Category Archives: Inspiration

BERTENGKAR UNTUK APA?

Standard
Pertengkaran Kucing

Sepulang dari berjalan pagi, di dekat lapangan olah raga sebelah rumah saya melihat seekor kucing cukup besar berwarna orange sedang duduk di pojok lapangan yang ketinggiannya sekitat 1 meter dari jalanan. Terlihat santai dan sangat menikmati hari. Enjoy life!

Belum sempat memperhatikan lebih banyak, tiba-tiba saya melihat seekor kucing orange lain yang lebih muda dan kecil, mengintip dan mengendap-endap bersiap untuk menyerang Kucing orange yang sedang bersantai itu. Astaga! Kucing besar yang lebih tua itu tidak sadar dirinya akan diserang.

Belum sempat saya berpikir, kucing muda itu sudah melompat dengan sigap, berdiri depan kucing yang tua dan langsung mengerang mengancam. Mau tidak mau ia terpaksa bangkit dari duduknya dan menghadapi penyerangnya yang lebih muda itu.

Saya jadi ingin tahu, apa yang akan terjadi. Mengeluarkan hape dari saku dan merekam.

Mulailah adegan seringai menyeringai dan ancam mengancam dari kedua ekor kucing orange itu. Saya sendiri bingung, apa ya yang dipertengkarkan?

Setelah keduanya saling bentak, saling mengancan dan saling bertahan sambil mengadukan kepalanya, saya melihat kucing yang lebih besar mengalah. Pandangannya beralih ke tempat lain. Perlahan ia memindahkan kakinya, lalu melangkah pergi dengan gagah. Pelan pelan tapi pasti. Sesekali ia menoleh ke belakang ke arah kucing muda itu. Lalu menghilang di balik gardu listrik.

Saya lihat kucing muda itu sekarang mengambil alih pojok lapangan tempat kucing besar itu bersantai. Ia mencium lantai tempat kucing besar itu tadi duduk dan mulai melingkarkan badannya di situ.

Ooh… rupanya memperebutkan pojok lapangan, lokasi untuk bersantai. Saya mulai sedikit paham.

Tapi beberapa detik kemudian, ia bangkit lagi lalu berjalan meninggalkan pojok lapangan itu dengan santai. Kembali saya tidak paham.

Lho??!! Kok ditinggal? Lalu tadi itu bertengkar untuk apa?

Saya heran melihatnya. Kalau memang pojok itu tidak akan dipakai, mengapa harus diperebutkan dan dipertengkarkan? Dasar kucing!

Saya berhenti merekam. Kejadian itu berlangsung sekitar 11 setengah menit. Sungguh saya jadi penasaran , apa sesungguhnya motivasi kucing muda itu mengajak kucing yang lebih tua bertengkar?

Apakah memang ingin memperebutkan lokasi duduk di pojokan lapangan ? Atau ingin menjajal kemampuan bertengkar? Ataukah hanya sekedar mendapat pengakuan, bahwa teritori itu miliknya? Atau mau membuktikan slogan “kecil-kecil cabe rawit?”. Tak paham saya. Untung saja kucing besar itu baik hati dan mengalah. Kalau ia mau, saya yakin dengan mudah ia bisa membanting dan menggigit kucing muda itu hingga babak belur. Tapi tidak ia lakukan.

Apakah kisah serupa begini terdengar familiar diantara kita? Wk wk wk 🤣🤣🤣🤣.

Mempertengkarkan sesuatu, yang sebetulnya nggak benar-benar ingin kita gunakan juga? Yang penting menang. Perkara nanti yang diperebutkan itu kita pakai atau nggak kita pakai, itu urusan belakangan.

Ego, terkadang membuat kita mengedepankan nafsu serakah dan keinginan berkuasa kita dengan tidak menghargai dan menghormati hak-hak orang lain yang sesungguhnya mungkin lebih butuh ketimbang kita.

CELAMITAN

Standard

Salah satu hal paling menarik yang bisa saya nikmati setiap kali berjalan pagi di perumahan adalah melihat-lihat tanaman tetangga. Bunga-bunga yang indah warna warni, buah-buahan yang ranum menggelantung di pohonnya, sayur-sayuran segar hidroponik yang dipajang di luar pagar. Semuanya bikin ngiler.

Seperti pagi ini, pandangan saya tertuju pada deretan kangkung, pakcoy dan bayam singapur, di instalasi hidroponik tetangga yamg dipajang di depan rumahnya. Seger banget. Kebayang segarnya hidangan sayuran hijau di meja makan, yg diolah dari sayuran baru petik.

Lalu berikutnya ada pohon mangga manalagi yang berbuah banyak dan rendah sejangkauan tangan. Tinggal loncat dikit rasanya nyampai itu. Rasanya pengen meminta & pengen memetik.

Manusia memang dibekali bakat “celamitan” dari sononya. Jangankan sayur, buah dan bunga. Wong rumput tetangga saja yg terlihat lebih hijau dipengeni.

Tetapi sebenarnya sadar nggak sih saya , bahwa untuk membuat rumput itu menjadi sedemikian hijau segar dan rapi, juga untuk membuat tanaman hias itu tumbuh subur berbunga warna-warni mewangi, dibutuhkan kerja keras pemiliknya untuk menanam, merawat, menyiram, memupuk, menyiangi???. Itu butuh modal, waktu dan kerja keras woiiii…

Demikian juga sayuran hidroponik dan mangga yang bikin ngeces itu. Semua ditanam dan dirawat oleh pemiliknya dengan sepenuh hati dan sepenuh pengharapan.

Lha, lalu siapa saya ini yang hanya sekedar seorang tetangga yang kebetulan lewat tanpa pernah berkontribusi apa-apa kok tiba-tiba menginginkan sayuran dan mangga tetangga itu ? Ingin meminta dan memetik…

Tak jauh dari pohon mangga itu, saya lihat ada Mbak asisten rumah tangga di rumah tetangga saya itu sedang menyapu. Sayapun berkomentar,

“Wow. Banyak sekali buah mangganya Mbak” .

Si Mbak dengan nada kurang ramah
“Ya Bu. Tapi masih pada hijau”

Rupanya si Mbak tahu soal jiwa celamitan saya. Langsung ketus. Padahal saya nggak bilang minta lho.

OMBUDSMAN PENSIUN.

Standard

Pengalaman Hidup : Kisah 10 TAHUN Menjadi Ombudsman Perusahaan.

Kemarin saat membuka laman Facebook. Muncul foto lawas saya bersama beberapa teman team promoters saat istirahat dari sebuah Sales & Marketing meeting session di sebuah hotel di tepi pantai Senggigi, Lombok 10 tahun yang lalu.

Foto itu menunjukkan kegembiraan suasana. Tetapi di balik foto itu, ingatan saya melayang pada sebuah hal penting dalam sejarah hidup saya. Karena pada hari itu, 8 Sept 2012, untuk pertama kalinya saya ditetapkan sebagai OMBUDSMAN alias Ombudsperson perusahaan Wipro Unza Indonesia menggantikan Ombudsman sebelumnya yang pindah tugas ke negara lain. Sebuah role tambahan, di luar tanggung jawab saya sebagai Marketing Director saat itu.

Sejak itu saya menjalankan tugas saya sebagai OMBUDSMAN Perusahaan hingga tanggal 15 Agustus 2022 yang lalu. Saya pensiun alias berhenti sebagai Ombudsman setelah menunaikan masa tugas saya selama 10 tahun.

Sepuluh tahun!!! Cukup lama juga ya. Tak terasa. Tentu banyak sekali yang saya alami selama menjalankan fungsi itu. Menangani berbagai kasus pelanggaran terhadap Code of Business Conduct & Ethics, serta Spirit of Wipro Value, nilai-nilai yang ditanamankan oleh perusahaan dan group. Ngapain aja kerjaannya sebagai Ombudsman? Ya banyak. Mulai dari menerima keluhan maupun laporan pelanggaran, menginvestigasi, menganalisa masalah, pembuktian, membuat kesimpulan, memberi rekomendasi kepada komite untuk pemecahan masalah dan penyelesaiannya yang tepat & adil . Jujurnya, pekerjaan seperti ini sangat mirip dengan kerjaan detektif saat menginvestigasi😀.

Dalam kurun waktu sepuluh tahun, tentu saja jumlah kasus yang saya tangani sangat banyak. Kasus besar, kasus kecil, kasus ringan, sedang hingga pelanggaran berat yang mengakibatkan pemutusan hubungan kerja. Jenis kasusnya juga beragam. Mulai dari kasus pemalsuan bon bensin, kwitansi hotel, pemalsuan data, penggelapan uang, penerimaan hadiah atau kado dari vendors, pelecehan verbal , pelecehan sexual, double job, penyalahgunaan wewenang & jabatan, sikap dan tindakan yang tidak adil /un-fairness, penyogokan, pemerasan, dsb.

Jika saya tengok ke belakang dan napak tilas perjalanan saya sebagai seorang Ombudsman, satu hal ingin saya katakan, saya sangat senang dan bersyukur berada di perusahaan ini, yang memiliki Value alias nilai-nilai baik yang diyakini dan ditanamkan kepada seluruh karyawannya untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai-nilai atau value yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari yang bukan hanya sekedar dicatat dalam buku panduan ataupun plakat yang digantung di dinding.

Dengan guidance yang jelas dan transparant, sosialisasi yang baik tentang mana yang boleh dan tidak boleh, training yang memadai, konsultasi gratis, test & refreshment, membuat kita yang ingin jadi orang baik dalam kehidupan ini, menjadi lebih mudah.

Ibaratnya jika kita ingin tubuh kita bersih, maka jika kita berenang dan mandi di mata air yang bersih dan jernih tentu tujuan kita lebih mudah tercapai, ketimbang jika kita ingin badan kita bersih tapi berenang dan mandi di kolam yang airnya kotor dan keruh.

Berada di lingkungan yang bersih, dimana setiap orang dituntut untuk menerapkan nilai nilai kejujuran /integritas yang tinggi, respek terhadap orang lain/menghormati setiap orang tanpa memandang jabatan, gender, bangsa, agama, suku maupun rasnya, berusaha membantu agar orang lain sukses, tentu jauh lebih mudah. Sangat mudah, karena kita tinggal ikut jalur saja. Dan setiap orang di sekeliling kita itu pun bersih atau setidaknya paham bahwa ia dituntut bersih. Mungkin ada satu dua orang yang tidak bersih, tetapi lingkungan yang waspada tentu akan melaporkan lewat jalur yang disediakan.

Bisa dibayangkan jika kita hidup di lingkungan dimana budaya sogok menyogok , suap menyuap, sikap kasar, merendahkan orang lain, kolusi, nepotisme, korupsi dan berbagai pelanggaran lain dianggap biasa dan normal, walaupun jika kita ingin hidup bersih sendiri dan menolak ikut terlibat dalam kegiatan-kegiatan maksiat itu tentu jauh lebih sulit. Bisa-bisa kita dikata-katain dan dianggap SOK suci, sok bersih, pahlawan kesiangan, dsb.

Dipercaya menjadi seorang Ombudsman, memberi saya banyak pelajaran bagaimana seharusnya saya menempatkan diri saya.

Setidaknya saya harus belajar membuat diri saya terjangkau alias “reachable”. Agar orang-orang mudah menghubungi saya saat mereka butuh, merasa cukup dekat dengan saya sehingga berani curhat, mengeluhkan uneg-uneg dan melaporkan penyimpangan-penyimpangan yang mereka ketahui atau curigai tanpa beban.

Juga memberi saya pelajaran bagaimana agar saya sabar, tabah, teliti, tekun dan hati-hati serta harus melihat segala sesuatu dengan pikiran dan hati yang neutral dan berimbang, agar bisa melihat permasalahan drngan lebih menyeluruh. Ini sangat penting agar berikutnya bisa memberikan rekomendasi keputusan yg tepat dan adil.

Dan juga memberi saya pelajaran agar menjadi orang yang tabah dan berani, tanpa terpengaruh oleh kedudukan atau jabatan orang yang harus saya periksa interview dan interogasi.

Dan pelajaran yang terpenting lagi dalam hidup saya dari menjalankan tigas sebagai Ombudsman ini adalah melakoni apa yang saya katakan. Walk The Talk!

Sekarang saya sudah pensiun dari tugas saya sebagai Ombudsman. Tapi kenangan, pengalaman dan pelajaran yang saya dapatkan tak akan bisa saya lupakan sepanjang hidup saya.

Buku Resep Rahasia Cinta.

Standard
Buku Resep Rahasia Cinta. Ni Made Sri Andani.

Buku 50 CERITA INSPIRATIF dengan judul RESEP RAHASIA CINTA, adalah buku kumpulan tulisan tentang kejadian sehari-hari yang menarik, menginspirasi, atau memberi pelajaran maupun renungan dalam menjalani kehidupan.

Dengan sengaja saya memilih 50 dari sekitar 1150 tulisan tentang kejadian sehari-hari yang saya catat di blog https://nimadesriandani.wordpress.com/ antara tahun 2010 – 2022. Sebagian besar tulisan yang dipilih adalah yang bercerita tentang Cinta dan Kasih Sayang dan selebihnya adalah tentang hal-hal lain yang menginspirasi, baik dan berguna untuk pengembangan diri dan mental kita.

Mengapa tentang Cinta dan Kasih Sayang? Karena cinta dan kasih sayang adalah perasaan mendasar yang ada di hati mahluk hidup, yang memberi rasa suka, senang dan bahagia, walaupun terkadang melibatkan kesedihan dan pengorbanan di sisi lain. Sangat menarik mengamati sekitar kita, bagaimana rasa cinta itu ditunjukkan lewat perhatian dan kepedulian terhadap yang dicintainya dan memetik hal-hal positive dan intisari pelajarannya.

Di buku ini, kita akan menemukan berbagai kisah cinta dan kasih sayang. Mulai dari kisah kasih sayang dan perhatian anak pada ibunya yang sudah tua, kasih sayang ibu pada anak lewat sentuhan dan pijatan, kasih sayang dan perhatian pada saudara kandung, kasih sayang dan perhatian pada diri sendiri, bagaimana menghilangkan rasa cemburu, ekspresi cinta saat hari Valentine yang berbeda bagi setiap orang, kasih sayang pada sesama manusia dan sebagainya.

Kisah tidak terbatas pada kasih sayang sesama manusia, tetapi juga kasih sayang manusia pada hewan peliharaan dan pada mahluk hidup lain. Juga kisah cinta dan kasih sayang diantara binatang itu sendiri yang menginspirasi. Di buku ini misalnya kita bisa menemukan kisah menarik, bahkan seekor kucingpun rela berkorban demi memperjuangkan cintanya.

Selain cerita-cerita tentang Cinta dan Kasih Sayang, saya juga memasukkan tulisan-tulisan lain yang menginspirasi.

Misalnya saat menonton payung parasails di pantai Sanur, yang memberi saya inspirasi bahwa jika ingin pikiran kita berkembang dan maju, maka kita harus terbuka. Misalnya untuk menerima gagasan-gagasan baru ataupun ide-ide orang lain. Jangan kungkung pikiran dalam ego yang sempit dan picik. Saya tuliskan dalam kisah yang berjudul “Payung Yang Terkembang”.

Juga ada inspirasi tentang dunia tanpa sekat tinggi, tanpa batasan kesukuan, agama maupun status sosial. Dimana kita bisa memandang langit yang tunggal dan maha luas, memahami bahwa dunia tidaklah sesempit yang kita kira, namun selebar semesta tanpa batas. Renungan ini saya dapatkan ketika saya berkunjung ke rumah seseorang, dan saya tuliskan dalam kisah “Adalah Langit Yang Maha Luas”.

Masih banyak lagi kisah-kisah menarik lainnya. Semua yang saya tuliskan itu berdasarkan kejadian-kejadian nyata yang saya amati di sekeliling saya. Tentunya sangat menarik dan menginspirasi bagi saya sendiri, sehingga saya tuliskan, agar bisa saya ingat kembali dan ambil pelajarannya.

Semoga sahabat pembaca menemukan kisah-kisah yang saya tuliskan di buku ini juga menarik dan menginspirasi serta bermanfaat.

MEISA RATILAELA, Artis Berbakat Yang Digandrungi Penonton di Film Sedekah Gema Ramadhan.

Standard
MEISA RATILAELA,”Tanpa Netizen, Apalah Artinya Kita”. Artis berbakat yang digandrungi penonton di film Sedekah Gema Ramadhan.

Film Sedekah Gema Ramadhan mendapatkan perhatian yang sangat baik dari netizen. Penonton terkesan dengan cerita dan tokoh-tokoh di dalamnya, terutama tokoh Ibu Lala yang merupakan tokoh utama di film itu.

Banyak penonton yang merasa gemas dan kesal pada tokoh antagonis yang walaupun ramah dan rajin menjadi koordinator mengumpulkan sedekah Ramadhan dari ibu-ibu kompleks perumahan, tetapi ternyata tidak amanah. Tidak jujur dalam menjalankan tugasnya. Ia mengaku bahwa sedekah yang sesungguhnya adalah sumbangan dari ibu-ibu kompleks itu sebagai sumbangan darinya saja.

Nah siapakah pemeran Ibu Lala yang berhasil mengaduk-aduk emosi penonton ini?

MEISA RATILAELA adalah artis yang memerankan tokoh Ibu Lala ini dengan sukses. Ia berhasil menjiwai tokoh yang walaupun menurutnya sifat tokoh Ibu Lala itu sama sekali tidak sesuai dengan sifatnya sendiri sehari-hari.

Saat ditawarin untuk memerankan tokoh antagonis ini, walau sangat bertolak belakang dengan sifatnya sendiri, tetapi Meisa tetap berpikiran positif. Ia menganggapnya sebagai sebuah tantangan. Tantangan yang harus ia hadapi dan taklukkan. Dan ternyata, hasilnya memang berkah.

Meisa yang bawaannya selalu periang, ekspresif dan rame, sehari-hatinya adalah karyawati sebuah kantor kelurahan di Lembang, Bandung, yang juga mengisi waktu senggangnya sebagai crew di Triduta Film.

Selain seorang wanita yang bekerja, Meisa juga seorang Ibu rumah tangga dengan 3 anak. Terbayang bagaimana kesibukannya sebagai wanita dengan multi peran ini.

Ditanya tentang kiprahnya di dunia perfilman, MEISA bertutur jika ia memulai karirnya sebagai Ibu kost yang cerewet dalam sebuah film 13 episode pada tahun 2020.

Setelah pandemi, ia sempat vakum dengan kegiatannya di film. Lalu ia kembali mendapatkan peran saat Ramadhan tahun ini sebagai Ibu Lala dalam film Sedekah Gema Ramadhan.

Jadi praktis sebenarnya ia baru bermain sebagai pemeran utama dalam 2 film dan sisanya hanya peran-peran extras saja. Walau demikian, banyak penonton yang memuji kemampuan aktingnya, dan terlihat jika ia sangat menjiwai karakter tokoh yang diperankannya.

Ditanya tentang kiat suksesnya dalam berperan, Meisa bercerita bahwa biasanya ia baca-baca dulu tentang karakter yang akan diperankannya, lalu jalani dan nikmati saja.

Ada rasa tertantang juga, “Bisa nggak sih memerankan tokoh itu?” Dan rasa penasaran saat menunggu filmnya ditayangkan. Ternyata setelah tayang banyak komentar. Berbagai ragam. Ada yang benci, marah kepada tokoh yang ia perankan, walau kebanyakan mendukung dirinya sebagai pemerannya. Itu melegakan, karena itu berarti bahwa Meisa berhasil memerankan tokoh itu dengan baik. Dukungan dari teman-teman dan keluargapun mengalir.

Saat ditanya tentang pengalamannya selama shooting film Sedekah Gema Ramadhan, Meisa bercerita bahwa shootingnya dilakukan benar-benar saat Ramadhan. Tentunya selain harus menahan lelah dan haus, ia dan crew film yang lain juga berusaha menahan kesal, menahan hawa nafsu, misalnya jika ada teman main yang salah-salah sehingga harus ditake ulang. Ia menyatakan enjoy shooting bersama Triduta. Crewnya solid, tidak membeda-bedakan apakah itu crew, talent, atau management. Semua berbaur.

Menurutnya kisah di Film Sedekah Gema Ramadhan ini memang nyata karena pada kenyataannya di sekeliling kita juga memang ada orang yang seperti itu. Orang seoerti Ibu Lala tang licik dan tidak amanah.

Semoga dengan dibuatnya film ini, akan banyak menginspirasi penonton, agar jangan berbuat seperti itu. Bagi yang saat ini sedang atau pernah berbuat begitu agar sadar. Melakukan intropeksi diri dan tidak lagi nelakukan berikutnya. Dan bagi yang tidak melakukan juga berguna untuk mencegah agar jangan sampai melakukan. Jadi film ini penuh dengan nilai-nilai moral dan nilai pendidikan, agar jangan melakukan hal yang tidak baik.

Hal yang menarik lagi tentang MEISA adalah ia seorang yang sangat optimis dan positive. Menurutnya, agar kita bisa selalu menikmati pekerjaan kita, ia punya kiat tersendiri. “Cintai dulu, sukai dulu, nyamankan diri dulu dengan pekerjaan, pasti akhirnya kita bisa nikmati pekerjaan kita. Enjoy aja“.

Namun demikian, dibalik aktingnya yang banyak nenuai pujian, ia tetap rendah hati dan mengatakan bahwa “Tanpa netizen, apalah artinya kita”

Itulah Meisa Ratilaela, yang penuh semangat, terus berkarya dan berusaha agar hasilnya bagus dan viewernya banyak. Semoga Meisa semakin sukses ke depannya.

Film Inspiratif “LEBARAN DAMAI”

Standard

Satu lagi tulisan saya dengan latar belakang bulan Ramadhan & hari raya Idul Fitri dikembangkan menjadi film dengan judul “Lebaran Damai”.

Kali ini digarap oleh Sutradara Harry Ridho menjadi film 2 atau 3 episode (saya belum tahu – tetapi saya sudah dikirimi episode 1-nya).

Film “LEBARAN DAMAI” ini berkisah tentang Bayu dan Rini, sepasang suami istri dengan satu anak yang sesungguhnya harmonis. Saling menyayang dan mencinta. Sayangnya keharmonisan ini mulai terganggu sejak Bayu di-PHK karena perusahaannya terus merugi sejak pandemi. Ia menganggur dan susah mencari pekerjaan kembali. Ia pun menjadi sangat sensitive, mudah marah dan cepat tersinggung.

Rini berusaha menghibur suaminya dan tetap semangat berjualan sambil mengurus anak mereka. Keluh kesah Rini setiap hari, terkadang membuat Bayu merasa tidak nyaman. Saat Rini mengeluh capek dengan pekerjaannya, harga pada naik dan uang tidak cukup untuk menutup kebutuhan dapur, Bayu sering merasa disindir oleh istrinya itu, karena ia merasa diri sedang menganggur, hanya rebahan, tidak bekerja dan tidak mampu memberi uang kepada istrinya.

Semakin hari Bayu semakin perasa dengan keadaannya. Sementara Rini yang kurang peka akan perasaan suaminya tanpa sadar mengucapkan kalimat-kalimat yang membuat Bayu semakin merasa disudutkan. Puncaknya , mereka bertengkar hebat, yang membuat Bayu keluar dari rumah. Meninggalkan anak dan istrinya. Ia merasa terluka. Merasa tidak berguna dan tidak dihargai.

Rini berusaha mencari tahu keberadaan suaminya. Tapi tidak ketemu. Rini merasa sangat bersalah. Harusnya ia lebih sensitive dan hati-hati berbicara saat suami sedang terpuruk.

Sementara itu Bayu yang meninggalkan rumah, akhirnya memutuskan untuk tidur sementara di sebuah mushola. Disana ia mendapat bantuan dari Marbot dan bertemu dengan Pak Haji yang memberinya pencerahan dan nasihat yang sangat menyejukkan.

Selama Ramadhan, Bayu mendapat pekerjaan, membantu mengurus rumah makannya Pak Haji yang kebetulan pegawai sebelumnya pulang kampung.

Saat bekerja di rumah makan itu, ia mulai menyadari bahwa bekerja berjualan makanan itu memang sangat melelahkan. Ia jadi teringat pada istrinya. Ia rindu pada istri dan anaknya. Merasa bersalah dan ingin kembali pulang. Akankah Lebaran mempersatukan mereka kembali ?

Film ini adalah Episode 1 dari Lebaran Damai, yang menceritakan bagaimana Bayu kena Pemutusan Hubungan Kerja , usahanya mencari pekerjaan baru yang gagal dan perasaannya yang mulai terganggu dan tidak nyaman sejak menjadi pengangguran.

Selamat menyimak. Mohon bantu like, share dan comnent atau subscribe ya. Terimakasih sebelumnya.

Film Inspiratif “Sedekah Gema Ramadhan” Episode 2

Standard
Film Sedekah Gema Ramadhan

Penasaran dengan BU LALA ?

Setelah di Episode sebelumnya diceritakan tentang Bu Lala yang setiap tahun selalu sukses menjadi koordinator & membujuk Ibu-Ibu Blok D agar ikut berpartisipasi dalam acara Derma Ramadhan, serta sukses mendapatkan nama sebagai orang yang paling Dermawan dan yang paling tulus ikhlas  se-kompleks perumahan,  di Episode ke 2 dari Film Web series SEDEKAH GEMA RAMADHAN ini,  diceritakan bahwa bulan Ramadhan datang kembali.

Kembali Bu Lala bersemangat mengajak Ibu-ibu Blok D agar berpartisipasi dalam acara Derma Ramadhan tahun ini.

Andani menerima telpon Bu Lala saat baru pulang kerja. Bu Lala mengajak Andani ikut berpartisipasi tahun ini, karena menurutnya  tahun lalu ia lupa  meminta Andani ikut bersedekah. Hal ini membuat Andani kesal dengan ucapan Bu Lala itu, karena ia selalu ikut bersedekah setiap Ramadhan. Kok dilupa-lupakan oleh Bu Lala? Tetapi kemudian ia sadar jika kita bersedekah dengan tulus, sebenarnya tak terlalu penting nama kita sebagai penyumbang diingat atau tidak, sepanjang apa yang kita sedekahkan diterima oleh orang yang seharusnya menerima.

Lalu Bu Lala memanas-manasi Andani agar menyumbang banyak dengan mengatakan bahwa Ibu-ibu yang lain sudah pada menyumbang minimal 10 paket Sembako. Andani ragu antara tidak ikhlas jika harus menyumbang sebanyak itu  dan perasaan malu serta tidak enak pada Bu Lala jika tidak mau memberi dalam jumlah yang disebut Bu Lala. Akhirnya Andani memutuskan untuk menyumbang seikhlas hatinya saja, karena menurutnya percuma juga menyumbang banyak tapi hati kesal dan tidak ikhlas saat menyumbang.

Esok paginya, Bu Lala mengeluh kepada Andani jika ibu-ibu yang lain tidak ada yang mau menyumbang kolektif lagi tahun ini. Sangat berbeda dengan pernyataan Bu Lala saat ditelpon yang mengatakan  bahwa ibu-ibu lain sudah menyumbang minimal 10 paket.

Sebenarnya ia kasihan juga pada Bu Lala yang sudah berbaik hati menjadi koordinator,  mengumpulkan sedekah, membelanjakan sembako , membungkus dan membagi-baikan serta memanggil orang kampung atas untuk menerima sembako. Tetapi karena Bu Lala kurang terbuka masalah pertanggungjawaban uang Ibu-ibu Blok D serta tidak jujur mengatakan kepada para penerima sembako bahwa sedekah itu adalah dari Ibu-ibu Blok D, maka ibu-ibu yang lain sudah tidak ada yang mau lagi menyalurkan sedekahnya lewat Bu Lala.

Banyak pelajaran dan hikmah  yang  ia dapatkan dari kejadian ini. Bahwa jika kita bersedekah, hendaklah dengan ikhlas.

1. Bersedekahlah semampu dan seikhlas hati kita. Jangan memaksakan diri bersedekah dalam jumlah yang kit atak mampu atau tak ikhlas hanya karena takut, malu, gengsi atau merasa tidak enak. 

2 . Shodaqoh, derma, yadnya, punia atau apapun istilahnya sumbangan itu,  hanya akan berarti jika dijalankan dengan ketulusan dan keikhlasan hati untuk membantu sesama tanpa mengharapkan imbalan apapun.

Bukan agar nantinya kita mendapat berkah atau rejeki yang lebih banyak. Karena jika begitu, itu namanya hitung-hitungan dagang.

Bukan pula untuk mendapatkan nama atau agar disebut sebagai Dermawan.

Karena begitu kita mengharapkan  berkah dari memberi,  maka saat itulah keikhlasan kita hilang.

3. Marilah kita memberi, karena kita ingin memberi. Dan mari kita membantu sesama, karena memang ingin membantu. Tanpa mengharapkan imbalan apa apa.

4. Mendapatkan kepercayaan itu susah. Maka jagalah kepercayaan, saat orang lain menitipkan rejekinya untuk disalurkan lewat tanganmu. Mencederai kepercayaan akan membuatmu dirimu tak dipetcayai seumur hidup.

Film web series Sedekah Gema Ramadhan ini diangkat dari sebuah kisah di buku “100 CERITA INSPIRATIF” Karya Ni Made Sri Andani dengan judul “Sedekah Seorang Ramadhan”.
https://wp.me/p1eHo4-2SC

https://youtu.be/ax5CeG4Wiao

Para Pemain:
Rima Marisa
Meisya Ratilaela
Riva
Dewi Ayu
Irma
Raisa Putri
Ecin
Iis Sumarni
Rossana
Hajah Ros
Chindi Aprianti
Kiki Putri

Executive Producer : A A Anom
Producer : Rudi Rukman
Director : Harry Ridho
DOP : Arif
Editor: Rashid Qawi
Make Up : Mey Mey
Art: Acil
Photographer: Rifky
Caneraman : Sarifudin
Lightingman: Ferdiansyah
Soundman: Rashid Qawi
Technical: H Dadan

Film Sedekah Gema Ramadhan. Episode 1

Standard
Film Sedekah Gema Ramadhan.

Satu lagi tulisan saya di buku “100 CERITA INSPIRATIF” diangkat ke film oleh Pak Rudi Rukman dengan sutradara  Harry Ridho . Karena kebetulan kisah ini memiliki latar belakang bulan Ramadhan, lalu oleh Pak Rudi dirubah judulnya menjadi “SEDEKAH GEMA RAMADHAN”.

Tulisan aslinya sih berjudul “Sedekah Seorang Dermawan” yang memberi banyak renungan, pembelajaran dan inspirasi dalam kita melakukan Sedekah.

Bagaimana sebaiknya jika ada yang mengajak kita untuk ikut bersedekah? Apakah kita harus bersedekah karena nggak enak hati sama orang yang mengajak kita bersedekah? Atau karena ingin mendapatkan pahala? Atau karena kita memang niat hanya bersedekah saja tanpa mengharapkan apa-apa?

Benarkah semakin besar bersedekah semakin besar pula pahalanya? Ataukah sebaiknya kita bersedekah sebanyak yang disedekahkan oleh tetangga kita? Perlukah kita memaksa diri bersedekah banyak demi gengsi dan harga diri?

BHINEKA TUNGGAL IKA.

Standard


Living Free In Harmony.

Kemarin, sehabis olah raga saya berhenti sejenak di pojok halaman di mana bunga-bunga Thunbergia ungu dan Kembang Sepatu jingga berbunga lebat. Diantara bunga-bunga jingga itu saya melihat tersembul sekuntum bunga Kembang Sepatu berwarna merah. Muncul dari batang yang sama.

Sebenarnya ini bukan kejadian yang pertama. Cukup sering terjadi pokok Kembang Sepatu jingga saya ini mengeluarkan bunga merah. Dan walau warnanya sama-sama jingga, cukup sering juga keluar bunga dengan mahkota yang tidak bertumpuk, karena biasanya mahkota bunganya bertumpuk. Dan tumpukannya pun bervariasi dari yang sangat tebal hingga tipis. Berbeda-bedalah, tetapi tetap dari pohon yang sama. Bukan tempelan atau cangkokan.

Senang saya melihatnya. Sedemikuan damai hidup berdampingan.

Memandangi bunga-bunga yang berbeda walau asalnya dari satu pohon ini, saya jadi teringat dengan carut marutnya situasi berkebangsaan kita belakangan ini.

Kita ini satu bangsa. Bangsa Indonesia. Walaupun dari awalnya kita sudah berbeda-beda. Datang dari berbagai macam adat, budaya, bahasa, suku yang mendiami berbagai wilayah nusantara yang terpisah-pisah pulau dan lautan. Namun para pendahulu kita sudah sepakat dan mengambil keputusan dalam sebuah Sumpah Pemuda untuk berbangsa satu, bertanah air satu dan berbahasa satu yakni Indonesia, bahkan jauh-jauh hari sebelum proklamasi Kemerdekaan. Mereka rela berjuang habis-habisan dengan mengorbankan harta benda, nyawa dan bahkan ego kesukuannya masing-masing demi terbentuknya negara Indonesia yang bersatu dan berdaulat.

Dan tentunya sebagai anak bangsa yang baik, sudah sepantasnya kita memperkuat apa yang telah diperjuangkan oleh para leluhur kita itu untuk menjadi sebuah bangsa yang merdeka dan bersatu. Bukannya justru memecah belah persatuan dan memporak-porandakan kerukunan, memperkuat eksklusifitas golongan, menganggap golongan kita lebih baik, lebih benar dan lebih berhak ketimbang orang yang di luar golongan kita.

Belakangan kitapun sangat mudah terprovokasi, tersulut amarah tanpa memahami keseluruhan permasalahan yang ada. Bahkan ada juga yang kelepasan menebarkan ujaran-ujaran kebencian dan melakukan kekerasan yang sangat berbahaya dalam usaha kita memperkuat persatuan bangsa. Dan jika dipelajari lebih jauh banyak terkait dengan urusan politik dan kepentingan golongan.

Yuk teman-teman, lebih baik kita perkuat persatuan dan kebangsaan kita. Kita kembangkan sikap saling menghormati, saling menghargai, saling mendukung dan bertoleransi terhadap sesama anak bangsa  Jangan terprovokasi oleh hal-hal yang menyulut kebencian dan melemahkan persatuan kita sebagai bangsa. Cinta Indonesia ❤❤❤

Bhineka Tunggal Ika.
Bhina ika tunggal ika. Tan hana dharma mangeruwa.

SMALL TARGET, REACHABLE TARGET.

Standard

Memecah Target Besar Yang Sulit Menjadi Target Kecil-Kecil Yang Mungkin Dicapai.

Tak terasa dua bulan sudah berlalu, sejak pertama kali saya memutuskan untuk berolah raga setiap hari, guna memperbaiki kesehatan saya. Saya mulai berolah raga pagi sejak tanggal 11 Februari tahun ini dan hingga hari ini masih terus berolah raga tiap pagi, hanya pernah jeda sekali pada Hari Raya Nyepi.

Buat saya ini adalah pencapaian yang luar biasa, walaupun bagi sebagian orang yang memang disiplin dan rajin berolah raga, tentu ini bukan apa-apa. Karena sebelumnya, ngebayangin target berolah raga tiap hari selama sebulan penuh tanpa jeda hari itu kok rasanya berat banget dan nggak mungkin. Saya sangat yakin itu tidak akan tercapai. Apalagi 2 bulan berturut-turut. Sangat sangat sangat berat dan tidak mungkin tercapai rasanya.

Lalu bagaimana saya bisa melewati semua ini selama dua bulan lebih?

Yang saya lakukan adalah memecah target besar yang rasanya sangat berat dicapai menjadi target kecil-kecil yang mungkin tercapai oleh saya.

  1. Lupakan Target Sebulan. Fokus Pada Target Seminggu.

Saat memikirkan target berolah raga pagi selama sebulan penuh saya yakin tidak akan bisa saya capai. Tapi jika hanya 7 hari berturut-turut, kok rasanya saya masih sanggup ya. Soalnya targetnya nggak lama. Hanya 7 hari.

Lalu saya coba jalani. Olah raga setiap hari. Saat ada halangan datang, seperti rasa malas dan enggan, saya membujuk diri saya sendiri. “Targetmu cuma 7 hari. Nggak banyak. Ayo teruskan. Dikit lagi nyampe!!!”. Eeeh…ternyata bisa lho saya berolah raga selama 7 hari berturut-turut. Saya memuji diri saya sendiri.

Dan karena 7 hari pertana sudah lewat, saya jadi percaya diri, berarti jika saya kasih target 7 hari lagi ke depannya, mungkin saya bisa juga. Akhirnya saya jalani 7 hari berikutnya lagi dari nol. Dan bisa!!. Kasih target 7 hari berikutnya lagi. Dan bisa lagi !!. Begitu seterusnya. Akhirnya berolah raga setiap hari selama sebulan tercapai. Dan sekarang dua bulan tercapai.

Ternyata dengan memecah target besar menjadi kecil-kecil membuat kita menjadi lebih percaya diri dan yakin bisa mencapainya.

Ketimbang memikirkan target besar sebulan, lebih baik kita fokus pada target mingguan dan terus fokus setiap minggu. Ujung-ujungnya tercapai juga target sebulan yang terasa besar itu.

  1. Berolah raga tidak lama – lama.

Saya tidak menargetkan diri saya harus berjam-jam berolah raga. Cukup antara 45-60 menit tergantung dari jam bangun dan ada jadwal meeting pagi di kantor atau tidak. Bagi saya 45 menit itu sudah cukup berkeringat banyak dan membuat tubuh saya terasa segar.

  1. Berolah raga seimbang
    Dalam berolah raga saya juga tidak ngoyo ngikutin satu jenis saja. Saya coba campur-campur saja sesuai dengan kenyamanan hati saya.

Yang penting saya ada melakukan sedikit pemanasan (ini saya belajar setelah saat di awal kaki saya sempat keseleo, karena saya langsung berlari tanpa pemanasan), sedikit olah raga ringan, berat dan kardio. Kadang senam, lari kecil, jalan kaki, main bola basket, dsb. Saya tidak memaksa diri untuk melakukan olah raga yang kurang saya sukai.

Semua upaya itu, membuat olah raga menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi diri saya.

Semoga ke depannya, saya masih bisa terus konsisten berolah raga.