Experiential Marketing- Display Sarang Lebah Madu.

Standard

???????????????????????????????

Saat sarapan pagi, mata saya tertumbuk pada  sepapan sarang lebah penuh madu yang dipajang di sudut restaurant sebuah hotel tempat saya menginap. Wowo..madu! Warnanya kuning keemasan berkilau memenuhi rongga-rongga persegi enam teratur yang berdempetan. Lebih muda warnanya dibanding madu yang biasa saya lihat sehari-hari. Cairan madu itu setetes demi setetes tampak jatuh  ke sebuah talang yang mengarah ke sebuah pot keramik di bawahnya. Tertarik melihatnya, sayapun mencoba icip-icip dengan mengoleskannya di atas roti tawar yang saya ambil tak jauh dari situ. Hm… manis. Tentu saja!. Namanya juga madu.

Melihat saya berdiri menonton sarang lebah, beberapa pengunjung restaurant lainpun ikut-ikutan berhenti dan berdiri di situ. Memandang ke arah papan madu itu dan mencoba menyicip mengikuti saya. Seterusnya, kerumunan orang di dekat papan madu itu, ikut mengundang pengunjung lain lagi untuk mengetahui, ada hal menarik apa kok orang-orang pada berkerumun? Saya melihat satu persatu mereka datang mendekat untuk melihat dan mencoba madu itu. Lah? Kok akhirnya menjadi penuh orang?. Datang dan pergi.  Sayapun meninggalkan pojok restaurant itu dan kembali ke tempat duduk saya, menghabiskan teh hangat ditemani roti yang sudah dilapisi madu.

Seorang lelaki sambil berdiri menjelaskan kepada temannya bahwa itu adalah Madu dari Australia mengingat warnanya yang menurutnya sangat khas. Kuning muda keemasan!. Salah satu madu (lagi-lagi menurutnya) yang terbaik di dunia. Saya ikut menyimak obrolan itu.

Lalu ada lagi tiga orang wanita yang duduk tak jauh dari tempat saya duduk terdengar sedang bercakap-cakap tentang sarang lebah itu. Yang seorang mengatakan, bahwa itu adalah kali pertama ia pernah melihat sarang lebah yang sesungguhnya. Dulunya hanya pernah melihat gambarnya saja.  Temannya mengatakan, bahwa ia pernah juga melihat sarang lebah sebelumnya, namun tidak sebesar dan sebersih ini. Dan yang seorang lagi mengatakan hal yang sama dengan wanita yang ke dua, pernah melihat namun belum pernah mencicipi madu yang langsung menetes dari sarangnya. Wowo! Jadi bagi mereka, ini benar-benar ‘New experience’ dong? Pantes saja pada semangat mencicip.

Akan halnya saya, sarang lebah bukanlah benda asing bagi saya. Seperti sabagian pembaca sudah paham, saya ini dibesarkan di kampung. Di sebuah kota kecil di tengah-tengah pulau Bali. Seperti banyak keluarga lain yang juga melakukannya, menampung sumber makanan dari alam adalah kejadian sehari-hari. Walaupun dalam skala sangat kecil, Bapak saya mengundang para lebah madu untuk datang dengan sengaja menanam bunga-bunga dan pohon lengkeng di halaman serta membuat “kungkungan’ (sarang lebah buatan) yang terbuat dari tabung batang enau bertali ijuk digantungkan di salah satu pojok halaman rumah kami. Secara berkala, Bapak saya memanen sarang lebah ini. Jadi buat saya, sarang lebah madu bukanlah benda baru buat saya. Dan mencicipi madu yang menetes dari sarangnya juga bukan hal baru. Tapi mengapa saya tetap merasa tertarik untuk melihat dan mencicipi madu di restaurant ini? Saya melakukannya untuk memori. Melihat madu dan sarang lebahnya, membawa saya kenangan akan masa kecil saya. Kenangan akan kasih sayang orangtua saya yang penuh kehangatan. Nostalgia!.

Sebenarnya yang disajikan oleh restaurant itu sangat sederhana: M A D U !. Tidak terlalu istimewa, karena tentu saja banyak restaurant di hotel yang buka untuk melayani tamunya makan pagi yang juga menyediakan madu. Apa yang istimewa dengan madu? Madu ya madu saja! Walaupun ada yang mengclaim ini madu australia, ini madu nusantara, ini madu sumbawa, madu bunga lengkeng, madu bunga randu, madu hutan, madu kampung dan sebagainya. Rasa dan warnanya mungkin selisisih sedikit, tapi ya..tak akan jauh-jauh dari rasa seputaran rasa madu yang begitu-begitu saja.

Lalu apa yang membuat madu di restaurant ini menjadi istimewa dan tiba-tiba sedemikian banyak pengunjung restaurant itu pengen menyicip madu? Adalah fakta bahwa madu itu tidak disajikan dengan cara biasa-biasa saja. Penempatan display Sepapan Sarang Lebah Madu itulah yang membuatnya menjadi istimewa. Tidak hanya disajikan begitu saja di dalam sebuah mangkok ataupun pot seperti biasanya, namun dilengkapi dengan sepapan sarang lebah yang penuh dengan madu.

Dengan demikian, restaurant tidak saja menyajikan madu dalam fungsinya sebagai bahan makanan yang sehat bergizi tinggi, namun juga sekaligus menyediakan New Experience bagi pengunjung yang belum pernah mencicip madu langsung dari sarangnya. Juga Nice memory dan nostalgia bagi pengunjung yang sudah tahu sebelumnya. Orang-orang mendekat untuk melihat, mencicip, mengalami dan bernostalgia. Sangat jelas, kedekatan emosi antara madu dan pengunjung sekarang terbangun dengan cara yang sangat baik di sini.  Experiential Marketing!

Dan saya yakin, itu bukan upaya yang dilakukan oleh pihak restaurant sendiri, namun lebih mungkin dilakukan dengan support dari pihak pemilik merk madu yang mensuplay madunya ke restaurant di hotel itu. Sungguh sebuah upaya pemasaran yang sangat mengesankan! Walaupun sayangnya, barangkali pihak hotel tidak menginjinkan sang pemilik brand untuk menempatkan brandingnya di sini. Namun tetap saja, di sini ada kesempatan yang sangat baik bagi konsumen untuk berintaksi secara langsung dan bahkan melakukan  ‘engagement’ dengan produk itu sendiri dengan melibatkan panca inderanya. Melihat, mencicip, merasakan dan mengalaminya sendiri.

Sampai di sini, kita juga sekaligus bisa belajar bahwa betapa pentingnya peranan display dalam membantu membujuk konsumen untuk melihat dan selanjutnya mencoba produk yang kita tawarkan. Dan display yang baik mampu menjadi trigger yang baik bagi sebuah aktifitas experiential marketing. Dan tentunya, konsumen yang terlibat dalan experience secara positive akan berpotensi menjadi loyal terhadap brand dan juga sekaligus menjadi influencer bagi calon konsumen yang lain.

6 responses »

  1. Sungguh contoh yg baik untuk experiental marketing, yg mengintegrasikan berbagai unsur yg ada pada pelanggan, terutama unsur emosinya. Saya rasa ini juga cukup efektif dalam proses pemasaran, tidak perlu buang banyak duit untuk pasang iklan.
    Pengalaman pengunjung di restoran itu akan melekat kuat, bahkan kemudian dg kekuatan words of mouth-nya pengunjung kepada lingkungannya menjadikan pemasaran restaurant itu berjalan dg sendirinya tanpa melibatkan pemiliknya.

    Terimakasih sharing yang mencerahkan ini, bu Ni Made.

  2. eksperimen marketing yangcukup berhasil sepertinya Mba Made. minus brand madunya memang. coba kalo misalkknbrand madunya dicantumkan sekalian, orang-orang yang tertarik melihat kemungkinan besar akan menangkap brand itu sebagai brand madu berkualitas tinggi.. menarik! :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s