Category Archives: Uncategorized

Petualangan: Sendiri Di Tengah Hutan.

Standard

Pernahkah teman pembaca berada di tengah hutan? Sendirian? Tanpa ada satu manusiapun di sekeliling kita?Hanya kesunyian dan suara hutan?.

Saya sering melamun berada dalam suasana seperti itu. Indah, tenang dan damai dalam bayangan saya. Menyatu dengan alam. Tapi ketika lamunan itu menjadi kenyataan, dan saya sungguh -sungguh berada sendirian di tengah hutan, ternyata saya ngeper juga. Tak seindah yang saya bayangkan!.

Kejadiannya adalah ketika saya mengajak adik, anak dan 2 keponakan saya bermain ke Pondok Halimun di kaki Gunung Gede. Rencana awalnya sih cuma mau foto foto di kebun teh dan bermain di kali. Tetapi anak saya ingin mengajak kami naik ke lereng Gunung Gede menuju Curug Cibeureum.Waduwww… tentu saja saya tidak setuju, karena selain jauh, matahari juga sudah mulai sedikit miring ke barat.

Tahun sebelumnya ia sudah ke sana dan seingat saya, bolak balik membutuhkan waktu tidak kurang dari 4 jam.

Penyebab lain karena kami tidak dalam keadaan siap untuk mendaki dan memasuki hutan. Keponakan saya yang perempuan menggunakan sandal high heel, sementara keponakan yang laki, kakinya sedang luka kena pecahan keramik sehari sebelumnya. Sementara saya sendiri sangat mudah terserang kram kalau kelelahan.

Tapi tanpa menunggu persetujuan saya, anak dan 2 keponakan saya sudah melesat jauh di depan. Langkah mereka sangat ringan dan cepat. Tak punya pilihan, terpaksa saya dan adik saya mengekor di belakang.

Kami memasuki pos penjagaan pertama, menuliskan identitas dan mulai berjalan memasuki areal Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Jalanan cukup landai dengan semak terbuka di sana sini. Sedikit demi sedikit jalanan yang dilapisi batu kali itu mulai menanjak. Saya berjalan sambil melihat lihat pemandangan sekitar. Pohon pohon dan belukar. Semak semak dan air sungai serta kali kecil yang mengalir jernih di sela bebatuan. Indah.

Bunga bunga liar dan kupu kupu aneka warna. Juga belalang dan capung. Saya terus melangkah. Jalanan semakin menanjak. Entah karena saya terlalu banyak memperhatikan kupu kupu dan bunga bunga liar, atau entah karena langkah kaki saya memang lambat, sekarang adik saya sudah berada sekitar 15 meter di depan saya.

Kaki yang kram

Jalanan berbelok dan menanjak. Saya mulai merasakan tanda tanda kelelahan pada kaki saya. Kram kaki!. Inilah yang saya takutkan.

Saya berhenti sejenak. Melatih kaki kanan saya dan menenangkannya agar tidak kram lagi. Beberapa saat kemudian, kaki saya bisa digerakkan dengan baik kembali. Sayapun melanjutkan perjalanan. Adik saya sudah tak tampak lagi di depan. Jalanan kembali menanjak dan sekarang saya melihat ada lahan terbuka tempat camping ground yang kelihatannya kurang terpelihara. Saya melintas. Aduuh kaki kanan saya kram lagi. Untung cuma sebentar.

Saya terus berjalan. Berusaha menyusul adik saya. Tetapi tak kelihatan sama sekali. Mungkin sudah terlalu jauh. Saya tetap melangkahkan kaki saya pelan pelan di jalanan yang menanjak itu.

Papan Petunjuk Yang Ada.

Sekarang saya melihat papan petunjuk. Ke kiri arah pendakian Gunung Gede, ke kanan ke arah air terjun Cibeureum. Saya jadi tahu jika saya harus ambil jalan ke kanan.

Saya berjalan ke kanan sesuai dengan petunjuk. Mendaki lalu menurun. Astaga! Kaki saya kram kembali. Kali ini saya paksa tetap berjalan. Mengingat jarak saya tertinggal sudah semakin jauh. Saya seret kaki saya dengan rasa salit yang amat sangat. Akhirnya saya tiba di sebuah area terbuka. Mungkin bekas camping ground. Saya melihat ada bangunan baru yang belum selesai dikerjakan. Saya berharap bertemu manusia di sana. Minimum buruh bangunan yang bekerja. Tapi kelihatannya tidak ada seorangpun di situ. Mungkin para pekerja sudah mulai libur karena puasa menjelang Ramadhan.

Tidak ada jaringan seluler sama sekali.

Saya berhenti agak lama di sana karena kaki kram saya sangat membandel. Melintir dan tak mau diatur. Sekarang malah ke dua duanya. Kiri dan kanan. Saya pijit pijit dan tepuk tepuk kaki saya. Stretching kiri kanan ke deoan ke belakang. Saya mencoba menelpon adik saya. Astaga! Saya baru sadar, ternyata di sini tidak ada jaringan sama sekali. Jadi????

Pikiran saya tiba tiba bergerak buruk. Saya menoleh ke kiri, ke kanan, ke depan, ke belakang. Tak ada satu bayangan manusiapun di situ. Bagaimana jika ? Ooh pikiran saya sangat buruk. Seandainya ada seseorang berbuat jahat pada saya saat itu.. merampok, memperkosa atau membunuh saya di tempat itu… siapakah yang akan tahu? Fuiih… saya cepat cepat menghapus pikiran buruk itu dari kepala saya. Lalu sayapun berjingkat. Terus berjalan. Saya harus berani. Demi anak saya yang sudah jauh berlari di depan.

Bulu Tengkuk Yang Merinding

Ada bangunan bangunan tua yang sudah rusak di situ. Batu batu yang cukup besar. Mungkin dulunya tempat ini adalah camping ground juga. Atau bangunan penjagaan team Konservasi Hutan barangkali . Saya tak tahu persis. Kaki saya mulai agak membaik. Langkah kaki saya lebih ringan.

Sekarang saya memasuki jalan setapak yang dinaungi oleh dahan dahan dan ranting pohon dari kiri kanan jalan setapak. Cahaya matahari meredup. Senja temaram di bawah kanopi hutan. Bulu tengkuk saya sedikit meremang.

Saya mengunci pikiran saya dan mensugesti diri saya sendiri bahwa saya tidak boleh takut dan tidak ada apapun yang boleh menguasai diri saya selain saya sendiri. Perlahan saya mulai sedikit tenang.

Apakah Saya Tersesat?

Namun ternyata itu hanya sebentar saja. Saya melihat tiang lapuk penunjuk jalan yang tak ada keterangannya. Rasa ragu ternyata sulit dibendung. Benarkah jalan yang saya lalui ini menuju Curug Cibeureum?. Bagaimana kalau saya tersesat? Ke mana anak dan keponakan saya pergi? Ke mana adik saya?. Saya sangat khawatir akan keselamatan anak-anak di depan. Rasa galau yang amat sangat menguasai hati saya.

Akhirnya saya berteriak memanggil manggil nama anak saya. Berharap suara saya bergema di seluruh hutan dan gunung itu dan terdengar oleh anak saya. Namun tak ada satupun yang menyahut. Hanya kesunyian dan suara hutan. Saya merasa sangat hampa. Semoga anak-anak baik baik saja.

Kekhawatiran akan nasib anak anak membuat saya kuat kembali. Demi anak anak. Saya tak boleh berhenti. Berjalan lagi, tibalah saya di tepi sebuah sungai.

Menyeberang Sungai.

Ada batu penyeberangan yang bisa saya injak satu per satu agar aman tak terbawa arus. Kalau saja ini pagi hari

Lewat sungai jalanan menanjak. Kaki saya mulai terasa lelah lagi. Ada pohon tumbang. Saya meloncatinya. Lalu berjalan lagi sambil berteriak memanggil manggil nama anak saya.

Saya menguatkan hati saya. Saya harus terus berjalan.

Oh… ada sungai lagi. Rasa ingin membuang air kecil tak tertahankan. Saya menyeberang dan akhirnya memutuskan membuang air seni di sana dengan sebelumnya memohon maaf. Ha ha… saya merasa di manapun berada tetap harus bersopan santun. Huh. Daripada daripada….

Medan Yang Semakin Sulit.

Selepas sungai, jalanan menanjak lagi. Disebelahnya jurang. Kanan…kiri..kanan.. Aduhai… medannya makin sulit. Batu batu di jalanan licin berlumut. Menanjak dan terus menanjak makin curam. Saya melangkah dengan sangat hati hati agar tidak tergelincir. Langkah saya makin berat.

Di atas ada tanah agak longsor di tepi jalan yang terjal. Saya melewatinya dengan sulit.

Saya Menyerah!!!

Kali ini kaki saya tiba pada bagian kram yang sangat serius. Rasa sakit menjalar sampai ke pangkal paha. Ke dua kaki saya tak bisa saya koordinasikan. Memelintir dan sakit tak terperi. Saya berusaha tetap merangkak ke atas. Perlahan lahan. Batu demi batu. Akhirnya saya tiba pada puncak kesakitan dan kelelahan. Saya menyerah!!!

Keringat saya mengucur. Jantung saya terasa berdegup lebih kencang. Saya memutuskan untuk duduk dan diam. Sambil meluruskan kaki saya. Baru saya sadari, saya sangat haus. Dan apesnya saya tidak membawa bekal air minum.

Dalam kelelahan saya mulai ragu. Apakah jalan yang saya lalui ini benar menuju Air Terjun? Kalau iya, masih seberapa jauh lagikah? Mengapa tidak ada plang penunjuk jalan yang menyebutkan Air Terjun sekian kilometer lagi, misalnya?. Saya menengok ke atas, kelihatannya puncak tinggal sedikit lagi. Tapi di manakah air terjun itu?.

Bagaimana jika jalan ini ternyata tidak menuju air terjun? Semakin jauh saya berjalan tentu saya semakin tersesat. Sementara matahari semakin temaram. Sudah pukul setengah empat sore. Jika saya salah jalan, tentu akan lebih sulit buat saya pulang dengan kondisi kaki seperti ini. Hari akan segera gelap. Melanjutkan perjalanan bukanlah pilihan saya saat ini.

Tapi saya percaya, adik saya yang di depan menyusul anak-anak adalah seorang wanita pemberani. Saya mengenalnya sejak kecil. Dan saya tahu ia akan melakukan apa saja untuk menyelamatkan anak-anak kami.

Saya menunggu dan berteriak lagi memanggil nama anak saya. Suara saya seperti tertelan dalam kesunyian rimba. Tiba- tiba ada suara bergerusak di pepohonan di sisi kiri saya. Saya terkejut. Gentar juga. Saya waspada dan menunggu. Ternyata tidak ada apa apa. Oooh! Lega rasanya.

Tetapi kejadian itu membuat saya menjadi lebih peka. Teringat bahwa di sini masih berkeliaran Macan Tutul yang walaupun sebenarnya pemalu, tetapi jika kepepet bisa menyerang manusia juga. Bagaimana jika tiba tiba ada Macan datang dan menyergap saya di sini? Atau lihatlah pohon pohon yang batang dan rantingnya melambai itu. Bagaimana jika ada ular besar tiba tiba memagut dan menelan saya hidup hidup di sini? Whua..😭 Bergidik saya memikirkan kemungkinan itu.

Ternyata sendirian di tengah hutan itu tidaklah seindah dan setenteram yang saya bayangkan.

Saya mengirim pesan kepada adik saya dan anak saya, walaupun saya tahu jaringan tidak ada. Saya akan turun. Tak ada gunanya meneruskan perjalanan ataupun menunggu sendiri di situ. Karena hari sudah gelap juga. Siapa tahu ada muzizat dan pesan saya ini terkirim kepadanya. Saya hanya bisa berdia semoga mereka baik baik saja semyanya dan nenikmati petualangannya ke Curug Cibeureum.

Serangan Pacet.

Akhirnya dengan mengikhlaskan dan memasrahkan diri kepadaNYA, sayapun berjalan turun. Ternyata dengan berat badan yang lumayan, berjalan turun juga bukan pekerjaan yang mudah πŸ˜€.

Turunan demi turunan, kelokan demi kelokan. Saya menyeberang balik dua sungai yang sebelumnya saya seberangi. Menembus jalanan sempit yang dipenuhi semak dan rumput. Saya berjalan terus dengan cepat sambil menunduk. Bulu kuduk saya meremang.

Tiba tiba ada yang terasa gatal dan nggak nyaman di betis saya. Astaga !!!. Ternyata kaki saya dikerubungi pacet!!!. Lintah yang hidup di dedaunan. Menempel dan mulai mengisap darah saya. Saya sangat panik dan berusaha melepaskan pacet pacet itu. Semakin panik, ternyata semakin sulit dilepas. Lepas dari kaki malah ada yg langsung menempel di tangan saya.

Waduuuh… ini lah masalah riil yang benar benar saya hadapi di hutan ini. PACET!!. Bukan hantu, pemerkosa, macan ataupun ular. Pacet ini benar-benar gila. Menempel, melubangi kulit dan mengisap darah saya. Dan saya rasa itu juga yang ia lakukan jika bertemu dengan mamalia lain yang melintas di sini.

Akhirnya setelah menenangkan diri saya mulai bisa mencabut pacet itu satu per satu dari kaki saya. Darah saya tetap mengucur keluar dari bekas gigitannya.

Setelah tenang saya melanjutkan jalan menurun. Cahaya senja makin meredup. Kembali melewati jalanan yg ditutupi ranting ranting pohon. Agak gelap di sini. Suara tupai. Dan anak burung Kedasih.

Sekarang saya mulai menikmati kesunyian hutan ini. Apa yang saya takuti? Mengapa saya harus terus menunduk dan takut? Bukankah seharusnya saya menikmati kedamaian ini?.Saya memotret bunga bunga liar dan daun daun pakis di sekeliling. Alangkah indahnya flora hutan yang beragam ini.

Ketakutan datang ketika kita mengambil jarak dan membiarkan diri kita menjadi orang asing di lingkungan itu. Namun jika kita menebas jarak dan membiarkan diri menjadi bagiannya, ketakutan itu ternyata menghilang.

Akhirnya saya tiba di pos penjagaan. Akhirnya bertemu dengan manusia. Bertemu dengan Igor, pria yang mengabdikan waktunya untuk konservasi fauna di taman nasional itu. Saya berbincang dengannya tentang berbagai jenis ular yang hidup di hutan itu sambil menunggu anak anak yang akhirnya pulang setelah berhasil mencapai Curug Cibeureum.

Sungguh sebuah perjalanan yang menarik!.

Advertisements

Ketupat Merang Sukabumi.

Standard

Ketupat! Secara umum identik dengan hari raya Idul Fitri. Walaupun di beberapa daerah di Indonesia, ketupat memiliki makna adat yang lain.

Kali ini saya cuma ingin menuliskan bagaimana orang di Sukabumi menyiapkan ketupatnya untuk hari raya Lebaran. Sedikit berbeda dengan kebiasaan membuat ketupat di kampung halaman saya di Bali. Karena itu saya ingin menuliskannya.

1. Pembuatan Kulit Ketupat (Cangkang)

Ini bisa dilakukan sendiri dari janur. Tapi jaman sekarang, hanya sedikit orang yang bisa dan punya waktu untuk membuat sendiri. Kebanyakan membeli kulit ketupat yang sudah jadi di pasar.

2. Menyiapkan Beras.

Beras dicuci bersih, ditiriskan lalu dicampur dengan sedikit garam dan air kapur sirih. Garam ditambahkan agar ada rasa dan berfungsi sebagai pengawet. Kapur berfungsi agar textur ketupat menjadi kenyal.

3. Memasukkan beras ke dalam kulit ketupat.

Kulit ketupat diisi dengan beras bersih yang sudah dicampur dengan garam dan air kapur. Setiap kulit ketupat diisi setengah lebih sedikit ( sekitar 60%) dari ruang ketupatvyang tersedia, untyk memastikan agar ketupat memiliki kepadatan yang tepat dan tidak mudah basi. Jika kurang dari 60% umumnya ketupat akan terlalu lembek dan mudah rusak. Sebaliknya jika lebih dari 60% ketupat akan menjadi terlalu padat dan keras texturnya sehingga kenikmatannya berkurang.

4. Merang.

Untuk mendapatkan ketupat dengan warna coklat yang menarik, maka ketupat direbus dengan air merang padi. Selain itu air merang padi juga memberikan aroma wangi khas pada ketupat.

Cara menyiapkannya, merang padi dibakar . Setelah dibungkus dengan kain kasa, lalu dimadukkan ke dalam air untuk merebus ketupat.

5. Merebus Ketupat.

Ketupat direbus sekitar 8 jam lamanya dengan api sedang. Baru diangkat dan digantung gantung agar airnya tiris dan ketupat kering.

Selamat menyambut hari raya Idul Fitri teman teman!. Mohon maaf lahir dan bathin.

S O L I T A I R E.

Standard

Solitaire! Sebagian besar pembaca seumuran saya tentu masih ingat games kartu ini. Games sederhana yang umum diawal awal kita mengenal gadget.Karena di jaman itu tak banyak ada games, sehingga yang saya mainkan ya games yang itu itu saja. Yang paling sering adalah Tetris dan Solitaire ini.

Tentu agak beda dengan games yang lebih complex yang umum dikenal anak anak jaman sekarang. Sehingga ketika anak saya melihat saya memainkan games ini ia ikut tertarik dan bertanya gimana cara mainnya?.

Saya tidak serta merta menjawab, karena hanya dengan melihatnya saja dengan mudah ia mengerti bagaimana cara memainkannya. Tetapi setelah ia pergi saya jadi mikir sendiri….

Bermain games ini sebenarnya mirip dengan nenjalani kehidupan. Kita bisa sukses memainkan games ini sebagian karena faktor keberuntungan, namun sebagian lagi tak lepas dari upaya kita memikirkan dan mengatur strategy untuk memenangkannya.

Ketika mesin mengocok kartu dan menempatkannya secara acak, kita hanya bisa pasrah menerima kartu kartu yang telah diatur acak untuk kita. Kadang kita beruntung mendapatkan kartu kartu yang berurutan sehingga dengan sendirinya games berakhir dengan cepat dan score yang tinggi untuk kita. Kita tidak bisa memilih kartu dan urutannya.

Ini serupa dengan hidup kita. Kita tidak bisa memilih siapa ibu bapak kita, saudara kita, sepupu kira dan keadaan ekonomi mereka saat kita dilahirkan. Mau nggak mau harus kita terima. Beruntung jika kita lahir di lingkungan keluarga bahagia, secara finansial oke dan mensupport perkembangan kita dengan baik. Secara umum, kemungkinan kita untuk meraih sukses peluangnya menjadi lebih besar. Sebaliknya jika kita terlahir di lingkungan keluarga miskin, serba kekurangan, tentunya effort kita untuk meraih sukses secara umum harus ditingkatkan.

Nah kembali lagi ke urusan games. Diluar kartu yang diacak dari sononya, sebenarnya masih ada celah celah yang bisa kita mainkan untuk meningkatkan peluang kita meraih sukses dalam permainan. Kita bisa menunda click pada suatu kartu atau memoercepatnya. Jika kita kelewatan atau kelupaan ngeclick sebuah kartu yang berpotensi berurutan nomernya, bisa jadi peluang kita untuk sukses jadi hilang. Atau bisa juga sebaliknya, ngeclick suatu kartu yang tepat bisa mengakibatkan kita berpeluang untuk menyocokkan nomer dengan kartu yang akan datang berikutnya.

Ini juga serupa dengan dalam kehidupan. Di luar faktor nasib tadi, seberapa besar usaha kita dan bagaimana upaya kita memecahkan permasalahan juga sangat menentukan sukses gagalnya kita.

Sambel Pangi.

Standard

Ketika kita ingat akan “sesuatu”, eh… ternyata sesuatu itu tiba tiba muncul di depan kita. Pernahkah teman teman mengalami kejadian seperti itu?. Saya pernah.

Barusan saja seorang sahabat saya mengirimkan sebuah artikel tentang Kluwek dan bertanya bagaimana rasanya, apakah benar beracun dan sebagainya -karena rupanya ia belum pernah mencicipi Kluwek. Eh…pas habis itu tiba tiba saya melihat buah Kluwek di tukang sayur. Kebetulan atau bagaimana ini ya? Jadilah akhirnya saya membelinya.

Kluwek atau Kepayang, dalam bahasa Bali disebut dengan Pangi. Salah satu yang saya ingat pernah dibuat di dapur ibu saya adalah Sambel Pangi. Sangat jarang sih… tapi ngangenin juga. Buat yuk!

Selagi nemu buahnya πŸ˜€

Cara membuatnya sangat mudah.

1/. Pecahkan cangkang buah Pangi. Ambil isinya yang berwarna hitam.

2/. Ambil bawang merah, bawang putih dan cabe. Ulek bersama isi buah Pangi.

3/. Tumis dengan sedikit minyak. Tambahkan garam dan sedikit gula jika suka.

Jadi deh…

Sambel Pangi siap disantap untuk menemani lauk yang lain.

Selamat Tahun Baru 2018.

Standard
Selamat Tahun Baru 2018.

Selamat pagi teman- teman pembaca. Selamat Tahun Baru 2018!.

Tahun 2017 baru saja lewat. Tentu saja tahun itu memberi arti yang berbeda-beda bagi setiap orang. Ada yang menganggapnya sebagai tahun yang penuh dengan hal-hal baru yang menyenangkan, tahun tahun yang penuh dengan kebahagiaan dan kesuksesan, atau mungkin juga ada yang menganggap tahun 2017 adalah tahun yang penuh dengan kedukaan dan sebagainya.

Bagi saya sendiri, setelah saya tengok ke belakang, tahun 2017 adalah tahun yang paling kurang produktif. Baik secara pribadi maupun dalam aspek kehidupan saya yang lainnya. Tahun di mana saya hanya menghasilkan sedikit karya yang memuaskan hati saya.

Salah satu contohnya adalah dalam dunia blogging. Jumlah tulisan saya tahun ini sungguh turun drastis. Hanya 49 buah dalam setahun. Sebagai pembanding saya ambil tahun lain secara acak – misalnya tahun 2012, saya menghasilkan 201 tulisan dalam setahun!. Nah, bayangkan betapa kurang produktifnya saya di tahun 2017 lalu. Seperempat dari tahun 2012 pun tak ada. Sungguh terlalu!.

Contoh lain adalah dalam hal per”dapur hidup” an. Kegiatan saya dalam menanam kebutuhan dapur sehari-hari. Tahun 2017 ini panen saya sangat terbatas jika dibandingkan tahun sebelumnya. Terang saja, karena kegiatan menanam agak berkurang. Lho…kenapa bisa begitu ya?

Alasannya tentu banyak. Semua alasan bisa kita cari sebagai bentuk pembenaran atas kekurang berhasilan kita. Yang paling mudah adalah menyalahkan kondisi ekonomi di tahun 2017 yang lagi sulit πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€, yang menyita perhatian dan waktu saya lebih banyak, sehingga saya tak punya banyak waktu untuk berpikir dan menghasilkan sesuatu. Kedengeran agak masuk akal nggak?. Ha ha..πŸ˜ƒ πŸ˜ƒπŸ˜ƒ

Terlepas dari apapun yang saya sebut sebagai penyebabnya, namun di dalam hati saya tetap mengakui bahwa seandainya saja saya sedikit lebih semangat dan lebih rajin mengerahkan pikiran, daya upaya dan usaha saya, tentu hasilnya akan menjadi lebih baik dari itu.

Nah lho?! Jadi kesimpulan sebenarnya adalah, segala bentuk kesuksesan ataupun kekurang suksesan, jika mau jujur sangat ditentukan oleh seberapa jauh kita meletakkan semangat dan upaya kita untuk mencapainya diatas segala situasi yang ada.

Hari ini tahun 2018 telah hadir. Saya rasa ada baiknya saya gunakan sebagai tonggak batu, tonggak titik balik yang memompa semangat hidup saya kembali agar bisa lebih produktif lagi berkali lipat dibanding tahun 2017.

Orang bilang, ucapan adalah doa. Dan doa akan selalu berhasil terbaik jika dibarengi dengan upaya yang sepadan juga.

Baiklah teman-teman semuanya, sekali lagi Selamat Tahun Baru 2028. Semoga di tahun 2018 ini kita semua menjadi lebih produktif dan lebih sukses.

Cerita Pembantu & Budhe Tukang Jamu.

Standard

Hari Sabtu pagi. Saya bangun agak kesiangan karena semalam baru kembali dari luar kota. Tapi karena niat saya mau berlari pagi, jadi nggak apa-apalah saya tetap keluar walaupun kesiangan πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€.

Berlari hanya di sekitar perumahan saja. Lumayan sudah mengeluarkan keringat. Dan yang lebih penting adalah bertegur sapa dan bertukar senyum dengan tukang sayur yang mangkal, pak satpam, ibu-ibu pembersih taman, tukang bubur, mbak-mbak yang sedang berbelanja dan juga para tetangga yang sedang berjalan-jalan pagi.

Usai berlari, saya mampir di tukang sayur untuk membeli pepaya dan selada air. Lalu ada si Budhe Tukang Jamu. “Olah raga pagi, Bu? “Sapanya dengan sumringah seperti biasanya. Saya tersenyum mengiyakan dan bercakap-cakap sebentar dengannya. Selalu menyenangkan jika ngobrol dengan Budhe. Sayapun memesan sebotol jamu sirih kunyit asem. Sambil menyiapkan jamunya, si Budhe bertanya kepada saya.

Bu, itu mbaknya yang kerja di ibu keluar ya Bu?”. Saya berpikir sejenak. Karena yang sekarang baru saja mulai bekerja. “Yang dari Purworejo”. Katanya. Oooh…

Ya Budhe. Cuma sempat kerja beberapa hari saja, terus pulang dan tak kembali” kata saya.

Alasannya apa Bu waktu minta ijin pulang?” Saya lalu menceritakan jika alasannya waktu itu adalah ingin pulang selama 2 hari karena ingin mengurus administrasi anaknya sebentar karena mendapat sejenis beasiswa. Ya jadi saya ijinkan, karena buat saya pendidikan anak itu sangat penting. Tapi di hari yang ia janjikan akan datang ia tak muncul. Demikian juga hari hari berikutnya hingga saya mendapat konfirmasi bahwa ia positive keluar.

Saya sendiri tidak menyesali kepergiannya, karena saya mendapatkan informasi berikutnya bahwa ia sebenarnya ogah-ogahan bekerja dan bahkan memiliki sejarah kejujuran yang buruk saat bekerja dengan majikan-majikan sebelumnya. Jadi beruntunglah saya tidak perlu bergalau hati seandainyapun ia ketahuan melakukan hal yang aneh-aneh. Tapi bagian ini tidak saya ceritakan kepada si Budhe Tukang Jamu.

Saat saya terdiam sambil mengingat-ingat wajah si Mbak yang cuma sempat bekerja beberapa hari saja di rumah saya itu, si Budhe tiba-tiba curhat.

Itu lho Buuuu! Mbaknya itu membawa kabur baju saya dan nggak bayar” katanya dengan muka sangat murung. Hah ???!!!.

Saya seperti tersengat listrik. Kaget!. Lha? Kok bisa?? Dia kan hanya beberapa hari saja kerja di tempat saya? Kok sudah sempat-sempatnya melakukan kejahatan?. Saya tidak mengerti. Selain itu, ia juga orang baru di perumahan ini. Karena sebelumnya ia bekerja di perumahan lain di BSD.

Lah..Budhe kok bisa percaya ngasih baju ke orang baru gitu? “ tanya saya heran. Si Budhe yang baik ini selain menjadi Tukang Jamu juga berjualan baju dengan cara nencicil-cicilkan kepada para pembantu rumah tangga di perumahan itu. Pernah saya ceritakan di tulisan ini (Tukang Jamu Dalam Ekosistem Perumahan) sebelumnya.

Lha…gimana to Bu?. Wong dia bilangnya besok pasti akan dibayar karena waktu itu dia nggak bawa uang. Ya saya percaya saja“. Katanya memelas. Saya kok tidak tega melihatnya.

Terus saya tanya tanya ke orang-orang. Dikasih tahuin itu pembantunya Ibu Dani. Terus karena nggak dateng-dateng, saya samperin ke rumah ibu. Saya ketok-ketok, nggak ada yang bukain pintu.”. Ceritanya. Waduuuh ..nama saya jadi kebawa-bawa deh ya.

Terus saya tanya Mbak Imah ( Tukang Sayur) katanya sudah lama nggak pernah muncul belanja sayur. Mungkin sudah pulang ke Jawa. Atau brenti kerja, Bu?”. Saya semakin tidak tega mendengarnya. Ya…memang dia sudah lama pamit pulang. Cuma beberapa hari saja di rumah saya. Walaupun cuma beberapa hari saja, ternyata sudah mampu menciptakan penderitaan bagi orang lain.

Saya bertanya berapa banyak ia berhutang. Budhe menyebutkan sejumlah angka. Ooh..rupanya tidak terlalu besar. Saya pikir saya masih bisa menalangin dengan ikhlas. Kasihan juga si Budhe jika ia harus nenanggung kerugian akibat ulah pembantu yang bekerja di tempat saya.

Akhirnya saya tepuk bahunya si Budhe. “Sudahlah Budhe. Nanti saya ganti. Biar Budhe nggak rugi” kata saya lalu membayar sekalian dengan harga jamu kunyit asem. Si Budhe mengucapkan terimakasih dan terharu. “Kok bisa ya ada orang kayak gitu. Nggak kayak yang lainnya di perumahan ini. Biasanya jujur. Apa dia juga ada minjem uang sama Ibu? ” tanya si Budhe. “Ya Budhe. Tapi nggak seberapa. Buat ongkos pulang dan keperluan di sana saja”. Kata saya. Dan saya sudah mengikhlaskannya saat itu. Jadi saya tak punya beban ataupun rasa sesal sedikitpun. Sekarang saya baru tahu ternyata ia merugikan si Budhe Tukang Jamu.

Sambil berjalan pulang saya jadi berpikir-pikir. Urusan pembantu rumah tangga memang masalah yang sangat pelik buat ibu-ibu. Kita memasukkan orang asing yang tak kita kenal ke dalam rumah kita.

Jika kita percaya begitu saja, kita tak pernah tahu sebelumnya apakah orang ini jujur dan akan terus jujur selama di rumah kita. Jika tidak, tentu kita yang akan kena musibah.

Tapi jika kita tak percaya dan cenderung curiga tentu akan menghasilkan hubungan kerja yang kurang harmonis juga dengan pembantu. Karena pada kenyataannya, menurut pengalaman saya kebanyakan dari mereka sebenarnya jujur-jujur dan baik-baik. Tentu tidak adil juga jika mereka dicurigai setiap saat.

Interview, sreening dan reference di saat awal menurut saya tetap penting. Walaupun kadang-kadang si pemberi referensi juga tidak mengenal cukup baik.

Teman-teman adakah yang punya pengalaman serupa?

Ketika Saya Tak Memakai Kaca Mata.

Standard
Ketika Saya Tak Memakai Kaca Mata.

Suatu kali saya menghadiri sebuah acara yang diadakan di sebuah Cafe di kawasan Tebet, Jakarta. Di acara itu, selain saya ada beberapa orang rekan kerja dan juga teman teman dari agency periklanan yang datang.

Acara itu cukup panjang dan tanpa terasa malampun tiba. Sementara bergantian mengisi acara dan mensupervisi kegiatan itu, sayapun memesan dan menghabiskan makan malam saya.

Kebiasaan saya jika makan, adalah saya melepas kacamata. Atau saya tenggerkan di atas kepala. Alasannya karena lebih nyaman, dan sebetulnya saya hanya perlu melihat makanan yang jaraknya dekat saja dengan mata saya. Sebagai akibatnya, saya tak begitu jelas jika melihat benda atau object yang letaknya agak jauh.

Seusai makan, masih tetap dengan kacamata di atas kepala saya lanjut bermain hape. Menengok Facebook, Instagram dan WA. Ada banyak chat baru masuk. Saya mulai membaca dan sibuk berkomentar dan membalas chat. Tiba tiba seorang pria berdiri di seberang meja dan mengulurkan tangannya ke saya. “Bu!” Katanya.

Saya yang dari tadi sibuk menenggelamkan diri di hape merasa agak kaget. “Oh, pelayan restaurant” pikir saya. Barangkali mau merapikan meja biar nggak berantakan oleh piring kotor.

Tanpa melihat ke wajah pemilik tangan itu, saya menyodorkan piring kotor saya agar dibawa pergi. Tangan itu tak tampak sigap menyambut piring kotor yang saya ulurkan.

Oops!!!. Saat itulah baru saya sadar bahwa ternyata pemilik tangan itu bukan pelayan restaurant melainkan Vicky, salah satu teman saya dari agency yang rupanya baru datang . Rupanya ia melihat saya, mendekat dan bermaksud menyalami.

Waduuuh… betapa malunya saya. Buru- buru saya minta maaf dan menjelaskan situasinya jika tadi saya tak begitu jelas melihat wajah orang, gegara kacamatanya tidak saya pakai. * sebenarnya alasan lain juga, barangkali saya terlalu tenggelam dalam sebuah chat WA πŸ˜€

Ah…ngggak apa apa kok Bu. Sudah biasa” kata Vicky cengar cengir yang membuat saya makin merasa nggak enak.

Kacamata!.

Bagi pemilik mata rabun seperti saya, kacamata adalah benda mujizat yang saya tak bisa hidup tanpanya. Sungguh!.Jika tak memakai, bumi terasa datar πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€. Jadi terpaksa harus saya pakai deh setiap saat. Mau di kantor, mau di dapur, mau di jalan dan di mana saja saya perlu kacamata.

Memakai kacamata sebenarnya melelahkan juga. Itulah sebabnya sebagian orang menggantinya dengan softlens atau sekalian dilasik saja biar mata kembali melihat dunia terang benderang. Tapi saya tak memilih 2 pilihan terakhir itu. Softlens dan Lasik. Mengapa? Saya tak bisa memakai softlens karena saya punya kecenderungan mengucek-ucek mata. Dan Lasik juga bukan pilihan saya mengingat biayanya yang tinggi. Jadi ya…lupakan sajalah.

Nah..jadi bertahanlah saya dengan kacamata saya hingga kini. Kalau lelah, biasanya saya angkat saja ke atas kepala sekalian untuk menahan rambut saya terurai ke depan. Jadi mirip bandana gitu.

Cara lain ya saya lepas sekalian dan letakkan di atas meja misalnya. Cuma jika tidak disiplin, kadang jadi merepotkan juga. Karena lebih sulit mencari kacamata dalam keadaan tanpa kacamata πŸ˜€

Spirit of Wipro Run 2017 -Indonesia.

Standard

Musim berlari kembali tiba bagi para Wiproite di seluruh dunia. Di Indonesia, Spirit of Wipro Run kali ini mengambil tempat di Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta dan di Salatiga. Di Jakarta sendiri dihadiri oleh kurang lebih 700 orang peserta.

.

Tomat Yang Retak.

Standard

Melakukan segala sesuatu tentu ada sisi suka dan dukanya. Begitu juga ketika saya berkebun. Selalu ada bagian yang menyenangkan dan bagian yang menyedihkannya. Bagian yang menyenangkannya sudah pastilah saat melihat tanaman sehat, sayuran hijau segar, cabe memerah dan tomat juga merekah.Bagian yang menyedihkannya adalah ketika melihat tanaman diserang penyakit, daunnya keriting, layu dan akhirnya mati.

Hal lain yang juga menyedihkan adalah ketika sudah menunggu lama dan berharap banyak, tiba tiba buah tomat pada retak-retak. Akibatnya juga jadi busuk dan kurang layak dikonsumsi. 

Saya mencoba mencari tahu penyebabnya. Rupanya itu bisa terjadi jika pohon tomat sempat terexpose terlalu lama di bawah matahari hinggak kering kekurangan air, lalu tiba-tiba menerima pengairan yang berlebih baik itu lewat penyiraman maupun karena hujan lebat yang tiba tiba. Dua keadaan yang extreem. Kalau sudah begini, saya hanya bisa menarik nafas panjang guna melapangkan dada saya. Semoga besok saya lebih pintar bercocok tanam. 

                                  *****

Sebenarnya tidak ada yang aneh dengan keadaan ini. Segala sesuatu yang terekspose dengan kondisi extreem tentu sangat mungkin akan mengalami keretakan.

Memikirkan ini tiba tiba saya merasa prihatin dengan kondisi kebangsaan kita belakangan ini. Situasinya sangat mirip dengan situasi buah tomat ini. 

Sebagai masyarakat yang memang dari awalnya terdiri atas beragam suku, ras dan agama, leluhur kita telah mengikrarkan diri menjadi satu bangsa yang bertanah air satu yaitu Indonesia. Dan karenanya setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk memelihara ke Indonesiaan kita ini. Tidak ada yang mendapatkan lebih dan tidak ada yang mendapatkan kurang. Dalam bernegara hak dan kewajiban kita sama. Tidak ada yang mayor dan tidak ada yang minor. 

 Jika saja setiap warga negara sadar akan ini tentu keIndonesiaan kita akan berkembang dengan baik. Bak buah tomat yang sehat, ia pun akan tumbuh dan berkembang dengan baik hingga matang ranum dengan halus mulus. 

Namun bagaimana jika sebagian dari kita ada yang merasa memiliki hak yang lebih dibanding warga negara yang lain? Lalu berkata dan bertindak semena-mena menghakimi dan mengurangi hak orang lain sebagai warga negara hanya karena tidak satu suku dengannya? Tidak seagama dengannya? Bukankah itu sama dengan memapar keIndonesiaan kita pada kondisi extreem? Yang ujung-ujungnya berpotensi keretakan bangsa? 

Yuk kita yang masih cinta pada Indonesia, kita jaga baik baik persatuan bangsa kita. Nggak usah ngupload status yang aneh-aneh yang berpotensi merusak hubungan kita sebagai bangsa Indonesia!. 

*Renungan di bawah pohon tomat.

Ghost…

Standard

​Jam 2 pagi. Saya terbangun dan mendapati diri saya sedang memeluk anak saya yang kecil. Rupanya tadi saya ketiduran. Pulang kerja agak malam dan saya merasa sedikit kelelahan. Anak saya yang kecil meminta tolong ingin dipijitin sebelum tidur. Jadilah saya ikut berbaring sambil memijit dan mengusap-usap punggungnya. Juga sambil berdoa dalam hati semoga anak saya kelak tumbuh jadi orang berbahagia, yang mandiri,  yang baik hatinya dan suka menolong orang lain yang membutuhkan bantuannya. Standardlah itu dilakukan oleh semua ibu ibu di seluruh dunia ya?. 
Tapi rupanya, entah saking khusuknya berdoa atau karena saya memang kelelahan…eh tanpa sadar saya tertidur. Belum mandi, belum ngapa-ngapain. Jadilah akhirnya terbangun jam 2 pagi. 

Yang pertama saya lakukan adalah menyambar handuk dan segera ke kamar mandi. Lalu mengendap-endap ke kamar mengganti baju dengan yang bersih. Suami saya tertidur pulas. Nafasnya naik turun dengan teratur. Saya membetulkan selimutnya agar ia tidak kedinginan. Lalu saya memeriksa ke dua anak saya yang juga tidur dengan nyenyak. Memeriksa sekeliling takut ada nyamuk menggigit kulitnya. Lalu saya ke ruang tengah, memeriksa pintu depan dan belakang untuk memastikan semua terkunci dengan baik. Aneh…mata saya sekarang sulit dipejamkan. Mungkin karena habis mandi jadi terasa segar. Akhirnya saya memutuskan untuk duduk di ruang tengah. Membuka laptop saya dan bekerja. Memeriksa tumpukan e-mail dan proposal yang belum sempat saya baca dan periksa.

 Tak terasa malam semakin larut. suasana sangat sepi dan hening. Hanya ada saya, dan suara laptop yang mendenging sangat halus. Tiba tiba saya mendengar suara kecil kecipak air. Saya kaget. Suara apa ya? Dari arah kamar mandi. Saya diam. Tidak ada apa apa. 

Beberapa menit kemudian, ada suara gerakan air lagi. Kali ini agak lebih panjang. Saya memasang telinga saya baik-baik. Diam lagi. Hening. 

Sebenarnya saya merasa agak takut. Tapi saya berusaha berpikir logis.Saya memberanikan diri untuk bangkit dari tempat duduk.  Berdiri memeriksa kamar mandi. Aneeh!. Semua keran air mati. Baik yang di wastafel, di kucuran air maupun untuk jetwasher. Walaupun basah, tapi kerannya sudah mati semua. Ini sungguh aneh. Akhirnya saya kembali ke ruang tengah. 

Sekarang saya ingin menulis. Saat beberapa kalimat sudah mulai terketik, eh…suara kecipak air itu muncul lagi. Suara apa itu? Kok datang lagi tapi tidak ada kelihatan wujudnya? Saya periksa lagi dan tetap tidak ada apa apa. Tengkuk saya mulai merinding membayangkan sesuatu yang tidak bersahabat. Hantu!!!!. Atau apapun namanya mahluk halus itu. 

Tapi tidak!. Saya tidak mau menyerah sama hantu. Jika ini terjadi pada waktu saya kecil, sudah pasti saya akan ngibrit berlari ke pangkuan bapak saya. Tapi sekarang? Seumur segini? Kemana saya harus ngibrit? Ini tempat saya tinggal. Suami saya tentu tidak percaya akan cerita hantu ini. Alih-alih saya malah bisa ditertawakan dan dianggap nggak logis. Jadi saya memilih untuk tidak membangunkan suami saya. 

Akhirnya karena tak punya pilihan lain,  saya datang kembali ke kamar mandi. Saya berdiri di situ beberapa saat dan  berkata kepada entah siapa “Ayo tunjukan dirimu!. Kalau kamu memang berani“. Tak ada yang menyahut. Hanya keheningan malam. 

Saya bertahan di tempat itu beberapa saat. Menunggu sesuatu mungkin akan terjadi.  Tetap tidak terjadi apa apa. Saya kembali ke tempat duduk. 

Pukul 5 pagi anak saya yang kecil bangun. Saya menyambutnya dengan sapaan pagi. Tak berapa lama suara kecipak air itu terdengar lagi. Anak saya membungkuk di rak depan kamar mandi. Ia melihat ke dalam gelas  berisi air kelapa yang tak habis diminum semalam yang diletakkan di situ. “Ya ampuuuun Mama. Kasihan amat cicak ini kecemplung ke dalam gelas” katanya sambil mengangkat gelas itu. Seekor cicak tampak memberontak, berusaha ingin keluar dari gelas yang berisi air kelapa. Waduuuuh. Ha ha ha… Jadi???

Sambil membantu cicak itu keluar dari gelas, saya pun bercerita kepada anak saya tentang apa yang saya dengar dan sangka sebagai hantu. 

Anak saya hanya nyengir mendengar cerita saya. Ia masuk ke kamar mandi sambil berkata, “Lain kali kalau mama takut, mama bangunin aja aku…” katanya. Oya… bener juga. Anak saya sekarang sudah besar. Bisa juga dijadikan pilihan tempat ngibrit jika ketakutan.  Thanks God.