Monthly Archives: May 2016

Over Protective.

Standard

image
Anak saya yang kecil pergi camping. Wajahnya berseri-seri ketika menginformasikan kegiatan sekolahnya itu. Saya ikut senang. Teringat ketika saya seumurnya.Saya melakukan hal yang sama dan alangkah menyenangkannya.  Tidur di tenda, berpetualang, menjelajah alam, mencari jejak, menyalakan api unggun. Belajar mandiri.

“Bolehkanh mama ikut?” tanya saya berharap. Anak saya terkejut. “Ah, jangan Ma! Nggak ada mama-mama yang lain yang ikut.Lagipula tidak boleh sama Ibu Guru” kata anak saya. Weh.. saya kecewa.

“Oke deh. Kalau gitu ntar mama tengok aja ya” kata saya lagi.  Anak saya tetap tidak mengijinkan. “Janganlah Ma!. Aku malu sama teman-temanku”. Saya merasa heran, kenapa sih harus malu ? Kan cuma ditengok doang.  Anak saya tetap mengatakan tidak bisa. Bahkan hape saja tidak boleh dibawa. “Kalau dibawa akan disita Ibu Guru”, katanya. Tapi akhirnya saya setuju untuk tidak mengantar dan tidak menengok.

Saya hanya membantu menyiapkan benda-benda yang perlu ia bawa. Pakaian secukupnya, tidak kurang dan tidak berlebih. Agar backpack-nya tidak terlalu berat. Tali pramuka, sabun-odol-sikat gigi, sweater, selimut tipis, handuk, payung dan senter. Sambil meyiapkan peralatannya saya membayangkan suasana camping. Sebenarnya sih tidak ada yang bahaya, tapi entah kenapa saya merasa sangat khawatir.

Musim hujan begini! Saya khawatir tendanya kerendam air. Saya menawarkan agar ia membawa jas hujan yang berbahan plastik. “Nggak usahlah Ma!.Kan sudah bawa payung lipat” katanya.  “Buat jaga-jaga” kata saya. “Nggak usah. Payung saja cukup. Kan tidak boleh bawa banyak-banyak barang” kata anak saya.

Bagaimana nanti makannya? Tidak boleh bawa uang, sementara saya hanya diminta mempersiapkan bekal makan siang saja. Itupun ukurannya kecil-kecil saja. Tidak mau membawa banyak makanan. Saya membelikannya beberapa jenis snack. Buat jaga-jaga siapa tahu ia nanti kelaparan. Kan bisa bagi-bagi dengan teman-temannya. “Ntar jadi nyampah di sana, Ma.Aku tidak mau membuang sampah sembarangan. Apalagi sampah plastik” katanya. Ah! Positive thinking saja. Tentu saja makanan pasti disiapkan oleh Bapak Ibu gurunya .Saya menepis pikiran buruk saya. Akhirnya ia hanya bersedia membawa sebotol air minum saja, selain bekal makan siang.

Lalu saya teringat akan danau yang berada tak jauh dari tempat anak saya akan camping. “Jangan nakal-nakal nanti di sana ya… Jangan main ke danau. Harus hati-hati” kata saya. Anak saya tampak mulai tidak sabar.”Udahlah Ma. Aku juga tidak mungkin  nakal-nakal. Aku kan nanti akan hanya ikut kegiatan yang ditetapkan. Lagipula aku sudah gede. Aku tahu mana yang berbahaya, mana yang tidak” katanya. Saya tertawa.

Ya. Sebenarnya saya tahu kalau ia sudah gede. Dulu saya bermain juga ke danau,walaupun saya tidak bisa berenang. Nah, sekarang jelas-jelas anak saya jauh lebih jago berenang dari saya, mengapa pula saya sangat khawatir.

Lalu anak saya mendekat “Mengapa sih mama over protective banget sama anaknya?” tanya anak saya dengan wajah serius. Saya nyengir dibuatnya. Pikiran saya melayang ke 35 tahun yang lalu. Cepat sekali melintas. Saya ingin berkemah. Walaupun akhirnya mengijinkan, tetapi Bapak saya banyak sekali larangan ini dan itunya. Nggak boleh begini. Nggak boleh begitu. Harus hati-hati. Jangan makan dan minum sembarangan. Bawa pakaian tebal.Bawa payung. Dan juga minyak gosok. Tidak boleh mekelanyiran (mekelanyiran = centil, dekat-dekat dengan teman cowok). Jangan mau jika dikasih minum oleh teman laki atau orang yang tidak dikenal. Kalau tidur di tenda harus pakai celana panjang. Jangan lupa berdoa.Dan seterusnya, dan seterusnya yang membuat saya stress. Setelah itu, Bapak saya juga menyuruh kakak-kakak sepupu saya menengok saya di tepat kemah. Kok rasanya seperti dimata-matai ya?. Hingga akhirnya, suatu ketika saya pernah protes keras kepada Bapak – saya merasa diperlakukan dengan tidak adil dan tidak dipercaya.

Sekarang saya baru tahu apa yang dirasakan oleh Bapak saya. Setiap orang tua pasti memiliki kekhawatiran akan anaknya. Tapi jika dulu saya bisa melewati masa -masa berkemah itu dengan baik, tentu anak saya akan bisa mekewatinya dengan jauh lebih baik lagi. Ia memiliki ketahanan fisik yang lebih dari saya saat seumurnya. Dan ia juga memiliki pengetahuan dan skill yang lebih baik ketimbang saat saya di umurnya. Lah…mengapa saya harus mengkhawatirkan anak saya.

Camping ataupun menjelajah di alam bebas memberikan manfaat yang luar biasa kepada perkembangan jiwa anak. Menurut saya, anak-anak yang terbiasa berkemah, wawasan dan tingkat kesiapan menghadapi hidupnya akan sangat tinggi. Pengalaman hidup di alam akan membuatnya tidak takut hidup susah. Tidak takut miskin. Lebih cepat tanggap jika ada masalah, dan lebih cepat pula mencari pemecahannya.  Karena ia tahu, jawaban untuk setiap permasalahan selalu ada di alam. Tinggal bagaimana kita mencari dan menemukannya.

Baiklah!.Akhirnya saya merasa tahu apa yang harus saya lakukan. Mengijinkan anak saya berkemah dengan keikhlasan hati.Biarlah ia mengalaminya sendiri. Dan memetik manfaatnya sendiri. Untuk dirinya sendiri di kemudian hari.

 

 

 

 

Advertisements

Seusai Panen.

Standard

Panen! Semua orang sangat senang dengan musim ini. Musim dimana jerih payah kita menanam mulai terlihat dan menghasilkan untuk memenuhi kebutuhan hidup kita. Tomat dan cabe memerah, buah pare, terong dan timun membesar, daun daun bayam, kangkung, pakcoi, caisim, pagoda, kailan dan sebagainya tumbuh subur dan lebar lebar menghijau. Semua senang.  Segar dan cerah sepanjang mata memandang. Bahkan yang tidak menanampun ikut senang jika melihat hasil panen.

Tapi adakah yang teringat bagaimana pemandangan setelah musim panen?  Tidak ada lagi hijau, merah , kuning ataupun ungu cemerlang. Yang ada hanya warna kuning, coklat melayu. Kering dan kusam. Saya rasa pemandangan ini lebih banyak menjadi keseharian para penanam ketimbang penikmat.

Saya membicarakan ini karena kebetulan saat ini instalasi hydroponik di halaman saya sudah melewati masa panen. Tampak kotor dengan sisa sisa batang yang habis dipetik, bekas-bekas akar, daun kering, bekas rockwool yang berlumut dan hydroponik cup yang kotor. Apa yang harus dilakukan?
Ya… saya harus membersihkan instalasi serta mendaur ulang penggunaan mangkok tanaman. Wah.. ini bagian “dirty job”nya yang saya pikir mungkin kebanyakan orang malas melakukannya. Semua pengen saat bagian panennya saja. Tapi karena saya masih pengen menanam sayur lagi, baiklah saya harus tekun  juga membersihkannya biar bisa dipakai lagi dengan baik.
Inilah biasanya yang saya lakukan seusai panen…

1/ Membersihkan instalasi hidroponik.

image

Instalasi ini perlu dibersihkan dan diperiksa secara berkala untuk memastikan semua aliran air berjalan lancar. Terutama jika kita menggunakan sekam sebagai media tanam dan untuk memegang system perakarannya, endapan sekam bisa jadi menyumbat aliran air.
Pertama angkat semua mangkok bekas tanaman. Bersihkan bagian dalam pipa dan angkat semua sisa sekam, sisa akar maupun lumut yang menempel. Semprot bagian dalam dengan selang dan buang airnya.
Sikat bagian luar dan bersihkan sisa sisa daun kering yang menempel di dinding pipa.Bilas dengan air bersih.

2/. Membersihkan mangkok tanaman. 

image

Mangkok tanaman hidroponik sangat penting peranannya dalam menunjang tanaman. Karena nenempel dengan rockwool dan akar tanaman, mangkok akan penuh dengan sisa-sisa akar, bekas potongan batang, daun kering dan bahkan lumut, rockwool ataupun sekam jika kita menggunakan sekam.
Keluarkan semua residu tanaman dan media dari dalam mangkok. Cuci di bawah air nengalir. Sikat kotoran dan lumut dengan sikat gigi bekas. Untuk membantu memastikan mangkok bersih dari bakteri dan jamur, setelah disikat bersih mangkok -mangkok hidroponik ini saya letakkan di ember lalu seduh dengan air panas. Saya rendam beberapa menit barulah kemudian saya angkat dan tiriskan hingga mangkok-mangkok itu kering. Nah sekarang mangkok-mangkok itu bersih deh dan siap digunakan untuk menanam lagi.

3/. Polybag.

image

Jika kita bertanam dalam polybag atau botol bekas dan sebagainya yang terbuat dari plastik, sebenarnya kita bisa melakukan hal yang sama jika kita mau.
Tergantung jenis tanamannya, menurut pengalaman saya rata-rata polybag masih bisa kita pakai berulang 3-4 x siklus tanam sebelum akhirnya getas, sobek dan menjadi sampah.
Cara yang saya lakukan sama saja. Saya keluarkan tanah dan bekas tanamannya. Lalu saya lipat rapi lagi atau kadang-kadang jika lagi rajin dan punya waktu saya cuci di air mengalir lalu keringkan. Lalu saya pakai untuk tanaman baru saat bibit sayuran baru sudah tersedia. Atau jika bibit sudah ada, saya langsung isi lagi dengan media baru dan bibit sayuran baru.

Saat ini saya masih belum bisa lepas dari penggunaan barang-barang berbahan dasar plastik. Tentu banyak alasannya. Mulai dari ketersediaan barang pengganti berbahan baku lain yang lebih ramah lingkungan yang  belum tentu ada hingga masalah biaya serta efisiensi. Tapi saya pikir, walaupun begitu saya masih bisa peduli terhadap lingkungan dengan cara lain.

Kita bisa membantu mengurangi sampah plastik tidak saja dengan mengurangi penggunaan plastik, tetapi juga dengan menggunakan benda benda plastik itu di sekitar kita itu berkali-kali.

Yuk kita cintai lingkungan hidup kita. Ciptakan lebih banyak ruang hijau. Lepaskan lebih banyak oksigen di halaman rumah dan recycle benda-benda berbahan dasar plastik.

Edible Flowers: Bunga-Bunga Yang Bisa Dimakan Dalam Masakan Indonesia.

Standard

Ketika kita menyebut kata sayur, yang terbayang di pikiran kita adalah daun-daunan yang berwarna hijau royo-royo, misalnya kangkung, bayam, sawi hijau, kol, pakchoi, daun singkong, daun ubi jalar, daun kemangi dan sebagainya. Pokoknya Daun ya?. Walaupun ada diantaranya yang berwarna bukan hijau.

Selain  daun-daunan,  yang berikutnya kita ingat adalah sayur dari buah-buahan, biji-bijian ataupun kecambahnya. Misalnya sayur labu, oyong, buncis, kacang panjang, jagung, pare, terong, pepaya, kacang merah, tauge kacang hijau dan sebagainya.

Berikutnya sayur dari umbi seperti wortel, kentang, lobak.

Tapi setelah diingat-ingat ternyata banyak juga lho sayuran atau masakan Indonesia yang terbuat dari bahan bunga-bungaan. Apa saja sih? Nah…ini adalah sebagian dari yang bisa saya ingat.

1/. Bunga Pepaya alias Bungan Gedang.

image

Bunga berwarna hijau yang berubah menjadi putih kekuningan saat mekar ini sangat umum dimasak di dapur hampir semua  suku di Indonesia. Dan paling sering kita lihat dihidangkan di restaurant Menado. Yang umum dimanfaatkan adalah bunga pepaya jantan.
Di Bali, bunga pepaya sering disebut dengan Bungan Gedang.  Karena umumnya berenceng renceng, maka lebih umum lagi disebut dengan Bungan Gedang Renteng.
Rasa bunga pepaya agak pahit. Namun demikian, orang -orang tetap menyukainya, terutama karena orang percaya akan khasiat baiknya untuk kesehatan.

2/. Bunga Kecicang.

image

Bunga Kecicang alias Bunga Kecombrang (Jawa) atau Honje (Sunda) adalah bunga favorit saya di dapur. Bunga yang sangat cantik ini sungguh sangat menawan. Bukan saja karena keindahan dan warnanya yang pink atau merah (yang merah adalah kecicang hutan), tetapi karena rasanya juga sangat unik aromatik.
Bunga Kecicang yang belum mekar, di Bali disebut dengan nama Bongkot. Saya sangat suka membuat Kecicang dan Bongkotnya untuk sambal. Sambrl Kecicang atau Sambel Bongkot. Cara membuatnya sama dengan cara nembuat Sambel Matah, hanya saja ditambahkan dengan terasi bakar. Banyak juga yang memanfaatkannya untuk campuran sayur lodeh.

3/. Bunga Sedap Malam.

image

Bunga sedap malam alias polyantes warnanya  putih dan wangi. Umum dimasak sebagai campuran sup. Dimasak bersama dengan jamur kuping dan soun dalan masakan Kimlo. Bunga sedap malam sering dijual dalam keadaan kering. Jadi untuk memasaknya kita perlu rendam dulu. Rasanya enak dan empuk, sama sekali tidak asa unsur pahitnya.

4/. Brokoli.

image

Walaupun warnanya hijau, sangat jelas sekali bahwa bagian dari brokoli yang kita makan itu sebenarnya adalah bunganya. Kecil-kecil bergerombol, brokoli menjadi salah satu sayuran yang membuat hidangan di atas meja makan jadi terlihat menggiurkan.
Anak-anaj sangat menyukai brokoli ketimbang sayuran lain. Saya sering memasaknya dengan kentang rebus dan keju leleh. Yummy!!!. Bisa juga dimasak ca dengan bawang putih, atau dicampur jamur, ataupun sebagai campuran masakan lain.

5/. Kembang Kol.

image

Serupa dengan brokoli, hanya saja bunganya putih kekuningan. Kembang kol, sesuai namanya sayuran ini jelas jelas adalah bunga. Bunga kol.
Secara umum rasanya enak dan empuk. Bisa dimasak Ca biasa, atau dijadikan campuran nasakan lain seperti misalnya Capcay, ikan masak nanas, dan sebagainya.

6/. Bunga Genjer.

image

Genjer alias Biyah-Biyah adalah sejenis tanaman air yang umum ditemukan liar di sawah. Mastarakat agraris tentunya sangat mengenal tanaman ini. Daunnya, berikut tangkai daunnya umum dimanfaatkan untuk sayur. Demikian juga bunganya yang belum mekar. Umum dimasak tumis atau dikombinasi dengan tauco. Rasanya secara umum enak, walau ada sedikit rasa sepat tang khas.

7/. Bunga Bawang.

image

Bawang, selain umbinya digunakan untuk setiap masakan, daun dan bunganya juga bisa dimanfaatkan untuk sayuran lho. Bunga bawang berwarna putih dengan tangkai yang agak tebal dan renyah. Enak ditumis atau dikombinasi dengan bahan lain misalnya tofu atau seafood.

8/. Jantung Pisang.

image

Bunga pisang yang belum mekar alias jantung pisang atau puduh biyu adalah salah satu sayuran eksotis yang bisa kita temukan di dapur Indonesia. Ada beberapa jenis bunga pisang yang tidak pahit jika dimasak. Salah satunya adalah jantung pisang batu. Sangat enak untuk ditumis, dimasak santan atau untuk dipepes.

9/. Bunga Turi.
Bunga pohon turi sangatlah cantik. Warnanya putih bersemu peach. Kita sering melihatnya ditanam orang sebagai pagar di ladang.  Saya pernah makan sayur bunga turi walaupun belum pernah  memasaknya sendiri. Ada sedikit rasa pahit, tapi menurut saya,  nyaris tidak terasa. Bunga turi tidak umum diperjualbelikan di pasar dekat rumah saya. Yang memasaknya biasanya karena punya pohonnya sendiri di rumah.

10/. Terubuk.
Sayur bunga tanaman mirip tebu ini saya kenal di tanah Betawi. Belum pernah lihat di daerah lain. Biasanya dihidangkan di tempat pesta pernikahan adat Betawi dan dikenal dengan sebutan Sayur Penganten. Harganya juga lumayan mahal di tukang sayur di pasar. Dan sangat jarang ada.

Selain 10 jenis sayuran dari bunga yang saya sebutkan di atas, saya yakin masih banyak lagi jenis bunga-bungaan lain yang bisa dan biasa dimakan di Indonesia.

Final Execution.

Standard

Hari ini libur. Yeiiii!.Benar benar libur. Saatnya melakukan hal yang menyenangkan dalam hidup. Mengurus tanaman di halaman. 
Ide ini sebenarnya sudah diniatkan sejak beberapa hari yang lalu. Gara garanya waktu itu saya ingin memotret cabe saya yang berbuah sangat lebat dan banyak yang memerah. Tapi malang nasib saya, begitu saya mengambil hape buat motret, lho???? Pada kemana ya buah cabe saya yang merah-merah itu kok pada menghilang dari pohonnya? Tinggal cuma sedikit yang tersisa…
Saya pun bertanya kepada orang rumah, siapakah yang sudah memetik cabe saya tanpa ijin? Tak seorangpun mengaku. Heran kan?
Setelah malam akhirnya teka tekinya terpecahkan. Ternyata pemetiknya adalah pak Supir yang setiap hari mengantarkan anak anak pulang pergi ke sekolah. Dengan muka tanpa dosa Pak Supir bilang “Saya Bu yang metik. Soalnya kasihan cabenya sudah merah-merah. Ketuaan.Ntar keburu jatuh atau dipatokin ayam. Semuanya sibuk. Jadi saya bantuin panen. Terus saya sudah simpan di dapur, Bu”. Yaaaah….gagal deh motret-motretnya.
Tapi memang benar sih, karena terlalu sibuk belakangan saya tidak sempat memetik hasil tanaman lagi. Melihat cabe berbuah banyak dan merah merah saya sangat senang dan membiarkannya begitu saja menjadi penghias halaman. Saya lupa kalau cabe dan tomat dan apapun itu di funia ini punya yang namanya batas waktu. Jika saya biarkan dan tidak petik-petik, akibatnya banyak tanaman saya yang kadaluwarsa….
Buah cabe yang kering di pohon atau jatuh ke tanah.

image

Buah tomat dengan nasib yang sama. Tua, kering dan keriput di pohon. Atau jatuh ke tanah.

image

Kangkung yang ketuaan. Batangnya menjalar kemana mana dan berbunga. Tentunya tidak ada diantara kita yang ingin masak bunga kangkung bukan?

image

Kailan juga mulai nenunjukkan putik bunganya. Aduuuh ketuaan ini.

image

Demikian juga pohon kemangi. Sudah tua tua. Banyak bunganya ketimbang daunnya.

image

Bayam telat memetik. Pada dimakanin ulat. Aduuuuh….

image

Tidak kalah kadaluwarsanya si timun padang. Pada merah merah dan berjatuhan di tanah.

image

Semua itu menyadarkan saya bahwa urusan memanen yang merupakan sebuah final execution dari sebuah proses berkebun,  kelihatannya sepele dan mudah, tetapi sebenarnya bisa mengakibatkan kegagalan dan kesia-siaan jika saya tak mampu mengeksekusinya dengan baik dan tepat waktu.

Sayuran, cabe, tomat, timun adalah bahan baku makanan. Menyia-nyiakannya dengan terlambat memanen sama saja dengan menyia-nyiakan makanan. Bukan perbuatan terpuji. Jika tak sempat memetik sendiri harusnya lain kali saya mempersilakan orang lain / tetangga untuk memetik dan memanfaatkannya.

Berikutnya, jika kita melihat kembali proses membibit, menanam, memelihara tanaman sayuran ini, maka sebenarnya saya sudah membuang-buang waktu saya selama ini dengan sia sia hanya gara gara kurang disiplin pada bagian akhir dari sebuah proses menanam. Karena ujung-ujungnya hasilnya tidak saya manfaatkan juga. Idealnya investasi waktu kita, jangan sampai sia sia hasilnya hanya gara gara kita terlambat mengeksekusi final prosesnya.

Sambil membersihkan instalasi hidroponik , saya berpikir-pikir. Dalam kehidupan serta pekerjaan sehari-hari pun sebenarnya hal ini berlaku juga. 
Sering sekali kita sudah memiliki gagasan yang menarik, sudah membuat perencanaan dengan baik, juga sudah mengeksekusinya dengan tidak kalah baiknya hingga hampir rampung. Di ujung tahap penyelesaian, mulailah kita lengah dan lupa daratan dan tidak mempush diri kita lagi untuk menyekesaikannya dengan baik. Apalagi jika sempat mrlihat hasilnya yang bagus pada saat 90% hampir rampung, kita menyangka bahwa hasil yang bagus itu akan berlanjut begitu saja. Padahal tidak ada yang menggaransi seperti itu. Untuk mendapat hasil yang bagus, kita harus mengeksekusi dengan sama baiknya di setiap tahap dari tahap awal hingga tahap final.

Selain tetap fokus di final execution,  kita juga tetap perlu mengeksekusi dengan mempertimbangkan waktu. Ibaratnya hasil tanaman yang memiliki batas usia – dimana jika tidak cepat dipanen nanti keburu terlalu tua, kering, jatuh, atau busukvatau dimangsa mahluk lain – segala seduatu di dunia ini punya batas waktu yang menuntut kita untuk segera melakukan final eksekusi sebelum segala sesuatunya berubah. Entah itu perubahan karena jaman, karena trend maupun perubahan prilaku masyarakat di sekitar. Jika tidak kita eksekusi dengan baik pada waktu yang tepat di tahap final, tidak perduli betapapun bagusnya gagasan, perencanaan dan eksekusi di tahap awalnya, maka keseluruhan project itu tetap tidak akan berhasil dengan baik.

Antara Telor Dan Ayam…

Standard

image

Karena pekerjaan yang menumpuk, suatu kali saya tidak sempat memasak buat makan malam keluarga. Selain itu kulkas di rumah juga sedang kosong. Ngga ada bahan yang bisa dimasak. Jadi saya mau order makanan jadi saja. Buka hape. Lihat-lihat  nomer contact  rumah makan dan restaurant dekat rumah.

Ah!. Ini dia!!. Ketemu nomor sebuah restaurant yang masakannya cocok di lidah saya dan keluarga. Saya lalu menelpon bermaksud menanyakan jam tutup restaurant. Seorang pria mengangkat telpon saya “Maaf ibu, saya sedang libur. Kalau mau order, silakan ibu langsung ke restaurant saja” sarannya. Ooh..rupanya itu nomer pribadi dari salah seorang karyawannya. Bukan nomer restaurant. Lho? Tapi mengapa sebelumnya mereka menggunakan nomer pribadi itu  di brosurnya ya? Kenapa bukan nomer resmi restaurantnya saja ?. Aneh!. Tapi tak apa apalah. Saya menanyakan jam tutup restaurant sekalian meminta nomer telpon resmi restaurant. Saya mendapatkan restaurant tutup jam 8.30. Lebih cepat dibanding restaurant-restaurant lain di Bintaro yang rata-rata tutup pukul 10 malam.

Saat itu pukul 7.25 malam. Saya sedang di jalan dan memasuki area Tanah Kusir. Jika jalanan lancar, saya akan tiba sekitar pukul 8.15. Terlalu mepet ya. Tapi jika saya order lewat telpon dan meminta mereka menyiapkan pesanan saya terlebih dahulu, tentu masih keburu. Nanti saya tinggal bayar saja.

“Selamat malam Mbak. Saya mau memesan”.
“Tapi kita tutupnya jam 8.30, ibu” kata suara di seberang.
“Ya Mbak. Saya tahu kalau restaurantnya tutup pukul 8.30. Masih sejam lagi.Jadi saya pesan dulu, biar Mbaknya bisa menyiapkan masakan untuk saya. Nanti saya ambil dan tinggal bayar saja. Sekarang saya masih di jalan” kata saya menjelaskan.
“Tapi ibu, biasanya jam 8.30 kita sudah tutup lho Bu. Kadang malah jam 8 saja kita sudah tutup dan pada pulang. Soalnya sepi” nada suara di seberang terdengar sangat enggan meladeni.
Saya sedang tidak dalam mood ingin berpanjang lebar, “Jadi, masih mau terima order atau tidak?”tanya saya to the point saja. “Ooh…masih sih Bu” katanya. “Ya udah kalau gitu saya mau pesan ini dan ini”. Saya menyebutkan pesanan saya dan porsinya. Si Mbak mencatat. Lalu menyelak karena salah satu pesanan saya tidak ada. “Sudah lama tidak bikin” katanya. Oke deh. Kalau gitu saya ganti dengan yang ada saja. Si Mbak mencatat lagi.

Setelah itu tibalah pada bagian menghitung. “Jadi total berapa harganya?” Tanya saya. “Mmmm…berapa ya?” Si Mbak kelihatan tidak menguasai harga, lalu terdengar bertanya kepada temannya dan menggantung telponnya. Agak lama. Saya pikir dia dan temannya sedang melakukan kalkulasi. Saya menunggu dengan sabar. Setelah beberapa menit, barulah ia  balik kembali ke telpon lagi. Tapi ia tidak langsung memberi saya informasi berapa total harganya. Ia hanya bergumam seperti sedang berhitung. “Jadi berapa Mbak?”tanya saya. “Mmm…untuk sate kan 3 porsi kali 40 000. Jadi…….” suaranya menggumam lagi. Saya nendengarkan. Lalu ia mengulang “Satenya aja 40 000 kan kali 3 porsi…jadi…”. Suaranya jeda lagi “120 000!” Jawab saya dengan tidak sabar. Lah… ngitung 3 x 40 000 kok lama banget sih?
“Jadi berapa harga totalnya, Mbak? “ tanya saya. “Harga satenya aja kan 40 000 x 3… ” katanya mengulang lagi “Terus pepesnya kan 2 porsi kali…aduuuh berapa ya ini harga pepesnya? “ Si Mbak terdengar sangat bingung. “Aduuhh.. ibu datang ke sini segera deh. Nanti dihitung di sini saja” katanya. Baiklah. Saya tertawa geli dalam hati. Tapi dari sana saya paham rupanya kemampuan berhitung si Mbak ini rada kurang. Atau barangkali ia karyawan baru yang panik ya? Tak ada gunanya saya nemaksa minta dihitungkan.
Sekitar 25 nenit sebelum jam yang disebutkan sebagai jam tutup toko, akhirnya saya sampai.
Si Mbak yang tadi ditelpon menyambut saya. “Ibu Andani ya?” Tanyanya. Saya mengiyakan. Restaurant itu memang sangat sepi. Tak ada satupun pembelinya. Saya hanya melihat dua orang Mbak penjaga di sana, termasuk yang menyambut saya dan segera ke kasir.  Sepi banget. Padahal masakannya enak. Ada sesuatu yang salah dengan cara memanage restaurant ini.
Lihatlah restaurant-restaurant di sekeliling. Halamannya pada penuh dg kendaraan parkir. Rata rata penuh hingga pukul 10 malam.
Mengapa restaurant  yang ini tutup cepat?
Sebelumnya si Mbak ada menjelaskan kalau mereka pengen cepat pulang karena restaurant sangat sepi pengunjung. Tapi mengapa restaurant ini sepi pengunjung? Salah satunya mungkin karena tutup sangat cepat.  Wah…bolak balik ya? Seperti telor dengan ayam. Yang mana duluan?

Saya pikir, jika restaurant ini ingin maju… pihak management restaurant perlu memecah siklus antara telor dan ayam ini terlebih dahulu.
Dengan asumsi bahwa positioning dan Marketing Mix yang lain (rasa, harga, lokasi) sudah benar, maka restaurant ini perlu mereview kembali:
1/. Jam buka.
Dengan lokasi di Bintaro, di mana kebanyakan penduduknya adalah karyawan swasta yang berangkat pagi dan pulang malam –  rata-rata pukul 7 dan 8 malam, maka jam tutup restaurant pada pukul 8.30 sangatlah tidak nyaman bagi pengunjung. 
Karena di hari kerja pada siang hari mereka ada di kantor dan tidak mungkin balik ke area Bintaro hanya untuk makan siang. Jadi lupakan peluang untuk rame pada jam makan siang (kenyataannya saya beberapa kali ke restaurant ini pada siang hari, terutama Sabtu/Minggu juga tidak terlalu rame).  Mari kita fokus pada jam makan malam saja.  Bilanglah konsumen baru bisa datang ke restaurant pukul 8.00 malam. Melakukan pesanan, menunggu dihidangkan saja itu barangkali sudah memakan waktu 15 -30 menit tersendiri. Tentunya tidak nyaman sekali jika baru saja mulai suapan pertamanya, pengunjung sudah diberi woro-woro bahwa restaurant akan segera tutup.
2/. Ketersediaan menu sesuai dengan daftar menu.
Sungguh sangat mengganggu bagi konsumen jika mendapatkan kenyataan bahwa pesanan makanan kesukaannya ternyata tidak ada padahal di daftar menu ada.  Restaurant perlu mereview kembali secara berkala daftar menunya. Keluarkanlah masakan yang sudah tidak disediakan lagi dari daftar menu untuk menghindari kekecewaan publik.
3/. Pelayanan
Cara kita menerima konsumen, baik secara langsung maupun  lewat telephone sangatlah penting dalam membangun loyalitas terhadap restaurant yang dikelola, selain faktor lain seperti rasa masakan dan kebersihan. Kesan malas dan ogah -ogahan seolah tidak butuh pembeli sangatlah mengganggu  kesetiaan konsumen. Kecuali konsumen yang sangat militan, fanatik terhadap rasa masakan restaurant itu. Tapi berapa banyakkah jumlah pelanggan yang militan seperti itu? Sangat sedikit bukan?
4/. Skill
Berhitung dengan cepat, adalah salah satu skill yang sangat diperlukan ada pada setiap pramusaji restaurant. Dulu saya sering terkesan dengan kemampuan berhitung cepat pramusaji restaurant Bakmi GM. Begitu kita selesai menuliskan order hanya dalam hitungan kurang dari semenit kita sudah diberitahu berapa total harga yang harus kita bayarkan atas keseluruhan orderan kita. Sekarang mungkin tidak secepat jaman dulu, tetapi menurut saya tetap masih lebih cepat dibanding restaurant lain.

Saya pikir, minimal 4 hal itu yang perlu diperbaiki oleh pemilik restaurant ini jika ingin usahanya lebih maju. Karena jika mengandalkan cara beroperasi seperti sekarang ini, akan sangat sulit baginya untuk bersaing dengan restaurant -restaurant lain yang pengelolaannya jauh lebih professional.

Mengambil pelajaran atas pengalaman saya dengan restaurant itu, maka saya berpikir untuk diri saya sendiri;  Jika kita berada di lingkaran masalah  “telor, ayam mana duluan?”  seperti ini, maka sebaiknya posisikanlah diri sebagai telor saja.  Pro-activelah dengan cara memecahkan masalah dan perbaiki kekurangan diri sendiri terlebih dahulu. Jika semua masalah sudah  tuntas, barulah kita berharap timbal balik yang baik dari pihak lain.
Kita diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengalami berbagai hal dan kejadian, agar kita tak jemu jemu memetik pelajaran dan memperbaiki kwalitas diri.