Category Archives: Gardening

Garden Update: Curly Kale.

Standard

Setelah beberapa minggu sejak ditanam, hari ini saya memanen cukup banyak daun Kale keriting dari halaman. Karena daun-daunnya sudah terlalu rimbun dan menutupi tanaman lain di dekatnya. 

Sayang setelah dipanen, nggak sempat langsung dimasak. Kebetulan hari ini ada pekerjaan lain yang tak bida ditinggal. 
Kale keriting, adalah salah satu tanaman yang sangat baik dimasukan ke dalan koleksi dapur hidup kita. Sangat mudah disemai, cukup toleran terhadap cuaca panas seperti di Jakarta dan tentunya rasanya juga enak. Selain itu bentuk daunnya yang keriting sangat dekoratif. Selalu tampak cantik dan segar. 

Dapur Hidup: Metik Daun Katu Berbonus Daun Cincau.

Standard
Dapur Hidup: Metik Daun Katu Berbonus Daun Cincau.

Pohon Katunya batangnya sudah nyampai ke atap. Sudah mulai mengganggu” tegur suami saya ketika kami sedang duduk-duduk di halaman belakang. Saya mendongak. Ya. Bener juga. Daun daun Katu itu tampak menyentuh langit-langit beranda. Juga menutupi tanaman Pakchoy putih dan Spearmint saya dan membuatnya terhalang sinar matahari. “Besok saya panen” janji saya. Dan begitulah…..

Hari ini saya memangkas pohon katu yang tinggi itu. Hasilnya lumayan juga setelah dipilah-pilah dan dipilih-pilih. Walaupun lebih banyak yang ketuaan atau menguning. 

Sebaiknya saya memangkas tanaman ini atau mengambil daunnya secara berkala. Misalnya sebulan sekali atau 2 bulan sekali. Nah…saya luput melakukannya. Tapi nggak apa-apalah. Lebih baik telat daripada sama sekali tidak. 

Nah..selagi memilah milah itulah tiba tiba saya sadar saya telah ikut memutus satu tangkai pohon Cincau Hijau saat memangkas batang pohon Katu. Rupanya pohon Cincau itu ada yang melilit batang pohon Katu  jadi ikut terpotong deh saat ditarik. Kasihan amat. 

Sejenak saya terdiam. Hati saya kelu. Tapi akhirnya saya pikir selagi  terpotong tanpa sengaja, biarlah saya manfaatkan saja daun-daunnya. Saya petiki daun-daunnya satu per satu. Nanti akan saya buat minuman Cincau saja.  Segar juga!. Pikir saya.

Sementara daun Katu bisa dimasak dengan berbagai cara. Direbus dicocol sambal terasi, dimasak bening, ditumis atau dibyat campuran Bubur Kalimoto. 


Dan batangnya saya potong-potong, siap untuk ditanam kembali agar kelak semakin banyak daun Katu yang bisa dipetik dari halaman. 

Sedikit untuk mengenang sejarah keberadaan tanaman ini di rumah, saya mendapatkan stek batangnya pertama kali dari papanya Wilsa. Kebetulan saat itu saya diajak mampir ke rumah papanya oleh Wilsa teman saya itu. Papanya itu penggemar tanaman. Dan memenuhi halaman depannya dengan tabaman tanaman bermanfaat. Salah satunya adalah tanaman Katu ini. Terimakasih papa Wilsa. 

Dapur Hidup: Cerita Tentang Jahe Merahku. 

Standard
Dapur Hidup: Cerita Tentang Jahe Merahku. 

Beberapa waktu belakangan ini rasanya saya terlalu banyak bepergian. Kebanyakan untuk urusan kantor. Walau ada juga sih sedikit untuk urusan personal. Minggu ini rasanya agak lega. Bisa punya waktu lebih banyak untuk suami dan anak anak. Dan tentunya untuk…. tanaman-tanaman Dapur Hidup 🌱🌱🌱 saya di halaman 😀😀😀. 

Cerita pertama dari kebun kali ini adalah tentang Jahe Merah. Tentunya sudah banyak yang tahu ya tentang Jahe Merah?. Varietas jahe yang warnanya merah (kebanyakan jahe berwarna kuning) dan rasanya super pedas ketimbang jahe lain. 
Saya sendiri sudah agak lama tahu tentang jahe ini, tetapi pertama kali tertarik membeli rimpangnya di pasar sekitar 2 tahun lalu. Gara garanya pengen belajar bikin acar jahe merah seperti yang sering kita temukan dalam kuliner Jepang. Setelah itu, saya beberapa kali lagi membeli bahan bakunya di pasar sebelum akhirnya memiliki serumpun tanaman Jahe Merah ini di halaman. 

Walaupun cuma di pot, tanamannya cukup subur juga. Satu per satu batangnya tumbuh dan meninggi. Mengembangkan daun daun memanjang mirip pedang  yang tumbuh berselang seling di kiri kanan batangnya. Saya membiarkannya tumbuh begitu beberapa saat. Senang saja melihat pohonnya subur. 

Nah kemarin begitu tiba di rumah, saya melihat kejanggalan pada pohon Jahe Merah saya. Daun-daunnya kok menguning ya?. Ada dua kemungkinan, saya pikir. Jika bukan karena kekeringan selama saya tinggalkan, bisa jadi juga karena diserang penyakit tanaman. Saya tidak tahu penyebab pastinya. 

Akhirnya saya memutuskan untuk membongkar rimpangnya dan menanam ulang kembali nantinya. Panen deh ini judulnya 😀😀. 


Ternyata lumayan juga lho hasilnya setelah dibongkar, dicuci dan dikeringkan. Saya tidak menyangka akan sebanyak ini hasilnya. 

Lalu buat apa Jahe Merah sebanyak itu? Yang jelas, sebagian pasti akan saya tanam kembali. Lalu sebagian lagi untuk bikin acar, minuman jahe dan sisanya untuk keperluan bumbu masak biasa. 

Jahe seperti kita tahu membawa sifat panas ke dalam tubuh. Jika udara dingin, kita minum air jahe hangat. Entah dalam bentuk air jahe murni, atau dicampur bahan lain seperti susu, madu, kayu secang dan sebagainya. Demikian juga saat kurang enak badan, masuk angin. Kita minum air jahe. Jahe seperti memompakan kembali energi panas ke dalam tubuh, sehingga tubuh rasanya bangkit aktif kembali. Tak heran kita mengenal beragam jenis minuman traditional yang berbahan baku jahe. Misalnya, wedang jahe, wedang ronde, bajigur, bandrek, wedang uwuh, madu jahe, susu telor madu jahe, dan sebagainya. 

Jahe juga banyak digunakan sebagai penetralisir bau amis pada ikan ataaupun daging. 

Di Bali, masyarakat menggolongkan jahe sebagai makanan “Rajas” karena sifatnya yang menstimulir semangat dan mood. Kerap kali ditambahkan dalam bumbu dengan maksud untuk menstimulir nafsu makan, ataupun sebagai balancer dari bumbu/bahan makanan lain yang bersifat dingin untuk menjaga kesetimbangan tubuh. Semua tentunya di luar fungsi utamanya sebagai bumbu pemberi rasa. 

Masih banyak lagi gunanya jahe, yang membuat saya merasa memang tanaman ini sangat penting kita tanam di halaman rumah. 

Yuk tanam Jahe !. Kita bikin Dapur Hidup. 

Garden Art – Koleksi Kebun Dapur Hidup Saya.

Standard

Koleksi Dapur Hidupku.

Berkebun sayuran 🌱🌱🌱menjadi kegiatan favorit saya setahun dua tahun ini. Ya..  membuat Dapur Hidup! Saking senangnya, saya sampai jarang punya waktu untuk melakukan kegiatan favorit lain di luar jam kantor seperti menulis, menggambar, jahit menjahit ataupun mencoba coba resep cemilan untuk anak-anak. Blog sayapun mulai setengah terlantar. Ya..okelah. setiap orang memang cuma diberi jatah waktu 24 jam, nggak kurang dan nggak lebih. Jadi memang harus memilih, bagaimana caranya menghabiskan waktu yang 24 jam itu dengan cara terbaik menurut kita masing-masing. 

Tapi beberapa hari belakangan ini, tiba-tiba saya mendapat ide untuk membuat kumpulan sketsa hitam putih tanaman sayuran  yang ada atau pernah saya tanam di kebun Dapur Hidup saya. Selain menyenangkan hati, juga untuk mengingatkan saya kelak,  eeh…sayuran ini pernah saya tanam lho di kebun saya. Ada di album “My Garden Collection”. Siapa tahu kehabisan ide untuk menanam apa lagi. Karena lahan pekarangan rumah saya sempit, tanaman sayuran itu kebanyakan memang saya tanam silih berganti. 

Alasan lain adalah, saya lihat kebanyakan orang membuat lukisan , gambar ataupun sketsa bunga atau tanaman hias. Lebih jarang orang membuat gsmbar atau sketsa sayuran. Jadi saya pilih untuk menggambar isi kebun sayuran🌱🌱🌱 saja lah kalau begitu. Biar beda 😃😃😃.

Untuk koleksi Dapur Hidup ini, saya memilih menggambar dengan pensil di atas kertas gambar warna putih. Hitam putih saja. Kelihatannya lebih menarik dan klasik. Nah.. ini adalah 6 gambar pertama yang saya buat untuk koleksi Dapur Hidup saya. 

1/. Artemisinin

Artemisinin, alias Kenikir obat  adalah tanaman Dapur Hidup yang sekaligus Apotik Hidup. Karena daun tanaman ini basa digunakan orang untuk pecel, tetapi juga memiliki benefit pengobatan.  Daunnya sangat indah dan keriwil. Sangat menarik untuk digambar. Ukurannya yang kecil memberi tantangan tersendiri saat menggambar, tetapi saya mengakalinya dengan membuatnya menjadi lebih besar.
2/. Sawi Pagoda alias Tatsoi.

Tatsoi adalah ratunya Dapur Hidup di halaman rumah saya. Tampilannya yang cantik dan anggun selalu mendapat komentar dari teman teman yang melihat fotonya ataupun melihat langsung saat berkunjung ke rumah saya “waah.. kalau cantik begini sayang dimasaknya. Jadikan pajangan saja” begitu rata rata komentar teman. Jadi layak banget diabadikan dengan pensil ya. Challengenya adalah bagaimana caranya menggambar  tumpukan daun daunnya yang melingkar membentuk pagoda itu dengan rapi dan tidak tumpang tindih dengan amburadul satu sama lain. 

3/. Sawi Putih alias Pitchay

Pitchay atau Pitsai atau Sawi Putih, tananan sawi jenis lain yang juga sering saya tanam di halaman. Tanaman ini daunnya mengenbang seperti rosette pada awalnya, kemudian menekuk ke dalam dan memadat di tengah pada akhirnya. Terlihat gendut dan lucu. Menarik juga untuk digambar. Challengenya adalah, bagaimana membuat daun-daunnya kelihatan menggelung ke dalam dan terlihat padat.  Yang saya gambar ini adalah tanaman yang masih muda  yang berada di stage baru mulai menggelung daun -daun tengahnya. 

4/. Pare.

Pare adalah tanaman yang dari sononya sudah artistik. Batangnya merambat dengan daun keriting dan sulur sulur yang banyak membuatnya terlihat sangat cantik tanpa diapa-apain. Challengenya seupa dengan menggambar Artemisinin. Bagaimana caranya menggambar bagian kecil kecil kemriwil itu dengan tetap halus. 

5/. Rosemary.

Sekalian keblenger dengan menggambae element tanaman yang kecil kecil, sekalianlah saya menggambar Rosemary. Daunnya kecil kecil banget. Aah…perbesar saja dikit.  Rosemary adalah tanaman bumbu yang baru saya pelihara kurang dari setahun.  Saya sangat suka dengan wangi daunnya. Enak untuk ditabur di atas kentang goreng. 

6/. Sawi Sendok alias Pakchoy

Tanaman ini juga sangat menarik karena pangkal tangkai daunnya yang cekung dan gendut mirip sendok bebek. Juga merupakan tanaman yang paling sering saya tanam di halaman. Karena enak 😃. Challengenya adalah bagaimana membuat pangkal tangkai daunnya ini benar benar terlihat cekung di dalam dan cembung keluar. 

Tapi apapun challenge-nya, menggambar sayuran selalu menarik dan menyenangkan. 

Sapo Tahu Dengan Sawi Pagoda.

Standard

Hari ini saya bangun lebih siang. Badan saya terasa agak lebih sehat dibanding kemarin pagi. “Siang ini mau masak apa Bu?” tanya si Mbak. Rasanya kok sangat malas berpikir ya. “Yang ada di tukang sayur sajalah” kata saya. Tapi lalu saya keingetan tanaman sayuran di halaman.🌱🌱🌱 Beberapa mungkin harus dipetik segera biar tak ketuaan atau kepalang tumbuh bunga. 

Sayapun ke halaman melihat-lihat sayuran🍀. Kebanyakan masih kecil kecil. Tapi ada juga beberapa sisa sisa yang masih bisa dipanen. Ada Kailan dan Daun Pepaya Jepang. Ada juga sisa-sisa Sawi Pagoda yang penghabisan. Dipanen ah!.

Dimasak apa ya? Buka kulkas. Kebetulan masih punya sisa  tofu dan cumi. Ah!. Cukuplah. Mau dimasak Sapo Tahu Sayuran saja. 

Masaknya sederhana saja. 

1/ Sawi Pagoda dibersihkan dan daunnya dipetik satu per satu. Cuci bersih lalu tiriskan. 

2/. Potong-potong  tofu, goreng hingga matang. 

3/. Cumi dibersihkan, dipotong potong dan dicuci lalu digoreng. 

4/. Parut bawang putih, ditumis dengan irisan bawang bombay dan jahe hingga harum. Masukan irisan paprika (kebetulan ada di kulkas). 

5/. Masukkan tepung maizena yang sudah dilarutkan dengan air. Tambahkan sedikit garam dan gula. 

6/. Masukkan cumi dan tofu goreng.  Dimasak kembali dengan api sedang.  Tambahkan sedikit minyak wijen dan kecap inggris. 

7/. Terakhir masukkan Sawi Pagoda kesayangan. Masak dengan api besar lalu angkat. 

8/. Hidangkan panas-panas. 🍜🍜🍜

Sawi Pagodanya sangat enak dan empuk. 

Dapur Hidup: Cerita Saya Tentang Lobak Lalap.

Standard

Lobak Lalap

Tentunya semua tahu yang namanya Lobak kan? Itu lho sayuran umbi yang mirip wortel tapi warnanya putih. Masih sekeluarga sama beet. Biasanya saya lihat dijadikan campuran soto.  

Saya sendiri sebenarnya kurang menyukai rasa umbi lobak. Tapi begitu mendengar daun lobak untuk lalap, saya mendadak menjadi suka. Nah saya mau cerita tentang tanaman lobak saya. 

Benih lobak saya lupa dapat dari mana. Rasanya sih beli online. Makanya saya hanya punya beberapa biji saja. 

Biji lobak ukurannya agak besar ketimbang rata rata biji sesawi. Tumbuh cukup mudah juga, walaupun saya tidak punya banyak. Paling banter ada 8 pohon yang saya punya. Saya tanam di polybag.

Tumbuh dengan subur. Daunnya banyak dan hijau royo royo. Senang melihatnya. 

Pangkal akar Lobak sudah mulai terlihat menggembung.

Saya melihat pangkal akarnya juga mulai menggembung. Terlihat putih membenam di tanah.  Wah.. tak sabar rasanya menunggu. Pengen tahu.  

Tanaman Lobak sedang berbunga.

Saya membiarkan tanaman ini tumbuh. Tak berapa lama mulailah bunganya bermunculan. 

Bunga Lobak.

Cantik. Kecil kecil berwarna ungu. Mahkota bunganya ada 4. Mirip bunga sawi sih. Tapi kalau sawi biasanya bunganya kuning. Lobak ini bunganya ungu pucat. Saya senang sekali. Dan berniat membiarkannya hingga menjadi buah.

Buah Lobak.

Sebenarnya proses menjadi buahnya cepat. Tapi saya ingin menunggu buahnya menjadi tua dan kering. 

Nah kemarin saat hujan deras, tiba tiba saya keingetan akan tanaman lobak saya. Sayapun menengoknya. Rupanya sudah layu. Sebelum membusuk segera saya cabut tanamannya dan penasaran melihat umbinya.

Lobak

Tada!!. Beginilah umbinya. Kok kecil banget ya?  Hi hi… ternyata hasilnya jauh dari bayangan saya. Mungkin ada yang salah dari cara saya merawatnya. Atau jangan jangan jenis yang saya tanam itu memang yang jenis berumbi kecil?. Saya menghibur diri.

Tapi nggak apa apa. Saya tetap semangat. Saya petik buahnya.

Buah Lobak

Saya ingin mengambil biji bijinya untuk saya semai kembali. 

Biji Lobak

Saya akan coba tabur lagi di halaman. Siapa tahu bisa tumbuh kembali. 
Selalu semangat untuk berdapur hidup. 

Kali Ini Bukan Tomat Lagi. Tapi Bayam. 

Standard

Ah, jangan minta angpao dari Bu Dani. Ntar dikasihnya tomat“. Gurau seorang teman saat beberapa waktu yang lalu saya mengucapkan Gong Xi Fa Chai. Ha ha ha. Saya tertawa geli mendengarnya yang disusul oleh derai tawa teman teman saya yang lain. Tentu tahu dari mana datangnya, mengapa teman saya itu berkomentar seperti itu. Pasti karena belakamgan ini saya sering memposting status atau photo photo tomat. Jadi tomat seolah sudah menjadi symbol perwakilan diri saya. Ha ha.

Nah biar lebih beragam dan tidal melulu tentang tomat, kali ini saya memposting tentang sayuran lain saja. Bayam. Mengapa bayam? Begini ceritanya nih…

Saat ini saya di sebagian instalasi hidroponik saya sedang ditanami bayam. Sebenarnya sudah sempat dipanen sekali. Tapi karena memanennya dengan dipotong dan bukan dicabut, cabang cabang kecil yang tertinggalnyapun akhirnya tumbuh lagi dan 2 minggu kemudian menjadi bayam seukuran yang layak di panen. 

Entah karena kesibukan atau apa, lha saya lupa memanen bayam bayam baru itu. Ada 2 box yang sudah kepalang menjadi berbunga. Tentu nggak mantap lagi jika dipanen dan dijadikan sayur. 

Bayam Dapur Hidup.

Untungnya masih ada sebagian yang masih sangat layak panen.
Ini dia hasil panen bayam saya pagi ini. Lumayan ya. Seger seger. Setidaknya lebih seger dari yang di tukang sayur. 

Bayam Dapur Hidup

Memang punya Dapur Hidup itu nggak pernah ada ruginya. 

Benih Sayuran & Produsennya – Bagian I

Standard

Salah satu pertanyaan yang paling sering disampaikan oleh pembaca blog ke email saya adalah “Bagaimana caranya mendapatkan benih sayuran yang bagus Bu? “. Atau “Di mana ibu membeli benih sayuran?”. Ya jawaban saya biasanya adalah membeli dari toko Trubus, toko Ace Hardware dekat rumah saya atau beli online. Tapi malam ini saya lagi bongkar-bongkar box bibit, saya tertarik untuk mengelompokkan brand-brand dan produsen benih sayuran yang pernah saya beli. 

1. CAP PANAH MERAH.

Benih Sayuran Cap Panah Merah. 

Kelihatannya ini adalah merk bibit sayuran yang paling banyak saya beli. Setidaknya ada 15 sisa benih dan kemasan merk yang diproduksi oleh PT East West Seed Indonesia di Purwakarta  ini. Diantaranya yang pernah saya tanam adalah Pare Hijau, Terong Ungu Hybrida, Timun Putih, Bayam Hijau, Kembang Kol, Melon, Kangkung, Wortel, Tomat, Sawi Putih, Selada Hijau, Pakchoy Hijau, dan sisanya benih bunga / tanamam hias. 

Saya cukup happy menggunakan merk ini selama dua tahun terakhir. Daya tumbuhnya rata rata sangat bagus antara 85-95%. Keterangan pada kemasannya juga cukup jelas. Merk ini bisa saya dapatkan dari Toko Trubus atau Ace Hardware.

Belakangan ini Panah Merah memberi fokus pada kegiatan berkebun di perkotaan /urban farming dan keluar dengan kemasan Jumbo Pack untuk yang ingin menanam dalam jumlah besar dan Starter Pack untuk pemula. Harga per packnya cukup terjangkau walaupun jika dibandingkan dengan merk lokal lain terasa sedikit lebih mahal. Mungkin karena diproduksi di tanah air dengan menargetkan ke petani perkotaan. Sayurannya juga tentu sayuran lokal. 

Ada headline pada kemasannya yang saya suka banget bunyinya “Every one/where, can be a farmer”.  Ya..tentu saja. Asal mau. 

2. MR.FOTHERGILLS.

Benih Sayuran Mr. Fothergill’s

Merk ini menyediakan benih sayuran ‘londo’ karena memang benih import. Diproduksi oleh Mr. Fothergill’s Seds Kentford, Newmarket, UK. Sisa benih/kemasan yang ada di saya itu antara lain Sweet Pepper/Papprika, Cabbage/Kol, Leek/Daun Bawang, Pak Choi Red, Wortel, Chives dan Sweet  Pepper Mini. 

Saya suka dengan merk ini karena menyediakan benih sayuran yang jarang ada di Indonesia.  Terutama dulu saat saya masih rajin menanam bunga bungaan. Nge-fans banget deh. Menurut saya, merk ini yang memberi penjelasan tata cara menanam yang sangat detail. Mungkin keterangan sedetail itu memang diperlukan untuk negara yang memiliki 4 musim. Kadang untuk negara kita yang cuma mengenal musim hujan dan kemarau, keterangan detail itu menjadi agak kurang relevant. 

Walaupun menurut saya ini adalah merk benih yang paling keren, tapi juga memiliki kelemahan. Yaitu daya tumbuhnya tidak sebagus merk lokal -barangkali karena perbedaan cuaca dan temperatur (kecuali Chives-daya tumbuhnya cukup bagus).  Dan tentunya … harganya sangat mahal. Menguras kantong. 

Sama dengan Cap Panah Merah, merk Mr Fothergill’s juga bisa kita dapatkan di toko Trubus dan Ace Hardware.

3. DIOBA SEED

Benih Sayuran Dioba Seed.

Merk ini saya dapatkan dari Toko Trubus. Diproduksi lokal oleh Pt.Griya Tanindo Jaya yang belakangan menjadi PT Dioba Griya Huma Tani untuk PT Trubus Mitra Swadaya.

Benih yang pernah saya beli/ tanam adalah Pakcoy Hijau, Terong Hijau Bulat, Seledri dan Selada Daun. Daya tumbuhnya cukup baik sekitar 80-90%. Penjelasan pada kemasan tentang cara tanamnya sangat kurang. Belakangan saya tak pernah membeli merk ini lagi karena rasanya memang sudah tidak kelihatan lagi. Lot terakhir yang saya miliki yang expiry datenya tahun 2015 -2016. Tetapi saat itu saya cukup happy dengan merk ini. 

4. JAWARA.

Benih Sayuran Jawara.

Ini adalah merk yang paling sering saya pakai setelah Panah Merah. Diproduksi lokal oleh CV ENNO & CO SEED di Jember.Merk ini dangat cocok untuk petani lokal.Untuk skala pertanian yang cukup besar untuk industri.  Karena selalu memberikan quantity yang banyak dengan harga yang bagus dan quality juga baik. 
Daya tumbuhnya selama ini cukup bagus sekitar 85% kecuali jika sudah lama tersimpan. Dari merk ini saya pernah menanam Pare Hijau, Kemangi, Kangkung, Caisim Manis, Tomat, Bayam Merah, Bayam Hijau, Cabe Rawit Putih. Kelihatannya memang fokus pada sayuran yang umum diperdagangkan di pasar lokal. 

Sekian dulu cerita saya tentang benih sayuran kali ini. Nanti akan saya lanjutkan lagi dengan cerita Bagian II.

Cara Menikmati Tomat Ala Jaman Dulu.

Standard

Cara menikmati tomat ala jadul.

Masih seputaran panen tomat dan bagaimana cara memanfaatkannya. Saya jadi ingat pada masa kecil saya di kampung. Saya ceritain sedikit di sini ya…
Desa Songan, kampung saya adalah salah satu desa penghasil sayuran yang memasok kebutuhan di pasar-pasar di Bangli dan juga kabupaten lain di Bali. Salah satu hasil panen  yang selalu membanggakan adalah tomat. Ya… tomat yang besar buahnya bisa seukuran telapak tangan orang dewasa. Oleh karenanya, setiap kali musim panen ibu saya juga selalu kebagian banyak tomat yang dikirimkan oleh paman, bibi  dan keluarga kami yang lain. 

Selain untuk dimasak dan membuat sambal, salah satu cara favorit pada jaman dulu untuk menikmati tomat adalah dengan membuatnya menjadi minuman tomat. Sejenis  Juice tomat yang dibuat dan dihancurkan secara manual dengan sendok . Hasilnya tentu tidak sehalus Juice tomat jaman sekarang karena tidak menggunakan mesin juicer ataupun blender. 

Tapi walaupun tidak halus seperti juice tomat, sensasi meminum/memakannya sungguh berbeda. Rasa tomatnya masih kuat  dan lebih enak dibanding juice tomat biasa, karena di dasar gelas kita masih bisa menikmati sisa sisa buah tomat segar yang kurang hancur. Nah… asyiiiknya tuh justru di bagian di sini.

Jaman sekarang kita sudah sangat jarang membuat juice tomat dengan cara seperti ini. Jadinya kangen untyk membuatnya kembali seperti jaman dulu.

Ada yang tertarik untuk mencobanya nggak?. Cara membuatnya sangat gampang:

1. Cuci buah tomat hingga bersih.

2. Bagi yang suka buah tomat yang hancur lebih halus, sebaiknya kulit ari buah tomat dikupas dulu agar lebih mudah dan cepat saat kita menumbuk-numbuknya dengan sendok.

3. Potong-potong buah tomat. Masukkan ke dalam gelas. 

4. Tambahkan gula pasir secukupnya (bagi yang suka manis).

5. Hancurkan buah tomat di dalam gelas dengan sendok atau garpu. 

6. Seduh dengan air panas atau air minum biasa. Aduk aduk sampai hancur.

Jadi deh….

*bagi yang suka minuman dingin, busa disimpan dulu beberapa saat di lemari es sebelum diminum.

Dapur Hidup: Air Pandan Arum Membuat Keringat Pun Ikut Wangi. 

Standard

Pandan Arum aluas Pandan Wangi.

Kalau lagi di rumah, kerjaan saya memeriksa tanaman dan melakukan sesuatu di kebun. Entah penanaman, pemupukan, penyiangan dan sebagainya. Selalu ada yang perlu dilakukan. 

Nah…kali ini saya memilih untuk memisahkan anakan pohon Pandan Arum (Pandanus Amaryllifolius).
Menanamnya dalam polybag siapa tahu ada teman yang ingin minta bibitnya. 

Tanaman ini sudah cukup lama saya miliki dan sering saya ambil daunnya entah untuk memberi rasa dan wangi pada kolak atau bubur kacang hijau. Saya menyukai wanginya. 

Air Daun Pandan

Sambil memindahkan tanaman, saya  melihat beberapa daun yang sudah cukup tua. Sangat layak untuk diambil. Jadi teringat, bahkan jika hanya direbus di air minum pun daun pandan arum memberikan aroma yang enak pada air minum. Dan jika sering meminumnya keringat kita pun lama-lama menjadi ikut wangi. Coba deh!