Menyikapi Perkelahian Anak II: Peran Seorang Kakak.

Standard

Kakak AdikMelanjutkan tulisan saya sebelumnya tentang Menyikapi Perkelahian Anak I, sebelumnya saya mengatakan bahwa reaksi yang muncul akibat perkelahian anak saya ini tentu berbeda dari saya sebagai ibunya  dengan reaksi bapaknya.   Seorang Ibu secara otomatis akan meletakkan fokus pada penderitaan anaknya, lalu memastikan apakah kesalahan tidak dilakukan oleh anaknya atau tidak. Sedangkan seorang Bapak akan otomatis mencari tahu penyebabnya lalu beralih ke soal membangun harga diri dan kepercayaan diri anaknya.

Reaksi Seorang Bapak.

Reaksi pertama  saya adalah  “Bagian mana yang dipukul? Sakit tidak? Parah tidak?”…lalu… “Mengapa dipukul? Apakah melakukan kesalahan?” .

Tapi reaksi pertama dari bapaknya : “Mengapa dipukul? Mengapa tidak pukul balik saja? Mengapa kakak tidak belain adik? .

Mendapat pertanyaan dari bapaknya, anak saya yang kecil tidak bisa menjawab dengan baik. Ia menangis sesenggukan merasa tidak berdaya.. Ia hanya menjelaskan bahwa temannya itu emosian dan mau menang sendiri. Tidak mau dibalas berhore-hore, padahal ia juga melakukan itu sebelumnya. Bahkan lebih parah, pakai acara mengejek-ejek segala.

Namun anak saya yang besar menjawab pertanyaan Bapaknya dengan tenang dan jelas. Mengapa ia tidak membela adiknya, padahal ia ada di sana saat kejadian sedang berlangsung? Bahwa suasananya sudah sangat panas. Dan ia tidak mau membuat suasana tambah panas lagi dengan membela adiknya begitu saja. Walaupun menurutnya ia tahu bahwa dalam kejadian ini, adiknya bukan dipihak yang salah. “Anak itu memang sangat emosional. Sudah sering begitu. Kalau aku ikut panas, suasananya akan jadi sangat panas , Pa. Bisa meledak nanti. Kan malu sama papa mama dan oma-nya. Juga sama tetangga yang lain.  Jadi harus ada orang yang tenang dan melerai. Makanya aku tidak mau ikut terbawa emosi dan marah di situ. Apalagi mukul. Aku nggak mau . Aku hanya kasih peringatan dia bahwa itu jangan lagi dilakukan. ” katanya menjelaskan. Ia bahkan melarang adiknya memukul kembali dan mengajaknya pulang.  Bapaknya kelihatan puas dengan jawaban anaknya. Lalu ia keluar dan tidak memperpanjang pertanyaannya lagi.

Anak saya yang besar lalu melanjutkan ceritanya ke saya “Orang emosian seperti itu, tidak bisa dibalas dengan emosi dong , Ma!“.  Ia menceritakan beberapa contoh kasus berhubungan dengan teman-temannya yang memiliki beragam kepribadian, termasuk diantaranya ada juga yang suka emosian. Dan bagaimana caranya ia mengatasi itu dan keluar dengan baik-baik saja.  Entah kenapa tiba-tiba saya melihat anak saya tumbuh dewasa begitu cepat. Pemikiran dan emosinya jauh lebih dewasa dari umurnya.

Saya sangat menyetujui pendapatnya. Masalahnya adalah bukan bagaimana caranya membalas dan merasa impas hanya dengan berhasil memukul kembali atau balas menyemprotkan kemarahan, namun lebih kepada bagaimana cara kita menghadapi teman-teman yang memiliki emosi beragam dan kita tetap bisa menguasai situasi dengan baik.  Tetap tenang dan mengendalikan emosi. Apa yang kelihatannya mengalah, sebenarnya tidak selalu berarti kalah.

Saya setuju. Setuju banget dengan pendapat anak saya itu. Menurut saya, ia telah melakukan sikap yang tepat menghadapi situasi itu.  Kasihan juga ia mendapat teguran dari bapaknya. Seorang kakak harus bisa menjaga adiknya dengan baik. Tentu saja, karena standarnya dimana-mana begitu ya.

…saya jadi teringat kepada kakak kandung saya. Dulu, waktu saya kecil, saya juga sangat bandel. Suka bermain ke sana kemari, lari, ke sungai, ke jurang,  bersepeda ke sana kemari,  memanjat pohon hingga pernah nyungsang, nyaris kecelakaan, kaki nyangkut di cabang pohon, sementara kepala menggelantung ke bawah, suka melanggar peraturan yang dibuat orang tua kami. Tapi beberapa kali ketika saya melakukan kebandelan dan nyaris celaka, bukan hanya saya saja yang dimarah oleh bapak saya, tapi juga kakak saya. kakak saya ditegur karena dianggap tidak becus menjaga adik saat ditinggal orang tua. Sehingga pernah suatu kali kakak saya berkata “ Mengapa ya, yang nakal itu kamu, kok  aku juga ikut dimarahin” ya.. benar sih. Kakak saya sangat tertib, rapi dan tidak pernah bandel. Seharusnya ia memang tidak ikut dimarahin atas kebandelan yang saya perbuat. Saya tidak tahu jawabannya….Yah, barangkali itulah swadharma-nya menjadi seorang kakak…

Mungkin begitu juga beban yang ditanggung oleh anak saya yang besar ini. Karena menjadi seorang kakak, dengan sendirinya ia menerima ekspektasi agar bersikap sebagai pelindung dan penjaga adiknya.  Saya melihat bahwa anak saya yang besar telah membuktikan bahwa seorang kakak, bukan semata harus menjaga adiknya secara fisik, namun juga menyelamatkannya secara emosional. Ia mengambil alih situasi dan membimbing adiknya bagaimana harus menguasai diri, agar bisa menguasai situasi dengan lebih baik lagi ke depannya. Saya tahu, dengan posturnya yang bongsor, tinggi besar, tentu akan mudah bagi anak saya untuk memukul anak yang badannya lebih kecil. Tapi toh ia tidak mau melakukannya. Ia mengutamakan hubungan ke depannya, dengan menasihati adiknya bagaimana seharusnya lain kali menguasai situasi seperti itu.

Saya keluar kamar dan duduk di sebelah suami saya yang sedang membaca di kursi. “Anaknya ternyata sudah dewasa pemikirannya ya” kata suami saya berkomentar. Saya mengiyakan sambil tetap berpikir, kekerasan pada anak adalah satu hal yang memang patut dijadikan perhatian oleh para orang tua.  Kita sebagai orang tua sebaiknya selalu memantau tindak tanduk anak-anak kita dan memberikan teguran, jika melakukan hal yang sebaiknya jangan dilakukan oleh anak.Apalagi jika anak melakukan tindak kekerasan dengan memukul anak yang lain. Idealnya barangkali saya perlu berbicara dengan orang tua dari anak itu, namun karena anak saya menjelaskan bahwa orang tuanya sudah tahu kejadian itu, sudah tahu bahwa anak itulah yang salah dan sudah menegurnya juga atas kejadian itu, maka saya memutuskan untuk tidak memperpanjang lagi masalah ini.

Yah..kembali lagi. Namanya anak-anak. Bermain dan berantem adalah bagian dari hidup. Besok juga baik kembali…

14 responses »

  1. Pertanyaan saya akan sama seperti yg ditanyakan bapak.

    Salut dengan cara si kakak menyelesaikan masalah dan mengendalikan emosinya, meskipun dengan mudah sebetulnya kakak bisa balas memukul🙂

  2. Duh, aku aja gak yang udah usia 20-an gini belum bisa berpikir seperti si sulung, klu ade aku di pukuli biasanya aku akan pukuli balik si pelaku…jadi malu sama si sulung…

  3. Duh… kasihan si adik. AKu juga kalau anakku misalnya terbentur di sekolah akan aku tanya dulu mana yang sakit….
    Ah si Kakak memang jago ya mengendalikan emosi… salut.

  4. Wah ini … ini nih Bu …
    Jujur … saya tidak pernah mendapat laporan mengenai berantem dari anak-anak saya …
    mereka semua bersekolah di satu yayasan yang sama … dan sejauh ini alhamdulillah lancar-lancar saja …

    Namun pernah suatu ketika … si Bungsu … terlihat selalu murung dan segan kesekolah …
    saya ingat sekali … ini terjadi ketika kelas Lima …
    Setelah saya gali – gali informasi … akhirnya si Bungsu mengaku … dia suka dikata-katain oleh teman-temannya … (entah mengapa komposisi kelas Lima kali ini … anak-anaknya rada nakal-nakal) … si Bungsu diam saja … tidak menjawab “kata-kata-an” dari teman-temannya.

    Akhirnya … terpaksa saya turun tangan … saya datang ke sekolah … pagi hari … ketika kelas belum mulai … dan saya perhatikan satu per satu mata anak-anak lelaki yang ada di kelas lima itu … satu persatu … dari ujung rambut … sampai ke ujung kaki … saya tidak mengeluarkan kata-kata apapun … hanya muka saya setel paling “dingin” dan “bengis” yang pernah ada … hahaha. Sekali lagi … tak ada kata-kata … apa lagi tindakan … Hanya mengamati … (ok-ok saya ngaku … tepatnya saya pelototi) satu per satu anak-anak lelaki disana … sampai mereka jengah dan menunduk sendiri …

    Alhamdulillah … Puji Tuhan … besoknya si Bungsu ceria kembali … dia sudah bebas dari dikata-katain oleh temannya. Mungkin masih ada … tetapi kadarnya jauh lebih ringan … dan hanya bercanda saja …

    (wih … panjang komen saya bu … maaf ya …)

    Semoga jangan ada berantem lagi dah …

    Salam saya Bu

    (5/3 : 8)

  5. pertengkaran anak beda dgn pertengkarangan orang dewasa ya mbak,, mereka bisa cepat berbaikan lagi, sedang ornag dewasa belum tentu, jd teringat anak tetanggadi sini nih

  6. Pembelajaran luar biasa dari perkelahian ini Jeng Dani. Anak-anakpun tumbuh dewasa menurut caranya ya. Apresiasi sekali dengan cara Jeng Dani menangani kasus ini. Salam hangat

  7. anak saya beberapa hari kemaren mendapatkan luka juga di wajah,
    karena di dorong temannya, bukan berkelahi, tapi gara-gara becandanya kelewatan.
    saya menyikapinya sama, laki-laki memang pakai logika ya.
    si kakak hebat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s