Membalikkan Diri Dari Keterpurukan

Standard

Jika kita perhatikan sekeliling hidup kita, diantara teman, sahabat atau saudara, ada saja diantaranya yang sedang berada dalam keterpurukan. ‘Keterpurukan ‘yang saya maksudkan bisa bermacam macam bentuknya. Depresi, sedih, atau kehilangan gairah hidup. Entah itu karena kehilangan pekerjaan, kehilangan jabatan, kehilangan kebanggan diri, kehilangan orang yang dicintai- orang tua, kakak, adik, suami atau istri, ditinggal kekasih, menderita penyakit tertentu dsb.  Tingkat keterpurukanpun bervariasi. Ada yang bersedih tidak mau bertemu dengan orang lain, ada yang  tidak mau makan selama berhari-hari, ada yang bengong dengan pandangan tidak fokus, pikiran melayang entah kemana dsb. Ada yang cepat pulih kembali, tapi ada juga yang berlanjut hingga ke gangguan jiwa. Tidak jarang kita sebagai orang yang melihat situasi itupun merasa prihatin dan  berusaha keras untuk mengeluarkan  teman itu dari keterpurukannya. Sayangnya, tidak semua usaha yang kita lakukan berhasil dengan baik.

Disisi lain, kita juga sering melihat fakta di sekeliling kita bahwa banyak orang yang kurang beruntung tetap mampu menjaga spirit positive dalam dirinya. Tetap memperjuangkan hidupnya dengan penuh semangat dan keberanian. Tak kenal takut dan putus asa.

Memikirkan hal itu, saya tertarik untuk mencari tahu, apa yang bisa kita lakukan seandainya situasi keterpurukan itu melanda diri kita. Bisakah kita membalikkan keadaan terpuruk ini menjadi keadaan yang penuh motivasi diri?

Seperti halnya orang lain di dunia ini, saya juga mengalami masa-masa sedih dan bahagia silih berganti. Selama perjalanan hidup saya, beberapa kali saya juga pernah merasakan kekecewaan, kesedihan dan penderitaan yang kalau saya ikuti, sangat berpotensi untukmembuat saya terpuruk. Namun setelah waktu berjalan, saya bersyukur bahwa beberapa masalah itu tidak sempat membuat saya terseret dalam keterpurukan yang dalam. Bahkan belakangan saya mulai menyadari bahwa saat berada dalam posisi berat itu, kita harus segera menolong diri kita sendiri  agar tidak semakin terjerembab ke dalamnya. Depresi dan keterpurukan sangat mirip dengan rawa pasir hisap, semakin kita meronta tak terarah, semakin kita terhisap jauh ke dalamnya. Jadi kitapun perlu melakukan strategy untuk menghadapinya, agar kita bisa keluar dengan selamat dan sukses.

Pada umumnya, keluarga dan para sahabatlah yang menjadi penyelamat kita dalam kondisi susah. Sungguh sangat beruntung orang orang yang kebetulan memiliki keluarga atau para sahabat yang selalu memenuhi hidupnya dengan cinta dan kasih sayang. Yang dengan tulus, terus menerus tanpa pamrih memberi perhatian dan pertolongan serta selalu mengharapkan yang terbaik bagi hidup kita. Sayangnya tidak semua dari kita cukup beruntung memiliki keluarga dan para sehabat yang memiliki kualitas baik seperti itu. Sehingga bilamana itu terjadi maka pada akhirnya kita tidak punya pilihan selain harus berusaha menolong diri kita sendiri, karena selain Ia Yang Maha Kuasa, sesungguhnya tidak ada orang lain yang bisa menolong diri kita sebaik diri kita sendiri. Jadi kitalah yang harus mencari pemecahannya. Bukan orang lain.

Pada saat kita mengalami kesedihan maupun kekecewaan yang mendalam, seringkali kita tidak mampu berpikir jernih. Bila tidak menyalahkan orang lain, biasanya menyalahkan diri sendiri atau keadaan. Namun sesungguhnya hal itu tidak perlu kita lakukan karena tidak akan pernah menolong diri kita menjadi lebih baik. Jadi apa yang bisa kita lakukan?

Belajar dari pengalaman sendiri dan beberapa sahabat yang juga pernah mengalami masa ‘surut semangat’ namun akhirnya bisa sukses keluar dari pasir hisap ‘keterpurukan’ itu, dan bahkan diantaranya ada yang justru keluar dengan penuh energy vital yang berlipat-lipat setelahnya, saya melihat ada beberapa persamaan sikap dan tindakan yang mereka lakukan yang bisa jadi bukan merupakan suatu faktor kebetulan.  Barangkali ada gunanya bila saya share dengan garis besarnya kurang lebih seperti ini:

1. Tolong diri sendiri dengan mengingat hal-halyang kita sukai/membuat diri kita bahagia.

Ini penting untuk membantu kita mengurangi rasa beban di hati.

Saya teringat pada sepotong lirik lagu yang amat saya sukai dari The Sound of Music– judulnya Favorite Things“….When I’m feeling sad,  I simply remember my favorite things, and then I don’t feel so bad.” Lirik lagu ini sungguh mengajarkan pada kita, seandainya kita berada dalam posisi sedih atau kecewa, coba ingatlah segala hal yang kita sukai yang barangkali telah lama kita lupakan. Apapun itu. Barangkali ada yang suka tanaman tertentu, memancing ikan, atau ada yang suka binatang peliharaan, komik, lukisan, perhiasan emas atau permata dsb. Mengingat segala sesuatu yang merupakan favorite kita, menimbulkan perasaan senang di hati. Walaupun tidak bisa seketika mengatasi keterpurukan kita, setidaknya lumayan untuk mengurangi kesedihan.

2. Tolong diri kita sendiri dengan berkumpul/membuka diri pada orang-orang yang kita sukai dan percayai.

Banyak orang berpikir, bahwa menceritakan masalah kepada orang lain merupakan aib besar. Menurut saya tidak seluruhnya benar begitu.Tergantung kepada siapa kita bergaul dan membuka diri kita. Tentunya kita tidak perlu membuka dan menceritakan  masalah yang kita hadapi kepada setiap orang yang kita kenal yang belum tentu kita percayai. Pilihlah orang-orang tertentu yang kita tahu mengenal kita dengan cukup baik, bisa kita percayai atau minimal kita tahu sehari-harinya selalu bersikap netral. Banyak diantara kita yang malu melakukannya. Diluar dugaan kita, bila kita cukup terbuka dan meminta bantuan,  keluarga dan para sahabat sesungguhnya bersedia membantu kita jauh lebih banyak dari apa yang kita pikir dan khawatirkan.

Apabila kita masih merasa belum siap untuk menceritakan masalah kita, minimal berusahalah untuk membuka diri mendengarkan cerita orang lain. Mendengarkan cerita orang lain dengan tulus banyak untungnya. Pertama, setidaknya membuat kita melupakan sejenak kesedihan yang kita alami. Ke dua, mendengarkan cerita orang lain juga  membuat kita merasa tidak sendirian  bernasib malang di dunia ini. “Ooh, ternyata ada juga ya,  orang yang mengalami kesedihan serupa atau malah lebih parah dari saya”. Nasib kita ternyata masih lebih baik dari Donald Bebek yang disebagian besar komik anak-anak diceritakan selalu menjadi bebek yang termalang di kota bebek. Hal ini sekaligus membangkitkan perasaan penuh syukur atas apa yang masih kita miliki. Setidaknya kita masih hidup, masih memiliki mata, telinga, mulut, dsb. Keuntungan berikutnya adalah, dengan mendengarkan cerita orang lain juga memberikan keberanian dan kepercayaan pada kita untuk menceritakan masalah kita kepada teman tersebut.

3. Tolong diri kita dengan selalu bersyukur dan selalu bersyukur.

Ini adalah bagian yang terpenting, karena bagian ini hanya bisa dilakukan oleh diri kita sendiri. Menyingkirkan segala bentuk hal yang membuat kita merasa kerdil dan tidak percaya diri. Bagian ini sangat erat kaitannya dengan memperkuat rasa bersyukur dan berterimakasih atas apa yang kita miliki saat ini. Fokuslah pada keberuntungan kita atas apa yang masih kita miliki, bukan pada kehilangan atau kekecewaan kita.

Sebenarnya bila kita berhasil menyadari & bersyukur sedikit saja  akan keberuntungan kita, maka dengan segera kita bisa menemukan dan menambahkan lagi keberuntungan –keberuntungan lain yang bisa kita masukkan ke dalam daftar ‘syukur’ kita.  Misalnya bila kita menemukan bahwa kita  bersyukur karena kita masih hidup dan memiliki mata, hidung dan telinga, maka berikutnya kita akan menemukan bahwa kita juga bersyukur masih memiliki sahabat, masih memiliki keluarga,  tempat berteduh dsb, dsb. Semakin sering kita melatih perasaan kita untuk bersyukur, semakin kita sadari bahwa ternyata keberuntungan kita masih jauh lebih banyak dibanding kekecewaan kita. Pada titik ini kita mulai menyadari bahwa sebenarnya kita normal saja.Tidak ada bedanya dengan orang lain yang juga memiliki suka duka serupa, walaupun kasusnya berbeda.

4. Tolong diri kita dengan membalikkan keadaan.

Pada saat kita telah mampu menyadari bahwa kita tidak ada bedanya dengan orang lain, maka saatnya buat kita untuk meraih kembali semangat kita.  Bila orang lain bisa bahagia, mengapa kita tidak? Bila orang lain bisa sukses mengapa kita yang harus terpuruk?. Bukalah hati untuk melihat peluang baru yang mungkin ada. Seperti kata orang, jika kita mendapati pintu kita telah tertutup dan kita telah berusaha keras untuk membukanya namun tetap tak terbuka, tengoklah pada sisi yang lain, mungkin pintu lain telah terbuka untuk kita tanpa kita sadari.  Menurut saya itu benar adanya. Lihatlah peluang yang lain. Sekecil apapun itu. Jika peluang kita telah mencapai 0% di tempat ini, kita harus melihat peluang di tempat lain. Apakah menjamin sukses? Tentu tidak ada jaminan!. Mungkin sukses, mungkin tidak. At least, peluangnya sekarang meningkat menjadi  50%. Katakanlah itu bukan 50%, tapi 40% atau 25% atau bahkan lebih parah lagi hanya 5% – toh itu tetap lebih baik. 5% tetap lebih besar dari 0%, bukan?. Susun strategy baru untuk mendapatkannya & semangati diri kita untuk wajib meraih  peluang baru ini.  Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menyemangati diri sendiri. Berbicara dengan diri  sendiri bahwa kita “Pasti bisa!!. Pasti bisa!”  atau “Aku harus berubah!!. Harus berubah!!!!” dsb. Lebih baik lagi dilakukan dengan memandang dalam-dalam wajah dan bola mata kita di depan cermin, dan berjanji bahwa kita harus bisa mencapai apa yang kita inginkan. Perbaikan atau perubahan kearah yang lebih baik.  Intinya adalah melakukan komunikasi dengan diri sendiri, serta meminta diri kita untuk melakukan komitment terhadap apa yang telah kita targetkan. Apabila komunikasi dalam diri kita berjalan dengan baik, maka apapun plan yang kita tetapkan dengan lebih mudah bisa kita ikuti.

Saya rasa bagian terakhir inilah yang membuat orang merasa memiliki energy positive lebih banyak untuk membalikkan keterpurukannya menjadi motivasi. Karena pada dasarnya di dalam diri setiap manusia tersimpan energy baik yang penuh motivasi yang mungkin saat ini  tertutup oleh berbagai masalah sehari-hari yang  menimpa sehingga terkadang sirna tak berwujud.   Jadi yang perlu kita lakukan adalah berkomunikasi dengan diri sendiri dan membangunkan motivasi  dari dalam itu.

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s