Di Batas Rasa Iba Dan Kebodohan.

Standard

Satu hari, saya mengajak anak-anak untuk berjalan-jalan di sekitar area Pasar Seni, Kuala Lumpur. Ada banyak hal yang bisa dilihat dan dipelajari di daerah sana dan sekitarnya. Mulai dari Pasar Kasturi – Central Market, Museum Textil, Taman Burung, Taman Kupu- Kupu, Masjid Negara, Islamic Art Center dan sebagainya.

Anak-anak memutuskan untuk menggunakan MRT saja. “Lebih murah, Ma. Kita bisa saving-saving duit cash kita“. Saran anak saya. Saya setuju. Terlebih karena stock ringgit di dompet saya juga sudah mulai menipis. Kamipun melangkah keluar hotel dan menuju stasiun.

Di stasiun kami menuju auto ticket counter guna membeli coin. Memilih milih Line kereta yang ada di menu, tiba tiba seorang pria yang berdiri di mesin ticket di sebelah saya bertanya dengan ramah. “Hai!. Kalian mau ke mana?” tanyanya. Saya menjawab, mau ke Pasar Seni.

Begitu mendengar jawaban saya, dengan sigap ia membantu anak saya. Ceklak ceklik… kami bayar dan coin ticket kereta pun keluar. Sangat cepat kejadiannya. Ooh tentu saja. Karena ia seorang pria lokal yang pastinya sudah hapal dengan jalur-jalur MRT maupun kereta lain di kota ini.

Saya berterimakasih. Orang itu mengangguk dengan sangat ramah. Lalu ia bertanya, apakah saya bersedia memberinya beberapa butir uang receh. Ia sedang kesulitan dan kehabisan uang. Oooh!. Saya memandang wajahnya dan merasa iba. Membayangkan jika saya berada di posisi dia.

Tentu saja saya tidak keberatan. Saya pun mengeluarkan semua uang logam yang ada di dompet saya. Dan memberikannya kepadanya. Ia mengucapkan terimakasih.

Lalu ia bercerita kalau sesungguhnya ia sedang bermasalah dengan kakinya. Ia menyingsingkan sedikit celana panjangnya dan saya melihat luka yang sangat serius. Oooh. Sungguh terkejut melihatnya. Luka yang besar yang tidak cukup hanya jika diobati dengan obat merah saja. Harus dibawa ke rumah sakit dan ditangani dengan serius. Bahkan mungkin perlu beberapa jahitan untuk menutup luka terbuka itu.

Saya pikir uang logam yang tadi saya berikan kepadanya tidak akan cukup. Lalu sayapun memberikan beberapa lembar uang kertas lagi agar bisa ia gunakan untuk mendapatkan perawatan yang baik dari rumah sakit. Saya menyerahkannya sembari berdoa dalam hati saya, semoga orang ini mendapatkan perawatan yang baik dan sembuh dari lukanya.

Tanpa saya duga, orang itu merunduk di hadapan saya, menyentuh kaki saya dengan tangan kanannya lalu mengusapkan tangannya itu di keningnya, sebanyak tiga kali. Saya terkesima dengan kelakuannya dan mencoba melarang ia berbuat begitu kepada saya. Tetapi ia keburu selesai. Setelah itu ia mengucapkan terimakasih dan saya melihat airmatanya mengambang sebelum ia melangkah pergi.

Mama apain orang itu?” anak saya yang rupanya melihat bagian akhir kejadian itu terheran -heran. Mengapa orang itu menunduk di depan saya dan menyentuh kaki saya, lalu menempelkannya ke keningnya. Saya bilang “Nggak Mama apain. Mama cuma kasih uang“, kata saya.

Anak saya terkejut. Rupanya ia tidak melihat kejadian saat saya memberikan uang pada orang itu. “Astaga, Mama!!!. Mengapa Mama berikan dia uang?. Itu sejenis…. scamming, Mama!!!“. Tegur anak saya yang sulung dengan suara tinggi. Saya terkejut akan reaksi anak saya yang tak terduga itu.

Mama ditipu!!!“. Lanjut anak saya yang bungsu lagi. Mereka seperti bersekutu mengkritik saya.

Saya membantah kalimat anak-anak saya itu. Saya bukan tertipu. Saya kasihan padanya dan memang ingin memberinya bantuan uang. Saya sadar. Dan bahkan sangat sadar melakukannya karena rasa kasihan. Karena rasa iba. Bagainana mungkin kedua anak saya bisa mengatakan jika saya tertipu.

Berapa banyak uang yang Mama berikan kepadanya?” tanya anak saya yang sulung.

Saya tidak menjawab dengan tepat. Jawaban yang tidak menipu, tapi tidak bisa dibilang jujur juga. “Hanya beberapa ringgit” jawab saya. Jawaban yang mengambang. Siapakah yang tahu, berapa batas kata “beberapa” itu?. Banyakkah? Sedikitkah?.

Saya lalu memberikan pengertian kepada anak saya. Itu bukan penipuan. Tapi masalah rasa iba kepada orang lain yang sedang kesulitan. Sebagai sesama manusia, kita wajib membantu orang yang sedang kesulitan, jika posisi kita memungkinkan untuk membantu.

Tapi ke dua anak saya tetap tidak yakin bahwa orang itu tidak menipu saya. Saya lalu mengingatkan, bahwa kaki orang itu luka parah. Dan kami semua melihatnya. Bukankah itu bukti yang cukup bahwa orang itu tidak menipu?.

Anak anak saya tetap tidak setuju. Belum tentu itu luka beneran. Kesan luka bisa dibuat buat. Banyak seniman bisa membuat karya tiruan luka. Ooh…ya. Bisa juga sih jika diambil dari sudut pandang itu. Anak anak lalu memberi contoh fakta beberapa kejadian pengemis dengan luka palsu yang memang kami pernah lihat sendiri, saat anak anak masih kecil.

Sampai akhir hari, saya masih sulit untuk setuju dengan pendapat anak-anak saya bahwa orang itu telah menipu saya. Karena saya yakin telah melihat luka beneran dan saya melihat airmatanya mengambang saat mengucapkan terimakasih kepada saya sebelum pergi.

Sementara anak-anak saya tetap berpikir bahwa saya sudah melakukan kebodohan karena begitu mudah ditipu oleh orang itu. Masalah air mata mengambang itu kan bisa juga soal keahlian seseorang ber-acting yang sangat bisa dilatih. Yaaa…. bisa juga sih jika kita hubung-hubungkan ke situ.

Sungguh saya tidak tahu yang mana yang benar dan yang mana yang salah. Karena semuanya memberi kemungkinan yang sama untuk menjadi benar ataupun salah. Hanya Tuhan yang tahu kebenaran yang sesungguhnya. Hanya Tuhan pula yang tahu di mana batas antara rasa iba dan kebodohan manusia.

Saya tercenung. Aaah…. tidak usah saya pusingkan apa yang telah terjadi. Ibarat sedang menonton sebuah potret. Kita tak pernah tahu kejadian apa saja yang terjadi sebelum kamera menjepret kejadian di foto itu, dan juga kejadian apa saja yang terjadi setelah potret itu dibuat. Tak usah kita pusingkan dan pertanyakan. Cukup nikmati saja satu single moment saat potret itu dibuat.

Tidaklah begitu penting, apakah orang itu memberi keterangan benar atau menipu. Yang lebih penting adalah keikhlasan hati kita. Sehingga membuat apapun dan seberapapun yang kita keluarkan menjadi berharga. Setidaknya di hati kita.

Saya pun melenggang pergi dengan hati riang.

Advertisements

One response »

  1. Maraknya penipuan memang membuat generasi zaman sekarang seolah kehilangan hati nurani. Tidak bisa disalahkan juga karena manusia memang harus melindungi diri agar terhindar dari segala kejahatan.
    Kontradiksi yang sering membuat kebingungan bila sudah berhubungan dengan hati nurani dan berniat memberi didikan kepada anak.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s