Category Archives: Veterinary, Pets & Animals

The Hunter.

Standard

img_20151030_082711.jpgSaya punya 3 ekor anak kucing yang sekarang sudah mulai besar. Lahir dari seekor kucing liar betina yang diberi makan sejak kecil oleh anak saya. Lama kelamaan kucing betina yang diberi nama Cudly itu betah di rumah dan beranak.

2015-11-23-07.16.12.jpg.jpegTiga ekor anak kucing itu sangat berbeda warnanya. Yang lahir paling awal berwana hitam dengan sedikit bercak putih. Yang lahir ke dua berwana putih dengan sedikit bercak hitam. Sedangkan yang ke tiga berwarna coklat penuh. Karena tidak sempat memikirkan namanya kami menyebut anak kucing itu dengan kode warnanya saja. Si Hitam, Si Putih dan Si Coklat. Induknya sendiri belang tiga, Putih dengan bercak Hitam dan coklat.

Tingkah lakunya pun berbeda beda. Si Coklat cenderung serius. Hobinya makan. Sehingga paling gendut diantaranya. Si Putih sangat tenang dan lembut. Ia seekor kucing rumahan. Sedangkan Si Hitam kucing yang sejak lahir sudah ketahuan bibit bibit bandelnya.

Hal ini membuat saya semakin percaya bahwa setiap individu itu sudah membawa sifatnya masing-masing di luar nilai-nilai kehidupan yang dibangun keluarganya. Walaupun satu keluarga, belum tentu sifatnya sama.

img_20151106_191532.jpgMata kucing saya yang hitam ini termasuk “belo” untuk ukuran mata kucing.
Kelakuannya ampuun. Sangat nakal. Ia hobby merusak tanaman saya. Memanjat barang anggrek dan pohon cabe, lalu menarik-nariknya sampai mati. Ia juga menginjak-injak tanaman sayur saya. Seekor kucing preman. Kalau dilarang, maka ia akan melawan. Matanya melotot tanpa bersalah. Seolah-olah menantang bahwa apa yang ia lakukan adalah benar. Namun demikian tampang dengan mata belonya itu selalu kelihatan lucu.

Suatu hari ia terlihat sedang bermain main dengan sebuah benda berwana hitam di kakinya. Benda itu bergerak-gerak menandakan bahwa ia adalah mahluk hidup. Segera saya mengambil kacamata minus saya. Ya ampuuun…setelah saya perhatikan, benda hitam itu  ternyata seekor anak kelelawar. Dengan segera saya merebut anak kelelawar itu dari kakinya. Takutnya luka luka akibat cakaran kucing. Anak kucing saya terlihat tidak setuju. Ia pun memandang saya dengan mata protes. matanya membesar. Aduuuh…..Ia benar -benar tidak paham bahwa anak kelelawar kecil yang jatuh  itu perlu ditolong dan dilepas ke alam lagi. Bukannya diuyek-uyek dijadikan mainan.

20151209_153043.jpgKebandelan berikutnya yang ia lakukan adalah kabur dari rumah. Ketika saudara-saudaranya yang lain masih sibuk menyusu dan bermalas-malasan dengan induknya, Si Hitam sudah belajar memanjat tembok dan naik ke atap genteng. Semakin dilarang, semakin ia menjalankan niatnya. Jika diturunkan,ia segera naik lagi.

Suatu kali ia kabur dari rumah. Saya sedih bukan kepalang. Coba telusuri dan tanya-tanya tetangga. Barangkali ada yang ketemu. Tapi tidak ada seorangpun yang melihatnya. Ia menghilang begitu saja, seolah-olah ditelan bumi. Walaupun ada yang memberi tahu “kucing jantan memang suka kabur” tapi tetap saja saya merasa sedih. Ia masih terlalu muda.

Setelah beberapa hari menghilang, akhirnya saya mulai bisa menerima keadaan. Berpikir barangkali ada yang sudah mengadopsinya dan memberinya makan. Biarlah,kalau memang begitu. Semoga saja demikian. Setidaknya ia tidak kedinginan dan kelaparan di jalanan.

Tapi pada suatu malam, ketika Si Mbak pulang dari ruko, ia melihat Si Hitam sedang mengeong di dekat Tukang Pecel Ayam. Bercampur dengan kucing -kucing liar yang lain, Si Hitam rupanya menjadi sangat kurus kering. Akhirnya Si Mbak memanggilnya dan kucing hitam itupun pulang kembali ke rumah. Saudara saudaranya sangat senang  ia kembali. Demikian juga dengan saya dan anak-anak. ia segera mendapatkan makanan yang enak dan dimandikan oleh anak saya.

20151209_153110.jpgSetelah itu ia anteng selama beberapa hari. Ia menjalankan tugas menjaga rumah di halaman belakang. Selama ia ada, tidak ada seekor tikuspun yang berani masuk ke halaman. Jika ada yang berani menunjukkan moncongnya sedikit saja, langsung ia terkam tanpa ampun. Beberapa kali ia pergi keluar rumah tapi setelah sehari dua hari ia pulang kembali. Jadi saya tidak terlalu mengkhawatirkannya.

Nah  kemarin pagi, kebetulan saya kurang sehat karena flu dan demam. Saya tidak berangkat ke kantor.  Anak saya memberitahu kalau semalam Si Hitam menangkap seekor Burung Merpati dan mengoyak-ngoyak sayapnya. Ya ampuuun. Kasihan banget burung merpatinya. Saya memeriksa burung merpati itu sebentar. Lukanya tidak separah yang saya duga. Rupanya sudah dikasih obat merah oleh Si Mbak. Setelah agak pulih, burung merpati itupun dilepaskan kembali ke alam bebas. (Saya lupa mengambil foto burung merpati  yang menjadi korban perburuan Si Hitam).

Dan hari ini , anak kucing hitam itu pergi lagi keluar rumah. Saya tidak tahu akankah ia kembali lagi dan kapan. Entahlah. Saya rasa darah pemburu mengalir deras dalam dirinya. Ia seekor petualang sejati. Tak ada gunanya saya berusaha memaksanya menjadi kucing rumahan yang lucu dan manja. Karena alam liar menunggunya di luar sana. Tempat di mana ia menemukan jiwanya sendiri. Tempat di mana ia bisa berdamai dengan nalurinya sendiri.

Dan sebaiknya saya tidak usah terlalu mengkhawatirkan hidupnya.Ia akan menemukan makanannya sendiri tanpa harus dibantu oleh manusia seperti saya. Karena ia seekor pemburu sejati.

Advertisements

Dunia Pinggir Kali: Burung Peking Di Awal Musim Penghujan.

Standard

Wildlife nextdoor.

Musim kemarau yang panjang tahun ini akhirnya berakhir. Hujan mulai turun menghapuskan panas terik yang mendera selama beberapa bulan sebelumnya.  Saat itu hampir semua tanaman terganggu dan nyaris layu jika tidak rajin-rajin menyiraminya. Tetapi sekarang rasanya lebih lega. Sesekali saya menengok ke kali di belakang rumah. Untuk melihat kehidupan burung-burung liar di sana selama pergantian musim. Apakah mereka masih ada di sana?

Tetangga sebelah sedang membetulkan rumahnya. Banyak puing sisa pengerjaan bangunan berserakan. Selain itu bunyi ketak-ketok tukang yang bekerja saya rasa juga ikut mengganggu kehidupan liar di tepi kali.  Tapi rupanya kekhawatiran saya tidak terlalu beralasan. Memang ada jenis burung yang tak terlihat sepanjang November ini – seperti misalnya Burung Kipasan (Rhipidura javanica). Saya tidak melihat dan tidak mendengar suaranya sama sekali.  Demikian juga Burung Caladi Tilik (Dendrocopos moluccensis). Tetapi masih cukup banyak yang exist dan tertangkap oleh kamera saya. Salah satunya adalah Burung Peking (Lonchura punctulata).

Burung Peking 1

Kali ini rumput benggala tak banyak tumbuh di pinggir kali.  Syukurnya masih ada serumpun yang sedang berbunga dan berbiji.  Cukup untuk mengundang kedatangan Burung Peking yang giat bekerja di pagi hari.

Alangkah sibuknya burung ini  memanen biji-biji rumput benggala dan bermain-main di batangnya. Kepala dan lehernya coklat tua, dengan punggung juga berwarna coklat namun masih lebih terang. Perutnya berwarna putih bermotif mirip sisik. Sebenarnya burung kecilini sangat cantik. Gerak geriknya juga sangat menyenangkan untuk ditonton.

Burung Peking biasanya lebih senang bergerombol. Mencari makan tidak sendirian, tapi beramai-ramai dengan kelompoknya. Tapi kali ini saya melihatnya hanya bermain-main sendiri dengan anteng. Sayang jika tidak diabadikan.

 

Dunia Pinggir Kali: Anak Biawak.

Standard

Wildlife next door.

Sudah lama saya tidak melihat Biawak alias Asian Water Monitor (Varanus salvator) yang biasanya berkeliaran di kali belakang rumah. Sarangnya kelihatan tak berpenghuni karena tak terlihat jejak-jejaknya lagi di sana. Entah kemana perginya. Hati saya sangat sedih. Saya menduga kalau biawak itu pada ditangkapin dan dijadikan sate oleh orang-orang yang tidak perduli pada kelestarian lingkungan.

Syukurnya sejak bulan Oktober lalu saya mulai ada melihat penampakan seekor anak Biawak kembali.  Mudah-mudahan yang ini bisa berkembang dengan selamat hingga dewasa dan tua.

Anak Biawak 2Anak biawak merayap di tembok kali.  Ukurannya masih sangat kecil. Bisa dibandingkan dengan daun di sebelahnya. tak berbeda jauh dengan ukuran tokek.

Anak Biawak 1Ia merayap ke atas. Kepalanya sangat mirip kepala ular tapi bertelinga. Warnanya kekuningan di timpa sinar mathari. Garis-garis di lehernya serta bercakbercak di punggung serta ekor dan kakinya membentuk design yang sangat khas.

Anak Biawak 3Sejenak ia memalingkan mukanya sebelum berupaya merayap semakin naik.

Anak Biawak 4Sekarang ia ingin tahu ada apa di balik tembok. Atau inginmenjajalkemampuannya memanjat tebing?

Anak Biawak 5Ia berjalan di atas tembok kali. Sayang tidak menemukan apa yang ingin ia cari. ia pun berbalik lagi dan memanjat tembok berikutmya.

Anak Biawak 6Lihatlah! Lidahnya bercabang dua. Ia mendeteksi panas dan menyambung pesan akan bau mangsanya ketika ia menjulurkan lidah bercabangnya ke udara.

Biawak memakan kodok, ikan, tikus, burung ataupun ular yang ia temukan di pinggir kali.

Yuk kenali dan cintai lingkungan hidup kita!

Yogyakarta : Menonton “Bird Free Flight”

Standard

Anda pencinta burung? Ingin tetap bisa memelihara burung kesayangan anda tanpa harus mengurungnya dalam sangkar?  Barangkali Free Flight Training untuk burung anda, merupakan jawaban yang baik.

****************************************************************************************************

Burung Wood Swallow

Ini masih cerita di Alun-Alun Utara  Yogyakarta. Ketika saya sedang sibuk memotret sekawanan burung yang hinggap di atas beringin, saya melihat Ricky, teman saya ngobrol dengan seorang anak muda. Ricky melambaikan tangannya ke saya. Saya pun mendekat. Wow! Rupanya ada seekor burung liar di tangannya. Burung berwarna hitam kelabu dengan dada dan perut putih ini terlihat sangat indah. Saya mencoba mengingat-ingat burung apa itu. “Bukannya ini Wood  Swallow ya?” tanya saya. Anak muda yang kemudian saya kenal bernama Adi itu terlihat sedikit terperanjat. “Wah! Kok Ibu tahu ?” tanyanya. “Benar Bu. Ini Wood Swallow“katanya.  “Padahal burung jenis ini sangat jarang lho Bu yang memelihara. Bukan jenis burung yang bersuara merdu” lanjutnya lagi. Ya saya setuju. Burung jenis ini sangat jarang di pasaran burung untuk diperdagangkan. Barangkali memang karena suaranya tidak tergolong merdu sehingga orang kurang tertarik memelihara.

Saya pencinta Burung. Terutama Burung Liar di alam lepas. Ada beberapa jenis burung yang saya kenal. Dan lebih banyak lagi jenis yang saya tidak tahu. Tapi saya tidak memelihara burung. Tidak senang melihat burung dalam sangkar” kata saya. Mendengar itu Adi lalu berkata “Sama Bu. Saya juga pencinta burung. Tapi tidak senang melihat burung dalam sangkar. Itulah sebabnya kenapa saya bergabung dalam Free Flight ini. Biar tetap bisa memelihara burung tanpa harus mengurungnya dalam sangkar“. WOw! Giliran saya yang terperanjat.

Free Flight! Ide yang kedengarannya sangat menarik di telinga saya. Adi lalu bercerita bagaimana asal mulanya ia memelihara Burung Wood Swallow alias Burung Kekep (Artamus leucorynchus). Ia menemukannya sejak usia masih lolohan (bayi) di pasar burung. Ia merawat dan memberi makan bayi burung itu dengan penuh kasih sayang dan melatihnya terbang. Sejak kecil memang tidak pernah disangkarkan. Boleh terbang bebas kemanapun ia suka.  Barangkali karena ia merasa di sana rumahnya, burung itu pasti pulang kembali walau sejauh apapun ia  terbang. Menarik ya?  Bagi saya cerita itu sangat menarik, walaupun sebelumnya saya pernah mendengar cerita serupa tentang burung  bangau yang selalu pulang ke rumah pemeliharanya, walaupun ia terbang jauh.

Love Bird

Selain  Wood Swallow, rupanya Adi juga memelihara seekor Love Bird berwarna biru yang sering dilatihnya terbang bebas.  Saya terpesona melihat burung itu terbang bebas di udara, tapi begitu merasa lelah iapun cepat-cepat turun dan hinggap di tangan Adi.

Adi memberinya makan. Mengusap-usap kepalanya dan melatihnya terbang sambil ia sendiri ikut berlari bersama. Burung itu terbang dengan riang di sampingnya. Saya pikir ia memang seorang penyayang burung. Sehingga tidak berkeberatan mengalokasikan waktunya hanya untuk merawat, memelihara dan  melatih anak burung itu hingga dewasa.

Adi juga memperkenalkan saya pada rekan-rekan pencinta burung dan free flight yang tergabung dalam Yogyakarta “Parrot Lovers” yang sore ini bersama-sama melatih terbang burung kesayangannya masing-masing.

Sore itu Alun -Alun Utara penuh warna warni burung-burung paruh bengkok, mulai dari Love bird, Sun Conure, Australian Cockatiel dan sebagainya.  Burung -burung itu benar-benar terbang bebas. Ada yang terbang lalu hinggap di tanah Alun-Alun. Tapi kebanyakan kembali ke tangan pelatihnya.  Ada juga satu dua yang menclok ke bahu penonton. Termasuk ke bahu saya. Juga ke bahu Ricky. Wah.. ha ha.. rasanya sangat senang ketika ada burung yang tiba-tiba menclok begitu dengan jinaknya di bahu kita.

Cockatiel Free Fligt hinggap di bahuKami tidak takut ia terbang tinggi atau jauh. Karena pasti ia akan kembali. Yang  kami takuti justru jika ada orang yang menangkap dan memasukkannya ke dalam kandang“. kata Adi saat saya bertanya, apakah ia tidak takut burung kesayangannya itu lepas dan pergi tak kembali.

Sukses bagi teman-teman pelatih Free Flight untuk burung-burung dan teman-teman yang tergabung dalam Yogyakarta Parrot Lovers. Saya masih tetap percaya bahwa tempat terbaik bagi burung-burung adalah di alam bebas. Namun jika tidak bisa melepaskannya, maka melatihnya “Free Flight” barangkali menjadi pilihan yang lebih baik. Setidaknya dengan Free Flight burung-burung masih diberi kebebasan untuk terbang tinggi. Juga diberi hak untuk terbang jauh dan tak kembali atau akhirnya pulang. Keputusan diserahkan kepada para burung – walaupun biasanya ia akan pulang kembali.

 

Yogyakarta: Burung-Burung Liar Di Alun-Alun Utara.

Standard

Tekukur 5Minggu yang lalu saya ada di Yogyakarta dan kembali ke Jakarta pada hari Sabtu pukul 7 malam. Hari itu kebetulan urusan saya sudah selesai sekitar jam 2.30 siang.  Agak kelamaan kalau menunggu di airport. Jadi saya dan teman-teman ingin mengisi waktu dengan melihat-lihat sudut kota Yogyakarta.  Setelah berembug, kami memutuskan untuk melihat Keraton. Tapi sayangnya ketika kami tiba, Keraton sudah tutup. Yaaah…kecewa deh penonton.

Empat orang teman saya memutuskan untuk melihat-lihat batik produksi rumahan yang dipromosikan tukang becak. Saya sendiri lebih berminat untuk mengamati burung -burung liar di sekitar Alun-Alun Utara. “Melihat burung liar di lapangan?” Seorang teman saya kaget, bagaimana saya yakin di sana ada banyak burung yang bisa dipotret?. Saya tertawa. Ya..barangkali karena saya memang tertarik pada satwa liar (terutama burung-burung liar), jadi ketika kendaraan kami melewati Alun-Alun itu, dari kejauhan mata saya sudah menangkap ada beberapa ekor burung perkutut hinggap di lapangan berpasir itu.  Sementara bagi yang kurang berminat, tentu saja keberadaan urung-burung liar itu akan luput dari pandangannya. Karena mata kita cenderung mencari apa yang ingin kita lihat.

Satu orang teman saya yang lain, akhirnya memutuskan untuk menemani saya berjalan-jalan di sekitar Alun-Alun. jadilah saya berdua dengan teman saya itu memasuki lapangan yang tanahnya kering dan tandus dengan dua pohon beringin terpagkas itu. Selain dua pohon beringin yang ada di tengah lapangan, ada beberapa pohon beringin lain juga yang mengelilingi lapangan itu. Memberikan akomodasi yang cukup bagi para burung. Tak heran saya mendengar kicauan burung yang riuh serta belasan burung-burung yang berpindah dari satu pohon ke pohon yang lainnya.

1/. Burung Tekukur.

Saat memasuki lapangan, saya melihat ada belasan ekor burung tekukur sedang sibuk berjalan-jalan atau mencari makan.  Kebanyakan dari mereka berpasangan. Mengais-ngais dan mencari sesuatu di tanah dan rerumputan yang kering. Saya hanya duduk nongkrong mengamati tingkah lakunya. Burung Tekukur alias Kukur, alias Spotted Dove (Streptopelia chinensis) sebenarnya merupakan salah satu burung yang banyak disangkarkan orang. Melihatnya terbang bebas di alam membuat hati saya terasa sangat bahagia.Karena kelihatannya burung-burung itu juga sangat berbahagia. Sebenarnya mereka bisa hidup mandiri. Mereka bisa mencari makanannya sendiri- berupa biji-biji rumput maupun biji pepohonan tanpa perlu bantuan kita, manusia untuk membelikannya makanan setiap hari.

Burung-burung ini tampak santai. Ia membiarkan saya untuk tetap berjongkok mengamati tingkah lakunya dari jarak sekitar  4-5 meter. Hanya ketika saya bergerak terlalu dekat, merekapun terbang.

Sangat mudah mengenali burung ini, bahkan dari jarak yang cukup jauh. Secara umum berwarna kelabu semu coklat kemerahan dengan sayap coklat berbercak-bercak. Leher bagian belakangnya berkalung hitam putih. Kepalanya kelabu kebiruan.Paruhnya berwarna kelabu. Kakinya berwarna pink.  Melihat kalungnya, tentu kita tidak akan tertukar dengan burung jenis lain.

Suaranya sangat merdu dan penuh kedamaian bagai siapa saja yang mendengarnya “ Tekkkukuurrrrr….. tekkukuurrrrrr…“.

Melihat banyaknya yang terbang berkelompok maupun berpasangan dari satu pohon beringin ke beringin yang lainnya, saya pikir jumlah populasi burung Tekukur di area ini mungkin puluhan mendekati ratusan.

2/. Burung Perkutut.

Burung ke dua yang jumlahnya cukup banyak juga di sekitar alun-alun ini adalah Burung Perkutut. Sama dengan Burung Tekukur, Burung Perkutut  juga merupakan salah satu burung yang sangat digemari untuk dipelihara. Suaranya yng merdu “Kwarrrr ketengkung…Kwarrr ketengkung…” membuatnya diburu orang. Baik untuk didengarkan sendiri maupun untuk dilombakan. Sayang sekali ya….banyak burung ini yang nasibnya berakhir di sangkar.

Burung Perkutut alias Titiran alias Zebra Dove (Geopelia Striata) rupanya agak mirip dengan Burung Tekukur, tetapi jika kita perhatikan tentu saja banyak bedanya.  Ukuran tubuh Burung Perkutut lebih kecil dari burung Tekukur. Warnanya merupakan campuran kelabu dan coklat kemerahan. Burung Perkutut tidak memiliki kalung bintik hitam putih di leher belakangnya.  Sayapnya juga tidak berbercak-bercak, tetapi motifnya cenderung membentuk alur-alur lurik mirip motif zebra, sehingga tidak heran disebut juga dengan nama Zebra Dove.

Populasinya di area ini juga lumayan banyak. Sama seperti Tekukur, mereka mencari makan dan terbang berpasang-pasangan. Syang banyak gambar yang saya ambil sangat blur.

3/.Burung Punai.

Burung Punai

Selain ke dua jenis burung di atas, sebenarnya saya berpikir masih ada beberapa jenis burung lain yang menghuni pohon-pohon beringin di sekitar area itu. Barangkali jenis merpati lain , burung jalak dan sebagainya. Tapi saya tidak bisa melihat dengan baik.Hanya mendengar ocehan suaranya yang berbeda.  Suatu kali saya melihat serombongan burung yang awalnya saya pikir Tekukur menclok di pohon beringin di tengah alun-alun.  Saya mengarahkan kamera saya ke puncak pohon, lalu jeprat jepret ala kadarnya di beberapa bagin puncak pohon itu tanpa memeriksa lagi hasilnya. Belakangan saya baru sadar bahwa yang tertangkap oleh kamera saya justru gerombolan Burung-Burung Punai alias Green Pigeon (Treron Capellei) bukan Burung Tekukur.  Ada belasan jumlahnya bertengger di sana. Salah satunya adalah seperti yang tampak di foto di atas ini. Wahhhh…sungguh saya jadi menyesal tidak mengambil foto yang lebih baik dan lebih banyak lagi.

4/. Burung Gereja.

Burung Gereja

Berbaur dengn para Burung Perkutut dan Burung Tekukur, tak mau kalah adalah gerombolan Burung Gereja (Passer domesticus). Burung-burung kecil ini ikut sibuk mengais-ngais makanan di sela-sela rumput dan pasir Alun-alun ini. Suaranya yang bercerecet lumayan  menghibur, meramaikan suasana sore Alun-Alun Utara Yogyakarta.

5/. Burung Cerukcuk.

Burung CerukcukMenjelang pulang, tepat sebelum saya masuk ke kendaraan yang akan mengantarkan saya ke bandara, saya melihat seekor Burung Cerukcuk ( Pycnonotus goiavier) di atap bangunan tak jauh dari tempat kami parkir. Burung penanda pagi ini tampaknya hanya beristirahat sebentar di sana lalu terbang menyusul temannya dan menghilang di balik rimbunan daun-daun beringin.

Sore yang sangat menyenangkan di Yogyakarta. Senang bisa menyaksikan kehidupan liar masih ada di seputar kota. Semoga pemerintah setempat memberi perhatian terhadap kehidupan burung-burung ini,  agar kebebasannya tidak terganggu oleh tangan-tangan jahil yang ingin menangkap dan memperjual-belikannya.

Yuk kita cintai Lingkungan Hidup kita!.

 

Burung Cucak Hijau Yang Mampir Di Halaman.

Standard

Cucak Ijo 5Hari Minggu siang. Panas musim kemarau sangat terik. Anak saya yang baru kembali dari luar bercerita bahwa ia melihat seekor burung yang sangat bagus sedang bermain di kolam kecil di halaman depan.Warnanya hijau. Suaranya sangat bagus. Kicauannya sangat rame.Saya melihat ke luar. Burung itu sudah terbang. “Mungkin burung madu?” tanya saya.”Bukan!“kata anak saya.  Burungnya lebih besar dari burung madu. Anak saya merasa belum pernah melihat burung seperti itu.  Saya mencoba memikir-mikir, burung apa kira-kira yang dilihat anak saya itu.

Cucak Ijo 9Selang kira-kira dua jam berikutnya. Panas matahari mulai sedikit berkurang, walaupun terasa masih menyengat juga. Si Mbak yang lewat di halaman depan memberi tahu saya kalau ada seekor burung hijau sedang bermain di halaman. Saya dan anak saya segera keluar. Seekor burung nampak sedang meloncat-loncat di pinggir kolam. “Ya..itu burung yang tadi”  kata anak saya.

Cucak Ijo

Ooh..itu Burung Cucak Ijo alias Cica Daun (Chloropsis sonnerati). Baru pertama kali ini saya melihat burung ini di alam bebas. Selama ini saya hanya pernah melihatnya  ada di dalam sangkar pedagang burung. Sangat mengejutkan juga bisa melihatnya tiba-tiba di depan mata. Saya rasa kemarau yang panjang membawa burung itu mampir ke kolam saya untuk minum.

Cucak Ijo 11Saya dan anak saya menonton tingkah lakunya dengan takjub. Berloncatan di dekat aliran air. Lalu pindah berjumpalitan ke dahan pohon Bintaro. Sibuk berloncat-loncat di sana. Lalu pindah lagi ke dahan pohon Frangipani. Berloncat-loncatan lagi sambil berjumpalitan dan berkicau. Kelihatan benar jika hatinya sedang riang. Ia tidak takut sedikitpun pada saya dan anak saya. Membuat anak saya gemes ingin menangkapnya.”Jangan!!!. Biarkan dia bebas di alam” kata saya.

Cucak Ijo 3Lihatlah betapa riangnya ia berkicau dengan bebas merdeka. Jika kita menangkapnya dan memasukkannya ke dalam kandang yang sempit, sebenarnya kita sedang merampas kebebasannya. Merampas kemerdekaannya. Juga merampas kebahagiaannya. Memeliharanya dalam sangkar, walaupun kita merawat dan memberinya makan, tetap tidak bisa menggantikan kebahagiaannya. Mengapa kita harus menyakiti mahluk lain? Biarkanlah kebahagiaan itu tetap dimiliki burung-burung di alam bebas. Anak saya bersungut-sungut.Tapi tidak berani membantah kata-kata saya. Akhirnya kembali kami hanya menonton.

Cucak Ijo 8Burung Cucak Ijo sesuai dengan namanya memang secara keseluruhan berwarna hijau.  Sayapnya ada sedikit semu kuning kehijauan. Leher bagian bawah/kerongkongannya berwarna hitam gelap dengan bintik biru. Matanya berwarna hitam, dengan paruh gelap dan demikian juga dengan kakinya.  Makanannya biasanya adalah serangga.

Saya pikir burung ini sebenarnya bukan jenis burung langka. Akan tetapi penangkapan tak terkendali untuk diperdagangkan akan membuat burung ini cepat menghilang dari alam bebas.

Sarang, Adalah Rumah Bagi Burung-Burung.

Standard

Seekor Burung Pipit Di Sarangnya 4Di halaman rumah, ada sebatang pohon bunga Asoka putih (Ixora sp.). Bunganya yang mirip jarum cukup banyak mekar hari ini. Mengundang berbagai jenis kupu-kupu untuk mampir. Dari sela-sela daunnya yang rimbun, saya mendengar suara cericit burung pipit. Saya mendekat. Dua ekor burung pipit (Lonchura leucogastroides) tampak bertengger di dahannya yang agak tinggi. Di dekatnya sebuah sarang tampak tersangkut. Pintu sarang berada tepat di arah saya berdiri. Sehingga saya bisa melihat ke arah pintunya,walaupun posisinya agak tinggi. Kelihatan kosong. Barangkali sarang itu milik ke dua ekor burung pipit itu. Sesaat kemudian kedua ekor burung pipit itupun terbang.

Sekitar pukul dua siang saya menengok sarang burung itu lagi. Tampak seekor induk burung pipit sekarang sedang berada di dalamnya. Kepalanya kelihatan menyembul keluar. Kepalanya hitam, demikian juga paruh atasnya. Paruh bawahnya berwarna kelabu pucat nyaris putih. Dadanya putih. Saya pikir barangkali ia sedang mengerami telornya. Tapi tak lama kemudian saya melihat seekor anak burung pipit mendekati sarang. Ooh… rupanya burung itu tidak sedang mengeram. Anaknya sudah lahir dan bahkan sudah bisa terbang. Walau demikian, ia tetap pulang menemui induknya di sarangnya.

Seekor Burung Pipit Di Sarangnya 1Saya memperhatikan anak-anak burung pipit itu yang terbang jarak pendek. Kadang menclok di dahan bunga Kenanga, kadang di kawat listrik, kadang di dahan pohon Srikaya. Lalu kembali ke dahan pohon Asoka dan masuk ke sarangnya. Demikian saya mengamatinya di pagi hari, siang hari dan sore hari setiap hari selama saya liburan.

Anak saya ingin memasang jaring dan menangkap burung-burung itu.”Untuk apa?” tanya saya. Ia ingin memilikinya dan memasukkannya ke kandang. Sayapun melarang dan memberinya pengertian bahwa burung-burung itu lebih suka hidup di alam bebas. dDn kita tidak punya hak untuk merampas kebebasannya.

Betapapun enaknya makanan yang kita sediakan, betapapun mudahnya ia mendapatkan makanan, gratis dan tinggal suap saja,  burung-burung tetap lebih suka hidup di alam bebas mencari makanannya sendiri,walaupun harus bekerja keras.   Kandang yang kita sediakan mungkin lebih besar dari sarangnya, tetapi burung-burung lebih suka tidur dan bersitirahat di sarangnya sendiri. Walaupun lebih sederhana, walaupun lebih sempit.

Dua ekor anak burung pipit 1Sarang, adalah rumah bagi burung-burung. Adalah tempat untuk berlindung dari hujan, dari terik matahari, dari tiupan angin kencang. Juga tempat berlindung dari dari gangguan pemangsa dan dari orang iseng yang berbuat jahat. Rumah adalah tempat yang paling aman di dunia.

Serupa dengan kita, rumah adalah tempat untuk pulang. Titik di mana kita jadikan pangkalan untuk kembali setelah bepergian ke tempat yang dekat maupun jauh. Tempat di mana kita tidak pernah tersesat, karena kita hapal semua sudut dan bahkan kolong-kolongnya.

Rumah adalah tempat untuk beristirahat dari kelelahan, setelah seharian mencari makan dan mengais rejeki di luar rumah. Rumah memberi suntikan energi yang memulihkan semangat untuk berjuang kembali esok hari.

Sebagaimana sarang yang merupakan tempat bagi burung-burung untuk menetaskan telur dan membesarkan anak-anaknya, rumah bagi kita adalah tempat di mana kita dibesarkan dengan penuh kehangatan dan cinta. Rumah adalah tempat untuk berkumpul dengan keluarga, berbagi suka dan duka.

Sekecil apapun rumah kita, dan sesederhana apapun, rumah yang hangat diselimuti penuh dengan perhatian dan cinta para penghuninya, akan selalu menjadi tempat yang paling nyaman di dunia.

Burung Pipit di sarangnya10Saya mengajak anak saya melihat lebih dekat ke sarang burung itu melalui lensa tele. Tampak 3 ekor burung, seekor induk dan dua ekor anaknya sedang duduk berdesak-desakan di sana. Mereka kelihatan bahagia dan nyaman.  Walaupun sempit, tetapi burung-burung itu tetap lebih suka tinggal berdesak-desakan begitu di sana. Padahal anak-anaknya sebenarnya sudah besar dan bisa terbang, tapi tetap saja mereka lebih suka tinggal bersama di sarang itu. Itu membuktikan bahwa sarang itu bukan saja nyaman dan aman,namun juga hangat karena dipenuhi kasih sayang keluarga burung itu. Kehangatan itulah yang tidak akan pernah bisa kita gantikan sekalipun dengan kandang mewah berharga puluhan juta rupiah. Jadi, biarkanlah burung-burung itu tetap berada di sarangnya sendiri.

Saya mengambil beberapa foto. Anak saya sekarang sibuk mengamat-amati foto-foto burung pipit yang sedang berada di sarangnya itu. Tampak ia senang dan mulai bisa memahami apa yang saya katakan kepadanya. Ia pun mengurungkan niatnya untuk mengambil burung-burung itu dari sarangnya. Semoga ia mengerti apa arti rumah bagi setiap mahluk hidup, termasuk artinya bagi dirinya sendiri.

Attacus Atlas Si Kupu – Kupu Barong.

Standard
Kupu-Kupu Barong

Kupu-Kupu Barong

Liburan. Saya menghabiskan waktu di Sukabumi. Tidak pergi ke mana-mana, selain  hanya melihat-lihat di halaman rumah. Di bagian halaman yang berkerikil, saya melihat ada benda coklat bergerak-gerak diterbangkan angin. Sepasang sayap Kupu-Kupu  Barong yang sudah mati. Wow! Lumayan besar juga. Walaupun tidak sebesar yang pernah saya lihat di masa kecil dulu di Bali. Tapi tetap besar. Bentangan sayapnya melebihi telapak tangan saya. Tapi badan dan kepalanya kemana ya? Tampaknya sudah dimangsa semut atau binatang lain. Sehingga yang tinggal hanya sayapnya saja. Itupun di bagian ujung kirinya juga sudah sobek. Mengenaskan sekali.

Saya memanggil anak saya yang kecil agar ia bisa ikut melihat ada ngengat raksasa yang bernama latin Attacus Atlas diterbangkan angin kehalaman rumah. Walaupun cuma sayapnya saja. Anak saya ikut mengamati-amati sayap itu. Warnanya coklat dengan design yang khas Kupu-Kupu Barong.  Segitiga putih berbatas hitam di keempat sayapnya. Sayap depannya melengkung kebelakang. Lalu ada corak mirip tali di tepi sayapnya.  “Namanya apa tadi? Kupu-Kupu Barong ya Ma?” Anak saya kelihatan tertarik. Saya mengambil kesempatan ini untuk bercerita tentang Kupu-Kupu Barong  yang mulai jarang terlihat itu kepadanya.

Kupu-kupu Barong alias Rama-rama (Attacus Atlas), sebenarnya bukanlah Kupu-Kupu (butterfly). Tapi ngengat. Ngengat raksasa (moth).  Lalu apa bedanya? Tampilannya serupa? Ya..memang serupa. Tapi sebenarnya berbeda.

Sayang sekali binatang ini tidak ada badan dan kepalanya. Jika ada, kita akan bisa melihat jika antenna binatang ini pendek, lebih lebar dan berbulu.. Itulah antena moth alias ngengat. Beda dengan antena Kupu-Kupu yang biasanya lebih panjang, tipis dan kadang melengkung ujungnya. Demikian juga tubuh ngengat biasanya lebih berbulu dibanding Kupu-Kupu.

Selain itu yang membedakan adalah, Ngengat biasanya lebih aktif pada malam hari .Sedangkan Kupu-Kupu lebih aktif pada siang hari. Dan  ada satu lagi kebiasaan Ngengat jika sedang hinggap, biasanya membentangkan sayapnya. Sedangkan kupu-kupu biasanya mengatupkan sayapnya. Walaupun tidak semua kupu-kupu begitu sih. Ada juga beberapa jenis yang suka membentangkan sayapnya berlama-lama. Tapi setidaknya, memberi indikasi awal, apakah yang sedang kita lihat itu Kupu-Kupu atau Ngengat.

Ulat Kupu-Kupu Barong ini tentu saja ukurannya juga cukup besar. Kalau di Bali disebut dengan nama Bijal. Warnanya hijau. kadang kadang ada warna putih di punggungnya.  Jaman dulu sering saya lihat hidup di tanaman anggur, tanaman Srikaya,ataupun tanaman jeruk.

Kupu-kupu Barong ini belakangan mulai jarang terlihat. Saya tidak tahu pasti penyebabnya.Tapi dugaan saya adalah karena penggunaan pestisida yang meningkat jauh dibanding tahun tahun sebelumnya. Terakhir saya melihat Kupu-Kupu Barong yang sedang terbang limbung di daerah perkebunan bunga dan tanaman hias di Batu, dekat Malang beberapa bulan yang lalu.

Semoga Kupu-Kupu  Barong ini tidak punah.

 

Cerita Minggu Pagi: Melacak dan Menelusuri.

Standard

2015-06-14 10.51.49Di bunderan jalan di kompleks perumahan saya melihat 3 ekor anjing sedang bermain. Seekor Rottwelier hitam. Seekor Toy Poodle kelabu yang tampak kurang terurus. Entah siapa pemiliknya.Dan seekor anjing berbulu coklat pirang yang saya tidak tahu persis rasnya. Mirip anjing Bali tapi kalau lihat dari bentuk tubuh dan ekornya yang melingkar begitu, saya teringat jenis Shiba Inu. Jadi saya tidak tahu persis apa jenis anjing itu.

Tiba-tiba si anjing coklat itu kencing di pohon yang tumbuh di tengah bunderan itu. Wah ..rupaya ia sedang menandai tempat itu untuk mengingatkan dirinya bahwa ia pernah berada di sana. Setelah itu ia berlari.

Saya  jadi tertarik ingin mengikuti apa yang akan dilakukan berikutnya. Jadi saya ikut berlari mengikuti kemana arah anjing itu berlari. Sesaat kemudian ia berhenti. Mengendus-endus rumput di tepi jalan.Saya ikut berhenti dan memperhatikan perbuatannya. Ia melihat ke arah saya sebentar, lalu lanjut berlari lagi. Saya juga kembali berlari di belakangnya. Ia berhenti lagi. Mengendus-endus tanaman hias di tepi jalan. Saya ikut berhenti berlari dan mengamati kelakuannya lagi. Ia mengendus-endus dan akhirnya kencing di sebuah batang pohon di dekatnya. Lalu berlari lagi.

Demikian seterusnya berkali-kali. Berlari-mengendus-endus – berlari lagi, atau berlari mengendus-endus – kencing dipohon/tonggak/batu- lalu berlari lagi. Sayapun tentunya ikut berlari dan berhenti lalu berlari lagi berulang-ulang.

Saya pikir anjing itu mahluk yang luar biasa. Ia memiliki kelebihan dalam hal indera penciumannya ketimbang mahluk lain. Ia mampu membedakan benda A dengan benda B hanya dari baunya. Yang mana kita manusia hanya dianugerahi kemampuan terbatas dalam hal itu.

Saya ingat di tahun 80-an drh Pudji Raharjo, seorang dosen saya yang sangat banyak berurusan dengan anjing-anjing Bali, suatu kali pernah mendemonstrasikan kehebatan anjing-anjing Bali yang dilatihnya bersama tim kepolisian untuk melacak narkoba dan kejahatan lain.  Dalam demonstrasi yang dilakukan team kepolisian di halaman kampus itu, saya bisa melihat dengan jelas bagaimana anjing-anjing Bali yang cerdas itu bisa dengan cepat dan akurat mampu melacak keberadaan narkotika, hanya dengan diberi sebuah perintah sederhana.

Kehebatan melacak orang juga pernah saya lihat pada seekor anjing milik seorang seniman besar di Bali yang jahil melatih anjingnya mengendus “bau” istrinya. Tentu saja istrinya yang dijahilin itu mencak-mencak walaupun tertawa geli juga mengetahui kekonyolan suami tercintanya. Saya sendiri sangat terkesan akan kehebatan anjing itu. Yahhh… kesimpulannya sangat jelas, anjing memang bisa melacak keberadaan sesuatu dengan sangat baik dari indra penciumannya.

Kemampuan melacak ini juga disertai dengan kemapuan anjing untuk men’tracking’ alias menelusuri sebuah perjalanan. Seperti yang saya ikuti tadi pagi. Anjing itu keluar rumah, lalu kencing di titik-titik tertentu di sepanjang perjalanannya. Dengan kemampuannya mengendus dengan baik tentu ia tahu dititik-titik  mana ia pernah berada. Sehingga walaupun ia melanglang jauh ia pasti selalu bisa pulang kembali ke rumah dan tidak mungkin tersesat. demikian juga ketika anjing ini ingin melakukan tracking terhadap keberadaan lawan jenisnya. Hanya mengendus tempat-tempat di mana lawan jenisnya pernah berada, akan membawanya menemui pasangannya.  Demikianlah cara anjing melakukan tracking terhadap sesuatu.

Men’tracking’ sesuatu adalah kegiatan yang terkadang kita lakukan juga. Misalnya dalam pekerjaan sebagai pemasar, kita melakukan tracking terhadap penjualan kita dari hari ke hari, minggu keminggu, bulan ke bulan dan tahun ke tahun.Tracking juga kita lakukan terhadap biaya yang kita keluarkan, harga di pasaran dan sebagainya. Lalu dalam hal menangani permasalahan. Baik  itu pemasalahan dalam kehidupan sehar-hari maupun pekerjaan, kita juga menelusuri sebab musababnya berhasil menemukan ‘root cause’nya untuk membantu kita memberikan pemecahan masalah yang sifatnya lebih ‘causalis’ ketimbang ‘simptomatis’. Yang tentunya hasilnya lebih bagus.

Melacak dan menelusuri, perlu juga sesekali kita lakukan terhadap amal perbuatan kita. Melacak mana saja pemikiran, perkataan dan perbuatan yang baik atau kurang baik yang kita lakukan. Kita bisa menelusuri kembali, apakah dalam rentang waktu tertentu perbuatan baik kita sudah lebih mendominasi? Atau malah perbuatan yang kurang baik malah mendominasi?. Kita juga perlu menelusuri kembali sebab musabab mengapa kita melakukannya dan apa dampaknya terhadap orang lain, untuk kita ambil intisari pelajarannya dan kita perbaiki ke depannya.

Anjing itu tiba-tiba berhenti di depan sebuah rumah yang pagarnya masih ditutup. Barangkali penghuninya belum bangun. Ia mengendus-endus dan berputar-putar tak jauh dari tempat itu. Lalu berjongkok menghadap ke gerbang halaman, seolah berharap dibukakan pintu. Oooh..barangkali di sana rumahnya. Ia bangun kembali, mengendus-endus, berputar dan kembali lagi berdiri di depan gerbang. Beberapa kali ia melihat ke arah saya.

Sebenarnya saya masih ingin mengamati tingkah laku anjing coklat itu lagi – tapi saya agak tidak nyaman berdiri di sana terlalu lama. Walaupun saya hanya sedang mengamati tingkah laku anjingnya, orang bisa salah paham. Bisa menyangka saya sedang memata-matai rumah dan penghuninya. Tentu itu tidak sopan. Saya mengajaknya berlari lagi, tapi ia tidak mau. Dan lebih memilih menunggu di depan gerbang.

Jadi dengan berat hati, saya terpaksa meninggalkan anjing itu sendiri di sana dan kemudian saya melanjutkan perjalanan saya sendiri.

 

 

Great Blue Mormon Butterfly.

Standard

Blue Mormon 1Saya sedang duduk di halaman dan melihat ke pinggir halaman. Beberapa rumput liar ada yang mulai tumbuh agak tinggi. Belum sempat merapikannya. beberapa ekor kupu-kupu datang bertandang ke halaman. Saya hanya melihatnya sepintas. Belakangan ini sedang banyak kupu-kupu Delias terbang tinggi mengunjungi pohon mangga saya.  Walaupun cantik, merah putih kuning bergaris hitam, tapi karena kadang terbangnya terlalu ketinggian, jadinya tidak menarik lagi untuk diamati.

Sedang berpikir begitu, pandangan mata saya tertuju pada seekor Kupu-Kupu Great Mormon (Papilio memnon) jantan yang sedang hinggap di rumput liar di dekat pohon jeruk limau. Ia tampak diam. Istirahat dengan tenang. Saya tidak mengutak-utiknya, namun memperhatikan agak lama.Kupu-kupu itu sama sekali tidak bergerak. Mungkin ia tidur lelap. Saya memperhatikannya. Dari jenis yang sayapnya tidak berekor.

Blue Mormon 2Sekarang saya melihat kupu-kupu ini agak berbeda dari umumnya Kupu-kupu jenis yang sama. Warnanya yang biasanya hitam sedikit bersawang biru tua, kelihatannya malah didominasi warna biru yang lebih terang dan kuat. Hmm..menarik juga.

Saya belum pernah melihat Kupu-Kupu Great Mormon sebiru ini. Biasanya hitam legam atau hitam sedikit kebiruan. Apakah ini jenis yang berbeda? Jangan -jangan ini Blue Mormon jantan? Atau hanya variasi genetik dari Great Mormon? Garis-garisnya juga kelihatan lebih nyata terutama pada sayap belakangnya.

Takut kehilangan moment, sayapun ke dalam mengambil kamera. Sayangnya ketika baru berhasil menjepret 3 kali, Kupu-kupu itu terbangun lalu terbang tinggi menyeberang tembok dan tak kembali lagi…

Semoga lain kali ada jenis ini yang mampir lagi…