Category Archives: Cuisine

Tumis Pedas Jamur Liar Daun Cemcem.

Standard
Tumis Pedas Jamur Liar Daun Cemcem.

Musim hujan. Membawa berkah dari langit. Berupa titik titik air yang membasuh bumi dan membangunkan biji biji dan benih yang tertidur di dalamnya. Terbangun untuk mewujudkan mimpi-mimpinya agar berkembang. Tak terbilang benih rerumputan, sayuran, perdu dan sebagainya yang tumbuh. Dan termasuk jamur pun bermunculan.

Di sela sela rumput halaman rumah saya pun bermunculan berbagai jenis jamur liar. Diantaranya ada jamur Barat yang bisa dimakan. Lumayan banyak juga, tapi sebagian ada yang sudah mekar kemarinnya. Tidak saya ambil yang begini. Hanya yang masih segar saja saya panen dan bawa ke dapur.

Dimasak apa jamur liar ini? . Karena memetik jamur liar adalah kenangan masa kanak-kanak waktu di kampung halaman di Bali, maka kali ini sayapuningin mengenang masa kecil dengan memasak jamur liar ini dengan bumbu traditional Bali, yakni Daun Cemcem.

Kebetulan banget ada daun Cemcem di halaman. Jadi bisa saya petik sedikit untuk masak.

Bagi teman teman yang belum tahu tentu penasaran, apa itu Daun Cemcem ya. Cemcem adalah tanaman sekeluarga dengan Kedondong. Tapi saya belum pernah melihatnya berbuah. Rasa daunnya asem seger mirip rasa buah Kedondong.

Di Bali orang menggunakan Daun Cemcem sebagai bumbu dapur atau sayuran untuk memberi rasa segar terutama pada masakan jamur, belut, siput , ayam dan sebagainya. Tapi karena pohonnya makin susah dicari, makin jarang orang masak dengan daun Cemcem.

Daun Cemcem juga banyak dijadikan jus ( Loloh Daun Cemcem) karena rasanya yang sangat segar.

Gimana cara memasaknya? Ya …sama seperti menumis sayuran lain.

1/. Bersihkan jamur. Lalu suir suir.

2/. Iris bawang merah, bawang putih dan cabe rawit.

3/. Petik daun Cemcem. Bersihkan.

4/. Masukan minyak untuk menumis ke wajan. Tunggu sampai panas.

5/. Masukkan bumbu iris, dan sefikit terasi, lalu masukkan jamur.

6/. Tambahkan sedikit air. Begitu mendidih, masukkan daun Cemcem. Aduk aduk. Tambahkan garam seperlunya.

7/. Angkat, pindahkan ke piring saji dan hidangkan.

Advertisements

Resep Masakan: Black Mushroom Vegietofu.

Standard

Black Mushroom Vegietofu!. Alias Tahu Sayuran dengan Jamur Kuping. Ini cemilan yang sumpah enaaaak bangetz. Setidaknya menurut saya.

Awalnya saya mengenal camilan ini dari seorang pembantu rumah tetangga. Bossnya sering membuat dan menjual kue yang membutuhkan banyak penggunaan Kuning Telor.

Nah…lalu Putih Telornya di kemanain? Si Mbak lalu dengan kreatif membuat Putih Telor ini sebagai campuran tahu sayuran. Nah.. dari sini terciptalah itu camilan yang enaknya bikin tetangga ketagihan. Si Mbak menjual tahu jamur kuping ini ke tetangga. Termasuk ke saya.

Sayangnya setelah si boss wafat, si Mbak tidak lagi membuat kue dan tahu sayuran. Ia tidak lagi bekerja di sana. Ia beralih profesi menjadi Tukang Nasi Uduk. Dan sayapun kehilangan tahu sayur jamur kuping buatan si Mbak.

Untuk mengurangi kangen, sesekali saya membuat sendiri camilan ini dengan meminta resep.pada si Mbak.

Bahan yang diperlukan:

Tahu putih 1bh (pilih yang empuk dan masih baru), putih telor 3 butir, jamur kuping sebungkus ( kira kira isi 4-5 buah), wortel 1 buah, bawang bombay 1/2, bawang daun 1 batang, seledri 1 tangkai, garam, gula, minyak wijen secukupnya.

Cara Membuat:

1/. Cuci bersih semua bahan. Remas/ulek tahu putih hingga hancur.

2/. Iris iris tipis lalu cincang jamur kuping. Masukkan ke dalam adonan tahu.

3/. Parut halus wortel. Masukkan ke dalam adonan.

4/. Cincang Bawang Bombay, Bawang Daun dan Seledri. Masukan ke dalam adonan.

5/. Masukkan garam, gula pasir dan minyak wijen secukupnya ke dalam adonan. Tambahkan bumbu penyedap.lain jika suka.

6/. Aduk aduk adonan. Lalu tambahkan putih telor dari 3 butir telor ayam. Aduk aduk.lagi hingga merata.

7/. Masukkan adonan tahu jamur kuping ke dalam loyang. Kukus dengan api sedang.

8/. Setelah tahu matang, keluarkan loyang. Biarkan hingga dingin.

9/. Potong potong tahu dengan ukuran sedusi selera.

10/. Gulingkan tahu di dalam.kocokan telor. Lalu goreng.

11/. Hidangkan tahu dalam keadaan hangat hangat. Bisa juga ditemani dengan cabe rawit hijau.

Resep Masakan: Serapah Kakul Gondang.

Standard
Resep Masakan: Serapah Kakul Gondang.

Senangnya pulang ke Bali. Apalagi pergi ke pasar di Bangli. Ada ada saja yang saya temukan yang membuat saya ingat akan masa kanak-kanak saya di kota kecil ini.

Kali ini saya menemukan seorang pedagang sedang menawarkan kangkung dan keong sawah. Waah… keong sawah!. Saya merasa sangat senang sekali.

Keong sawah atau dalam bahasa Balinya disebut dengan Kakul adalah salah satu bahan makanan umum untuk masyarakat agraris di pedesaan di Bali. Tetapi dengan berkurangnya sawah, dan penggunaan pestisida, tidak banyak lagi kita bisa menemukan pedagang keong di pasar.

Mumpung ketemu, akhirnya saya membeli sebanyak 2 telekos (telekos = wadah sederhana berbentuk segitiga dari daun pisang ). Harga per telekos = 3 000 rupiah. Rencananya saya mau goreng dengan bumbu Suna Cekuh.

Sampai di rumah, ternyata adik ibu saya datang dan memberi ide untuk membuat Serapah Kakul. Wah… ide yang keren. Dan juga sudah lama saya tidak menikmati hidangan yang bernama Serapah ini.

Serapah adalah hidangan traditional Bali yang terbuat dari bumbu yang terdiri atas bawang putih, kencur, kunyit, cabai besar dan kelapa ditumbuk / dihaluskan.

Cara membuat:

1/. Cuci bersih keong sawah. Potong ujung belakangnya.

2/.Rebus keong sawah. Keluarkan isi dari cangkangnya. Sisihkan.

3/. Ulek bawang putih, kencur, kunyit, cabe besar, garam untuk bumbu.

4/. Haluskan serundeng /kelapa parut.

5. Tumis bumbu halus sampai matang. Tambahkab air. Masukkan keong sawah yang sudah bersih. Panaskan hingga keong matang.

6. Tambahkan serundeng / kelapa parut yang sudah dihaluskan. Aduk -aduk hingga matang.

7. Hidangkan Serapah Kakul Gondang.

Yummy. Yuk kita coba !.

Resep Cemilan: Mangkok Jamur Shiitake Isi Ayam.

Standard

Camilan berbahan dasar Jamur adalah salah satu cemilan favorit saya untuk teman minum teh atau kopi. Kali ini saya melihat Jamur Shiitake di pajangan sebuah Super Market dan melihat harganya agak miring dibanding biasanya, saya pun mengambil 1 pack.

Jamur ini akan saya olah menjadi Mangkok Jamur Shiitake Isi Ayam.

Bahan bahannya:

1/. 1 pack Jamur Shiitake isi sekitar 20- 24 pcs.

2/. 1/4 kg daging ayam cincang.

3/. 2 butir telor ayam.

4/. 1 sendok minyak wijen.

5/. Garam secukupnya.

6./ Gula secukupnya.

7/. Daun Oregano dicincang halus.

8/. Lada secukupnya.

9/. 2 siung Bawang putih dicincang halus.

Cara membuatnya:

1/. Cuci Jamur Shiitake.

2/. Lepaskan tangkai jamur dari payungnya, sehingga payung jamur yang tertinggal membentuk mangkok.

3/. Bubuhkan garam dan gula pada payung jamur. Sisihkan.

4/. Suir suir tangkai jamur.

5/. Masukkan daging ayam giling, suiran rangkai jsmur Shitake, 2 butir telor, aduk aduk hingga merata.

Lalu tambahkan garam, gula, lada, bawang putih cincang dan minyak wijen. Aduk aduk lagi hingga rata.

6/. Masukkan adonan ayam jamur ke atas mangkok jamur Shiitake.

7/. Kukus beberapa menit hingga matang.

Mangkok Ayam Jamur siap dhidangkan setelah matang dikukus.

Pilihan lainnya untuk ibu bekerja yang tak selalu punya waktu untuk memasak, mangkok ayam jamur yang sudah matang dikukus kita masukkan ke dalam lemari pendingin. Jika mau dihidangkan:

Pilihan 1 : dipanggang.

Masukkan mangkok ayam jamur ke dalam oven. Suhu 180 °C selama 10 menit.

Pilihan 2, digoreng.

Potong mangkok ayam jamur jadi 2 atau 4 sesuai selers, tambahkan tepung bumbu lalu goreng.

Hidangkan panas panas.

Selamat mencoba.

Ketupat Merang Sukabumi.

Standard

Ketupat! Secara umum identik dengan hari raya Idul Fitri. Walaupun di beberapa daerah di Indonesia, ketupat memiliki makna adat yang lain.

Kali ini saya cuma ingin menuliskan bagaimana orang di Sukabumi menyiapkan ketupatnya untuk hari raya Lebaran. Sedikit berbeda dengan kebiasaan membuat ketupat di kampung halaman saya di Bali. Karena itu saya ingin menuliskannya.

1. Pembuatan Kulit Ketupat (Cangkang)

Ini bisa dilakukan sendiri dari janur. Tapi jaman sekarang, hanya sedikit orang yang bisa dan punya waktu untuk membuat sendiri. Kebanyakan membeli kulit ketupat yang sudah jadi di pasar.

2. Menyiapkan Beras.

Beras dicuci bersih, ditiriskan lalu dicampur dengan sedikit garam dan air kapur sirih. Garam ditambahkan agar ada rasa dan berfungsi sebagai pengawet. Kapur berfungsi agar textur ketupat menjadi kenyal.

3. Memasukkan beras ke dalam kulit ketupat.

Kulit ketupat diisi dengan beras bersih yang sudah dicampur dengan garam dan air kapur. Setiap kulit ketupat diisi setengah lebih sedikit ( sekitar 60%) dari ruang ketupatvyang tersedia, untyk memastikan agar ketupat memiliki kepadatan yang tepat dan tidak mudah basi. Jika kurang dari 60% umumnya ketupat akan terlalu lembek dan mudah rusak. Sebaliknya jika lebih dari 60% ketupat akan menjadi terlalu padat dan keras texturnya sehingga kenikmatannya berkurang.

4. Merang.

Untuk mendapatkan ketupat dengan warna coklat yang menarik, maka ketupat direbus dengan air merang padi. Selain itu air merang padi juga memberikan aroma wangi khas pada ketupat.

Cara menyiapkannya, merang padi dibakar . Setelah dibungkus dengan kain kasa, lalu dimadukkan ke dalam air untuk merebus ketupat.

5. Merebus Ketupat.

Ketupat direbus sekitar 8 jam lamanya dengan api sedang. Baru diangkat dan digantung gantung agar airnya tiris dan ketupat kering.

Selamat menyambut hari raya Idul Fitri teman teman!. Mohon maaf lahir dan bathin.

Sambel Pangi.

Standard

Ketika kita ingat akan “sesuatu”, eh… ternyata sesuatu itu tiba tiba muncul di depan kita. Pernahkah teman teman mengalami kejadian seperti itu?. Saya pernah.

Barusan saja seorang sahabat saya mengirimkan sebuah artikel tentang Kluwek dan bertanya bagaimana rasanya, apakah benar beracun dan sebagainya -karena rupanya ia belum pernah mencicipi Kluwek. Eh…pas habis itu tiba tiba saya melihat buah Kluwek di tukang sayur. Kebetulan atau bagaimana ini ya? Jadilah akhirnya saya membelinya.

Kluwek atau Kepayang, dalam bahasa Bali disebut dengan Pangi. Salah satu yang saya ingat pernah dibuat di dapur ibu saya adalah Sambel Pangi. Sangat jarang sih… tapi ngangenin juga. Buat yuk!

Selagi nemu buahnya 😀

Cara membuatnya sangat mudah.

1/. Pecahkan cangkang buah Pangi. Ambil isinya yang berwarna hitam.

2/. Ambil bawang merah, bawang putih dan cabe. Ulek bersama isi buah Pangi.

3/. Tumis dengan sedikit minyak. Tambahkan garam dan sedikit gula jika suka.

Jadi deh…

Sambel Pangi siap disantap untuk menemani lauk yang lain.

Tips Ibu Bekerja: Membuat Stock Lumpia Beku.

Standard
Tips Ibu Bekerja: Membuat Stock Lumpia Beku.

Sebagai seorang ibu, tak semua dari kita beruntung bisa mengurus anak-anak dengan exclusive di rumah. Banyak juga yang terpaksa harus bekerja meninggalkan anak di rumah. Pemecahannya, kebanyakan orang merekrut asistent rumah tangga yang handal untuk menangani urusan domestik termasuk memasak.

Tapi sayangnya hidup tak selalu semudah itu. Terkadang asistent rumah tanggapun tak ada. Atau kadang kadang masakan si Mbsk nggak cocok dengan selera anak anak dan suami.

Lalu bagaimana?.Ya…harus meras otak ya. Bikin sendiri masakan yang disukai anak-anak.

Dalam keadaan seperti itu, saya butuh hal hal yang cepat dan praktis. Salah satu yang bisa dilakukan adalah membuat makanan beku yang bisa disimpan beberapa hari dan siap dimasak lagi jika dibutuhkan.

Nah..bagaimana kalau kita membuat stock Lumpia? Ini makanan cukup mudah dibuat dan bisa kita simpan beberapa hari dalam kondisi beku. Bikinnya tentu di hari libur. Sabtu atau Minggu sehingga bisa dimanfaatkan saat hari kerja.

Kali ini saya membuat stock Lumpia hingga 70 buah. Lumayan banyak ya. Jika sekali menggoreng menghabiskan 15-20 lumpia, maka stock ini cukuplah buat nambah nambah lauk ataupun cemilan selama hari kerja.

Lumpia Udang.

Yang dibutuhkan adalah Kulit lumpia, dada ayam, udang , wortel, daun kucai / daun bawang, seledri, bawang bombai, bawang putih, garam , merica, gula, minyak wijen, kecap inggris, telor ayam. Sedikit minyak untuk menumis.

Cara membuatnya:

1/. Cuci dada ayam dan udang hingga bersih, lalu cincang halus.

2/. Siapkan bumbu rajang halus : bawang bombai, bawang putih, daun bawang /kucai, seledri. Parut wortel.

3/. Tumis ayam dan udang cincang dengan bumbu yang sudah disiapkan halus. Gunakan api kecil.

4/. Tambahkan garam, gula, merica halus, kecap inggris, minyak wijen. Aduk hingga matang lalu angkat buat isian lumpia.

5/. Bentangkan kulit lumpia. Isi dengan adonan ayam dan udang pada salah satu ujungnya, lalu lipat dan gulung.

6/. Rekatkan ujung kulit lumpia dengan telor kocok atau putih telor.

7/. Tata dalam box makanan dan masukan ke dalam Freezer.

Ambil sesuai dengan kebutuhan. Tinggal goreng saja. Biasanya stock segitu habis dalam 3 -4 hari.

Lumayan kan? Irit waktu dan irit pengeluaran.

Gandaria.

Standard

Wah..lagi musim Gandaria.

Bulan Desember, ketika buah Mangga mulai menipis dari pasaran, buah Gandaria pun bermunculan di Jakarta dan sekitarnya. Saya rasa, buah Gandaria (Bouea macrophylla) ini sangat khas Jawa bagian barat. Soalnya waktu masih tinggal di Bali saya belum kenal buah ini 😀😀😀.

Nah kalau di Jakarta malahan setiap musim pasti ketemu di tukang sayur. Biasanya saya beli untuk diulek dengan sambal terasi. Wah…mantap deh rasanya.

Tapi kali ini, berhubung sambelnya sudah kepalang dibuat dan baru ingat ada buah Gandaria di kulkas, jadi buah Gandarianya saya iris iris sajalah. Tetap enak kok!.

Nah balik lagi ke daerah asal buah Gandaria ini, saya pikir pasti dulunya di Jakarta buah ini umum banget. Sampai sampai ada satu daerah / kelurahan di Jakarta yang bernama Gandaria.

Juga di Jawa Barat. Buah ini tentunya sudah lama beredar. Hingga ada sebuah warna bahkan diberi nama Gandaria.

Ibu mertua saya pernah satu kali meminta saya mengambilkan bajunya di lemari. “Yang gandaria” kata beliau. Sayapun bergegas membuka lemari di kamar ibu mertua, mencoba mencari-cari baju dengan motif buah Gandaria yang dimaksud, tapi nggak ketemu. Karena nggak nemu, sayapun balik. “Nggak ada, Mam”. Kata saya. “Ada!. Di lemari mami!”. Sudah saya cari-cari tapi beneran nggak ada. Lalu ibu mertua saya masuk ke kamar, mengambil sebuah baju berwarna ungu dan menunjukkan ke saya “Yang ini lho!” Katanya. Astaga! Di mana gambar atau motif buah Gandarianya ya?. Saya heran.

Bukan motif gandaria. Tapi warna gandaria “. Oooh… saya melongo. Jadi ungu itu bahasa Sundanya “gandaria” ya? 😀.

Nah…dari situ saya ingat jika biji Gandaria itu memang berwarna ungu. Sangat cantik warnanya.

Rahasia Si Mbak, Bumbu Instant dan Peradaban Manusia.

Standard

Hingga remaja, saya bukanlah tukang masak yang handal. Setelah menikah, saya mulai belajar memasak, dengan tujuan agar suami dan anak-anak bisa makan dengan enak dan nyaman di rumah. Tetapi karena kesibukan dan keterbatasan waktu, belakangan tugas memasak di rumah lebih sering diambil alih oleh si Mbak yang membantu di rumah. Saya hanya sekali sekali saja ke dapur jika ada waktu.

Nah…saya mau cerita sedikit nih tentang urusan masak memasak.

Saya dan suami memiliki selera makan yang berbeda. Tapi sebagai istri, saya berusaha belajar memasak makanan kesukaan suami seperti sayur asem, sayur lodeh, pepes oncom, dsb, di luar upaya saya memperkenalkan juga masakan Bali seperti pelecing kangkung, sate lilit, ayam sisit, dsb di lidahnya. Di luar itu, anak-anak ternyata lebih menyukai masakan modern seperti European food atau Japanese food.

Sebenarnya tidak seruwet yang dibayangkan. Karena di luar itu ada juga jenis masakan yang kami semua menyukainya. Misalnya nasi goreng, bihun goreng, telor dadar, perkedel kentang dan sebagainya.

Jadi perbedaan selera makan itu tak menjadi halangan buat saya. Justru memicu saya untuk terus belajar banyak resep masakan, dan mengenal berbagai jenis bumbu seperti bawang merah putih, bombay, cabe, sereh, lengkuas, kunyit, limau, kencur, jahe, pala, ketumbar, lada, seledri, asem, jinten, kemiri, salam, terasi, kayu manis dan sebagainya serta takarannya, juga termasuk bumbu dapur lain seperti rosemary, parsley, sage, thyme, oregano, wansui, wasabi dan sebagainya. Jika perlu tanaman bumbu itu saya tanam di rumah.

Yang paling penting dari proses memasak adalah di tahap persiapan. Membersihkan bahan dan bumbu, memotong, mengulek dan mencampur. Karena jika tak tahu resep, atau takaran bumbunya kurang tepat, tentu rasa masakan akan jadi amburadul. Karena itu biasanya saya luangkan waktu lebih di stage persiapan ini. Menurut saya, memasak yang benar itu sungguh butuh waktu.

Nah…bagaimana jika tugas masak memasak ini dihibahkan kepada pembantu rumah tangga?.

Sejak tinggal di rumah yang saya tempati sekarang, banyak pembantu rumah tangga yang pernah tinggal silih berganti di sini. Dengan ragam kemampuan memasak yang berbeda. Ada yang berbakat memasak dari sononya, ada yang sudah berpengalaman masak dari tempat bekerja sebelumnya, ada yang belum bisa masak, ada yang sama sekali tidak berbakat memasak.

Pembantu rumah tangga terakhir yang bekerja di rumah saya termasuk pintar memasak. Masakannya tergolong enak dan mudah diterima di lidah. Jika saya ajarkan resep masakan baru, dengan cukup cepat ia bisa mengcopynya. Walaupun kadang-kadang kwalitas masakannya juga menurun jika ia telah melakukan berulang-ulang. Misalnya membuat klapper tart, aslinya empuk lama lama menjadi keras. Belakangan saya tahu, penurunan kwalitas itu disebabkan karena ia merubah komposisi bahan dan skipping satu langkah penting dari proses memasak itu dengan tujuan biar cepat selesai.

Tapi ada jenis jenis masakan tertentu yang ia bisa masak dengan cita rasa yang konsisten enak dari waktu ke waktu dan bisa ia hidangkan dalam waktu yang relative singkat juga. Misalnya ayam goreng, nasi goreng, soto ayam, sayur asem dan sebagainya. Untuk hal ini saya harus acungkan jempol lah ya. Karena kita perlu memuji seseorang jika memang pekerjaannya bagus.

Suatu hari apes nasib saya, si Mbak ini confirm bilang mau keluar setelah mengambil cuti beberapa hari. Dan ia meminta saya untuk mencari penggantinya. Ya sudahlah. Karena mencari pengganti juga tidak mudah, maka selama itu saya kembali lagi ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi, makan siang dan makan malam keluarga di sela sela kesibukan kantor. Kadang kadang saya beli lauk juga kalau sudah kepepet atau kelelahan dari kantor.

Saat

memeriksa dapur saya menemukan beberapa bungkus bumbu instan. Ada yang masih utuh, ada yang sudah terpakai setengahnya. Ada bumbu ayam, bumbu soto ayam. … wah bumbu nasi goreng juga ada. Semuanya instant. Nggak perlu mikir-mikir berapa banyak tajaran bawang merahnya, bawang putihnya, atau jahenya.

Hmm…. saya mengamatinya. Jadi??????? Selama ini si Mbak yang pinter masak itu rupanya banyak menggunakan bumbu instant ya?. Jadi ini to rahasianya?. Mengapa ya saya tidak ngeh sama sekali. Kalau ke dapur, apa saja yang saya lihat ya? Kok saya belum pernah memperhatikan adanya bumbu-bumbu instant ini?. Pantesan saja rasa masakannya konsisten terus dari waktu ke waktu.

Sebenarnya sudah lama saya tahu tentang bumbu bumbu instant ini dari supermarket atau minimarket. Tapi selama ini saya tak pernah nelirik apalagi membeli. Karena saya lebih yakin akan kesehatan bahan bumbu yang segar, yang diulek sendiri apalagi yang dipetik sendiri dari kebun. Jadi jauh sekalilah pikiran saya untuk menggunakan bumbu bumbu instant ini di dapur saya.

Tapi sekarang?

Saya melihat ke kemasan-kemasan bumbu instant itu dengan hati yang galau.Rasanya sedang berada di persimpangan. Apakah saya perlu menggunakan bumbu bumbu instant ini untuk menolong hidup saya? Atau justru menolaknya karena saya tidak yakin akan dampak baik jangka panjangnya bagi kesehatan anak-anak saya.

Saya adalah wanita bekerja yang sesungguhnya tidak punya kemewahan waktu untuk berlama- lama mempersiapkan bumbu di dapur. Bukankah penemuan ini akan membantu saya untuk menyiapkan masakan dengan lebih cepat?. Jadi saya bisa lebih cepat di dapur & lebih cepat berangkat ke kantor.

Dan bumbu instant begini juga akan menolong para wanita yang tidak menguasai resep masakan jadi bisa memasak tanpa was-was suami akan suka rasanya atau tidak. Sudah tentu bumbu instant itu formulanya diracik oleh ahli masak. Jadi jangan takut tidak bisa memasak.

Tapi di satu sisi, begitu memikirkan ingredientnya, rasanya hati saya mulai mengkeret juga. Bumbu instant ini sudah pasti mengandung preservative. Jika tidak, bagaimana mengawetkannya ? Lalu apa ya dampak jangka panjangnya jika kita menelan preservative terus menerus dalam jangka waktu panjang? Juga mengandung penguat rasa, pwrasa sintetik, pengatur keasaman dan sebagainya. Tega kah saya menberikan ini dalam jangka waktu panjang untuk keluarga saya, untuk orang-orang yang saya cintai?.

Hal lain yang juga melintas di kepala saya tiba tiba adalah, bumbu instant ini nantinya akan sangat memanjakan wanita. Dengan adanya Bumbu instant ini, lama-lama mungkin juga membuat kita akan lupa pada resep resep masakan traditional. Karena tak perlu kita tahu lagi. Seseorang sudah meresepkan dan menyiapkannya. Cukup beli di supermarket dan tersaji eh dengan cepat di meja makan. Jadi untuk apa tahu resepnya?. Lama lama resep masakan akan punah dan hanya dikuasai oleh kaum industri saja.

Ini mirip dengan kalkulator yang membuat kecepatan otak kita berhitung melambat, melemah atau bahkan berhenti. Ketika kita sudah terlalu tergantung pada mesin hitung, kita tak mampu lagi bahkan menghitung tambah- kurang -kali -bagi dalam hitungan detik seperti dulu sering dilombakan oleh guru kita di sekolah dasar.

Hasil peradaban yang sangat jelas membantu manusia untuk menghadapi jaman, tetapi di sisi lain tanpa sadar juga menumpulkan kemampuan lain dari diri manusia.

Sungguh buah si malakama. Saya jadi mikir, jika suatu saat (bahkan sekarang) ketika manusia sudah sedemikian tergantungnya pada produk-produk hasil peradaban, dan tiba-tiba sebuah gangguan system membuatnya tak bisa dipakai lagi…. apakah manusia masih bisa exist? Ataukah species manusia akan jadi lumpuh dan punah pada akhirnya? Whua… pikiran yang kepanjangan.

* catatan siang bolong dari sudut dapur seorang ibu rumah tangga bekerja.

Sok Tahu…

Standard


Diantara jenis kacang-kacangan, saya sangat menyukai Kacang Macadamia. Sayangnya karena kacang itu jarang dijual di pasaran Jakarta dan jika adapun hanya di tempat tertentu saja dan harganya mahal, oleh karenanya saya hanya mampu menikmatinya sesekali saja. Paling banter 3-4 biji itupun saya dapat dari Mix Nut yang dijual di pasar. 

Dari informasi yang saya dapatkan di internet, kacang ini dibudidayakan di Australia. Karena dari 8 species yg ada, konon 7 adalah asli Australia  dan cuma 1 yang asli Sulawesi. Dan sayangnya, udah punya cuma 1 jenis, kelihatannya nggak ada pula orang kita  yang melirik dan menangkap peluang untuk  membudidayakan dan membisniskan kacang yang menurut saya super enak ini di Indonesia. Jadinya mahal deh jatuhnya….😢😢😢

Satu kali saya berhasil mendapatkan 1 kg kacang Macadamia mentah. Karena masih mentah, tentu harganya sedikit lebih miring dari yang sudah diroasted. Saya pikir saya akan panggang sendiri nantinya. “Gampanglah itu” pikir saya. 

Nah… tadi sore saya mulai menanaskan oven untuk memanggang kacang. Dengan riang gembira, saya menuang 1/2 kg kacang ini ke dalam tray dan meratakannya dengan maksud agar kacang -kacang ini mendapatkan pemanasan yang merata dan matang bersamaan. 

Karena baru pertama kali memanggang kacang, saya sebenarnya tidak tahu persis berapa lama dan berapa derajat seharusnya kacang ini dipanggang. Saya melirik sebentar. Rasanya kacangnya cukup tebal. Saya set pemanggangan di suhu 180° selama 20 menit. Cukup lama ya? Jadi kacangnya saya tinggal ke kamar dulu. “Ntar juga ovennya berbunyi sendiri jika sudah selesai” pikir saya. 

Sambil menunggu waktu, sayapun membuka buka Facebook, WA dan melihat lihat foto foto di Instagram. Jika main SosMed nggak terasa waktu berlalu. Penanda waktu oven berbunyi. Saya tidak bergegas. Masih mantengin Facebook untuk beberapa saat. Tiba-tiba saja tercium bau angit. Gosoong!!!. Waduuuh… kacang Macadamia saya gosong. 

Mama!Mama!. Kacangnya mama hangus” kata anak saya yang besar. Saya cepat bangkit dan berlari memeriksa pemanggangan. Benar saja. Gosong!. Aduuuh… sedihnya. 

Saya masih mencoba menyelamatkan beberapa biji yang terlihat agak kurang gosong diantara yang gosong gosong itu. Rasanya seperti menggigit biji kopi yang disangrai. Pahit pahit gimana gitu. Anak saya nyengir melihat kelakuan saya. 

Sedih banget sih. Tapi saya pikir saya masih punya 1/2 kg lagi. Jadi bisa saya coba panggang lagi ah. Mungkin waktu panggangnya harus saya kurangi sebentar. Saya tuang kira-kira 1/4 kg lagi di atas tray. Lalu saya masukan ke pemanggangan. Tadi kan 20 menit plus kira kira 5 menit sebelum tercium bau gosong. Coba kali ini saya set 15 menit. Mudah-mudahan aman. 

Saya tunggu 15 menit kemudian dan ternyata kacangnya…gosong lagi!. Ngwek ngwek ngwek ngwek…

Setelah kejadian itu barulah saya mencari tahu lewat  Google bagaimana caranya memanggang kacang macadamia. Ternyata kebanyakan menyarankan di suhu sekitar 100°-125°  selama 10-15 menit. Oooh! Jadi begitu ya. Pantesan kacang saya cepat gosong. Saya manggut-manggut dengan hati gundah gulana. 

Sekarang saya menyesali sikap “Sok Tahu” saya…

Untungnya (masih tetap untung juga😀😀😀), saya masih punya kacang mentah 1/4 kg lagi. Jadi besok saya harus lebih berhati-hati.