Monthly Archives: July 2013

Memijat Anak. Mengasah Naluri Ibu.

Standard

pijitAda satu hal yang sering saya lakukan hampir setiap malam sebelum tidur. Yakni memijat anak saya. Dari kaki, ke betis, paha, pantat, pinggang, punggung, leher, kepala, lalu balik lagi dan seterusnya hingga anak saya tertidur. Entah bagaimana asal muasalnya, saya sendiri tidak ingat. Anak saya akan selalu memanggil saya jika ia berhenti belajar atau bermain dan bersiap untuk tidur.

Mama! Pijitiiin ..” rengeknya dengan manja.

Kalau sudah begini, biasanya saya akan menghentikan apapun pekerjaan yang sedang saya lakukan. Misalnya sedang menulis, ya..saya berhenti menulis sejenak. Nanti kalau anak saya sudah tertidur, barulah saya lanjutkan menulis lagi. Begitu juga jika sedang menjahit, merenda dan sebagainya. Pasti saya hentikan sejenak.

Namun kadang-kadang saya benar-benar tidak bisa. Misalnya jika pekerjaan kantor sedang menumpuk dan mau tidak mau terpaksa saya bawa ke rumah. Saya lalu minta tolong pada suami saya untuk menemani anak saya tidur. “Sama papa ya? ” Anak saya biasanya menggeleng. “Mau dipijitin sama Mama” Rajuknya. Saya lalu membujuk ” Papa lebih pintar lho mijatnya“. Tapi anak saya tetap merengek minta sama mamanya saja. Waduuh! Jika benar-benar tidak bisa, maka saya terpaksa menjelaskan kepada anak saya bahwa saya sedang sangat , sangat, sangat sibuk dan tidak bisa diganggu. Anak saya sangat kecewa. Lalu sayapun melanjutkan pekerjaan saya dengan hati galau juga.

Memijat anak. Walaupun kadang-kadang terasa cape, namun tetap saya lakukan juga karena saya percaya bahwa melakukan pijatan memberi saya kesempatan kontak dengan anak saya dengan lebih baik.  Ketika memijat, kadang kadang anak saya juga mengobrol dan menceritakan pengalamannya hari itu. Kadang saya juga menemukan ada bagian tubuhnya yang membiru, terluka, benjol ataupun bentol. Jadi kesempatan itu juga saya gunakan untuk sekalian memeriksa kesehatannya.

Kalau ada yang biru, biasanya saya tanya “Kenapa biru? Kejedot ya? Dimana?“. Atau kalau ada yang baret-baret juga saya tanya “Kenapa baret?” Biasanya dari sana saya juga akan tahu apakah ia terlalu kelelahan hari itu atau tidak.

Pijatan dan sentuhan, saya percaya sebagai salah satu bentuk komunikasi ibu dengan anaknya.  Saya ingat, mendiang ibu saya pernah memberi tahu agar saya selalu mendekap anak saya di dada, untuk mengoptimalkan kontak dengan anak. Karena menurut ibu saya, kontak lewat dekapan, sentuhan dan pijatan adalah  cara yang terbaik untuk menjalin hubungan bathin ibu dengan anak. “Kita akan bisa merasakan jika terjadi sesuatu pada anak” jelas ibu saya.  Saya pikir mungkin ada benarnya juga pendapat ibu saya itu.

Percaya atau tidak, pada kenyataannya sebagai seorang ibu, saya cukup sering merasakan hal yang terjadi pada anak saya. Salah satu contohnya misalnya jika anak saya demam, kadang-kadang saya terbangun dan menyangka bahwa anak saya sedang demam (padahal sebelum tidur belum demam). Dan benar saja.. ketika saya pegang dahinya ternyata terasa panas.  Barangkali itulah yang disebut dengan naluri seorang ibu.

Advertisements

Gossip! Jangan Cerita Kepada Siapa-Siapa Ya…

Standard

KenyiriSeorang teman bercerita kepada saya betapa kesalnya ia digossipkan oleh orang-orang di lingkungannya. “Kalau memang perhatian, mengapa tidak bertanya ke aku, kok malah bercerita kepada orang-orang lain.” Keluhnya. Walaupun saya tidak tahu detail, apa yang sedang digossipkan orang-orang tentang dirinya, saya merasa kasihan mendengarnya.  Saya membayangkan seandainya saya yang menjadi dirinya. Tentu akan merasa sangat tidak nyaman.

Gossip!. Terlepas dari benar-atau tidaknya, selalu menggelitik keingintahuan. Karena pada dasarnya, manusia adalah mahluk yang dibekali ‘curiousity’ yang tinggi. Kaypo! Pengen tahu!. Selain pengen tahu, manusia adalah mahluk sosial. Yang jika memiliki sesuatu (berita), maka ingin secepatnya berbagi dengan orang lain.

Demikianlah proses gossip terjadi. Kalau saja kita tidak menyadari bahwa bergossip itu adalah perbuatan yang kurang baik, tentu kita semua akan sangat suka bergossip. Termasuk saya, tentunya. Namun, karena ajaran, berbagai kejadian dan pengalaman hidup membuat banyak orang akhirnya justru menghindarkan diri dari bergossip. Sayapun meminta teman saya itu untuk tidak usah bercerita lagi kepada orang lain. Karena orang lain belum tentu menolong. Selain itu menceritakan kekesalan hati berulang kali bukannya menyembuhkan, namun justru menambah kesal. Lebih baik cari pemecahan masalahnya dan kalau perlu klarifikasi untuk menghentikan gossip yang beredar.

Mendengarkan Gossip.

Seringkali kita tak mampu menghindarkan diri dari mendengarkan gossip. Misalnya jika  gossip  itu berawal dari curhat biasa seorang teman. Si A mengeluh bahwa ia diperlakukan begini oleh Si B.  Lalu mulai menceritakan kesalahan yang dilakukan oleh si B yang kemudian berkembang menjadi gossip.

Pengalaman saya mengatakan, jika mendengarkan curhat seperti ini biasanya kita cenderung akan  bersimphaty kepada pencurhat.  Kita juga cenderung akan mencocok-cocokan apa yang ia katakan dengan pengalaman kita sendiri. Dan … terbawa ikut berpikir negative, lalu mengiyakan apa yang dikatakan oleh si pencurhat.

Padahal kita baru mendengar sepihak dari sudut pandang si pencurhat, yakni Si A dan belum mendengar dari sudut pandang yang sebaliknya – yaitu Si B.  Bagaimana jika yang bercurhat-ria adalah Si B? Barangkali simphaty kitapun akan lebih tertuju kepada Si B dan bukan kepada Si A?

Lebih parah lagi, terkadang kitapun ikut terpancing menceritakan sedikit kejelekan yang kita ketahui tentang orang yang bersangkutan kepada si pencurhat, yang mengakibatkan masalah sepele itu kemudian menjadi besar dan berkobar.  Tanpa kita sadari, kitapun jadi ikut terlibat dalam lingkaran gossip itu.

Saya pernah mengetahui sebuah kejadian seorang teman. Sebutlah namanya Si C yang tadinya hanya bertindak sebagai pendengar curhat, ikut  terpancing sedikit mengemukakan pendapatnya yang negative terhadap orang lain.  Namun sungguh aneh!. Cerita si C  justru yang merebak kemana-mana dan menjadi tajuk berita. Akhirnya ia menjadi tertuduh sebagai pelaku gossip. Padahal Si C hanya bercerita 5% saja, sementara si pencurhat yang bercerita 95% kejelekan orang tidak terpublikasi.

Mengingat itu, maka saya  selalu berusaha berhati-hati  mendengarkan  curhat dan gossip.  Berusaha menahan diri agar jangan sampai ikut terbawa  berpendapat buruk yang belum tentu benar.  Terutama jika yang curhat adalah orang yang belum saya percayai dan kenal dengan baik.

Gossip Bekerja Melebihi Kecepatan Suara.

Teringat cerita dari suami saya. Pernah suatu masa di kantornya banyak sekali gossip yang beredar. Tembok dan langit-langit kantorpun terasa bertelinga dan berlidah. Apapun curhat yang disampaikan, pasti sampai ke telinga orang banyak dengan sedemikian cepatnya. “Melebihi kecepatan suara.”istilahnya.

Suami saya mengidentifikasi seorang rekan kerjanya yang sangat hobby bergossip. Ia sebut sebagai Biang Gossip. Namun yang bersangkutan tidak pernah mau mengaku dan merasa dirinya bukan biang gossip seperti yang dituduhkan orang.  Karena tetap tidak mau mengaku, suami sayapun mengarang sebuah berita bohong bahwa dirinya akan resign dalam waktu dekat . Berita karangan itu hanya ia ceritakan kepada si Biang Gossip dan tidak kepada orang lain. Diawali dengan kata khas cerita gossip “Eh..tahu nggak? “ dan disertai dengan pesan penutup  “Jangan bilang-bilang ya…”.

Tujuannya untuk membuktikan bahwa dialah si Biang Gossip dan sekaligus untuk mengukur kecepatan gossip berkembang di gedung kantor itu. Benar saja, hanya dalam hitungan  lima menit,  seorang rekan di department lain yang cukup dekat dengannya menelpon dan bertanya, apakah benar ia akan resign dari perusahaan dalam waktu dekat. Ha ha ha..

Perilaku Yang Bernilai Berita.

Gossip adalah berita kasak kusuk yang tidak diketahui kebenarannya. Gossip akan merebak dengan baik, jika memiliki NILAI BERITA. Dan Nilai Berita erat kaitannya dengan perilaku yang luar biasa..alias diluar kebiasaan umum.

Misalnya, saya ambil contoh di kantor – perselingkuhan dengan rekan kerja, akan sangat mudah sekali dijadikan bahan gossip. Mengapa? Karena seperti kata pepatah, saat kita jatuh cinta “Dunia  terasa hanya milik kita berdua”. Kita tidak sadar bahwa setiap gerak-gerik kita, tatapan mata kita, senyum kita dan sebagainya diamati oleh orang sekantor. Karena pandangan kita berfokus hanya pada si dia, kita pikir orang lain tidak tahu.  Bagaimanapun kita berusaha keras untuk menutup-nutupi, orang lain tetap akan membaca.  Mungkin banyak yang pura-pura tidak tahu, atau tidak perduli, tapi sebenarnya mereka tahu.

Dan jatuh cinta membuat “Tai kucingpun rasa coklat”.  Oleh karenanya kita akan semakin bertindak aneh menurut takaran umum. Kita akan cenderung memberi fasilitas lebih dan memberikan perlakuan istimewa kepada si dia. Sementara kepada yang lain, tidak. Dan bagaimanapun kita mencoba mengalihkan perhatian orang dengan mencoba juga memberikan perhatian yang setara (menurut kita) kepada yang lainnya, tetap saja orang lain akan bisa membaca bahwa itu berbeda. Orang justru akan melihat kita berpura-pura dan membaca strategy pengalihan perhatian itu.

Mengapa begitu? Karena sebagian besar orang di usia kerja, sudah pernah jatuh cinta. Dan mereka bukan orang bodoh. Tentu saja tidak bisa dibohongi.

Demikian juga kelakuan lain yang tidak umum, seperti  misalnya berpakaian yang kurang biasa, korupsi, kong kalikong, memberikan bisnis kantor dengan teman atau kerabat kita (nepotisme)dan sebagainya.  Semuanya akan mudah memancing pembicaraan orang. Sebaliknya jika kita bertindak biasa-biasa saja, bersih dan tidak ada sesuatu yang ditutup-tutupi, tentu tidak akan memancing orang membicarakan diri kita.

Menghindarkan diri untuk berprilaku yang berbeda dengan norma umum, akan sangat membantu kita untuk tidak dijadikan sasaran gossip.

Liburan!. Menggambar, Yuk!

Standard

IMG_4458Liburan Sekolah!. Sebulan lamanya. Sayang, saya  hanya bisa menemani anak-anak pada akhir pekan saja, mengingat pekerjaan yang menumpuk di kantor.  Jika tidak melakukan sesuatu selama liburan ini, tentu akan lewat begitu saja tanpa kenangan.  Jadi saya pikir tidak ada salahnya mengajak anak-anak melakukan kegiatan yang menyenangkan di rumah saat akhir pekan. Salah satu aktifitas yang  saya pilih kali ini  adalah menggambar!.

Menggambar adalah salah satu kegiatan yang sering saya lakukan saat kecil. Menggambar apa saja. Bunga, binatang, pepohonan, orang, dan sebagainya. Sangat menyenangkan! Karena kita bisa menuangkan isi pikiran kita sebebas-bebasnya. Nah saya pikir apa salahnya saya juga ikut bersenang-senang seperti masa kecil dulu lagi?  Itung-itung latihan melemaskan tangan kembali.

Sudah lama saya tidak menggambar. Tentu akan terasa sangat kaku, karena sudah tak terbiasa lagi memegang kuas  ataupun pencil. Anak-anak saya bebaskan apakah hanya ingin menonton saja, atau ingin ikut berpartisipasi menggambar. Jangan takut salah atau gambarnya jelek – karena kalaupun gambarnya jelek, tidak akan ada orang yang akan menjebloskan kita ke penjara juga. Jadi, ekspresikanlah kebebasan pikiranmu sesukanya di atas kanvas, selagi bisa.

Saya sediakan kanvas, buku gambar,  berbagai jenis cat, kuas dan pencil. Terserah mau menggambar apa, mau menggambar dengan  media apa. Tapi akhirnya kami sepakat untuk menggambar sesuatu yang kita lihat di alam saja. Sesuatu yang menyenangkan hati kita.

Alam adalah sumber inspirasi terbaik. Kapanpun dan dimanapun kita kehabisan ide, kita hanya perlu menengok apa yang ada di sekitar kita. Dan tanpa kita sadari, berjuta-juta ide bisa datang dengan tiba-tiba. Di bawah ini adalah beberapa gambar yang dihasilkan dengan mengambil inspirasi dari alam.

IMG_4470Inspirasi Kupu-Kupu Mata Biru.

Gambar ini terinspirasi oleh Kupu-kupu Mata Biru alias Blue Buckeye Butterfly (Junonia coenia) yang banyak beterbangan di halaman rumah dan sekitarnya. Kupu-kupu berukuran kecil ini sangat menarik untuk digambar, mengingat warnanya yang sangat menarik. Kombinasi warna hitam dengan biru yang cemerlang dilengkapi dengan sapuan warna krem terang di ujung sayap atasnya. Yang sangat jelas dari kUpu-kupu ini adalah adanya dua bulatan mirip mata yang sangat menonjol di bagian bawah dari sayap bawah kupu-kupu ini.

Untuk membuatnya terlihat menarik, kita bisa membubuhkan gambar Bunga  Ratna alias Globe Amaranth (Gomphrena globusa) yang emmang disukai oleh jenis kupu-kupu ini.

IMG_4465Inspirasi dari Kupu-Kupu Renda.

Gambar ini terinspirasi dari Kupu-Kupu Hypolimnas betina yang sangat feminin, dimana pinggir sayapnya dipenuhi dengan totol-totol putih diatas dasar hitam yang sangat mirip dengan renda. Kebetulan kupu-kupu ini juga sangat rajin mengunjungi halaman rumah saya, sehingga sangat gampang untuk mengamatinya.  Warna sayapnya sangat menyolok. Memiliki latar belakang hitam, dengan porsi warna putih yang cukup dominant terutama pada bagian sayap bawahnya dan sedikit warna merah jingga terang yang sangat “stand-out’  pada bagian sayap atasnya.

Untuk membuatnya lebih menarik, kita bisa  membubuhkan gambar bunga Zinia (bunga kertas) di sekitarnya.

IMG_4458

Inspirasi Dari Kupu-Kupu Papilio Biru.

Gambar ini terinspirasi dari Kupu-kupu Papilio nareus Blue yang terbang cepat mengintari halaman, mencari nektar dari satu bunga ke bunga yang lainnya.  Sangat menyenangkan melihatnya, karena warnanya benar-benar sangat indah.  Balok balok biru yang berjajar dengan latar belakang warna coklat gelap kehitaman. Ada sedikit sapuan warna merah pada sisi bawah sayapnya yang hanya terlihat dari samping jika kupu-kupu sedang terbang. Warna merah ini tidak terdapat pada sisi atas  sayap. Salah satu bunga yang disukai oleh Papilio biru ini adalah bunga Zinia.

Gambar dibuat dengan cat acrilic diatas kanvas warna putih.

Liburan!. Mengajak Anak Bepergian.

Standard

bepergian dengan anakMusim liburan sekolah! Sebagian ada yang sudah mulai sejak pertengahan Juni, dan sebagian lagi ada yang baru mulai belakangan.  Kita para orangtua, tentu ada juga  yang ingin ikut mengambil cuti agar bisa menikmati waktu yang lebih optimal bersama anak-anak. Ada yang menghabiskan waktu di rumah, namun ada juga yang merencanakan  liburan di luar kota. Entah pulang kampung ataupun berwisata. Bagi pasangan yang pertama kalinya membawa anak-anak bepergian ke luar kota, tentu banyak persiapan yang harus dilakukan dan terasa merepotkan.

Berikut adalah beberapa tips yang bisa saya sampaikan, barangkali  ada gunanya:

1.    Menetapkan Tujuan Berlibur.

Pilih beberapa tempat tujuan berlibur  yang kira-kira menarik dan sesuai budget untuk dinikmati bersama anak-anak, lalu tetapkan satu tujuan yang paling tepat. Diskusikan  dan libatkan anak dalam menetapkan tujuan wisata. Hal ini penting untuk mengurangi kerewelan anak selama di perjalanan, karena tempat  wisata yang dituju adalah pilihan atau atas persetujuan mereka juga. Dengan sendirinya jika ada sesuatu yang kurang menyenangkan terjadi selama liburan, anak-anak akan lebih bisa menerima, ketimbang jika tujuan wisata itu ditetapkan sendiri oleh orangtua.

2.    Ticket Dan Reservasi Hotel.

Bebeapa perjalanan bisa ditempuh lewat jalur darat, entah dengan kendaraan roda dua, roda empat atau kereta api, ada yang bisa ditempuh lewat jalur laut ataupun  udara.

  1. Terutama jika menggunakan pesawat udara, rencanakan perjalanan dan book ticket jauh-jauh hari sebelumnya untuk mendapatkan biaya yang termurah.  Book ticket secara on-line juga sangat praktis dilakukan. Jika beruntung, terkadang kita bisa mendapatkan ticket promo yang harganya sangat miring dibanding dengan harga ticket normalnya.
  2. Jika berencana menginap, carilah informasi mengenai lokasi serta rate hotel di sekitar area yang akan kita kunjungi. Melakukan reservasi /book secara online  juga seringkali membantu kita dalam mendapatkan rate hotel yang terbaik. Cek untuk setiap term & condition yang berlaku. Pastikan kamar yang kita book memungkinkan untuk membawa anak-anak/ boleh menggunakan kasur tambahan. Jika tidak hati-hati di depan, bisa membuat biaya penginapan kita membengkak.

3.    Persiapan Dan Perlengkapan Yang Dibawa.

Pelajari segala sesuatu tentang tempat yang akan kita tuju. Iklim, cuaca, temperature udara, peraturan yang berlaku, kebiasaan penduduk setempat, tempat-tempat menarik yang bisa dikunjungi/menarik bagi anak-anak – misalnya wahana permainan,  taman satwa, tempat berenang dan sebagainya.  Hal ini penting untuk memastikan kelancaran aktifitas bersama anak-anak di sana, jenis barang yang harus kita bawa dan memastikan efisiensi waktu.

  1. Jika perlu, book ticket untuk wahana permainan secara on-line, sehingga kita tidak perlu berlama-lama mengantri di loket pada saat berada di sana. Tinggal masuk saja. Prakis!.
  2. Informasikan kepada anak-anak dan suami, mengenai jadwal perjalanan dan rencana detailnya. Minta agar mereka ikut berpartisipasi untuk membuatnya menjadi menyenangkan.
  3. Siapkan semua keperluan yang akan dibawa. Usahakan sesedikit mungkin, seefisien dan sepraktis mungkin.
    1. Bawa pakaian secukupnya – kecuali untuk anak-anak, ada baiknya tambahkan masing-masing 1 stel untuk berjaga-jaga.
    2. Bawa perlengkapan obat standard yang penting-penting saja untuk berjaga-jaga jika anak jatuh sakit dalam perjalanan: Obat penurun demam, obat batuk dan obat tertentu jika anak mengidap penyakit tertentu. Misalnya obat anti allergy jika anak kebetulan pengidap allergy parah, dsb – jika perlu saja. Pastikan obat terkemas dalam keadaan baik agar tidak tumpah.
    3. Untuk mencegah kebosanan pada anak, bawa benda-benda kecil yang tidak terlalu berat misalnya: permen atau biscuit kecil (untuk mencegah kebosanan dan berjaga jika anak-anak merasa lapar sebelum kita sempat bertemu tempat makan yang menurut kita aman untuk anak-anak); sebuah mainan yang ringan,  buku, dsb.
    4.  Pastikan selalu untuk membawa tissue di dalam tas tangan kita. Sangat menolong saat anak-anak belepotan, ingusan dan sebagainya.
    5. Kamera saku jika ada, juga sangat penting untuk mengabadikan kenangan liburan bersama anak-anak.

4.    Dokumen Perjalanan.

Jika melakukan perjalanan ke luar negeri, persiapkan dokumen perjalanan yang diperlukan jauh-jauh hari  sebelumnya.  Tidak seperti yang dipersepsikan orang-orang jaman dulu, mengurus sendiri dokumen untuk anak-anak di Imigrasi, pada saat ini bukanlah pekerjaan yang sulit dilakukan. Pengalaman saya mengurus sendiri dokumen anak-anak di kantor Imigrasi di Tangerang sangatlah mudah dan transparant. Petugas imigrasi  mulai dari satpam, front office hingga officer-nya sangatlah ramah dan membantu, sepanjang kita memenuhi semua ketentuan dan persyaratan yang berlaku.

5.    Tepat waktu di Bandara.

Bangunkan anak-anak lebih awal dari biasanya – jika perjalanan kebetulan menggunakan pesawat pagi. Dibutuhkan waktu yang tepat untuk tiba di bandara. Satu jam sebelum penerbangan local dan satu setengah jam sebelum penerbangan ke luar negeri. Kita juga perlu memperhitungkan kemacetan dalam perjalanan. Berangkat lebih awal tentu lebih baik. Demikian juga pada saat kepulangan. Usahakan agar selalu tepat waktu di bandara.

6.    Menjadi guide yang baik.

Tuntun anak-anak agar mendapatkan yang optimal dari setiap hal yang ia lihat, dengar dan alami di perjalanan. Misalnya jika kita mengunjungi candi Borobudur di Jawa Tengah, tentu sangat baik jika kita mempelajari dan mencari tahu terlebih dahulu tentang sejarah dan fakta-fakta seputar candi itu (tahun berapa dibuat, siapa yang membuat, apa gunanya, struktur bangunannya, fitur-fitur yang ada dan maknanya, dan sebagainya) sehingga kita bisa menjelaskan kepada anak-anak dengan baik. Jika kita kurang menguasai informasi tempat itu, ada baiknya juga berbincang-bincang dengan petugas atau penduduk local guna mendapatkan informai tambahan yang lebih baik. Demikian seterusnya untuk tempat-tempat yang lain.

7.      Jaga Kesehatan.

Betapapun menyenangkannya suasana liburan, orangtua perlu memastikan bahwa semua aktifitas yang dilakukan oleh anak-anak, tidak ada yang berlebihan yang menyebabkan anak menjadi terlalu kelelahan dan jatuh sakit. Selalu pastikan agar makanan yang dimakan selama perjalanan adalah makanan yang menunjang kesehatannya dengan baik. Anjurkan anak-anak untuk mengkonsumsi buah-buahan segar lebih banyak. Pastikan anak-anak beristirahat dengan cukup.

Demikian semoga membantu. Selamat berlibur!.

Lima Menit Yang Berharga.

Standard

jakartaSaya sedang dalam perjalanan pulang dari kantor malam ini ketika mendengar suara ambulans menguing-nguing minta jalan di lajur yang saya lalui. Pak Supir yang mengantarkan saya pulang tetap menyetir kendaraan dengan tenang pada jalurnya. Ambulans terus menguing dan mendekati kendaraan saya.  Karena tidak melihat ada usaha yang cukup berarti untuk memberikan jalan kepada ambulans di belakang kami, maka sayapun meminta tolong Pak Supir agar minggir sedikit, ambil jalur kiri guna memberikan jalan yang cukup bagi ambulans untuk melintas. Ambulanspun lewat. Kami melanjutkan perjalanan kembali di jalur sebelumnya.

Kurang lebih lima menit kemudian, sebuah ambulans  lain lewat kembali. Menguing-nguing dengan nada yang sangat menyedihkan. Nguing nguing nguing…akhirnya berada tepat di belakang saya. Sekali lagi saya melihat tidak ada upaya dari Pak Supir untuk minggir. Akhirnya sayapun menegurnya. Memintanya untuk pindah ke jalur kiri dan sisihkan jalan untuk ambulans agar lewat.

Entah apa yang terjadi malam ini, saya bertemu dengan 2 ambulans di ruas jalan yang sama dengan selisih waktu kurang lebih hanya lima menit.  Sebuah kebetulan. Namun justru kebetulan ini memberi saya kesadaran bahwa ternyata tidak semua orang memahami akan pentingnya mengalah  di jalan raya dan membantu membebaskan jalur bagi  setiap ambulans yang lewat.

Sayapun lalu mengingatkan  Pak Supir, bahwa seringkali yang ada di dalam ambulans adalah orang sakit yang membutuhkan pertolongan darurat. Dan banyak sekali diantaranya yang sesungguhnya masih bisa diselamatkan jika saja pertolongan yang diberikan sangat cepat. Misalnya orang yang kecelakaan, orang yang mengalami stroke, serangan jantung dan sebagainya. Lima menit saja lebih cepat, mungkin akan sangat besar artinya bagi pasien dan keluarganya. Jadi  kita semua harus berusaha ikut membantu sesama dengan mengalahkan rasa ego kita di jalan raya dan memberikan kesempatan bagi ambulans untuk melintas terlebuh dahulu.

Ooh..begitu ya, Bu. Saya baru tahu, kalau beda lima menit itu bisa berbeda jadinya” Jawab Pak Supir yang segera saya iyakan.  Sayapun meminta tolong agar ia selalu bersikap mengalah , dimanapun dan kapanpun bersusulan jalan dengan ambulans.

Kadang-kadang sirine itu bukan untuk orang sakit”. Ada pendapat begitu. Ya benar. Kadang  isi ambulans adalah jenasah yang sebenarnya tidak perlu dibawa ngebut, tapi tentu tidak ada salahnya kita menghormati orang yang sudah meninggal atau memudahkan jalan bagi keluarga yang sedang kedukaan, dengan cara membantu memberinya jalan. Pun jika ambulans itu kosong, mungkin sedang menjemput orang yang sedang butuh pertolongan darurat. Tetap akan sangat membantu orang lain.

Lima menit  lebih lambat buat kita mungkin tidak banyak bedanya. Namun lima menit lebih cepat bagi pasien yang darurat akan sangat banyak bedanya.

Keegoisan di jalan raya tidak hanya bisa kita lihat dari kasus ambulans itu saja. Saya sering memperhatikan pada sebuah jalur yang macet, ada kendaraan yang berusaha keras ingin menyeberang jalur macet itu namun tak ada seorangpun yang mau mengalah dan memberi jalan kepadanya. Padahal kendaraan itu memang harus masuk gang atau perumahan yang ada di sisi samping jalur kendaraan yang macet itu.  Atau malah ingin keluar dari gang atau perumahan ke jalur yang berlawanan arus dengan jalur yang macet. Namun tetap saja orang tidak mau mengalah. Malah dengan sengaja semakin memepetkan moncong kendaraannya ke bagian belakang kendaraan di depannya, agar tidak ada celah bagi si pemotong jalan.

Sebagai akibat, yang terjadi malah kemacetan sekunder di jalur kendaraan yang ingin memotong itu. Padahal kalau saja ada pengemudi yang mau mengalah, memberi sedikit jalan kepada kendaraan yang ingin menyeberang,  bukan saja membantu membahagiakan pengendara yang ingin menyeberang itu, namun kemacetan sekunder mungkin sekaligus bisa dihindarkan.

Dan sesungguhnya mengalah lima menit, tidak akan membuat perbedaan waktu yang berarti bagi si pengemudi yang mengalah itu. Toh di depannya masih macet juga. Jika ia tetap ngotot tidak mau memberi  jalan, perjalanannya pun sesungguhnya tidak akan menjadi lebih cepat juga. Apa yang bisa ia lakukan ?  Tentu saja tidak mungkin ngebut di jalur macet, bukan? Jadi, mengapa tidak kita ijinkan saja pengendara itu menyeberang?

Lima menit mungkin tidak ada bedanya bagi kita, namun mungkin sangat penting artinya bagi orang lain dan bagi kebaikan lingkungan kita.

Sisihkan lima menit untuk mengalah, karena itu mungkin saja akan membantu menyelamatkan nyawa orang lain.