Category Archives: Uncategorized

Kutinggalkan Anakku Di Gerbang Ini.

Standard

Kutinggalkan anakku di gerbang ini. Ketika angin dingin mulai menyapa. Dan musim gugur baru saja tiba.

Kutitipkan anakku pada pohon pohon pinus. Juga pada pohon apel dan kastanye serta hawtorn yang berbuah merah.

Kumintakan pada burung -burung agar bernyanyi saat anakku kesedihan. Dan pada tupai untuk membawa biji bijian saat anakku kelaparan.

Kutinggalkan anakku di sini. Di dalam keranjang yang kusertai surat cinta merah jambu.

Bangunlah anakku. Rasakan angin yang berhembus dari segala penjuru. Lalu angkat telunjukmu tinggi tinggi untuk memahami mata angin. Nikmati sengat matahari dan sambutlah gigil musim dingin.

Tengadahkan wajahmu ke langit. Tatap pada bintang-bintang, pada planet-planat dan galaxy. Agar pandanganmu jelas seluas semesta.

Hirup segala aroma yang bertebar di udara. Agar kau bisa membedakan wangi tavuk yang dimasak garam masala. Juga aroma portakal suyu dan wangi gaharu yang dikemas dalam sebotol parfum.

Sesaplah sari kehidupan sebanyak banyak yang engkau bisa. Letakkan semangatmu di atasnya. Sebagaimana dulu engkau menyesap air susu ibumu.

Sekali waktu. Berjalanlah tanpa sepatumu. Agar kau bisa merasakan halusnya pasir dan tajamnya kerikil. Itu bagus untuk mengasah kepekaanmu dan kepedulianmu pada orang lain.

Kulepas engkau di rimba raya anakku. Karena aku tahu naluri berburumu setajam macan. Kau akan menaklukannya.

Kulepas engkau di gunung tinggi anakku. Karena aku tahu ketajaman pemikiranmu bagaikan mata elang. Kau akan menaklukannya.

Kulepas engkau di lautan lepas anakku. Karena aku tahu daya jelajahmu sejauh jelajah ikan paus. Kau akan menaklukannya.

Aku tahu kau bisa. Dan aku selalu bangga padamu.

Sekarang berdirilah di sini. Tengadahlah selalu ke langit, untuk mengingat Sang Penciptamu. Itulah tujuan hidupmu pada akhirnya. Tujuan atas segala hal yang kau cari di dunia ini. Tujuan atas segala penjelajahanmu.

Dengan penuh cinta. Untuk anakku, Andri Titan Yade.

Ankara, 16 September 2018.

Advertisements

Julit, Binjulid, serta kisah I Belog dan Be Julit.

Standard

Saya mendengarkan sebuah obrolan. Dalam obrolan itu seorang teman menyebut kata “Julit”, lalu teman teman saya yang lain tertawa berderai karena penyebutan kata “Julit” itu. Sayapun penasaran akan artinya. Cukup sering mendengar kata itu tapi saya tak tahu persis artinya. Mengapa orang -orang pada tertawa?.

Saya mendapatkan penjelasan bahwa “Julit” itu adalah istilah untuk orang yang suka iri hati pada orang lain dan tak segan mengekspresikan ke-iri hati-annya itu dengan terus terang. Contoh Julit misalnya adalah para “haters” artis tertentu, misalnya Syahrini. Ooooh…..begitu ya.

Belakangan saya mengetahui ternyata kata “Julit” ini berasal dari kosa kata bahasa Sunda “Binjulid” untuk menggambarkan orang yang sifatnya kekanakan dan suka iri hati atas kesuksesan orang lain.

Ha ha… itu berbeda dengan apa yang ada dalam pikiran saya sebelumnya. Saya yang dibesarkan dengan budaya Bali, mengenal kata “Julit” yang mengingatkan saya pada kebodohan (kurang positive juga) dan kejenakaan.

Julit dalam bahasa Bali adalah nama sejenis ikan tertentu yang tubuhnya panjang seperti belut tetapi bersirip. Ikan Sidat dalam bahasa Indonesianya. Habitatnya di palung palung sungai yang dalam sehingga termasuk susah ditangkap orang.

Be Julit. Be = ikan. Be Julit = Ikan Julit. Lah… nama ikan itu kan sesuatu yang baik dan menyenangkan. Lalu di mana letak hubungannya dengan kebodohan dan kelucuan? Begini ceritanya…

Alkisah jaman dulu ada seorang pemuda bodoh yang bernama “I Belog”. (Kisah lain tentang I Belog ini juga pernah saya ceritakan dalam tulisan I Belog dan bebeknya dan juga tulisan I Belog pergi ke Kuta sebelumnya.).

Suatu kali I Belog pergi memancing ke sungai. Dan sungguh sangat beruntung kali ini ia berhasil menangkap ikan (Be)Julit yang panjang dan besar. Maka pulanglah ia dengan wajah berseri-seri ke rumahnya.

Sesampai di rumah, I Belog bermaksud untuk memasak Be Julit itu. Waaah… bakalan makan enak nih nanti malam. I Belogpun mulai membersihkan ikannya yang besar dan panjang itu dan seketika ia menyadari bahwa ia tidak memiliki alat masak yang memadai untuk memasak ikan Be Julit itu. Cepat ia berlari mengetuk pintu tetangga. “Me Made, punya panci panjang nggak? Saya ingin pinjam buat memasak?” Begitu tanya I Belog kepada tetangganya. Me Made menggeleng. Ia tak punya panci panjang. Maka ditawarkanlah kepada I Belog panci biasa yang dimilikinya. I Belog menggeleng, lalu pergi dan mengetuk pintu rumah tetangganya yang lain” Mbok Wayan, punya panci panjang nggak? Saya mau pinjam” Mbok Wayan menggeleng. Ia tak punya panci panjang yang bisa ia pinjamkan buat I Belog. “Adanya panci biasa. Mau nggak?”. I Belog menggeleng dan mengucapkan terimakasih. Kalau panci biasa ia juga punya.

Demikianlah I Belog mencoba lagi meminjam pada tetangganya yang lain, Luh Putu, Sak Ketut, Dayu Komang, Dewa Gede dan sebagainya. Tak satupun diantaranya memiliki panci panjang. I Belog merasa kecewa karenanya.

Aha! Lalu dia ingat… kalau panci panjang tak ada, bagaimana kalau penggorengan panjang? Merasa punya ide yang lebih baik, dengan semangat kembali ia mendatangi tetangganya satu per satu dan bertanya apakah ada yang punya penggorengan panjang? Dan kembali lagi jawaban para tetangganya tidak ada yang punya.

Saking heran dan penasarannya, tetangganya lalu bertanya” Hai Belog!Untuk apa sih, kenapa kamu membutuhkan panci panjang atau penggorengan panjang???”

I Belog menyahut “Untuk saya pakai memasak Be Julit yang panjang” jawab I Belog dengan sedih. Para tetangganya terkejut. “Astaga, Belog!!!. Kenapa tidak kamu potong potong saja Be Julitnya baru dimasak? Jadi kamu tidak perlu panci panjang ataupun penggorengan panjang“. Ha ha ha….

Moral ceritanya: Kadang kita perlu menyesuaikan diri kita sendiri agar “pas” dengan lingkungan, karena tak selamanya lingkungan bisa “pas” untuk kita.

Nah…ternyata dalam kemasan yang kocak dan bodoh, terselip pesan pesan luhur dari para tetua untuk generasi penerusnya.

Selamat pagi kawan!

Tangkai Kedondong Yang Patah.

Standard
Tangkai Kedondong Yang Patah.

Saya memindahkan pohon kedondong yang potnya telah kekecilan dan tak layak. Pohon ini sangat rajin berbuah dan banyak-banyak. Akarnya menembus block bata di halaman.

Sebenarnya agak nervous juga saya mrncabutnya, takut akar utamanya putus. Tapi saya tak punya pilihan lain. Pohon kedondong ini butuh pot yang lebih besar.

Rupanya saat saya menarik batangnya dengan sekuat tenaga, ternyata salah satu cabang yang buahnya lebat, patah tangkainya. O o!!!. Beberapa buah kedondong bahkan jatuh menggelinding di bawah. Saya sangat terkejut dan sedih dengan apa yang telah terjadi. Apa yang harus saya lakukan sekarang?

Memanen buah kedondong yang tangkainya patah itu? Semuanya ada 14 buah. Rontok empat dan sisa 10 buah. Masih muda semuanya. Nanti saya jadikan jus kedondong saja. Seger!!!.

Atau apa coba saya biarkan saja ya?. Walaupun tangkainya patah, siapa tahu pohonnya masih bisa memberi nutrisi kepada buah-buah kedondong itu hingga tetap membesar dan matang. Nah..nanti setelah matanv barulah saya panen.

Akhirnya saya memilih option yang ke dua. Saya biarkan buah kedondong itu masih menggantung di tangkainya yang patah.

Beberapa hari kemudian, saya mendapatkan buah kedondong itu pada layu dan kisut. Buahnya lembek. Saya tidak melihat kemajuan dari pertumbuhan buahnya. Yang terjadi malah kemunduran. Saya tahu buah kedondong ini tak akan pernah mencapai masa matangnya dengan baik. Mengapa? Karena tangkai yang patah tak mampu mengangkut nutrisi yang cukup lewat jaringannya untuk disupply ke buah muda yang masih butuh berkembang. Sehingga buah tak bisa berkembang dengan baik. Selain itu akar kedondong ini setidaknya juga agak terputus, sehingga ia harus berusaha mengais nutrisi dari lingkungannya yang baru dengan ujung akar yang sedikit berkurang jumlahnya. Untuk tetap segar, buah harus tetap terhubung dengan batang dan akarnya, dan akarnya tetap membumi. Jadi “koneksi” alias “keterhubungan” itulah jawabannya!. Dalam hal ini tangkai berfungsi sebagai conector.

Yah… saya pikir memang begitulah pada kenyataannya. Dan hal yang serupa juga terjadi dengan diri kita. Kita membutuhkan “keterhubungan” untuk menjaga diri kita tetap hidup dengan baik. Keterhubungan dengan pekerjaan sebagai sumber rejeki, keterhubungan dengan keluarga, sahabat dan orang orang yang kita cintai sebagai sumber kasih sayang, dan sebagainya hingga keterhubungan diri kita dengan Sang Parama Atma Tuhan Yang Maha Esa sebagai sumber dari sang diri alias Atma atau roh kita. Kita perlu menjaga keterhubungan ini dengan baik. Karena jika tidak, maka hidup kita tak ubahnya dengan buah buah kedondong yang patah tangkainya itu.

Saya tercenung sejenak mendapati pikiran saya menjalar ke mana mana.

Renungan di kebun.

Biji Duku Yang Tumbuh Di Dalam Perutku.

Standard

Flasback ke masa kecil : “Wah.gawat!!!. Kalau tertelan, biji duku ini nanti akan tumbuh di dalam tubuhmu” kata kakak sepupu saya. Astaga!!!!!🤤🤤🤤

Semalaman saya tak bisa tidur memikirkan kalimat itu setelah tanpa sengaja saya menelan biji duku. Saya menyangka, besok paginya biji duku itu akan keluar akar yang menjalar dan mungkin menembus perut saya. Tumbuh batang dan ranting yang mungkin menembus tenggorokan mulut, mata, hidung dan telinga saya. Whua…betapa mengerikannya 🤤😲😢😭

======================================

Kejadian masa kecil itu melintas kembali di ingatan saya pada suatu siang, ketika saya berada di sebuah studio foto dan tuan rumah menghidangkan buah duku.

Buat anak kecil, memakan buah duku bukanlah perkara yang mudah. Karena untuk membukanya saja, kulit buah ini terkadang bergetah dan pahit. Terutama jika buahnya kurang tua. Jadi harus pintar pintar memilih yang kulitnya empuk dan tua biar nggak bergetah.

Lalu setelah memilih buah yang tua dan manis, kita dihadapkan pada masalah biji duku. Tidak semua juring buah duku bebas biji. Beberapa bahkan ada yang bijinya besar. Dan jika tergigit rasanya sungguh pahit. Nah kita harus pelan pelan dan hati hati memakannya. Jika bijinya kecil, memang lebih praktis langsung telan saja 😀😀😀.

Dari kesulitan itulah akhirnya banyak anak menelan biji duku baik sengaja maupun tak sengaja. Dan rupanya, banyak anak juga yang mengalami dibohongin kakaknya bahwa “nanti biji duku yang tertelan ini akan tumbuh di perut ” . Bukan saya saja. Ha ha

Sambil mengunyah buah duku, saya mikir mikir lagi. Mungkin sebagian ada benarnya juga, pernyataan bahwa biji duku itu nanti akan tumbuh dalam tubuh kita itu.

Teringat obrolan dengan seorang sahabat saya. Sebenarnya, apapun yang kita makan, termasuk buah duku dan bijinya, masuk ke dalam perut kita, pada akhirnya akan dicerna juga dan dimanfaatkan untuk membangun tubuh kita sendiri. Walaupun tentu ampasnya dibuang oleh tubuh. Sari sari buah duku ini akhirnya menjadi tubuh saya. Betul bahwa ia ikut tumbuh dalam tubuh saya.

Buah duku ini telah mengorbankan dirinya dan jiwanya untuk menjadi bagian dari tubuh, tempat di mana jiwa saya bersemayam. Ia berkorban untuk saya. Ia berjasa bagi saya.

Oh…tapi mengapa saya tidak mengucapkan terimakasih saya kepada buah duku ini?. Dan faktanya sata tidak hanya makan buah duku saja selama hidup saya. Ups!!!!.

Saya juga makan beras/padi, makan kangkung, makan ayam, ikan, talas, singkong, dan sebagainya. Whuaaa…banyak sekali mahluk hidup yang saya makan. Ribuan, mungkin jutaan nyawa telah berkorban hanya untuk kepentingan satu nyawa. Yaitu nyawa saya sendiri. Mengapa saya tidak pernah ingat untuk berterimakasih pada semua mahluk hidup itu?????. Padahal mereka sudah sangat berjasa mengorbankan nyawanya untuk membangun tubuh saya.

Kalau sedang ingat, sebenarnya saya juga berdoa sebelum makan sih. Berdoa kepada Tuhan, berterimakasih sudah diberikan rejeki sehingga saya masih bisa makan hari itu. Berdoa agar makanan yang saya makan memberikan kesehatan yang baik untuk saya dan bukan membuat saya sakit. Kedengerannya cukup religius juga ya saya (kalau sedang ingat 😀) ha ha… Semua doa doa itu tentu sudah baik.

Akan tetapi, saya pikir sebenarnya berdoa seperti itu saja belum cukup. Akan lebih baik lagi jika saya juga selalu berterimakasih dan mengenang pengorbanan diri hewan-hewan dan para tanaman yang saya makan ini yang telah nengorbankan kelangsungan hidupnya, demi untuk mendukung kelangsungan hidup saya.

Sekarang jika ada orang yang bertanya kepada saya, siapakah saya?. Jawabannya, saya adalah kumpulan mahluk mahluk yang telah mengorbankan nyawanya dan kehidupannya untuk sebuah kehidupan lain.

Petualangan: Sendiri Di Tengah Hutan.

Standard

Pernahkah teman pembaca berada di tengah hutan? Sendirian? Tanpa ada satu manusiapun di sekeliling kita?Hanya kesunyian dan suara hutan?.

Saya sering melamun berada dalam suasana seperti itu. Indah, tenang dan damai dalam bayangan saya. Menyatu dengan alam. Tapi ketika lamunan itu menjadi kenyataan, dan saya sungguh -sungguh berada sendirian di tengah hutan, ternyata saya ngeper juga. Tak seindah yang saya bayangkan!.

Kejadiannya adalah ketika saya mengajak adik, anak dan 2 keponakan saya bermain ke Pondok Halimun di kaki Gunung Gede. Rencana awalnya sih cuma mau foto foto di kebun teh dan bermain di kali. Tetapi anak saya ingin mengajak kami naik ke lereng Gunung Gede menuju Curug Cibeureum.Waduwww… tentu saja saya tidak setuju, karena selain jauh, matahari juga sudah mulai sedikit miring ke barat.

Tahun sebelumnya ia sudah ke sana dan seingat saya, bolak balik membutuhkan waktu tidak kurang dari 4 jam.

Penyebab lain karena kami tidak dalam keadaan siap untuk mendaki dan memasuki hutan. Keponakan saya yang perempuan menggunakan sandal high heel, sementara keponakan yang laki, kakinya sedang luka kena pecahan keramik sehari sebelumnya. Sementara saya sendiri sangat mudah terserang kram kalau kelelahan.

Tapi tanpa menunggu persetujuan saya, anak dan 2 keponakan saya sudah melesat jauh di depan. Langkah mereka sangat ringan dan cepat. Tak punya pilihan, terpaksa saya dan adik saya mengekor di belakang.

Kami memasuki pos penjagaan pertama, menuliskan identitas dan mulai berjalan memasuki areal Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Jalanan cukup landai dengan semak terbuka di sana sini. Sedikit demi sedikit jalanan yang dilapisi batu kali itu mulai menanjak. Saya berjalan sambil melihat lihat pemandangan sekitar. Pohon pohon dan belukar. Semak semak dan air sungai serta kali kecil yang mengalir jernih di sela bebatuan. Indah.

Bunga bunga liar dan kupu kupu aneka warna. Juga belalang dan capung. Saya terus melangkah. Jalanan semakin menanjak. Entah karena saya terlalu banyak memperhatikan kupu kupu dan bunga bunga liar, atau entah karena langkah kaki saya memang lambat, sekarang adik saya sudah berada sekitar 15 meter di depan saya.

Kaki yang kram

Jalanan berbelok dan menanjak. Saya mulai merasakan tanda tanda kelelahan pada kaki saya. Kram kaki!. Inilah yang saya takutkan.

Saya berhenti sejenak. Melatih kaki kanan saya dan menenangkannya agar tidak kram lagi. Beberapa saat kemudian, kaki saya bisa digerakkan dengan baik kembali. Sayapun melanjutkan perjalanan. Adik saya sudah tak tampak lagi di depan. Jalanan kembali menanjak dan sekarang saya melihat ada lahan terbuka tempat camping ground yang kelihatannya kurang terpelihara. Saya melintas. Aduuh kaki kanan saya kram lagi. Untung cuma sebentar.

Saya terus berjalan. Berusaha menyusul adik saya. Tetapi tak kelihatan sama sekali. Mungkin sudah terlalu jauh. Saya tetap melangkahkan kaki saya pelan pelan di jalanan yang menanjak itu.

Papan Petunjuk Yang Ada.

Sekarang saya melihat papan petunjuk. Ke kiri arah pendakian Gunung Gede, ke kanan ke arah air terjun Cibeureum. Saya jadi tahu jika saya harus ambil jalan ke kanan.

Saya berjalan ke kanan sesuai dengan petunjuk. Mendaki lalu menurun. Astaga! Kaki saya kram kembali. Kali ini saya paksa tetap berjalan. Mengingat jarak saya tertinggal sudah semakin jauh. Saya seret kaki saya dengan rasa salit yang amat sangat. Akhirnya saya tiba di sebuah area terbuka. Mungkin bekas camping ground. Saya melihat ada bangunan baru yang belum selesai dikerjakan. Saya berharap bertemu manusia di sana. Minimum buruh bangunan yang bekerja. Tapi kelihatannya tidak ada seorangpun di situ. Mungkin para pekerja sudah mulai libur karena puasa menjelang Ramadhan.

Tidak ada jaringan seluler sama sekali.

Saya berhenti agak lama di sana karena kaki kram saya sangat membandel. Melintir dan tak mau diatur. Sekarang malah ke dua duanya. Kiri dan kanan. Saya pijit pijit dan tepuk tepuk kaki saya. Stretching kiri kanan ke deoan ke belakang. Saya mencoba menelpon adik saya. Astaga! Saya baru sadar, ternyata di sini tidak ada jaringan sama sekali. Jadi????

Pikiran saya tiba tiba bergerak buruk. Saya menoleh ke kiri, ke kanan, ke depan, ke belakang. Tak ada satu bayangan manusiapun di situ. Bagaimana jika ? Ooh pikiran saya sangat buruk. Seandainya ada seseorang berbuat jahat pada saya saat itu.. merampok, memperkosa atau membunuh saya di tempat itu… siapakah yang akan tahu? Fuiih… saya cepat cepat menghapus pikiran buruk itu dari kepala saya. Lalu sayapun berjingkat. Terus berjalan. Saya harus berani. Demi anak saya yang sudah jauh berlari di depan.

Bulu Tengkuk Yang Merinding

Ada bangunan bangunan tua yang sudah rusak di situ. Batu batu yang cukup besar. Mungkin dulunya tempat ini adalah camping ground juga. Atau bangunan penjagaan team Konservasi Hutan barangkali . Saya tak tahu persis. Kaki saya mulai agak membaik. Langkah kaki saya lebih ringan.

Sekarang saya memasuki jalan setapak yang dinaungi oleh dahan dahan dan ranting pohon dari kiri kanan jalan setapak. Cahaya matahari meredup. Senja temaram di bawah kanopi hutan. Bulu tengkuk saya sedikit meremang.

Saya mengunci pikiran saya dan mensugesti diri saya sendiri bahwa saya tidak boleh takut dan tidak ada apapun yang boleh menguasai diri saya selain saya sendiri. Perlahan saya mulai sedikit tenang.

Apakah Saya Tersesat?

Namun ternyata itu hanya sebentar saja. Saya melihat tiang lapuk penunjuk jalan yang tak ada keterangannya. Rasa ragu ternyata sulit dibendung. Benarkah jalan yang saya lalui ini menuju Curug Cibeureum?. Bagaimana kalau saya tersesat? Ke mana anak dan keponakan saya pergi? Ke mana adik saya?. Saya sangat khawatir akan keselamatan anak-anak di depan. Rasa galau yang amat sangat menguasai hati saya.

Akhirnya saya berteriak memanggil manggil nama anak saya. Berharap suara saya bergema di seluruh hutan dan gunung itu dan terdengar oleh anak saya. Namun tak ada satupun yang menyahut. Hanya kesunyian dan suara hutan. Saya merasa sangat hampa. Semoga anak-anak baik baik saja.

Kekhawatiran akan nasib anak anak membuat saya kuat kembali. Demi anak anak. Saya tak boleh berhenti. Berjalan lagi, tibalah saya di tepi sebuah sungai.

Menyeberang Sungai.

Ada batu penyeberangan yang bisa saya injak satu per satu agar aman tak terbawa arus. Kalau saja ini pagi hari

Lewat sungai jalanan menanjak. Kaki saya mulai terasa lelah lagi. Ada pohon tumbang. Saya meloncatinya. Lalu berjalan lagi sambil berteriak memanggil manggil nama anak saya.

Saya menguatkan hati saya. Saya harus terus berjalan.

Oh… ada sungai lagi. Rasa ingin membuang air kecil tak tertahankan. Saya menyeberang dan akhirnya memutuskan membuang air seni di sana dengan sebelumnya memohon maaf. Ha ha… saya merasa di manapun berada tetap harus bersopan santun. Huh. Daripada daripada….

Medan Yang Semakin Sulit.

Selepas sungai, jalanan menanjak lagi. Disebelahnya jurang. Kanan…kiri..kanan.. Aduhai… medannya makin sulit. Batu batu di jalanan licin berlumut. Menanjak dan terus menanjak makin curam. Saya melangkah dengan sangat hati hati agar tidak tergelincir. Langkah saya makin berat.

Di atas ada tanah agak longsor di tepi jalan yang terjal. Saya melewatinya dengan sulit.

Saya Menyerah!!!

Kali ini kaki saya tiba pada bagian kram yang sangat serius. Rasa sakit menjalar sampai ke pangkal paha. Ke dua kaki saya tak bisa saya koordinasikan. Memelintir dan sakit tak terperi. Saya berusaha tetap merangkak ke atas. Perlahan lahan. Batu demi batu. Akhirnya saya tiba pada puncak kesakitan dan kelelahan. Saya menyerah!!!

Keringat saya mengucur. Jantung saya terasa berdegup lebih kencang. Saya memutuskan untuk duduk dan diam. Sambil meluruskan kaki saya. Baru saya sadari, saya sangat haus. Dan apesnya saya tidak membawa bekal air minum.

Dalam kelelahan saya mulai ragu. Apakah jalan yang saya lalui ini benar menuju Air Terjun? Kalau iya, masih seberapa jauh lagikah? Mengapa tidak ada plang penunjuk jalan yang menyebutkan Air Terjun sekian kilometer lagi, misalnya?. Saya menengok ke atas, kelihatannya puncak tinggal sedikit lagi. Tapi di manakah air terjun itu?.

Bagaimana jika jalan ini ternyata tidak menuju air terjun? Semakin jauh saya berjalan tentu saya semakin tersesat. Sementara matahari semakin temaram. Sudah pukul setengah empat sore. Jika saya salah jalan, tentu akan lebih sulit buat saya pulang dengan kondisi kaki seperti ini. Hari akan segera gelap. Melanjutkan perjalanan bukanlah pilihan saya saat ini.

Tapi saya percaya, adik saya yang di depan menyusul anak-anak adalah seorang wanita pemberani. Saya mengenalnya sejak kecil. Dan saya tahu ia akan melakukan apa saja untuk menyelamatkan anak-anak kami.

Saya menunggu dan berteriak lagi memanggil nama anak saya. Suara saya seperti tertelan dalam kesunyian rimba. Tiba- tiba ada suara bergerusak di pepohonan di sisi kiri saya. Saya terkejut. Gentar juga. Saya waspada dan menunggu. Ternyata tidak ada apa apa. Oooh! Lega rasanya.

Tetapi kejadian itu membuat saya menjadi lebih peka. Teringat bahwa di sini masih berkeliaran Macan Tutul yang walaupun sebenarnya pemalu, tetapi jika kepepet bisa menyerang manusia juga. Bagaimana jika tiba tiba ada Macan datang dan menyergap saya di sini? Atau lihatlah pohon pohon yang batang dan rantingnya melambai itu. Bagaimana jika ada ular besar tiba tiba memagut dan menelan saya hidup hidup di sini? Whua..😭 Bergidik saya memikirkan kemungkinan itu.

Ternyata sendirian di tengah hutan itu tidaklah seindah dan setenteram yang saya bayangkan.

Saya mengirim pesan kepada adik saya dan anak saya, walaupun saya tahu jaringan tidak ada. Saya akan turun. Tak ada gunanya meneruskan perjalanan ataupun menunggu sendiri di situ. Karena hari sudah gelap juga. Siapa tahu ada muzizat dan pesan saya ini terkirim kepadanya. Saya hanya bisa berdia semoga mereka baik baik saja semyanya dan nenikmati petualangannya ke Curug Cibeureum.

Serangan Pacet.

Akhirnya dengan mengikhlaskan dan memasrahkan diri kepadaNYA, sayapun berjalan turun. Ternyata dengan berat badan yang lumayan, berjalan turun juga bukan pekerjaan yang mudah 😀.

Turunan demi turunan, kelokan demi kelokan. Saya menyeberang balik dua sungai yang sebelumnya saya seberangi. Menembus jalanan sempit yang dipenuhi semak dan rumput. Saya berjalan terus dengan cepat sambil menunduk. Bulu kuduk saya meremang.

Tiba tiba ada yang terasa gatal dan nggak nyaman di betis saya. Astaga !!!. Ternyata kaki saya dikerubungi pacet!!!. Lintah yang hidup di dedaunan. Menempel dan mulai mengisap darah saya. Saya sangat panik dan berusaha melepaskan pacet pacet itu. Semakin panik, ternyata semakin sulit dilepas. Lepas dari kaki malah ada yg langsung menempel di tangan saya.

Waduuuh… ini lah masalah riil yang benar benar saya hadapi di hutan ini. PACET!!. Bukan hantu, pemerkosa, macan ataupun ular. Pacet ini benar-benar gila. Menempel, melubangi kulit dan mengisap darah saya. Dan saya rasa itu juga yang ia lakukan jika bertemu dengan mamalia lain yang melintas di sini.

Akhirnya setelah menenangkan diri saya mulai bisa mencabut pacet itu satu per satu dari kaki saya. Darah saya tetap mengucur keluar dari bekas gigitannya.

Setelah tenang saya melanjutkan jalan menurun. Cahaya senja makin meredup. Kembali melewati jalanan yg ditutupi ranting ranting pohon. Agak gelap di sini. Suara tupai. Dan anak burung Kedasih.

Sekarang saya mulai menikmati kesunyian hutan ini. Apa yang saya takuti? Mengapa saya harus terus menunduk dan takut? Bukankah seharusnya saya menikmati kedamaian ini?.Saya memotret bunga bunga liar dan daun daun pakis di sekeliling. Alangkah indahnya flora hutan yang beragam ini.

Ketakutan datang ketika kita mengambil jarak dan membiarkan diri kita menjadi orang asing di lingkungan itu. Namun jika kita menebas jarak dan membiarkan diri menjadi bagiannya, ketakutan itu ternyata menghilang.

Akhirnya saya tiba di pos penjagaan. Akhirnya bertemu dengan manusia. Bertemu dengan Igor, pria yang mengabdikan waktunya untuk konservasi fauna di taman nasional itu. Saya berbincang dengannya tentang berbagai jenis ular yang hidup di hutan itu sambil menunggu anak anak yang akhirnya pulang setelah berhasil mencapai Curug Cibeureum.

Sungguh sebuah perjalanan yang menarik!.

Ketupat Merang Sukabumi.

Standard

Ketupat! Secara umum identik dengan hari raya Idul Fitri. Walaupun di beberapa daerah di Indonesia, ketupat memiliki makna adat yang lain.

Kali ini saya cuma ingin menuliskan bagaimana orang di Sukabumi menyiapkan ketupatnya untuk hari raya Lebaran. Sedikit berbeda dengan kebiasaan membuat ketupat di kampung halaman saya di Bali. Karena itu saya ingin menuliskannya.

1. Pembuatan Kulit Ketupat (Cangkang)

Ini bisa dilakukan sendiri dari janur. Tapi jaman sekarang, hanya sedikit orang yang bisa dan punya waktu untuk membuat sendiri. Kebanyakan membeli kulit ketupat yang sudah jadi di pasar.

2. Menyiapkan Beras.

Beras dicuci bersih, ditiriskan lalu dicampur dengan sedikit garam dan air kapur sirih. Garam ditambahkan agar ada rasa dan berfungsi sebagai pengawet. Kapur berfungsi agar textur ketupat menjadi kenyal.

3. Memasukkan beras ke dalam kulit ketupat.

Kulit ketupat diisi dengan beras bersih yang sudah dicampur dengan garam dan air kapur. Setiap kulit ketupat diisi setengah lebih sedikit ( sekitar 60%) dari ruang ketupatvyang tersedia, untyk memastikan agar ketupat memiliki kepadatan yang tepat dan tidak mudah basi. Jika kurang dari 60% umumnya ketupat akan terlalu lembek dan mudah rusak. Sebaliknya jika lebih dari 60% ketupat akan menjadi terlalu padat dan keras texturnya sehingga kenikmatannya berkurang.

4. Merang.

Untuk mendapatkan ketupat dengan warna coklat yang menarik, maka ketupat direbus dengan air merang padi. Selain itu air merang padi juga memberikan aroma wangi khas pada ketupat.

Cara menyiapkannya, merang padi dibakar . Setelah dibungkus dengan kain kasa, lalu dimadukkan ke dalam air untuk merebus ketupat.

5. Merebus Ketupat.

Ketupat direbus sekitar 8 jam lamanya dengan api sedang. Baru diangkat dan digantung gantung agar airnya tiris dan ketupat kering.

Selamat menyambut hari raya Idul Fitri teman teman!. Mohon maaf lahir dan bathin.

S O L I T A I R E.

Standard

Solitaire! Sebagian besar pembaca seumuran saya tentu masih ingat games kartu ini. Games sederhana yang umum diawal awal kita mengenal gadget.Karena di jaman itu tak banyak ada games, sehingga yang saya mainkan ya games yang itu itu saja. Yang paling sering adalah Tetris dan Solitaire ini.

Tentu agak beda dengan games yang lebih complex yang umum dikenal anak anak jaman sekarang. Sehingga ketika anak saya melihat saya memainkan games ini ia ikut tertarik dan bertanya gimana cara mainnya?.

Saya tidak serta merta menjawab, karena hanya dengan melihatnya saja dengan mudah ia mengerti bagaimana cara memainkannya. Tetapi setelah ia pergi saya jadi mikir sendiri….

Bermain games ini sebenarnya mirip dengan nenjalani kehidupan. Kita bisa sukses memainkan games ini sebagian karena faktor keberuntungan, namun sebagian lagi tak lepas dari upaya kita memikirkan dan mengatur strategy untuk memenangkannya.

Ketika mesin mengocok kartu dan menempatkannya secara acak, kita hanya bisa pasrah menerima kartu kartu yang telah diatur acak untuk kita. Kadang kita beruntung mendapatkan kartu kartu yang berurutan sehingga dengan sendirinya games berakhir dengan cepat dan score yang tinggi untuk kita. Kita tidak bisa memilih kartu dan urutannya.

Ini serupa dengan hidup kita. Kita tidak bisa memilih siapa ibu bapak kita, saudara kita, sepupu kira dan keadaan ekonomi mereka saat kita dilahirkan. Mau nggak mau harus kita terima. Beruntung jika kita lahir di lingkungan keluarga bahagia, secara finansial oke dan mensupport perkembangan kita dengan baik. Secara umum, kemungkinan kita untuk meraih sukses peluangnya menjadi lebih besar. Sebaliknya jika kita terlahir di lingkungan keluarga miskin, serba kekurangan, tentunya effort kita untuk meraih sukses secara umum harus ditingkatkan.

Nah kembali lagi ke urusan games. Diluar kartu yang diacak dari sononya, sebenarnya masih ada celah celah yang bisa kita mainkan untuk meningkatkan peluang kita meraih sukses dalam permainan. Kita bisa menunda click pada suatu kartu atau memoercepatnya. Jika kita kelewatan atau kelupaan ngeclick sebuah kartu yang berpotensi berurutan nomernya, bisa jadi peluang kita untuk sukses jadi hilang. Atau bisa juga sebaliknya, ngeclick suatu kartu yang tepat bisa mengakibatkan kita berpeluang untuk menyocokkan nomer dengan kartu yang akan datang berikutnya.

Ini juga serupa dengan dalam kehidupan. Di luar faktor nasib tadi, seberapa besar usaha kita dan bagaimana upaya kita memecahkan permasalahan juga sangat menentukan sukses gagalnya kita.

Sambel Pangi.

Standard

Ketika kita ingat akan “sesuatu”, eh… ternyata sesuatu itu tiba tiba muncul di depan kita. Pernahkah teman teman mengalami kejadian seperti itu?. Saya pernah.

Barusan saja seorang sahabat saya mengirimkan sebuah artikel tentang Kluwek dan bertanya bagaimana rasanya, apakah benar beracun dan sebagainya -karena rupanya ia belum pernah mencicipi Kluwek. Eh…pas habis itu tiba tiba saya melihat buah Kluwek di tukang sayur. Kebetulan atau bagaimana ini ya? Jadilah akhirnya saya membelinya.

Kluwek atau Kepayang, dalam bahasa Bali disebut dengan Pangi. Salah satu yang saya ingat pernah dibuat di dapur ibu saya adalah Sambel Pangi. Sangat jarang sih… tapi ngangenin juga. Buat yuk!

Selagi nemu buahnya 😀

Cara membuatnya sangat mudah.

1/. Pecahkan cangkang buah Pangi. Ambil isinya yang berwarna hitam.

2/. Ambil bawang merah, bawang putih dan cabe. Ulek bersama isi buah Pangi.

3/. Tumis dengan sedikit minyak. Tambahkan garam dan sedikit gula jika suka.

Jadi deh…

Sambel Pangi siap disantap untuk menemani lauk yang lain.

Selamat Tahun Baru 2018.

Standard
Selamat Tahun Baru 2018.

Selamat pagi teman- teman pembaca. Selamat Tahun Baru 2018!.

Tahun 2017 baru saja lewat. Tentu saja tahun itu memberi arti yang berbeda-beda bagi setiap orang. Ada yang menganggapnya sebagai tahun yang penuh dengan hal-hal baru yang menyenangkan, tahun tahun yang penuh dengan kebahagiaan dan kesuksesan, atau mungkin juga ada yang menganggap tahun 2017 adalah tahun yang penuh dengan kedukaan dan sebagainya.

Bagi saya sendiri, setelah saya tengok ke belakang, tahun 2017 adalah tahun yang paling kurang produktif. Baik secara pribadi maupun dalam aspek kehidupan saya yang lainnya. Tahun di mana saya hanya menghasilkan sedikit karya yang memuaskan hati saya.

Salah satu contohnya adalah dalam dunia blogging. Jumlah tulisan saya tahun ini sungguh turun drastis. Hanya 49 buah dalam setahun. Sebagai pembanding saya ambil tahun lain secara acak – misalnya tahun 2012, saya menghasilkan 201 tulisan dalam setahun!. Nah, bayangkan betapa kurang produktifnya saya di tahun 2017 lalu. Seperempat dari tahun 2012 pun tak ada. Sungguh terlalu!.

Contoh lain adalah dalam hal per”dapur hidup” an. Kegiatan saya dalam menanam kebutuhan dapur sehari-hari. Tahun 2017 ini panen saya sangat terbatas jika dibandingkan tahun sebelumnya. Terang saja, karena kegiatan menanam agak berkurang. Lho…kenapa bisa begitu ya?

Alasannya tentu banyak. Semua alasan bisa kita cari sebagai bentuk pembenaran atas kekurang berhasilan kita. Yang paling mudah adalah menyalahkan kondisi ekonomi di tahun 2017 yang lagi sulit 😀😀😀, yang menyita perhatian dan waktu saya lebih banyak, sehingga saya tak punya banyak waktu untuk berpikir dan menghasilkan sesuatu. Kedengeran agak masuk akal nggak?. Ha ha..😃 😃😃

Terlepas dari apapun yang saya sebut sebagai penyebabnya, namun di dalam hati saya tetap mengakui bahwa seandainya saja saya sedikit lebih semangat dan lebih rajin mengerahkan pikiran, daya upaya dan usaha saya, tentu hasilnya akan menjadi lebih baik dari itu.

Nah lho?! Jadi kesimpulan sebenarnya adalah, segala bentuk kesuksesan ataupun kekurang suksesan, jika mau jujur sangat ditentukan oleh seberapa jauh kita meletakkan semangat dan upaya kita untuk mencapainya diatas segala situasi yang ada.

Hari ini tahun 2018 telah hadir. Saya rasa ada baiknya saya gunakan sebagai tonggak batu, tonggak titik balik yang memompa semangat hidup saya kembali agar bisa lebih produktif lagi berkali lipat dibanding tahun 2017.

Orang bilang, ucapan adalah doa. Dan doa akan selalu berhasil terbaik jika dibarengi dengan upaya yang sepadan juga.

Baiklah teman-teman semuanya, sekali lagi Selamat Tahun Baru 2028. Semoga di tahun 2018 ini kita semua menjadi lebih produktif dan lebih sukses.

Cerita Pembantu & Budhe Tukang Jamu.

Standard

Hari Sabtu pagi. Saya bangun agak kesiangan karena semalam baru kembali dari luar kota. Tapi karena niat saya mau berlari pagi, jadi nggak apa-apalah saya tetap keluar walaupun kesiangan 😀😀😀.

Berlari hanya di sekitar perumahan saja. Lumayan sudah mengeluarkan keringat. Dan yang lebih penting adalah bertegur sapa dan bertukar senyum dengan tukang sayur yang mangkal, pak satpam, ibu-ibu pembersih taman, tukang bubur, mbak-mbak yang sedang berbelanja dan juga para tetangga yang sedang berjalan-jalan pagi.

Usai berlari, saya mampir di tukang sayur untuk membeli pepaya dan selada air. Lalu ada si Budhe Tukang Jamu. “Olah raga pagi, Bu? “Sapanya dengan sumringah seperti biasanya. Saya tersenyum mengiyakan dan bercakap-cakap sebentar dengannya. Selalu menyenangkan jika ngobrol dengan Budhe. Sayapun memesan sebotol jamu sirih kunyit asem. Sambil menyiapkan jamunya, si Budhe bertanya kepada saya.

Bu, itu mbaknya yang kerja di ibu keluar ya Bu?”. Saya berpikir sejenak. Karena yang sekarang baru saja mulai bekerja. “Yang dari Purworejo”. Katanya. Oooh…

Ya Budhe. Cuma sempat kerja beberapa hari saja, terus pulang dan tak kembali” kata saya.

Alasannya apa Bu waktu minta ijin pulang?” Saya lalu menceritakan jika alasannya waktu itu adalah ingin pulang selama 2 hari karena ingin mengurus administrasi anaknya sebentar karena mendapat sejenis beasiswa. Ya jadi saya ijinkan, karena buat saya pendidikan anak itu sangat penting. Tapi di hari yang ia janjikan akan datang ia tak muncul. Demikian juga hari hari berikutnya hingga saya mendapat konfirmasi bahwa ia positive keluar.

Saya sendiri tidak menyesali kepergiannya, karena saya mendapatkan informasi berikutnya bahwa ia sebenarnya ogah-ogahan bekerja dan bahkan memiliki sejarah kejujuran yang buruk saat bekerja dengan majikan-majikan sebelumnya. Jadi beruntunglah saya tidak perlu bergalau hati seandainyapun ia ketahuan melakukan hal yang aneh-aneh. Tapi bagian ini tidak saya ceritakan kepada si Budhe Tukang Jamu.

Saat saya terdiam sambil mengingat-ingat wajah si Mbak yang cuma sempat bekerja beberapa hari saja di rumah saya itu, si Budhe tiba-tiba curhat.

Itu lho Buuuu! Mbaknya itu membawa kabur baju saya dan nggak bayar” katanya dengan muka sangat murung. Hah ???!!!.

Saya seperti tersengat listrik. Kaget!. Lha? Kok bisa?? Dia kan hanya beberapa hari saja kerja di tempat saya? Kok sudah sempat-sempatnya melakukan kejahatan?. Saya tidak mengerti. Selain itu, ia juga orang baru di perumahan ini. Karena sebelumnya ia bekerja di perumahan lain di BSD.

Lah..Budhe kok bisa percaya ngasih baju ke orang baru gitu? “ tanya saya heran. Si Budhe yang baik ini selain menjadi Tukang Jamu juga berjualan baju dengan cara nencicil-cicilkan kepada para pembantu rumah tangga di perumahan itu. Pernah saya ceritakan di tulisan ini (Tukang Jamu Dalam Ekosistem Perumahan) sebelumnya.

Lha…gimana to Bu?. Wong dia bilangnya besok pasti akan dibayar karena waktu itu dia nggak bawa uang. Ya saya percaya saja“. Katanya memelas. Saya kok tidak tega melihatnya.

Terus saya tanya tanya ke orang-orang. Dikasih tahuin itu pembantunya Ibu Dani. Terus karena nggak dateng-dateng, saya samperin ke rumah ibu. Saya ketok-ketok, nggak ada yang bukain pintu.”. Ceritanya. Waduuuh ..nama saya jadi kebawa-bawa deh ya.

Terus saya tanya Mbak Imah ( Tukang Sayur) katanya sudah lama nggak pernah muncul belanja sayur. Mungkin sudah pulang ke Jawa. Atau brenti kerja, Bu?”. Saya semakin tidak tega mendengarnya. Ya…memang dia sudah lama pamit pulang. Cuma beberapa hari saja di rumah saya. Walaupun cuma beberapa hari saja, ternyata sudah mampu menciptakan penderitaan bagi orang lain.

Saya bertanya berapa banyak ia berhutang. Budhe menyebutkan sejumlah angka. Ooh..rupanya tidak terlalu besar. Saya pikir saya masih bisa menalangin dengan ikhlas. Kasihan juga si Budhe jika ia harus nenanggung kerugian akibat ulah pembantu yang bekerja di tempat saya.

Akhirnya saya tepuk bahunya si Budhe. “Sudahlah Budhe. Nanti saya ganti. Biar Budhe nggak rugi” kata saya lalu membayar sekalian dengan harga jamu kunyit asem. Si Budhe mengucapkan terimakasih dan terharu. “Kok bisa ya ada orang kayak gitu. Nggak kayak yang lainnya di perumahan ini. Biasanya jujur. Apa dia juga ada minjem uang sama Ibu? ” tanya si Budhe. “Ya Budhe. Tapi nggak seberapa. Buat ongkos pulang dan keperluan di sana saja”. Kata saya. Dan saya sudah mengikhlaskannya saat itu. Jadi saya tak punya beban ataupun rasa sesal sedikitpun. Sekarang saya baru tahu ternyata ia merugikan si Budhe Tukang Jamu.

Sambil berjalan pulang saya jadi berpikir-pikir. Urusan pembantu rumah tangga memang masalah yang sangat pelik buat ibu-ibu. Kita memasukkan orang asing yang tak kita kenal ke dalam rumah kita.

Jika kita percaya begitu saja, kita tak pernah tahu sebelumnya apakah orang ini jujur dan akan terus jujur selama di rumah kita. Jika tidak, tentu kita yang akan kena musibah.

Tapi jika kita tak percaya dan cenderung curiga tentu akan menghasilkan hubungan kerja yang kurang harmonis juga dengan pembantu. Karena pada kenyataannya, menurut pengalaman saya kebanyakan dari mereka sebenarnya jujur-jujur dan baik-baik. Tentu tidak adil juga jika mereka dicurigai setiap saat.

Interview, sreening dan reference di saat awal menurut saya tetap penting. Walaupun kadang-kadang si pemberi referensi juga tidak mengenal cukup baik.

Teman-teman adakah yang punya pengalaman serupa?