Cendawan Goreng Di Atas Meja Makan.

Standard

Saya melihat sepriring cendawan goreng di atas meja makan. Rupanya pembantu rumah  yang bekerja di tempat saya menyiapkanya untuk teman minum teh.  Saya senang melihatnya.Bukan saja karena melihat warnanya yang kuning keemasan tampak garing dan krenyes kalau digigit, tapi lebih senang karena melihat prilaku pembantu rumah tangga saya itu.

Awalnya saya sendiri memang tidak bisa memasak. Karena jaman dulu, tugas yang diberikan kepada saya adalah sebagai tukang bersih-bersih halaman. Bukan di dapur. Sehingga praktis saya tidak punya pengalaman menjadi Manager Dapur sampai saya menikah. Setelah itu saya memaksakan diri belajar memasak untuk menyenangkan hati suami saya. Walaupun suami saya sebenarnya tidak pernah menuntut istri harus begini atau harus begitu. Lama kelamaan, saya jadi suka juga memasak. Kalau akhir pekan, terkadang  mencoba memasak makanan yang saya pernah cicipi dan sukai jika kebetulan saya diajak teman makan di restaurant. Dan biasanya pembantu rumah tangga ikut mengamati apa yang saya lakukan sambil membantu saya membersihkan bumbu-bumbu.

Hebatnya, ternyata pembantu rumah tangga saya adalah seorang yang ‘Fast Learner!’. Saya hanya perlu memberinya contoh di dapur sekali saja, setelah itu ia bisa melakukannya sendiri dan mengatur menu untuk saya dan keluarga sendiri tanpa perlu saya kasih perintah. Jika saya masak Tom Yam Goong, maka minggu berikutnya dia sudah bisa meniru memasak Tom Yam Goong untuk saya. Jika saya memasak Udang Goreng Gandum, maka berikutnya Udang Goreng Gandum bisa tersedia di dapur tanpa saya minta. Jika saya membuat Sambal Matah, maka minggu berikutnya pun tiba-tiba Sambal Matah yang saya sukai sudah ada di atas meja makan. Belajar dari melihat dan membantu. Hanya melihat dan meniru. Cara belajar kita  yang cepat tanpa perlu proses berpikir panjang. Barangkali sesuai dengan apa yang sahabat baik saya selalu istilahkan dengan “Monkey See, Monkey Dolearning process.

Lebih jauh lagi, iapun bisa melakukan improvisasi sendiri atau bahkan menyesuaikan dengan material yang ada. Contohnya adalah cendawan goreng ini.  Ide cemilan ini saya dapatkan ketika pada suatu siang berada di sebuah studio, sang tuan rumah menyuguhkan cendawan goreng kepada saya yang menurut saya rasanya cukup enak. Cendawan dari jenis Portabella yang lezat. Berikutnya ketika saya berkesempatan berjalan-jalan ke sebuah supermarket, maka sayapun membeli Jamur Portabella itu dan mencoba membuatnya sendiri di rumah. Pembantu rumah tangga saya memperhatikan saya memasaknya di dapur dan rupanya menyimak dengan baik. Hari ini ia menghidangkan Jamur Tiram Goreng di atas meja makan. Saya tertawa dan kagum atas kreatifitasnya. Karena di tukang sayur adanya Jamur Tiram, maka Jamur Portabella pun digantinya lah dengan Jamur Tiram. Not bad at all!!

Point saya di sini adalah soal kreatifitas dan penyesuaian diri. Setiap orang pasti bisa jika ia mau. Sehingga menurut saya,  pada akhirnya kesuksesan bukanlah semata ditentukan oleh kepintaran atau modal lain yang dimiliki oleh seseorang, namun oleh seberapa besar keinginan seseorang untuk bisa dan berhasil. Willingness! Alias Kemauan Keras. Mau mencoba atau tidak. Mau melakukannya atau tidak!. Mau mengeluarkan pemikiran-pemikiran kita atau tidak!. Itulah bekal yang paling penting. Jika seseorang ingin maju, walaupun saat ini tidak memiliki modal maupun kepintaran, setidaknya dengan memiliki keinginan, maka jalan keluar pasti didapat.

10 responses »

  1. Kayaknya aku juga mau punya staf rumah tangga yg seperti ini Mbak Dani hehehe..Beruntungnya dirimu..Enak banget hanya dengan melihat apa yg pernah kita buat, si mbak bisa mengcopynya..Tuh mo dicari kemana yang kayak begini?

  2. Aku juga sering mengkonsumsi jamur Mbok, enta kuping, entah tiram😳 maksudnya jamur kuping dan jamur tiram😆 suka saja. Dan sama tukang masak ku dibuat capcay dan di sop di tambah bunga kol. Kalau yang di goreng, belum pernah nyoba takut kolesterol

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  3. waduh asisten rt nya mbak itu bisa jadi EO tuh😀
    menurutku kreatifitas seperti itu seperti bakat yang dikembangkan ya. Seringnya orang Indonesia menunggu perintah saja sih, karena mungkin tidak diajarkan atau tidak diberikan kebebasan untuk berkarya (atau dari sononya kemampuannya rendah ya? )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s