Yogyakarta : Menonton “Bird Free Flight”

Standard

Anda pencinta burung? Ingin tetap bisa memelihara burung kesayangan anda tanpa harus mengurungnya dalam sangkar?  Barangkali Free Flight Training untuk burung anda, merupakan jawaban yang baik.

****************************************************************************************************

Burung Wood Swallow

Ini masih cerita di Alun-Alun Utara  Yogyakarta. Ketika saya sedang sibuk memotret sekawanan burung yang hinggap di atas beringin, saya melihat Ricky, teman saya ngobrol dengan seorang anak muda. Ricky melambaikan tangannya ke saya. Saya pun mendekat. Wow! Rupanya ada seekor burung liar di tangannya. Burung berwarna hitam kelabu dengan dada dan perut putih ini terlihat sangat indah. Saya mencoba mengingat-ingat burung apa itu. “Bukannya ini Wood  Swallow ya?” tanya saya. Anak muda yang kemudian saya kenal bernama Adi itu terlihat sedikit terperanjat. “Wah! Kok Ibu tahu ?” tanyanya. “Benar Bu. Ini Wood Swallow“katanya.  “Padahal burung jenis ini sangat jarang lho Bu yang memelihara. Bukan jenis burung yang bersuara merdu” lanjutnya lagi. Ya saya setuju. Burung jenis ini sangat jarang di pasaran burung untuk diperdagangkan. Barangkali memang karena suaranya tidak tergolong merdu sehingga orang kurang tertarik memelihara.

Saya pencinta Burung. Terutama Burung Liar di alam lepas. Ada beberapa jenis burung yang saya kenal. Dan lebih banyak lagi jenis yang saya tidak tahu. Tapi saya tidak memelihara burung. Tidak senang melihat burung dalam sangkar” kata saya. Mendengar itu Adi lalu berkata “Sama Bu. Saya juga pencinta burung. Tapi tidak senang melihat burung dalam sangkar. Itulah sebabnya kenapa saya bergabung dalam Free Flight ini. Biar tetap bisa memelihara burung tanpa harus mengurungnya dalam sangkar“. WOw! Giliran saya yang terperanjat.

Free Flight! Ide yang kedengarannya sangat menarik di telinga saya. Adi lalu bercerita bagaimana asal mulanya ia memelihara Burung Wood Swallow alias Burung Kekep (Artamus leucorynchus). Ia menemukannya sejak usia masih lolohan (bayi) di pasar burung. Ia merawat dan memberi makan bayi burung itu dengan penuh kasih sayang dan melatihnya terbang. Sejak kecil memang tidak pernah disangkarkan. Boleh terbang bebas kemanapun ia suka.  Barangkali karena ia merasa di sana rumahnya, burung itu pasti pulang kembali walau sejauh apapun ia  terbang. Menarik ya?  Bagi saya cerita itu sangat menarik, walaupun sebelumnya saya pernah mendengar cerita serupa tentang burung  bangau yang selalu pulang ke rumah pemeliharanya, walaupun ia terbang jauh.

Love Bird

Selain  Wood Swallow, rupanya Adi juga memelihara seekor Love Bird berwarna biru yang sering dilatihnya terbang bebas.  Saya terpesona melihat burung itu terbang bebas di udara, tapi begitu merasa lelah iapun cepat-cepat turun dan hinggap di tangan Adi.

Adi memberinya makan. Mengusap-usap kepalanya dan melatihnya terbang sambil ia sendiri ikut berlari bersama. Burung itu terbang dengan riang di sampingnya. Saya pikir ia memang seorang penyayang burung. Sehingga tidak berkeberatan mengalokasikan waktunya hanya untuk merawat, memelihara dan  melatih anak burung itu hingga dewasa.

Adi juga memperkenalkan saya pada rekan-rekan pencinta burung dan free flight yang tergabung dalam Yogyakarta “Parrot Lovers” yang sore ini bersama-sama melatih terbang burung kesayangannya masing-masing.

Sore itu Alun -Alun Utara penuh warna warni burung-burung paruh bengkok, mulai dari Love bird, Sun Conure, Australian Cockatiel dan sebagainya.  Burung -burung itu benar-benar terbang bebas. Ada yang terbang lalu hinggap di tanah Alun-Alun. Tapi kebanyakan kembali ke tangan pelatihnya.  Ada juga satu dua yang menclok ke bahu penonton. Termasuk ke bahu saya. Juga ke bahu Ricky. Wah.. ha ha.. rasanya sangat senang ketika ada burung yang tiba-tiba menclok begitu dengan jinaknya di bahu kita.

Cockatiel Free Fligt hinggap di bahuKami tidak takut ia terbang tinggi atau jauh. Karena pasti ia akan kembali. Yang  kami takuti justru jika ada orang yang menangkap dan memasukkannya ke dalam kandang“. kata Adi saat saya bertanya, apakah ia tidak takut burung kesayangannya itu lepas dan pergi tak kembali.

Sukses bagi teman-teman pelatih Free Flight untuk burung-burung dan teman-teman yang tergabung dalam Yogyakarta Parrot Lovers. Saya masih tetap percaya bahwa tempat terbaik bagi burung-burung adalah di alam bebas. Namun jika tidak bisa melepaskannya, maka melatihnya “Free Flight” barangkali menjadi pilihan yang lebih baik. Setidaknya dengan Free Flight burung-burung masih diberi kebebasan untuk terbang tinggi. Juga diberi hak untuk terbang jauh dan tak kembali atau akhirnya pulang. Keputusan diserahkan kepada para burung – walaupun biasanya ia akan pulang kembali.

 

5 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s