Category Archives: Uncategorized

Nama Binatang Peliharaan Dalam Bahasa Bali. Part 2.

Standard

Sebelumnya saya sudah nenuliskan nama nama binatang (Ubuhan) dalam Bahasa Bali Part 1. Tetapi dalam tulisan itu hanya memuat 10 nama Binatang saja, yaitu Ayam, Anjing, Kucing, Bebek, Babi, Sapi, Kuda, Kerbau, Burung dan Kambing. Sementara jumlah bintang yang umum dipelihara manusia kebih dari 10.

Nah berikutnya adalah 10 nama bintang peliharaan lagi dalam Bahasa Bali.

1/. ANGSA / SOANG = ANGSA. Angsa dianggap sebagai binatang yang indah di Bali. Sering dianggap sebagai mahluk suci symbol dari ilmu pengetahuan.

2/. KIRIK/ KUIR = ENTHOK. Ini adalah sejenis bebek yang pendek dan lehernya pun rendah. Ketika berjalan pantatnya egal egol ke kiri dan ke kanan.

3/.KELINCI = KELINCI.

4/ PUUH = BURUNG PUYUH. Banyak ditemukan liar di ladang, tetapi banyak juga yang dipelihara/ diternakkan manusia.

5/. MARMUT = MARMUT.

6/.KAKUA = KURA KURA.

7/.KEKER = AYAM LIAR JANTAN.Yang betina disebut dengan Kiuh.

8/. LANDAK = LANDAK.

9/. SEMAL = TUPAI.

10/. OMANG – OMANG = KELOMANG

Resep Masakan : Tum Be Siap.

Standard

Tum Be Siap adalah bahasa Bali untuk pepes ayam. Di Bali, pepes yang dibungkus pipih disebut dengan Pesan. Sedangkan yang dibungkus segitiga disebut dengan Tum.

Mari kita bikin Tum Be Siap yang enak ala Bali.

Bahan bahanya: dada ayam, bawang putih, kencur, kunyit, cabe, bawang merah, asam, garam, daun salam, 1 telor ayam, daun pisang untuk membungkus.

Cara membuat:

1/. Cibcang dada ayam yang sudah dibersihkan.

2/. Ulek bumbu bawang merah, bawang putih, kencur, kunyit, asam, garam, cabai.

3/. Aduk cincangan daging ayam dengan bumbu ulek. Aduk aduk hingga rata.

4/. Masukan telor ayam, aduk aduk lagi hingga merata.

5/. Bungkus adonan ayam dalam daun pisang, yang sebelumnya sudah dialasi dengan daun salam.

6/. Kukus tum di atas nyala api sedang hibgga matang.

Tum siap dihidangkan.

Pasar Dan Corona.

Standard

Ini cerita beberapa hari yang lalu. Setelah berdiam diri di rumah beberapa waktu, saya menyadari jika stock makanan dan buah buahan di rumah habis. Kali ini saya harus keluar rumah mengisi persediaan. Sebaiknya ke mana ya?.

Ke Pasar Lembang sajalah, yang dekat rumah. Tukang buahnya lebih banyak dan biasanya harganya juga sedikit lebih miring dibanding di Supermarket. Sekalian pengen tahu sesepi apa pasar hari ini setelah wabah virus Corona melanda. Saya pun berangkat.

Tapi melihat situasi di jalan, saya kok tidak merasakan ada “sense of stay at home” ya di sepanjang jalan setelah keluar dari gerbang perumahan menuju pasar ini. Lalu lintas sangat ramai, dan beberapa kali kendaraan harus berjalan lambat akibat kepadatan lalu lintas. Bukan kendaraan saja, orang yang berjalan kaki juga terlihat banyak. Saya heran. Bukankah pemerintah meminta kita untuk berdiam di rumah saja?.

Apakah memang ini sebuah kebetulan belaka?. Saat saya keluar rumah, kebetulan orang orang juga sama, sedang keluar rumah semua karena kehabisan stock ya?. Ataukah setiap harinya memang begini?. Walaupun pemerintah menghimbau agar tinggal di rumah, tetapi masyarakat tidak memperdulikannya?.

Sesampai di pasar, keramaian makin bertambah. Nyaris tidak ada bedanya dengan hari tanpa Corona. Tempat parkir nyaris penuh. Saya melihat dari balik kaca, seseorang yang baru saja memarkir motornya menghampiri si Tukang Parkir, lalu bersalaman dan …. astaga!!!!! Mereka saling berpelukan seolah sudah lama tidak bertemu. Sungguh. Di sini orang tidak mengenal kata “Social Distancing”. Tambah terheran heran lagi saya.

Demikian juga di tukang buah. Orang orang masih berjejal. Laki perempuan, tua muda, tak ada yang berusaha membuat jarak satu sama lain. Bahkan walaupun ada space yang cukup untuk berdiri terpisah, beberapa orang saya lihat tetap berdiri berdekatan.

Saya terburu buru membeli buah dan segera keluar dari keramaian ini. Sungguh saya kaget akan situasi ini, karena awalnya saya menyangka pasar akan sepi.

Di jalan saya merenung. Mengapa masyarakat di sekitar saya ini banyak yang tidak mengikuti anjuran pemerintah untuk “Diam di rumah”? Apakah mereka belum paham dengan betapa seriusnya wabah Corona ini? Sosialisasi pemerintah belum cukup? Ataukah memang mereka tahu, tapi kebutuhan hidup mendesak mereka tetap keluar. Istilah seorang teman “Gue lebih takut mati kelaperan ketimbang mati karena Corona”.

Semoga setelah Pembatasan Sosial Beerskala Besar (PSBB) efektif diberlakukan per tanggal 10 April, masyarakat bisa lebih berdisiplin dalam melakukannya. Setidaknya menggunakan masker setiap kali keluar rumah.

Semoga wabah Corona cepat berlalu dan kita semua sehat dan selamat.

Nyepi

Standard

Saya mengucapkan Selamat Menyambut Hari Nyepi, Icaka 1942 untuk keluarga dan teman teman saya. Semoga lancar nenjalankan Catur brata penyepian, Amati Gni – tidak menyalakan api; Amati Karya – tidak melakukan pekerjaan, Amati Lelungan – tidak keluar rumah, Amati Lelanguan – tidak bersenang senang.

Semoga semua sehat, tentram, damai seluruh alam semesta berikut isinya.

Sambal Matah Yang Tidak Matah.

Standard

Suatu siang sehabis meeting saya tiba-tiba menyadari jika kantin di kantor tutup, semua teman teman yang bawa kendaraan sudah berangkat makan siang. Jadi tidak ada yang bisa saya tebengi. Karenanya teman yang saya ajak meeting menawarkan order makanan lewat Gofood. Ok. Saya pikir itu pilihan praktis dan cepat, mengingat tepat jam 1 siang saya juga ada meeting lain.

Teman saya mengorder Nasi Ikan dengan Sambal Matah. Hah? Sambal Matah? . Hati saya penuh semangat ketika mendengar sambal matah.

Terbayang bawang merah yang diris-iris tipis menggunakan pisau super tajam, cabai muda yang hijau segar juga diris tipis tipis, lalu aroma jeruk limau berbaur dengan harumnya aroma minyak tandusan (minyak kelapa hasil olahan rumah tangga secara traditional) dan sedikit rasa garam dalam campuran sambal matah ini. Apalagi jika ditambahkan irisan Kecombrang. Waduuuh…mantap πŸ˜‹πŸ˜‹πŸ˜‹

Walaupun secara umum Ikan yang digoreng- tepung bukanlah masakan favorit saya. Tetapi demi kangen dengan Sambal Matah saya order juga.

Beberapa saat kemudian setelah menunggu, pesananpun datang. Saya buka isinya. 1 Nasi, 1 ikan dori ditepungin dan 1 bungkus kecil sambal. Setelah saya buka isinya ternyata Sambal Mateng. Bukan Sambal Matah πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€.

Matah dalam Bahasa Bali artinya Mentah. Tidak digoreng. Tidak dimasak dengan cara apapun. Tetapi dibiarkan mentah. Jadi Sambal Matah = Sambal Mentah. Sambal mentah, selain rasanya enak dan khas, juga digunakan untuk mengatasi kembung perut dari irisan bawang yang sengaja dibiarkan mentah.

Jika sambel matah/mentah ini digoreng , namanya bukan lagi Sambal Matah, tetapi berubah menjadi Sambal Mateng atau lebih sering disebut dengan nama Sambal Bawang saja.

Atau jika bawangnya digoreng lebih kering lagi, disebut dengan nama Sambal Emba, karena sudah tidak mentah lagi.

Sebagai pembeli saya jadi kecewa. Mana Sambal Matahnya? Tidak ada. Padahal judul menu itu adalah Nasi Ikan Sambal Matah. Tapi yang cukup menghibur adalah Sambal yang diberikan adalah sambal mateng dengan irisan Daun Sereh, yang kalau di Bali disebut dengan Sambak Serai. Lumayan enak juga. Ada miripnya dengan Rasa Sambal Matah.

Kejadian ini mengingatkan saya akan berbagai jenis merk Mie Instant, Keripik Singkong, Keripik Kentang, Keripik Tempe. Kacang dan sebagainya yang beredar di pasaran yang mengklaim Sambal Matah di kemasannya.

Rasanya memang agak tidak mungkin, sebuah makanan dalam kemasan seperti itu memiliki Sambal Matah di dalamnya, mengingat sambal matah tak mungkin bertahan awet. Namanya juga mentah.

Tetapi ada beberapa yang mengklaim “Rasa Sambal Matah”. Ooh….jadi idenya mungkin mengambil rasa dari Sambal Matah itu saja, bukan benar-benar memiliki Sambal Mentah di dalam kemasannya. Boleh juga idenya.

Kencing Kucing.

Standard

Saya dalam perjalanan pulang ke Jakarta dari Bandung. Rencananya naik CT Trans turun di Bintaro. Sungguh beruntung, seorang keponakan yang berdomisili di Bandung mau mengantar dan menemani menunggu keberangkatan.

Ternyata saya tiba di pangkalan Travel Agent lebih cepat dari yang saya jadwalkan. Untuk mengisi waktu, maka kami memutuskan untuk makan malam terlebih dulu di sebuah warung makanan Sunda tak jauh dari situ. Pengunjungnya agak rame. Saya meletakkan tas pakaian dan laptop saya di belakang samping. Masih terjangkau pandangan keponakan saya.

Setelah orderan datang, kami ngobrol ngalor ngidul tentang keadaan kami masing masing, tentang keluarga, tentang pekerjaan dan sebagainya. Usai makan kamipun balik.

Saya menenteng tas laptop sementara keponakan saya menenteng tas pakaian saya dan oleh oleh Bandung yang ia belikan untuk anak saya.

Seusai makan, kami kembali ke pangkalan mobil travel. Mencari bangku yang kosong dan duduk. Sepintas saya mencium sesuatu. Tetapi hilang kembali. Tiba tiba keponakan saya berkata ” Tante, kok bau kencing kucing ya?” Tanyanya sambil mengendus endus udara di sekitarnya.

Saya setuju. Memang bau kencing kucing. Tapi dari mana asalnya ya? Kayanya di sekitar bangku yang kami duduki. Waduh…. kayaknya ada kucing yang sempat kencing di sekitar bangku ini. Tanpa pikir panjang, saya mengajak keponakan saya pindah tempat saja.

Tengak tengok kiri kanan. Tidak ada bangku yang kosong untuk dua orang. Karenanya terpaksa kami bertahan duduk di bangku itu. Tak apalah. Lagipula bau kencing kucing itu sekarang sudah hilang.

Tak berapa lama, tiba tiba bau kencing kucing itu muncul lagi. Saya dan keponakan sibuk kembali mengendus endus. Penasaran dari mana sumber bau itu.

Tanteeeee!!!!. Ternyata tas ini yang bau”. Kata keponakan saya sambil menunjuk Tas pakaian saya yang dipangkunya. Astagaa!!!. Kok bisa bau kencing kucing???.

Oooh rupanya keponakan saya memang sempat melihat ada kucing di sekitar tempat saya meletakkan tas tadi di restaurant saat makan malam. Tapi tak menyangka jika kucing itu kencing di situ. Seketika saya pun mencium tas laptop saya, mengingat tadi saya taruh bertumpuk dengan tas pakaian.

Benar saja. Ternyata tas laptop sayapun berbau kencing kucing dan masih terasa sedikit basah.

Walau agak kesal, saya jadi tertawa geli, mengingat tadi saya mengajak keponakan saya untuk pindah duduk ke tempat lain karena menyangka bau kencing kucing itu berasal dari bangku yang kami duduki. Sekarang baru tahu bahwa bau kencing kucing itu ternyata dari tas yang kami gendong gendong.

Jika seandainya tadi kami pindah duduk, bau kencing kucing itu bukannya hilang, tapi malah akan mengikuti. Haha..jadi pindah duduk tidak memecahkan masalah. Harusnya tadi saya mencari tahu persis sumber dari bau itu terlebih dahulu.

Jadi pelajaran yang saya petik dari kejadian ini adalah bahwa jika kita mengalami masalah, hendaknya selalu periksa dulu kesalahan diri kita sendiri, sebelum memeriksa kesalahan orang lain.

Sisa Hidup Kita.

Standard

Minggu yang lalu saya mendengar berita duka, seorang teman meninggalkan dunia fana ini setelah menderita sakit selama sebulan. Lebih sedihnya, karena saya belum sempat menjenguknya padahal saya sudah diinformasikan tentang sakitnya ini minggu yang lalu. Semakin nyesek rasanya.

Walaupun ia bukanlah sahabat yang sangat dekat dengan saya, dan umurnya pun jauuh lebih muda dari saya, tetapi karena kami terhubung di Sos Med, saya bisa melihat keceriaan dari foto- foto dan status yang diunggahnya.

Selalu senang melihat semangat hidupnya. Ia sangat baik terhadap sesama. Sangat menjaga silaturahmi dengan para sahabat dan kerabatnya. Pun ia mengisi hidupnya dengan kegembiraan. Banyak traveling yang ia lakukan baik ke daerah-daerah wisata di Indonesia maupun ke Mancanegara. Sungguh gadis dengan gairah hidup yang luarbiasa.

Tiba-tiba saya mendengar kabar tentang kepergiannya. Rasanya sangat terkejut dan agak sulit percaya. Saya melihat-lihat kembali beranda facebook dan instagramnya.

Saya membaca status kehilangan dan berduka cita yang ia sampaikan untuk sahabatnya yang meninggal bulan yang lalu. Membuat saya merenung. Apa yang ia pikirkan saat membuat status ini?. Apakah ia tahu jika sebulannya kemudian ia yang akan meninggal juga?. Entahlah.Tapi saya rasa ia tidak tahu. Tak seorangpun yang tahu kapan giliran kita akan menghadapi kematian.

Saya jadi teringat Game kanak-kanak yang biasa dimainkan. Saat permainan dimulai, kita diberi 5 buah nyawa yang ditandai dengan tanda jantung ❀❀❀❀❀. Nyawa ini akan berkurang satu ❀❀❀❀ per satu❀❀❀ setiap kali kita melakukan kesalahan. Demikian seterusnya berkurang ❀❀ dan berkurang ❀. Sehingga tidak berapa lama kemudian…. πŸ’” GAME OVER !!!!. Permainan selesai.

Yang perlu kita lakukan adalah bermain dengan sebaik-baiknya dan secermat- cermatnya agar nyawa kita tidak berkurang.

Syukur -syukur ada jenis game yang memberikan kesempatan untuk meningkatkan jumlah nyawa lagi jika kita sukses melakukan sesuatu. Tetapi ada banyak game juga yang tidak memberi kesempatan penambahan nyawa.

Bagusnya dengan Game adalah kita bisa tahu berapa sisa nyawa kita, sehingga ketika kita tahu bahwa nyawa kita tinggal satu ❀, kita harus bermain dengan sebaik baiknya dan jika tidak kita sudah tahu bahwa sudah waktunya Game Over.

Tetapi dalam kehidupan nyata, kita tak pernah tahu betapa sisa nyawa yang kita miliki. Apakah masih banyak atau tinggal sedikit. Dan tentu saja kita tidak tahu kapan kiranya status kehidupan kita akan menjadi GAME OVER!!!. Dan seandainya pun kita tahu, apakah kita akan tetap tenang menghadapinya?. Atau bahkan tambah stress?.

Mungkin itulah sebabnya Tuhan tidak memberi tahu kita dengan pasti berapa sisa umur kita. Dengan demikian, maka yang terbaik yang perlu kita lakukan adalah berusaha menjalani dan menjalankan kehidupan ini dengan sebaik-baiknya. Berbuat yang baik untuk diri kita sendiri dan sesama.

Tiga Cara Menikmati Avocado.

Standard

Saya lagi sangat doyan Avocado. Entah kenapa, rasanya kurang kenyang kalau belum makan Avocado. Selain dijus atau dijadikan campuran es buah, Avocado sangat enak buat teman makan dengan sayuran ataupun dengan telor dan sebagainya.

1/. Avocado dengan Telor Dadar, Tumis Selada Air dan Kol serta Singkong goreng.

Kombinasi makanan ini sungguh sangat enak. Telor saya pilih untuk memastikan asupan protein yang cukup untuk saya (selain saya memang doyan telor juga ha ha πŸ˜€πŸ˜€). Di sini saya memilih telor dadar. Karena kalau didadar, telor bisa ditambahin irisan bawang, cabe atau daun seledri. Lalu saya tambahkan dengan tumis kol dan selada air.

Nah… yang selada air ini saya sangat suka, karena menurut kepercayaan traditional, selada air sangat bagus dikonsumsi untuk membantu menjaga kadar gula darah tetap normal.

Dan terakhir singkong goreng. Saya pikir saya harus sering sering makan singkong. Karena menurut berita, singkong bagus untuk mencegah pertumbuhan sel sel kanker. Jadi ini judulnya makanan sehat.

2/. Avocado Shrimp.

Nah ini makanan sungguh favorit saya. Gabungan rasa Avocado yang lembut dan enak berpadu dengan rasa udang yang kenyal dan bernuansa laut sungguh maknyus. Saya tambahkan dengan salad dressing Thousand Island (beli jadi dalam botoh nih ) dan sedikit taburan daun Oregano kering. Mantap dah.

Pertama kali saya makan Avocado Shrimp di sebuah restaurant di Sanur. Diajak dan dibayarin makan teman saya. Sumpah!. Enak bangeeeet. Tapi mau nambah malu. Wong dibayarin orang lain. Waktu itu saya masih mahasiswa. Dan kantong saya terlalu kempes untuk makan di restaurant yang pembelinya kebanyakan bule-bule. Tapi sejak itu saya ingat rasanya.

Sekarang setelah saya bekerja dan punya penghasilan sendiri, saya beberapa kali bikin sendiri dan makan Avocado dengan udang ini.

3/. Avocado Telor Panggang.

Nah ini… saya baru nyontek hari ini. Seorang teman mengupload Avocado panggang dengan Telor Ceplok di Facebook. Miih… kelihatannya enak. Jadi saya cobainlah.

Tapi dibanding telor ceplok, saya lebih suka telor dadar diaduk aduk dengan irisan bawang merah bawang putih dan cabe serta sedikit garam lalu dituangkan ke dalam mangkok avocado.

Lalu panggang sekitar 30 menit di suhu 280Β° C. Wah…. ternyata rasanya mantap banget. Nggak rugi nyontek.

Nah itulah teman teman, 3 cara yang asyik menikmati Avocado. Teman pembaca ada yang punya resep lain?. Silakan dishare.

Sambal Bunga Kecicang Hutan.

Standard
Sambal Bunga Kecicang Hutan.

Saya mendapatkan sekuntum Bunga Kecicang pemberian seorang teman. Warnanya lebih merah dari biasanya. Aah… saya tahu ini jenis Kecicang Hutan. Karena yang umum dibudidayakan adalah yang berwarna lebih pink. Tapi rasanya sama saja. Kecicang dalam bahasa Bali = Kecombrang (Jawa), Honje (Sunda).

Karena Bunganya sudah mekar dan ukurannya cukup besar, saya menggunakan sebagian Kecicang ini untuk Sambal dan sebagian lagi untuk memasak Ayam Kecicang.

Untuk membuat Sambal Bunga Kecicang, kita cuci bersih Bunga Kecicang ini. Lalu lepaskan kelopak bunganya satu per satu. Sampai habis.

Iris Bawang Merah dan Cabe Rawit tipis tipis.

Tumis Bawang Merah, Cabe dan Terasi hingga harum. Lalu masukkan Bunga Kecicang. Aduk aduk sebentar.

Angkat dari penggorengan dan hidangkan dalam mangkok saji.