Pertemanan Yang Tidak Adil Di Facebook.

Standard

Seorang kawan bercerita kepada saya tentang kawannya yang lain, yang dianggapnya telah berlaku tidak adil terhadap dirinya di media social facebook. Kawan dari kawan saya ini tiba-tiba meng-customize wall sharingnya sehingga kawan saya tak bisa melihat wall status kawannya itu. Padahal, selama ini di dunia nyata  mereka tidak punya masalah, namun mengapa di dunia maya ia berlaku seperti itu? Kawan saya menjadi curiga, apakah itu suatu pertanda bahwa kawannya tidak mau berkawan lagi dengannya? Kecurigaannya   pun  kemudian berkembang menjadi kejengkelan.”Loh..tidak adil dong? Ia bisa melihat wall-ku, karena tak ada sesuatu yang kusembunyikan darinya. Sementara ia menyembunyikan wall-nya dariku. Kalau begini caranya berhubungan, mendingan sekalian saja kita tidak usah berkawan di facebook. Buat apa berkawan dalam ketidakjujuran?” Keluhnya.

Saya yang tidak mengerti duduk perkara keseluruhan ceritanya, hanya bisa berusaha menenangkan dengan mengajukan beberapa kemungkinan yang barangkali belum ia pertimbangkan sebelumnya.

Kemungkinan pertama yang saya ajukan ke kawan saya adalah bahwa  kawannya itu tidak sengaja melakukan itu karena tidak ngeh status di privacy settingnya. “Ah, tidak mungkin!!! Ia bukan type orang yang seteledor itu” katanya segera mematahkan teori kemungkinan saya.  Oke. “Bagaimana kalau perubahan itu tejadi saat pihak facebook melakukan perubahan tampilan yang membuat kita perlu melakukan adjustment setting kita?” Ia tetap tidak setuju dan menganggap itupun  tidak mungkin, karena menurutnya kawannya satu itu tidaklah type pemalas seperti saya yang lebih suka melakukan kegiatan lain-lain daripada mengotak-atik setting facebook.  Teori saya berikutnya adalah, bagaimana kalau ia gaptek? Salah klik lalu tidak tahu caranya membetulkan kembali? Atau tidak berbahasa Inggris dengan baik sementara ia menggunakan versi bahasa inggris? Atau .. istrinya, anaknya yang melakukan itu tanpa ia ketahui? Semua teori ‘ketidaksengajaan’ saya itu dimentahkan kembali olehnya. Tak satupun yang diterima dan masuk diakalnya.  Teman saya tetap menjuruskannya ke arah ‘kesengajaan’.

Sesungguhnya saya mulai kehilangan energy untuk ikut melanjutkan obrolan kami, karena saya tidak kenal dengan kawan dari kawan saya itu.  Selain itu saya juga mulai terpancing untuk mengingat ingat  apakah ada kawan-kawan saya sendiri yang tidak mensharing wallnya dengan saya. Rasanya memang ada satu dua orang yang begitu, tapi selama ini saya tidak terlalu memperhatikan dan memikirkan penyebabnya.  Saya lebih memilih untuk menghormati semua keputusannya. Mungkin teman yang lainpun ada juga  yang mengalaminya.  Mengapa mereka melakukan perbuatan itu? Jika teori ketidaksengajaan tidak berlaku, maka saya mengudek udek apa saja motivasi yang menyebabkan terjadinya ‘kesengajaan’ itu.  Beberapa hal bisa saya pahami mungkin saja terjdi:

1.       Banyak karyawan yang ingin bersahabat dengan atasannya di facebook untuk berbagai alasan. Mungkin ada yang memang menyukai karakter atasannya; ada yang  ingin mengenal atasannya lebih jauh untuk mengetahui keluarganya dan kehidupan belakang layar lainnya guna lebih mudah menyesuaikan diri. Ada yang memang murni karena pengen bersahabat saja, ada yang pengen dianggap penting oleh rekan sejawatnya karena berhasil berteman dengan ‘para bos’, atau hanya sekedar basa basi karena atasannya yang duluan mengundang, jadi ia merasa tidak enak hati untukmenolak pertemanan dsb dsb sejuta alasan lain.

Lalu mengapa ia tidak mau memperlihatkan wallnya pada kawan (baca: atasannya) di facebook? Mungkin saja karena ia suka menumpahkan uneg-unegnya soal kantor, kerjaan dan termasuk atasannya  di dinding facebook. Jadi wajarlah kalau ia tidak mau atasannya melihat itu semua.

Saya pernah memiliki sahabat di facebook yang kebetulan bawahan saya di kantor. Suatu hari saya melihatnya menumpahkan kekesalan atas office policy di wallnya. Esok harinya saya ajak ia bicara, bukan karena saya melarang ia berpendapat, tapi menghimbau kawan saya itu agar jangan menjelek-jelekkan kantor sendiri di wall yang tentunya akan dibaca oleh sejuta umat. Kalau tidak happy, lebih baik dibicarakan off line. Tidak baik untuk image kantor, dan tidak baik juga untuk image dirinya sendiri. Ia setuju dan berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi di wall. Eh.. hari berikutnya ia malah nulis di wallnya bahwa atasannya telah mencampuri urusan pribadinya untuk menulis di fb. Itu kan haknya dia. Begitu pendapatnya. Ya. Beneer juga.  Saya hanya tertawa membaca statusnya dan tak punya selera lagi untuk mengikuti urusan pribadinya. Nah kebetulan teman saya itu bukanlah orang yang suka menutup-nutupi isi hatinya. Tapi mungkin tidak semua orang seperti itu. Ada yang ingin menumpahkan kekesalannya, tapi tak mau diketahui orang-orang tertentu. Jadi wajarlah kalau ia tak mau sharing wallnya.

2.       Atasan atau mantan atasan yang berteman dengan bawahannya juga mungkin berbuat begitu. Terutama bila mantan bawahannya pindah ke perusahaan pesaing, beberapa atasan memilih untuk menterminate pertemanan di facebook atau merubah setting nya agar mantan bawahannya tidak bisa melihat lagi aktifitas/percakapan yang terjadi berkaitan dengan kantor.Wajarlah. Terutama jika sang atasan itu juga suka membawa bawa aktifitas kantornya ke ruang public yang bernama facebook. Itu berbahaya dan bisa terbaca oleh orang yang bekerja di kantor pesaingnya.

Ada juga atasan yang memang tidak mau membagi kehidupan pribadinya dengan teman-teman kantor.  Baginya dunia kantor adalah hal yang terpisah dengan dunia rumah, jadi mengapa harus di share. Tetap berteman dengan bawahan adalah hanya untuk tata karma saja dalam pergaulan. Alasan lain adalah atasan merasa tidak berada di level yang sama dengan bawahannya untuk dijadikan teman yang layak diberi sharing informasi dari wallnya. Dan masih banyak alasan lain lagi yang mungkin.

3.       Anak/keponakan yang ABG dan mulai pacaran seringkali mengeliminir informasi terhadap keluarganya. Kalau kita perhatikan status para remaja jaman sekarang, kadang kadang kita terkejut dan terheran heran . Terutama dalam hal pacaran. Woo.. Berani banget! Waduhhh kok ngawur ya bicaranya! Gawat.. keponakanku kok kaya gitu ya dst dst. Para tante dan om dari sang keponakan  ini biasanya suka mengkritik  dan menjadi polisi moral bagi status keponakannya yang sedang ABG. Tidak boleh begini, tidak boleh begitu. Sang keponakanpun akhirnya menjadi tidak senang dan memutuskan untuk tidak sharing wallnya ke Om & tantenya itu.

4.       Para mantan pacar kadang ada juga yang jadi teman di facebook. Mereka juga ingin berteman dengan kita, pengen tahu kehidupan kita sekarang,  namun bisa jadi berusaha menjaga perasaan kita dengan menghalagi kita melihat percakapan pribadi dengan pasangannya yang sekarang di wallnya. Yaaah.. boleh saja. Tu soal pilihan.

5.      sudah pasti masih banyak lagi reason dan kasus serupa yang terjadi dan menimpa banyak orang di facebook yang belum terpikirkan alasannya oleh saya.

Memang terasa agak tidak adil. Namun jika kita sedkit  berusaha memahami alasannya, mungkin kita bisa menerima dan tetap menghormati keputusan para teman kita untuk menghalangi pandangan kita dari wallnya.

Jika kita tetap merasa tidak diperlakukan dengan adil, barangkali pendapat teman saya untuk sekalian saja tidak usah berteman di facebook bisa jadi merupakan pilihan yang lebih baik. Toh kita tetap bisa berteman di dunia nyata yang lebih riil tanpa memiliki prasangka apa-apa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s