Category Archives: Inspiration

Film Inspiratif “LEBARAN DAMAI”

Standard

Satu lagi tulisan saya dengan latar belakang bulan Ramadhan & hari raya Idul Fitri dikembangkan menjadi film dengan judul “Lebaran Damai”.

Kali ini digarap oleh Sutradara Harry Ridho menjadi film 2 atau 3 episode (saya belum tahu – tetapi saya sudah dikirimi episode 1-nya).

Film “LEBARAN DAMAI” ini berkisah tentang Bayu dan Rini, sepasang suami istri dengan satu anak yang sesungguhnya harmonis. Saling menyayang dan mencinta. Sayangnya keharmonisan ini mulai terganggu sejak Bayu di-PHK karena perusahaannya terus merugi sejak pandemi. Ia menganggur dan susah mencari pekerjaan kembali. Ia pun menjadi sangat sensitive, mudah marah dan cepat tersinggung.

Rini berusaha menghibur suaminya dan tetap semangat berjualan sambil mengurus anak mereka. Keluh kesah Rini setiap hari, terkadang membuat Bayu merasa tidak nyaman. Saat Rini mengeluh capek dengan pekerjaannya, harga pada naik dan uang tidak cukup untuk menutup kebutuhan dapur, Bayu sering merasa disindir oleh istrinya itu, karena ia merasa diri sedang menganggur, hanya rebahan, tidak bekerja dan tidak mampu memberi uang kepada istrinya.

Semakin hari Bayu semakin perasa dengan keadaannya. Sementara Rini yang kurang peka akan perasaan suaminya tanpa sadar mengucapkan kalimat-kalimat yang membuat Bayu semakin merasa disudutkan. Puncaknya , mereka bertengkar hebat, yang membuat Bayu keluar dari rumah. Meninggalkan anak dan istrinya. Ia merasa terluka. Merasa tidak berguna dan tidak dihargai.

Rini berusaha mencari tahu keberadaan suaminya. Tapi tidak ketemu. Rini merasa sangat bersalah. Harusnya ia lebih sensitive dan hati-hati berbicara saat suami sedang terpuruk.

Sementara itu Bayu yang meninggalkan rumah, akhirnya memutuskan untuk tidur sementara di sebuah mushola. Disana ia mendapat bantuan dari Marbot dan bertemu dengan Pak Haji yang memberinya pencerahan dan nasihat yang sangat menyejukkan.

Selama Ramadhan, Bayu mendapat pekerjaan, membantu mengurus rumah makannya Pak Haji yang kebetulan pegawai sebelumnya pulang kampung.

Saat bekerja di rumah makan itu, ia mulai menyadari bahwa bekerja berjualan makanan itu memang sangat melelahkan. Ia jadi teringat pada istrinya. Ia rindu pada istri dan anaknya. Merasa bersalah dan ingin kembali pulang. Akankah Lebaran mempersatukan mereka kembali ?

Film ini adalah Episode 1 dari Lebaran Damai, yang menceritakan bagaimana Bayu kena Pemutusan Hubungan Kerja , usahanya mencari pekerjaan baru yang gagal dan perasaannya yang mulai terganggu dan tidak nyaman sejak menjadi pengangguran.

Selamat menyimak. Mohon bantu like, share dan comnent atau subscribe ya. Terimakasih sebelumnya.

Film Inspiratif “Sedekah Gema Ramadhan” Episode 2

Standard
Film Sedekah Gema Ramadhan

Penasaran dengan BU LALA ?

Setelah di Episode sebelumnya diceritakan tentang Bu Lala yang setiap tahun selalu sukses menjadi koordinator & membujuk Ibu-Ibu Blok D agar ikut berpartisipasi dalam acara Derma Ramadhan, serta sukses mendapatkan nama sebagai orang yang paling Dermawan dan yang paling tulus ikhlas  se-kompleks perumahan,  di Episode ke 2 dari Film Web series SEDEKAH GEMA RAMADHAN ini,  diceritakan bahwa bulan Ramadhan datang kembali.

Kembali Bu Lala bersemangat mengajak Ibu-ibu Blok D agar berpartisipasi dalam acara Derma Ramadhan tahun ini.

Andani menerima telpon Bu Lala saat baru pulang kerja. Bu Lala mengajak Andani ikut berpartisipasi tahun ini, karena menurutnya  tahun lalu ia lupa  meminta Andani ikut bersedekah. Hal ini membuat Andani kesal dengan ucapan Bu Lala itu, karena ia selalu ikut bersedekah setiap Ramadhan. Kok dilupa-lupakan oleh Bu Lala? Tetapi kemudian ia sadar jika kita bersedekah dengan tulus, sebenarnya tak terlalu penting nama kita sebagai penyumbang diingat atau tidak, sepanjang apa yang kita sedekahkan diterima oleh orang yang seharusnya menerima.

Lalu Bu Lala memanas-manasi Andani agar menyumbang banyak dengan mengatakan bahwa Ibu-ibu yang lain sudah pada menyumbang minimal 10 paket Sembako. Andani ragu antara tidak ikhlas jika harus menyumbang sebanyak itu  dan perasaan malu serta tidak enak pada Bu Lala jika tidak mau memberi dalam jumlah yang disebut Bu Lala. Akhirnya Andani memutuskan untuk menyumbang seikhlas hatinya saja, karena menurutnya percuma juga menyumbang banyak tapi hati kesal dan tidak ikhlas saat menyumbang.

Esok paginya, Bu Lala mengeluh kepada Andani jika ibu-ibu yang lain tidak ada yang mau menyumbang kolektif lagi tahun ini. Sangat berbeda dengan pernyataan Bu Lala saat ditelpon yang mengatakan  bahwa ibu-ibu lain sudah menyumbang minimal 10 paket.

Sebenarnya ia kasihan juga pada Bu Lala yang sudah berbaik hati menjadi koordinator,  mengumpulkan sedekah, membelanjakan sembako , membungkus dan membagi-baikan serta memanggil orang kampung atas untuk menerima sembako. Tetapi karena Bu Lala kurang terbuka masalah pertanggungjawaban uang Ibu-ibu Blok D serta tidak jujur mengatakan kepada para penerima sembako bahwa sedekah itu adalah dari Ibu-ibu Blok D, maka ibu-ibu yang lain sudah tidak ada yang mau lagi menyalurkan sedekahnya lewat Bu Lala.

Banyak pelajaran dan hikmah  yang  ia dapatkan dari kejadian ini. Bahwa jika kita bersedekah, hendaklah dengan ikhlas.

1. Bersedekahlah semampu dan seikhlas hati kita. Jangan memaksakan diri bersedekah dalam jumlah yang kit atak mampu atau tak ikhlas hanya karena takut, malu, gengsi atau merasa tidak enak. 

2 . Shodaqoh, derma, yadnya, punia atau apapun istilahnya sumbangan itu,  hanya akan berarti jika dijalankan dengan ketulusan dan keikhlasan hati untuk membantu sesama tanpa mengharapkan imbalan apapun.

Bukan agar nantinya kita mendapat berkah atau rejeki yang lebih banyak. Karena jika begitu, itu namanya hitung-hitungan dagang.

Bukan pula untuk mendapatkan nama atau agar disebut sebagai Dermawan.

Karena begitu kita mengharapkan  berkah dari memberi,  maka saat itulah keikhlasan kita hilang.

3. Marilah kita memberi, karena kita ingin memberi. Dan mari kita membantu sesama, karena memang ingin membantu. Tanpa mengharapkan imbalan apa apa.

4. Mendapatkan kepercayaan itu susah. Maka jagalah kepercayaan, saat orang lain menitipkan rejekinya untuk disalurkan lewat tanganmu. Mencederai kepercayaan akan membuatmu dirimu tak dipetcayai seumur hidup.

Film web series Sedekah Gema Ramadhan ini diangkat dari sebuah kisah di buku “100 CERITA INSPIRATIF” Karya Ni Made Sri Andani dengan judul “Sedekah Seorang Ramadhan”.
https://wp.me/p1eHo4-2SC

https://youtu.be/ax5CeG4Wiao

Para Pemain:
Rima Marisa
Meisya Ratilaela
Riva
Dewi Ayu
Irma
Raisa Putri
Ecin
Iis Sumarni
Rossana
Hajah Ros
Chindi Aprianti
Kiki Putri

Executive Producer : A A Anom
Producer : Rudi Rukman
Director : Harry Ridho
DOP : Arif
Editor: Rashid Qawi
Make Up : Mey Mey
Art: Acil
Photographer: Rifky
Caneraman : Sarifudin
Lightingman: Ferdiansyah
Soundman: Rashid Qawi
Technical: H Dadan

Film Sedekah Gema Ramadhan. Episode 1

Standard
Film Sedekah Gema Ramadhan.

Satu lagi tulisan saya di buku “100 CERITA INSPIRATIF” diangkat ke film oleh Pak Rudi Rukman dengan sutradara  Harry Ridho . Karena kebetulan kisah ini memiliki latar belakang bulan Ramadhan, lalu oleh Pak Rudi dirubah judulnya menjadi “SEDEKAH GEMA RAMADHAN”.

Tulisan aslinya sih berjudul “Sedekah Seorang Dermawan” yang memberi banyak renungan, pembelajaran dan inspirasi dalam kita melakukan Sedekah.

Bagaimana sebaiknya jika ada yang mengajak kita untuk ikut bersedekah? Apakah kita harus bersedekah karena nggak enak hati sama orang yang mengajak kita bersedekah? Atau karena ingin mendapatkan pahala? Atau karena kita memang niat hanya bersedekah saja tanpa mengharapkan apa-apa?

Benarkah semakin besar bersedekah semakin besar pula pahalanya? Ataukah sebaiknya kita bersedekah sebanyak yang disedekahkan oleh tetangga kita? Perlukah kita memaksa diri bersedekah banyak demi gengsi dan harga diri?

BHINEKA TUNGGAL IKA.

Standard


Living Free In Harmony.

Kemarin, sehabis olah raga saya berhenti sejenak di pojok halaman di mana bunga-bunga Thunbergia ungu dan Kembang Sepatu jingga berbunga lebat. Diantara bunga-bunga jingga itu saya melihat tersembul sekuntum bunga Kembang Sepatu berwarna merah. Muncul dari batang yang sama.

Sebenarnya ini bukan kejadian yang pertama. Cukup sering terjadi pokok Kembang Sepatu jingga saya ini mengeluarkan bunga merah. Dan walau warnanya sama-sama jingga, cukup sering juga keluar bunga dengan mahkota yang tidak bertumpuk, karena biasanya mahkota bunganya bertumpuk. Dan tumpukannya pun bervariasi dari yang sangat tebal hingga tipis. Berbeda-bedalah, tetapi tetap dari pohon yang sama. Bukan tempelan atau cangkokan.

Senang saya melihatnya. Sedemikuan damai hidup berdampingan.

Memandangi bunga-bunga yang berbeda walau asalnya dari satu pohon ini, saya jadi teringat dengan carut marutnya situasi berkebangsaan kita belakangan ini.

Kita ini satu bangsa. Bangsa Indonesia. Walaupun dari awalnya kita sudah berbeda-beda. Datang dari berbagai macam adat, budaya, bahasa, suku yang mendiami berbagai wilayah nusantara yang terpisah-pisah pulau dan lautan. Namun para pendahulu kita sudah sepakat dan mengambil keputusan dalam sebuah Sumpah Pemuda untuk berbangsa satu, bertanah air satu dan berbahasa satu yakni Indonesia, bahkan jauh-jauh hari sebelum proklamasi Kemerdekaan. Mereka rela berjuang habis-habisan dengan mengorbankan harta benda, nyawa dan bahkan ego kesukuannya masing-masing demi terbentuknya negara Indonesia yang bersatu dan berdaulat.

Dan tentunya sebagai anak bangsa yang baik, sudah sepantasnya kita memperkuat apa yang telah diperjuangkan oleh para leluhur kita itu untuk menjadi sebuah bangsa yang merdeka dan bersatu. Bukannya justru memecah belah persatuan dan memporak-porandakan kerukunan, memperkuat eksklusifitas golongan, menganggap golongan kita lebih baik, lebih benar dan lebih berhak ketimbang orang yang di luar golongan kita.

Belakangan kitapun sangat mudah terprovokasi, tersulut amarah tanpa memahami keseluruhan permasalahan yang ada. Bahkan ada juga yang kelepasan menebarkan ujaran-ujaran kebencian dan melakukan kekerasan yang sangat berbahaya dalam usaha kita memperkuat persatuan bangsa. Dan jika dipelajari lebih jauh banyak terkait dengan urusan politik dan kepentingan golongan.

Yuk teman-teman, lebih baik kita perkuat persatuan dan kebangsaan kita. Kita kembangkan sikap saling menghormati, saling menghargai, saling mendukung dan bertoleransi terhadap sesama anak bangsa  Jangan terprovokasi oleh hal-hal yang menyulut kebencian dan melemahkan persatuan kita sebagai bangsa. Cinta Indonesia ❤❤❤

Bhineka Tunggal Ika.
Bhina ika tunggal ika. Tan hana dharma mangeruwa.

SMALL TARGET, REACHABLE TARGET.

Standard

Memecah Target Besar Yang Sulit Menjadi Target Kecil-Kecil Yang Mungkin Dicapai.

Tak terasa dua bulan sudah berlalu, sejak pertama kali saya memutuskan untuk berolah raga setiap hari, guna memperbaiki kesehatan saya. Saya mulai berolah raga pagi sejak tanggal 11 Februari tahun ini dan hingga hari ini masih terus berolah raga tiap pagi, hanya pernah jeda sekali pada Hari Raya Nyepi.

Buat saya ini adalah pencapaian yang luar biasa, walaupun bagi sebagian orang yang memang disiplin dan rajin berolah raga, tentu ini bukan apa-apa. Karena sebelumnya, ngebayangin target berolah raga tiap hari selama sebulan penuh tanpa jeda hari itu kok rasanya berat banget dan nggak mungkin. Saya sangat yakin itu tidak akan tercapai. Apalagi 2 bulan berturut-turut. Sangat sangat sangat berat dan tidak mungkin tercapai rasanya.

Lalu bagaimana saya bisa melewati semua ini selama dua bulan lebih?

Yang saya lakukan adalah memecah target besar yang rasanya sangat berat dicapai menjadi target kecil-kecil yang mungkin tercapai oleh saya.

  1. Lupakan Target Sebulan. Fokus Pada Target Seminggu.

Saat memikirkan target berolah raga pagi selama sebulan penuh saya yakin tidak akan bisa saya capai. Tapi jika hanya 7 hari berturut-turut, kok rasanya saya masih sanggup ya. Soalnya targetnya nggak lama. Hanya 7 hari.

Lalu saya coba jalani. Olah raga setiap hari. Saat ada halangan datang, seperti rasa malas dan enggan, saya membujuk diri saya sendiri. “Targetmu cuma 7 hari. Nggak banyak. Ayo teruskan. Dikit lagi nyampe!!!”. Eeeh…ternyata bisa lho saya berolah raga selama 7 hari berturut-turut. Saya memuji diri saya sendiri.

Dan karena 7 hari pertana sudah lewat, saya jadi percaya diri, berarti jika saya kasih target 7 hari lagi ke depannya, mungkin saya bisa juga. Akhirnya saya jalani 7 hari berikutnya lagi dari nol. Dan bisa!!. Kasih target 7 hari berikutnya lagi. Dan bisa lagi !!. Begitu seterusnya. Akhirnya berolah raga setiap hari selama sebulan tercapai. Dan sekarang dua bulan tercapai.

Ternyata dengan memecah target besar menjadi kecil-kecil membuat kita menjadi lebih percaya diri dan yakin bisa mencapainya.

Ketimbang memikirkan target besar sebulan, lebih baik kita fokus pada target mingguan dan terus fokus setiap minggu. Ujung-ujungnya tercapai juga target sebulan yang terasa besar itu.

  1. Berolah raga tidak lama – lama.

Saya tidak menargetkan diri saya harus berjam-jam berolah raga. Cukup antara 45-60 menit tergantung dari jam bangun dan ada jadwal meeting pagi di kantor atau tidak. Bagi saya 45 menit itu sudah cukup berkeringat banyak dan membuat tubuh saya terasa segar.

  1. Berolah raga seimbang
    Dalam berolah raga saya juga tidak ngoyo ngikutin satu jenis saja. Saya coba campur-campur saja sesuai dengan kenyamanan hati saya.

Yang penting saya ada melakukan sedikit pemanasan (ini saya belajar setelah saat di awal kaki saya sempat keseleo, karena saya langsung berlari tanpa pemanasan), sedikit olah raga ringan, berat dan kardio. Kadang senam, lari kecil, jalan kaki, main bola basket, dsb. Saya tidak memaksa diri untuk melakukan olah raga yang kurang saya sukai.

Semua upaya itu, membuat olah raga menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi diri saya.

Semoga ke depannya, saya masih bisa terus konsisten berolah raga.

KEEMPATAN SEPAKBOLA

Standard

Belajar Fleksibilitas Dari Anak-Anak.

Suatu pagi seusai berolah raga di taman perumahan, saya melanjutkan lari kecil di lapangan di sebelah rumah. Kira kira baru dapat sekitar 500 langkah, dua orang anak kecil datang, memarkir sepedanya lalu ikut masuk ke dalam lapangan. Disusul oleh dua orang temannya lagi. Jadi totalnya sekarang ada empat orang anak kecil. Mereka bermain bola dengan riang.

Saya tetap berlari mengelilingi lapangan multifungsi yang kadang menjadi lapangan futsal, kadang jadi lapangan bulu tangkis, kadang lapangan basket, lapangan volley dan bahkan arena jogging. Tergantung situasi.  Beberapa kali bola itu tertendang ke arah saya. Mau tidak mau saya jadi meladeni anak-anak dengan ikut menendang bola untuk mengembalikan bola ke arah mereka.

Lama-lama saya jadi ikut memperhatikan apa yang mereka lakukan juga. Sepakbola yang umumnya dimainkan oleh 2 kesebelasan dengan total pemain 22 orang, sekarang ini hanya dimainkan oleh empat orang pemain. Bahkan untuk bermain Futsal dengan jumlah total pemain yang lebih sedikitpun (total 11 orang) tetap tidak cukup.


Yang tentunya jika berhadapan terdiri atas dua orang vs dua orang anak. Lalu bagaimana caranya mereka bermain?

Karena cuma berempat,  semua pekerjaan dirangkap-rangkap. Penjaga Gawang alias Goal Keeper merangkap sebagai  Pemain Belakang dan sekaligus juga sebagai Gelandang dan sesekali juga menjadi Penyerang.  Atau jika di Futsal, pemain anchor merangkap sebagai pemain flank juga sebagai pivot dan keeper.

Demikian juga anak yang awalnya saya lihat menjadi Penyerang,  juga merangkap sebagai Gelandang dan Bek. Hanya jadi Keeper yang tidak dilakukannya. Kelihatannya  untuk posisi Penjaga Gawang memang tidak ditukar-tukar.

Jadi jelas ini bukan “Kesebelasan Sepak Bola”.  Tapi “Ke-empatan Sepak Bola” atau malah “Ke-dua-an Sepak Bola”.

Walau cuma berempat, saya lihat anak-anak itu tetap bermain dengan semangat dan seru. Sesekali bertengkar ringan, berbeda pendapat, lalu berdamai dan bermain kembali dengan riang. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Saya merasa sangat senang melihat anak-anak itu. Semangat dan kecepatannya dalam menyesuaikan diri dengan situasi sangat tinggi.

Yang sangat menarik untuk dipelajari dari anak-anak ini adalah Fleksibilitasnya dalam bermain.

Anak-anak memilih untuk tetap bermain, walaupun jumlah pemain sangat tidak mencukupi. Tidak ada yang merasa keberatan jika harus melakukan tugas rangkap-rangkap, entah jadi keeper, bek, gelandang maupun penyerang, tidak masalah. Fleksibilitas membantu anak-anak bisa tetap bermain. Karena jika harus menunggu teman sejumlah 22 orang untuk bermain bola atau 11 untuk bermain Futsal tentu akan sulit. Bisa-bisa tidak jadi bermain.

Walaupun tidak sempurna, tetapi fleksibilitas juga membuat anak-anak belajar multi tasking dan memahami permainan dengan lebih baik. Anak-anak tidak hanya berlatih di satu posisi, tetapi juga di posisi lain.

Saya rasa dalam kehidupan orang dewasa, fleksibilitas seperti ini sesungguhnya juga sering dibutuhkan. Memahami situasi dan fleksible, mampu menyesuaikan dengan keadaan akan sangat membantu saat kita menghadapi kendala kehidupan, sehingga tidak harus membuat kita semakin terpuruk.

Hal yang menarik lagi adalah cara anak-anak bertengkar dan berbaikan kembali dengan cepat. Seolah-olah tidak mau membuang waktu untuk menyimpan amarah dan dendam. Ada hal lain yang mereka kejar dan anggap lebih penting dari sekedar bertengkar, yaitu kegembiraan, pertemanan dan kebersamaan.

Dunia kanak-kanak, dunia yang indah. Dunua yang fleksibel, tidak kaku dan tidak dicemari dengan amarah dan dendam.

ANTARA PEMBACA DAN PENONTON.

Standard

Sekelebat pikiran dalam proses adaptasi sebuah karya tulis ke dalam bentuk film.

Ketika pengalaman membeli jagung di depan kuburan  saya tuliskan di dalam Blog, Harry Ridho, seorang sutradara film horor menterjemahkannya ke dalam sebuah film
Tentu saja ada sedikit descrepancies di sana-sini dalam proses penterjemahannya, akan tetapi saya pikir itu sangat wajar dan perlu.

Karya saya adalah sebuah TULISAN. Yang merupakan hasil tuangan dari apa yang saya rasakan dan pikirkan ke dalam rangkaian kalimat  dan paragraf, berikut monolog yang terjadi di dalam diri saya.

Dari karya tulis ini, PEMBACA akan menangkap alam pikir dan rasa saya dengan melihat kalimat-kalimat itu dan menginterpretasikannya sendiri sesuai dengan pemahaman dan latar belakang pengalamannya sendiri.

Di sini, semua audio visual yang mentas di panggung pikiran pembaca adalah hasil karangan pembaca sendiri yang distimulasi oleh tulisan saya yang dijadikan referensi. Dan oleh karenanya interpretasi ini bisa berbeda -beda antara satu pembaca dengan pembaca lainnya.

Sedangkan Sutradara Harry Ridho, mengolah apa yang ia tangkap dari membaca tulisan saya itu menjadi sesuatu yang  akan tertangkap oleh PENONTON. Bukan PEMBACA. Sutradara merancang bentuk audio visual yang akan ditampilkan dalam film kepada PENONTON, sesuai dengan interpretasinya sendiri saat membaca tulisan saya.

Jadi di sini penonton tidak perlu lagi mengarang sendiri drama audio visual dalam pikirannya seperti seorang pembaca, karena sudah ada seorang Sutradara Film yang merancang dan menyuguhkannya  langsung kepada penonton.

Disinilah sebuah karya menjadi lebih kaya dan dinamis, karena terjadi penggabungan pengalaman dan imajinasi dari seorang penulis dan seorang sutradara. Walaupun tentu saja ada kelemahannya, yaitu mungkin terjadi descrepancies dengan degree yang beragam antara apa yang sesungguhnya dimaksudkan oleh penulis dengan yang tertangkap oleh penonton pada akhirnya. Karena antara Penulis dengan penonton ada satu penterjemah yakni Sutradara 

Descrepancies tentunya bisa dikurangi dengan komunikasi dan luangkan waktu yang cukup untuk berdiskusi, agar terjadi pemahaman yang sama antara penulis dengan sutradara.

Hanya sekelebat pikiran,  setelah menonton film “Beli Jagung Depan Kuburan”.

KISAH LABU SIAM DARI BANDUNG.

Standard

Seorang ahabat karib saya di Bandung mengontak, apakah saya mau dikirimin bibit Labu Siam. Seketika saya bilang MAU !!!  Sangat senang hati saya.

Karena sudah lama saya pengen menanam Labu Siam dan nyari bibitnya nggak mudah. Kebanyakan Labu Siam yang dijual di tukang sayur masih muda-muda, sehingga belum bisa dijadikan bibit.

Tak lama kemudian, sampailah bibit itu. Ada tiga buah Labu Siam yang sudah tua. Satu sudah bertunas, tapi sayang saat saya buka, tunas itu  patah. Sayang banget. Tapi tidak apalah. Masih ada dua buah lagi yang tunasnya nanti akan tumbuh.

Karena hari sudah malam, sementara saya letakkan dulu di dapur, di bawah rak piring. Besok pagi akan saya tanam. Esok paginya, saya kerja di kantor seperti biasa dan benar-benar lupa dengan bibit Labu Siam itu.

Pulang  kantor agak malam. Si Mbak sudah masak buat kami. Ada ayam goreng, tahu goreng, sambal terasi  sayur kangkung dan sayur Labu Siam. Enak kelihatannya. Saya pun makan dengan lahap.

Tapi tiba-tiba perasaan saya tidak enak. Ada yang tidak beres ini. Mengapa kok di atas meja makan dihidangkan Sayur Tumis Labu Siam?

Jangan-jangan…

Cepat-cepat saya pergi ke dapur dan memeriksa bibit Labu Siam saya. Astaga ternyata tinggal 1 buah. Kemana satunya lagi? Waduuuh… jangan-jangan yang barusan saya makan itu.

Benar saja. Si Mbak yang kerja di rumah saya mengakui bahwa ia telah memasak Labu Siam yang di dapur itu, karena tidak tahu itu buat bibit.

“Iya Bu. Saya masak kemarin. Saya lihat ada Labu Siam. Saya pikir ibu lagi pengen makan Sayur Labu Siam”. Katanya dengan wajah polos.

Aduuuh…hancur hati saya..
Mau marah sama siapa? Memang bukan salahnya si Mbak. Saya tahu  sebenarnya ia sangat baik dan perhatian pada saya. Selalu berusaha membuat hati saya senang.

Ini salah saya sendiri. Saya tidak mengkomunikasikannya dengan Mbak. Jadi ia tidak tahu bahwa Labu Siam itu adalah bibit. Dan jauh-jauh dikirim dari Bandung.  Mestinya saya memberi tahu Su Mbak sebelum berangkat ke kantor.

Selain itu, setiap orang yang melihat Labu Siam di Dapur, tentu berpikir bahwa Labu itu untuk dimasak.  Jika untuk bibit, mestinya  saya letakkan terpisah. Entah di teras, di halaman, atau entah di mana, tetapi jangan di dapur.

Saya pandangi satu-satunya bibit Labu Siam yang tersisa itu. Hanya ini yang bisa saya tanam sekarang.

Mengetahui kesedihan saya, akhirnya Si Mbak berkata

“Maaf ya Bu. Saya tidak tahu sebelumnya, kalau itu buat bibit. Tapi saya berjanji, akan saya carikan penggantinya. Saya tahu  di mana bisa membeli Labu Siam yang tua buat dijadikan bibit”.

Besoknya ia datang dengan dua buah Labu Siam yang cukup tua, untuk menggantikan 2 buah labu siam  yang tunasnya patah dan yang terlanjur dimasak.Ketiganya saya tanam di pot dan saya letakkan di halaman. Semoga tumbuh dengan baik.

Tiba-tiba sahabat saya nge-chat.
“Gimana De ? Bibit Labu Siamnya dudah diterima belum?”.

Aduuh…Saya panik. Mesti bilang apa? Dari tiga buah bibit yang dikirim cuma satu yang selamat dan bisa ditanam. Kok say takut mau bilang begitu ya? Ia pasti sedih karena saya tidak memperlakukan pemberiannya dengan baik. 

Akhirnya saya informasikan bahwa salah satu bibit yg tunasnya sudah tumbuh ternyata patah. Tetapi saya tidak bercerita tentang satu bibit lagi yang dimasak itu. Untuk menjaga perasaannya. Agar ia tidak kecewa. Takutnya dia marah. Takut dia sedih. Jauh-jauh ngirim dari Bandung kok bibitnya malah tidak diperlakukan dengan baik, sampai dimasak kok nggak peduli. Jadi saya tidak bercetita soal itu.

Untuk tunas yang patah, ia menghibur dengan mengatakan, tidak apa. Memang sejak awal ragu-ragu mau ngirim yang sudah ada tunasnya, makanya ia kirim juga dua bibit yang belum tumbuh tunasnya sebagai cadangan.

Setelah itu saya jadi kepikiran terus akan bibit Labu Siam itu, sampai sulit tidur.  

Rasanya saya bersalah kepada sahabat saya itu. Memang saya tidak berbohong kepadanya. Tetapi saya tidak mengatakan keseluruhan ceritanya. Sebagian sengaja saya sembunyikan.  Sebenarnya itu sama dengan tidak jujur. Tidak bohong, tetapi tidak jujur!!!

Sebaiknya gimana ya? Ngaku tidak ? Ngaku tidak?  Rasanya kok sulit sekali.

Akhirnya tadi siang, saya memberanikan diri untuk mengaku. Dengan mengambil resiko terburuk, mungkin dia marah. Dia sedih. Dan pastinya kecewa. Daripada saya tidak bisa tidur.
Tanpa saya duga, sahabat saya itu ternyata tidak marah. Ia mentertawakan saya dan menawarkan umtuk memgirim bibit lagi jika saya mau. Ia juga bercerita, jika pernah punya pengalaman serupa dengan perasaan yang sama dengan saya, saat diberi bibit bunga Gemitir oleh temannya. Tapi temannya juga memahami situasinya dan malah menawarkan untuk memberikan bibit baru.  Ooh ?!

Dunia ini ternyata penuh dengan orang baik.

SEGENGGAM DAUN KELOR.

Standard

Di sebuah Group Chat di WA, teman-teman saya sedang asyik mengobrol tentang Sate Kambing, dan tukang Sate Kambing yang sangat terkenal enak dekat kantor kami yang lama. Tentu banyak teman yang kangen dan memberikan emoticon ngiler . Tapi ada beberapa orang juga yang bilang nggak tertarik, karena emang nggak doyan daging kambing.

Saya termasuk salah satunya yang tidak ngiler. Selain memang tidak suka, kebetulan tekanan darah saya sedang terdeteksi terlalu tinggi. Tentunya Sate Kambing bukanlah pilihan yang tepat dalam keadaan seperti ini.

Teman-teman kaget mengetahui tekanan darah saya yang memang sedang tinggi-tingginya. Lalu pembicaraanpun beralih ke seputar  Hypertensi. Seorang teman memberi informasi bahwa daun Kelor membantu menurunkan tekanan darah.

Udah makan daun kelor, rebus 300 g, kasih bawang, makan pake sambel, 2 hari pagi siang sore, udah pasti turun.”

Oh ya?  Memang sering denger sih jika Daun Kelor ini bermanfaat. Bahkan kalau di Bali, tanaman ini dipercaya sebagai penolak niat jahat.  Tapi saya baru denger soal manfaat Daun Kelor ini untuk hypertensi. Wah…saya pengen banget nyobain, karena kebetulan saya juga suka rasa daun Kelor.  Tapi nyarinya di mana ya ?

Tidak ada dijual di tukang sayur. Dan saya juga tak punya pohonnya di halaman. Terus terang  ini adalah tanaman yang belum sukses saya tanam. Sudah pernah mencoba 3 x menanam  namun gagal terus. Bahkan pernah dikasih batangnya dari Bali oleh seorang adik sepupu, tetapi tetap saja tidak sukses tumbuh.

Seorang teman menyarankan membeli online saja. Seorang teman yang lain mengatakan jika ibunya pernah menanam pohon Kelor tapi sudah dicabutin Bapaknya. Ooh…sayang sekali. Tapi tak berapa lama teman saya itu japri, mengabarkan jika pohon Kelor di rumahnya masih ada. Dan ia ingin mengirimkan daunnya ke rumah serta minta alamat saya.

Esok paginya, daun -daun Kelor muda itu sampai di rumah saya. Cepet banget. Gratis pula. 

Sayapun memetik daunnya satu per satu, melepas dari tangkainya agar tidak keras saat dimakan. Sambil membersihkan daun Kelor ini saya terkenang akan teman-teman saya di Group Chat itu. Para sahabat yang sangat akrab, bagaikan saudara sendiri.

Para sahabat yang saya ajak dalam suka dan duka saat kami masih bekerja bersama dalam naungan perusahaan yang sama. Para sahabat saat menikmati masa muda, dan juga yang juga akan menua bersama saya. Para sahabat yang sangat peduli akan kesehatan saya, perhatian dan sangat sayang.

Sahabat yang selalu menjapri,
Daaannn…. semoga segera sembuh dan sehat kembali ya…
Jangan stress Dan. Paling gampang memicu tekanan darah. Coba meditasi. Sambil tiduran aja, atur napas. Insya Allah membantu. Aku bantu doa ya. Peluuukkk”.

Tanpa terasa air mata saya meleleh. Terharu dan bahagia berada diantara para sahabat yang peduli dan penyayang.

Daun Kelor mungkin bisa bisa saya dapatkan dengan cara lain. Mungkin bisa memesan dari tukang sayur, atau membeli online.Tetapi persahabatan dan kasih sayang adalah sesuatu yang sangat berharga, tidak bisa diperjualbelikan, dan tidak bisa didapatkan dengan mudah kecuali dengan ketulusan hati.

Saya menghapus air mata saya perlahan. Segenggam Daun Kelor ini sudah siap untuk dimasak Sayur Bening. Semoga menyembuhkan.

KEBERATAN BEBAN.

Standard
Bunga Mawar

Saya punya setangkai pohon Mawar dengan bunga yang sangat indah. Kelopak bunganya banyak bertumpuk-tumpuk, berwarna pink sangat lembut dan halus. Melihatnya saya jadi membayangkan keanggunan dan kelembutan seorang wanita cantik yang simple, namun  kebaikannya selalu menenteramkan orang-orang di sekelilingnya   Sungguh, bunga Mawar ini selalu membuat saya terpesona setiap kali mekar.

Namun ada satu hal yang cukup mengganggu tentang Bunga Mawar ini. Karena kelopaknya bertumpuk-tumpuk, bunganya menjadi besar dan berat. Terlalu berat bagi tangkainya yang kecil dan halus. Sehingga terkadang saya khawatir, ini bisa mematahkan tangkai bunganya sendiri.
Lebih parah lagi, di tangkai yang sama terkadang ada 2 – 3 kuncup bunga lagi yang belum mekar. Rasanya hati saya jadi ketar-ketir. Takut patah.

Sebetulnya segala sesuatu di dunia ini sudah ada takaran dan kapasitasnya. Mengambil beban lebih berat dari kapasitas maksimal yang bisa dilakukan, berpotensi mengganggu.

Contoh yang paling dekat dengan saya itu misalnya soal kesehatan. Soal tekanan darah dan kadar garam yang bisa bermanfaat untuk kesehatan tubuh.  Menurut informasi kesehatan, asupan garam yang bisa ditolerir tubuh adalah max 1600 mg per hari. Pada kenyataannya mungkin saya mengkonsumsi garam jauh lebih banyak dari yang bisa ditolerir.  Satu sendok teh garam saja sudah 2000 mg.

Dan itu terjadi nyaris setiap hari selama bertahun-tahun. Sehingga tubuh saya kelebihan beban garam. Muncullah berbagai penyakit, mulai dari tekanan darah tinggi hingga gangguan fungsi tubuh yang lain.

Dalam bidang Penjualan, kelebihan beban juga sangat mungkin terjadi. Misalnya seorang pemasar yang  hanya mampu menyalurkan barang ke toko-toko langganannya, rata-rata 200 -250 juta per bulan, tetapi memaksa distributor agar menyediakan barang senilai 500 juta  per bulan. Nah jika ia tak mampu mencari toko-toko lain lagi, tentu lama-lama stock akan menumpuk dan tak bisa disalurkan dengan normal lagi. Sebagai akibatnya pembayaran dari distributorpun jadi tersendat. Kelebihan stock. Keberatan beban.

Keberatan beban juga mungkin terjadi pada bidang Politik. Orang yang terpilih menduduki posisi ataupun jabatan tertentu, namun tidak memiliki kompetensi yang memadai.

Ambil contoh, seorang kepala daerah yang menang dalam pilkada karena gencarnya kampanye yang ia lakukan dan bukan karena leadership atau kemampuan managerialnya yang bagus atau kemampuan professionalnya yang lain. 

Sementara lawannya yang sebenarnya lebih berkompeten dan lebih professional, entah karena kekurangan dana atau kurang aggresif dalam melancarkan kampanyenya, jadi kurang dikenal oleh publik dan tidak terpilih.

Yang terjadi berikutnya adalah sang pemimpin terpilih tidak mampu mengelola daerahnya dengan baik dan optimal untuk kepentingan seluruh masyarakat, dan bahkan cenderung hanya mengeluarkan kebijakan dan aturan-aturan yang menguntungkan bisnis personalnya sendiri dan kelompoknya.

Keberatan beban! Dalam bentuk apapun, selalu berpotensi membuat kerusakan. Mau itu dalam bentuk bunga yang lebih berat dari yang bisa ditunjang oleh tangkainya, mau itu murid yang dimasukkan ke dalam kelas percepatan yang kemampuannya sesungguhnya belum di situ, mau itu rumah tangga yang lebih besar pasak dari tiang,  mau itu pejabat yang kurang kompeten, hingga makan yang lebih banyak dari yang bisa diserap tubuh.

Saya memandangi bunga mawar itu.
Banyak isyarat kehidupan yang disampaikan. Saya bepikir untuk membantunya menambahkan tiang penyangga kecil di dekat bunganya.