Category Archives: Inspiration

Garden Art – Koleksi Kebun Dapur Hidup Saya.

Standard

Koleksi Dapur Hidupku.

Berkebun sayuran 🌱🌱🌱menjadi kegiatan favorit saya setahun dua tahun ini. Ya..  membuat Dapur Hidup! Saking senangnya, saya sampai jarang punya waktu untuk melakukan kegiatan favorit lain di luar jam kantor seperti menulis, menggambar, jahit menjahit ataupun mencoba coba resep cemilan untuk anak-anak. Blog sayapun mulai setengah terlantar. Ya..okelah. setiap orang memang cuma diberi jatah waktu 24 jam, nggak kurang dan nggak lebih. Jadi memang harus memilih, bagaimana caranya menghabiskan waktu yang 24 jam itu dengan cara terbaik menurut kita masing-masing. 

Tapi beberapa hari belakangan ini, tiba-tiba saya mendapat ide untuk membuat kumpulan sketsa hitam putih tanaman sayuran  yang ada atau pernah saya tanam di kebun Dapur Hidup saya. Selain menyenangkan hati, juga untuk mengingatkan saya kelak,  eeh…sayuran ini pernah saya tanam lho di kebun saya. Ada di album “My Garden Collection”. Siapa tahu kehabisan ide untuk menanam apa lagi. Karena lahan pekarangan rumah saya sempit, tanaman sayuran itu kebanyakan memang saya tanam silih berganti. 

Alasan lain adalah, saya lihat kebanyakan orang membuat lukisan , gambar ataupun sketsa bunga atau tanaman hias. Lebih jarang orang membuat gsmbar atau sketsa sayuran. Jadi saya pilih untuk menggambar isi kebun sayuran🌱🌱🌱 saja lah kalau begitu. Biar beda 😃😃😃.

Untuk koleksi Dapur Hidup ini, saya memilih menggambar dengan pensil di atas kertas gambar warna putih. Hitam putih saja. Kelihatannya lebih menarik dan klasik. Nah.. ini adalah 6 gambar pertama yang saya buat untuk koleksi Dapur Hidup saya. 

1/. Artemisinin

Artemisinin, alias Kenikir obat  adalah tanaman Dapur Hidup yang sekaligus Apotik Hidup. Karena daun tanaman ini basa digunakan orang untuk pecel, tetapi juga memiliki benefit pengobatan.  Daunnya sangat indah dan keriwil. Sangat menarik untuk digambar. Ukurannya yang kecil memberi tantangan tersendiri saat menggambar, tetapi saya mengakalinya dengan membuatnya menjadi lebih besar.
2/. Sawi Pagoda alias Tatsoi.

Tatsoi adalah ratunya Dapur Hidup di halaman rumah saya. Tampilannya yang cantik dan anggun selalu mendapat komentar dari teman teman yang melihat fotonya ataupun melihat langsung saat berkunjung ke rumah saya “waah.. kalau cantik begini sayang dimasaknya. Jadikan pajangan saja” begitu rata rata komentar teman. Jadi layak banget diabadikan dengan pensil ya. Challengenya adalah bagaimana caranya menggambar  tumpukan daun daunnya yang melingkar membentuk pagoda itu dengan rapi dan tidak tumpang tindih dengan amburadul satu sama lain. 

3/. Sawi Putih alias Pitchay

Pitchay atau Pitsai atau Sawi Putih, tananan sawi jenis lain yang juga sering saya tanam di halaman. Tanaman ini daunnya mengenbang seperti rosette pada awalnya, kemudian menekuk ke dalam dan memadat di tengah pada akhirnya. Terlihat gendut dan lucu. Menarik juga untuk digambar. Challengenya adalah, bagaimana membuat daun-daunnya kelihatan menggelung ke dalam dan terlihat padat.  Yang saya gambar ini adalah tanaman yang masih muda  yang berada di stage baru mulai menggelung daun -daun tengahnya. 

4/. Pare.

Pare adalah tanaman yang dari sononya sudah artistik. Batangnya merambat dengan daun keriting dan sulur sulur yang banyak membuatnya terlihat sangat cantik tanpa diapa-apain. Challengenya seupa dengan menggambar Artemisinin. Bagaimana caranya menggambar bagian kecil kecil kemriwil itu dengan tetap halus. 

5/. Rosemary.

Sekalian keblenger dengan menggambae element tanaman yang kecil kecil, sekalianlah saya menggambar Rosemary. Daunnya kecil kecil banget. Aah…perbesar saja dikit.  Rosemary adalah tanaman bumbu yang baru saya pelihara kurang dari setahun.  Saya sangat suka dengan wangi daunnya. Enak untuk ditabur di atas kentang goreng. 

6/. Sawi Sendok alias Pakchoy

Tanaman ini juga sangat menarik karena pangkal tangkai daunnya yang cekung dan gendut mirip sendok bebek. Juga merupakan tanaman yang paling sering saya tanam di halaman. Karena enak 😃. Challengenya adalah bagaimana membuat pangkal tangkai daunnya ini benar benar terlihat cekung di dalam dan cembung keluar. 

Tapi apapun challenge-nya, menggambar sayuran selalu menarik dan menyenangkan. 

Selamat Jalan & Terimakasih Ibu Guruku Tersayang. 

Standard

Kemarin saya mendapatkan kabar duka berpulangnya Ibu Anak Agung Ayu Anom Alit, ibu guru saya waktu Taman Kanak-Kanak. Dumogi Amor ring Acintya. Om Swargantu, Moksantu, Suryantu. Semoga atmannya menyatu kembali dengan Brahman. 

Berita itu saya terima lewat Whatsapp ketika saya sedang rapat di kantor. Tak mampu menyimpan rasa duka, sayapun berbisik kepada teman di sebelah saya tentang kedukaan hati saya. “Ooh guru waktu TK. Masih ingat, Bu?”komentar teman saya. Ya. Guru TK saya. Tentu saja saya masih ingat dan sangat berterimakasih atas jasa beliau dalam mendidik saya. 

Ibu Anom adalah Kepala Taman Kanak-Kanak Bhayangkari Bangli pada masa saya kecil. Bersama dengan Ibu Raden Roro Sri Imari (Bu Erna) dan Bu Pember, Bu Anom adalah guru pertama yang mendidik saya setelah ke dua orang tua saya. Kebetulan sekali ke tiga ibu guru kami ini adalah ibunda dari sahabat-sahabat baik saya. Bu Anom adalah ibunda dari Gung Swasta Wibawa, Bu Erna adalah ibunda dari Erna dan Bu Pember adalah ibunda dari Putu Purwanthi. Oleh karenanya, kedekatanpun kian terasa. 

Ketika pertama kali saya mengenal sosok “Guru” dalam hidup saya,  maka Bu Anom Alit inilah yang saya tahu dan sebut namanya pertama, beserta Bu Erna dan Bu Pember. Beliau memberikan dasar-dasar kepercayaan diri, tata krama, kedisiplinan, dasar-dasar pemahaman garis, bidang dan ruang serta mendorong saya untuk membuka serta mengasah bakat dan kemampuan saya. 

Tentu saja banyak kenangan yang tertinggal di hati saya tentang ibu guru kami ini. Kenangan yang indah tentunya. 

Dahulu, ada sebatang pohon Wani (Kemang) di depan halaman sekolah. Disanalah detiap pagi kami menunggu kedatangan Ibu guru. Jika sudah ada yang terlihat kami langsung mengelu-elukan dengan nyanyian:

Ibune sampun rawuhibune sampun rawuuuhibune sampun rawuuuh…” berulang -ulang dengan riang gembira.  Bu Anom akan mengembangkan senyumnya dan melambaikan tangannya pada kami. 

Setelah itu Bu Anom, Bu Erna dan Bu Pember akan meminta kami semua berbaris, siap grak, lencang kanan, lencang kiri dan berhitung sebelum masuk ke dalam kelas. Semuanya harus rapi dan semuanya harus disiplin. 

Belajar disiplin nggak selesai sampai di situ. Setelah masuk kami harus duduk dengan tertib di bangku masing-masing. Dan itupun ada ceremoninya. Sayang saya lupa lagunya. Tapi intinya dimulai dengan sikap duduk yang baik, dengan kedua tangan disilangkan di depan dada (sidakep). Dua tangan atas, lalu dibentangkan ke samping lalu silang. Barulah pelajaran di mulai. Mengenal garis lurus garis lengkung, bernyanyi, berdoa, menari dan sebagainya. 

Atas dorongan Bu Anom juga saya berani tampil untuk pertamakalinya di atas panggung dalam lomba menyanyi tunggal di Balai Masyarakat Bangli (sekarang bangunannya sudah tidak ada lagi dan berganti menjadi pasar senggol). Dan pertamakalinya juga saya tahu rasanya berkompetisi dan menang mendapatkan juara pertama dengan hadiah boneka ikan berwarna hijau yang sangat besar untuk ukuran tubuh saya saat itu. Saya masih memainkan boneka itu hingga sekitar kelas 4 SD. Dan saya tetap mengenang peristiwa itu di dalam hati saya. Beliau telah membangun kepercayaan diri saya. 

Guru TK adalah guru yang meletakkan pondasi pengetahuan pada setiap anak untuk dibangun berikutnya oleh guru guru sekolah lanjutan dan dosen beserta dengan orang tua dan masyarakat dengan melibatkan si anak itu sendiri.

Dan pastinya itulah yang telah dilakukan oleh Bu Anom Alit terhadap diri saya dan teman teman sehingga sekarang kami bisa mandiri dalam menjalani kehidupan. 

Selamat jalan Bu. Saya sangat berterimakasih. Berharap Ibu masih nendengarkan ucapan terimakasih saya dari atas sana. Kenangan tentang ibu akan selalu hidup di hati saya. 

Benih Sayuran & Produsennya – Bagian I

Standard

Salah satu pertanyaan yang paling sering disampaikan oleh pembaca blog ke email saya adalah “Bagaimana caranya mendapatkan benih sayuran yang bagus Bu? “. Atau “Di mana ibu membeli benih sayuran?”. Ya jawaban saya biasanya adalah membeli dari toko Trubus, toko Ace Hardware dekat rumah saya atau beli online. Tapi malam ini saya lagi bongkar-bongkar box bibit, saya tertarik untuk mengelompokkan brand-brand dan produsen benih sayuran yang pernah saya beli. 

1. CAP PANAH MERAH.

Benih Sayuran Cap Panah Merah. 

Kelihatannya ini adalah merk bibit sayuran yang paling banyak saya beli. Setidaknya ada 15 sisa benih dan kemasan merk yang diproduksi oleh PT East West Seed Indonesia di Purwakarta  ini. Diantaranya yang pernah saya tanam adalah Pare Hijau, Terong Ungu Hybrida, Timun Putih, Bayam Hijau, Kembang Kol, Melon, Kangkung, Wortel, Tomat, Sawi Putih, Selada Hijau, Pakchoy Hijau, dan sisanya benih bunga / tanamam hias. 

Saya cukup happy menggunakan merk ini selama dua tahun terakhir. Daya tumbuhnya rata rata sangat bagus antara 85-95%. Keterangan pada kemasannya juga cukup jelas. Merk ini bisa saya dapatkan dari Toko Trubus atau Ace Hardware.

Belakangan ini Panah Merah memberi fokus pada kegiatan berkebun di perkotaan /urban farming dan keluar dengan kemasan Jumbo Pack untuk yang ingin menanam dalam jumlah besar dan Starter Pack untuk pemula. Harga per packnya cukup terjangkau walaupun jika dibandingkan dengan merk lokal lain terasa sedikit lebih mahal. Mungkin karena diproduksi di tanah air dengan menargetkan ke petani perkotaan. Sayurannya juga tentu sayuran lokal. 

Ada headline pada kemasannya yang saya suka banget bunyinya “Every one/where, can be a farmer”.  Ya..tentu saja. Asal mau. 

2. MR.FOTHERGILLS.

Benih Sayuran Mr. Fothergill’s

Merk ini menyediakan benih sayuran ‘londo’ karena memang benih import. Diproduksi oleh Mr. Fothergill’s Seds Kentford, Newmarket, UK. Sisa benih/kemasan yang ada di saya itu antara lain Sweet Pepper/Papprika, Cabbage/Kol, Leek/Daun Bawang, Pak Choi Red, Wortel, Chives dan Sweet  Pepper Mini. 

Saya suka dengan merk ini karena menyediakan benih sayuran yang jarang ada di Indonesia.  Terutama dulu saat saya masih rajin menanam bunga bungaan. Nge-fans banget deh. Menurut saya, merk ini yang memberi penjelasan tata cara menanam yang sangat detail. Mungkin keterangan sedetail itu memang diperlukan untuk negara yang memiliki 4 musim. Kadang untuk negara kita yang cuma mengenal musim hujan dan kemarau, keterangan detail itu menjadi agak kurang relevant. 

Walaupun menurut saya ini adalah merk benih yang paling keren, tapi juga memiliki kelemahan. Yaitu daya tumbuhnya tidak sebagus merk lokal -barangkali karena perbedaan cuaca dan temperatur (kecuali Chives-daya tumbuhnya cukup bagus).  Dan tentunya … harganya sangat mahal. Menguras kantong. 

Sama dengan Cap Panah Merah, merk Mr Fothergill’s juga bisa kita dapatkan di toko Trubus dan Ace Hardware.

3. DIOBA SEED

Benih Sayuran Dioba Seed.

Merk ini saya dapatkan dari Toko Trubus. Diproduksi lokal oleh Pt.Griya Tanindo Jaya yang belakangan menjadi PT Dioba Griya Huma Tani untuk PT Trubus Mitra Swadaya.

Benih yang pernah saya beli/ tanam adalah Pakcoy Hijau, Terong Hijau Bulat, Seledri dan Selada Daun. Daya tumbuhnya cukup baik sekitar 80-90%. Penjelasan pada kemasan tentang cara tanamnya sangat kurang. Belakangan saya tak pernah membeli merk ini lagi karena rasanya memang sudah tidak kelihatan lagi. Lot terakhir yang saya miliki yang expiry datenya tahun 2015 -2016. Tetapi saat itu saya cukup happy dengan merk ini. 

4. JAWARA.

Benih Sayuran Jawara.

Ini adalah merk yang paling sering saya pakai setelah Panah Merah. Diproduksi lokal oleh CV ENNO & CO SEED di Jember.Merk ini dangat cocok untuk petani lokal.Untuk skala pertanian yang cukup besar untuk industri.  Karena selalu memberikan quantity yang banyak dengan harga yang bagus dan quality juga baik. 
Daya tumbuhnya selama ini cukup bagus sekitar 85% kecuali jika sudah lama tersimpan. Dari merk ini saya pernah menanam Pare Hijau, Kemangi, Kangkung, Caisim Manis, Tomat, Bayam Merah, Bayam Hijau, Cabe Rawit Putih. Kelihatannya memang fokus pada sayuran yang umum diperdagangkan di pasar lokal. 

Sekian dulu cerita saya tentang benih sayuran kali ini. Nanti akan saya lanjutkan lagi dengan cerita Bagian II.

Cara Menikmati Tomat Ala Jaman Dulu.

Standard

Cara menikmati tomat ala jadul.

Masih seputaran panen tomat dan bagaimana cara memanfaatkannya. Saya jadi ingat pada masa kecil saya di kampung. Saya ceritain sedikit di sini ya…
Desa Songan, kampung saya adalah salah satu desa penghasil sayuran yang memasok kebutuhan di pasar-pasar di Bangli dan juga kabupaten lain di Bali. Salah satu hasil panen  yang selalu membanggakan adalah tomat. Ya… tomat yang besar buahnya bisa seukuran telapak tangan orang dewasa. Oleh karenanya, setiap kali musim panen ibu saya juga selalu kebagian banyak tomat yang dikirimkan oleh paman, bibi  dan keluarga kami yang lain. 

Selain untuk dimasak dan membuat sambal, salah satu cara favorit pada jaman dulu untuk menikmati tomat adalah dengan membuatnya menjadi minuman tomat. Sejenis  Juice tomat yang dibuat dan dihancurkan secara manual dengan sendok . Hasilnya tentu tidak sehalus Juice tomat jaman sekarang karena tidak menggunakan mesin juicer ataupun blender. 

Tapi walaupun tidak halus seperti juice tomat, sensasi meminum/memakannya sungguh berbeda. Rasa tomatnya masih kuat  dan lebih enak dibanding juice tomat biasa, karena di dasar gelas kita masih bisa menikmati sisa sisa buah tomat segar yang kurang hancur. Nah… asyiiiknya tuh justru di bagian di sini.

Jaman sekarang kita sudah sangat jarang membuat juice tomat dengan cara seperti ini. Jadinya kangen untyk membuatnya kembali seperti jaman dulu.

Ada yang tertarik untuk mencobanya nggak?. Cara membuatnya sangat gampang:

1. Cuci buah tomat hingga bersih.

2. Bagi yang suka buah tomat yang hancur lebih halus, sebaiknya kulit ari buah tomat dikupas dulu agar lebih mudah dan cepat saat kita menumbuk-numbuknya dengan sendok.

3. Potong-potong buah tomat. Masukkan ke dalam gelas. 

4. Tambahkan gula pasir secukupnya (bagi yang suka manis).

5. Hancurkan buah tomat di dalam gelas dengan sendok atau garpu. 

6. Seduh dengan air panas atau air minum biasa. Aduk aduk sampai hancur.

Jadi deh….

*bagi yang suka minuman dingin, busa disimpan dulu beberapa saat di lemari es sebelum diminum.

Dapur Hidup: Air Pandan Arum Membuat Keringat Pun Ikut Wangi. 

Standard

Pandan Arum aluas Pandan Wangi.

Kalau lagi di rumah, kerjaan saya memeriksa tanaman dan melakukan sesuatu di kebun. Entah penanaman, pemupukan, penyiangan dan sebagainya. Selalu ada yang perlu dilakukan. 

Nah…kali ini saya memilih untuk memisahkan anakan pohon Pandan Arum (Pandanus Amaryllifolius).
Menanamnya dalam polybag siapa tahu ada teman yang ingin minta bibitnya. 

Tanaman ini sudah cukup lama saya miliki dan sering saya ambil daunnya entah untuk memberi rasa dan wangi pada kolak atau bubur kacang hijau. Saya menyukai wanginya. 

Air Daun Pandan

Sambil memindahkan tanaman, saya  melihat beberapa daun yang sudah cukup tua. Sangat layak untuk diambil. Jadi teringat, bahkan jika hanya direbus di air minum pun daun pandan arum memberikan aroma yang enak pada air minum. Dan jika sering meminumnya keringat kita pun lama-lama menjadi ikut wangi. Coba deh!

Tomat Beefsteak: Dari Halaman Ke Atas Meja Makan. 

Standard

“Manen tomat banyak-banyak buat apa sih?” Seorang teman bertanya.Ya… buat dipakai di dapur lah ya.Buat dimakan. Bisa buat sambel. Buat Jus tomat. Buat sayur. Bisa juga buat salad. 

Tomat Beefsteak

Tanaman tomat saya kali ini memang berbuah cukup banyak. 

Tomat Beefsteak

Kebetulan banyak yang matang saat bersamaan. Kalau saya biarkan di pohonnya khawatir nantinya saya lupa metik dan malah busuk sendiri. Jadi selagi ingat, saya petiklah tomat-tomat itu. 

Tomat Beefsteak

Sebenarnya apapun jenis sayuran yang kita panen dari halaman, selalu bermanfaat buat di dapur. Itulah sebabnya mengapa disebut Dapur Hidup.Bagaimana kita memanfaatkannya, sangat banyak pilihannya. Bisa dimasak khusus, bisa juga dicampur bahan lain. 

Salad

Malam ini saya memanfaatkan sayuran dari halaman dicampur dengan bahan-bahan lain yang saya beli dari tukang sayur untuk makan malam. 

Broccoli Tomato Shrimp.

Dapur Hidup: Tiga Jenis Tomat Yang Saya Tanam Di Halaman.

Standard

Salah satu tanaman Dapur Hidup yang sangat penting bagi saya adalah tomat. Karena tomat digunakan setiap hari dan pada banyak jenis masakan yang terhidang di meja makan saya. Dan terutamanya..sambal tomat. Setiap orang di keluarga saya menyukai sambal tomat. 

Ini adalah beberapa jenis tomat yang pernah /sedang saya tanam sebagai koleksi Dapur Hidup di halaman rumah saya.

1.Tomat Cherry Kampung.


Tomat Cherry Kampung

Tomat ini ukurannya sangat kecil-kecil. Kira-kira seukuran kelereng. Rasanya agak asam segar. Tetap sangat menarik untuk dimakan mentah ataupun dibuat sambal. Saya senang mencampurkannya dengan salad. 

Tomat Cherry Kampung

Mengapa namanya saya kasih embel-embel “kampung”?. Karena tomat ini banyak saya temukan di kampung saya di Bali dengan nama Tomat Gerongseng atau “Gereng-Gereng”. Dan karena kampung saya adalah penghasil tomat berkwalitas super dengan ukuran super besar,  tomat ini sering dipandang sebelah mata dan tidak dimanfaatkan. Dibiarkan saja liar dipinggiran tegalan tanpa ada yang peduli. 
Untuk tanaman yang di halaman ini pun saya mendapatkan bibitnya pertama kali dari kampung di Sukabumi.

Jadi baik dari segi ukuran, rasa dan bentuknya memang berbeda dengan tomat cherry yang sering kita beli dari Supermarket yang mana umumnya bijinya import. 

2. Tomat Mutiara

Tomat Mutiara

Tomat Mutiara adalah tomat berukuran sedang dengan bentuk bulat mulus berkilau bak mutiara. Nggak heran diberi nama Tomat Mutiara.

Tomat Mutiara

Benih tomat ini saya dapatkan dari toko Trubus.Dan ini adalah jenis tomat yang benihnya paling banyak saya lihat dijual. Juga paling banyak dijual di tukang sayur.
Rasanya lebih manis dibanding tomat cherry kampung. 

3. Tomat Beefsteak

Tomat Beefsteak.

Ini adalah tomat ukuran sedang yang belakangan ini paling sering saya upload di sosial media, baik di Facebook maupun di Instagram. 
Alasannya karena bentuk tomat ini mengingatkan saya akan jenis tomat jaman dulu yang ada di tanah air sebelum jenis tomat yang halus mulus seperti mutiara datang dan membuat tomat jadul itu kehilangan perhatian dan akhirnya lenyap dari pasar. Bentuknya berlobus lobus. Rasanya menurut saya malah lebih manis. 

Tomat Beefsteak hasil panen dari halaman.

Saya mendapatkan benihnya secara online. Menanamnya di dalam pot. Dan lumayan juga hasilnya. 
#tomat

Memanfaatkan Kulit Roti Tawar.

Standard

​Jika kita membeli roti tawar, biasanya kita punya pilihan: roti tawar biasa atau roti tawar kupas. Yang kupas, maksudnya tentu adalah roti tawar yang kulit luarnya yg berwarna coklat itu sudah dikupaskan dari pabriknya. Mengapa dikupas? Karena beberapa konsumen mungkin tidak menyukai bagian luar roti ini. Biasanya agak lebih keras dibanding isinya. Selain itu jika diolah untuk hidangan lain warnanya jadi belang-belang karena isi roti yang putih sementara kulitnta coklat. Dan juga agak kaku, misalnya jika kita gunakan untuk menggulung keju. 

Jadi beberapa orang memang suka memilih roti kupas ketimbang roti biasa. 

Tetapi karena sudah dikupasin oleh pabriknya, konsumen biasanya harus membayar upah ‘ngupasin’itu. Sehingga selisih harga roti biasa dengan  roti kupas di level konsumen bisa menjadi sekitar Rp 2 000. Misalnya nih… di tukang roti langganan yang lewat setiap hari di depan rumah say, harga roti tawar biasa adalah Rp 12.000. Kalau roti kupas dari merk yang sama, saya beli dengan harga Rp 14.000. 

Halah!.Duit dua ribu rupiah aja kok dipersoalkan!.Mungkin sebagian orang ada yang akan berkata seperti itu. Tapi buat sebagian ibu rumah tangga itu tentu bermasalah. Dua ribu rupiah juga itu duit ya…ha ha. Apalagi buat emak-emak yang terpaksa harus beli roti setiap hari. Rp 2 000 x 30 hari kan lumayan tuh Rp 60  000 selisih harga yang harus dibayar per bulannya  he he he…. Jadi jangan beli roti tawar kupas!. *ternyata diamdiam saya menyimpan bakat jadi provokator juga ini  hua ha ha….. Sikap negative itu ya?.Nggak boleh!. Karena itu salah satu yang tergolong ke dalam menebar kebencian pada …..roti tawar kupas he he..

Nah jadi sikap positivenya gimana dong? Ya… itu soal pilihan kita sih. Roti tawar kupas juga sering kita butuhkan di saat saat tertentu. Terutama jika kita terburu buru dan tak punya waktu, roti tawar kupas tentu sangat bermanfaat.

Tapi saya mau balik ke roti tawar biasa aja dulu ya. Saya sering membeli roti tawar ini. Jika punya waktu, biasanya saya kupas sendiri kulit rotinya. Tapi kulit rotinya tidak saya buang. Saya manfaatkan juga. Untuk apa?. 

Kulit roti ini bisa kita panggang dan keringkan lalu gunakan untuk campuran krim sup ataupun salad. 

​Caranya kulit roti dipotong kecil-kecil. 

​Lalu dipanggang selama 20 menit dengan temperatur 180 derajat C sampai potongan kulit roti benar-benar kering dan garing. 

​Angkat potongan roti kering.

​Masukkan roti kering ke dalam mangkuk, lalu timpa dengan sup krim jamur atau sup krim ayam yang sudah matang. 

​Sup krim jadi semakin enak. 

​Atau bisa juga sedikit roti kering ditambahkan ke dalam sayuran salad sebelum diguyur dengan dressing di atasnya. Salad semakin mantap nih. 

Jadi intinya, jika kita membeli roti tawar biasa yang non kupas, kupaslah sendiri di dapur dan  jangan buang kulit rotinya. Selain lebih murah, bisa juga dimanfaatkan untuk makanan lain. 

Spirit of Wipro Run 2016: Jakarta

Standard

​Musim berlari telah tiba. Musim bagi karyawan Wipro dan keluarga atau teman-temannya untuk ikut dalam event tahunan  Spirit of Wipro Run 2016  yang diadakan pada tanggal 25 September ini serentak di berbagai kota di seluruh dunia antara lain Bangalore, Ottawa, Bucharest, Istambul, Dubai, Pittsburgh, Adelaide, Singapore, Kuala lumpur dan sebagainya. Sementara di Indonesia sendiri Wipro Run diadakan di Jakarta dan Salatiga. Rasanya takjub juga nemikirkan itu. Bayangkan, ada sedemikian banyak orang berlari (karyawan Wipro plus keluarga dan teman-temannya), di sejumlah kota (saya hitung ada 110 kota) seperti yang diprint di bagian punggung  kaos di bawah ini, semuanya berlari  tanpa memandang suku bangsanya, agamanya, gendernya, pangkat dan jabatannya. Semuanya berlari bersama-sama pada tanggal yang sama. As one!.

​​Di Jakarta, acara Wipro Run diadakan di Taman Mini Indonesia Indah dengan mengambil anjungan Taman Budaya Tionghoa sebagai pangkalan berangkat dan garis finish. Lumayan 5 km. 

​Acara berlari dimulai dari pukul 7.00 pagi dibuka oleh Mr. Neeraj Khatri, President Director dari PT Unza Vitalis -salah satu perusahaan dari group Wipro yang ada di Indonesia. Saya tidak mendapatkan jumlah pasti pesertanya, tepi saya duga di Jakarta diikuti oleh sekitar 700 orang, dan di Salatiga sekitar 750 orang. 

​Di Jakarta, lari dilakukan dengan jarak 5 km. Ditempuh  dengan melalui 3 check point. Di setiap check point disediakan minuman dan gelang Wipro Run 2016 berbeda warna. Jadi agar bisa sah berlari kita harus melewati ke tiga check point itu dan mengumpulkan ketiga gelang dari setiap  Check point yang berbeda. 

​Sebagai salah seorang Wiproite (karyawan dari group perusahaan Wipro) bangga dong ya saya bisa ikut menjadi pesertanya dan berhasil mencapai garis finish * walaupun barangkali tiba dengan nomer terakhir.. ha ha. 

Tak apa… Dengan keterbatasan kondisi kaki yang saya miliki (bekas keseleo beberapa tahun lalu yang kambuh lagi dan kambuh lagi), memang awalnya membuat saya ragu untuk ikut. Tapi mengingat bahwa moment ini hanya datang setahun sekali maka saya putuskan untuk mencoba dulu lah. Saya pikir seandainya ada hal buruk terjadi pada kaki saya, nanti saya akan berhenti. Anak saya yang besar agak kurang setuju dengan apa yang saya rencanakan dengan menganggap saya agak ambisius menempuh jarak 5km dengan kondisi kaki seperti ini. Saya hanya tersenyum dan menunjuk tajuk dari Wipro Run tahun ini yang tertera di kaosnya “Powered by ambition”. Anak saya tertawa. Dia sudah hapal betul dengan kekerasan kepala ibunya. Ia pun seperti biasa akhirnya  menemani saya juga. Sementara anak saya yang kecil sudah melesat  lari di depan bersama papanya. Anak saya yang besar berlari (eh…kebanyakan berjalannya deh..) di sebelah saya sambil sesekali bertanya. “Mom, are you ok?”. Atau.. “Ayo Mam, istirahat sebentar. Don‘t push yourself!”. Saya pun mengikuti kata katanya. Jika terasa lelah dan kaki saya sakit, maka saya berhenti sejenak. Sambil melihat-lihat ke sekitar. Inilah untungnya mengadakan acara ini di Taman Mini Indonesia Indah. Sambil berlari atau berjalan, kita bisa melihat bagian depan anjungan-anjungan daerah di Indonesia. Mulai dari anjungan yang paling dekat dari garis start yaitu anjungan Bali, Jawa Timur, Yogyakarta, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Sumatera Selatan, Jambi dan seterusnya anjungan-anjungan daerah lain seluruh Nusantara. Sungguh indah dan mengagumkan melihat arsitek dan lambang-lambang budayanya yang beraneka ragam itu. Rasanya ingin masuk ke setiap anjungan itu lagi (terakhir saya masuk ke semua anjungan-anjungan itu sekitar 33 tahun yang lalu. Setelah itu saya hanya pernah beberapa kali masuk ke anjungan Bali saja -karena kebetulan ada perlu. Dan satu dua dari anjungan daerah lain yang ada). Alangkah kayanya Indonesia. 

​Juga ada berbagai macam tempat ibadah dari agama-agama yang diakui di Indonesia. “Bhineka Tunggal Ika, tan hana Dharma Mangeruwa”. 

Check point demi check point saya lalui. Tentu dengan kelelahan dan kehausan.  Serta rasa panas dan sakit yang terasa neningkat di dekat pergelangan kaki kiri. 4 km lagi jarak yang harus saya tempuh. Kemudian 3 km lagi. Dua kilo meter lagi. Semakin dekat. 

​Seorang petugas  yang rupanya melihat saya sangat kelelahan, menawarkan apakah saya masih sanggup berjalan melalui jalur yang seharusnya atau menyerah. Karena di sana ada jalan pintas menuju Taman Budaya Tionghoa.

Saya pikir tinggal 1.5 km lagi. Saya tidak mau menyerah di titik ini. Tanggung!. Walau kaki semakin sakit, tapi saya harus makin semangat. Akhirnya tibalah saya di check point 3. Menerima gelang merah. Dan setelah itu….tiba di titik 1 km lagi.

Bukti saya melewati check point 3 dan 1 km to go.

​Selfie dulu ah… Siapa tahu ada yang mempertanyakan. Benarkah saya bisa sampai di titik ini..ha ha.  

Saya berjalan pelan-pelan. Kali ini kaki saya rasanya sudah mau copot. Tak terperikan sakitnya di bagian yang pernah keseleo dulu itu. Anak saya sangat mengkhawatirkan saya, tapi ia terus mendukung saya. Ia tertawa bagaimana saya berkeras dengan ambisi saya agar bisa mencapai garis finish di jalur yang benar dan tanpa bantuan. 

Anak saya yang besar yang selalu mendukung dan nendampingi saya “berlari”.Big thanks, son!.

​Beberapa saat kemudian sayapun mencapai garis FINISH. Horee!. 

Setiba di sana. Rupanya pengumuman pemenang sudah mulai dibacakan. Pemenang untuk karyawan wanita, karyawan pria, peserta non karyawan pria, non karyawan wanita dan peserta anak-anak pria dan wanita. Ketahuan kan…betapa terlambatnya saya tiba di garis finish? 

Ya. Yang jelas dan pasti, tidak mungkinlah saya yang menjadi juaranya. Pasti para pelari-pekari sejati itu yang akan naik ke panggung, menerima medali, penghargaan dan hadiah. 

Tapi saya pikir saya juga telah memenangkan pertarungan dalam diri saya sendiri. Saya telah menang bertarung dengan rasa malas dan rasa mengasihani diri sendiri dengan alasan kaki sakit akibat bekas keseleo. Saya telah berjuang melawan rasa enggan itu. Rasa menyerah sebelum bertarung. Dan saya berhasil membuktikan, rasa sakit yang terjadi itu sebenarnya tidak sebesar apa yang saya bayangkan sebelumnya.  Saya berhasil menembus batasan yang ada di kepala saya. The excellence emerges when you exceed your limit

Nah..itulah yang membuat Wipro Run ini berbeda dengan tahun yang sebelum-sebelumnya. Selain itu, kali ini Spirit of Wipro Run juga ikut berpartisipasi mendukung Sahabat Anak dengan mengajak karyawan dan keluarganya menyumbang (uang, buku bekas atau mainan anak) agar bisa membantu anak-anak jalanan yang putus sekolah. 

Senang sekali kali ini. Saya mencari tempat duduk untuk berteduh. Dan lamat-lamat saya memandang ke depan…eh… ada anak saya yang kecil sedang berdiri di antara 5 orang pemenang yang di atas panggung itu.  

Anak saya yang kecil. Lumayan menerima hadiah sebagai pemenang Wipro Run. Walaupun nomer 5.

​Rupanya ia menang dalam berlari, walaupun  nomer 5. Lumayanlah. Bangga dong ibunya. 

You’ve Broken My Heart…

Standard

​​​Orang bilang ada dua sisi dari cinta. Sisi yang membahagiakan dan sisi yang menyakitkan. Keduanya, mau tidak mau pasti akan kita alami ibarat dalam satu paket. Mengapa? Karena pada prinsipnya setiap individu dan juga hubungannya dengan individu lain selalu memiliki kelebihan dan kekurangan.Dan ketika itu melibatkan cinta, tentunya kelebihan dan kekurangan inilah yang menjadi penyebab dari timbulnya rasa sakit dan bahagia itu. 

Menyukai kelebihannya secara umum adalah perkara yang mudah. Dan juga menyenangkan. Tetapi saat harus menerima kekurangannya, biasanya hati kita mulai goyah. Dan mulai bertanya, “Apakah aku masih mencintainya?”. Lalu kita pun menjawab sendiri: “Masih!”. 

Ah!. Masak sih? Yakin?. Yakinkah kamu bahwa masih mencintainya dengan segenap perasaanmu? Setelah apa yang ia lakukan telah menghancurkan hatimu?. Remuk redam?. Entahlah. Hanya waktu yang tahu akan jawabannya…

Ini cerita tentang cintaku pada kucing. Tiga ekor kucing di rumah saya. Sungguh mati saya cinta pada kucing, dan kecintaan ini menurun ke anak-anak saya. Suami saya, yang awalnya pembenci kucing akhirnya luluh hatinya dan terpaksa menerina kenyataan jika kami harus tinggal bersama dengan beberapa ekor kucing liar yang diadopsi oleh anak saya. Eh…lama-lama dia juga ikut-ikutan sayang dan peduli pada kucing. Mungkin itulah yang disebut oleh orang Jawa sebagai “Witing tresno jalaran soko kulino”. 
Kucing-kucing itu sangat baik.Lucu dan menggemaskan. Juga sangat manja. Suka duduk di pangkuan. Kalau pagi suka memberikan salam dengan mengusap-usapkan pipinya ke kaki saya.  Tidak heran saya semakin sayang padanya. 

Tapi belakangan mereka melakukan beberapa perbuatan yang mengganggu. 

​​Ia menabrak pot bibit sayuran saya hingga terguling-guling hancur. ​Terseret hingga lebih dari 3 meter. Tentu saja tanahnya berserakan kemana-mana dan bibit sayuran itu sebagian besar rusak seketika. Aduuh…. hati saya berdarah-darah. 

Berikutnya ia meloncat dan menimpa box  tanaman bayam merah yang baru berumur satu hari. Pecahlah styrofoam penyangganya. Beberapa tanaman yang masih kecil itupun jadi nyemplung ke dalam air. Sangat mengenaskan.

Lalu ia bermain-main, kejar-kejaran dengan saudaranya. Dan ujung-ujungnya menginjak dan menghancurkan styrofoam box hidroponik tanaman kangkung saya. 

​Dan setelahnya ia masih  menghancurkan 6 buah lagi styrofoam  penutup boxes hidroponik saya yang berisi tanaman. 

You’ve broken my heart…

​Tapi bagaimana caranya mau marah?. Jika beberapa menit kemudian ia tidur terlelap sambil meringkuk memeluki ekornya seperti ini di dalam bak yang akan saya gunakan untuk hidroponik. 

​Aduuh kasihannya. Lelap seperti bayi kecil yang tak berdosa. Saya melihatnya dengan iba. Nafasnya mendengkur halus. Dadanya naik turun. Mahluk tak berdaya.Sayapun cuma bisa mengelus-elus kepalanya dengan sepenuh kasih sayang yang ada di hati saya.

Seketika rasa sedih akan hancurnya tanaman sayapun hilang menguap ke udara . “Ya sudahlah…” gumam saya dalam hati. 

Dimanakah batas antara benci dan cinta? 

Itulah yang ingin saya katakan. Bahwa cinta itu adalah satu paket kebahagiaan dan kenyataan pahit yang harus kita terima dengan ikhlas.  Ketika kita mencintai dengan tulus,  maka sebenarnya pada saat yang bersamaan kita telah berdamai dengan diri kita sendiri untuk menyukai kelebihannya,  sekaligus menerima dan memaafkan kekurangannya serta mengikhlaskan segala derita, rasa pedih dan kerugian yang kita alami akibat perbuatannya itu.