Category Archives: Motivation

Spirit of Wipro Run 2019 – Indonesia. Further Together.

Standard

Musim berlari telah datang!.

Bersamaan dengan lebih dari 50 negara lain di dunia, Spirit of Wipro Run diselenggarakan kembali Minggu pagi tanggal 22 September ini. Di Indonesia, pelaksanaannya di lakukan di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta dan di Salatiga.

Nah, saya hadir di Ancol, dimana lokasi Start dan Finishnya itu dilakukan di area Pasar Seni lalu keluar menyusuri pantai dan kembali lagi sejauh 5 km.

Seperti biasa acara dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya (saya sangat suka bagian yang ini – setidaknya mengingatkan kita semua akan tanah air kita Indonesia tercinta ini), dilanjutkan dengan sambutan dari Chief Executive Wipro Unza Indonesia, Mr Amit Dawn, lalu sedikit pemanasan sebelum berlari.

Yang saya suka dari kegiatan Spirit of Wipro Run ini adalah kebersamaannya. Kami bertemu dengan teman -teman sesama karyawan dan keluarganya. Saling mengenal satu sama lain. Dan yang paling penting lagi adalah memperkenalkan kepada anak -anak di perusahaan mana orang tuanya bekerja.

Seperti tahun -tahun sebelumnya, Spirit of Wipro Run menggunakan thema yang berbeda-beda tergantung agenda yang sedang di-push oleh group Wipro. Tahun ini thema yang digunakan adalah “Further Together”, di mana Wipro Group mendorong karyawannya untuk bekerjasama dengan lebih erat lagi dalam melakukan usaha-usaha untuk mencapai kesuksesan dalam menerapkan value dari perusahaan yang disebut dengan Spirit of Wipro:

1. Be passionate about client’s success.

Wipro mengharapkan agar semua karyawan menunjukkan usaha, upaya dan semangatnya dalam membangun kesuksesan pelanggan. Karena kesuksesan pelanggan adalah kesuksesan kita.

2. Treat each person with respect.

Wipro mengharapkan agar semua karyawan menghargai dan menghormati orang lain, terlepas dari jabatannya, usianya,gendernya, suku bangsanya, agamanya, strata ekonomi dan sosialnya, dan sebagainya. Setisp orang harus diperlakukan sama.

3. Be global and responsible.

Wipro juga berharap agar setiap karyawan berpandangan luas dan global serta bertanggungjawab terhadap perkataan dan perbuatannya.

4. Unyielding integrity in everything we do.

Terakhir Wipro juga meminta agar setiap karyawan berlaku jujur dan kukuh dalam memegang prinsip prinsip kejujuran dan moral yang tinggi.

Terus terang seiring dengan bertambahnya usia, saya tidak lagi bisa berlari kencang apalagi berharap menjadi pemenang. Kaki saya kram melulu jika dibawa lari. Jadi saya lebih banyak berjalan saja. Fun Walking πŸ˜€. Untungnya di perjalanan saya bertemu dengan Mbak Ika yang menemami saya sambil ngobrol.

Walaupun pake nyasar masuk ke garis finishnya, yang paling penting adalah kami berhasil melewati 3 Meet point yang ditetapkan tanpa melakukan kecurangan. Saya diberikan gelang berbeda warna sebagai bukti telah melewati titik titik itu.

Saya telah berlari

Bagi saya ini bukanlah soal menangnya, tapi bagaimana kita bisa berkomitmen melakukannya tanpa kecurangan dan tidak menyerah.

Saya dan Mbak Ika mengambil foto di setiap titik. Untuk mengenang bahwa kami telah berhasil melewatinya dengan baik.

Advertisements

Tetangga Sebelah Rumah.

Standard

Tetangga sebelahku merenovasi rumahnya. Dia hancur-hancurin itu tembok lamanya, termasuk tembok pemisah dengan rumahku. Akibatnya, rumahku jadi bocor-bocor”. Saya tercengang mendengar cerita teman saya itu. Sangat bisa membayangkan, karena tembok rumah di perumahan biasa, memang terkadang berbagi dengan tetangga. Jadi kalau tetangga mengetok – ngetok tembok kamarnya yang bersebelahan dengan kamar kita hingga hancur, bisa jadi tembok kamar kitapun ikut bolong πŸ˜€.

Memang agak pelik ini kalau menyangkut soal TMB (Tembok Milik Bersama πŸ˜€) dengan tetangga. Tetapi pengalaman saya dengan tetangga sebelah saya, biasanya kami saling memberi tahu (sekalian minta ijin) jika salah satu melakukan pekerjaan ketok-ketok. Bukan hanya karena harus berhati hati dengan TMB itu, juga karena suara ketak ketok dan gergaji bisa jadi mengganggu ketenteraman telinga tetangga. Belum lagi bahan bangunan yang mungkin malang melintang di jalanan depan rumah.

Emang tetangganya nggak bilang dulu?” Tanya saya. “Nggak. Dia juga ngerjainnya saat saya sedang di kantor. Pagi dan malamnya ia tidak di situ. Jadi saya tidak bisa complaint juga, karena orangnya tidak ada”, katanya.

Saya mengangguk-angguk, kasihan pada teman saya. Kok ada ya orang yang seperti itu?. Tetapi saya tidak bisa berbuat apa apa untuk menolong dia.

Itu adalah salah satu cerita tentang tetangga sebelah rumah yang pernah saya dengar.

Cerita lain, “Tetangga sebelah rumahku sangat sering meninggalkan anaknya di halaman rumahku dan ia langsung pergi begitu saja, dengan harapan Baby Sitter-nya anak aku yang mengurusnya sekalian dengan gratis. Kan ngeselin ya?. Mana perhatian Baby Sitter jadi nggak bisa full ke anakku. Selain itu nanti kalau terjadi apa apa dengan anaknya gimana? Siapa yang mau tanggung jawab?”.

Waduuuuh. Kok ada ya tetangga yang seperti itu? Saya sungguh heran.

Cerita lain lagi; Aku heran dengan tetangga saya. Dia punya garasi luas yang muat dua mobil, tapi anehnya setiap hari kedua mobilnya diparkir di punggir jalan depan rumah. Padahal jalannya sangat sempit. Dan garasinya yang luas itu dikosongin. Jadi aku kan sulit banget ya kalau mau masukin dan keluarin mobil dari garaseku, karena jalanan jadi makin sempit”.

Saya tertawa mendengar curhat teman saya ini. Antara kasihan, heran dan geli mengapa ya kok ada orang yang seperti itu?.

Mendengar cerita-cerita tentang tetangga sebelah rumah ini, saya jadi ikut ikutan latah. Berusaha mengingat-ingat bagaimana kelakuan tetangga sebelah rumah saya sendiri yang bisa saya jadikan bahan obrolan juga. Agak lama saya mikir, karena kelihatannya tidak ada kejadian-kejadian spektakuler yang cukup menarik untuk diceritakan. Saya terus mikir dan mengingat ingat. Tapi tetap tidak ketemu kejadian yang menarik untuk diceritakan tentang tetangga kiri kanan saya. Tidak ada tetangga yang berbakat jadi biang kerok.

Tetapi tiba tiba saya teringat sebuah kejadian….

Suatu hari pembantu rumah tangga saya melapor “Bu, tadi pagi saya ditegur oleh Ibu A (tetangga sebelah kiri rumah saya), itu pohon markisa kita terlalu rimbun menjalar hingga ke dinding dan atap rumah ibu A. Takutnya ular Bu”. Oooh… Iya. Bener juga. Saya terlalu sibuk belakangan ini hingga lupa berbersih dan memangkas tanaman. “Baiklah. Besok Minggu kita bersihkan dan pangkas pohonnya”. Kata saya.

Bulan berikutnya, lagi-lagi si Mbak melapor “Bu, tadi pagi saya ngobrol dengan Ibu B (tetangga sebelah kanan rumah saya), itu pohon timun padangnya menjalar ke rumah sebelah. Buahnya yang sudah tua banyak betjatuhan ke halaman rumah ibu B. Jadi capek katanya membersihkan setiap hari. Boleh dipotongin nggak Bu?” Tanyanya. Waduuuuh… Jadi nggak enak sama tetanggga ini. Sudah lama saya tak sempat mengurus tanaman ini hingga mengganggu tetangga.

Mengingat dua kejadian itu, saya merasa perut saya agak mual. Hulu hati saya enek.

Jadi, jika teman saya bercerita tentang kelakuan tetangganya yang aneh aneh dan mengganggu ketertiban, maka di perumahan saya ini justru sayalah yang menjadi biang kerok pengganggu ketertiban kehidupan bertetangga.

Whuaaa 😒😒😭.

Saya membayangkan jika dua orang tetangga kiri kanan saya ini bercerita ke teman temannya, kemungkinan bunyinya akan begini “Saya heran deh dengan tetangga sebelah saya. Dia hobby banget sama tanaman, hingga tanamannya merambat ke tembok dan genteng rumah saya, bikin kotor dan capek membersihkannya. Belum lagi takut ular. Anehnya dia kok seperti tak peduli dan tidak mau memangkasnya secara berkala. Heran saya kok ada orang yang seperti itu ya?“.

Astaga!!!. Ternyata tetangga pembuat masalah itu adalah saya sendiri 😫.

Ada gunanya juga teman saya curcol tentang kelakuan tetangganya, sehingga saya bisa interospeksi diri saya sendiri.

Ketika Pedas Ketemu Air Hangat.

Standard

Saya sedang makan dengan lauk Telur Ceplok🍳 dan kecap beserta potongan cabe rawit 🌢🌢🌢. Entah karena jenis cabenya yang memang pedas atau jumlah cabenya yang banyak, tumben saya merasa sangat kepedesan sampai merasa perlu segera minum air untuk mengatasinya. Kebetulan sudah ada teh hangat di atas meja. Saya teguk, seketika rasa pedasnya berkurang banyak. Bahkan nyaris hilang sama sekali. Ajaib ya.

Saya jadi memikirkan kejadian ini. Pedas dikasih hangat, membuat pedas menghilang. Sebaliknya dulu saya pernah mencoba, pedas seperti ini dikasih minuman dingin.Teman-teman pembaca pernah mencoba nggak?. Apa yang terjadi ? .

Rasa pedas bukannya hilang, malah semakin menjadi jadi. Pedasnya makin kuat dan makin lama. Bener kan ?.

Jadi kesimpulannya jika kita merasa kepedasan dan ingin menguranginya atau menghilangkannya, jangan minum air dingin. Tapi minum air hangat!.

Saya menggenggam gelas berisi teh hangat dengan kedua belah telapak tangan saya. Merasakan kehangatannya. Dan takjub akan efeknya dalam menghilangkan kepedasan di mulut saya.

Saya membayangkan, rasa Hangat itu ibarat hawa yang ditimbulkan saat orang berkumpul dengan saudaranya, keluarganya , teman-teman ataupun sahabatnya, berbincang dan bersenda-gurau. Hangat dan nyaman.

Sebaliknya rasa Dingin itu, serupa dengan rasa sepi, seorang diri, sunyi, sepi, tiada teman atau saudara yang diajak berbicara maupun bercengkerama.

Membayangkan itu, tiba tiba saya berpikir bahw Fenomena Rasa Pedas bertemu Suhu Hangat dan Dingin ini sesungguhnya adalah salah satu cara Alam mengajarkan kita manusia bagaimana caranya memecahkan masalah dalam kehidupan kita. Lho! Kok bisa?.

Ya. Bisa!.

Coba kita bayangkan seperti ini. Kepedasan adalah sebuah masalah. Oleh karenanya kita mencari pemecahannya dengan minum minuman hangat biar hilang pedasnya. Bukan dengan minum minuman dingin.

Sama halnya dengan masalah (kepedasan) yang kita hadapi dalam kehidupan sehari hari. Jika kita mencari pemecahannya dengan menyendiri, merenungi nasib dan tidak berbuat apa apa, maka masalah hidup kita tidak akan bisa kita pecahkan begitu saja. Bahkan kita akan semakin terpuruk dan semakin dalam terpuruk lagi. Ibaratnya orang yang kepedasan diberi minum air es. Tambah pedas.

Sebaliknya jika kita mencari pemecahan masalah kita itu dengan mencoba sharing dengan sahabat, teman dan keluarga yang kita percayai, kita akan merasa lebih tenang, lebih nyaman dan mendapatkan bantuan pemikiran dan ide ide baru dari orang orang di sekeliling kita yang sangat mungkin membuat kita lebih mudah mendapatkan pemecahan masalahnya. Ibaratnya kita kepedasan diberi minum air hangat.

Tapi jangan terlalu lebay juga ceritakan masalah kita kepada semua orang yg kita kenal dan berharap semua orang membantu memecahkan masalah kita itu.

Pertama karena tidak semua punya keinginan, kemauan dan kemampuan untuk membantu kita.

Berikutnya tidak semua orang juga bersimpati terhadap masalah yang kita hadapi.

Jika ini yg kita lakukan, ibaratnya kita kepedasan lalu dikasih minum air panas mendidih. Bukannya sembuh, malah lidah kita yang terbakar 😊.

Ketika kita nerasakan “kepedasan” dalam hidup kita, carilah kehangatan dari para sahabat, keluarga dan orang orang yang kita percayai. Niscaya kepedasan hidup itu segera teratasi.

Wipro Unza Indonesia, Best Company to Work For in Asia 2019.

Standard

Jumat malam kemarin saya diundang menghadiri sebuah acara yang diselenggarakan oleh HR Asia di J.W. Mariott Hotel di Jakarta, karena PT Unza Vitalis (Wipro Unza Indonesia) perusahaan tempat saya bekerja, memenangkan kompetisi sebagai salah satu perusahaan terbaik sebagai tempat bekerja di tahun 2019.

Sebagai karyawan, tentu saja saya merasa sangat bangga dengan pencapaian di ajang HR paling bergengsi se-Asia ini. Terlebih jika mengingat bahwa terus terang perusahaan kami yang di Indonesia ini baru pertama kali ikut serta dalam ajang ini dan menang!!!. Sangat mengejutkan dan membahagiakan.

Sedikit informasi, perusahaan PT Unza Vitalis ini diakuisisi pada tahun 2007 oleh Wipro Limited sehingga merupakan bagian dari Wipro Consumer Care. Ber”head office” di Jakarta, pabrik kami ada di Salatiga.

Di Indonesia , perusahaan kami ini memasarkan brand Vitalis, Sumber Ayu, Izzi, Enchanteur, Doremi, Pandansari, Romano, BioEssence dan Safi.

Mr Neeraj Khatri, Presdir PT Unza Vitalis dan Bpk Adi Sumarno, Head of HRD.

Nah, lalu bagaimana kami bisa menang?.

Saya rasa tentu salah satu faktor penentunya adalah tingkat kepuasan karyawan yang diukur melalui survey. Selain tentu saja beberapa faktor lain yang berkaitan dengan organisasi. Nah, saya yakin team HR di perusahaan kami ini dengan sangat kompak telah bekerja keras agar bisa mengantarkan perusahaan ke kemenangan ini.

Misalnya, perusahaan tempat kami bekerja memiliki value yang disebut dengan Spirit of Wipro.

Spirit of Wipro itu terdiri atas 4 point yang kami jalani dalam kehidupan sehari hari di kantor;

1/. Be passionate about clients’success.

2/. Treat each person with respect.

3/. Be global and responsible.

4/. Unyielding integrity in everything we do.

Sungguh, ini bukan sekedar value yang ditulis dan digantung di dinding saja. tetapi sesuatu yang kami jalani sehari-hari. Team HR kami selalu mengingatkan tentang value ini setiap saat.

Saat ini perusahaan mempekerjakan 547 karyawan, yang sangat beragam generasinya, gender, suku dan agamanya. Dan dari seluruh karyawan itu 67.4% adalah kaum millenials. Dan hampir 40 % adalah wanita. Kami sangat menghargai keanekaragaman.

Hal lain yang sangat menarik adalah program-program baik yang dibesut oleh Group maupun dirancang oleh team HR lokal. Antara lain :

Code of Business Conduct .

Ini menarik banget. Karena walaupun banyak perusahaan juga berbicara tentang ini, tetapi di Wipro kami menjalaninya dengan bersungguh -sungguh. Dan kami karyawan berkomitment untuk itu serta ikut memastikan bahwa bisnis berjalan dengan baik secara fair dan beretika. COBC ini mencakup juga masalah pencegahan terhadap bullying di kantor, pelecehan sexual, pelecehan sosial, fisik, gender, agama, suku dan sebagainya, penyalahgunaan wewenang, jabatan, masalah integritas, conflict of interest dan sebagainya.

Prevention of Sexual Harassment (POSH).

Sebagai karyawan, kami semua berhak dong bekerja dengan nyaman dan bebas dari segala bentuk bullying dan pelecehan. Terlebih bagi karyawan wanita yang jumlahnya mendekati 40%. Jika tidak diatur dalam COBC tentu sangat rentan terhadap kasus pelecehan ini. Perusahaan membemtuk komite khusus POSH untuk memverikan pendidikan, penyuluhan dan training kepada seluruh karyawan, termasuk para SPG dan team di lapangan serta karyawan yang berada di Office. Training juga diberikan bagi setiap karyawan baru , dan secara berkala diberikan lagi training penyegaran bagi karyawan lama.

Employee Engagement Program.

Di kantor kami, ada banyak banget Employee Engagement Program yang membuat karyawan semakin betah untuk tetap bekerja di perusahaan. Terbukti dalam survey persepsi karyawan, tingkat kepuasan karyawan terhadap perusahaan menjadi 83%, meningkat misalnya jika kita bandingkan pada tahun 2016 yang hanya 79%. Selain itu Attrition ratenya juga cukup rendah dan berkurang dibanding tahun tahun sebelumnya.

Employee Communication Platform.

Banyak forum komunikasi yang disediakan oleh perusahaan. Mulai dari Coffee Morning – ini untuk ngupdate ke karyawan apa apa aja berita terbaru di setiap Department, sehingga karyawan nggak kudet dengan apa yang terjadi di perusahaannya sendiri , lalu ada Employee Gathering – nah ini adalah acara tahunan. Biasanya kita pergi ke suatu tempat, dibikinin acara misalnya outbond atau games-games yang membuat kita makin kompak dan makin semangat gitu. Ada juga Board Magazine yang dipakai untuk naruh berita seputaran group. Ada lagi Leaders Meeting untuk ngupdate sesuatu di lefel Head department. Terus kalau ada apa apa, HR juga menyediakan diri untuk session HR Consultation. Dan percaya nggak, di perusahaan kami ada yang namanya “Thank You Tree” tempat karyawan menggantungkan ucapan terimakasihnya kepada karyawan lain yang telah membantunya.

Sebenarnya masih banyak lagi loh yang menarik di perusahaan tempat saya kerja ini. Misalnya Family Gathering, juga hampir setiap tahun, terus kalau kita berulangtahun nih… dibikinkan acara agar bisa Lunch bersama COO kita. Terus proggram lain lagi contohnya Brand Review Challenge di Social Media, School Holiday Program, ngundang anak anak sekolah untuk datang dan bermain ke kantor kami. Juga Office Contest misalnya lomba kebersihan antar department dalam rangka hari Bumi. Atau Expert Talk ngundang ahli nih ke kantor kita untuk bicara tentang apa saja tergantung topik. Ahli Keuangan, Ahli Kesehatan, Ahli Lingkungan Hidup, dan sebagainya. Gitu deh…pokoknya keren πŸ‘πŸ‘πŸ‘.

Eco Eyes.

Nah..ini program yang berkaitan dengan upaya kantor kami menjaga keberlangsungan kehidupan di masa depan. Kami peduli bumi kami dan masa depannya. Program Eco Eyes ini dimaksudkan agar kami bisa memantau penggunaan energy, kertas dan air dengan irit dan efisien. Bukan pelit ya.

Jadi karyawan selalu diingatkan dan didorong agar semakin hari semakin bersikap eco-friendly. Bahkan di pabrik kami di Salatiga, kami juga membuat Biodiversity Park bekerja sama dengan ebird.org agar burung burung betah datang dan membuat sarang di halaman pabrik.

Corporate Social Responsiblity (CSR).

Perusahaan tempat saya bekerja juga cukup aktif melakukan CSR. Misalnya bekerjasama dengan Nara Kreatif untuk membantu pendidikan anak anak jalanan, juga secara berkala, karyawan ikut mendonasikan darah melalui Palang Merah Indonesia, juga memberikan sumbangan kemanusian dalam kejadian bencana alam, atau berbuka puasa bersama anak yatim piatu.

Leadership Values and People Development.

Hal yang sangat menarik lain di Wipro adalah tentang Leadership dan pengembangan karyawan. Selain berbagai jenis training baik internal.maupun eksternal yang diberikan, feedback kepada karyawan juga selalu diberikan secaea berkala dan bahkan untuk para leader diberlakukan 360Β° review, penilaian dari atasan, dari peers, dari internal customers dan dari bawahan. Di Sales di lakukan talent review secara berkala selain untuk mendevelop leadership dari dalam, menyediakan kepemimpinan dari dalam juga untuk membantu team sales dalam mencapai target melalui Sales Award.

Nah… demikianlah cerita saya tentang PT Unza Vitalis atau Wipro Unza Indonesia, perusahaan tempat saya bekerja. Bukan saja tempat saya mengais rejeki setiap hari, tetapi juga tempat saya mengekspresikan pikiran dan ide-ide saya dengan baik, karena didukung oleh suasana kerja yang nyaman dan sangat kondusif, serta penuh semangat dan motivasi yang tinggi untuk terus berkarya dan mencapai sukses.

Wipro Unza Indonesia, great place to belong!!!.

Ondel-Ondelku Ke Mana?.

Standard

Suatu malam sepulang kantor saya dan seorang teman memutuskan untuk makan di sebuah resto di Melia Walk. Kami parkir. Dari kejauhan saya melihat Ondel-ondel sedang beraksi di depan sebuah restaurant lain agak jauh di sana. Musik Betawi yang mengiringinya terdengar sayup-sayup. Saya hanya melirik sekilas karena jalanan agak gelap, lalu masuk ke dalam resto. Kami pun memesan makanan dan menunggu pesanan dihidangkan.

Tak seberapa lama saya mendengar suara musik Betawi semakin keras. Pertanda bahwa kelompok Ondel-Ondel yang tadi menari di kejauhan itu sekarang semakin mendekat. Benar saja. Terlihat seorang pemuda dari kelompok Ondel-ondel itu masuk ke dalam resto dan mengedarkan plastik untuk menampung sumbangan.

Saya berniat untuk menyumbang bagi pemain Ondel-Ondel ini. Alasannya karena saya adalah salah seorang pencinta Kesenian Tradisional Nusantara. Saya ingin melihat Ondel-ondel beraksi dan menari. Beberapa saat saya menunggu dan suara musik makin bertalu-talu. Tetapi Ondel-ondelnya tiada muncul. “Lho?! Kemana Ondel-ondelnya?” Tanya saya kepada pria peminta sumbangan. Pria itu kelihatan bingung. Matanya mencari-cari sang Ondel-ondel yang tak muncul muncul. Padahal suara musik sudah sedemikian kencang. Ditunggu-tunggu, ternyata Ondel-ondel tiada kunjung datang.

Saya melemparkan pandangan saya keluar. Astaga!!! Ternyata Ondel-ondelnya berjalan sendiri nun jauh di seberang sana!. Terpisah jarak lebih dari 300 meter dengan pemusiknya. Aduuuuh… ini mah judulnya nyaplir. Ondel-ondelnya kemana…, tukang musiknya ke mana🀣🀣🀣. Sungguh tidak sinkron sama sekali.

Melihat saya serius ingin melihat pertunjukan Ondel-ondel, pria itu tampak malu lalu menutupi wajahnya dengan sebelah tangannya sambil tersenyum cengengesan. Mimiknya sangat lucu mirip topeng anonymous.

Ya sudahlah. Walau tak berhasil menonton pertunjukan Ondel-ondel, saya tetap mengulurkan sejumlah sumbangan juga. Pemain musik dan pengumpul sumbangan Ondel -ondel itupun pergi.

Tak berapa lama hidanganpun keluar. Saya mulai makan. Saat itu tiba tiba suara musik Jawa terdengar mendekat. Seorang pria dengan kostum traditional masuk dan memperagakan tariannya. Saya tidak tahu persis tari apa. Kelihatannya seperti tarian Ngremo – Jawa Timuran. Sang penari menari dengan lincah dan gemulai. Diiringi musik traditional yang walaupun sedikit mendayu tetapi tetap bertenaga. Mereka cuma berdua. Penari dan pemain musik. Kelihatan sangat harmonis dan saling mendukung satu sama lain. Lalu sayapun merogoh sejumlah uang dan memberikan sumbangan seikhlas saya.

Seni Traditional Yang Kehilangan Panggung.

Melihat dua pertunjukan traditional ini berturut-turut, entah mengapa saya merasa cengeng. Sangat sedih. Memikirkan bahwa betapa Seni Traditional kita pada kenyataannya kini telah kehilangan panggung. Sementara generasi sekarang lebih menghargai seni asing, entah itu hip hop maupun k-pop lebih membuat mereka histeris dan bangga.

Tiada panggung yang bisa dan mau menampung mereka lagi. Hingga terpaksa menjadikan jalanan terbuka sebagai panggungnya. Para seniman traditional harus berjalan berkilo-kilo untuk mengais rejeki.

Pembinaan dan Apresiasi.

Selain itu, karena untuk menghidupi diri sendiri saja sudah sangat sulit, kelihatan sekali jika para seniman jalanan ini tidak ada yang membina. Tidak punya pembina. Mereka berjalan sendiri sendiri. Tidak ada yang mengarahkan. Tidak ada yang nengajarkan bagaimana berkesenian secara profesional. Sebagai contoh misalnya kedua kelompok kesenian yang baru saja saya tonton.

Bagaimana bisa dikatakan professional jika Ondel-ondelnya jalan sendiri dan menghilang jauuuh… sementara musiknya di sini dan meminta upah. Lha? Apanya yang harus dikasih upah, wong Ondel-ondelnya kabur?. Yang terjadi akhirnya masyarakat menyumbang karena rasa belas kasihan. Bukan karena mengapresiasi keindahan seninya. Dengan cara ini, baik seniman maupun masyarakat telah mendorong Seni Traditional ke dalam kegiatan “MENGEMIS lewat seni” , dan bukan “berkesenian” dengan baik.

Demikian juga jika kita perhatikan para pengamen di jalanan Jakarta. Mengamen dari satu rumah makan ke rumah makan, tidak untuk menunjukkan kemampuannya berkarya seni, tetapi untuk mengemis. Karena baik sang seniman maupun masyarakat sama sama tidak menunggu sebuah lagu dinyanyikan dengan indah hingga selesai baru menerima upah sebagai bentuk apresiasi. Tetapi baru seperempat jalan, atau bahkan baru mulai sudah diburu buru selesai, diusir, atau cepat cepat dikasih uang agar segera pergi. Seniman diperlakukan tak bedanya dengan pengemis.

Apakah patra pengamen itu atau sang Ondel-ondel itu tahu apa artinya berkesenian secara pofessional?.

Syukurnya di beberapa daerah, seperti misalnya di Yogyakarta, Boyolali, dan sekitarnya para pengamen masih terlihat sangat profesional. Bermusik dan bernyanyi dengan tenang dan indah. Tidak tergiur uang atau terprovokasi untuk segera menghentikan musiknya oleh apa yang terjadi di sekitarnya. Uang hanya diterima di akhir pertunjukan sebagai apresiasi atas apa yang telah mereka persembahkan dengan indah. Nah…itu berkesenian dengan lebih profesional.

Saya berharap pemerintah terutama department terkait membina para seniman jalanan ini dengan lebih baik. Agar Kesenian traditional tetap mendapatkan tempat yang penting di hati masyarakat.

Nah…kalau untuk yang ini saya bisa berdoa dengan style-nya Neno Warisman πŸ˜€

Ya Tuhan, mohon bantu kami ikut melestarikan Kesenian Traditional kami. karena jika tidak, maka kami khawatir kesenian traditional kami ini akan semakin punah “.

Aku Bukan Pemeran Utama.

Standard

Dari group WA orang tua murid, saya mengetahui bahwa anak-anak akan menggelar Drama Musikal di gedung teater sebuah sekolah international. Dan wali kelas menawarkan ticket menonton bagi orang tua murid, max 1 ticket per siswa. Ibu ibu pun pada berlomba lomba membeli. Maklum… namanya anak kita yang manggung ya, tentu setiap ibu pengen melihatnya 😊.

Saya sendiri tentu tertarik juga untuk menonton anak saya manggung. Tapi yang mengherankan adalah mengapa ia tidak ada bercerita tentang Drama Musikal ini sebelumnya yang ternyata digarap dengan seserius ini. Sambil meminta tolong anak saya membelikan ticket, sayapun bertanya. Anak saya menjawab sepintas, bahwa ia tidak bermain Drama. Hanya bernyanyi saja. Ooh, oke!. Mungkin itu sebabnya mengapa ia tidak bercerita sebelumnya. Karena tidak bermain drama. Sayapun tidak bertanya lebih jauh. Saya tahu ia senang bernyanyi dan bermain musik.

Pada hari H, dimana pegelaran akan berlangsung. Anak saya bangun lebih pagi. Karena mau gladi resik dulu.

Saya berdadah-dadah ria dengannya. ” Oke!. Sampai ketemu nanti di sana ya. Nanti mama akan nenonton” kata saya.

Lalu ia berkata “Tapi nanti aku bukan pemeran utama, Ma. Cuma jadi penyanyi latar ya “. Ucapnya pelan, terdengar seperti woro-woro untuk mengantisipasi, khawatir mamanya kecewa karena ia tidak menjadi pemeran utama atau bahkan tidak menemukannya di tengah panggung karena hanya menjadi penyanyi latar.

Oooh!. Saya membesarkan hatinya ” Tidak apa-apa. Kan tidak di setiap panggung kita harus jadi bintang utamanya” kata saya.

Dalam sebuah panggung, kenyataannya bukanlah tentang seberapa besarnya peranan kita, tetapi tentang seberapa baik kita menghayati dan memainkan peranan itu. Karenanya, kita tidak selalu harus menjadi pemeran utama di setiap panggung.

Saya bercerita. Waktu di SMP dan SMA, saya juga beberapa kali manggung dan hanya mendapatkan peranan kecil, peranan latar atau peranan massal, seperti menjadi dayang-dayang, menjadi kijang, menjadi laut dan sebagainya. Peranan yang seandainya saya nggak adapun, drama atau sendratari tetap akan berlangsung dengan baik.

Sampai Bapak sayapun berkelakar soal peranan-peranan saya itu” “Yaah.. dapat peranannya kok nggak jauh jauh dari jadi dayang-dayang, jadi bidadari yang tidak bernama, jadi hutan, jadi angin…. Kapan ini dapat peran jadi Dewi Sitha, atau jadi Putri Candra Kirana, De?”. Ha ha ha… tapi kelakar Bapak saya itu tidak membuat saya berhenti berkesenian. Pernah juga sih mendapat peran utama, tapi itu sangat jarang sekali. Mungkin dari belasan kali manggung, cuma 2 atau 3 kali rasanya memegang peran penting.

Saya tahu, sesungguhnya saya bukan siapa -siapa di panggung itu. Tetapi saya sadar keberadaan saya dibutuhkan untuk membuat keseluruhan pegelaran nenjadi lebih baik, lebih grande dan lebih top deh pada akhirnya.

Menjadi pemeran utama wanita di sebuah panggung teater.dengan setting sebuah penjara.

Saya terus bersemangat di panggung, tanpa mempedulikan besar kecilnya skala panggung dan penontonnya, mau itu panggung sekolah, panggung bale banjar atau televisi. Juga tak peduli akan besar kecilnya peranan saya dalam naskah drama itu. Mau jadi dagang kopi kek, jadi nyonya besar, jadi pembantu dan sebagainya. Lakoni saja dengan bahagia πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€.

Saya berperan menjadi dagang kopi, dalam sebuah panggung penyuluhan di sebuah Bale Banjar.

Anak saya ikut tertawa mendengar cerita saya . Sekarang tampaknya ia sudah tambah lega. Lalu ia berangkat dengan riang.

Begitu ia berangkat, saya terjatuh dalam renungan. Bukankah dalam kehidupan sehari -hari pada dasarnya juga begitu?.

Dalam suatu kejadian, mungkin kitalah yang menjadi pemeran utamanya dan yang lain memegang pemeran pembantu dan figuran. Saat demikian, alur cerita kitalah yang menentukan bagaimana drama kehidupan ini akan berakhir. Happy ending kah?. Semoga saja.

Tapi di kejadian lain, barangkali teman kita atau saudara kitalah yang memegang peran utama. Dan kita cukup menjadi pemeran pembantu atau bahkan figuran. Tak mengapalah. Kan tidak mungkin kita mengambil alih pemeran utama dalam panggung drama orang lain.

Nah… kita tak perlu khawatir jadi pemeran utama, pemeran pembantu atau figuran. Yang paling penting kita harus berperan dengan baik. Apapun peranan kita.

Semangat Pak Ketut Nuadi & Bu Ade Pica dibalik Mahapraja Peninjoan.

Standard

Saat saya bermain ke Mahapraja di Br Puraja, desa Peninjoan, sungguh saya sangat beruntung. Karena saat itu sangat kebetulan sang pendiri Mahapraja, yakni pasangan suami -istri Pak Ketut Nuadi Indra Sastrawan dan Bu Luh Ade Pica sedang ada di tempat. Pak Ketut Nuadi adalah penggagas dan pembangun tempat ini, sedangkan Bu Ade Pica adalah pengelola sehari-hari tempat ini. Nah klop kan?. Tentu saya merasa sangat senang bisa bertemu dengan beliau-beliau ini.

Kesempatan ini tidak saya sia siakan begitu saja. Karena saya ingin tahu langsung dari beliau bagaimana sebuah tempat wisata baru dilahirkan. Bagi saya yang sehari hari bekerja sebagai seorang pemasar, ini serasa seperti akan mendengarkan cerita seorang pebisnis mendevelop dan melaunch sebuah brand baru. Jadi saya sangat tertarik pengen tahu dong ya.

Pak Ketut Nuadi bercerita kepada saya bahwa beliau adalah anak bungsu dari 7 bersaudara. Yatim sejak kelas 1 SD, tak membuat semangat Pak Ketut surut. Beliau melanjutkan sekolah dan berfokus karir di bidang pariwisata.

Sambil bekerja di Denpasar, setiap minggu beliau pulang ke Peninjoan. Menengok ibu dan keluarga tentunya. Dan setiap pulang beliau menyepi di sini. Duduk-diduk sambil berpikir, apa yang bisa dilakukan untuk membangun Bangli, tanah kelahiran tercints. Lalu terbersitlah ide memanfaatkan tanah warisan keluarga untuk membangun tempat wisata ini. Walaupun pada awalnya tidak banyak yang percaya bahwa itu sebuah ide yang baik.

Banjar Puraja di desa Peninjoan berada di sebuah lokasi dengan akses yang sulit. Saking sulitnya, area ini pada jaman dahulu digunakan oleh pahlawan Kapten Mudita dan para pejuang lain sebagai tempat persembunyian dan basis bergerilya melawan Belanda.

Dengan demikian, jika tempat ini dijadikan tempat wisata, maka konsep wisata yang paling tepat adalah konsep wisata “hide-away” yang menawarkan fasilitas ketenangan dan kedamaian, untuk mereka yang jenuh dengan kesibukan dan hingar bingarnya kota.

Demikianlah Pak Ketut mulai menggagas konsep wisata ini. Mahapraja menawarkan nuansa yang trully pedesaan bukan kemewahan. Buat mereka yang memang ingin merasakan suasana alam pedesaan. Target konsumennya sangat jelas, mereka yang membutuhkan suasana tenang dan damai. Bisa sebagai individu ataupun corporate.

Mulai beroperasi sejak 2 tahun yang lalu, saat ini kebanyakan melayani aktifitas perusahaan yang mengadakan acara outing di sana.

Selain sebagai camping gound, tempat ini juga banyak dikunjungi orang yang ingin bermeditasi, melakukan pemotretan pre-wedding, hingga mereka yang hanya sekedar ingin berselfie. Setidaknya ada 2 anjungan selfie yang saya lihat disediakan di tempat ini.

Diluar dari apa yang terlihat tertata dengan sangat apik secara kasat mata, Pak Ketut juga sangat menyelaraskan pembangunan tempat ini dengan alam. Segala sesuatunya ditata dengan mempertimbangkan konsep Tri Hita Karana. Hubungan antara manusia dengan manusia, antara manusia dengan lingkungan alam sekitarnya, antara manusia dengan Sang Pencipta. Selaras dan harmonis.

Nah…sekarang tempat ini sudah berdiri. Sebuah camping ground yang menarik, dilengkapi dengan 4 bungalow dan ratusan tenda camping. Tempat parkirpun mulai diperluas agar bisa menampung lebih banyak lagi pengunjung. Tentunya merupakan salah satu aset wisata penting bagi Kabupaten Bangli.

Menurut Pak Ketut, pemerintah Kabupaten Bangli telah cukup banyak membantu. Untuk itu Pak Ketut menyampaikan ucapan terimakasih.

Harapan Pak Ketut hanya gimana pemerintah selanjutnya bisa membantu memperbaiki akses ke tempat wisata itu dengan lebih baik lagi. Saat ini jalan ke Br Puraja, desa Peninjoan memang sudah ada, hanya saja jika memang tempat ini berikutnya akan menjadi tujuan wisata yang utama, maka akses jalan yang lebih besar dan lebih mudah sungguh sangat dibutuhkan. Ya… semoga saja pemerintah mendengarkan himbauan ini dan mengambil tindakan yang terbaik untuk memajukan pariwisata Bangli.

Selamat dan semoga makin sukses ya Pak Ketut dan Bu Ade Pica.

SERIBU TULISAN. Perjalananku Sebagai Seorang Penulis.

Standard

Kemarin ketika saya mempublished tulisan saya tentang “Games Dalam Adat Pernikahan Punjabi“, saya mendapat notifikasi dari WordPress bahwa tulisan itu adalah tulisan saya yang ke seribu yang saya upload ke internet dengan bantuan WordPress.

Tentu saja saya terkejut dan terharu dengan apa yang telah saya capai dari sisi kwantitas selama ini. Seribu tulisan!. Banyak juga ya. Saya sangat senang, karena saya tak pernah membayangkan bahwa saya bisa menulis sebanyak itu dalam hidup saya.

Jumlah Tulisan.

Saya menulis di blog untuk pertama kalinya pada tanggal 9 Desember 2010. Jadi hingga kini, sudah 8 tahun lamanya saya menulis.

Hampir setiap bulan saya mempublikasi sekitar 10 buah tulisan. Kadang lebih dan kadang kurang.

Pernah juga sih dalam sebulan saya tidak menulis sama sekali ha ha πŸ˜€. Biasanya karena saya sedang ada kesibukan lain yang menyita waktu. Atau jika kemalasan sedang melanda. Atau semangat saya sedang hilang.

Di saat lain jika semangat saya sedang nenggebu gebu, atau lagi banyak ide dan hal nenarik di sekitar yang saya temukan, saya bisa mempublish belasan bahkan di atas 20 an tulisan per bulan.

Apa Yang Saya Tulis.

Pada awalnya saya ingin mengisi blog saya dengan content- content yang berkaitan dengan marketing dan brand. Tapi kemudian saya berpikir ulang, tulisan sejenis itu akan menyerempet pekerjaan saya sebagai pemasar.

Bisa jadi tanpa sadar saya kebablasan menulis strategy pemasaran yang sedang saya kerjakan dan jalankan dalam kehidupan nyata. Dan jika ini saya publikasikan, tentu saya akan bermasalah dengan perusahaan tempat saya bekerja. Waduw… bisa bisa dapur saya berhenti berasap jika begitu.

Biarlah saya menulis tentang keseharian hidup saya sebagai ibu rumah tangga yang bekerja. Macam macamlah isinya. Hal hal yang menarik, menyenangkan dan membahagiakan. Mulai tentang pendidikan anak, tentang kebun, tentang dapur dan masakannya, tentang hewan, tentang lukisan dan karya seni, cerita perjalanan atau travelling, renungan dan pelajaran hidup, dan tentunya sedikit tentang pemasaran umum yang tidak tabu untuk dipublikasi.

Ya..itulah isinya semua. Gado gado. Merefleksikan keseimbangan hidup saya yang memiliki banyak faset kehidupan dalam meraih kebahagiaan hidup. Saya menulis dengan bahagia. Maka tajuk blog sayapun saya kasih nama “Balanced Life. A Journey for Happiness “.

Saat ini saya bukanlah penulis berbayar. Ngeblog hanya untuk menyalurkan hobby saya saja. Hingga kini saya tidak berusaha memonitize blog saya. Saya ikut Wordpess saja. Nggak perlu pusing untuk memikirkan design ataupun melindungi blog saya dari hacker atau tukang spam, karena WordPress membantu saya melakukan semua itu. Thanks to WordPress!

Pengunjung dan Pembaca.

Saat ini, saya memiliki lebih dari 4 500 orang followers yang melakukan subscribe ke blog saya sehingga menerima dengan teratur setiap postingan baru saya lewat e-mail. Dan tulisan tulisan saya mendapatkan lebih dari 2 900 000 views. Dengan kunjungan ke blog per bulan saat ini sekitar 30 000 kali. Saat ini kunjungan ke blog saya agak menurun dibanding sebelumnya yang bisa mencapai 50 000 – 60 0000 per bulan. Saya sadari penyebabnya adalah karena saya lebih jarang menulis dan membuat berita baru untuk pembaca tulisan saya. Selain itu saya juga jarang bersosialisasi alias blogwalking yang berdampak juga pada kunjungan ke blog saya. Yap…nanti saya perbaiki lagi. Masih untung karena blog saya memuat cukup banyak tulisan, masih ada saja pembaca yang datang berkunjung setiap hari.

Tulisan Berkwalitas vs Tulisan Ringan.

Dalam menulis, ada 2 hal yang mungkin saya tulis. Pertama adalah tulisan tulisan yang menurut saya berkwalitas baik, yakni yang mengandung pemikiran, perenungan atau analisa dan makna kehidupan yang dalam. Tulisan berat.

Yang Ke dua adalah tulisan ringan. Tentang keseharian, obrolan ke barat dan ke timur, tulisan lucu dan menghibur. Cerita perjalanan atau reportase biasa. Saya pribadi menilai tulisan seperti ini kurang kwalitasnya dibanding jenis yang pertama.

Tapi coba lihat, bagaimana response pembaca tentang ke dua jenis tulisan ini. Ternyata tulisan- tulisan yang saya anggap bagus dan berkwalitas justru mendapat views atau shared jauh lebih sedikit dibandingkan tulisan tulisan saya yang menurut saya kwalitasnya hanya ringan dan ecek ecek.

Nah… sebagai penulis sekarang saya berpikir, mana lebih baik menulis tulisan berat dengan sedikit viewers atau tulisan ringan dengan lebih banyak viewers?. Keputusan ini akan membentuk kwalitas blog kita.

Seberapa Viralkah Tulisan Saya?

Salah satu cara mengukur popularitas tulisan selain melihat dari jumlah pembaca specific untuk artikel/ tulisan itu, adalah dengan melihat sebanyak apa tulisan itu dishare oleh orang lain.

Nah …untuk ini saya sebenarnya belum sempat nge-check dengan baik. Tapi apa yang sempat saya lihat, dari 1000 buah tulisan saya itu, sharing levelnya sangat, sangat bervariasi. Ada yang dushare 0 kali alias tidak ada yang nge-share 😭, ada juga yang dishare belasan kali atau puluhan kali atau ratusan kali. Sebagai contoh, tulisan saya tentang seekor ayam bernama Lucky itu dishare di facebook sebanyak 113 kali. Cukup banyak juga ya 😍.

Nah…begitulah cerita saya tentang blog ini. Semoga pencapaian penulisan saya yang ke 1000 ini menjadi motivator saya untuk terus dan terus menulis. Saya akan terus menulis hingga akhir hayat saya.

Forever writing!.

Kutinggalkan Anakku Di Gerbang Ini.

Standard

Kutinggalkan anakku di gerbang ini. Ketika angin dingin mulai menyapa. Dan musim gugur baru saja tiba.

Kutitipkan anakku pada pohon pohon pinus. Juga pada pohon apel dan kastanye serta hawtorn yang berbuah merah.

Kumintakan pada burung -burung agar bernyanyi saat anakku kesedihan. Dan pada tupai untuk membawa biji bijian saat anakku kelaparan.

Kutinggalkan anakku di sini. Di dalam keranjang yang kusertai surat cinta merah jambu.

Bangunlah anakku. Rasakan angin yang berhembus dari segala penjuru. Lalu angkat telunjukmu tinggi tinggi untuk memahami mata angin. Nikmati sengat matahari dan sambutlah gigil musim dingin.

Tengadahkan wajahmu ke langit. Tatap pada bintang-bintang, pada planet-planat dan galaxy. Agar pandanganmu jelas seluas semesta.

Hirup segala aroma yang bertebar di udara. Agar kau bisa membedakan wangi tavuk yang dimasak garam masala. Juga aroma portakal suyu dan wangi gaharu yang dikemas dalam sebotol parfum.

Sesaplah sari kehidupan sebanyak banyak yang engkau bisa. Letakkan semangatmu di atasnya. Sebagaimana dulu engkau menyesap air susu ibumu.

Sekali waktu. Berjalanlah tanpa sepatumu. Agar kau bisa merasakan halusnya pasir dan tajamnya kerikil. Itu bagus untuk mengasah kepekaanmu dan kepedulianmu pada orang lain.

Kulepas engkau di rimba raya anakku. Karena aku tahu naluri berburumu setajam macan. Kau akan menaklukannya.

Kulepas engkau di gunung tinggi anakku. Karena aku tahu ketajaman pemikiranmu bagaikan mata elang. Kau akan menaklukannya.

Kulepas engkau di lautan lepas anakku. Karena aku tahu daya jelajahmu sejauh jelajah ikan paus. Kau akan menaklukannya.

Aku tahu kau bisa. Dan aku selalu bangga padamu.

Sekarang berdirilah di sini. Tengadahlah selalu ke langit, untuk mengingat Sang Penciptamu. Itulah tujuan hidupmu pada akhirnya. Tujuan atas segala hal yang kau cari di dunia ini. Tujuan atas segala penjelajahanmu.

Dengan penuh cinta. Untuk anakku, Andri Titan Yade.

Ankara, 16 September 2018.

Ketika Berada Di Ketinggian.

Standard

Malam merayap. Saya menyelesaikan doa syukur saya dan bermaksud untuk istirahat. Sebelum tidur saya memeriksa anak saya dulu. Ia tertidur dengan buku bukuπŸ“š, laptop πŸ–²dan gitar🎸 di sebelahnya.

Sayapun memindahkan barang barangnya itu dari tempat tidur. Buku dan laptop ke atas meja belajarnya. Lalu gitar mau ditaruh di mana ya?

Pertama di atas kursi belajarnya. Tapi ketika saya lewat, tanpa sengaja saya menyenggol lengan kursi itu. Begitu kursi bergerak , gitarpun ikut bergerak. Melorot. Oops!!!. Untung saya bisa menangkap gitar itu dengan cepat sebelum ia bergedubrak jatuh ke lantai. Saya pun berpikir lagi….hmm…taruh di mana ya? πŸ™„πŸ™„πŸ™„

Ah…akhirnya saya menemukan tempat di atas cajon drumbox-nya. Sayangnya baru beberapa detik saya letakkan, gitar itu tiba tiba melorot dengan cepat. Gedubraaaaxxxx!!!. Waduuuh!. Jatuh lagi. Ribut banget suaranya. Anak saya terbangun. Kaget. Untunglah ia tertidur lagi setelah melihat saya.

Malas lagi berpikir mau simpan gitar ini di mana?. Akhirnya saya memutuskan untuk meletakkannya di lantai sajalah. Kalau di lantai kan tidak mungkin jatuh. Emang mau jatuh ke mana lagi kalau sudah di bawah????.

Berpikir begitu saya jadi teringat pembicaraan dengan sahabat saya beberapa waktu yang silam. Saat itu kami sedang berjalan-jalan di pantai Sanur. Setelah beberapa saat rasanya saya ingin duduk. Mau duduk di mana ya? Ada tiang melintang di pinggir anjungan yang menjorok ke laut. Sayangnya ada orang lain yang sudah duduk di situ. Lalu saya ingin duduk di cabang rendah pohon waru laut yang tumbuh di pantai, tapi takut cabangnya patah πŸ˜ƒ. Kalau jatuh bagaimana?

Akhirnya kami memutuskan untuk duduk nggelosor di pasir pantai di bawah pohon waru laut.

“Nah…di sini lebih nyaman” kata sahabat saya. Saya mengangguk. Dari sini kami bebas memandangi ombak yang berlarian datang dan pergi menyentuh bibir pantai. Suasana yang sangat indah.

Ketika kita berada di ketinggian, selalu ada kemungkinan untuk terjatuh. Tetapi jika kita berada di kerendahan, maka tak ada lagi tempat untuk jatuh. Karena tempat terendah itu adalah tempat di mana kita sudah berada. Demikian sahabat saya mulai pembicaraan.

Saya tertarik mendengarkan pembicaraannya. “Tapi kalau diinjak orang?😁” tanya saya. Sahabat saya tertawa. “Sebelum diinjak orang, tentu kita sudah bangun berdiri dan menghindar” jawabnya. Ya siih…

Tapi saya tetap tertarik memikirkan kalimatnya itu. Karena nengandung kebenaran dan kearifan. Itu berlaku juga dalam kehidupan kita sehari -hari. Jika kita meninggikan diri, selalu ada kemungkinan kita terjatuh akibat perkataan atau perbuatan kita sendiri. Jika kita menganggap diri lebih tinggi dan selalu memandang rendah orang lain, akan selalu ada orang lain yang tidak senang dan ingin menjatuhkan kita.

Sebaliknya jika kita bersikap rendah hati, sulit bagi kita untuk jatuh ataupun dijatuhkan orang lain. Karena kita sudah di posisi terendah dan tak ada tempat yang lebih rendah lagi. Jadi mau jatuh ke mana????. Tak mungkin jatuh ke atas kan ya??πŸ˜€.

Saya melirik gitar anak saya yang tergeletak di lantai. Dan sekarang semakin paham saya, bahwa kejadian -kejadian ini memberi pesan agar saya selalu menempatkan hati saya di kerendahan dalam menjalani kehidupan saya sehari-hari. Karena semakin tinggi saya menempatkan hati saya maka kemungkinan untuk terjatuhnya pun makin tinggi dan makin sakit juga. Lagian, apa pula yang bisa saya sombongkan dan tinggikan? Tidak ada pula. Jadi sebaiknya memang merndah hati lah. Stay humble!.

Malam telah semakin larut. Saya memejamkan mata saya dan segera tidur.