Monthly Archives: November 2019

Beli Jagung Depan Kuburan.

Standard

Awalnya saya tidak ingin bercerita tentang kejadian ini, khawatir orang-orang menyangka saya tidak logis, tidak rasional, atau mengalami Halu πŸ˜€. Karena kejadian ini rada-rada nggak masuk akal, tapi ini sungguh kisah nyata yang saya alami sendiri.

Saya pulang malam dari kantor. Di tengah jalan saya merasa sangat lapar. Saking laparnya sampai perut saya perih dan saya mual. Saya berniat membeli camilan di pinggir jalan. “Jangan gorengan ya Bu. Nggak sehat”, kata Pak Supir yang mengantar saya pulang. “Oke”, kata saya.

Saya lalu mikir, apa yang sehat ya? “Kacang rebus atau jagung rebus. Nanti kalau ada di pinggir jalan kita berhenti” kata saya. Pak supir melambatkan laju kendaraan sambil mencari-cari dagangnya di pinggir jalan. Apesnya, hingga setengah jam lewat belum terlihat ada tanda tanda tukang kacang rebus – jagung rebus.

Kendaraan terus melaju pelan. Gerimis mulai turun. Jalanan terasa sepi. Semakin pupus harapan saya untuk bisa membeli kacang atau jagung rebus.

Tiba- tiba Pak Supir menghentikan kendaraan “Kayaknya itu ada tukang jagung bakar. Mau Bu?” tanyanya sambil memundurkan kendaraan tanpa menunggu jawaban saya. Dagang jagungnya sudah terlewat bebetapa ratus meter. Ya ya…tentu saja saya mau.

Saya pun turun. Sekarang saya baru sadar, ternyata posisi dagang jagung bakar ini tepat di pintu gerbang Pemakaman Umum. Agak gelap dan hanya ada satu lampu kecil. Ada 2 dagang di situ. Seorang ibu yang menjual jagung bakar. Dan 2 orang anak muda yang menjual kepiting. Saya memesan beberapa buah jagung untuk saya dan Pak Supir – barangkali ia mau juga buat istri atau anaknya.

Karena sepi, tidak ada pembeli lain lagi, si ibu penjual jagung langsung meladeni permintaan saya. Saya berdiri di bawah payung sambil menonton si ibu mengipas bara dan membolak -balik jagung. Bagus juga baranya dan tidak terpengaruh oleh gerimis. Saya mendongak ke atas. Oooh.. rupanya pembakaran ini ada di bawah pohon rindang. Pantas terlindung dari hujan. Baranya stabil. Asapnya menebar ke udara.

Tiba tiba saya mencium wangi semerbak keluar dari pembakaran jagung. Wangi Kemenyan Arab yang dibakar!. Wah… apa nggak salah penciuman saya ini?. Saya coba hirup lebih dalam. Tapi sekarang wanginya hilang.

Namun beberapa saat kemudian, wangi Kemenyan itu muncul lagi. Bahkan jauh lebih kencang dari sebelumnya dan lamaaaa sekali. Saya membayangkan jika itu sebuah parfum, tentu dosagenya tidak kurang dari 25% dalam larutan ethanol.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan wangi Kemenyan. Kemenyan atau Olibanum atau Frankincense, adalah aromatic resin atau getah dari pohon-pohon jenis Boswelia/ Styrax. Merupakan bahan baku penting dalam industri parfum dunia. Kemenyan juga banyak digunakan dalam pengobatan, berbagai ritual keagamaan ataupun budaya berbagai bangsa, mulai dari Arab, Eropa hingga Asia. Namanya sangat positive dan harum.

Hanya di Indonesia saja Kemenyan ini mendapatkan nama buruk karena dikait-kaitkan dengan hal mistik πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€. Sehingga banyak orang Indonesia yang takut pada wangi Kemenyan.

Walaupun saya orang Indonesia, tetapi sebagai orang yang bekerja di industri parfum dan memahami apa sebenarnya Kemenyan, tentu saja saya tidak takut pada wangi Kemenyan. Saya cuma heran saja, bagaimana bisa kok wangi Kemenyan keluar dari asap pembakaran jagung???. Tidak normal!!!. Kecuali jika ada orang yang memasukkan Kemenyan ke dalam pembakaran ini.

Atau apakah ada orang lain yang membakar menyan di balik tembok kuburan itu?. Tapi rasa saya wanginya kelyar dari pembajaran jagung ini deh. Sangat dekat dan kenceng.

Saking penasarannya, saya lalu bertanya pada ibu tukang jagung, “Ibu ada memasukan kemenyan ke dalam arang pembakaran jagung ini nggak Bu?. Kok saya mencium wangi kemenyan ya? “.

Si ibu tampak terkejut, lalu agak kesal pada saya. “Demi Allah Bu, saya tidak seperti pedagang lain yang menggunakan penglaris biar dagangannya laku” . Jawabnya.

Saya hanya mendengarkan. Oh…mengapa ia mengaitkan kemenyan dengan penglaris?. Sebenarnya bukan itu maksud saya. Tapi ya sudahlah. Ntar dia malah makin tersinggung. Selain itu, dua orang anak muda yang menjual kepiting itu juga tiba tiba mengemas daganganya buru- buru, mematikan lampu dan pulang. Lah?. Kok kabur?. Jadi gelap sekali sekarang di sini.

Si ibu tukang jagung lalu mencari cari saklar dan menyalakan lampunya sendiri.

Sebenarnya jujur saja Bu. Setiap malam saya berjualan di sini hingga jam 1 malam. Kadang- kadang memang gitu, Bu. Tiba tiba kecium bau wangiiii. Atau bau busuk. Malah sering juga suara cewek ketawa. Saat malam sepi dan nggak ada pembeli”, katanya.

Lalu ia bercerita. Ia terpaksa berjualan di situ, karena tak mampu membayar sewa lapak di tempat yang lebih baik. Tak punya pilihan lain. Suaminya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Ia harus menghidupi 5 orang anak yang masih kecil-kecil dan masih sekolah. Dan saat ini, ia sendiri sebenarnya sedang menderita sakit jantung. Untunglah 2 orang anaknya yang besar sekarang sudah bekerja dan menikah.

Ya apa jadinya ya Bu, jika umur saya tidak ada lagi. Gimana nanti nasib anak-anak saya?”, katanya dengan sangat sedih. Saya jadi ikut terbawa kesedihannya. Lalu saya besarkan hatinya bahwa ia pasti bisa melewati semua masalah itu dan saya doakan agar ibu itu membaik kesehatannya dan kuat serta lancar rejekinya. Lalu saya pamit.

Saya lihat mata ibu itu berkaca-kaca saat menerima uang dari saya. Sekali lagi saya berdoa dengan sungguh-sungguh untuk kebahagiaan ibu tukang jagung itu. Semoga Tuhan memberikan kesehatan yang baik, rejeki yang banyak dan makin banyak pembeli yang mampir ke sini. Lalu saya kembali ke kendaraan.

Begitu duduk di dalam mobil. Tiba-tiba bulu kuduk saya merinding. Aneh sekali perasaan saya ini. Tadi padahal saya tidak merinding, kenapa tiba tiba sekarang?. Saya pikir saya sedang merasakan takut. Lihat ke sebelah dan jok belakang. Tidak ada apa apa. Tapi saya semakin merinding.

Nyaris putus asa dengan perasaan ini, akhirnya saya berkata kepada entah siapa “Jangan mengganggu saya. Karena niat saya selalu baik. Saya hanya membeli jagung karena perut saya lapar. Berhenti gentayangan. Saya doakan agar kamu bertemu jalan untuk kembali kepadaNYa“. Saya lalu berdoa dengan khusuk agar jika memang ada arwah, atau mahluk lain di sekitar saya (selain Pak Supir tentunya), agar kembali kepadaNYA dan berbahagia.

Setelah itu rasa merinding saya perlahan berkurang. Nah…. sekarang tinggal jagungnya. Apa yang harus saya lakukan dengan jagung ini sekarang?. Makan atau jangan?. Jangan jangan jagung bakar aroma Kemenyan. Saya cium. Ternyata wanginya tetap wangi jagung bakar biasa. Tidak ada tercampur dengan wangi Kemenyan πŸ˜€.

Tapi anehnya pikiran saya berkembang makin buruk. Bagaimana jika tiba tiba keluar darah dari jagung ini saat saya gigit?. Atau jika tiba-tiba batang jagung ini berubah jadi tulang manusia?. Seperti di cerita-cerira horor. Saya bergidik. Ngeri banget memikirkannya. Mungkin ini yang namanya Super Halu. Saya jadi galau dan mikir-mikir.

Setelah saya timbang timbang, akhirnya saya putuskan untuk memakan jagung itu saja.

1/. Alasan logis, tadi saya beli jagung karena saya lapar. Sekarang jagung sudah di tangan saya. Ya harus saya makanlah, agar perut saya tidak perih lagi.

2/. Tidak baik membuang makanan. Banyak orang lain yang kelaparan dan tak mampu.

3/. Selain itu, saya beli jagung ini dari gaji hasil kerja saya. Masak dibuang?. Rejeki akan seret datangnya jika kita menyia-nyiakan rejeki yang sudah di tangan kita sendiri.

4/. Tanaman jagung itu sendiri tentu akan sangat sedih jika saya menyia nyiakannya. Karena ia sudah bersusah payah mengekstrak zat kehidupan dari tanah dan mengalirkannya ke dalam biji-bijinya guna keberlangsungan kehidupan generasi berikutnya. Tapi kita manusia mengambil buahnya dan membakarnya. Dan setelah dibakar tidak pula kita makan, alangkah berdosanya saya ini pada pohon jagung.

Akhirnya ” nyuam nyuam” saya makan jagung itu setelah sebelumnya saya berdoa, agar jagung ini memberi kesehatan dan kekuatan untuk tubuh saya dan bukan penyakit. Saya juga berdoa memohon agar tubuh saya dilapisi dan dilindungi dengan kekuatan jika seandainya ada pengaruh atau energi buruk dalam jagung yang saya makan itu.

Ha ha .. tidak terjadi apa apa tuh. Jagungnya ya tetap jagung biasa saja. Tidak ada darah ataupun berubah jadi tulang belulang πŸ˜€

Setiba di depan rumah, entah kenapa saya merasakan ada seseorang yang mengikuti langkah saya kelyar dari mobil, walaupun saat saya tengok kiri, kanan, depan, belakang tidak ada satu orangpun. Daripada daripada, sebelum membuka pintu rumah, saya membalikkan badan saya lalu berbicara entah kepada siapa ” Kamu jangan ikut masuk. Cukup sampai di sini saja. Pulanglah! Jangan gentayangan. Terimakasih sudah ikut mengantar”, kata saya. Terasa sangat bodoh. Ngomong sendiri πŸ˜€. Tapi serius, itu ngefek lho. Setidaknya memberi dampak psikologis kepada perasaan saya bahwa sekarang saya sudah aman. Setelah saya ngomong gitu, tidak ada lagi perasaan ada sesuatu atau seseorang yang sedang membuntuti saya.

Lalu saya masuk ke dalam rumah. Di sini tenang, nyaman dan damai.

Demikianlah cerita saya sesuai dengan kejadian nyata yang saya alami. Mungkin sebagian teman pembaca mentertawakan dan menganggap saya tidak rasional atau menyebut saya Halu. Tetapi sebagian lain mungkin bisa memahami atau bahkan pernah mengalami kejadian yang serupa ini. Tidak semua hal di dunia ini bisa dijelaskan secara rasional.

Tidak apa apa. Setiap orang punya pengalaman dan sudut pandang masing-masing. Terimakasih sudah membaca.

Drama Kecil Di Pesawat.

Standard

Saya hendak pulang kampung. Sedikit mepet waktunya, saya buru-buru masuk ke pesawat. Nomor kursi saya 4B. Ditengah. Sebetulnya agak kurang suka. Tapi apa boleh buat. Nggak punya pilihan lain.

Saya menyimpan ransel saya di kabin atas, lalu segera duduk. Saat itu seorang pria sudah duduk di kursi 4A di sebelah saya di pojok dekat jendela. Pria itu tersenyum ramah pada saya. Tetapi saat saya memasang Seat-belt saya, pria itu tiba tiba mencari-cari seat beltnya dan bilang jika saya sedang mendudukinya.

Sayapun membuka Seatbelt saya dan berdiri. Oh, ternyata memang benar, Seatbeltnya nyasar ke kursi saya dan tanpa sengaja saya duduki. Kok bisa ya?. Bukankah dia sudah duduk sejak tadi dan mengapa belum nemasang Seatbeltnya segera?.

Sebenarnya agak merepotkan, karena saya yang sudah pasang Seatbelt harus buka seatbelt lagi, berdiri dan kemudian pasang seatbelt lagi.Tetapi nggak apa apalah. Mungkin karena dia sedang sibuk chat di WA dengan keluarganya menjelang terbang. Hati baik saya memaklumi.

Sayapun duduk kembali dengan santai dan membaca majalah yang ada di saku kursi.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba “gedubukkk!!!”. Aduuuuh!!!. Sakiiit. Hape pria itu jatuh menimpa lutut saya, lalu jatuh ke lantai pesawat. Sayapun ikut mencari-cari di bawah, karena jatuhnya miring ke arah posisi saya. Jadi di bawah kaki saya.

Kok bisa ya?. Hapenya jatuh saat dia pakai. Saya cuma heran saja, karena tangannya kekar kan harusnya dia bisa pegang erat. Tapi okelah. Hati baik saya memaafkan perbuatannya itu yang lumayan membuat lutut saya sakit. Tentunya dia tidak sengaja.

Dalam perjalanan dari Jakarta ke Denpasar saya tidur. Tak terasa sebentar lagi mendarat menurut pengumuman. Mata saya masih mengantuk. Jadi saya meneruskan tidur.

Excuse me!” Terdengar suara dari sebelah. Saya kaget. Ooh… rupanya pesawat sudah hampir sepi. Orang orang sudah sebagian keluar dari pesawat. Sementara saya tertidur. Aduuuh…malunya. Mungkin sebenarnya ia pengen cepat keluar, tapi terhalang oleh saya. Mungkin saya telah membuatnya kesal juga.

Cepat-cepat saya bangun. Berdiri dan sambil mengantuk membuka pintu kabin di atas. Bermaksud mengambil ransel saya. Semoga hati baiknya memaafkan saya.

Terlihat sebuah ransel hijau di tempat tadi saya meletakkannya. Nah ini dia!. Saya mengambil ransel itu, pria yang duduk di sebelah saya itu berusaha membantu saya. Berat. Tapi saya memang masukan beberapa lembar pakaian, tas kosmetik, dompet, laptop dan chargernya. Tapi ranselnya sudah keburu saya turunkan sendiri dan saya letakkan di bangku “Ooh …lumayan baik hati juga dia rupanya” pikir saya.

Saya mencangklongkan ransel saya di punggung dan bersiap-siap mau jalan. Tiba-tiba gerakan saya ditahan pria itu. “This is my backpack!” katanya ke saya. Lho??.

Saya memandang ransel yang saya pegang baik-baik. Warnanya hijau tua. Masak sih ransel ini milik dia?. Bukannya punya saya ya?. Saya memandangnya lebih dekat lagi. Sejujurnya saya juga mulai ragu. Karena ransel yang saya bawa adalah milik anak saya. Sehingga saya nggak ingat pasti detailnya. Lalu saya mendongak. Mencari cari apa ada ransel lain di atas. Oh..syukurlah. Agak ke dalam masih ada sebuah ransel lagi. Warnanya juga hijau. Oh…mungkin itu milik saya. Saya tarik dan benar. Itu memang ransel saya. Sayapun menoleh pada dia dan meminta maaf lalu melangkah pergi. Ia tersenyum ramah pada saya. Semoga hati baiknya memaafkan kesalahan saya.

Sambil berjalan keluar pesawat saya merenung. Sungguh aneh kejadian ini. Dua kali ia melakukan perbuatan yang tanpa sengaja mengganggu saya dan dua kali saya melakukan perbuatan yang tanpa sengaja mengganggunya. Seperti saling membayarkan, walaupun tanpa sengaja. Karmaphala Cicih. Lunas ya?. Impasss!.

Untungnya saat ia melakukan perbuatan yang mengganggu, saya tidak terlalu mempermasalahkannya. Segera memaklumi dan memaafkan. Sehingga saat saya berbuat kesalahan tanpa sengaja, iapun tidak terlalu mempermasalahkan saya.

Sesungguhnya kita manusia tidaklah luput dari kesalahan setiap hari. Ketika ada orang lain berbuat kesalahan yang mengganggu kita, hendaklah kita segera memaklumi, memaafkan dan mengikhlaskan. Karena kita tak pernah tahu kapan kita melakukan kesalahan yang mungkin mengganggu orang lain.

Kesalahan Membeli Ticket Pesawat Online.

Standard

Bandara Ngurah Rai Denpasar.

Akhir pekan yang lalu saya pulang kampung ke Bali. Karena kesibukan, saya lupa jika saya belum sempat membeli ticket balik ke Jakarta. Hari Sabtu malam, adik bungsu saya bertanya, kapan saya mau balik ke Jakarta? Dan mengingatkan saya untuk membeli ticket agar harga tidak menjadi semakin mahal akibat waktu pembelian yang semakin mepet. Juga agar tidak keburu kehabisan ticket. Oh ya!.

Rencananya saya akan membeli secara on-line malam ini. Tapi hape lagi dicharge. “Sebentar lagi aja. Habis dicharge” kata saya. Adik saya lalu nyelonong ke kamarnya. Saya melanjutkan ngobrol dengan adik saya yang nomer tiga. Sebentar kemudian mata saya mulai terasa ngantuk, sayapun tertidur.

Jam 00 lewat 10 menit saya terbangun. Astaga!!. Saya belum beli ticket. Buru -buru saya mengambil hape saya.

Sambil ngantuk-ngantuk saya melakukan browsing di Skyscanner terlebih dahulu. Saya ingin mendapatkan ticket murah dari Denpasar ke Jakarta pada sekitar pukul 19.30 malam. Biar nggak terburu buru dan saya bisa lebih lama di rumah.

Saya mendapatkan calon ticket dari maskapai penerbangan Lion dari Denpasar ke Jakarta pada jam yang saya inginkan lewat Nusa Trip. Harganya 1 juta 400 ribuan. Ini oke lah. Lumayan murah dibanding Garuda. Setelah mengisi data data yang lengkap saya memproses pembayaran dengan kartu kredit. Jaringan berputar-putar dan tiba-tiba Ops!. Ticket sudah terjual habis.

Aduuh. Kecewa saya. Saya menyesali diri. Mengapa tadi saya tidak mendengarkan kata-kata adik saya agar membeli ticket lebih awal. Sekarang saya harus mengulang lagi melakukan browsing. Mencari jam penerbangan lain atau maskapai lain. Padahal mata saya masih terasa ngantuk.

Ooh… tapi ini tiba-tiba muncul suggestion untuk memilih penerbangan lain dari Tiket.com. Pop up di layar hape saya. Ada 2 suggestion. Yang pertama langsung menarik perhatian saya. Lion jam 19.45 dan harganya 840 ribuan. Lebih murah lagi. Aha!. Ini harga yang bagus dan jam yang bagus. Mengapa tidak nongol dari tadi aj ya?. Lalu sayapun meng-click pilihan penerbangan itu. Prosesnya cepat dan saya langsung membayar. Tidak seperti tadi. Done!. Selesai sudah πŸ‘πŸ‘πŸ‘. Lega hati saya.

Karena masih terasa ngantuk, saya berbaring lagi sambil menunggu kiriman ticket lewat e-mail. Tak berapa lama akhirnya e-mail masuk. Konfirmasi ticket. Saya buka attachment-nya untuk memastikan ticketnya benar.

Astaga!!!!!. Ticketnya salah!. Route penerbangannya terbalik. Dari Jakarta ke Denpasar. Bukan dari Denpasar ke Jakarta seperti yang seharusnya. Waduuuuh…. ticket ini nggak bisa saya pakai. Bagaimana cara saya terbang dari Jakarta , padahal saya sedang ada di Bali???.

Seketika saya melek. Hilang ngantuk saya. Mengapa bisa begini ya????. Saya mencoba menelusuri kesalahannya. Karena jelas-jelas tadi saya mengetik tujuan Jakarta dari Denpasar. Kok bisa berubah?. Sedih sekali hati saya. Karena keteledoran saya duit 840 ribuan melayang begitu saja. Saya merasa berdosa karena sudah menghambur -hamburkan uang begitu saja. Padahal jika saya sedikit saja lebih berhati-hati, mungkin uang itu bisa saya manfaatkan untuk saya sendiri ataupun untuk kebutuhan orang-orang yang saya cintai.

Akhirnya saya menghubungi pihak Tiket.com, untuk membatalkan dan merefund ticket. Saya diberitahu bahwa tiket bisa dicancel, tapi maximum refund hanya 50%. Secara umum sih pelayanannya cepat dan baik. Cuma ya itu….. refundnya itu kok cuma 50% ya?. Sayang saja uang saya melayang 420 ribu hanya dalam hitungan menit akibat kesalahan saya sendiri.

Setelah itu saya mengulang membeli tiket lagi yang benar. Dapat tiket dengan harga yang lebih mahal dan jam yang lebih awal. Apa boleh buat.

Pelajaran yang saya petik adalah:

1/. Jangan pernah membeli ticket online di tengah malam, saat kondisi mata mengantuk. Karena dalam keadaan mengantuk, tingkat ketelitian kita menurun.

2/. Selalu lakukan pemeriksaan 2 x terhadap data data dan informasi tentang tiket yang kita beli (rute penerbangan, tanggal penerbangan, data penumpang, alamat email, harga, biaya yang dicover termasuk apa saja i.e bagasi, meals dst) sebelum membayar.

3/. Berhati -hati terhadap Pop-Up Promo ataupun informasi yang muncul di tengah proses booking. Pastikan baca informasi dengan baik dan detail termasuk tanggal penerbangan dan rute penerbangan. Jangan tergiur oleh harga murah saja.

Saya rasa, saya bermasalah di sini karena berasumsi bahwa rute penerbangan yang ditawarkan adalah sama dengan yang saya ketik sebelumnya. Padahal yang ditawarkan oleh Tiket.com adalah rute peberbangan lain dengan harga yang lebih murah.

4/. Pesan tiket jauh jauh hari sebelumnya untuk memastikan ketersediaan tiket dan harga yang baik.

Pucuk Coccinia Liar Dari Lahan Terbengkalai.

Standard

Saya makan siang di sebuah warung makan di perumahan yang tak jauh dari kantor. Di sebelah warung itu ada halaman kosong yang terbengkalai dan tak terurus. Ada banyak rumput dan tanaman liar tumbuh di situ. Salah satunya adalah tanaman Coccinia grandis (Ivy Gourd) alias Papasan alias Timun Padang yang tumbuh sangat subur walau kemarau sangat panjang. Pucuk-pucuknya sangat banyak. Dan saya heran mengapa tidak ada yang memanfaatkan tanaman ini ?. Padahal pucuk tanaman ini sangat enak disayur. Selain juga memberikan fungsi pengobatan bagi penderira Diabetes, Hypertensi dan Gula Darah tinggi.

Tanaman ini mengandung kadar serat yang tinggi, Vitamins dan Besi.

Sebuah artikel di Diabetes Journal menjelaskan hasil research bahwa 1gram ekstrak tanaman ini yang diberikan setiap hari selama 90 hari, menunjukkan penurunan level glukosa darah sebesar 16% dibandingkan dengan mereka yang tidak diberikan ekstrak ini (placebo).

Akhirnya saya memberanikan diri bertanya kepada pemilik warung. Siapakah yang punya tanaman itu?. “Oooh… itu tanaman liar. Tumbuh sendiri. Nggak ada yang nanem dan pelihara. Malah mengganggu. Belum sempat dibersihkan”, jelas si Bapak.

Wah… kalau dianggap gulma pengganggu, apa boleh saya meminta pucuknya?. Bapak pemilik warung bilang “Ambil saja!. Ambil saja!” katanya sembari memberikan saya gunting untuk memanen pucuk- pucuknya. Saya merasa sangat kegirangan.

Dengan semangat saya pun memanen pucuk-pucuk tanaman Papasan itu. Waaah…luarbiasa!. Tanaman ini sungguh sangat subur. Pucuk mudanya sangat banyak. Saya hanya menggunting yang bagian atas atas saja yang agak jauh dari tanah.

Banyaaaak sekali dan segar segar. Tapi karena panas terik kemarau terasa memanggang, dan teman saya sudah menunggu saya untuk balik ke kantor, akhirnya saya menyudahi panen saya setelah mendapatkan pucuk daun secukupnya. Padahal sebenarnya masih banyak sekali yang bisa dipanen.

Tapi sebaiknya kita memang mengambil seperlunya saja dari alam. Jangan terlalu serakah juga. Cukup untuk sekali masak. Siapa tahu ada orang lain juga yang ingin memanfaatkan. Saya kemudian mengembalikan gunting dan berterimakasih kepada Bapak pemilik warung.

Pucuk daun ini bisa dimasak tumis ataupun direbus untuk lalapan.

Sampai dirumah saya bersihkan dan siapkan agar besok nggak perlu buang buang waktu lagi untuk membersihkan di pagi hari.

Jadi tinggal tumis dengan cepat. YummyπŸ˜‹πŸ˜‹πŸ˜‹