Liburan . Jalan-jalan Ke Monkey Forest Ubud.

Standard

Memperkenalkan Konsep Tri Hita Karana Dalam Kehidupan Pada Anak

Ketika berkesempatan pulang ke Bali bersama keluarga, saya mendapatkan ide untuk mengajak anak saya mengunjungi Wenara Wana atau yang lebih sering disebut Monkey Forest di Ubud sebagai respon atas keinginan mereka untuk melihat binatang.

Sacred Monkey Forest Sanctuary berlokasi di desa Padang Tegal, Ubud kira-kira 30 menit perjalanan dari Denpasar. Perjalanan ke sanapun sangat menyenangkan karena melewati pusat-pusat kerajinan dengan gallery-galery  yang penuh dengan benda-benda seni yang dipajang  sepanjang jalan. Sebelum masuk ke area saya berhenti untuk membeli pisang.  Saya diberikan sesisir pisang  oleh ibu tua pedagang pisang yang menolak pembayaran saat mengetahui saya adalah penduduk lokal. “Bawa saja, nak.  Nggak apa-apa. Saya hanya menjual pisang kepada turis” Katanya. Saya agak malu menerima pemberiannya, karena sesungguhnya saya masih mampu membayar pisang itu. Tapi karena ibu tua itu terus mendesak, akhirnya saya terima juga sambil mengucapkan terimakasih. Tentu saja pisang itu akan digunakan oleh anak-anak saya untuk memberi makan monyet.

Anak sayapun segera meminta brosur mengenai Monkey Forest dan tertarik dengan kata-kata “Tri Hita Karana” dan segera melontarkan pertanyaan kepada saya. “ Apa maksudnya ini, Ma?”. Rupanya pengelola Monkey Forest memuat informasi mengenai  konsep keharmonisan dalam kehidupan orang Bali secara umum yang disebut Tri Hita Karana, yang mencakup hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan lingkungan alam sekitarnya dan hubungan manusia dengan manusia yang lainnya. Dengan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami anak-anak saya mencoba menjelaskan bagaimana konsep Tri Hita Karana itu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari di Bali.

Memasuki Wenara Wana atau hutan monyet ini, seketika kita akan merasakan penerapan konsep Tri Hita Karana itu sendiri tanpa perlu kita jelaskan dengan kalimat panjang lebar. Sesuai dengan namanya, hutan kecil yang disakralkan ini memang dihuni oleh ratusan monyet ekor panjang (Macaca fasicularis) yang berwarna abu-abu.  Hutan beserta isinya ini bukan saja disakralkan secara adat oleh penduduk setempat, namun secara ilmiah hutan ini juga merupakan hutan konservasi yang dilindungi untuk menjaga ecosystem lingkungan secara umum. Banyak larangan yang diberlakukan. Terutama sikap-sikap kurang terpuji yang bersifat mengganggu dan tidak menghormati alam dan lingkungan. Berkata-kata kasar, mengganggu monyet, berjalan di luar jalur yang telah ditetapkan atau merusak pepohonan dan sebagainya.Walaupun tidak seberapa luas, hutan yang teduh ini memuat berbagai jenis tanaman yang juga keberadaannya sangat dihormati. Tanpa penjelasan, kita akan segera menyadari bahwa ini adalah bentuk aplikasi butir kedua dari konsep Tri Hita Karana yakni menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan alam. Menghormati alam.

Di dalam hutan ini juga terdapat area suci (Pura) yakni sebuah Pura Dalem, Pura pemandian dan Pura Prajapati. Walaupun setiap Pura memilki fungsi yang berbeda beda, namun hakikat semua pura adalah sebagai area suci tempat  manusia menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa.  Suasana sakral sangat terasa di hutan kecil ini dan dengan melihat tempat ini seketika kita akan menyadari bahwa ini adalah bentuk aplikasi butir pertama dari konsep Tri Hita Karana yakni menjaga hubungan yang harmonis dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Hutan terasa sangat teduh siang itu. Cukup banyak turis mancanegara saya lihat memasuki hutan. Anak saya sangat senang karena sekaligus bisa mempraktikan kemampuan berbahasa inggrisnya dengan para ‘native speakers’ yang kebetulan ada di sana.  Bersama-sama memberi makan kera, tertawa bersama mengamati tingkah lakunya yang lucu dan saling membantu mengambil foto. Para petugaspun sangat perhatian dan memberi penjelasan dengan baik kepada para pengunjung.  Siapa yang bisa mengingkari bahwa ini adalah bentuk aplikasi yang baik dari  butir ke tiga dari konsep Tri Hita Karana, yakni menjaga keharmonisan hubungan antar manusia.

Tengah hari, ketika pisang mulai habis dan  anak-anak saya sudah puas melihat lihat lingkungan alam Monkey Forest beserta isinya, lalu kamipun pulang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s