Tag Archives: Travelling

Liburan Di Bali: Penglipuran.

Standard
Liburan Di Bali: Penglipuran.

Jalan-jalan lagi. Mumpung masih libur. Kemana lagi? ” Ke mana saja, yang penting jalan” kata anak saya. O ya, kita ke Penglipuran saja ya. Selain tempatnya sangat dekat dari rumah (paling 10 menit), juga saya dikasih tahu jika hari itu adalah hari terakhir “Penglipuran Village Festival 2017”. Festival yang berlangsung selama 2 minggu ini dipenuhi dengan agenda kesenian yang padat, mulai lomba tari, barong, peragaan busana dan sebagainya. Juga ada pameran kerajinan. Wah…harus kita kunjungi ini.

Baiklah, kita jalan-jalan ke Penglipuran ya. Sebelumnya saya sudah pernah mengajak anak-anak ke sini. Tapi mungkin karena waktu itu mereka masih kecil-kecil, sudah agak lupa lagi. Karenanya, kembali saya mengulang sedikit cerita tentang keistimewaan desa ini dibanding desa-desa lainnya di Bali. Desa ini masih mempertahankan tradisi aslinya dengan relatif sangat kuat, termasuk arsitektur dan penataan ruangnya yang srjalan denfan konsep Tri Hita Karana, sehingga jika kira ingin melihat potret desa-desa di Bali jaman dulu, kurang lebih mirip seperti tampilan Desa Penglipuran inilah kira-kira.

Selain itu di desa Penglipuran juga terdapat Taman Makam Pahlawan pejuang yang mempertahankan kemerdekaan Indonesia hingga titik darah penghabisan.

Kami tiba di sana saat gerimis mereda. Matahari mulai menyembul malu malu. Membuat siang itu terasa cukup sejuk dan nyaman untuk jalan jalan.

Kali ini kami masuk dari bagian ujung atas desa. Baru tahu kalau di sini sekarang ada tempat parkir dan puntu masuk. Biasanya dari tengah. Lama tak pulang, jadi agak kurang update nihπŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

Saya membayar ticket masuk untuk 6 orang. Pengunjung sangat ramai. Kebanyakan wisatawan domestik dan berbaur dengan beberapa wisatawan asing juga. Nah kalau begini sulit percaya bahwa letusan Gunung Agung membuat jumlah kunjungan ke Bali berkurang. Wong ramenya kayak gini…

Tapi logika saya tempat-tempat wisata yang kenyataannya kebanyakan berada di luar radius 12 km dari Gunung Agung harusnya memang tidak kena pengaruh sih. Kan jauh banget jaraknya dari Gunung Agung. Pastinya aman dari dampak letusan.

Saya menunggu spot jalanan yang sedikit kurang rame agar bisa merekam kerapian dan kecantikan desa ini.

Kami menuruni jalanan yang bertingkat. Melihat lihat rumah-rumah penduduk dan jalanan yang tertata rapi dan nyaris seragam.

Bersih dan permai sekali desa ini. Bunga-bunga beraneka warna bermekaran mengundang puluhan kupu-kupu berbagai jenis berdatangan. Desa yang indah seperti dalam taman. Kedamaian yang tercermin dari kehidupan penduduknya yang memang tentram dan damai. Inilah Pedesaan Bali.

Beberapa rumah terlihat memajang barang dagangan berupa minuman khas daerah Bangli, yakni Loloh Cemcem dan Loloh Bungan Teleng serta Kue Kelepon. Kangen akan Loloh Cemcem, sayapun membeli sebotol. Kebetulan haus juga.

Dari sana kami kemudian melihat-lihat pameran. Ada banyak stand di sana menawarkan berbagai rupa barang. Mulai dari perhiasan, gelang, kalung, keben, sandal, sabun, makanan, pakaian, dan sebagainya, hingga stand merk kendaraan pun ada. Anak saya yang kebetulan suka musik tiup, melihat ada suling bambu dijajakan juga di sana dengan harga yang sangat masuk akal. “Mau beli yang ini. Karena saya belum punya yang model begini” kata anak saya sambil membayar. Iapun mencoba suling barunya dengan penuh ingin tahu.

Saya sendiri dan kakak saya tertarik untuk melihat-lihat di sebuah stand buku. Anak saya yang besar menyusul. Ada banyak buku-buku yang sulit saya temukan di toko -toko buku di Jakarta. Whuah… borong buku sajalah kalau gitu. Mumpung lagi ada di Bali. Bagi saya ini harta yang lebih berharga. Dan saya selalu berpikir tak pernah merugi jika uang habis dibelikan buku. Gara gara beli buku banyak, pak pedagang yang hatinya senang lalu memberi kami potongan harga dan mengajak selfie πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

Sebenarnya saya ingin membeli keben dan antri karena melihat pedagang yang cantik sedang melayani pembeli yang lain, tapi karena kemudian anak saya yang kecil berbisik lapar, saya jadi lupa deh mampir lagi ke sana.

Seorang kawan kakak saya yang bertemu di sana, mengajak kami mencoba Be Jair Nyatnyat, masakan khas Bangli dengan ikan mujair Danau Batur. Benar. Sungguh enak masakannya. Bumbunya pas.

Mantap deh. Sayang sekali kami tak sempat menonton pertunjukan ataupun lomba yang berlangsung di sana. Mudah-mudahan tahun depan saya bisa pulang lebih lama lagi dan bisa ikut menonton Penglipuran Village Festival 2018, mengingat ini adalah ajang budaya tahunan bagi Bangli.

Terlepas dari seberapa suksesnya ajang “Penglipuran Village Festival” ini (saya tidak punya informasinya), saya pikir ini adalah salah satu bentuk event yang sangat baik untuk memasarkan pariwisata Bangli, terutamanya jika kita bisa memanfaatkan media dan digital dengan baik dan mencari cara agar para netizen ikut bergabung men”generate” content pemasaran tentang Penglipuran.

Hanya satu pertanyaan saya dalam hati, mengapa festival ini ditutup tanggal 30 December ya? Mengapa tidak tanggal 3 Januari saja misalnya? Bukankah pada tanggal tanggal setelah tgl 30 December itu kunjungan wisatawan justru meningkat karena kita tahu banyak orang datang ke Bali untuk bertahun baruan? Tanggung amat yak?. Padahal dari sudut pandang pemasaran, sisa 4-5 hari itu adalah “low hanging fruits” yang sangat mudah dipetik.

Di dalam pikiran saya nih, ada dua pilihan waktu untuk mengoptimalkan kunjungan wisatawan ke Penglipuran Village Festival.

Pilihan pertama adalah “ride on” waktu liburan yang memang biasanya dibanjiri wisatawan. Misalnya liburan sekolah, atau liburan tahun baru. Jangan ditutup sebelum tanggal 3 Januari misalnya. Sehingga kita bisa mengalihkan kunjungan wisatawan ke Penglipuran dengan lebih banyak. Karena selain wisata biasa mereka juga bisa melihat festival tahunan di Penglipuran. Ini memberi nilai kunjungan plus plus bagi wisatawan.

Pilihan kedua, adalah justru memanfaatkan “low season”, di musim dimana jumlah kunjungan biasanya menurun. Manfaatkan Festival sebagai daya tarik extra untuk membuat Desa Penglipuran “always on” dari sudut pandang wisatawan.

Atau jika dua pilihan itu tidak cocok, sekalian saja deh diselenggarakannya dalam rangka Hari Pahlawan. Kalau yang ini tentu tidak optimal dari sisi bisnis, tapi tetap baik dari sisi kebangsaan.

Ah… ini hanya pikiran saya saja yang tidak tahu persis latar belakang dan pertimbangannya. Tapi saya percaya panitia dan pemerintah desa/daerah tentu sebelumnya telah memikirkan tentang waktu pelaksanaan ini dengan baik. Dan apapun itu, pokoknya saya sudah senanglah dapat berkunjung lagi ke Penglipuran.

Love you, Penglipuran!. Semoga Bangli makin sukses dari tahun ke tahun!.

Advertisements

Liburan Di Bali: Toya Devasya.

Standard
Liburan Di Bali: Toya Devasya.

Jika pulang ke Bali, biasanya saya hanya tinggal di rumah orang tua saya saja di Bangli. Rumah masa kecil yang selalu memberi rasa nyaman. Sesekali saya juga mampir ke rumah ibu saya di Banjar Pande atau ke rumah kakek saya di tepi danau Batur, atau bertemu keluarga ataupun teman yang ngajak saya mampir ke rumahnya. Sangat jarang kami pergi ke tempat wisata. Sebagai akibat, anak-anak saya tidak begitu nyambung jika teman-temannya bercerita tentang tempat- tempat wisata di Bali. “Rumah di Bali kok nggak tahu tempat wisata di Bali?”. Ya…karena kalau di Bali biasanya cuma di rumah saja.

Liburan kali ini saya mengajak anak anak jalan-jalan. Ke mana sajalah, termasuk salah satunya ke Toya Devasya, salah satu tempat wisata air panas di tepi danau Batur di Kintamani. Natural Hotspring!.

Toya Devasya ini bisa kita tempuh kurang lebih dalam 1.5 jam dari Denpasar. Arahnya ke utara, ke Kintamani. Naik teruuus… hingga kita tiba di Penelokan, di tepi kaldera gunung raksasa purba.

Penelokan. Sesuai namanya Penelokan (asal kata dari ” delok” artinya lihat/ tengok; Penelokan = tempat melihat pemandangan), dari sini kita bisa memandang ke dalam kaldera yang di dalamnya terdapat danau Batur dan Gunung Batur yang sungguh sangat indah.

Nah dari sana itu kita menuruni jalan yang ada menuju tepi danau. Tiba di desa Kedisan, kita berbelok ke kiri. Kembali menyusuri jalan sambil melihat-lihat pemandangan yang luar biasa indahnya. Di kanan adalah danau biru dan bukit bukit yang menghijau. Lalu di sebelah kiri, gunung Batur dengan landscape batu batu lahar gunung berapi. Kira kira limabelas menit perjalanan, tibalah kita di Toya Bungkah, nama tempat di mana Toya Devasya ini berlokasi.

Walaupun sudah agak sore, Toya Devasya tampak ramai. Parkiran hampir penuh dengan kendaraan tamu-tamu yang entah menginap, sekedar makan di restaurant ataupun berenang. Saya dan 5 orang anak keponakanpun masuk ke sana.

Anak-anak dan keponakan yang kecil segera berenang. Ada 6 buah kolam renang di sana. Besar dan kecil. Melihat kolam renang sebanyak itu dan semuanya ramai, saya pikir besar kemungkinan orang-orang datang ke sini memang untuk berwisata air.

Keponakan saya yang lain sibuk hunting foto dan bermain drone di dekat danau.

Saya sendiri dan anak saya yang besar, melihat-lihat pemandangan sekitar. Dari anjungan Kintamani Coffee Housenya saya bisa melihat danau luas yang menghampar berdinding bukit. Di atasnya awan awan putih menutup Gunung Agung di belakangnya. Angin danau berhembus sejuk. Sungguh tenang, damai dan permai di sini. Tempat yang nyaman untuk hanya sekedar menikmati senja, membaca buku, ngopi-ngopi hingga bermain drone.

Kompleks Toya Devasya ini kelihatannya cukup luas. Dan terakhir kali saya kesini barangkali telah lebih dari 5 tahun yang lalu. Jadi penasaran juga, ingin tahu ada fasilitas apa saja di tempat wisata yang lagi naik daun di Danau Batur ini.

Mengikuti rasa ingin tahu, saya dan anak sayapun turun dari anjungan kopi, melihat lihat berkeliling sambil nunggu anak-anak selesai berenang. Kaypooo lah dikit ya πŸ˜€

Persis di bawah anjungan, ada kolam renang yang rupanya lebih banyak diminati oleh wisatawan asing. Patung patung gajah segala rupa menghiasi areal ini termasuk kolam renangnya. Yang menarik adalah, diantara sekian kolam renang yang ada, dua diantaranya berada persis di tepi danau. Memungkinkan kita untuk menikmati pemandangan danau sambil berenang ataupun berendam di air panas.

Tak jauh dari sana saya melihat counter untuk snack dan barbeque. Wah…ini penting, karena biasanya habis berenang renang perut terasa lapar πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€. Tapi saya membayangkan tempat ini juga bakalan penting jika kita bikin acara bakar bakaran bersama teman teman ataupun keluarga. Misalnya pas acara malam tahun baru gitu.

Saya berjalan lagi. Rupanya bagi yang ingin menghabiskan malam di tempat indah ini, Toya Devasya juga menyediakan Villa -villa yang dilengkapi dengan private hotspring pool.

The Ayu Villa. Waduuuh… keren ya.

Saya ditawarkan untuk menginap. Dan anak-anak juga pengen banget. Tapi sayang, besok paginya kebetulan ada acara adat yang harus kami ikuti. Jadi kami tak bisa menginap. Lain kali deh. Mudah-mudahan suatu saat saya bisa menginap di sana.

Disisi barat tak jauh dari kolam renang, saya melihat ruangan restaurant yang juga dilengkapi degan fasilitas untuk ruang meeting dan bahkan panggung indoor.

Selain berenang dan menginap, Toya Devasya juga dilengkapi tempat melakukan Yoga dan Spa yang berfokus pada methode Ayurveda dengan menggunakan bahan-bahan alam. Saya sempat melongokkan kepala saya ke sana. Ada beberapa kamar therapy yang kelihatannya nyaman juga.

Tempat ini rupanya luas juga. Saya melihat ada tempat khusus untuk camping dengan tenda tenda yang disediakan (lupa motret). Saya membayangkan malam tahun baru yang seru di tempat ini. Lalu ada anjungan untuk olah raga air di danau seperti kayaking ataupun tour di danau.

Ada panggung terbuka di sana, yang biasa dipakai untuk pertunjukan pada malam malam istimewa.

Nah…tibalah kami di spot foto yang paling sering saya lihat diupload oleh orang-orang di sosmed. Saya tentu tak mau ketinggalan. Lalu ikut-ikut berphoto di sana. Sebetulnya ada beberapa photo yang diambil sih. Sayangnya sudah terlalu sore dan langit mulai redup. Jadi hasil fotonya tak ada yang bagus he he πŸ˜€.

Matahari terbenam. Malampun tiba. Pak Ketut Mardjana, sang pemilik Toya Devasya beserta istri, mengajak kami makan malam bersama di anjungan Coffee Shop.

Hidangan khas Kintamani yang selalu ngangenin. Ikan Mujair Nyatnyat, Telor Goreng Crispy, Kacang Tanah Goreng, Soup Ikan Kecut… wah…mantap sekali. Makanannya sangat enak. Semua makan dengan lahap. Apalagi anak-anak yang baru habis berenang.

Malam semakin larut, kamipun pamit membawa kenangan indah akan tepi danau Batur dan Toya Devasya.

Terimaksih banyak Pak Ketut dan ibu atas keramahannya. Lain kali kami berkunjung lagi😊.

Ticket Pulang Kampung.

Standard

Liburan akhir tahun tiba. Saatnya melupakan kesibukan ibukota dan kembali menikmati kehidupan pribadi. Pulang kampunglah ya. Habis mau ke mana lagi?. Nggak ada tempat yang lebih nyaman dari yang namanya rumah.

Musim liburan begini, biasanya memberi kesulitan bagi saya untuk pulang kampung ke Bali. Harga ticket pesawat menuju Bali biasanya melambung tinggi nggak kira kira. Padahal nyari waktu bersama anak-anak di luar liburan sekolah juga susah.

Tapi menurut berita, liburan kali ini diperkirakan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Bali menurun akibat Gunung Agung meletus. Berarti ticket pesawat ke Bali mungkin akan melimpah ya, karena tak bakalan banyak yang beli dan harganyapun pasti murah.

Jadi, minggu terakhir kerja, saya belum membeli ticket juga. Agak santai karena saya pikir masih akan ada banyak sisa ticket pesawat ke Bali, selain memang kesibukan kantor yang masih menyita waktu.

Hanya setelah mengintip banyak ticket penerbangan ke Denpasar mulai terjual dan harganya yang makin melambung naik, saya mulai panik. Harga ticket Garuda per sekali jalan hanya Jakarta -Denpasar (bukan bolak balik lho!)/orang, mulai merangkak menuju ke angka Rp 4 juta rupiah! Gile!. Mahal kaleeee!. 3-4 kali lipat harga normal. Rupanya karena tinggal itu satu-satunya penerbangan Garuda yang ticketnya masih tersedia ke Bali untuk tanggal itu. Ticketnya sudah pada habis.

Sementara ticket dari maskapai lain juga sudah pada habis. He he…kirain kali ini penerbangan ke Bali sepi. Ternyata habis ludes. Yang tersisa tinggal 2 penerbangan lagi dengan seat terbatas. Dan harganya, walau tak semahal Garuda namun tetap membuat kantong meneteskan air mata duka 😒😒😒.

Jadi sama aja ya. Ada Gunung meletus ataupun tidak, tetap saja ticket pesawat laris manis dan yang tersisa hanya yang mahal mahal saja.

Akhirnya saya berhasil membeli 3 ticket, untuk saya dan 2 orang anak saya. Rencananya nanti, setiba di Bali, kakak saya yang akan menjemput di bandara. Kebetulan, keponakan saya juga berencana pulang pada malam yang sama dan telah membeli ticket dari maskapai penerbangan lain. Jadwal penerbangannya lebih awal sejam dari jadwal saya. Jadi sekalianlah kakak saya jemput anak, adik dan keponakannya.

Pada hari H, saya berangkat ke Cengkareng lebih awal. Hujan hujan. Biasanya jalanan macet. Lebih baik berangkat lebih cepat daripada telat. Tiba tiba keponakan saya menelpon mengatakan supir taksinya nggak bawa e-toll card, sementara tak bisa bayar cash. Jadinya mereka muter jalan dan besar kemungkinan telat.Alhasil keponakan saya telat tiba di bandara. Dan ketinggalan pesawat!. Eaduuh! Saya langsung dekdekan. Karena kemarin saja jumlah ticket yang tersisa sudah terbatas. Apalagi sekarang.

Mencoba mempropose penerbangan berikutnya ke petugas di bandara ternyata sudah habis. Coba balik lagi ke toko online yang menjual ticket, ternyata penerbangan memang sudah habis semua.

Lalu saya coba ke counter maskapai penerbangan lain di bandara. Siapa tahu masih ada ticket yang tersisa atau ada orang yang membatalkan penerbangan ke Denpasar.

Ternyata habis semua juga!. Tak ada satupun yang tersisa.Bahkan yang super mahalpun sudah habis.

Jika mau, ditawarkan penerbangan ke kota lain. Ooh!. Tapi kami kan bukan mau berwisata, kami mau pulang kampung. Jadi tak bisa pindah tujuan ke kota lain. Karena kampungnya tidak bisa dipindahkan.

Malam itu saya dan 2 anak saya pulang. Sementara keponakan saya terpaksa menginap di bandara untuk menunggu penerbangan yang tersedia esok siangnya.

Apa daya !.

Loksado Writers & Adventure 2017: Di Balai Adat Haruyan.

Standard
Loksado Writers & Adventure 2017: Di Balai Adat Haruyan.

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, kami diterima dengan baik oleh Bapak Penghulu Adat Haruyan beserta ibu, keluarga dan warga setempat. Saya sendiri memilih ngobrol dengan ibu Penghulu adat dan putrinya. Ngalor ngidul tentang banyak hal, terasa sangat menyenangkan. Sementara Bapak bapak mengobrol dengan Bapak Penghulu Adat.

Berbincang dengan Bapak Penghulu Adat Haruyan.

Dari tempat kami ngobrol, saya memandang sekeliling. Senang berada di tempat ini. Pemukiman itu terdiri atas beberapa rumah di halaman yang sangat luas dengan Balai Adat Haruyan terletak di tengah tengahnya. Berupa bangunan persegi terbuat dari kayu. Berada di atas panggung dengan pintu masuk bertangga juga terbuat dari kayu. Di sekelilingnya rumah-rumah penduduk yang sebagian masih berbahan kayu dan sebagian lagi sudah menggunakan material modern. Balai adat itu kelihatan sepi karena pada saat itu sedang tidak ada upacara. 

Balai Adat Haruyan, suku Dayak Meratus.

Menurut Ibu Penghulu Adat rata rata mereka mengadakan upacara 2x setahun. Yang pertama adalah saat  padi mulai berisi dan yang ke dua adalah saat panen terakhir tahun itu yang disebut dengan upacara Aruh Ganal. Upacara adat itu merupakan ungkapan rasa terimakasih dan rasa syukur atas keberhasilan panen padi. Hanya setelah diupacarai,  barulah padi hasil panen itu boleh dikonsumsi. 

Semua padi padi hasil panen itu disimpan di lumbung.  Bahkan padi dari hasil panen 10 tahun yang lalu pun masih ada. Luar biasa. Saya mendapat penjelasan, bahwa mereka tidak menjual padi/beras, sekalipun panen nereka melimpah dan mereka memiliki persediaan padi yang banyak. Semua hanya untuk konsumsi warga saja.  Mengapa demikian?. Karena mereka perlu memastikan tetap memuliki bahan pangan bahkan saat panen gagal. Walaupun demikian, mereka tidak keberatan untuk berbagi dengan orang luar, dan bahkan sangat senang jika ada  warga luar kampung yang ikut pesta adat nereka.  Saya kagum dengan prinsip mereka ini dalam memastikan ketahanan pangan. 

Lalu bagaimana caranya menopang keperluan hidup sehari hari jika tidak menjual padi?. Oh..rupanya penduduk masih bisa mendapatkan penghasilan dari usaha lain seperti misalnya dari kayu manis, bertanam cabe, palawija dll. Menarik sekali.

Kami diijinkan melihat ke dalam balai adat dan melihat contoh gerakan tari traditional suku Dayak yang biasanya ditarikan saat upacara Aruh Ganal dilangsungkan. Namun sebelum memasuki balai adat, kami dipersyaratkan untuk memakai tutup kepala yang jika untuk pria disebut dengan Laung, sementara untuk wanita disebut dengan Salungkui. 

Bersama Ibu Penghulu Adat Haruyan, suku Dayak Meratus.

Ibu Penghulu Adat memasangkan salungkui di kepala saya. Dibentuk dari kain/tapih yang dilipat dan ujungnya diarahkan ke belakang lalu dirapikan. Saya senang sekali. Praktis dan bentuknya menarik. Salungkui ini tentu sangat berguna untuk melindungi kepala dari panasnya sinar matahari, debu maupun kotoran lainnya.  Ini mirip juga dengan “tengkuluk” yang biasa dipakai di kampung saya. 

Bapak Penghulu Adat memasangkan Laung.

Sementara saya dipasangkan Salungkui oleh Ibu Penghulu Adat, Bapak Penghulu Adat memasangkan Laung pada tamu-tamu pria. Setelah itu barulah kami diajak memasuki Balai Adat. 

Balai Adat Haruyan itu ukurannya cukup luas. Saya membayangkan seluruh penghuni kampung itu barangkali bisa ditampung sekaligus jika masuk semuanya. Lantainya terbuat dari papan kayu yang kuat dengan tiang tiang penyangga yang sangat kokoh. 

Di tengah tengah bangunan terdapat tempat upacara bertiang tinggi dengan lantai yang sedikit lebih rendah di selilingnya. Tampak janur mengering sisa perayaan yang telah usai. Ini tempat suci. 

Memanjatkan doa untuk keselamatan kita semua.

Bapak Penghulu Adat dan seorang pemuka adat yang lain memanjatkan doa untuk memohon ijin serta memohonkan keselamatan bagi semua yang hadir di situ,   warga Dayak dan termasuk juga kami yang bertamu ke sana. Saya mendengarkan doa doa itu dengan khidmat dan rasa haru. Betapa jalinan rasa persaudaraan itu dengan mulus menjalar ke hati kami.  Lalu dalam hati saya ikut menyatukan doa saya bersama untuk kesejahteraan, keselamatan dan kemajuan masa depan warga Haruyan. 

Bapak Penghulu Adat menunjukkan gerakan tarian Kanjar

Setelah doa-doa selesai, Bapak Penghulu Adat bersedia menunjukkan kepada kami gerakan gerakan tarian Kanjar yang biasanya ditarikan saat upacara Aruh Ganal. 

Ikut nenari Kanjar.

Para tamu priapun diajak ikut serta bakanjar. Dengan diiringi alat musik tunggal sebagai contoh, semuanya menari mengelilingi tempat upacara. Gerakannya simple dan mudah ditiru, sehingga setiap orang bisa ikut riang gembira menari Kanjar bersama sama. Sebagai refleksi hati yang penuh syukur atas anugerah panen yang luar biasa. 
Seusai para pria menarikan tarian Kanjar, Ibu Penghulu Adat mengajari saya menari Babangsai. Rupanya tari Babangsai ini adalah versi wanita dari tari Kanjar. Saya dan para wanita yang lain pun segera turun ikut menari dengan senang. Mengayunkan tangan dan mengatur gerakan kaki mengikuti ketukan musik. Menariknya, tari Babangsai ini juga ada 2 versi lagi. Yakni versi cepat dan versi lambat. Ibu Penghulu Adat menunjukkan keahliannya menari kedua duanya. Saya hanya mengikuti. 

Tak terasa matahari menanjak naik. Tiba tiba sudah tengah hari. Kami harus segera kembali ke Loksado untuk mengikuti acara berikutnya. Sayapun pamit dan kembali berada di atas motor. Menyusuri jalanan Haruyan -Malaris yang berliku, menanjak dan menukik. 

Haruyan, Loksado. Daerah ini memiliki potensi pariwisata  tinggi yang  belum tergali dengan baik. Alamnya, adat istiadatnya, budayanya, makanannya. Semuanya menarik untuk dilihat dan dikunjungi.

Berharap pemerintah segera membantu memperbaiki akses  yang ada, agar roda perekonomian berputar dengan lebih cepat. Dan tentunya akan lebih mudah lagi bagi para wisatawan untuk datang berkunjung. 

Di seberang desa Malaris, di tepi sungai Amandit saya turun. Membawa kenangan saya akan Haruyan.  Rasanya masih tertinggal hati saya di sana. Suatu saat saya ingin mendapatkan jesempatan untuk berkunjung kembali ke tempat ini. 

Yuk kita berkunjung ke Haruyan! Kita cintai tanah air kita.

Loksado Writers & Adventure 2017: Menuju Balai Adat Haruyan.

Standard

Setelah malam harinya  saya berkesempatan mengikuti diskusi hangat dalam temu muka para penyair dengan  para tetua adat suku Dayak Meratus, ketertarikan saya untuk mengunjungi pemukiman suku Dayak Meratus semakin meningkat. Walaupun saya belum pernah mengenal dekat suku Dayak sebelumnya, entah kenapa saya merasa sangat nyambung. Hati saya serasa terjalinkankan oleh sesuatu. 

Diskusi para peserta Loksado Writers dengan tetua adat Dayak Meratus. Foto milik Yulian Manan.

Saya coba memberi alasan logis kepada diri saya sendiri. Entah karena ada sebegitu banyak kosa kata dalam Bahasa Dayak yang diucapkan oleh para tetua adat itu yang sangat serupa dengan bahasa kampung saya. Mungkin itulah sebabnya mengapa saya merasa tersambung. 

Alasan yang lain, mungkin juga karena apa yang mereka paparkan, pengalaman, persoalan, peluang pariwisata serta kesulitan dan harapan yang mereka sampaikan serasa deja vu bagi saya yang lahir dan besar di daerah tujuan wisata. Serasa saya pernah berada di situasi itu. 

Malam itu ketika penyelenggara menawarkan pilihan untuk mengunjungi balai adat Malaris yang dekat dan mudah dijangkau, atau balai adat Haruyan yang berada di ujung dengan medan tempuh yang terjal serta tak bisa dilalui kendaraan roda empat, saya memilih untuk mengunjungi balai adat Haruyan.  Karena saya pikir saya akan lebih mudsh mengunjungi Malaris suatu saat nanti karena letaknya lebih dekat. 

Demikianlah esok paginya, kami berkendara dari Loksado melewati Loklahung menuju desa Malaris. Tepat di seberang desa Malaris kami turun, sebagian teman teman memilih menyeberang jembatan ke Malaris. Saya numpang ojek menuju Balai Adat Haruyan. Ada Pak Handrawan Nadesul, Pak Roymon Lemosol, Pak Hengky, Pak Trip Umiuki, Aldo (siapa lagi ya?). 

Jembatan gantung sempit di atas sungai Amandit dari arah sebaliknya. Pak Roymon Lemosol sedang menyeberang dengan motor. Foto milik Roymon Lemosol.

Perjalanan menuju Haruyan sungguh sangat berkesan. Pertama kami harus menyeberang Sungai Amandit melalui sebuah jembatan sempit yang melengkung ke atas. Tak bisa papasan. Yang lewat harus gantian. Ketika motor lewat, jembatan itupun ikut berguncang-guncang. Huaaa…rasanya ingin memejamkan mata, membayangkan yang tidak tidak. Bagaimana jika motornya limbung, mungkinkah saya nyebur ke sungai? * Ooh pikiran kerdil dan negative, pergilah menjauh dariku!. Di saat begitu, saya hanya punya satu pilihan: pasrahlah dan percayakan pada sang pengemudi. 
Selepas jembatan, jalanan agak datar dan cukup nyaman dilalui, walaupun tidak rata, agak rusak dan bergelombang. Ada jembatan kayu kecil yang terlihat mulai merapuh. Saya melihat dua orang tourist manca negara yang melihat lihat di sekitar. 

Kami melewati pemukiman penduduk dan ladang-ladang hingga ke tepi hutan.  Setelah itu mulailah petualangan yang sesungguhnya. 

Bunga kacang kacangan yang sangat cantik dari hutam pegunungan Malaris. Photo milik He Benyamin.

Pemukiman lenyap digantikan pepohonan bambu, meranti,  pakis-pakisan, kayu manis, jahe jahean, cucurbitaceae, dsb. Ada juga pohon luwak (sejenis fig) yang buahnya super lebat memenuhi batang, dahan dan rantingnya. 

Juga ada banyak bunga liar yang indah di sana. Bunga kacang kacangan yang cantik berwarna putih dengan bercak merah di tengahnya. Bunga jahe jahean yang berearna merah diseling putih. Alangkah indahnya. Lalu bunga-bunga keluarga labu hutan yang kuning benderang menyongsong matahari. Bermunculan di tepi hutan dan semak. Rasanya saya ingin turun dan mengamatinya sejenak. Tapi sayang, saya mengejar waktu. Khawatir tertinggal oleh teman teman yang lain. 

Hanya bisa berdecak kagum akan kayanya bumi Kalimantan. 

Jalanan sungguh membuat jantung berkali kali ingin meloncat dari posisinya. Betapa tidak, naiiiiik, lalu turuuuuuuuun. Datar sebentar lalu naiiiiiiiiik lagi dan beloookk dengan terjalnya. Lalu turuuuuuuun lagi. Dan itu harus kami lalui dalam kondisi jalan yang banyak bopeng bopengnya. Terlebih lagi dengan berat badan saya yang nggak kira kira ini, kasihan abang pengemudinya jadi kepencet oleh tubuh saya setiap kali menurun. Saya berusaha menahan dengan bantuan kedua tangan saya…tapi tetap saja πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯ . 

Saya membayangkan kesulitan yang dihadapi penduduk setempat yang harus melewati jalan ini setiap harinya. Berharap pemerintah setempat memberi akses yang lebih baik bagi penduduk setempat dan juga para wisatawan yang ingin berkunjung ke sini. 

Untuk mengimbangi kecemasan saya selama di perjalanan, saya ngobrol ngalor ngidul dengan sang pengemudi. Tentang adat istiadat, tentang kehidupan, tentang masalah sosial  dan sebagainya. Banyak hal hal menarik dan baru yang saya dapatkan dari percakapan itu. 

Secara umum saya menangkap bahwa keinginan masyarakat untuk maju di sana sesungguhnya cukup tinggi. Hanya saja dibutuhkan perhatian dan akses yang lebih baik dari pemda setempat selain juga motivator pembangunan yang memahami dengan baik adat istiadat serta budaya setempat sehingga keberlangsungan pembangunan daerah itu bisa berjalan dengan sebaik-baiknya tanpa harus melemahkan adat istiadat dan budaya setempat. Mungkin sejenis Sustainable Development program yang kira-kira yang bisa menjamin kebersinambungan perkembangan daerah itu secara paralel bersama dengan adat istiadat dan budayanya sekaligus. 

Saking serunya ngobrol, sehingga tak terasa tibalah kami di balai adat Haruyan setelah melalui beberapa lagi jalanan terjal. 

Bapak Penghulu Adat Haruyan menerima kunjungan peserta Loksado Writers 2017. Foto milik Roymon Lemosol.

Kami disambut oleh Bapak Penghulu Adat Haruyan dan ibu beserta keluarganya. Kami berbincang bincang sebentar. 

Berbincang dengan Penghulu Adat Haruyan, Dayak Meratus Bapak Aeni. Foto milik Roymon Lemosol.

Bapak-bapak mengobrol dengan Bapak Aeni Penghulu adat Haruyan.  

Ibu penghulu adat Haruyan, Dayak Meratus.

Saya sendiri memilih ngobrol dengan ibu penghulu adat dan putrinya tentang keluarga, upacara adat, kegiatan para wanita, perawatan kebersihan wanita sehari hari hingga tanaman dan hasil panen. Obrolan yang penuh tawa canda seolah kami ini sudah bersahabat bertahun tahun.  

Senangnya berada di Haruyan. 

Loksado Writers & Adventure 2017: Amandit River Lodge.

Standard

Suami saya mengirim pesan. Tentu yang pertama ditanyakan adalah anaknya. Bukan istrinya. Lalu setelah itu”Nginep di mana?”.  “Amandit River Lodge” jawab saya. “Di mana itu?” Tanyanya lagi. “ Di Loksado” saya menjawab lagi “Coba share posisi ” pintanya. Agaknya suami saya tidak jelas di mana saya berada. Sayapun segera melakukan searching Google Map. Nah…muncullah posisi Loksado di peta itu.

Loksado adalah sebuah perkampungan yang terletak di Hulu Sungai Selatan,  kurang lebih 4 jam perjalanan darat dari Banjarmasin. Kurang lebih sekitar 45 menit lah dari kota Kandangan. Jauh ya?. Sebetulnya nggak juga sih. Terutama jika kita tahu apa yang bisa kita lihat di sana. 

Loksado memiliki alam yang sangat indah. Jika dilihat topografinya, Loksado berada diantara lereng Pegunungan Meratus dengan puncak-puncaknya yang terkadang berselendang kabut dan Sungai Amandit yang mengalir jernih di bawahnya. 


Nah, Amandit River Lodge, alias Graha Wisata Sungai Amandit itu berada tepat di sisi Sungai Amandit.  Penginapan kecil ini kelihatannya dikelola oleh pemda setempat. Jumlah kamarnya tidak banyak, saya kira tidak lebih dari 20 buah. Setiap ruangan dilengkapi dengan tempat tidur yang digelar di atas lampit, kamar mandi dan kipas angin. Suhu di sana tidak terlalu panas, walaupun tidak dingin juga. Lumayan agak sejuk. 
Bangunan, sebagai kebanyakan bangunan di daerah itu terbuat dari kayu dan berdiri tinggi di atas panggung. Selain kamar kamar, penginapan ini juga memiliki fasilitas ruangan pertemuan sekaligus berfungsi sebagai ruang makan. 

Walaupun sederhana, saya menyukai tempat ini karena masih banyak pohon pohon besar di sekelilingnya, yang membuat tempat itu tetap sejuk dan nyaman. Suara burung pun sangat medu. Terbang dari satu pohon ke pohon yang lain, atau berjingkat-jingkat di tepi sungai. Suaranya terkadang ditingkah suara cycada memeriahkan senja. Terasa sangat riang dan damai. 

Amandit River Lodge


Di halaman belakang, terbentang rerumputan yang hijau hingga ke tepi  Sungai Amandit yang mengalir tenang. Sesekali penduduk setempat melintas di sungai dengan rakitnya. Membuat saya penasaran dan ngiler juga ingin mencoba berakit rakit di sungai itu. 

Di latar belakang tampak puncak puncak pegunungan Meratus yang sebentar sebentar di peluk kabut. Puncak yang tampak tertinggi itu diberi nama Puncak Kantawan. 
Ah! Rasanya tak perlu kemana-mana. Hanya dengan diam atau berbaring di rerumputan ini saja, keindahan dan kedamaian itu hadir begitu saja ke hati kita. 

Seekor burung prenjak tampak berlompatan di dahan sambil ribut memanggil manggil. Saya mendongak. Sekumpulan bunga anggrek merpati rupanya sedang bermekaran tinggi di atas dahan. Oh cantiknya.Sungguh tempat yang sangat indah untuk melupakan sejenak kepenatan ibukota. 

Yuk mampir ke Loksado!

Loksado Writers & Adventure 2017: Empat Jam Menuju Loksado.

Standard

Sekitar pukul 8 pagi kami tiba di bandara Syamsudin Noor di Banjarmasin. Semua peserta yang berangkat bersama saya pagi itu adalah orang-orang yang baru saja saya kenal subuh tadi di bandara Soetta di Jakarta. Kecuali Aldo, anak saya tentunya. Ada Pak Rachmat Ali beserta Bu Kartini istri beliau, yang tiba paling pagi karena takut terlambat. Lalu ada Pak Adri yang tadi subuhnya membagi-bagikan ticket untuk kami. Lalu Bang Salimi dan Bu Gantina, Pak Trip Umiuki, Bang Yahya, Pak Kurniawan Junaedhi dan Ibu Evi Manalu. Sejak awal pertemuan saya merasakan kekompakan team ini. Walaupun saya dan Aldo baru mengenal mereka. Keramahannya, kesetiaannya untuk  saling menunggu dan saling mengingatkan, juga kebersamaannya, semuanya memberi kesan yang mendalam di hati saya. 

Untuk beberapa saat kami menunggu bagasi keluar. Bang Salimi menyarankan agar saya dan Aldo bergantian saja ke rest room untuk menyegarkan diri. Semua ibu-ibu yang lain juga mengambil kesempatan untuk membersihkan diri. Udara terasa panas. Saya membuka jacket saya.  Tak sabar rasanya ingin cepat cepat bertemu dengan Mbak Agustine Thamrin. Orang yang mengundang saya datang ke Loksado Writers & Adventure 2017 ini. 

Tiba di Banjarmasin -foto Agustine Thamrin

Selepas pemeriksaan bagasi, akhirnya bertemulah saya dengan Mbak Agustine yang menyambut kami semua dengan sangat ramah. Wanita cantik bertubuh tinggi langsing itupun menyalami dan memeluk saya dengan akrab. Seolah kami sudah bersahabat bertahun tahun. Padahal saya baru bertemu dengannya pagi itu. Lega rasanya. Kesan saya Mbak Agustine ini memang memang sangat ramah dan baik, dan rupanya memang sudah mengenal dekat teman teman penyair dalam rombongan saya itu. 
Setelah pintu keluar, saya diperkenalkan dengan Pak Budhi Borneo sang penggagas acara Loksado Writers & Adventure 2017, juga dengan Mbak Lena seorang peserta lain dari Yogya yang rupanya tadi satu pesawat dengan kami dari Jakarta. Juga di luar menunggu  Pak dr Handrawan Nadesul (Pak Hans) yang sudah lebih dulu mendarat dengan pesawat lain. 

Dari sana Pak Budhi lalu mengatur keberangkatan. Saya dan Aldo ikut rombongan Pak Budhi bersama dengan Mbak Lena dan Pak Hans. Kami bermaksud mengisi perut dulu di warung Soto Banjar tak jauh dari airport. Walaupun dekat, ternyata rombongan yang lain sempat agak lewat juga. Ha ha…terlambatlah mereka tiba di tempat sarapan. Memang pekerjaan mengatur orang banyak itu tidaklah mudah. Dan tentunya merepotkan. Tapi saya lihat para peserta dan panitya semangat sekali. Membuat saya merasa senang bertemu dengan mereka. 

Soto Banjar.

Soto Banjar

Warung Soto Banjar dekat bandara itu pada dasarnya menyajikan 2 menu yakni Soto Banjar yang disajikan dengan ketupat, dan Rawon Sapi yang disajikan dengan nasi putih. Saya sendiri memesan Soto Banjar. Alasannya karena selain saya memang tidak mengkonsumsi daging sapi, saya sudah pernah makan Soto Banjar sebelumnya dan saya menyukainya. Lagipula Soto Banjar, sesuai dengan namanya adalah makanan khas Kalimantan Selatan. Ngapain pula sudah jauh-jauh ke sini tidak menikmati masakan khasnya? 
Bagi yang penasaran seperti apakah Soto Banjar? Saya cerita sedikit ya..     

Soto Banjar  serupa tampilannya dengan soto lain. Terdiri atas soun (glass noodle) yang direbus, suiran daging ayam dengan bumbu kuah. Yang beda, kuahnya agak manis dan biasanya dihidangkan dengan ketupat. Bukan nasi. Sempat saya bertanya kepada tukang warung tentang bumbunya, rupanya selain bawang merah, bawang putih, lada, kapulaga dan pala juga dilengkapi dengan kayu manis dan cengkeh. Oh..pantesan rasanya agak lebih berempah ya. Tapi enak dan segar. 

Di tempat itu kamipun diperkenalkan dengan Isuur dan teman teman penyair dari komunitas Kalimantan Selatan. Bersama sama kami berangkat menuju Loksado. Beriring-iringan. Akan tetapi karena ada rombongan yang  juga menjemput Ibu Sulis Bambang dan Roymon di penginapan maka kamipun berpisah  dan berjanji bertemu di Haur Kuning. 

Haur Kuning & Kemegahan Namanya. 

Di manakah Haur Kuning? Penasaran dong ya. Menurut Pak Budhi Haur Kuning adalah tempat yang biasa untuk janjian jika mau bepergian bersama ke suatu tempat. Sejenis ‘meeting point ‘ begitulah kira kira. Mengapa Haur Kuning? Ya karena lokasi itu mudah dijangkau dan semua penduduk Banjarmasin tahu letaknya. Kami mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan Pak Budhi. Saya membayangkan sebuah tempat dengan tugu besar berwarna kuning yang mudah terlihat oleh semua orang. 

Setiba di Haur Kuning ternyata tak terlihat oleh saya adanya  tugu besar berwarna kuning. Sayapun bertanya dalam hati. Tak seberapa lama saya dengar Pak Hans bertanya kepada Pak Budhi, “Yang mana haur kuningnya?”.  Pak Budhi menjawab “Yang itu, Pak” sambil menunjuk dua rumpun bambu kecil di pinggir jalan.  * haur kuning = bambu kuning.  Nyaris tak terlihat oleh mata. Oalah…ya ampuun. Hanya dua rumpun bambu kuning kecil, tapi namanya sangat terkenal. Lalu mengapa bambu sekecil itu bisa menjadi sangat terkenal?. Saya rasa karena bambu kuning tidak umum ditanam di tepi jalan. Dan orang-orang memanfaatkan ketidak-umumannya ini sebagai penanda tempat. Mudah dikenali karena ia berbeda. Namanya lebih tenar dari pohonnya sendiri.  Nah…pelajaran moralnya adalah kecil bukan berarti harus membuat kita minder dan patah arang.  Walaupun kecil, jika kita bisa membuat diri kita unik dan tidak biasa biasa saja, maka akan lebih mudah bagi kita untuk membuat hidup kita menjadi bermakna. 

Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya berangkatlah kami menuju Loksado melalui kota Martapura. Sepanjang jalan saya menikmati pemandangan yang indah. Pohon pohon yang hijau, sungai sungai yang mengalir, rumah rumah penduduk yang berdiri macam panggung,  lahan lahan yang luas banyak yang belum tergarap dengan baik. Oh..alangkah luasnya pulau Borneo ini. Dan alangkah kaya rayanya. Hati saya sangat bangga dan terharu. Indahnya tanah airku. 

Sepanjang jalan kami mengobrol. Mulai dari soal durian hingga ke pohon jengkol. Juga tentang sungai sungai yang mengalir dan  intan yang didulang dari sungai tertentu. Lalu tentang jalur khusus pertambangan yang terlihat berliku di bawah sana. Saya menyimak baik-baik cerita Pak Budhi. Juga cerita Pak Hans. Tentang masa mudanya, bagaimana beliau berkarya dan berkumpul dengan penyair penyair senior seperti Putu Wijaya, Sutardji, Pak Adri dan sebagainya. Membuat puisi, prosa dan artikel untuk menghidupi dirinya. Cerita jaman dulu saat semua karya harus diketik dan diserahkan sendiri ke kantor redaksi. Lalu bagaimana beliau menyelenggarakan kegiatan sastra Negeri Poci di Tegal setiap tahunnya. Saya sangat terkesan dengan pengalaman beliau itu. Walaupun menjadi dokter yang terkenal, tetapi beliau tetap mendedikasikan dirinya untuk sastra. Sungguh saya merasa salut. Pak Budhi tetap menyetir sambil sesekali ngobrol. Sementara Mbak Lena sibuk dengan hapenya lalu kemudian tertidur. Demikian juga Aldo yang duduk di belakang. 

Kami sempat mampir sebentar di Banuang untuk membeli Neo Remacyl guna berjaga jaga karena kaki saya sering kramp. Agak aneh juga, di provinsi sebesar ini ternyata jumlah Apotik yang kami lihat tidaklah banyak. Selain itu sebagian juga tutup karena kebetulan hari itu tanggal merah, karena hari Waisak. 

Mampir di Kota Kandangan.

Di sebuah rumah makan di kota Kandangan – photo Yulian Manan.

Pukul 2 siang kami tiba di kota Kandangan. Mampir di sebuah rumah makan setelah sempat tersesat dan berputar jalan akibat salah petunjuk. Hari panas terik. Tak heran karena dekat dengan garis katulistiwa. 

Bersama Abah Arsyad, Dr Handrawan Nadesul dan Isuur Loeweng

Di rumah makan ini saya dan Aldo berkenalan dengan Abah Arsyad beserta istri. Menurut cerita teman teman yang lain, Abah ini adalah penyair yang sangat eksentrik dengan penampilannya yang selalu bikin heboh penontonnya. Dulunya juga selalu rajin menghadiri acara temu sastra di manapun di seluruh Indonesia. Hanya saja belakangan ini beliau lebih banyak jaga kandang saja di Kal Sel. Juga di tempat ini saya berkenalan dengan Mbak Cornelia Wulandari yang sajaknya pernah saya baca di timelinenya Mbak Agustine Thamrin. Juga sempat ngobrol panjang lebar dengan penyair Isuur Loeweng tentang usaha penggemukan sapi. Sayang sekali ada satu kendarasn yang membawa rombongan Pak Rahmat Ali dan ibu serta Bang Yahya yang rupanya langsung menuju Loksado tanpa sempat mampir di Kandangan. 

Makanan yang disajikan di rumah makan ini enak sekali. Ada ayam, itik dan ikan yang disajikan dengan sambel lalapan daun ubi rebus, timun dan kacang panjang. Nikmat sekali. 

Setelah kenyang dan beristirahat sebentar, barulah kami melanjutkan perjalanan kembali menuju Loksado. 

Kali ini udara mulai menyejuk. Kiri kanan mulai tampak pohon pohon besar. Rumah rumah penduduk pun berkurang. Kami mulai memasuki kawasan hutan pegunungan Meratus. Jalanan sangat sepi. 

Salah satu pemandangan Loksado. Hijau royo royo.

Pemandangan yang luarbiasa. Puncak puncak bukit Meratus terkadang tampak dikelilingi kabut. Di sekelilingnya hutan menghampar hijau. Pohon kayu manis, pohon durian, pohon pakis, pohon luwak, pohon jahe jahean melengkapi vegetasi hutan itu. Suara nyanyian cycada menyambut sore ditingkahi suara burung hutan. Alangkah indahnya alam pegunungan Meratus. Hati saya terasa riang dan bahagia berada di tempat itu. Sayang saya hanya bisa memotret dari balik jendela kendaraan yang melaju. 

Amandit River Lodge

Tak terasa setengah jam telah berlalu. Pak Budhi terus menyetir, membawa kami ke jalan yang semakin sepi dan semakin jauh memasuki kawasan hutan Meratus. Akhirnya tibalah kami di Amandit River Lodge, tempat kami menginap di tepi Sungai Amandit. 

Lama perjalanan yang dibutuhkan dari Banjarmasin ke Loksado seharusnya cuma 4 jam. Tetapi rupanya kami menempuhnya dengan lebih lama karena kami singgah singgah untuk sarapan, menunggu di Haur Kuring, lalu mampir di Apotik dan lama ngobrol di Kandangan. Namun demikian perjalanan tetap terasa menyenangkan. 

 

Loksado Writers & Adventure 2017. Pertemuan Sastrawan, Gagasan & Pesonanya.

Standard

Loksado!Nama itu telah memikat hati saya bahkan sebelum saya mengenal tempat sejuk yang sangat indah di lereng Pegunungan Meratus itu. Entah kenapa terdengar sangat menarik bak nama sebuah negeri di atas awan. Sungguh sangat beruntung, suatu hari penyair Agustina Thamrin mengajak saya untuk mengikuti acara “Loksado Writers & Adventure 2017” di Loksado. Tanpa ba bi bu saya langsung “Yes” saja, walaupun awalnya agak kurang yakin akan bisa cuti, mengingat banyaknya urusan kantor yang mengambil waktu di bulan Mei ini. Tapi seperti kata pepatah, “Di mana ada kemauan, di sana ada jalan”, maka berhasillah saya tiba di Loksado. 

Bertemu Dengan Para Penulis Kondang.

Sebagian peserta Loksado Writers & Adventure baru mendarat di bandara Banjarmasin – photo oleh Agustine Thamrin)

Loksado Writers & Adventure 2017, sungguh sangat luar biasa bagi saya. Pertama karena ajang sastra nasional yang diselenggarakan di tempat ini memungkinkan saya bertemu langsung dengan para sastrawan senior yang selama ini cuma saya kenal lewat koran, majalah, tv ataupun wikipedia. Nah..tiba tiba saya bisa mengenalnya langsung di sini. Misalnya saja Dr Handrawan Nadesul. Siapa tak kenal beliau? Beliau adalah seorang dokter yang sering menjadi nara sumber berbagai acara kesehatan populer yang  juga mendedikasikan dirinya pada dunia sastra dan penulisan. Persis 2 hari sebelum saya berangkat, kakak saya kebetulan menshare tulisan dr Handrawan di group WA keluarga. Dengan bangga saya langsung bilang, saya dong lusa mau ketemu langsung dengan dr Handrawan he he. Dan benar saja, saya memang harus bangga karena sepanjang perjalanan dari Banjarmasin ke Loksado saya banyak menimba ilmu dari pengalaman beliau yang dituturkan kepada kami (kebetulan saya satu kendaraan dengan beliau). 
Selain itu ada Pak Adri Darmadji Woko. Siapa pula tak kenal penyair senior seangkatan Putu Wijaya, Sutardji K. B dsb ini?. Sudah lama saya ingin bertatap muka langsung dengan beliau. 

Saya juga bertemu dengan Pak Prasetyohadi. Siapakah beliau? Ternyata orang yang berada di balik Majalah Kicau Bintaro!. Majalahnya selalu saya baca, tetapi orangnya baru saya kenal hari itu. 

Lalu ada Abah Arsyad, penyair Kalimantan yang fenomenal. Ada Pak Rachmat Ali beserta Ibu Kartini, Pak Salimi Ahmad beserta ibu Gantina dari Jakarta, Ibu Sulis dari Semarang, Pak Trip Umiuki dari Tangerang, Bang Yahya dari Betawi,  Pak Hengki, Ibu Lena dari Yogyakarta, Pak Roymon Lemosol dari Ambon, Pak Kutniawan Junaedhi, Mbak Evi Manalu. Yang semuanya adalah pelaku sastra dan pencinta sastra yang baik. 

Lebih penting lagi, saya akhirnya bisa kopdar dengan Agustina Thamrin, penyair yang sebelumnya sudah saya kenal di facebook lewat Pak Ersa Sasmita yang buku kumpulan puisinya pernah saya tulis di sini. Juga dengan Pak Setia Budhi (Budhi Borneo), mereka berdua adalah penggagas dan penyelenggara kegiatan ini. Juga saya bertemu dengan sastrawan dan seniman beserta semua crew Banjar seperti Mbak Cornelia Wulandari, Pak He Benyamin, Isuur, Bagan, Yulian Manan, Mbak Widya, Salleh, Nopri dan Mbak Dewi.

Bagi saya ini adalah pertemuan yang sangat luar biasa. Bukan saja karena saya bisa bertemu dan berkenalan dengan mereka, tetapi juga karena banyaknya ilmu dan pengetahuan baru yang bisa saya timba dari mereka. Juga nilai-nilai persahabatan dan persaudaraan yang mereka tawarkan kepada saya dan peserta lainnya. 

Kedua, ajang sastra ini ternyata juga bukan hanya sekedar indoor forum, tetapi juga dilengkapi dengan kegiatan outdoor yang memberi saya pengalaman baru dan tentunya inspirasi baru yang sangat kaya baik karena pesona alam Loksado dengan pegunungan Meratusnya itu sendiri, maupun karena adat istiadat dan budaya penduduk setempat, yakni suku Dayak Meratus.

Gagasan Loksado Writers & Adventure.

Pak Budhi & Agustina Thamrin penggagas Loksado Writers & Adventure 2017 bersama Bang Salimi . Photo Yulian Manan.

Dalam perjalanan dari Banjarmasin ke Loksado saya sempat bertanya ke Pak Setia Budhi tentang bagaimana Loksado Writers ini diadakan. Pak Budhi bercerita bahwa awalnya Pak Budhi dan mahasiswanya banyak melakukan penelitian di Loksado dan seputar pegunungan Meratus. Mereka bolak balik ke sana dan berinteraksi dengan alam Meratus dan penduduknya yakni suku Dayak Meratus. Banyak hal menarik di sana yang mungkin menjadi sumber inspirasi tulisan bagi siapapun yang suka menulis. 
Selain itu, Pak Budhi juga terkesan dengan ide dari Ubud Writers yang secara teratur diselenggarakan di Ubud, Bali. Forum ini skalanya International, dan tentunya agak mahal serta berbahasa asing. Saat ini belum ada yang berskala National Indonesia.

Dari sini kemudian muncul gagasan mengapa tidak diselenggarakan saja forum serupa yang berskala nasional dan bertempat di Kalimantan Selatan. Untuk itu Pak Budhi lalu menghubungi Agustina Thamrin yang segera menyambut ide ini dan berdua mereka menggodoknya serta mendiskusikannya dengan sastrawan senior lain yaitu Pak Adri Darmadji Woko dan Bang Salimi Achmad, maka lahirlah “Loksado Writers & Adventure 2017“. 

Saya terkesan akan cerita Pak Budhi ini. Acara yang hebat selalu dimulai dari gagasan yang hebat dan eksekusi yang hebat dan penuh semangat. Dan sungguh, acara ini memang meninggalkan kesan yang luarbiasa di hati pedertanya. Ibaratnya jika saja jempol saya ada 20, maka keduapuluhnya akan saya berikan untuk kesuksesan acara ini.  Lebih kerennya lagi, acara Loksado Writers ini rencananya akan berlangsung setiap tahun. 

Penasaran dong ya, kegiatan apa saja yang kami lakukan selama di Loksado Writers & Adventure 2017? 

Sesuai judulnya acara ini merupakan gabungan forum sastra dan petualangan. Lho kok pakai petualangan segala? Lha iya dong. Tujuannya adalah untuk memberi experience baru bagi para peserta sehingga bisa merekam alam sekitarnya dengan segenap panca indra dan perasaannya dan mengolahnya menjadi inspirasi inspirasi baru bagi kelahiran puisi, prosa, artikel dan bentuk bentuk tulisan lain. Yahuuud banget kan?

Ini kurang lebih rundown acaranya.

Hari 1 Loksado Writers & Adventure 2017. Photo mix Yulian Manan

Hari pertama. Saya berangkat dari Jakarta pukul 5.45 pagi dan tiba di Banjarmasin pukul 8 pagi. Kami diajak mampir sarapan Soto Banjar lalu melanjutkan perjalanan ke Loksado. Istirahat sebentar untuk makan siang di kota Kandangan, sampailah kami di Amandit River Log di Loksado pada pukul 4 sore. Istirahat sebentar lalu makan malam dan acara penyambutan yang dihadiri juga oleh para pemuka adat Dayak Meratus. Acara juga diisi dengan pembacaan puisi. 

Mengunjungi balai adat Haruyan, malam acara Loksado Writers 2027

Hari kedua, kami mengunjungi perkampungan Dayak Meratus di pagi hari. Sebagian ada yang ke balai adat Malaris dan sebagian ada yang mengunjungi balai adat Haruyan. Sepulang dari sana kami kembali ke penginapan. Lanjut dengan acara Loksado Writers yang dihadiri pejabat Kabupaten setempat, pertunjukan kesenian tari kreasi Dayak dan tari Kurung-kurung. Malam hari dilanjutkan lagi dengan suguhan tari Kanjar dan pembacaan puisi. Acara dihadiri oleh Kepala Dinas Kebudayaan & Pariwisata provinsi mewakili Bapak Gubernur Kalimantan Selatan yang kebetulan berhalangan hadir.

Hari ketiga Loksado Writers & Adventure Bamboo Rafting dan Aku Telah Baca Puisi

Hari ketiga kami menikmati bamboo rafting alias naik rakit menyusuri Sungai Amandit, makan siang di kota Kandangan, lalu mampir di pasar Martapura untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Banjarmasin. Sore hari kami melanjutkan acara “Aku Telah Membaca Puisi” di Mingguraya Banjarmasin yang digelar teman teman sastrawan Banjar. Malam terakhir kami menginap di Banjarmasin.

Pasar Terapung Lok Baintan.

Hari keempat, acara dimulai dini hari untuk menikmati perjalanan sungai Martapura menuju pasar terapung Lok Baintan. Setelah puas di sana barulah kami kembali ke hotel, bersiap untuk pulang kembali ke Jakarta. 
Banyak sekali yang kami lihat, dengar dan alami. Semuanya mengisi relung relung hati dan jiwa kami. Menenuhinya dengan segala kenangan indah yang menjelma menjadi puisi dan mimpi. 

Loksado, rasanya pengen kembali lagi ke sana!. Terimakasih Mbak Agustina Thamrin dan Pak Budhi dan teman teman semua di Banjarmasin. 

Bangli: Menikmati Sensasi Ketinggian Di Anjungan Tukad Melangit.

Standard

​​​​Seorang teman memasang status lokasi di facebook “Hi Bu! Saya sedang di kampung ibu ini di Bangli” tulisnya. Rupanya teman saya itu sedang berlibur dengan keluarganya di Bali. Dan dari foto foto yang diunggsh ke media sosial, salah satu acaranya adalah berkunjung ke desa traditional Penglipuran di Bangli. Wah… mendadak saya jadi kangen pengen pulang ke Bangli. 

Selain Desa Penglipuran, objek wisata di Bangli sebenarnya sangat banyak. Ada Penelokan, Museum Geology, Gunung Batur dan Danau Batur, desa Trunyan, pura Puncak Penulisan yang merupakan pura tertinggi di Bali, Tirta Sudamala, Cekeng, pura Kehen, dan masih banyak lagi yang lainnya. Saat pulang terakhir beberapa waktu yang lalu saya sempat bermain ke Anjungan Tukad Melangit di Banjar Antugan di desa Jehem. Juga letaknya di Kabupaten Bangli. 

Tempat ini lagi happening banget. Banyak orang ke sini untuk melihat betapa dalamnya lembah yang terbentuk oleh aliran Tukad (sungai) Melangit ini dan betapa kerennya jika bisa menunjukkan keberanian berdiri di anjungan yang menjorok ke lembah itu dan berselfie di sana. Kelihatannya mudah, tetapi sebenarnya tidak sesimple yang kita pikir. Karena bagi mereka yang tidak terbiasa, hanya untuk naik ke anjungan yang strukturnya terbuat dari bilah kayu dan ditopang oleh bambu itu saja sudah membutuhkan keberanian tersendiri. Belum lagi saat melihat ke bawah ke jurang di mana sungai Melangit mengalir di dasarnya. Bagi yang memiliki penyakit takut ketinggian tentu akan menjadi masalah besar.

Namun tidak demikian halnya dengan anak-anak muda yang suka akan tantangan dan haus akan experience. Mampu berdiri di situ rasanya sesuatu banget. Seakan terasa betapa tabahnya kita mampu mengatasi rasa takut. Sensasinya sungguh berbeda!.Maka beramai-ramailah mereka berselfie ria dan menguploadnya ke media sosial untuk menunjukkan pada dunia bahwa mereka sangat percaya diri dan tak takut pada ketinggian. Jadi berwisata ke tempat ini adalah tentang ‘experiencing’ dan ‘enjoying’ sensasi saat berani mengambil keputusan untuk berdiri di sana dan menikmati keindahan alam yang ada.  

Saya sendiri juga mencoba naik. Tapi rasanya kok gamang sekali ya. Serasa ragu akankah bilah bilah kayu itu cukup aman menopang berat tubuh saya? Akankah kaki saya menginjak dengan tepat dan masih di dalam kontrol saya sendiri?  ha ha. 

Selain anjungan  yang menjorok ke lembah, di sana ada juga bangunan balai kayu yang dibuat tinggi agar pengunjung yang datang bisa memandang  ke sekeliling lembah dari atas. Semacam balai pandang begitu. Nah di sini saya sedikit agak lebih berani. 

​ Saya mencoba naik ke atas. Mencoba berselfie ria. Ha ha… ternyata sama gemetarnya. Rasanya kok mau jatuh ya. Harus berpegangan erat-erat nih.Takut terbang ditiup angin * hya ha ha.. tidak tahu dirimerasa ringan saja padahal berat badan jika tidak direm segera bisa mendekati sekarung beras ini.  Tapi serius, kalau di sini saya merasa agak sedikit lebih tenang, setidaknya saya masih melihat tanah. 

Beberapa saat kami bermain di sana. Dan sungguh kebetulan saya bertemu dengan Bapak Wayan Lendra sang penggagas yang akhirnya mengelola tempat wisata ini. Tentu saja saya manfaatkan kesempatan ini untuk ngobrol dengan beliau.

​Anjungan Tukad Melangit atau yang sering disingkat dengan nama ATM ini, berada di banjar Antugan di desa Jehem Kecamatan Tembuku kabupaten Bangli. Menurut Pak Wayan Lendra, tempat ini mulai ramai dikunjungi para wisatawan sejak setahun belakangan ini. 

Bagaimana asal muasalnya, mengapa tempat ini tiba-tiba menjadi hits ? Ternyata ada cerita menarik di baliknya. 
Pak Wayan bercerita, bahwa asal mulanya adalah sekumpulan anak muda yang senang duduk-duduk, berkumpul,  ngobrol ngalur ngidul sambil minum-minum di pinggir jalan. Kegiatan ini dilakukan karena minimnya hiburan di desa. Lama kelamaan, mungkin karena tidak enak hati mengingat ada banyak orang berlalu lalang melihat mereka minum-minum, tua muda, laki perempuan, anak-anak dan orang dewasa, maka mereka nemutuskan untuk membuat tempat kecil di tengah ladang di tepi jurang yang terbebas dari pandangan orang yang berlalu lalang.  Di sana mereka bisa bebas ngobrol, merokok, berkumpul dan minum-minum sepuasnya. 

Barangkali karena tempatnya nyaman, sepi dan pemandangannya indah,  lama lama semakin banyak anak-anak muda teman-teman mereka yang ikut juga suka  berkumpul ke sana. Beberapa orang lalu ada yang mengambil foto -foto selfie di sana dan menguploadnya ke media sosial yang kemudian memicu pembicaraan di Sosial Media. 

Menanggapi itu, Pak Wayan Lendra dan kawan kawan lalu berinisiatif mendirikan anjungan  sehingga pengunjung lebih mudah mengamati dan menikmati keindahan alam sekitar Tukad Melangit dari atas. Anak-anak muda banjar Antugan itupun memutuskan untuk berubah ke arah yang lebih positive.  Mereka berhenti minum minum dan berniat membangun tempat itu dan menjadikannya sebagai Object berwisata dan latar belakang untuk  berselfie ria. Gagasan ini berkembang dan didukung oleh berbagai pihak. 

Semakin lama semakin banyak orang datang berkunjung. Semakin banyak orang-orang berselfie di anjungan kayu itu  dan semakin banyak yang mengupload foto-fotonya di media sosial. Demikianlah pesona Anjungan Tukad Melangit ini akhirnya menjadi viral di dunia maya. Semakin lama semakin banyak orang yang berdatangan karena penasaran. 

Hmmm… cerita yang sangat menarik sekali. Dan sangat positive.  Saya sangat bersyukur bisa mendapatkan cerita ini langsung dari Bapak Wayan Lendra.Salut pada para pemuda di Banjar Antugan yang layak dikasih jempol untuk keputusan dan semangatnya menjadikan tempat ini sebagai objek wisata. 

Saat di sana saya disuguhi minuman traditional Air Kelapa Muda Jeruk Nipis. Whuaa… minuman alami yang sangat segar, mengingatkan saya pada waktu kecil. Selain minuman traditional ini, di tempat itu juga ada dagang Tipat Santok -sejenis gado-gado traditional Bali yang rasanya selalu ngangenin. Mantap banget deh. 

Nah teman teman, barangkali ada yang punya rencana ke Bali dalam waktu dekat ini, ada baiknya mampir ke Anjungan Tukad Melangit untuk merasakan sensasi ketinggian alami yang disajikan oleh sebuah bentang alam yang indah. 

Yuk, kita berkunjung ke Bangli!

Red Carpet of Happiness.

Standard

*Cerita senja dari sudut  Taipei*.

​​Suatu sore saya sedang berada di kota Taipei untuk sebuah urusan. Tentu saja mumpung lagi di sana, sekalian saya ambil kesempatan untuk melihat dan merasakan sekitar. 

Orang orang melintas. Ada yang berjalan sendiri, berpasangan atau bergroup. Ada yang bergandengan tangan, sambil ngobrol dan bahkan ada yang menyedot minumannya sambil berjalan. Semuanya terlihat riang. Entah kenapa saya merasa jatuh cinta pada kota ini. Jalanannya bersih. Penduduknya baik dan ramah. 

Saya lalu berjalan menyusuri pertokoan pinggir jalan. Tanpa terasa keluar dari jalan utama dan masuk ke sebuah jalan yang lebih kecil.

Hi! Ada karpet merah digelar di sini. Hm…Ada apa ya? Orang-orang berkerumun di kiri kanan. Semua terlihat bergembira. Tertawa riang, tersenyum dan menengok ke kiri dan kanan. Semuanya sibuk dengan hapenya dan mengambil ancang-ancang untuk mengambil foto. 

Di ujung sebelah sana, terlihat sebuah panggung dengan poster film besar. Dengan tulisan berhuruf mandarin. Saya tak bisa membacanya. 

Hm…serasa akan ada celebrity yang lewat. Siapa ya? Siapa ya? Mungkin bintang film itu. Tentu saja saya tidak tahu. Semua orang kelihatan sangat antusias. Saya ikut merasa senang. Menyeruak di tengah keramaian orang dan berusaha mengambil posisi sedekat mungkin dengan bentangan karpet merah itu. Lalu ikut-ikut mengeluarkan hape dan mengambil ancang-ancang untuk memotret. 

Teman seperjalanan saya juga sama. Ia bahkan naik ke bangku di tepi jalan agar bisa lebih leluasa mengambil foto dari ketinggian. Setidaknya di atas kepala orang-orang yang berkerumun. Walaupun sama tidak pahamnya dengan saya, ia juga tetap memasang pose siap membidik seandainya ada sesuatu yang  bergerak di atas karpet merah. Tetap bergembira.

​Suasana semakin seru ketika acara dibuka. Serombongan   pendekar memperagakan ilmunya di atas karpet merah. Orang -orang bertepuk tangan. Bergembira. Ha!. Rupanya akan ada “Meet n Greet” dengan bintang utama sebuah film Kungfu dari China yang sukses di Taiwan. Karena tak lama setelah itu, turunlah para bintang film itu ke Red Carpet. Mereka berjalan sambil sesekali melambaikan tangannya. Orang orang memotret dan saya juga. Rasanya senang sekali bisa menjadi bagian dari kegembiraan itu. Ingin ikut memanggil, tapi saya tidak tahu namanya. Ha ha. 

​Tapi kalau dipikir-pikir ini aneh juga. Kami tidak tahu bintang film itu. Siapa dia? Apa pencapaiannya? Bagaimana reputasinya? Tidak pula nenonton filmnya. Juga tidak mengerti bahasanya. Jadi sebenarnya kami sedang bergembira dan mengelu-elukan sesuatu yang kami tidak tahu. Ha ha. ha.. saya jadi tertawa geli memikirkannya. 

Tapi mengapa kami sedemikian gembiranya?  Padahal kan sebenarnya tidak tahu apa-apa?. Hmmm…saya baru ngeh. Ternyata kegembiraan itu bisa datang ke dalam diri kita bahkan dari hal-hal yang sebenarnya tidak kita pahami. Lalu dari mana sesungguhnya kegembiraan itu datang? 

Dari kerumunan di sekitar Red Carpet itu!. Dari orang-orang di sekeliling kita!. Ya!. Saya pikir manusia menangkap gelombang kegembiraan dan kebahagiaan yang dipancarkan oleh orang-orang di sekitarnya. Lewat senyum, pancaran cahaya mata dan tingkah laku. Ketika kita menangkap pesan kebahagiaan itu dengan receptor yang ada dalam diri kita, seketika itu kita terstimulasi untuk ikut menyesuaikan pada gelombang kebahagiaan yang sama. Mungkin itulah sebabnya mengapa kita tetap bisa merasakan kebahagiaan seperti yang dirasakan oleh orang-orang lain, walaupun secara logika kita tidak mengerti apapun tentang penyebabnya. 

Karena kebahagiaan itu menular, berada di sekitar orang-orang berbahagia memungkinkan kita menerima gelombang kebahagiaan yang melimpah. Temukanlah karpet merah-karpet merah lain yang penuh dengan kebahagiaan sepanjang perjalanan hidup kita, sehingga hidup kita pun terbawa arus dan gelombang yang sama.