Category Archives: Inspiration

Upacara Pernikahan Adat India di Sikh Temple.

Standard
Upacara Pernikahan Adat India di Sikh Temple.

Ini adalah saat yang ditunggu -tunggu. Pernikahan sahabat saya Karanjit Singh dengan Shela. Mengambil tempat di sebuah Sikh Temple yang berlokasi di kota kecil Pathankot, tidak jauh dari Amritsar di wilayah Punjab. Pasti pada penasaran dong ya, seperti apa upacara pernikahan adat India di Sikh Temple?.

Bentuk bangunan Temple ini sekilas tampak serupa dengan bangunan masjid. Terutama karena kubah dan lengkung pintu masuknya. Tak heran karena kota Pathankot ini tidak jauh letaknya dengan perbatasan Pakistan, negara yang kebetulan memang kebanyakan penduduknya memeluk agama Islam. Padahal jika kita dalami lebih jauh ternyata arsitektur seperti ini bukanlah berkaitan dengan agana tertentu, tetapi lebih berkaitan dengan wilayah tertentu.

Walaupun tampak kecil dari luar, tetapi di dalamnya ternyata cukup lebar juga.

Saya masuk ke Temple ini sebelum pengantin datang. Mencuci tangan, melepas sepatu dan memastikan kepala dan rambut saya tertutup dengan baik. Tentunya untuk menghargai umat Sikh yang bersembahyang di tempat itu. Pasalnya semua Sikh Temple menetapkan peraturan bagi setiap orang yang memasuki wilayah Temple diwajibkan untuk menutup kepala dan rambutnya, terlepas dari apakah ia pria ataupun wanita. Pokoknya sama sama harus menutup kepalanya.

Saya memasuki ruang utama Temple itu dan mengikuti tata cara yang seharusnya. Memberi penghormatan dengan mencakupkan ke dua belah tangan, lalu sujud dan mengakhirinya dengan nencakupkan kedua belah tangan lagi.

Sayapun menepi dan mengambil posisi duduk di sayap sebelah kanan bersama para wanita dari keluarga Karan. Sementara rombongan pria duduk berkumpul di sayap bangunan sebelah kiri.

Dua pemain musik tradisional tabla masuk. Mereka mengambil posisi di depan saya. Merapikan duduknya dan mulai bernyanyi dengan diiringi alunan musik yang ceria.

Lalu kedua pengantin memasuki ruangan. Melakukan upacara penghormatan yang sama lalu bersimpuh di depan altar yang isinya kitab suci.

Pemuka agama melantunkan doa doa yang panjang dengan irama dan suara yang sangat merdu. Tak sepotongpun saya mengerti artinya. Tetapi saya pikir pastinya berisi tentang permohonan agar kedua mempelai diberkahi dengan kebahagiaan yang langgeng sampai akhir hayat.

Saya disarankan duduk di belakang pengantin. Sayapun bergeser posisi. Pendeta kembali melantunkan doa doa yang panjang dan merdu. Saya ikut mendoakan kebahagiaan buat kedua pengantin. Semoga langgeng seterusnya.

Setelah beberapa saat, pemuka agama memberikan aba-aba kepada pengantin untuk berkeliling altar yang isinya kitab suci.

Kedua pengantin pun bangkit dari duduknya dan berjalan berkeliling. Lalu menghadap kembali ke altar dan duduk serta memberikan penghormatan kembali.

Pendeta melantunkan doa doa. Lalu menyuruh pengantin untuk bangun dan berjalan mengelilingi kitab suci lagi.

Demikian seterusnya hingga empat kali berkeliling.

Pemuka agama kembali dengan doa dan wejangan yang saya pikir isinya adalah nasihat- nasihat tentang bagaimana berumah tangga yang baik. Dan pernikahanpun disyahkan.

Upacara lalu ditutup dengan pembagian sejenis penganan yang manis mirip dodol kepada hadirin semua sebagai tanda kehidupan yang manis.

Hadirin berdiri dan memberi selamat kepada pengantin dan keluarganya.

Selamat nenempuh hidup baru ya Karan dan Shela!. Semoga langgeng dan bahagia sampai seterusnya 😘😘😘

Advertisements

Turban.

Standard
Turban.

Bangun di pagi hari di kota kecil Pathankot sungguh menyegarkan. Udara di sini sangat sejuk dan saya sangat bersemangat karena siang ini kami akan pergi ke Temple untuk menyaksikan upacara pernikahan Karan dengan Shela. Bergegas mandi dan berdandan yang pantas untuk pergi ke tempat suci.

Sebelum pergi, kami berkumpul dulu di rumah Karan untuk sarapan bersama dan menyaksikan persiapan yang dilakukan oleh pengantin pria.

Karan memilih untuk menggunakan pakaian berwarna krem dengan turban dan selendang berwarna merah. Sungguh pantas dan menawan. Baru pertama kali saya melihat Karan dalam busana adat seperti itu.

Diantara busananya itu yang paling menarik untuk dibicarakan adalah tentang Turban. Karena Turban yang digunakan oleh pria Sikh ini sangat menarik dan unik bentuknya.

Secara adat, pria Sikh umumnya tidak memotong rambut, jenggot maupun cambangnya. Rambut yang panjang ini kemudian digelung ke atas dan ditutup dengan kain yang disebut dengan Turban. Saya lihat, di daerah Punjab ini bahkan anak-anakpun sudah menggunakan penutup kepala yang berupa sapu tangan atau ikat kepala yang dicepol di ubun ubun.

Selain mempunyai fungsi sebagai penutup kepala, Turban juga berkaitan dengan keyakinan. Jika kita bayangkan, mungkin fungsinya sama dengan “Blangkon” dalam adat Jawa atau “Iket” dalam adat Sunda atau “Udeng” dalam adat Bali.

Turban bisa berwarna macam macam. Ada yang hitam, merah, hijau, kuning dan sebagainya tergantung selera sang pemakai. Walaupun saya pernah dengar kalau jaman dulu warna turban juga dihubungkan dengan kelompok masyarakat tertentu. Saya tidak tahu apakah hal itu masih berlaku sekarang, yang jelas saya tahunya Turban sangat penting artinya dalam kehidupan orang Sikh.

Berbincang dengan Ravindra, salah seorang kakak Karan, Turban merupakan salah satu busana yang khas untuk pria Sikh guna menutupi rambut yang merupakan salah satu dari 5 hal penting dalam keyakinan orang Sikh yakni:

1. Kesh = Rambut (yang biasanya tidak dipotong).

2. Kaccha = Pakaian Dalam khusus yang terbuat dari bahan katun.

3. Kara = Gelang (biasanya terbuat dari baja).

4. Kanga = Pedang (yang biasanya panjang dan terbuat dari baja).

5. Kirpan = Sisir (yang biasanya terbuat dari kayu).

Saya sangat beruntung karena saat pemakaian turban di kepala pengantin pria, saya ada di tempat itu dan ikut menyaksikan.

Sebenarnya agak rumit bagi saya, tetapi bagi mereka yang sudah terbiasa memakai atau memakaikan tentu saja ini sangat mudah.

Pemasangan turban di kepala Karan berlangsung cepat dan lancar. Tahu tahu sudah jadi saja.

Busana pengantin pria Sikh

Sekarang dengan ditambahkan dengan untaian mutiara sebagai penutup wajah dan kalung serta pedang panjang, pakaian pengantin pria terasa semakin lengkap dan mantap.

Pagi itu acara di dalam rumah ditutup dengan upacara memutar – mutarkan uang di atas kepala pengantin pria oleh papa, mama, om, tante, saudara dan keluarga serta sahabat Karan (termasuk saya) dengan harapan kelak rejeki sang pengantin pria terus berlimpah. Semoga.

Lalu kami berfoto bersama. Sungguh keluarga yang bahagia.

Lupa.

Standard

Sebulan ini kesibukan saya agak meningkat. Pasalnya ada meeting penting yang harus kami jalani berturut turut selama 3 hari. Sementara minggu sebelumnya juga sangat banyak agenda, sehingga saya agak keteteran. Beberapa presentasi yg disiapkan team saya last minute belum sempat saya periksa.

Di tengah serunya meeting, seorang teman yg duduk di sebelah saya berkata” Bu, jangan lupa nanti kalau ibu sudah sempat, tolong periksain presentasi saya ya Bu. Mohon masukan kali-kali ada yang perlu direvisi, ditambahkan atau dikurangi”. Teman saya ini akan presentasi esok hari pukul 9 pagi.

Ya. Nanti malam ya. Setelah pulang kerja” jawab saya. Teman saya mengangguk setuju. Ya lah. Nanti saja. Sekarang kan lagi di tengah meeting. Tentu tak sopan jika saya mengoprek material lain di luar yang dididkusikan di meeting.

Sepulang kerja, saya makan, beresin sedikit urusan anak, rumah dan dapur, lalu mandi. Setelah itu barulah saya membuka laptop. Membuka email. Saya mau memeriksa presentasi teman saya. Tapi oh….ternyata belum masuk. “Mungkin dia sedang makan malam, jadi belum sempat ngirim ” pikir saya. Sementara menunggu email masuk, sayapun mengerjakan hal lain.

Beberapa saat kemudian saya check email lagi. Belum masuk juga. “Ooh…mungkin masih dikerjakan“, pikir saya. Saya menunggu dengan sabar.

Setelah 3 – 4 kali melihat dan tetap belum ada email yang masuk, lalu saya mengirim pesan kepada teman saya melalui Whatsap. Menanyakan kepadanya mengapa presentasinya belum dikirim?. Kalau belum dikirim bagaimana saya bisa menerima?πŸ˜€ Dan jika belum saya terima bagaimana cara daya mereview?.πŸ˜€πŸ˜€

Teman saya tidak membalas WA saya. Saya tunggu beberapa saat, ternyata belum dibaca juga pesan saya. Waduuuh…jangan jangan dia sudah tidur. Saya baru nyadar ternyata ini sudah tengah malam. Lewat jam 12 malam.

Ah…mungkin saja ia masih memperbaiki presentasinya. Jadi belum sempat membaca pesan saya. Saya mencoba berpikir positive.

Beberapa saat kemudian, jarum jam di dinding melewati angka satu. Saya memeriksa email dan WA. Tak ada tanda tanda kalau teman saya itu masih terjaga, mengerjakan dan akan segera mengirimkan presentasinya ke saya. Ingin menelpon, tapi rasanya nggak sopan banget ya nelpon malam malam begini. Lagipula seandainya dia sudah tidur kan kasian juga dibangunin. Ah.. biarlah. Besok pagi tentu dia sudah membuka pesan di WA dan pasti akan mengirimkan filenya ke saya. Dua anak tang baik dan biasanya rajin.

Mendekati pukul setengah dua malam, akhirnya saya tinggal tidur.

Tapi saya percaya teman saya itu sudah mempersiapkan presentasinya dengan kualitas content yang baik. Dan ia juga sangat percaya diri membawakannya.

Esok paginya, usai mempersiapkan bekal makanan untuk anak saya, mandi dan sarapan saya membuka laptop saya lagi. Ngecheck barangkali email teman saya sudah masuk. Eh.. ternyata belum juga!. Waduuuh…bagaimana ini???.

Sambil mengunyah sarapan tiba tiba saya teringat….

Oooh, bukankah teman saya sudah memberikan file presentasinya kepada saya lewat flash disc? Dan saya sudah mengcopy-nya ke laptop saya? .

Astaga!!!!. Pantesan emailnya saya tunggu berjam-jam sampai begadang tiada kunjung tiba πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€.

Di mana kesalahannya ini???. Waduuuh… faktor U!!!.

**************

Faktor U alias faktor umur yang makin meningkat seringkali dijadikan kambing hitam atas berbagai kejadian yang berkaitan dengan lupa atau pikun.

Tapi sebenarnya jika mau mengakui, bahwa sebenarnya di luar faktor U juga ada masalah lain yang menjadi penyebabnya yang perlu diberikan perhatian dan diperbaiki ke depannya.

Seringkali itu berurusan dengan cara kita memberi perhatian terhadap apa yang kita lakukan setiap saat. Lupa disebabkan karena kita tidak meletakkan perhatian yang penuh terhadap apa yang kita kerjakan. Hanya sepintas lalu. Tidak sepenuh pikiran. Sehingga ingatan kitapun tak mampu menahan kejadian itu. Ia menguap dan berlalu begitu saja dengan cepat.

Itulah lupa. Saat memory tak bertahan lagi di sel-sel ingatan kita.

Saya tidak menaruh perhatian pada saat teman saya memberikan flash disc-nya ke saya, karena perhatian saya sedang tertuju penuh ke layar saat itu. Dan saat mengcopy filenya pun saya lakukan sambil pikiran saya sibuk dengan presentasi yang sedang berlangsung. Sehingga kejadian itu tidak terekam dengan baik dalam ingatan saya.

Itulah barangkali sebabnya, mengapa kita diminta agar selalu tetap fokus fokus dan fokus akan apapun yang sedang kita kerjakan. Sehingga kita selalu menyadari dengan baik apapun yang kita lakukan. Dan seterusnya memory kita bisa menyimpannya dengan baik.

Selamat pagi teman teman pembaca!.

Kutinggalkan Anakku Di Gerbang Ini.

Standard

Kutinggalkan anakku di gerbang ini. Ketika angin dingin mulai menyapa. Dan musim gugur baru saja tiba.

Kutitipkan anakku pada pohon pohon pinus. Juga pada pohon apel dan kastanye serta hawtorn yang berbuah merah.

Kumintakan pada burung -burung agar bernyanyi saat anakku kesedihan. Dan pada tupai untuk membawa biji bijian saat anakku kelaparan.

Kutinggalkan anakku di sini. Di dalam keranjang yang kusertai surat cinta merah jambu.

Bangunlah anakku. Rasakan angin yang berhembus dari segala penjuru. Lalu angkat telunjukmu tinggi tinggi untuk memahami mata angin. Nikmati sengat matahari dan sambutlah gigil musim dingin.

Tengadahkan wajahmu ke langit. Tatap pada bintang-bintang, pada planet-planat dan galaxy. Agar pandanganmu jelas seluas semesta.

Hirup segala aroma yang bertebar di udara. Agar kau bisa membedakan wangi tavuk yang dimasak garam masala. Juga aroma portakal suyu dan wangi gaharu yang dikemas dalam sebotol parfum.

Sesaplah sari kehidupan sebanyak banyak yang engkau bisa. Letakkan semangatmu di atasnya. Sebagaimana dulu engkau menyesap air susu ibumu.

Sekali waktu. Berjalanlah tanpa sepatumu. Agar kau bisa merasakan halusnya pasir dan tajamnya kerikil. Itu bagus untuk mengasah kepekaanmu dan kepedulianmu pada orang lain.

Kulepas engkau di rimba raya anakku. Karena aku tahu naluri berburumu setajam macan. Kau akan menaklukannya.

Kulepas engkau di gunung tinggi anakku. Karena aku tahu ketajaman pemikiranmu bagaikan mata elang. Kau akan menaklukannya.

Kulepas engkau di lautan lepas anakku. Karena aku tahu daya jelajahmu sejauh jelajah ikan paus. Kau akan menaklukannya.

Aku tahu kau bisa. Dan aku selalu bangga padamu.

Sekarang berdirilah di sini. Tengadahlah selalu ke langit, untuk mengingat Sang Penciptamu. Itulah tujuan hidupmu pada akhirnya. Tujuan atas segala hal yang kau cari di dunia ini. Tujuan atas segala penjelajahanmu.

Dengan penuh cinta. Untuk anakku, Andri Titan Yade.

Ankara, 16 September 2018.

Ketika Berada Di Ketinggian.

Standard

Malam merayap. Saya menyelesaikan doa syukur saya dan bermaksud untuk istirahat. Sebelum tidur saya memeriksa anak saya dulu. Ia tertidur dengan buku bukuπŸ“š, laptop πŸ–²dan gitar🎸 di sebelahnya.

Sayapun memindahkan barang barangnya itu dari tempat tidur. Buku dan laptop ke atas meja belajarnya. Lalu gitar mau ditaruh di mana ya?

Pertama di atas kursi belajarnya. Tapi ketika saya lewat, tanpa sengaja saya menyenggol lengan kursi itu. Begitu kursi bergerak , gitarpun ikut bergerak. Melorot. Oops!!!. Untung saya bisa menangkap gitar itu dengan cepat sebelum ia bergedubrak jatuh ke lantai. Saya pun berpikir lagi….hmm…taruh di mana ya? πŸ™„πŸ™„πŸ™„

Ah…akhirnya saya menemukan tempat di atas cajon drumbox-nya. Sayangnya baru beberapa detik saya letakkan, gitar itu tiba tiba melorot dengan cepat. Gedubraaaaxxxx!!!. Waduuuh!. Jatuh lagi. Ribut banget suaranya. Anak saya terbangun. Kaget. Untunglah ia tertidur lagi setelah melihat saya.

Malas lagi berpikir mau simpan gitar ini di mana?. Akhirnya saya memutuskan untuk meletakkannya di lantai sajalah. Kalau di lantai kan tidak mungkin jatuh. Emang mau jatuh ke mana lagi kalau sudah di bawah????.

Berpikir begitu saya jadi teringat pembicaraan dengan sahabat saya beberapa waktu yang silam. Saat itu kami sedang berjalan-jalan di pantai Sanur. Setelah beberapa saat rasanya saya ingin duduk. Mau duduk di mana ya? Ada tiang melintang di pinggir anjungan yang menjorok ke laut. Sayangnya ada orang lain yang sudah duduk di situ. Lalu saya ingin duduk di cabang rendah pohon waru laut yang tumbuh di pantai, tapi takut cabangnya patah πŸ˜ƒ. Kalau jatuh bagaimana?

Akhirnya kami memutuskan untuk duduk nggelosor di pasir pantai di bawah pohon waru laut.

“Nah…di sini lebih nyaman” kata sahabat saya. Saya mengangguk. Dari sini kami bebas memandangi ombak yang berlarian datang dan pergi menyentuh bibir pantai. Suasana yang sangat indah.

Ketika kita berada di ketinggian, selalu ada kemungkinan untuk terjatuh. Tetapi jika kita berada di kerendahan, maka tak ada lagi tempat untuk jatuh. Karena tempat terendah itu adalah tempat di mana kita sudah berada. Demikian sahabat saya mulai pembicaraan.

Saya tertarik mendengarkan pembicaraannya. “Tapi kalau diinjak orang?😁” tanya saya. Sahabat saya tertawa. “Sebelum diinjak orang, tentu kita sudah bangun berdiri dan menghindar” jawabnya. Ya siih…

Tapi saya tetap tertarik memikirkan kalimatnya itu. Karena nengandung kebenaran dan kearifan. Itu berlaku juga dalam kehidupan kita sehari -hari. Jika kita meninggikan diri, selalu ada kemungkinan kita terjatuh akibat perkataan atau perbuatan kita sendiri. Jika kita menganggap diri lebih tinggi dan selalu memandang rendah orang lain, akan selalu ada orang lain yang tidak senang dan ingin menjatuhkan kita.

Sebaliknya jika kita bersikap rendah hati, sulit bagi kita untuk jatuh ataupun dijatuhkan orang lain. Karena kita sudah di posisi terendah dan tak ada tempat yang lebih rendah lagi. Jadi mau jatuh ke mana????. Tak mungkin jatuh ke atas kan ya??πŸ˜€.

Saya melirik gitar anak saya yang tergeletak di lantai. Dan sekarang semakin paham saya, bahwa kejadian -kejadian ini memberi pesan agar saya selalu menempatkan hati saya di kerendahan dalam menjalani kehidupan saya sehari-hari. Karena semakin tinggi saya menempatkan hati saya maka kemungkinan untuk terjatuhnya pun makin tinggi dan makin sakit juga. Lagian, apa pula yang bisa saya sombongkan dan tinggikan? Tidak ada pula. Jadi sebaiknya memang merndah hati lah. Stay humble!.

Malam telah semakin larut. Saya memejamkan mata saya dan segera tidur.

Julit, Binjulid, serta kisah I Belog dan Be Julit.

Standard

Saya mendengarkan sebuah obrolan. Dalam obrolan itu seorang teman menyebut kata “Julit”, lalu teman teman saya yang lain tertawa berderai karena penyebutan kata “Julit” itu. Sayapun penasaran akan artinya. Cukup sering mendengar kata itu tapi saya tak tahu persis artinya. Mengapa orang -orang pada tertawa?.

Saya mendapatkan penjelasan bahwa “Julit” itu adalah istilah untuk orang yang suka iri hati pada orang lain dan tak segan mengekspresikan ke-iri hati-annya itu dengan terus terang. Contoh Julit misalnya adalah para “haters” artis tertentu, misalnya Syahrini. Ooooh…..begitu ya.

Belakangan saya mengetahui ternyata kata “Julit” ini berasal dari kosa kata bahasa Sunda “Binjulid” untuk menggambarkan orang yang sifatnya kekanakan dan suka iri hati atas kesuksesan orang lain.

Ha ha… itu berbeda dengan apa yang ada dalam pikiran saya sebelumnya. Saya yang dibesarkan dengan budaya Bali, mengenal kata “Julit” yang mengingatkan saya pada kebodohan (kurang positive juga) dan kejenakaan.

Julit dalam bahasa Bali adalah nama sejenis ikan tertentu yang tubuhnya panjang seperti belut tetapi bersirip. Ikan Sidat dalam bahasa Indonesianya. Habitatnya di palung palung sungai yang dalam sehingga termasuk susah ditangkap orang.

Be Julit. Be = ikan. Be Julit = Ikan Julit. Lah… nama ikan itu kan sesuatu yang baik dan menyenangkan. Lalu di mana letak hubungannya dengan kebodohan dan kelucuan? Begini ceritanya…

Alkisah jaman dulu ada seorang pemuda bodoh yang bernama “I Belog”. (Kisah lain tentang I Belog ini juga pernah saya ceritakan dalam tulisan I Belog dan bebeknya dan juga tulisan I Belog pergi ke Kuta sebelumnya.).

Suatu kali I Belog pergi memancing ke sungai. Dan sungguh sangat beruntung kali ini ia berhasil menangkap ikan (Be)Julit yang panjang dan besar. Maka pulanglah ia dengan wajah berseri-seri ke rumahnya.

Sesampai di rumah, I Belog bermaksud untuk memasak Be Julit itu. Waaah… bakalan makan enak nih nanti malam. I Belogpun mulai membersihkan ikannya yang besar dan panjang itu dan seketika ia menyadari bahwa ia tidak memiliki alat masak yang memadai untuk memasak ikan Be Julit itu. Cepat ia berlari mengetuk pintu tetangga. “Me Made, punya panci panjang nggak? Saya ingin pinjam buat memasak?” Begitu tanya I Belog kepada tetangganya. Me Made menggeleng. Ia tak punya panci panjang. Maka ditawarkanlah kepada I Belog panci biasa yang dimilikinya. I Belog menggeleng, lalu pergi dan mengetuk pintu rumah tetangganya yang lain” Mbok Wayan, punya panci panjang nggak? Saya mau pinjam” Mbok Wayan menggeleng. Ia tak punya panci panjang yang bisa ia pinjamkan buat I Belog. “Adanya panci biasa. Mau nggak?”. I Belog menggeleng dan mengucapkan terimakasih. Kalau panci biasa ia juga punya.

Demikianlah I Belog mencoba lagi meminjam pada tetangganya yang lain, Luh Putu, Sak Ketut, Dayu Komang, Dewa Gede dan sebagainya. Tak satupun diantaranya memiliki panci panjang. I Belog merasa kecewa karenanya.

Aha! Lalu dia ingat… kalau panci panjang tak ada, bagaimana kalau penggorengan panjang? Merasa punya ide yang lebih baik, dengan semangat kembali ia mendatangi tetangganya satu per satu dan bertanya apakah ada yang punya penggorengan panjang? Dan kembali lagi jawaban para tetangganya tidak ada yang punya.

Saking heran dan penasarannya, tetangganya lalu bertanya” Hai Belog!Untuk apa sih, kenapa kamu membutuhkan panci panjang atau penggorengan panjang???”

I Belog menyahut “Untuk saya pakai memasak Be Julit yang panjang” jawab I Belog dengan sedih. Para tetangganya terkejut. “Astaga, Belog!!!. Kenapa tidak kamu potong potong saja Be Julitnya baru dimasak? Jadi kamu tidak perlu panci panjang ataupun penggorengan panjang“. Ha ha ha….

Moral ceritanya: Kadang kita perlu menyesuaikan diri kita sendiri agar “pas” dengan lingkungan, karena tak selamanya lingkungan bisa “pas” untuk kita.

Nah…ternyata dalam kemasan yang kocak dan bodoh, terselip pesan pesan luhur dari para tetua untuk generasi penerusnya.

Selamat pagi kawan!

Tangkai Kedondong Yang Patah.

Standard
Tangkai Kedondong Yang Patah.

Saya memindahkan pohon kedondong yang potnya telah kekecilan dan tak layak. Pohon ini sangat rajin berbuah dan banyak-banyak. Akarnya menembus block bata di halaman.

Sebenarnya agak nervous juga saya mrncabutnya, takut akar utamanya putus. Tapi saya tak punya pilihan lain. Pohon kedondong ini butuh pot yang lebih besar.

Rupanya saat saya menarik batangnya dengan sekuat tenaga, ternyata salah satu cabang yang buahnya lebat, patah tangkainya. O o!!!. Beberapa buah kedondong bahkan jatuh menggelinding di bawah. Saya sangat terkejut dan sedih dengan apa yang telah terjadi. Apa yang harus saya lakukan sekarang?

Memanen buah kedondong yang tangkainya patah itu? Semuanya ada 14 buah. Rontok empat dan sisa 10 buah. Masih muda semuanya. Nanti saya jadikan jus kedondong saja. Seger!!!.

Atau apa coba saya biarkan saja ya?. Walaupun tangkainya patah, siapa tahu pohonnya masih bisa memberi nutrisi kepada buah-buah kedondong itu hingga tetap membesar dan matang. Nah..nanti setelah matanv barulah saya panen.

Akhirnya saya memilih option yang ke dua. Saya biarkan buah kedondong itu masih menggantung di tangkainya yang patah.

Beberapa hari kemudian, saya mendapatkan buah kedondong itu pada layu dan kisut. Buahnya lembek. Saya tidak melihat kemajuan dari pertumbuhan buahnya. Yang terjadi malah kemunduran. Saya tahu buah kedondong ini tak akan pernah mencapai masa matangnya dengan baik. Mengapa? Karena tangkai yang patah tak mampu mengangkut nutrisi yang cukup lewat jaringannya untuk disupply ke buah muda yang masih butuh berkembang. Sehingga buah tak bisa berkembang dengan baik. Selain itu akar kedondong ini setidaknya juga agak terputus, sehingga ia harus berusaha mengais nutrisi dari lingkungannya yang baru dengan ujung akar yang sedikit berkurang jumlahnya. Untuk tetap segar, buah harus tetap terhubung dengan batang dan akarnya, dan akarnya tetap membumi. Jadi “koneksi” alias “keterhubungan” itulah jawabannya!. Dalam hal ini tangkai berfungsi sebagai conector.

Yah… saya pikir memang begitulah pada kenyataannya. Dan hal yang serupa juga terjadi dengan diri kita. Kita membutuhkan “keterhubungan” untuk menjaga diri kita tetap hidup dengan baik. Keterhubungan dengan pekerjaan sebagai sumber rejeki, keterhubungan dengan keluarga, sahabat dan orang orang yang kita cintai sebagai sumber kasih sayang, dan sebagainya hingga keterhubungan diri kita dengan Sang Parama Atma Tuhan Yang Maha Esa sebagai sumber dari sang diri alias Atma atau roh kita. Kita perlu menjaga keterhubungan ini dengan baik. Karena jika tidak, maka hidup kita tak ubahnya dengan buah buah kedondong yang patah tangkainya itu.

Saya tercenung sejenak mendapati pikiran saya menjalar ke mana mana.

Renungan di kebun.

Biji Duku Yang Tumbuh Di Dalam Perutku.

Standard

Flasback ke masa kecil : “Wah.gawat!!!. Kalau tertelan, biji duku ini nanti akan tumbuh di dalam tubuhmu” kata kakak sepupu saya. Astaga!!!!!🀀🀀🀀

Semalaman saya tak bisa tidur memikirkan kalimat itu setelah tanpa sengaja saya menelan biji duku. Saya menyangka, besok paginya biji duku itu akan keluar akar yang menjalar dan mungkin menembus perut saya. Tumbuh batang dan ranting yang mungkin menembus tenggorokan mulut, mata, hidung dan telinga saya. Whua…betapa mengerikannya 🀀😲😒😭

======================================

Kejadian masa kecil itu melintas kembali di ingatan saya pada suatu siang, ketika saya berada di sebuah studio foto dan tuan rumah menghidangkan buah duku.

Buat anak kecil, memakan buah duku bukanlah perkara yang mudah. Karena untuk membukanya saja, kulit buah ini terkadang bergetah dan pahit. Terutama jika buahnya kurang tua. Jadi harus pintar pintar memilih yang kulitnya empuk dan tua biar nggak bergetah.

Lalu setelah memilih buah yang tua dan manis, kita dihadapkan pada masalah biji duku. Tidak semua juring buah duku bebas biji. Beberapa bahkan ada yang bijinya besar. Dan jika tergigit rasanya sungguh pahit. Nah kita harus pelan pelan dan hati hati memakannya. Jika bijinya kecil, memang lebih praktis langsung telan saja πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€.

Dari kesulitan itulah akhirnya banyak anak menelan biji duku baik sengaja maupun tak sengaja. Dan rupanya, banyak anak juga yang mengalami dibohongin kakaknya bahwa “nanti biji duku yang tertelan ini akan tumbuh di perut ” . Bukan saya saja. Ha ha

Sambil mengunyah buah duku, saya mikir mikir lagi. Mungkin sebagian ada benarnya juga, pernyataan bahwa biji duku itu nanti akan tumbuh dalam tubuh kita itu.

Teringat obrolan dengan seorang sahabat saya. Sebenarnya, apapun yang kita makan, termasuk buah duku dan bijinya, masuk ke dalam perut kita, pada akhirnya akan dicerna juga dan dimanfaatkan untuk membangun tubuh kita sendiri. Walaupun tentu ampasnya dibuang oleh tubuh. Sari sari buah duku ini akhirnya menjadi tubuh saya. Betul bahwa ia ikut tumbuh dalam tubuh saya.

Buah duku ini telah mengorbankan dirinya dan jiwanya untuk menjadi bagian dari tubuh, tempat di mana jiwa saya bersemayam. Ia berkorban untuk saya. Ia berjasa bagi saya.

Oh…tapi mengapa saya tidak mengucapkan terimakasih saya kepada buah duku ini?. Dan faktanya sata tidak hanya makan buah duku saja selama hidup saya. Ups!!!!.

Saya juga makan beras/padi, makan kangkung, makan ayam, ikan, talas, singkong, dan sebagainya. Whuaaa…banyak sekali mahluk hidup yang saya makan. Ribuan, mungkin jutaan nyawa telah berkorban hanya untuk kepentingan satu nyawa. Yaitu nyawa saya sendiri. Mengapa saya tidak pernah ingat untuk berterimakasih pada semua mahluk hidup itu?????. Padahal mereka sudah sangat berjasa mengorbankan nyawanya untuk membangun tubuh saya.

Kalau sedang ingat, sebenarnya saya juga berdoa sebelum makan sih. Berdoa kepada Tuhan, berterimakasih sudah diberikan rejeki sehingga saya masih bisa makan hari itu. Berdoa agar makanan yang saya makan memberikan kesehatan yang baik untuk saya dan bukan membuat saya sakit. Kedengerannya cukup religius juga ya saya (kalau sedang ingat πŸ˜€) ha ha… Semua doa doa itu tentu sudah baik.

Akan tetapi, saya pikir sebenarnya berdoa seperti itu saja belum cukup. Akan lebih baik lagi jika saya juga selalu berterimakasih dan mengenang pengorbanan diri hewan-hewan dan para tanaman yang saya makan ini yang telah nengorbankan kelangsungan hidupnya, demi untuk mendukung kelangsungan hidup saya.

Sekarang jika ada orang yang bertanya kepada saya, siapakah saya?. Jawabannya, saya adalah kumpulan mahluk mahluk yang telah mengorbankan nyawanya dan kehidupannya untuk sebuah kehidupan lain.

Dari Grand Launching Safi. Perawatan Kulit dengan Konsep Halal, Natural & Teruji.

Standard
Dari Grand Launching Safi.  Perawatan Kulit dengan Konsep Halal, Natural & Teruji.

Hari Kamis yang lalu, kebetulan saya mendapat kesempatan menghadiri launching Safi, sebuah merk perawatan kulit ternama di Asia yang kini masuk ke pasaran Indonesia, di Mall Kota Kasablanka, Jakarta.

Di hadapan ratusan undangan yang hadir di acara itu, Mr Kumar Chander dari group Wipro Unza dalam sambutannya memberikan sedikit background tentang merk perawatan kulit ini. Bahwa Safi pada saat ini merupakan brand perawatan kulit no 1 di Malaysia.

Dengan didukung oleh Safi Research Institute, yang merupakan Halal Research Institute pertama di dunia, produk produk Safi dikembangkan dengan konsep HALAL, NATURAL dan TERUJI. Sehingga konsumen tidak perlu ragu lagi untuk menggunakannya. Mengingat kesuksesan demi kesuksesan yang telah diraih brand perawatan kulit ini di negara lain, Mr. Kumar Chander pun yakin jika konsumen Indonesia juga akan puas menggunakannya.

Dalam acara itu Ir. Hj. Muti Arintawati M.Si dari MUI juga memberikan penjelasan yang sangat detail tentang apa itu Skin Care yang halal dan apa saja persyaratannya untuk mendapatkan sertifikat halal.

Walaupun di Malaysia sendiri Safi telah mendapatkan Sertifikat Halal dari badan JAKIM Malaysia (setara dengan MUI), menurut Ibu Muti, untuk di Indonesia Safi tetap harus melalui proses pengujian dan evaluasi dan saat ini telah berhasil mendapatkan Sertifikat Halal kelas A. Dan dalam kesempatan itu juga dilakukan penyerahan sertifikat halal oleh MUI diwakili oleh Ibu Muti kepada Wipro -Unza sebagai produsen dari merk Safi yang diwakili oleh Mr. Kumar Chander didampingi oleh Mr. Neeraj Khatri.

Safi merupakan rangkaian produk perawatan yang sangat lengkap, terdiri atas perawatan wajah, tubuh dan bahkan perawatan rambut. Tak tanggung-tanggung Mashuri Sulaeman, Marketing Manager dari Safi Brand di Malaysia ikut hadir memberikan gambaran yang lengkap tentang brand Safi dan kesuksesannya di negara itu.

Untuk di Indonesia sendiri, menurut Diana Susiani, Senior Brand Manager Safi Indonesia, saat ini Safi hadir dalam 3 rangkaian yakni Safi White Expert, Safi Age Defy, dan Safi White Natural.

1/. Safi White Expert.

Rangkaian Safi White Expert, merupakan produk perawatan yang memanfaatkan keajaiban Habbatus Sauda dan Oxywhite Technology untuk membantu wanita mendapatkan kulit cerah optimal.

Habbatus Sauda diketahui memiliki kemampuan untuk melindungi kulit dari radikal bebas membantu kulit agar terasa lembut dan tetap terawat. Sedangkan Oxywhite Technology membantu membebaskan oksigen ke dalam kulit, menutrisi kulit, sehingga kulit tampak lebih cerah merata.

Dengan kemampuannya membantu meratakan rona kulit dan mencerahkan kulit kusam, rangkaian produk ini sangat memahami kebutuhan wanita berhijab dimana kulit wajah terkadang belang akibat sebagian terpapar matahari sementara sebagian lagi tertutup hijab. Selain membantu meratakan rona kulit dan mencerahkan kulit kusam, Safi White Expert juga membantu menghaluskan kulit, memberi perlindungan terhadap sinar UV, membantu memudarkan pigmentasi kulit, melundungi terhadap radikal bebas, meningkatkan elastisitas kulit, menjaga kelembaban dan kelembutan kulit. Sungguh 10 perfect actions!.

Saya berkeliling di sekitar untuk melihat lihat produk apa saja yang ada dalam rangkaian ini. Bisa kita temukan Purifying Cleanser, Deep Exfoliator, 2 in 1 Cleanser & Toner, Purifying Make Up Remover, Skin Refiner, Illuminating Day Cream SPF 15 PA++, Replenishing Night Cream, CC Cream SPF 24 OA ++ dan White Expert Ultimate Essence.

Wow!. Lengkap juga ya.

2/. Safi Age Defy.

Dari namanya kelihatan bahwa rangkaian produk ini berfungsi untuk membantu wanita mengembalikan kemudaan kulit. Wow!. Cocok banget untuk saya nih. Jika ditelusuri lebih jauh, rangkaian produk ini mengadung Ekstrak Emas yang dikenal sejak jaman dulu kala dipakai oleh para bangsawan untuk memelihara keremajaan dan kecantikan kulit , dan Protein Sutera dengan 18 jenis asam aminonya membantu membentuk lapisan perlindungan kulit, berfungsi memelihara kelembaban dan kehalusan kulit wajah agar terasa lembut bagai sutera.

Apa saja produk yang tersedia dalam rangkaian Age Defy ini? Saya lihat ada Cream Cleanser, Deep Exfoliator, Cream Cleanser Deep Moisturizer,Concentrated Serum, Skin Refiner, Day Emulsion SPF 25 PA ++, Renewal Night Cream, Eye Contour Treatment dan Age Defy Gold Water!. Wah…ini keren banget.

3/. Safi White Natural.

Ini rangkaian Whitening juga. Hanya yang ini lebih menekankan ke konsep natural.

Rangkaian ini ada yang mengandung Ekstrak Mangosteen (Manggis) yang membantu menjaga kelembaban alami kulit wajah serta memeliharanya tampak lebih cerah bercahaya. Dan ada juga yang mengandung Ekstrak Grapefruit dengan kandungan Vitamin C nya membantu melindungi kulit dari paparan radikal bebas dan membantu untuk mengontrol sebum agar kulit tampak lebih segar dan cerah.

Rangkaian produk Safi White Natural terdiri atas Brightening Cleanser Mangosteen Extract, Brightening Cream Mangosteen Extract, Brightening Cleanser Grapefruit Extract dan Brightening Cream Grapefruit Extract.

Cukup banyak dan lengkap juga ya produknya. Menarik untuk dicoba.

Menyimak Buku Merdeka 100%.

Standard
Menyimak Buku Merdeka 100%.

Beberapa saat yang lalu, saya mendapatkan kiriman buku menarik dari Agung Karmadanarta, seorang sahabat saya. Buku itu berjudul”Merdeka Seratus Persen” tulisan dari Satria Mahardika. Bercerita tentang perjalanan hidup Kapten TNI AAG Anom Muditha, seorang pahlawan pejuang kemerdekaan yang gugur mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari tentara NICA yang ingin merebut kembali Indonesia.

Beliau adalah pahlawan yang saya ceritakan dalam tulisan saya sebelumnya yakni “Berkunjung Ke Tugu Pahlawan Penglipuran“.

Terus terang, walaupun nama pahlawan AAG Anom Muditha ini telah saya kenal sejak kecil, namun sesungguhnya saya baru tahu lebih banyak tentang beliau dari buku ini. Di mana rumahnya, siapa keluarganya, bagaimana perjalanan hidup beliau, dan sebagainya. Ternyata ada banyak sekali pengetahuan baru yang saya dapatkan dari buku ini.

Sangat salut pada penulisnya yang berhasil memaparkan perjalanan sang pahlawan dengan sedemikian detail dan komprehensif, membantu pembaca supaya mampu memahami lebih dalam. Juga memberi konteks yang jelas agar bisa mencerna nilai-nilai luhur seorang ksatria sejati yang tak segan menyabung nyawa demi membela negaranya.

Satria Mahardika dalam pengantarnya mengatakan bahwa beliau merampungkan buku ini dalam waktu 7 bulan, dengan bantuan team yang terdiri atas AAG Bagus Ardana, AA Anom Suartjana, AA Made Karmadanarta, dan AA Bagus Krisna Adipta W. Jika tidak ada tekad bersama yang kuat, tak terbayang bagi saya bagaimana caranya mengumpulkan semua detail informasi yang digunakan untuk membangun buku ini.

Salah satu yang sangat menarik adalah pernyataan AA Gde Bagus Ardana, adik kandung sang pahlawan, tentang tekadnya untuk menuliskan semua kejadian yang tersimpan dalam ingatan beliau dan termasuk informasi lain yang beliau dapatkan. Karena jika tidak, maka kisah perjuangan mempertahankan kemerdekaan ini yang memakan banyak korban akan tetap terkubur dan akhirnya lenyap ditelan jaman.

Bersyukurlah keinginan beliau itu akhirnya tercapai.

Buku yang terdiri atas 244 halaman ini, ditulis dalam 6 Bab, yang secara umum berjalan linear, walaupun saat dibutuhkan, cerita terkadang berjalan paralel.

Di awal buku ini, pembaca diperkenalkan dengan masa kecil Kapten Muditha, dengan orang tuanya, kakak dan adik-adiknya di Puri Kilian beserta kerabat lainnya. Sekilas pembaca juga bisa menangkap system pemerintahan yang berlaku pada masa itu, di mana Bangli dipimpin oleh seorang Regent, sementara ayah Kapten Muditha sendiri adalah seorang Punggawa Kota.

Dari sini kita bisa mengikuti pendidikan yang ditempuh Kapten Mudita mulai dari Holland Inlandsche School (HIS) di Klungkung , lalu ke Handles Vak School (HVS) di Surabaya, berlanjut ke Malangse Handle School (MHS) hingga kemudian menapak kariernya di bidang Militer.

Mula mula beliau menjadi tentara Koninklijk Nederlandch Indiesche Leger (KNIL) dengan pangkat Sersan Satu. Kemudian beliau menerima pendidikan militer Kaderschool di Magelang. Pada tahun 1942 ketika Jepang mulai masuk, beliau mulai diterjunkan ke medan tempur dan sempat menjadi tahanan militer di Cilacap setelah Belanda kalah dan menyerah.

Setelah beristirahat sejenak, beliau sempat menjadi Jumpo (Polisi Jepang) dan menjadi Pelatih Sekolah Polisi Jepang di Singaraja, namun kemudian berhenti karena sakit.

Setelah kesehatannya berangsur membaik, Kapten Muditha mulai aktif menjalankan dharma bhaktinya sebagai putra bangsa. Dengan gigih beliau membangun Badan Keamanan Rakyat daerah Bangli, mengkoordinir Markas Besar Dewan Perjuangan Rakyat Indonesia wilayah Bali Timur dan memimpin perang gerilya melawan NICA untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Dari sini kemudian kisah gerilya mulai bergulir. Berbagai aktifitas latihan kemiliteran dan pembangunan kamp militer dilakukan. Mula mula untuk melawan tentara Jepang , kemudian sebagai bagian dari team pahlawan I Gusti Ngurah Rai, Kapten Muditha memimpin perjuangan wilayah Bali Timur melawan tentara NICA setelah Jepang kalah.

Pertempuran demi pertempuran terjadi secara gerilya. Mulai dari daerah Penulisan, hingga desa desa sekitar Gunung Agung bersama Gusti Ngurah Rai. Mereka berjuang dengan perlengkapan seadanya, makanan seadanya, menahan letih, haus dan lapar dengan hanya bermodalkan tekad yang bulat dan dukungan penduduk.

Sungguh, membaca perjuangan mereka yang demikian gigih, rasanya malu jika kita generasi penerusnya tidak mampu mengisi kemerdekaan ini dengan baik.

Bahkan setelah Letkol I Gusti Ngurah Rai gugur dalam pertempuran di Marga pada tanggal 20 November 1946, Kapten Muditha tetap berjuang. Beliau tetap bergerilya dan menata perjuangan dari Buleleng, lalu berpindah ke Bangli untuk melawan tentara NICA. Segala sesuatunya sangat sulit dan berkali kali harus menyamar, mengirim utusan dan mengatur ulang strategy sesuai dengan perkembangan situasi dan musuh. Hingga akhirnya beliaupun gugur di Penglipuran pada tanggal 20 November 1947. Tepat setahun sepeninggal I Gusti Ngurah Rai. Beliau telah menjalankan dharmanya sebagai seorang ksatria.

Merdeka Seratus Persen!” Adalah pekikan terakhir beliau sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ibu pertiwi disirami darah salah satu putra terbaiknya. Darah putranya yang mengikrarkan kemerdekaan 100% bagi bangsanya.

Tulisan diakhiri dengan penjabaran makna dari pekikan Kapten Muditha tentang Merdeka 100% itu yang diulas dengan sangat baik oleh sang penulis. Merdeka 100% mempunyai makna yang sangat mendalam. Bisa diartikan sebagai sebuah kemuliaan yang terbangun utuh dalam kesatuan hidup, baik secara skala maupun niskala.

Sungguh sebuah buku perjuangan yang membukakan hati. Sangat layak untuk kita baca agar kita bisa lebih memahami makna perjuangan pahlawan kita, lebih menghargai apa arti kemerdekaan yang diwariskannya kepada kita.

Merdeka 100%, itulah cita cita beliau sebagai bangsa. Merdeka penuh. Merdeka untuk semuanya dan dengan totalitas. Yang artinya setiap anak bangsa ini semuanya merdeka tanpa kecuali. Mempunyai hak dan kewajiban yang sama, setara dan adil dengan yang lainnya, tanpa dikurangi haknya ataupun dilebihkan terlepas dari apapun suku, ras, agama dan golongannya.

Bukan berkebangsaan atas azas ego sendiri, yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi maupun kaumnya sendiri ketimbang bangsa dan negaranya. Merasa diri lebih berhak atas tanah air ini melebihi suku lain, melebihi agama lain, melebihi golongan politik lain, dan sebagainya, sementara yang lain dianggap nge-kost.

Saya rasa bukan model berkebangsaan seperti itu yang dicita-citakan dan diperjuangkan oleh para pahlawan dan pendiri bangsa ini.

Sekali lagi, ini sebuah buku yang sangat baik untuk dibaca dan dijadikan referensi sejarah. Semoga kita bisa lebih menghargai petjuangan mereka. Dan mampu lebih baik lagi memaknai keIndonesiaan kita.