Monthly Archives: April 2013

Mengelabui Garis Tangan.

Standard

Telapak TanganSeorang keponakan memasang foto telapak tangannya sebagai profile blackberry-nya. Karena cukup unik, maka saya meng-click gambar itu. Wah… ada banyak garis-garis kasar dan halus tentunya.  Mengingatkan saya akan Palmistry, alias ilmu Baca Garis Tangan. Tentu saja saya bukanlah seorang ahli Palmistry. Namun demikian, saya punya pengalaman masa kecil yang menarik berkaitan dengan garis tangan ini.

Suatu kali,  saya menemukan sebuah sisipan berupa buku kecil dari salah satu majalah wanita langganan ibu saya. Sisipan itu mengulas tentang Garis Tangan dan artinya. Dijelaskan bahwa setiap garis di telapak tangan kita itu ada maknanya.

Ada yang bernama Garis Kehidupan (Line of Life), yakni garis  yang berasal dari suatu titik diantara Jempol dengan Jari Telunjuk, melengkung mengikuti alur jempol dan berakhir di tengah pergelangan tangan,  menceritakan tentang nasib kesehatan seseorang.

Lalu ada yang bernama Garis Kepala (Line of Head),  juga asalnya berada di posisi antara jempol dengan jari telunjuk, namun ia membelah telapak tangan menjadi dua bagian, atas dan bawah, sehingga ujungnya berakhir di seberang jempol. Garis ini konon menceritakan kemampuan isi kepala seseorang.

Berikutnya ada lagi yang namanya Garis Hati (Line of Heart), berada di atas Garis Kepala.Tapi berawal justru dari bawah kelingking terus memanjang menyeberangi telapak tangan  dan berakhir di bawah telunjuk.  Konon garis ini menceritakan kepekaan hati  seseorang.

Lalu ada lagi yang  menarik, yakni garis yang tegak lurus ke atas. Membelah telapak tangan menjadi dua bagian, kiri dan kanan. Yang tegak lurus di bawah jari tengah namanya Garis Karir, sedangkan yang tegak di bawah jari manis disebut Garis Sukses.

Saya pikir saya memiliki Garis Kehidupan yang baik, Garis Kepala yang baik dan demikian juga Garis Hati yang baik. Tapi Garis Sukses? Garis Karir? Wadow!! Ternyata saya tidak mempunyai Garis Karir dan Garis Sukses sama sekali. Tangan saya bersih. Tidak ada sepotong garis tegakpun di situ. Saya tidak punya. Lah? Apakah itu berarti kelak saya tidak akan punya karir? Atau malah tidak akan pernah sukses?

Tentu saja tidak ada yang mewajibkan saya untuk percaya akan apa yang dikatakan dalam buku sisipan itu. Setiap orang boleh percaya boleh tidak. Kebetulan saya termasuk orang yang berpendapat bahwa setiap ilmu, apapun jenisnya tentu memiliki sekian % kebenaran dan sekian % tantangan yang masih perlu dieksplorasi dan dibuktikan kembali kebenarannya sesuai dengan waktu, lokasi, kondisi dan dimensi lainnya.

Ilmu Biology memiliki sekian % kebenaran, sekian % sisa pertanyaan yang belum terjawab. Demikian juga Matematika, Sejarah, Fisika, Kimia, Farmasi, Parasitology, Virology, Astronomi, Filsafat dan sabagainya. Semuanya sama.  Masalahnya hanyalah, siapa yang tahu pasti besar kecilnya persentase kebenaran dari masing-masing ilmu itu? Saya pikir hingga saat ini belum ada manusia yang mampu menjawabnya. Kebenaran mutlak itu hanya ada padaNYA.

Termasuk Ilmu Palmistry seperti dalam buku sisipan majalah wanita itu. Jadi sekian %-nya ya….saya percaya juga. Karena saya pikir ilmu ini ada, pasti ditulis berdasarkan pengalaman atau catatan para orang bijaksana jaman dulu. Walaupun sekian %-nya tetap saja saya penasaran mencari penjelasan logika akan kebenaran ilmu itu.

Selain itu, saya juga termasuk orang yang berpendapat bahwa ada terlalu banyak ilmu di dunia ini. Ada yang kita kuasai, ada yang tidak. Misalnya ada orang yang jago ilmu Kimia tapi mungkin tidak paham ilmu Tata Bahasa. Ada orang lain yang lebih paham ilmu Agama, tapi mungkin lemah penguasaannya di bidang Ilmu Geology. Dan sebagainya. Dan pastinya, jika kita menguasai sebuah ilmu dengan baik, bukan berarti bahwa ilmu kita sendirilah yang paling benar dan ilmu orang lain yang tidak kita kuasai itu salah.

Kembali lagi ke soal Garis Telapak Tangan ini. Semakin sering saya menengok sisipan itu kembali, akhirnya saya mulai memiliki pikiran lain.  Apa yang sebenarnya  mempengaruhi garis tangan itu? Apakah benar-benar murni karena kelahiran, atau dipengaruhi juga oleh faktor lain setelah kelahiran? Saya mencoba menekuk telapak tangan saya dan mulai menyadari bahwa bentuk garis tangan itu, ternyata  juga dipengaruhi oleh kebiasaan kita menggenggam dan cara kita menekuk telapak tangan kita. Terbukti bahwa di tempat di mana kita menekuk, di tempat itulah muncul garis. Semakin dalam kita menekuk, semakin dalam pula garis itu. Ah!! Seketika saya merasa mendapatkan pencerahan. Jadi….belum tentu garis tangan itu ada hubungannya dengan nasib, tapi justru dengan kebiasaan kita sehari-hari.

Saya lalu berlatih menekuk telapak tangan saya secara vertikal, sehingga terbentuk garis vertikal yang membelah telapak tangan kiri-kanan di bawah jari tengah. Dan juga di bawah jari manis. Setiap hari dalam setahun. Selama beberapa tahun.  Walhasil, setelah bertahun-tahun saya melakukan kebiasaan itu…horeeee!!! Sekarang saya punya Garis Karir dan Garis Sukses!. Tentu saja buatan! Di kedua telapak tangan saya. Kiri dan kanan!. Saya berhasil mengelabui Garis di Telapak Tangan saya sendiri.

Nah..itu adalah cerita saya tentang masa kecil saya.  Sekarang garis-garis di telapak tangan saya sudah sangat banyak, karena tangan saya mulai sedikit keriput. Seiring dengan menuanya kulit saya.  Tapi apakah berarti saya benar-benar berhasil mengelabui nasib saya?

Apakah akhirnya sekarang saya punya karir yang hebat? Ya… tidak hebat-hebat amat juga. Tapi ya.. saya punya pekerjaan dan karir juga sih… Tapi menurut saya, jelas-jelas  itu karena usaha, pembelajaran, pemikiran, kreatifitas serta kerja keras yang saya lakukan secara konsisten selama puluhan tahun. Jelas bukan karena Garis Karir di tangan saya itu.

Lalu apakah saya sukses? Entahlah! Bagi saya sukses itu sangat relatif. Apa yang buat saya terasa sukses, belum tentu berarti sukses bagi orang lain. Berhasil membujuk anak saya makan dengan baik, buat saya sudah sukses. Berhasil mencapai target penjualan, menurut saya juga itu artinya sukses. Berhasil mengembangkan dan memasarkan sebuah produk baru , bagi saya itu juga sukses. Berhasil menebar biji bunga zinnia dan membuatnya berbunga juga itu sebuah kesuksesan. Namun menurunkan berat badan, saya pikir saya belum sukses-sukses juga. Ah..sebenarnya, selain banyak cerita sukses,  banyak sekali cerita gagal juga dalam kehidupan saya. Mungkin berimbanglah  jumlahnya

Dan lagi-lagi saya pikir sekarang, tentu saja hal itu tidak ada sangkut pautnya dengan garis tangan saya. Juga tidak ada urusannya dengan kesuksesan saya membuat Garis Sukses buatan di telapak tangan saya.  Sukses terjadi ketika kita berusaha keras dengan cara yang baik dan benar dalam melakukan apa yang ingin kita lakukan. Bukan terjadi ketika kita memiliki Garis Sukses di telapak tangan kita.

Demikianlah kisah Garis Karir dan Garis Sukses di telapak tangan saya. Apakah ada yang ingin mencobanya juga?  Ha ha..

Advertisements

Ha Long Bay: Mengunjungi Istana Surga, Gua Thien Cung.

Standard

Stalagtit & Stalagmit 12Salah satu tujuan utama menumpang kapal Cruise di  Ha Long Bay adalah untuk berkunjung ke gua-gua yang sangat banyak ada di sana. Menurut Mr Bon, guide yang mengantarkan kami ada banyak sekali gua kapur di sana, namun yang dibuka resmi untuk wisatawan hanyalah  5 buah. Salah satu diantaranya adalah Thien Cung Cave atau jika diterjemahkan artinya adalah Gua Istana Surga. Ke Gua inilah kami akan berkunjung.

Mulut gua ini berada beberapa belas meter di atas permukaan laut.  Saya sempat ragu-ragu untuk ikut,mengingat  kaki saya yang mudah cramp, lutut yang kadang sakit dan sebelumnya saya mengalami sakit kepala yang luar biasa saat berada dalam bus  di perjalanan dari Ha Noi menuju Ha Long. Saya sadar, bahwa saya sedang tidak terlalu sehat untuk memanjat tebing setinggi itu.  Namun seorang teman memberi saya semangat “Rugi kalau sudah sampai di sini, tapi tidak sempat melihat gua”.

Ya..saya pikir ada benarnya juga. Apalagi saat itu kepala saya sudah mulai berkurang rasa sakitnya. Kenapa saya harus membiarkan diri saya lemah tak berdaya. Akhirnya setelah bertanya kepada guide  mulai dari  jumlah tanjakan yang harus saya lalui agar bisa sampai di mulut gua hingga apakah ada pedagang air minum di atas sana, sayapun membulatkan tekad saya untuk mendaki bukit batu kapur itu. Saya membeli air minum sebotol di tepi pantai, lalu dengan hanya membawa kamera saja, berangkatlah saya ke atas.

Stalagtit & Stalagmit 3Ternyata pendakian ke mulut gua itu tidak sesulit yang saya bayangkan. Walaupun tempatnya di tebing yang tinggi, namun jalan menuju ke mulut gua itu sudah dikelola dengan baik. Ada banyak tanjakan dengan pegangan yang sangat membantu pengunjung untuk mendaki. Saya juga bisa berhenti di tengah jalan setiap saat jika perlu. Menyisih sebentar untuk membiarkan kaki dan nafas saya istirahat sejenak,  sambil melemparkan pandangan ke arah laut dan melihat kapal-kapal yang berlalu lalang,  sebelum mendaki kembali. Sehingga tanpa terlalu merasa kelelahan, tibalah saya di mulut gua.

Begitu melewati lorong pintu masuk yang tingginya pas seukuran lelaki dewasa, saya  merasa tercengang dengan keindahan pemandangan yang ada.  Ruangan gua yang sangat besar. Mirip sebuah aula besar tempat diadakannya pesta pernikahan mewah.  Batu-batu yang  turun menjuntai dari atas dan tumbuh dari bawah menghiasi  ruangan gua itu. Itulah Stalagtites dan Stalagmites yang diajarkan di buku-buku Geography waktu di SD atau di SMP dulu. Selain cahaya yang masuk dari beberapa lubang yang secara alami ada di gua itu, gua itu juga dibantu dengan beberapa lampu warna-warni  merah, jingga, kuning, putih, hijau, ungu dan biru yang sangat mengesankan.  Berada di dalam gua itu terasa seperti sedang berada di dalam sebuah theatre raksasa. Sama sekali tidak terasa gelap. Seorang teman berkata, gua semacam ini juga bisa kita temukan di pesisir pantai Pulau Jawa, tapi sayang belum dikelola dengan baik oleh pemerintah kita, sehingga belum banyak mampu menarik wisatawan.  Sayang sekali.

Stalagtit & Stalagmit 4Udara di dalam gua juga sangat sejuk seperti berada di dalam ruang ber AC. Jauh sekali dari bayangan saya akan gua yang panas dan lembab yang penuh bau amonia dari kotoran kelelawar dimana ular berbisapun hobby nongkrong di sana. Gua ini benar-benar bersih dan sejuk.Tidak ada sedikitpun coretan-coretan vandalisme di sini.  Beberapa bagian dasar gua yang saya lintasi ada juga yang terasa basah dan agak licin akibat tetesan tetesan air yang jatuh dari atap gua. Jadi, saya juga berjalan harus sedikit berhati-hati jika tidak mau terpeleset.

 Saya memperhatikan berbagai macam bentuk dari Stalagmites yang tumbuh dari lantai gua akibat tetesan air yang mengandung batu kapur dari atap gua. Ada yang berbentuk cendawan, mirip kol atau brokoli yang bertingkat-tingkat, ada yang mirip patung orang-orang suci atau ksatria, ada juga yang hanya sekedar meruncing ke atas.  Saya meraba beberapa stalagmites itu dengan tangan saya dan merasakan batu itu sangat keras dan kokoh.  Lalu dari atap gua menggantung beratus-ratus Stalagtites. Bentuknya juga sangat beragam. Kebanyakan mirip tirai-tirai kain, tapi jika kita perhatikan dengan seksama , ada juga yang bentuknya mirip  singa yang sedang mengaum. Dab jika kita perhatikan semakin jauh lagi  ornamen alam di gua itu secara keseluruhan malah kita bisa menemukan ada yang  mirip wajah manusia, mirip burung elang dan sebagainya. Secara kesuluruhan gua Thien Cung ini terlihat sangat indah dan menarik. Tidaklah mengherankan jika ia diberi nama Gua Istana Surga alias Thien Cung.

 Melihat alam yang sedemikian indah dan  membayangkan kekuatan geology yang membentuknya, betapa saya merasa sangat kecil dan tidak tahu apa-apa di hadapanNYA. Sangat bersyukur, saya diberi kesempatan untuk melihat salah satu keajaiban alam ini.

Ha Long Bay: Pulau-Pulau Batu Karang Yang Menawan.

Standard

Ha Long Bay Stone Islet 6Kapal yang saya tumpangi terus berlayar dan mulai mendekati pulau-pulau batu yang tampak bertebaran di depan kami. Saya bergegas menghabiskan makan siang saya,lalu berjalan ke deck kapal. Air laut sangat tenang siang itu. Angin laut bertiup semilir dan sejuk. Kabut tipis menyelimuti perairan laut indah itu. Sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan.  Batu-batu karang tampak mencuat muncul dari permukaan laut mirip duri-duri di punggung naga.  Bertebaran dalam jumlah yang sangat banyak. Menurut guide yang mengantarkan kami, jumlahnya adalah 1959 buah. Wow! Dan Ha Long Bay yang terletak di Teluk Tonkin ini merupakan salah satu area yang diresmikan sebagai “UNESCO world Heritage Site “  pada tahun 1994. Read the rest of this entry

Menuju Ha Long Bay.

Standard

sawah yang menghijauHari berikutnya di Vietnam Utara diisi dengan perjalanan ke Ha Long Bay.  Perjalanan ditempuh selama sekitar 4 jam. Melalui jalan utama Vietnam yang  menurut guide kami jika diteruskan akan menuju ke China.  Saya mendengar angka kecelakaan di jalur ini sangat tinggi, sehingga pemerintah menerapkan peraturan dilarang ngebut. Bus hanya boleh berjalan dengan kecepatan yang sangat rendah di jalur ini.  Sehingga jalur  Ha Noi – Ha Long yang sesungguhnya tidak terlalu jauh itupun hanya bisa kami tempuh dalam waktu yang cukup panjang.  Tapi tidak apa-apa,karena selain bagus untuk keselamatan banyak juga yang bisa kami lihat di jalanan.

Satu hal yang menarik adalah hamparan sawah yang luas nan menghijau di kiri kanan di luar kota Ha Noi. Bebek bebek terlihat banyak berjemur di pinggir sungai. Para petani yang sedang sibuk bekerja di sawah, para wanita yang mengangkat hasil pertanian dan  mengangkutnya dengan sepeda. Mengingatkan akan pedesaan di Indonesia yang dulu juga subur dan hijau oleh hamparan sawah.  Udara yang sejuk dan air yang melimpah, membuat pertanian merupakan bidang yang sangat sukses di Vietnam. Jadi terbayang wangi beras Vietnam yang dihasilkan oleh sawah-sawah berair jernih ini. Read the rest of this entry

Ha Noi: Blusukan Di Pagi Hari.

Standard

Pedagang DI Hanoi 11

Seorang teman yang  sebelumnya pernah mengunjungi Ha Noi mengajak saya untuk blusukan ke pasar traditional pada suatu pagi. Menurutnya ia pernah berjalan dari arah Danau West Lake, masuk menyusuri gang-gang yang ada, melihat-lihat pemandangan kota Hanoi yang lama hingga tanpa sengaja menemukan pasar traditional itu. “Wah..bagus banget. Banyak sekali pedagang bunga-bunga dan sayuran menggelar dagangannya “ Ujarnya. Teman saya itu kebetulan memang sangat menyukai photography.  Spesalisasinya membuat  pemandangan yang bagi kita orang awam sangat kumuh, kotor dan busuk menjadi sangat indah dan mengesankan dengan jepretan kameranya.  Dengan penuh semangat sayapun mengikutinya. Read the rest of this entry

Hanoi: Danau Hoan Kiem Dan Legenda Kura-Kura.

Standard

ngoc  Son TempleBerdiri di pinggir danau ini pada suatu sore memberi kedamaian tersendiri. Udara kota Ha Noi yang sejuk di bulan April berkisar sekitar 20° Celcius. Permukaan danau yang tenang memantulkan segala sesuatu yang berada di atasnya, membuat bayangan indah dahan-dahan pohon yang menjuntai dari pingggiran danau.  Banyak orang duduk-duduk di bangku taman di sekelilingnya. Memang sebuah tempat yang sangat menarik untuk berjalan-jalan di sore hari yang sejuk. Read the rest of this entry

Scarlet Headed Flowerpecker, Si Burung Cabe.

Standard

Scarlet Headed Flowerpecker 4Minggu kemarin, ketika duduk-duduk di halaman rumah, ada seekor burung yang mampir dan sangat menarik perhatian saya. Burung berukuran sangat kecil, bahkan mungkin nyaris setengahnya dari ukuran burung gereja,namun warnanya sangat cemerlang. Terbang melintas dengan cepat, kelihatannya akan menuju semak Kacapiring (Gardenia jasminoides) atau ke pohon Pucuk Merah (Syzigium sp).Tapi karena ada saya di sana, burung itu memindahkan haluannya, lalu bertengger di pohon bunga Tabebuia yang dijadikan peneduh di halaman rumah. Hanya beberapa detik, lalu terbang lagi dengan cepat entah kemana. Saya sangat senang bisa melihatnya , namun juga sekaligus kecewa karena ia pergi terlalu cepat. Read the rest of this entry

Wanita Dan Tas Tangannya.

Standard

Isi Tas Wanita

Seorang teman bercerita tentang betapa herannya ia akan kelakuan istrinya yang menyimpan segala macam barang di dalam tas. “Segala macem barang deh dimasukin. Kalu dompet dan peralatan kosmetik, saya bisa mengertilah. Tapi ini? Segala macam.Masa sak bon-bon, struk belanja segala disimpan sih? Kan itu sampah? Pantes saja berat ” Katanya. Lalu sambil tertawa ia melanjutkan “Sungguh! Wanita itu memang sulit dimengerti, ha ha ha..” . katanya tertawa terbahak-bahak.

Oops!. Seorang teman wanita yang kebetulan ada di sana  berkata,“Di dalam tasku juga banyak bon-bon yang seperti itu, Pak. Disimpan aja dulu, siapa tahu nanti diperlukan. Tapi nanti kan sekali waktu dibersihkan dan dibuang juga kalau memang sudah pasti tidak ada gunanya” jelas teman saya membela diri.Seolah dia yang dituduh. Padahal kan teman saya itu sedang membicarakan istrinya. Read the rest of this entry

Violces Ibu Mertuaku.

Standard

Violces 3Ada dua hal yang selalu mengingatkan saya akan Ibu mertua saya. Yakni Rajutan dan  Bunga Violces. Mengapa bunga Violces? Karena ketika kami baru menikah dan suami saya sering mengajak saya pulang ke rumahnya, saya melihat ibu mertua saya menyiram,membersihkan daun-daun violces ini dan menggeser-geser potnya di teras depan. Sebagai mantu baru, sayapun ikut berjongkok membantu ibu mertua saya melakukan aktifitas hariannya itu. Saya ingat ada belasan atau puluhan pot-pot kecil dengan bunga-bunga Violces berwarna-warni yang dipelihara. Ada yang berbunga ungu, biru, pink,putih, pink tua dan sebagainya. Ada yang mahota bunganya polos selapis, ada juga yang berlapis. Jenis daunnya ada yang kecil dan ada yang sedikit lebih lebar. Ada yang polos, ada yang kelihatan berkerut, ada yang agak bertulang. Namun semuanya terlihat indah. Lebih sering trelihat berbunga banyak dibanding tidak berbunga. Selama bertahun-tahun  pemandangan Violces berbunga ini menghiasi teras depan, sehingga saya hapal. Read the rest of this entry

Chocolate Pansy Butterfly.

Standard

Chocolate Pansy ButterflyAda banyak jenis kupu-kupu yang jarang tertangkap masuk ke dalam jepretan kemera saya. Salah satunya adalah Kupu-kupu coklat yang memiliki corak sayap yang serupa dengan tampilan minuman coklat misalnya chocolate machiatto dan sejenisnya.   Karena coraknya yang indah itu, secara umum tampilan kupu-kupu ini tetap terlihat menarik, walaupun warnanya tidak meriah dan terlalu dekat dengan warna tanah.  Itulah Kupu-Kupu Sayap Coklat alias Chocolate Pansy Butterfly (Junonia iphita). Read the rest of this entry