Tag Archives: Travelling

Bangli: Menikmati Sensasi Ketinggian Di Anjungan Tukad Melangit.

Standard

​​​​Seorang teman memasang status lokasi di facebook “Hi Bu! Saya sedang di kampung ibu ini di Bangli” tulisnya. Rupanya teman saya itu sedang berlibur dengan keluarganya di Bali. Dan dari foto foto yang diunggsh ke media sosial, salah satu acaranya adalah berkunjung ke desa traditional Penglipuran di Bangli. Wah… mendadak saya jadi kangen pengen pulang ke Bangli. 

Selain Desa Penglipuran, objek wisata di Bangli sebenarnya sangat banyak. Ada Penelokan, Museum Geology, Gunung Batur dan Danau Batur, desa Trunyan, pura Puncak Penulisan yang merupakan pura tertinggi di Bali, Tirta Sudamala, Cekeng, pura Kehen, dan masih banyak lagi yang lainnya. Saat pulang terakhir beberapa waktu yang lalu saya sempat bermain ke Anjungan Tukad Melangit di Banjar Antugan di desa Jehem. Juga letaknya di Kabupaten Bangli. 

Tempat ini lagi happening banget. Banyak orang ke sini untuk melihat betapa dalamnya lembah yang terbentuk oleh aliran Tukad (sungai) Melangit ini dan betapa kerennya jika bisa menunjukkan keberanian berdiri di anjungan yang menjorok ke lembah itu dan berselfie di sana. Kelihatannya mudah, tetapi sebenarnya tidak sesimple yang kita pikir. Karena bagi mereka yang tidak terbiasa, hanya untuk naik ke anjungan yang strukturnya terbuat dari bilah kayu dan ditopang oleh bambu itu saja sudah membutuhkan keberanian tersendiri. Belum lagi saat melihat ke bawah ke jurang di mana sungai Melangit mengalir di dasarnya. Bagi yang memiliki penyakit takut ketinggian tentu akan menjadi masalah besar.

Namun tidak demikian halnya dengan anak-anak muda yang suka akan tantangan dan haus akan experience. Mampu berdiri di situ rasanya sesuatu banget. Seakan terasa betapa tabahnya kita mampu mengatasi rasa takut. Sensasinya sungguh berbeda!.Maka beramai-ramailah mereka berselfie ria dan menguploadnya ke media sosial untuk menunjukkan pada dunia bahwa mereka sangat percaya diri dan tak takut pada ketinggian. Jadi berwisata ke tempat ini adalah tentang ‘experiencing’ dan ‘enjoying’ sensasi saat berani mengambil keputusan untuk berdiri di sana dan menikmati keindahan alam yang ada.  

Saya sendiri juga mencoba naik. Tapi rasanya kok gamang sekali ya. Serasa ragu akankah bilah bilah kayu itu cukup aman menopang berat tubuh saya? Akankah kaki saya menginjak dengan tepat dan masih di dalam kontrol saya sendiri?  ha ha. 

Selain anjungan  yang menjorok ke lembah, di sana ada juga bangunan balai kayu yang dibuat tinggi agar pengunjung yang datang bisa memandang  ke sekeliling lembah dari atas. Semacam balai pandang begitu. Nah di sini saya sedikit agak lebih berani. 

​ Saya mencoba naik ke atas. Mencoba berselfie ria. Ha ha… ternyata sama gemetarnya. Rasanya kok mau jatuh ya. Harus berpegangan erat-erat nih.Takut terbang ditiup angin * hya ha ha.. tidak tahu dirimerasa ringan saja padahal berat badan jika tidak direm segera bisa mendekati sekarung beras ini.  Tapi serius, kalau di sini saya merasa agak sedikit lebih tenang, setidaknya saya masih melihat tanah. 

Beberapa saat kami bermain di sana. Dan sungguh kebetulan saya bertemu dengan Bapak Wayan Lendra sang penggagas yang akhirnya mengelola tempat wisata ini. Tentu saja saya manfaatkan kesempatan ini untuk ngobrol dengan beliau.

​Anjungan Tukad Melangit atau yang sering disingkat dengan nama ATM ini, berada di banjar Antugan di desa Jehem Kecamatan Tembuku kabupaten Bangli. Menurut Pak Wayan Lendra, tempat ini mulai ramai dikunjungi para wisatawan sejak setahun belakangan ini. 

Bagaimana asal muasalnya, mengapa tempat ini tiba-tiba menjadi hits ? Ternyata ada cerita menarik di baliknya. 
Pak Wayan bercerita, bahwa asal mulanya adalah sekumpulan anak muda yang senang duduk-duduk, berkumpul,  ngobrol ngalur ngidul sambil minum-minum di pinggir jalan. Kegiatan ini dilakukan karena minimnya hiburan di desa. Lama kelamaan, mungkin karena tidak enak hati mengingat ada banyak orang berlalu lalang melihat mereka minum-minum, tua muda, laki perempuan, anak-anak dan orang dewasa, maka mereka nemutuskan untuk membuat tempat kecil di tengah ladang di tepi jurang yang terbebas dari pandangan orang yang berlalu lalang.  Di sana mereka bisa bebas ngobrol, merokok, berkumpul dan minum-minum sepuasnya. 

Barangkali karena tempatnya nyaman, sepi dan pemandangannya indah,  lama lama semakin banyak anak-anak muda teman-teman mereka yang ikut juga suka  berkumpul ke sana. Beberapa orang lalu ada yang mengambil foto -foto selfie di sana dan menguploadnya ke media sosial yang kemudian memicu pembicaraan di Sosial Media. 

Menanggapi itu, Pak Wayan Lendra dan kawan kawan lalu berinisiatif mendirikan anjungan  sehingga pengunjung lebih mudah mengamati dan menikmati keindahan alam sekitar Tukad Melangit dari atas. Anak-anak muda banjar Antugan itupun memutuskan untuk berubah ke arah yang lebih positive.  Mereka berhenti minum minum dan berniat membangun tempat itu dan menjadikannya sebagai Object berwisata dan latar belakang untuk  berselfie ria. Gagasan ini berkembang dan didukung oleh berbagai pihak. 

Semakin lama semakin banyak orang datang berkunjung. Semakin banyak orang-orang berselfie di anjungan kayu itu  dan semakin banyak yang mengupload foto-fotonya di media sosial. Demikianlah pesona Anjungan Tukad Melangit ini akhirnya menjadi viral di dunia maya. Semakin lama semakin banyak orang yang berdatangan karena penasaran. 

Hmmm… cerita yang sangat menarik sekali. Dan sangat positive.  Saya sangat bersyukur bisa mendapatkan cerita ini langsung dari Bapak Wayan Lendra.Salut pada para pemuda di Banjar Antugan yang layak dikasih jempol untuk keputusan dan semangatnya menjadikan tempat ini sebagai objek wisata. 

Saat di sana saya disuguhi minuman traditional Air Kelapa Muda Jeruk Nipis. Whuaa… minuman alami yang sangat segar, mengingatkan saya pada waktu kecil. Selain minuman traditional ini, di tempat itu juga ada dagang Tipat Santok -sejenis gado-gado traditional Bali yang rasanya selalu ngangenin. Mantap banget deh. 

Nah teman teman, barangkali ada yang punya rencana ke Bali dalam waktu dekat ini, ada baiknya mampir ke Anjungan Tukad Melangit untuk merasakan sensasi ketinggian alami yang disajikan oleh sebuah bentang alam yang indah. 

Yuk, kita berkunjung ke Bangli!

Red Carpet of Happiness.

Standard

*Cerita senja dari sudut  Taipei*.

​​Suatu sore saya sedang berada di kota Taipei untuk sebuah urusan. Tentu saja mumpung lagi di sana, sekalian saya ambil kesempatan untuk melihat dan merasakan sekitar. 

Orang orang melintas. Ada yang berjalan sendiri, berpasangan atau bergroup. Ada yang bergandengan tangan, sambil ngobrol dan bahkan ada yang menyedot minumannya sambil berjalan. Semuanya terlihat riang. Entah kenapa saya merasa jatuh cinta pada kota ini. Jalanannya bersih. Penduduknya baik dan ramah. 

Saya lalu berjalan menyusuri pertokoan pinggir jalan. Tanpa terasa keluar dari jalan utama dan masuk ke sebuah jalan yang lebih kecil.

Hi! Ada karpet merah digelar di sini. Hm…Ada apa ya? Orang-orang berkerumun di kiri kanan. Semua terlihat bergembira. Tertawa riang, tersenyum dan menengok ke kiri dan kanan. Semuanya sibuk dengan hapenya dan mengambil ancang-ancang untuk mengambil foto. 

Di ujung sebelah sana, terlihat sebuah panggung dengan poster film besar. Dengan tulisan berhuruf mandarin. Saya tak bisa membacanya. 

Hm…serasa akan ada celebrity yang lewat. Siapa ya? Siapa ya? Mungkin bintang film itu. Tentu saja saya tidak tahu. Semua orang kelihatan sangat antusias. Saya ikut merasa senang. Menyeruak di tengah keramaian orang dan berusaha mengambil posisi sedekat mungkin dengan bentangan karpet merah itu. Lalu ikut-ikut mengeluarkan hape dan mengambil ancang-ancang untuk memotret. 

Teman seperjalanan saya juga sama. Ia bahkan naik ke bangku di tepi jalan agar bisa lebih leluasa mengambil foto dari ketinggian. Setidaknya di atas kepala orang-orang yang berkerumun. Walaupun sama tidak pahamnya dengan saya, ia juga tetap memasang pose siap membidik seandainya ada sesuatu yang  bergerak di atas karpet merah. Tetap bergembira.

​Suasana semakin seru ketika acara dibuka. Serombongan   pendekar memperagakan ilmunya di atas karpet merah. Orang -orang bertepuk tangan. Bergembira. Ha!. Rupanya akan ada “Meet n Greet” dengan bintang utama sebuah film Kungfu dari China yang sukses di Taiwan. Karena tak lama setelah itu, turunlah para bintang film itu ke Red Carpet. Mereka berjalan sambil sesekali melambaikan tangannya. Orang orang memotret dan saya juga. Rasanya senang sekali bisa menjadi bagian dari kegembiraan itu. Ingin ikut memanggil, tapi saya tidak tahu namanya. Ha ha. 

​Tapi kalau dipikir-pikir ini aneh juga. Kami tidak tahu bintang film itu. Siapa dia? Apa pencapaiannya? Bagaimana reputasinya? Tidak pula nenonton filmnya. Juga tidak mengerti bahasanya. Jadi sebenarnya kami sedang bergembira dan mengelu-elukan sesuatu yang kami tidak tahu. Ha ha. ha.. saya jadi tertawa geli memikirkannya. 

Tapi mengapa kami sedemikian gembiranya?  Padahal kan sebenarnya tidak tahu apa-apa?. Hmmm…saya baru ngeh. Ternyata kegembiraan itu bisa datang ke dalam diri kita bahkan dari hal-hal yang sebenarnya tidak kita pahami. Lalu dari mana sesungguhnya kegembiraan itu datang? 

Dari kerumunan di sekitar Red Carpet itu!. Dari orang-orang di sekeliling kita!. Ya!. Saya pikir manusia menangkap gelombang kegembiraan dan kebahagiaan yang dipancarkan oleh orang-orang di sekitarnya. Lewat senyum, pancaran cahaya mata dan tingkah laku. Ketika kita menangkap pesan kebahagiaan itu dengan receptor yang ada dalam diri kita, seketika itu kita terstimulasi untuk ikut menyesuaikan pada gelombang kebahagiaan yang sama. Mungkin itulah sebabnya mengapa kita tetap bisa merasakan kebahagiaan seperti yang dirasakan oleh orang-orang lain, walaupun secara logika kita tidak mengerti apapun tentang penyebabnya. 

Karena kebahagiaan itu menular, berada di sekitar orang-orang berbahagia memungkinkan kita menerima gelombang kebahagiaan yang melimpah. Temukanlah karpet merah-karpet merah lain yang penuh dengan kebahagiaan sepanjang perjalanan hidup kita, sehingga hidup kita pun terbawa arus dan gelombang yang sama. 

Maksud Hati Hendak Membantu…

Image

imageIni kisah yang saya alami beberapa waktu yang lalu. Saya dan seorang teman baru kembali dari sebuah perjalanan dinas di negeri tetangga. Pesawat mendarat dengan mulus di bandara Soekarno -Hatta. Senang dan amat bersyukurlah hati saya. Karena penumpang penuh, saya tidak buru-buru bangkit setelah pesawat berhenti. Tapi teman saya yang berdiri mengambil tas-tas kami dari kabin sambil menunggu pintu pesawat dibuka.

Seorang bapak tua berdiri di sebelah teman saya mencoba menggapai sebuah tas dari kabin. Karena tubuhnya agak pendek, beliau mengalami kesulitan. Menyadari itu teman saya yang kebetulan posturnya tinggi menawarkan bantuan kepada Bapak tua itu untuk mengambilkan tasnya.

Yang mana punya bapak? Yang ini bukan?” tanya teman saya dalam Bahasa Inggris (teman saya bukan WNI). Bapak itu menggeleng. “Bukan!“katanya.Teman saya memperlihatkan tas lain di sebelahnya. “Ini bukan?” tanyanya. Bapak itu masih menggeleng.”Bukan!” katanya. Bapak tua itu mengatakan kalau tasnya adalah ransel (backpack). Lalu teman saya mencari-cari di kabin dan menunjukkan sebuah ransel. “Ini bukan?” tanyanya  Bapak tua itu mengiyakan. Teman saya lalu mengangkat dan memberikan tas ransel itu kepada si Bapak Tua. Penumpang mulai bergerak meninggalkan pesawat satu per satu. Saya pun berdiri, menggendong ransel saya sendiri dan keluar dari pesawat. Dalam hati diam-diam saya mengagumi kebaikan sederhana yang dilakukan teman saya itu. Membantu orang tua yang mengalami kesulitan mengambil tasnya dari dalam kabin. Saya pikir sebenarnya setiap hari selalu ada kesempatan untuk berbuat baik, tapi tidak semua dari kita memanfaatkan setiap kesempatan untuk melakukan kebaikan-kebaikan kecil guna membantu orang-orang lain di sekitar kita.

Turun dari pesawat, kami naik bis yang disediakan untuk mengantar ke terminal. Saya memilih duduk di dekat pak Supir. Sementara teman saya memilih berdiri di dekat pintu masuk. Setelah penumpang penuh, pak supir bersiap-siap mau berangkat.

Tiba-tiba seorang pria dengan postur tubuh tinggi dan kekar, berlari masuk ke dalam bis. Berteriak-teriak sambil memaki kepada semua orang yang ada di dalam bis. Wajahnya sangar penuh amarah. Membuat saya khawatir.  Jantung saya berdebar kencang.Saya tidak tahu apa yang membuat orang itu marah. Kicauannya sangat mengganggu, cepat dan tak jelas. Disela-sela umpatan kemarahannya saya ada mendengar kata-kata “Mana dia? Mana orangnya?”  Ada apa ya? Di tengah ketidakmenentuan, semua orang yang berada di dalam bis terdiam dan menahan nafas. Tidak ada seorangpun yang berani bergerak. Pria itu terus marah marah sambil matanya liar mencari-cari. Dan akhirnya berteriak “Ini diaa!!!” katanya menunjuk  dan menarik sebuah tas ransel yang tergeletak di lantai bis. Saya terkejut. Itu kan tas ransel yang dibawa oleh Bapak tua yang sebelumnya ditolong oleh teman saya tadi.

Ini dia orangnya!” teriak pria itu lagi sambil menuding Bapak tua yang kelihatan polos itu sebagai pencuri. Bapak tua itu hanya diam saja.Tidak membela diri. Sulit menebak, apakah Bapak itu memang bersalah atau tidak. Pria itu terus mengumpat-umpat dan memaki. Diantaranya  ia ada mengatakan bahwa usia tua dan wajah yang pura-pura polos, tidak menjadi jaminan bahwa orang itu hatinya baik.

Saya melihat ke teman saya yang juga melihat ke arah saya dengan pandangan penuh tanda tanya. Gagal paham. Saya sendiri juga bingung. Jika Bapak itu memang benar pencuri, apakah teman saya jadi ikut bersalah?  Saya tahu ia hanya bermaksud menolong orang tua itu semata. Perbuatan yang sangat baik dan mulia. Tentu ia tak pernah menyangka akan begini jadinya. Atau  ia salah ambil?.  Tidak! Bukan salah ambil.Saya ingat betul, teman saya selalu bertanya setiap kali akan menurunkan tas yang di kabin “Ini bukan?“. Dan ia hanya mengambilkan tas ketika Bapak tua itu mengkonfirmasi bahwa tas yang dimaksudkan adalah  memang miliknya.

Saya melihat ke teman saya. Mencoba menenangkannya dan memberi kode bahwa ia tidak bersalah. Saya akan berada di sisinya dan pasang badan jika terjadi sesuatu.Bapak tua itu masih tetap berdiri di sana seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Tidak kelihtan bersalah. Tapi tidak melakukan pembelaan diri juga. Sementara pria kekar itu masih terus berkata kasar, sinis, dan mengumpat-umpat. Seluruh penumpang masih terdiam. Pak Supir kemudian menutup pintu bis dan bersiap-siap berangkat.

Tepat sebelum bis berangkat, ada lagi orang datang berteriak-teriak. Berlari dan mengacungkan tangannya ke bis. Pintu bis pun dibuka kembali. Orang itu terengah-engah menunjukkan sebuah ransel yang kelihatan tipis dan ringan sambil menjelaskan, bahwa ada ransel yang ketinggalan dipesawat.”Ini milik siapa?” tanyanya. Orang-orang mulai pada berbisik dan berbicara dengan teman di sebelahnya. Dan ternyata tas ransel yang baru ketemu itu memang milik Bapak Tua itu. Ya ampuuun.. rupanya memang salah ambil. Kedua tas ransel itu memang sangat mirip bentuk dan warnanya. Hanya saja yang satu kempes dan yang satu gendut karena isinya penuh.

Bapak itu kelihatan sangat senang dan lega menerima tasnya kembali.Wajahnya penuh syukur. Diusap-usapnya tas  itu lalu dicangklongkan ke bahunya. Ia seperti tidak peduli dengan sekian pasang mata yang menatapnya dengan heran. Pria yang tadi marah-marah itupun melihat kejadian itu dan langsung menghentikan omelannya. Saya melihat kelegaan di wajah setiap orang. Senang dan bersyukur rasanya akhirnya semua berjalan dengan damai.  Bis pun berangkat dari areal landasan terbang ke terminal.

Di terminal saya turun dan berjalan di sebelah teman saya yang kelihatan masih kaget dengan kejadian yang baru saja kami lewati. Sehari-harinya ia tidak berbahasa Indonesia, barangkali ia tidak menangkap 100% arti umpatan-umpatan pria itu, tapi saya rasa ia memahami garis besar kejadian itu.

Tetaplah berbuat baik, walaupun tidak ada jaminan, bahwa perbuatan baik kita akan selalu langsung instant jelas kelihatan hasilnya.

 

 

 

Songan, Kampung Halamanku Ketika Aku Pulang.

Standard

image

Ini sebetulnya hanya catatan kecil dari acara pulang kampung sehari. Sangat singkat. Sangat padat.  Tak sempat mampir ke mana-mana. Hanya pulang ke desa Songan di Kintamani, Bangli. Jadi sebenarnya tidak ada sesuatu yang aneh dan baru bagi saya.

Walaupun demikian, begitu memasuki wilayah kaldera dan menyaksikan hamparan danau biru nan luas beserta gunung Batur di sebelahnya, tetap saja saya merasa takjub terkagum-kagum akan keindahannya.

Berdiri di hulu danau dan melihat pemandangan desa yang sangat memukau, membuat saya berkali kali mengucapkan rasa syukur atas anugerahNYA. Ikan-ikan kecil berkerumun di bawah permukaan air dekat tepian danau.  Sesekali meloncat dengan riangnya, membuat cipratan kecil yang berkilau diterpa sinar matahari.

2016-01-13-07.50.09.jpg.jpegBurung -burung bangau beterbangan dan hinggap di atas flora mengambang di permukaan danau sambil mencari makan. Sungguh pemandangan yang luar biasa. Lalu ada keramba ikan. Nelayan yang asyik di atas perahunya. Dan ladang ladang sayur yang subur. Pemandangan danau dengan latar belakang bukit bukit yang hijau di satu sisi dan atau Gunung Batur yang kemerahan, membuat desa saya itu sedemikian indah bak lukisan dari negeri entah di mana. Saya mengambil beberapa kali gambar dengan kamera ponsel saya untuk mengenang wajah desa  ketika saya pulang kali ini.

Di sini kehidupan terasa berjalan tenang dan damai. Tanah yang begitu subur, diperkaya dengan berbagai mineral dan nutrisi yang dihadiahkan oleh debu vulkanik Gunung Batur membuat daerah itu menjadi kawasan pertanian sayur mayur dengan hasil yang melimpah di setiap musimnya. Tinggal sedikit usaha menyingsingkan lengan baju, olah tanah dan rawat tanaman, hasil panen pasti akan segera menghapus kelelahan. Begitu suburnya tanah di area ini, walaupun di sana-sini juga dihiasi dengan batu lahar hasil letusan Gunung.

image

Begitu juga danau yang biru. Seolah tak rela penduduknya kelaparan, tak hentinya menyediakan ikan yang berlimpah. Jika lapar, tak punya lauk untuk di masak, tinggal ambil pancing atau jala. Kami menangkap ikan. Cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
Demikianlah danau dan gunung Batur menyayangi orang-orang di kampung kami. Semoga setiap orang menyadari dan hanya mengambil secukupnya dari apa yang dianugerahkan tanpa harus merusak lingkungan sekitarnya.

image

Setiap orang memiliki kampung halaman dan mencintainya. Demikian juga saya. walau akhirnya tinggal jauh, rasanya memang tiada tempat yang lebih damai selain di kampung halaman sendiri. Semoga desaku selalu tenang dan damai.

Sleman: Mengunjungi Candi Prambanan.

Standard

Candi PrambananMumpung ada di Yogyakarta saya berusaha mengoptimalkan hari Sabtu saya dengan mengunjungi candi candi yang bertebaran di sekitar area itu.  Saya senang melihat-lihat dan mengenang kejayaan peradaban yang pernah dicapai oleh bangsa kita di masa lampau. Walaupun saat ini hanya reruntuhannya saja yang tersisa.

Saat itu sepulang dari kunjungan ke Istana Ratu Boko, saya tiba kembali di halaman Candi Prambanan sekitar pukul 10 pagi. Matahari bersinar kuat. Berjalan sedikit sudah cukup membuat saya berkeringat. Pengunjung cukup ramai pagi itu. Selain pengunjung umum, ada rombongan anak-anak sekolah yang diantar para guru. Lalu ada juga kesibukan orang orang  yang mempersiapkan kunjungan pejabat yang katanya akan datang siang ini. Saya melenggang ke halaman luar yang penuh dengan reruntuhan candi. Beberapa orang pekerja tampak sedang  sibuk merekonstruksi candi. Rasa trenyuh hati saya memandangnya. Terlebih ketika melihat gambar bagaimana dulunya bentuk dan susunan kompleks candi itu yang sedemikian besar  dan luas.

Berdiri di tengah-tengah reruntuhan candi ini, yang menurut keterangan harusnya berjumlah 240 candi, membuat saya sadar bahwa tempat ini sangat serupa dengan tempat – tempat suci di Bali. Pembangunan candi ini juga menerapkan concept Tri Mandala, yakni   nista, madya dan utama.

Di Nista Mandala yakni latar paling bawah yang luasnya 390 meter persegi tidak saya lihat ada bangunan apapun. hanya taman beserta tanaman.

Di Madya Mandala yang merupakan latar tengah ada  banyak reruntuhan candi candi kecil yang dianggap sebagai candi pengiring. Semuanya berada dalam keadaan runtuh. Menurut keterangan, candi-candi ini berjumlah 224 buah. Jika berdiri, candi-candi ini memiliki ukuran sama, yakni 4 meter persegi dengan tinggi 14 meter. Luas Madya Mandala adalah 222 meter persegi.

Candi Prambanan 5Di Utama Mandala  yang luasnya 110 meter persegi, berdiri Candi Tri Murti (Brahma,Wisnu Siwa) dengan Siwa sebagai fokus utamanya.  Candi Trimurti ini masing-masing didampingi dengan Candi Wahana, yakni Candi Nandi, candi Garuda dan Candi Angsa.  Kemudian ada  2 buah Candi Pengapit  yang berdiri diujung Selatan dan ujung Utara dari Utama Mandala ini. Di luar itu, ada lagi 8 candi kecil yang disebut dengan Candi Kelir yang berada di delapan penjuru mata angin.  Sungguh maha karya yang sangat indah dan besar. Saya merasa kagum dan sangat hormat kepada siapapun arsiteknya.

Saya hanya sempat masuk ke dalam Candi Siwa yang merupakan Candi Utama dari gususan Candi Prambanan ini. Om Namah Shiwaya. Pertama saya masuk dengan menaiki anak tangga ke ruang utama, di mana arca  Siwa Mahadewa  berdiri di sana.  Dalam Hindu, Siwa Mahadewa adalah sinar suci  dari Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai penguasa alam semesta dan perubahan dan pelebur agar semuanya bisa kembali ke asalnya dalam semesta. Arca ini menghadap ke timur, berseberangan pintu dengan Candi Nandi. Di bagian ruang utara dari Candi Siwa ini saya  melihat arca Durga  yang di dalam Hindu merupakan  sakti dari Siwa yang menguasai kematian. Lalu di bagian ruang barat saya melihat arca Ganesha, yang juga turunan Siwa yang merupakan manifestasi  Tuhan Yang Maha Esa dalam menguasai  segala kesulitan. Orang-orang memuja Tuhan Yang Maha Esa melalui Ganesha dalam memohon agar terhindarkan dari segala aral yang melintang. Dan di ruang yang terakhir yang menghadap ke selatan saya melihat arca Siwa Maha Guru  manifestasi Tuhan Yang maha Esa dalam menguasai segala wahyu dan pengetahuan. Pada intinya Candi utama ini adalah pemujaan Umat Hindu kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam  manifestasinya sebagai Siwa.

Jika kita melakukan pradaksina, yaitu berdoa sambil mengelilingi candi  searah jarum jam,  kita akan  bisa mengamati relief pada candi yang bercerita tentang kisah Ramayana.  Kita juga bisa melihat pemandangan kemegahan candi candi Brahma, Wisnu dan candi candi wahana serta candi apit yang indah dari Candi Siwa. Sungguh maha karya yang luar biasa. Menurut catatan sejarah, candi ini berdiri pada abad ke IX. Didirikan oleh raja raja Dinasti Sanjaya yakni Rakai Pikatan dan diteruskan oleh Rakai Belitung pada tahun 856 Masehi-sesuai dengan prasasti Ciwagraha.

Candi Prambanan 11Buat saya, kunjungan saya kali ini ke Prambanan memberikan kesempatan bagi diri saya untuk mengenang kembali serta menghargai karya seni dan spititual yang merupakan  refleksi kejayaan peradaban yang pernah dimiliki oleh nenek moyang kita. Senang mengingat pelajaran sejarah kembali.

Yuk kita berkunjung ke Jawa Tengah! Kita cintai tanah air kita.

Yogyakarta: Keraton Ratu Boko.

Standard

Gapura Keraton Ratu BokoSelagi di Yogyakarta, saya berusaha  mengoptimalkan hari Sabtu saya dengan mengujungi situs-situs purbakala yang ada di sekitar daerah itu. Saya menjelaskan kepada Mas Tara, sopir yang mengantarkan saya bahwa saya ingin mengunjungi candi-candi kecil di luar Prambanan dan Borobudur. Karena saya sudah pernah beberapa kali berkunjung ke dua candi besar itu sebelumnya.  Jadi saya ingin tahu yang lain.  Mas Tara menyarankan, sebaiknya saya tetap mengambil Candi Prambanan, atau Borobudur (salah satu)  karena di sekitar candi itu masih banyak ada candi-candi bertebaran. Saya setuju. Akhirnya memilih jalur Candi Prambanan.

Keraton Ratu BokoKami berangkat pagi-pagi dan disarankan menuju Prambanan pertama untuk menghindari panas matahari yang menyengat. Alasan Mas Tara adalah karena Candi Prambanan sangat luas dan tidak ada pohon di dekat-dekat candi.Sedangkan candi lain yang lebih kecil ada banyak pohon di sekitarnya.Jadi kalau kepanasan, kita bisa cepat-cepat bernaung. Sekali lagi saya menurut. Karena jarak dari hotel tempat saya menginap tidak seberapa, sebentar kemudian sampailah kami di Candi Prambanan. Ketika mengantri untuk membeli ticket, saya diinformasikan bahwa ada ticket terusan ke Istana Ratu Boko. Dan disediakan shuttle bus pulang pergi ke sana. Dengan senang hati saya memilih membeli ticket terusan itu.

Gapura Keraton Ratu Boko

Gapura Keraton Ratu Boko

Istana atau Keraton Ratu Boko berada di sebuah perbukitan di bagian selatan Candi Prambanan. Merupakan sebuah kompleks bangunan peninggalan purbakala yang luasnya sekitar 25 hektar. Benar-benar berada di puncak sebuah bukit. Dari tempat pemberhentian shuttle bus, saya masih harus menempuh jalan menanjak berjalan kaki. Untungnya jalannya sudah rapi. Sesekali saya berhenti untuk menenangkan nafas sambil melihat-lihat pemandangan kemarau yang gersang di sekitarnya.

Berita tentang keberadaan Keraton ini agak simpang siur adanya.Tetapi saya lebih mempercayai catatan sejarah yang ada buktinya. Bahwa tempat ini dulunya adalah sebuah Wihara seperti yang disebutkan dalam prasasti Abhaya Giri tahun 792 yang dikeluarkan oleh Rakai Panangkaran dari kerajaan Medang (Mataram Hindu).  Berikutnya seorang raja bawahan yang bernama Rakai Walaing Pu Kumbayoni mengubahnya menjadi istana.

Di kompleks ini dtemukan sisa-sisa gapura, sebuah candi putih, candi pembakaran, pendopo, keputren, dua buah gua pertapaan. Disebutkan juga bahwa di tempat ini ditemukan artefak Hindu (Durga, Ganesha, Garuda, Lingga, Yoni) dan juga artefak Budha (Stupa, Budha Dyani). Selain itu, menurut keterangan  juga ditemukan pecahan keramik, plakat emas bertuliskan “Om  Rudra ya namah swaha“. Jelas sekali pada jaman itu kehidupan toleransi beragama dikalangan leluhur kita tentulah sangat tinggi. Ajaran Hindu -Budha masih sangat menyatu. Saya sendiri tidak heran mendengar keberadaan artefak itu, karena  bahkan hingga saat inipun doa seperti Om Nama Ciwa ya, Om Nama Budha ya – masih diucapkan di kalangan penganut Hindu. Apalagi di masa itu, para leluhur kita menganut Ciwa Budha.

Batu-batu kuno penyusun jalan ke gapura Ratu BokoSaat saya berkunjung, masih sedang dilakukan penggalian situs. Yang menarik perhatian saya  adalah kenyataan bahwa pada jaman itu leluhur kita sudah memiliki kebudayaan dan pengetahuan teknik dan arsitek yang sangat tinggi. Terlihat ketika lapisan tanah dikelupas, batu-batuan yang datar disusun sedemikian rupa membentuk jalan lebar menuju pintu gapura.

Gapura sendiri dibangun dalam dua lapis berbentuk paduraksa yang terbuat dari batu andesit. Pagar dibuat dari batu putih.  Saya memperhatikan sisa-sisa ukiran yang sudah aus di beberapa bagian gapura. Tidak jauh dari style ukiran yang biasa saya temukan di Bali. Tapi kelihatan memang sudah sangat tua sekali.

Tidak jauh dari gapura saya melihat bekas parit yang kering.Wah jaman itu saja parit sudah ada ya. *Saya jadi teringat dengan Jabodetabek yang parit alias selokannya kadang ada kadang tidak*.   Nah, di sini malah ditemukan bukan saja parit yang bagus, tapi juga  sumur suci yang disebut Amerta Mantana. Juga kolam pemandian. Saya melihat banyak orang sedang bekerja menggali kolam yang baru ditemukan itu. Tak ada lelahnya di bawah sinar matahari pagi namun sudah sangat terik itu. O ya, di sana saya mendapatkan keterangan bahwa biasanya penganut Hindu mengambil air sumur itu terutama menjelang hari raya Nyepi. Mereka mengambilnya dengan kendi lalu dibawa ke halaman Candi Prambanan tempat dilaksanakannya upacara Tawur Agung.

Candi Putih di Keraton Ratu Boko

Candi Putih di Keraton Ratu Boko

Di sebelah gapura ada Candi yang disebut dengan candi Putih.  Disebut demikian karena terbuat dari batu putih. Saya tidak tahu persis digunakan untuk apa Candi Putih itu.

Candi pembakaran di Keraton Ratu BokoSaya tertarik akan candi pembakaran yang posisinya berada di atas Candi Putih. Saya naik ke atas untuk melihat ada apa  dan bagaimana rasanya berada di atas.  Tidak ada apa-apa. Hanya sebuah lubang persegi di tengahnya. Saya tidak tahu persis gunanya untuk apa. Dinamai candi Pembakaran rupanya karena ditemukan abu bekas pembakaran di tempat itu. Hal ini mengakibatkan terjadi simpang siur dugaan apakah Candi ini sebenarnya tempat kremasi atau penyimpanan abu jenasah raja. Tetapi setelah diteliti kembali, ternyata abu yang ditemukan itu hanyalah abu kayu. Tidak ditemukan indikasi abu dari pembakaran tulang.  Jadi masih terbuka kemungkinan jika di candi itu juga dilaksanakan upacara api yang lain.

Karena kompleks itu sangat luas, dan kaki saya yang pernah keseleo mulai kambuh, maka untuk memudahkan bagi saya memahami lay out istana itu, maka saya memaksakan diri naik ke punggung bukit yang tak jauh dari Candi Pembakaran. Dari sini kelihatan lebih jelas, seberapa luas Keraton itu dan ada sisa bangunan apa saja yang tertinggal.

Bagus sekali pemandangannya dari sini. Walaupun sedih juga tidak bisa melihat dari dekat, setidaknya saya bisa melihat dari kejauhan reruntuhan Pendopo seperti yang ada di keterangan.

Yuk kita berkunjung ke Yogyakarta!. Cintai tanah air kita

Yogyakarta: Menikmati Body Rafting Sungai Oyo.

Standard

Ini masih lanjutan cerita ber Cave Tubing di Gua Pindul. Keluar dari gua, kami melanjutkan perjalanan ke Sungai Oyo dengan menumpangi  kendaraan bak terbuka. Wah…mirip ternak sapi yang mau diangkut ke balai karantina ha ha ha. Kami berkendara bersama dengan para ban dalam yang akan kami gunakan untuk menelusuri Sungai Oyo. Jalanan menuju ke sungai itu sungguh bergelombang. Gujrak-gujruk. Tapi pemandangan di kiri kanan jalan tampak indah juga. Sawah-sawah yang luas membentang. Kami juga melewati perkebunan  Kayu Putih yang daunnya sangat segar mewangi.

234Beberapa menit kemudian tibalah kami di tepi Sungai Oyo.Kami mengangkut band dalam kami masing-masing di atas kepala. Kami harus turun ke sungai. Agak kering karena kemarau yang panjang. Saya menyeberang menuju aliran yang debit airnya cukup untuk kami melakukan rafting.

Tidak ada yang perlu saya khawatirkan. Karena saat melakukan rafting ini pun kami diminta untuk berpegangan pada ban di depan dan belakang kami masing-masing agar tidak terlepas sendiri-sendiri. Minimal  4-6 orang lah. Agar tangan saya bisa leluasa, saya mengakalinya dengan mengikatkan tali ban saya ke tali teman yang ada di depan dan di belakang saya. Nah! Sekarang aman. Tangan saya bebas untuk melakukan apa saja.

279Matahari mulai meninggi.  Ban berjalan mengikuti arus yang perlahan. Awalnya saya tidak tahu apa yang bisa saya nikmati sepanjang aliran sungai ini. Tapi kemudian saya menyadari bahwa ini adalah pengalaman baru bagi saya.

Biasanya saya adalah seseorang yang melihat sungai dari tepi. Nah sekarang saya bisa merasakan bagaimana melihat tepian dari dalam sungai.  Bagaimana rasanya kehidupan berjalan di tengah sungai. Saya mendengarkan kicauan burung pagi yang sangat riang. Mereka sibuk mencari makan di pohon-pohon bambu di pinggir sungai. Ada banyak jenis suara burung. Ada yang bisa saya kenali, namun ada juga jenis yang tidak mampu saya kenali. Semuanya memberi sensasi tersendiri bagi saya. Tiba-tiba saya merasa sangat menyukai tempat ini. Sungai Oyo.

20151010_082432Di tepi sungai bebatuan karst menjadi dinding. Berceruk-ceruk karena rongrongan arus air sungai. Ukiran alam di tebing ini  terlihat begitu indah serasa mengajak lamunan kita pergi ke alam purba.  Jika kita perhatikan dengan seksama, di dasar tebing, dekat dengan permukaan air, beberapa ekor ikan gelodok kecil-kecil atau disebut juga dengan nama Tembakul alias Mudskipper (Periophthalmus sp) tampak mendarat di cekungan batu-batu tebing itu. Ada yang meloncat ada juga yang berdiam diri. Ini membuat saya sangat terkejut. Sungguh tidak menyangka keberadaannya ditempat seperti ini. Karena biasanya ikan ini berada di tempat yang berlumpur.

Meloncat di Sungai Oyo

Meloncat di Sungai Oyo

 

Ban bergerak terus mengikuti arus sungai. Saya menikmati arus yang bergerak di bawah saya. Rasanya tenang dan damai. Tak lama kemudian tibalah kami di air terjun.  Debit air terjun ini tak berapa besar. Barangkali karena musim kemarau.  Kami turun dan mendarat untuk beristirahat sejenak di situ. Teman-teman saya ada yang meneruskan berenang, bermain air, memesan mie instan yang kebetulan dagangnya ada di situ. Bahkan ada juga yang menguji nyali dengan melakukan loncatan dari ketinggian ke dalam air.  Wah…luar biasa.

Saya sendiri hanya menonton sambil memperhatikan tumbuh-tumbuhan yang hidup di sekita tempat itu.  Seekor kepik berwarna merah tampak menclok di sehelai daun tanaman perdu.  Saya mengamatinya sebentar. Indah sekali warna kumbang merah ini.  Mirip Lady Bug yang kita kenal di film-film kartun. Tapi badannya sedikit lebih besar dan pola bintik hitam merahnya juga agak berbeda. Warnanay juga tidak murni merah tapi bersemu hijau. Sayapnya berkilau metalik. Saya terus mengamati gerak-geriknya, hingga kepik itu terbang karena daun tempatnya menclok bergoyang-goyang keras di tiup angin.

Setelah puas bermain-main di tepi sungai itu, kami pun diajak pulang. Kembali menelusuri sungai. Kembali berayun-ayun di atas ban dalam mengikuti arus Sungai Oyo. Pulangnya kembali kami naik kendaraan bak terbuka. Menikmati segarnya angin pedesaan sambil  memandangi sawah yang luas terhampar.

Ke Sungai OyoPengalaman yang sangat menyenangkan. Saya berpikir suatu hari ingin mengajak anak-anak saya berkunjung ke sini untuk menikmati Body Rafting di sungai ini. Semoga kesampaian.

Yuk teman-teman, kita berkunjung ke Yogyakarta!. Cintai tanah air kita.

 

 

Yogyakarta : Bermain Ke Gua Pindul Di Gunung Kidul.

Standard

Ceritanya sudah beberapa minggu yang lalu. Ada acara Cave Tubing ke Gua Pindul di Gunung Kidul, Yogyakarta.  Karena tidak jago berenang,  awalnya saya tidak berminat ikut. Saya hanya ingin melihat-lihat area sekitar. Sekedar mengamati flora fauna, terutama burung-burung dan kupu-kupu di bukit berkapur yang bisa jadi berbeda dengan di  dataran rendah. Tetapi setelah mendengarkan penjelasan rute Cave Tubing dari petugas, akhirnya saya memutuskan ikut terjun ke air. Kamera terpaksa saya tinggalkan karena beresiko tercebur ke air dan basah.

Walau ber-Cave Tubing di Gua Pindul sudah sering diceritakan orang, tapi saya tetap tertarik ingin melihat seperti apa sih di dalam gua itu.Gua Pindul

Menelusuri Gua Pindul.

Mudah ditebak. Karena letaknya di pegunungan kapur Gunung Kidul, tentu gua ini terbentuk dari proses batuan kapur. Panjang gua sekitar  350 meter dengan lebar sekitar 5 meter, tetapi di tengah-tengah gua ada juga jalur yang hanya cukup dilewati satu  orang saja.  Untungnya karena kemarau, permukaan air sedang tidak terlalu tinggi, sehingga atap gua terasa jauh di atas sana. Memungkinkan saya  untuk bernafas lega, karena udara leluasa bisa keluar masuk ke dalam gua.

Dengan menelusuri gua ini perlahan, ada banyak hal yang bisa kita lihat. Sayangnya saya hanya bisa memanfaatkan kamera ponsel yang daya jangkaunya tidak seberapa. Itupun semakin nggak jelas akibat harus dimasukkan ke dalam selongsong tahan air. Takut kecebur tanpa sengaja. Jadi foto-foto yang saya hasilkan kwalitasnya sangat buruk.

Gua Pindul dulunya dihuni oleh banyak Burung Sriti.  Saaat ini saya tak berhasil  melihat seekorpun. Barangkali karena gua itu sudah dikunjungi oleh terlalu banyak orang,  sehingga ketenangan burung-burung Sriti itupun terusik. Akhirnya menyingkirlah mereka dari sana.

Stalagtit Gua PindulNamun demikian, saya masih bisa melihat-lihat bebatuan yang ada di dalam gua. Cahaya matahari masih bisa masuk di bagian sini. Ada banyak Stalagtit yang bergelantungan dengan sangat indahnya di atap gua. Terbentuk dari tetesan mineral calcium carbonate selama ribuan tahun. Beragam ukurannya. Dari yang  kecil-kecil beberapa cm hingga yang panjang nyaris menyentuh permukaan air sungai.  Tak terbayang seberapa lama  mineral itu secara konsisten harus menetes, mengingat pertumbuhan stalagtit paling cepat adalah 3 mm per tahun.

Sedikit agak masuk ke dalam gua, saya melihat ada tangga besi terpasang ke atas. Entah siapa yang memasang dan untuk apa.  Saya lupa bertanya kepada Mas Guide. Apa barangkali dulunya  digunakan untuk mengamati burung-burung  Sriti ya…

Gua Pindul 2Setelah tangga ada cekungan yang agak dalam ke dinding di depan saya. Rupanya cekungan itu dulunya digunakan orang untuk bertapa. Mencari ketenangan jiwa ataupun pengetahuan spiritual. Setelah itu saya melihat masih banyak stalagtit besar kecil bergelantungan.

Kami memasuki zona remang-remang. Saya melihat ke atap  gua, berusaha mencari tahu ada apa gerangan di atas sana. Tidak begitu jelas. Mas Guide menyalakan senter dan saya melihat seekor kelelawar bergantung. Jenis kelelawar pemakan buah alias Codot. Saya tidak memotret Codot ini  karena cahaya senter si Mas sudah berpindah.  Saya baru paham dari mas Guide ini bahwa Kelelawar jenis Codot seperti ini memang lebih menyukai Zona Remang-Remang gua ketimbang Zona Gelap Gulita yang lebih disukai saudaranya yang jenis pemakan nyamuk.

Di zona ini  saya juga sempat melihat ada stalagtit yang berkilauan menarik perhatian saya. Berbeda dengan stalagtit stalagtit yang lainnya. Menurut keterangan Si Mas Guide, stalagtit kristal jenis ini terbentuk dari tetesan termurni dari kapur. Katanya banyak digunakan orang untuk perhiasan. Tapi entunya dilarang diambil dari gua Pindul ini.

Kami terus menyusuri gua dan mengikuti arus air sungai yang perlahan-lahan membawa kami ke Zona Gelap. Ruangan gua menyempit. Hanya bisa dilalui satu ban.  Kami bergerak dengan lambat. Ada Stalagtit terbesar di area ini. Juga ada Stalagtit dengan cucuran air yang masih ‘on’. Orang-orang percaya, konon  jika kita lewat di bawahnya dan kena cucuran air Stalagtit itu akan membuat kita awet muda. Saya lewat tapi tidak kena cucurannya… wadah.. alamat bakalan awet tua deh ini. Ha ha ha…

Eh tapi sebenarnya saya lebih tertarik untuk mengetahui eksistensi kehidupan di sana. Benar seperti yang disampaikan si Mas tadi, bahwa di langit-langit Zona gelap ini sangat banyak bergelantungan kelelawar pemakan serangga. Langit-langit gua yang kena cakar kelelawar yang bergelantungan membentuk kubah-kubah mirip mangkok terbalik yang serupa dengan ruang-ruang. Pengetahuan baru untuk saya adalah bahwa ternyata menurut si Mas ruang-ruang itupun berbeda-beda peruntukannya. Ada ruang bayi dan anak-anak kelelawar. Lalu ada ruang untuk para kelelawar dewasa. Ada ada juga ruang khusus yang berfungsi seperti toilet kelelawar. Lalu ada ruang khusus untuk bercinta. Walah..ada ada saja.  Saya mencoba memotret. Tapi ya karena kwalitas fotonya  kurang baik, jadi kelihatan hanya mirip lukisan batik. Yang hitam itu sebenarnya adalah para kelelawar.

Gua Pindul 3Kurang lebih setengah jam,  kami mendekati pintu keluar gua. Cahaya matahari sedikit demi sedikit memasuki ruangan gua. Dan di ujung sana bahkan ada sebuah lubang yang cukup besar di atap gua itu. Cahaya matahari menerobos masuk. Melalui celah-celah dedaunan yang tumbuh di tepi lubang itu. Alangkah indah dan dramatisnya. Saya terpesona akan keagungan ciptaanNYA. Menyempatkan diri untuk sejenak memanjatkan doa dan mengucapkan syukur terimakasih atas karunia yang dilimpahkan ke dalam kehidupan saya.

Teman-teman saya sebagian ada yang turun dari ban dan berenang. Ada juga yang berhenti dan bersitirahat di sebuah cekungan kering di dalam gua. Saya masih terpesona dengan sinar matahari pagi yang menerobos dari lubang atap gua. Tiba-tiba terdengar teriakan “Bu Dani ulang tahunuuuuun!!! Bu Dani ulang tahuuuuuuunnnn!!” Waduuu… gawat. Saya bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Cepat-cepat saya mengangkat tangan dan menyatakan diri tidak bisa berenang sebelum mereka mengambil ancang-ancang untuk menceburkan saya ke air sungai.  Lumayan berhasil menyelamatkan diri. Namun tak urung air sungai dicipratkan beramai-ramai ke arah saya sehingga akhirnya saya basah kuyup juga. Ha ha ha…  Saya bahagia berada di tengah-tengah teman-teman dan para sahabat saya.

Yuk kita  berkunjung ke Yogyakarta! Cintai tanah air kita.

 

Menelusuri Sejarah Majapahit: Pendopo Agung II.

Standard

Selain relief yang menggambarkan Sumpah Amukti Palapa, di dinding belakang Pendopo Agung Trowulan juga terdapat daftar Raja-Raja Majapahit. Saya mencoba membaca daftar itu walaupun agak susah, karena jenis font yang dipakai agak keriting selain juga karena hari mulai gelap.

Raja-Raja MajapahitMelihat daftar para raja beserta tahun pemerintahannya, kita jadi tahu bahwa Kerajaan Majapahit berdiri selama nyaris 200 tahun. Tepatnya 193 tahun, sejak pertama kali didirikan oleh Raden Wijaya (1294), hingga runtuhnya di tangan Prabhu Girinderawardhana (1487). Lama juga ya umur negara itu. Indonesia sendiri baru berumur 70 pada tahun ini. Masih dibutuhkan 123 tahun lagi agar minimal bisa meyamai panjangnya umur negara Majapahit. Dan tentunya kita semua berharap agar Negara Kesatuan Republik Indonesia bahkan bisa melebihi Majapahit. Lalu mengapa negara yang sedemikian besar dan sedemikian lama eksistensinya di Nusantara ini akhirnya bisa runtuh?

Penobatan Raden Wijaya menjadi Raja I Majapahit pada tahun 1294.

Penobatan Raden Wijaya menjadi Raja I Majapahit pada tahun 1294.

Di daftar ini, sepintas lalu semua kelihatan sangat rapi. Namun jika kita tilik lebih jauh, dan pelajari kembali sejarah, di balik kejayaannya, pemerintahan kerajaan Majapahit ini sebenarnya juga tidak mulus-mulus amat.  Dihiasi dengan banyak pemberontakan, mulai dari Ra Kuti, Semi, hingga Ronggolawe. Juga dipenuhi dengan intrik-intrik politik dalam keluarga. Memperebutkan tahta dan kekuasaan, terutama sepeninggal Hayam Wuruk. Bahkan antara tahun 1453-1456, sempat terjadi kekosongan dalam pemerintahan Majapahit. Nah apa sebenarnya pelajaran yang bisa kita petik dari sini?

Ketika Ego dan Keserakahan mengalahkan rasa Persaudaraan dan Kepedulian pada orang lain, maka ketika itu juga kemampuan manusia untuk berjalan ke arah kejayaan akan memudar. Penguasa sibuk mempertahankan kekuasaannya. Para pendongkel sibuk berusaha merebut kekuasaan. Mereka saling menjatuhkan. Lupa bagaimana cara mengelola negara dengan baik. Lupa memikirkan kesejahteraan rakyat. Perang dan pemberontakan tak terhindarkan. Negara menjadi lemah. Rakyat menderita. Negara yang lemah, dengan sendirinya sangat mudah diguncang dan runtuh.

Hari semakin gelap. Saya tidak mampu lagi membaca. Penjaga pendopo mengajak kami ke bagian belakang Pendopo.

Batu tambatan gajah yang sangat kuat tertancap di tanah.

Batu tambatan gajah yang sangat kuat tertancap di tanah.

Di sana ada sebuah batu tempat menambatkan gajah tunggangan kerajaan. Konon batu itu sangat kuat tertancap ke tanah, sehingga bahkan tenaga gajahpun tak mampu menariknya.

Petilasan Raden Wijaya.

Di balik tembok belakang Pendopo Agung itu ada sebuah pintu. Saya melongokkan kepala saya ingin tahu. Oops! Alangkah terkejutnya saya. Waduuuh! Kuburan!. Rupanya itu tempat pemakaman. Sebuah pohon besar tampak menaungi. Ada jalan kecil membelah tempat pemakaman itu menuju sebuah bangunan kecil mirip rumah penjaga kuburan. Saya tertegun dan menghentikan langkah saya seketika.

Di belakang Pendopo Agung Trowulan.Terus terang saya merasa gentar juga. Demikian juga kelihatannya ke dua teman saya. Mana malam sudah mulai turun pula. Suasana gelap remang-remang. Sekarang saya mulai meratapi keingin-tahuan saya yang terlalu besar, yang mengantarkan saya nyasar ke tempat seperti ini. Tapi sebagai orang yang tertua diantara mereka, dan yang juga memberi ide untuk bermain ke Trowulan adalah saya sendiri, mau tidak mau terpaksa saya menggagah-gagahkan diri saya agar tidak kelihatan takut di depan mereka. Jika saya menunjukkan rasa takut, pasti mereka berdua akan segera lari terbirit-birit. Jadi saya harus kelihatan setenang mungkin.

Tempat apa ini?” tanya saya kepada penjaga Pendopo. “Petilasan Raden Wijaya. Silakan ke sana” jawab bapak penjaga. Entah kenapa saya merasa kalau orang yang ada di dalam bangunan kecil itu sudah tahu, melihat dan menunggu kedatangan saya. Tentu tidak sopan jika saya menolak masuk dan kabur begitu saja. Sekarang saya tidak punya pilihan selain harus lanjut berjalan dan melawan rasa takut saya. Sayapun berjingkat di jalan kecil di bawah pohon yang kelihatan angker dengan makam di kiri-kanannya itu. Kedua teman saya mengikuti dari belakang dengan ragu.

Panggung.

Di depan gerbangnya ada tulisan.”Panggung. Tempat pertapaan Eyang Raden Wijaya. Tempat Pembacaan Sumpah Amukti Palapa Eyang Patih Gajah Mada“. Saya berhenti sejenak. Dari sana saya lalu mengucapkan salam kepada orang yang ada di dalam yang mempersilakan saya masuk. Saya dan teman-teman sayapun masuk.

Petilasan Raden Wijaya dan tempat Gajah Mada mengucapkan Sumpah Amukti Palapa.

Petilasan Raden Wijaya dan tempat Gajah Mada mengucapkan Sumpah Amukti Palapa.

Di dalam ada seorang pria yang kelihatan masih muda duduk di lantai dan menyapa kami. Wajahnya kelihatan tenang dan tampan di bawah sinar lampu kecil.  Beliau memperkenalkan diri sebagai pemelihara tempat itu. Sayangnya saya tidak mampu mengingat nama beliau. Saya menjelaskan perihal diri saya apa adanya. Bahwa beberapa tahun yang lalu saya membaca artikel di Kompas tentang situs Kerajaan Majapahit dan sangat tertarik ingin tahu dan melihat sendiri situs-situs itu, tapi baru bisa datang berkunjung hari ini. Pria itu berkata bahwa tidak ada orang yang datang ke tempat itu jika tidak ada yang menuntunnya ke sana. Jika niat itu sudah lama dan ternyata baru bisa datang hari ini, ya itu artinya bahwa jodohnya memang hari ini. Semuanya sudah atas petunjukNya. Entah karena ucapannya itu atau karena suaranya yang rendah dan lambat, saya menjadi semakin ngeper.

Tapi beberapa saat kemudian saya mulai berhasil menguasai ketakutan saya. Saya lalu diberi penjelasan bahwa tempat ini adalah petilasan dari Raden Wijaya. Petilasan adalah tempat dimana Raden Wijaya melakukan tapa semadhi dan mendapatkan inspirasinya untuk membangun Kerajaan Majapahit. Bukan makam Raden Wijaya. Raden Wijaya tidak dimakamkan, karena beliau adalah penganut agama Hindu Ciwa-Budha yang tentu jasadnya dibakar (diaben/diperabukan) dengan maksud mengembalikan Atma (rohnya) kepada Sang Pencipta, sementara unsur-unsur pembentuk badan kasarnya dikembalikan ke alam (Panca Maha Butha – kembali ke air, ke tanah, ke api, ke udara dan ke cahaya). Jadi tidak ada makamnya. Saya sependapat dengannya.

Namun karena keturunan beliau sangat banyak dan saat ini tidak semuanya menganut agama Hindu-Ciwa, karena sebagian diantaranya ada yang kemudian memeluk agama lain dan ingin melakukan ziarah ke leluhurnya, sementara beliau sendiri tidak punya makam. Maka dibuatkanlah maqom (bukan makam) di tempat itu, sebagai tempat berziarah.

Sedangkan makam-makam yang banyak bertebaran di sekitar tempat itu adalah makam-makam penduduk dari generasi belakangan. Paling banter baru sekitar seratusan tahun umurnya.  Bukan dari generasi Majapahit – demikian penjelasannya.

Selain itu saya juga dijelaskan bahwa di tempat ini dahulunya juga merupakan panggung tempat di mana Maha  Patih Gajah Mada mengucapkan Sumpah Amukti Palapa-nya yang sangat terkenal itu.

Ponco Waliko

Pria itu bercerita panjang dan lebar tentang Raden Wijaya , Gajah Mada dan hal-hal yang berkaitan dengan sejarah Majapahit. Saya mendengarkan dengan takzim. Saya juga dijelaskan tentang tuntunan hidup dari jaman Majapahit yang disebut dengan PONCO WALIKO seperti yang tertera di dinding itu  yang isinya:

1/. Kudu trisno marang sepadaning urip (Harus mencintai sesama mahluk hidup)

2/.Ora pareng nerak wewalering negara (Tidak boleh melanggar hukum negara)

3/. Ora pareng milik sing dudu semestine (Tidak boleh menguasai yang bukan hak miliknya).

4/.Ora pareng sepata nyepatani (Tidak boleh saling menghujat)

5/. Ora pareng cidra hing ubaya ( Tidak boleh melanggar janji).

Petuah hidup yang sangat baik. Jika semua orang di dunia ini berlaku seperti apa yang diajarkan Ponco Waliko itu, tentu dunia akan jauh lebih tenteram dan damai. Semoga kita semua bisa menjalankannya dengan sebaik-baiknya.

Teman saya memberi saya kode kalau kami harus segera ke Surabaya agar tidak ketinggalan pesawat. Saya mencari celah agar bisa memohon pamit dengan sopan  tanpa harus memotong pembicaraan pria itu.  Saya mengucapkan terimakasih atas obrolan dan kesediaannya menerima kedatangan kami.

Sebenarnya, masih banyak  yang ingin saya lihat, dengar dan ketahui tentang Kerajaan Majapahit. Banyak yang belum saya lihat. Namun sayang saya datang sudah terlalu sore. Sudah gelap. Sehingga membuat kunjungan sangat terburu-buru . Baru sempat mengunjungi Pendopo Agung Trowulan itu saja. Suatu saat jika saya memiliki kesempatan, saya ingin datang berkunjung kembali untuk melihat situs-situs Majapahit yang lain.

 

 

Bunga-Bunga Liar Pegunungan Tengger.

Standard
Mt. Bromo Savana Flowers Bouquet.

Mt. Bromo Savana Flowers Bouquet.

Ketika hendak  turun dari Pananjakan pagi harinya, saya ditawari seikat bunga oleh pedagang di sana. Warnanya sangat menarik. Putih, krem, ungu, merah, kuning. Dan yang lebih menarik lagi, bunga itu ditata sedemikian rupa menjadi berbagai bentuk. Ada yang berupa flower bouquet biasa, ada juga yang berupa boneka lucu-lucu. Awalnya saya pikir itu bunga kering, tapi setelah saya dekati ternyata bunganya masih segar.  Terdiri atas bunga-bunga edelweiss dan bunga-bunga rumput berwarna-warni yang memang secara umum tahan kekeringan. Wah…cantik sekali. Saya harus acungkan jempol untuk kreatifitasnya.

Gara-gara melihat bouquet -bouquet bunga liar itu, saya  jadi menyadari bahwa di pegunungan Tengger ini tentu tumbuh beraneka ragam tanaman liar dan rerumputan yang berbunga indah-indah. Maka ketika turun dari Pananjakan menuju ke Lautan Pasir, mata saya tak lepas dari bunga-bunga tanaman liar yang saya temui di perjalanan.  Ada beberapa yang saya kenali jenisnya. Namun  kebanyakan tidak saya ketahui juga. Di bawah ini adalah beberapa diantaranya.

1/. Kuning secerah matahari pagi.

Yang paling menyolok mata saya pagi itu adalah bunga-bunga kuning yang menghampar di sana-sini. Warna kuning seperti mendominasi perjalanan saya selama di Tengger hari itu.  Yang paling jelas adalah bunga Adas pedas (Foeniculum vulgare)  yang saya temukan sangat banyak populasinya menempati sebagian padang savana di ujung lautan pasir.

Tanaman liar lain yang berbunga kuning dan juga terlihat sangat banyak di sana adalah tanaman sawi liar. Saya melihat kumpulan tanaman ini di sebuah tebing di bawah Pananjakan. Barangkali karena sawi-sawi liar itu tumbuh berkumpul di sana dan mereka serempak berbunga, seluruh dinding tebing kelihatan berwarna kuning cerah.

Lalu ada juga tanaman Dandelion, yang jika sudah tua dan kering bunganya kerap diterbangkan angin mirip orang naik payung udara. Walaupun tidak berkelompok, namun saya melihatnya sangat cemerlang pagi itu.

Selain itu ada lagi jenis tanaman liar berbunga kuning yang saya tidak tahu namanya. Bentuknya lucu. Mahkota bunganya  yang berwarna kuning menggelembung menjadi kantong udara membuat keseluruhan bunga itu mirip sarung tangan bayi berwarna kuning. Ada banyak di Pananjakan. Bunga jenis ini baru pertama kali saya lihat dalam hidup saya.

2/. Ungu yang menenteramkan hati.

Selain bunga-bunga yang berwarna kuning, saya juga menemukan banyak bunga liar yang berwarna ungu. Diantaranya yang paling banyak saya temukan di Savana adalah bunga Verbena liar (Verbena bonariensis) yang ujungnya berwarna ungu. Kelihatannya ada 2 gradasi warna ungu yang saya jumpai.Ungu tua dan ungu sedikit lebih muda. Bunganya kecil-kecil. Di savana ini rumput Verbena tumbuh sangat tinggi, lebih tinggi dari tubuh saya.

Selain Verbena ini, di sela-sela semak saya juga menemukan jenis tanaman lain yang berbunga ungu di ketinggian Pananjakan, yaitu bunga Cestrum liar. Bunga itu  jika ditilik dari batang dan daun serta bunganya tentu masih sekeluarga dengan tanaman Arum Dalu yang berbunga putih kehijauan. Mungkin karena habitatnya tepat, tanaman ini berbunga cukup lebat.

3/. Pink dan Merah yang romantis.

Pegunungan Tengger dan savananya tidak hanya menyediakan bunga berwarna kuning dan ungu. Ternyata tanaman Cestrum liar yang berbunga pink juga ada di semak-semak. Saya membayangkan jika tanaman menyender ini ditanam di pinggir tembok taman-taman yang luas di daerah dingin, tentu akan sangat menarik sekali. Karena bunganya cukup lebat juga.

Bunga warna merah lain yang juga menarik perhatian saya adalah bunga dari rumput Sorell. Warnanya merah karat bercampur hijau memenuhi tajuk bunganya yang panjang. Sepintas mirip bunga bayam atau bunga kemangi merah. Saya temukan dalam jumlah cukup banyak di sela sela rumput dan semak savana.

 

4/. Putih  yang membawa kedamaian.

Bunga -bunga liar berwarna putih juga  cukup banyak menghiasi pegunungan Tengger. Banyak diantaranya yang saya tidak tahu namanya. Tapi diantaranya ada juga bunga bunga yang mudah saya kenali, seperti misalnya Edelweiss, bunga Girang-girang (Elder flower), bunga Fox Gloves liar.

Bunga Edelweiss selalu menjadi penghuni abadi daerah pegunungan tinggi. Setiap orang yang mendaki gunung tentunya mengenali bunga ini dengan mudah. Bunga Edelweiss yang di atas saya temukan di tepi jurang saat saya berhenti dan turun sebentar dari jeep untuk memotret Gunung Batok dari kejauhan. Warnanya putih kecil dan halus teranguk angguk di tiup angin.

Lalu saya juga menemukan bunga Fox Glove liar yang berwarna putih. Cantik sekali diterpa cahaya pagi. Lalu ada lagi kembang Girang yang bunganya merupakan kumpulan bunga-bunga kecil membentuk payung lebar.

Nah..itulah antara lain foto-foto dari bunga-bunga liar yang saya temukan di Pegunungan Tengger. Cukup banyak dan cantik-cantik bukan? Sehingga tidak heran, banyak penduduk setempat memanfaatkannya untuk dirangkai menjadi bouquet yang cantik dan menarik.