Monthly Archives: August 2011

Tumis Jantung Pisang Pedas Ala Jineng.

Standard

Hari Jumat  – hari terakhir kerja sebelum libur panjang, saya pulang  kantor. Diperjalanan saya melihat seorang tukang sayur menawarkan jantung pisang.  Wah!. Sayur favorite saya waktu saya masih tinggal di  Bali. Sangat jarang saya temukan dijual di Jakarta. Segera saya turun dan menawar. Rp 2.000 untuk 3 buah jantung pisang.  Tentu saja sangat murah untuk ukuran harga sayur mayor di Jakarta yang melambung tinggi. “Biarinlah, buat Neng. Ngabisin aja” kata tukang sayurnya. Sayapun pulang dengan hati riang. Sungguh saya sangat kangen masakan traditional Bali.

Jantung pisang, bisa dimasak secara traditional dalam beberapa cara.  Bisa ditumis, disantan, dikuah ,diurab atau bahkan dipepes. Tapi kali ini saya akan memasak Tumis Jantung Pisang Pedas.  Barangkali ada yang mau resepnya?

Bahan-bahan yang dibutuhkan tidak banyak, yakni:

  1. Sebuah jantung pisang.
  2. Bawang merah
  3. Bawang putih
  4. Terasi
  5. Garam
  6. Cabe rawit.
  7. Limau .
  8. Sedikit minyak untuk menumis.

Cara membuatnya mudah:

  1.  Pertama bersihkan jantung pisang dengan  cara mengelupas lapisan terluarnya hingga tertinggal lapisan yang berwarna gading dan bersih.
  2. Belah jantung pisang menjadi 2 bagian, lalu iris tipis tipis.
  3. Jantung pisang yang umum diperjual belikan  dipasar adalah jantung dari pisang batu.  Kadang-kadang ada juga jenis jantung pisang yang terasa sedikit pahit jika kita tak bisa mengolahnya. Untuk memastikan agar sayuran tidak terasa pahit, ada baiknya kita rebus dahulu irisan jantung pisang ini. Lalu kita peras hingga airnya keluar.
  4. Iris bumbu untuk tumisan, yakni bawang merah, bawang putih dan cabe rawit.
  5. Tumis bumbu dan tambahkan sedikit terasi dan  masukkan irisan jantung pisang. Tambahkan garam dan air perasan jeruk limau secukupnya.
  6. Hidangkan dengan nasi  panas.
Advertisements

Men-“down-grade” Diri Sendiri Dengan Tak Mau Memberikan Lebih.

Standard

Seorang teman bercerita kepada saya bahwa sebenarnya ia sudah lelah dengan keadaan  di kantornya. Lima tahun bekerja keras &  selalu berusaha melakukan yang terbaik. Ia tidak merasakan sedikitpun ada kemajuan. Tidak ada apresiasi dari atasannya. Boro-boro promosi atau kenaikan pangkat.  Semakin hari ia bahkan merasa nasibnya semakin tak jelas.

“Saya sudah cape, Bu!. Makanya saya sekarang tidak mau memberikan lebih kepada perusahaan. Bekerja sesuai dengan gaji saya sajalah. Toh sama saja hasilnya.”. Katanya  dengan wajah suram. Saya merasa prihatin.

Pernyataan yang sangat jujur. Apa adanya. Dan tak pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya. Terus terang saya kaget. Dalam hati saya tidak setuju. Tapi saya belum  menemukan sepotongpun kata-kata yang tepat yang akan saya sampaikan kepadanya. Maka sayapun  terdiam juga.

 “Hmmm. Begitu ya?. Maksudnya kalau kerja sesuai dengan gaji itu gimana? Sesuai dengan job des gitu?” Tanya saya akhirnya setelah beberapa saat.  Mungkin mengaitkannya dengan Job Des agak sedikit mengada-ada.

“Ya… maksud saya, hanya  menyelesaikan pekerjaan standard sehari-hari saja. Datang tidak lebih pagi, pulang teng go. Kalau diminta tambahan kerja oleh atasan, ya saya menolak. Apalagi kalau harus sampai lembur. Mendingan saya langsung pulang saja”.

“Ooh..” kata saya sedikit lebih mengerti. Ia lalu bercerita bahwa sikapnya baru-baru ini saja berubah. Menurutnya, sebelumnya ia sangat semangat dan rajin. Namun karena kenaikan gaji terakhirnya tidak memuaskan, maka ia memutuskan untuk merubah sikap. Cuek dan tidak perduli lagi.

“ Bagaimana rasanya sekarang? Apakah sekarang merasa lebih baik dengan  sikap  seperti itu?” saya bertanya. Ia bilang sebenarnya ia merasa tak nyaman dengan apa yang dilakukannya karena menurutnya itu bukan dirinya. Lalu mengapa ia lakukan juga? Sampai titik ini, saya tidak mengerti apa untungnya jika kita melakukan perubahan sikap dari “semangat dan proaktif” menjadi ‘ hanya bekerja sebatas gaji’  seperti yang dilakukan oleh teman saya  itu.

Apakah dengan menunjukkan kinerja yang biasa-biasa saja, akan membuat kita menjadi lebih dihargai?. Lebih diperhatikan dan atau bahkan dipromosikan? Rasanya kok tidak juga ya?. Jika demikian halnya, bukankah kita justru sedang men’down grade’ diri kita sendiri dengan menurunkan standard kwalitas diri? Karyawan yang berkwalitas rendah tentu akan dibayar rendah juga.

Masih untung jika kebetulan atasan kita itu adalah orang yang sudah lama mengenal kita. Walaupun ia melihat kita saat kwalitas diri kita rendah, namun ia juga tahu saat kwalitas diri kita sedang pada puncak-puncaknya. Jadi penilaiannya mungkin masih terbawa oleh kinerja kita sebelumnya. Namun bagaimana jika atasan kita itu orang yang baru kita kenal?

Orang baru melihat kita seperti ia melihat sebuah potret.  Hanya saat itu saja.  Hanya moment saat kita dijepret kamera. Ia tidak tahu apa yang kita lakukan sebelum  cahaya kamera menyentuh wajah kita.  Jika kita tersenyum saat dipotret, orang lain akan mengatakan bahwa kita adalah orang yang murah senyum, baik dan ramah. Ia tidak tahu bahwa sebelumnya kita sempat marah-marah kepada tukang potretnya karena terlambat datang ke session pemotretan.

Demikian juga jika kita sedang  manyun saat  dijepret kamera. Maka orang lain hanya melihat kita sebagai seseorang yang kurang bahagia, sedih, atau bahkan mungkin disangkanya kita pemarah dan tukang ngadat. Ia tidak tahu bahwa sebenarnya  sehari-hari kita adalah orang yang sangat menyenangkan dan periang. Logis bukan?  Karena itulah  moment yang ia lihat saat itu.

Masalahnya adalah, semua judgement dilakukan oleh atasan yang baru kita kenal hanya  berdasarkan snapshot itu saja. Jika yang dilihat oleh atasan kita adalah saat kita menunjukkan kwalitas yang buruk, tentu buruklah penialaiannya terhadap diri kita.  Sebaliknya jika kwalitas kita baik, tentu baik pula penilaiannya.  Kita semua tentu tidak ada yang mau jika dinilai lebih buruk dari apa yang seharusnya bisa kita dapatkan bukan? Semua orang ingin diberikan nilai pada saat ia menunjukkan performance terbaiknya. Jadi mengapa kita harus mendown grade diri kita sendiri?

Dalam hemat saya, jika kita memang merasa tidak happy dengan keadaan, ada dua pendekatan yang bisa kita lakukan:

Pertama adalah berusaha berdamai dengan keadaan. Tunjukkan terus bahwa kita memang memiliki kwalitas yang terbaik. Jangan pernah membiarkan orang lain melihat kinerja kita yang buruk. Buat mereka selalu melihat bahwa standard kwalitas diri kita sangat tinggi.  Jika usaha kita tidak dilihat saat ini, maka pada suatu saat kelak kita pasti akan mendapatkan kesempatan itu.  Perlihatkan kepada orang lain bahwa kita adalah orang yang memang benar-benar mampu. Benar-benar bisa diandalkan.  Tunjukkan agar orang lain tahu. Kalau hanya kita sendiri yang merasa mampu, namun tak ada orang lain yang tahu atau mengakui kemampuan kita, tentu kemungkinan kita untuk diappresiasi akan menjadi kecil. Jadi tunjukkanlah kemampuan kita dulu. Kebanyakan atasan akan berusaha membantu anggota teamnya yang memang menunjukkan kwalitas bagus. Bila tak bisa ia lakukan saat ini, minimal ia akan terus berusaha memperjuangkannya di kemudian hari.

Jika oleh karena suatu hal, kita tak bisa mengikuti pendekatan pertama, maka pilihannya adalah kita mencari tempat lain yang memberikan kita kebermungkinan yang lebih baik. Memang belum tentu kita sukses. Tapi minimal chancenya sekarang menjadi 50%. Fifty-Fifty. 50% selalu lebih baik dibanding 0%, alias tidak ada peluang sama sekali. Ini lebih baik sebelum kita merugikan diri kita lebih jauh.  Ada pepatah yang  mengatakan bahwa “Orang bijaksana tahu kapan dan dimana ia harus berhenti”.

Jika kita tetap bertahan di sana, namun menunjukkan performance yang biasa-biasa saja maka tak akan pernah terjadi hal-hal yang menguntungkan diri kita. Orang mungkin akan menilai kita rendah dan itu akan membuat kita semakin merasa terpuruk.  Berhentilah saat semua orang masih melihat betapa tingginya kinerja kita. Dan tetaplah menunjukkan kinerja tinggi hingga ‘titik darah penghabisan’. Orang lain akan melihat ‘permata’ di dalam diri kita. “ Sayang banget ya, kalau ia sampai keluar. Padahal ia bagus…” Kemungkinan besar itu yang akan menjadi gumaman setiap orang. Apabila kita adalah sebuah merk, setidaknya Brand Equity kita masih sangat tinggi. Image diri kita baik. Kesehatan kinerja kita baik. Atasan kita sekalipun tidak akan segan merekomendasikan kinerja kita jika suatu saat kita membutuhkan rekomendasi.

Berharap kantor akan meminta kita mengundurkan diri dan memberi kita pesangon yang besar?  Ya, kalau itu terjadi.  Kalaupun terjadi, tetap saja itu akan membuat sebagian orang berpikir bahwa kita memang tidak berkwalitas. Ya itu sama saja dengan merusak diri sendiri. Orang lain akan melihat keburukan dalam diri kita. Konon rumors tentang keburukan seseorang menjalar melebihi kecepatan cahaya ( c =  299 792 458 m/detik).  Berita buruk tentang rendahnya kinerja diri kita akan segera tersiar kemana-mana. Peluang untuk majupun akan semakin sulit.

Bagaimana jika atasan tetap mendiamkan kita dan sebagai konsekwesinya kita diberi nilai buruk? Yang akhirnya  mengakibatkan kenaikan upah kita selalu lebih rendah dibanding karyawan lain? Tentu tak ada seorangpun yang menginginkan hal ini terjadi pada dirinya.

Jadi menurut hemat saya, apapun alasannya, bagaimanapun kondisinya, jika dengan cara sengaja kita membuat kinerja kita rendah ( misalnya dengan cara bekerja ‘biasa-biasa saja sesuai dengan gaji’), tak pernah ada untungnya buat diri kita.Tunjukkan bahwa kita ini memang orang yang sesungguhnya brilliant. Terang dan bercahaya!.

Seusai obrolan itu, wajah teman saya terlihat lebih nyaman. Saya berharap ia selalu menunjukkan standard kwalitas dirinya yang tinggi. Karena selama inipun kwalitasnya memang selalu tinggi. Sayapun merenungkan diri saya sendiri atas pemikiran dan kalimat-kalimat yang telah saya sampaikan kepada teman saya itu. Semoga sayapun selalu bisa menunjukkan kinerja terbaik saya setiap saat.

Cuci Mata – Gerabah Tuntang Yang Natural.

Standard

Tadi siang, saya sempat ikut melepas rombongan rekan-rekan saya bersama keluarganya  yang mau mudik. Pulang kampung ke Jawa Tengah dalam rangka Hari Raya Idhul Fitri. Ada 2 rombongan bus yang berangkat. Bus yang pertama melewati jalur Pantura dan berakhir di Solo. Dan yang satunya lagi menyusur jalur selatan, lewat Kebumen lalu berakhir di Solo juga. Saya membayangkan sebuah perjalanan yang sangat menyenangkan sambil melihat-lihat pemandangan di kiri kanan jalan. Sudah lama saya tidak naik bis antar kota. Read the rest of this entry

Tentang Kemauan Yang Kuat.

Standard

Anak saya yang kecil sangat menyukai sepakbola. Saya pikir kesukaan akan sepakbola ini umum pada anak laki-laki. Oleh karenanya saya tidak terlalu memperhatikan hobbynya itu. Lagipula saya memang tidak terlalu suka permainan sepakbola. Saat anak saya minta dibelikan bola, maka saya antar ia ke outlet yang menjual berbagai jenis bola agar anak saya bisa memilih bola yang ia sukai. Saya tidak ikut campur memilih. Demikian juga saat ia  minta dibelikan sepatu sepakbola, saya berusaha mencarikan sepatu bola yang tapaknya bergerigi & sesuai dengan ukuran kakinya. Tentu saja semua itu saya lakukan karena kebetulan saya sedang memiliki sedikit rejeki saat itu. Apalah salahnya mengeluarkan uang untuk mendukung keinginan anak yang positif.

Setiap hari saya lihat ia berlatih menendang dan menggiring bola. Biasanya bersama teman-teman dekatnya di rumah. Walaupun sedang  sendirian, iapun tetap asyik saja berlatih. Mulai dari halaman belakang rumah, halaman depan, di ruang tamu, di kamar tidur, lahan kosong di sebelah rumah, di sekolah dan bahkan di jalanan depan rumah utama pada jam-jam dimana tidak ada kendaraan yang melintas. Ia terus berlatih dan berlatih. Saya hanya melihatnya sepintas dan tak pernah memandangnya sebagai suatu keistimewaan. Seorang anak laki kecil bermain bola. So what? Semua anak laki  melakukannya.

Pada suatu hari  saya melihatnya sedang mengamat-amati sepatu bolanya. Saya menghentikan langkah saya sejenak, melihat apa yang sedang dilakukannya dengan sepatu bola itu  dan menjawir pipinya. Ia berkata kepada saya bahwa ia ingin sekali dipilih  untuk masuk dalam tim sepakbola sekolahnya yang dengan bangga ia beri istilah sebagai “Timnas”.  Timnas sekolah!

“Oh ya. Tentu saja. Itu suatu hal yang sangat bagus” Kata saya memberi support. “Teruslah berlatih, suatu saat pasti bisa terpilih” kata saya lagi.  Anak saya lalu bercerita bahwa yang ingin terpilih masuk Timnas itu banyak sekali. Jadi mulai sekarang ia akan berlatih dengan lebih giat lagi agar ia terpilih.  Saya senang dengan kemauannya itu. Namun sebenarnya jauh di dalam tempurung kepala saya berpikir, sebenarnya anak saya terlalu kecil untuk terpilih masuk Timnas. Masalahnya adalah ia baru kelas 3, dan badannya kurus dan kecil. Sementara yang akan diajak bersaing banyak juga yang dari kelas 4, kelas 5 dan kelas 6 yang sudah pasti bertubuh jauh lebih besar dan lebih kuat dari anak saya.

Makanya, selain berlatih yang tekun, makanlah yang banyak dan  minum susu yang rajin biar tulangnya kuat” nasihat saya. Anak saya setuju dan setelah itu segera berlatih menendang lagi.

Malam harinya setelah anak-anak tidur saya ngobrol dengan suami saya tentang anak-anak. Saya bercerita tentang kemauan anak saya berlatih menendang bola dan keinginannya masuk ke Timnas sekolahnya. Rupanya suami sayapun sudah terup-date soal itu. Saya lalu menyampaikan concern saya tentang tubuh anak saya yang kecil.  Dengan umur dan tubuh sekecil itu, sangat kecil kemungkinan ia bisa terpilih masuk timnas. Saya membayangkan dengan getir bagaimana jadinya seandainya ternyata anak saya tidak terpilih. Apa yang akan terjadi? Tentu ia sangat kecewa dan sedih jika sampai terjadi. Terutama jika ia merasa terlah berlatih keras namun ternyata tak terpilih juga.

Suami saya kelihatannya juga memikirkan hal yang sama, namun seperti biasanya ia tidak mau menambah kekhawatiran saya dengan komentarnya. “Lihat saja nanti!” sarannya sambil menutup pembicaraan. Dan saya mengeri bahwa tak ada gunanya lagi membahas topic itu.

Hari hari berjalan. Saya lihat anak saya masih tekun dengan bolanya.Saya berusaha tidak memikirkan apa-apa tentang keinginannnya itu. Tetap memberinya semangat, bahwa suatu saat ia pasti mampu kalau terus berusaha. Hingga pagi tadi, saya lihat ia memasukkan pakaian olahraga dan sepatu bolanya yang berwarna merah ke dalam tas. Ia berangkat dengan hati riang. Saya hanya tersenyum melihat semangatnya.

Sore hari begitu pulang dari kantor,  anak saya bercerita dengan penuh semangat. Ia ketinggalan psp-nya di rumah, sehingga tak  bisa main psp saat di perjalanan pulang sekolah. “ Nggak apa-apa ngga main psp. Aku senang hari ini. Yang penting bisa masuk Timnas” Katanya.  Hah??!!. Rupanya ia berhasil memenuhi cita-citanya sendiri untuk terpilih masuk Timnas sekolahnya. Wah, luarbiasa!. Terus terang saya kaget  dan nyaris tidak percaya mengingat  apa yang pernah saya khawatirkan sebelumnya. Dengan umur yang masih muda dan tubuh yang kecil, kurus dan terlihat fragile, rasanya tak mungkin mampu bersaing dengan teman-temannya yang berbadan jauh lebih besar dan kuat.

Tentu saja saya bangga, namun lebih dari itu saya merasa bahwa anak saya telah memberi sebuah pelajaran berharga  bagi saya . Jika kita memiliki kemauan yang kuat untuk sukses,  pasti kita akan mampu mencapainya.  Tidak masalah betapapun kecil dan tak berdayanya kita. Jika kita menginginkan sesuatu, berusahalah dengan keras untuk mendapatkannya!.  Suatu nasihat yang sangat klise dan sering kita dengar. Namun faktanya bagi saya, bahwa anak saya yang kecil benar-benar memberi saya contoh yang nyata tentang kemauan yang kuat dan hubungannya dengan kesuksesan itu.  Memang skalanya kecil, namun hal itu membuat saya jadi merefleksi ke dalam diri saya sendiri. Apakah saya sudah  memiliki kemauan yang benar-benar kuat untuk mendorong diri saya agar lebih sukses dalam hidup saya?

Musang Luwak, Penghasil Kopi Premium.

Standard

Dalam suatu kesempatan pulang ke Bali, saya bermain  ke rumah sepupu saya.  Taman samping rumahnya  mirip kebon binatang yang asri penuh tanaman hias dan binatang. Sehingga saya sangat senang nongkrong di situ.  Sepupu saya sangat menyukai binatang. Ada berbagai macam burung , anjing ras, tupai dan  sebagainya. Seingat saya iapun pernah memelihara lutung dan rusa. Yang lebih menakjubkan lagi adalah puluhan  ekor  musang luwak  juga saya temukan dipelihara di sana. Ia dan istrinya sangat telaten memelihara binatang-binatang itu dan menjaganya tetap sehat. Kadang-kadang saya bergurau, barangkali ia lebih cocok menjadi dokter hewan ketimbang saya.

Namun rupanya, musang luwak itu  memang sengaja dipelihara untuk memenuhi kebutuhan produksi kopi  di bawah bendera usahanya ‘Coffee Luwak Harmoni”.  Saya mengunjungi kandang-kandang hewan itu sambil memperhatikan kesehatan binatang itu sebentar. Sungguh binatang yang sangat mengagumkan. Biasanya saya hanya melihatnya pada malam hari, melintas diam-diam di tembok belakang  rumah saya di Bintaro. Kebetulan di belakang rumah saya mengalir sebuah sungai kecil yang di kiri kananya dipenuhi tanaman bamboo yang cukup rimbun.  Kali ini saya bisa memperhatikannya lebih dekat pada siang hari.

Musang Luwak atau Civet (Paradoxurus hermaphroditus) adalah salah satu mamalia yang masuk ke dalam  keluarga Viveridae ( musang-musangan). Secara umum binatang ini bertubuh lebih besar dari kucing namun sedikit lebih kecil dari anjing, berwarna coklat, abu-abu, abu-abu kecoklatan, abu-abu hitam atau putih. Memiliki ekor yang cukup panjang yang membuat binatang ini sebenarnya terlihat cantik dan menarik juga untuk dijadikan peliharaan. Kakinya memiliki cakar.  Namun tidak seperti cakar kucing, cakar kaki musang tidak bisa dimasukkan ke bantalannya. Mata Musang Luwak terlihat penuh dengan bola mata berwarna coklat yang menarik.

Umumnya binatang ini aktif pada malam hari. Berkeliaran didaerah-daerah yang masih memiliki kerimbunan, baik  itu di hutan, tepi hutan, ladang, ataupun di pinggir pinggir  perumahan yang memiliki rimbunan bamboo atau ladang kelapa. Kadang juga bersarang di  atap rumah penduduk yang kosong. Makanannya adalah buah-buahan, serangga, tikus, unggas dan bahkan kadang-kadang dipergoki sedang mencuri ayam peliharaan yang tidak dikandangkan dengan baik. Hobinya memakan buah-buahan yang manis, termasuk buah kopi yang matang dimanfaatkan orang untuk menghasilkan kopi luwak. Kopi Luwak, sangat terkenal dengan kwalitasnya yang tinggi dan dapat kita temui di pasaran dengan harga jutaan rupiah per kg.

Untuk pemeliharaan di rumah, Musang Luwak biasanya akan mulai siap dikembangbiakan pada umur setahun dan umumnya memiliki anak 1- 4 ekor. Berikan minuman & makanan yang cukup baik berupa buah-buahan maupun daging unggas. Bersihkan kandang dengan teratur.  Beberapa penyakit  yang mungkin ditemukan pada Musang Luwak umumnya adalah penyakit yang juga kita temukan pada anjing maupun kucing seperti Distemper dan Rabies serta penyakit parasit. Jika musang terlihat sakit bawalah segera ke dokter hewan terdekat.

Mendadak Kaya vs Mendadak Miskin.

Standard

Suatu hari saya menengok seorang kerabat yang sedang sakit. Syukurlah saat saya datang, kondisi kesehatannya sudah mulai baik. Beliau terlihat senang melihat saya datang. Kami ngobrol ke kiri ke kanan. Mulai dari urusan sakitnya, tetangga, politik hingga  urusan  para kenalan dan kondisi keuangannya yang memburuk sejak pensiun. Kerabat saya itu berpendapat bahwa kemelorotan financial akibat kehilangan pekerjaan mengakibatkan beban psikis yang cukup berat.  Dan menurutnya, tidak semua orang mampu menghadapi hal ini. Kondisi keuangan yang buruk,  yang tiba-tiba datang begitu saja. Jauh berbeda dari kebiasaan hidup nyaman berkecukupan saat masih berjaya, memiliki pekerjaan ataupun usaha. Dibutuhkan sebuah kekuatan mental bagi seseorang untuk menghadapi kemelorotan financial, jika itu memang terjadi. Read the rest of this entry

Kapu-Kapu, Bunga Hijau Segar Yang Mengapung.

Standard

Siapa yang tak kenal Kapu- Kapu? Tanaman air yang sering juga disebut  dengan Apu-Apu, Kol Air, Water Lettuce (Pistia stratiotes),memiliki bentuk yang sangat mirip dengan kol. Pada awalnya saya merasa agak aneh, melihat tanaman ini diperjual-belikan di tukang-tukang tanaman di Jakarta. Karena sebenarnya tanaman ini sangat mudah kita jumpai di pedesaan. Di sawah, di sungai, selokan, kolam-kolam  maupun tempayan air.  Bahkan pada saat saya kecil di Bali, tanaman ini justru menimbulkan masalah di rumah saya. Karena menambah beban pekerjaan saat harus membersihkan kolam secara berkala akibat kelebihan populasi. Namun memahami bahwa di lahan-lahan hijau dan persawahan di Jakarta pada saat ini memang sangat terbatas, bisa dimengerti bagaimana kemudian tanaman ini bisa bernilai ekonomis sebagai tanaman hias. Karena memang bagi masyarakat perkotaan, tanaman ini jadi jarang dilihat.

Terlepas dari semua itu,  tanaman ini memang sangat cantik jika kita letakkan di tempayan maupun kolam di halaman rumah. Daunnya berwarna hijau dan muncul dari tengah jika kita pandang, juga sangat mirip dengan bunga hijau yang tengah mengapung di air. Daun tanaman ini agak tebal bertekstur lembut mirip beludru yang kedap air.  Sangat cantik terutama jika kita letakkan di pot-pot air bermulut lebar yang berkaki rendah. Sehingga kita bisa menikmati keindahannya dari atas secara optimal. Saya sengaja menempatkan Kapu-Kapu di tempayan tanaman lotus saya di depan teras rumah, untuk memberikan  efect relaxing saat bersantai di rumah karena tanaman ini mengingatkan saya akan hamparan sawah yang luas.

Mengembangbiakannya sangat mudah, cukup dengan memisahkan  anakannya yang tumbuh dari batang julurnya, lalu kita pindahkan ke tempayan yang lain. Tempatkan tempayan di halaman rumah di area yang mendapatkan cukup sinar matahari, namun tidak berlebihan.  Tanaman akan tumbuh sumbur dengan hijau segar yang menawan. Terlebih jika secara berkala dilakukan pemupukan. Saya biasanya hanya menambahkan sedikit urea beberapa bulan sekali ke dalam tempayan.   Jika terlalu banyak terpapar sinar matahari, daunnya akan cenderung berwarna hijau kekuningan.

Karena tanaman ini bersifat aquatic, perlu dipastikan agar tanaman dan wadahnya tidak menjadi sarang pembiakan nyamuk. Lakukan pemeriksaan secara berkala dan masukkan  ikan ke dalam tempayan untuk memberantas jentik-jentik nyamuk.  Jangan lupa melakukan penyiangan berkala, untuk mengurangi populasi tanaman ini. Mengapa? Karena jika populasinya terlalu banyak, maka akar tanaman ini akan memadat dalam air sehingga menggangu sirkulasi oksigen yang masuk. Tidak heran, ikanpun jadi mati karenanya. Bahkan jika kita iseng-iseng meletakkan tanaman ini pada tempayan pohon lotus dan kita biarkan demikian saja, maka dalam beberapa bulan tanaman lotus kitapun ikut mati akibat sirkulasi udara dalam air yang buruk. Oleh karena itu,  pengurangan populasi memang perlu dilakukan secara berkala.

Kisah Apel Yang Menangis.

Standard

Sejak kecil saya sangat suka menggambar.  Menggambar apa saja.  Apa saja yang saya lihat. Apa saja yang ada dalam pikiran saya.  Waktu kecil saya juga suka menghadiahkan gambar-gambar saya kepada orang yang saya cintai. Tak perduli, gambar saya bagus atau tidak dilihat oleh orang lain, saya tetap menggambar dan menggambar.  Kesukaan saya akan menggambar ini kemudian menyebabkan saya sempat bertemu dengan seorang guru  sekolah yang bersedia mengajarkan saya  seni  grafis selama beberapa hari.  Walaupun hingga sekarang saya belum mahir juga dan tidak  berkesempatan lagi bertemu dengannya, namun ada yang saya ingat tentang teman saya itu. Read the rest of this entry

Meminta Revisi Hasil Research. Tips Bagi Pemasar Pemula.

Standard
Average computing power contributed, per clien...

Image via Wikipedia

Bekerja di bagian pemasaran, membuat hidup kita penuh dengan berbagai research. Baik itu yang berkaitan dengan konsumen maupun dengan kategori, produk ataupun brand terkait. Kadang-kadang  hasil  analisa research yang dipresentasikan oleh agency tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.  Padahal untuk melakukannya, company harus mengeluarkan uang puluhan hingga ratusan juta rupiah. Atasan kita tidak puas. Atau lebih parahnya bahkan tidak bersedia menandatangani hasil research sebelum  Agency melakukan revisi. Kita meminta revisi kepada agency, namun tetap saja hasilnya belum memuaskan atasan kita. Jangankan atasan kita, bahkan diri kita sendiripun terkadang tidak puas dengan hasil kerja dari agency. Read the rest of this entry

Jarak Hias Pengundang Kupu-Kupu.

Standard

 

 

 

 

 

 

 

Salah satu tanaman hias yang sangat efektif mengundang kupu-kupu ke halaman rumah kita adalah bunga Jarak Hias (Jatropha podagrica) atau yang sering juga disebut sebagai bunga Jarak Bali. Berbagai jenis kupu-kupu yang sering hadir antara lain dari jenis Great Mormon, Kupu-kupu jeruk, Hypolimnas dan sebagainya.

Jarak Hias memiliki tampilan yang sangat menarik. Batangnya yang bergetah dan beracun, menggelembung pada bagian pangkalnya sehingga membuat tampilan tanaman hias ini terlihat kuntet. Karena pendek dan lucu, jarak hias juga banyak ditanam di dalam pot porselen dan dimanfaatkan sebagai penghias meja.  Daunnya sendiri berjari tiga  dan menyerupai trisula hijau segar. Jarak pagar  berbunga dengan sangat rajin. Bunganya yang kecil-kecil biasanya bergerombol mirip bunga karang berwarna merah jingga cerah.  Oleh karenanya sangat mudah mengundang kupu-kupu datang.

Buah Jarak Hias yang muncul di sela-sela bunganya juga terlihat cukup menarik. Dan biji ini jika sudah tua dan kering bisa kita manfaatkan untuk mengembang-biakkannya kembali. Secara umum tanaman ini mudah dirawat, sepanjang mendapatkan sinar matahari yang cukup.