Monthly Archives: October 2014

Ayam Be Keren, Masakan Ayam Traditional Bali Yang Unik Dari Bangli.

Standard

ayam keren 1Siap Be Tutu alias Ayam Be Tutu dari Bali! Tentu banyak diantaranya yang sudah pernah mencoba. Karena masakan berbahan dasar ayam itu sekarang tidak hanya dimasak di dapur-dapur penduduk di Bali, tetapi juga mulai banyak rumah makan yang menghidangkannya sehingga pelancongpun banyak yang bisa menikmati masakan traditional ini. Baik yang kuah maupun yang digoreng.

Selain Ayam Betutu, Bali juga memiliki masakan traditional berbahan baku ayam yang sangat istimewa. Namanya Be Siap Keren alias Ayam Be Keren (kedua huruf e dibaca seperti membaca huruf e pada kata dengan).

Ayam Be Keren adalah salah satu jenis masakan traditional Bali dimana ayam yang dibumbuin serupa dengan Ayam Betutu namun dibungkus dengan pelepah daun pinang alias Upih lalu dibakar dengan cara khusus dengan menggunakan sekam dan sabut kelapa. Rasanya sangat lezat, empuk dan gurih dengan wangi bumbu yang mengering karena pembakaran dalam upih.

Secara umum, Ayam Be Keren ini hanya dimasak khusus saat hari raya ataupun saat ada upacara.  Sangat jarang sekali. Saya ingat saat saya  kecil, ibu saya juga selalu memasak khusus Ayam Be Keren ini sebagai hidangan istimewa pada hari raya. Mengapa jarang? Saya tidak tahu sebabnya. Tapi saya menduga karena proses pembuatan masakan Ayam Be Keren ini sedemikian ribetnya.  Setelah saya besar, saya mulai tahu bahwa ternyata masakan Ayam Keren ini memang merupakan tata cara masak traditional yang diwariskan secara turun temurun di dapur-dapur penduduk di Bangli sejak jaman dulu. Sayang sekali saat ini hanya tinggal sedikit orang yang bisa memasak Ayam Be Keren ini dengan cara yang baik dan benar.

Ibu Agung Sugantini, BangliNamun demikian masih sangat beruntung ada Ibu Agung Sugantini dari Puri Kelodan Bangli  yang meneruskan tradisi membuat Ayam Keren ini, melestarikannya dan mengembangkannya sebagai bisnis. Sehingga masyarakat yang sudah tidak bisa lagi cara memasak Ayam Be Keren ini (atau tidak punya waktu untuk membuatnya) kini tetap bisa menikmati Ayam Be Keren ini.

Dan sangat beruntung sekali,  minggu yang lalu saya sempat berkunjung ke rumahnya dan sempat berbincang langsung dengan Ibu Agung sendiri. Ada foto-foto Bu Agung ketika muda. Ada juga foto Bu Agung dengan ibu-ibu pejabat. Termasuk ada juga fotonya dengan Ibu Megawati Sukarnoputeri.  Saya senang sekali karena Ibu Agung menerima saya dengan sangat ramah.

Bu Agung bercerita bahwa beberapa pakar tata boga sudah sempat mengunjungi rumahnya  seperti misalnya Pak William Wongso. Demikian juga beberapa station TV, bahkan station TV luar pernah meliput cara memasaknya.

Be Keren 1

Saya bahkan diajaknya untuk melihat-lihat ke dapur.  Dan benar! Masak Ayam ini memang ribetnya bukan main. Tak heran rasanya sangat lezat.  Nah bagaimana memasaknya?

Pertama, ayam satu ekor utuh dibersihkan, lalu diberi bumbu Basa Gede yang diulek (Basa Gede =Bumbu Besar dalam masakan traditional Bali yang terdiri atas Bawang merah, bawang putih, cabe, garam, lengkuas, kunyit, jahe, kencur, ketumbar,merica, tabya bun, daun salam, terasi).  Berikutnya Ayam yang telah dibumbui ini dibungkus dengan rapi dengan menggunakan Upih (pelepah daun pinang). Mengapa harus dibungkus rapat-rapat?

Membungkus rapat-rapat ayam beserta bumbunya  membantu memastikan bahwa aroma dan rasa bumbu tidak menghilang saat proses memasak, namun tetap tertinggal dan meresap ke dalam daging ayam- jelas Ibu Agung.

Be KerenLalu pertanyaan berikutnya,”Mengapa pembungkusnya harus Upih? Mengapa bukan daun yang lain saja-misalnya daun pisang?“.   Bu Agung menjelaskan bahwa secara turun temurun yang digunakan untuk membungkus Ayam Be Keren selalu Upih. Tentu nenek moyang kita punya alasan mengapanya. Pertama karena Upih adalah pembungkus makanan traditional yang tahan api. Sehingga jika dimasukkan ke dalam tungku sekam, ia tidak akan mudah terbakar hingga ayam didalamnya mencapai tingkat kematangannya dengan baik.

Kedua, Upih sangatlah lentur, sehingga tidak mudah sobek dan  tahan bocor. Hal ini membantu mempertahankan aroma bumbu agar tidak menguap keluar.  Selain itu, saat dibakar,  pelepah pinang juga ikut memberikan cita rasa harum yang istimewa dari Ayam Be Keren yang tidak bisa ditemukan pada jenis masakan lain.

Selain cara dan bahan pembungkusnya yang berbeda dan unik, cara memasak Ayam Be Keren juga sangat unik.  Setelah dibumbui dan dibungkus dengan upih, ayam dimasak dengan cara membakarnya di atas tungku sekam, lalu dieram di dalam paso tanah liat lalu dikubur lagi dengan sekam dan dibakar dengan menggunakan sabut kelapa. Itulah sebabnya mengapa masakan ini disebut dengan nama Be Keren, karena keren maksudanya adalah kerem,mengeram. Tentu saja tanah liat, sekam dan sabut kelapa ini juga memperkaya cita rasa ayam Be Keren ini.

Ayam dimasak selama 15 jam hingga bisa dikatakan matang dengan baik. Begitulah jaman dulu orang tua di Bangli memasak Ayam Be Kerennya yang lezat. Astaga! Bener saja, setelah dimasak selama 15 jam, ternyata Upih itu tidak terbakar habis, walaupun sekam telah menjadi abu. Kini Bu Agung tetap mempertahankan tata cara traditional ini dalam memasak Ayam Be Keren.

Saya sempat bertanya kepada Ibu Agung apakah Ayam Be Keren ini tidak bisa dimasak denga presto saja agar lebih cepat matang dan empuk? “Boleh saja. Tetapi cita rasanya akan jauh menyimpang. Karena tidak dimasak sesuai dengan yang seharusnya” jelas Ibu Agung.

Saya salut sekali dengan usaha Ibu Agung Sugantini untuk melestarikan resep dan tata cara memasak traditional warisan para ahli memasak di Bangli. Semoga kuliner unik  dari Bangli ini  bisa terus dilestarikan dan dikembangkan.

 

 

 

Advertisements

Dirgahayu, Dirgayusa Sekolahku! SMA Negeri 1 Bangli.

Standard

Dari Ulang Tahun ke 50 SMA Negeri 1 Bangli. SMA Negeri 1 Bangli Hari Sabtu tanggal 25 Oktober 2014 kemarin adalah Hari Ulang Tahun Sekolahku, SMA Negeri 1 Bangli yang ke-50. Sungguh sangat beruntung saya bisa pulang ke Bali dan datang kembali ke Sekolah untuk merayakan hari jadinya yang ke 50 itu. Sekalian bertemu dengan teman-teman. Mengingat dalam acara perayaan ulang tahun itu juga sekaligus diadakan Reuni Agung, dimana Sekolah membuka pintu lebar-lebar bagi kepulangan kembali semua murid-murid yang pernah belajar di Sekolah itu sejak awal berdirinya pada tahun 1964.

Sekolah Mengengah Negeri 1 Bangli, menurut cerita  almarhum bapak saya, (cerita yang sama juga disampaikan Kepala Sekolah dan seorang alumni yang masuk pada tahun itu saat sharing kisahnya), berawal dari kesadaran masyarakat akan betapa pentingnya pendidikan bagi kemajuan daerah,  dan keinginan beberapa orang pemuka masyarakat pada jaman itu untuk memajukan pendidikan anak-anak Bangli tanpa harus pergi ke Denpasar. Biasanya jika bersekolah ke luar daerah misalnya ke Denpasar, tentunya orang tua perlu mengeluarkan uang bukan hanya untuk keperluan sekolah saja, tapi juga untuk keperluan lain seperti tempat kost, makan, transportasi dan sebagainya. Istilahnya biarpun hanya berbekal Nasi Cacah (Cacah- sejenis gaplek, terbuat dari ketela rambat yang dikeringkan, biasanya digunakan untuk campuran beras saat menanak nasi, karena pada jaman dulu harga beras sangatlah mahal), namun tetap bisa bersekolah.

Sehingga pada tanggal 1 July1964 dibentuklah panitia  yang merintis berdirinya sekolah ini. Jumlah murid saat itu adalah 49 orang diajar oleh 15 orang guru dan 2 orang tata usaha. Belajarnya di Balai Masyarakat Bangli yang letaknya tak jauh dari wilayah Bancingah. Sebulannya kemudian, pada tanggal 1 Agustus 1964, sekolah ini diakui sebagai filial (kelas jauh) dari SMA Denpasar. Guru-guru pun didatangkan dari Denpasar.

Ulang Tahun ke 50 SMA Bangli 15

Pada tanggal 25 Oktober 1964, secara resmi Sekolah ini ditetapkan statusnya menjadi SMA Negeri Bangli. Nah tanggal inilah yang diperingati sebagai ulang tahun sekolah hingga sekarang.

Saya sendiri adalah angkatan yang masuk pada tahun 1981 dan keluar pada tahun 1984. Kepala Sekolah kami pada saat itu adalah Bapak Made Djata. Banyak guru-guru yang berkwalitas bagus yang saya ingat pada saat itu, seperti misalnya Pak Oka, Pak Artha, Pak Ngakan Perasi Lugra, Pak Pasek, Pak Suratha, Pak Arde,  dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu yang saya yakin telah berusaha dengan optimal untuk memberikan ilmunya secara maksimal  kepada kami murid-muridnya. Sehingga jika saya ingat-ingat kembali, saya sebagai salah seorang murid SMA Negeri 1 Bangli merasa mampu bersaing dengan sangat baik dalam hal kwalitas dengan murid-murid SMA lain, baik setelah di bangku perguruan tinggi maupun dalam ajang kompetisi antar SMA di provinsi Bali, misalnya di ajang pemilihan Pelajar Teladan se provinsi Bali, dan sebagainya -tidak kalah saing dengan sekolah lain. Demikian juga olympiade sains.  Untuk itu saya ingin sekali mengucapkan rasa terimakasih saya terhadap para guru saya dan sekolah ini.

Keyakinan akan tingginya kwalitas tamatan Sekolah  ini semakin meningkat ketika pada kenyataannya melihat hadirin, para alumnus SMA ini ternyata sangat banyak yang sukses berkiprah di berbagai bidang. Bukan hanya di tingkat Kabupaten, ataupun provinsi, namun bahkan di tingkat Nasional. Mulai dari yang sukses di bidang kepolisian, hankam, pemerintahan, notaris, kedokteran, hukum, dunia usaha dan lain sebagainya. Tidak sedikit alumni yang menyandang gelar Professor hadir di acara ini. Demikian juga yang berpangkat Jenderal, Direktur ataupun Manager perusahaan. Namun ketika  kembali ke sekolah, semuanya berbaur dalam kesederhanaan. Semuanya sama, seperti saat kita masih menuntut ilmu di sini. Kita semua adalah alumni SMA Negeri Bangli yang tercinta.

Pada acara ulang tahun ini dipentaskan berbagai macam tarian yang traditional maupun modern, nyanyian yang dnyanyikan oleh artis ibukota maupnu lokal.

Dirgahayu Sekolahku – Semoga selalu dalam keadaan rahayu, selamat sentosa dan sukses dalam mencapai misi yang dicanangkan. Dan Dirgayusa Sekolahku – Semoga panjang umur agar tetap bisa memberi bekal yang terbaik bagi seluruh siswa-siswa berikutnya agar kelak dapat digunakan untuk kepentingan bermasyarakat.

Danau Batur: Burung Kokokan.

Standard

Bangau Danau BaturAdakah yang lebih indah dari pemandangan tepi danau di pagi hari? Duduk memandang segarnya Danau Batur selalu memberi saya keteduhan jiwa yang tak bisa saya  gantikan dengan apapun. Di pagi hari, air danau selalu kelihatan lebih  tenang dan hanya beriak kecil. Sinar matahari memantul keemasan dari permukaannya yang mirip cermin raksasa itu. Sementara bukit-bukit hijau menjulang memagari danau. Di  sebelahnya Gunung Batur  berdiri tegak menjadi penyeimbang atas kedalamannya. Saya memandangnya dengan decak kagum. Di tepi danau penduduk tampak sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang mencari ikan, ada yang mencangkul, menyiram ladang dan banyak juga yang membersihkan ladangnya dari rumput liar. Kesibukan pagi yang indah.

Bangau Danau Batur 1

Setelah nyaris setengah abad perjalanan hidup saya, saya masih tetap mencintai kampung halaman saya. Walaupun nasib telah membawa langkah kaki saya berjalan ribuan kilometer, namun kampung halaman selalu menjadi magnet yang menarik saya untuk selalu pulang  dan pulang kembali. Laksana burung-burung Kokokan yang pergi terbang jauh entah kemana, namun ada waktunya akan pulang kembali ke sarangnya.

Bangau Danau Batur 2

Hmm.. Burung Kokokan!  Saya berdiri di dermaga kayu yang letaknya di Kedisan. Tak jauh dari sana tampak rumput-rumput danau tumbuh berkelompok membentuk koloni-koloni yang mirip rakit-rakit kecil tempat burung-burung air bertengger. Beberapa ekor kokokan tampak berdiri diam menunggu. Sesekali mematuk sesuatu di air danau. beberapa ekor Kokokan yang lain terbang  dari gundukan rumput ke rumput yang lainnya.

Bangau Danau Batur 3

Kokokan alias Burung Blekok Sawah, alias Javan Pond Heron (Ardeola Speciosa), adalah salah satu burung air yang keberadaannya cukup banyak di perairan Indonesia. Hidupnya terutama di badan-badan air yang banyak ikannya seperti danau, rawa maupun persawahan. Makanannya adalah ikan,  udang, kodok dan sebagainya.  Bagi saya burung ini sangat menarik karena keindahan bentuk tubuhnya. Langsing dengan leher dan paruh yang panjang.

Bangau Danau Batur 4

Berukuran cukup besar, sehingga cukup mudah dikenali dari kejauhan. Burung Kokokan memiliki paruh berwarna kuning dengan ujung hitam, sedangkan di pangkal paruh, warnanya  biru hijau mirip pelangi. Kepala dan tengkuknya berwarna coklat terang kekuningan. Leher dan dadanya berwarna putih dengan garis garis coklat terang. Punggungnya berwarna coklat tua dan sisa tubuh yang lainnya serta sayapnya berwarna putih. Sehingga, jika ia terbang, warna dominant yang terlihat hanyalah putih.

Bangau Danau Batur 5

Pada sore hari, saya lihat burung-burung Kokokan ini bersitirahat di sebatang pohon Beringin yang tak jauh dari tepi danau.

Bangli: Be Jair Bagong.

Standard

Be Jair BagongBangli adalah satu-satunya Kabupaten di Bali yang tidak memiliki laut. Namun demikian, Bangli memiliki Danau Batur yang sangat luas dengan populasi ikan mujairnya yang melimpah. Akibatnya jika kita mampir ke Bangli dan merasa lapar, mungkin akan sulit menemukan rumah makan yang menghidangkan masakan ikan laut alias “Seafood” . Sebagai gantinya kita akan lebih mudah menemukan rumah makan yang menghidangan masakan ikan danau.

Salah satu masakan ikan danau yang sangat terkenal di Bangli adalah “Be Jair Menyatnyat”. Disebut demikian karena Ikan Mujair ini dimasak dengan cara digoreng terlebih dahulu lalu dimasukkan  kedalam bumbu “Suna-cekuh” (bawang putih-Kencur) dan dimasak hingga airnya menguap semua dan kering. Nyat -nyat dalam bahasa Bali berasal dari kata ” enyat” yang artinya ‘asat’ alias kehabisan air.  Wanginya sungguh membuat kita harus menelan ludah berkali-kali. Dimakan bersama pelecing kangkung, sambel matah dan kacang tanah goreng…Wah, mantap!!!!.

Be Jair Bagong 1

Dimana kita bisa mendapatkan masakan Ikan Mujair Menyatnyat ini? Nah ini cerita saya…

Kebetulan minggu yang lalu saya sempat pulang kampung. Teman-teman mengajak saya untuk makan siang bersama. “Makan Be Jair Bagong aja” katanya. Ah ya! Saya ingat di sana saya bisa makan Ikan Mujair Menyatnyat dan minuman “Loloh Cemcem” yang merupakan minuman traditional Bangli. Kebetulan dua hal itu merupakan favorit saya. Tentu saja saya sangat setuju. Buat saya yang jarang-jarang pulang kampung,  semua masakan traditional kampung halaman yang khas dan sulit saya temukan di Jakarta akan sangat saya rindukan. Pasti tidak menolak kalau diajak. Maka berangkatlah kami beramai-ramai ke sana.

Seingat saya, warung makan itu selalu ramai. Tidak heran, karena memang masakannya sangat enak. Sangat mirip dengan rasa masakan dari bibi-bibi, uwak ataupun nenek saya di kampung halaman saya di Songan,Kintamani. Sangat cocok dengan lidah saya. Jadi sebenarnya Be Jair Menyatnyat bukanlah masakan asing, namun justru masakan turun temurun di dapur-dapur penduduk di Bangli. Tapi jika kita menyebut Be Jair Menyatnyat di Bangli, maka orang akan menunjukkan rumah makan Bagong kepada kita. Be Jair = Bagong. Dan Bagong= Be jair.

Bahkan ketika beramai-ramai saya ikut acara menabur ikan di Danau Batur, seusai menebar benih ikan, saya mendengar seorang alumni berteriak kepada anak-anak ikan itu “Da daaaaa! Sampai jumpa di Bagong!” ucapnya sambil tertawa-tawa, diikuti oleh riuh rendah tawa dari teman-teman lainnya. Yang lainpun ikut mengucapkan salam yang sama ” Sampai Jumpa kembali di Bagong” kepada anak-anak ikan itu. Mereka mengucapkan selamat tinggal, namun sekaligus bercanda bahwa nanti mereka akan bertemu lagi, di….warung makan Bagong! Dan tentunya sudah dalam keadaan terhidang sebagai “Be jair menyatnyat”.

Sebagai seorang pemasar, tentunya yang pertama muncul di permukaan kepala saya adalah ” Wow!” . Betapa kuatnya koneksi dan  brand recognition “Bagong” itu sebagai rumah makan ikan Mujair. Seolah berlaku pepatah ‘ Ingat Jair,  ingat Bagong’. atau sebaliknya “Ingat Bagong, Ingat Jair”

BagongMengingat itu, sebenarnya saya penasaran. Pengen sekali mendengar dari pemiliknya langsung bagaimana ia membangun brand-nya hingga menjadi iconik begini untuk kota Bangli. Dan sungguh sangat kebetulan, saya bertemu dengan Pak Bagong – sang pemillik warung makan itu.

Pak Bagong sebenarnya memiliki nama asli I Wayan Sukamara. Beliau merintis usaha ini sejak tahun 2004. Saat itu beliau baru saja usai menjalani masa bakti sebagai anggota DPRD di Kabupaten Bangli. Pak Bagong bercerita, saat menjadi anggota DPRD itu, beliau sempat mengikuti study banding ke Jawa Barat dan mengagumi bagaimana ikan air tawar di sana bisa disajikan dengan bangga di restaurant-restaurant. Sedangkan di Bangli yang memiliki danau luas dengan ikan yang melimpah, tidak ada seorangpun yang tertarik melirik bisnis ini. Pak Bagong mengusulkan kepada Pemda untuk lebih meningkatkan fokus pembudidayaan dan management dari ikan danau ini.

Ketika periode pemilihan berikutnya, Pak Bagong tidak lagi ikut mencalonkan diri.  Beliau memutuskan untuk membuka warung makan ikannya sendiri. Saat itu belum ada rumah makan yang memfokuskan masakannya pada ikan danau di Bangli. Jadi Warung Bagong adalah warung pertama yang memiliki positioning itu. Tidaklah heran jika orang ingat warung Bagong sebagai warung Ikan Mujair di Bangli. Wah.. saya jadi teringat Hukum pertama dari The 22 Immutable Laws of Marketing yang ditulis oleh Al Ries & Jack Trout pada jaman dulu. Hukum kepemimpinan yang mengatakan bahwa rahasia keberhasilan pemasaran terletak pada merk yang masuk pertama dalam ingatan pembeli.

Bagaimana ia bisa mempertahankan merk rumah makannya tetap di ‘top of mind” dari masyarakat sekitar sebagai rumah makan Be Jair? Pak Bagong tampak santai saja. Ia tidak merasa terancam dengan kehadiran rumah makan- rumah makan lain yang juga ikut menyajikan Be Jair.”Masakan bisa sama, tapi citarasa pasti berbeda” katanya dengan pasti. Perbedaan itu menurut Pak Bagong tentu diakibatkan oleh beberapa hal.  Pertama dari kwalitas ikannya. Ikan dari Danau Batur memiliki citarasa yang berbeda dengan ikan dari sungai atau sawah. Ikan dari Danau Batur terasa gurih dan sama sekali tidak ada bau lumpur.  Sedangkan ikan dari tempat lain masih terasa bau lumpurnya- jelasnya. Kedua, cara memasaknya pun berbeda. Pak Bagong memiliki teknik khusus dalam memasak ikan untuk memastikan cita rasa ikan ini tidak menguap ke udara. Ia yakin itu yang memberinya “point pembeda” dengan masakan ikan mujair dari rumah makan yang lain. Sekali lagi, differensiasi selalu penting dalam pemasaran.

Saya mengangguk-angguk mendengar ceritanya. Kisah Pak Bagong dan Warung Be Jair Menyatnyat-nya, memberi saya penyegaran kembalidalam pemahaman dunia pemasaran.

Cerita Perjalanan: 28 Menit Ke Banyuwangi.

Standard

Pesawat Garuda ke BanyuwangiBeberapa minggu yang lalu, saya ada sedikit urusan pekerjaan di Banyuwangi. Berhubung  Banyuwangi  lebih mudah ditempuh dari Denpasar ketimbang dari Surabaya, saya memutuskan untuk berangkat dari Jakarta dan menginap di Denpasar semalam, lalu esoknya pagi-pagi saya akan berangkat lewat darat lalu menyeberang Selat Bali, sampai deh ke Banyuwangi. “Naik pesawat aja, Bu. Sekarang sudah ada pesawat dari Denpasar ke sana. Jam 7 pagi kita sudah tiba di sana. Jadi sudah bisa kerja normal jam 8.” jelas teman saya. Oh? Begitu ya? Saya malahan tidak tahu sebelumnya.   Saya setuju ajakannya itu, dan iapun mencari tiket ke sana. Horreee…dapat!.

Pagi-pagi saya sudah siap dan langsung ke Bandara Ngurah Rai. Tak berapa lama menunggu, penumpang dipersilakan masuk pesawat. Wah..  pesawat kecil dengan dua buah baling-baling.   Rasanya stress juga, karena jika udara sedang kurang bersahabat, lumayan juga sangat terasa guncangannya.  Jauh lebih terasa jika dibandingkan dengan menumpang pesawat-pesawat besar seperti Air Bus  atau Boeing  747.  Bangku di dalamnya juga terdiri atas 2 seats -2 seats. Sebenarnya saya agak deg-degan juga. Sejujurnya saya agak takut naik pesawat.

Sebelumnya saya sudah pernah naik pesawat seukuran ini sebanyak 2x.  Pertama dalam perjalanan  dari Bandara Husein Sastranegara di Bandung menuju ke Bandara Halim Perdana Kusuma di Jakarta. Tapi itu sudah lamaaaa sekali.  Jaman Pak Harto. Jaman pesawat dai Bandung kalau ke Jakarta mendaratnya di Halim (sekarang masih nggak ya?). Pesawat rasanya terbang  klepek klepek  limbung ditiup angin. Rasanya sangat stress,untung akhirnya tiba juga di atas Halim. Namun sayangnya, entah kenapa rupanya terjadi kesalahan. Pesawat itu tidak bisa mendarat karena Pak Harto sedang menerima tamu di sana. Aduuuh..bagaimana ini?Kok tidak ada koordinasi antara satu bandara dengan bandara lainnya ya. Tak habis pikir. Akhirnya terpaksalah balik lagi ke Bandung.  Lalu setelah turun sebentar, balik lagi untuk merasakan stress yang sama dengan pesawat baling-baling itu.

Kali  keduanya juga sudah lama bangettttt. Kalau tidak salah dalam sebuah perjalanan dari Frankfurt  ke Manchester. Rasanya pesawatnya sih lebih modern, tapi kayanya ukurannya tidak jauh berbeda juga. Kecil dengan 2 seats- 2seats begitu juga. Saat itu musim dingin. Tapi cuaca kelihatannya cukup baik. Tidak ada goncangan sih. Saya merasa sedikit agak tenang dan masih bisa melongok ke bawah lewat jendela menonton pohon-pohon dan tanah yang tertutup salju.  Jadi sebenarnya pesawat kecil nggak selalu menakutkan juga sih.

Nah sekarang saya mendapatkan kesempatan yang ketiga kalinya. Dari Bandara Ngurah Rai di Denpasar menuju Bandara Blimbingsaridi Banyuwangi. Berdoa semoga udara sedang tenang dan baik. Dan doa saya dikabulkan, plus dikasih bonus melihat-lihat pemandangan dari udara. Karena pesawatnya kecil, dengan sendirinya ia tidak bisa terbang terlalu tinggi dari permukaan laut.  Dan karena terbang rendah, ditambah dengan udara yang tenang dan cuaca terang di pagi hari, maka landscape bumi kelihatan sangat baik dan jelas. Kesempatan yang jarang-jarang bisa didapatkan.

di atas sanur

 

 

Untuk ke Banyuwangi, pertama pesawat itu mengambil arah ke timur, berlawanan dengan arah Banyuwangi yang ada di sebelah barat pulau Bali.  Lalu setelah sedikit agak tinggi, baru memutar balik ke arah barat. Jangan tanya saya alasannya, karena saya tidak tahu persis. Barangkali karena landasan pacu arahnya ke timur.. he he..nebak-nebak saja.  Jadi saya bisa melihat sekarang kalau saya sedang berada di atas wilayah Sanur atau Padang Galak.

di atas pulau Serangan

Pulau Serangan terlihat sangat jelas di pagi hari. Walaupun di sana-sini ada awan putih yang menghalangi pemandangan. Pulau kecil itu bentuknya lucu juga ya kalau dilihat dari udara.  Ada banyak sekali kapal-kapal nelayan yang berlabuh di salah satu sisinya. Kelihatan putih-putih mirip bercak ketombe. Saya ingat bermain ke sana dengan adik saya.  Pulau itu sangat menarik buat saya.

Tol Bandara - Nusa Dua

Pesawat terus melaju dan sekarang saya bisa melihat tol Benoa yang dari Bandara Ngurah Rai mengapung di atas laut menuju Nusa Dua. Lucu juga kelihatannya dari atas sini. Mirip galah (tiang panjang) berwarna putih yang membentang di atas laut yang tenang.

pesisir Banyuwangi

Banyak sekali yang saya lihat di sepanjang perjalanan. Tanpa terasa pesawat sudah mencapai pesisir  Banyuwangi di Jawa Timur. pantainya mungkin tidak putih, tapi Banyuwangi menunjukkan pemandangan yang juga sangat menarik.

Ladang garam

Wah..apa itu putih-putih? Tampak berkilau dari ketinggian?  Saya melihat lebih dekat. Apa tambak ikan ya? Kelihatannya seperti Ladang Garam!! Ada beberapa petak. Ada yang airnya sudah sasat. Barangkali jika hari ini matahari bersinar sangat terik, garam-garamitu mungkin sudah kering dan bisa segera dipanen.

di atas sawah yang semakin berkurang

Pesawat terbang semakin rendah. Kami hampir sampai. Sawah-sawah nan menghijau tampak di sana-sini.Alangkah hijaunya Banyuwangi. Banyak sekali burung-burung bangau berwarna putih berkeliaran. jika tadi di atas Bali, kapal-kapal nelayan terlihat mirip ketombe, sekarang dari  ketinggian Banyuwangi,  burung-burung ini yang terlihat seperti ketombe saking banyaknya.

 

Blimbingsari

Sebentar kemudian pesawat mendarat.  Welcome to Banyuwangi! Welcome to Blimbingsari Airport!  Bandara ini masih sedang dibangun. Terlihat dari adanya alat berat  yang sedang beroperasi di sana untuk meratakan tanah lapang yang luas.  Saat ini hanya memiliki satu landasan pacu. Dan pesawat yang saya tumpangi adalah satu-satunya pesawat yang mendarat pagi itu.

Bandara Blimbingsari

Menurut keterangan , bandara ini baru  dua tahun beroperasi. Saya salut pada upaya Pemda setempat untuk membuka akses ini. Memudahkan para wisatawan untuk mengunjungi Banyuwangi. Karena sebenarnya Banyuwangi memang memiliki banyak potensi untuk  dikembangkan sebagai daerah Pariwisata. Mulai dari kebudayaan dan adat istiadatnya, pantainya, hutan-hutannya, kulinernya dan sebagainya. Selain itu lokasinya yang tidak jauh dari Bali, juga membuat semuanya sangat memungkinkan. Selain turis-turis yang memang sengaja datang hanya untuk ke Banyuwangi, saya rasa para turis yang datang dari jauh untuk ke Bali, pasti cukup banyak diantaranya yang tidak keberatan meluangkan waktu kurang dari setengah jam perjalanan udara untuk menuju Banyuwangi.

Banyuwangi

Beberapa menit kemudian ketika saya sudah benar-benar tiba di Banyuwangi, keluar dari bandara menuju kota, saya benar-benar merasa jatuh cinta  terhadap Banyuwangi. Pada sawah-sawahnya yang  menghijau, para petani yang sangat rajin bekerja dan pada burung-burung sawah yang sangat banyak di sana. Dan bahkan saya  melihat ada beberapa ekor Burung Raja Udang sedang bertengger di kawat listrik di tepi sawah. Saya ingin datang lagi ke Banyuwangi. Tapi kalau bisa bukan untuk urusan kerja lagi. Namun sebagai warga negara Indonesia yang ingin menikmati keindahan tanah airnya.

Bravo untuk  Banyuwangi! Semoga semakin sukses!

 

Danau Batur: Burung Layang-Layang Asia.

Standard

burung Layang-Layang AsiaSuatu pagi ketika saya akan pergi ke Desa Trunyan, perjalanan kami  terputus akibat pohon tumbang. Sambil menunggu petugas membereskan pohon itu, saya mengajak adik saya untuk berhenti di ujung Desa Kedisan saja. Ada apa di sana? Saya bercerita kepada adik saya bahwa saat melintas sebelumnya saya melihat kawanan Burung Layang-Layang Asia terbang mencari makan di sekitar area itu. Mungkin ada baiknya kita berhenti sebentar dan mengamati tingkah lakunya.

burung Layang-Layang Asia 3

Burung-burung itu tampak sibuk terbang menyambar-nyambar di atas permukaan air danau, atau di atas lahan-lahan yang sedang diolah dan dipupuk kotoran sapi.  Mereka sedang berburu serangga yang banyak terdapat di sana. Melimpahnya jumlah serangga di tepi danau membuat  burung -burung itu tampak betah di sana. Saya sangat menyukai gerakan rerbangnya. Mengepakkan sayapnya, melayang, menyambar, berputar-putar,melingkar. Gesit sekali. Dan bentuk tubuhnya sangat indah dan aerodynamics. Beberaapaa ekor yang kelelahan tampak berisitirahat dengan bertengger di kawat listrik di atas ladang di tepi jalan. Mereka tak tampak terganggu oleh lalulintas atau bahkan suara mesin pompa air yang digunakan saat petani menyiram tanaman tomat di bawahnya.

burung Layang-Layang Asia 2

Burung Layang-Layang Asia atau Barn Swallow ( Hirundo rustica) adalah jenis burung Layang-layang dari keluarga hirundinidae dan masih sangat dekat tampilannya dengan saudaranya Burung Layang-Layang Batu (Hirundo tahitica) yang sering saya tulis di sini,di sini dan di sini. Tampilannya pun sangat mirip. Sepintas lalu agak susah membedakannya. Ukuran tubuhnya sama. Demikian pula warna bulu dominantnya. Nyaris sama. Namun mata yang terlatih akan bisa melihat bahwa burung ini memang bukan Burung Layang-Layang Batu.

Burung layang-layang.

Pertama yang sangat jelas adalah ekornya yang panjang dan menggunting. Lebih panjang dari ekor burung layang-Layang Batu. Burung Layang Layang Batu tidak memiliki dua tangkai bulu ekor ini.  Ynag ke dua, warna putih dada burung layang-layang Asia jauh lebih bersih ketimbang warna putih kotor burung layang-Layang Batu. Ke tiga, burung Layang-Layang Asia memiliki garis biru metalik yang sangat  jelas di batas dada dengan lehernya yang tidak dimiliki oleh jenis burung layang-Layang Batu. Pada Burung Layang-Layang Batu, warna di daerah ini hanya coklat karat saja.

burung Layang-Layang Asia 4

Kalau saya deskripsikan, burung ini berwarna biru metalik pada bagian kepala, punggung hingga ekornya. rahang bawah hingga lehernya berwarna coklat karat. Dada, perut dan ekor bagian bawahnya berwarna putih, dengan tanda biru metalik pada batas dada dan lehernya. Paruh dan matanya berwarna hitam. Demikian juga kakinya.

Menurut catatan, burung ini termasuk burung migrant yang datang ke Indonesia  pada bulan September – November. Menarik bagi saya untuk mengamatinya lebih jauh. Dan sangat kebetulan memang,bulan ini adalah bulan Oktober.

 

 

Barong Brutuk Di Desa Trunyan, Kintamani, Bangli.

Standard

Barong Brutuk2Saya diajak adik saya pergi ke Desa Trunyan, yang letaknya di tepi Danau Batur di Kintamani, Bangli. Ada upacara Ngusaba Kapat di Pura Pancering Jagat. Dalam rangkaian upacara ini akan diadakan pementasan Barong Brutuk, yakni salah satu bentuk kesenian Bali Kuno yang sudah sangat lama sekali tidak pernah dipentaskan. Mengingat langkanya  pementasan ini, tentu saja saya tidak mau menyia-nyiakannya.

Walau harus menghadapi sedikit halangan di jalan berupa pohon dan tiang listrik tumbang, pagi-pagi saya sudah sampai di Desa Trunyan.  Keramaian tampak di sekitar desa, terutama di areal Pura Pancering Jagat. Kami diterima dengan baik oleh pemuka adat setempat dan diberi penjelasan singkat mengenai upacara dan pementasan Barong Brutuk ini serta tata tertib yang harus kami patuhi selama acara berlangsung. Walaupun sebelumnya saya sudah pernah mendengar keberadaan Barong Brutuk ini, namun terus terang saya baru pertama kali melihatnya langsung dengan mata saya sendiri.

Barong Brutuk, adalah tarian Barong yang sangat kuno dan hanya ada di Desa Trunyan yang sejak ratusan tahun lalu dihuni oleh warga Bali asli. Tarian ini menggambarkan kehidupan para leluhur di jaman dulu. Menurut sebuah sumber konon Barong Brutuk ini adalah unen-unen (anak buah) dari leluhur orang Trunyan, yakni Ratu Sakti Pancering Jagat dengan istrinya Ratu Ayu Dalem Pingit Dasar.

Tidak seperti tarian Barong lain di Bali yang busananya biasanya sangat penuh dengan motif hiasan, busana Barong Brutuk ini sangat sederhana. Tidak ada ukiran, tidak ada potongan kaca, apalagi cat prada keemasan. Hanya  kumpulan daun pisang kering (Keraras), yang konon hanya boleh dipetik dari Desa Pinggan.  Tidak ada yang tahu mengapa harus dari Pinggan. Ketika saya tanyakan, beberapa orang penduduk hanya mengatakan ” Memang sudah begitu dari dulunya“.

 

Demikian juga topeng yang digunakan. Terlihat sangat sederhana dan berbeda dengan jenis barong-barong lainnya di Bali. Namun demikian, topeng-topeng itu tampak sangat berkarakter. Sebuah topeng misalnya digambarkan memiliki karakter wajah yang tegas dan kuat, sedangkan topeng lainnya memiliki karakter lebih feminine. Ada juga yang berkarakter tua, dan lain sebagainya. Tidak ada seorangpun yang bisa menjawab ketika saya bertanya, siapakah pembuat topeng itu. Mereka sudah menemukannya seperti itu. Turun temurun.

Bahkan menurut seorang penduduk yang menemani saya ngobrol, jumlahnya pun berubah-ubah setiap kali mereka membuka tempat penyimpanannya. Jika hari ini mereka membuka tempat penyimpanan itu menemukan 21 topeng, maka besoknya bisa jadi topeng itu akan berjumlah 23 buah. Kebetulan pada hari saya di sana, jumlah topeng yang ditarikan ada sebanyak 19 buah. Menurutnya, berapapun jumlah topeng yang ditemukan per hari itu, maka harus dipentaskan semuanya. Dan para Teruna (remaja pria) yang memakai topeng itu harus bisa memainkan peranannya.  Hmm…sangat menarik.

Yang berbeda lagi dengan Barong biasa, Barong Brutuk ini tidak diiringi dengan musik. Brutuk hanya berjalan-jalan di halaman atau mengelilingi Jeroan Pura sambil membawa cambuk.  Sehingga sebenarnya agak sulit kalau dibilang menari, karena memang hanya sembahyang,  berjalan berkeliling dan melecutkan cambuk. Tidak banyak penduduk diperkenankan masuk untuk menghindari lecutan cambuk. Banyak penduduk terlihat menonton dari balik pagar, ada juga beberapa yang nekat di pintu Jeroan. Beberapa kali nampak penduduk mengambil daun kraras dari barong Brutuk ini dan menyelipkan di telinganya. “Untuk apa?” tanya saya.

Penduduk mempercayai bahwa potongan daun kraras dari Barong Brutuk itu membawa keselamatan dan berkah. Demikian juga lecutan cambuknya. Dipercaya memberi kesembuhan (tamba) bagi yang sakit. Beberapa orang anak-anak memanggil-manggil dan menggoda Barong Brutuk agar mencambuk ke arah mereka. “Ratu!! meriki Ratu!” (Ratu! Ke sini Ratu!) atau “Malih Tu! Malih Tu! Nunas Tamba, Tu!” (lagi Ratu! Minta Obat). Namun ketika  Barong Brutuk itu mendekat dan mencambuk, anak-anak itu pada berlarian dan tertawa senang. Ada beberapa orang yang sempat terkena lecutan juga. Bahkan ada seorang penduduk yang tampak sedang sakit malah bersimpuh memohon dicambuk, dan ketika dicambuk bukannya kabur namun malah menyerahkan diri – karena ia percaya akan khasiat pengobatan dari lecutan Barong Brutuk itu. Selain itu bebrapa kali saya lihat Barong Brutuk itu melemparkan buah-buahan dari banten ke penonton. Dan orang-orang berebut untuk mendapatkannya,karena juga dipercaya sebagai berkah dan obat.

Pementasan ini sangat panjang. Pagi hari hanya di halaman Jeroan Pura, lalu setelah istiahat sejenak dilanjutkan ke areal Jaba Pura (bagian luar /areal Pura yang lebih rendah). Sore harinya dipentaskan bagaimana pria dan wanita Trunyan pada jaman dulu mencari pasangannya, yang disebut dengan acara metambak-tambakan. Barong Brutuk dengan topeng raja dan ratu menarikan tarian percintaan ini. Mereka sama -sama menari dengan aggresif-nya, hingga akhirnya merasa cocok dan menikah. Saya dijelaskan bahwa dalam kepercayaan masyarakat Trunyan, bahwa urusan mencari jodoh bukanlah hanya urusan pria saja yang harus aggresif menyeleksi dan menentukan pilihan hidupnya, namun para wanita pun layak sama aggresifnya dalam menentukan pilihannya sendiri.

 

Seorang penduduk mengatakan bahwa tarian sakral ini sudah tidak pernah dipentaskan sebagaimana seharusnya sejak  dua puluh tahun lebih, walaupun pernah diperagakan di Pesta Kesenian Bali. Namun seorang ibu lain mengatakan bahwa seingatnya tarian ini pernah dipentaskan pada tahun 2002.  Sayapun jadi penasaran, kapan seharusnya tarian ini dipentaskan? Jika tidak dipentaskan,apa sebabnya? Dan jika sekarang dipentaskan lagi, tentu ada penyebab juga. Sayang sekali saya tidak mendapatkan jawaban yang conclusive atas pertanyaan di kepala saya ini. Walaupun ada yang mengatakan Tarian sakral ini dipentaskan dalam rangka untuk memohon kesuburan.

Menurut seorang penduduk, Barong Brutuk seharusnya dipentaskan setiap dua tahun sekali, pada upacara Ngusaba Pura Pancering Jagat yakni pada Purnama Kapat. Purnama Kapat (bulan Purnama ke-empat dalam penanggalan Bali)  itu sendiri oleh penduduk diberi kode Kapat Lanang dan Kapat Wadon. Barong Brutuk hanya dimainkan pada Kapat Lanang oleh para Teruna (remaja pria). Tahun berikutnya, saat Kapat Wadon, Barong Brutuk tidak dipentaskan. Pada Ngusaba di Kapat Wadon ini, yang aktif adalah para Daa Bunga  (remaja puteri). Mereka akan mengisi kegiatan upacara dengan menenun kain suci. Itulah sebabnya secara natural, Barong Brutuk hanya dipentaskan setiap dua tahun sekali. Tidak ada yang bisa memberikan jawaban pasti kepada saya mengapa tarian ini tidak dipentaskan. Hanya sebuah cerita singkat bahwa pada tahun 2007, terjadi bencana tumbangnya pohon Beringin besar yang tumbuh di Pura itu, sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukan pementasan. Lalu apa yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya?

Masih banyak pertanyaan yang menggelayut di kepala saya. Namun karena hari sudah semakin sore, maka sayapun berpamitan kepada para pemuka desa Trunyan untuk pulang ke Bangli.

 

Bakti Sosial Reuni SMA Negeri 1 Bangli,Bali : Menabur Benih Ikan.

Standard

baksos tebar benih ikan di danau baturMinggu yang lalu saya kebetulan ada urusan  di  Denpasar. Seorang teman yang tahu saya ada di Bali, mengajak saya ketemuan di SMA 1 Bangli. Tanggal 25 Oktober ini akan ada Reuni Agung, dan besok itu akan ada kegiatan pra reuni. Ia meminta agar saya ikut saja. “Ayo pulang! Besok ada bakti sosial menebar benih ikan” katanya. “Tapi aku mau pulang ke kampung di tepi Danau Batur” kata saya. “Ke danau Batur  sorenya saja. Kan sekalian sambil menebar benih ikan.” saran teman saya. Akhirnya saya tak kuasa menolak. Kangen juga sama teman-teman. ha ha!.

Besoknya saya datang ke Sekolah. Pagi itu diadakan acara Jalan santai.  Whuaa..seru banget ketemu teman-teman!. Cekakak cekikik mengenang masa lalu. Potret sana, potret sini -berselfie ria. Semua pojok depan sekolah dijadikan latar belakang pemotretan. Saking asyiknya, baru sadar ternyata kami sudah ditinggal barisan jalan santai. Waduuuh! Kami menebak-nebak jalur jalan santai yang ditempuh, lalu mencoba mencegat rombongan lewat jalan pintas menembus rumah-rumah penduduk. Ternyata salah!!. Bukan jalur itu yang ditempuh!.. ha ha. Akhirnya terpaksa balik ke pojok Lapangan Kapten Mudita dan menunggu di situ. Nasib membolos dari kegiatan jalan santai. Ketika rombongan pejalan santai kembali dan melihat rombongan itu diliput oleh sebuah station TV, lalu kami menyelinap masuk barisan dan berakting seolah olah kelelahan habis jalan santai sambil berdadah dadah ke kamera TV. Hua!

Hari itu banyak acara deh. Tapi saya sangat terkesan dengan acara Menabur Benih Ikan.  Acara ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan populasi ikan air tawar di badan-badan air di Bangli. Teman saya Alit Parwata menjadi “the man of the day” hari itu. Namanya dipanggil-panggil untuk datang ke panggung, sementara yang bersangkutan menghilang karena sedang  sibuk mendonorkan darahnya di acara donor darah. Mana Alit? Mana Alit?

Awalnya saya tidak terlalu paham kenapa Alit mendadak menjadi “orang penting” hari itu? Mengapa ia dipanggil-panggil ke panggung dan didaulat untuk mengocok undian door prize segala? Sementara kami hanya duduk di sini dan tak seorangpun yang memanggil ke panggung?  Ada apa gerangan? Akhirnya teka-teki itu terjawab. “Memang Alit orang penting hari ini! Kan benih ikan buat acara tabur benih nanti dari dia” jelas Erna, sahabat karib saya.  Rupanya Alit adalah Kadis Peternakan dan Perikanan  di kabupaten Bangli. OOOO.. saya baru tahu. Sekarang saya mengerti mengapa. Ha ha! Pantes saja jadi orang penting.

Acara menabur benih ikan itu dilakukan di dua lokasi. Pertama di Telabah Aya, sebelum makan siang  dan yang ke dua di Danau Batur, pada sore hari.  Telabah, dalam Bahasa Bali artinya adalah sungai kecil atau kali. Berbeda dengan Tukad (Sungai), lebar telabah  biasanya hanya  beberapa meter, dan di beberapa bagian bahkan ada yang sangat sempit  seukuran got yang lebar.  Saya ikut rombongan teman-teman seangkatan saya mengikuti acara itu. Diawali dengan acara symbolis penyerahan bibit ikan oleh Alit selaku Kadis Peternakan dan Perikanan kepada pemuka adat setempat. Baru setelah itu kami beramai-ramai melepas anak-anak ikan.  Anak-anak ikan yang berada dalam kantung-kantung plastik beroksigen dilepas dengan cara membuka kantung plastik perlahan-lahan, lalu menurunkan permukaan plastik berlawanan arah dengan arus air sungai, ditunggu sebentar hingga ikan-ikan itu keluar semua dari kantung plastik dan anak-anak ikan bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya.  Sebagaimana layaknya sungai di daerah pegunungan, air telabah Aya ini juga sangat bening. Sehingga ikan-ikan yang baru dilepas ini sangat mudah dilihat bergerak-gerak berenang melawan arus di beningnya air.

Sore harinya,  kembali teman-teman mengajak saya melepas benih ikan. Kali ini lokasinya di Danau Batur di Kintamani, Bangli.

Penaburan benih ikan dilakukan di tengah danau dengan menggunakan 2 buah perahu bermesin tempel dan di dekat dermaga di desa Kedisan. Perjalanan ke sana kurang lebih memakan waktu setengah jam. Pemandangan sangat indah sekali. Jalan yang berkelok, Gunung Batur dan Danau yang luas serta bukit-bukit hijau yang mendindingi danau. Sesampainya di bawah, saya memandang lepas ke danau. Ada banyak sekali burung-burung air yang beterbangan mencari ikan.

Saya ikut naik ke dalam salah sebuah perahu yang akan membawa bibit ikan ke tengah. perahu melaju dengan cepat membelah air danau yang biru. Sesampai di tengah, teman-teman saya bergantian mulai melepas anak-anak ikan sambil bergembira. Semoga anak-anak ikan itu mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Seperti  saat di telabah Aya, panitya juga memperingatkan agar jangan meninggalkan kantong plastik bekas di tengah danau agar tidak merusak lingkungan.

Alit  memberi saya informasi bahwa jumlah benih ikan yang ditabur adalah sebanyak 30 000 ekor. 25 ekor ditabur di danau Batur, dan 5 000 sisanya ditabur di Telabah Aya.  Sumber benih didapatkan dari UPR Sala, yaitu unit pembenihan ikan milik alumni. Penaburan benih ikan ini dilakukan sebagai salah satu bentuk kepedulian alumni terhadap pelestarian lingkungan. Menurut Alit, pada bulan Agustus sebelumnya sempat terjadi ledakan belerang  di danau gunung berapi itu yang mematikan ikan, sehingga kita perlu menebar kembali benih ikan agar populasi ikan dan keseimbangan ekosistemnya terjaga.

Sedangkan untuk Telabah Aya sendiri dilakukan proggram kebersihan saluran irigasi, dengan cara tidak membuang sampah sembarangan dan menebar benih ikan agar semua pihak peduli dengan proggram kali bersih.

Menabur benih ikan! Menabur kebaikan untuk masyarakat sekitar. Saya salut kepada teman saya Alit Parwata dan juga kepada teman-teman panitya reuni serta jajaran akademis SMA 1 Bangli  yang menyelenggarakan acara ini. Banyak kegiatan yang bermakna yang dilakukan. Reuni. Bukan hanya sekedar pertemuan hura-hura. Namun pertemuan penuh makna. Mengingatkan kita kembali akan jasa sekolah serta bapak-bapak dan ibu-ibu guru kita, yang telah dengan susah payah mendidik kita hingga kita menjadi diri kita sekarang ini. Banyak yang sukses. Walaupun diantaranya mungkin ada juga yang kurang sukses. Jangan pernah lupa akan almamater. Jika sukses, tidak ada salahnya memberikan kembali kepada sekolah dan masyarakat sekitar. Kebaktian sosial. Donor darah, pemeriksaan kesehatan gratis, dan lain-lain.

Saya merasa bersyukur dan sangat berterimakasih pernah dididik di sini. Di SMA negeri 1 Bangli. Sekolah yang senantiasa mengingatkan kepedulian kita akan kelestarian lingkungan alam sekitar kita.

 

 

Musik Dan Perkembangan Jiwa Anak-Anak.

Standard

HomeConcertBermain musik!. Adalah salah satu bentuk berkesenian yang tidak saya kuasai.  Walaupun demikian, saya sangat menyukai musik. Apapun jenisnya.Mulai dari yang traditional hingga modern. Mulai dari gamelan, hingga alat musik asing.  Dan saya selalu kagum kepada orang yang jago bermain musik. Karena menurut saya mereka adalah orang-orang yang mampu menghayati dan mengamalkan keharmonisan dengan sangat baik. Saya tak habis pikir. Bagaimana ya caranya orang bisa berkonsentrasi dengan nada suara di dalam alat musik yang digunakannya sendiri agar tidak bertabrakan panjang pendek, cepat lambat ataupun tinggi rendahnya. Belum lagi harus menyeimbangkan keharmonisan dengan nada suara alat musik lain. Atau bahkan menyesuaikan dengan suara sang penyanyi jika ada. Repot, bukan?

Oleh karena ketidak mampuan saya bermain musik, maka saya mendorong anak-anak saya bermain musik. Agar tidak sama dengan emaknya yang cuma tahu dung dang ding dong deng – tangga nada dalam musik traditional Bali – sejenis do re mi fa sol. Pada awalnya saya membawa anak-anak saya ke sekolah musik yang ada di Bintaro. Anak saya yang besar memutuskan untuk belajar Violin, sementara yang kecil belajar piano.   Namun karena satu hal, saya kemudian memuuskan untuk melanjutkan pendidikan musik bagi anak saya di tempat kursus  yang lebih private, dimana gurunya mempunyai waktu yang lebih banyak untuk membimbing anak-anak.

Di tempat baru ini kedua anak saya mengambil kelas piano classic. Baru kelas persiapan dan grade 1. Masih jauh sekali ya hingga bisa menjadi pemusik yang pro? Tidak apa-apa.  Kalau ingin menjadi yang pro tentu harus sabar dan tekun belajar dari mulai yang mudah dan sederhana terlebih dahulu. Kalau terus berlatih dengan tekun tentu suatu saat bisa menjadi pro juga. Saya cukup senang anak-anak saya menyukai apa yang ia pelajari.  Selain itu di sekolahnya, anak saya yang kecil juga belajar Gamelan Jawa. Saya mendorongnya untuk mempelajari musik traditional juga. Home concert

Beberapa hari yang lalu mereka ikut Home Concert yang diselenggarakan oleh tempat kursusnya yang dihadiri sekitar 30-an penoton. Ada sekitar 17 peserta yang menampilkan Solo, selain ada juga performance gabungan. Anak saya yang kecil membawakan “Long Long Ago” karya komposer Inggris,  Thomas Haynes Bayly. Sementara anak saya yang besar, untuk penampilan piano classic  solo-nya ia membawakan dua buah lagu, dua-duanya karya Ludwig van Beethoven, komposer dan pianis Jerman. Lagu pertamanya adalah Alegro in G, dan yang kedua adalah  Fur Elise. Selain itu ia juga melakukan performance gabungan bersama seorang guru. Saya sangat senang melihat penampilan anak-anak saya. Rasanya tidak sia-sia mendorongnya untuk belajar.

Jadi teringat kembali masa-masa dimana ia baru saja mencoba menggunakan alat musiknya yang saya belikan untuk pertama kali dengan suara yang belepotan dan amburadul. Ngak ngik ngok. Tak terasa sekarang mereka telah mulai besar dan mulai lebih terlatih…

belajar musik

Mengapa bagi saya musik menjadi sedemikian pentingnya untuk anak-anak?

Musik  yang bagus memberikan keteduhan jiwa bagi siapapun pendengarnya. Mendorong anak-anak untuk mendengarkan musik atau bermain musik, sama dengan mendorongnya menuju ke keteduhan jiwa dan mental yang damai.

Belajar musik juga memberikan kesempatan kepada anak untuk memahami dengan lebih mudah akan pentingnya harmony dalam setiap langkah kehidupannya. Anak-anak akan menjadi lebih peka bahwa untuk membuat dirinya harmony, ia harus mengatur beberapa hal dengan baik secara internal, dan sekaligus bisa paham bahwa ia pun perlu menyelaraskan diri dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya.

Musik juga membantu anak dalam mengasah “rasa”. Mengatur tempo,tekanan dan nada. Dan juga menjadi obat mujarab untuk mengobati kebosanan.

Yuk kita dorong anak-anak untuk belajar bermain musik – apapun jenisnya!.

 

Bukittinggi: Hanya Sebatang Pohon Karet.

Standard

Burung Cerukcuk 2Saya sedang menikmati sarapan pagi saya di sebuah hotel di Bukittinggi, Sumatera Barat. Pagi hari yang sangat menyenangkan. Matahari baru saja menyembul dari balik atap bangunan, mengusir kabut pagi. Saya mengambil posisi duduk di pinggir, sedemikian rupa sehingga tidak terkena sinar matahari langsung namun masih  bisa memandang langit dan taman hotel yang hijau dan asri. Pelayan restaurant menawarkan secangkir teh hangat dan saya mengangguk berterimakasih.  Saya menyukai kota berhawa sejuk ini.

Beberapa puluh ekor burung walet tampak bercericip di langit, terbang berputar-putar mengelilingi sebuah menara. Terbang berkejar-kejaran dengan teman-temannya. Alangkah riang gembiranya kawanan burung itu. Saya hanya memandanginya saja. Ikut bersyukur akan kegembiraan pagi. Tidak berniat untuk memotretnya karena saya tidak  tahu bagaimana teknik memotret burung terbang di angkasa.

Burung Cerukcuk 3

Di halaman tampak tumbuh sebatang pohon karet (Ficus elastica) yang jika ditilik dari ukuran dan jumlah lumut serta tanaman epifit yang tumbuh di batang dan cabangnya menampakkan usianya yang tentu bukan baru setahun dua tahun.  Pohon itu tampak sangat artistik dengan ketuaannya. Di pucuk-pucuk cabangnya tampak banyak sekali buah-buah kecil bermunculan dari sela-sela daunnya yang kaku. Sumber makanan yang berlimpah bagi burung-burung. Saya pikir sebentar lagi tentu saya akan menyaksikan kehadiran burung-burung pemakan buah di sini. Benar saja. Tak seberapa lama seekor burung kecil muncul dan hinggap di dahan. Sayang saya belum siap dengan kamera saya.

Burung Cerukcuk 4

Berikutnya beberapa ekor Burung Cerukcuk (Pycnonotus goiavier) mampir. Seekor tampak cukup dekat dengan posisi saya duduk.  Nah, yang ini tentu ada kesempatan buat saya memotret. Burung itu memakan buah-buah karet yang melimpah. Pindah dari satu cabang ke cabang yang lain.  Barangkali mereka memilih hanya buah-buah yang masak dan ranum. Setelah menelan 4-5 buah karet, kedua ekor burung itu terbang.

Berikutnya datang lagi 4 ekor burung Cerukcuk lain. Mereka juga melakukan kegiatan yang sama makan dan pergi. Lalu bergantian lagi dengan beberapa ekor burung yang lain.

Walaupun Burung yang sama sudah cukup sering saya lihat di belakang rumah saya,namun saya tetap senang melihat burung ini di sini. Setidaknya memberi saya pemahaman yang baik bahwa penyebaran Burung ini ternyata memang sangat luas di tanah air – setidaknya saya bisa mencatat minimal mulai dari sisi barat pulau Sumatera, sepanjang pulau Jawa,  pulau Bali , pulau Lombok.

Burung PekingNamun rupanya yang membutuhkan pohon karet itu bukan hanya burung Cerukcuk. Banyak burung-burung kecil juga berdatangan.  Misalnya di cabang utama pohon itu tumbuh beberapa rumpun anggrek merpati. Nampak beberapa ekor burung Peking (Lonchura punctulata) entah mencari makan, entah bersarang di sana.

Burung Bondol Tunggir Putih

 

Demikian juga di cabang yang lain. Saya melihat Burung Bondol Tunggir Putih (Lonchura striata). Semua ikut bernaung dan ikut makan di sana.  Saya memandangnya sambil menghabiskan teh hangat saya. Saya mendengar bahwa hotel itu sedang direnovasi saat ini. Semoga pohon karet itu tidak ditebang. Sehingga ia tetap bisa menjadi penyangga kehidupan bagi mahluk-mahluk lain yang berkunjung ke sana.

Hanya sebatang pohon karet.  Namun walaupun hanya sebatang, buahnya sangat berlimpah. Alangkah banyaknya buah pohon karet itu. Dan alangkah banyaknya jumlah burung yang dihidupinya. Baik untuk mencari makan, untuk berteduh ataupun hanya untuk sekedar mengistirahatkan sayapnya sejenak.

Walaupun hanya sebatang, namun betapa sangat penting keberadaannya. Jika kita bisa menyelamatkan keberadaan pohon, walaupun hanya sebatang, tetap sangat besar artinya bagi keberlangsungan mahluk hidup lain di sekitarnya.