Category Archives: Book

BACAAN SAAT LIBUR : LAKI LAKI LAKU.Antologi Puisi.

Standard

Sebenarnya buku ini sudah saya terima dari Bang Eki Thadan Metaforma  beberapa bulan yang lalu. Baru sempat saya baca.

Judulnya sendiri emang dah unik. LAKI LAKI LAKU. Yang kayak gimana ini ?  Penasaran dong ya?

Rupanya Antologi Bersama 11 Penyair Laki-Laki Indonesia, Wanto Tirta, Tampil Chandra Noor Gultom S.Sos., M.Hum, Sudarmono, Soekoso DM, Sam Mukhtar Chan, Rd Nanoe Anka, Prawiro Sudirjo  Octavianus Masheka, Dian Rusdi, D’Eros Sudarjono dan Aris Nohara.

Hanya khusus laki-laki karena menurut Editornya, Bang Eki  Eki Thadan, puisi-puisi di buku ini mestinya berkisah tentang potensi lelaki yang tidak diketahui kaum hawa.

Sebagai pembaca hawa yang awam, coba saya simak dan petik beberapa ya. Tentu saja semua yang saya tuliskan ini adalah interpretasi saya semata sebagai seorang pembaca.

Ha! Ternyata bermacam-macam gaya kaum adam ini berpuisi. Topiknya pun beda-beda, mulai dari pencarian, hasrat, cinta dan kerinduan, takdir sebagai laki-laki,  berondong, pencarian jati diri, dan sebagainya.

Saya tertarik pada judul “Mamba Hitam” karya Aris Nohara. Black Mamba  adalah sejenis ular berbisa yang sangat mematikan. Dan puisi ini dimulai dengan kalimat ” kata-kata melingkar di tubuh kawanmu/mendekapnya hingga sesak/dan begitu tak berdaya…”. Entahlah… dari judul dan pembukaannya saya merasakan kengerian dan duka yang dalam. Seseorang telah menderita atau binasa akibat   kata-kata beracun orang lain yang diibaratkan sebagai ular mamba. Ngeriii.

Lalu ada puisi yang puitis romantis karya Octavianus Masheka berjudul Orkes Hujan Rindu.  Saya pikir ini puisi yang disukai banyak perempuan. Bikin hati wanita klepek-klepek. Wanita mana  sih yang tak bahagia mendengar kalimat “…. aku berdansa sendiri dalam melody rindu/membayangkanmu dalam pelukanku” oleh kekasihnya ?

Ha! Ini ada yang protes. “Sebuah Tanya” karya Prawiro Sudirjo. “Laki-laki itu ‘letoy’, lemah dan kaku kok laku? Iya  Memang susah untuk memahami mengapa kok laku . Karya-karya Prawiro Sudirjo di buku ini bisa dibilang menohok.

Rd. Nanoe Anka datang dengan puisi-puisi cinta. Ada yang berjudul “Akulah Lanang Ing Jagad. Kelihatannya mantap ini. Kalimat-kalimatnya sangat convincing bagi kaum wanita untuk mengakui ya betul… kamulah arjuna impianku.

Wanto Tirta menuliskan 3 puisi yang saya pikir themanya menyentuh masalah spiritual, sosial dan kemanusiaan. Entahlah apa benar atau salah. Saya menangkap upaya pencarian makna diri yang cukup kuat di sini.

Penyair Sudarmono, menuliskan puisi-puisi yang berkaitan dengan pencarian cinta lelaki.

Eros dalam puisinya Seringkih Kristal berkata tentang takdir sebagai laki-laki yang harus terus dijalani. Ooh begitu ya? Saya baru terpikir jika laki-lakipun bisa menganggap bahwa jadi laki-laku itu adalah takdir. Bukan wanita saja yang berpikir begitu.

Ada pesan yang disampaikan oleh Soekoso DM untuk wangsa Hawa se Arcapada, agar tidak mendengarkan bisikan lelaki liar.

Sam Mukhtar berkisah tentang perjalanannya menuju senja . Ya…ketiga puisinya bercerita tentang lelaki di kala senja, yang membuat saya ikut-ikutan teringat bahwa  senjapun sebentar lagi menghampiri diri saya juga.

Lalu Chandra Noor Gultom benar-benar khusuk dengan laki-laki laku itu seperti apa. Dijelaskan dalam puisinya Bukan Kuda Liar  Sutera Pilihan dan juga Ksatria Tak Kan Gagap.

Dian Rusdi menuliskan lelaki sebagai sosok ayah dalam puisinya Senja dan Lelaki Matahari Itu Ayah.

Sekali lagi, ini adalah interpretasi saya sebagai seorang pembaca. Selebihnya, arti dan makna dari tiap -tiap puisi ini tentu hanya penyairnyalah yang tahu.

MEMBACA “LUKISAN KABUT”Karya GM SUKAWIDANA

Standard
Lukisan Kabut ‘ karya GM Sukawidana

Saya dikirimin buku “Lukisan Kabut”, sukumpulan puisi karya Pak GM Sukawidana, yang dilahirkan sekitar tahun 2020 -21.  Tadi pagi seusai olah raga  saya berkesempatan membaca-baca isinya.

Begitu membuka sampulnya, saya langsung berpikir, waaah…tumben nih Pak Guru kita melepaskan diri dari magnet upacara-upacaranya. Judulnya Lukisan Kabut dengan cover berwarna kelabu dengan ilustrasi sepasang manusia berlindung dan berdoa di bawah pohon kehidupan, dengan latar belakang malam yang walau kelam namun tetap ada cahaya purnama yang terang, karya Gung Man Wied.  Ada bayangan kelabu menghampiri perasaan saya.

Tetapi setelah membuka-buka halaman buku ini, ternyata Pak GM tak sepenuhnya meninggalkan upacara- upacaranya. Bahkan masih tetap terasa sangat kuat. Beliau salah satu penulis yang saya kagumi, atas kecintaan dan konsistensinya menunjukkan warna Bali yang tak pernah pudar. Setitikpun tak tergerus oleh waktu ataupun dipengaruhi oleh sekitar.

Yang sedikit berbeda mungkin seperti pengakuan beliau, di buku Lukisan Kabut ini ada cukup banyak puisi-puisi yang mencerminkan dan mengekspresikan berbagai peristiwa “muram”. Ya .. terasa. Sebetulnya kurun waktu 2020-21 itu adalah kurun waktu di mana sang Covid-19 merajalela dan sungguh membuat wajah Bali menjadi bermuram durja.
Puisi “Upacara Api” misalnya. Tanpa menuliskan secara explisit tentang Corona, tetapi suasana Corona sangat terasa di sini.

“….. tabuh lesung di halaman/ halau gerhana/wabah sudah merebak/mengapa matahari kehilangan kendali? /orang-orang penuh dengan kecemasan/ menangkar diri dalam kabut ketidakpastian…. “

Mdmbaca penggalan ini, saya merasakan situasinya. Merasakan bagaimana kecemasan telah menguasai  dan kita semua berusaha melindungi diri, memakai masker dan tidak keluar rumah jika tidak penting-penting amat, entah kapan Corona ini akan berakhir,  yang digambarkan dengan sangat menarik oleh Pak GM srbagai “menangkar diri dalam kabut ketidakpastian”.


Wabah ini sungguh membawa kemuraman. Padahal sebelum wabahpun sudah banyak terbentuk kemuraman-kemuraman lain yang mengabu-abukan wajah Bali. Mulai dari soal sengketa muara  hingga tanah sawah dan tegalan yang menghilang dicaplok mulut investor yang mengancam kelestarian dan keberadaan adat, budaya dan upacara di Bali. 

Keresahan ini masih terasa sangat kental di puisi-puisi tentang seputaran denpasar, tukad badung  teluk benia dan sekitarnya. Seperti misalnya potongan baris puisi “Menangkar Kunang-Kunang di Tukad Badung” ini

“…dengan pelepah pisang/dibuat perahu/pada bagian tiangnya/ada bendera merah putih kecil/dihanyutkan menuju muara/ “sampaikah nanti berlabuh di muara teluk benoa/setelah teluk benoa ditimbun oleh para investor”/ begitu penuh harap….”

Perut saya terasa kelu membaca ini.

Ada satu hal lagi yang menarik hati saya, Pak GM ini adalah seorang penyair yang sangat setia kawan, sering bermurah hati menuliskan kenangan untuk para sahabatnya. Ada banyak puisi yang beliau dedikasikan untuk nama -nama tertentu yang pastinya adalah para sahabat maupun orang dekat beliau. Saya perhatikan hal ini juga pada buku-buku beluau di terbitan sebelumnya.

Salah satu contohnya adalah puisi yang ditulis  oleh Pak GM untuk menziarahi almarhumah penyair Agustina Thamrin. Kebetulan saya juga cukup mengenal baik almarhumah. Membaca ini tentu saja saya merasa tersambungkan. Merasakan dan membayangkan kesunyian itu, merasuk ke dalam pikiran saya hingga tak kuasa membendung air mata.

Demikian juga pada puisi yang didedikasikan untuk mahaguru Umbu Landu Paranggi. Ada beberaa nama lain lagi dan diantaranya ada yang saya kenal juga.

Ini buku yang sangat menarik untuk dibaca dan disimak.

BUKU: BALI. SENI BUDAJA BALI. BALINESE ARTS AND CULTURE.

Standard
Buku BALI. Karya Dr Moerdowo

Membahas Buku BALI.
SENI BUDAJA BALI.
BALINESE ARTS AND CULTURE
Karya DR. MOERDOWO

Sebenarnya buku tua yang diterbitkan di Surabaya tahun 1960 ini (tua banget ya… mengingat saya aja belum lahir tahun itu) diberikan kepada saya beberapa bulan yang lalu. Saya sempat membuka-buka dan membaca isinya sepintas. Cuma karena saat itu terganggu oleh kesibukan yang lain, saya belum sempat membacanya dengan baik.

Akhir pekan ini saya memeriksa rak buku lagi, dan melihat buku besar ini di tumpukan buku, lalu keingetan jika saya belum tuntas membacanya. Saya lanjutkan baca deh.

Buku ini adalah sebuah buku yang bagus tentang Bali yang pernah saya baca, dan terlihat jika penulisnya yang walaupun bukan orang Bali, cukup menguasai budaya Bali dengan baik.

Beliau menuliskan dengan baik, bahwa bagi orang awam yang tak paham Bali atau pertama kali mengunjungi Bali, kesan pertama yang ditangkap seolah-olah Agama Hindu di Bali tampak sebagai Polytheisme, karena yang terlihat adalah banyaknya Dewa-Dewa, upacara-upacara yang membingungkan mereka yang baru pertama mengetahui Bali. Tetapi begitu mengenal Bali lebih jauh, barulah mereka memahami bahwa orang Bali menganut paham Monotheisme yang absolute, di mana Tuhan adalah yang maha tunggal dan tidak ada duanya. Dan Agama sangat mempengaruhi segala segi kehidupan masyarakat Bali, termasuk kebudayaan dan keseniannya.

Di buku ini juga ada ditampilkan cuplikan-cuplikan dari lontar Whraspati-Tattwa yang merupakan salah satu sastra penting dalam kehidupan religi di Bali.

Pak Moerdowo memaparkan jika masyarakat Bali memiliki konsep berjenjang dalam mencapai pemahaman akan hakikat Tuhan yang disebut dengan Catur Marga (4 Jalan Menuju Tuhan) yakni Bhakti Marga, Karma Marga, Jnana Marga dan Raja Marga, yang walaupun beliau hanya menyebutkan 3 jalan saja (kurang satu jalan) tetapi menurut saya beliau memaparkannya sudah dengan sangat baik. Dengan membaca buku ini, orang jadi paham, bahwa jika hanya dengan bersembahyang yang rajin saja (Bhakti Marga) tanpa berbuat baik dan benar (Karma Marga) tidaklah cukup. Dan tentunya untuk menjalankan kehidupan religi yang sebenarnya kita juga perlu menjalani Jnana Marga dan Raja Marga.

Selain itu Pak Moerdowo juga ada membahas tentang aspek-aspek lain dari kehidupan orang Bali , seperti Tri Sadhana (tiga jalan yang harus ditempuh jika ingin mencapai kamoksan/melepaskan diri dari kesengsaraan abadi) yakni mengetahui dan memahami segala agama dan pengetahuan suci, melepaskan diri dari pengaruh dan kekuasaan hawa nafsu indriya dan mampu melepaskan ikatan keduniawian.

Dan tentu saja semuanya itu tidak mudah dilakukan, sehingga untuk membantu menjalankannya sehari-haru, orang Bali menggunakan pedoman hidup moral dan ethika yang diantaranya adalah Ahimsa (tidak membunuh/menyakiti); Brahmacarya (hidup dengan kesucian), Satya (dapat dipercaya/tidak bohong); Awyawharika (tidak bertengkar/ribut); Asteya (tidak mencuri, korupsi atau mengambil bukan milik); Akrodha (tidak mudah marah); Guru Sucrusa (sayang/hormat pada Catur Guru); Socha (membersihkan pikiran dan bathin); Aharalegawa(tidak rakus/loba/tamak); Apramada (setia pada kewajiban).

Ada banyak aspek kehidupan lagi yang dibahas di buku ini. Juga tentang hari hari raya dan bagaimana orang Bali menghornati segala bentuk ciptaan Tuhan (sarwa prani), bahkan pohon-pohon dan binatangpun sangat dihormati di Bali dan ada hari rayanya.

Pak Moerdowo juga membahas tentang kehidupan sosial dan aktifitas berkesenian di Bali. Mulai dari Seni Pewayangan, Tari-Tarian, Lukisan , Seni Pahat dan sebagainya.

Buku ini dibagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama adalah pemaparan dalam Bahasa Indonesia. Bagian ke dua adalah pemaparan dalam Bahasa Inggris. Dan Bagian ke 3 dipenuhi dengan foto- foto jadul hitam putih yang menggambarkan aktifitas sosial, keagamaan dan kebudayaan Orang Bali.

Saya suka dengan buku tua ini. Dan penulisnya tentunya. Karena saya pikir secara umum Pak Moerdowo cukup menguasai Bali, sehingga pemaparannya tentang Bali sesuai dengan apa yang dipahami oleh Orang Bali sendiri.

Setelah saya pelajari, rupanya sebelum menuliskan buku ini, Pak Moerdowo beserta istri pernah tinggal bersama keluarga Bali untuk melakukan research dan study. Ooh… pantesan pemahamannya tentang Bali sangat baik. Bukan hanya sekedar sedalam permukaan kulit saja.

Sungguh. Ini buku yang sangat bagus tentang Bali. Saya sangat berterimakasih sudah diijinkan ikut membaca dan memiliki buku ini.

Love it!

BACAAN MINGGU INI: CINTA TAK KENAL TAKUT.

Standard

Karya Putu Satria Kusuma.

Buku “Cinta Tak Kenal Takut” karya Putu Satria Kusuma.

Sebenarnya buku ini sudah saya terima dari sahabat Putu Satria sejak awal Juli tahun lalu. Hanya karena tertinggal di rumah di Bangli-Bali, dan saya belum sempat pulang lagi hingga awal tahun ini, saya belum membacanya.

Buku yang merupakan Kumpulan Drama Mengenang Soekarno ini diterbitkan pada bulan Mei 21 dalam rangka memperingati hari lahirnya Pancasila yang jatuh setiap tanggal 1 Juni.

Buku ini terasa istimewa bagi saya, pertama karena dari sekian jumlah buku yang saya terima dari para sahabat penulis, baru kali ini yang berupa kumpulan naskah drama. Paling banyak berupa kumpulan puisi dan kumpulan cerpen. Ini sangat menarik.

Kemudian buku ini mengambil thema tentang Soekarno, Sang Proklamator dari sudut pandang para pencintanya, yang memahami sejarah dan ingin meluruskannya dari carut-marut arus informasi dan pembelokan. Dari ide sentral inilah kemudian 10 naskah drama di buku ini dikembangkan.

Saya menyukai kesepuluh naskah drama yang ada di dalam buku ini. Membacanya seperti menemukan kembali permata yang lama hilang, dalam gaya satire, sedikit ironis dan membuat kita ingin senyum walau nyesek.

Semuanya menarik. Mulai dari Cinta Tak Kenal Takut, Lawan Juga Kawan, Pembuat Teh di Gedung Tyuuoo Sangi In dan seterusnya hingga Tarian Bulan Juni. Tapi tentunya naskah yang pertama “Cinta Tak Kenal Takut”, yang dijadikan judul buku ini memang terasa sangat istimewa.

Naskah drama pendek ini cuma dimainkan oleh Kakek, Nenek & Tetangga sebagai tokoh utamanya – dan mungkin beberapa sosok maut. Bercerita tentang si Kakek yang sudah mulai pikun, si Nenek yang justru sangat tajam ingatannya tentang kejadian seputar 30 September 1965 (he he.. saya lahir beberapa harinya kemudian setelah peristiwa itu). Di saat kondisi chaos seperti itu, ada saja orang yang punya kedekatan dengan penguasa mengambil kesempatan dengan memberikan daftar orang-orang yang perlu dibantai jika tidak sepaham dengannya. Bahkan memfitnahpun dilakoni juga. Sehingga dalam peristiwa itu banyak orang yang kehilangan nyawa tidak jelas. Si busuk hati ini diperankan oleh Si Tetangga yang di akhir hayatnya membuat pengakuan dosa.

Putu Satria Kusuma berhasil mengajak pembacanya ikut merenungkan kembali sejarah yang sebenarnya terjadi, bukan yang selama ini di”brain-wash”kan kepada kita sejak di bangku sekolah.

Dari sini saya membayangkan panggung pementasan drama anak-anak sekolah dengan kwalitas penggarapan yang baik dengan menggunakan naskah-naskah yang memberi edukasi dan pelurusan sejarah seperti ini.

Sukses terus untuk Putu Satria Kusuma. Terus aktif dan produktif ya.

Film Inspiratif “Lunas Dalam Keikhlasan”

Standard

Satu hal yang membuat hati saya senang tahun 2021 ini adalah fakta bahwa saya akhirnya berhasil menerbitkan buku “100 Cerita Inspiratif” di bulan April dan pada akhir tahun salah satu dari kisah inspiratif di buku itu yang berjudul “Lunas Dalam Keikhlasan” diangkat menjadi sebuah film pendek.

Berawal dari Sutradara Rudi Rukman yang menghubungi saya dan menyatakan ingin mengangkat tulisan-tulisan saya itu ke dalam film. Wah.. tentu saja saya sangat senang. Tetapi karena kesibukan dan lain hal, saya sempat tidak memproggress permintaan beliau ini.

Selain itu saya juga di posisi tidak menjual tulisan-tulisan saya.

Namun saya lihat Pak Rudi Rukman ternyata memang serius ingin membuat film, saya pun mengijinkan sang sutradara untuk menggunakan tulisan saya dengan free.

Demikianlah akhirnya, persiapan mulai dilakukan oleh Pak Rudi di bulan Oktober, shooting di bulan November dan akhirnya film mulai bisa tayang di bulan Desember.

Bagi yang penasaran, film bisa dilihat di channel youtube FILM CERITA INSPIRATIF.

Kupu-Kupu di Pusara Ibu.

Standard

Kumpulan Cerpen Fanny J Poyk.

Sebenarnya saya telah menerima buku ini langsung dari penulisnya Mbk Fanny Jonathans sejak pertengahan Juli lalu. Akan tetapi baru sekarang selesai membacanya. Belum pula saya mengucapkan terimakasih.

Mengenal penulisnya yang adalah salah satu penulis senior yang sangat aktif menulis sejak remaja di berbagai media nasional Indonesia baik koran maupun majalah, sudah dipastikan tulisan-tulisan di buku ini memiliki kwalitas yang sangat bagus. Beliau adalah salah satu penulis senior favorit saya.

Benar saja. Buku yang cukup tebal ini memuat 32 cerpen yang semuanya sangat menarik, baik dari sisi pemikiran, ide-ide, sudut pandang maupun cara penulisannya.
Terus terang saya banyak tercengang setiap kali pindah dari satu cerpen ke cerpen berikutnya.

Yang dituliskannya adalah kejadian kejadian yang pada dasarnya mungkin sangat umum atau bisa terjadi pada siapa saja, namun dalam perkembangannya, di tangan Mb Fanny kejadian biasa ini kemudian berubah menjadi sebuah kisah dramatis dan luar biasa yang kadang endingnya tak terduga oleh saya. Mmm…menarik sekali.

Cerpen pertama yang sekaligus menjadi judul dari buku ini, “Kupu-Kupu Di Pusara Ibu”, sungguh membuat saya merenung dan menitikkan air mata diam-diam saat usai membacanya.

Berkisah tentang perjuangan seorang ibu yang mengambil alih tugas dan tanggungjawab sepenuhnya untuk menjalankan bahtera rumah tangga sendirian sejak suaminya meninggal, membesarkan, memberi makan, menyekolahkan 3 orang anak-anaknya hingga mereka dewasa dan memiliki kehidupannya sendiri.

Namun hingga ajalnya tiba, anak-anaknya tidak ada yang paham dan bersimpati dengan kesusahan ibunya, saat ibunya kelelahan menyiapkan kue-kue buat dagangan, saat rentenir menagih utang, atau saat ia mulai mengeluh karena radang sendi dan diabetes mulai menggerogoti tubuh rentanya hingga akhirnya ia tiada.

Dan bahkan setelah itu, kuburnyapun tidak ada yg menengok. Anak-anaknya hanya bagai melempar batu ke dalam tanah, menguruknya dan melupakan kisah tentang ibunya. Lama setelah sang ibu tiada, barulah penyesalan itu datang.

Rasa penuh dada saya membaca cerita ini. Air mata sayapun menetes. Saya yakin cerita real seperti ini banyak terjadi di sekitar kita. Namun tidak ada yang menuliskannya dengan semenyentuh ini.

Cerita-cerita yang lain di buku ini juga tak kalah menariknya. Banyak menceritakan kisah-kisah perempuan dan deritanya dalam memperjuangkan dirinya ataupun keluarganya.

Misalnya cerpen “Mince Perempuan dari Bakunase”, berkisah tentang Mince yang akhirnya memutuskan keluar dari rumah setelah sekian kali kekerasan dalam rumah tangga menimpanya. Ia perempuan kuat, yang bekerja keras membesarkan anak-anaknya. Namun sayangnya beban dan derita seakan tak kunjung reda, datang silih berganti bahkan hingga ia menjadi nenek pun, beban itu tetap harus ia panggul.

Juga dalam cerpen “Luka Erika”. Kepedihan wanita yang terenggut keperawanannya sementara ekspektasi orang tuanya agar ia menjunjung tinggi kegadisannya tergambarkan dengan sangat jelas di sini.

Juga pada cerpen “Duniaku”, juga pada cerpen “Aku, Um dan Gincu Berwarna Pucat”, dan banyak cerpen-cerpen lainnya lagi hingga ke cerpennyg ke 31 yg berjudul “Aku Tidak Mau Menjadi Ibu” derita dan kepedihan wanita dibuka dan diceritakan oleh Mbak Fanny dengan sangat gamblang yang membuka mata hati kita… bahwa betapa perempuan itu sangat rentan menjadi korban keadaan dan ketidakadilan. Sebagai perempuan, saya jadi ikut merasa geram.

Selain banyak berkisah tentang derita perempuan, cerpen-cerpen di buku ini juga menceritakan kesulitan-kesulitan dan permasalahan hidup yang dialami oleh pelakunya, yang membuat pembaca menjadi lebih terbuka dan terasah kepekaan hatinya saat membaca kisah kisah ini.

Yang menarik dari buku ini, adalah latar belakang NTT dalam beberapa cerpen ini yang membuat saya ikut membaca merekam adat istiadat, suasana dan kata-kata dalam bahasa Timor. Menarik sekali.

Eh…ada juga yang berlatar belakang Bali. Tentu saja, mengingat penulis yang merupakan putri dari Sastrawan besar Indonesia alm Gerson Poyk ini memang berasal dari pulau Rote, NTT dan cukup lama tinggal di Bali.

By the way, jika kita perhatikan, tulisan- tulisan di buku ini juga memang bukan sembarang tulisan lho. Tetapi kumpulan tulisan Mb Fanny yang telah melalui seleksi, saringan dan pilihan media-media nasional.

Contohnya cerpen “Kupu- kupu di Pusara Ibu” ini pernah dimuat di surat kabar Kompas. Cerpen “Aku Tidak Gila” pernah dimuat di Jurnal Nasional. Demikian juga cerpen-cerpen yang lain. Nyaris semuanya pernah dimuat di media nasional seperti, Kompas, Jawa Pos, Pikiran Rakyat, Bali Post, Jurnal Nasional, Sinar Harapan, Suara Karya, Singgalang, Tabloid Alinea, Padang Ekspress, Majalah Horizon, Majalah Sabana.

Pantes saja kwalitasnya bagus- bagus. Saya benar-benar angkat topi untuk Mb Fanny. Sangat menginspirasi. Terimakasih sudah mengijinkan saya ikut membaca.

Selamat dan sukses untuk Mbak Fanny. Semoga semakin sehat dan teruslah berkarya.

SARWAÇĀSTRA.

Standard

Saya mendapatkan buku tua yang sangat menarik perhatian saya ini, berjudul “SARWAÇĀSTRA” Djilid I yang disusun oleh Ki Hadiwidjana R.D.S , seorang guru SMA di Jogja pada tahun 1956 (cetakan ke lima). Berarti sudah 65 tahun ya usianya tahun ini. Saya yakin, selain buku ini sudah kuno, juga keberadaannya pasti sudah sangat langka.

Sebenarnya adalah kitab pelajaran dan latihan Bahasa Jawa Kuno (Kawi) untuk SMA kelas 1. Berarti sebenarnya ada jilid II dan jilid III untuk kelas 2 dan kelas 3 yg tidak saya miliki. Saya coba search online barangkali ada yang menjual. Ternyata memang tak ada.

Yang sangat menarik , selain berisi tentang hukum singkat Bahasa Kawi, buku ini berisi petunjuk tentang huruf, sandhi, kata pengganti nama, kata penunjuk, kata tanya, kata ganti orang,sebutan, huruf sengau, contoh contoh kalimat, kata sambung, kata keterangan waktu, keterangan sebab akibat, kakawin dan beberapa contoh cerita dalam Bahasa Kawi untuk latihan.

Cerita-cerita di buku ini sangat menarik. Kebanyakan cerita yang pernah diceritakan Bapak semasa saya kecil, yang mengandung banyak pesan-pesan moral dan pesan kehidupan.

Contohnya adalah cerita “Cakrangga Mwang Durbuddhi”, kisah tentang kura-kura dan angsa yang berniat mengungsi dari telaga tempatnya berdiam selama ini, tetapi akhirnya mati akibat ia tak mampu mengendalikan emosinya.

Lalu ada juga cerita “Patapan” yang berkisah tentang Maharaja Duswanta. Kemudian ada kutipan serat “Pararaton” yang menceritakan riwayat Ken Arok.

Berikutnya ada sedikit cerita-cerita Tantri seperti Wre Mwang Manar (Kera dan Burung Manyar), Pejah Dening Sambeganira (Tewas Akibat Belas Kasihan) Tan Wruh Ing Nitiyoga ( Tak Tahu Akan Sikap Yang Layak), Gagak Mwang Sarpa, Pejah Dening Yuyu (Burung Gagak dan Ular Mati karena Kepiting), Pinakaguna Sang Prajna (Kebajikan Bagi Orang Pandai), Anemu Dukha (Mendapat Kecelakaan), Manuk Baka Mati Denikang Yuyu (Burung Bangau Mati Oleh Ketam).

Lalu ada kutipan cerita “Mandaragiri” dan “Nusa Jawa Ring Açitakala”, dari lontar “Tantu Panggelaran”. Dan yang terakhir adalah cerita Hidimbi yang dikutip dari Adi Parwa.

Wow. Buku ini sungguh keren sekali. Saya sangat senang membacanya dan sedikit sedikit menambah pengetahuan saya tentang Bahasa Jawa Kuno (Kawi). Bangga dan terharu.

Tetapi di sisi lain, hati saya juga terasa teriris. Sungguh sangat disayangkan Bahasa kuno milik bangsa kita ini akhirnya pelan-pelan tergeser oleh bahasa asing. Sedangkan Bahasa Kawi itu sendiri akhirnya menjadi Bahasa Asing di negerinya sendiri 😭😭😭

Mari cintai bahasa leluhur kita
Mari cintai literatur kuno kita.

Terimakasih kepada yang telah berkenan memberikan buku ini untuk saya baca.

ZIKIR BURUNG LEMPUNG.

Standard
Buku Antologi Puisi “Zikir Burung Lempung” karya Remmy Novaris MD.

Saya sudah menerima buku Antologi puisi “Zikir Burung Lempung” karya Pak Remmy Novaris DM beberapa saat yang lalu.
(Maaf Pak Remmy, saya tidak ngasih info sebelumnya).

Awalnya saya membaca judul buku antologi ini sebagai sebuah kalimat “Zikir Burung Lempung”. Membayangkan seekor burung yang terbuat dari lempung (tanah liat) yang sedang berzikir. Lalu saya membaca puisi demi puisi yang ditorehkan Pak Remmy dalam buku ini hingga habis.

Sesungguhnya memang saya tidak menemukan puisi tentang burung lempung yang sedang berzikir itu. Adanya puisi-puisi tentang lempung, tentang zikir burung. Dan puisi-puisi lainnya.

Namun dalam perjalanan saya membaca puisi demi puisi di buku ini, saya menemukan banyak dari karya-karya ini yang memberi renungan-renungan akan makna kehidupan.

Itu bahkan mulai terasa dari puisi pertama yang berjudul “Lempung”, yang mengajak kita ikut merenung bahwa pada akhirnya setiap dari kita akan kembali kepada Sang Pencipta. Kembali kepada unsur-unsur pembentuk kita. Kepada asal-usul kita.

Pada “Zikir Burung” dimana Pak Remmy mengibaratkan dirinya bagai burung, berzikir dalan menjalankan kehidupannya dengan maksimal sesuai dengan kodratnya sebagai burung yang telah menjelajahi langit, hinggap di banyak ranting untuk melintasi musim yang berganti dan pada akhirnya mengabarkan bahwa kehidupan selalu tetap terjaga.

Demikian juga pada puisi-puisi lainnya.

Pak Remmy banyak menghi-light adanya kesenjangan antara nilai ideal dengan kenyataan, juga mempertanyakan gap antara impian dan upaya.

Misalnya pada puisi”Ingin” di halaman 32, disebutkan “kau ingin laut yang luas tapi tak inginkan gelombang”, sesuatu yang memang tidak mungkin, karena laut yang luas dan gelombang hendaknya diterima dalam satu paket. Demikian juga jika inginkan langit yang biru, hendaknya diterima dalam satu paket dengan awan kelabunya. Juga sama dengan cinta yang mesti dilihat dalam satu paket dg rasa.

Mempertanyakan kesenjangan yang ada juga kita temukan pada banyak puisi yang lain seperti dalam puisi Pemali, Burung Segala Burung, Di Balik Pintu, Ajari Cara Bermimpi, Bayangan, Garis.

Ha ha… iya. Karena dunia memang tidak sempurna.

Jika ditilik dari waktu pembuatannya, selain karya baru yang beliau ciptakan tahun 2021 ini, kebanyakan puisi ini tercipta dalam bentangan tahun 2013 hingga sekarang. Lumayan juga, 56 buah puisi selama 8 tahun ya. Kebanyakan ditulis di Lenteng Agung, Jakarta namun beberapa diantaranya digubah di Denpasar.

Pak Remmy adalah penulis senior, yang kiprahnya dikenal masyarakat sastra lebih dari 30 tahun. Saat ini beliau adalah pengelola sekaligus pemilik penerbit “Teras Budaya Jakarta”.

Saya sendiri banyak belajar dan meminta pandangan-pandangan serta nasihat beliau dalam penulisan. Bisa dibilang, saya berguru pada beliau. Sehingga dalam menuliskan pandangan saya terhadap buku ini pun saya sempat ragu, bagaimana seorang murid bisa mengomentari karya gurunya 😁😁😁.

Tetapi saya percaya, bahwa setiap karya tulis apapun bentuknya, pada akhirnya bukan hanya sekedar pesan-pesan sepihak yang disampaikan oleh penulisnya, namun bercampur dengan interpretasi pembaca yang muncul akibat pesan-pesan yang tertangkap. Jadi di sini saya menempatkan diri saya sebagai pembaca 😀.

Salam sehat dan sukses selalu ya Pak Remmy.

NMS Andani.

Bedah Buku 100 CERITA INSPIRATIF Oleh Kritikus Sastra Indonesia Narudin Pituin.

Standard

Narudin Pituin, seorang Kritikus Sastra Indonesia membedah buku 100 CERITA INSPIRATIF dan menguploadnya di Sosmed.

Saya meminta ijin untuk bisa share tulisan beliau tentang buku pertama saya itu di bawah ini.

**********************************

VERSTEHEN 100 CERITA INSPIRATIF ANDANI:
PEMBACAAN HERMENEUTIKA

Oleh Narudin

Buku 100 Cerita Inspiratif (2021) karya Ni Made Sri Andani ini merupakan buku yang secara hermeneutik mengembangkan konsep memahami (verstehen). [1] Memahami yang dimaksud ialah bukan semacam pengetahuan atau sains, melainkan pandangan seorang manusia dalam usaha memahami keadaan sekitar yang bersifat individual dan sosial. Atau seperti dikutip dalam “Verstehen: The Sociology of Max Weber” (2011) oleh Frank Elwell, verstehen merupakan pemeriksaan menafsir atau ikut terlibat tentang fenomena sosial.

Andani tak melihat keadaan sekitar itu secara umum—ia menggunakan segala kemampuan bawaannya demi mengomentari keadaan alam sekitar itu secara khusus dan pribadi sifatnya, serta berupaya agar tulisan-tulisannya menginspirasi orang banyak.

Dari 1000 tulisan cerita inspiratif ia pilih menjadi 100 cerita inspiratif—yang berasal dari blog-nya selama 10 tahun. Dengan demikian 100 cerita inspiratif ini termasuk ke dalam jenis “sastra digital”—yang menghendaki keringkasan dan kebermanfaatan yang bersifat segera bagi “warga digital” pula.

Verstehen Andani disusun dalam suatu narasi atau cerita yang bersifat detail dan “idiosinkratik”, yakni ditulis khas sesuai pengetahuan dan keyakinan bawaannya. Kadang-kadang narasi-narasinya tak terduga dengan sekian tema yang banyak. Ambil beberapa cerita inspiratif ini, sekadar contoh: “Ketika Pedas Ketemu Air Hangat”, “Ada Sambal di Telpon Genggamku”, “Isah, Kisah Pembantu Rumah Tangga yang Tinggal Selama Seminggu”, sampai cerita inspiratif “Kencing Kucing”.

Bagaimana masalah sederhana pedas yang berjumpa air hangat dipahami oleh Andani? Hangat dan pedas hampir sama, tetapi mengapa pedas bisa hilang akibat hangat? Ini suatu fakta sehari-hari, tetapi Andani menaikkan derajat yang nyata kepada hal yang mungkin (transcending the real into the possible), dalam tradisi teori Hermeneutika. Begitu pula dengan kasus ada sambal di telepon genggamnya—hal sepele, namun begitu mengganggu kenyamanan hidup. Teks ditulis oleh Andani, lalu ia menuangkan pengalaman, serta mengomunikasikannya kepada orang banyak, pada mulanya lewat blog, kemudian ia cetak dalam bentuk sebuah buku ini.

Andani pun menggunakan sudut pandang orang ketiga selain sudut pandang orang pertama, seperti dalam cerita inspiratif “Isah, Kisah Pembantu Rumah Tangga yang Tinggal Selama Seminggu”. Cerita ini sederhana, tetapi disusun secara realis hingga faktanya terasa ke dalam lubuk hati pembaca dan turut bersimpati kepada tokoh Isah yang ususnya menderita. Hingga sampai pada kisah “Kencing Kucing” yang lucu, namun mengandung pesan yang bijaksana. Jangan dulu menyalahkan orang lain sebelum kita memeriksa kesalahan kita sendiri.

Sebagai penutup—ini cerita yang paling disukai oleh Andani, sesuai pengakuannya sendiri—yaitu berjudul “Di Bawah Langit di Atas Laut”, cerita ke-100 dalam buku ini.

Kisah ini sebuah perjalanan yang senantiasa diingat oleh Andani sebagai perjalanan tubuh dan roh atau tamasya jasmani dan rohani. Latar tempat dan latar waktu rupa-rupanya bukanlah hal yang utama dalam kisah ini, melainkan kisah renungan yang cukup dalam terhadap fenomena alam di tengah hiruk-pikuk kehidupan sosial sehari-hari. Andani mengagumi alam besar (makrokosmos) dan alam kecil (mikrokosmos). Keduanya dipahami (verstehen) oleh Andani sesuai dengan pengetahuan dan pengalamaan bawaannya.

Terhadap alam besar, ia merasa takjub dengan kebesaran penciptaannya. Ia mengatakan alam semesta berada di dalam-Nya. Ini pandangan panteistik. Pernah pula ilmuwan Ibnu Sina berkata bahwa alam semesta ini berada di dalam Tuhan sehingga menimbulkan dua istilah wujud: wujud mungkin ada (semua ciptaan-Nya) dan Wujud Wajib Ada (Tuhan). Lalu, Andani berpesan agar manusia bebas dari segala ikatan duniawi atau badan kasar, yang hanya menumpang saja di alam ini. Kebahagiaan sejati menurutnya ialah membebaskan roh dari segala ikatan duniawi—sebab setelah mati segala kemewahan atau jabatan atau kekayaan tak dibawa.

Terhadap alam kecil, Andani merasa dirinya mahakecil semacam butiran atom atau butiran yang kecil sekali. Ia memandang tak berbeda dirinya dari unsur kapal, samudra, dan benda-benda lainnya di alam ini pada level sub-atomik—dengan batasan tegas porsi dan komposisinya berbeda. Di lain pihak, ada pula perbedaan tingkat, tingkat bendawi, botani, hewani, hingga tingkat insani. Perbedaan ini menegaskan mana benda mati dan mana makhluk hidup—dan mana makhluk hidup yang punya pikiran dan perasaan, yaitu manusia.

Lalu Andani berkata, jika mati saya tiba, semua unsur pembentuk diri saya akan kembali lagi ke alam. Jadi apa yang harus aku takutkan jika mati tiba? Mati dan hidup hanyalah dipisahkan oleh sebuah kesadaran yang berbeda. Di lain pihak, dikatakan bahwa apa yang telah dikerjakan di alam ini akan di bawa pada alam berikutnya, yakni alam setelah mati.

Andani menutup ceritanya dengan menyebut perjalanan ini menyenangkan dan akan dikenang.

Verstehen (memahami) dalam 100 cerita inspiratif Andani dapat diambil segi baik manfaatnya. Dalam sastra ini disebut sebagai fungsi komunikatif. Sedangkan secara fungsi puitis, cerita-cerita ini dapat termasuk prosa sastra digital yang bersifat ringkas dan segera. Deskripsi cerita di dalamnya tak bisa disebut ringan jika sudah masuk ke wilayah transcending the real into the possible, seperti telah disinggung di atas.

Secara semiotik, [2] Andani telah mencoba mengomunikasikan pengalaman-pengalamannya kepada pihak pembaca dengan bahasa yang ia kuasai—masih perlu disunting. Dan memang tujuan buku ini, menurut Andani sendiri, agar memberi inspirasi pada banyak orang, dari pribadi dan pengalaman dia, dituangkan ke dalam teks atau cerita, lalu disampaikan kepada publik ramai.

***
Dawpilar, 15 Mei 2021

*) Kritik sastra di atas berasal dari acara bedah buku 100 Cerita Inspiratif (2021) di Kafe Sastra, Balai Pustaka, Jakarta, 19 Juni 2021.

CATATAN KAKI:

[1] Baca buku Narudin berjudul Epistemofilia: Dialektika Teori Sastra Kontemporer, Pasuruan: Qiara Media, 2020, halaman 24-27.

[2] Baca buku Narudin berjudul Semiotika Dialektis, Bandung: UPI Press, 2020, halaman 20-24.

Ni Made Sri Andani Sahadewa Warih Wisatsana Wayan Jengki Sunarta Darma Nyoman Putra Agoes Kaboet Soetra Jefta Atapeni  I Ketut Putrayasa Made Edy Arudi Idk Raka Kusuma Rini Intama Chye Retty Isnendes Tien Marni Rizka Amalia Dewa Gede Kumarsana Andi Mahrus Anwar Putra Bayu Ipit Saefidier Dimyati Imam Qalyubi Sunu Wasono Djoko Saryono M Tauhed Supratman Wannofri Samry Saifur Rohman Syahrul Udin Nani Syahriani Asfar Nur Kosmas Lawa Bagho Taba Heriyanto Giyanto Subagio Laora Laora Tika Supartika Na Dhien Kristy Setyo Widodo Tati Dian Rachmika Il Mustari Irawan Enung Nurhayati Elang Munsyi Hermawan An Endut Ahadiat Ermanto Yohanes Sehandi Shafwan Hadi Umry Salim Bella Pili Rafita Ribelfinza Gunoto Saparie  Nia Samsihono

*********************************

Terimakasih ulasannya Pak Narudin.