Ceritaku Di Balik Pemilu 2014.

Standard

PemiluMengikuti Pemilihan Umum, hanya bisa kita lakukan 5 tahun sekali. Oleh sebab itu, sayang kalau tidak ikut berpartisipasi dalam pemilihan umum yang dilakukan tanggal 9 April yang lalu. Hanya saja, masalah saya adalah saya tidak kenal satupun dari caleg-caleg yang fotonya dipampang di daftar caleg itu.

Seorang tetangga yang menjadi caleg di lokasi pemilihan lain, terlihat sedang mencuci mobilnya ketika saya lewat. Saya menyapanya dan bertanya apakah sudah memilih. Ia bilang sudah dan berkata bahwa namanya tidak ada di situ. “Di tempat penilihan  lain” katanya. Tapi ia membisikkan kepada saya agar saya mencoblos temannya saja. Ia menyebut sebuah nama. “Nitip teman gua ya!“. katanya.  “Nggak  ah. Tidak menerima titipan. Kecuali nama lo ada di situ. Bolehlah gua pilih” kata saya tertawa, tapi tetap berusaha menyimpan nama yang disebut oleh  tetangga saya itu di ingatan saya. Buat jaga-jaga, siapa tahu jika misalnya nanti saya tidak mempunyai ide siapa yang akan saya pilih, mungkin saya akan mempertimbangkan namanya. Asumsi saya, tetangga yang saya tahu orangnya baik, tentu akan merekomendasikan orang yang juga baik. Tetangga saya hanya tertawa  mendengar jawaban saya, lalu kembali meneruskan pekerjaannya, mengelap kendaraannya.

Ketika sampai di tempat pencoblosan, sambil menunggu saya melihat-lihat foto-foto dan nama para caleg itu. Banyak orang berkerumun di sana. Namun kelihatannya kebanyakan yang seperti saya. Tidak tahu siapa yang harus dipilih. Banyak juga orang kelihatan berdiskusi dalam kerumunan. Tapi tetap kelihatan bingung menentukan pilihan. Saya melihat hanya sedikit sekali yang kelihatan pasti dengan pilihannya. Kebanyakan mencari-cari contekan. Akhirnya seorang wanita berteriak  kepada kerumunan.

“Ah! kalau saya sih pilih caleg wanita saja.  Hayo! Ibu-ibu, kita pilih caleg wanita saja!. Agar aspirasi kita tersalurkan” katanya mencoba meyakinkan ibu-ibu lain. Tapi saya yakin, ibu itupun sebenarnya juga tidak tahu siapa yang akan dipilih.  Karena ia berkata demikian sambil tertawa-tawa bercanda. Saya hanya manggut-manggut saja. Ya! Boleh juga dipertimbangkan.

Seorang lelaki tiba-tiba menyeruak ke dalam kerumunan. “Permisi donG!” katanya. Sayapun minggir. “Saya mau pilih yang akuntan saja.” katanya sambil menggerakkan telunjuknya ke atas ,ke bawah dan ke samping di antara nama-nama caleg itu. Mencari-cari seorang akuntan. Saya tidak tahu apakah ia menemukan seorang caleg yang berprofesi akuntan di sana. “Bapak pasti seorang akuntan ya?” kata saya menebak. Bapak itu mengiyakan. “Ya. Betul, Bu! Saya akuntan” katanya dengan muka cerah. Mungkin ia sudah menemukan jagoannya sekarang. Barangkali!. Ide memilih yang cukup baik juga. Untuk menyalurkan suara hati profesi masing-masing.

Seorang pemilih lain mengikuti jejaknya. Saya menduga  ia seorang dokter. Karena ia  mencoba mencari-cari caleg yang juga dokter.Saya mengikuti gerakan jarinya dengan pandangan mata saya. Wah..kalau dokter sih kelihatan ada beberapa orang yg dengan mudah saya lihat. Soalnya gelarnya disebut di depan namanya. Dokter A, dokter B. dan seterusnya. Saya juga melihat ada nama seorang dokter gigi di sana. Maka ketika seorang tetangga saya yang kebetulan dokter gigi datang dan ikut berkerumun, lalu sayapun segera memberinya saran “ itu tuh ada caleg yang dokter gigi, kalau mau nyoblos teman sejawat. Siapa tahu?” kata saya sambil nyengir menahan tawa. Tetangga saya itu tertawa. “Mana? mana?” tanyanya. Entah ia serius atau tidak. Ia pun melongokkan kepalanya ke daftar caleg. Melihat ke arah dokter gigi yang saya maksudkan, namun masih terus menelusuri nama caleg-caleg yang lainnya juga. “Ada dokter hewan juga nggak? Atau marketer?” tanya tetangga saya . Saya tertawa. Belum berhasil menemukannya.

Musician ada nggak?” kata seorang ibu-ibu kepada seorang bapak gondrong  yang baru tiba dengan istrinya yang cantik. Bapak gondrong itu tersenyum lalu ia dan istrinya bersalaman dengan ibu itu. Mereka mengeluhkan, betapa lamanya mereka tak pernah bertemu. Lalu mereka mengobrol. Saya pikir, barangkali Bapak gondrong itu seorang musician. Saya mencoba mengingat ingat, siapa ya? Rasanya pernah melihat wajahnya. Entah di mana? Di Jakarta ini memang mudah menemukan artis di tengah kerumunan. Namun otak saya tak mampu bekerja. Akhirnya saya tidak mau berusaha berpikir lagi.

Saya kembali melihat-lihat foto para caleg itu.Mencoba mencari-cari barangkali ada seorang yang memiliki attribut yang sesuai dengan diri saya.  Lama sekali saya berdiri di sana. Tetap tidak tahu jawabannya. Tidak ada yang saya kenal. Tapi ada deng….. kenal sih tidak tapi setidaknya pernah saya baca namanya. Seorang ibu rumah tangga yang pernah berkasus dengan sebuah Rumah Sakit   dan ujung-ujungnya dibebaskan dari dakwaan setelah sempat mengundang protes prihatin dari berbagai kalangan dengan cara mengumpulkan uang receh.  Ooh.. jadi dia nyaleg ya?  Hmm…. Tapi yang  lainnya saya benar-benar tidak tahu.

Orang -orang di kerumunan tetap bercakap-cakap. Dan kebanyakan saya tangkap memang tidak tahu siapa yang akan dipilih. Semuanya membuat saya merenung. Pemilih dan yang dipilih. Tidak kenal satu sama lain. Tidak heran, akhirnya orang-orang mencari-cari kesamaan dari atribut-atribut yang dikenakan. Sesama wanita.Sesama kaum seagama.Sesama profesi. Sesama suku. Sama-sama pakai kacamata.Sama-sama berambut ikal.

Matahari semakin menanjak naik. Wajah-wajah  yang dipampang itu tidak berkata apa-apa. Saya tidak tahu siapa dia. Apa kepiawaiannya? Apa proggram-proggramnya? Bagaimana ia akan mewakili suara saya kelak di DPR ataupun DPRD? Saya membayangkan seorang wakil yang pintar, cerdas dan penuh semangat hidup dengan berjuta-juta gagasan di otaknya yang siap untuk dieksekusi.  Namun bagimana jika ternyata ia idak seperti yang saya harapkan? Ternyata kosong dan tidur melulu saat mengikuti sidang? Ternyata korupsi dan jauh dari kata ‘bersih’? Seperti yang banyak diberitakan dimedia-media….

Tetapi saya harus memilih! Harus memilih diantara orang-orang yang tidak saya kenal itu…

 

 

 

 

 

12 responses »

  1. Sama mbak, saya juga bingung. Ngga liat namanya siapa, pokoknya perempuan dgn no urut paling bawah, itu yg saya pilih .. hihihi.

  2. saat milih saya inget dengan caleg yang namanya ada di kelender, terus saya pilih dia deh. bukan apa apa juga sih, cuma saya percaya sama ibu saya, tentu beliau masang kalender yang sudah dikenal orangnya di rumah. . .

  3. Nah aku juga juga seperti itu Mbak Dani, tak seorangpun yang dikenal, kecuali sebuah nama yang berkasus dengan rumah sakit..Ya sudah aku coblos partainya saja..hehehe..

  4. Kayanya banyak orang yang mengalami hal yang sama, termasuk aku. Bingung menentukan siapa caleg pilihannya karena gak ada yang kenal dan jelas rekam jejaknya 😀

  5. Bebas saja kok. Bebas pilih karena jam tangannya semerk, menservis kendaraan di bengkel yang sama, anaknya kalau tak salah kenal anak kita dsb. Tapi nanti soal kualitas ya bebas juga ya..:mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s