Category Archives: Uncategorized

Tomat Yang Retak.

Standard

Melakukan segala sesuatu tentu ada sisi suka dan dukanya. Begitu juga ketika saya berkebun. Selalu ada bagian yang menyenangkan dan bagian yang menyedihkannya. Bagian yang menyenangkannya sudah pastilah saat melihat tanaman sehat, sayuran hijau segar, cabe memerah dan tomat juga merekah.Bagian yang menyedihkannya adalah ketika melihat tanaman diserang penyakit, daunnya keriting, layu dan akhirnya mati.

Hal lain yang juga menyedihkan adalah ketika sudah menunggu lama dan berharap banyak, tiba tiba buah tomat pada retak-retak. Akibatnya juga jadi busuk dan kurang layak dikonsumsi. 

Saya mencoba mencari tahu penyebabnya. Rupanya itu bisa terjadi jika pohon tomat sempat terexpose terlalu lama di bawah matahari hinggak kering kekurangan air, lalu tiba-tiba menerima pengairan yang berlebih baik itu lewat penyiraman maupun karena hujan lebat yang tiba tiba. Dua keadaan yang extreem. Kalau sudah begini, saya hanya bisa menarik nafas panjang guna melapangkan dada saya. Semoga besok saya lebih pintar bercocok tanam. 

                                  *****

Sebenarnya tidak ada yang aneh dengan keadaan ini. Segala sesuatu yang terekspose dengan kondisi extreem tentu sangat mungkin akan mengalami keretakan.

Memikirkan ini tiba tiba saya merasa prihatin dengan kondisi kebangsaan kita belakangan ini. Situasinya sangat mirip dengan situasi buah tomat ini. 

Sebagai masyarakat yang memang dari awalnya terdiri atas beragam suku, ras dan agama, leluhur kita telah mengikrarkan diri menjadi satu bangsa yang bertanah air satu yaitu Indonesia. Dan karenanya setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk memelihara ke Indonesiaan kita ini. Tidak ada yang mendapatkan lebih dan tidak ada yang mendapatkan kurang. Dalam bernegara hak dan kewajiban kita sama. Tidak ada yang mayor dan tidak ada yang minor. 

 Jika saja setiap warga negara sadar akan ini tentu keIndonesiaan kita akan berkembang dengan baik. Bak buah tomat yang sehat, ia pun akan tumbuh dan berkembang dengan baik hingga matang ranum dengan halus mulus. 

Namun bagaimana jika sebagian dari kita ada yang merasa memiliki hak yang lebih dibanding warga negara yang lain? Lalu berkata dan bertindak semena-mena menghakimi dan mengurangi hak orang lain sebagai warga negara hanya karena tidak satu suku dengannya? Tidak seagama dengannya? Bukankah itu sama dengan memapar keIndonesiaan kita pada kondisi extreem? Yang ujung-ujungnya berpotensi keretakan bangsa? 

Yuk kita yang masih cinta pada Indonesia, kita jaga baik baik persatuan bangsa kita. Nggak usah ngupload status yang aneh-aneh yang berpotensi merusak hubungan kita sebagai bangsa Indonesia!. 

*Renungan di bawah pohon tomat.

Ghost…

Standard

​Jam 2 pagi. Saya terbangun dan mendapati diri saya sedang memeluk anak saya yang kecil. Rupanya tadi saya ketiduran. Pulang kerja agak malam dan saya merasa sedikit kelelahan. Anak saya yang kecil meminta tolong ingin dipijitin sebelum tidur. Jadilah saya ikut berbaring sambil memijit dan mengusap-usap punggungnya. Juga sambil berdoa dalam hati semoga anak saya kelak tumbuh jadi orang berbahagia, yang mandiri,  yang baik hatinya dan suka menolong orang lain yang membutuhkan bantuannya. Standardlah itu dilakukan oleh semua ibu ibu di seluruh dunia ya?. 
Tapi rupanya, entah saking khusuknya berdoa atau karena saya memang kelelahan…eh tanpa sadar saya tertidur. Belum mandi, belum ngapa-ngapain. Jadilah akhirnya terbangun jam 2 pagi. 

Yang pertama saya lakukan adalah menyambar handuk dan segera ke kamar mandi. Lalu mengendap-endap ke kamar mengganti baju dengan yang bersih. Suami saya tertidur pulas. Nafasnya naik turun dengan teratur. Saya membetulkan selimutnya agar ia tidak kedinginan. Lalu saya memeriksa ke dua anak saya yang juga tidur dengan nyenyak. Memeriksa sekeliling takut ada nyamuk menggigit kulitnya. Lalu saya ke ruang tengah, memeriksa pintu depan dan belakang untuk memastikan semua terkunci dengan baik. Aneh…mata saya sekarang sulit dipejamkan. Mungkin karena habis mandi jadi terasa segar. Akhirnya saya memutuskan untuk duduk di ruang tengah. Membuka laptop saya dan bekerja. Memeriksa tumpukan e-mail dan proposal yang belum sempat saya baca dan periksa.

 Tak terasa malam semakin larut. suasana sangat sepi dan hening. Hanya ada saya, dan suara laptop yang mendenging sangat halus. Tiba tiba saya mendengar suara kecil kecipak air. Saya kaget. Suara apa ya? Dari arah kamar mandi. Saya diam. Tidak ada apa apa. 

Beberapa menit kemudian, ada suara gerakan air lagi. Kali ini agak lebih panjang. Saya memasang telinga saya baik-baik. Diam lagi. Hening. 

Sebenarnya saya merasa agak takut. Tapi saya berusaha berpikir logis.Saya memberanikan diri untuk bangkit dari tempat duduk.  Berdiri memeriksa kamar mandi. Aneeh!. Semua keran air mati. Baik yang di wastafel, di kucuran air maupun untuk jetwasher. Walaupun basah, tapi kerannya sudah mati semua. Ini sungguh aneh. Akhirnya saya kembali ke ruang tengah. 

Sekarang saya ingin menulis. Saat beberapa kalimat sudah mulai terketik, eh…suara kecipak air itu muncul lagi. Suara apa itu? Kok datang lagi tapi tidak ada kelihatan wujudnya? Saya periksa lagi dan tetap tidak ada apa apa. Tengkuk saya mulai merinding membayangkan sesuatu yang tidak bersahabat. Hantu!!!!. Atau apapun namanya mahluk halus itu. 

Tapi tidak!. Saya tidak mau menyerah sama hantu. Jika ini terjadi pada waktu saya kecil, sudah pasti saya akan ngibrit berlari ke pangkuan bapak saya. Tapi sekarang? Seumur segini? Kemana saya harus ngibrit? Ini tempat saya tinggal. Suami saya tentu tidak percaya akan cerita hantu ini. Alih-alih saya malah bisa ditertawakan dan dianggap nggak logis. Jadi saya memilih untuk tidak membangunkan suami saya. 

Akhirnya karena tak punya pilihan lain,  saya datang kembali ke kamar mandi. Saya berdiri di situ beberapa saat dan  berkata kepada entah siapa “Ayo tunjukan dirimu!. Kalau kamu memang berani“. Tak ada yang menyahut. Hanya keheningan malam. 

Saya bertahan di tempat itu beberapa saat. Menunggu sesuatu mungkin akan terjadi.  Tetap tidak terjadi apa apa. Saya kembali ke tempat duduk. 

Pukul 5 pagi anak saya yang kecil bangun. Saya menyambutnya dengan sapaan pagi. Tak berapa lama suara kecipak air itu terdengar lagi. Anak saya membungkuk di rak depan kamar mandi. Ia melihat ke dalam gelas  berisi air kelapa yang tak habis diminum semalam yang diletakkan di situ. “Ya ampuuuun Mama. Kasihan amat cicak ini kecemplung ke dalam gelas” katanya sambil mengangkat gelas itu. Seekor cicak tampak memberontak, berusaha ingin keluar dari gelas yang berisi air kelapa. Waduuuuh. Ha ha ha… Jadi???

Sambil membantu cicak itu keluar dari gelas, saya pun bercerita kepada anak saya tentang apa yang saya dengar dan sangka sebagai hantu. 

Anak saya hanya nyengir mendengar cerita saya. Ia masuk ke kamar mandi sambil berkata, “Lain kali kalau mama takut, mama bangunin aja aku…” katanya. Oya… bener juga. Anak saya sekarang sudah besar. Bisa juga dijadikan pilihan tempat ngibrit jika ketakutan.  Thanks God. 

Heathens -How To Grab Audience Attention Quickly.

Standard

How to grab audience attention quickly. Memetik salah satu intisari pelajaran memasarkan dari sebuah lagu Twenty One Pilots.

Saya sedang dalam perjalanan dengan anak saya yang menanjak remaja. Seperti biasa ia yang menguasai radio dan memilih channel kesayangannya. Lalu melantunlah lagu lagu yang sedang nge hits di radio itu macam lagunya Shawn Mendez ‘I can treat you better then he can..’ atau lagunya Maroon ‘I don‘t want to know‘, Ariana Grande, maupun lagunya Selena Gomez. “We dont talk anymore…. we dont talk any more….”.

Saya ikut menggoyang goyangkan badan saya dan sesekali ikut bernyanyi. Hingga tiba-tiba radio itu memutar sebuah lagu yang menurut saya aliran musik dan melodynya sangat jauh berbeda dengan lagu lagu lain yang sangat ABG. Sayapun terdiam menyimak.

All my friends are heathens. Let it slowWait for them to ask you who you knowPlease don‘t make any sudden moves.  You don‘t know  half of the abuse….. “.

Karena penasaran sayapun mencari tahu dari anak saya siapa penyanyinya. Anak saya heran.”Mengapa mama suka lagu itu? Itu kan lagunya orang jahat” kata anak saya. Saya tidak paham mengapa itu lagu orang jahat. Ia lalu menjelaskan bahwa lagu itu ada di film film super hero dan dinyanyikan oleh komplotan penjahatnya.  Itu tuh…macam Harley Quinn, musuh musuhnya Batman. Ooh jadi begitu ya… Saya manggut-manggut. Lagu ini dinyanyikan oleh Twentyone Pilots.

Lalu saya coba search sendiri dari youtube dan lihat visual backgroundnya yang dimulai dengan sel-sel penjara. Lalu informasi dari Wikipedia jika lagu ini memang awalnya diciptakan untuk soundtrack film “Suicide Squad” yang baru saja direlease di pasaran. Ooh..

Terlepas dari background lagu ini yang soundtrack sebuah film, lagu ini menurut saya berhasil menarik ‘attention’ dari audience dengan sangat cepat. Mengapa? Karena selain memang melodynya enak – yang tentunya merupakan alasan utama mengapa lagu ini disukai orang – lagu ini keluar dengan genre musik yang totally berbeda. Terutama ketika radio melantunkan lagu lagu Ariana Grande, Selena Gomez, Justin Bieber, Shawn Mendez, dan sebagainya, tiba tiba muncul lagu ini. Sungguh terasa perbedaannya yang membuat pemirsa terdiam. Lain dan tidak biasa.

Jadi poin saya adalah bahwa untuk mendapatkan attention yang cepat dalam kondisi yang super crowded, dibutuhkan sesuatu yang bagus, unik dan berbeda. Ya. Dua kombinasi itu: Bagus dan Beda, merupakan sarat dasar untuk mudahnya mendapat perhatian. Dan itu berlaku dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam pemasaran. Memasarkan produk baru, misalnya.

Jika kita datang  dengan sesuatu yang biasa biasa saja. Sama atau serupa dengan apa yang sudah ada di pasaran, akan tidak mudah bagi kita untuk mendapatkan perhatian konsumen. Apalagi jika kita tidak mendapatkan posisi yang mudah terlihat orang lain. Mau tidak mau ya kita harus rajin rajin berkoar-koar memperkenalkan diri. Coba kita datang dengan sesuatu yang baru dan berbeda. Tanpa kita mintapun orang akan melirik  dan penasaran ingin mengenal lebih jauh. Usaha yang harus kita lakukan untuk memperkenalkan diripun menjadi jauh lebih ringan, bukan?

Tapi berbeda saja juga nggak cukup. Apa yang kita perkenalkan kepada publik juga harus sesuatu yang bagus. Sesuatu yang menarik dan menyenangkan selera publik. Jika tidak, tentu tidak ada gunanya juga menjadi berbeda. Orang mungkin awalnya tertarik, tetapi setelah itu akan kecewa dan tidak mendapatkan kesan yang baik. Tentu kita tidak ingin itu terjadi juga bukan?

Nah…jadi balik lagi ke intisari pelajaran yang bisa kita petik dari lagu Heathens ini bahwa betapa pentingnya menjadi berbeda dan bagus. Yap!. Berbeda dan bagus. Bukan asal sembarang berbeda.

Catatan: Mohon maaf, sebagian dari pembaca mungkin ada yang membaca tulisan ini  dengan tidak lengkap, karena tanpa sengaja ter’publish’ saat tulisan belum selesai.

Pupuk Guano Untuk Dapur Hidup.

Standard

Tentang Cabe Yang Tak Habis-Habisnya Berbuah. 

​Saya memiliki 12 batang tanaman cabe rawit dalam koleksi Dapur Hidup di pekarangan rumah saya saat ini. Bibitnya saya dapatkan dari cabe di limbah dapur yang tak terpakai lagi karena sudah busuk. 

​Menyemai tanaman cabe dari biji limbah dapur sangatlah mudah. Karena saya hanya menggeletakkannya di pot dan biji biji itupun bertumbuhan. Problemnya hanyalah setelah anakan cabe itu sudah agak besar dan sudah saatnya dipindahkan ke potnya sendiri. Pertama, saya tidak memiliki banyak tempat ataupun pot untuk menanam semua anakan cabe itu. Kedua, ternyata sebagian dari anakan cabe itu terserang virus tanaman yang membuat pucuknya menghitam dan daunnya kering. Jadi terpaksa saya siangi dan buang tanaman yang tidak sehat itu. 

Sisanya yang sehat sekitar 15 batang saya tanam dalam pot. 

Pada awalnya, tanaman ini tumbuh dengan sangat subur. Daunnya hijau dan lebar lebar. Hati saya sangat gembira. Sayang tak lama kemudian, mulai ada banyak kutu daun kecil kecil hinggap di balik daunnya yang lebar lebar itu, meninggalkan lapisan putih mirip bedak. Waduuh… saya sudah bisa membayangkan apa yang terjadi setelah ini. Tanaman saya bisa mengkeret lalu mati perlahan. 

Sebelum itu terjadi, saya menyikat daun daun tanaman cabe ini satu per satu. Karena saya tidak mau menggunakan pestisida unyuk tanaman saya. Baru lima belas batang saja menyikat daun, membutuhkan waktu yang sangat lama dan rasanya sangat melelahkan. Saya membayangkan bagaimana dengan petani yang tanamannya hingga ribuan. Serangan kutu ini sangat mengganggu. Sekarang saya mulai mengerti mengapa petani menggunakan pestisida. Dan mengapa kadang kadang harga cabe melonjak naik tanpa kira kira. 

Terlepas dari gangguan kutu daun putih ini, tak seberapa lama saya menemukan lagi tanaman cabe saya terserang virus yang membuat daunnya keriting dan pucuknya menghitam seperti terbakar. Ya ampuun. Cobaan datang bertubi-tubi untuk menjegal semangat saya bertanam cabe. Tapi tidak!!!! Saya tidak mau menyerah sedemikian mudah.

Di tengah ketidak berdayaan, saya terpaksa menggunting dan menggunduli tanaman cabe itu. Membuang semua daun dan pucuknya yang bermasalah (nyaris 100%). Tentu sangat sedih. 

Namun beberapa hari kemudian saya melihat tunas baru yang sehat muncul. Jadi tidak sia-sia pengorbanan saya. Tunas baru itu membesar, meninggi menjadi cabang baru dengan daunnya yang banyak. Hati saya sangat bahagia. Terharu melihat pertumbuhannya. Terlebih-lebih ketika tanaman  ini mulai menunjukkan bunganya. Bermekaran putih kehijauan satu per satu. Namun apa daya, setelah itu ternyata bunganya pada rontok satu per satu. Dan daun serta pucuk dan lengkap dengan putik bunganya semuanya mengkeret seperti hangus. Aduuh… kedukaan kembali melanda hati saya. Tak habis pikir, bagaimana caranya agar sukses membuat cabe ini berbuah. Rasanya tak kurang perawatannya. Semua cukup. Air, sinar matahari dan pemupukan. 

Dengan berat hati kembali saya menggunduli tanaman cabe saya. Seperti sebelumnya, tunas baru kembali muncul Menjadi cabang baru yang sehat dengan batang yang kuat dan daun yang banyak. Mulai berbunga dan akhirnya menjadi calon buah kecil yang hijau. Setiap hari saya memeriksanya, merawat sambil berdoa. Hingga pada bulan Maret 2016, akhirnya untuk pertama kalinya saya melihat cabe saya akhirnya memerah. Akhirnya panen juga, walaupun tidak banyak. Kurang lebih hanya 1 kilo gram semuanya (buah yang pertama memerah tidak saya petik, saya biarkan ia tetap di pohonnya hingga tua dan kering sendiri).

Setelah itu tanaman cabe saya terserang hama virus lagi. Dan kali ini saya nyaris menyerah sampai akhirnya saya pulang ke Bali.

​ Kakak sepupu dan keponakan saya memberikan Guano untuk saya coba  pada tanaman Dapur Hidup saya. 

Pupuk organik berbahan baku kotoran kelelawar  ini saya bawa ke Jakarta dan coba saya taburkan pada tananan cabe saya.

​Tanpa saya duga, hasilnya ternyata luar biasa. Cabe yang tadinya sekarat sudah hampir mati mulai tumbuh dengan baik. Bukan hanya itu, bunganya juga tiba tiba muncul sangat banyak. Membuat saya sungguh terheran heran. 
Bunga dengan cepat menjadi buah. Membesar dan berubah warna menjadi jingga lalu merah.

​ Lalu segera menyusul dengan bunga bunga yang baru, jadi buah dan memerah. Begitu seterusnya. Setiap minggu saya panen. Dan pohon cabe ini terus berbuah lebat sejak bulan Maret hingga kini. 
Sekarang sudah memasuki pertengahan Oktober. Berarti sudah lebih dari 7 bulan cabe ini berbuah terus.  Dan belum ada tanda tanda akan berhenti berbuah karena bunganya masih bermunculan. 

Parsley, Si Keriwil Yang Cantik.

Standard

​Yaiyy!!! Akhir pekan tiba. Saatnya meluangkan waktu untuk tanaman Dapur Hidupku. Nah…Sabtu ini saya mau bercerita tentang Parsley alias Peterselli, tanaman bumbu dapur baru di halaman rumah saya.

​Walaupun bukan tanaman asli Indonesia, sebenarnya Parsley tidaklah terlalu asing bagi kita. Karena daun tanaman ini cukup sering kita temukan dijadikan garnish ataupun hiasan untuk mempercantik hidangan di restaurant-restaurant besar. Selain itu daun tanaman ini lumayan mudah juga kita temukan dijual di rak sayuran di Supermarket. 
Alasan jujur saya menanam Parsley sebenarnya memang hanya sekedar penasaran saja. Ingin tahu apakah saya bisa menumbuhkannya di udara Jakarta atau tidak. Mengingat tanaman ini biasanya ditanam di daerah dingin. 

​Saya membeli bijinya dengan cara online Beberapa bulan yang lalu. Namun karena kesibukan, saya tidak langsung menyemainya. Baru setelah agak senggang kemudian saya menebar bijinya di atas rockwool. Sayang sekali tingkat pertumbuhannya rendah sekali. Saya hanya bisa mendapatkan tanaman parsley ini tidak lebih dari 10 pohon. Beberapa ada yang mati keinjak kucing, sekarang hanya sisa 6 pohon. Tapi tidak apalah. Saya cukup bahagia dengan tanaman saya ini. Lagipula saya tidak akan membutuhkan daun ini banyak-banyak juga. 

Parsley (Peterselinum ) secara fisik tanaman ini sangat menyerupai seledri. Karena memang masih satu keluarga dengan seledri. Menurut beberapa sumber, merupakan tanaman herbal yang sangat baik untuk mencegah tumor paru-paru dan juga penyakit arthritis rhemathoid.

Menyimak GEISHA. Kumpulan Puisi Ersa Sasmita. 

Standard

​Suatu kali mata saya tertumbuk pada sebuah prosa kecil di timelinenya Pak Ersa Sasmita di Facebook. Judulnya “Lukisan Yang Cemburu“. Entah kenapa saya tergelitik untuk menguntit kata demi kata, kalimat demi kalimat yang nenyusunnya hingga cerita berakhir. Semua dengan hati dag dig dug, antara rasa takut dan ingin tahu. Akhirnya berakhir dengan satu desahan kagum akan kepiawaian Pak Ersa merangkai kalimat dan mempermainkan emosi pembacanya. 
Kali berikutnya, saya mengintip lagi sebuah tulisannya yang lain. Kali ini berjudul “Sepasang KunangKunang Mati Di Matanya“. Melalui perjalanan emosi yang berbeda, namun berujung sama yakni ‘decak kekaguman akan kepiawaian Pak Ersa merangkai kalimat dan menorehkan cerita’. Plus kali ini saya salut, bagaimana perjalanan hubungan dari sepasang kekasih Ray-Liana  bisa terangkum hanya dengan menggunakan satu setting saja, yakni di Stasiun Kereta. 

Gara-gara membaca dua prosa itu, membuat saya penasaran akan karya-karya Ersa Sasmita yang lain. Maka berupayalah saya agar bisa membaca buku “GEISHA”kumpulan puisi dari Pak Ersa Sasmita. Sepemahaman saya, buku ini belum lama diterbitkan. Dan saya mendapatkannya melalui pemesanan online.

Nah minggu yang lalu buku ini datang. Dan membuat saya begadang saking penasarannya. Lalu apa komentar saya? 

Terus terang kata pertama yang bisa saya tuliskan adalah “Terkejut”.  Sungguh. Saya sangat terkejut dengan apa yang saya temukan di dalamnya. Di luar dugaan saya. 

Biarlah saya bercerita sedikit di sini…

Buku ini mengandung 95 buah puisi yang terbagi dalam 3 kantung penuh. 

Kantung pertama diberi judul ‘Nyanyian Kehidupan‘. Jika saya perhatikan, puisi-puisi di dalam kantung pertama ini memang bercerita tentang kehidupan, tetapi lebih fokusnya lagi tentang kehidupan tokoh perempuan yang tercetak dalam catatan sejarah maupun dalam cerita-cerita yang mengalir di masyarakat dunia. Dimulai dengan Wang Qiang, Xi Shi, lalu ada Geisha, Al Khayzuran Binti Atta, Malahayati, Inggit, Banowati, Arimbi, Dedes dan masih banyak lagi. Semuanya ada 22 buah puisi. 

Membaca puisi-puisi ini bagi saya jadi seperti membaca sejarah. Terus terang, tidak semua tokoh yang disebutkan di sini saya ketahui. Ada beberapa (bahkan cukup banyak) yang saya tidak tahu sebelumnya:  sama sekali tidak tahu, belum pernah membaca kisahnya atau pernah dengar tetapi tidak tahu ceritanya. Sangat jelas tertangkap di sini, jika pengarangnya memberikan tambahan pengetahuan tentang tokoh yang dimaksud kepada pembacanya melalui puisi. 

Hmmm… dimana ya saya menemukan  approach dengan content penulisan puisi serupa ini?  Tidak umum dalam puisi-puisi modern. Apa dalam kesusatraan kuno ya? Atau justru dalam modern Science poetry?  Rasa kenal, tapi sulit buat saya nge’recall’. Yang jelas, setelah membaca puisi ini saya merasa sedikit lebih ‘pandai’ dari sebelumnya. Yang tentunya itu tidak terjadi saat saya membaca puisi-puisi lain. 

Hal lain yang unik dari puisi-puisi di kantong pertama ini adalah gaya penuturannya. Aneh dan nyeleneh buat sebuah puisi. 

 Jangan berharap menemukan kata-kata atau kalimat berbunga-bunga yang melambungkan rasa ini ke alam mimpi. Atau kalimat heroik patriotik seperti yang umum kita temukan dalam puisi.   Tidak ada. Saya sendiri terkecoh. Karena gaya bahasa yang dipakai di sini sangat naratif, simple dan mudah. Mirip orang ngobrol. Walaupun masih tetap mengindahkan rhyme dan kepadatan content.

Puisi puisi di kantong pertama ini lahir semuanya di tahun 2016. Jadi masih ‘fresh from the oven’ ya. 

Berikutnya di kantung ke dua yang berjudul “Nyanyian Rimba” ada 16 buah puisi. Isinya tentang hewan semua – lah …memang judulnya Nyanyian Rimba kok. Ya tentang Gagak, Buaya, Srigala, Belalang dan lain sebagainya. 

Masih sama dengan yang di kantong pertama, puisi-puisi di kantung ke dua ini juga menggunakan content approach dan gaya penulisan naratif dan simple serta mudah dimengerti. Dan saya perhatikan kebanyakan diciptakan di tahun 2016. 

Begitu memasuki kantung ke 3 yang diberi tajuk “Nyanyian Cinta“, tiba-tiba saya merasakan suhu yang berbeda. Ibarat memasuki babak kehidupan yang lain, terasa bahwa suasana, warna, desahan nafasnya pun berbeda. 

Untaian kata -kata penuh kerinduan, kenangan dan harapan terjalin sangat indah yang sangat melambungkan imajinasi ke negeri impian. Duhai betapa indahnya. 

Ini puisi seperti dalam pengharapan saya akan karya -karya Pak Ersa. Jumlah puisi paling banyak ada di kantung ke 3 ini dan setelah saya perhatikan lahir dari tahun tahun 2013, 2014 dan 2015. Hanya sedikit yang lahir di tahun 2016. 

Namun beberapa saat setelah mengecap semua keindahan kata kata yang dituangkan oleh Pak Ersa dalam kantung ketiganya, seketika saya menyadari kerinduan untuk kembali membaca ulang  dan menghayati puisi puisi dari kantung yang pertama dan kedua. Begitu berbeda. Dan begitu tidak biasa.Sangat menarik perhatian saya seperti magnet. Disitulah kekuatan Pak Ersa sebagai sastrawan, membuat karya-karyanya berbeda dan tidak kebanyakan. 

Dan sekarang saya mengerti, laksana kehidupan, puisipun bergerak. Ia tumbuh dan dinamis agar bisa tetap hidup di hati penggemarnya. Ia harus terus berubah dan mencari bentuk baru. Dan karenanya, seseorang harus berani memulai. Memulai untuk mengekspresikan pemikiran dan perasaannya dengan gaya penulisan dan pendekatan content yang berbeda. 

Salut Pak Ersa Sasmita!. 

“….. sebab mati memelukmu, puisi. Bagiku tetaplah indah.” 

=Ersa Sasmita 2014=

Boyolali: Soto Ayam dan Teman-temannya. 

Standard

​Pagi merekah saat saya dan seorang teman tiba di bandara Adi Suwarno. Saya bergegas ke rest room untuk membersihkan dan merapikan diri kembali setelah sebelumnya terkantuk-kantuk akibat tidur nyap-nyap takut ketinggalan pesawat dini hari. Tidak ada bagasi yang perlu saya tunggu karena semuanya sudah saya masukkan ke dalam backpack saya. 

Sambil menunggu seorang teman lain yang berjanji akan menjemput, teman saya berkata “Bu, bagaimana kalau di jalan nanti kita sarapan soto dulu ?”.  Oh…tentu saja saya mau. Kebetulan Soto Ayam adalah salah satu makanan favorit saya. 
Setelah beberapa belas menit berkendara, berhentilah kami di pinggir jalan Boyolali yang mengarah ke Salatiga. Soto Segeer!. Tulisan yang terpampang di warung soto itu. Ada banyak kendaraan yang berderet parkir di depannya. Menandakan jika makanannya pasti enak. 

Benar saja!. Warung makan itu penuh dengan orang. Beruntung masih ada bangku duduk kosong di depan dua orang pria yang sedang menikmati hidangannya. 

“Maaf Pak, boleh kami ikut numpang duduk di sini? “tanya saya meminta ijin agar bisa berbagi meja makan dengan mereka. “Oh njih. Monggo. Monggo” jawab salah satu dari pria itu dengan logat kental Jawa Tengahannya. Sambil mengucapkan terimakasih, saya dan dua orang teman sayapun segera duduk dan memesan makanan. 

Sambil menunggu pesanan datang, saya berpikir-pikir, mengapa Warung Soto ini kok ramai sekali? Bukankah Soto Ayam ya begitu begitu saja rasanya di seluruh Indonesia raya ini? Siapakah para pengunjung rumah makan ini? Dan mengapa mereka berbondong-bondong datang ke tempat ini?  

Menurut pria yang makan di depan saya, bahwa pengunjung kebanyakan warga setempat dan pelalu lalang yang kebetulan melintas di tempat ini dan mampir – macam saya. 

Pertanyaan saya itu segera mendapatkan jawaban seketika melihat apa yang terhidang di atas meja. 

Semangkok Soto Ayam. Yang sudah dicampur nasi di dalamnya. Sotonya mungkin biasa-biasa saja. Tapi teman-temannya itu lho!. Waduuuh!Banyak sekali ragamnya. Semuanya terlihat enak dan menggiurkan.  Yuk kita perhatikan satu per satu apa saja teman-teman soto yang dihidangkan di atas meja. 

Lento.

Aha! cemilan ini yang pertama saya sebutkan karena yang paling sukses menarik perhatian saya. Penganan yang terbuat dari kacang tolo ini sungguh bikin kangen. Mirip perkedel dengan tekstur yang lebih keras dan tentunya berbahan baku kacang tolo (biji kacang panjang yang tua dan dikeringkan). Semakin bikin kangen lagi, karena makanan sejenis begini juga ada di Bali dengan ukuran yang lebih kecil (kira-kira setengah ukuran Lento ini) dan biasanya disebut dengan ‘Sere-serean’. 

Sate Ati dan Rempela. 

​WHua…yang ini juga pasti enak. Potongan hati dan empela yang tentunya sudah dibumbui sebelumnya, dirangkai dengan tusukan sate, lalu digoreng dalam kocokan telor. 

Tahu Goreng. 

​Tahu ini juga digoreng dengan balutan tepung berbumbu yang gurih. 

Sate Udang.

​Nah… ini favorit saya lagi. Serius!. Sate udang di tempat ini sungguh enak sekali. Udangnya juga terasa manis dan segar. 

Sate Ayam. 

​Sate ayam di tempat ini sangat berbeda. Potongan dada dan kulit ayam tampak sangat enak dan menggiurkan. 

Peyek. 

​Krupuk dan Peyek seperti sulit dipisahkan dari prosesi menyantap hidangan orang Jawa. Nyaris selalu ada. Nah di tempat  ini saya menemukan Peyek Jagung. 

Tempe Goreng. 

​Siapa yang tak kenal tempe? Tidak ada kan? Ya…tempe makanan jutaan orang Indonesia ini tentu sayang jika tidak dimasukkan ke dalam daftar. Di tempat ini tempe dipotong agak tebal, diberi bumbu penggurih sebelum digoreng.

Bakwan Sayuran . 

​Bakwan sayuran yang diramaikan dengan udang dan dicetak bundar-bundar ini juga menggiurkan banyak orang untuk mencicip. 

Perkedel Kentang.

Perkedel kentang yang merupakan makanan favorit anak saya yang besar ini ternyata dihidangkan juga di sini. 

Kroket Goreng.

​Kroket isi yang digoreng dalam balutan telor ini juga terlihat sangat menarik untuk diicip. Warnanya kuning keemasan sungguh mengundang. 

Sebenarnya masih banyak lagi lho jenis cemilan teman-temannya soto yang lain yang dihidangkan di tempat itu. Hanya saja tidak sempat saya potretin satu per satu. 

Saya pikir inilah salah satu penyebab, mengapa sedemikian banyaknya orang yang senang mampir di tempat ini. 

​Selain jenis cemilannya yang beragam, suasananya juga dihidupkan dengan hiburan gang musik yang memainkan musiknya dengan sepenuh hati. Bukan seperti pengamen -pengamen yang suka mampir di rumah makan-rumah makan di Jakarta, yang bernyanyi ala kadarnya atau terkadang hanya bernyanyi terburu-buru demi cepat-cepat mendapatkan uang. 

Kalau masalah harga, terus terang saya tidak tahu karena teman saya yang membayarnya ha ha ha.. 

Tapi saya rasa  harganya juga cukup terjangkau. Terimakasih, Bu Mika. 

Dari sini saya memetik pelajaran kembali, bahwa jika apa yang kita tawarkan terlalu standard dan sama dengan penjual lainnya, maka kita harus berusaha meng’create’ sesuatu diluar standard yang kita tawarkan  itu yang membuat kita menjadi berbeda dan dipilih orang. 

Yuk teman-teman kita mampir ke Boyolali di Jawa Tengah. Kita kenali dan cintai makanan traditional kita!. 

Siapa Saja Bisa Menjadi Petani.

Standard

image

Nyaris setahun sudah saya menggeluti kegiatan “Dapur Hidup”. Bermula dari akhir Juli tahun lalu, saat saya baru kembali dari libur Lebaran. Pot pot tanaman bunga saya kering kerontang tiada yang menyiram selama beberapa hari. Kebetulan saat itu kemarau panjang. Semuanya saya bongkar dan ganti dengan tanaman sayuran dan tanaman kebutuhan dapur lainnya.
Bibitnya mulai dari memanfaatkan limbah dapur hingga terpikir untuk membuat instalasi hidroponik.

Rumah yang saya tinggali saat ini ukurannya kecil dengan halaman yang sempit. Jadi saya hanya berusaha memanfaatkan area yang tidak seberapa itu untuk menampung sayuran dalam pot dan polybag serta instalasi hidroponik berukuran 1m ×1.5m. Setiap jengkal tanah dekat tembok, dekat jendela,  dekat dapur atau dekat mesin cuci saya manfaatkan. Intinya saya nekat bertani walau miskin lahan. Karena saya pikir siapapun bisa berkebun asal punya kemauan.

Jika sekarang saya kilas balik perjalanan saya ber”Dapur Hidup” selama setahun ini  ternyata lumayan juga lho sayuran dan kebutuhan dapur yang telah saya hasilkan.

Yang sukses dan beberapa kali panen:
1/. Kangkung
image
2/. Bayam
image
3/. Cai sim /sawi hijau.
image

4/. Daun Pepaya Jepang.
image
5/. Tomat.
image
6/. Sawi Pagoda
image
7/. Pakchoi.
image
8/. Timun putih
image
9/. Terong ungu.
image
10/. Pare.
image
11/.Kemangi
image
12/. Selada
image
13/. Kailan.
image

14/. Timun Padang
image
15/. Lengkio
image
16/. Sawi Sam Hong.
image
17/. Melon
image
18/. Bawang merah/bawang putih.
image
19/. Pandan Harum.
image
20/. Bawang Daun.
image
21/. Cabe rawit.
image
22/. Kencur.
image
23/. Jahe.
image
24/. Kunyit.
image
25/. Seledri.
image
26/. Tauge kacang ijo.
image
27/. Talas.
image
38/. Jeruk Purut.
image

Ada yang gagal? Ada!
image
1/. Kol (subur tapi belum sempat nembulat -bisa dibilang gagal deh).
2. Brokoli. Nabur benih tidak ada yang tumbuh.

Walaupun ada yang gagal tapi %nya kecil. Ini membuat saya menjadi semakin percaya diri untuk bertanam. Saya semakin yakin bahwa sebenarnya setiap orang bisa nenjadi petani bahkan jikapun tidak punya lahan. Yang penting ada kemauan, pasti bisa.

Adanya kemauan, membuat kita bersedia menginisiasi kegiatan menanam. Mencari tahu dimana bisa mendapatkan bibit, mencari tahu bagaimana cara menanam dan memelihara serta kapan bisa dipanen.

Kemauan juga membuat kita menjadi sabar. Sabar menunggu biji biji yang kita semai tumbuh, lalu membesar dan daunnya atau buahnya bisa kita panen.

Kemauan juga membuat kita menjadi lebih kreatif dan produktif. Mikir terus. Apalagi dan apalagi yang bisa ditanam. Bagaimana lagi dan bagaimana lagi caranya agar hasilnya lebih optimal. Jika tak punya ladang yang luas, halaman sempit pun jadi. Jika tak mempunyai uang untuk membeli pot, botol bekas air mineral pun bisa menjadi tempat bertanam. Jika tak ada ruang tempat meletakkan tanaman, digantungpun jadi.

Jadi…memang sebenarnya siapapun bisa menjadi petani asalkan ada kemauan. Mau tinggal di desa atau di kota tak masalah. Mau punya lahan luas atau tak punya lahan luas sama saja tetap bisa bertani. Mau dia pengangguran ataupun pejabat kantoran tak ada bedanya. Mau dia laki atau perempuan, mau dia tua atau muda juga tak masalah. Yang penting di mana ada kemauan di sana ada jalan.

Mari kita bertanam!. Limpahi rumah kita dengan sayuran hasil menanam sendiri. Mari kita bangga menjadi petani, walau dengan lahan sangat terbatas.

Burung Dara Yang Terluka…

Standard

 

 

 

Saya baru saja pulang dari luar. Hujan masih agak gerimis walaupun sudah mereda.Suami saya memberi tahu jika ia mendengar suara gedubrak gedubruk di belakang.Mungkin ada seekor burung yang terdampar. Saya pun ke belakang. Melihat dua ekor kucing saya sedang bermain-main petak umpet dengan sesuatu. Oh..benar saja. Seekor burung tampak bersembunyi dan terjepit diantara tumpukan barang.  Waduuuh!. Besar juga ukurannya.  Seekor burung dara!!. Saya mengangkat burung itu sambil mengusir kedua kucing nakal itu agar jangan lagi mengganggu.

Burung itu basah kuyup oleh hujan dan darah. Banyak luka di sekujur tubuhnya.Rupanya dikoyak-koyak kucing. Di pangkal ekornya, di punggungnya. di bawah sayap kirinya. Di sayap kanannya. Berdarah semua.Walahhh…..banyak banget ya.  Saya sangat sedih melihat keadaannya. Beberapa bulu ekor dan sayapnya  serta bulu-bulu halus warna putih keabuan juga tampak rontok berceceran di sana-sini. Tubuhnya gemetar. Nafas dan detak jantungnya berpacu dengan sangat cepat. Tapi suhu tubuhnya terasa masih hangat.Dan yang menarik adalah sorot matanya yang masih tetap sangat tajam. Tidak kuyu sedikitpun. Menyiratkan semangat untuk hidup yang luar biasa tinggi. Walaupun lukanya banyak. Saya rasa burung ini masih akan bisa survive jika dibantu.

Tak habis pikir saya, bagaimana burung sebesar ini  bisa jatuh ke halaman rumah saya. Apakah jatuh dulu baru ditangkap kucing? Atau memang tertangkap kucing saat hinggap di atap rumah lalu dimainkan dan dibawa ke halaman oleh kucing? Kejadian seperti ini (burung jatuh, kelelawar jatuh, biawak luka, kucing liar luka masuk ke halaman rumah) sangat sering terjadi. Sangat sulit menjawabnya. Yang jelas mahluk -mahluk hidup ini membutuhkan pertolongan. Biasanya saya obati lukanya dan pelihara hingga pulih,  lalu saya lepas kembali ke alam liar.

Saya berpikir hal yang sama untuk burung ini. Tentu saja akan sangat berbahaya jika burung ini saya lepas kembali ke alam dalam keadaan terluka seperti ini. Kucing kucing yang nakal sudah siap mengintai dengan semangat untuk menjadikannya bahan mainan sebelum pada akhirnya dimangsa. Saya lalu membubuhkan betadine yang tersedia di kotak obat pada bagian-bagian tubuhnya yang terluka. Mudah-mudahan tidak berlanjut dengan infeksi. Burung ini membutuhkan waktu untuk pemulihan yang baik. Jadi butuh tempat berlindung yang aman dan jauh dari jangkauan kucing. Akhirnya saya memutuskan untuk menempatkannya di dalam sangkar yang selama ini kosong. Saya menyediakan air putih untuk minumannya dan sedikit beras dan biji-bijian untuk cadangan makanannya. Siapa tahu dia merasa kelaparan.

Untuk beberapa saat saya menemaninya di belakang. Sambil mengamati apa yang dilakukan oleh kucing-kucing nakal itu. Keduanya berusaha untuk mendekati sangkar yang saya gantung tinggi.  Kucing itu berusaha untuk menjangkau dengan naik ke ember cucian yang besar, yang tadinya bertumbuk di atas kandang kucing. Lalu ia lalu meloncat tinggi dari sana. Gedubraaakkkkkk!!. Dia jatuh terguling bersama dengan ember itu. Saya tertawa geli melihat kelakuannya.

Kucing yang satunya pun ingin ikut mencoba juga. Saya memindahkan ember itu ke tempat yang lebih rendah dan tidak menumpuknya lagi di atas kandang kucing. Nah… sekarang tidak ada lagi benda-benda tinggi di area sekitar situ. Kedua kucing itu akhirnya menjauh dan bermain di dekat kulkas.

Sekarang saya bisa meninggalkan burung dara itu sendirian dengan tenang. Berharap besok pagi kesehatannya mulai membaik. Tubuhnya menguat dan bisa mengatasi keadaan fisiknya. Sehingga jika ia bisa sembuh dalam beberapa hari ke depan, ia sudah siap kembali  menjalani kehidupannya di alam bebas.

Pagi ini saya bangun dan melihat burung itu tetap semangat di sangkarnya. Semoga cepat pulih kembali.

Hidup menawarkan berbagai hal kepada kita. Ada yang bisa kita pilih, dan ada yang mau tak mau harus kita jalani. Jika hidup menawarkan luka, pilihan kita hanya bertahan dan sembuh atau menyerah dan mati.  Tetap semangat menjalaninya, membuat  penyembuhan niscaya akan lebih cepat terujadi.

 

 

Maksud Hati Hendak Membantu…

Image

imageIni kisah yang saya alami beberapa waktu yang lalu. Saya dan seorang teman baru kembali dari sebuah perjalanan dinas di negeri tetangga. Pesawat mendarat dengan mulus di bandara Soekarno -Hatta. Senang dan amat bersyukurlah hati saya. Karena penumpang penuh, saya tidak buru-buru bangkit setelah pesawat berhenti. Tapi teman saya yang berdiri mengambil tas-tas kami dari kabin sambil menunggu pintu pesawat dibuka.

Seorang bapak tua berdiri di sebelah teman saya mencoba menggapai sebuah tas dari kabin. Karena tubuhnya agak pendek, beliau mengalami kesulitan. Menyadari itu teman saya yang kebetulan posturnya tinggi menawarkan bantuan kepada Bapak tua itu untuk mengambilkan tasnya.

Yang mana punya bapak? Yang ini bukan?” tanya teman saya dalam Bahasa Inggris (teman saya bukan WNI). Bapak itu menggeleng. “Bukan!“katanya.Teman saya memperlihatkan tas lain di sebelahnya. “Ini bukan?” tanyanya. Bapak itu masih menggeleng.”Bukan!” katanya. Bapak tua itu mengatakan kalau tasnya adalah ransel (backpack). Lalu teman saya mencari-cari di kabin dan menunjukkan sebuah ransel. “Ini bukan?” tanyanya  Bapak tua itu mengiyakan. Teman saya lalu mengangkat dan memberikan tas ransel itu kepada si Bapak Tua. Penumpang mulai bergerak meninggalkan pesawat satu per satu. Saya pun berdiri, menggendong ransel saya sendiri dan keluar dari pesawat. Dalam hati diam-diam saya mengagumi kebaikan sederhana yang dilakukan teman saya itu. Membantu orang tua yang mengalami kesulitan mengambil tasnya dari dalam kabin. Saya pikir sebenarnya setiap hari selalu ada kesempatan untuk berbuat baik, tapi tidak semua dari kita memanfaatkan setiap kesempatan untuk melakukan kebaikan-kebaikan kecil guna membantu orang-orang lain di sekitar kita.

Turun dari pesawat, kami naik bis yang disediakan untuk mengantar ke terminal. Saya memilih duduk di dekat pak Supir. Sementara teman saya memilih berdiri di dekat pintu masuk. Setelah penumpang penuh, pak supir bersiap-siap mau berangkat.

Tiba-tiba seorang pria dengan postur tubuh tinggi dan kekar, berlari masuk ke dalam bis. Berteriak-teriak sambil memaki kepada semua orang yang ada di dalam bis. Wajahnya sangar penuh amarah. Membuat saya khawatir.  Jantung saya berdebar kencang.Saya tidak tahu apa yang membuat orang itu marah. Kicauannya sangat mengganggu, cepat dan tak jelas. Disela-sela umpatan kemarahannya saya ada mendengar kata-kata “Mana dia? Mana orangnya?”  Ada apa ya? Di tengah ketidakmenentuan, semua orang yang berada di dalam bis terdiam dan menahan nafas. Tidak ada seorangpun yang berani bergerak. Pria itu terus marah marah sambil matanya liar mencari-cari. Dan akhirnya berteriak “Ini diaa!!!” katanya menunjuk  dan menarik sebuah tas ransel yang tergeletak di lantai bis. Saya terkejut. Itu kan tas ransel yang dibawa oleh Bapak tua yang sebelumnya ditolong oleh teman saya tadi.

Ini dia orangnya!” teriak pria itu lagi sambil menuding Bapak tua yang kelihatan polos itu sebagai pencuri. Bapak tua itu hanya diam saja.Tidak membela diri. Sulit menebak, apakah Bapak itu memang bersalah atau tidak. Pria itu terus mengumpat-umpat dan memaki. Diantaranya  ia ada mengatakan bahwa usia tua dan wajah yang pura-pura polos, tidak menjadi jaminan bahwa orang itu hatinya baik.

Saya melihat ke teman saya yang juga melihat ke arah saya dengan pandangan penuh tanda tanya. Gagal paham. Saya sendiri juga bingung. Jika Bapak itu memang benar pencuri, apakah teman saya jadi ikut bersalah?  Saya tahu ia hanya bermaksud menolong orang tua itu semata. Perbuatan yang sangat baik dan mulia. Tentu ia tak pernah menyangka akan begini jadinya. Atau  ia salah ambil?.  Tidak! Bukan salah ambil.Saya ingat betul, teman saya selalu bertanya setiap kali akan menurunkan tas yang di kabin “Ini bukan?“. Dan ia hanya mengambilkan tas ketika Bapak tua itu mengkonfirmasi bahwa tas yang dimaksudkan adalah  memang miliknya.

Saya melihat ke teman saya. Mencoba menenangkannya dan memberi kode bahwa ia tidak bersalah. Saya akan berada di sisinya dan pasang badan jika terjadi sesuatu.Bapak tua itu masih tetap berdiri di sana seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Tidak kelihtan bersalah. Tapi tidak melakukan pembelaan diri juga. Sementara pria kekar itu masih terus berkata kasar, sinis, dan mengumpat-umpat. Seluruh penumpang masih terdiam. Pak Supir kemudian menutup pintu bis dan bersiap-siap berangkat.

Tepat sebelum bis berangkat, ada lagi orang datang berteriak-teriak. Berlari dan mengacungkan tangannya ke bis. Pintu bis pun dibuka kembali. Orang itu terengah-engah menunjukkan sebuah ransel yang kelihatan tipis dan ringan sambil menjelaskan, bahwa ada ransel yang ketinggalan dipesawat.”Ini milik siapa?” tanyanya. Orang-orang mulai pada berbisik dan berbicara dengan teman di sebelahnya. Dan ternyata tas ransel yang baru ketemu itu memang milik Bapak Tua itu. Ya ampuuun.. rupanya memang salah ambil. Kedua tas ransel itu memang sangat mirip bentuk dan warnanya. Hanya saja yang satu kempes dan yang satu gendut karena isinya penuh.

Bapak itu kelihatan sangat senang dan lega menerima tasnya kembali.Wajahnya penuh syukur. Diusap-usapnya tas  itu lalu dicangklongkan ke bahunya. Ia seperti tidak peduli dengan sekian pasang mata yang menatapnya dengan heran. Pria yang tadi marah-marah itupun melihat kejadian itu dan langsung menghentikan omelannya. Saya melihat kelegaan di wajah setiap orang. Senang dan bersyukur rasanya akhirnya semua berjalan dengan damai.  Bis pun berangkat dari areal landasan terbang ke terminal.

Di terminal saya turun dan berjalan di sebelah teman saya yang kelihatan masih kaget dengan kejadian yang baru saja kami lewati. Sehari-harinya ia tidak berbahasa Indonesia, barangkali ia tidak menangkap 100% arti umpatan-umpatan pria itu, tapi saya rasa ia memahami garis besar kejadian itu.

Tetaplah berbuat baik, walaupun tidak ada jaminan, bahwa perbuatan baik kita akan selalu langsung instant jelas kelihatan hasilnya.