Category Archives: Motivation

SERIBU TULISAN. Perjalananku Sebagai Seorang Penulis.

Standard

Kemarin ketika saya mempublished tulisan saya tentang “Games Dalam Adat Pernikahan Punjabi“, saya mendapat notifikasi dari WordPress bahwa tulisan itu adalah tulisan saya yang ke seribu yang saya upload ke internet dengan bantuan WordPress.

Tentu saja saya terkejut dan terharu dengan apa yang telah saya capai dari sisi kwantitas selama ini. Seribu tulisan!. Banyak juga ya. Saya sangat senang, karena saya tak pernah membayangkan bahwa saya bisa menulis sebanyak itu dalam hidup saya.

Jumlah Tulisan.

Saya menulis di blog untuk pertama kalinya pada tanggal 9 Desember 2010. Jadi hingga kini, sudah 8 tahun lamanya saya menulis.

Hampir setiap bulan saya mempublikasi sekitar 10 buah tulisan. Kadang lebih dan kadang kurang.

Pernah juga sih dalam sebulan saya tidak menulis sama sekali ha ha πŸ˜€. Biasanya karena saya sedang ada kesibukan lain yang menyita waktu. Atau jika kemalasan sedang melanda. Atau semangat saya sedang hilang.

Di saat lain jika semangat saya sedang nenggebu gebu, atau lagi banyak ide dan hal nenarik di sekitar yang saya temukan, saya bisa mempublish belasan bahkan di atas 20 an tulisan per bulan.

Apa Yang Saya Tulis.

Pada awalnya saya ingin mengisi blog saya dengan content- content yang berkaitan dengan marketing dan brand. Tapi kemudian saya berpikir ulang, tulisan sejenis itu akan menyerempet pekerjaan saya sebagai pemasar.

Bisa jadi tanpa sadar saya kebablasan menulis strategy pemasaran yang sedang saya kerjakan dan jalankan dalam kehidupan nyata. Dan jika ini saya publikasikan, tentu saya akan bermasalah dengan perusahaan tempat saya bekerja. Waduw… bisa bisa dapur saya berhenti berasap jika begitu.

Biarlah saya menulis tentang keseharian hidup saya sebagai ibu rumah tangga yang bekerja. Macam macamlah isinya. Hal hal yang menarik, menyenangkan dan membahagiakan. Mulai tentang pendidikan anak, tentang kebun, tentang dapur dan masakannya, tentang hewan, tentang lukisan dan karya seni, cerita perjalanan atau travelling, renungan dan pelajaran hidup, dan tentunya sedikit tentang pemasaran umum yang tidak tabu untuk dipublikasi.

Ya..itulah isinya semua. Gado gado. Merefleksikan keseimbangan hidup saya yang memiliki banyak faset kehidupan dalam meraih kebahagiaan hidup. Saya menulis dengan bahagia. Maka tajuk blog sayapun saya kasih nama “Balanced Life. A Journey for Happiness “.

Saat ini saya bukanlah penulis berbayar. Ngeblog hanya untuk menyalurkan hobby saya saja. Hingga kini saya tidak berusaha memonitize blog saya. Saya ikut Wordpess saja. Nggak perlu pusing untuk memikirkan design ataupun melindungi blog saya dari hacker atau tukang spam, karena WordPress membantu saya melakukan semua itu. Thanks to WordPress!

Pengunjung dan Pembaca.

Saat ini, saya memiliki lebih dari 4 500 orang followers yang melakukan subscribe ke blog saya sehingga menerima dengan teratur setiap postingan baru saya lewat e-mail. Dan tulisan tulisan saya mendapatkan lebih dari 2 900 000 views. Dengan kunjungan ke blog per bulan saat ini sekitar 30 000 kali. Saat ini kunjungan ke blog saya agak menurun dibanding sebelumnya yang bisa mencapai 50 000 – 60 0000 per bulan. Saya sadari penyebabnya adalah karena saya lebih jarang menulis dan membuat berita baru untuk pembaca tulisan saya. Selain itu saya juga jarang bersosialisasi alias blogwalking yang berdampak juga pada kunjungan ke blog saya. Yap…nanti saya perbaiki lagi. Masih untung karena blog saya memuat cukup banyak tulisan, masih ada saja pembaca yang datang berkunjung setiap hari.

Tulisan Berkwalitas vs Tulisan Ringan.

Dalam menulis, ada 2 hal yang mungkin saya tulis. Pertama adalah tulisan tulisan yang menurut saya berkwalitas baik, yakni yang mengandung pemikiran, perenungan atau analisa dan makna kehidupan yang dalam. Tulisan berat.

Yang Ke dua adalah tulisan ringan. Tentang keseharian, obrolan ke barat dan ke timur, tulisan lucu dan menghibur. Cerita perjalanan atau reportase biasa. Saya pribadi menilai tulisan seperti ini kurang kwalitasnya dibanding jenis yang pertama.

Tapi coba lihat, bagaimana response pembaca tentang ke dua jenis tulisan ini. Ternyata tulisan- tulisan yang saya anggap bagus dan berkwalitas justru mendapat views atau shared jauh lebih sedikit dibandingkan tulisan tulisan saya yang menurut saya kwalitasnya hanya ringan dan ecek ecek.

Nah… sebagai penulis sekarang saya berpikir, mana lebih baik menulis tulisan berat dengan sedikit viewers atau tulisan ringan dengan lebih banyak viewers?. Keputusan ini akan membentuk kwalitas blog kita.

Seberapa Viralkah Tulisan Saya?

Salah satu cara mengukur popularitas tulisan selain melihat dari jumlah pembaca specific untuk artikel/ tulisan itu, adalah dengan melihat sebanyak apa tulisan itu dishare oleh orang lain.

Nah …untuk ini saya sebenarnya belum sempat nge-check dengan baik. Tapi apa yang sempat saya lihat, dari 1000 buah tulisan saya itu, sharing levelnya sangat, sangat bervariasi. Ada yang dushare 0 kali alias tidak ada yang nge-share 😭, ada juga yang dishare belasan kali atau puluhan kali atau ratusan kali. Sebagai contoh, tulisan saya tentang seekor ayam bernama Lucky itu dishare di facebook sebanyak 113 kali. Cukup banyak juga ya 😍.

Nah…begitulah cerita saya tentang blog ini. Semoga pencapaian penulisan saya yang ke 1000 ini menjadi motivator saya untuk terus dan terus menulis. Saya akan terus menulis hingga akhir hayat saya.

Forever writing!.

Advertisements

Kutinggalkan Anakku Di Gerbang Ini.

Standard

Kutinggalkan anakku di gerbang ini. Ketika angin dingin mulai menyapa. Dan musim gugur baru saja tiba.

Kutitipkan anakku pada pohon pohon pinus. Juga pada pohon apel dan kastanye serta hawtorn yang berbuah merah.

Kumintakan pada burung -burung agar bernyanyi saat anakku kesedihan. Dan pada tupai untuk membawa biji bijian saat anakku kelaparan.

Kutinggalkan anakku di sini. Di dalam keranjang yang kusertai surat cinta merah jambu.

Bangunlah anakku. Rasakan angin yang berhembus dari segala penjuru. Lalu angkat telunjukmu tinggi tinggi untuk memahami mata angin. Nikmati sengat matahari dan sambutlah gigil musim dingin.

Tengadahkan wajahmu ke langit. Tatap pada bintang-bintang, pada planet-planat dan galaxy. Agar pandanganmu jelas seluas semesta.

Hirup segala aroma yang bertebar di udara. Agar kau bisa membedakan wangi tavuk yang dimasak garam masala. Juga aroma portakal suyu dan wangi gaharu yang dikemas dalam sebotol parfum.

Sesaplah sari kehidupan sebanyak banyak yang engkau bisa. Letakkan semangatmu di atasnya. Sebagaimana dulu engkau menyesap air susu ibumu.

Sekali waktu. Berjalanlah tanpa sepatumu. Agar kau bisa merasakan halusnya pasir dan tajamnya kerikil. Itu bagus untuk mengasah kepekaanmu dan kepedulianmu pada orang lain.

Kulepas engkau di rimba raya anakku. Karena aku tahu naluri berburumu setajam macan. Kau akan menaklukannya.

Kulepas engkau di gunung tinggi anakku. Karena aku tahu ketajaman pemikiranmu bagaikan mata elang. Kau akan menaklukannya.

Kulepas engkau di lautan lepas anakku. Karena aku tahu daya jelajahmu sejauh jelajah ikan paus. Kau akan menaklukannya.

Aku tahu kau bisa. Dan aku selalu bangga padamu.

Sekarang berdirilah di sini. Tengadahlah selalu ke langit, untuk mengingat Sang Penciptamu. Itulah tujuan hidupmu pada akhirnya. Tujuan atas segala hal yang kau cari di dunia ini. Tujuan atas segala penjelajahanmu.

Dengan penuh cinta. Untuk anakku, Andri Titan Yade.

Ankara, 16 September 2018.

Ketika Berada Di Ketinggian.

Standard

Malam merayap. Saya menyelesaikan doa syukur saya dan bermaksud untuk istirahat. Sebelum tidur saya memeriksa anak saya dulu. Ia tertidur dengan buku bukuπŸ“š, laptop πŸ–²dan gitar🎸 di sebelahnya.

Sayapun memindahkan barang barangnya itu dari tempat tidur. Buku dan laptop ke atas meja belajarnya. Lalu gitar mau ditaruh di mana ya?

Pertama di atas kursi belajarnya. Tapi ketika saya lewat, tanpa sengaja saya menyenggol lengan kursi itu. Begitu kursi bergerak , gitarpun ikut bergerak. Melorot. Oops!!!. Untung saya bisa menangkap gitar itu dengan cepat sebelum ia bergedubrak jatuh ke lantai. Saya pun berpikir lagi….hmm…taruh di mana ya? πŸ™„πŸ™„πŸ™„

Ah…akhirnya saya menemukan tempat di atas cajon drumbox-nya. Sayangnya baru beberapa detik saya letakkan, gitar itu tiba tiba melorot dengan cepat. Gedubraaaaxxxx!!!. Waduuuh!. Jatuh lagi. Ribut banget suaranya. Anak saya terbangun. Kaget. Untunglah ia tertidur lagi setelah melihat saya.

Malas lagi berpikir mau simpan gitar ini di mana?. Akhirnya saya memutuskan untuk meletakkannya di lantai sajalah. Kalau di lantai kan tidak mungkin jatuh. Emang mau jatuh ke mana lagi kalau sudah di bawah????.

Berpikir begitu saya jadi teringat pembicaraan dengan sahabat saya beberapa waktu yang silam. Saat itu kami sedang berjalan-jalan di pantai Sanur. Setelah beberapa saat rasanya saya ingin duduk. Mau duduk di mana ya? Ada tiang melintang di pinggir anjungan yang menjorok ke laut. Sayangnya ada orang lain yang sudah duduk di situ. Lalu saya ingin duduk di cabang rendah pohon waru laut yang tumbuh di pantai, tapi takut cabangnya patah πŸ˜ƒ. Kalau jatuh bagaimana?

Akhirnya kami memutuskan untuk duduk nggelosor di pasir pantai di bawah pohon waru laut.

“Nah…di sini lebih nyaman” kata sahabat saya. Saya mengangguk. Dari sini kami bebas memandangi ombak yang berlarian datang dan pergi menyentuh bibir pantai. Suasana yang sangat indah.

Ketika kita berada di ketinggian, selalu ada kemungkinan untuk terjatuh. Tetapi jika kita berada di kerendahan, maka tak ada lagi tempat untuk jatuh. Karena tempat terendah itu adalah tempat di mana kita sudah berada. Demikian sahabat saya mulai pembicaraan.

Saya tertarik mendengarkan pembicaraannya. “Tapi kalau diinjak orang?😁” tanya saya. Sahabat saya tertawa. “Sebelum diinjak orang, tentu kita sudah bangun berdiri dan menghindar” jawabnya. Ya siih…

Tapi saya tetap tertarik memikirkan kalimatnya itu. Karena nengandung kebenaran dan kearifan. Itu berlaku juga dalam kehidupan kita sehari -hari. Jika kita meninggikan diri, selalu ada kemungkinan kita terjatuh akibat perkataan atau perbuatan kita sendiri. Jika kita menganggap diri lebih tinggi dan selalu memandang rendah orang lain, akan selalu ada orang lain yang tidak senang dan ingin menjatuhkan kita.

Sebaliknya jika kita bersikap rendah hati, sulit bagi kita untuk jatuh ataupun dijatuhkan orang lain. Karena kita sudah di posisi terendah dan tak ada tempat yang lebih rendah lagi. Jadi mau jatuh ke mana????. Tak mungkin jatuh ke atas kan ya??πŸ˜€.

Saya melirik gitar anak saya yang tergeletak di lantai. Dan sekarang semakin paham saya, bahwa kejadian -kejadian ini memberi pesan agar saya selalu menempatkan hati saya di kerendahan dalam menjalani kehidupan saya sehari-hari. Karena semakin tinggi saya menempatkan hati saya maka kemungkinan untuk terjatuhnya pun makin tinggi dan makin sakit juga. Lagian, apa pula yang bisa saya sombongkan dan tinggikan? Tidak ada pula. Jadi sebaiknya memang merndah hati lah. Stay humble!.

Malam telah semakin larut. Saya memejamkan mata saya dan segera tidur.

Tangkai Kedondong Yang Patah.

Standard
Tangkai Kedondong Yang Patah.

Saya memindahkan pohon kedondong yang potnya telah kekecilan dan tak layak. Pohon ini sangat rajin berbuah dan banyak-banyak. Akarnya menembus block bata di halaman.

Sebenarnya agak nervous juga saya mrncabutnya, takut akar utamanya putus. Tapi saya tak punya pilihan lain. Pohon kedondong ini butuh pot yang lebih besar.

Rupanya saat saya menarik batangnya dengan sekuat tenaga, ternyata salah satu cabang yang buahnya lebat, patah tangkainya. O o!!!. Beberapa buah kedondong bahkan jatuh menggelinding di bawah. Saya sangat terkejut dan sedih dengan apa yang telah terjadi. Apa yang harus saya lakukan sekarang?

Memanen buah kedondong yang tangkainya patah itu? Semuanya ada 14 buah. Rontok empat dan sisa 10 buah. Masih muda semuanya. Nanti saya jadikan jus kedondong saja. Seger!!!.

Atau apa coba saya biarkan saja ya?. Walaupun tangkainya patah, siapa tahu pohonnya masih bisa memberi nutrisi kepada buah-buah kedondong itu hingga tetap membesar dan matang. Nah..nanti setelah matanv barulah saya panen.

Akhirnya saya memilih option yang ke dua. Saya biarkan buah kedondong itu masih menggantung di tangkainya yang patah.

Beberapa hari kemudian, saya mendapatkan buah kedondong itu pada layu dan kisut. Buahnya lembek. Saya tidak melihat kemajuan dari pertumbuhan buahnya. Yang terjadi malah kemunduran. Saya tahu buah kedondong ini tak akan pernah mencapai masa matangnya dengan baik. Mengapa? Karena tangkai yang patah tak mampu mengangkut nutrisi yang cukup lewat jaringannya untuk disupply ke buah muda yang masih butuh berkembang. Sehingga buah tak bisa berkembang dengan baik. Selain itu akar kedondong ini setidaknya juga agak terputus, sehingga ia harus berusaha mengais nutrisi dari lingkungannya yang baru dengan ujung akar yang sedikit berkurang jumlahnya. Untuk tetap segar, buah harus tetap terhubung dengan batang dan akarnya, dan akarnya tetap membumi. Jadi “koneksi” alias “keterhubungan” itulah jawabannya!. Dalam hal ini tangkai berfungsi sebagai conector.

Yah… saya pikir memang begitulah pada kenyataannya. Dan hal yang serupa juga terjadi dengan diri kita. Kita membutuhkan “keterhubungan” untuk menjaga diri kita tetap hidup dengan baik. Keterhubungan dengan pekerjaan sebagai sumber rejeki, keterhubungan dengan keluarga, sahabat dan orang orang yang kita cintai sebagai sumber kasih sayang, dan sebagainya hingga keterhubungan diri kita dengan Sang Parama Atma Tuhan Yang Maha Esa sebagai sumber dari sang diri alias Atma atau roh kita. Kita perlu menjaga keterhubungan ini dengan baik. Karena jika tidak, maka hidup kita tak ubahnya dengan buah buah kedondong yang patah tangkainya itu.

Saya tercenung sejenak mendapati pikiran saya menjalar ke mana mana.

Renungan di kebun.

Biji Duku Yang Tumbuh Di Dalam Perutku.

Standard

Flasback ke masa kecil : “Wah.gawat!!!. Kalau tertelan, biji duku ini nanti akan tumbuh di dalam tubuhmu” kata kakak sepupu saya. Astaga!!!!!🀀🀀🀀

Semalaman saya tak bisa tidur memikirkan kalimat itu setelah tanpa sengaja saya menelan biji duku. Saya menyangka, besok paginya biji duku itu akan keluar akar yang menjalar dan mungkin menembus perut saya. Tumbuh batang dan ranting yang mungkin menembus tenggorokan mulut, mata, hidung dan telinga saya. Whua…betapa mengerikannya 🀀😲😒😭

======================================

Kejadian masa kecil itu melintas kembali di ingatan saya pada suatu siang, ketika saya berada di sebuah studio foto dan tuan rumah menghidangkan buah duku.

Buat anak kecil, memakan buah duku bukanlah perkara yang mudah. Karena untuk membukanya saja, kulit buah ini terkadang bergetah dan pahit. Terutama jika buahnya kurang tua. Jadi harus pintar pintar memilih yang kulitnya empuk dan tua biar nggak bergetah.

Lalu setelah memilih buah yang tua dan manis, kita dihadapkan pada masalah biji duku. Tidak semua juring buah duku bebas biji. Beberapa bahkan ada yang bijinya besar. Dan jika tergigit rasanya sungguh pahit. Nah kita harus pelan pelan dan hati hati memakannya. Jika bijinya kecil, memang lebih praktis langsung telan saja πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€.

Dari kesulitan itulah akhirnya banyak anak menelan biji duku baik sengaja maupun tak sengaja. Dan rupanya, banyak anak juga yang mengalami dibohongin kakaknya bahwa “nanti biji duku yang tertelan ini akan tumbuh di perut ” . Bukan saya saja. Ha ha

Sambil mengunyah buah duku, saya mikir mikir lagi. Mungkin sebagian ada benarnya juga, pernyataan bahwa biji duku itu nanti akan tumbuh dalam tubuh kita itu.

Teringat obrolan dengan seorang sahabat saya. Sebenarnya, apapun yang kita makan, termasuk buah duku dan bijinya, masuk ke dalam perut kita, pada akhirnya akan dicerna juga dan dimanfaatkan untuk membangun tubuh kita sendiri. Walaupun tentu ampasnya dibuang oleh tubuh. Sari sari buah duku ini akhirnya menjadi tubuh saya. Betul bahwa ia ikut tumbuh dalam tubuh saya.

Buah duku ini telah mengorbankan dirinya dan jiwanya untuk menjadi bagian dari tubuh, tempat di mana jiwa saya bersemayam. Ia berkorban untuk saya. Ia berjasa bagi saya.

Oh…tapi mengapa saya tidak mengucapkan terimakasih saya kepada buah duku ini?. Dan faktanya sata tidak hanya makan buah duku saja selama hidup saya. Ups!!!!.

Saya juga makan beras/padi, makan kangkung, makan ayam, ikan, talas, singkong, dan sebagainya. Whuaaa…banyak sekali mahluk hidup yang saya makan. Ribuan, mungkin jutaan nyawa telah berkorban hanya untuk kepentingan satu nyawa. Yaitu nyawa saya sendiri. Mengapa saya tidak pernah ingat untuk berterimakasih pada semua mahluk hidup itu?????. Padahal mereka sudah sangat berjasa mengorbankan nyawanya untuk membangun tubuh saya.

Kalau sedang ingat, sebenarnya saya juga berdoa sebelum makan sih. Berdoa kepada Tuhan, berterimakasih sudah diberikan rejeki sehingga saya masih bisa makan hari itu. Berdoa agar makanan yang saya makan memberikan kesehatan yang baik untuk saya dan bukan membuat saya sakit. Kedengerannya cukup religius juga ya saya (kalau sedang ingat πŸ˜€) ha ha… Semua doa doa itu tentu sudah baik.

Akan tetapi, saya pikir sebenarnya berdoa seperti itu saja belum cukup. Akan lebih baik lagi jika saya juga selalu berterimakasih dan mengenang pengorbanan diri hewan-hewan dan para tanaman yang saya makan ini yang telah nengorbankan kelangsungan hidupnya, demi untuk mendukung kelangsungan hidup saya.

Sekarang jika ada orang yang bertanya kepada saya, siapakah saya?. Jawabannya, saya adalah kumpulan mahluk mahluk yang telah mengorbankan nyawanya dan kehidupannya untuk sebuah kehidupan lain.

I Ketut Mardjana dan Kesuksesan Toya Devasya.

Standard
I Ketut Mardjana dan Kesuksesan Toya Devasya.

The Man Behind The Gun!. Tentu istilah itu tidak asing bagi kita semua. Yap!. Orang bilang, sukses tidaknya sebuah karya, tergantung dari siapa orang yang berada di baliknya. Saya setuju sekali dengan itu, karena melihat kenyataan banyak sekali usaha yang tadinya biasa biasa saja, ketika ditangani oleh orang tertentu yang memiliki kemampuan managerial sangat tinggi, maka usaha itupun menjadi maju dan sukses.

Beruntung sekali saya mendapat kesempatan bertemu dan berbincang dengan Bapak Ketut Mardjana saat beberapa hari yang lalu saya dan anak-anak bermain ke Toya Devasya, salah satu obyek pariwisata yang sedang naik daun di tepi danau Batur, di Bali. Pak Ketut adalah orang yang berada di balik kesuksesan tempat pariwisata Natural Hot Spring di tepi danau Batur ini.

Sebetulnya Toya Devasya sendiri sudah cukup lama berdiri. Kalau saya tidak salah ingat, mungkin sudah lebih dari 10 tahun yang lalu. Akan tetapi, perkembangan pesat baru hanya terjadi 2 tahun belakangan ini saat Pak Ketut terjun langsung menanganinya sendiri, setelah beliau pensiun.

Beliau melakukan banyak sekali perombakan, memperbaiki konsep, membangun corporate culture, mempertajam cara pemasaran, memperkuat network dan terus berinovasi untuk memastikan kesuksesan Toya Devasya. Untuk saat sekarang, menurut Pak Ketut selama weekdays saja jumlah rata-rata kunjungan per hari ke Toya Devasya mencapai sekitar 500 orang, di mana setengahnya terdiri atas wisatawan domestik dan setengahnya wisatawan asing. Jika weekend atau musim liburan, kunjungan bisa meningkat dua kali lipat dari biasanya. Selama liburan menjelang akhir tahun ini, jumlah pengunjung bahkan mencapi 1500 an orang, dan pengunjung saat weekdays berkisar 500- 700 orang per hari.

Wah… lumayan banyak juga ya. Penasaran dong saya jadinya, bagaimana cara beliau mengelola usahanya ini.

Beliau dan istri menemani saya ngobrol tentang Toya Devasya sambil makan rujak pada sebuah senja yang indah di tepi danau Batur.

Toya Devasya sebagai sebuah brand.

Bagi seorang pebisnis, brand atau merk tentu merupakan aset utama yang harus ditangani dengan hati hati – bahkan namanya pun tetap harus dipikirkan dengan baik. Toya Devasya, sebagai sebuah brand pariwisata, diciptakan Pak Ketut dengan menyerap element yang membangun tempat wisata itu sendiri yakni air (Toya).

Dulu, di tempat di mana Toya Devasya sekarang berdiri, terdapat mata air suci panas yang diyakini penduduk sekitar sebagai anugerah Tuhan (Devasya) memberikan efek penyembuhan dan pengobatan berbagai penyakit bagi orang yang percaya dan memohon kesembuhan. Jadi Toya Devasya (namanya mirip bahasa Jepang – kata teman saya lho), artinya dalam bahasa Bali / Sanskerta adalah Air Anugerah Tuhan.

Saat ini pada kenyataannya, kolam renang /swimming pool dengan air panas dari mata air alami ini adalah penyumbang terbesar pemasukan tempat wisata ini. Walaupun pengunjung banyak juga yang datang untuk menikmati fasilitas lain seperti spa, villa, restaurant, camping, hiking dan sebagainya. Menurut Pak Ketut saat ini Toya Devasya telah memiliki 6 kolam renang air panas, satu diantaranya Olympic size. Dua diantaranya berada tepat di sebelah danau. Walaupun sudah ada 6, namun pengunjung tetap ramai dan Pak Ketut berencana menambahkan 2 kolam renang baru lagi. Jadi nantinya akan ada 8 kolam renang. Sebuah strategy yang sangat briliant dengan tetap berfokus pada wisata air yang merupakan “bread & butter”nya Toya Devasya.

Gajah di Toya Devasya dan Filosofinya.

Secara berseloroh saya bertanya kepada Pak Ketut, mengapa sih ada banyak gajah di mana mana di Toya Devasya?. Gajah duduk, gajah berdiri, gajah berbaring, gajah mina, dan sebagainya. Pokoknya semuanya gajah. Apakah ada alasan khusus?.

Pak Ketut tertawa waktu saya menanyakan ini. Tentu ada alasan khususnya.

Pertama, kata Pak Ketut, gajah adalah lambang dari Ganesha, manifestasi Tuhan Yang Maha Esa dalam fungsinya membebaskan manusia dari segala aral yang melintang.

Alasan lain, gajah memiliki kebaikan-kebaikan yang patut ditiru oleh manusia. Contohnya?

Gajah memiliki telinga yang lebar, mengajarkan kita untuk selalu mendengarkan dengan baik, apa apa saja kebutuhan konsumen, apa keluhannya dan sebagainya sehingga kita bisa memberikan produk atau jasa yang tepat sesuai dengan kebutuhan. Mulut gajah kecil, mengajarkan kita untuk tidak rakus. Mengambil seperlunya dan tetap menyisakan untuk yang lain. Gajah juga memiliki mata yang kecil dan tajam, mengajarkan kita untuk tetap fokus dan tidak ngawur. Gajah memiliki belalai yang panjang untuk menghirup air dan menyemprotkannya ke alam sekitar, mengajarkan manusia untuk hidup mencari rejeki bukan hanya untuk diri sendiri saja, tetapi juga agar berguna bagi orang orang dan masyarakat sekitar. Dan perut gendut gajah adalah lambang kesuksesan dan kebesaran, pak Ketut berharap semoga Toya Devasya bisa terus berkembang dan makin besar dari tahun ke tahun. Aiiiih… keren banget penjelasannya Pak Ketut ya.

Ungu adalah lambang spiritualitas.

Terus kalau warna ungunya ada penjelasannya juga nggak, Pak?. Ya!. Rupanya segala sesuatunya memang sudah dipikirkan oleh Pak Ketut sebelumnya. Warna ungu ternyata adalah warna spiritual. Orang Bali percaya, ungu adalah warna cakra yang terletak di ubun-ubun yang merupakan lokasi tertinggi pada tubuh manusia. Dan orang-orang yang memiliki warna aura ungu diyakini memiliki kemampuan spiritual yang tinggi. Jadi warna ungu dipilih oleh Pak Ketut bukan karena sebuah kebetulan.

Tempat Selfie di mana-mana.

Sebagai marketer yang peka, Pak Ketut sangat paham bahwa branding sangatlah penting. Beliau berhasil menangkap trend dan insight para netizen yang suka selfie dan mengupload foto ke media sosial. Pak Ketut memanfaatkannya untuk memperkuat branding Toya Devasya, dengan cara membangun pojok-pojok dan point point menarik untuk selfie. Dan…tentu saja super sukses!. Banyak sekali netizen yang mengupload foto selfie dengan latar belakang Toya Devasya seperti contoh foto di atas ke media sosial tanpa diminta. Jadi apa yang disebut oleh pak Ketut bahwa pasar sendirilah yang memasarkan Toya Devasya itu benar adanya. Sehingga tak heran jika sekarang Toya Devasya menjadi sangat memasyarakat. Terkenal baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Ah….sungguh seorang praktisi pemegang brand yang sangat handal!. Saya jadi banyak belajar ilmu memasarkan dari beliau ini.

Corporate Culture.

Sayapun larut dalam pembicaraan yang semakin menarik tentang organisasi, networking dan pemasaran hingga tentang Corporate Culture dari Toya Devasya yaitu CINTA KASIH.

Rupanya “Cinta Kasih” adalah singkatan dari 10 hal yang dijadikan budaya untuk setiap orang di Toya Devasya.

C = Customer Focus. Karyawan dituntut agar selalu focus untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi konsumen. Memahami kebutuhan konsumen dan berupaya keras untuk memenuhinya.

I = Integrity. Setiap karyawan dituntut untuk mendemonstrasikan integritas yang tinggi bagi diri sendiri maupun organisasi. Jujur dan komit. Mengatakan dengan jujur apa yang dilakukan atau diketahui dan berkomitment tinggi untuk melakukan apa yang telah dijanjikan akan dilakukan.

N = Networking. Pak Ketut sangat memahami betapa pentingnya networking dalam kesuksesan sebuah usaha. Untuk itu beliau sangat rajin memperluas jaringan, mebangun hubungan baik dan memanfaatkan jaringan yang ada sebagai perpanjangan tangan pemasaran.

T = Teamwork. Tan hana wong sakti sinunggal” kata Pak Ketut Mardjana. Saya terdiam sejenak. Tapi bener!. Tak ada orang yang bisa hebat sendiri tanpa bantuan orang lain. Kita tak bisa bekerja sendiri. Harus saling bahu membahu dan bekerja sama untuk mencapai kesuksesan bersana.

A = Accountable. Pak Ketut juga mengharapkan agar setiap orang dalam organisasinya bisa diandalkan dan bertanggungjawab atas pekerjaannya.

K= Knowledge. Karyawan diharapkan selalu mengasah diri, meningkatkan pengetahuan dan skillsnya.

A= Adaptive. Perubahan dunia yang sangat cepat juga menuntut karyawan untuk selalu mampu beradaptasi dengan setiap perubahan.

S = Spiritual. Walaupun aktifitas nyata yang dilakukan adalah kegiatan wisata, nsmun Pak Ketut tak melupakan unsur spiritual di dalamnya. Bahkan tak segan Pak Ketut pun memugar mata air panas suci dan menyediakan tempat melukat (menyucikan diri) bagi umat yang memang mau datang ke sana untuk tujuan itu.

I = Innovative. Seperti halnya di kategori apapun, konsumen sangatlah gampang bosan dan selalu mencari sesuatu yang baru. Apalagi ya yang baru sekarang? Nah, untuk itu Pak Ketut juga memastikan Toya Devasya selalu hadir dengan sesuatu yang baru setiap saat. Mulai dari kolam renang, lalu merambah ke restaurant, terus berlanjut ke villa, jumlah kolampun nambah, lalu bikin coffee house, camping, spa dan terus dan terus. Jadi selalu saja ada yang baru di Toya Devasya sehingga konsumen tidak bosan untuk datang dan datang lagi.

H = Harmony. Pak Ketut juga memastikan bahwa semua hal yang dijalankan agar berjalan dalam keseimbangan. Baik secara internal di Toya Devasya, maupun dengan lingkungan sekitarnya.

Pembentukan corporate culture yang baik, akan membangun organisasi yang professional, cepat berkembang dan tahan banting walau dalam kondisi apapun.

Nah…lumayan banget kan. Duduk hanya sebentar di Toya Devasya, tetapi mendapat pelajaran yang sangat penting dari seorang marketer senior yang sudah proven kesuksesannya di berbagai organisasi.

Terimakasih ya Pak Ketut, atas sharingnya. Saya jadi banyak belajar nih dari Pak Ketut tentang organisasi. Semoga Toya Devasya semakin berkembang ya.

Selamat Tahun Baru 2018.

Standard
Selamat Tahun Baru 2018.

Selamat pagi teman- teman pembaca. Selamat Tahun Baru 2018!.

Tahun 2017 baru saja lewat. Tentu saja tahun itu memberi arti yang berbeda-beda bagi setiap orang. Ada yang menganggapnya sebagai tahun yang penuh dengan hal-hal baru yang menyenangkan, tahun tahun yang penuh dengan kebahagiaan dan kesuksesan, atau mungkin juga ada yang menganggap tahun 2017 adalah tahun yang penuh dengan kedukaan dan sebagainya.

Bagi saya sendiri, setelah saya tengok ke belakang, tahun 2017 adalah tahun yang paling kurang produktif. Baik secara pribadi maupun dalam aspek kehidupan saya yang lainnya. Tahun di mana saya hanya menghasilkan sedikit karya yang memuaskan hati saya.

Salah satu contohnya adalah dalam dunia blogging. Jumlah tulisan saya tahun ini sungguh turun drastis. Hanya 49 buah dalam setahun. Sebagai pembanding saya ambil tahun lain secara acak – misalnya tahun 2012, saya menghasilkan 201 tulisan dalam setahun!. Nah, bayangkan betapa kurang produktifnya saya di tahun 2017 lalu. Seperempat dari tahun 2012 pun tak ada. Sungguh terlalu!.

Contoh lain adalah dalam hal per”dapur hidup” an. Kegiatan saya dalam menanam kebutuhan dapur sehari-hari. Tahun 2017 ini panen saya sangat terbatas jika dibandingkan tahun sebelumnya. Terang saja, karena kegiatan menanam agak berkurang. Lho…kenapa bisa begitu ya?

Alasannya tentu banyak. Semua alasan bisa kita cari sebagai bentuk pembenaran atas kekurang berhasilan kita. Yang paling mudah adalah menyalahkan kondisi ekonomi di tahun 2017 yang lagi sulit πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€, yang menyita perhatian dan waktu saya lebih banyak, sehingga saya tak punya banyak waktu untuk berpikir dan menghasilkan sesuatu. Kedengeran agak masuk akal nggak?. Ha ha..πŸ˜ƒ πŸ˜ƒπŸ˜ƒ

Terlepas dari apapun yang saya sebut sebagai penyebabnya, namun di dalam hati saya tetap mengakui bahwa seandainya saja saya sedikit lebih semangat dan lebih rajin mengerahkan pikiran, daya upaya dan usaha saya, tentu hasilnya akan menjadi lebih baik dari itu.

Nah lho?! Jadi kesimpulan sebenarnya adalah, segala bentuk kesuksesan ataupun kekurang suksesan, jika mau jujur sangat ditentukan oleh seberapa jauh kita meletakkan semangat dan upaya kita untuk mencapainya diatas segala situasi yang ada.

Hari ini tahun 2018 telah hadir. Saya rasa ada baiknya saya gunakan sebagai tonggak batu, tonggak titik balik yang memompa semangat hidup saya kembali agar bisa lebih produktif lagi berkali lipat dibanding tahun 2017.

Orang bilang, ucapan adalah doa. Dan doa akan selalu berhasil terbaik jika dibarengi dengan upaya yang sepadan juga.

Baiklah teman-teman semuanya, sekali lagi Selamat Tahun Baru 2028. Semoga di tahun 2018 ini kita semua menjadi lebih produktif dan lebih sukses.

Siapa Yang Menabur Benih.

Standard

Musim hujan, membuat keriaan baru di alam sekitar. Pohon -pohon tumbuh subur dan biji-biji bersemaian di tanah. Demikianlah tiba-tiba saya mendapatkan banyak anakan bayam di halaman. Tumbuh di pot-pot dan tanah di sekitar tempat saya duluuuu bangeeeet pernah menanam bayam.

Rupanya ketika bayam itu menua, ia mulai berbunga dan berbuah. Biji bijinya jatuh ke tanah. Mereka tertidur di tanah hingga hujan membangunkannya kembali. Whua…senangnya dapat bibit gratisan πŸ˜€πŸ˜πŸ˜˜

Sayapun memindahkan bayam bayam itu ke pot dan ke bak hidroponik.

Kurang lebih tiga minggu kemudian, pohon-pohon bayam itu mulai membesar dan siap dipanen.

Saya senang dengan apa yang saya dapatkan. Bayam-bayam ini membuat saya merasa seperti mendapatkan durian runtuh. Tetutama karena saya sudah lama tidak menanam bayam, eeh…tiba-tiba nemu anakan bayam di sekitar tempat dulu saya pernah menanam bayam. Sungguh, saya tak pernah mengharapkan rejeki seperti ini menghampiri saya dengan mudah. Tak disangka, dari niat menanam bayam saat itu saja, saya mendapatkan hasil jangka panjang.

Ini mirip yang terjadi dengan hidup. Ketika kita berbuat baik kepada mahluk-mahluk di sekitar kita tanpa mengharapkan hasil apapun, tanpa disangka suatu saat kebaikan pun datang kepada kita dengan caranya sendiri, walaupun kita telah melupakannya. Itulah hukum Karma Pala. Segala sesuatu yang kita lakukan, baik ataupun buruk akan selalu ada hasilnya, entah jangka pendek ataupun jangka panjang .

Alam membuat catatan tentang baik buruknya perbuatan kita, dan kelak akan mengembalikannya kepada kita.

Jika kebaikan yang kita tanam kepada orang lain dan mahluk sekitar, baik pula yang akan kita tuai. Sebaliknya jika keburukan yang kita tanam kepada orang dan mahluk lain di sekitar, maka keburukan jugalah yang akan kita panen suatu saat nanti.

Saya sangat percaya akan hal ini.

Bakpia Yang Tak Utuh.

Standard

Suatu kali, di tengah malam saya merasa agak lapar. Mau makan buah melon dan mangga potong yang ada di kulkas, tapi rasanya kok perut saya agak dingin ya. Jadi saya mencari alternatif lain.

Nah… ketemu box kertas bakpia pathok. Walaupun disimpan di kulkas juga, mungkin yang ini bisa jadi pilihan yang lebih baik. Karena tak berair.

Saya ambil box bakpia itu. Berharap masih ada 1-2 buah isinya yang tersisa. Tidak dihabiskan oleh anak-anak. Lalu saya buka. Astaga!!!. Betapa terkejutnya saya melihat isinya.

Bakpia tidak utuh dan kelihatan seperti bekas gigitan lalu dimasukan kembali ke dalam box. Tidak bundar seperti seharusnya. Sebagian tak beraturan, sebagian mirip bulan sabitπŸ™„πŸ™„πŸ™„

Aduuuh… siapakah yang melakukan perbuatan ini?. Iseng banget. Mungkinkah anak-anak? Tapi mengapa mereka melakukan hal konyol ini? Sekarang mereka sudah besar-besar, sudah tumbuh remaja. Masak begitu ya?. Kalau dulu waktu masih play group mereka begitu saya mungkin bisa mengerti. Tapi kalau sekarang? Hadeuuuh…

Saya tidak bertanya apa-apa karena kedua anak saya sudah tidur nyenyak. Sayapun lalu ikut tidur.

Esok paginya saya bertanya kepada anak saya mengapa ada bakpia yang terpotong potong bekas tergigit dimasukkan kembali ke dalam boxnya di kulkas? The moon crescent cake?.

Anak saya yang kecil segera mengatakan tidak. Bukan ia pelakunya. Dan ia juga ikut heran, mengapa ada kue bekas gigitan disimpan kembali di kulkas.

Lalu anak saya yang besar keluar dari kamar. “The explanation is….” katanya

Sebelumnya ada semut yang masuk ke dalam box bakpia itu. Untuk memastikan kalau semutnya tidak menginvestasi ke dalam kue, jadinya kuenya kupecah pecah. Aku periksain satu per satu. Tapi karena semutnya nggak ada, kupikir kuenya masih bisa dimakan. Jadi, kumasukkanlah lagi ke dalam box dan kutaruh di kulkas” kata anak saya.

Oalah…πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€. Jadi itu ya penjelasan tentang kue terpotong-potong itu. Ya…masuk akal juga sih. Tapi tanpa penjelasan itu tentu tak seorangpun mau memakan potongan-potongan kue itu karena menyangka itu kue bekas gigitan. Untung saja kue itu tidak saya buang ke tong sampah semalam.

Ya ya!. Memahami keseluruhan permasalahan itu sangat penting gunanya agar kita tidak salah mengambil kesimpulan dan tidak salah mengambil tindakan.

Kayanya sering terjadi juga dalam kehidupan kita sehari-hari ya? Seringkali kita melihat sesuatu, agak aneh menurut pandangan kita. Tanpa bertanya, entah karena enggan, malu atau tidak tahu bagaimana caranya bertanya atau kepada siapa bertanya, kita jadi cenderung menduga-duga sendiri apa yang terjadi.

Walaupun ketika kita tahu keseluruhan ceritanya, ternyata sangat jauh dari apa yang kita pikirkan atau sangkakan sebelumnya.

Kita jadi sering under-estimate orang lain atau over-estimate orang lain. Kadang berburuk sangka pada hal yang sebenarnya baik. Atau kebalikannya, terlalu berbaik sangka pada apa yang terlihat sangat indah padahal sebenarnya banyak motivasi buruk dibaliknya.

Selamat hari Minggu siang, teman-teman semuanya.

Bagai Membeli Apel Dalam Busa.

Standard

Teman teman pembaca tentu tidak asing lagi dengan pepatah, “Bagaikan membeli kucing dalam karung”. Dari luar terdengar suara kucingnya mengeong dengan sangat merdu, sehingga melambungkan impian sang pembeli akan seekor kucing cantik yang bersih, terawat dan menggemaskan. Ketika sudah dibeli dan dibayar, karung dibuka, eh….ternyata yang keluar kucing kotor buruk rupa yang budukan pula kulitnya. Kecewalah pembeli ya?

Itu pula yang terjadi pada saya kemarin sore saat membeli apel di pasar. Saya lihat hamparan buah apel yang merah ranum tampak segar-segar menyembul dari busa styrofoam pembungkusnya. Saya tertarik untuk membeli sekilo. Biasanya jika membeli, saya membuka pembungkus itu satu per satu dan memeriksa isi buahnya dengan teliti. Takut ada yang busuk.

Kemarin pun saya melakukan hal yang sama. Membuka pembungkus buah itu satu persatu.

Nah…sampai di rumah saya baru tahu, ternyata saya telah memilih satu buah apel busuk di antaranya. Lho, kok bisa?

Rupanya saat memeriksa buah apel itu, saya hanya melihat sepintas dan jika kelihatannya oke, langsung saya masukkan ke dalam plastik. Saya kurang teliti dan tidak memutar-mutar buahnya untuk memastikan tidak ada bagian yang cacat ataupun busuk. Dan bagian busuk itu rupanya tersembunyi di bawah, sedangkan saya hanya melihat permukaannya saja dan merasa diri sudah cukup mengamati. Padahal sebetulnya pengamatan saya sama sekali jauh belum cukup. “Saya terburu-buru karena anak saya menunggu” itu jawaban pembenaran saya atas keteledoran saya ini.

Sound familiar? Ya…itu sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya bagi ibu rumah tangga dalam merekrut pembantu rumah tangga, bagi calon pekerja dalam melamar masuk ke sebuah perusahaan, bagi perusahaan dalam merekrut karyawannya, bagi calon suami dalam mencari calon istrinya, dan lain sebagainya.

Terutama jika itu menyangkut pemilihan akan hal yang sangat penting artinya dalam perjalanan hidup kita, kita benar-benar harus super teliti dalam melakukan seleksi. Kita mesti luangkan waktu yang cukup untuk itu. Mesti letakkan fokus perhatian kita untuk memeriksa secara menyeluruh segala sesuatu yang seharusnya bisa kita periksa. Periksa lebih jauh lagi jika ada indikasi yang kurang baik.

Begitulah teman-teman, pelajaran kehidupan yang bisa saya petik buat diti saya sendiri dari kasus apel busuk ini.

Selamat menjalani kehidupan dan menetapkan pilihan yang tepat dalam setiap persimpangan jalan 😊