di  dataran rendah. Tetapi setelah mendengarkan penjelasan rute Cave Tubing dari petugas, akhirnya saya memutuskan ikut terjun ke air. Kamera terpaksa saya tinggalkan karena beresiko tercebur ke air dan basah.

Walau ber-Cave Tubing di Gua Pindul sudah sering diceritakan orang, tapi saya tetap tertarik ingin melihat seperti apa sih di dalam gua itu.Gua Pindul

Menelusuri Gua Pindul.

Mudah ditebak. Karena letaknya di pegunungan kapur Gunung Kidul, tentu gua ini terbentuk dari proses batuan kapur. Panjang gua sekitar  350 meter dengan lebar sekitar 5 meter, tetapi di tengah-tengah gua ada juga jalur yang hanya cukup dilewati satu  orang saja.  Untungnya karena kemarau, permukaan air sedang tidak terlalu tinggi, sehingga atap gua terasa jauh di atas sana. Memungkinkan saya  untuk bernafas lega, karena udara leluasa bisa keluar masuk ke dalam gua.

Dengan menelusuri gua ini perlahan, ada banyak hal yang bisa kita lihat. Sayangnya saya hanya bisa memanfaatkan kamera ponsel yang daya jangkaunya tidak seberapa. Itupun semakin nggak jelas akibat harus dimasukkan ke dalam selongsong tahan air. Takut kecebur tanpa sengaja. Jadi foto-foto yang saya hasilkan kwalitasnya sangat buruk.

Gua Pindul dulunya dihuni oleh banyak Burung Sriti.  Saaat ini saya tak berhasil  melihat seekorpun. Barangkali karena gua itu sudah dikunjungi oleh terlalu banyak orang,  sehingga ketenangan burung-burung Sriti itupun terusik. Akhirnya menyingkirlah mereka dari sana.

Stalagtit Gua PindulNamun demikian, saya masih bisa melihat-lihat bebatuan yang ada di dalam gua. Cahaya matahari masih bisa masuk di bagian sini. Ada banyak Stalagtit yang bergelantungan dengan sangat indahnya di atap gua. Terbentuk dari tetesan mineral calcium carbonate selama ribuan tahun. Beragam ukurannya. Dari yang  kecil-kecil beberapa cm hingga yang panjang nyaris menyentuh permukaan air sungai.  Tak terbayang seberapa lama  mineral itu secara konsisten harus menetes, mengingat pertumbuhan stalagtit paling cepat adalah 3 mm per tahun.

Sedikit agak masuk ke dalam gua, saya melihat ada tangga besi terpasang ke atas. Entah siapa yang memasang dan untuk apa.  Saya lupa bertanya kepada Mas Guide. Apa barangkali dulunya  digunakan untuk mengamati burung-burung  Sriti ya…

Gua Pindul 2Setelah tangga ada cekungan yang agak dalam ke dinding di depan saya. Rupanya cekungan itu dulunya digunakan orang untuk bertapa. Mencari ketenangan jiwa ataupun pengetahuan spiritual. Setelah itu saya melihat masih banyak stalagtit besar kecil bergelantungan.

Kami memasuki zona remang-remang. Saya melihat ke atap  gua, berusaha mencari tahu ada apa gerangan di atas sana. Tidak begitu jelas. Mas Guide menyalakan senter dan saya melihat seekor kelelawar bergantung. Jenis kelelawar pemakan buah alias Codot. Saya tidak memotret Codot ini  karena cahaya senter si Mas sudah berpindah.  Saya baru paham dari mas Guide ini bahwa Kelelawar jenis Codot seperti ini memang lebih menyukai Zona Remang-Remang gua ketimbang Zona Gelap Gulita yang lebih disukai saudaranya yang jenis pemakan nyamuk.

Di zona ini  saya juga sempat melihat ada stalagtit yang berkilauan menarik perhatian saya. Berbeda dengan stalagtit stalagtit yang lainnya. Menurut keterangan Si Mas Guide, stalagtit kristal jenis ini terbentuk dari tetesan termurni dari kapur. Katanya banyak digunakan orang untuk perhiasan. Tapi entunya dilarang diambil dari gua Pindul ini.

Kami terus menyusuri gua dan mengikuti arus air sungai yang perlahan-lahan membawa kami ke Zona Gelap. Ruangan gua menyempit. Hanya bisa dilalui satu ban.  Kami bergerak dengan lambat. Ada Stalagtit terbesar di area ini. Juga ada Stalagtit dengan cucuran air yang masih ‘on’. Orang-orang percaya, konon  jika kita lewat di bawahnya dan kena cucuran air Stalagtit itu akan membuat kita awet muda. Saya lewat tapi tidak kena cucurannya… wadah.. alamat bakalan awet tua deh ini. Ha ha ha…

Eh tapi sebenarnya saya lebih tertarik untuk mengetahui eksistensi kehidupan di sana. Benar seperti yang disampaikan si Mas tadi, bahwa di langit-langit Zona gelap ini sangat banyak bergelantungan kelelawar pemakan serangga. Langit-langit gua yang kena cakar kelelawar yang bergelantungan membentuk kubah-kubah mirip mangkok terbalik yang serupa dengan ruang-ruang. Pengetahuan baru untuk saya adalah bahwa ternyata menurut si Mas ruang-ruang itupun berbeda-beda peruntukannya. Ada ruang bayi dan anak-anak kelelawar. Lalu ada ruang untuk para kelelawar dewasa. Ada ada juga ruang khusus yang berfungsi seperti toilet kelelawar. Lalu ada ruang khusus untuk bercinta. Walah..ada ada saja.  Saya mencoba memotret. Tapi ya karena kwalitas fotonya  kurang baik, jadi kelihatan hanya mirip lukisan batik. Yang hitam itu sebenarnya adalah para kelelawar.

Gua Pindul 3Kurang lebih setengah jam,  kami mendekati pintu keluar gua. Cahaya matahari sedikit demi sedikit memasuki ruangan gua. Dan di ujung sana bahkan ada sebuah lubang yang cukup besar di atap gua itu. Cahaya matahari menerobos masuk. Melalui celah-celah dedaunan yang tumbuh di tepi lubang itu. Alangkah indah dan dramatisnya. Saya terpesona akan keagungan ciptaanNYA. Menyempatkan diri untuk sejenak memanjatkan doa dan mengucapkan syukur terimakasih atas karunia yang dilimpahkan ke dalam kehidupan saya.

Teman-teman saya sebagian ada yang turun dari ban dan berenang. Ada juga yang berhenti dan bersitirahat di sebuah cekungan kering di dalam gua. Saya masih terpesona dengan sinar matahari pagi yang menerobos dari lubang atap gua. Tiba-tiba terdengar teriakan “Bu Dani ulang tahunuuuuun!!! Bu Dani ulang tahuuuuuuunnnn!!” Waduuu… gawat. Saya bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Cepat-cepat saya mengangkat tangan dan menyatakan diri tidak bisa berenang sebelum mereka mengambil ancang-ancang untuk menceburkan saya ke air sungai.  Lumayan berhasil menyelamatkan diri. Namun tak urung air sungai dicipratkan beramai-ramai ke arah saya sehingga akhirnya saya basah kuyup juga. Ha ha ha…  Saya bahagia berada di tengah-tengah teman-teman dan para sahabat saya.

Yuk kita  berkunjung ke Yogyakarta! Cintai tanah air kita.

 

Cuci Mata: Tas Renda Cantik Dari Yogyakarta.

Standard

Pikiran positive akan selalu menghasilkan hal yang positive“.

*****

Tas Crochet 7

Dalam perjalanan ke Yogyakarta, teman duduk di sebelah saya bercerita “Bu, sekarang yang lagi happening banget  di Yogyakarta itu tas renda, Bu. Nanti kalau ada waktu saya pengen mampir melihat-lihat tas untuk istri saya” katanya.  Sebagai seorang penggemar karya-karya kerajinan crochet, saya jadi tertarik untuk mengekor teman saya itu ikut melihat-lihat tas crochet yang dimaksud.  Lebih baik petang ini saja selagi bukan jam kantor. Akhirnya berangkatlah kami menuju workshopnya di Jl Deresan I no 5, Yogyakarta.

Wah.. senangnya berkunjung ke workshop itu ya seperti ini. Ada banyak produk yang baru saja selesai atau bahkan yang masih belum jadi.  Berbagai macam model. Ada  yang bentuknya persegi, ada yang seperti box, ada yang setengah lingkaran. Ada yang tali panjang, tali pendek. Ada yang besar ada yang kecil. Berbagai macam warna. Ada yang hitam,  coklat tua, beige, biru, hijau,ungu, belang-belang dan sebagainya. Demikian juga motif crochet-nya. Berbagai rupa.  Whuaaa!!!! Saya senang sekali. Dan pastinya… harganya pun lebih miring dibanding jiia kita beli di boutique resmi  di hotel.

Saya sendiri tertarik untuk membeli tas yang modelnya lebih firm, dengan rusuk-rusuk yang kuat. Sudah ketemu sih sebenarnya. Ada 2-3 alternative dan sudah sempat saya foto-foto. Tetapi kemudian ketika melihat tas lain dengan lapis dalam berbahan suede, entah kenapa saya jadi mulai galau dan bingung memilih. Kadang-kadang kalau kebanyakan pilihan, kita malah jadi bingung sendiri. Semuanya bagus. Ha ha..

Dibalik semua karya-karya crochet yang bagus itu, sebenarnya saya lebih tertarik lagi dengan semangat dua orang wanita dibalik brand tas crochet yang bernama TULIP ini, yaitu Mbak Linda dan Mbak Tutut.   Kebetulan keduanya saat itu sedang ada di workshop. Jadi kesempatan banget deh buat saya ngobrol dengan mereka berdua.

Mbak Tutut & Mbak Linda dari TULIP tas rajut

Saya baru tahu kalau ternyata nama TULIP itu sendiri adalah gabungan nama dari 2 orang wanita kreatif itu, yakni singkatan dari “TUtut & LInda Production”.  Owalaaa….keren banget!.

Saya jadi penasaran bagaimana ceritanya mereka bisa memulai bisnisnya berdua?

Mbak Linda bercerita kalau pada awalnya mereka adalah Ibu Rumah Tangga biasa yang berteman gara-gara bertemu saat mengantar dan menunggu anak-anak mereka di Sekolah. Dari sini mereka menjadi bersahabat. Daripada mengisi waktu dengan ngerumpi yang kurang produktif atau menjadikan pertemuan ibu-ibu sebagai ajang pamer kekayaan, mereka memutuskan untuk mengisi persahabatannya dengan sesuatu yang positive. Merekapun mulai membuat batik  dan menggunakannya sendiri. Eh..ternyata para ibu-ibu yang lain pada menyukainya dan memesan. Lalu selanjutnya mereka mencoba membuat tas. Ibu-Ibu yang lainpun menyukainya juga. Lalu rame-rame memesan. Demikian seterusnya mereka memproduksi tas rajut/renda dan dompet, selain juga tas/dompet yang berbahan kulit dan berbahan kain batik.  Memasarkannya dari mulut ke mulut. Bahkan ketika anak-anak sudah tidak sekolah lagi di sana, mereka meneruskan kegiatannya dan mendirikan usaha dengan merk TULIP ini. Wah…luarbiasa!. Positive banget.  Saya sangat terkesan.

Lalu apa bedanya dengan tas rajut merk lain yang ada di kota itu? Mereka memiliki koleksi dengan design -design bagus yang mereka rancang sendiri. Bahkan saat saya di sana, saya juga dipersilakan misalnya jika ingin memesan dengan motif yang begini tapi design yang begitu juga boleh (tentunya perlu beberapa hari ya untuk mengerjakannya). Mereka juga menyediakan tas-tas dengan handle berbahan kulit asli dengan lapisan dalam suede yang berbeda dengan pengrajin lainnya  karena kebanyakan pengrajin menggunakan bahan plastik sebagai handle-nya.

 

Yang jelas, karya ke dua Ibu-Ibu muda ini telah berhasil memperkaya kota Yogyakarta dengan memberikan option lain bagi pengunjung yang ingin mencari oleh-oleh ataupun kerajinan khas Yogyakarta yang bermutu bagus, selain batik, gudeg, bakpia ataupun wingko.  Dan tentunya itu sangat penting bagi kota Yogyakarta sebagai salah satu daerah tujuan wisata.

Saya rasa apa yang dilakukan oleh kedua wanita ini juga bisa memberi inspirasi bagi kita, para wanita agar lebih positive dalam menjalani hidup. Lebih kreatif dan tentunya lebih produktif.

Yuk kita main ke Yogyakarta! Banyak hal menarik yang bisa kita lihat dan nikmati di sini.

Yogyakarta : Menonton “Bird Free Flight”

Standard

Anda pencinta burung? Ingin tetap bisa memelihara burung kesayangan anda tanpa harus mengurungnya dalam sangkar?  Barangkali Free Flight Training untuk burung anda, merupakan jawaban yang baik.

****************************************************************************************************

Burung Wood Swallow

Ini masih cerita di Alun-Alun Utara  Yogyakarta. Ketika saya sedang sibuk memotret sekawanan burung yang hinggap di atas beringin, saya melihat Ricky, teman saya ngobrol dengan seorang anak muda. Ricky melambaikan tangannya ke saya. Saya pun mendekat. Wow! Rupanya ada seekor burung liar di tangannya. Burung berwarna hitam kelabu dengan dada dan perut putih ini terlihat sangat indah. Saya mencoba mengingat-ingat burung apa itu. “Bukannya ini Wood  Swallow ya?” tanya saya. Anak muda yang kemudian saya kenal bernama Adi itu terlihat sedikit terperanjat. “Wah! Kok Ibu tahu ?” tanyanya. “Benar Bu. Ini Wood Swallow“katanya.  “Padahal burung jenis ini sangat jarang lho Bu yang memelihara. Bukan jenis burung yang bersuara merdu” lanjutnya lagi. Ya saya setuju. Burung jenis ini sangat jarang di pasaran burung untuk diperdagangkan. Barangkali memang karena suaranya tidak tergolong merdu sehingga orang kurang tertarik memelihara.

Saya pencinta Burung. Terutama Burung Liar di alam lepas. Ada beberapa jenis burung yang saya kenal. Dan lebih banyak lagi jenis yang saya tidak tahu. Tapi saya tidak memelihara burung. Tidak senang melihat burung dalam sangkar” kata saya. Mendengar itu Adi lalu berkata “Sama Bu. Saya juga pencinta burung. Tapi tidak senang melihat burung dalam sangkar. Itulah sebabnya kenapa saya bergabung dalam Free Flight ini. Biar tetap bisa memelihara burung tanpa harus mengurungnya dalam sangkar“. WOw! Giliran saya yang terperanjat.

Free Flight! Ide yang kedengarannya sangat menarik di telinga saya. Adi lalu bercerita bagaimana asal mulanya ia memelihara Burung Wood Swallow alias Burung Kekep (Artamus leucorynchus). Ia menemukannya sejak usia masih lolohan (bayi) di pasar burung. Ia merawat dan memberi makan bayi burung itu dengan penuh kasih sayang dan melatihnya terbang. Sejak kecil memang tidak pernah disangkarkan. Boleh terbang bebas kemanapun ia suka.  Barangkali karena ia merasa di sana rumahnya, burung itu pasti pulang kembali walau sejauh apapun ia  terbang. Menarik ya?  Bagi saya cerita itu sangat menarik, walaupun sebelumnya saya pernah mendengar cerita serupa tentang burung  bangau yang selalu pulang ke rumah pemeliharanya, walaupun ia terbang jauh.

Love Bird

Selain  Wood Swallow, rupanya Adi juga memelihara seekor Love Bird berwarna biru yang sering dilatihnya terbang bebas.  Saya terpesona melihat burung itu terbang bebas di udara, tapi begitu merasa lelah iapun cepat-cepat turun dan hinggap di tangan Adi.

Adi memberinya makan. Mengusap-usap kepalanya dan melatihnya terbang sambil ia sendiri ikut berlari bersama. Burung itu terbang dengan riang di sampingnya. Saya pikir ia memang seorang penyayang burung. Sehingga tidak berkeberatan mengalokasikan waktunya hanya untuk merawat, memelihara dan  melatih anak burung itu hingga dewasa.

Adi juga memperkenalkan saya pada rekan-rekan pencinta burung dan free flight yang tergabung dalam Yogyakarta “Parrot Lovers” yang sore ini bersama-sama melatih terbang burung kesayangannya masing-masing.

Sore itu Alun -Alun Utara penuh warna warni burung-burung paruh bengkok, mulai dari Love bird, Sun Conure, Australian Cockatiel dan sebagainya.  Burung -burung itu benar-benar terbang bebas. Ada yang terbang lalu hinggap di tanah Alun-Alun. Tapi kebanyakan kembali ke tangan pelatihnya.  Ada juga satu dua yang menclok ke bahu penonton. Termasuk ke bahu saya. Juga ke bahu Ricky. Wah.. ha ha.. rasanya sangat senang ketika ada burung yang tiba-tiba menclok begitu dengan jinaknya di bahu kita.

Cockatiel Free Fligt hinggap di bahuKami tidak takut ia terbang tinggi atau jauh. Karena pasti ia akan kembali. Yang  kami takuti justru jika ada orang yang menangkap dan memasukkannya ke dalam kandang“. kata Adi saat saya bertanya, apakah ia tidak takut burung kesayangannya itu lepas dan pergi tak kembali.

Sukses bagi teman-teman pelatih Free Flight untuk burung-burung dan teman-teman yang tergabung dalam Yogyakarta Parrot Lovers. Saya masih tetap percaya bahwa tempat terbaik bagi burung-burung adalah di alam bebas. Namun jika tidak bisa melepaskannya, maka melatihnya “Free Flight” barangkali menjadi pilihan yang lebih baik. Setidaknya dengan Free Flight burung-burung masih diberi kebebasan untuk terbang tinggi. Juga diberi hak untuk terbang jauh dan tak kembali atau akhirnya pulang. Keputusan diserahkan kepada para burung – walaupun biasanya ia akan pulang kembali.

 

Yogyakarta: Burung-Burung Liar Di Alun-Alun Utara.

Standard

Tekukur 5Minggu yang lalu saya ada di Yogyakarta dan kembali ke Jakarta pada hari Sabtu pukul 7 malam. Hari itu kebetulan urusan saya sudah selesai sekitar jam 2.30 siang.  Agak kelamaan kalau menunggu di airport. Jadi saya dan teman-teman ingin mengisi waktu dengan melihat-lihat sudut kota Yogyakarta.  Setelah berembug, kami memutuskan untuk melihat Keraton. Tapi sayangnya ketika kami tiba, Keraton sudah tutup. Yaaah…kecewa deh penonton.

Empat orang teman saya memutuskan untuk melihat-lihat batik produksi rumahan yang dipromosikan tukang becak. Saya sendiri lebih berminat untuk mengamati burung -burung liar di sekitar Alun-Alun Utara. “Melihat burung liar di lapangan?” Seorang teman saya kaget, bagaimana saya yakin di sana ada banyak burung yang bisa dipotret?. Saya tertawa. Ya..barangkali karena saya memang tertarik pada satwa liar (terutama burung-burung liar), jadi ketika kendaraan kami melewati Alun-Alun itu, dari kejauhan mata saya sudah menangkap ada beberapa ekor burung perkutut hinggap di lapangan berpasir itu.  Sementara bagi yang kurang berminat, tentu saja keberadaan urung-burung liar itu akan luput dari pandangannya. Karena mata kita cenderung mencari apa yang ingin kita lihat.

Satu orang teman saya yang lain, akhirnya memutuskan untuk menemani saya berjalan-jalan di sekitar Alun-Alun. jadilah saya berdua dengan teman saya itu memasuki lapangan yang tanahnya kering dan tandus dengan dua pohon beringin terpagkas itu. Selain dua pohon beringin yang ada di tengah lapangan, ada beberapa pohon beringin lain juga yang mengelilingi lapangan itu. Memberikan akomodasi yang cukup bagi para burung. Tak heran saya mendengar kicauan burung yang riuh serta belasan burung-burung yang berpindah dari satu pohon ke pohon yang lainnya.

1/. Burung Tekukur.

Saat memasuki lapangan, saya melihat ada belasan ekor burung tekukur sedang sibuk berjalan-jalan atau mencari makan.  Kebanyakan dari mereka berpasangan. Mengais-ngais dan mencari sesuatu di tanah dan rerumputan yang kering. Saya hanya duduk nongkrong mengamati tingkah lakunya. Burung Tekukur alias Kukur, alias Spotted Dove (Streptopelia chinensis) sebenarnya merupakan salah satu burung yang banyak disangkarkan orang. Melihatnya terbang bebas di alam membuat hati saya terasa sangat bahagia.Karena kelihatannya burung-burung itu juga sangat berbahagia. Sebenarnya mereka bisa hidup mandiri. Mereka bisa mencari makanannya sendiri- berupa biji-biji rumput maupun biji pepohonan tanpa perlu bantuan kita, manusia untuk membelikannya makanan setiap hari.

Burung-burung ini tampak santai. Ia membiarkan saya untuk tetap berjongkok mengamati tingkah lakunya dari jarak sekitar  4-5 meter. Hanya ketika saya bergerak terlalu dekat, merekapun terbang.

Sangat mudah mengenali burung ini, bahkan dari jarak yang cukup jauh. Secara umum berwarna kelabu semu coklat kemerahan dengan sayap coklat berbercak-bercak. Leher bagian belakangnya berkalung hitam putih. Kepalanya kelabu kebiruan.Paruhnya berwarna kelabu. Kakinya berwarna pink.  Melihat kalungnya, tentu kita tidak akan tertukar dengan burung jenis lain.

Suaranya sangat merdu dan penuh kedamaian bagai siapa saja yang mendengarnya “ Tekkkukuurrrrr….. tekkukuurrrrrr…“.

Melihat banyaknya yang terbang berkelompok maupun berpasangan dari satu pohon beringin ke beringin yang lainnya, saya pikir jumlah populasi burung Tekukur di area ini mungkin puluhan mendekati ratusan.

2/. Burung Perkutut.

Burung ke dua yang jumlahnya cukup banyak juga di sekitar alun-alun ini adalah Burung Perkutut. Sama dengan Burung Tekukur, Burung Perkutut  juga merupakan salah satu burung yang sangat digemari untuk dipelihara. Suaranya yng merdu “Kwarrrr ketengkung…Kwarrr ketengkung…” membuatnya diburu orang. Baik untuk didengarkan sendiri maupun untuk dilombakan. Sayang sekali ya….banyak burung ini yang nasibnya berakhir di sangkar.

Burung Perkutut alias Titiran alias Zebra Dove (Geopelia Striata) rupanya agak mirip dengan Burung Tekukur, tetapi jika kita perhatikan tentu saja banyak bedanya.  Ukuran tubuh Burung Perkutut lebih kecil dari burung Tekukur. Warnanya merupakan campuran kelabu dan coklat kemerahan. Burung Perkutut tidak memiliki kalung bintik hitam putih di leher belakangnya.  Sayapnya juga tidak berbercak-bercak, tetapi motifnya cenderung membentuk alur-alur lurik mirip motif zebra, sehingga tidak heran disebut juga dengan nama Zebra Dove.

Populasinya di area ini juga lumayan banyak. Sama seperti Tekukur, mereka mencari makan dan terbang berpasang-pasangan. Syang banyak gambar yang saya ambil sangat blur.

3/.Burung Punai.

Burung Punai

Selain ke dua jenis burung di atas, sebenarnya saya berpikir masih ada beberapa jenis burung lain yang menghuni pohon-pohon beringin di sekitar area itu. Barangkali jenis merpati lain , burung jalak dan sebagainya. Tapi saya tidak bisa melihat dengan baik.Hanya mendengar ocehan suaranya yang berbeda.  Suatu kali saya melihat serombongan burung yang awalnya saya pikir Tekukur menclok di pohon beringin di tengah alun-alun.  Saya mengarahkan kamera saya ke puncak pohon, lalu jeprat jepret ala kadarnya di beberapa bagin puncak pohon itu tanpa memeriksa lagi hasilnya. Belakangan saya baru sadar bahwa yang tertangkap oleh kamera saya justru gerombolan Burung-Burung Punai alias Green Pigeon (Treron Capellei) bukan Burung Tekukur.  Ada belasan jumlahnya bertengger di sana. Salah satunya adalah seperti yang tampak di foto di atas ini. Wahhhh…sungguh saya jadi menyesal tidak mengambil foto yang lebih baik dan lebih banyak lagi.

4/. Burung Gereja.

Burung Gereja

Berbaur dengn para Burung Perkutut dan Burung Tekukur, tak mau kalah adalah gerombolan Burung Gereja (Passer domesticus). Burung-burung kecil ini ikut sibuk mengais-ngais makanan di sela-sela rumput dan pasir Alun-alun ini. Suaranya yang bercerecet lumayan  menghibur, meramaikan suasana sore Alun-Alun Utara Yogyakarta.

5/. Burung Cerukcuk.

Burung CerukcukMenjelang pulang, tepat sebelum saya masuk ke kendaraan yang akan mengantarkan saya ke bandara, saya melihat seekor Burung Cerukcuk ( Pycnonotus goiavier) di atap bangunan tak jauh dari tempat kami parkir. Burung penanda pagi ini tampaknya hanya beristirahat sebentar di sana lalu terbang menyusul temannya dan menghilang di balik rimbunan daun-daun beringin.

Sore yang sangat menyenangkan di Yogyakarta. Senang bisa menyaksikan kehidupan liar masih ada di seputar kota. Semoga pemerintah setempat memberi perhatian terhadap kehidupan burung-burung ini,  agar kebebasannya tidak terganggu oleh tangan-tangan jahil yang ingin menangkap dan memperjual-belikannya.

Yuk kita cintai Lingkungan Hidup kita!.

 

Yogyakarta, I Love You…

Standard

20150410_1739221Yogyakarta! Adalah salah satu kota yang sangat saya sukai. Karena di kota ini, kebudayaan masa lalu yang gemilang masih tetap bisa kita rasakan dan nikmati di mana-mana, walaupun modernitas dan perkembangan teknologi juga tetap berlangsung seiring. Aksara Jawa masih bisa kita lihat dan baca di sudut-sudut kota, walaupun huruf Latin tentu saja mendominasi. Setidaknya saya melihat ada upaya pemerintah dan penduduk setempat untuk menjaga dan tidak membuang begitu saja apa yang sudah menjadi sebuah ‘achievement’  leluhurnya dalam dunia sastra.

Batik

Walaupun dalam kunjungan yang lalu ke kota ini, saya tidak sempat melihat-lihat lebih jauh – gara-gara kaki saya keseleo hingga tak sanggup berjalan -, namun saya tetap bisa merasakan suasana Yogyakarta disajikan di hotel tempat saya menginap, lewat makanan yang terhidang, musik yang diperdengarkan ataupun pernak-pernik yang dipajang.Sehingga ketika saya pulang kembali ke Jakarta, saya sadar betul jika saya baru saja kembali dari kota Yogyakarta.

 

Patung Loro Blonyo – saya sangat sering melihat patung  pasangan ini. Ada berbagai ekpressi dan gaya dari Patung Loro Blonyo yang pernah saya lihat. Namun, saya belum pernah melihat yang model bergaya sederhana seperti yang ditunjukkan dalam patung ke dua yang saya temukan seperti di atas. Menurut cerita, loro blonyo adalah bentuk symbol, perlambang kesuburan yakni Dewi Sri -Sedana yang merupakan Dewi/Dewa Kesuburan dan Kemakmuran. Melihat itu saya merasa ada banyak sekali kearifan dan kedalaman filosofi  dari setiap lambang dan symbol budaya yang terlihat di permukaan.

Rempah-rempah di Yogyakarta, juga mengingatkan saya akan perawatan wanita yang mencapai tingkat yang sangat membanggakan.  Sementara kita di kota sibuk mencari kearifan dari bangsa lain untuk perawatan tubuh kita, sesungguhnya tanpa kita sadari para leluhur kita telah menemukan rahasianya dari alam kita sendiri yang tentunya lebih sesuai dengan tubuh dan kondisi cuaca di negeri tropis kita ini.  Di Yogyakarta, kita mudah menemukan ini.

Sayup-sayup saya mendengar gendhing didendangkan dengan lembut oleh seorang pesinden….

Yan ing tawang ono lintang,  Cah Ayu. Aku ngenteni tekamu. Marang mego ing angkoso, Ni Mas. Sun takoke pawartamu. Janji janji aku eling, Cah Ayu. Sumedhot rasaning ati. Lintang-lintang ngiwi-ngiwi, Ni Mas. Tresnaku sundul wiyati.

Dek semono, janjimu  diseksesni. Mego kartiko kairing roso tresno asih

Yen ing tawang ono lintang, Cah Ayu. Rungokno tangis ing ati. Binarung swaraning Ratri, Ni Mas. Ngenteni bulan ndadari.”

Ah…..dendang cinta yang sangat romantis dan melankolis. Yang meluluhkan hati siapapun pendengarnya.

Yogyakarta, saya ingin kembali!.

 

 

 

 

Yogyakarta: Jamur-Jamur Yang Cantik.

Standard

Jamur adalah salah satu tanaman yang menarik perhatian saya sejak kecil. Saya suka mengamatinya tumbuh di halaman rumah, di kebun, dekat tanaman,dekat sarang laron, di batang pohon yang membusuk dan sebagainya. Terkadang saya juga belajar mengidentifikasi mana yang beracun dan tidak dari ibu saya. Sayangnya sampai sekarang saya masih belum hapal juga yang mana saja jenis jamur yang ‘edible’dan mana yang tidak.  Tetap saja ragu jika melihat jamur di alam, apakah bisa dimakan atau tidak.

Beberapa waktu yang lalu, ketika berkunjung ke kota Yogyakarta, saya mampir di sebuah rumah makan yang semua menunya terdiri atas jamur. Berbagai jenis jamur – yang semuanya bisa dimakan tentunya.

Sebenarnya pernah membaca tentang rumah makan ini sebelumnya dari tulisan teman-teman blogger lainnya. Namun begitu melihat sedemikian banyaknya jenis hidangan dari  jamur  yang tersedia di sana (dan…enak semuanya), saya jadi merasa sangat takjub!. Selama ini saya hanya mengolah jamur menjadi pepes, tumis, sup ataupun gorengan. Tapi ternyata di luar itu, jamur bisa juga di sate. Di bikin rendang,  asam manis, oseng-oseng, lumpia, peyek, dan sebagainya…hingga minumanpun bisa dibuat dengan jamur. Walah… Kita bisa belajar kreatif dari restaurant ini.

Selain itu, di sebuah pojok  restaurant disediakan display berbagai jenis jamur hidup yang membantu kita untuk mengetahui berbagai jenis jamur yang bisa dimakan ataupun dijadikan obat. Ada berbagai macam. Warnanya cerah dan bentuknya cantik-cantik dan artistik. Sangat cocok dijadikan penghias ruangan. Walaupun tidak sedang membawa kamera, saya merasa sangat beruntung jaman sekarang kita bisa menggunakan telpon genggam untuk mengabadikan apa yang kita lihat.

Ade beberapa yang masih saya ingat namanya, walaupun sebagian lupa juga. Setidaknya di sana ada jamur Lingzhi yang diyakini berkhasiat menyembuhkan beberapa jenis penyakit tertentu. Lalu ada jamur tiram yang cantik. Warnanya putih dan bentuknya seperti tiram. Namun ada juga jenis jamur tiram merah yang warnanya sungguh sangat indah. Lalu saya juga melihat ada jenis jamur kuping. Terus jamur kancing. Lalu ada jenis jamur besar yang mirip King oyster.  Kemudian ada lagi jenis jamur yang entah apa namanya, warnanya hitam legam. Jamur-jamur itu ditata sedemikian rupa sehingga terlihat sangat menarik sebagai penghias pojok ruangan.

Yuk, kita berkunjung  ke Yogya !