Monthly Archives: June 2021

NGEREM PESAWAT

Standard

Ini cerita minggu lalu. Saat itu saya dan adik saya dalam sebuah perjalanan dari arah Bedugul ke Bangli, melintasi daerah Goa Gajah.  Tiba-tiba adik saya ngerem mendadak dekat pertigaan karena ia lupa arah, mesti belok ke kiri apa ke kanan. Saya yang duduk di sebelahnya jadi refleks ikut menekan ujung kaki kanan saya ke bawah seolah-olah saya sedang menekan pedal rem kaki. Padahal tentu saja tidak ada pedal rem di dekat kaki saya, karena saya tidak di posisi yang sedang nyetir. Adik saya tertawa melihat kelakuan saya.

Saya sendiri juga heran sih dengan kebiasaan saya itu. Setiap kali jika menumpang kendaraan yang melaju kencang atau ngerem mendadak, saya dengan refleks berusaha mencegah laju kendaraan dengan cara menekankan kaki saya kuat-kuat ke lantai kendaraan. Seolah-olah sedang ngerem. Padahal tentu saja tidak ada efek ngerem apapun yang bisa saya lakukan dengan cara seperti itu.

Demikian juga jika menumpang pesawat. Setiap kali pesawat mendarat, begitu rodanya mencapai daratan dan pilot berusaha mengurangi lajunya, maka sayapun ikut refleks mencengkeramkan ujung kaki saya ke lantai pesawat seolah-olah ikut membantu ngerem lajunya pesawat agar lajunya berkurang. Padahal jelas-jelas cengkeraman kaki saya itu walau sekencang apapun sebenarnya tidak ada gunanya dalam mencegah laju pesawat.

Usaha yang sebenarnya jelas sia-sia.
Misalnya nih rem pesawat itu blong (semoga tidak), pesawat itu tentu akan tetap meluncur saja tanpa kuasa gerakan kaki saya menyetopnya. Saya tahu itu. Tetapi mengapa ya kok saya sering melakukan itu?

Dan setelah saya menceritakan kebiasaan saya itu, ternyata ada banyak teman juga yang punya kebiasaan mirip dengan saya. Berusaha mengerem pesawat yang sedang melaju 😀.

Mengapa terkadang kita melakukan sebuah upaya yang sebenarnya kita tahu persis itu  sia-sia?

Saya pikir, kecemasan adalah hal utama yang memicu hal itu. Kecemasan akan sesuatu yang buruk bisa saja terjadi. Oleh karenanya kita berusaha mekakukan sesuatu untuk sesuatu (ngerem) untuk mengurangi atau memperkecil resiko itu. Itu membuat kita merasa lebih tenang dan lega karena merasa sudah ikut berpartisipasi dalam upaya memperbaiki keadaan.

Tetapi sekali lagi itu hanya perasaan. Karena sesungguhnya kita tidak pernah bisa memperbaiki keadaan dengan hanya berhalusinasi sedang ngerem pesawat atau kendaraan yang sedang melaju. Kecuali kita sendiri yang mengambil alih kendalinya. Kita yang benar-benar bisa melakukannya. Mau ngerem atau ngegas.

Mungkin buat saya pilihannya adalah belajar memasrahkan diri dan mempercayakan hasilnya pada yang memegang kendali.  Karena ini pun sebenarnya bukan pilihan yang buruk. Bahkan mungkin pilihan yang lebih baik. Mengingat, jika seseorang telah dipercaya untuk menjadi supir atau pilot ataupun bentuk leader pemegang kendali lainnya, tentu ia dipilih karena memang memiliki kualifikasi tinggi di bidangnya itu.

Seorang yang diijinkan menyetir, tentu karena ia memiliki Surat Ijin Mengemudi yang sah. Begitu juga pilot. Pasti dia memiliki kualifikasi untuk menerbangkan pesawat. Nah…apalah artinya diri ini ? Boro-boro memegang  setir pesawat, melihatnya dengan mata sendiri aja belum pernah 😀.

Bagaimana mungkin saya yang tak pernah melihat sendiri bentuk pedal rem pesawat merasa sok bisa ngerem pesawat ? 😀😀😀. Percayakan sama pilotnya sajalah. Dan saya dukung agar sang pilot bisa menerbangkan dan mendaratkan pesawatnya dengan baik, dengan cara menjadi penumpang yang baik dan tertib.

Demikian juga  untuk kualifikasi pemegang kendali lainnya. Mau itu Ketua Kelas kita, Manager kita, Direktur kita, Pak Camat kita, hingga Pak Presiden kita. Semuanya ditunjuk dan atau dipilih berdasarkan kualifikasi dan dianggap mampu. Sebaiknya kita percayakan dan support agar pemimpin kita itu berhasil. Siapapun dia.

SWAB TEST.

Standard

Kemarin pagi begitu tiba kembali di Ibukota, saya segera ke sebuah Medical Center untuk melakukan Swab Test lagi, walaupun kemarinnya saya sudah melakukan Swab test juga di Denpasar. Jika Swab Test yang sebelumnya keperluannya untuk mendapatkan ijin penerbangan, yang kemarin pagi itu keperluannya agar diijinkan kembali masuk ke kantor.

Saat mengantri melakukan Swab, saya agak deg-degan juga. Karena yang mengantri di tempat ini sangaaaat banyak orang. Sementara tempatnya sempit. Sehingga jarak satu sama lain jadi sangat dekat. Bahkan bisa dibilang berdesakan.

Kita tak pernah tahu, apakah semua orang yang berdesakan mengantri itu semuanya akan negative hasilnya, atau ada beberapa diantaranya yang juga positive tanpa gejala. Who knows?.

Meningkatnya kasus di Jakarta memicu kenaikan jumlah orang yg ingin diswab sesegera mungkin. Bayangkan saja, jika ada 1 orang saja yang terdeteksi positive, sedikit tidaknya ada 4-5 orang di sekelilingnya merasa perlu diswab. Belum lagi orang-orang yang seperti saya, yang juga harus mengambil test swab karena akan/habis bepergian. Tak heranlah jika jumlah orang yang mengantri di tempat Swab melonjak hebat.

Saya agak menjauh dari kerumunan. Maksud saya biar aman. Tetapi suara si Mbak penjaganya agak kecil dan jauh. Sehingga saat nama saya dipanggil, saya tidak langsung muncul. Pertama karena terdengar hanya sayup-sayup saja. Ke dua, karena saya perlu beberapa langkah untuk menuju ke sana. Si Mbak terpaksa memanggil nama saya sampai 3 x. Itu saat menunggu giliran diswab.

Demikian juga saat mengambil hasil. Saya menunggu agak jauh. Kok nggak dipanggil-panggil ya. Padahal katanya tadi hasilnya akan keluar sekitar 15-20 menit.

Sekitar 25 menit kemudian saya bertanya, sudah ada hasil apa belum. Petugas di depan memberi tahu, tunggu saja. Nanti jika hasilnya sudah ada, pasti akan dipanggil namanya.

Saya pun menunggu agak dekat kerumunan, agar terdengar, sambil memantau ke arah petugas. Tetapi panggilan tiada kunjung datang jua. Sementara saya ada jadwal meeting online yang harus saya ikuti segera.

Akhirnya saya tanya lagi ke petugas. Kira-kira berapa lama lagikah saya harus menunggu. Jika lama, mungkin sebaiknya saya tinggal saja. Nanti saya ambil ke sini lagi jam istirahat makan siang.

Petugas bertanya, siapa nama saya. Sayapun menyebutkan nama. Lalu ia memeriksa kertas yang tergeletak di mejanya dan memberikannya ke saya. Ooh?!$??. Jadi, sebenarnya hasil saya sudah ada sejak tadi ? ???😀😀😀

Entah dimana mislek yang terjadi. Saya tidak punya semangat untuk protes. Mungkin petugasnya yang error, mungkin juga kesalahan saya sendiri karena tadi berdiri agak jauh dari perugas. Barangkali nama saya sudah sempat dipanggil, tetapi tidak saya dengar.

Saya membuka laporan itu dan membaca hasilnya NEGATIVE.

Saya pun meninggalkan kerumunan itu dan masuk ke kendaraan dengan hati yang tetap ketar-ketir. Segera pakai Hand sanitizer. Dan sisanya berdoa, semoga hari-hari berikutnya tetap negative.

Semoga pandemi segera mereda. Orang-orang yang sakit segera disembuhkan dan tak ada lagi penambahan kasus baru.

Siang dan Malam Dalam Bahasa Bali.

Standard

“Apa Bahasa Balinya Siang?” Pertanyaan ini cukup sering ditanyakan kepada saya oleh beberapa orang teman. Ini membuat saya jadi tergelitik untuk menulis.

Bali mengenal beberapa istilah yang berkaitan dengan waktu. Saya mencoba menceritakannya mulai dari yang paling umum dulu ya.

DINA & WAI.

Hari dalam Bahasa Bali umum disebut dengan kata Dina. Jadi satu hari disebut dengan A Dina. A = satu. A dina, duang dina, telung dina, pitung dina dst (1 hari, 2 hari, 3 hari, 7 hari dst). Kata Dina juga umum disebutkan di depan nama-nama hari. Misalnya Dina Redite (hari Minggu), Dina Wraspati (hari Kamis), dsb.

Nama lain dari Dina adalah Rai. Atau umum diucapkan sebagai Wai. Kata Rai ini sesungguhnya berasal dari kata Rawi yang artinya Matahari. Dimana yang dimaksud dengan kata A Rai atau 1 Rai adalah waktu yang ditempuh sejak matahari (sang Rawi) pertama kali terbit di ufuk timur, hingga kembali terbit lagi di ufuk timur. Jadi jika menyebut satuan hari, yaitu A Wai, duang wai, tigang wai.

KEMARIN DAN BESOK.

Bagaimana mengatakan kemarin dan besok dalam Bahasa Bali?.

Ibi adalah kata yang umum digunakan untuk mengatakan kemarin. Kata lain dari Ibi adalah Dibi yang asal katanya dari Di + Ibi = Dibi (saat kemarin).

Sedangkan untuk mengatakan besok , orang umum mengatakan “Buin Mani”. Dua hari lagi / lusa = Buin Puan. Tiga hari lagi = Buin Telung Dina. Empat Hari lagi = Buin Petang Dini. Dan seterusnya.

Jika ingin menyampaikan dalam Bahasa halus, maka Besok = Benjang. Lusa = Malih Kalih Raina. Tiga hari lagi = Malih Tigang Raina.

LEMAH PETENG.

Siang – Malam di dalam Bahasa Bali disebut dengan Lemah – Peteng.

Lemah itu mengacu pada saat hari terang, sejak matahari terbit hingga terbenam. Sekitar jam 6 pagi hingga jam 6 sore.

Sedangkan Peteng itu mengacu pada saat hari gelap. Sejak matahari terbenam hingga terbit lagi. Sekitar jam 6 sore hingga jam 6 pagi esoknya. Disebut Peteng karena saat itu gelap. Peteng Dedet = Gelap Gulita.

Peteng sering juga disebut Lemeng. Sehingga jika menyebutkan satu malam, menjadi a lemeng. Kata a lemeng lebih umum ketimbang a peteng.

Kata halus dari Peteng adalah Ratri.

PAGI SORE

Di dalam satu hari kita tentunya mengenal pagi, siang, sore dan malam. Bagaimana mengatakannya dalam Bahasa Bali?.

Pagi disebut dengan Semeng dalam Bahasa Bali. Dan sering diimbuhi dengan -an untuk mengatakan keadaan, sehingga menjadi Semengan. Kata Semengan itu kira-kira mengacu dari sekitar jam 5 pagi hingga sekitar jam 9 pagi. Rahajeng Semeng adalah ucapN yang umum digunakan yang setara dengan Selamat Pagi.

Siang disebut dengan Tengai. Berasal dari kata Tengah Ai yang artinya Tengah Hari ( Ai/Rahi = Hari). Kata Tengai mengacu dari sekitar 10 pagi hingga pkl 3 sore. Tepat jam 12.00 siang disebut dengan Tengai Tepet.

Sore disebut dengan Sanja. Mengacu dari sekitar 4 sore hingga pukul 6 sore. Antara pukul 5-6 sore disebut dengan Sandya Kala yang artinya “persendian waktu) yakni pertemuan antara siang dan malam. Atau kadang juga disebut dengan “Saru Mua”, yang artinya saat dimana kita sulit mengenali wajah seseorang jika tanpa bantuan cahaya yang baik.

Malam disebut dengan Peteng, Lemeng atau Wengi. Mengacu mulai saat matahari terbenam atau pukul 7 malam – 4 pagi. Tepat pukul 12 00 disebut dengan Tengah Lemeng.

Dini Hari disebut dengan Das Lemah, mengacu sekitar pukul 4 -5 pagi saat binatang binatang terbangun dan memberi penanda pagi seperti misalnya Ayam Berkokok.

Menerbitkan Buku.

Standard
Buku 100 Cerita Inspiratif. Ni Made Sri Andani

Bulan Desember tahun lalu, tanpa terasa rupanya saya sudah nge-blog selama 10 tahun bersama WordPress. Bagi saya, ini sebuah perjalanan menulis yang lumayan membanggakan, karena saya pikir untuk bisa terus menulis selama 10 tahun berturut-turut tanpa jeda bukanlah sesuatu yang mudah. Jadi untuk itu, saya ingin menghadiahi diri saya sendiri dengan menerbitkan sebuah buku, yang isinya 100 tulisan yang saya ambil secara acak dari sekitar 1100 tulisan-tulisan yang pernah saya published di blog ini.

Buku yang saya beri judul ” 100 Cerita Inspiratif” ini tidak saya perjual-belikan, karena dua alasan:

1. Kebetulan perusahaan tempat saya bekerja saat ini tidak membenarkan karyawannya mekakukan “double job” alias mendapatkan penghasilan dengan cara lain selain dari kantor. Nah, sebagai karyawan yang baik, tentu saya harus mematuhinya dengan cara tidak memperjualbelikan buku ini. Selain itu, sebelumnya saya juga melaporkan rencana penerbitan buku ini ke kantor guna mendapatkan ijin.

2. Penerbitannya dalam rangka menghadiahi diri saya sendiri. Jadi hanya saya bagikan free kepada keluarga saya, para sahabat dan teman-teman dekat saya saja yang memang menyatakan ingin membaca buku ini.

Cetaknya pun terbatas. Niat awalnya pun hanya 100 buah, tetapi mengingat yang mendaftar ingin membaca bukunya lebih dr 100 orang, akhirnya saya cetak 200 buku. Dan terakhir, karena permintaan terus meningkat, akhirnya saya tambah cetak sebanyak 200 buku lagi. Jadi total 400 buku. Itu saja. Sudah cukup banyak saya rasa.

Ide menerbitkan buku ini awalnya datang dari melihat teman-teman penyair yang menerbitkan buku-buku antology pribadi maupun bersama. Mereka memiliki karya-karya yang dibukukan, yang asyik juga dibaca di saat-saat senggang sambil tiduran atau minum teh. Sebagai seorang blogger, saya tak punya karya yang dibukukan. Karena karya saya semuanya tersedia online. Sastra digital. Padahal masih banyak juga orang yang lebih suka membaca buku cetak.

Demikianlah akhirnya saya memilih acak 100 tulisan yang saya tulis berdasarkan kejadian sehari-hari yang memberi saya pelajaran, renungan dan inspirasi untuk menjalani kehidupan untuk saya terbitkan sebagai buku.

Buku ini terbit pada bulan Maret yang lalu, dan terus terang saja, masih ada kesalahan ketik disana-sini.

Synopsis Buku 100 Cerita Inspiratif.

Standard
100 Cerita Inspiratif . Ni Made Sri Andani

Buku 100 Cerita Inspiratif ini berisi tentang kisah kisah inspiratif yang disarikan dari kejadian sehari- hari, yang memberikan perenungan diri, ide ide, dan gagasan untuk pengembangan diri yang lebih baik.

Dimulai dari cerita pertama  Ketika Pedas Ketemu Air Hangat, berkisah  tentang bagaimana rasa pedas yang berkurang setelah diminumin air hangat memberi inspirasi untuk memecahkan masalah sehari hari dengan cara membagikan kesedihan dan kegelisahan hati kita dengan orang orang terdekat, ketimbang terus bermurung diri dalam kesendirian yang beku, yang malah tidak memecahkan masalah apapun. Jadi saat hidup kita terasa pedas, carilah kehangatan dari orang-orang yang kita percayai. Tentu sangat menolong.

Cerita berikutnya, Ada Sambal Di Telpon Genggamku, terinspirasi oleh telpon genggam yang tercelempung ke sambal saat makan siang. Tanpa disadari cairan sambel yang mengering, menutup lubang suara dan menyebabkan suara telpon semakin lama semakin mengecil, sehingga sangat mengganggu. Kejadian ini memberi pelajaran, bahwa sesuatu yang buruk kadang terjadi karena keteledoran kecil yang tidak kita sadari, akhirnya membuat masalah besar dalam kehidupan kita.

Cerita-cerita berikutnya juga memiliki nilai-nilai yang baik yang bisa kita ambil hikmah dan pelajarannya. Misalnya cerita tentang Kebingungan Tukang Ketoprak memberi pelajaran tentang bagaimana sebaiknya kita berkomunikasi agar tidak menimbulkan kebingungan pada orang lain.

Lalu cerita Isah, Pembantu Rumah Tangga Yang Tinggal Selama Semingu memberi renungan bahwa tidak semua rejeki yang kita terima adalah milik kita. Sekian % dari rejeki itu mengandung hak orang lain yang mungkin dititipkan oleh Tuhan lewat kita.  Barangkali orang itu tidak berhasil menemukan pintu rejekinya, dan barangkali kitalah yang ditugaskan untuk membukakannya.

Lalu berikutnya  ada cerita tentang Nyala Api & Pemantiknya. Dari cerita ini, kita mendapatkan inspirasi bahwasanya setiap orang membutuhkan pemicu semangat agar tetap bertahan hidup dan terus berkarya, ibaratnya api yang hanya mungkin berkobar jika ada pemantiknya. Sebuah renungan yang mengajak kita untuk menjadi penyemangat bagi orang orang yang kita sayangi. 

Cerita menarik lainnya untuk disimak adalah cerita tentang Keramik Yang Retak. Kisah ini memberi pelajaran agar kita memelihara hubungan baik dengan orang lain, karena jika sampai retak, maka susah untuk membuatnya mulus kembali.

Dan masih banyak kisah-kisah menarik lainnya yang memberi pelajaran tentang bagaimana kita mengembangkan pribadi kita dengan lebih baik, seperti misalnya bagaimana kita bisa memberi dengan keikhlasan hati yang penuh, bagaimana kita menjaga kwalitas diri yang baik,  memperbaiki kesalahan berulang yang kita lakukan, bagaimana mengelola rasa kesal dan benci karena semua itu adalah musuh yang ada di dalam diri kita sendiri,  bagaimana menurunkan ketinggian hati, bagaimana memperbesar kebahagiaan diri, melakukan refleksi diri, tentang kejujuran, tentang keberanian dan kemauan, tentang ketabahan hati, tentang kesederhanaan,  tentang harapan dan sebagainya.

Buku ini juga membantu kita mendapatkan inspirasi tentang bagaimana kita menempatkan diri kita dalam hubungan dengan orang lain. Misalnya bagaimana kita bisa menerima keadaan dan tidak memaksakan diri bahwa kita harus selalu menjadi pemeran utama di setiap kejadian, bagaimana cara bertengkar yang sehat dengan menurunkan volume suara dan memperkuat argumentasi,  bagaimana kita lebih terbuka dan tidak hanya mengutamakan sudut pandang kita sendiri,  atau bagaimana kita jangan menjadi parasit  bagi orang lain dan sebagainya.

Juga memuat kisah kisah yang membantu meningkatkan profesionalisme kita dalam bekerja dan mengembangkan karir kita, seperti  tentang leadership,  tentang bagimana kita mengutamakan pelanggan, menerapkan profesionalisme, service excellent, meningkatkan kreatifitas, meningkatkan fokus dan lain-lain.

Demikianlah setiap cerita memberikan renungan dan pelajaran yang bisa kita petik pelajarannya dan implementasikan dalam kehidupan kita sehari- hari.

Menariknya, banyak pelajaran dan inspirasi yang kita dapatkan di buku ini, dipetik dari kejadian sehari hari ketika berinteraksi dengan sekitar, misalnya saat mengamati tingkah laku atau sikap orang lain, dari mengamati burung burung, bekicot, tanaman dan alam, seperti gelombang air laut, gunung, bintang-bintang dan sebagainya.

Buku 100 Kisah Inspiratif  ini, ditutup dengan kisah petualangan yang sangat inspiratif, baik sebagai perjalanan fisik, pikiran dan jiwa, yang mengantarkan kita pada kesadaran makro dan mikrokosmik. Bahwa pada kesadaran makrokosmik tertentu, kita ini hanyalah setitik debu dari setitik debu dalam setitik debu dalam semesta raya yang maha besar dan tak mampu terpikirkan keagungannya ini. Dan pada kesadaran mikrokosmik tertentu, akhirnya kita ini adalah sekumpulan partikel sub-atomik yang tiada bedanya dengan air, kayu, udara dan unsur unsur penyusun alam semesta lainnya.

Kita adalah semesta itu sendiri.