Monthly Archives: October 2013

Bahasaku, Bahasa Indonesia Yang Dinamis.

Standard

BenderakuTergelitik oleh tulisan beberapa orang sahabat tentang Bahasa Indonesia dan bagaimana sebaiknya kita melestarikannya, serta mengingat bahwa kemarin tanggal 28 Oktober adalah Hari Sumpah Pemuda – saya juga tertarik untuk ikut bercerita dan sekalian menuangkan pemikiran saya tentang Bahasa kita tercinta itu.

Bahasa Daerah.

Sebagai bangsa Indonesia, tentu saya sangat mencintai Indonesia, tanah air saya. Termasuk di dalamnya Bahasa Indonesia. Walaupun terus terang, Bahasa Indonesia adalah Bahasa kedua yang saya kuasai setelah bahasa Bali. Itu terjadi karena keluarga saya menggunakan Bahasa Bali dalam percakapan sehari-hari, sedangkan di sekolah, Bahasa Indonesia dijadikan bahasa pengantar.

Dalam Bahasa Bali pun saya harus menguasai dua jenis sub bahasa.  Pertama adalah Bahasa Bali selatan yang dikenal sebagai Bahasa Bali biasa adalah bahasa umum yang digunakan oleh keluarga ibu saya. Dan kedua adalah Bahasa Songan,  adalah Bahasa yang umum digunakan oleh keluarga Bapak saya. Mengapa dua bahasa ini saya pisahkan? Karena walaupun serupa, Bahasa Songan hanya dituturkan oleh orang-orang dari desa Songan dan di sekitar tepi danau Batur, yang umumnya dikenal dengan nama Orang Bali Mula (penduduk asli di Bali sebelum jaman Majapahit). Memiliki sekitar 30-40% kosa kata yang sama sekali berbeda dengan Bahasa Bali.  Saya sebutkan beberapa contoh kata dalam Bahasa Songan yang tidak ada dalam bahasa Bali biasa,misalnya : anih = aduh; jitnika=cemburu; pancek=bodoh, panci=bagus; lajana = rupanya, nyerowadi= meniru dialek orang lain; seleh = habis-habisan; memanjang= menangis meraung-raung dengan irama, muun= jorok, kurang menjaga kebersihan, dan lain-lain masih banyak sekali. Saya sering bergurau dengan mengatakan bahwa saya bisa membuat sebuah kamus Bahasa Songan tersendiri saking banyaknya yang berbeda.

Sisanya sekitar 60-70% sama namun diucapkan dengan dialek yang sama sekali berbeda. Dimana  bahasa Bali Selatan umumnya menggunakan akhiran e, sedangkan Bahasa Songan menggunakan akhiran a. Misalnya ketika menterjemahkan  kata ‘di mana? (bahasa Indonesia)”, kita akan mengucapkan kata ‘di je?’ dalam Bahasa Bali selatan (walaupun dalam tulisan kita akan menuliskannya ‘di ja?”, sementara dalam Bahasa Songan kita akan mengucapkannya “jaa?” .   Walaupun serupa, tapi beda bukan? Juga ada beberapa kata yang jika dalam Bahasa Bali selatan diucapkan berakhiran e, akan diucapkan dengan akhiran i dalam Bahasa Songan. Misalnya, ‘ nyen adane? (siapa namanya?), maka jika diucapkan dalam Bahasa Songan akan menjadi ‘nyen adani?’.

Agar dapat berkomunikasi dengan baik dan akrab dengan saudara dan kerabat saya baik dari pihak Bapak maupun Ibu, saya tidak punya pilihan selain harus menguasai kedua sub bahasa Bali itu.

Bapak saya yang lama bersekolah di Jawa (baca: Semarang dan Yogyakarta) dan sangat fasih berbahasa Jawa,  terkadang mengajarkan saya beberapa kosa kata Bahasa Jawa. Sehingga secara umum saya mengerti Bahasa Jawa. Karena 90% kosa katanya ada dalam Bahasa Bali juga. Walaupun jika untuk berbicara, hingga kini saya tetap tidak pede, takut ketukar antara halus dengan kasarnya.

Bahasa Indonesia Yang Keren.

Karena Bahasa daerah sedemikian pentingnya dalam kehidupan masa kecil saya, Bahasa Indonesia menjadi bahasa kedua yang saya kuasai. Sekolah membuat saya bisa menggunakan Bahasa Indonesia  dengan baik dan lancar. Karena pada saat saya kecil tidak semua orang bisa berbahasa Indonesia dengan lancar, maka memiliki kemampuan berbahasa Indonesia dengan baik merupakan kebanggaan tersendiri.  Karena rasanya keren dan lebih modern dibandingkan dengan yang lainnya. Saya menggunakan Bahasa Indonesia hanya terbatas dengan teman-teman yang berasal dari luar Pulau Bali, atau hanya selama jam-jam pelajaran di sekolah. Tentu saja Bahasa Indonesia dengan dialek Bali yang sangat kental.  Dengan Bapak dan Ibu di rumah, saya tetap menggunakan Bahasa Bali halus. Sekali-sekali diselingi dengan Bahasa Indonesia. Sementara dengan kakak dan adik-adik saya menggunakan Bahasa Bali biasa (jabag) dengan porsi Bahasa Indonesia yang jauh lebih banyak.  Semakin saya besar, penggunaan Bahasa Indonesia saya menjadi semakin banyak. Terutama sejak tinggal di Jakarta. Nyaris-nyaris saya hanya berbahasa Indonesia dalam pergaulan masyarakat. Saya mencintai Bahasa Indonesia sama banyaknya seperti saya mencintai Bahasa Bali.

Bahasa Asing.

Berasal dari daerah Kintamani yang cukup banyak dikunjungi tourist asing, mau tidak mau saya terpapar akan berbagai bahasa asing.   Bapak saya yang menguasai  dengan fasih beberapa bahasa asing, selalu mendorong saya untuk  mencoba berbahasa Inggris  dengan para tourist itu – namun terus terang saya tidak begitu bisa. Yang ada di luar kepala saya waktu kecil hanya dua kalimat. “Hellow, ho aryu?”  untuk menanyakan apa kabar turis yang sedang saya sapa (maksudnya ya…” Hallo, how are you?”).  Dan  berikutnya adalah  “Wer duyu kamprong?” (maksudnya “Where do you come from?”)  untuk menanyakan negara asal turis itu. Sisanya hanya “Yes” dan “No” saja.

Hingga masa kuliah saya praktis hanya menggunakan Bahasa Inggris secara pasif saja. Membaca buku text book, mau tidak mau karena buku-buku text book untuk Kedokteran Hewan hanya tersedia dalam Bahasa Inggris. Punya beberapa kawan berkebangsaan asing, namun lagi-lagi saya hanya mampu sedikit-sedikit ngobrol.  Sampai akhirnya saya bekerja di perusahaan asing. Karena tuntutan pekerjaan mau tidak mau saya harus berbahasa Inggris. Rapat dalam Bahasa Inggris, presentasi dalam Bahasa Inggris, ngomong dengan boss dan beberapa teman-teman expatriate ya berbahasa Inggris dan seterusnya.

Bahasa Indonesia yang Dinamis.

Jadi sekarang, sehari-hari  saya praktis menggunakan Bahasa Indonesia, dengan dicampur kosa kata Bahasa Inggris, Bahasa daerah dan bahasa gaul yang saya tahu – tergantung dengan siapa saya berbicara.  Terus terang, bahasa  Indonesia yang saya gunakan tentu jauh dari bahasa Indonesia baku.  Tapi apakah itu artinya saya kurang cinta pada Bahasa Indonesia saya?  Tentu saja tidak! Saya mencintai Indonesia dan akan tetap mencintai Indonesia hingga titik darah saya yang penghabisan.

Bagi saya, berbahasa Indonesia dengan selipan bahasa asing di sana sini, bukan berarti saya bermaksud kebarat-baratan. Atau jika saya menyelipkan beberapa kata bahasa daerah, bukan berarti saya sedang membangun primordialisme. Juga jika saya memasukkan satu dua kata gaul bukan berarti saya menjadi Alay.  Menggunakan bahasa dengan ragam yang tak baku terjadi karena kita menyerap kosa kata-kosa kata baru , baik yang berasal dari bahasa daerah maupun bahasa asing serta bahasa gaul yang lebih nyaman serta relevan digunakan. Hal yang sangat umum terjadi yang menandakan bahwa bahasa itu hidup. Dan punya kehidupan.

Bahasa, seperti halnya mahluk hidup memiliki kehidupan.  Ia tumbuh dan berkembang mengikuti perkembangan jaman. Ia hidup ketika masyarakatnya membicarakannya, dan mati jika masyarakatnya tidak membicarakannya. Ia tumbuh dan berkembang jika terjadi dinamika di dalam kosa katanya, dan ia menjadi mandek jika tidak ada pergerakan di dalam kosa katanya. Bahasa ibaratnya pohon,  dan daun adalah kosa katanya. Jika pohon itu berkembang, tentu akan selalu ada daun baru yang tumbuh dan tak pelak tentu ada juga daun kuning yang layu dan berguguran. Semuanya silih berganti. Demikian juga  kosa kata pada bahasa yang berkembang.  Akan selalu ada kosa kata baru, dan mungkin juga ada kosa kata lama yang terlupakan dan tak digunakan lagi oleh pembicaranya. Itulah hidup.

Tengoklah  Bahasa Indonesia kita tercinta! Darimanakah ia berasal? Secara resmi dikatakan bahwa Bahasa Indonesia berasal dari Bahasa Melayu. Namun bagaimanakah ia berkembang? Tak terkira banyaknya kosa kata bahasa Belanda, bahasa Arab, bahasa Sansekerta, bahasa Inggris, Mandarin,Portugis, Tamil, Hindi, bahasa daerah dan sebagainya di dalamnya. Itu menandakan bahwa Bahasa Indonesia berkembang dan sangat dinamis. Nah jika kita pernah terbuka dan berkembang sebelumnya, mengapa kita harus menutup diri kedepannya?  Terbukalah. Biarkanlah kosa kata- kosa kata baru masuk dan memperkaya Bahasa kita sesuai dengan kenyamanan penuturnya. Karena demikianlah ia seharusnya hidup dan dituturkan oleh penuturnya. Bahasa yang dinamis.

Karena ini bulan Oktober, biarlah saya merenungkan Bahasa Indonesia saya.  Saya menengok kembali isi Sumpah Pemuda kita yang dikumandangkan pada tanggal 28 Oktober 1928 itu:

Pertama:Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
 Kedoea:Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
 Ketiga:Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Lihatlah! Ada pergerakan yang telah terjadi dalam ejaan kita. Itu cukup membuktikan bahwa Bahasa kita memang dinamis. Dan dengan segala kedinamisannya hingga detik ini saya tetap menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia!

I Love You, Indonesia!

Advertisements

Gemerlap Malam di Sunway.

Standard

Sunway Light 9Salah satu tempat menarik di Malaysia yang selalu ingin saya ceritakan, tapi entah kenapa saya selalu lupa adalah Bandar Sunway, yang berlokasi antara Petaling Jaya dan Subang Jaya.  Karena kantor saya tidak jauh letaknya dari sana, maka sayapun cukup sering bermain ke tempat ini, entah hanya sekedar untuk melihat-lihat, jalan-jalan, makan malam  atau menginap di salah satu hotel yang ada di sana.  Tempat ini sebenarnya adalah sebuah kompleks yang terdiri atas Shopping Mall yang disebut Sunway pyramid, taman rekreasi Sunway Lagoon, hotels dan restaurant.  Berjarak tempuh kurang lebih sejam  naik taxi dari bandara International Kuala Lumpur (KLIA).

Mengapa tempat ini menarik? Menurut saya, tempat ini sangat indah. Walaupun secara umum sebenarnya saya kurang menyukai kehidupan kota yang gemerlap lengkap dengan hiruk pikuk soal pershoppingan dan gaya hidup yang memboroskan uang, namun tempat ini terasa agak berbeda dengan kompleks pertokoan-hotel yang pernah saya tahu di tempat lain.

Pada dasarnya adalah karena  tempat ini memang sengaja dibuat indah. Kompleks pertokoannya sengaja mengambil thema Egypt, dengan bentuk bangunannya yang menyerupai Pyramid lengkap dengan patung singa yang bergaya menyerupai Sphynx  sang penjaga pyramid. Pillar bangunannyapun ditatah dengan tulisan hyerogliph – pokoknya ala Mesir banget deh.  Hal menarik lain adalah karena Mall  ini memiliki  lapangan “ice skating’ indoor, sehingga ketika kita lelah berjalan-jalan, atau harus menunggu karena janjian dengan seseorang – maka untuk membunuh kebosanan, kita bisa melongok ke bawah untuk melihat aktifitas di Ice Skating ring. Selain tentunya toko-toko yang menjual barang-barang bermerk, sudah pasti berbagai jenis restaurant juga ada di situ.  Tempat rekreasinya juga sangat menarik. Kolam renang yang besar, perosotan air raksasa dan air terjun raksasa dengan latar belakang hutan buatan yang hijau.Tidak heran  pada hari Sabtu kemarin, kolam renang besar yang ada di sana tiba-tiba menjadi sangat padat  dan penuh dengan orang yang berdatangan mau berenang- hingga lalu lintaspun terganggu.

Suatu malam sepulang urusan kerja, saya janjian dengan teman saya untuk makan malam di sana. Sangat dekat dengan hotel tempat saya menginap. Cukup jalan kaki – semenit juga sampai.  Awalnya agak tidak punya ide untuk makan apa dan di restaurant apa, tapi kemudian kami memilih restaurant Taiwan saja.  Cocok untuk lidah saya yang Indonesia banget dan lidah Hongkongnya. Saya mencoba potato ball yang rupanya adalah ubi rambat kuning (sweet potatoes) yang dibuat bulat-bulat mirip bakso lalu digoreng, lalu saya juga memesan Jamur King Oyster goreng yang enak banget  dan sayuran Kecipir yang dimasak ala Taiwan. Hmm..lebih enak daripada yang biasanya saya masak. Kami mengobrol ke kiri dan ke kanan hingga larut malam.

Sehabis makan saya menemani teman saya melihat-lihat di sebuah toko sepatu wanita namun tak sempat memilih, karena toko itu keburu tutup. Dari sana sayapun keluar, lalu berjalan-jalan sebentar di bawah langit malam. Menikmati dekorasi cahaya yang menghiasi hotel-hotel dan pertokoan. Sungguh indah. Tengah malam, berdiri di halaman Sunway seorang diri – membuat kita serasa sedang berada di negeri dongeng Seribu Satu Malam.

Cahaya yang berpendar dari lampu jalanan yang berbentuk bintang dan bulan sabit, terasa sangat sejuk dan artistik.  Namun entah kenapa, ketika melamun terlalu jauh, saya jadi membayangkan akan keluar seorang penyihir yang terbang berputar-putra di langit malam itu dengan sapunya. Ups! Berharap ia tidak sedang melihat saya yang sedang usil memotret.

Lalu tirai-tirai cahaya yang dihiasi motif-motif bulatan-bulatan yang umum kita temukan pada bulu burung Merak biru yang berasal dari Srilanka ataupun India. Wahai alangkah indah dan cantiknya.  Gemerlap dalam lingkaran kuning, jingga ,hijau dan biru. Lalu ada patung-patung gajah yang temaram disinari cahaya redup, vas-vas bunga yang bercahaya, gading, bunga-bunga cahaya dan pilar-pilar yang bermandikan cahaya.  Semuanya terlihat indah, seolah saya sedang berada di halaman istana Maharaj.  Saya dikelilingi cahaya.! ooh.. Alangkah indahnya hidup ketika dikelilingi cahaya.

Seketika saya teringat, sebentar lagi hari Deepavali, the Festival of Light  yang jatuh pada tanggal 2 atau 3 Nov ini.  Festival ini konon dirayakan sebagai peringatan atas kembalinya Sitha dari Alengka ke pangkuan Rama suaminya di Ayodhya. Konon malam saat mereka pulang, jalanan sangat gelap sehingga para penduduk menyalakan lampu agar mereka bisa pulang dengan selamat.

Happy Deepavali…

Lagu Rakyat Bali: Sesapi Putih Lyrics.

Standard

Sesapi

Sesapi Putih,  mengulayang di Taman Sari.

Mengungkulin sekar wangi Tunjung Biru.

Menyagain I Kekupu mengisep sari

Wireh sekar wangi apang eda kanti layu”

tunjung-biru-2

terjemahan:

“Burung Layang-Layang Putih, melayang-layang di Taman Sari

Terbang di atas bungaTeratai Biru  nan wangi.

Menjaga ketat Si Kupu-Kupu yang menghisap sari.

Agar si bunga wangi jangan sampai layu”.

White swallow bird, hovering in the flower garden.

Flying above the scented Blue Water Lilies.

Strictly watching the Butterfly that is sucking  nectar.

So that  fragrant flowers do not wither

Lagu ini adalah lagu yang sangat umum dinyanyikan oleh banyak orang saat saya masih kecil. Dan merupakan salah satu lagu andalan yang dinyanyikan dalam setiap pagelaran Janger di Sekolah-Sekolah maupun di Banjar.  Lagu ini dinyanyikan dalam tempo lambat yang mendayu.

Lagu berkisah tetang burung layang-layang dan peranannya menjaga bunga di taman sari. Sesapi Putih adalah kiasan  yang ditujukan untuk orang yang ditugaskan mengawal para remaja putri di Bali  dalam pergaulannya agar jangan ada yang sampai rusak. Sementara Tunjung Biru (Teratai Biru) adalah bunga yang dianggap sakral,  yang merepresentasikan para remaja putri yang kesuciannya dianggap sakral.

 Mungkin sebenarnya yang dimaksudkan adalah Burung Walet – karena setahu saya burung Layang-Layang maupun burung Walet dalam bahasa Bali tetap saja disebut Kedis Sesapi.   Sayangnya saya tidak tahu siapa pengarang lagu ini, sehingga saya tidak bisa mencantumkan nama beliau di sini. Saya menemukannya sudah ada ketika SD – sehingga setidaknya lagu ini pasti sudah berumur lebih dari 42 tahun.

Floor Art : Halaman Rumah dan Rangoli.

Standard

Rangoli - BaliKetika sedang ceklak ceklik di timeline facebook kakak sepupu, saya melihat foto seorang keponakan saya sedang berdiri di halaman rumah siap mau berolahraga. Kakinya persis menginjak gambar dekorasi halaman. Berikutnya saya melihat foto lain yang diupload kakak saya –  masih di halaman  dan saya melihat lagi gambar  dekorasi itu. Lalu ada gambar kolam yang baru saja dikuras. Kata kakak saya seorang keponakan yang lain sedang deman, takutnya demam berdarah. Jadi ia kuraslah kolam itu.  Kebetulan kakak saya yang satu ini memang hobinya mendandani halaman rumahnya dan berkebun ria. Saya sering mengolok-oloknya sebagai si tukang kebun, walaupun sebenarnya saya suka mengagumi bakatnya yang natural itu.    Binatang peliharaannya juga banyak. Mulai dari anjing,monyet, musang, tupai, burung dan sebagainya, membuatnya menjadi lebih paham  tata cara merawat hewan dibanding adiknya yang dokter hewan ini.  Entah kenapa melihat photo keponakan dan halaman rumah yang didandani kakak saya itu, membuat perasaan kangen tiba-tiba melanda dengan berat ke hati saya. Homesick!.

Teringat masa kecil yang indah di sana. Saya dan kakak, adik dan  sepupu-sepupu saya – bermain-main bersama, tertawa bersama, berkelahi  lalu menangis dan kembali lagi tertawa. Bermain ke sawah, bersepeda di lapangan,  mandi di sungai, mengejar capung dan sebagainya. Ah, sayang sekali sekarang kami tinggal terpencar-pencar. Walaupun dulu sering bertengkar juga, tapi saya selalu tahu betapa saudara-saudara saya sangat menyayangi saya, sebagaimana saya menyayangi mereka. Keluarga! Adalah tempat dimana saya selalu mendapatkan kehangatan dan kasih sayang.  Memikirkan itu mata saya jadi berkaca-kaca. “Huaaaaaahh… kangen! Pengen pulang” kata saya kepada kakak saya itu di photo di timelinenya. Kakak saya hanya tertawa  aha.  Mudah-mudahan ia ingat janjinya akan mengajak saya makan ikan mujair ala tepi danau Batur jika saya pulang.

nanda

Saya melihat lagi ke foto keponakan saya itu. Ia tampak serius dengan kacamatanya.  Saya lalu memperhatikan tanaman hias di dekatnya. Dan kembali lagi terpaku pada gambar dekorasi di kaki keponakan saya itu.  Kenapa ya baru kali ini saya memperhatikan gambar itu dengan detail.  Apa mungkin kakak saya  baru habis merapikan atau barangkali mengecatnya ulang? Atau baru menggantinya dengan cone block hias yang  baru ya? Tapi tidak mungkin lah itu gambar baru – tentu saja saya sudah melihatnya berkali-kali setiap kali saya pulang. Wong warnanya saja sudah kelihatan agak luntur begitu. Apanya yang beda ya? Saya mencoba mencari-cari dan mengingat-ingat. Tapi tidak berhasil menemukan apapun. Ah, barangkali hanya kebetulan saja kaki keponakan saya itu pas berada di atasnya saat dipotret, sehingga mata saya tertarik melihatnya.

Tiba-tiba saya teringat akan gambar-gambar serupa di depan rumah-rumah penduduk di daerah Karnataka, India yang pernah saya ambil tahun yang lalu. Bentuknya sangat beragam,  ada yang berbentuk bunga dengan mahkota delapan, ada yang bergambar bunga lotus, ada yang  berbentuk swastika, empat sudut, mandala dan sebagainya.  Lalu gambarnya juga ada yang kosongan dan sederhana, hanya digambar dengan kapur tulis berwarna putih atau cat putih saja, namun  banyak juga yang padat dan penuh warna-warni dan sulur-sulur. Yang di halaman rumah kakak saya  gambarnya penuh warna. Sekarang saya menyadari  ada banyak persamaan antara seni yang berkembang di India dengan seni di Bali. Setidaknya jika kita memperhatikan design-design dekorasi halaman itu dengan seksama.

Itulah Rangoli.  Dekorasi lantai halaman maupun lantai rumah yang cantik – digunakan utamanya hanya sebagai penghias halaman.  Saya mendapatkan informasi, kalau di India sendiri Rangoli dipasang hanya untuk menyambut hari raya, atau acara tertentu seperti misalnya pernikahan dan sebagainya dan dimaksudkan sebagai area suci untuk menyambut  dewa dewi masuk ke rumah.  Sehingga saya banyak melihat digambarnya di depan pintu halaman. Selain itu rangoli digambar sebagai  tanda keberuntungan dan mencegah kesialan. Terelepas dari fungsinya itu, gambar-gambar itu memang sangat indah.

Sayapun memeriksa file foto-foto saya kembali . Sayang disayang- rupanya saya tidak ada menyimpan gambar rangoli yang berwarna-warni. Padahal banyak melihatnya saat saya di sana. Mungkin saya kelupaan memotret.

Saya lalu menghubungi kakak saya kembali dan meminta ia memotretkan Rangolinya dari arah yang lebih baik, sehingga saya bisa melihatnya dengan baik.  Rangoli-rangoli itu memang terlihat cantik dan menarik jika dipasang di halaman.

Burung Layang Layang.

Standard

Burung Layang-LayangKetika kecil, saya paling senang membaca buku cerita dari perpustakaan sekolah. Maklum, pada saat itu bahan bacaan yang bisa saya jangkau dari sebuah kota kecil di tengah pulau Bali hanya terbatas pada majalah Si Kuncung. Lalu belakangan mulai ada majalah Bobo dan beberapa sisipan bacaan anak-anak dari majalah wanita langganan ibu saya atau dari harian Sinar Harapan langganan bapak saya.  Itu yang membuat saya sangat menyukai perpustakaan sekolah saya. Karena di sana saya bisa mendapatkan akses ke buku-buku bacaan yang dibaca anak-anak lain pada jaman saya itu  di kota-kota lain di Indonesia maupun di belahan lain dunia.  Termasuk di dalamnya adalah kisah-kisah yang dituliskan oleh Hans Christian Andersen.

Salah satu yang sangat saya ingat adalah kisah tentang Thumbelina, si putri mini  berukuran sejempol tangan  yang dibawa kabur oleh kodok dan akhirnya diselamatkan oleh si tikus ladang. Namun sayangnya oleh Si tikus, Thumbelina  dijodohkan dengan seekor Tikus Celurut yang tinggal di lubang bawah tanah. Thumbelina sangat sedih, namun akhirnya berhasil kabur dari sana dengan bantuan burung layang-layang yang sebelumnya ditolong Thumbelina saat burung itu jatuh sakit. Akhirnya seperti di semua cerita HC Andersen, kisah itu bearkhir bahagia. Dimana burung layang-layang itu mengantarkan Thumbelina terbang jauh hingga akhirnya ia bertemu dan menikah dengan Pangeran Peri dan mengajaknya terbang dari bunga ke bunga.

Burung Layang-Layang Batu 7

Saya sangat terkesan akan burung layang-Layang dalam kisah itu. Dan saya selalu teringat akan gambarnya. Menurut saya, burung itu sangat artistik bentuknya. Sehingga sejak kecil setiap kali saya mendongak ke langit, saya selalu mencari-cari burung layang-layang yang bentuknya seperti dalam gambar di buku itu. Selalu berharap bisa menjumpainya.

Sebenarnya saya sering melihat burung itu beterbangan, namun susah sekali memotretnya.  Belakangan ini saya berhasil menemukan sebuah lokasi dimana burung ini sering beristirahat melepaskan lelah dan bertengger dengan santai. Yakni di sebuah pohon mati tidak jauh dari rumah saya. Ke sanalah saya selalu pergi, jika lagi ingin bersantai mengamati tingkah laku burung itu.  kadang-kadang burung ini juga saya lihat menclok di antena rumah tetangga di dekat pohon mati itu.

Burung Layang-Layang , atau kadang orang juga menyebutnya dengan Layang-Layang Batu atau umumnya dikenal dengan nama Pacific Swallow (Hirundo tahitica),  adalah burung yang umum kita lihat terbang melayang-layang di atas permukaan air sungai atau taman-taman perumahan.  berkejaran dengan teman-temannya menangkapi serangga yang terbang atas muncul di permukaan air.  Jika kita bermain ke taman Bintaro Jaya di sektor VII, dengan mudah kita bisa melihatnya melayang menyambar-nyambar di permukaan air. Di Bali,burung ini disebut dengan nama Kedis Sesapi. Kadang-kadang orang bingung membedakannya dengan walet, karena bentuknya serupa.

Burung berukuran kecil ini (paling sekitar 13-14 cm) memiliki kepala punggung dan sayap luar berwarna biru tua kehitaman, dengan  dahi, pipi dan kerongokan berwarna jingga, sementara dada dan perut serta sayap bagian dalam berwarna putih kotor. Sayapnya sangat panjang,dan bahkan lebih panjang dari ekornya, sehingga tampak sangat indah.

Saya beridiri di atas jembatan di atas sungai di taman Bintaro Jaya. Memandang  burung layang-layang ini terbang melayang-layang dengan riangnya di atas sungai, sementara angin mendesau lewat daun-daun pohon pinus di tepi sungai.  Teringat akan sebuah lagu kanak-kanak  ciptaan Pak A.T.Mahmud yang bercerita tentang Burung Layang-Layang ini:

Tampak jelas di langit biru jernih, sekawan burung layang-layang.

Dengan akrab terbang beriring- iring, dengan bebas melayang-layang.

Sungguh senang mereka terbang, turun naik berkeliling.

Berkejaran tak hentinya, damai tentram bercengkrama.“.

Kedamaian selalu datang ketika kita menikmati dan mensyukuri attraksi alam yang melintas di depan kita…

 

Alu, Si Biawak Sungai.

Standard

BiawakSalah satu binatang yang selalu menjadi cerita banyak orang di perumahan saya adalah biawak. Ya!. Biawak yang hidup di sungai di belakang rumah saya.  Katanya banyak jumlahnya dan sangat sering melakukan ‘penampakan’. Rasanya hampir setiap satpam pernah bercerita kepada saya tentang binatang kadal itu. Namun anehnya sudah hampir 14 tahun saya tinggal di sini, tak seekorpun biawak pernah saya jumpai.  Namun cerita-cerita tentang biawak sungai itu tetap saja bergulir dan membuat saya penasaran.

Beberapa kali saya mencoba menelusuri sungai dan berharap bisa bertemu dengan mahluk itu,namun tetap tidak berhasil. Hingga sekitar dua minggu yang lalu  ketika saya sedang memotret burung  – tanpa sengaja saya melihat sesuatu bergerak di rerumputan di tepi sungai. Saya menahan nafas agar tidak mengganggu.

biawakSebuah benda gelap tampak bergerak dan menyembul dari rerumputan yang tinggi, merayap di dinding sungai. Wow! besar juga. Saya taksir panjangnya sekitar 2 meter dari moncong hingga ke ekornya.  Bentuknya seperti kadal kebun raksasa. Warnanya hitam kecoklatan dengan totol-totol warna keam kehijauan yang membentuk corak garis-garis melintang di tubuhnya hingga ke bagian ekor.  berkaki empat tentu saja, dengan jari-jari kaki yang lancip.  Sepintas lalu mirip buaya. Ia kemudian menyelinap di balik pohon kersen. Saya tak mampu melihatnya lagi.

Itulah Biawak Sungai (Varanus salvator)  yang saya cari-cari selama ini. Di Bali orang menyebutnya dengan nama  Alu.

Pertemuan yang hanya beberapa detik itu cukup memberi saya petunjuk tentang area jelajahnya. Keesokan harinya,  sayapun menunggu biawak itu melintas di tempat yang sama.  Benar saja, tidak lama kemudian seekor biawak keluar dari rerumputan itu dan memanjat dinding kali. Ukurannya sedikit lebih kecil dari yang kemarinnya.  Ia bergerak ke atas terus dan berbelok di pertengahan dinding. Nah sekarang saya melihat ada sebuah lubang di dinding itu. Rupanya ke lubang itulah sang biawak masuk. Jadi itu rumahnya. saya menunggu hingga biawak itu benar-benar  masuk ke  dalam lubangnya dan ekornya lenyap dari pandangan mata saya.

Biawak 1Setelah itu saya masih melihat 3 x  lagi ada biawak di sekitar itu. Dan saya juga menemukan sebuah lubang rumah biawak yang lebih kecil lagi dari sebelumnya.  dan juga melihat  dua ekor biawak yang lebih kecil sedang bersembunyi dibalik sebatang anak pohon kersen.

Biawak sungai memang hidup di tepi-tepi sungai  dan mencari makannya di sana. Makananya adalah ikan, kodok, cacing, burung ataupun tikus yang banyak juga berkeliaran di pinggir kali.

Walaupun secara umum, para satpam di perumahan saya mengatakan bahwa populasi biawak ini masih tinggi di sekitar sungai, namun entah kenapa saya merasa  keberadaannya semakin lama semakin menyusut.  Habitatnya  terganggu oleh perkembangan industri perumahan. Saya dengar banyak juga yang berusaha untuk menangkap, entah untuk diambil dagingnya buat disate, atau buat dijual dan dijadikan mainan.

Sambil menulis ini, saya memikirkan apakah generasi setelah anak saya akan masih sempat melihat mahluk ini hidup-hidup sebelum terdesak habis oleh peradaban manusia..

Ladang-Ladang Garam.

Standard

Sarang BurungMelintas di Gresik dari arah Surabaya!.  Saya memandang keluar dari jendela kendaraan yang saya tumpangi.  Udara di luar terasa sangat puuanas memanggang. Rasanya kok temperature udara melebihi 40º ya, walaupun informasi yang saya terima mengatakan bahwa Surabaya dan sekitarnya hanya mencapai suhu 33° C siang itu. Waduuh… berjalan di bawah teriknya matahari selama sejam kelihatannya dijamin gosong , kalau begini.  Di kiri kanan jalan, pohon-pohon tampak kering  kerontang. Daunnya berguguran, hingga tinggal cabang-cabang dan rantingnya saja. Menampakkan sarang-sarang burung  telanjang tanpa tertutup sehelai daunpun. Kalaupun masih ada sehelai dua helai daun yang tersisa, tetap tak mampu memberi perlindungan yang memadai bagi sarang-sarang itu. Aduuh kasihannya para burung itu. Harus kemana mereka berlindung lagi?.

Kemarau kali ini benar-benar sangat ganas di sini. Tanah terlihat kering dan berdebu.  Rumput-rumput di pinggir jalan terlihat coklat dan mati.  Padahal Oktober sudah tiba. Namun hujan belum turun jua. Agak berbeda dengan  Medan dan Jakarta,  dimana hujan sudah mulai turun beberapa kali, walaupun tidak dengan intensitas yang tinggi.

KemarauJaman dulu, kita diajarkan oleh guru kita bahwa bulan-bulan yang berakhiran dengan “er” – seperti September, Oktober, November – Desember – adalah bulan-bulan musim penghujan. Namun di tempat ini, pemahaman itu tidak berlaku. Musim kelihatannya sudah tidak berjalan seiring lagi dengan pemahaman manusia.

Beberapa ekor burung bangau tampak kepanasan berteduh di batang pohon yang sama.  Barangkali panas telah melelehkan aspal jalanan. Kapankah kemarau ini akan berakhir? Rasanya tidak ada yang menyukainya jika datang terlalu lama.

lalu saya melihat seekor burung berwarna hitam bertengger di atas kawat.  Terdiam memandang jauh ke depan. Entah apa yang ada di dalam pikiran burung itu. Tidakkah ia merasa kepanasan? Kehausan? Atau Kelaparan?.

Saya menghela nafas. Siapakah yang menyukai kemarau seperti ini? Rasanya tak seekor mahluk hidup-pun.

Ladang garam 1Berpikir demikian di dalam kepala saya, ladang-ladang alias tambak garam tampak  muncul di sebelah jalan tol.  Ladang -ladang yang luas, dilengkapi dengan baling-baling yang menurut Pak Supir yang mengantarkan saya, dibawahnya adalah sumur. Dimana air asin bersumber dan diangkat ke permukaan.   Beberapa  tumpukan garam tampak putih kemilau ditengah ladang. Juga di tepi-tepi jalan. Tampak karung-karung berwarna biru berisi garam.  Mungkin siap diangkut ke  gudang-gudang garam, ke tempat pengemasan atau pengolahan berikutnya hingga siap dijual.

Selama ini saya tidak terlalu memperhatikan bahwa Gresik adalah penghasil garam yang penting. Barangkali karena selama ini jika mendengar nama Gresik, ingatan saya hanya  mengarah pada Semen saja. Semen Gresik!.  Itu yang membuat saya lupa bahwa garampun dihasilkan di sini, bahwa otak-otak bandeng, bandeng presto maupun bandeng asap  yang sering saya beli  di Surabaya itupun sebenarnya berasal dari sini juga. Hingga semuanya terpampang di depan mata saya,barulah saya ingat kembali bahwa Gresik menghasilkan garam.

Ladang garamTambak-tambak garam itu seketika menyita perhatian saya. Melihat tumpukan garam yang banyak itu, tentu mudah ditebak jika produksi garam sedang berlimpah. Musim kemarau dan sinar matahari yang sangat terik,membantu para petani garam untuk memproduksi garamnya dengan lebih baik dan lebih cepat.  Sebaliknya jika musim hujan, tentu sulit bagi mereka untuk memproduksi garam dengan baik. Jadi kemarau ini, sangat disukai oleh para petani garam, terlepas dari fakta kemudiannya apakah harga garam sedang bagus atau sedang anjlok.

Saya jadi tertawa di dalam hati akan pikiran saya yang mendua dengan cepatnya.  Baru saja saya menyalahkan kemarau yang menyebabkan penderitaan bagi burung-burung dan rerumputan,  sekarang saya merasakan betapa pentingnya kemarau bagi para petani garam dan tentunya juga bagi manusia.  Bagaimanapun, semua orang membutuhkan garam. Jika kemarau tidak ada, tentu sulit membayangkan garam akan mudah kita dapatkan dengan harga terjangkau.

garam

Teringat akan sebuah kisah menarik yang pernah diceritakan seorang teman kepada saya.

*****

Tersebutlah kisah seorang ibu yang memiliki 2 orang anak laki-laki.  Anaknya yang pertama  berprofesi sebagai Tukang Payung, sedangkan yang kedua berprofesi sebagai Tukang Tembikar. Si Ibu selalu bersedih hati, karena setiap musim hujan, anaknya yang berprofesi sebagai Tukang Tembikar mengeluh padanya bahwa penghasilannya berkurang- karena ia tidak  bisa membuat gerabah untuk dijual. Sebaliknya setiap musim kemarau,anaknya yang berprofesi sebagai Tukang Payung mengeluh penghasilannya berkurang karena tidak banyak orang yang membutuhkan payung untuk berteduh dari sinar matahari. Payung hanya dibutuhkan untuk berteduh dari hujan di musim penghujan.  Demikianlah ia selalu bersedih hati tanpa putus-putusnya sepanjang tahun selama bertahun-tahun.  

Hingga akhirnya seorang sahabatnya menasihati agar ia berkunjung ke rumah anaknya Si Tukang Tembikar pada musim kemarau. Ia melihat anaknya yang sangat bahagia dan senang karena sangat sukses membuat dan menjual gerabahnya dalam jumlah banyak di musim itu. Maka iapun merasa sangat bahagia. Musim berikutnya saat hujan tiba, ia berkunjung ke rumah anaknya yang Tukang Payung. Di sana iapun melihat kebahagiaan dan kesenangan anaknya karena sukses membuat dan menjual payung yang sangat banyak musim itu. Ibu itupun merasa sangat bahagia. Demikian seterusnya, ia selalu berbahagia tanpa putus-putusnya sepanjang tahun selama bertahun-tahun berikutnya. 

*****

Demikianlah musim. Akan selalu datang silih berganti. Setiap musim datang dengan kelebihan dan kekurangannya, tergantung bagaimana kita menanggapinya. Demikian juga kemarau dan musim penghujan.  Akan selalu membawa kebahagiaan dan penderitaan tergantung sudut pandang kita dan  bagaimana kita menyikapinya.

Mari tersenyum manis pada musim yang ada…

Cerita Tentang Sepasang Sepeda.

Standard

SepedaHari Minggu pagi yang indah.  Saya dan suami saya memutuskan untuk menghabiskan waktu berdua  untuk berjalan-jalan  di sekitar Bintaro. Anak-anak tidak mau ikut dan lebih senang tenggelam dengan komputernya masing-masing.  Kami berputar-putar mencari tukang bubur ayam yang dulu pernah mangkal di depan Rumah Sakit International Bintaro  . Tidak ketemu. Rupanya sudah pindah ke Sektor III dan ke pasar modern. Dari sana saya berencana akan nongkrong di taman sambil hunting memotret burung. Ketika berkeliling dan tiba di lampu merah perempatan yang ada jembatan layangnya, pandangan saya tertuju pada sepasang suami istri yang asyik menikmati hari Minggu paginya dengan bersepeda.

Sangat menarik. Pasangan itu terlihat sangat kompak.  Yang wanita memakai celana sepeda berwarna putih dengan strip hitam – yang lakipun memakai celana yang sama model dan warnanya. Demikian juga bajunya – keduanya memakai baju lengan panjang berwarna putih dengan strip hitam di lengannya.  Helmet sepedanya berwarna hitam . Bagus dan kompak.  Mereka bercakap-cakap sambil menunggu lampu merah berganti hijau.  Saya tetap memandangnya dari arah belakang.

Ketika lampu hijau menyala, maka pasangan itupun bergerak. Disusul oleh kendaraan lain di belakangnya.  Saya melihat Sang wanita menggowes sepedanya dengan penuh semangat. Satu, dua, tiga, empat, dan seterusnya. Ayo gowes terus!. Lalu pandangan saya pindah ke suaminya. Ia menggowes dengan santai dan pelan. Jauh lebih santai dan lebih lambat dibandingkan istrinya.   Saaaaaatuuuuu, duuuuuuaaaa… dan seterusnya.  Tapi saya perhatikan, ternyata sepeda mereka tetap sejajar.  Berdampingan! Padahal si istri menggowes 2-3kali, sementara si suami hanya sekali.  Mengapa begitu ya? .

Terheran-heran, saya pun memperhatikan jenis sepeda yang digunakan. Rupanya sang istri menggunakan sepeda jenis city-bike  yang lebih rendah dudukannya dengan roda yang lebih kecil, sehingga secara umum ukuran sepedanya memang lebih kecil. Sementara sang suami menggunakan  Sepeda Gunung yang tinggi dengan roda yang lebih besar. Ooh ..pantes saja.  Sekali berputra, roda yang lebih besar tentu akan menggapai jarak yang lebih jauh ketimbang roda yang lebih kecil. Saya kelupaan memotret pasangan itu dari belakang. Keburu mereka lewat dan sementara kami harus berbelok arah.

Seolah sedang membaca pikiran saya, suami saya menjelaskan mengapa  sang istri harus menggowes 2- 3x lebih sering dibandingkan suaminya yang menggowes dengan santai. Penyebabnya adalah perbedaan jenis sepeda dan ukuran bannya itu.   Jadi agar bisa mengimbangi laju dari sepeda sang suami yang lebih besar, maka sang istri harus menggowes sepeda kecilnya dengan lebih sering dan lebih kuat. “Sudah pasti lebih melelahkan” kata suami saya.   Seandainya kedua sepeda itu sama besar dan jenisnya, mungkin sang istri tak perlu menggowes sesering itu.    Walaupun demikian,kelihatannya sang istri anteng-anteng saja menggowes sepedanya. Tetap semangat dan tidak mengendor sedikitpun.

Saya merenungkan kalimat suami saya itu.  Hukum itu kelihatannya tidak hanya berlaku pada sepeda saja.  Juga berlaku pada fragment kehidupan yang lain. Misalnya dalam menjalankan usaha.  Jika kita adalah sebuah perusahaan kecil dengan modal kecil dan ingin bertumbuh mengimbangi perusahaan besar dengan modal yang lebih besar, maka kita harus bekerja dengan lebih cepat, lebih smart dan lebih keras dari perusahaan yang lebih besar.  Itu baru jika hanya ingin mengimbangi. Apalagi jika kita ingin bertumbuh lebih cepat dari perusahaan besar. Tentu kita harus bekerja ekstra smart, extra keras dan extra cepat lagi dibandingkan dengan mereka yang lebih besar. Tanpa itu usaha extra itu, tidaklah mungkin kita akan menjadi lebih sukses. Serupalah dengan sepasang sepeda itu.

Renungan yang sangat baik buat diri saya di hari Minggu pagi…

Coccinia, Si Timun Padang Penurun Gula Darah.

Standard

CocciniaSuatu ketika saya melihat sejenis tanaman merambat di pagar perumahan di belakang rumah saya.  Tanaman itu memiliki daun yang bentuknya seperti daun labu mini. Batangnya merambat dan memiki sulur yang benar-benar membuatnya semakin mirip dengan labu siam. Bunganya berwarna putih bermahkota 5 lembar – serupa dengan bunga labu parang – namun warnanya putih bukan kuning.

Yang menarik adalah buahnya. Bentuknya mirip mentimun, kecil-kecil berwarna hijau dengan garis-garis memanjang berwarna putih.  Namun disebelahnya saya juga melihat  buahnya yang matang berwarna merah menyala, Menarik sekali warnanya. Beberapa buah yang matang terlihat terbuka memperlihatkan daging buahnya yang merah merekah dan biji-bijinya. Mirip buah pare merekah yang merah. Mungkin rasanya manis juga seperti pare matang. Barangkali buah itu pada dimakanin burung saking manisnya.

Coccinia 1Saya pikir ini tentunya salah satu anggota keluarga mentimun (Cucurbitaceae). Barangkali sejenis pare liar. Saya ingin mencoba mencicipi buahnya. Kelihatan menarik. Tapi karena takut beracun,maka saya mengurungkan niat saya untuk mencicipi.

Karena tidak tahu dan penasaran, saya mencoba bertanya kepada orang-orang di sekitar, barangkali ada yang tahu tanaman apa itu. Ternyata tidak ada seorangpun yang tahu. Saya coba  search di Google, namun karena tidak tahu kata kuncinya, susah juga mencarinya. Akhirnya saya lupa akan buah itu.

Beberapa bulan kemudian,ketika saya sedang memasuki sebuah supermarket di India, saya melihat buah ini dipajang di bagian sayur-mayur. Dan melihat nama Coccinia disebut sebagai namanya. Ooh..jadi namanya Coccinia ya. Dan rupanya memang sejenis sayuran. Jadi tidak beracun, seperti sangkaan saya selama ini.

Coccinia

Minggu yang lalu ketika saya bermain ke kali, saya mencoba mencari-cari tanaman itu kembali. Barangkali masih ada.  Awalnya saya tidak menemukannya. Namun ketika saya sedang memotret kupu-kupu yang hinggap di bunga bougenville, saya melihat tanaman itu kembali. Batangnya melilit batang Bougenville.  Ada beberapa buahnya menggelayut di sana. Beberapa ada juga yang matang. Saya memetik beberapa buah. Mencicipi yang matang – rasanya manis.  Yang muda akan saya masak jadikan sayur.

Dengan berbekal sedikit pengetahuan bahwa tanaman itu bernama Coccinia, akhirnya saya mulai searching di Google.  Coccinia grandis atau disebut dengan Ivy Gourd dalam bahasa Inggrisnya.  Dalam bahasa Indianya disebut dengan Tandora. Ternyata tanaman ini bukanlah tanaman asing di Indonesia. Memang sejenis sayuran. Walah..rupanya cuma saya saja yang tidak tahu. Ada yang menyebut namanya  dengan nama buah Papasan, buah Kemarong atau ada juga yang menyebut dengan nama Timun Padang. Coccinia grandis, kaya akan beta carotene. Dan hebatnya, nenek moyang kita sudah mengetahui bahwa tanaman ini bisa dimanfaatkan untuk menurunkan gula darah.

Tumis Buah Papasan

Saya membaca beberapa rtikel ilmiah mengenai buah ini dan  merasa sangat takjub.  Banyak sekali efek farmakology yang dimilikinya, antara lain:

1. Efek Antibakterial.Ekstrak dari daun dan batang tanaman ini, rupanya efektif terhadap baik bakteri gram positive (seperti bakteri Bacillus cereus, Corynebacterium diphteria, Staphylococcus aureus dan Staphylococcus pyogenes) maupun gram negative (Salmonella typhi, Eschericia coli, Klebsiella pneumonia, Pseudomonas aeruginosa, Proteus myrabillis, dan Shigella boydii).

2. Efek Hepato-protective. Tanaman ini juga memberikan efek perlindungan yang sangat baik terhadap hati. Terbukti dari penelitian yang dilakukan cukup efektif menurunkan level SGOT

3. Efek Antidiabetik – penurun gula darah. Juice dari akar dan daunnya banyak digunakan untuk pengobatan diabetes. Daunnya dimanfaatkan juga untuk pengobatan koreng pada kulit. Juga dipergunakan untuk pengobatan Gonorrhea. Ekstrak tanaman ini mempunyai efek  hypoglycaemic dan antihyperglycaemic. Berperanan dalam mengatur kadar gula darah.  Kandungannya menghambat enzyme glucose -6- phosphate.

Buah papasan

4. Anti pyretic – Tanaman ini juga digunakan untuk obat demam.

5. Antelmenthic & larvicidal  – obat cacing & pengobatan terhadap larva.

6. Anti inflamatory – untuk mengatasi peradangan.

7. Analgesic .- pengurang rasa sakit.

Bagian yang banyak dimanfaatkan untuk pengobatan adalah daun dan akarnya. Sayapun mencoba tumis buah papasan alias coccinia ini. Dan  ternyata rasanya enak sekali.  Segar dan sedikit ada rasa manis asemnya. Sekarang saya tidak sabar menunggu buah liar ini menjadi tua untuk saya semai kembali bijinya.

References:

1. http://www.pharmacophorejournal.com/May-June2012-article3.pdf

2.http://www.diabetes.org/news-research/research/access-diabetes-research/kuriyan-coccinia-cordifolia-and-diabetic-patients.html

3. http://www.apjtb.com/zz/2011s2/34.pdf

Kacamata Baru Dan Trend Terkini.

Standard

kacamataSaya mengantarkan suami saya ke Optik di Bintaro Plaza untuk membeli kacamata baru. Karena gagang kacamatanya  rusak. Menyadari bahwa gagang kacamata saya juga sudah mulai butut dan  kusam, suami saya berkata mengapa saya tidak sekalian saja mengganti kacamata. Saya jadi tergiur mendengar ajakan suami saya itu.

Saya ikut melihat ke dalam etalase untuk mengetahui frame-frame terkini yang sedang trend.  Karena tidak tahu mesti beli yang mana, saya bertanya pada sales girl yang menjaga counter itu , “Mbak, mana sih model yang terakhir?“.  Si Mbak mengambilkan  sebuah kacamata dengan frame yang terlihat lebih lebar dan tebal dari yang saya pakai sekarang. Warnanya hitam pada bagian atasnya dan bening di bagian bawahnya.  Frame bagian atasnya masih agak melengkung – tidak beda jauh dengan frame kacamata kucing yang pernah ngetrend beberapa tahun yang lalu. Gagangnya berwarna hitam dengan sedikit sentuhan metal pada bagian sendinya. Saya membaca merk yang tertatah di gagangnya. Dikeluarkan oleh seorang perancang busana Amerika dan founder dari sebuah global brand yang berfokus pada lifestyle.

Saya lalu mencoba kacamata itu dan melihat wajah saya di cermin. Hhmmm..kok kayanya kurang cocok ya. Wajah saya kelihatan semakin lebar dan tembem dengan kacamata itu. Suami saya melihat dan mengatakan kalau model itu kurang pas di wajah saya yang bulat. “Jadi kelihatan tambah bulat” katanya sambil tertawa. Tapi ia selalu mengolok-olok pipi saya yang tembem.  Jadi saya tidak mau menanggapinya. “Ganti yang lain saja.  Kan masih banyak tuh model yang lain” saran suami saya sambil membantu saya mencarikan model-model yang menurutnya lebih sesuai untuk wajah saya. Tapi saya keukeuh tidak mau.  “Soalnya trend-nya ke arah bentuk  yang begini. Daripada nanti out-dated dan beli lagi yang baru,kan mending beli aja yang ini. Ntar tungguin kalau orang-orang pada pindah ke model begini, jadi nggak perlu beli lagi yang baru…karena sudah ikut trend yang terakhir” kata saya. “Ya sudahlah” kata suami saya mengalah. Walaupun saya melihat wajahnya yang tersenyum geli masih menyimpan rasa kurang setuju dengan pendapat saya. Tapi itulah salah satu hal yang saya sukai dari suami saya. Ia suka memberikan idenya, tapi jika saya tidak sependapat, ia tetap menghormati pilihan saya. Sikap yang sama juga selalu saya upayakan terhadap suami saya.

Lalu saya memeriksa harganya. Berpikir sejenak, apakah budgetnya masuk atau tidak. Akhirnya “Ya..boleh deh Mbak. Saya mau yang ini” kata saya kepada penjaga counter optik itu. Ia lalu memeriksa ulang mata saya dengan alatnya, mencatat ini dan itu, saya menyelesaikan pembayaran dan selesai. Si Mbak memberi informasi bahwa kacamata minus itu akan selesai hari Kamis.

Pada hari Kamis berikutnya, suami saya rupanya sudah mengambil kacamata kami di optik itu.  Saya lalu mencobanya. Anak-anak saya melihat. “Wah.. kacamatanya jelek banget” komentar anak saya yang kecil. “Bukan kacamatanya. Kacamatanya sih bagus. Tapi pipinya kegendutan! ha ha ha… Mama nggak cocok pakai kacamata itu” komentar anak saya yang besar melanjutkan. Mereka tertawa terbahak-bahak. Suami saya hanya tersenyum. Saya mematut-matut diri saya di depan cermin. Memang jelek banget ya? Perasaan, nggak jelek-jelek banget deh…

Hari Jumat saya ke kantor, belum menggunakan kacamata baru itu. Demikian juga hari Senin. Saya masih memakai kacamata yang lama. Suami saya heran, lalu bertanya “Kok kacamata barunya belum dipakai?” tanyanya.  Karena tidak enak pada suami, besoknya hari Selasa, saya pakai kacamata baru itu.  Sesampai di kantor seorang teman berkata “ Wah.. kacamatanya baru ya Bu? ”  Saya mengangguk. “Kacamatanya bagus, tapi kayanya kurang pas ya Bu dengan bentuk wajah ibu? Kelihatannya jadi aneh” katanya lagi. “Oooh gitu ya? Mungkin karena biasa melihat saya dengan kacamata yang sebelumnya ” kata saya menghibur diri.

Berikutnya teman yang lain berkata ” Bu Dani! Kacamatanya baru ya Bu? Kok jelek banget sih Bu?”  hah? jadi serius nih jelek banget? Teman saya mengangguk dan bilang ia lebih suka melihat saya memakai kacamata saya yang lama.Waduuuuh..

Teman berikutnya yang melihat saya lagi” Bu Dani, itu kacamatanya kelihatan tebal dan jadul lho, Bu!” hah? Jadul? Bukannya kata SPG-nya ini justru trend yang terakhir ya?  Semakin lama semakin banyak lagi komentar yang tidak positive.  Hingga makan siang, akhirnya saya menyadari bahwa tidak ada seorangpun yang berkata positive tentang kecocokan kacamata itu dengan wajah saya.  Yang paling positive yang saya terima  hanya seperti ini  “Nggak terlalu jelek kok Bu.. ” mungkin maksudnya menghibur saya saja.  Atau ada juga  yang nyaris positive “ Ya Bu, sesuai kok Bu. Sesuai … dengan umur ibu..ha ha”.

Selain tidak sesuai dengan wajah saya, belakangan saya baru mengetahui bahwa kacamata itu terlalu lebar menutup wajah saya.  Sehingga saat berjalan di bawah panas matahari, meninggalkan keringat di bawahnya. Mata saya pun jadi lembab dan kacamatanya berembun.  Selain itu gagangnya juga tidak terlalu pas. Agak kegedean – tapi yang ini mungkin masih bisa saya betulkan.  “Memangnya ibu nggak coba dulu ya sebelum membeli?” tanyanya teman saya keheranan. “Sudah sih!...” kata saya, akhirnya menceritakan bagaimana asal muasalnya mengapa kacamata trendy itu bisa saya beli. Teman-teman saya tertawa terbahak-bahak mendengar cerita saya itu. “Korban Trend!” katanya. Sayapun ikut tertawa pahit.

Berikutnya, ketika saya berada di bandara akan berangkat ke Surabaya, suami saya meninggalkan pesan di bb saya “Eh, kacamatanya ketinggalan yah?” tanyanya. Saya menciutmembacanya.Mengapa ya saya khawatir suami saya mengungkit-ungkit soal kacamata itu? Bingung mau jawab apa. Mau bilang lupa, tapi sebenarnya kan  bukan lupa. Saya sengaja meninggalkannya. Tapi kalau bilang terus terang, gimana ya nanti reaksi suami saya. Akhirnya saya jawab “ Ha ha..kacamatanya ternyata…“. Suami saya membalas lagi. “Tapi yang lama  bawa kan?” tanyanya khawatir.  Lalu ia menyusulkan icon senyum buat saya. Mungkin ia sudah bisa membaca gelagat saya,  kalau saya punya masalah dengan kacamata itu.

Sepulangnya dari Surabaya, ketika suami saya menyinggung kembali soal betapa pelupanya saya akan kacamata itu, saya pun tidak tahan lagi untuk mengaku kepada suami saya tentang cerita yang sebenarnya soal kacamata itu.  Tentang komentar teman-teman saya  dan tentang mata saya yang lembab dan berembun karena keringat.

Ia tertawa terbahak-bahak…

Pesan moralnya:  Pilihlah sesuatu yang cocok untuk diri kita, bukan yang sedang ngetrend .