Tag Archives: Travelling

Drama Kecil Di Pesawat.

Standard

Saya hendak pulang kampung. Sedikit mepet waktunya, saya buru-buru masuk ke pesawat. Nomor kursi saya 4B. Ditengah. Sebetulnya agak kurang suka. Tapi apa boleh buat. Nggak punya pilihan lain.

Saya menyimpan ransel saya di kabin atas, lalu segera duduk. Saat itu seorang pria sudah duduk di kursi 4A di sebelah saya di pojok dekat jendela. Pria itu tersenyum ramah pada saya. Tetapi saat saya memasang Seat-belt saya, pria itu tiba tiba mencari-cari seat beltnya dan bilang jika saya sedang mendudukinya.

Sayapun membuka Seatbelt saya dan berdiri. Oh, ternyata memang benar, Seatbeltnya nyasar ke kursi saya dan tanpa sengaja saya duduki. Kok bisa ya?. Bukankah dia sudah duduk sejak tadi dan mengapa belum nemasang Seatbeltnya segera?.

Sebenarnya agak merepotkan, karena saya yang sudah pasang Seatbelt harus buka seatbelt lagi, berdiri dan kemudian pasang seatbelt lagi.Tetapi nggak apa apalah. Mungkin karena dia sedang sibuk chat di WA dengan keluarganya menjelang terbang. Hati baik saya memaklumi.

Sayapun duduk kembali dengan santai dan membaca majalah yang ada di saku kursi.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba “gedubukkk!!!”. Aduuuuh!!!. Sakiiit. Hape pria itu jatuh menimpa lutut saya, lalu jatuh ke lantai pesawat. Sayapun ikut mencari-cari di bawah, karena jatuhnya miring ke arah posisi saya. Jadi di bawah kaki saya.

Kok bisa ya?. Hapenya jatuh saat dia pakai. Saya cuma heran saja, karena tangannya kekar kan harusnya dia bisa pegang erat. Tapi okelah. Hati baik saya memaafkan perbuatannya itu yang lumayan membuat lutut saya sakit. Tentunya dia tidak sengaja.

Dalam perjalanan dari Jakarta ke Denpasar saya tidur. Tak terasa sebentar lagi mendarat menurut pengumuman. Mata saya masih mengantuk. Jadi saya meneruskan tidur.

Excuse me!” Terdengar suara dari sebelah. Saya kaget. Ooh… rupanya pesawat sudah hampir sepi. Orang orang sudah sebagian keluar dari pesawat. Sementara saya tertidur. Aduuuh…malunya. Mungkin sebenarnya ia pengen cepat keluar, tapi terhalang oleh saya. Mungkin saya telah membuatnya kesal juga.

Cepat-cepat saya bangun. Berdiri dan sambil mengantuk membuka pintu kabin di atas. Bermaksud mengambil ransel saya. Semoga hati baiknya memaafkan saya.

Terlihat sebuah ransel hijau di tempat tadi saya meletakkannya. Nah ini dia!. Saya mengambil ransel itu, pria yang duduk di sebelah saya itu berusaha membantu saya. Berat. Tapi saya memang masukan beberapa lembar pakaian, tas kosmetik, dompet, laptop dan chargernya. Tapi ranselnya sudah keburu saya turunkan sendiri dan saya letakkan di bangku “Ooh …lumayan baik hati juga dia rupanya” pikir saya.

Saya mencangklongkan ransel saya di punggung dan bersiap-siap mau jalan. Tiba-tiba gerakan saya ditahan pria itu. “This is my backpack!” katanya ke saya. Lho??.

Saya memandang ransel yang saya pegang baik-baik. Warnanya hijau tua. Masak sih ransel ini milik dia?. Bukannya punya saya ya?. Saya memandangnya lebih dekat lagi. Sejujurnya saya juga mulai ragu. Karena ransel yang saya bawa adalah milik anak saya. Sehingga saya nggak ingat pasti detailnya. Lalu saya mendongak. Mencari cari apa ada ransel lain di atas. Oh..syukurlah. Agak ke dalam masih ada sebuah ransel lagi. Warnanya juga hijau. Oh…mungkin itu milik saya. Saya tarik dan benar. Itu memang ransel saya. Sayapun menoleh pada dia dan meminta maaf lalu melangkah pergi. Ia tersenyum ramah pada saya. Semoga hati baiknya memaafkan kesalahan saya.

Sambil berjalan keluar pesawat saya merenung. Sungguh aneh kejadian ini. Dua kali ia melakukan perbuatan yang tanpa sengaja mengganggu saya dan dua kali saya melakukan perbuatan yang tanpa sengaja mengganggunya. Seperti saling membayarkan, walaupun tanpa sengaja. Karmaphala Cicih. Lunas ya?. Impasss!.

Untungnya saat ia melakukan perbuatan yang mengganggu, saya tidak terlalu mempermasalahkannya. Segera memaklumi dan memaafkan. Sehingga saat saya berbuat kesalahan tanpa sengaja, iapun tidak terlalu mempermasalahkan saya.

Sesungguhnya kita manusia tidaklah luput dari kesalahan setiap hari. Ketika ada orang lain berbuat kesalahan yang mengganggu kita, hendaklah kita segera memaklumi, memaafkan dan mengikhlaskan. Karena kita tak pernah tahu kapan kita melakukan kesalahan yang mungkin mengganggu orang lain.

Kesalahan Membeli Ticket Pesawat Online.

Standard

Bandara Ngurah Rai Denpasar.

Akhir pekan yang lalu saya pulang kampung ke Bali. Karena kesibukan, saya lupa jika saya belum sempat membeli ticket balik ke Jakarta. Hari Sabtu malam, adik bungsu saya bertanya, kapan saya mau balik ke Jakarta? Dan mengingatkan saya untuk membeli ticket agar harga tidak menjadi semakin mahal akibat waktu pembelian yang semakin mepet. Juga agar tidak keburu kehabisan ticket. Oh ya!.

Rencananya saya akan membeli secara on-line malam ini. Tapi hape lagi dicharge. “Sebentar lagi aja. Habis dicharge” kata saya. Adik saya lalu nyelonong ke kamarnya. Saya melanjutkan ngobrol dengan adik saya yang nomer tiga. Sebentar kemudian mata saya mulai terasa ngantuk, sayapun tertidur.

Jam 00 lewat 10 menit saya terbangun. Astaga!!. Saya belum beli ticket. Buru -buru saya mengambil hape saya.

Sambil ngantuk-ngantuk saya melakukan browsing di Skyscanner terlebih dahulu. Saya ingin mendapatkan ticket murah dari Denpasar ke Jakarta pada sekitar pukul 19.30 malam. Biar nggak terburu buru dan saya bisa lebih lama di rumah.

Saya mendapatkan calon ticket dari maskapai penerbangan Lion dari Denpasar ke Jakarta pada jam yang saya inginkan lewat Nusa Trip. Harganya 1 juta 400 ribuan. Ini oke lah. Lumayan murah dibanding Garuda. Setelah mengisi data data yang lengkap saya memproses pembayaran dengan kartu kredit. Jaringan berputar-putar dan tiba-tiba Ops!. Ticket sudah terjual habis.

Aduuh. Kecewa saya. Saya menyesali diri. Mengapa tadi saya tidak mendengarkan kata-kata adik saya agar membeli ticket lebih awal. Sekarang saya harus mengulang lagi melakukan browsing. Mencari jam penerbangan lain atau maskapai lain. Padahal mata saya masih terasa ngantuk.

Ooh… tapi ini tiba-tiba muncul suggestion untuk memilih penerbangan lain dari Tiket.com. Pop up di layar hape saya. Ada 2 suggestion. Yang pertama langsung menarik perhatian saya. Lion jam 19.45 dan harganya 840 ribuan. Lebih murah lagi. Aha!. Ini harga yang bagus dan jam yang bagus. Mengapa tidak nongol dari tadi aj ya?. Lalu sayapun meng-click pilihan penerbangan itu. Prosesnya cepat dan saya langsung membayar. Tidak seperti tadi. Done!. Selesai sudah 👏👏👏. Lega hati saya.

Karena masih terasa ngantuk, saya berbaring lagi sambil menunggu kiriman ticket lewat e-mail. Tak berapa lama akhirnya e-mail masuk. Konfirmasi ticket. Saya buka attachment-nya untuk memastikan ticketnya benar.

Astaga!!!!!. Ticketnya salah!. Route penerbangannya terbalik. Dari Jakarta ke Denpasar. Bukan dari Denpasar ke Jakarta seperti yang seharusnya. Waduuuuh…. ticket ini nggak bisa saya pakai. Bagaimana cara saya terbang dari Jakarta , padahal saya sedang ada di Bali???.

Seketika saya melek. Hilang ngantuk saya. Mengapa bisa begini ya????. Saya mencoba menelusuri kesalahannya. Karena jelas-jelas tadi saya mengetik tujuan Jakarta dari Denpasar. Kok bisa berubah?. Sedih sekali hati saya. Karena keteledoran saya duit 840 ribuan melayang begitu saja. Saya merasa berdosa karena sudah menghambur -hamburkan uang begitu saja. Padahal jika saya sedikit saja lebih berhati-hati, mungkin uang itu bisa saya manfaatkan untuk saya sendiri ataupun untuk kebutuhan orang-orang yang saya cintai.

Akhirnya saya menghubungi pihak Tiket.com, untuk membatalkan dan merefund ticket. Saya diberitahu bahwa tiket bisa dicancel, tapi maximum refund hanya 50%. Secara umum sih pelayanannya cepat dan baik. Cuma ya itu….. refundnya itu kok cuma 50% ya?. Sayang saja uang saya melayang 420 ribu hanya dalam hitungan menit akibat kesalahan saya sendiri.

Setelah itu saya mengulang membeli tiket lagi yang benar. Dapat tiket dengan harga yang lebih mahal dan jam yang lebih awal. Apa boleh buat.

Pelajaran yang saya petik adalah:

1/. Jangan pernah membeli ticket online di tengah malam, saat kondisi mata mengantuk. Karena dalam keadaan mengantuk, tingkat ketelitian kita menurun.

2/. Selalu lakukan pemeriksaan 2 x terhadap data data dan informasi tentang tiket yang kita beli (rute penerbangan, tanggal penerbangan, data penumpang, alamat email, harga, biaya yang dicover termasuk apa saja i.e bagasi, meals dst) sebelum membayar.

3/. Berhati -hati terhadap Pop-Up Promo ataupun informasi yang muncul di tengah proses booking. Pastikan baca informasi dengan baik dan detail termasuk tanggal penerbangan dan rute penerbangan. Jangan tergiur oleh harga murah saja.

Saya rasa, saya bermasalah di sini karena berasumsi bahwa rute penerbangan yang ditawarkan adalah sama dengan yang saya ketik sebelumnya. Padahal yang ditawarkan oleh Tiket.com adalah rute peberbangan lain dengan harga yang lebih murah.

4/. Pesan tiket jauh jauh hari sebelumnya untuk memastikan ketersediaan tiket dan harga yang baik.

Menguji Nyali di De Brokong: Ziplines Di Atas Hamparan Sawah Hijau.

Standard
Menguji Nyali di De Brokong: Ziplines Di Atas Hamparan Sawah Hijau.

Berada di rumah untuk urusan adat dan upacara yang super padat, membuat anak saya bertanya. “Kapan kita main, Ma?. Kan sudah di Bali???”. Whuala anakku……, pikirannya kalau ke Bali cuma liburan. Kita ini pulang kampung. Untuk menghadiri upacara adat keluarga. Bukan liburan.

Anak saya tampak kecewa. Untunglah seorang teman akrab mengajak bermain ke DeBrokong. Tempat wisata baru di Bangli. Seketika wajahnya tampak bersemangat lagi.

Seusai upacara berangkatlah kami ke sana. Lokasinya ada di desa Bangbang, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli. Gampang sih mencarinya. Dari rumah saya sebenarnya sangat dekat. Cuma 15 menit.

Waaah…ternyata tempatnya asyik banget. Berada di kebun belakang dengan pemandangan sawah yang sangat indah. Hijau royo-royo. Di sana terbentang 5 Zip lines melintasi sawah kurang lebih berjarak 100 meter di atas ketinggian 7.5 meter hingga 9.5 meter.

Wahana Flying Fox tetapi dengan standard keamanan international. Waah…keren banget.

Terlihat ada sebuah anjungan di sana. Kelihatannya enak nih duduk-duduk di sini sambil ngopi.

Sementara saya memandang hamparan sawah sambil memperhatikan burung burung bangau yang terbang dan hinggap mencari makan di sawah, teman saya memesankan kopi dan Jaja Laklak (sejenis kue serabi dari tepung beras dengan topping kelapa parut dan disiram dengan gula merah cair yang rasanya sangat mantap). Jaja Laklak-nya sangat istimewa dan baru dibuat langsung. Jadi baru matang dan masih hangat. Enak banget. Sungguh. Selain itu teman saya juga memesankan kami Kacang Rebus. Whuesss… mantap banget buat teman nyantai dan nongkrong -nongkrong di sini.

Anak saya tidak sabaran untuk bermain di Zip lines yang kelihatan sangat menantang itu.

Melihat antusiasnya, I Dewa Gede Ngurah Widnyana, sang pengelola De Brokong pun tidak segan untuk turun tangan memberikan Safety Brief dan Teknik bermain yang benar pada anak saya. Saya ikut mendengarkan. Sangat detail dan hati hati di setiap tindakan yang diambil. Berkali-kali ia mengingatkan kepada anak saya agar selalu Focus dan Disiplin. Seketika saya paham.

Bedanya De Brokong dengan wisata outbond lokal yang punya flying fox lain adalah dari International Safety procedurenya yang diimplementasikan dengan sangat baik. Itu yang membuat saya sebagai orang tua merasa tenang akan keselamatan anak saya jika bermain di situ.

Menggelayut di Ziplines.

Ini adalah wahana yang paling menarik perhatian anak saya sejak pertama. Sekarang ia mulai memasang perangkat keamanannya. Dengan instruksi yang sangat jelas dari Dewa Gede.

Tapi ini di ketinggian dan anak saya akan meluncur di tali itu. Saya merasa sangat deg-degan. Nyaris nggak berani melihat. Hanya bisa berdoa untuk keselamatan anak saya. Melihat perangkat keamanan dan prosedurnya, akhirnya hati saya tenang kembali. Saya mulai bisa mengambil posisi untuk memotret anak saya.

Ia kelihatan tenang memindahkan cangklingannya dan menggenggam puley lalu…. zwiiiiiing…..ia pun meluncur di udara bebas. Oooh….. Tampak ia sangat menikmati perjalanan udaranya menuju tower di seberang dengan mulus. Ia pun mendarat dengan sukses di tower berbendera merah putih itu.

Setelah menikmati pemandangan sejenak dari tower di seberang, berikutnya anak saya kembali ke pangkalan dengan zipline yang berbeda.

Menurut teman saya, semua zipline akan landing dengan sempurna karena semua konstruksi dan pemasangan sudah menggunakan perhitungan fisika yakni derajat kemiringan dan mengandalkan grafitasi. Dengan demikian zipline sangat ramah lingkungan tanpa perlu bantuan daya listrik dan mesin penggerak. He he…benar juga ya.

Lalu bagaimana jika ternyata, entah karena gerakan kita yang salah ataupun penyebab lain kita nyangkut di tengah- tengah?. Tidak maju dan tidak mundur pula?. Jangan khawatir. Nanti akan ada petugas yang akan menjemput. Waah… keren ya.

Saya melanjutkan minum kopi, sementara anak saya masih terus ingin bermain…

Tombori River Walk Experience.

Standard

Hari berikutnya di Osaka, kami berniat mencoba tour sungai dengan arah yang berbeda dan lebih jauh dari yang pernah kami alami di Dotonburi. Nah, ketemulah paket wisata sungai “Tombori River Walk”. Karena kami memiliki Osaka Pass, maka kami datang ke tempat di mana kami bisa mendaftar. Tempatnya di pinggir sungai di dekat jembatan Nipponbashi.

Rupanya kami tiba terlalu pagi. Tempat mendaftar itu masih sangat sepi. Nyaris tak ada orang. Hanya keluarga kami saja. Tapi tempat ini indah sekali. Ada tempat duduk -duduk di situ.

Saya masuk ke sebuah warung kecil yang satu satunya buka pagi itu. Oh, rupanya kami bisa book ticket di sana. Diinformasikan bahwa perahu akan tiba pukul 11.00 . Kamipun menunggu sambil duduk duduk dan minum jus.

Pukul 11 benar saja perahu tiba. Kami akan menyusuri sungai menuju dermaga yang dekat dengan Osaka Castle.

Perjalananpun di mulai.

Saya memandang ke kiri dan ke kanan sungai. Banyak gedung gedung dan bangunan lain. Juga bunga bunga yang cantik.

Sungai di sini sangat bersih. tak ada satupun sampah mengambang. Kesadaran warga akan kebersihan sangatlah tinggi. Tak ada satu orangpun yang membuang sampah sembarangan.

Sesekali burung air bermain di tepian sungai.

Apa yang menarik dari perjalanan ini?. Selain pemandangan yang indah, saya memperhatikan jika pemerintahan di Osaka ini sungguh sangat efisien dalam soal tata ruang. Contohnya, memanfaatkan sungai untuk jalur wisata / transportasi sungai, dan diatasnya sekalian ditumpangi dengan jalan raya dan atau rel kereta. Sehingga sarana transportasi tidak banyak memakan space.

Hal bagus lainnya adalah adanya pintu pintu sungai.

Saat menyusuri sungai ini, perahu tiba tiba berhenti. Oooh… mengapa?. Rupanya ada sebuah rintangan di depan. Mirip tembok atau bangunan memanjang yang menutup sungai. Terpaksa kami parkir dulu beberapa menit, menunggj pintu air itu dibuka pelan-pelan. Barulah kapal yang kami tumpangi bisa lewat. Setelah kami lewat, pintu air itu menutup kembali.

Sebenarnya saya tidak tahu persis apa gunanya pintu air ini. Saya pikir mungkin ada hubungannya dengan pengaturan volume air. Tapi apapun itu, saya rasa bagus juga untuk membantu operasi pengawasan lalu lintas sungai. Misalnya nih, jika ada seorang penjahat kabur lewat sungai, maka pintu air ini bisa dimanfaatkan untuk nencegat perjalanan si penjahat (he he…ini mungkin efek kebanyakan menghayal 😀😀😀).

Kami terus berperahu hingga sampai di dermaga yang tak jauh dari stasiun Osaka-jokoen dekat Osaka Castle.

Hokoku Shrine di Osaka.

Standard

Di seberang pintu gerbang Osaka Castle, terdapat sebuah Shrine yang menarik hati saya. Kelihatan sangat simple dan elegan. Rasanya mengundang saya untuk masuk.

Di tengah halaman terdapat patung seorang samurai dengan pedangnya. Rupanya itu adalah Toyotomi Hideyoshi.

Jadi Shrine atau tempat suci ini memang didedikasikan husus untuk Toyotomi Hideyoshi.

Kisah Kekuasaan Dan Perang di Osaka Castle.

Standard
Kisah Kekuasaan Dan Perang di Osaka Castle.

Seringkali saat membuka sosial media, kita disuguhin iklan travel agent “Terbang murah ke Osaka “, lengkap dengan gambar sebuah kastil berwarna hijau, yang terlihat sangat artistik dan ikonik. Nah kastil digambar itulah yang bernama Osaka Castle yang terkenal itu.

Karena Osaka Castle ini merupakan ikonnya kota Osaka, rasanya saya sangat rugi jika tidak mengunjunginya saat berada di kota ini. Jadi pagi pagi dan dengan semangat tinggi kami pun berangkat ke sana dengan menggunakan train ke stasiun Tanimachi Yonchome dan berjalan kaki ke Osaka Castle yang tidak terlalu jauh dari sana.

Saat kami tiba, matahari masih belum terlalu tinggi dan tidak terlalu menyengat. Kami masuk dengan mudah karena menggunakan kartu pass paket yang dibelikan keponakan saya sehari sebelumnya.

Osaka Castle tampak megah menjulang dengan kombinasi warna putih dan genteng hijau , dengan ornamen warna emas di sana sini. Di lantai atas terlihat gambar macan emas dengan latar belakang warna hitam yang menjadi ciri khas istana ini.

Setelah mengantri sejenak, saya memutuskan untuk menaiki tangga secara manual daripada menggunakan eskalator. Bukan karena sok kuat menaiki tangga istana yang tinggi ini, tetapi saya ingin menikmati apa yang disuguhkan di setiap lantai istana ini. Walaupun tidak semuanya bisa saya ambil fotonya karena di beberapa tempat ada larangan menggunakan kamera.

Osaka Castle dibangun pada tahun 1583 oleh Toyotomi Hideyoshi, seorang Damyo yang sangat mashyur pada jamannya. Istana terditi dari sebuah bangun bertingkat yang berdiri di atas pondasi batu, dikelilingi oleh parit penuh air untuk menghalangi musuh agar tidak mudah menyerang.

Menutut catatan, istana ini pernah hancur saat diserang oleh Tokugawa Ieyasu pada tahun 1615 yang sekaligus mengakhiri kekuasaan garis keturunan Toyotomi di Jepang. Dan digantikan oleh Trah Tokugawa.

Namun 5 tahunnya kemudian (1620), putra Tokugawa Ieyasu yang bernama Tokugawa Hidetada memperbaiki kembali istana ini, namun sayangnya, menara istananya tersambar petir pada tahun 1665. Dan tampilan istana seperti yang bisa kita lihat hari ini sesungguhnya adalah hasil renovasi pada tahun 1997, di mana istana ini sekarang sudah dilengkapi dengan eskalator dan dijadikan museum yang dibuka untuk publik.

Saya yang memilih untuk naik ke atas lewat tangga biasa menemukan berbagai hal menarik mulai dari lantai dasar.

1/. Lantai Dasar.

Di sini saya melihat ada information center dan toko cinderamata.

2/. Lantai Dua .

Berisi fakta-fakta dan figur tentang Osaka Castle.

Begitu tiba di lantai dua, kami disuguhi pemandangan seekor Macan emas (Fusetora) dan seekor ikan lumba lumba emas legendaris ( Shachi). Dua mahluk ini kelihatannya penting artinya vagi istana Osaka, sebab digunakan juga sebagai hiasan di atap dan dinding atas istana dan bisa dilihat dari luar istana.

Dilantai ini juga dijelaskan tentang sejarah Osaka Castle.

3/. Lantai Tiga.

Ini adalah lantai yang dimana penggunaan kamera dilarang. Isinya adalah pameran benda benda peninggalan kerajaan dan peralatan perang. Jenis jenis anak panah, pedang samurai, tempat anak panah, penutup kepala kuda dan sebagainya.

Ada juga model dari Osaka Castle.

4/. Lantai Empat.

Sama halnya dengan lantai 3, di lantai 4 ini pun kami dilarang memotret. Berisi tentang Hideyoshi Toyotomi pada jamannya. Ada artifak artifak yang dipamerkan. Ada pakaian perang yang saya rasa sangat berat jika dipakai.

Lalu informasi tentang Osaka Castle Hystory – saat direkonstruksi oleh Shogun Tokugawa.

5/. Lantai Lima.

Di lantai ini saya menemukan kisah kekuasaan trah Toyotomi sejak Osaka Castle ini berdiri, hingga trah Tokugawa yang berkuasa silih berganti hingga lebih dari 200 tahun. Panjang juga ya.

Disini dipertontonkan ” The Summer War in Osaka” lewat panorama vision. Menceritakan peperangan sengit antara pasukan Yukimura Sanada dan Tadanao Matsudaira. Nah… siapa pula ini?.

Lalu ada juga diagram bendera bendera pasukan mana berperang dengan mana. Tambah bingung saya ha ha.

Saya yang sesungguhnya tidak menyukai perang dan sangat tidak tertarik akan perang, sungguh sangat sulit untuk mencerna kisah pilu ini. Jadi saya lewati saja, walau hati saya kepalang teriris memikirkan pedihnya perang.

6/. Lantai Enam.

Tidak terbuka untuk umum.

7/. Lantai Tujuh.

Isinya diorama tentang kehidupan Hideyoshi Toyotomi yang membangun Osaka Castle dan berhasil menyatukan bangsa Jepang.

Lalu ada Osaka Castle History saat periode Ishiyama Honganji.

8/. Lantai Delapan.

Ini adalah Observation Deck. Dari ketinggian lantai 8 istana ini (kurang lebih 50 meter di atas tanah), kita bisa melihat pemandangan luar istana Osaka beserta pait paritnya. Dan juga di kejauhan keseluruhan kota Osaka yang indah.

Naik ke lantai ini ternyata lumayan gempor juga. Tapi senang juga karena melihat ada banyak cerita sejarah yang bisa saya cerna dari istana ini.

Sehari di Kota Nara, Bisa Lihat Apa Saja?

Standard

Kota Nara, terkenal sebagai kota tua dengan banyak sekali memiliki peninggalan sejarah peradaban Jepang, terutama kuil-kuil Budhist.

Saking banyaknya tempat tempat menarik yang bisa dikunjungi di Nara, sesungguhnya kunjungan sehari ke kota ini tidaklah cukup untuk melihat semuanya. Jadi kita harus memilih yang mana yang memungkinkan kita kunjungi dalam sehari.

Kami memilih Nara Park dan area sekitarnya (area yang berwana hijau di peta di atas) untuk kami kunjungi dalam sehari. Karena menurut Nara Sightseeing Map yang saya dapatkan Kintetsu – Nara Station Tourist Information Center, ada cukup banyak tempat menarik dengan lokasi yang berdekatan di tempat itu.

Kami berangkat dari Osaka sekitar jam 9 pagi dan tiba di Kintetsu Station di Nara setengah jamnya kemudian. Lalu apa saja yang bisa kami lihat dalam sehari di Nara?:

1/. Kofukuji Temple.

Kofukuji Temple adalah sebuah kompleks Kuil Budha yang luas yang terdiri atas beberapa bangunan antara lain sebuah Pagoda bertumpang lima yang merupakan simbol dari kota Nara. Dibangun di abad ke 7. walaupun pernah direkonstruksi beberapa kali misalnya pada tahun 1426.

2/. Taman Rusa.

Ada beberapa tempat di Nara Park ini yang dipenuhi dengan rusa. Mulai dari sekitar Kofukuji Temple , tak jauh dari Nara National Museum hingga sekitar Todaiji Temple.

3/. Yoshikien Garden.

Taman cantik yang dulunya merupakan cabang dari Kofukuji Temple ini menyajikan pemandangan taman khas jepang dengan memasukkan unsur kolam, bunga Azalea, Pinus Jepang , kerikil dan lumut.

4/. Todaiji Temple.

Ini adalah kuil yang samgat terkenal di mana ditempatkan sebuah patung Budha Vairocana yang sangat besar yang dikenal dengan Daibutsu (Great Budha).

5/. Nandaimon.

Nandaimon adalah Gerbang Selatan dari Todaiji Hall yang ukurannya sangat luar biasa. Dan merupakan gerbang terbesar yang ada di Jepang.

Sebenarnya masih banyak sekali yang belum sempat kami kunjungi di Nara, seperti misalnya Kasuga Taisha Shrine yang lokasinya sebenarnya masih di sekitar Nara Park juga, tapi karena keburu sore ksmi tak sempat mampir.

Lalu ada Isuien Garden, Heijo Palace, The Garden of Kasuga, Taisha Shrine, Nara City Museum of Art, Toshodaiji Temple, Yakushiji Temple, Naramachi Traditional Townhouse, Gongoji Temple, Nara National Museum, Narakogei-kan Craft Museum. Sugioka Kason Calligraphy Museum, Naramachi Toy Museum, dan sebagainya masih banyak lagi.

Kelihatannya perlu tinggal beberapa hari agar bisa melihat berbagai tempat menarik di kota tua ini.

Nandaimon.

Standard

Bangunan yang menarik hati saya saat mengunjungi Todai-ji Temple di Nara adalah sebuah pintu gerbang raksasa yang disebut dengan Nandaimon. Jika diterjemahkan artinya adalah Gerbang Besar Selatan (Great South Gate). Disebut begitu karena pintu gerbang yang besar ini memang merupakan pintu gerbang selatan dari Todaiji temple. Dan saya mendapat informasi bahwa Nandaimon ini adalah pintu gerbang yang terbesar yang ada di Jepang.

Terbuat dari kayu yang sangat kokoh, gerbang ini memiliki 3 pintu yang sama ukurannya.

Di bagian kiri kanan pintu ini ditempatkan 2 patung raksasa dari dewa pelindung yang disebut Kongorikishi.

Walaupun umurnya sangat tua, gerbang kayu tua ini terlihat sangat antik dan tetap gagah.

Mengunjungi Todai-ji Temple di Nara.

Standard

Selepas menikmati keindahan taman di Yoshikien Garden, kami melangkah keluar menyusuri jalan di perumahan di kota Nara untuk menuju ke Todaiji Temple.

Menurut peta, harusnya letaknya tidak terlalu jauh dari Yoshikien Garden ini. Jadi kami yakin bisa ke sana tanpa tersesat.

Setelah berjalan kira kira 15 menit, sampailah kami di gerbang kuil Todaiji ini. Sempat melihat-lihat dari luar. Keponakan saya ragu apa kita perlu masuk atau tidak. Setelah dicheck ternyata ticketnya tak seberapa mahal. 500 yen per orang jika hanya ingin mengunjungi Templenya saja. Atau 800 yen jika ingin mengunjungi Temple + Museum.

Karena sudah agak sore, kami memutuskan untuk berkunjung ke templenya saja.

Saya berjalan ke arah Budha Hall, mampir ke tempat air untuk membersihkan tangan dan wajah saya, lalu ke tempat pedupaan dan menyalakan dupa sebentar sebelum memasuki ruangan.

Templenya sendiri berupa satu ruangan yang sangat besar di mana sebuah patung Budha Vairocana ditempatkan di sana. Sehingga ruangan itu sering juga disebut dengan Budha Hall atau Daibutsuden.

Patung Budha ini sungguh sangat besar. Berdasarkan informasi beratnya 550 ton. Tingginya ada sekitar 15 meter. Di sekeliling belakang kepalanya terdapat lingkaran cahaya emas.

Ditempatkan di atas kelopak bunga Padma (lotus)

Saya menyempatkan diri untuk merenung dan berdoa sejenak di tempat itu.

Selain patung Budha yang sangat besar ini, di kiri kanan Budha juga ditempatkan 2 buah patung Dewa, yakni Kokuzo Bosatsu (Dewa Ruang).

Dan satunya lagi adalah Nyoirin Kannon ( Dewa Keberuntungan).

Jika kita berjalan mengelilingi aula, di bagian samping agak pojok belakang, kita juga menemukan 2 buah patung raksasa yang merupakan dewa dewa penjaga.

Dewa dewa ini diyakini menjaga Budha dari hal hal yang buruk.

Mereka adalah Koumokutan ( Dewa Barat).

Dan Tenmontan ( Dewa Utara). Patung dewa dewa ini terbuat dari kayu balok yang diukir dengan sangat indahnya.

O ya, hampir lupa bercerita, di dekat patung Dewa Tenmontan ini terdapat sebuah pilar denganlubang di tengahnya. Kelihatannya sangat sempit, tetapi saya lihat ternyata ada beberapa orang yang bisa lolos masuk ke dalamnya. Baik anak kecil maupun orang dewasa.

Yoshikien Garden di Nara.

Standard

Ada banyak sekali Garden di Nara. Yoshikien Garden adalah salah satu yang sempat saya kunjungi. Garden ini sangat indah, terdiri dari 3 bagian, yakni taman yang ada kolamnya, bangunan tempat minum teh dan taman lumut.

Awalnya saya pikir kami akan membayar jika masuk ke garden ini. karena itu yang saya tangkap di plang depan taman ini. Kami juga diminta untuk menunjukkan passpor kami kepada petugas. Tetapi entah kenapa, mereka tidak memungut bayaran dari kami.

Ooh…tentu saja kami sangat berterimakasih kepada petugas itu. Kamipun masuk ke dalamnya melalui sebuah tangga kecil.

Begitu masuk terlihat pemandangan menakjubkan dari sebuah kolam yang posisinya agak dibawah.

Dikelilingi oleh bunga bunga Azalea yang cantik dan pohon pinus jepang yang bentuknya sangat artistik. Seorang petugas gardening kelihatan sedang memangkas tanaman dan merapikan taman.

Saya sungguh merasa takjub dengan pohon pinus di situ. Mirip bonsai yang dibentuk tangan manusia, tetapi dalam ukuran besar.

Hujan turun gerimis. Saya berteduh sebentar di emperan bangunan sambil melongokkan kepala melihat melalui jendela kaca.

Selembar kertas tertempel di situ. Rupanya jendela kaca bangunan itu terbuat secara traditional dari hadmade glass. Bukan kaca pabrikan. Waaah!!!. Luarbiasa ya.

Di pojok taman ada sebuah parit yang cukup dalam dan di seberangnya tampak sebuah pagoda bertumpang 13 yang menurut saya sangat mirip dengan meru. Keseluruhan landscape taman itu tampak sangat cantik dan menarik.

Setelah reda, saya berjalan menyusuri jembatan kecil dan jalan setapak yang menanjak.

Ada sebuah bangunan kecil di atas sana. Kelihatannya tempat orang minum teh. Jika kita memandang tepat ke pintunya, di seberang sana tampak sebuah taman lain yang indah. Sayang pengunjung tidak diperkenankan masuk ke sana.

Didepannya ada sebuah tempat air. Mungkin sebelum masuk ke ruangan suci itu, tamu diharapkan mencuci tangan atau kaki di sana.

Saya mengambil jalan memutar untuk sampai ke taman di seberang sana. Tempat yang sangat indah. sejuk. dan terasa sangat tenang dan damai.

Sebagai catatan, sesuai dengan yang tertera di pintu gerbang, di taman Yoshikien ini rupanya pada suatu masa adalah lokasi dari cabang Kofukuji Temple yang disebut dengan “Manishuin”. Ini menurut mereka berdasarkan foto lama dari Kofukuji Temple. Namun ketika Jepang memasuki periode Meiji (1868 – 1912), tempat ini dimiliki oleh perorangan. Setelah konstruksi dari bangunan dan taman tang sekarang pada tahun 1919, tempat ini kemudia sering dimanfaatkan untuk menerima tamu tamu VIP dari perusahaan swasta. Pada tahun 1980, Nara Perfecture mengambil alih tempat ini dan dibuka untuk publik.

Sebagai informasi, taman ini terbuka untuk umum dari jam 9 pagi hingga jam 17.00. Pintu masul terbuka hingga pukul 16. 30. Jadi kalau teman teman pembaca ada yang ingin berkunjung ke sini, jangan terlalu sore.