Monthly Archives: September 2013

I Belog Dan Bebeknya.

Standard

BebekSaya duduk di bantaran kali di belakang rumah berdua dengan anak saya yang kecil. Ngapain?  Maksudnya ya …melihat-lihat burung, biawak, bunglon,kupu-kupu serta bunga-bunga liar yang bermekaran. matahari baru saja naik di langit. Sinarnya yang hangat menembus celah-celah dedaunan dari pohon-pohon rindang yang tumbuh di pinggir kali.

Tiba-tiba terdengar suara riuh dari arah hilir. Serombongan bebek berenang ke hulu.  Saya dan anak sayapun memandang ke arah bebek-bebek yang mengapung dan bergerak maju di atas permukaan air itu. Beberapa ekor nampak ada yang berhenti dan membenamkan paruhnya di lumpur di tepi kali. Tentu mereka sedang menyisir lumpur mencari cacing atau siput.  Beberapa ekor lainnya meneruskan perjalanannya ke hulu.  Berenang dan mengapung di sungai. Bebek siapa itu? Setahu saya bebek-bebek itu adalah milik Pak Amat,  yang rumahnya di hilir sungai di luar perumahan.

Mungkin itu bebek si Belog” kata saya bercanda kepada anak saya. “Apakah masih ingat dongeng mama tentang I Belog dan bebeknya?”. Anak saya tertawa dan mengangguk. Tentu saja ia ingat.  Belog dalam bahasa Bali itu artinya sama dengan Bodoh  atau Pandir. Jadi I Belog = Si Pandir.

*****

Dikisahkan, pada jaman dahulu hiduplah seorang anak lelaki kecil bernama I Belog.  Ia tinggal bersama dengan ibunya yang sudah tua dan menjanda. Bapaknya sudah meninggal saat I Belog masih bayi.  I Belog sesuai dengan namanya, memiliki kekurangan dalam hal kecerdasan. Seringkali ia berbuat yang keliru karena kebodohannya.

Suatu kali Sang Ibu memanggil I Belog. Karena dirasanya anak lelakinya sekarang sudah mulai besar, Sang Ibu ingin agar I Belog mulai bisa bekerja mencari uang sendiri dengan memelihara bebek. Maka disuruhnyalah anaknya itu pergi ke pasar untuk membeli beberapa ekor bebek. “Belog, berangkatlah kamu ke pasar hari ini untuk membeli bebek”. Anaknya mengangguk  setuju dengan rencana ibunya. I Belog pada dasarnya adalah seorang anak yang sangat baik dan penurut. Apapun kata ibunya pasti akan ia ikuti dengan baik. “Baiklah Ibu, saya akan berangkat hari ini” Jawab I Belog.  Ibunya pun segera memberikan I Belog sejumlah uang yang cukup untuk membeli sepuluh ekor anak bebek.

Menyadari bahwa anaknya kurang pintar, maka Ibunya mewanti-wanti I Belog dengan berbagai nasihat. “Kalau memilih anak bebek, pilihlah yang sehat dan lincah.  Pilih yang badannya berat – berat saja.  Jangan pilih bebek yang ringan, karena itu tandanya bebek itu  tidak sehat. Percuma kalau dibawa pulang” . Nasihat ibunya.  I Belog mendengarkan nasihat ibunya dengan baik. Ia menghapalkannya sepanjang jalan, karena ia tidak ingin ibunya yang sudah tua kecewa. Jadi pilih bebek yang sehat. Pilih bebek yang lincah. Dan pilih bebek yang berat.

Sesampainya di pasar, ia langsung mencari pedagang bebek. Melihat-lihat dan memilih sepuluh ekor anak bebek terbaik yang menurutnya sudah sesuai dengan permintaan ibunya.  Sudah terlihat paling sehat,  paling lincah dan paling berat.  Untuk memastikannya, maka iapun bertanya kepada pedagang bebek, apakah menurutnya bebek pilihannya itu sudah sesuai dengan kriteria ibunya atau tidak. Pedagang bebek itu meyakinkan I Belog, bahwa ia telah memenuhi semua persyaratan bebek sehat, lincah dan berat yang dinasihatkan ibunya. Maka dengan riang, iapun menuntun dan mengarahkan bebeknya berjalan pulang ke rumahnya.

Sebelummencapai rumahnya, ada sebuah sungai dangkal yang harus diseberangi oleh I Belog.  Ia pun berhenti sejenak di tepi kali dan bermaksud menyeberangkan bebeknya itu satu per satu.  Melihat badan air itu, maka bebek bebek itupun merasa sangat kegirangan, lalu beramai-ramai berlarian ke kali dengan riangnya. Kwek kewek kwek..jebuurrrrr! jeburrr! jeburrr!!, Kwek kwek kwek… jebur!!..  ke sepuluh ekor bebek itupun  sekarang sudah mengapung dan berenang di air kali itu.  Melihat itu I Belog  terkejut bukan alang kepalang.Ia teringat kepada nasihat ibunya.

Bebeknya mengapung di air!. Ia berpikir,  jika ada sebuah benda yang mengapung di air tentulah benda itu ringan, jika tidak tentu di dalamnya kosong. Waduuuh!. bebek -bebek itu mengapung semuanya. Tentulah bebek itu ringan. Atau kalau tidak tentu di dalamnya kosong.  “Aduuuh, rupanya aku sudah ditipu oleh pedagang bebek itu. Ia bilang bebeknya berat. Kenyataannya bebeknya mengapung. Ternyata aku salah membeli. Bebek kosong  rupanya yang kubeli” Gumamnya di dalam hati. I Belog merasa sangat geram pada pedagang bebek itu. Namun ia tak mungkin kembali ke pasar lagi, karena sekarang hari sudah terlalu siang.  Tentu pedagang bebek itu sudah pulang. Maka iapun akhirnya  pulang juga tanpa membawa bebeknya.  Ia ingat perkataan ibunya, bahwa percuma membawa bebek yang ringan. Ia pun berjalan dengan lunglai ke rumahnya.

Sesampai di rumah, ibunya bertanya mengapa ia terlihat sangat lesu dan dimanakah gerangan bebeknya? I Belogpun menceritakan semua kejadian yang ia alami sejak pergi hingga dalam perjalanan pulang di sungai kecil itu. Dan menunjukkan betapa kesalnya ia pada pedagang bebek yang menurutnya telah menipu dirinya itu. Mendengar cerita itu, ibunyapun terkejut dan mengurut dada .Sedih atas kebodohan anaknya. ” Ya ampuuun,Belog! Semua bebek juga akan mengapung jika kamu lepas di sungai. Tapi bukan berarti bahwa mereka ringan.” Kata ibunya.

Mendengar itu I Belog segera berlari kembali ke sungai. Namun bebek-bebeknya sudah tidak kelihatan lagi. Sudah terlalu jauh karena mengikuti arus sungai sejak ditinggalkan oleh I Belog.

*****

Moral ceritanya adalah hendaknya kita jangan memiliki pikiran sempit dan berhenti pada terjemahan harfiahnya saja, namun hendaknya meningkatkan pemahaman kita tehadap intisarinya dengan lebih mendalam, sehingga ketika kita berhadapan dengan situasi yang berbeda, pikiran  kita masih tetap jernih dan tdak kebingungan.

Advertisements

Mengenai Perikebinatangan.

Standard

Kucing AnonimousHari Minggu pagi, saya mengajak anak saya yang kecil berpetualang kembali di pinggir kali di belakang rumah.  Petualangan yang sangat menyenangkan, walaupun pulang-pulang kulit pada bentol-bentol digigit nyamuk. Ketika kembali berada di belakang rumah, saya mendengar anak saya yang besar berteriak  dari halaman rumah memanggil-manggil nama saya.  Suaranya terdengar panik. Ada apa ya?Saya jadi ikutan panik. Tak biasanya anak saya yang besar sudah bangun sepagi ini pada hari Minggu.

“Mama!  Mama! Tolong kucingnya Ma. Lehernya dijerat orang!” Kata anak saya.   Sayapun bergegas pulang.

Astaga!!!. Kucing liar (saya tidak tahu siapa pemiliknya) yang sering datang berkunjung ke rumah saya itu lehernya terjerat tali plastik. Anak saya mengetahui kalau leher kucing itu terjerat, ketika melihatnya datang ke rumah meminta makan.  Mungkin sudah lebih dari sebulan kucing itu selalu datang ke rumah untuk meminta makanan.  Sangat jinak dan manja. Saya pikir mungkin sebenarnya kucing itu bukan kucing liar. Hanya barangkali pemiliknya tidak terlalu perduli padanya saja. Sehingga ia tampak kurus dan kurang terpelihara. Karena tak tahu nama dan pemiliknya, maka saya sebut saja kucing itu Si Anonimous.

Sekarang kucing itu terlihat sangat lemas tak berdaya. Tentu sangat sulit bernafas. Boro-boro bisa makan.

Tali Rafia Yang Dipakai menjerat leher kucingRupanya Si Mbak dan anak saya di rumah sudah berusaha membantu melepaskan tali plastik berwarna yang menjerat leher kucing itu. Namun karena tali itu terlalu ketat dan  mereka takut usahanya akan semakin mencekik leher kucing itu, maka merekapun menghentikan usahanya.

Melihat itu, saya tak punya pilihan lain lagi. Saya minta anak saya memegang kucing itu agar tidak bergerak. Lalu dengan sedikit menekan tubuhnya dan mengangkat tali itu, saya berusaha keras menyelipkan ujung gunting diantara kulit kucing dan tali plastik itu. Semuanya menahan nafas, karena sekarang kucing itu pasti sangat tercekik dan tidak bisa bernafas.  Saya coba gunting tali itu, namun tidak berhasil.  Keras juga rupanya. Atau barangkali terlalu menempel di kulit kucing itu?.  Saya coba sekali lagi menggunting tali itu dengan tenaga yang lebih kuat dan lebih cepat.  Lalu… kresss… kresss.

Mhhh..hah!!! Syukurlah! Akhirnya tali itupun putus dan kucing Anonimous itu bisa bernafas lega kembali.  Kedua anak saya dan Si Mbakpun ikut bernafas lega. Anak saya lalu memberinya makanan. Karena tempat makanannya tidak ada, maka ia hanya meletakkannya di lantai halaman saja.

Memberi makan kucingYang saya bingung adalah, kok ada ya orang bisa setega itu terhadap binatang?. Tidak habis pikir rasanya. Apa yang ada di pikiran orang itu ketika melakukan perbuatan yang tak mengenal kasih  terhadap sesama mahluk?

Saya bisa mengerti, mungkin sebagian orang ada yang memang tidak menyukai kucing.  Entah karena suaranya yang manja, atau terlalu ribut saat musim kawin. Atau entah karena takut sama bulunya, atau karena pernah melihat kucing mencuri makanan di dapurnya dan entah karena masalah lain.  Tapi tentunya hal itu tidak cukup memberi alasan kepada kita manusia untuk boleh saja seenaknya melakukan perbuatan kejam yang sama sekali tidak terpuji itu terhadap seekor kucing, bukan?. Jika kita tidakmenyukainya, mungkin cukup hanya dengan mengusirnya dan melarang kucing itu masuk ke rumah kita. Dan bukan menjerat lehernya hingga kucing itu megap-megap kehabisan nafas.

Sama seperti kita, kucing juga mahluk hidup ciptaan Tuhan yang punya nyawa, punya rasa takut, sedih dan marah. Kucing juga mengenal trauma jika pernah diperlakukan dengan tidak baik oleh manusia.

Banyak yang mengatakan bahwa manusia adalah mahluk yang lebih mulia dibandingkan dengan binatang. Namun jika kita menjerat leher kucing karena hanya ingin menyakitinya saja, sementara kucing tidak pernah menjerat leher kita, apakah kita layak mengaku diri lebih mulia?  Sungguh sebuah hal yang perlu direnungkan.

Semoga semakin banyak manusia yang bersikap baik pada binatang.

Burung Cerukcuk Dalam Sastra Bali.

Standard

Ketika sedang mengamat-amati tingkah laku Burung Cerukcuk di pinggir kali  belakang rumah, banyak kenangan masa kecil yang Burung Cerukcuk 9melintas di kepala saya.  Selain suaranya yang selalu setia membangunkan saya setiap pagi, saya juga teringat bahwa burung ini  ternyata cukup punya kontribusi juga dalam dunia kesustraan dan seni di Bali.  Setidaknya saya  ingat, ada sebuah Sasonggan atau Sasenggakan (= Pepatah)  dan Satua (= dongeng /cerita rakyat)   yang membawa-bawa nama Cerukcuk di dalamnya.

Sasonggan (Pepatah) : Sekadi Kedis Cerukcuk Punyah.

Sekadi Kedis Cerukcuk Punyah” jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya adalah “Bagaikan Burung Cerukcuk Mabok” .  Seperti kita tahu, burung Cerukcuk tanpa mabokpun sudah banyak sekali kicaunya. Cruk cuk cuk cak cruk cuk cuk cuk …cruk cuk  dan seterusnya. Nah bisa kita bayangkan, apa jadinya jika burung Cerukcuk ini sampai mabok ?. Tentu akan semakin banyak lagi kicaunya  dan tentunya pula kicauannya pun ngawur. Demikianlah jika seseorang yang banyak bicara namun pembicaraannya berkwalitas rendah atau malah tidak bermutu, sering diibaratkan sebagai seekor Cerukcuk  yang sedang Punyah alias mabok.  Karena  dianggap negative, biasanya orangtua menasihati anak-anaknya jangan banyak berbicara  atau sok tahu jika tidak tahu kepastiannya. Agar jangan menjadi seekor Cerukcuk Punyah. Agar jangan diperolok-olok orang lain.

Namun demikian banyak juga orang yang menyebut dirinya dengan nama Cerukcuk Punyah.  Barangkali untuk maksud merendahkan hati. Saya ingat,  bahkan seorang teman saya ada juga yang suka mengibaratkan dirinya dengan “Cerukcuk Punyah”, walaupun saya sendiri sebenarnya tidak merasa sebutan itu cocok untuk dirinya.  Dan seingat saya bahkan ada juga sebuah tabuh/gamelan traditional yang berjudul Cerukcuk Punyah.

Satua Bali (Dongeng): I Cerukcuk Kuning.

Sebenarnya dongeng rakyat ini lebih tepatnya berjudul “I Bawang Lan I Kesuna”  terjemahannya adalah Bawang Merah Dan Bawang Putih.   Namun karena di dalam cerita itu melibatkan peranan seekor Cerukcuk Kuning, maka terkadang dongeng ini juga disebut dengan nama I Cerukcuk Kuning.

Dikisahkan pada jaman dahulu,hiduplah dua orang anak perempuan bersaudara yang diberi nama I Bawang dan I Kesuna.  Suatu hari karena Ayahnya mau berangkat ke sawah dan ibunya berangkat ke pasar, mereka ditugaskan oleh kedua orangtuanya untuk mengerjakan pekerjaan di rumah,  seperti menyapu, mencuci pakaian, memasak dan sebagainya. Merekapun mengiyakan perintah itu.

Ketika kedua orangtuanya pergi,  Si Bawang berkata kepada adiknya (Si Kesuna) ” Kesuna, kamu saja yang nyapu ya? Nanti biar saya yang ngepel” kata SI Bawang.  Kesunapun setuju. Lalu ia menyapu.  Setelah selesai menyapu, si Bawang berkata lagi “Kesuna, kamu saja yang ngepel ya? nanti saya yang mencuci piring” katanya. Kesunapun mengepel lantai. Setelah selesai, SI Bawang berkata lagi “Kesuna, kamu saja yang mencuci piring ya, nanti saya yang masak”  Kesunapun menurut saja apa kata kakaknya. Demikian seterusnya hingga ia menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Mulai  dari nyapu,ngepel,mencuci piring, memasak, mengisi air, mencuci pakaian, menyeterika.  Kesuna bekerja keras, sedangkan Si Bawang hanya berleha-leha saja dan terus memberi perintah.  Namun Kesuna mengerjakannya dengan senang hati.

Ketika menjelang sore, Kesuna yang rajin dan  telah menyelesaikan pekerjaanya pun mandi dan berhias diri. Sedangkan Bawang yang pemalas segera pergi ke dapur dan membalur tubuhnya dengan abu dapur agar terlihat kotor. Ketika orangtuanya datang, Si bawang bersandiwara dan menangis di hadapan orangtuanya, sambil berkata bahwa  ia sangat kelelahan karena dari pagi harus bekerja sendiri, sementara Kesuna tidak mau membantunya sedikitpun.  Menurutnya Kesuna hanya duduk duduk saja dan asyik berdandan. Mendengar pengaduan Bawang, maka kedua orangtuanya pun marah dan memanggil Kesuna.  Kesuna berusaha menjelaskan kejadian yang sebenarnya, namun karena Bawang lebih pintar mengambil hati orangtuanya, maka orangtuanyapun lebih percaya kepada Bawang. Terlebih lagi ketika melihat penampilan Bawang yang kotor penuh abu dan belum sempat mandi, sedangkan Kesuna bersih, rapi dan wangi, membuat kedua orangtua mereka semakin percaya akan perkataan Bawang.

Karena sedih akan kemarahan orangtuanya, maka Kesuna menangis dan pergi membuang diri  ke dalam hutan. Di sana ia bertemu dengan seekor Burung Cerukcuk Kuning yang  bertanya mengapa ia bersedih. Kesunapun menceritakan kisahnya yang menyedihkan dan membuat dirinya ingin mengakhiri hidupnya. Lalu ia pun meminta tolong kepada Burung Cerukcuk Kuning itu agar mematok kepalanya sekuat-kuatnya sampai ia mati, karena merasa sudah tidak tahan lagi akan nasibnya.  “Caiiii caiiiii… Cerukcuk Kuning.  Dong tulungin ja patok sirah tiyange”. Terjemahannya “Wahai engkau Cerukcuk Kuning. Tolong dong kepala saya dipatokin”.

Burung Cerukcuk Kuning itupun mendekat, terbang diatas kepala Kesuna dan  “Cruk cuk cuk…” ia mematok kepalanya.  Namun keajaiban seketika terjadi, diatas kepala si Kesuna sekarang terpasang bunga-bunga emas yang indah dan gemerlap. Demikian juga ketika Si Cerukcuk Kuning mematok leher, pergelangan tangan, jari tangannnya, cruk cuk cruk cuk cruk cuk... maka terpasanglah kalung,gelang dan cincin emas permata yang gemerlapan. Cerkcuk Kuning memberikan semua itu kepada Kesuna karena ia tahu bahwa Kesuna adalah anak perempuan yang rajin dan baik hati. ia lalu memberi nasihat kepada Si Kesuna agar mengurungkan niat bunuh diri dan sebailknya pulang ke rumah. Jika merasa belum siap juga, lalu Cerukcuk Kuning menyarankan agar Kesuna pulang ke rumah neneknya saja.Sejak itu Kesuna lalu tinggal di rumah neneknya yang menerimanya dengan baik.  Di sana  ia membantu neneknya memintal benang dan menenun kain.

Suatu hari Si Bawang berkunjung ke rumah nenek mereka dan menemukan SIKesuna sedang menenun di sana. Wajahnya kelihatan bahagia dan pakaiannya gemerlap dengan perhiasan emas permata. Melihat itu, maka Si Bawang bertanya dari mana Kesuna mendapatkannya. Kesuna  pun menceritakan kisahnya dengan Cerukcuk Kuning.

Seketika Si Bawang berlari ke dalam hutan, menangis dan memanggil-manggil nama Cerukcuk Kuning dan mengarang cerita bahwa ia sudah bekerja keras di rumah, namun difitnah oleh Kesuna sehingga orangtuanya marah dan mengusirnya ke dalam hutan. Ia pun meminta agar Cerukcuk Kuning mematok kepalanya sampai mati.   Caiiii caiiiii… Cerukcuk Kuning.  Dong tulungin ja patok sirah tiyange”.. Atas permintaan itu, maka Cerukcuk Kuningpun mematok kepala Si Bawang. ”  Cruk cuk cuk…”  maka seketika duri-duri tajam menancap di kepala Si bawang.  Demikian juga ketika Cerukcuk Kuning mematok lehernya, maka tiba-tiba seekor ular berbisa sudah membelit lehernya, kelabang yang juga berbisa mengelilingi pergelangan tangannya dan jari-jari tangannya pun dikelilingi ulat bulu yang sangat gatal. Maka SI Bawang pun akhirnya meninggal karena kemalasannya, karena fitnah dan keserakahannya sendiri.  Sifat buruk yang sebaiknya kita semua hindari.

Burung Cerukcuk, Sang Penanda Pagi.

Standard

Burung Cerukcuk 6Ada sejenis burung, yang suaranya sangat khas terdengar di telinga saya sejak kecil. Cruk cuk cuk cak cruk cuk cuk .. atau …cruk cuik cak cok .. dan seterusnya seputaran kata cruk, cuk, cak, cok, cuik. Kadang-kadang suaranya ditingkah suara ayam jantan berkokok…kuk kuruyuuuuuk kuuuuuuuk.  Jika suara burung itu terdengar nyaring dari pepohonan  di belakang rumah, Itu tandanya saya sudah harus bangun, melipat selimut, menyapu halaman rumah dan mandi serta bergegas ke sekolah.  Karena jika tidak, tentu ibu saya akan menegur saya dengan keras. Mau tidak mau saya harus mendisiplinkan diri, segera bangkit dari tempat tidur secepatnya.   Itulah suara burung Cerukcuk alias Yellow Vented Bulbul (Pycnonotus goiavier), sang penanda pagi.

Setelah berpuluh-puluh tahun meninggalkan rumah orangtua saya, suara burung Cerukcuk itu tetap menjadi jam alam penanda pagi untuk saya.  Bedanya, saat ini suara burung cerukcuk itu datangnya dari pohon-pohon di pinggir kali di belakang rumah saya. Kelihatannya belakangan ini suara burung Cerukcuk itu semakin banyak dan semakin nyaring. Memikat saya untuk iseng menengoknya ke bantaran kali.  Sayangnya hari masih pagi dan sinar matahari belum cukup untuk memberikan saya penerangan untuk melihat dimanakah gerangan burung Cerukcuk itu bertengger.

Awalnya saya melihat sepasang di atas dahan pohon yang sangat tinggi dan jauh. Sayang sekali lensa saya kurang mampu memberikan gambar yang berkwalitas baik untuk jarak sejauh dan setinggi itu.  Namun saya masih bisa melihat gerak gerik pasangan itu sebelum satu persatu terbang entah ke mana. Oleh karenanya saya tetap coba ambil fotonya dan perbesar, dan belakangan saya perhatikan ternyata  sepasang burung itu bukan Burung Cerukcuk, tapi Burung Kutilng (Pycononotus aurigaster). Kepala burung Kutilang umumnya berwarna hitam -mirip orang memakai topi, sedangkan Burung Cerukcuk berwarna putih keabuan dengan jambul berwarna coklat kehitaman.

Orang bilang, jika kita melihat burung Kutilang, ada kemungkinan kita juga akan melihat Cerukcuk. Karena kedua burung ini memenag sering terlihat bersama  atau berkelompok.

Menjelang siang, saya melihat seekor burung Cerukcuk yang lebih kecil bertengger di pagar tembok yang menjadi dinding kali. Walaupun jaraknya juga agak jauh dari tempat saya berdiri, setidaknya saya bisa melihatnya dengan cukup jelas. Walaupun bisa saya katakan burung ini warnanya memang suram dari ‘sono’nya.

Burung Cerukcuk adalah seekor burung penyanyi yang suaranya memang sangat merdu, merupakan salah satu anggota keluarga dari burung Kutilang alias burung Bulbul (Pyconotidae).  Secara umum, burung-burung jenis ini termasuk ke dalam burung yang berukuran tubuh sedang – dimana burung Cerukcuk itu sendiri   kurang lebih berukuran sekitar 18-20cm.

Bagaimana cara untuk mengidentifikasi?

Jika kita tinggal di pedesaan, koBurung Cerukcuk 2ta kecil  atau di daerah dekat dengan ladang taupun belukar yang terbuka atau taman kota dan sudah sering melihat jenis burung ini sejak kecil, tentu tidak terlalu sulit bagi kita untuk mengidentifikasi. Namun jika belum terbiasa melihat, mungkin dengan memperhatikan ciri-ciri tubuhnya akan cukup membantu kita untuk melakukan identifikasi.

Pertama tentu kita lihat dari ukuran tubuh burung itu sendiri. Besar, kecil, sedang? Dan burung ini ukurannya sedang.  Kemudian kita lihat bentuk  paruhnya ramping. Tidak bengkok, tidak tebal tapi juga tidak panjang. Lehernya pendek yang membuat jarak antara kepala dengan badannya menjadi dekat.  Sayapnya pendek namun ekornya lumayan panjang.

Berikutnya kita perhatikan warnanya. Secara umum burung ini tampak suram. Warnanya tidak terlalu menarik. Badannya berwarna putih suram hingga kekepala.  Kepalanya lucu, karena matanya dihubungkan dengan garis berwarna hitam dengan paruhnya. Sehingga jika kita perhatikan (terutama dari arah depan) ia seperti mempunyai alis putih di atas matanya. Burung ini  juga berjambul, warnanya coklat kehitaman.  Tapi seingkali kita melihat jambulnya tidak ditegakkan.Tubuh bagian atas dan sayapnya berwarna coklat. Dan perut bagian bawah sampai ke ekor berwarna kuning. Paruhnya berwarna hitam dan kakinya berwarna abu-abu.

Nah kalau masih ragu-ragu juga, maka kita dengarkan suaranya.. Cruk cuk cuk.. karena gara-gara suaranya itulah burung ini disebut Cerukcuk.

Agak siang, saya mendengar suara burung Cerukcuk itu lagi dari arah pinggir kali. Maka sayapun menengok kembali. Wah.. seekor burung Cerukcuk sedang bertengger di pohon pepaya. Sedang makan buah pepaya. Saya baru tahu bahwa Cerukcuk ternyata doyan buah pepaya.  Awalnya saya kira  ia hanya menyukai buah boni yang kecil-kecil , atau serangga – karena dulu saya tahunya burung ini adalah penghuni pohon boni.  Melihat ini saya merasa sangat girang sekali.  Saya pikir sepanjang pohon pepaya itu tetap berbuah dan matang, tentu burung Cerukcuk ini akan rajin mampir di pohon pepaya itu.  Sangat mudah bagi saya untuk mengamat-amatinya.

Semoga tidak ada pemburu yang lewat , sehingga kebahagiaan burung ini di alam bebas tetap terpelihara dengan baik.

Spirit of Wipro Run 2013 – Indonesia.

Standard

Spirit of Wipro Run

 

Spirit of Wipro Run datang kembali di Indonesia pada hari  ini, 22 September 2013.  Jika tahun yang lalu diselenggarakan  di Alam Sutera Boullevard,Tangerang, tahun ini Spirit of Wipro Run diselenggarakan di Taman Mini Indonesia Indah. Tempat yang sangat menyenangkan bagi peserta  karena selain berlari, para peserta juga sekalian bisa menikmati pemandangan indah di kiri kanan jalur lari yang dipenuhi dengan anjungan indah dari berbagai daerah di Indonesia ini.

Spirit of Wipro Run merupakan ‘tradisi’  berlari yang dilakukan oleh Wipro setiap tahunnya sejak 2006.  Dan tahun ini adalah merupakan tahun ke delapan. Diikuti oleh lebih dari 50 000 peserta di  97 kota di seluruh dunia -termasuk di Jakarta. Di Jakarta sendiri peserta terdaftar adalah sebanyak  kurang lebih 750 orang yang sebagian besar adalah para Wiproite (karyawan dari perusahaan dari Grup Wipro)  beserta keluarganya. Sebagai salah seorang Wiproite, sayapun mengajak keluarga saya untuk ikut berpartisipasi memeriahkan kegiatan Spirit of Wipro Run ini.

Spirit of Wipro Run 2013. ajpg

Apa yang beda dengan Spirit of Wipro tahun ini?  Yang jelas di tahun 2013 ini Spirit of Wipro mengusung thema “THE LONG RUN”. Jika  tahun yang lalu kegiatan berlari dilakukan di jalur sepanjang 4 km, kali ini kegiatan berlari dilakukan di jalur yang jauh lebih panjang yakni kurang lebih 10 kilometer.  Ten Ke!.  Lumayan panjang juga ya? Wah… nyamain Bali 10K nih!.

Jadi jalurnya itu dimulai dari area pasar seni Taman Kaktus, bergerak ke arah Taman Bekisar, Taman Burung,  lalu berbelok ke Museum Minyak Dan Gas Bumi, Museum Listrik Dan Energi Baru,  lalu terus ke Taman Budaya Tionghoa,  Museum Perangko, lalu ke Museum Komodo. lalu di dekat  Anjungan Sulawesi Tenggara, Anjungan Sulawesi Selatan, Anjungan Nusa tenggara Timur, Anjungan Nusa Tenggara Barat,  Anjungan Bali. Wow! Kita berada di depan danau dengan pulau-pulau yang merupakan miniatur dari kepulauan Indonesia.  Lalu dari sana kita bergerak terus  ke arah Sasana Krida,  Anjungan Jawa Timur, Anjungan Jogja, Anjungan jawa tengah, Anjungan Jawa Barat, lalu  menuju ke Anjungan Lampung dan Anjungan DKI jakarta – dimana di seberangnya kita bisa melihat jajaran rumah-rumah ibadah dari setiap agama yang diakui keberadaannya di Indonesia, mulai dari  Vihara Budha Arya Dwipa Arama, Pura Hindu Penataran Agung Kerthabumi, Gereja Protestan Haleluyah, Gereja Katholik Santa Katarina,  lalu sebelum Masjid Pangeran Diponegoro, kita berbelok ke kiri di depan Borobudur Mini.

Dari sana kita berbelok lagi di depan Sasana kriya, terus berlanjut ke Sasono Langen Budoyo, ke tempat parkiran di dekat gerbang, lalu menuju ke Anjungan jambi, terus Anjungan Sumatera Selatan, Museum penerangan terus berlari lurus…. terus dan terus  akhirnya kembali lagi  deh ke Taman Kaktus. Lari  yang sangat panjang.  Sangat melelahkan dan penuh tantangan.   Benar-benar THE LONG RUN… Walaupun banyak juga peserta yang kelelahan dan akhirnya memutuskan untuk berlari lambat atau bahkan berjalan kaki saja, namun banyak juga diantaranya yang memang benar-benar lari marathon dengan penuh spirit tanpa mengenal lelah walaupun jaraknya jauh.

Jadi tahun ini,  tantangannya  bukan hanya sekedar bagaimana agar bisa menang, namun yang lebih penting lagi adalah bagaimana caranya agr bisa bertahan lama. It’s not about winning. It is about endurance!.  Bukan hanya soal ketahanan dan kemenangan jangka pendek. IT IS ABOUT LONG RUN…

Spirit of Wipro Run 2013

Untuk memastikan semua kegiatan berlangsung dalam suasana yang sportif tanpa kecurangan, panitia menetapkan beberapa peraturan yang harus ditaati oleh para peserta antara lain diskualifikasi jika melakukan kecurangan misalnya menghadang, mendorong  atau mengganggu peserta lain.  Memotong rute lomba ataupun menaiki kendaraan di tengah tengah lomba, maka kepesertaannya akan disikualifikasi.   Selain itu juga ditempatkan petugas yang akan memberikan kalung putaran di dua pos  yang harus dilalui dan 3 pos penjurian yang akan memantau peserta yang lewat.  Di pos-pos itu juga disediakan minuman dan permen, sehingga sangat menolong.

Untuk memastikan agar  tidak ada para peserta  yang tersesat dan tetap  konsisten di jalur yang telah ditetapkan, petugas-petugas dengan petunjuk alur marathon berdiri di beberapa titik alur jalan.  Jadi tidak perlu takut kesasar. Ambulance dan bis juga disediakan mengikuti para peserta lari yang mungkin saja kelelahan,mengingat cukup banyaknya peserta yang masih kanak-kanak diajaki kut serta oleh orangtuanya.

Seperti pernah saya ceritakan sebelumnya, Spirit of Wipro Run adalah kegiatan yang dilakukan untuk memaknai “Spirit of Wipro”  yang merupakan semangat dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi dan diterapkan dalam kelaurga besar Wipro. Dan yang lebih penting lagi, merupakan ajang kebersamaan komunitas Wipro  bersama keluarga, sahabat dan siapaun yang ingin ikut serta dalam merayakan semangat “berlari”.

Berlari dengan bangga!.

Terang Di Dalam Kegelapan.

Standard

Seorang  teman mengisahkan kesulitan hidup yang dideritanya belakangan ini. Suaminya mengalami gangguan jantung yang ???????????????????????????????menyebabkannya harus menjalani operasi dan perawatan rumah sakit yang cukup lama. Ia menemani suaminya di Rumah sakit, sementara pekerjaan di kantor juga menumpuk. Walhasil, ia ikut jatuh sakit dan terpaksa dirawat inap juga di rumah sakit. Sementara dua anaknya yang masih kecil yang menjadi kurang terurus, ikut-ikut pula jatuh sakit dan akhirnya dirawat di rumah sakit juga. Saya mendengarkan sambil ikut merasakan jika saya berada di posisinya. Alangkah berat rasanya penderitaan itu.

Dan tentunya  masih ada lagi penderitaan finansial dibalik musibah yang berturut-turut itu.  Berobat tentu tidak ada yang gratis bukan?  Mahal pula. “Gelap sekali rasanya,Bu!” Kata teman saya dengan wajah yang sendu.

Seorang teman yang lain berkisah tentang keadaannya yang sangat sulit karena merasa terjebak di sebuah perusahaan di mana politik kantor terasa sangat garang.  Sementara ia sendiri merasa tidak suka  dan tidak bisa ikut berpolitik di kantor. Juga tidak ingin keluar, karena iamerasa tidak ada yang salah dengan kantornya. Hanya orang-orangnya saja ada yang berpolitik.  Saya juga tidak suka dan tidak bisa berpolitik di kantor. prinsip saya ya kerja saja dengan  baik dan lurus hati.   “Rasanya buntu!. Tidak menemukan jalan keluar”.  kata teman saya.

Sayapun ikut membayangkan jika saya yang berada di posisinya. Apa yang harus saya lakukan? Apakah saya akan mampu melewatinya dengan baik? Atau malah mati didera oleh badai politik itu?

Terima suka dan duka dengan ikhlas,  sebagaimana kita menerima siang dan malam.

Masih banyak lagi kisah-kisah derita yang diceritakan orang-orang kepada saya, yang menyebabkan dunia terasa buntu dan gelap. Membuat saya terpancing untuk mengkompilasinya,  mencari benang merahnya satu sama lain dan merenungkan maknanya.

Saya pikir setiap manusia yang lahir di planet bumi ini sudah ditakdirkan untuk menerima keadaan gelap dan terang dengan kurang lebih seimbang. Walaupun tentu saja porsinya setiap saat tergantung dari lokasi kita dan tingkat kecondongan axis bumi terhadap matahari. Namun secara umum, gelap terang itu pasti terjadi. Dan mau tidak mau harus diterima. Gelap dan Terang. Siang dan Malam. Tak ada orang yang mampu mengelakkannya kecuali  jika kita berada di luar dari system.  Artinya, jika saat ini kita mengalami gelap, suatu saat terang  pasti akan datang sebagai sebuah keniscayaan.  Mau tidak mau. Ikhlas tidak ikhlas. Demikian juga dengan terang. Jika saat ini kita sedang mengalami terang, maka suatu saat gelap pun akan datang juga sebagai sebuah kepastian. Tanpa usaha apapun dari kita. Alam sudah mengaturnya sedemikian rupa.

Orang Bali mengatakan Siang-Malam dan Gelap-Terang ini sebagai “Rhwa Bhineda” alias dua hal berbeda yang tak bisa dipisahkan satu sama lain. Dan melambangkannya dengan “Kain Poleng “alias Kain Hitam Putih. Memasang kain ini di pohon-pohon, di bangunan suci, di rumah dan sebagainya, sebagai pertanda akan kesadaran dan pengakuan  akan adanya hukum alam ini.

Dalam  kehidupan sehari-hari, masa masa sulit bisa kita andaikan dengan masa gelap. Dan masa -masa mudah bisa kita andaikan dengan masa terang. Jadi penghiburan sederhana yang bisa saya katakan pada diri saya sendiri saat harus menjalani masa sulit adalah “ Tenanglah! Sabarlah!  Lakukan segala sesuatunya dengan cara yang sebaik-baiknya yang bisa kita lakukan.  Karena dunia itu berputar. Cepat atau lambat, suatu saat masa terang pasti datang”.   Toh kita semua tahu, sejak jaman dulu manusia telah mempelajari tentang hukum siang malam ini  dan menerima kenyataan itu dengan baik.

Pelita membantu kita melewati malam dengan lebih mudah.

Ketika nenek moyang kita mulai belajar ikhlas menerima siang dan malam, lalu berikutnya mereka menemukan pelita untuk membantu mengatasi kesulitan saat malam tiba. Tentu saja  pelita ini tidak mampu memberhentikan rotasi bumi sehingga tidak ada lagi siang dan malam.  Namun setidaknya, pelita membantunya menjalani masa gelap dengn lebih baik.   Apakah hal ini tidak bisa kita implementasikan juga pada kehidupan kita sehari-hari?

Jika kita tahu bahwa kita harus menjalani masa sulit dari kehidupan kita, dan kita merasa sangat tertekan untuk menjalaninya, maka carilah pelita segera.  Di mana?   Ya di mana saja.

Dari dalam diri sendiri, dengan cara mengoptimalkan akal budi kita dengan sebaik-baiknya. Terkadang tanpa kita sadari, sebenarnya pemecahan masalahnya ada di kepala kita. Cuma kita saja yang belum menemukannya sejak awal.  Kenapa kita tak pernah tahu sebelumnya? Kadang-kadang hanya karena kita tak pernah memaksa  pikiran kita untuk bekerja lebih keras lagi. Kita terlalu memanjakan otak kita, sehingga malas untuk menghadapi tantangan.

Atau dari luar diri kita. Cari bantuan! Pertolongan!  Atau sekedar cari teman untuk sharing, sehingga rasa gelap yang menyelimuti sedikit terasa berkurang. Dengan usaha proaktif,  akan membuka kemungkinan untuk mendapatkan ide-ide dan cara-cara yang membuat kita terasa dimudahkan dalam menjalani masa sulit. Barangkali di sekeliling kita ada yang mempunyai pelita dan bersedia membaginya sedikit dengan kita?

Sesungguhnya dunia ini penuh dengan orang baik. Tengoklah sekeliling kita, dan fokus untuk menemukan kebaikan dari orang-orang yang berada di sekeliling kita. Pasti sangat banyak jumlahnya.

Saya merenungkan hal itu kembali, pada suatu malam, ketika saya memandang foto lilin ini.

Kisah Selembar Kain Songket Dan Pelajarannya.

Standard

Saya sedang merapikan isi lemari dan menemukan selembar kain songket lama yang kusam dan mbleber warnanya. Melihat kain itu, Songket Yang Lunturkenangan lama seketika muncul ke permukaan kepala saya.

Beberapa tahun yang lalu, ketika saya pulang kampung ke Bali, kakak perempuan saya menghadiahkan selembar kain songket. Kain songket berwarna ungu buah manggis dengan tenunan benang emas yang cemerlang bervariasi benang katun berwarna yang cukup renyep. Walaupun sangat jarang berpakaian adat, namun saya menyukainya. Buat jaga-jaga siapa tahu ada undangan, rasanya perlu juga mempunyai selembar kain adat itu. Setelah berterimakasih atas kebaikan hati kakak saya, maka songket itu pun saya bawa ke Jakarta.

Suatu kali saya benar-benar punya kesempatan untuk menggunakan kain itu. Seorang teman menikah. Sepulangnya dari kondangan, maka saya berganti pakain. Saya ingat ajaran ibu saya bahwa kain songket tidak boleh dicuci. Hanya boleh dijemur atau diangin-angin saja. Biar tidak lembab dan tiddak meninggalkan sisa keringat. Mengingat pesan itu dan mempertimbangkan hari yang sudah malam, maka sayapun hanya membentangkan kain songket itu di tempat jemuran. Besok saya tidak akan sempat melakukannya karena harus ke kantor pagi-pagi. Kebetulan Si Mbak yang membantu pekerjaan rumah tangga juga tidak menginap di rumah saya. Ia hanya datang pagi (kadang agak siang) dan pulang kembali di sore hari. Setidaknya jika saya bentangkan di tempat jemuran, Si Mbak besok tinggal mengeluarkan jemuran itu ke halaman belakang dan mengangkatnya lagi jika sudah benar-benar kering. 

Esok malamnya sepulang dari kantor, saya melihat kain songket itu sudah terlipat dengan baik di atas kursi. Tapi alangkah terkejutnya saya, ketika saya mendekat. Kain songket itu ternyata luntur!. Benar-benar luntur habis. Warna merah keunguan mbleber kemana-mana membuat keseluruhan tampilan kain songket itu kusam dan tidak kinclong lagi. Seketika saya merasa lemas tak berdaya. Ya ampuuun..apa yang harus saya katakan kepada kakak saya jika ia tahu bahwa saya tidak menjaga dengan baik kain pemberiannya? Tentulah ia akan merasa sedih. Mungkinkah ia menyangka bahwa saya tidak menghargai pemberiannya? Memikirkan itu, hati saya rasanya sedih sekali dan sangat tidak enak.

Aduuuh..bagaimana sih Si Mbak ini. Saya ngga habis pikir padahal itu kan kain songket. Semua orang juga tahu bahwa kain songket tidak boleh dicuci. Kok bisa sih dia mencuci kain itu, padahal saya tidak pernah menyuruh begitu. Aduuuuh…

Namun saya ingat, akhirnya saya menyadari bahwa itu bukan kesalahan siMbak. Dan setidaknya ada 5 butir pelajaran yang bisa saya temukan dari kesalahan itu.

Pertama, hal itu sudah kepalang terjadi. Dan kita tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya. Dalam kejadian seperti ini, hanya ada dua pilihan yang harus dilakukan. Berusaha keras mencari tahu bagaimana cara memperbaikinya, lalu perbaiki hingga bisa pulih kembali seperti semula. Jika pilihan pertama itu tidak bisa kita lakukan, pilihan satunya lagi adalah  menerimanya dengan ikhlas. Apa adanya. Rusak tidak rusak.  Yang penting diingat hanyalah kenangannya.

Kedua, bahwa itu hanyalah selembar kain. Materi!. Harta! Mengikatkan diri pada selembar kain, dan merasa sedih karenanya tidak akan pernah membantu saya untuk membebaskan diri dari keinginan duniawi. Harta alias Materi-lah yang banyak men’drive’ orang untuk bertindak berlebihan dan tidak pada tempatnya. Banyak penipuan, kecurangan, pelacuran, kejahatan dilakukan orang dipicu oleh kegilaan pada harta benda duniawi. Dan  kesenangan duniawi ini membelit dan mengganduli jiwa manusia sedemikian beratnya laksana bola besi yang diikatkan pada kaki tawanan,  sehingga jiwanya sulit terbebas dan bersih untuk kembali menyatu denganNYA.

Ketiga,  barang pemberian, biasanya tidak akan ditanyakan juga oleh pemberinya. Kalaupun nanti ditanyakan, katakan saja apa adanya. Toh saya tidak bermaksud untuk merusaknya dengan sengaja. Itu terjadi begitu saja. Niatnya adalah cuma menjemur saja, bukan mencuci. Pelajarannya adalah bahwa segala sesuatu yang kita lakukan sebaiknya selalu dengan niat baik. Sehingga kalaupun terjadi hasil yang kurang memuaskan ataupun kekeliruan dalam mengeksekusi, orang lain akan lebih mudah menerima dan memaafkan. Selain itu, pemberinya adalah kakak kandung sendiri – yang sudah pasti bisa memaklumi keteledoran yang terjadi.

Keempat,  kesalahan yang pasti adalah di tangan saya. Bukan pada Si Mbak. Jadi saya harus mengakui kesalahan dan belajar dari kesalahan itu untuk memperbaiki diri ke depannya. Saya tidak memberi instruksi dengan baik kepada Si Mbak sebelum berangkat kerja “Jangan di cuci ya!”. Instruksi yang jelas sangat penting diberikan di awal sebuah pekerjaan, jika kita memang benar-benar menginginkan sebuah kesuksesan dalam mengeksekusi. Tanpa instruksi yang jelas, akan selalu membuka peluang bagi bawahan kita untuk membuat interpretasi sendiri yang belum tentu sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Kelima, jangan berasumsi dan memandang setiap hal dari hanya sudut pandang kita sendiri. Walaupun kain Songket adalah kain yang umum digunakan oleh beberapa suku, jangan berasumsi bahwa semua suku mengenal kain Songket dengan baik. Dan selanjutnya, tidak semua orang dalam suku pengguna kain Songket itu, juga menggunakan atau mengenal Songket. Entah dengan alasan apa.  Dengan demikian, tidak semua orang mengetahui cara memelihara kain songket dengan baik, karena tidak ada di dalam kebiasaannya dia. Berasumsi bahwa semua orang memiliki kesamaan pengetahuan atau kebiasaan dengan diri kita, tentulah sebuah kesalahan besar. Karena walaupun saya dan Si Mbak misalnya sama-sama memiliki 10 pengetahuan dan kebiasaan, barangkali saya mengetahui  A, B,C, D, E, F, G, H, I, J…. Si Mbak mungkin pengetahuannya G,H, I, J, K, L, M,N,O,P. Sehingga ada beberapa pengetahuan yang saya tahu, Si Mbak tidak tahu. Dan sebaliknya ada pengetahuan yang Si Mbak tahu yang saya tidak tahu.  

Esok paginya, SI Mbak datang tergopoh-gopoh lebih pagi daripada biasanya. Wajahnya tegang  “Bu! Ibuuuu! Maaf ya Bu, kainnya kemarin saya cuci kok luntur ya Bu. Saya bingung itu mesti diapain…” katanya.

Sayapun hanya tersenyum dan berkata “Ya sudah… Saya juga lupa memberi tahu kalau kain itu tidak boleh dicuci…”kata saya yang membuat wajahnya tenang kembali.

Kain itu masih terlipat dengan rapi. Mengingatkan saya pada Si Mbak, pembantu rumah tangga yang sangat baik dan rajin, yang kini sudah tidak bekerja di rumah saya lagi, karena sudah terlalu sibuk melayani pelanggan di warungnya.

Serangan Kutu Putih Pada Kembang Sepatu.

Standard

Serangan Kupu Putih 1Kutu putih!  Belakangan ini  gerombolan kutu putih kembali  menyerang tanaman-tanaman di halaman rumah saya. Serangga berwarna putih yang punggungnya mirip undur-undur namun berwarna putih ini menyerang tanaman kembang sepatu hingga bunganya pada menciut, cacat dan bentuknya tak menentu. Tidak ada lagi bunga kembang sepatu indah yang mekar sumringah menyambut pagi. Semuanya tampak malu-malu dan mengkeret seolah-olah kurang percaya diri untuk tampil.  Semua kepercyaan dirinya telah dirampas oleh kutu putih.

Kutu putih atau yang disebut juga dengan mealybugs  mengisap tanaman dengan cara yang sangat merusak. Sungguh kasihan saya melihat tanaman-tanaman itu.  Selain itu serangga ini juga rupanya vektor dari virus kuning yang menyebabkan kuning daun di usia muda.

Sebenarnya ini bukan serangan yang pertama kalinya. Beberapa tahun yang lalu, serangga ini pernah juga menyerang tanaman-tanaman saya dengan sangat ganas.  Yang menjadi korban saat  itu selainkembang sepatu juga tanaman frangipani, jatropha, hingga morning glory. Semuanya diserangnya  tanpa ampun. Saya coba basmi dengan menggunakan air sabun,namun ternyata kurang efektif.  Saya coba cara  manual,menyikatnya satu persatu , ternyata juga sangat tidak praktis dan memakan waktu. Hilang satu tumbuh seribu. Sangat susah dibasmi, karena saya juga tidak mau menggunakan diazinone maupun insektisida lain untuk membasmi hama tanaman itu. Selain khawatir akan kemananan anak saya – takutnya anak-anak bermain di sekitar tanaman, juga saya khawatir banyak burung dan serangga lain yang tak berdosa ikut kena musibah racun serangga ini. Setelah lama berpikir, akhirnya saya memutuskan untuk memangkasnya pada bagian yang terserang hama lalu membiarkan daun-daun barunya tumbuh kembali.  Dan ternyata, saya bisa memulihkan kesehatan tanaman-tanaman itu kembali tanpa perlu menggunakan pestisida. Namun semuanya memang butuh kesabaran.

Tahun ini saya mendapat kunjungan kembali dari gerombolan kutu putih ini.  Dan kemungkinan saya harus dengan tega memangkas tanaman-tanaman saya kembali.  Apa boleh buat!! Terkadang kita terpaksa harus memotong sebuah jari tangan kita yang membusuk untuk menyelamatkan empat jari lainnya yang masih sehat.

Mengamati Burung Madu Sriganti.

Standard

HomeSweet Home!

Burung Madu SrigantiRumah adalah tempat yang paling nyaman sedunia. Bener banget!.  Walaupun kecil dan sederhana, rumah selalu mampu  menyedot rasa kangen saya untuk pulang.  Jadi rasanya lega sekali setiap kali pulang kembali dari sebuah perjalanan.  Demikian juga kali ini.

Pulang kembali ke rumah, sebenarnya saya langsung dihadang kesibukan pekerjaan yang bertumpuk. Menyisakan waktu yang sangat sedikit untuk personal life saya dan keluarga. Namun demikian, seperti kata pepatah lama “Di mana ada kemauan, di sana ada jalan“.  Sesibuk-sibuknya di kantor, begitu sampai di rumah,  tetap saja saya menyisihkan waktu untuk melakukan hal-hal yang saya sukai  –  melihat-lihat    tanaman, serangga dan burung-burung yang mampir di halaman rumah.  Salah satu kegiatan yang saya pikir sangat penting peranannya dalam menyeimbangkan kehidupan saya, diantara kesibukan pekerjaan dan sebagai ibu rumah tangga.

Salah satu burung yang tampak mampir ke halaman rumah kali ini adalah Burung Madu Kuning atau banyak juga yang menyebutnya dengan nama Burung Madu Sriganti  atau Olive backed Sun Bird (Nectarina jugularis). Saya melihatnya tanpa sengaja. Sore itu saya mendengar suara burung cabe di sekitar pohon pinus. Saya mencoba mencari-cari arah suaranya di tengah suara Cerecet burung gereja yang sangat banyak bermain di halaman. Beberapa kali saya dengar suaranya yang khas ” Cit Cit Cit”  pendek dan bernada tinggi. namun tak kunjung juga saya melihatnya di kerimbunan dedaunan. Lalu ditengah-tengahnya saya mendengar kontaminasi suara burung lain ” Ciiip Ciiip Ciwiiiit” .  Dan ketika saya mendongak, seekor burung kecil terlihat bertengger di dahan pohon rambutan di pojok halaman. Alangkah indah warna bulunya. Dan alangkah girang hati saya melihatnya.

Burung kecil berukuran paling banter 10 cm ini  memiliki perut berwarna kuning yang sangat terang. Tidak heran jika dijuluki dengan nama Sun Bird.  Bagian dagu dan dada atasnya berwarna biru ungu metalik. Bagian punggungnya berwarna hijau zaitun. Sangat jelas itu adalah Burung madu Sriganti jantan. Karena betinanya berwarna kuning yang lebih kusam dari bagian perut ke bagian dada dan lehernya.

Sebenarnya burung Madu Sriganti ini bukan burung yang susah susah amat ditemukan di sekitar kita. Karena kenyataannya  cukup banyak yang beterbangan di taman-taman perumahan  di sekitar kita. Sibuk mencari makan. Sesuai namanya, tentu sangat mudah ditebak bahwa makanannya adalah  nektar yang dihasilkan oleh berbagai tanaman bunga-bungaan di sekeliling kita.  yang paling disukainya adalah nektar dari bunga benalu. Barangkali karena beberapa pohon di sekitar rumah saya ditumbuhi benalu,membuat burung ini suka mampir.  Bahkan beberapa waktu yang lalu saya sempat melihat sarangnya yang menggantung amburadul di salah sebuah dahan pohon kayu merah. Barangkali demi nektar dari benalu, maka ia bersarang di sana.

Selain itu kalau kita perhatikan paruhnya juga sangat panjang dan langsing melengkung, mengindikasikan bahwa burung ini memang pemburu nektar. Beberapa kali saya juga pernah melihat burung ini menyedot nektar sambil terbang. Walaupun cuma sebentar, namun sangat mirip dengan gaya burung  Kolibri menyedot nektar.


The Banyan Tree – Living Life To The Fullest.

Standard

Pohon BanyanAda sebuah pohon yang selalu membuat saya penasaran karena saya sering mendengar namanya, namun tidak pernah melihatnya seumur hidup saya. Konon menurut cerita, itu adalah pohon yang terbesar yang mungkin ada di permukaan bumi. Dahannya rindang, akar gantungnya banyak, yang kemudian semakin berkembang membentuk batang-batang baru yang membesar. Sedemikian perkasanya pohon itu, sehingga dikatakan sebagai rajanya pohon. Bahkan beberapa sumber merefer pohon itu sebagai Kalpataru,walaupun beberapa sumber lain menyatakan bukan. Pohon itu adalah Pohon Banyan (Ficus bengalensis).

Setelah usia saya mendekati setengah abad, akhirnya saya diberi kesempatan juga untuk melihat tanaman itu hidup-hidup.  Walaupun dari jarak beberapa meter saja, karena sore telah menjelang malam. Awalnya saya mengira bahwa pohon Banyan itu sama dengan pohon Beringin (Ficus benyamina). ternyata bukan.  Rupanya cuma bersaudara saja. Daunnya kelihatannya berbeda. Daun Beringin biasanya kecil-kecil, agak kaku dan berbentuk ellips. Namun daun pohon Banyan kelihatannya sedikit lebih besar dan mengkilat, walaupun bentuknya juga ellips.  Batang dan akarnya kelihatan mirip, namun kalau diteliti, rupanya batang pohon Banyan biasanya lebih banyak dari pohon Beringin.  Kenapa demikian? Usut punya usut ternyata perbedaan ini ada sebab musababnya.

Pohon Beringin biasanya tumbuh sebagai batang tunggal yang tumbuh dan membesar, lalu mulai mengembangkan akar-akar gantungnya untuk bernafas dan mencari makan di udara agar bisa tumbuh dengan lebih cepat. Akar-akar gantung ini biasanya tetap menggantung dengan ukuran relatif kecil dibanding batang utamanya. Jarang ada yang sangat membesar. Kalaupun ada, biasanya hanya satu dua dan jaraknya tidak jauh  dari batang utamanya. Sehingga jika kita perhatikan, pohon Beringin biasanya memiliki batang yang sangat besar, dahan yang rimbun penuh dedaunan serta akar yang menggantung banyak dan kecil-kecil.

Pohon Banyan rupanya sedikit berbeda.  Ia mulai tumbuh sebagai pohon kecil, seringkali di sela-sela batang pohon hidup yang lain.  Barangkali karena bijinya disebarkan oleh burung dan jatuh di sana. Ia mulai membesar lalu memiliki akar-akar gantung yang banyak. Nah akar gantungnya ini ada yang tumbuh membesar, melilit tanaman induknya, ada juga yang kemudian tumbuh membesar ke bawah  menyaingi batang utamanya dalam ukuran. Tumbuhnya pun agak beberapa jauh dari batang utamanya.  Sehingga pohon Banyan akan terlihat memiliki banyak sekali batang dan dahan.  Iapun bisa tumbuh menjadi sebuah pohon yang luas. Kebetulan yang saya lihat di tempat itu adalah pohon yang masih muda.  Jadi akarnya yang telah menjadi batang belum terlalu banyak. Namun saya sudah bisa melihat, beberapa diantaranya sudah cukup besar diameternya.

Mengapa saya sangat tertarik ingin melihat pohon ini dengan mata saya sendiri adalah karena cerita yang saya dengar bahwa pohon ini bisa tumbuh menjadi sedemikian besarnya menaungi wilayah lebih dari 1.5 hektar dengan sedemikan banyak batangnya. Sehingga jika kita bayangkan, pohon Banyan yang dibiarkan besar, satu pohon bisa membentuk hutan tersendiri. Cukup untuk menaungi kehidupan satwa liar di bawahnya. Selain itu, pohon Banyan ini juga memiliki banyak kisah, selain merupakan salah satu pohon yang disakralkan di India.

Memandang pohon ini, melihat bagaimana akarnya yang berubah menjadi batang tumbuh dari atas ke bawah (bukan hanya dari bawah ke atas seperti umumnya batang  pohon) membuat kita menyadari bahwa sebenarnya kita sedang diajak berpikir “out of the box ‘ oleh sang pohon. Bahwa dunia ini bukan hanya bisa berjalan seperti bagaimana aturan yang umum berjalan. Namun juga menyediakan berbagai pilihan lain yang selama ini belum berhasil kita lihat.  Kita perlu men’challenge’ diri kita dengan lebih keras lagi untuk mencari pendekatan-pendekatan alternatif yang beda dari biasanya dalam menjalankan kehidupan kita sehari-hari.

Untuk tumbuh dan berkembang dengan optimal, pohon Banyan ini telah melakukan upaya hidup yang sepenuhnya. Telah menjalankan segala kemungkinan cara tumbuh baik dari bawah ke atas maupun dari atas ke bawah. Jungkir balik tanpa peduli. Jalani hidup yang sepenuhnya. Secara maksimal. Living life to the fullest!. Itulah sebabnya ia menjadi sedemikian digjaya. Sedemikian perkasa diantara pepohonan.

Matahari sore bergerak turun. Meninggalkan desauan angin yang seolah bertanya. Apakah kita sudah menjalankan kehidupan kita dengan maksimal? Mengerahkan segala upaya kita? Sudah jangkir balik? Kaki ke tas kepala ke bawah? Habis-habisan? Sebelum kita merasa puas dengan pencapaian kita. Atau bahkan sebelum kita menyerah dengan mengatakan bahwa  hanya sebatas ini kemampuan kita. Jika belum jungkir balik, ikhtiarkanlah lebih kuat lagi. Sehingga semua potensi yang ada pada diri kita termanfaatkan dengan baik. jangan cepat merasa puas akan pencapaian kita, karena mungkin saja masih banyak potensi yang belum kita gali dengan optimal. Dan hanya baru mengatakan menyerah dan tak sanggup ketika kita memang benar-benar telah menjalani semuanya dengan semaksimal mungkin namun tetap tak berhasil.

Saya menoleh sekali lagi kepada pohon Banyan di Vassanthanahalli itu. Mengucapkan terimakasih di dalam hati saya.  Lalu melangkah pergi.