Category Archives: Motivation

MEISA RATILAELA, Artis Berbakat Yang Digandrungi Penonton di Film Sedekah Gema Ramadhan.

Standard
MEISA RATILAELA,”Tanpa Netizen, Apalah Artinya Kita”. Artis berbakat yang digandrungi penonton di film Sedekah Gema Ramadhan.

Film Sedekah Gema Ramadhan mendapatkan perhatian yang sangat baik dari netizen. Penonton terkesan dengan cerita dan tokoh-tokoh di dalamnya, terutama tokoh Ibu Lala yang merupakan tokoh utama di film itu.

Banyak penonton yang merasa gemas dan kesal pada tokoh antagonis yang walaupun ramah dan rajin menjadi koordinator mengumpulkan sedekah Ramadhan dari ibu-ibu kompleks perumahan, tetapi ternyata tidak amanah. Tidak jujur dalam menjalankan tugasnya. Ia mengaku bahwa sedekah yang sesungguhnya adalah sumbangan dari ibu-ibu kompleks itu sebagai sumbangan darinya saja.

Nah siapakah pemeran Ibu Lala yang berhasil mengaduk-aduk emosi penonton ini?

MEISA RATILAELA adalah artis yang memerankan tokoh Ibu Lala ini dengan sukses. Ia berhasil menjiwai tokoh yang walaupun menurutnya sifat tokoh Ibu Lala itu sama sekali tidak sesuai dengan sifatnya sendiri sehari-hari.

Saat ditawarin untuk memerankan tokoh antagonis ini, walau sangat bertolak belakang dengan sifatnya sendiri, tetapi Meisa tetap berpikiran positif. Ia menganggapnya sebagai sebuah tantangan. Tantangan yang harus ia hadapi dan taklukkan. Dan ternyata, hasilnya memang berkah.

Meisa yang bawaannya selalu periang, ekspresif dan rame, sehari-hatinya adalah karyawati sebuah kantor kelurahan di Lembang, Bandung, yang juga mengisi waktu senggangnya sebagai crew di Triduta Film.

Selain seorang wanita yang bekerja, Meisa juga seorang Ibu rumah tangga dengan 3 anak. Terbayang bagaimana kesibukannya sebagai wanita dengan multi peran ini.

Ditanya tentang kiprahnya di dunia perfilman, MEISA bertutur jika ia memulai karirnya sebagai Ibu kost yang cerewet dalam sebuah film 13 episode pada tahun 2020.

Setelah pandemi, ia sempat vakum dengan kegiatannya di film. Lalu ia kembali mendapatkan peran saat Ramadhan tahun ini sebagai Ibu Lala dalam film Sedekah Gema Ramadhan.

Jadi praktis sebenarnya ia baru bermain sebagai pemeran utama dalam 2 film dan sisanya hanya peran-peran extras saja. Walau demikian, banyak penonton yang memuji kemampuan aktingnya, dan terlihat jika ia sangat menjiwai karakter tokoh yang diperankannya.

Ditanya tentang kiat suksesnya dalam berperan, Meisa bercerita bahwa biasanya ia baca-baca dulu tentang karakter yang akan diperankannya, lalu jalani dan nikmati saja.

Ada rasa tertantang juga, “Bisa nggak sih memerankan tokoh itu?” Dan rasa penasaran saat menunggu filmnya ditayangkan. Ternyata setelah tayang banyak komentar. Berbagai ragam. Ada yang benci, marah kepada tokoh yang ia perankan, walau kebanyakan mendukung dirinya sebagai pemerannya. Itu melegakan, karena itu berarti bahwa Meisa berhasil memerankan tokoh itu dengan baik. Dukungan dari teman-teman dan keluargapun mengalir.

Saat ditanya tentang pengalamannya selama shooting film Sedekah Gema Ramadhan, Meisa bercerita bahwa shootingnya dilakukan benar-benar saat Ramadhan. Tentunya selain harus menahan lelah dan haus, ia dan crew film yang lain juga berusaha menahan kesal, menahan hawa nafsu, misalnya jika ada teman main yang salah-salah sehingga harus ditake ulang. Ia menyatakan enjoy shooting bersama Triduta. Crewnya solid, tidak membeda-bedakan apakah itu crew, talent, atau management. Semua berbaur.

Menurutnya kisah di Film Sedekah Gema Ramadhan ini memang nyata karena pada kenyataannya di sekeliling kita juga memang ada orang yang seperti itu. Orang seoerti Ibu Lala tang licik dan tidak amanah.

Semoga dengan dibuatnya film ini, akan banyak menginspirasi penonton, agar jangan berbuat seperti itu. Bagi yang saat ini sedang atau pernah berbuat begitu agar sadar. Melakukan intropeksi diri dan tidak lagi nelakukan berikutnya. Dan bagi yang tidak melakukan juga berguna untuk mencegah agar jangan sampai melakukan. Jadi film ini penuh dengan nilai-nilai moral dan nilai pendidikan, agar jangan melakukan hal yang tidak baik.

Hal yang menarik lagi tentang MEISA adalah ia seorang yang sangat optimis dan positive. Menurutnya, agar kita bisa selalu menikmati pekerjaan kita, ia punya kiat tersendiri. “Cintai dulu, sukai dulu, nyamankan diri dulu dengan pekerjaan, pasti akhirnya kita bisa nikmati pekerjaan kita. Enjoy aja“.

Namun demikian, dibalik aktingnya yang banyak nenuai pujian, ia tetap rendah hati dan mengatakan bahwa “Tanpa netizen, apalah artinya kita”

Itulah Meisa Ratilaela, yang penuh semangat, terus berkarya dan berusaha agar hasilnya bagus dan viewernya banyak. Semoga Meisa semakin sukses ke depannya.

BHINEKA TUNGGAL IKA.

Standard


Living Free In Harmony.

Kemarin, sehabis olah raga saya berhenti sejenak di pojok halaman di mana bunga-bunga Thunbergia ungu dan Kembang Sepatu jingga berbunga lebat. Diantara bunga-bunga jingga itu saya melihat tersembul sekuntum bunga Kembang Sepatu berwarna merah. Muncul dari batang yang sama.

Sebenarnya ini bukan kejadian yang pertama. Cukup sering terjadi pokok Kembang Sepatu jingga saya ini mengeluarkan bunga merah. Dan walau warnanya sama-sama jingga, cukup sering juga keluar bunga dengan mahkota yang tidak bertumpuk, karena biasanya mahkota bunganya bertumpuk. Dan tumpukannya pun bervariasi dari yang sangat tebal hingga tipis. Berbeda-bedalah, tetapi tetap dari pohon yang sama. Bukan tempelan atau cangkokan.

Senang saya melihatnya. Sedemikuan damai hidup berdampingan.

Memandangi bunga-bunga yang berbeda walau asalnya dari satu pohon ini, saya jadi teringat dengan carut marutnya situasi berkebangsaan kita belakangan ini.

Kita ini satu bangsa. Bangsa Indonesia. Walaupun dari awalnya kita sudah berbeda-beda. Datang dari berbagai macam adat, budaya, bahasa, suku yang mendiami berbagai wilayah nusantara yang terpisah-pisah pulau dan lautan. Namun para pendahulu kita sudah sepakat dan mengambil keputusan dalam sebuah Sumpah Pemuda untuk berbangsa satu, bertanah air satu dan berbahasa satu yakni Indonesia, bahkan jauh-jauh hari sebelum proklamasi Kemerdekaan. Mereka rela berjuang habis-habisan dengan mengorbankan harta benda, nyawa dan bahkan ego kesukuannya masing-masing demi terbentuknya negara Indonesia yang bersatu dan berdaulat.

Dan tentunya sebagai anak bangsa yang baik, sudah sepantasnya kita memperkuat apa yang telah diperjuangkan oleh para leluhur kita itu untuk menjadi sebuah bangsa yang merdeka dan bersatu. Bukannya justru memecah belah persatuan dan memporak-porandakan kerukunan, memperkuat eksklusifitas golongan, menganggap golongan kita lebih baik, lebih benar dan lebih berhak ketimbang orang yang di luar golongan kita.

Belakangan kitapun sangat mudah terprovokasi, tersulut amarah tanpa memahami keseluruhan permasalahan yang ada. Bahkan ada juga yang kelepasan menebarkan ujaran-ujaran kebencian dan melakukan kekerasan yang sangat berbahaya dalam usaha kita memperkuat persatuan bangsa. Dan jika dipelajari lebih jauh banyak terkait dengan urusan politik dan kepentingan golongan.

Yuk teman-teman, lebih baik kita perkuat persatuan dan kebangsaan kita. Kita kembangkan sikap saling menghormati, saling menghargai, saling mendukung dan bertoleransi terhadap sesama anak bangsa  Jangan terprovokasi oleh hal-hal yang menyulut kebencian dan melemahkan persatuan kita sebagai bangsa. Cinta Indonesia ❤❤❤

Bhineka Tunggal Ika.
Bhina ika tunggal ika. Tan hana dharma mangeruwa.

LITTLE PRESSURE TO SPARK UP THE SPIRIT.

Standard
7 Days in a row

Beri Sedikit Tekanan , Untuk Membangkitkan Semangat.

Belakangan ini saya sering mengunggah foto berkeringat habis berolah raga ke  media sosial.

Narsis???? Betul sih. Saya termasuk orang yang rada-rada menyukai diri saya sendiri.

Tetapi selain itu, ada alasan yang jauh lebih penting yang menyebabkan, mengapa saya melakukan itu. Mengupload foto-foto berkeringat itu setiap hari.

Selama berpuluh tahun saya menjalani gaya hidup yang kurang sehat. Pola makan kurang sehat, kurang minum, pola tidur kurang teratur, jumlah jam tidur yang sangat minim, kelebihan berat badan yang tak terkontrol, kurang bergerak dan tidak berolah raga. Akibatnya saya terdiagnosa mengidap beberapa penyakit yang membahayakan diri saya.

Sangat menyedihkan. Terlebih saat ada wabah corona, penyakit seperti yang saya derita sering menjadi faktor penyerta dan pemicu kematian pada pasien.

Setiap kali habis check lab dan konsultasi dengan dokter, saya merasa sangat khawatir. Segera saya rajin minum obat, mengubah pola makan saya dan berolah raga. Wah… hasilnya membaik. Senang hati saya. Namun kebosanan sangat cepat muncul. Saya bosan berolah raga. Tidak disiplin lagi menjaga pola makan dan minum obat. Pas waktunya kontrol lagi, eeeh… hasil labnya memburuk. Tentu saja dokter menasihati saya kembali, dan memberi obat kembali sesuai dengan situasi kesehatan saya yang terakhir.

Saya mulai lagi bersemangat minum obat, atur pola makan dan berolah raga. Syukur setelah kontrol berikutnya, hasilnya membaik. Nah saya mulai santai lagi. Mulai kurang disiplin lagi minum obat dan mengatur pola makan. Berhenti olah raga. Begitu saat kontrol tiba, eeeh… hasil test kesehatan saya memburuk lagi.

Demikian terjadi berulang-ulang. Hingga suatu hari dokter berkata,

“Ibu mesti berolah raga, Bu. Ringan -ringan saja. Tapi usahakan teratur. Pengalaman saya menangani banyak pasien, menunjukkan kalau kesembuhan terbaik terjadi pada pasien yang disiplin minum obat, jaga pola makan dan tidur, dan olah raga teratur”.

Saya mengangguk. Lalu dokter melanjutkan lagi.

“Tapi jika pasiennya bandel, pasien yang rajin berolah raga walau bandel-bandel dikit urusan minum obat dan makan, menunjukkan hasil yang lebih baik ketimbang pasien yang disiplin minum obat dan jaga pola makan, tapi tidak olah raga”.

Saya memikirkan kalimat dokter itu. Kalau gitu saya harus benar-benar berolah raga teratur, disiplin dan konsisten. Tapi bagaimana caranya?

Pertama saya memiliki kelemahan susah tidur cepat dan suka begadang. Jadi susah bangun pagi.
Kedua, jikapun saya bisa bangun pagi, sulit untuk memulai bergerak dan berolah raga. Dan berikutnya jika misalnya saya sudah berolah raga sekali,  susah untuk membuat diri saya disiplin berolah raga teratur. Paling banter 2-3 kali , saya jeda. Dan kalau sudah sempat jeda berolah raga, biasanya langsung berhenti dan nggak olah raga lagi. Memulainya kembali terasa sulit.

Pusing saya memikirkan, gimana caranya agar bisa olah raga secara teratur.

Akhirnya saya terpikir untuk mencoba cara baru untuk memaksa diri saya mau nggak mau harus berolah raga.

Saya membuat statement di SOSMED bahwa saya akan berusaha  berolah raga selama 7 hari berturut-turut tanpa jeda. Saya pikir 7 hari berturut-turut bukanlah target yang sulit banget. Beda jika saya bikin target satu bulan setiap hari berturut-turut. Itu sangat susah. Tetapi, target 7 hari berturut-turut, sejujurnya juga bukan target yang mudah dicapai. Karena rasa malas, lelah, jenuh dan bosan sangat mudah datang mengganggu.

Karena saya membuat statement itu di SOSMED, maka mau tidak mau saya harus melakukannya.

Demikianlah saya mulai berolah raga pagi. Memotret diri seusai olah raga dan berkeringat. Lalu upload ke Sosmed. Sebagai bukti bahwa saya memang sudah berolah raga hari itu.   Hari pertama berhasil. Upload! 
Hari ke dua berhasil, upload! 
Hari ke tiga, hari ke empat dan seterusnya berhasil. Saya upload terus buktinya.

Akhirnya Yes!! Hari ke tujuh! Saya berhasil menyelesaikan berolah raga 7 hari berturut-turut tanpa jeda.  Saya takjub sendiri dengan upaya saya.

Dengan mengupload target dan upaya serta proses saya untuk mencapai target itu ke SOSMED, memberi tekanan sosial kepada diri saya sendiri untuk terus berusaha dan terus berusaha setiap hari. Karena kalau saya tidak berolah raga, tidak ada foto berkeringat hari itu yang bisa saya upload, maka saya harus menanggung malu di depan publik. Berarti saya telah ingkar pada ucapan saya sendiri.

Sekarang tanpa terasa saya sudah berolah raga selama 7 hari berturut -turut selama 8 minggu. Dan sekarang ini sudah di putaran ke 9.

Jika saya tidak membuat statement dan merasa tidak perlu mengupload foto foto berkeringat saya itu ke sosmed, saya yakin pasti saya sudah berhenti berolah raga di hari ke empat atau ke lima, karena toh tidak ada yang tahu. Toh tidak ada yang membuat saya malu jika saya terus meringkuk di tempat tidur dan tidak berolah raga seperti sebelum-sebelumnya.

Memberi sedikit tekanan sosial pada diri sendiri, saya rasa cukup penting untuk membantu kita menjadi lebih disiplin dan lebih semangat.

“Dibutuhkan sedikit tekanan, agar bisa meloncat dengan baik”.

Dan setelah saya pikir-pikir, hukum ini sesungguhnya berlaku di mana-mana. Contohnya pada ayunan jungkat-jungkit. Jika  ingin agar sisi ayunan yang di ujung sana berjungkit ke atas, maka  yang di ujung sini harus diberi beban dan tekanan terlebih dahulu. Dan sebaliknya, sehingga mekanisme jungkat-jungkit terjadi.

Atau mainan kodok loncat dari karet. Anak-anak harus menekan sedikit bagian belakang kodok mainan itu agar si kodok mau meloncat ke depan.

Saya pikir mekanisme alam yang serupa, sesungguhnya bekerja untuk memicu semangat hidup kita.

SMALL TARGET, REACHABLE TARGET.

Standard

Memecah Target Besar Yang Sulit Menjadi Target Kecil-Kecil Yang Mungkin Dicapai.

Tak terasa dua bulan sudah berlalu, sejak pertama kali saya memutuskan untuk berolah raga setiap hari, guna memperbaiki kesehatan saya. Saya mulai berolah raga pagi sejak tanggal 11 Februari tahun ini dan hingga hari ini masih terus berolah raga tiap pagi, hanya pernah jeda sekali pada Hari Raya Nyepi.

Buat saya ini adalah pencapaian yang luar biasa, walaupun bagi sebagian orang yang memang disiplin dan rajin berolah raga, tentu ini bukan apa-apa. Karena sebelumnya, ngebayangin target berolah raga tiap hari selama sebulan penuh tanpa jeda hari itu kok rasanya berat banget dan nggak mungkin. Saya sangat yakin itu tidak akan tercapai. Apalagi 2 bulan berturut-turut. Sangat sangat sangat berat dan tidak mungkin tercapai rasanya.

Lalu bagaimana saya bisa melewati semua ini selama dua bulan lebih?

Yang saya lakukan adalah memecah target besar yang rasanya sangat berat dicapai menjadi target kecil-kecil yang mungkin tercapai oleh saya.

  1. Lupakan Target Sebulan. Fokus Pada Target Seminggu.

Saat memikirkan target berolah raga pagi selama sebulan penuh saya yakin tidak akan bisa saya capai. Tapi jika hanya 7 hari berturut-turut, kok rasanya saya masih sanggup ya. Soalnya targetnya nggak lama. Hanya 7 hari.

Lalu saya coba jalani. Olah raga setiap hari. Saat ada halangan datang, seperti rasa malas dan enggan, saya membujuk diri saya sendiri. “Targetmu cuma 7 hari. Nggak banyak. Ayo teruskan. Dikit lagi nyampe!!!”. Eeeh…ternyata bisa lho saya berolah raga selama 7 hari berturut-turut. Saya memuji diri saya sendiri.

Dan karena 7 hari pertana sudah lewat, saya jadi percaya diri, berarti jika saya kasih target 7 hari lagi ke depannya, mungkin saya bisa juga. Akhirnya saya jalani 7 hari berikutnya lagi dari nol. Dan bisa!!. Kasih target 7 hari berikutnya lagi. Dan bisa lagi !!. Begitu seterusnya. Akhirnya berolah raga setiap hari selama sebulan tercapai. Dan sekarang dua bulan tercapai.

Ternyata dengan memecah target besar menjadi kecil-kecil membuat kita menjadi lebih percaya diri dan yakin bisa mencapainya.

Ketimbang memikirkan target besar sebulan, lebih baik kita fokus pada target mingguan dan terus fokus setiap minggu. Ujung-ujungnya tercapai juga target sebulan yang terasa besar itu.

  1. Berolah raga tidak lama – lama.

Saya tidak menargetkan diri saya harus berjam-jam berolah raga. Cukup antara 45-60 menit tergantung dari jam bangun dan ada jadwal meeting pagi di kantor atau tidak. Bagi saya 45 menit itu sudah cukup berkeringat banyak dan membuat tubuh saya terasa segar.

  1. Berolah raga seimbang
    Dalam berolah raga saya juga tidak ngoyo ngikutin satu jenis saja. Saya coba campur-campur saja sesuai dengan kenyamanan hati saya.

Yang penting saya ada melakukan sedikit pemanasan (ini saya belajar setelah saat di awal kaki saya sempat keseleo, karena saya langsung berlari tanpa pemanasan), sedikit olah raga ringan, berat dan kardio. Kadang senam, lari kecil, jalan kaki, main bola basket, dsb. Saya tidak memaksa diri untuk melakukan olah raga yang kurang saya sukai.

Semua upaya itu, membuat olah raga menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi diri saya.

Semoga ke depannya, saya masih bisa terus konsisten berolah raga.

ANTARA PEMBACA DAN PENONTON.

Standard

Sekelebat pikiran dalam proses adaptasi sebuah karya tulis ke dalam bentuk film.

Ketika pengalaman membeli jagung di depan kuburan  saya tuliskan di dalam Blog, Harry Ridho, seorang sutradara film horor menterjemahkannya ke dalam sebuah film
Tentu saja ada sedikit descrepancies di sana-sini dalam proses penterjemahannya, akan tetapi saya pikir itu sangat wajar dan perlu.

Karya saya adalah sebuah TULISAN. Yang merupakan hasil tuangan dari apa yang saya rasakan dan pikirkan ke dalam rangkaian kalimat  dan paragraf, berikut monolog yang terjadi di dalam diri saya.

Dari karya tulis ini, PEMBACA akan menangkap alam pikir dan rasa saya dengan melihat kalimat-kalimat itu dan menginterpretasikannya sendiri sesuai dengan pemahaman dan latar belakang pengalamannya sendiri.

Di sini, semua audio visual yang mentas di panggung pikiran pembaca adalah hasil karangan pembaca sendiri yang distimulasi oleh tulisan saya yang dijadikan referensi. Dan oleh karenanya interpretasi ini bisa berbeda -beda antara satu pembaca dengan pembaca lainnya.

Sedangkan Sutradara Harry Ridho, mengolah apa yang ia tangkap dari membaca tulisan saya itu menjadi sesuatu yang  akan tertangkap oleh PENONTON. Bukan PEMBACA. Sutradara merancang bentuk audio visual yang akan ditampilkan dalam film kepada PENONTON, sesuai dengan interpretasinya sendiri saat membaca tulisan saya.

Jadi di sini penonton tidak perlu lagi mengarang sendiri drama audio visual dalam pikirannya seperti seorang pembaca, karena sudah ada seorang Sutradara Film yang merancang dan menyuguhkannya  langsung kepada penonton.

Disinilah sebuah karya menjadi lebih kaya dan dinamis, karena terjadi penggabungan pengalaman dan imajinasi dari seorang penulis dan seorang sutradara. Walaupun tentu saja ada kelemahannya, yaitu mungkin terjadi descrepancies dengan degree yang beragam antara apa yang sesungguhnya dimaksudkan oleh penulis dengan yang tertangkap oleh penonton pada akhirnya. Karena antara Penulis dengan penonton ada satu penterjemah yakni Sutradara 

Descrepancies tentunya bisa dikurangi dengan komunikasi dan luangkan waktu yang cukup untuk berdiskusi, agar terjadi pemahaman yang sama antara penulis dengan sutradara.

Hanya sekelebat pikiran,  setelah menonton film “Beli Jagung Depan Kuburan”.

SEGENGGAM DAUN KELOR.

Standard

Di sebuah Group Chat di WA, teman-teman saya sedang asyik mengobrol tentang Sate Kambing, dan tukang Sate Kambing yang sangat terkenal enak dekat kantor kami yang lama. Tentu banyak teman yang kangen dan memberikan emoticon ngiler . Tapi ada beberapa orang juga yang bilang nggak tertarik, karena emang nggak doyan daging kambing.

Saya termasuk salah satunya yang tidak ngiler. Selain memang tidak suka, kebetulan tekanan darah saya sedang terdeteksi terlalu tinggi. Tentunya Sate Kambing bukanlah pilihan yang tepat dalam keadaan seperti ini.

Teman-teman kaget mengetahui tekanan darah saya yang memang sedang tinggi-tingginya. Lalu pembicaraanpun beralih ke seputar  Hypertensi. Seorang teman memberi informasi bahwa daun Kelor membantu menurunkan tekanan darah.

Udah makan daun kelor, rebus 300 g, kasih bawang, makan pake sambel, 2 hari pagi siang sore, udah pasti turun.”

Oh ya?  Memang sering denger sih jika Daun Kelor ini bermanfaat. Bahkan kalau di Bali, tanaman ini dipercaya sebagai penolak niat jahat.  Tapi saya baru denger soal manfaat Daun Kelor ini untuk hypertensi. Wah…saya pengen banget nyobain, karena kebetulan saya juga suka rasa daun Kelor.  Tapi nyarinya di mana ya ?

Tidak ada dijual di tukang sayur. Dan saya juga tak punya pohonnya di halaman. Terus terang  ini adalah tanaman yang belum sukses saya tanam. Sudah pernah mencoba 3 x menanam  namun gagal terus. Bahkan pernah dikasih batangnya dari Bali oleh seorang adik sepupu, tetapi tetap saja tidak sukses tumbuh.

Seorang teman menyarankan membeli online saja. Seorang teman yang lain mengatakan jika ibunya pernah menanam pohon Kelor tapi sudah dicabutin Bapaknya. Ooh…sayang sekali. Tapi tak berapa lama teman saya itu japri, mengabarkan jika pohon Kelor di rumahnya masih ada. Dan ia ingin mengirimkan daunnya ke rumah serta minta alamat saya.

Esok paginya, daun -daun Kelor muda itu sampai di rumah saya. Cepet banget. Gratis pula. 

Sayapun memetik daunnya satu per satu, melepas dari tangkainya agar tidak keras saat dimakan. Sambil membersihkan daun Kelor ini saya terkenang akan teman-teman saya di Group Chat itu. Para sahabat yang sangat akrab, bagaikan saudara sendiri.

Para sahabat yang saya ajak dalam suka dan duka saat kami masih bekerja bersama dalam naungan perusahaan yang sama. Para sahabat saat menikmati masa muda, dan juga yang juga akan menua bersama saya. Para sahabat yang sangat peduli akan kesehatan saya, perhatian dan sangat sayang.

Sahabat yang selalu menjapri,
Daaannn…. semoga segera sembuh dan sehat kembali ya…
Jangan stress Dan. Paling gampang memicu tekanan darah. Coba meditasi. Sambil tiduran aja, atur napas. Insya Allah membantu. Aku bantu doa ya. Peluuukkk”.

Tanpa terasa air mata saya meleleh. Terharu dan bahagia berada diantara para sahabat yang peduli dan penyayang.

Daun Kelor mungkin bisa bisa saya dapatkan dengan cara lain. Mungkin bisa memesan dari tukang sayur, atau membeli online.Tetapi persahabatan dan kasih sayang adalah sesuatu yang sangat berharga, tidak bisa diperjualbelikan, dan tidak bisa didapatkan dengan mudah kecuali dengan ketulusan hati.

Saya menghapus air mata saya perlahan. Segenggam Daun Kelor ini sudah siap untuk dimasak Sayur Bening. Semoga menyembuhkan.

KEBERATAN BEBAN.

Standard
Bunga Mawar

Saya punya setangkai pohon Mawar dengan bunga yang sangat indah. Kelopak bunganya banyak bertumpuk-tumpuk, berwarna pink sangat lembut dan halus. Melihatnya saya jadi membayangkan keanggunan dan kelembutan seorang wanita cantik yang simple, namun  kebaikannya selalu menenteramkan orang-orang di sekelilingnya   Sungguh, bunga Mawar ini selalu membuat saya terpesona setiap kali mekar.

Namun ada satu hal yang cukup mengganggu tentang Bunga Mawar ini. Karena kelopaknya bertumpuk-tumpuk, bunganya menjadi besar dan berat. Terlalu berat bagi tangkainya yang kecil dan halus. Sehingga terkadang saya khawatir, ini bisa mematahkan tangkai bunganya sendiri.
Lebih parah lagi, di tangkai yang sama terkadang ada 2 – 3 kuncup bunga lagi yang belum mekar. Rasanya hati saya jadi ketar-ketir. Takut patah.

Sebetulnya segala sesuatu di dunia ini sudah ada takaran dan kapasitasnya. Mengambil beban lebih berat dari kapasitas maksimal yang bisa dilakukan, berpotensi mengganggu.

Contoh yang paling dekat dengan saya itu misalnya soal kesehatan. Soal tekanan darah dan kadar garam yang bisa bermanfaat untuk kesehatan tubuh.  Menurut informasi kesehatan, asupan garam yang bisa ditolerir tubuh adalah max 1600 mg per hari. Pada kenyataannya mungkin saya mengkonsumsi garam jauh lebih banyak dari yang bisa ditolerir.  Satu sendok teh garam saja sudah 2000 mg.

Dan itu terjadi nyaris setiap hari selama bertahun-tahun. Sehingga tubuh saya kelebihan beban garam. Muncullah berbagai penyakit, mulai dari tekanan darah tinggi hingga gangguan fungsi tubuh yang lain.

Dalam bidang Penjualan, kelebihan beban juga sangat mungkin terjadi. Misalnya seorang pemasar yang  hanya mampu menyalurkan barang ke toko-toko langganannya, rata-rata 200 -250 juta per bulan, tetapi memaksa distributor agar menyediakan barang senilai 500 juta  per bulan. Nah jika ia tak mampu mencari toko-toko lain lagi, tentu lama-lama stock akan menumpuk dan tak bisa disalurkan dengan normal lagi. Sebagai akibatnya pembayaran dari distributorpun jadi tersendat. Kelebihan stock. Keberatan beban.

Keberatan beban juga mungkin terjadi pada bidang Politik. Orang yang terpilih menduduki posisi ataupun jabatan tertentu, namun tidak memiliki kompetensi yang memadai.

Ambil contoh, seorang kepala daerah yang menang dalam pilkada karena gencarnya kampanye yang ia lakukan dan bukan karena leadership atau kemampuan managerialnya yang bagus atau kemampuan professionalnya yang lain. 

Sementara lawannya yang sebenarnya lebih berkompeten dan lebih professional, entah karena kekurangan dana atau kurang aggresif dalam melancarkan kampanyenya, jadi kurang dikenal oleh publik dan tidak terpilih.

Yang terjadi berikutnya adalah sang pemimpin terpilih tidak mampu mengelola daerahnya dengan baik dan optimal untuk kepentingan seluruh masyarakat, dan bahkan cenderung hanya mengeluarkan kebijakan dan aturan-aturan yang menguntungkan bisnis personalnya sendiri dan kelompoknya.

Keberatan beban! Dalam bentuk apapun, selalu berpotensi membuat kerusakan. Mau itu dalam bentuk bunga yang lebih berat dari yang bisa ditunjang oleh tangkainya, mau itu murid yang dimasukkan ke dalam kelas percepatan yang kemampuannya sesungguhnya belum di situ, mau itu rumah tangga yang lebih besar pasak dari tiang,  mau itu pejabat yang kurang kompeten, hingga makan yang lebih banyak dari yang bisa diserap tubuh.

Saya memandangi bunga mawar itu.
Banyak isyarat kehidupan yang disampaikan. Saya bepikir untuk membantunya menambahkan tiang penyangga kecil di dekat bunganya.

IN MEMORIAM GURUKU, PAK WAYAN PASEK.

Standard
Guruku Pak Wayan Pasek berdama Buku Karya Tulisku

Kemarin pagi-pagi saya mendengar berita jika Pak Wayan Pasek, Guru Bahasa Indonesia saya waktu SMA telah berpulang, meninggalkan kami untuk selamanya. Tak bisa dibendung lagi air mata saya jatuh bercucuran.

Saya sangat beruntung pernah diajar oleh Guru-Guru yang berkwalitas sangat bagus sepanjang hidup saya, dan menurut saya Beliau adalah salah seorang Guru terbaik yang pernah mengajar dan mendidik saya hingga menjadi diri saya seperti sekarang ini.

Di luar pelajaran Bahasa Indonesia yg tentunya beliau ajarkan kepada saya sesuai kurikulum yang ditentukan waktu itu, beliau sangat rajin mendorong agar murid-muridnya jangan berhenti hanya di sekedar theory.

Membacalah! Menulislah! Berkaryalah!

Walaupun saat itu saya hanya menulis sebatas di Majalah Dinding Sekolah. Namun tanpa saya sadari, atas dorongan beliau, saya kemudian jadi senang mengikuti kejuaraan-kejuaraan Membaca Puisi, kompetisi Menulis Sastra Cerita Pendek ataupun Cerita Bersambung. Beliau juga mendorong saya untuk berani tampil di ajang Lomba- lomba Pidato kepemudaan.

Kebiasaan Menulis, Membaca dan Ikut berkompetisi ini saya teruskan hingga saya kuliah di Denpasar. Ya…tentunya kadang kalah dan beberapakali menang dan mendapatkan piala atau piagam penghargaan juga sih.

Di sini point saya bukan soal kalah atau menangnya sih, tetapi bagaimana seorang Guru bisa mempengaruhi daya juang anak didiknya untuk selalu percaya diri berkarya dan berkompetisi. Be Confident In Yourself & Fight!!!.

Setelah tamat SMA saya memang tidak bertemu beliau lagi hanya sekali saat reuni sekolah beberapa tahun yang lalu. Tetapi kami berkawan di Sosial Media.

Senang sekali berkawan dg beliau di FB sejak tahun 2012. Itu menandakan bahwa beliau sana sekali tidak outdated. Beliau cukup sering nge-like status saya. Demikian juga saya tentunya. Selama ini saya tetap konsisten menulis terus di blog.

Bulan April lalu saya menerbitkan buku pertama saya “100 CERITA INSPIRATIF” dan saat saya mulai mengupdate status saya tentang buku ini, beliau selalu ngasih jempol. Ooh… saya pikir mungkin beliau senang dengan apa yang muridnya ini lakukan. Mungkin ada baiknya coba saya kirimkan saja buku ini untuk beliau. Saya ingin beliau ikut bangga bahwa setidaknya ada muridnya yang tetap menulis dan menerbitkan buku.

Sayapun menghubungi beliau lewat inbox. Tiba-tiba saya sadari, ada yg tidak biasa dengan Guru saya ini. Percakapan kami seperti kurang nyambung.

Segera saya menghubungi keponakan saya Putu Fanny (kebetulan juga seorang Guru dan pernah mengajar di satu sekolah dg Pak Pasek), untuk bantu check kondisi guru saya itu, sekalian mengantarkan buku. Dari sana saya mengetahui jika beliau kena stroke. Tapi beluau kelihatan senang dan bangga saat menerima buku saya. Kemarin akhirnya beliau berpulang meninggalkan kami semua.

Sebagai orang Bali yang diajarkan untuk selalu taat dan menghormati Catur Guru (Empat guru utama dalam hidup manusia), yakni hormat pada Guru Swadyaya (Tuhan Yang Maha Esa), Guru Wisesa (Pemerintah yang sah), Guru Pengajian (Guru di Sekolah) dan Guru Rupaka (Orang tua kita), tentu saja saya berlaku sama untuk Pak Pasek, salah seorang Guru Pengajian saya.

Selamat Jalan Menuju Sunya Loka, Pak Pasek . Dumogi amor ing Acintya.
Murid-muridmu akan selalu mengenang jasamu.

Guruku membangun Daya Juangku.

Film Inspiratif “Lunas Dalam Keikhlasan”

Standard

Satu hal yang membuat hati saya senang tahun 2021 ini adalah fakta bahwa saya akhirnya berhasil menerbitkan buku “100 Cerita Inspiratif” di bulan April dan pada akhir tahun salah satu dari kisah inspiratif di buku itu yang berjudul “Lunas Dalam Keikhlasan” diangkat menjadi sebuah film pendek.

Berawal dari Sutradara Rudi Rukman yang menghubungi saya dan menyatakan ingin mengangkat tulisan-tulisan saya itu ke dalam film. Wah.. tentu saja saya sangat senang. Tetapi karena kesibukan dan lain hal, saya sempat tidak memproggress permintaan beliau ini.

Selain itu saya juga di posisi tidak menjual tulisan-tulisan saya.

Namun saya lihat Pak Rudi Rukman ternyata memang serius ingin membuat film, saya pun mengijinkan sang sutradara untuk menggunakan tulisan saya dengan free.

Demikianlah akhirnya, persiapan mulai dilakukan oleh Pak Rudi di bulan Oktober, shooting di bulan November dan akhirnya film mulai bisa tayang di bulan Desember.

Bagi yang penasaran, film bisa dilihat di channel youtube FILM CERITA INSPIRATIF.

SEGELAS AIR PUTIH.

Standard

Belakangan ini, matahari bersinar sangat terik setiap hari di Jabodetabek. Membuat jadi malas keluar rumah.

Ingin membersihkan daun-daun teratai yang menguning di halaman depan, rasanya kok malas sekali. Pipi rasanya gosong. Demikian juga saat ingin membereskan tanaman kailan yang menua di instalasi hidroponik, rasanya juga malas banget. Mau masak malas, mau cuci piring apalagi.

Seandainya saja ada Kompetisi Kemalasan Nasional dan misalnya saya jadi pemenangnya, barangkali untuk mengambil pialanya saja pun saya enggan, saking malasnya 😀. Sungguh. Malas rasanya mau ngapa-ngapain. Sungguh sinar matahari ini sangat terik dan membuat lelah.

Terlebih ketika saya merasa kurang enak badan, kepala belakang sedikit nyeri dan nggak nyaman. Kebetulan libur, jadi saya hanya berbaring saja di tempat tidur. Leyeh-leyeh saja. Sambil lihat-lihat Sosmed dan chat di WA.

Pas lagi bermalas-malasan begitu, seorang teman melemparkan ide di chat, untuk menggunakan hiasan topi papua – ikat kepala cantik yg dibuat dari bulu-bulu unggas saat besoknya mau ikut lomba 17 Agustusan. Wah… saya pikir idenya boleh juga ini.

Seketika saya melakukan searching topi papua dan menemukan sebuah toko yang menjual dan bisa mendeliver dengan cepat. Okay, saya setuju untuk membayar lebih agar bisa terdeliver hari ini. Lokasinya di Bekasi. Saya menyelesaikan pembayaran dengan cepat dan yes!. Tinggal tunggu barangnya datang.

Beberapa jam kemudian, seseorang mengetok pintu depan. Saya mengintip dari jendela. Rupanya seorang pria dari bagian pengiriman mengantarkan topi bulu yang saya order.

Buru-buru saya mengenakan masker, lalu keluar dan meminta pria itu meletakkan barang orderan saya itu di salah satu kursi di teras depan. Saya berusaha menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengannya. Buat jaga-jaga saja, mengingat saya ini penyandang co-morbid dan belum divaksin pula. Tak pernah ada yang tahu, secepat apa penularan bisa terjadi dan bisa saja dari orang-orang yang tak menunjukkan gejala yang sempat kontak dengan kita.

Pria itupun meletakkan barang itu seperti permintaan saya. Maksud saya, nanti setelah ia pergi, pembungkus barangnya akan saya semprot dulu dengan Maxkleen disinfectant spray, barulah akan saya buka.

Saya mengucapkan terimakasih. Tetapi pria itu tampak terdiam di dekat pagar.
Saya menunggunya pergi. Beberapa saat ia hanya terdiam. Sayapun ikut terdiam.

Tetapi saya memperhatikan wajahnya. Tampak pucat. Keringat bercucuran di dahi dan lehernya. Kelihatannya ia kurang sehat. Tangannya agak gemetar.

“Ibu, boleh saya minta air putih” katanya agak tersendat.

Ooh… orang ini kayaknya mengalami dehidrasi. Mengapa saya tidak sensitive dari tadi ya. Bukannya menawarkan minum, malah menunggu sampai orang itu meminta. Betapa tidak pekanya saya ini.

Seperti diingatkan, saya buru-buru masuk ke dalam untuk mengambil air putih. Lalu menyodorkan kepadanya. Ia meminumnya dengan gemetar. Saya merasa trenyuh melihatnya.

Ia pun bercerita tentang perjalanannya dari Bekasi di ujung timur ke Tangerang Selatan yang letaknya di wilayah barat dibawah terik matahari. Kepanasan dan kehausan, dan ia belum sempat makan, hingga merasa sakit kepala dan limbung.

Sebenarnya ingin hati saya menyuruhnya masuk ke dalam, mengingat halaman depan saya cukup panas. Mungkin jika ia saya suruh istirahat di dalam setidaknya udara ruangan yang sejuk karena AC akan membantunya lebih cepat pulih kembali.

Tetapi kali ini saya agak ragu. Pertama karena musim pandemi begini, saya harus sangat berhati-hati jika kontak dengan orang lain. Siapakah yang tahu orang ini bebas dari virus atau tidak. Sementara saya beresiko tinggi jika sampai tertular.

Selain itu saya hanya sendirian di rumah. Apakah cukup aman jika saya membiarkan orang lain masuk ke dalam rumah saat tidak ada satupun orang lain di rumah. Siapa yang tahu orang ini berniat baik atau bisa saja punya niat tersembunyi.

Tapi orang ini terlihat sangat kelelahan dan menderita. Sejenak saya bimbang. Bathin saya bertengkar. Saya merasa sangat iba, tapi di sisi lain, saya juga harus waspada. Saya ingat pesan Bapak saya untuk selalu berhati-hati, di manapun berada. Karena hanya kewaspadaanmu sendirilah yang akan berhasil menyelamatkan dirimu sendiri.

Akhirnya saya sarankan agar ia istirahat di teras depan saja. Toh angin juga mulai bertiup dan membawa udara segar melintas.

Ia menjawab, “Terimakasih Ibu. Tidak usah. Ijinkan saya berteduh di bawah pohon ini saja sebentar dulu” katanya, sambil menepi di bawah pohon kersen.

Ooh…dia malah bilang tidak usah di teras pun. Mungkin orang baik-baik.

Lalu saya ingat, jika tadi ia ada bilang belum sempat makan. Saya mengambilkan beberapa buah pear dari atas meja makan , mencucinya dan memberikan untuknya, agar bisa langsung dimakan. Sayang saya sedang tidak punya makanan lain. Gara-gara tadi tidak memasak. Mudah-mudahan bisa membantunya.

Sesaat kemudian orang itu pamit. “Terimakasih ya Ibu. Gelasnya saya taruh di atas pagar” katanya sambil melambaikan tangannya. Sayapun membalas lambaian tangannya.

Saya mengambil gelas air putih di atas pagar di bawah pohon kersen itu.

Angin menggerakkan dahan-dahan pohon kersen. Udara mengalir dengan sangat baik. Sesungguhnya udara di halaman saya ini tidak terlalu panas ketimbang di udara jalanan.

Namun anehnya, segitu aja saya tadi sempat mengeluh, tidak melakukan apa-apa dan bermalas-malasan. Padahal ini sungguh tidak ada apa-apanya ketimbang keadaan Bapak pengantar barang tadi itu yang harus berjuang di bawah terik matahari, menahan lapar dan haus demi bisa mengantarkan “topi papua” itu ke rumah.

Sementara udara sesungguhnya tidak terlalu panas di halaman karena ada pohon penaung. Saya masih bisa beristirahat di ruangan yang ber-AC. Masih bisa makan dan minum dan bersantai.

Dimanakah rasa syukur saya, atas segala kemudahan dan kenikmatan hidup yang saya miliki.

Segelas Air Putih ini, seolah mengingatkan.