Satu Rupiah Yang Bermakna…

Standard

Kesalahan merupakan hal yang umum terjadi dalam upaya mencapai kesuksesan. Sehingga melakukan kesalahan seringkali dianggap wajar, sepanjang kita belajar dari kesalahan itu dan berusaha memperbaikinya. Pernah suatu kali, team pemasaran saya melakukan kesalahan berturut-turut dalam waktu yang berdekatan. Seorang lalai memperpanjang nomor registrasi produk. Seorang lagi salah mencantumkan barcode produk. Dan seorang lagi tidak mengantisipasi perubahan design untuk research. Akibatnya, bukan saja membutuhkan kerja tambahan untuk memperbaikinya. Namun juga melibatkan biaya dan bahkan ancaman denda dari pihak agency.  Kesalahan-kesalahan itu membuat saya merenung.

Ada 3 hal yang saya diagnosa di sini. Yakni kelalaian, kekurang telitian, dan planning yang lemah. Dan benang merah yang menghubungkan ketiga masalah itu adalah rendahnya kesadaran dalam memanfaatkan uang perusahaan sebijaksana mungkin. Setelah memikirkannya beberapa saat, maka saya memutuskan untuk mengajak team saya bicara.

Pertama saya bertanya, adakah diantaranya yang pernah menjalani profesi sebagai pemasar lapangan sebelumnya. Menjadi Salesman? Atau Sales Girl? Ternyata tidak ada seorangpun. Oleh karenanya, maka sayapun menceritakan pengalaman saya sendiri sebagai tenaga penjual di lapangan belasan tahun yang lalu.

Berada di toko. Penuh pengalaman suka dan duka. Mulai dari menghadapi pelanggan yang komplain,  hingga jempol kaki yang keriting akibat terlalu lama berdiri. Mulai dari incentive yang  datang saat uang mulai cekak,  hingga penghargaan yang saya terima sebagai penjual terbaik. Semuanya saya jalani dengan hati riang. Saya ajak mereka membayangkan  seandainya mereka menjadi seorang Sales Promotion Girl di toko. Sulit buat mereka percaya sekarang, bahwa saya pernah menjalani profesi itu.

Berikutnya saya ajak team saya untuk membayangkan jika mereka yang menjadi salesman di pasar tradisional. Berjalan di bawah terik matahari yang memanggang dari satu toko ke toko lainnya. Panas, penuh keringat dan haus. Menjelaskan kepada Engkoh atau Uda pemilik toko mengenai keunggulan produk kita. Melayani pengambilan order.  Merayunya agar memberi tempat untuk memajang produk kita dan sebagainya. Belum lagi memikirkan target penjualan yang semakin meningkat. Team saya setuju, bahwa itu bukan pekerjaan yang mudah.

Seterusnya saya minta mereka berhitung sederhana. Jika setiap toko rata-rata membeli produk kita sebanyak 200 ribu rupiah. Berapa toko yang harus kita datangi dengan berjalan kaki di bawah panas terik matahari atau  pasar yang panas dan lembab, demi mendapatkan penjualan sebesar 100 juta rupiah? 500 toko!. Ya, benar.

Jika salesman hanya sanggup mengunjungi 20 toko per hari. Berapa harikah ia harus bekerja agar mencapai targetnya? 25 hari!.Team saya menjawab semuanya dengan sangat tepat sekali. Tentu saja saya tidak bermaksud melakukan test matematika.

Berikutnya saya menjelaskan permasalahan saya kepada mereka. Bahwa untuk membayar kelalaian yang kita lakukan, kita akan mengambil uang dari profit perusahaan. Dan profit perusahaan tentu datang dari penjualan. Bilanglah untuk memudahkan perhitungan, rata-rata profit sebuah perusahaan hanya 10% dari penjualannya. Jika kita melakukan kelalaian yang berbiaya sebesar 1 juta rupiah maka biaya 1 juta rupiah itu akan kita ambil dari profit yang datangnya dari penjualan sebesar 10 juta rupiah. Jika kesalahan kita berbiaya 10 juta rupiah, berarti itu datangnya dari penjualan sebesar 100 juta rupiah.

Jadi, kata saya menyimpulkan; “Jika karena kelalaian, mengakibatkan kita terpaksa mengeluarkan biaya atau denda sebesar 10 juta rupiah, maka sesungguhnya kita telah  mengambil profit yang dihasilkan oleh kerja keras salesman kita selama 25 hari. Benar, bukan? ”. Teman-teman saya tampak menangkap arah pembicaraan saya.

Nah, sekarang…bagaimana rasanya kalau kita yang menjadi salesman? Dan tahu bahwa ternyata hasil kerja keras penuh keringat, panas dan pengap kita selama 25 hari itu lenyap tanpa bekas? Terbuang begitu saja akibat keteledoran seorang rekan kerja kita yang duduk  di ruang kantor nyaman yang ber Ac? Lengkap dengan kendaraan, laptop dan segala fasilitas lain yang kantor sediakan? Gondok, bukan?

Saya melihat team saya  terdiam oleh cerita saya itu. Tak seorangpun sanggup membayangkan dirinya menjadi salesman yang mengetahui kesalahan rekan kantornya di ruang ber Ac yang nyaman itu.  Dan juga tak sanggup mendapati kenyataan,  bahwa rekan kantor yang telah menyia-nyiakan keringat salesman itu ternyata adalah diri mereka sendiri. Saya membayangkan perasaan bersalah dan tidak enak di setiap raut wajah teman-teman saya atas kejadian itu.

Lalu untuk menetralisir semua itu, akhirnya saya menegaskan bahwa sayapun termasuk di dalam kelompok yang merasa bersalah itu. Karena kami adalah team. Setiap kesalahan yang dilakukan oleh anggota team saya, juga  berarti kesalahan saya sebagai pemimpinnya. Dan kewajiban saya adalah bagaimana menggiring team saya untuk melakukan perbaikan ke depannya. Tidak terpaku pada kesalahan yang telah terlanjur terjadi.  Akhirnya semuanya berjanji bahwa lain kali kami semua pasti akan lebih teliti lagi. Dan melakukan planning yang lebih baik  lagi. Untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang menelan biaya dan kerja tambahan.

Jarum jam menunjukkan pukul 12 .00.  Rupanya sudah waktunya untuk makan siang. Sayapun keluar dari ruangan meeting dengan penuh keharuan. Berharap agar team saya benar-benar mampu  memahami bagaimana keseluruhan system bekerja. Dan menyadari bahwa betapa setiap rupiah yang kita keluarkan itu sarat dengan makna. Tetes keringat dan keletihan…

16 responses »

  1. Tulisan yg sarat makna jg Mb Dani. Beruntungnya perusahaan tempatmu bekerja Mbak. Kalau aku jd bosnya, tak kasih bintang maha karya deh🙂

    Berada dlm suatu ruang, kita kadang melupakan realita pd ruang lain. Semoga contoh yg Mbak Dani berikan, memicu empati yg berakhir pd saling mebghargai
    Juga menghargai setiap sen uang perusahaan🙂

  2. bener2 harus bekerja untuk kepentingan bersama yah, bukan untuk diri sendiri lagi. dalam setiap diri karyawannya ada SELURUH bagian perusahaan.

  3. kurang lebih seperti yang saya sampaikan pada para asisten di sini mbak
    cuma memang masih skala kecil.
    bahwa penghematan pada listrik, dan lain2nya itu, berdampak pada kesejahteraan bersama.
    jadi setiap tindakan pasti ada konsekuensinya.
    ilustrasi yang bagus itu mbak, semoga anggota teamnya bisa benar2 meresapinya dengan hati yang terbuka, bukan malah ngedumel gak jelas di belakang kita.

    selalu semangat ya mbak!

  4. semoga usaha keras kita lakukan utuk kepentingan bersama sebagaimana yang lainnya berkerja dengan keras untuk kepentingan kita bersama… pengalaman seperti ini adalah pelajaran berharga dimana nanti dan kedepan dapat perubahan dan mengetahui kesalahandan tidak mengulanginya, dan sebagai pemimpin tugas mbak ni mengingatkan dan terus mengngatkan jika ada kesalahan hehehe

    semakin salut nich sama mbak ni d(^o^”) – chayoooooooo

  5. jujur saya tidak begitu memahami isi post ini, karena saya tak pernah punya pengalaman.

    tapi saya tahu tentang sales yang berpanas panasan tak jarang juga ke ujanan masuk dari satu toko ke toko lainya di pasar tradisional demi mengejar target.. sungguh pekerjaan yang tak mudah.

    seandainya setiap peminpin punya pemahaman yang sama dengan Made seperti di tulis dalam paragrap terahir dari bawah, pasti akan tercipta kesejahteraan untuk semua….

  6. Hemmmm….. saya sendiri belum pernah menjadi salesman. jadi belum paham dan mngerti secara mendalam bagaimana seorang salesman bekerja..

    Salam sukses adja mbokk..
    tiang dari denpasar ne

  7. sebuah pengalaman dan pelajaran berharga. Beruntung orang-orang seperti mbak yang dapat berguru pada pengalaman hidup. Beruntung orang-orang seperti saya yang turut membaca tulisan ini, semoga saya pun dapat memetik hikmahnya pula

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s