Category Archives: Gardening

Oregano, Rempah Serba Guna.

Standard

Ketika mencicipi Italian Piza, kita selalu merasakan ada bumbu dengan aroma khas di dalamnya. Nah…itulah Oregano. Bumbu masak yang sangat umum digunakan di dapur-dapur Eropa dan Mediterania. Tanpa Oregano, rasa piza ataupun spaghetti yang kita buat terasa ada yang kurang.

Oleh karena itu, bagi yang suka mencoba- coba memasak berbagai jenis resep mancanegara di dapur, keberadaan oregano ini amatlah penting.

Sebenarnya cukup mudah mendapatkan Oregano kering di supermarket, tetapi saya tetap merasa memiliki pohon Oregano di halaman sendiri tetap merupakan pilihan yang terbaik buat saya. Karena, jika masak saya lebih menyukai bumbu ataupun bahan- bahan yang masih segar ketimbang yang sudah kering.

Apanya yang kita manfaatkan untuk bunbu?. Daunnya. Tapi saya dengar bubganya juga sama, bisa dipakai untuk bumbu. Rasanya pedas lemah sedikit pait.

Oregano (Origanum vulgare), adalah tanaman rempah yang masih berkerabat dengan pohon Mint. Tidak hanya dimanfaatkan untuk keperluan dapur, tetapi juga sebagai obat traditional.

Di Yunani sana, secara turun temurun, Oregano telah dikenal sebagai salah satu natural antiseptic. Umum digunakan untuk mengatasi jerawat ataupun mengurangi ketombe.

Selain itu saya juga menemukan penjelasan bahwa Oregano ini juga dimanfaatkan untuk mengatasi keluhan kesehatan lain seperti batuk, sakit saat haid, sakit perut dan sebagainya.

Bahkan sebuah informasi mengatakan bahwa Oregano mengandung anti cancer property. Waaah… berguna banget ya jika kita tanam di halaman kita.

Advertisements

Sarang Tawon & Fire Rescue.

Standard

Di halaman rumah saya ada sarang Tawon jenis Tabuhan Sirah (Bhs Bali), alias Tawon Endas (Bhs Jawa). Sarang tawon ini membesar dengan kecepatan luar biasa. Dalam waktu kurang lebih tiga bulan, sarangnya sudah seukuran kepala orang dewasa, dan tiga bulan berikutnya sudah seukuran karung beras. Astaga !!!

Sangat mengkhawatirkan. Mengingat di sebelah rumah saya adalah lapangan tempat anak-anak bermain bola. Dan sangat sering anak-anak masuk mengejar bolanya yang tertendang melenceng jatuh ke halaman rumah. Selain itu, yang namanya anak- anak, ada saja yang iseng dan jahil.

Pernah suatu kali saya melihat sebatang batu bata merah nangkring di atas dahan pinus. Besar kemungkinan, ada yang melakukan usaha menimpuk sarang tawon itu dengan batu bata.

Saya sempat mengutarakan permasalahan ini dan meminta ide dari teman teman di sekitar dan juga di Facebook bagaimana cara mengatasi tawon ini. Ada banyak masukan, mulai dari mengasapi, membakar sarang tawon ini di malam hari, meminta bantuan Damkar, ada juga yang membantu dengan doa, agar tawonnya kalem dan tidak menyerang anak-anak. Dan sebagainya.

Bantuan Penyelamatan Tak Berbayar.

Setelah bertanya ke sana kemari, akhirnya saya memutuskan untuk meminta bantuan team Rescue dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kita Tangerang Selatan untuk menangani sarang tawon besar ini. Awalnya saya nggak begitu yakin, takut ribet. Tapi ternyata sangat mudah. Karena respon team Rescue TangSel ini sangat baik dan cepat.

Dan bagusnya lagi, bantuan penyelamatan ini ternyata tidak berbayar. Saya hanya diminta menyiapkan 3 kaleng insektisida dan lakban coklat, setelah saya mengirimkan foto foto sarang tawon itu dan nemperkirakan ketinggiannya dari permukaan tanah, yakni sekitar 6 meter.

Team Resque datang sore hari menjelang gelap. Tetapi sarang tawon tidak langsung dieksekusi, mengingat masih banyak anak-anak yang bermain dan berseliweran di bawahnya. Jadi kami menunggu hari gelap dulu.

Vespa Affinis Yang Mematikan.

Sambil menunggu, saya sempat berbincang dengan Pak Darius dari team Rescue. Tawon Endas atau Vespa affinis, adalah jenis tawon predator yang sangat agresif dan sengatannya berbisa. Dalam beberapa kasus bahkan ada yang menyerang manusia hingga meninggal. Saya merasa gentar memikirkannya.

Untungnya sangat mudah mengenalinya. Karena tawon ini ukurannya relatif cukup besar dengan warna hitam dan bagian pantat memiliki gelang berwarna kuning jingga

Pohon Pinus dan Kebakaran.

Dari perbincangan ini saya baru sadar bahwa tindakan saya memanggil team Pemadam Kebakaran dan Rescue ini sangatlah tepat.

Sebelumnya saya nyaris mengiyakan ketika ada orang mengajukan penawaran dengan membakar sarangnya di malam hari. Saya lupa kalau sarang tawon itu bergantung di pohon pinus yang menghasilkan getah resin yang sangat mudah sekali terbakar. Nah, kebayang nggak sih kebakaran yang mungkin terjadi jika saya mengiyakan orang itu membakar sarang tawon di pohon pinus?. Lebih parah lagi, di halaman yang sama, saya juga memiliki 3 pohon pinus lain yang sama besarnya tumbuh berdekatan. Whuaa…kebakaran besar bisa merembet kemana mana. Jika kebakaran sampai terjadi, ujung-ujungnya saya juga harus memanggil team Pemadam Kebakaran. Sami mawon. Jadi lebih baik panggil sebelum terjadi kebakaran.

Setelah hari gelap, operasi penurunan sarang tawon dilakukan. Petugas mulai menurunkan peralatannya dari mobil. Lampu lampu dimatikan. Dan petugas meminta penghuni rumah masuk ke dalam dan menutup pintu untuk menghindari amukan tawon. Akibatnya saya tidak bisa meliput dengan baik aktifitas ini πŸ˜₯. Tapi baiklah, demi keselamatan diri.

Intinya, petugas yang sudah memakai pakaian pelindung memasang tangga di dahan pinus, lalu naik, nenyemprot sarang tawon dengan insektisida dan memasukkan sarang tawon itu ke dalam karung.

Sekarang halaman rumah saya sudah terbebas dari sarang Tawon Endas. Lega rasanya melihat anak anak bermain di lapangan tanpa khawatir disengat Tawon.

Terimakasih Team Rescue dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Tangerang Selatan!!!.

Teamnya bagus, handal dan sigap πŸ‘πŸ‘πŸ‘

O ya bagi yang ingin tahu nomer telpon Dinas Pemadam Kebajkaran dan Penyelamatan Kota Tangerang Selatan ini ya 0811900074.

Ginkgo Biloba, Sang Fossil Hidup.

Standard

Sudah lama saya menyukai tanaman ini. Bukan saja karena bentuk daunnya yang sangat indah seperti kipas Jepang, tetapi juga karena khasiat luarbiasanya yang banyak diceritakan orang.

Nah saat saya berkunjung ke Jepang, tanaman ini saya lihat sangat banyak tumbuh, baik di tepi jalan, taman -taman ataupun kuil-kuil. Sangat senang melihatnya. Maka saya ceritakan perihal tanaman ini ke anak saya.

“Apakah pernah mendengar atau membaca tentang Ginkgo?. Ginkgo Biloba?” tanya saya. Sangat ajaib, ternyata anak saya tahu tentang tanaman ini. “Tahu!. Yang bagus untuk memperbaiki memory, kan?” tanyanya. “Betul!. Nah, ini dia tanamannya“, kata saya menunjuk sebatang pohon Ginkgo Biloba. Anak saya sangat bersemangat melihat lihat daun Ginkgo yang cantik dan hijau segar, seolah-olah pengen ngelalapnya segera.

Ginkgo Biloba, adalah satu satunya spesies hidup yang tersisa dari keluarga Ginkgophyta, yang sudah ada semenjak jaman Jurasic. Dalam dunia kesehatan. extract daun Ginkgo dipergunakan dalam menangani berbagai kondisi gangguan memori, cardiovascular ataupun gangguan penglihatan.

Ketika memasuki halaman Osaka Castle, di Osaka, saya juga menemukan beberapa batang Ginkgo Biloba yang sedang berbuah. Nah…kesempatan lagi untuk mengajak anak saya mengamati amati buah Ginkgo. Buahnya bulat lonjong berwarna hijau dengan biji tunggal di dalamnya.

Ragam Bunga Pecah Seribu di Negeri Sakura.

Standard

Jepang, sangat terkenal dengan bunga Sakuranya. Saat musim bunga, berbondong- bondong tourist datang untuk menyaksikan keindahannya. Saat saya berkunjung, Sakura telah berhenti berbunga. Bunganya telah gugur dan sebagian menjadi buah cherry kecil kecil. Pertanyaannya, jika bunga Sakura telah gugur apakah tak ada bunga lain yang menarik lagi di Jepang?.

Jawabannya tentu banyak. Setidaknya ada 2 jenis bunga lagi yang sangat dominant di lanskap taman-taman di Jepang, yakni Azalea dan Hydrangea alias Bunga Pecah Seribu.

Di Indonesia kita bisa menemukan Kembang Pecah Seribu ini di berbagai area berudara dingin, seperti misalnya Malang, Puncak, Bedugul, Dieng dan sebagainya. Jenis yang umum di Indonesia adalah yang berwarna biru (paling banyak) , warna pink (jarang).

Nah, saat bermain ke Jepang, saya menemukan banyak sekali jenis jenis Bunga Pecah Seribu. Warnanya memang seputaran biru, pink dan putih, tetapi variantnya ternyata banyak sekali.

Ini adalah sebagian variant bunga Pecah Seribu dalam berbagai warna biru. Semuanya dalam gradasi warna biru. Tapi ada yang biru keputihan, biru kehijauan, ada yang biru keunguan, ada yang biru murni. Lalu ada yang binganya bergerombol, ada yang menyendiri, dan bahkan ada juga yang mempunyai putik dan benang sari terpisah. Orang Jepang mrnyebutnya dengan Hidrangea Pegunungan. Sungguh sangat cantik-cantik.

Ada juga yang berwarna pink. Dan berbagai varisnt warna pink. Sungguh cantik cantik. Pengen rasanya bawa ke Indonesia.

Dan yang baru saya lihat adalah variant yang berwarna putih. Inipun beragam juga. Ada yang benang sarinya benar benar putih, ada yang biru dan ada juga yang campuran.

Dapur Hidup: Lemon Thyme.

Standard

Bagi penggemar masakan Eropa, tentu paham jika Thyme adalah salah satu bumbu dapur yang sangat penting digunakan. Sesungguhnya saya sudah beberapa kali pernah menanam Thyme, bumbu dapur yang umum digunaksn di dapur dapur Eropa. Tetapi setelah agak besar, tanaman ini mati akibat kurang terurus saat saya tinggalkan beberapa lama ke luar kota.

Minggu lalu saya sempat membeli Thyme di Supermarket. Karena melihat ada beberapa batangnya cukup tua, saya jadi berniat untuk menanamnya lagi. Begitu saya masukkan ke keranjang baru saya sadari jika Thyme ini daunnya agak lebih bundar dan sedikit lebar dari jenis Thyme yang pernah saya tanam di rumah. Biasanya daunnya sedikit meruncing dan lebih kecil.

Oooh… rupanya tanaman ini adalah jenis Lemon Thyme. Waaah… ini akan menjadikan koleksi tanaman dapur hidup di halaman saya bertambah. Saya sangat senang. Mudah mudahan saya berhasil membuatnya hidup.

Sayapun mempersiapkan media tanam yang baik dalam pot dan mulai menancapkan batang Thyme yang sudah agak tua ke dalamnya.

Seminggu sudah berlalu, dan kelihatannya tanaman ini tumbuh dengan baik dan segar.

Garden Update: Selepas Liburan.

Standard

Saat liburan rasanya selalu menyenangkan. Akan tetapi setelahnya, ada banyak tugas yang menanti. Mulai dari cucian pakaian yang menumpuk, tugas dapur, beres beres rumah hingga tumpukan kerjaan kantor. Dan buat saya yang lebih menyedihkan lagi adalah tanaman di halaman yang meranggas, layu dan bahkan ada yang mati kekeringan😭😭😭.

Tak punya pilihan, terpaksa harus gunting gunting dulu dan bersihkan tanaman yang pada mati dan rusak itu.

Tak terbilang lagi berapa batang tanaman cabe yang mati, bibit kelengkeng, jeruk, pohon kecombrang dan kangkung yang harus dibuang ke tong sampah.

Tapi anehnya, ditengah kekisruhan yang terjadi di halaman, ada satu batang pohon cabe rawit yang justru berbuah lebat saat ditinggalkan liburan. Bahkan buahnya banyak yang sudah kering dan rontok ke tanah.

Luarbiasa pohon cabe yang satu ini. Karenanya saya petiklah cepat cepat sebelum makin banyak lagi buahnya yang kering.

Saya mulai bertanya tanya, mengapa tanaman ini mampu bertahan sedangkan yang lain mati?. Setelah mengamat-amati pohon pohon yang mati itu, saya pikir penyebab kematiannya sebenarnya bukanlah karena kekeringan akibat kurang disiram air semata, melainkan karena terserang penyakit lain juga seperti kutu putih, karat, virus mozaik atau tungau. Jadi serangan penyakit plus kekeringan lah yang menyebabkan tanaman saya pada mati.

Sedangkan pohon cabe ini, walaupun tumbuh di sebelah tanaman yang pada mati itu, rupanya ia tetap bertahan hidup karena tidak terserang penyakit. Sebuah muzizat, vitus- virus itu belum sempat merambat ke tanaman ini.

Memilih Tanaman Dapur Hidup Buat Si Penyuka Salad?.

Standard

Salad, adalah sayuran segar bergizi yang sangat populer belakangan ini. Kebanyakan dimakan mentah, seperti kita memakan lalapan. Bedanya hanya didressingnya. Salad semakin populer ketika tubuh ramping dan sehat menjadi impian setiap orang.
Melihat saya sering memposting tanaman dapur hidup, seorang teman bertanya tanaman apa saja yang sebaiknya ditanam biar kebutuhan akan saladnya bisa dipenuhi setiap hari?.

Sebenarnya jawabannya sangat kondisional tergantung jenis sayuran yang disukai. Walaupun demikian saya akan coba menceritakan mix tanaman sayuran yang enak buat campuran salad. Menurut saya tapi lho…

Buat saya, untuk membuat salad setidaknya kita harus punya daun selada (lettuces). Jadi, tanaman pertama yang perlu kita pilih untuk ditanam adalah dari jenis selada. Selada ada banyak jenisnya. Ada yang hijau, ada yang keputihan, ada yang merah atau campuran darinya. Ada yang bulat seperti kol, ada yang berdaun lonjong mirip sawi. Ada yang keriting, ada yang bergerigi. Semuanya enak. Jadi pilihlah jenis selada yang kita sukai. Kita juga bisa mencampurkan beberapa jenis daun selada sekaligus.

Lalu berikutnya kita pilih tanaman pelengkap salad. Misalnya Mint, Basil, Kemangi, kol, seledri, parsley, rosemarry, dsb.

Daun daun tanaman ini memperkaya rasa dari selada yang kita buat. Daun mint memberikan rasa segar dan bersih di mulut. Sweet Basil memberikan rasa nyaman. Parsley dan Seledri ada sedikit rasa pengah tapi enak juga. Rosemerry memberi rasa hangat. Dan sebagainya. Jadi tidak rugi jika kita tanam di halaman.

Sayuran buah atau umbi, misalnya tomat, timun, wortel atau bawang bombai dan sebagainya juga merupakan pilihan menarik untuk ditanam.

Dengan menanam tanaman yangvsaya sebut di atas kita bisa membuat summer Salad hasil petik dari halaman kita sendiri.

Selagi Musim Cempedak.

Standard

Cempedak!. Pertama kali saya tahu kata itu dari buku “Bahasaku”, buku pelajaran SD jaman dulu milik kakak sepupu saya. “Ibu membeli cempedak. Hendak dinasak”. Kalau tidak salah ingat begitu kata-katanya. Waktu itu saya sangat penasaran. Pengen tahu yang namanya buah Cempedak. Tapi tak pernah melihat. Hanya setelah besar saya mengenal buah cempedak yang digoreng di rumah teman saya. Mirip buah nangka goreng.

Saat seseorang bertanya kepada saya, “Bu, apa bahasa Balinya Cempedak?”. Saya sendiri tidak tahu”. Saya bilang ” ya… cempedak juga. Nggak ada bahasa Balinya”. Setelah itu saya berpikir sendiri… mengapa tidak ada bahasa Bali untuk buah Cempedak? Apa jangan -jangan di Bali tidak ada buah Cempedak?. Saya sendiri kurang yakin. Perasaan saya pernah melihat entah di mana.

Baiklah. Itu hanya cerita singkat tentang ingatan saya akan buah Cempedak. Karena kali ini saya melihat buah Cempedak di pasar, tepat setelah kemarinnya Mbak yang kerja di rumah saya bilang “Bu sekarang ini lagi musim buah Cempedak, Bu. Uuh…wangi sekali“. Kata si Mbak.

Ya…jika nanti saya ketemu buah Cempedak, akan saya beli. Mumpung lagi musim. Pikir saya. Karena jika tidak musim, tentu akan lebih sulit lagi mencari. Dan benar saja, ketika saya mampir ke pasar ternyata nemang saya lihat ada banyak buah Cempedak. Maka saya belilah dan bawa pulang.

Buah ini memang sangat luar biasa wanginya. Sangat semerbak dan rasanya manis seperti nangka. Saking wanginya saya sempat berpikir jika dari buah Cempedak ini diekstrak dan ditambahkan ke parfum tentu akan jadi unik juga. Mungkin bisa meningkatkan impact dan long lastingness dari parfum πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€.

Cempedak bisa dibikin apa?.

Buah Cempedak yang matang bisa dimakan begitu saja, seperti kita memakan buah nangka. Daging sekitar bijinya cukup tebal, berwarna kuning terang. Ukurannya lebih kecil, bulat dan lebih berserat ketimbang buah nangka.

Uniknya, tidak seperti nangka, buah Cempedak bisa dibelah memanjang di satu sisi, lalu ditarik dari tangkainya.

Luar biasa, ternyata jika ditarik begitu, semua buah yang ada bijinya nempel di tangkai buahnya , sementara semua ampasnya lepas .

Sehingga yang ada hanya buahnya yang enak dimakan itu saja.

Selain langsung dimakan, buah Cempedak juga enak digoreng seperti pisang goreng.

Dan bijinya enak juga direbus. Sama seperti beton nangka dengan kulit ari yang lebih tipis.

Tumis Pedas Jamur Liar Daun Cemcem.

Standard
Tumis Pedas Jamur Liar Daun Cemcem.

Musim hujan. Membawa berkah dari langit. Berupa titik titik air yang membasuh bumi dan membangunkan biji biji dan benih yang tertidur di dalamnya. Terbangun untuk mewujudkan mimpi-mimpinya agar berkembang. Tak terbilang benih rerumputan, sayuran, perdu dan sebagainya yang tumbuh. Dan termasuk jamur pun bermunculan.

Di sela sela rumput halaman rumah saya pun bermunculan berbagai jenis jamur liar. Diantaranya ada jamur Barat yang bisa dimakan. Lumayan banyak juga, tapi sebagian ada yang sudah mekar kemarinnya. Tidak saya ambil yang begini. Hanya yang masih segar saja saya panen dan bawa ke dapur.

Dimasak apa jamur liar ini? . Karena memetik jamur liar adalah kenangan masa kanak-kanak waktu di kampung halaman di Bali, maka kali ini sayapuningin mengenang masa kecil dengan memasak jamur liar ini dengan bumbu traditional Bali, yakni Daun Cemcem.

Kebetulan banget ada daun Cemcem di halaman. Jadi bisa saya petik sedikit untuk masak.

Bagi teman teman yang belum tahu tentu penasaran, apa itu Daun Cemcem ya. Cemcem adalah tanaman sekeluarga dengan Kedondong. Tapi saya belum pernah melihatnya berbuah. Rasa daunnya asem seger mirip rasa buah Kedondong.

Di Bali orang menggunakan Daun Cemcem sebagai bumbu dapur atau sayuran untuk memberi rasa segar terutama pada masakan jamur, belut, siput , ayam dan sebagainya. Tapi karena pohonnya makin susah dicari, makin jarang orang masak dengan daun Cemcem.

Daun Cemcem juga banyak dijadikan jus ( Loloh Daun Cemcem) karena rasanya yang sangat segar.

Gimana cara memasaknya? Ya …sama seperti menumis sayuran lain.

1/. Bersihkan jamur. Lalu suir suir.

2/. Iris bawang merah, bawang putih dan cabe rawit.

3/. Petik daun Cemcem. Bersihkan.

4/. Masukan minyak untuk menumis ke wajan. Tunggu sampai panas.

5/. Masukkan bumbu iris, dan sefikit terasi, lalu masukkan jamur.

6/. Tambahkan sedikit air. Begitu mendidih, masukkan daun Cemcem. Aduk aduk. Tambahkan garam seperlunya.

7/. Angkat, pindahkan ke piring saji dan hidangkan.

Kisah Koloni Lebah Madu Yang Mampir 3 Jam di Halaman.

Standard

Akhir pekan, saya dan anak saya dibantu orang rumah membersihkan halaman. Menggemburkan tanah lalu menabur pupuk NPK secukupnya pada tanaman bunga agar rajin tumbuh kuncup dan makin sering berbunga.

Saat menyiangi tanaman di bawah pohon Spruce yang ditanam anak saya sekitar 10 tahun yang lalu, tak sengaja saya mendongak ke atas. Terlihat ada benda yang menggelantung di sana. Di salah satu cabang dan daunnya. Apa itu ya?. Sayapun berdiri dan mendekat agar bisa melihat dengan lebih seksama.

Wow!. Sebuah koloni Lebah Madu!. Saya sungguh sangat girang melihat pemandangan itu. Ribuan lebah kelihatan berkumpul di titik itu. Berkumpul membangun sarang baru. Dengan sangat kegirangan sayapun berteriak memanggil anak saya untuk menyaksikan kejadian langka ini.

Tapi anak saya kelihatan malah agak khawatir jika Lebah Madu itu membuat sarang di sana. “Takutnya ntar malah menyengat kita. Mendingan diusir sebelum mereka menetap di situ” kata anak saya. “Tidak!. Lebah tidak akan menyengat jika kita tidak mengganggunya” kata saya. Jadi biarkan saja di situ.

Saya lalu memberi pengertian pada anak saya bahwa kita harus membantu membiarkan lebah berkembang untuk menjaga keutuhan ekosistem. Lebah membantu penyerbukan tanaman kita. Biarkan lebah itu bersarang di tempat yang disukainya.

Halaman rumah kita adalah tempat yang nyaman buat Lebah Madu untuk bersarang, karena kita menyediakan makanan yang berlimpah untuk mereka, berupa bunga bunga yang mekar di halaman.

Anak saya merasa masih belum nyaman. Ia masih khawatir jika lebah- lebih ini mengamuk dan menyerang. Tapi saya tidak memperpanjang lagi kalimat saya. Terlalu malas berdebat. Sayapun melanjutkan pekerjaan saya memberi pupuk pada tanaman. Demikian juga anak saya kembali sibuk mencongkel umbi umbi bunga Lily Hujan / Zepyranthes yang bertebaran tak beraturan di halaman.

Beberapa saat kemudian, kembali saya menengok koloni Lebah Madu di pohon Ciprus itu. Astaga!!!. Ternyata koloni Lebah Madu itu telah menghilang begitu saja. Batang itu sekarang kosong dan bersih. Tak ada lagi ribuan lebah yang bergantung. Jangankan ribuan atau ratusan, ini seekorpun tidak tersisa. Sungguh saya heran dengan kejadian ini. Kemanakah gerangan mereka pergi?. Saya mencoba melihat lihat di pohon lain. Tidak ada. Tidak ada diantara kami yang mengetahuinya.

Pasti ada sesuatu yang tidak tepat, mengapa koloni Lebah Madu itu mengurungkan niat membuat sarang di halaman.

Entah kenapa saya merasa sangat sedih dan menyesal dengan kejadian ini. Saya pikir kami tidak menyambut kedatangan lebah lebah itu di halaman rumah kami dengan cukup baik.

Dan percaya atau tidak… alam sekitar mungkin mampu membaca hati kita. Membaca pikiran kita, lewat gelombang otak yang kita pancarkan. Walaupun lebah lebah itu tidak bisa berbicara dengan kita, tetapi sesungguhnya mungkin mereka bisa berkomunikasi dengan kita. Mungkin mereka bisa menangkap energy dan gelombang yang kita pancarkan. Mereka membaca kekhawatiran anak saya dan bisa merasakan jika mereka tidak diterima dengan mulus untuk bersarang di halaman rumah ini. Mungkin saja itu penyebab mengapa koloni lebah itu pergi entah kemana. Saya sangat menyesal, tidak menutup percakapan saya dengan anak saya sebelumnya dengan baik. Harusnya saya tegaskan kepada anak saya bahwa koloni lebah ini akan kita terima dengan baik di sini.

Nah…itulah pentingnya berpikir dan berkata serta bertindak yang selalu positive terhadap mahluk lain. Saya harus minta maaf pada koloni lebah ini.

Anak saya mencoba mencari penyebab lain dengan mengatakan bahwa koloni Lebah Madu itu mulai bergerak pergi sedikit demi sedikit sejak ia menyalakan mesin kendaraan yang di parkirnya di bawah pohon Ciprus itu. Bisa jadi. Mungkin karena bising. Sehingga Lebah pun tidak merasa nyaman.

Whua ha ha… mungkin saya terlalu melankolis. Mungkin anak saya benar, bahwa suara mesin kendaraanlah yang membuat Lebah Madu itu merasa kurang nyaman. Kelihatannya ini yang lebih logis dan masuk di akal.