Category Archives: Inspiration

VASUDHAIVA KUTUMBAKAM.

Standard

Seekor Capung datang ke halaman. Terbangnya sempoyongan mencari tempat istirahat. Mungkin ia terlalu lelah dan mengantuk. Hinggaplah ia di daun pohon pinus yang tinggi dan segera memejamkan matanya.

Sesaat kemudian angin bertiup kencang dan ranting serta daun pinus itu bergoyang hebat. Si Capung terbangun dengan kepala pusing “Hush!. Pergilahlah. Tempat ini terlalu tinggi untukmu” Usir si Pohon pinus.

Dengan sempoyongan Si Capung mencari tempat istirahat yang lebih rendah. Kali ini ia hinggap di bawah daun rumput teki. Begitu hinggap, daun yang lemah itu pun melengkung dan patah. Si Rumput Teki pun menangis “Tubuhmu terlalu berat bagi daunku untuk menyanggamu”.

Si Capungpun pergi dengan merasa bersalah. Terbangnya makin zig zag dan sempoyongan. Sungguh tak mampu lagi ia menahan kantuknya.


Melihat itu, Si Pohon Cabe memanggil “Wahai saudaraku, hinggaplah di rantingku. Beristirahatlah dengan baik”. Si Capungpun segera hinggap dan menggelayutkan tangannya di ranting pohon Cabe dan tidur dengan lelap. Si Pohon Cabe mengawasi dan menjaganya dengan penuh perhatian.


Setelah beristirahat dengan cukup, Si Capung pun bangun. Ia melihat ke sekeliling. Dan baru menyadari jika ia hinggap di ranting mati sebuah pohon Cabe yang sedang sekarat hampir mati karena kekeringan. Kemarau panjang membuatnya kekurangan air. Sebagian dari ranting pohon cabe itu sudah kering dan mati, termasuk ranting yang dihinggapinya.

Lalu bertanyalah ia kepada Pohon Cabe.
“Wahai pohon Cabe, mengapa engkau menawarkan bantuan untukku padahal dirimu sendiri sedang sekarat?”.


Pohon Cabe menjawab, ” Betul aku sedang sekarat, tetapi rantingku yg matipun masih cukup kuat menjadi tempatmu bergantung saat kelelahan. Dan memberikanmu ijin bergantung di rantingku tidak membuatku semakin sekarat. Karena engkau tidak mengambil apapun dari diriku”.


Si Capung merasa takjub dan sangat kagum akan kemurahan hati si Pohon Cabe.

Lalu ia bertanya lagi, “Tapi aku bukan siapa siapamu. Bukan sanak, bukan pula saudaramu. Bagaimana engkau mau begitu saja memberi pertolongan pada mahluk asing yang tidak engkau kenal sebelumnya?”.


“Secara fisik aku memang bukan siapa siapamu. Tetapi semua mahluk yang lahir, hidup dan mati di bumi yang sama ini adalah bersaudara. Kita makan dari tanah yang sama, kita minum dari air yang sama, kita bernafas dari udara yang sama, kita beraktifitas di bawah sinar matahari yang sama. Vasudhaiva Kutumbakam. Semua mahluk adalah bersaudara. Marilah saling menolong. Saling membantu dan saling mendoakan” kata Pohon Cabe. Si Capungpun berterimakasih lalu pamit terbang membubung ke udara.

Saya mengenang kalimat itu. VASUDHAIVA KUTUMBAKAM.
Lalu mengambil bekas air minum saya yang belum habis, dan menyiramkannya ke pohon Cabe.


Pohon Cabe ini telah memberi saya banyak buah dan pelajaran. Saya berterimakasih padanya.

TAT TWAM ASI.

Standard

Seekor ngengat hinggap di tangkai bunga rumput. Bunga yang terdiri atas kelopak, mahkota dan benang sari yang kuning indah serta tangkai yang kuat.

Ia mengambil unsur kehidupan dari dalam tanah dan menyerapnya serta memprosesnya dalam tubuhnya. Dan setiap unsur ini terdiri atas atom yang super kecil , dan setiap atompun masih terdiri dari proton, elektron dan neutron, dan merekapun masih dipecah lagi menjadi partikel quark yg jika dilihat lebih jauh terdiri hanya atas energi yang bergetar terus menerus.

Si Ngengat berpikir, lalu apa bedanya dengan aku? Tubuhkupun terdiri atas sel yang tersusun dari unsur yang sama, atom yang sama, elektron, proton dan neutron yang sama, quark yang sama dan juga getaran energy yang sama.


“Tidak ada bedanya aku dengan dirimu wahai rumput yang berbunga”. Lalu dipeluklah tangkai bunga itu oleh Si Ngengat. Jika engkau bahagia, akupun ikut bahagia. Jika engkau sedih, akupun ikut sedih. Demikian juga jika engkau sehat dan sakit. Aku merasakan yang sama. Begitulah Si Ngengat merasa terhubung dengan Si Rumput.


Saya yang memandangi Si Ngengat dan Rerumputan, ikut merasa terhubung. Terhubung dengan segala mahluk yang hidup di padang rumput itu. Dengan burung burung, pepohonan, dan dengan orang orang yang berlalu lalang. Terhubung dengan seluruh isi kota ini, seluruh penghuni bumi dan alam semesta ini.

Apa bedanya diriku dengan dirimu?. Tidak ada.


Tat Twam Asi.
Aku adalah kamu. 🙏🙏🙏

Kwalitas Karbitan.

Standard

Saya membeli 2 sisir pisang Raja Sereh di pasar. Tampak sudah kuning. Harganya 15 ribu per sisir. Lebih murah dari biasanya. Karena situasi sedang wabah virus Corona, sayapun cepat cepat membayar tanpa menawar lagi dan langsung pergi.

Sampai di rumah, saya makan pisang itu. Ternyata isi pisang sangat kecil dan kurus. Rasanya agak sepet. Ooh.. sekarang saya sadar kemungkinan ini adalah pisang matang karbitan. Pisang yang masih muda, kecil dan hijau, sudah dipetik lalu diperam dengan menggunakan karbit (Calcium Carbida – CaC2) agar cepat matang.

Buah yang dikarbit, kehilangan kesempatan untuk tumbuh dengan optimal. Begitu dipotong, ukurannya tidak bertambah lagi. Ia tetap kecil. Rasanya masih bisa sedikit bertambah manis, namun sisa sisa rasa sepat terkadang belum hilang semua.

Beda dengan buah yang asli mateng bukan karbitan. Pisang ini akan tumbuh denganukuran dan rasa manis yang optimal. Namun sayang, matangnya biasanya tidak bersamaan. Tapi bertahap.

Sebaiknya jika membeli pisang, perhatikan keseluruhan pisang-pisang yang dipajang. Jika pisang dari satu tandan memiliki warna buah yang beragam, bagian atas kuning dan bagian bawah masih ijo, kemungkinan besar pisang itu matang alami.

Tapi jika keseluruhan buah di tandan itu kuning semua, ada dua kemungkinan. 1/.Buah memang matang alami, jika ukuran buahnya normal, seukuran dengan jenisnya. Misalnya jika pisang Raja Sereh, normal ukurannya memang besar. Tapi jika itu pisang Mas, ukurannya kecil.

2/. Bisa juga karena karbitan. Jika semua kuning tapi kecil kecil dibanding jenisnya, sudah tentu itu matang karbitan. Rasa manisnya juga tidak optimal.

Demikianlah adanya pisang kwalitas karbitan. Tampangnya matang tapi ukuran dan rasanya tidak optimal.

Dan kwalitas karbitan ini sesungguhnya tidak terjadi hanya pada pisang, tetapi juga pada jenis buah- buahan lainnya, termasuk kwalitas manusia. Tentu ada juga manusia yang memiliki kwalitas matang alami dan ada juga yang memiliki kwalitas karbitan. Jabatan tinggi, tetapi kwalitas pemikiran kurang strategis dan mengeksekusi pun kurang proffesional.

Mari berenung diri dan seemoga kita tidak termasuk dalam sumber daya manusia yang berkwalitas karbitan.

Jerit Hati Seorang Ibu.

Standard
Induk bebek

Saya mendengarkan sebuah video pengumuman dari Menteri Luar negeri kita tentang kebijakan menutup lalu lintas masuk ke negara Indonesia. Saya mendengarkan dengan seksama ketika ibu mentri menyarankan warga yang sedang berada di luar agar segera pulang sebelum transportasi semakin memburuk. Tak terasa air mata saya menetes ke pipi.

Saya teringat akan anak saya yang sedang menempuh pendidikan di Ankara. Kampusnya sendiri sebenarnya sudah libur untuk 3 minggu lamanya. Dan Universitas juga sudah membatasi lalu lintas yang masuk ke kampus. Ia sendiri sudah melakukan self quarantine sejak itu. Sebenarnya sudah cukup baik usaha yang dilakukan.

Tetapi ketika saya melihat data lonjakan penderita Covid-19 di Turki secara tiba-tiba, hati saya mulai ketar ketir.

Jauh di dalam hati saya menginginkan anak saya pulang. Saya ingin ia ada di rumah dan berada dalam pantauan saya. Tetapi saya pikir-pikir lagi, jika saya minta dia pulang, mungkin resikonya malah lebih besar. Karena sekarang ia harus keluar dari karantinanya sendiri, berjalan menuju bandara yang mungkin berkontak dengan banyak orang, lalu duduk bersebelahan dengan entah siapa di pesawat, lalu harus transit lagi di bandara International lainnya. Aduuuh… panjang dan malah mungkin saja anak saya mendapat penularan dalam perjalanannya.

Akhirnya setelah diskusi, kami sepakat lebih baik ia jangan pulang dulu. Tetap di dormitorinya saja dulu hingga wabah berlalu. Saya berusaha tegar dengan kenyataan ini, walau hati saya menjerit. Ingin menangis rasanya. Yang bisa saya lakukan hanya memantau saja dan meminta agar ia disiplin mengupdate keadaannya. Saya menguatkan hati saya, ia pasti bisan dan terhibdar dari virus itu.

Hari ini, ketika saya membuka Face Book, seorang sahabat saya menulis status di timelinenya, tentang dirinya yang sedang bekerja dari rumah (sahabat saya ini adalah seorang dosen Fak. Kedokteran), tetapi kedua orang anaknya yang dokter tetap harus bekerja melayani para pasien Corona.

Walaupun tidak ada keluhan yang explisit dari statusnya itu, tetapi saya menangkap nada trenyuh dalam kalimat kalimatnya itu. Kepedihan, kekhawatiran yang dalam, walaupun bercampur kebanggaan karena anaknya mengabdi dan mempertaruhkan nyawanya untuk masyarakat. Sebuah kepahlawanan. Tetapi auranya tetap terlihat murung.

Saya membayangkan jika saya yang berada di posisinya. Mengikhlaskan anak kita berada di garda depan dalam oerang melawan Corona ini, di mana nyawa taruhannya. Air mata saya menetes memikirkan kedua anak teman saya itu. Saya mengenal mereka sejak masih kecil, hingga keduanya kini sudah menjadi dokter.

Para pelaku medis dan para medis adalah mereka yang berada di garda depan. Mereka yang berjuang dan bekerja keras untuk kesembuhan masyarakat dari Corona. Saya pikir, cobaan yang dihadapi teman saya ini lebih berat dari cobaan yang saya hadapi. Jadi harusnya saya tak perlu secengeng itu.

Ini saatnya kita bersama-sama memberantas Corona. Cengeng tidak memecahkan masalah. Dibutuhkan keberanian, ketegaran dan keikhlasan. Oleh karenanya mari kita lakukan apapun yang terbaik yang bisa kita lakukan untuk memberantas penyakit virus ini. Di manapun posisi kita. Jika posisi kita sebagai masyarakat awam, berdiam dirilah di rumah, jauhilah tempat kerumunan. Jika posisi kita sebagai karyawan perusahaan yang memproduksi masker atau hand sanitiser., dimana bekerja dari rumah tidak memungkinkan, ya ikutilah peraturan perusahaan bekerja dengan ikhlas, tetapi berusaha terus menjaga diri. Jika kita berada di garda depan misalnya sebagai tenaga medis, sabar dan ikhlaslah – saat ini bangsa kita membutuhkanmu.

Sayapun teringat kepada kakak saya yang setiap hari bergelut dengan pasien gigi. Bermain dengan gusi dan gigi dan pastinya bersentuhan dengan air liur pasien. Siapa yang bisa menjamin bahwa diantara pasiennya itu sehat semua dan tidak ada yang terpapar virus Corona. Berdegup jantung saya. Betapa rawannya posisinya saat ini. Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa selalu melindunginya.

Semoga wabah virus Corona ini segera berlalu. Dan saya berdoa untuk kesehatan dan keselamatan para team medis yang sedang berjuang di garda depan.

Kisah Dua Box Buah Plum Yang Asam.

Standard

Saya penggemar buah plum. Sayangnya buah ini masih mahal di Indo. Saya coba menanamnya di Jakarta, sudah beberapa tahun tapi belum berbuah.

Minggu lalu tiba tiba saya menemukan buah ini sangat murah dijual di sebuah mini market. Rp 10 000 per box, yang isinya 5 – 6 buah. Waduuuh… kaget dan senang saya. Biasanya harganya bisa mencapai Rp 60 000 an per kilonya (isi sekitar 8 buah).

Jadi beli 2 box saja.

Sampai di rumah, saya coba. Waduuuh ..uasyeeeem bingits. Beneran. Asem banget. Saya sampai nggak sanggup lagi memakannya. Pantas harganya murah. Tapi terus gimanain ini sekarang ?.

Dimakan nggak bisa menikmati, kalau dibuang sayang. Akhirnya saya memutuskan untuk mengolahnya menjadi selai dan juice.

Selai

Ini mudah dibuat. Caranya:

1/. Pertama kupas dulu buah plum lalu potong kecil kecil.

2/. Rebus potongan buah plum bersama gula hingga lembek.

3/. Tambahkan kayu manis bubuk untuk mendapatkan aroma selai yang wangi. Aduk aduk hingga matang dan airnya nyusut.

4/. Tambahkan sedikit tepung maizena untuk meningkatkan kekentalan.

Nah… jadilah selai buah plum.

Tinggal dimasukkan ke dalam stoples dan disimpan untuk diambil sedikit demi sedikit buat teman makan roti.

Selai buah Plum juga enak dipakai sebagai isian Lumpia buah. Caranya juga mudah, yaitu ambil selembar kulit lumpia.

Isi dengan Selai Plum, lipat sedikit ujungnya. Lalu gulung perlahan. Rekatkan ujung lipatan kulit lumpia dengan putih telur. Lakukan hal yang sama untuk kulit lumpia berikutnya hingga habis.

Kita bisa menyimpannya di kulkas untuk digireng kapan dibutuhkan.

Sungguh lumpia yang sangat enak.

Jus.

Sisa buah plum akhirnya saya bikin juice saja.

Ditambahkan dengan sedikit gula, lumayan meredam kekecutan rasanya. Enak dan segar juga rasanya.

Sangat lega rasanya, uang yang terpakai untuk membeli buah plum yang ternyata sangat kecut akhirnya terbayar dengan selai dan juice yang enak.

Sekarang saya mengerti. Sekecut apapun rejeki dan nasib yang menghampiri kita, jika kita sabar dan telaten mengolahnya pastinya akan berbuah manis.

Libur Corona!.Tolong Diam Di Rumah Oyy!!!. Jangan Jalan-Jalan.

Standard
Sumber gambar, screenshot dr tayangan Indosiar

Saya mendapatkan Surat Pengumuman dari Sekolah anak saya bahwa Sekolah akan meliburkan murid-muridnya selama 2 minggu untuk mengantisipasi penularan virus Corona di Sekolah. Saya merasa sangat bersyukur, karena akhirnya Sekolah mengambil keputusan yang tepat di situasi darurat ini. Jadi anak saya akan tinggal di rumah dan tetap menerima pelajaran secara online.

Tak lama kemudian, saya juga mendapat informasi edaran tentang perusahaan- perusahaan yang memberlakukan system kerja dari rumah (Work From Home/WFH) untuk mengurangi kemungkinan penularan virus. Kantor saya sendiri tidak atau belum memberlakukan aturan itu.

Selain itu, pemerintah DKI juga memutuskan untuk menutup tempat tempat wisata di wilayah DKI Jakarta, seperti Ancol, Ragunan, TMII dan sebagainya. Ini untuk mencegah resiko penularan Corona. Kalau ini saya senang akan keputusan yang diambil Pak Anies, baik untuk meliburkan Sekolah dan menutup tempat keramaian.

Semua itu sangat jelas tujuannya. Untuk membuat agar masyarakat tetap “stay” di rumah dan tidak pergi pergi ke luar rumah. Karena jika kita semua berdiam diri di rumah, maka kontak fisik dengan orang ataupun benda benda yang terkontaminasi virus Corona bisa dikurangi.

Tetapi sungguh miris ketika melihat berita di TV. Begitu diberikan libur ternyata banyak orang Jakarta bukannya melakukan isolasi diri, tapi justru pergi liburan ke Puncak. Astaga !!!. Saya lihat di foto, memang macet banget kelihatannya.

Ya, memang hak setiap orang sih untuk memutuskan pergi atau tinggal di rumah selama liburan. Tetapi ya sebaiknya kita memahami apa tujuan pemerintah untuk memberikan kita/anak kita libur. Dan sebaiknya mengikuti himbauan pemerintah untuk berdiam diri di rumah, jika memang sudah diberikan ijin tidak ke kantor atau ke sekolah.

Penurunan kasus Corona dan pencegahan penularannya adalah tanggung jawab kita semua. Bukan semata tanggung jawab pemerintah.

Dibutuhkan kedisiplinan untuk merawat diri, membersihkan diri dan menjaga diri. Merawat diri dengan cara membersihkan tangan setiap saat, mencuci dengan sabun ataupun handwash atau dengan handsanitizer, setidaknya membantu mengurangi resiko penularan.

Jaga diri dengan meningkatkan stamina tubuh, bisa dengan bantuan Vitamin B ataupun Vitamin C.

Juga kita perlu menjaga diri kita dengan mengurangi bepergian ke tempat keramaian maupun ke tempat wisata. Cukup dengan berdiam diri di rumah, kita sudah membantu diri kita dan diri orang lain agar tidak tertular.

Kita harus bersatu, bersama-sama berperang terhadap Virus Corona. Karena wabah ini tidak akan betakhir jika hanya segelintir orang yang berusaha, sementara yang lain cuek dan tidak peduli. Yuk kita bersama-sama menerangi Virus Corona.

Salam bersatu kita teguh!!!.

Corona Virus Dan Kita.

Standard

Per tanggal 8 Maret kemarin pemerintah mengumumkan dengan resmi sudah ada 6 kasus positive Corona Virus di Indonesia.

Walaupun sebagian ada yang tenang-tenang saja, tetapi sebagian besar merasa was was hingga merasa harus selalu menggunakan masker kemana mana, selalu waspada jika harus bersalaman dengan orang lain dan menghindari tempat-tempat keramaian.

Lebih parah lagi adalah mereka yang tiba tiba panik memborong Mie Instant dan beras dari Supermarket begitu mendengar pengumuman pemerintah tentang kasus Corona pertama di Indonesia. Mereka khawatir kehabisan bahan pangan jika diborong orang lain yang juga panik. Padahal yang memborong adalah mereka sendiri, sehingga orang lain tidak kebagian 😀😀😀.

Jika saya baca, angka mortalitas virus yang biasa disebut COVID -19 ini sesungguhnya tidaklah terlalu tinggi. Pada tanggal 3 Maret 2020, WHO mengatakan hanya 3.4%. Angka ini jauh dibawah angka mortalitas wabah wabah virus yang mendunia sebelumnya. SARS & MERS contohnya memiliki angka mortalitas antara 10%-35%. Sedangkan virus Ebola memiliki angka mortalitas yang jauh lebih tinggi lagi yakni 25% – 90% tergantung outbreaknya.

Poin saya di sini adalah ketakutan dan kepanikan kita ini sesungguhnya jauh di atas yang seharusnya.

Namun demikian memang tidak ada salahnya untuk tetap waspada dan menjaga diri dengan baik. Mengingat bahwa tingkat penyebaran virus ini sangat cepat dan luas. Terutama bagi mereka yang dalam kegiatannya sehari-hari berhubungan dengan orang asing terutama yang berasal dari negara-negara dengan tingkat jangkitan COVID -19 yang tinggi.

Beberapa hal yang bisa kita lakukan antara lain :

1/. Pertama, ya jangan panik. Borong sembako bukanlah pilihan yang tepat. Karena selain membuat orang lain yang membutuhkan jadi nggak kebagian, juga membuat harga sembako jadi meningkat nggak perlu.

2/. Usahakan mengurangi kebiasaan menyentuh hidung, mulut dan mengusap mata. Daerah wajah, terutama saluran pernafasan adalah pintu masuk virus ke dalam tubuh kita.

3/. Sering sering cuci tangan dengan Sabun Pencuci Tangan ataupun dengan Hand Sanitizer. Karena pada dasarnya Virus akan rusak oleh bahan pelarut lemak seperti misalnya sabun, alkohol dan sebagainya.

4/. Minimalisir kontak langsung dengan teman dari negara yang berkasus Corona. Jika ada meeting atau pertemuan lain dengan teman dari negara lain yang positif sebaiknya diundur jika memungkinkan. Saya juga melakukan hal ini.

Jika pertemuan tidak bisa dibatalkan, mungkin ada hal lsin yang bisa dihindarkan. Seperti pelukan, cipika-cipiki dan ada baiknya juga tidak bersalaman. Mengisolasi diri bukan berarti diskriminasi. Menghindari salaman juga bukan berarti kita sombong dan meningikan diri.

Salah seorang kenalan saya yang datang dari Amerika bulan lalu, juga tidak menyalami saya seperti biasanya. Hanya mencakupkan tangannya dan mengucapkan “Namaste”. Tidak apa apa. Saya tidak tersinggung, justru senang dengan caranya untuk berusaha ikut menghindarkan kita semua dari kemungkinan tertular virus.

Di Bali pun biasanya kami tidak bersalaman jika bertemu orang lain. Cukup mencakupksn kedua tangan di dada dan mengucapkan salam ” Om Swastiastu”. Nah salam jenis begini memang ada baiknya juga dalam mengurangi potensi tertular virus.

5/. Minimalisir atau tunda perjalanan ke/melalui negara yang memiliki kasus Corona tinggi.

Nah… bagaimana jika kita kepalang kontak dengan teman dari negara yang kasus Corona nya tinggi sementara kita tidak tahu teman kita itu terjangkit atau tidak?.

Seorang teman saya mengalami kejadian itu. Ia menerima seorang tamu kantor dari negara yang punya kasus positive Corona, ia sempat duduk bersamanya dalam sebuah meeting dan kemudian ia juga pergi bersamanya untuk melihat lihat pasar di Jakarta. Apa yang teman saya lakukan untuk memastikan bahwa ia tidak tertular virus Corona?.

Baik teman saya dan tamunya itu sepakat untuk saling mengabari apakah masing-masing ada mengalami gejala-gejala umum Corona, seperti demam, batuk dan rasa sesak . Mereka terus saling berkabar dan tidak berhenti sebelum masa inkubasi Covid -19 itu terlewati.

Saya tertawa mendengar cerita teman saya itu. Tetapi dalam hati saya membenarkan apa yang ia lakukan itu.

Begitulah serba-serbi virus Corona. Semoga kita semua terhindar dari serangannya.

Salam sehat untuk kita semua.

Kencing Kucing.

Standard

Saya dalam perjalanan pulang ke Jakarta dari Bandung. Rencananya naik CT Trans turun di Bintaro. Sungguh beruntung, seorang keponakan yang berdomisili di Bandung mau mengantar dan menemani menunggu keberangkatan.

Ternyata saya tiba di pangkalan Travel Agent lebih cepat dari yang saya jadwalkan. Untuk mengisi waktu, maka kami memutuskan untuk makan malam terlebih dulu di sebuah warung makanan Sunda tak jauh dari situ. Pengunjungnya agak rame. Saya meletakkan tas pakaian dan laptop saya di belakang samping. Masih terjangkau pandangan keponakan saya.

Setelah orderan datang, kami ngobrol ngalor ngidul tentang keadaan kami masing masing, tentang keluarga, tentang pekerjaan dan sebagainya. Usai makan kamipun balik.

Saya menenteng tas laptop sementara keponakan saya menenteng tas pakaian saya dan oleh oleh Bandung yang ia belikan untuk anak saya.

Seusai makan, kami kembali ke pangkalan mobil travel. Mencari bangku yang kosong dan duduk. Sepintas saya mencium sesuatu. Tetapi hilang kembali. Tiba tiba keponakan saya berkata ” Tante, kok bau kencing kucing ya?” Tanyanya sambil mengendus endus udara di sekitarnya.

Saya setuju. Memang bau kencing kucing. Tapi dari mana asalnya ya? Kayanya di sekitar bangku yang kami duduki. Waduh…. kayaknya ada kucing yang sempat kencing di sekitar bangku ini. Tanpa pikir panjang, saya mengajak keponakan saya pindah tempat saja.

Tengak tengok kiri kanan. Tidak ada bangku yang kosong untuk dua orang. Karenanya terpaksa kami bertahan duduk di bangku itu. Tak apalah. Lagipula bau kencing kucing itu sekarang sudah hilang.

Tak berapa lama, tiba tiba bau kencing kucing itu muncul lagi. Saya dan keponakan sibuk kembali mengendus endus. Penasaran dari mana sumber bau itu.

Tanteeeee!!!!. Ternyata tas ini yang bau”. Kata keponakan saya sambil menunjuk Tas pakaian saya yang dipangkunya. Astagaa!!!. Kok bisa bau kencing kucing???.

Oooh rupanya keponakan saya memang sempat melihat ada kucing di sekitar tempat saya meletakkan tas tadi di restaurant saat makan malam. Tapi tak menyangka jika kucing itu kencing di situ. Seketika saya pun mencium tas laptop saya, mengingat tadi saya taruh bertumpuk dengan tas pakaian.

Benar saja. Ternyata tas laptop sayapun berbau kencing kucing dan masih terasa sedikit basah.

Walau agak kesal, saya jadi tertawa geli, mengingat tadi saya mengajak keponakan saya untuk pindah duduk ke tempat lain karena menyangka bau kencing kucing itu berasal dari bangku yang kami duduki. Sekarang baru tahu bahwa bau kencing kucing itu ternyata dari tas yang kami gendong gendong.

Jika seandainya tadi kami pindah duduk, bau kencing kucing itu bukannya hilang, tapi malah akan mengikuti. Haha..jadi pindah duduk tidak memecahkan masalah. Harusnya tadi saya mencari tahu persis sumber dari bau itu terlebih dahulu.

Jadi pelajaran yang saya petik dari kejadian ini adalah bahwa jika kita mengalami masalah, hendaknya selalu periksa dulu kesalahan diri kita sendiri, sebelum memeriksa kesalahan orang lain.